Anda di halaman 1dari 13

Masa Pubertas PadaWanita

Shienowa Andaya Sari


102012445 /A4
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
shienowa.sari@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Semua wanita remaja akan mengalami siklus haid. Pada organa genitalia feminina dibagi
menjadi bagian interna meliputi uterus, tuba uterina, ovarium, dan vagina. Sementara itu pada
bagian eksterna terdiri dari mons pubis, labia majora et minora, dan vestibulum. Pubertas
merupakan suatu rangkaian perubahan fisik dan fisiologis yang mengubah seorang anak
menjadi manusia dewasa dengan kemampuan reproduksi. Siklus ovarium yang terdiri dari
dua fase secara bergantian yaitu fase folikular dan fase luteal. Fungsi reproduksi wanita di
kontrol oleh sistem kontrol umpan balik antara hipothalamus-hipofisis-ovarium yang melalui
kerja beberapa hormon. Siklus haid terdiri dari tiga fase yaitu fase haid, fase proliferatif, dan
fase sekretorik atau progestasional. Hipotesis diterima bahwa siswi berumur 13 tahun yang
mengalami nyeri perut bagian bawah dan belum mengalami menstruasi mengalami gangguan
pada haid.
Kata kunci: Organa Genetalia Feminina, Siklus Ovarium, Hormon, Siklus Haid
Abstract
All adolescent women will have a menstrual cycle. In the genital organ feminina divided
into internal part involving the uterus, the uterine tubes, the ovaries, and the vagina. In the
external part involving the mons pubis, labia majora et minora, and the vestibule. Puberty is
a series of physical and physiological changes that transform a child into an adult human
with reproductive capacity. Ovarian cycle consists of two alternating phases, the follicular
phase and the luteal phase. Female reproductive function is controlled by a feedback control
system between the hypothalamus-pituitary-ovarian hormones through some work. Menstrual
cycle consists of three phases which menstruation phase, proliferative phase, and secretory
or progestational phase. Hypothesis is accepted that the 13-year-old student who had lower
abdominal pain and had no menstrual period in menstrual disorders.
Keywords: Genital organ feminina, Ovarian cycle, Hormones, Menstrual cycle
Pendahuluan
Pada umumnya seorang wanita remaja yang beranjak dewasa akan mengalami siklus
haid. Dimana pada saat seorang remaja telah mengalami menstruasi yang pertama kali dapat
dikatakan bahwa wanita remaja tersebut mengalami masa pubertas. Pubertas adalah proses
kematangan, hormonal dan pertumbuhan yang terjadi ketika organ-organ reproduksi mulai
berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai muncul.1
Dalam makalah ini, akan di bahas lebih lanjut mengenai siklus menstruasi yang terjadi
pada wanita. Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami proses
pubertas pada wanita, serta dapat memahami siklus menstruasi dan hormone yang bekerja

pada saat menstruasi dan juga dapat mengetahui struktur makrskopis maupun mikroskopis
organ yang terkait yaitu genitalia feminina.
Isi
1. Struktur Organ Makroskopik dan Mikroskopik
Organa genitalia feminina dibagi menjadi interna dan eksterna. Pada bagian interna
meliputi uterus, tuba uterina, ovarium, dan vagina. Sementara itu pada bagian eksterna terdiri
dari mons pubis, labia majora et minora, dan vestibulum. Pada pembahasan dibawah ini, akan
dibahas organ-organ repoduksi tersebut satu per satu.
1.1 Uterus
Uterus adalah organ tunggal muskular dan berongga. Oosit yang telah dibuahi akan
tertanm dalam lapisan endometrium uterus dan dipenuhi kebutuhan nutrisinya untuk tumbuh
dan berkembang sampai lahir. Uterus sendiri berbentuk seperti buah pir terbalik dan dalam
keadaan tidak hamil memiliki panjang 7cm dan lebar 5cm. Organ ini terletak dalam rongga
pelvis dan diantara rektum serta kandung kemih. Umumnya uterus terfleksi ke depan
(terantefleksi) dan teranteversi sehingga letaknya hampir horisontal di atas kadung kemih.
Pada beberapa perempuan, uterus menindih rektum.2
Alat-alat penahan uterus terdapat pada diafragma pelvis yang meliputi m.levator ani dan
pars membranacea diaphragma uro-genitale. Sementara itu, uterus digantung oleh beberapa
ligamentum, diantaranya lig.cardinale (mackenrodt), lig.teres uteri atau lig.rotundum, dan
pica rectrouterina. Ligamentum cardinale adalah jaringan ikat yang berjalan dari batas antara
cervix dan copus uteri hingga ke dinding panggul, ligamentum teres uteri adalah jaringan ikat
yang berjalan dari sudut antara tuba uterina dengan uterus hingga ke lebium majus, sementara
itu plica recto uterina merupakan lipatan peritoneum dari uterus hingga ke rectum.
Fleksio adalah sumbu copus uteri dan sumbu panjang servix uteri membentuk sudut baik
antefleksio maupun dorosofleksio. Sudut antefleksio adalah sudut membuka ke depan,
sementara dorsofleksio adalah sudut membuka ke belakang. Selain itu, versio adalah sumbu
uterus dan sumbu vagina membentuk sudut anterversio maupun dorsoversio. Anterversio
adalah sudut yang membuka ke depan, dorsoversio adalah sudut yang membuka ke belakang.
Terakhir, terdapat istilah positio untuk menyebutkan sudut antara sumbu uterus dan sumbu
panggul, terdiri dari sinistopositio dan dekstropositio. Sinistopositio adalah sumbu uterus
agak ke kiri dari sumbu panggul, sementara itu dekstropositio adalah sumbu panggul ke
kanan dari sumbu panggul.

Gambar 1. Letak Uterus (a) Antervesio, Anterfleksio-Normal (b) Anterversio, Tidak


Anterfleksio3
2

Uterus terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian fundus, corpus dan cervix. Fundus
uterus adalah bagian bundar yang letaknya superior terhadap mulut tuba uterin. Sementara itu
copus atau badan uterus adalah bagian luas berdinding tebal yang membungkus rongga
uterus. Terakhir, serviks adalah bagian leher bawah uterus yang terkonstriksi. Os eskternal
adalah mulut serviks ke dalam vagina, os internal adalah mulut uterus dalam rngga uterus.
Kanal endoservikall melapisi jalur di antara dua mulut. Rongga uterus dibagi menjadi dua
yaitu cavum uteri dan canalis cervicis uteri. Pada sudut atas cavum uteri terdapat muara
kedua tubae. Pada bagian distal cavum uteri terdapat orificium internum canalis isthmica dan
orificium internu anatomicum uteri (virchow).2

Gambar 2. Uterus
Dinding uterus memiliki tiga lapisan, yaitu endomentrium, miometrium dan perimetrium.
Sebagian besar dinding uterus terdiri atas otot polos yang disebut miometrium. Sel-sel otot
polos miometrium saling menempel oleh persambuangan celah, yang memungkinkan
komunikasi yang cepat di antara sel yang bertetangga dan gerak seluruh massa otot yang
terkoordinasi. Rongga uterus dibatasi oleh epitel kelenjar, yaitu endometrium. Endometrium
merupakan organ target dan keenjar endokrin sekaligus. Di bawah pengaruh produksi siklis
hormon oleh ovarium, endometrium mengalami perubahan mikroskopik yang bermakna pada
struktur dan fungsi kelenjarnya.4
Pada saat fase regenerasi atau poliferasi, endometrium tampak tipis degan epite selapis
silindris. Kelenjar yang terdapat pada bagian ini lurus-lurus dan lumennya bulat atau lonjong
namun ksoong. Pada lapisan miometriumnya terdiri atas berkas-berkas serat oto polos yang
tersusun berlapis-lapis dan terlihat terpotong dalam berbagai arah. Pada saat endometrium
memasuki ase sekresi, endometrium akan terlihat lebih tebal dengan kelenjar yang berkelokkelok. Selain itu, dindingnya berlipat-lipat dengan lumen yang melebar berisi sekret. Pada
fase endometrium premenstruasi, gambarannya akan mirip denan fase sekretorik, tetapi di
dalam stroma endometrium sudah mulai terdapat rembesan darah.

Gambar 3. Sruktur Mikroskopis Uterus3


Darah arteri memperdarahi uterus melalui arteri-arteri uterus (berasal dari arteri iliaka
interna) dan bercabang menjadi arteri ovarian dan vagina. Dalam dinding uterus, arteri
menjadi arteri akuata, kemudian bercabang menembus miometrium sebagai arteri radial.
Perpanjangan dari arteri radial ke dalam endometrium disebut arteriol spiral (terpilin). Supai
darah ke endometrium signifikan dengan proses menstruasi. Darah kembali dari uterus
melalui vena uterus yang pararel dengan jalur arteri.2

Gambar 3. Pendarahan Uteri5


1.2 Tuba Uterina
Dua tuba uterina atau juga dikenal sebagai tuba fallopii atau oviduk, menerima dan
mentranspor oosit ke uterus setelah ovulasi. Setiap tuba uterina, dengan panjang 10cm dan
diameter 0,7 cm, ditopang oleh ligamen besar uterus. Salah satu ujungnya melekat pada
uterus dan ujung lainnya membuka ke dalam rongga pelvis. Tuba uterina memiliki beberapa
bagian, yaitu infundibulum, ampula, ismus, dan pars intertitialis.2
Infundibulum adalah ujung terbuka menyerupai corong atau ostium pada tuba uterina.
Bagian ini memiliki prosesus motil menyerupai jaringa (fimbria) yang merentang di atas
permukaan ovarium untuk membantu menyapu oosit terovulasi ke dalam tuba. Ampula
adalah bagian tengah segmen tuba yang menjadi tempat terjadinya fertilisasi. Ismus adalah
segmen terdekat dari uterus yang merupakan bagian tuba paling sempit. Terakhir, pars
interririalis adalah bagian tuba yang terdapat dalam dinding uterus.2
Dinding tuba uterin terdiri dari serabut otot polos, jaringan ikat, dan sebuah lapisan epitel
bersilia yang sirkular, tersusun secara longitudinal. Oosit bergerak di sepanjang tuba menuju
4

uterus karena getaran silia dan kontraksi peristaltik otot polos. Oosit memberlukan waktu 4
sampai 5 hari untuk sampai ke uterus. Tuba uterina sendiri diperdarahi oleh a.uterina dan
a.ovarica.2

Gambar 4. Struktur Tuba Uterina6


Pada ampula tuba uterina bentuknya hampir menyerupai dinding usus. Mukosa ampula
buluh rahim mempunyai lipatan-ipatan yang sangat rumit yang memenuhi lumennya. Lipatan
mukosa ini dibatasi oleh epitel selapis torak dengan lamina propia di bawahnya. Sel epitel
terdiri atas dua macam sel yaitu sel bersilia dan sel sekretoris yang tidak bersilia. Lapisan otot
terdiri dari lapis melingkat yang tebal di sebelah dalam dan lapis memanjang yang tipis di
sebelah luar. Susunan lapisan pada ismus tuba uterina sesuai dengan bagian ampula, hanya
saya mukosanya tidak demikian berlipat-lipat dan lumennya lebih sempit. Pada intramural
tuba uterina, lipatan mukosa rendah dan tidak rumit serta lapisan ototnya sudah bersatu
dengan dinding rahim.

Gambar 5. Struktur Mikroskopis Tuba Uterina


1.3 Ovarium
Ovarium memiliki panjang 3 sampai 5cm dan lebar 2 sampai 3cm. Tebal dari pada
ovarium ini kira-kira 1cm. Masing-masing ovarium mengandung sejumlah folikel primodial
yang berkembang saat awal kehidupan fetus dan menunggu saat pematangan menjadi ovum.
Selain produksi ovum, ovarium juga bertanggung jawab menghasilkan hormon seksual. Tiap
ovarium dikelilingi oleh kapsula fibrosa yang disebut tunika albuginea.5
Masing-masing dari ovarium ini terletak pada dinding samping rongga pelvis posteroir
dalam sebuah ceruk dangkal, yaitu fosa ovarian, dan ditahan dalam posisi tersebut oleh
5

mesenterium pelvis. Ovarium adalah satu-satunya organ dalam rongga pelvi yang
retroperitoneal (terletak di belakang peritoneum).2 Adapun terdapat dua struktur ligamentum
yang menjadi tempat perekatan dari ovarium, yaitu ligamentum latum (yang melekat ke
ovarium di sebelah posterior oleh mesovarium) dan ligamentum ovarika (yang menahan
ovarium ke kornu uterus).5
Pasokan darah untuk ovarium berasal dari a.ovarika (cabang aorta abdominalis).
Drainase vena menuju v. Cava inferior di sebelah kanan dan v.renalis sinistra di sebelah kiri.
Drainase limfatik menjuju keenjar getah benting para-aorta. Adapun batas-batas ovarium,
pada bagian cranialnya dengan av.iliaca externa, bagian distal dengan a.uterina, bagian dorsal
dengan av.iliaca interna dan n.obturatorius, serta pada bagian ventral dengan perekatan
ligamentum.5

Gambar 6. Ligament Penggantung Ovarium


1.4 Vagina
Vagina adalah tubung berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris yang
khusus, dialiri pembuluh darah dan serabut saraf secara berlimpaah. Panjang vagina dari
vestibula sampai uterus. Dinding-dindingnya bersambung secara normal, dan mengelilingi
bagian bawah servix uteri, dan di sebelah belakang naik lebih tinggi dari yang didepan.
Lekukan sempit di depan disebut fornix anterior dan yang disisi-sisinya disebut fornix lateral,
sedangkan yang di belakang disebut fornix posterior vagina. Permukaan anterior vagina
menyentuh basis kandung kencing dan uretra, sedangkan dinding posteriornya menyentuh
rektum dan kantong rekto-vagina (ruang Douglas). Seperempat sebelah bawah vagina
menyentuh badan perineum. Pada sekitar orificium vagina terdapat selaput tipis berbentuk
bulan sabit, yang disebut hymen.7
Dinding vagina sendiri terdiri atas tiga lapis, laipsan dalam adalah selaput lendir
(membran mukosa) yang dilengkapi lipatan-lipatan atau rugae, sehingga mempunyai rupa
seakan-akan ditutupi papilae (selaput ledir vagina terdiri atas sel epitel gepeng berlapis).
Lapisan luar adalah lapisan berotot yang terdiri atas serabut longitudinal dan melingkar; dan
antara kedua lapis ini terdapat sebuah lapisan dari jaringan erektil terdiri atas jaringan
aereoler, pembuluh darah dan beberapa serabut otot tak bergaris.7
Limfe dari vagina bagian aktas mengalir ke kelenjar getah benting iliaka interna dan
eksterna. Limfe dari vagian bagian bawah mengalir ke kelenjar getah benting inguinalis
6

superfisialis. Pasokan darah vagina didapat dari a.vaginalis (cabang a.iliaka interna) dan
cabang vaginalis a.uterina.5

Gambar 7. Fornix Vagina


1.5 Mons Pubis
Mosn pubis atau mons veneris merupakan bantalan jaringan lemak mulai dari simfisis
pubis sampai ke vulva. Bagian ini tertutup oleh rambut berbentuk segitiga dengan dasar
segitiga di simfisis. Distribusi rambut makin ke bawah makin tibis dan sebagian rambut
menutupi labium mayus.8
1.6 Labia Majora et Minora
Labia mayora merupakan jaringan lemak yang tertutup kulit mulai dari mosn veneris
menuju bawah dan kebelakang. Secara embriologi, pembentukannya sebanding dengan
skrotum pada pria. Ligamentum rontundum tertambat pada labia mayora sehingga tarika
ligamentum ini dapat dirasakan pada saat terjadi kontraksi rahim. Setelah bersalin beberapa
kali atau pada usia lanjut, jaringan lemak di labia mayora semakin berkurang. Pada gadis atau
anak kecil, keduanya tampak menyau. Di bagian atas, labia mayora langsung berbatasan
dengan mosn veneris, sedangkan baagian bawahnya menyatu membentuk komisura posterior.
Setelah dewasa, sebagian labia mayora tertutup oleh rambut.8
Labia minora merupakan jaringan mendatar yang terletak di antara kedua labium mayus.
Bagian ini berwarna merah karena dilapisi oleh mukosa bentuknya bervariasi pada masingmasing oerepuan. Orang ini tidak berbulu, tetapi banyak mengandung kelenjar lemak. bagian
anteriornya terdiri dari jaringan ikat yang kaya pembuluh darah dengan sedikit otot polos,
banyak ujung serabut saraf sehingga sangat sensitif. Di ujung anterior masing-masing labium
membelah dua, pasangan bawah membentuk frenulum klitoris dan pasangan atas membentuk
preputium klitoris. Kedua labium minus kanan-kiri bertemu di bagian bawah membentuk
fourehette.8
1.7 Vestibulum
Vestibulum berbentuk oval merupakan daerah yang dibatasi kedua labia minora, klitoris
di bagian atas, dan fourhette di bagian bawah. Pada vestibulum, terdapat enak muaralubang,
yaitu orifisium uretrae, vagina, sepasang muara kelenjar batholin, dan sepasang muara
kelenjar skene. Diantara vagina dan fourchette terdapat fosaa navikulare.8

Gambar 8. Organa Genital Femina9


2. Proses Pubertas Pada Wanita1,10
Pubertas merupakan suatu rangkaian perubahan fisik dan fisiologis yang mengubah
seorang anak menjadi manusia dewasa dengan kemampuan reproduksi.10 Meskipun pubertas
biasanya diangap suatu fase yang sangat dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas gonad dan
seksual sekunder, tetapi sebaiknya pubertas ini dianggap sebagai bagian dari rangkaian
kesatuan proses pertumbuhan dan pematangan. Masa pubertas terjadi pada pria dan wanita,
tetapi dalam kasus ini akan lebih membahas pada wanita.
Pada umunya, anak perempuan mengalami pubertas lebih awal, dan percepatan tumbuh
merupakan salah satu dari komponen pertama. Sejumlah 95 persen anak mulai mengalami
pubertas antara usia 9 dan 13 tahun dan mulai haid pertama atau menarke antara usia 11 dan
13 tahun. Pross pubertas umumnya terbagi dalam tiga tahap, yaitu prapubertas,
pascapubertas, dan masa remaja.
Prapubertas yaitu periode sekitar 2 tahun sebelum pubertas ketika anak pertama kali
mengalami perubaan fisik yang menandakan kematangan seksual, pubertas merupakan titik
pencapaian kematangan seksual, ditandai dengan keluarnya darah menstruasi pada remaja
putri. Pascapubertas merupakan periode 1 sampai 2 tahun setelah pubertas, ketika
pertumbuhan tulang telah lengkap dan fungsi reproduksi terbentuk dengan cukup baik.
Masa remaja yang secara literature berarti tumbuh hungga mencapai kematangan,
secara umum berarti proses fisiologis, sosial dan kematangan yang dimulai dengan perubahan
pubertas. Masa remaja terdiri atas tiga subfase yang jelas, yaitu masa remaja awal (usia 11
sampai 14 tahun), masa remaja pertengahan (usia 15 sampai 17 tahun), dan masa remaja
akhir (usia 18 sampai 20 tahun).
Perkembangan biologis pubertas dibagi menjadi dua bagian yaitu karakteristik seks
primer dan karakteristik seks sekunder. Karakteristik seks primer merupakan organ eksternal
dan internal yang melaksanakan fungsi reproduktif misal ovarium, uterus, payudara.
Sedangkan karakteristik seks sekunder merupakan perubahan yang terjadi di seluruh tubuh
sebagai hasil perubahan hormonal misal, munculnya rambut pada pubertas dan lainnya tetapi
tidak berperan langsung dalam reproduksi.
2.1.
Kematangan Seks Pada Wanita1
8

Karakteristik seksual pada masa pubertas ditandai oleh kematangan seks pada wanita.
Pada kebanyakan remaja wanita, kematangan seksual ditandai oleh tiga indikasi yaitu telarke,
adrenarke, dan menarke.1
Telarke merupakan awal pubertas yang ditandai dengan tonjolan payudara. Terjadi pada
usia 9 sampai 13 tahun. Telarke diikuti dengan indikasi adrenake yaitu pertumbuhan rambut
pubis pada mons pubis sekitar 2 sampai 6 bulan. Pada sebagian kecil remaja wanita yang
sedang berkembang secara normal, rambut pubis dapat tumbuh mendahului perkembangan
payudara. Kemudian menarke atau yang lebih dikenal dengan menstruasi pertama terjadi
sekitar 2 tahun setelah penampakan perubahan pubertas pertama, kira-kira 9 bulan setelah
kecepatan pertambahan tinggi badan dan 3 bulan setelah kecepatan puncaknya. Menarke
telah dikaitkan dengan perolehan kandungan lemak tubuh, dimana lebih banyak kandungan
lemak, lebih awal terjadinya menarke. Rentang usia normal terjadinya menarke biasanya
adalah 10 sampai 15 tahun. (Gambar 9 )

Gambar 9. Perkembangan Payudara dan Pertumbuhan Rambut Pubis Pada Wanita Remaja

3. Siklus Ovarium
Telah dijelaskan bahwa salah satu perkembangan biologis dari karakter seksual yaitu
organ eksternal dan internal melaksanakan fungsi reproduktif salah satunya terhadap
ovarium. Setelah pubertas dimulai ovarium secara terus-menerus mengalami siklus ovarium
yang terdiri dari dua fase secara bergantian yaitu fase folikular dan fase luteal. 11 Siklus
ovarium rerata berlangsung 28 hari, tetapi hal ini bervariasi di antara wanita dan di antara
siklus pada wanita yang sama.
3.1 Fase Folikular11
Fase folikular ditandai oleh pembentukan folikel matang. Folikel bekerja pada tahap awal
siklus untuk menghasilkan telur matang yang siap untuk berovuasi pada pertengahan siklus.
Setiap saat selama siklus, sebagian dari folikel-folikel primer mulai berkembang. Sebelum
terbentuk folikel matang, pada fase folikular folikel primer akan berproliferasi dengan sel
granulosa untuk membentuk beberapa lapisan yang mengelilingi oosit. Kemudian sel
granulosa akan mengeluarkan membrane penyekat yang disebut dengan zona pelusida.
Selama sel granulosa berproliferasi dan secara bersamaan oosit membesar, sel-sel
jaringan khusus berkontak dengan sel granulosa berproliferasi dan berdiferensiasi
membentuk lapisan luar sel teka. Sel teka dan sel granulosa secara kolektif dinamai sel
folikel. Sel folikel mengubah folikel primer menjadi folikel sekunder atau antrum yang
mampu mengeluarkan estrogen. Selama perkembangan folikel, akan terbentuk suatu rongga
berisi cairan, antrum, pada bagian tengah sel granulosa. Pada saat antrum terbentuk oosit
telah mencapai ukuran penuh.
Salah satu folikel biasanya tumbuh lebih cepat daripada yang lain menjadi folikel matang
(praovulasi, tersier, atau graaf) dalam waktu 14 hari setelah dimulainya pembentukan folikel.
Pada folikel matang ruang antrum menempati sebagian besar ruang, oosit tergeser ke salah
satu sisi folikel dalam satu gundukan kecil yang menonjol ke antrum.
Pada saat ovulasi, folikel matang yang telah membesar menciptakan suatu daerah tipis
yang akan pecah kemudian membebaskan oosit. Sebelum ovulasi oosit menyelesaikan
pembelahan pertamanya. Ovum (oosit sekunder), tersapu keluar folikel yang pecah kedalam
rongga abdomen oleh cairan antrum yang bocor. Ovum yang terbebas cepat tertarik ke dalam
tuba uterine tempat fertilisasi.
3.2 Fase Luteal11
Fase luteal ditandai dengan keberadaan korpus luteum. Korpus luteum mengambil alih
selama paruh terakhir siklus untuk mempersiapkan saluran reproduksi wanita untuk
kehamilan jika terjadi pembuahan yang dibebaskan tersebut. Folikel yang pecah setelah
mengeluarkan ovum akan mengalami perubahan. Sel-sel granulose dan sel teka di sisa folikel
mulai kolaps ke ruang antrum yang kosong dan sebagian terisi bekuan darah.
Sel-sel folikel yang lama ini bertranformasi untuk membentuk korpus luteum, proses
yang dinamai leuteinisasi. Sel-sel folikel berubah menjadi sel-sel luteal yang akan
menghasilkan hormon steroid. Perubahan ini sesuai dengan fungsi korpus luteum
mengeluarkan banyak progesterone dan sedikit estrogen ke dalam darah. Jika ovum yang
dibebaskan tidak dibuahi dan tidak terjadi implantasi maka korpus luteum akan berdegenerasi
dalam waktu sekitar 14 hari. Sel-sel luteal akan berdegenerasi dan berfagositosis, jaringan
ikat masuk dan membentuk jaringan fibrosa yang dikenal dengan korpus albikans.
4. Hormon-hormon yang Berperan11
10

Dalam keadaan tidak hamil, fungsi reproduksi wanita di kontrol oleh sistem kontrol
umpan balik antara hipothalamus-hipofisis-ovarium. Hipothalamus menghasilkan hormon
GnRH (gonadotropin releasing hormone yang menstimulasi hipofisis mensekresi hormon
FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (lutinuezing hormon). FSH dan LH menyebabkan
serangkaian proses di ovarium sehingga terjadi sekresi hormon estrogen dan
progesteron. Estrogen memiliki banyak jenis tetapi yang terpenting adalah estradiol. Estrogen
berguna untuk pematangan dan pembebasan ovum, pembentukan ciri-ciri perkembangan
seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan. Estrogen
juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga
kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.
Progesteron penting untuk mempersiapkan lingkungan yang sesuai untuk memelihara
janin serta berperan dalam kemampuan payudara dalam menghasilkan susu. FSH merangsang
ovulasi dan meransang folikel untuk membentuk estrogen, memacu perkembangan folikel.
LH merangsang korpus luteum untuk menghasilkan hormon progesteron dan meransang
ovulasi. Tingginya kadar FSH dan LH akan menghambat sekresi hormon GnRH oleh
hipothalamus. Sedangkan peningkatan kadar estrogen dan progesteron dapat menstimulasi
(positif feedback, pada fase folikuler) maupun menghambat (inhibitory/negatif feedback,
pada saat fase luteal) sekresi FSH dan LH di hipofisis atau GnRH di hipothalamus.
5. Siklus Haid atau Siklus Uterus11
Seperti telah dibahas, uterus terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium (lapisan terluar
rahim), miometrium (lapisan otot rehim, terletak di bagian tengah), dan endometrium (lapisan
terdalam rahim). Fluktuasi kadar estrogen maupun progersteron selama siklus ovarium
membuat perubahan pada uterus, menghasilkan siklus haid atau siklus uterus dan bentuk
nyatanya adalah perdarahan haid dalam tiap siklus haid. Estrogen merangsang pertumbuhan
miometrium dan endometrium. Lalu progesteron akan bekerja pada endometrium yang telah
dipersiapkan oleh estrogen untuk dibuat menjadi lapisan yang bisa menunjang pertumbuhan
ovum yang dibuahi. Siklus haid terdiri dari tiga fase yaitu fase haid, fase proliferatif, dan fase
sekretorik atau progestasional.
5.1 Fase Haid11,12
Fase haid adalah fase yang paling jelas karena ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa
endometrium dari vagina. Hari pertama haid bersamaan dengan pengakhiran fase luteal
ovarium dan dimulainya fase folikular. Karena tidak kunjung terjadi pembuahan pada ovum
yang telah dibebaskan maka korpus luteum akan berdegenerasi. Akibatnya kadar estrogen
dan progesteron dalam dalah menurun tajam karena korpus luteum sebagai penghasil
estrogen dan progesteron telah berdegenerasi. Karena efek akhir estrogen dan progesteron
adalah mempersiapkan endometrium untuk implantasi ovum yang dibuahi maka penghentian
sekresi kedua hormon ini akan membuat endometrium yang kaya akan vaskular dan nutrien
kehilangan hormon-hormon penunjangnya.
Turunnya kadar hormon tersebut juga merangsang pembebasan prostaglandin yang
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah di endometrium yang akan menghambat aliran
darah ke endometrium. Akhirnya endometrium dan pembuluh darah pada lapisan tersebut
akan mati karena kekurangan pasokan O2. Sebagian besar lapisan uterus terlepas selama haid
kecuali lapisan dalam yang tipis. Prostagladin uterus merangsang kontraksi ritmik ringan
11

miometrium uterus. Kontraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari
rongga uterus keluar melalui vagina sebagai darah haid. Haid biasanya terjadi setelah 5
sampai 7 hari setelah degenerasi korpus luteum bersamaan dengan bagian awal fase folikular
ovarium. Endrometrium diperbaiki melalui pembeahan sel dalam lapisan basal saat
menstruasi masih berlangsung.
5.2 Fase Proliteratif11,12
Fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular
ovarium ketika endometrium mulai memperbaiki diri dan berproliferasi di bawah pengaruh
estrogen dari folikel-folikel yang berkembang. Saat haid sudah berhenti, lapisan endometrium
menjadi tipis kemudian estrogen merangsang proliferasi sel epitel, kelenjar, dan pembuluh
darah endometrium yang meningkatkan ketebalan endoetrium. Fase proliferatif berlangsung
dari akhir hingga ovulasi.
5.3 Fase Sekretorik atau Progestasional11,12
Fase sekretorik atau progestasional akan terjadi pada uterus setelah ovulasi dan ketika
terbentuk korpus luteum baru. Progesteron dari korpus luteum mengubah endometrium tebal
menjadi jaringan kaya vascular dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena
kelenjar endometrium aktif mengeluarkan glikogen. Jika pembuahan dan implantasi tidak
terjadi maka korpus luteum berdegenerasi dan fase folikular dan fase haid baru dimulai
kembali.
Kesimpulan
Skenario yang di dapat pada kasus kali ini adalah seorang siswi kelas 1 SMP berusia 13
tahun, mengalami nyeri perut bagian bawah setiap bulan. Di sekolah ia merasa heran
mendengar cerita teman-teman wanitanya yang secara rutin setiap bulan mengeluarkan darah
dari kemaluannya, sedangkan dia sendiri belum pernah. Ia kemudian bertanya pada ibunya,
dan Ibu membawanya ke Dokter ahli kandungan. Berdasarkan hipotesis yang telah ada ialah
bahwa siswi berumur 13 tahun yang mengalami nyeri perut bagian bawah dan belum
mengalami menstruasi mengalami gangguan pada haid.
Hipotesis diterima, karena gangguan pada haid dapat disebabkan karena hormonal dan
faktor-faktor lainnya salah satunya kelainan bawaan pada alat kelamin yang menyebabkan
nyeri perut bagian bawah. Pada kasus ini siswi tersebut mengalami kelainan bawaan pada alat
kelamin diantaranya selaput dara yang tidak berlubang pada keadaan ini akan terjadi
hematometra yaitu timbunan darah dalam liang sanggama, hematokolpos yaitu timbunan
darah dalam rahim, atau hematosalping yaitu timbunan darah dalam saluran indung. Keluhan
yang akan diungkapkan oleh wanita adalah tidak pernah menstruasi sampai umur 17-18
tahun, disertai nyeri perut setiap bulan. 13 Hal yang sama terjadi pada kasus, dan hipotesis
diterima.

12

Daftar Pustaka
1. Wong DL, Eaton MH, Wilson D, dkk. Buku ajar keperawatan pediatrik. Ed. 6. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.
2. Gibson J. Fisiologi & anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2003.
3. Putz R, Pabst R. Sobotta atlas of human anatomy. Vol 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2009.
4. Heffner LJ, Schust DJ. At a glance sistem reproduksi. Ed 2. Jakarta: Erlangga; 2004.
5. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2008.
6. Verralls S. Anatomi dan fisiologi terapan dalam kebidanan. Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.
7. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia; 2003.
8. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGF. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.
9. Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Ed 10.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2002.
10. Hull D, Johnston DI. Dasar-dasar pediatric. Ed. 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2008.h.232.
11. Sherwood L. Fisiologi manusia. Ed. 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007.
12. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.
13. Manuaba IAC, Manuaba IAGF, Manuaba IBG. Memahami kesehatan reproduksi wanita.
Ed. 2. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC; 2009.

13

Anda mungkin juga menyukai