Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling
dekat ditengah tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit
pelayanan kesehatan lainya (Rumah Sakit Swasta maupun Negeri). Fungsi puskesmas
adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring dengan misinya.
Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang disebut dengan
Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Prioritas yang harus dikembangkan oleh puskesmas harus diarahkan ke
bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan
upaya promosi dan pencegahan (public health service). Fungsi puskesmas menurut
keputusan menteri kesehatan republik Indonesia No.128/MENKES/SK/II/2004, adalah
sebagai pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan
tingkat pertama.
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas yang benar
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Penyakit ISPA dibagi
dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas
derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dab pneumonia tidak berat. Penyakit
batuk pilek seperti rhinitis, faringitis, tonsillitis dan penyakit jalan napas bagian atas
lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan
kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi.
Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari
kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang
disebabkan oleh ISPA mencakup 20-30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah
karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat ini angka
mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena
penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit
dan kurang gizi.
B. Rumusan Masalah
Masalah yang dapat dirumuskan dari kasus ini adalah:
1

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

1. Faktor risiko apa saja yang ditemukan pada pasien ISPA


2. Evaluasi terapi dalam rangka pengobatan ISPA non pneumonia
3. Bagaimana fungsi keluarga menurut ilmu kedokteran keluarga dalam mendukung
penyembuhan pasien.
4. Bagaimana peran dokter puskesmas, paramedis serta kader kesehatan terhadap
penyakit ISPA.
5. Mengetahui intervensi apa yang dapat dilakukan untuk menangani ISPA non
pneumonia.
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami tentang penyakit ISPA dan penyebabnya serta
menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara komprehensif dan holistik
dan peran aktif dari pasien dan keluarga.
2. Untuk memenuhi tugas Skill Lab Family Folder pada blok community medicine.
D. Manfaat Penulisan
1. Untuk membantu puskesmas mengatasi penyakit ISPA di wilayah kerjanya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai
dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya
seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang
sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian
2

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun,
yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6
kali setahun. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut,
dimana pengertiannya sebagai berikut :
1. Infeksi
Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan
Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah
dan pleura.
3. Infeksi Akut
Adalah Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut
meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan
dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan
bagian bawah (termasuk jaringan paru paru) dan organ adneksa saluran pernafasan,
dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract).
Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan
tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita
pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan
yaitu :
1. ISPA non pneumonia : dikenal masyarakat dengan istilah batuk pilek
2. ISPA pneumonia : apabila batuk pilek disertai gejala lain seperti kesukaran bernapas,
peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat).
B. Klasifikasi ISPA
Dalam menentukan klasifikasi penyakit dibedakan atas dua kelompok, yaitu
kelompok untuk umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun dan kelompok untuk umur kurang 2
bulan.
1. Untuk kelompok umur 2 bulan sampai kurang 5 tahun klasifikasi di bagi atas:
a. Pneumonia berat
b. Pneumonia
3

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

c. Bukan pneumonia
2.

Untuk kelompok umur kurang 2 bulan klasifikasi dibagi atas :


a. Pneumonia berat
b. Bukan pneumonia
Klasifikasi bukan pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk

yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan
adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi
bukan pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain di luar pneumonia seperti batuk
pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsillitis.
Pola tatalaksana ISPA yang diterapkan dimaksudkan untuk tatalaksana penderita
pneumonia berat, pneumonia, dan batuk pilek biasa. Hal ini berarti penyakit yang
penanggulangannya dicakup oleh Program P2 ISPA adalah pneumonia berat, pneumonia,
dan batuk pilek biasa, sedangkan penyakit ISPA lain seperti pharyngitis, tonsillitis, dan
otitis belum dicakup oleh program ini. Menurut tingkatannya pneumonia di klasifikasikan
sebagai berikut :
1. Pneumonia berat
a. Ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest
indrawing).
b. Berdasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing) pada anak usia 2
tahun sampai < 5 tahun.
c. Sementara untuk kelompok usia < 2 bulan, klasifikasi pneumonia berat ditandai
dengan adanya napas cepat (fast brething), yaitu frekuensi pernapasan sebanyak
60 kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada
bagian bawah kedalam (severe chest indrawing).
2. Pneumonia
a. Berdasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya nafas
cepat sesuai umur.
b. Batas nafas cepat (fast brething) pada anak usia 2 bulan sampai < 1 tahun adalah
50 kali atau lebih permenit
c. Anak usia 1 sampai < 5 tahun adalah 40 kali atau lebih per menit.
3. Bukan Pneumonia
Mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala
peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada
4

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan pneumonia mencakup


penyakit-penyakit ISPA lain diluar pneumonia seperti batuk pilek biasa (common
cold), phryngitis, tonsilitas, otitis atau penyakit ISPA non pnumonia lainnya.
Untuk tatalaksana penderita di rumah sakit atau sarana kesehatan rujukan bagi kelompok
umur 2 bulan sampai < 5 tahun, dikenal pula diagnosis pneumonia sangat berat yaitu
batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala sianosis sentral dan tidak dapat
minum.

C. Faktor Risiko
Berbagai publikasi melaporkan tentang faktor resiko yang meningkatkan
morbiditas dan mortalitas pneumonia. Jika dibuat daftar faktor resiko tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Faktor resiko yang meningkatkan insiden pneumonia
a. Umur < 2 bulan
b. Laki-laki
c. Gizi kurang
d. Berat badan lahir rendah
e. Tidak mendapat ASI memadai
f. Polusi udara
g. Kepadatan tempat tinggal
h. Imunisasi yang tidak memadai
i. Membedong anak (menyelimuti berlebihan)
j. Defisiensi vitamin A
k. ISPA yang terjadi pada anak kecil terutama apabila anak tersebut mengalami gizi
kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. ISPA
tersebut dapat berlanjut menjadi pneumonia.
l. Risiko terutama meningkat pada anak-anak yang menderita infeksi silang, beban
imunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing,
serta tidak terdedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.
2. Faktor resiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia
a. Umur < 2 bulan
b. Tingkat sosial ekonomi rendah
c. Gizi kurang
d. Berat badan lahir rendah
e. Tingkat pendidikan ibu yang rendah
f. Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
g. Kepadatan tempat tinggal
h. Imunisasi yang tidak memadai
i. Menderita penyakit kronis
5

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

Secara umum terdapat 3 faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor
individu anak, serta faktor perilaku.
1. Faktor lingkungan
a. Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan
konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan
memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan
ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar
tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan
karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya
sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian diperoleh
adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan
resiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih
terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 10 tahun.
b. Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari
ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang
optimum bagi pernapasan.
2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat
pencemar lain dengan cara pengenceran udara.
3. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.
5. Mengeluakan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh,
kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.
6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
c. Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang
minimal menempati luas rumah 8m. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat
mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi
dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna
antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

bahwa polusi udara, tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi
pada faktor ini.
2. Faktor individu anak
a. Umur anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh
virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap
usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 12 bulan.
b. Berat badan lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental
pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai
risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal,
terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi,
terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram
dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan
dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan,
pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat
berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit
saluran pernapasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.
c. Status gizi
Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan
anak dipengaruhi oleh: umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan
fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu
sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri :
berat badan lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan atas.
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk
terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya
hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi
buruk sering mendapat pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi
buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya
daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.
Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA
dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang
kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu
7

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih
mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih lama.
d. Vitamin A
Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU
vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang
mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah
mendapatkannya adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6%
pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan
menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada
dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit
penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah
diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk
jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A
dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anal prasekolah seharusnya tidak
dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu
kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan perlindungan
terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan
berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
e. Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat
kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar
kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan
cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk
mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi
lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita
ISPA dapat diharapkan perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.
Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian
imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif
sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi
pertusis (DPT) 6% lematian pneumonia dapat dicegah.
3. Faktor perilaku
8

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan
balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan
oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan
lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota
keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota
keluarga lainnya.
D. Etiologi ISPA
Sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini disebabkan oleh virus dan
tidak dibutuhkan terrapin antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang
ditemukan pada balita, bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua
radang telinga akut harus mendapat antibiotik.
E. Cara Penularan ISPA
Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa
bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan
dilembabkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam
hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan
silia mendorong lapisan mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah superior
menuju faring.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan
pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal
tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri
lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya
infeksi saluran pernafasan.
Menurut WHO, sekresi lendir atau gejala pilek terjadi juga pada penyakit common
cold disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan atau coronavirus.
Penyakit ini dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari.
Sedangkan pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran nafas
bagian atas. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernafasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernafasannya.
F. Pengobatan
9

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

1. Pneumonia berat
Dirawat di Rumah Sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan sebagainya.
2. Pneumonia
Diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila pasien tidak mungkin diberikan
kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan penderita
menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau
penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia
Tidak diberikan antibiotik. Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat
digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat
yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam dapat
diberikan oabat penurun panas yaitu parasetamol.
4. Untuk penanganan dirumah dapat dilakukan :
a. Kompres air hangat, seka tubuh pasien agar panas badan dapat menguap.
b. Tidak boleh menggunakan selimut atau pakaian tebal dan badan tidak boleh
menggunakan minyak urut dan sebagainya agar panas badan dapat menguap.
c. Beri Asi, makanan dan minuman yang bergizi (makanan yang berlemak).
d. Dapat diberikan obat batuk tradisional : 1 gelas air hangat + 1 sendok madu +
sedikit lemon/jeruk nipis peras.
e. Rajin membersihkan hidung yang tersumbat.
G. Pencegahan dan Pemberantasan
1. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
a. Menjaga agar keadaan gizi tetap baik
b. Imunisasi (campak, DPT)
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
e. Pemberian ASI eksklusif (antibodi)
f. Berhenti merokok atau hindari asap rokok
g. Nutrisi adekuat unuk meningkatkan daya tahan tubuh
h. Tingkatkan akivitas fisik/berolahraga teratur
i. Hindari stress karena dapat menurunkan daya tahan tubuh
j. Istirahat yang cukup.
2. Pemberantasan yang dilakukan adalah :
a. Penyuluhan kesehatan yang terutama ditujukan kepada para ibu
b. Pengelolaan kasus yang disempurnakan
c. Imunisasi
H. Pelaksanan Pemberantasan ISPA
Tugas pemberantasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala
puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya.
10

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

Sebagian besar kematian akibat penyakit pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat
pengobatan petugas puskesmas. Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui aktivitas
kader akan sangat membantu menemukan kasusu-kasus pnemonia yang perlu mendapat
pengobatan antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat yang perlu
segera dirujuk ke Rumah Sakit.
I. Tugas Dokter Puskesmas
Sebagai berikut :
1. Membuat renca aktivitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana tenaga
yang tersedia.
2. Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasuskasus ISPA kepada perawat/paramedis.
3. Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus-kasus pneumonia berat/penyakit dengan
tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke Rumah
Sakit bila dianggap perlu.
4. Memberikan pengobatan khusus peneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke Rumah
Sakit.
5. Bersama dengan staf puskesmas memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu yang
mempunyai anak balita. Perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta
tindakan penunjang dirumah.
6. Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang diberi wewenang
mengobati penderita penyakit ISPA.
7. Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus ISPA serta dapat memberikan penyuluhan
kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA.
8. Memantau aktifitas pemberantasan

dan

melakukan

evaluasi

keberhasilan

pemberantasan penyakit ISPA.


9. Mendeteksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktivitas
pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.
J. Paramedis Puskesmas Puskesmas Pembantu
1. Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada.
2. Melakukan konsultasi kepada dokter puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu
seperti pneumonia berat, penderita dengan wheezing dan stridor.
3. Bersama dokter atau dibawah petunjuk dokter, melatih kader.
4. Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.
5. Melukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pemimpin puskesmas sehubungan
dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.
K. Kader Kesehatan
1. Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia
tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.
11

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

2. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan
pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang
perlu di lakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit.
3. Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek(bukan pneumonia)
dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.
4. Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.
5. Atas pertimbangan dokter puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang
terpencil (atau bila cakupan layanan puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut)
dapat di beri wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan
antibiotik kontrimoksasol.
6. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk.
L. Peran Keluarga/Masyarakat terhadap Penyakit ISPA
Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena
penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau
keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini
banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar
dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika
anaknya sakit.
Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan
kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit
anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan
jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA
sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang
kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi
bertambah berat.
Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan
menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang
segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan
pada pelayanan kesehatan.

12

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

BAB III
MATERI DAN METODA
A. Materi
Materi yang dievaluasi dalam laporan ini adalah ISPA non pneumonia yang terjadi pada
pasien anak Iqbal.
B. Metoda
Data yang diperlukan dalam pengumpulan data ini adalah data subyektif pada pasien
ISPA non pneumonia dengan wawancara langsung pada pasien dan keluarganya tentang
pola hidup yang selama ini dilakukan dengan menggunakan alat berupa daftar pertanyaan.

13

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

BAB IV
DATA KUNJUNGAN RUMAH PASIEN
Nama
Umur
Jenis
Alamat

: Iqbal Maulana Putra


: 23 bulan
: Laki-laki
: Jalan Semeru Raya No. 12, RT. 8, RW. 10.

Keluhan utama
Keluhan tambahan
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu

: Batuk berdahak, sejak 1 hari yang lalu


: Tenggorokan gatal,tidak ada nafsu makan
: Batuk berdahak, tenggorokan gatal
: Sering mengalami batuk berdahak

Pemeriksaan fisik :
TTV :
Suhu
: 36,50 C
Pernapasan : 26 kali/menit
Nadi
: 80 kali/menit
Diagnosis penyakit : ISPA non pneumonia
Hasil dan data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis kasus
Seorang pasien anak laki-laki Iqbal umur 23 bulan datang ke Puskesmas Grogol 1 dengan
keluhan batuk berdahak sejak 1 hari yang lalu, tenggorokan gatal dan tidak ada nafsu
makan. Kondisi pasien tampak sehat tidak ada demam dan tidak ada keluhan sesak napas
ataupun tarikan dinding dada kedalam juga tidak bernapas lebih cepat dari napas normal
14

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

sesusianya. Pasien datang diantar oleh ibunya dan bersama-sama dengan kakanya berobat
di Puskesmas Grogol 1. Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan didapati hasilnya normal.
Pada tanggal 9 Juli 2012 setelah pasien pulang berobat dari Puskesmas, maka kami
langsung melakukan kunjungan rumah untuk melakukan anamnesis dan melihat kondisi
rumah pasien. Disana kami mendapat keterangan bahwa penyakit yang pasien derita
adalah penyakit yang sering diderita oleh pasien juga keluarga pasien yang tinggal
serumah dengan pasien, secara bergantian.
B. Riwayat keluarga
1. Kakak pasien juga menderita penyakit yang sama sejak 2 hari yang lalu tetapi disertai
dengan sakit kepala.
2. Nenek pasien menderita hipertensi saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah
didapatkan hasil 180/120 mmHg, neneknya mengeluhkan bahwa badannya sering
terasa lemas dan gemetaran.
3. Analisis kunjungan rumah
1. Kondisi pasien
Kondisi pasien dalam keadaan baik, tidak ada demam, tidak ada keluhan sesak napas
ataupun tarikan dinding dada kedalam juga tidak bernapas lebih cepat dari napas
normal sesusianya

2. Pendidikan
Ayah pasien bersekolah sampai tingkat SMP sedangkan ibu pasien bersekolah sampai
tingkat SD.
3. Keadaan rumah
a. Lokasi
Rumah pasien terletak di pemukiman padat penduduk di dalam gang kecil. Jarak
antara rumah yang satu dengan yang lain hanya dipisahkan oleh tembok masingmasing rumah, jadi antara rumah satu dengan yang lain sangat berdempet sekali.
b. Kondisi
Jenis bangunan rumah pasien adalah permanen. Rumah terbuat dari bata dan
diplester, lantainya terbuat dari keramik, beratap seng.
c. Luas rumah
4 x 13 m2, dua lantai.
4. Pembagian rumah

15

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

Rumah dibagi menjadi 5 ruangan, 4 ruangan dibawah yaitu 1 ruang keluarga


merangkap ruang tidur kedua anaknya, 1 kamar tidur untuk ayah dan ibu serta nenek
pasien, 1 ruang dapur dan ada tangga unuk naik keatas loteng, 1 kamar mandi
merangkap kakus, tempat mencuci piring dan mencuci pakaian, 1 ruangan tidur
dilantai 2 (loteng) untuk om dan tante pasien yang kadang-kadang jika datang ke
Jakarta menginap sementara di rumah pasien. Karena keterbatasan ruangan maka
ruang keluarga difungsikan sebagai ruang tidur dan ruang tidur ayah dan ibu pasien
digabung dengan ruang tidur nenek pasien.

16

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

5. Ventilasi dan flapon


a. Terdapat ventilasi pada rumah pasien, tetapi beberapa ventilasi, yaitu ventilasi
yang terdapat diruang tidur ayah, ibu dan nenek pasien tidak difungsikan dengan
semestinya malahan ditutup dengan alasan saat turun hujan maka air hujan dapat
masuk kedalam rumah lewat ventilasi tersebut, sedangkan beberapa ventilasi
lainnya yang berada di kamar tersebut, di ruang keluarga dan di dalam kamar
mandi tidak dirawat, banyak sekali terdapat debu yang menempel pada kasa yang
ditempel di ventilasi rumah pasien.
b. Terdapat 1 flapon yang dibuka tepat diatas tempat tidur ayah dan ibu pasien
dengan alasan agar mendapat udara.

17

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

6. Pencahayaan
Pencahayaan didalam rumah kurang karena hanya terdapat 2 jendela di ruang
keluarga.
7. Kebersihan
Rumah tampak sangat tidak rapi dan kurang bersih. Banyak terdapat pakaian yang
tergantung, peralatan-perlatan dapur yang tidak disusun rapi dan diletakkan tidak pada
tempatnya. Kaca jendela yang ada tidak digunakan sebagaimana mestinya karena

18

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

tidak dibuka tetapi ditutup dan horden yang digunakan untuk menutup jendela tidak
dicuci-cuci.

8. Sanitasi dasar
Sumber air minum berasal dari air leding, dan air tersebut digunakan untuk keperluan
memasak, mencuci dan mandi. Terdapat satu kamar mandi permanen merangkap
kakus, tempat mencuci piring dan pakaian.

19

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

4. Analisa keluarga
1. Keadaan biologis
a. Dalam keluarga pasien saat ini yang menderita ISPA non pneumonia adalah pasien
dan kaka pasien. Penyakit batuk berdahak adalah penyakit yang paling sering
diderita oleh keluarga ini masing-masing secara bergantian.
b. Pola makan keluarga kurang karena samapi jam 11.00 WIB tidak ada satupun dari
keluarga termasuk pasien sendiri yang sudah sarapan ataupun makan siang.
c. Pola istirahat keluarga baik karena biasanya sebelum jam 22.00 WIB sudah
beristirahat.
d. Kebersihan perorangan sedang/cukup baik.
e. Penyakit keturunan yang ditemukan adalah hipertensi karena nenek pasien
menderita hipertensi.
f. Jumlah anggota keluarga tetap ada 5 orang.
2. Keadaan sosiologis
a. Hubungan antara keluarga baik karena anggota keluarga sering berkumpul di
ruang keluarga untuk menonton dan bercerita bersama. Terlihat masing-masing
anggota keluarga pasien berbahagia.
b. Hubungan keluarga dengan orang lain atau tetangga baik, terlihat keluarga pasien
sering bercengkrama/berkomunikasi dengan tetangga-tetangga mereka.
c. Keluarga pasien juga turut ikut serta dalam kegiatan sosial di tempat mereka
tinggal, seperti pengajian dan penyuluhan di posyandu terdekat.
20

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

3. Keadaan ekonomi
Ayah pasien sebagai tulang punggung keluarga dengan pekerjaannya sebagai
pedagang korang di terminal bus grogol, sedangkan ibu pasien hanyalah seorang ibu
rumah tangga.
4. Keadaan religius
Semua anggota keluarganya menjalankan ibadah mereka dengan baik. Keluarga
pasien tetap mengikuti kegiatan keagamaan, seperti acara pengajian yang
dilangsungkan oleh lingkungannya.

Foto bersama pasien dan ibu pasien

21

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

Foto bersama nenek pasien


BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pasien anak laki-laki berusia 23 bulan menderita ISPA non pneumonia dikarenankan
memiliki faktor risiko seperti lingkungan rumah yang padat penduduk, ventilasi rumah
yang kotor, jendela yang tidak dibuka, horden yang tidak dicuci, rumah yang
kebersihannya tidak terjaga, jumlah penghuni rumah yang melebihi kapasitas rumah, pola
makan yang kurang baik mengakibatkan sirkulasi udara rumah yang tidak cepat terganti,
daya tahan tubuh rendah sehinga mudah untuk terserang ISPA tidak hanya pasien tetapi
juga keluarga pasien.
B. Saran
Kepada puskesmas atau dokter puskesmas dalam memberantas ISPA diwilayah kerjanya :
1. Membuat renca aktivitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana tenaga
yang tersedia.
2. Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasuskasus ISPA kepada perawat/paramedis.

22

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

3. Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus-kasus pneumonia berat/penyakit dengan


tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke Rumah
Sakit bila dianggap perlu.
4. Memberikan pengobatan khusus peneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke Rumah
Sakit.
5. Bersama dengan staf puskesmas memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu yang
mempunyai anak balita. Perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta
tindakan penunjang dirumah.
6. Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang diberi wewenang
mengobati penderita penyakit ISPA.
7. Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan
penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA.
8. Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan

evaluasi

keberhasilan

pemberantasan penyakit ISPA.


9. Mendeteksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktivitas
pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

23

LAPORAN KASUS ISPA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA

DAFTAR PUSTAKA
1. Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA, Depkes RI, 2001.
2. Mukono, Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Pernafasan, 1997.

24