Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

PRINSIP PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL

Oleh:
Lina M. Fone

(0908012853)

Prakosa Wicaksono (1008012003)


Lestari Wacika (1008012004)
DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK
SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
2014

BAB 1 PENDAHULUAN
Kortikosteroid Hormon
Diproduksi oleh Kelenjar adrenal
Dikembangkan sintetiknya karena efek anti
inflamasinya
Menurut penggunaannya dibagi atas Kortikosteroid
sistemik dan topikal
Selain efek yang berguna bagi tubuh,
kortikosteroid memiliki berbagai efek samping
sehingga butuh perhatian khusus untuk
penggunaannya
pertama kali dilaporkan oleh Sulzberger tahun
1952

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kortikosteroid
Merupakan hormon yang dihasilkan oleh korteks kelenjar adrenal, fungsinya:
1. tanggapan terhadap stres
2. sistem kekebalan tubuh
3. pengaturan inflamasi
4. metabolisme karbohidrat
5. pemecahan protein
6. kadar elektrolit darah

Kelenjar adrenal terbagi atas korteks dan medulla


korteksnya memiliki dua zona yakni zona fasikulata dan
glomerulosa.
Zona fasikulata menghasilkan hormon glukokortikoid dan
mineralokortikoid.

mineralokortikoid :
Efek
pada
pengaturan
keseimbangan
air
dan
elektrolit
yakni
retensi
natrium dan deplesi kalium
sehingga jenis ini jarang
dipilih sebagai pilihan terapi,
contohnya
adalah
desoksikortikosteron.

glukokortikoid :
efek utama terhadap penyimpanan
glikogen hepar dan anti inflamasi yang
nyata serta tidak memiliki pengaruh yang
kecil terhadap keseimbangan air dan
elektrolit.5 Contoh glukokortikoid alam
adalah kortisol sedangkan glukokortikoid
sintetik contohnya adalah prednisolon.

2.2. Farmakologi
Semua hormon steroid sama-sama mempunyai rumus bangun siklopentano
perhidrofenantren 17-karbon dengan 4 buah cincin. Modifikasi dari struktur
cincin dan struktur luar akan mengakibatkan perubahan pada efektivitas
dari steroid tersebut.
Semua dasar kortikosteroid topikal adalah kortisol dengan menambah atau
mengubah kelompok fungsional pada posisi tertentu akan membentuk
beragam potensi dan efek samping, yaitu:

1. Menambah sebuah molekul fluorin pada posisi 6 dan atau 9 meningkatkan potensi
steroid, tetapi meningkatkan aktivitas mineralokortikoid
2. Subtitusi pada posisi 16 dengan sebuah metil (deksametason) atau metil
(betametason) meningkatkan efikasi tanpa menambah kemampuan retensi
sodium
3. Menghilangkan, mengganti atau menutup kelompok hidroksil akan meningkatkan
lipofilisitas molekul dengan demikian absorbsi perkutan sebaik aktvitas ikatan
glukokortikoid dengan reseptornya, penutupan ini dapat dilakukan dengan
Esterifikasi posisi C16, C17 dan C21 (asam butirat pda molekul hidrokortison menghasilkan
hidrokortison butirat).
Pembentukan kelompok asetonid dengan cara menambah unsur 16- - hidroksi menghasilkan
triamsinolon asetonid atau flusinolon asetonid.
Penggantian kelompok 21-hidroksil dan molekul pada molekul betametason dengan chlorine
moety menghasilkan klobetasol 17 propionat, merupakan bentuk molekul terkuat sampai saat
ini.

2.3. Klasifikasi Kortikosteroid Topikal


Kortikosteroid topikal diklasifikasikan dalam tujuh golongan berdasarkan potensi
klinisnya, (Cornell & Stoughton) yaitu:
Golongan I : Super Potent
Clobetasol proprionate ointment dan cream 0,5%, Betamethasone diproprionate gel
dan ointment 0,05% ,
Golongan II : Potent
Amcinonide ointment 0,1% ,Betamethasone diproprionate AF cream 0,05%
,Mometasone fuorate ointment 0,1% ,Diflorasone diacetate ointment 0,05% ,
Golongan III : Potent, upper mid-strength
Triamcinolone acetonide ointment 0,1% ,Fluticasone proprionate ointment 0,05%
,Amcinonide cream 0,1% , Betamethasone diproprionate cream 0,05%
,Betamethasone valerate ointment 0,1%

Golongan IV : Mid-strength
Fluocinolone acetonide ointment 0,025% ,Flurandrenolide ointment 0,05% ,Fluticasone proprionate
cream 0,05% ,Hydrocortisone valerate cream 0,2% ,Mometasone fuorate cream 0,1% ,Triamcinolone
acetonide cream 0,1% 5.
Golongan V : Lower mid-strength
Alclometasone diproprionate ointment 0,05% ,Betamethasone diproprionate lotion 0,05%
,Betamethasone valerate cream 0,1% ,Fluocinolone acetonide cream 0,025% ,Flurandrenolide cream
0,05% ,
Golongan VI : Mild strength
Alclometasone diproprionate cream 0,05% ,Betamethasone diproprionate lotion 0,05% ,Desonide
cream 0,05% ,Fluocinolone acetonide cream 0,01% ,
Golongan VII : Least potent
Obat topikal dengan hydrocortisone, dexamethasone, dan prednisone.
Dalam penggolongan ini, obat yang sama dapat ditemukan dalam klasifikasi potensi obat yang
berbeda tergantung dari vehikulum yang digunakan.

United State Pharmocopeial Drug Information for


The Health Care Proffesional classification:
Potensi lemah
Hidrocortison asetat 0,1-1%
Deksametason 0,04-0,1%
Metilprednisolon 0,25-1

Potensi kuat

Triamsinolon asetonid 0,5%


Desoksimetason 0,25%
Halsonid 0,025%

Potensi sedang

Klobetason butirat 0,05%


Diflukortolon Valerat 0,1%
Mometason Furoat 0,1%

Sangat kuat

Diflukortolon valerat 0,03%


Klobetasol propionat 0,05%

2.4 Formulasi farmakologi dan hubungannya dengan


potensi.
konsentrasi sama dalam sediaan salep lebih poten dari sediaan krim.
Salep vehikulum sangat tertutup, menguatkan efek glukokortikoid karena salep menciptakan
peningkatan hidrasi stratum korneum. tidak ditambah bahan pengawet jarang menimbulkan
iritasi.
daerah terbuka sediaan krim lebih banyak digunakan karena dapat diterima secara kosmetik,
kulit kepala lebih nyaman dengan sediaan cari atau losio.
Menutup kulit yang telah dioles kortikosteroid topikal meningkatkan penetrasi 10 100 kali
aktivitas biologik dibandingkan dengan kulit yang tidak ditutup.
Tujuan kortikosteroid topikal tersedia dikulit dalam 7-8 jam bahkan 12-24 jam.
Pelindung utama penahan penetrasi stratum korneum, bila rusak penyerapan obat akan
meningkat.
Propilen glikol juga merupakan senyawa yang dapat melarutkan zat aktif lebih baik didalam cairan
sehingga menigkatkan penetrasi steroid.

2.5. Mekanisme kerja kortikosteroid topikal

difusi
Barier stratum
korneum

Anti inflamasi,
Imunosupresif,
Anti proliferasi,
Vasokonstriksi.

Be
be rub
be ntu ah
rg k,
e
nu ke rak
be cle
r
u
de ikat s,
kr n g an
o m an
at
in

Kortikosteroid
Topikal

epidermis & dermis


(terikat pada
kompleks reseptor
steroid)

Stimulasi
transkripsi
RNA dan
sintetis
protein
spesifik

1. Efek anti inflamasi.


inhibisi pelepasan phospholipase
A2 (enzim yang bertanggung
jawab
dalam
pembentukan
prostaglandin,
leukotrin,
dan
derivat asam arachidonat)
inhibisi faktor-faktor transkripsi
yang terlibat dalam aktivasi gen
pro inflamasi
Gen-gen ini diregulasi oleh
kortikosteroid dan memiliki peran
dalam resolusi inflamasi.
mengurangi
pelepasan
IL1( sitokinproinflamasi penting
dari keratinosit)
inhibisi

proses

fagositosis

dan

2. Efek imunosupresif.
menekan produksi dan efek faktorfaktor humoral yang terlibat dalam
proses inflamasi
menginhibisi migrasi leukosit ke tempat
inflamasi
mengganggu fungsi sel endotel,
granulosit, sel mast dan fibroblas.
pengurangan sel mast pada kulit.

3. Efek antiproliferasi.
inhibisi sintesis dan mitosis
DNA, yang sebagian
menjelaskan terapi obatobat ini pada dermatosis
dengan disertai skuama.
inhibisi Aktivitas fibroblas
dan pembentukan kolagen

4. Vasokonstriksi

inhibisi vasodilator alami


(histamin, bradikinin, dan
prostaglandin)
kapiler-kapiler di lapisan
superfisial dermis
berkonstriksi, sehingga
mengurangi edema.

2.6. Indikasi kortikosteroid topikal


potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan untuk suatu penyakit kulit.
kortikosteroid bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan
merupakan pengobatan kausal. Kortikosteroid topikal di rekomendasikan untuk
aktivitas anti inflamasinya pada penyakit kulit inflamasi, tetapi dapat juga
digunakan untuk efek antimitotik dan kapasitasnya utnuk mengurangi sistesis
molekul-molekul connective tissue.
a. efek anti inflamasi bisa dimanfaatkan untuk penyakit kulit dengan eritema.
b. efek imunosupresif dapat digunakan utnuk penyakit psoriasis dimana terjadi
mitosis yang berlebihan.
c. efek vasokonstriksi dapat digunakan untuk urtikaria.
d. efek anabolik bisa digunakan sebagai anti pruritus walaupun efeknya minimal.

Indikasi kortikosteroid topikal dan respon keberhasilannya


Respon baik
Psoriasis intertriginosa
Dermatitis seboroik
Dermatitis atopik anak
intertrigo

Respon sedang
Psoriasis tubuh
Dermatitis atopik dewasa
Eksema numularis
Dermatitis kontak iritan
Papul urtikaria
Parapsoriasi
Likhen simplkes kronis

Respon sedikit
Psoriasis palmoplantar
Psoriasis kuku
Eksema dishidrotik
Lupus eritomatosus
Pemfigus
Likhen planus
Granuloma anulare
Dermatitis kontak alergi
poison ivy

Penggunaan Kortikosteroid pada anak:


Anak-anak, terutama bayi, memiliki peningkatan risiko dalam penyerapan kortikosteroid .
Karena rasio lebih tinggi dalam luas permukaan kulit terhadap berat badan, aplikasi pada daerah
yang diberikan mengakibatkan dosis steroid sistemik yang secara potensial lebih besar.
Bayi kurang mampu memetabolisme kortikosteroid poten dengan cepat.
Bayi premature terutama memiliki risiko karena kulitnya lebih tipis dan penetrasi obat topikal yang
diberikan akan sangat meningkat.
Penyerapan kortikosteroid topikal yang berlebihan menekan produksi kortisol endogen.
Penghentian terapi steroid topikal setelah terapi jangka panjang dapat, menyebabkan addisonian
crisis.
Supresi produksi kortisol yang kronik juga dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat. Bila
terdapat supresi kortisol, maka anak harus secara perlahan dihentikan pemberian steroidnya untuk
mencegah komplikasi ini.
Pasien usia tua juga memiliki kulit yang tipis, yang memungkinkan peningkatan penetrasi
kortikosteroid topikal.

2.7. Cara Aplikasi kortikosteroid topikal


Kortikosteroid topikal potensi paling rendah namun masih dapat meredakan gejala
dan jumlah yang cukup tapi dapat mengendalikan kondisi lebih baik digunakan,
pemakaian dalam jumlah kumulatif terkecil dalam waktu sesingkat mungkin akan
menurunkan efek samping. Setelah sembuh bila mungkin pasien mempertahankan
dengan emolien saja.
Terdapat 2 metode dalam mengobati eksim dengan kortikosteroid topikal yaitu
naik tangga dan turun tangga.
Metode naik tangga adalah: memulai pengobatan dengan potensi rendah kemudian
menaikkan bila tidak ada respon, cara ini mungkin tepat bila mengobati eksim
ringan.
Metode turun tangga adalah: memulai dengan potensi tinggi bila respon sudah
tercapai maka kekuatan diturunkan.

Fingertip Units (FTUs) sediaan kortikosteroid topikal


Umur
Dewasa
Anak
3-6 bulan
1-2 tahun
3-5 tahun
6-10 tahun

Muka+leher
2,5

1
1,5
1,5
2

Lengan + tangan
4

1
1,5
2
2,5

Tungkai+kaki
8

1,5
2
3
4,5

Badan
depan
7

1
2
3
3,5

Badan
belakang
7

1,5
3
3,5
5

Sejak dikenalnya kortikosteroid topikal pemakain yang dianjurkan adalah


dua kali sehari, walaupun tidak ada bukti ilmiah dalam menentukan
jadwal optimal. Saat ini terdapat kortikosteroid yang dioleskan cukup
satu kali saja karena pemakaian dua kali tidak meningkatkan efektifitas.
Jumlah yang dioleskan tergantung daerah yang dioleskan dengan satuan
seujung jari telunjuk atau fingertip unit (FTU).

Panjang dari krim atau salep yang dikeluarkan dari tube dapat
diukur dengan satuan FTU (Finger Tip Unit = 1 ruas jari telunjuk
orang dewasa). Satu FTU (sekitar 500 mg) dapat dipakaikan 2 x
ukuran tangan orang dewasa.
Lama pengobatan untuk kortikosteroid topikal berpotensi sangat kuat
sebaiknya kurang dari 3 minggu, dengan jumlah pemakaian tidak lebih
dari 30gr seminggu.
Pada anak-anak harus dihindari pemakaian kortikosteroid topikal
dengan potensi kuat sampai sangat kuat karena lebih dari 10 gram
perminggu dapat terjadi retardasi pertumbuhan. Pemakaian
kortikosteroid topikal berkekuatan sedang sampai kuat tidak
diperbolehkan dalam waktu lebih dari 3 bulan

2.8. Dosis Kortikosteroid Topikal

Catatan:
Untuk sebagian besar obat sebaiknya diberikan 1 2 x/hari. Untuk
daerah telapak tangan dan kaki dapat diberikan lebih sering.
Panjang dari krim atau salep yang dikeluarkan dari tube dapat diukur
dengan satuan FTU (Finger Tip Unit = 1 ruas jari telunjuk orang
dewasa). Satu FTU (sekitar 500 mg) dapat dipakaikan 2 x ukuran tangan
orang dewasa.
Pemakaian selang seling 1 hari atau pada akhir pekan
direkomendasikan pada kondisi kronis.
Kortikosteroid topikal potensi sangat tinggi hanya direkomendasikan
untuk dipakai selama 1 2 minggu (paling lama 3 minggu) kemudian
beralih ke potensi yang lebih ringan seiring dengan perbaikan kondisi.

Perhatian khusus:
Preparat dengan potensi rendah merupakan pilihan untuk
daerah wajah dan perlipatan.
Preparat dengan potensi sangat tinggi sebaiknya tidak
digunakan untuk anak di bawah 1 tahun.
Preparat potensi sedang dan tinggi jarang menimbulkan
masalah jika digunakan kurang dari 3 bulan.
Preparat dengan potensi rendah jarang menimbulkan efek
samping.

2.9. Efek samping kortikosteroid topikal

Semakin tinggi potensinya, semakin besar kemungkinan terjadi efek


samping. Beberapa efek samping yang dapat dijumpai :
a. Efek Epidermal
Penipisan epidermal yang disertai dengan penurunan kinetik epidermal, penurunan
ketebalan rata-rata lapisan keratinosit dengan penipisan tautan dermo-epidermal.

b. Efek Dermal
Terjadi penurunan sintesis kolagen dan pengurangan pada substansi
dasar. Ini menyebabkan terbentuknya striae dan keadaan vaskularisasi
dermal yang lemah serta mudah ruptur jika terjadi trauma.

c. Efek Vaskuler
Vasokontriksi yang terfiksasi. Pada awalnya kortikosteroid dapat menyebabkan vasokonstriksi
pada pembuluh darah kecil di superfisial.
Fenomena rebound. Vasokonstriksi yang berlangsung lama akan menyebabkan pembuluh darah
yang kecil mengalami dilatasi berlebihan setelahnya yang dapat mengakibatkan edema, inflamasi
lanjut, dan terkadang pustulasi.

d. Efek Sistemik
timbul jika kortikosteroid topikal diabsorbsi secara sistemik dalam jumlah yang cukup kedalam
sirkulasi. Risiko terjadinya efek ini meningkat pada kulit yang tipis, sediaan yang kuat, usia yang
lebih muda, penggunaan jangka panjang dan pembalutan atau oklusi.
Efek yang mengkhawatirkan adalah penekanan Hypothalamic Pituitary axis yang dapat
menyebabkan tidak diekskresikannya adrenokortikosteroid endogen sehingga terjadi insufisiensi
adrenal. Efek lainnya adalah hipertensi, hiperglikemia, osteoporosis dan gangguan pertumbuhan
pada anak

2.10. Pencegahan efek samping


Terjadinya efek samping bergantung pada dosis, lama pengobatan dan
jenis kortikosteroid yang digunakan.
Umumnya kortikosteroid topikal tidak menyebabkan efek samping yang
gawat. Pencegahan efek samping dari kortikosteroid topikal adalah:
1. kortikosteroid topikal potensi sangat kuat tidak boleh diberikan lebih dari tiga minggu dan
tiap minggunya harus kurang dari 30 gram sedangkan kortikosteroid potensi sedang sampai
kuat tidak boleh melebihi tiga bulan.
2. Pada daerah lipatan dan wajah digunakan kortikosteroid topikal potensi lemah atau sedang.
3. Kulit bayi yang tipis dapat diberikan kortikosteroid potensi lemah.
4. Jangan digunakan untuk infeksi oleh jamur, virus, bakteri, atau parasit.
5. Penggunaan disekitar mata harus berhati-hati untuk mencegah glaukoma dan katarak.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Kortikosteroid sintetis dalam penggunaannya dibagi menjadi kortikosteroid sistemik dan
kosrtikosteroid topikal.
2. Kortikosteroid topikal dapat digolongkan menjadi beberapa kelas/potensi berdasarkan
kemampuan vasokonstriksi dan anti inflamasinya.
3. kortikosteroid topikal memiliki mekanisme kerja sebagai anti inflamasi, imunosupresif,
antiproliferasi dan Vasokonstritif.
4. Efek samping dari kortikosteroid topikal meliputi efek epidermal, dermal dan vaskular

3.2. Saran
Penggunaan kortikosteroid topikal harus memperhatikan dosis, lama pengobatan dan
jenis kortikosteroid topikal yang digunakan sehingga dapat meminimalisir efek samping yang
terjadi akibat penggunaannya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2009; 339-341
2. Jacoeb TNA. Prinsip Umum Penggunaan Kortikosteroid Topikal. Dermatovenerologi Dalam Praktek Sehari-Hari. Konas
Perdoski. Jakarta. 2005; 36-43
3. NN. Therapeutic Guidelines : Dermatology Version 2.Therapeutic Guidelines Limited. Australia. 2004; 34-36
4. Weller R, Hunter J, Savin J, Dahl M. Clinical Dermatology Fourth Edition. Blackwell publishing. Australia. 2008; 381-392
5. Guyton AC, Hall JE. Textbook Of Modeical Phisiology 11th Edition. Elsevier Inc. Pennsylvania. 2006; 944-960
6. Valencia I.C, Kerdel F.A. Topical Corticosteroids. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ,
editors. Fitzpatrick's dermatology in generalmedicine. 7th ed. United States of America: The McGraw-Hill Companies Inc;
2008; 2101-05
7. Lo KK. Proper Use of Topical Corticosteroids and Topical Immuno-suppressive Agents. The Hongkong Medical Diary vol 11
No 9. Hongkong. 2006
8. Robertson DB, Maibach HI. Farmakologi Dermatologik. Farmakologi Dasar dan klinik. EGC. Jakarta. 1998; 979-981
9. Sukanto H. Penggunaan Klinis Kortikosteroid Topikal Secara Umum. Simposium Penggunaan Kortikosteroid Topikal Secara
Rasional. Perdoski. Surabaya. 2003; 59
10.Ping NH, Lim C, Evaria dkk. MIMS Edisi Bahasa Indonesia. BIP.Jakarta.2013 ; 430-435

Sekian

Terimakasih