Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MANAGEMEN AKTIF KALA III


Dosen Pengampu : Dita Wasthu P.Amd.Keb,SKM

Disusun oleh:
1. Nuryana Diaranita
2. Susi Susanti

(1202053)
(1202071)

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat, dan anugerah-Nya kami dapat menyusun Makalah ini dengan
judul MANAGEMEN AKTIF KALA III yang disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Asuhan Kebidanan II yang diberikan oleh Dita Wasthu
P.Amd.Keb,SKM
Tidak sedikit kesulitan yang kami alami dalam proses penyusunan
makalah ini. Namun berkat dorongan dan bantuan dari semua pihak yang terkait,
baik secara moril maupun materil, akhirnya kesulitan tersebut dapat diatasi.
Tidak lupa pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada
Dosen yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa untuk meningkatkan kualitas makalah ini kami
membutuhkan kritik dan saran demi perbaikan makalah di waktu yang akan
datang. Akhir kata, besar harapan kami agar makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.

Semarang, Februari 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................
B. Rumusan Masalah......................................................................
C. Tujuan Penulisan .......................................................................

BAB II

1
2
2

TINJAUAN TEORI
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Definisi Manajemen Aktif Kala III...........................................


Keuntungan-keuntungan manajemenaktif kala III...................
Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III.............................
Tindakan yang Keliru dalam Manajemen Aktif Kala III..........
Kesalahan Tindakan Manajemen Aktif Kala III.......................
Pemeriksaan Plasenta................................................................

3
4
4
9
9
9

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan................................................................................
B. Saran...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

11
11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan mempunyai peranan besar dalam meningkatkan derajat
hidup masyarakat, maka semua negara berupaya menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya. Pelayanan kesehatan ini berarti
setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dam
mengobati penyakit, serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok,
ataupun masyarakat.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya dapat
diwujudkan dengan

memberikan

asuhan pada ibu

bersalin

secara

tepat. Periode kala III persalinan dimulai saat proses lahirnya bayi dan
berakhir dengan lahirnya plasenta. Komplikasi utama yang terkait dengan
periode ini adalah perdarahan postpartum (PPH), yang merupakan penyebab
paling umum dari morbiditas dan kematian ibu di negara-negara
berkembang. Bahkan di negara maju, meskipun angka kematian ibu jauh
lebih

rendah,

PPH

tetap

menjadi

perhatian

utama. Peristiwa

ini

dilatarbelakangi kejadian tromboemboli dan penyakit hipertensi sebagai


penyebab umum kematian ibu pada wanita yang kehamilannya berlanjut
setelah 20 minggu. Periode postpartum sangat dini ini berhubungan dengan
komplikasi ibu dari perdarahan, perpindahan cairan, dan emboli. Selama kala
ini, fokus dan perasaan emosional serta kelegaan fisik ibu sering kali
berubah secara spontan dari kelelahan konsentrasi terhadap kelahiran
yang actualmenjadi eksplorasi dan pengenalan terhadap bayinya yang baru
lahir. Untuk memfasilitasi diperolehnya hasil akhir yang aman dan sehat
untuk ibu dan bayinya, kesehatan antenatal dan juga persiapan intrapartum,
keterampilan, ketekunan, dan keahlian bidan merupakan faktor yang sangat
penting.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka kami membuat makalah ini yang
diharapkan para bidan dapat melakukan Manajemen Aktif Kala III dengan
tepat sehingga menngurangi perdarahan postpartum, menekan angka
kematian ibu, dan akhirnya dapat meningkatkan derajat hidup masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Aktif Kala III persalinan?
2. Apa saja keuntungan Manajemen Aktif Kala III persalinan?
3. Bagaimana penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III persalinan?
4. Apa saja tindakan yang keliru pada Manajemen Aktif Kala III?
5. Apa saja kesalahan tindakan Manajemen Aktif Kala III?
6. Bagaimana pemeriksaan pada plasenta yang telah dilahirkan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini ialah sebagai berikut:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Manajemen Aktif Kala III
2.
3.

persalinan
Mengetahui apa saja keuntungan Manajemen Aktif Kala III persalinan
Memahami bagaimana penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III

4.

persalinan
Memahami apa saja tindakan yang kaliru pada Manajemen Aktif Kala III

5.

persalinan
Mengetahui apa saja kesalahan tindakan Manajemen Aktif Kala III

6.

persalinan
Mengetahui meliputi apa saja pemeriksaan pada Plasenta yang telah
dilahirkan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Manajemen Aktif Kala III


Kala III dimulai sejak bayi lahir sampai lahirnya plasenta/uri. Rata-rat
lama kala III berkisar 15-30 menit, baik pada primipara maupun multipara.
Risiko perdarahan meningkat apabila kala tiga lebih dari 30 menit, terutama
antara 30-60 menit. (Sumarah, 2009)
Pentalaksanaan aktif didefinisikan sebagai pemberian oksitosin segera
setelah pelahiran bahu anterior, mengklem tali pusat, segera setelah pelahiran
bayi, dan menggunakan traksi tali pusat terkendali untuk pelahiran plasenta.
Penelitian selanjutnya mengonfirmasi kehilangan darah yang jauh lebih
sedikit pada penatalaksanaan aktif kala III, bahkan pada populasi yang
beresiko rendah mengalami perdarahan post-partum. (Varney, 2007)
Thilagonathan

dkk

(1993)

membandingkan

suatu

regimen

penatalaksanaan aktif dengan sintometrin (5 unit oksitosin dengan 0,5mg


ergometrin)

dan

traksi

tali

pusat

terkontrol

dengan

salah

satu

penatalaksanaan fisiologis ketika tali pusat tidak di klem dan plasenta tidak
dilahirkan dengan usaha ibu. Diantara 103 pelahiran cukup bulan risiko
rendah, penatalaksanaan aktif menyebabkan penurunan waktu persalinan
kala III tapi tidak ada penurunan kehilangan darah dibandingkan dengan
penatalaksanaan fisiologis. Mitchell dan Elbourne (1993) menemukan bahwa
sinometrin yang diberikan secara intra muskular bersamaan dengan pelahiran
bahu depan lebih efektif daripada hanya oksitosin (5 unit intra muskular)
pada pencegahan perdarahan postpartum. (Cunningham, 2005)
Penelitian Prevention of Postpartum Hemorrhage Intervention-2006
tentang praktik menejemen aktif kala tiga (Active Managemen of Third Stage
of Labour/AMTSL) di 20 rumah Sakit di Indonesia menunjukkan bahwa
hanya 30% Rumah sakit melaksanakan hal tersebut. Hal ini sangat berbeda
jika dibandingkan dengan praktik menejemen aktif ditingkat pelayanan

kesehatan primer (BPS atau Rumah Bersalin) di daerah intervensi APN


(Kabupaten Kuningan dan Cirebon) dimana sekitar 70% melaksanakan
manajemen aktif kala tiga bagi ibu-ibu bersalin yang ditangani. Jika ingin
menyelamatkan banyak ibu bersalin maka sudah sewajarnya jika menejemen
aktif kala tiga tidak hanya dilatihkankan tetapi juga dipraktikkan dan
menjadi standart asuhan persalinan. (APN, 2008)
B. Keuntungan-keuntungan manajemenaktif kala III
Tujuan Manajemen Aktif Kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi
uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah
perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala III persalinan jika
dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Sebagian besar kasus
kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan
pascapersalinan dimana sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri dan
retensio plasenta yang sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan
manajemen aktif kala III. (APN, 2008)
Keuntungan-keuntungan Manajemen Aktif kala III:
1.
2.
3.

Persalinan kala III yang lebih singkat


Mengurangi jumlah kehilangan darah
Mengurangi kejadian Retensio Plasenta

C. Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III


Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama:
1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali
3. Masase Fundus Uteri.
(APN, 2008)
Kesalahan

penatalaksanaan

kala

tiga

adalah

penyebab

utama

perdarahan kala tiga. Kesalahan penatalaksanaan kala tiga dapat juga


menjadi penyebab inversi uterus serta syok yang mengancam jiwa. (Varney,
2007). Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III menurut buku Asuhan
Persalinan Normal (2008) adalah sebagai berikut:

1. Pemberian Suntukan Oksitosin


a. Letakkan bayi baru lahir di atas kain bersih yang telah disiapkan di
perut bawah ibu dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu
memegang bayi tersebut.
b. Pastikan tidak ada bayi lain (Undiagnosed twin) di dalam uterus.
Alasan : Oksitosin menyebabkan uterus berkontraksi yang akan
sangat menurunkan pasokan oksigen kepada bayi. Hati-hati jangan
menekan kuat pada korpus uteri karena dapat terjadi kontraksi
tetanik yang akan menyulitkan pengeluaran plasenta.
c. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik.
d. Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin
10 Unit IM pada 1/3 paha bagian luar atas (aspektus lateralis).
Alasan : oksitosin merangsang fundus uteri untuk berkontraksi
dengan kuat dan efektif sehingga dapat membantu pelepasan
plasenta dan mengurangi kehilagan darah. Aspirasi sebelum
penyuntikan akan mencegah penyuntikan oksitosin ke dalam
pembuluh darah.
Catatan : jika tidak tersedia oksitosin, minta ibu untuk melakukan
stimulasi putting susu atau menganjurkan ibu untuk menyusukan
dengan segera. Ini akan menyebabkan pelepasan oksitosin secara
alamiah.
e. Dengan mengerjakan semua prosedur tersebut terlebih dahulu maka
akan memberi cukup waktu pada bayi untuk memperoleh sejumlah
darah kaya zat besi dan setelah itu (setelah 2 menit) baru dilakukan
penjepitan atau pemotongan tali pusat.
f. Serahkan bayi yang terbungkus kain pada ibu untuk inisiasi menyusu
dini dan kontak kulit-kulit dengan ibu.
Tutup kembali perut bawah iu dengan kain bersih.
Alasan : kain akan mencegah kontaminasi tangan penolong
persalinan yang sudah memakai sarung tangan dan mencegah
kontaminasi oleh darah pada perut ibu.

2. Penegangan Tali Pusat Terkendali atau PTT (CCT/ Controled Cored


Traction)
a. Berdiri di samping ibu
b. Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat saat kala II)
pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva.
Alasan : memegang tali pusat lebih dekat ke vulva akan mencegah
avulsi.
c. Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat
di atas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi
uterus dan menekan uterus pada saat melakukan penegangan pada tali
pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat tegangkan tali pusat dengan
satu tangan dan tangan lain (pada dinding abdomen) menekan uterus
kee arah lumbal dan kepala ibu (dorso-kranial). Lakukan secara hatihati untuk mencegah terjadinya inversion uteri.
d. Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali
(sekitar 2 atau 3 menit berselang) untuk mengulangi kembali
penegangan tali pusat terkendali.
e. Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur)
tegangkan tali pusat kearah bawah, lakukan tekanan dorso-kranial
hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas
yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan.
f. Tetapi jika langka 5 diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan
plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya pennegangan tali
pusat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan lepasnya
plasenta,jangan teruskan penegangan tali pusat.
1) Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai
kontraksi berikutnya. Jika perlu, pindahkan klem lebih dekat ke
perenium pada saat tali pusat memanjang. Pertahankan kesabaran
pada saat melahirkan plasenta.
2) Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali
pusat terkendali dan tekanan dorso-kranial pada korpus uteri
secara serentak. Ikuti langkah-langkah tersebut pada setiap
kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.

g. Setelah plasenta terpisah, anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta


terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat
dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros jalan lahir).
Alasan : segera melepaskan plasenta yang ttelah terpisah dari
dinding uterus akan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu.
Catatan : jangan melakukan penegangan tali pusat tanpa diikuti
dengan tekanan dorso cranial secara serentak pada bagian bawah
uterus (diatas simfisis pubis)
h. Pada saat plasenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan mengangkat tali pusat keatas dan menopang plasenta dengan
tangan lainnya untuk diletakkan dalam wadah penampung. Karena
selaput ketuban mudah robek, pegang plasenta dengan kedua tangan
dan secara lembut putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
menjadi satu.
i. Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan-lahan untuk
melahirkan selaput ketuban.
Alasan: melahirkan plasenta dan selaputnya dengan hati-hati akan
membantu mencegah tertinggalnya selaput ketuban di jalan lahir.
j. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal di jalan lahir saat
melahirkan plasenta, dengan hati-hati periksa vagina dan serviks
dengan seksama. Gunakan jari-jari tangan anda atau klem DTT atau
steril atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba.
Catatan :
1) Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit
oksitosin IM dosis kedua.
2) Periksa kandung kemih. Jika ternyata penuh, gunakan teknik
aseptik untuk memasukkan kateter Nelaton disinfeksi tingkat
tinggi atau steril untuk mengosongkan kandung kemih.
3) Ulangi kembali penegangan tali pusat dan tekanan dorso-kranial
seperti yang diuraikan di atas apabila tersedia akses dan mudah
menjangkau fasilitas kesehatan rujukan maka nasehati keluarga

bahwa mungkin ibu perlu dirujuk apabila plasenta belum lahir


setelah 30 menit bayi lahir.
4) Pada menit ke-30 coba lagi melahirkan plasenta dengan
melakukan penegangan tali pusat untuk terakhir kalinya.
5) Jika plasenta tetap tidak lahir, rujuk segera. Tetapi apabila fasilitas
kesehatan rujukan sulit dijangkau dan kemudian tibul perdarahan
maka sebaiknya lakukan tindakan plasenta manual. Untuk
melaksanakan hal tersebut, pastikan bahwa petugas kesehatan
telah terlatih dan kompeten untuk melaksanakan tindakan atau
prosedur yang diperlukan.
3. Rangsangan Taktil (Masase) Fundus Uteri
Segera setelah plasenta lahir, lakukan masase fundus uterus:
a. Letakkan telapak tangan pada fundus uteri.
b. Jelaskan tindakan kepada ibu, katakana bahwa ibu mungkin merasa
tidak nyaman karena tindakan yang diberikan. Anjurkan ibu untuk
menarik napas dalam dan perlahan serta rileks.
c. Dengan lembut tapi mantap gerakkan tangan dengan arah memutar
pada fundus uteri supaya uterus berkontraksi. Jika uterus tidak
berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan penatalaksanaan atonia
uteri.
d. Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap
dan utuh
e. Periksa kembali uterus setelah satu hingga dua menit untuk
memastikan uterus berkontraksi. Jika uterus masih belum bisa
berkontraksi dengan baik, ulangi masase fundus uteri. Ajarkan ibu
dan keluarganya cara masase uterus sehingga mampu untuk segera
mengetahui jika uterus tidak berkontraksi dengan baik.
f. Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selam 1 jam pertama pasca
persalinan dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua pasca persalinan.
D. Tindakan yang Keliru dalam Manajemen Aktif Kala III
Tindakan yang kaliru diantaranya adalah sebagai berikut: (Sumarah, 2009)
1.
2.
3.
4.

Melakukan masase fundus uteri pada saat plasenta belum lahir.


Mengeluarkan plasenta, padahal plasenta belum semuanya terlepas.
Kurang kompeten dalam mengevaluasi pelepasan plasenta.
Rutinitas katerisasi.

5. Tidak sabar menunggu saat lepasnya plasenta.


E. Kesalahan Tindakan Manajemen Aktif Kala III
Kesalah yang terjadi diantaranya adalah sebagai berikut: (Sumarah, 2009)
1. Terjadi inverse uteri. Pada saat menegangkan tali pusat terkendali terlalu
kuat sehingga uterus tertarik keluar dan terbalik.
2. Tali pusat terputus. Terlalu kuat dalam penarikan tali pusat sedangkan
plasenta belum lepas.
3. Syok.
F. Pemeriksaan Plasenta
Pemeriksaan plasenta meliputi: (Sumarah, 2009)
1. Selaput ketuban utuh atau tidak
2. Plasenta : ukuran plasenta
a. Periksa plasenta sisi maternal (yang melekat pada dinding uterus)
untuk memastikan bahwa semuanya lengkap dan utuh (tidak ada
bagian yang hilang). Jumlah kotiledon, keutuhan pinggir kotiledon.
b. Pasangkan bagian-bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk
memastikan tidak ada bagian yang hilang.
c. Periksa plasenta sisi fetal (yang menghadap ke bayi) untuk
memastikan

tidak

adanya

kemungkinan

lobus

tambahan

(suksenturiata)
3. Tali pusat : Jumlah arteri dan vena adakah arteri atau vena yang terputus
untuk mendeteksi plasenta suksenturia. Insersi tali pusat, apakah sentral,
marginal, serta panjang tali pusat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Aktif
Kala III adalah pemberian oksitosin segera setelah pelahiran bahu anterior,
mengklem tali pusat, segera setelah pelahiran bayi, dan menggunakan traksi
tali pusat terkendali untuk pelahiran plasenta.
Keuntungan-keuntungan Manajemen Aktif kala III:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Persalinan kala III yang lebih singkat


Mengurangi jumlah kehilangan darah
Mengurangi kejadian Retensio Plasenta
Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama:
Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
Melakukan penegangan tali pusat terkendali
Masase Fundus Uteri.
Dalam melaksanakan Manajemen Aktif kala III terdapat beberapa

kekeliruan ataupun kesalahan tindakan yang mungkin dilakukan oleh bidan.


Pemeriksaan plasenta meliputi selaput ketuban, bagian plasenta dan tali
pusat.
B. Saran
Seluruh tenaga penolong persalinan (bidan, dokter) diharapkan dapat
melakukan Manajemen Aktif kala III pada setiap asuhan poersalinan normal
sebagai upaya percepatran penurunan angka kemnatian ibu di Indonesia.
Dalam melaksanakan Manajemen Aktif kala III bidan harus memperhatikan
setiap tindakan agar tidak terjadi kekeliruan ataupun kesalahan yang dapat
membahayakan keselamatan ibu. Setiap tindakan juga harus disesuaikan
dengan ketentuan yang berlaku sehingga perdarahan postpartum dapat
dikurangi. Pemeriksaan plasenta juga perlu dilakukan diantaranya dengan
memeriksa selaput ketuban, bagian plasenta, dan tali pusat.

10

11

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham F.G, dkk. 2005. Obstetric Williams ed.2 EGC: Jakarta


Helen V, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Ed.4 vol.2. EGC : Jakarta
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal (Asuhan Esensial, Pencegahan,
dan Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru
Lahir).
Saefudin, Abdul B, dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Yayasan bina Pustakan Sarwono Prawirohardjo:
Jakarta
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan kebidanan Pada Ibu
Bersalin).Fitramaya: Yogyakarta

12