Anda di halaman 1dari 14

Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis dan Langkah Penelitian yang Terkait

Aini Izzati binti Abd Gaffar


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat korespondensi Alamat Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: ainizati39@gmail.com

Pendahuluan
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC
(Mycobacterium tuberculosis), sebagian besar kuman TBC menyerang paru. TB Paru yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis merupakan penyakit kronis (menahun) yang telah
lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti karena menular. Penyakit ini menjadi tidak
terkendali pada sebagian besar dunia, dan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia serta
negara-negara berkembang lainnya. Menurut Depkes pada tahun 2010, TB merupakan salah satu
masalah kesehatan penting di Indonesia. Selain itu, Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara
dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India dan China. Jumlah penderita TB di
Indonesia adalah sekitar 5,8 % dari total jumlah penderita TB dunia. Di Indonesia, diperkirakan
setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 91.000 orang. Angka
prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2009 adalah 100 per 100.000 penduduk dan TB terjadi
pada lebih dari 70% usia produktif. Dalam keadaan itu kerugian ekonomi akibat TB juga cukup
besar.
1. Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
Mycobaclerium tuberculosis. Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui
udara pernafasan kedalam paru, kemudian menyebar dari paru ke organ tubuh lainnya melalui
sistem peredaran darah, sistem saluran limfa, melalui saluran pernafasan (bronchus) atau
penyebaran langsung ke bagian lainnya. Tuberkulosis paru pada manusia dapat dijumpai dalam 2
bentuk, yaitu tuberkulosis primer, bila penyakit terjadi pada infeksi pertama kali dan tuberkulosis
paska primer, bila penyakit timbul setelah beberapa waktu seseorang terkena infeksi dan sembuh.
Tuberkulosis paru ini merupakan bentuk yang paling sering ditemukan. Dengan ditemukannya
kuman dalam dahak, penderita adalah sumber penularan.1 Kuman Mycobacterium tuberculosis
ditemukan pertama kali oleh Robert Koch pada tahun 1882. Hasil penemuan ini diumumkan di
Berlin pada tanggal 24 Maret 1882 dan tanggal 24 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai
Hari Tuberkulosis.1 Pada paruh pertama abad 20, dua orang peneliti yaitu Calmette dan Guerrin,
menemukan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerrin).
Kuman Mycobacterium tuberculosis mempunyai ukuran 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron
dengan bentuk batang tipis, lurus atau agak bengkok, bergranular atau tidak mempunyai
selubung, tetapi mempunyai lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid (terutama asam mikolat).
Kuman Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan
alkohol, sehingga disebut basil tahan asam (BTA), tahan terhadap zat kimia dan zat fisik, serta
tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat dorman (dapat tertidur lama) dan aerob. 2 Bakteri
1

tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100C selama 5-10 menit atau pada pemanasan 60C
selama 30 menit, dan dengan alkohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri ini tahan selama 1-2
jam di udara, di tempat yang lembab dan gelap bisa berbulan-bulan namun tidak tahan terhadap
sinar matahari atau aliran udara. Data pada tahun 1993 melaporkan bahwa untuk mendapatkan
90% udara bersih dari kontaminasi bakteri memerlukan 40 kali pertukaran udara per jam.3
Penularan penyakit tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis
ditularkan melalui udara (droplet nuclei) saat seorang pasien tuberkulosis batuk dan percikan
ludah yang mengandung bakteri terhirup oleh orang lain saat bernapas. Sumber penularan adalah
pasien tuberkulosis paru BTA positif, bila penderita batuk, bersin, atau berbicara saat berhadapan
dengan orang lain, basil tuberkulosis tersembur kemudian terhisap ke dalam paru orang sehat,
serta dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui peredaran darah pembuluh limfe atau
langsung ke organ terdekat. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Masa
inkubasinya selama 3-6 bulan.3 Lingkungan yang tidak sehat (kumuh) sebagai salah satu
reservoir atau tempat baik dalam menularkan penyakit menular seperti penyakit tuberkulosis.
Peranan faktor lingkungan sebagai predisposing artinya berperan dalam menunjang terjadinya
penyakit pada manusia, misalnya sebuah keluarga yang berdiam dalam suatu rumah yang
berhawa lembab di daerah endemis penyakit tuberkulosis. Umumnya penularan terjadi dalam
ruangan tempat percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi
jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Menurut Depkes RI pada tahun 2008, risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan
dengan percikan dahak. Pasien tuberkulosis paru dengan BTA positif memberikan risiko
penularan lebih besar dari pasien tuberkulosis paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap
tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi
penduduk yang berisiko terinfeksi tuberkulosis selama satu tahun. Di Indonesia angka risiko
penularan bervariasi antara 1 dan 3%. Infeksi tuberkulosis dibuktikan dengan perubahan reaksi
tuberculin negatif menjadi positif. Pada daerah dengan ARTI 1%, diperkirakan di antara 100.000
penduduk rata-rata terjadi 1000 kasus tuberkulosis dan 10% di antaranya akan menjadi penderita
tuberkulosis setiap tahunnya dan sekitar 50 di antaranya adalah pasien tuberkulosis BTA positif
(Depkes RI, 2008). Menurut Depkes RI (2008) riwayat alamiah pasien tuberkulosis yang tidak
diobati, setelah 5 tahun sebesar 50% akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya
tahan tubuh yang tinggi, dan 25% menjadi kasus kronis yang tetap menular
Pada tahun 1940-an, obat TB mulai ditemukan dan pada tahun 1952, pengobatan triple
drug, INH, Streptomisin dan PAS yang diberikan selama 24bulan ternyata dapat memberikan
angka kesembuhan lebih 90% pasien. Obat anti tuberkulosis terus berkembang sehingga dapat
menyembuhkan hanya dengan pengobatan selama 6 bulan sahaja. Belum ada satu Negara pun di
dunia yang bebas TB, bahkan di Negara maju, angkanya sekarang naik lagi sehingga TB disebut
re-emerging disease. Global Tuberculosis Control Report pada tahun 2008 menyebutkan
prevalensi TB tahun 2006 adalah 14.4juta orang dan diperkirakan 0.5juta pasien dengan
Multidrug Resistance(MDR). Tahun 2006, diperkirakan ada 1.7juta orang/tahun yang meninggal
akibat TB dan 0.2juta di antaranya dengan HIV(+). Sekitar 2 miliar manusia atau sepertiga
penduduk dunia terinfeksi kuman TB dan disebut terkena TB laten.

Untuk Indonesia, TB merupakan masalah kesehatan penting. Indonesia adalah negara


dengan jumlah kasus TB terbesar ketiga di dunia. WHO Report pada tahun 2008 menyebutkan
insidens semua kasus Indonesia adalah 534,438 orang (234/100.000 penduduk) dengan insidens
BTA (+) 240.183 orang (105/100.000 penduduk) serta prevalensi semua kasus 578.410 orang .
(253/100.000 penduduk) dan jumlah kematian akibat TB adalah 88.113 orang (38/100.000
penduduk).
Untuk mencapai kesembuhan diperlukan keteraturan dan kepatuhan berobat bagi setiap
penderita. Untuk itu pendapat strategi untuk menjamin kesembuhan penderita yaitu penggunaan
panduan obat anti tuberculosis jangka pendek dan penerapan pengawasan menelan obat atau
directly observed treatment short course(DOTS). 3 Walaupun panduan obat yang digunakan baik
tetapi bila penderita tidak berobat dengan teratur maka umumnya hasil pengobatan akan
mengecewakan. Keteraturan dan kepatuhan berobat penderita TB juga ditentukan oleh perhatian
tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan, penjelasan kepada penderita, kalau perlu
mengunjungi ke rumah serta tersedianya obat paket TB ini.3
Untuk menanggulangi kasus TB Paru di Indonesia bertepatan dengan peringatan hari TB
Paru sedunia, Menteri Kesehatan Indonesia pada tanggal 24 Maret 1999 mencanangkan
dimulainya Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) sebagai wahana
untuk pemberantasan TB Paru. Penanggulangan TB Paru dilaksanakan dengan strategi Directly
Observed Treatment Shortcourse (DOTS) atau pengawasan langsung menelan obat, yang
dilaksanakan di puskesmas juga melibatkan rumah sakit. DOTS adalah strategi program
pemberantasan tuberkulosis paru yang direkomendasikan oleh WHO tahun 1995. Strategi DOTS
mempunyai lima komitmen penting yaitu: komitmen politik dari para pengambil keputusan
termasuk dukungan dana, penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis,
pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO), jaminan tersedianya OAT jangka pendek secara
teratur, menyeluruh dan tepat waktu dengan mutu terjamin, serta sistem pencatatan dan
pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan
TB Paru. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK (Unit
Pelayanan Kesehatan) terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan
dasar.4
2. Program Penanggulangan Tuberkulosis (Program Pemberantasan TB)
A. Tujuan Penanggulangan Tuberkulosis4
a. Jangka Panjang
Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian yang diakibatkan penyakit tuberkulosis
paru dengan cara memutuskan rantai penularan, sehingga penyakit tuberkulosis paru tidak lagi
merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia.
b. Jangka Pendek
1. Tercapainya angka kesembuhan minimal 85 % dari semua penderita baru BTA positif
yang ditemukan.
3

2. Tercapainya cakupan penemuan penderita secara bertahap sehingga pada tahun 2012
dapat mencapai 70 % dari perkiraan semua penderita baru BTA positif.
3. Tercegahnya resistensi obat ( Multi Drug Resistency=MDR ) di masyarakat.
2. Langkah-langkah kegiatan Program Pemberantasan TB di Indonesia, adalah:

Penemuan penderita tersangka


Penentuan diagnosa
Pengobatan penderita
Pengendalian pengobatan penderita
Follow up penderita (tindak lanjut pengobatan)
Rujukan4

Penemuan penderita tersangka dilakukan secara pasif (passive case finding). Penemuan
secara pasif ini didukung dengan penyuluhan secara aktif oleh petugas kesehatan maupun
masyarakat. cara ini dikenal sebagai Passive Promotive Case Finding.4 Cara mendeteksi
penderita tersangka:
1. Memeriksa penderita yang datang ke unit Pelayanan Kesehatan dengan gejala
batuk 3 minggu atau lebih
2. Memeriksa mereka yang tinggal serumah dengan penderita TB dengan BTA(+)
khususnya anak-anak dan dewasa muda.
3. Memeriksa penderita dengan kelainan radiologi paru dengan gambaran mengarah
pada TB
Penentuan penegakan diagnosis dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk menentukan
basil tahan asam (BTA) masih merupakan salah satu pilihan utama. Teknik pewarnaan yang
digunakan adalah Ziehl Nielsen, Pemeriksaan Dahak 3 kali, yaitu sewaktu,pagi dan sewaktu.
Bila basil tahan asam ditemukan pada 2 sediaan dari pemeriksaan dahak, penderita disebut
penderita BTA (+) atau menular. Apabila BTA (-) pada 3 sediaan, tetapi secara klinis mendukung
sebagai penderita TB, perlu dilakukan pemeriksaan radiologis paru. Diagnosis pasti dengan
pemeriksaan kultur pembiakan kuman.
Pada tahun 1994, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan badan Kesehatan Dunia
(WHO), melaksanakan suatu evaluasi bersama (WHO-Indonesia Joint Evaluation) yang
menghasilkan rekomendasi perlunya segera dilakukan perubahan mendasar pada strategi
penanggulangan TB di Indonesia, yang kemudian disebut sebagai Strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Shortcourse). Istilah ini dapat diartikan sebagai pengawasan langsung
menelan obat jangka pendek setiap hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Tujuannya
mencapai angka kesembuhan tinggi, mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika
timbul dan mencegah resistensi. 5 kunci utama dalam strategi DOTS yaitu:
1. Komitmen
2. Diagnosa yang benar dan baik
3. Ketersediaan dan lancarnya distribusi obat
4. Pengawasan penderita menelan obat
4

5. Pencatatan dan pelaporan penderita dengan sistem kohort.


Ada dua kaidah umum dalam pengobatan dengan OAT:
1. Diberikan beberapa macam obat sekaligus, tujuannya mencegah terjadi resistensi
2. Obat diberikan dalam 2 fase, yaitu fase awal intensif dan fase lanjutan. Fase intensif tujuannya
untuk membunuh kuman sebanyaknya dan secepatnya. Fase lanjutan untuk menghilangkan sisa
kuman dan mencegah kekambuhan.
OAT yang kini luas digunakan adalah dalam kelompok lini pertama yaitu Rifampisin,
INH, Etambutol dan Streptomisin. Panduan OAT sesuai rekomendasi WHO untuk panduan obat
jangka pendek terdiri dari 3 kategori. Program telah menetapkan pemberian OAT dalam bentuk
Kemasan Blister Harian Kombipak. Saat ini dianjurkan memberikan OAT dalam bentuk Fixed
Dose Combination (FDCs) atau Kombinasi Dosis Tetap (KDT) yaitu dalam satu tablet terdiri
dari 2,3, atau 4 obat. Dewasa ini lebih dari 50juta orang mungkin terinfeksi kuman TB resisten,
dengan insidens MDR meningkat 2% setiap tahunnya. Kaedah umum pengobatan MDR TB
antara lain menggunakan 4 obat yang masih sensitif dan lama pengobatan bisa sampai 18-24
bulan dan 6 bulan di antaranya adalah obat suntik dan dilakukan di pusat rujukan. Obat OAT
yang tergolong lini kedua yaitu Aminoglikosida, Polypeptide, Fluorokuinolon, Thionamide,
analog Serin dan PAS.
Pengendalian pengobatan dengan prinsip DOT, manakala follow up pengobatan dengan
pemantauan kemajuan pengobatan dilaksanakan dengan pemeriksaan dahak dengan mikroskop.
Yang diperiksa adalah 2 spesimen dahak, untuk fase intensif diperiksa akhir bulan ke 2 untuk
kategori 1 dan akhir bulan ke 3 untuk kategori 2. Pemeriksaan dahak untuk melihat terjadinya
konversi, yaitu perubahan BTA (+) menjadi BTA(-).4
Penilaian pengobatan TB dilakukan setelah penderita TB (+) menyelesaikan secara
lengkap pengobatan tahap intensif dan lanjutan. Penilaian dengan pemeriksaan 3 spesimen dahak
secara mikroskopis. Apabila secara berurutan diperoleh hasil BTA (-) dua kali atau lebih yaitu
pada bulan ke 5 dan akhir pengobatan kategori 1 dan bulan ke 7 dan akhir pengobatan kategori 2,
penderita dinyatakan sembuh.
Fungsi Penelitian
Antara fungsi penelitian adalah untuk memberi gambaran tentang besarnya masalah
tersebut, khususnya dalam bidang kesehatan selain untuk mengungkap adanya hubungan sebab
akibat antara satu (beberapa) kondisi tertentu dengan suatu masalah kesehatan dan menyediakan
data untuk merencanakan, melaksanakan dan menilai usaha-usaha kesehatan masyarakat.1,5
Usulan Penelitian
Usulan Penelitian adalah suatu tulisan yang dibuat secara sistematis dalam rangka merencanakan
suatu penelitian berguna sebagai pedoman atau diajukan kepada pihak-pihak tertentu untuk
mendapatkan dana.5 Usulan penelitian yang dibuat baik dan benar menandakan si peneliti telah
menyelesaikan tugas minimal setengah penelitiannya.
5

Sistematika penulisan:
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab III : Metodologi Penelitian
Bab IV : Hasil yang diharapkan
Etika penelitian Informed Consent
Daftar Kepustakaan
Daftar Lampiran
Bila penelitian selesai, dibuat laporan penelitian dengan sistematika penulisannya sama seperti
usulan penelitian, dengan perubahan pada Bab IV digantikan dengan Hasil Penelitian, ditambah:
Bab V : Pembahasan
Bab VI : Kesimpulan dan saran
Daftar Kepustakaan
Daftar Lampiran
PENDAHULUAN
1. Judul Penelitian
Judul penelitian merupakan pencerminan dari tujuan penelitian. Oleh karena tujuan
penelitian itu dirumuskan dari masalah penelitian atau dengan kata lain tujuan penelitian itu
merupakan jawaban sementara dari pertanyaan-pertanyaan penelitian maka judul penelitian juga
mencerminkan masalah penelitian.5 Apabila suatu penelitian berjudul faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan berobat penderita tuberkulosis paru di puskesmas Depok maka hal ini
mencerminkan bahwa masalah yang dihadapi puskesmas Depok pada saat itu adalah bahwa
tingkat kepatuhan berobat penderita tuberkulosis paru di Depok sangat rendah.
Judul penelitian tersebut juga mencerminkan bahwa tujuan penelitian akan mencoba
mengungkapkan masalah-masalah (faktor-faktor) yang menyebabkan ketidakpatuhan berobat
tersebut di puskesmas-puskesmas di Depok. Dengan kata lain penelitian ini secara implisit akan
mencari faktor-faktor yang berpengaruh atau berhubungan dengan ketidakpatuhan berobat pasien
tuberculosis paru di Depok.
2. Latar Belakang Masalah
Dalam latar belakang masalah penelitian akan diuraikan fakta-fakta, pengalamanpengalaman si peneliti, hasil-hasil penelitian dari orang lain, atau teori-teori yang
melatarbelakangi masalah yang ingin diteliti. Dengan uraian tentang fakta, pengalaman dan
teori-teori tersebut maka orang lain (pihak pemberi dana atau pembimbing) diyakinkan bahwa
masalah yang akan diajukan tersebut cukup penting dan cukup justified. Dalam latar belakang
harus dengan jelas diuraikan mengapa masalah tersebut dipilih ? Apa justifikasinya ? Mengapa
penelitian itu diadakan di wilayah tertentu ?

Apabila judul penelitian seperti contoh di atas (Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan
berobat penderita tuberkulosis paru di puskesmas Depok) maka latar belakang harus diuraikan :
a. Peranan atau pentingnya kepatuhan berobat bagi penderita TBC.
b. Tindakan penanggulangan penyakit TBC di puskesmas
b. Masalah TBC di Indonesia dan program penanggulangan penyakit TBC di Indonesia.
c. Masalah keteraturan berobat TBC secara umum di Indonesia.
Agar masalah yang akan diteliti tersebut cukup justified, uraian latar belakang tersebut harus
didukung atau disertai dengan data atau fakta-fakta empiris.
3. Perumusan Masalah
Sebelum diuraikan bagaimana merumuskan masalah penelitian, terlebih dahulu akan
dibahas apa yang dimaksud dengan masalah. Masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan
dengan kenyataan, antara apa yang diinginkan atau yang dituju dengan apa yang terjadi atau
faktanya.1,5 Kembali kepada contoh judul penelitian tersebut diatas, itu bersumber kepada
masalah penelitian yang ada, yakni kesenjangan antara harapan (penderita TBC akan
mendapatkan pengobatan teratur selama 6 bulan dan bebas daripada penyakitnya), tetapi
kenyataannya atau yang terjadi tidak demikian (sebagian besar dari penderita tidak mendapatkan
pengobatan teratur sehingga menyebabkan kejadian Multi Drugs Resistance (MDR) meningkat.
Contoh lain adalah penyuluhan dan kampanye tentang posyandu di Indonesia telah
meluas. Berbagai media dan cara telah dilakukan baik oleh instansi kesehatan maupun diluar
kesehatan, baik oleh petugas maupun masyarakat sendiri. Dengan upaya-upaya tersebut
diharapkan posyandu menjadi milik masyarakat dan dimanfaatkan, dikembangkan dan dipelihara
oleh masyarakat. Tetapi dari hasil penelitian Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
FKM-UI pada tahun 1990, baru sekitar 40% masyarakat mengembangkan, memelihara dan
memanfaatkan posyandu. Disinilah adanya kesenjangan atau gap dan inilah masalah penelitian.
Mengenai bagaimana memilih masalah penelitian yang baik, pada uraian-uraian
sebelumnya telah dijelaskan. Memilih masalah penelitian yang baik dan yang akan digunakan
untuk kepentingan program maupun untuk kepentingan penulisan ilmiah dapat digunakan
kriteria-kriteria yang akan diuraikan dalam bab lain. Merumuskan masalah penelitian ini dapat
dilakukan dalam bentuk pernyataan (problema statement) dan juga dalam bentuk pertanyaan
(research question).
Dari pernyataan penelitian ini kemudian dapat dilanjutkan dengan pertanyaan penelitian :
a. Mengapa keteraturan berobat penderita TBC masih rendah ?
b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan atau mempengaruhi ketidakpatuhan penderita TBC
dalam pengobatan ?

4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana atau data (informasi) apa yang akan
dicari melalui penelitian itu ? Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang
konkret dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable).
Contoh:
a. Memperoleh informasi (data) tentang jumlah pemeriksaan ibu-ibu hamil di kecamatan X
selama kehamilan.
b. Memperoleh informasi tentang hubungan antara frekuensi pemeriksaan kehamilan dengan
BBL (berat badan bayi lahir).
Biasanya tujuan penelitian dibedakan atas 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan
khusus pada hakekatnya adalah penjabaran dari tujuan umum. Apabila tujuan umum suatu
penelitian tidak dapat atau tidak perlu dispesifikasikan lagi maka tidak perlu adanya tujuan
umum dan tujuan khusus, cukup dibuat Tujuan Penelitian saja.
Contoh :
Tujuan Umum :
Diketahuinya hubungan antara peningkatan angka MDR dengan ketidakpatuhan pasien TB
dengan kunjungan follow up pasien TB tidak kembali..
Tujuan Khusus :
a. Diketahuinya faktor-faktor kunjungan follow up pasien TB tidak kembali.
b. Diketahuinya penyebab peningkatan angka MDR.
5. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari pertanyaan penelitian. Biasanya hipotesis
dirumuskan dalam bentuk hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Hipotesis berfungsi untuk menentukan ke arah pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan
pernyataan yang harus dibuktikan. Kalau hipotesis tersebut terbukti maka menjadi tesis.
Rumusan hipotesis sudah mencerminkan variabel-variabel yang akan diamati dan diukur, dan
bentuk hubungan antara variabel-variabel yang akan dihipotesiskan.
Oleh sebab itu hipotesis seyogyanya spesifik, konkret dan observable (dapat diamati /
diukur).Kadang-kadang hipotesis tersebut dapat dijabarkan kedalam hipotesis-hipotesis yang
lebih spesifik lagi (sub hipotesis). Beberapa orang sering membedakan adanya hipotesis mayor
dan hipotesis minor. Hipotesis mayor masih lebih bersifat umum sedangkan hipotesis minor
lebih bersifat khusus (spesifik) dan penjabaran dari hipotesis mayor. Apabila suatu hipotesis
sudah spesifik dan tidak perlu dijabarkan lagi maka hipotesis minor (sub hipotesis) tidak perlu
disusun lagi.

6. Manfaat Penelitian
Yang dimaksud dengan manfaat penelitian adalah kegunaan hasil penelitian nanti baik
bagi kepentingan pengembangan program maupun kepentingan ilmu pengetahuan.5 Oleh sebab
itu, dalam manfaat penelitian harus diuraikan secara terinci manfaat atau apa gunanya hasil
penelitian nanti. Dengan kata lain, data (informasi) yang akan diperoleh dari penelitian tersebut
akan dimanfaatkan untuk apa dalam rangka pengembangan program kesehatan. Dari segi ilmu,
data atau informasi yang diperoleh dari penelitian tersebut mempunyai kontribusi apa bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Contoh :
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka meningkatkan upaya-upaya
pemberantasan TB.
b. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat.
7. Tinjauan Kepustakaan (Literature Review)
Untuk mendukung permasalahan yang diungkapkan dalam usulan penelitian, diperlukan
tinjauan kepustakaan yang kuat. Tinjauan kepustakaan ini sangat penting dalam mendasari
penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan kepustakaan (literature review) ini biasanya mencakup
2 hal yaitu :
a. Tinjauan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Hal ini dimaksudkan
agar para peneliti mempunyai wawasan yang luas sebagai dasar untuk mengembangkan atau
mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti (diamati). Juga agar peneliti dapat
meletakkan atau mengidentifikasi masalah yang ingin diteliti itu dalam konteks ilmu
pengetahuan yang sedang digeluti. Oleh sebab itu sering didalam tinjauan kepustakaan ini
diuraikan kerangka teori sebagai dasar untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian.
b. Tinjauan dari hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Selain akan memperluas pandangan dan pengetahuan peneliti, juga peneliti dapat menghindari
pengulangan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan orang lain (menjaga originalitas
penelitian).
Dalam tinjauan kepustakaan (literature review), peneliti (calon peneliti) hanya mencoba
meninjau atau review terhadap teori-teori dan hasil-hasil penelitian orang lain, apa adanya saja.
Hal ini berarti bahwa pemikiran dan pendapat-pendapat pembuat proposal penelitian tidak
seyogyanya dimasukkan ke dalam tinjauan kepustakaan tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi Penelitian disebut juga bahan dan cara kerja, mencakup:
1. Jenis rancangan penelitian (desain penelitian)
2. Populasi dan sampel
3. Kriteria inklusi dan eksklusi
4. Lokasi dan waktu penelitian
9

5. Penghitungan jumlah sampel minimum (sample size)


6. Bahan dan alat yang diperlukan, terutama pada eksperimen
7. Cara pengumpulan data
8. Rencana pengolahan, analisis dan penyajian data.
Kerangka Konsep
Dari tinjauan kepustakaan dan kerangka teori serta masalah penelitian yang telah
dirumuskan tersebut maka dikembangkan suatu kerangka konsep penelitian. Kerangka konsep
penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antar konsep atau antar variabel yang akan diamati
dan diukur melalui suatu penelitian. Konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan
menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu konsep tidak dapat diukur dan diamati
secara langsung. Agar dapat diamati dan diukur maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam
variabel-variabel. Dari variabel itulah, konsep dapat diamati dan diukur.
Kerangka teoritis memuat semua variable yang didapatkan dari kepustakaan berhubungan
atau mempengaruhi outcome. Tidak semua variable dalam kerangka teoritis harus diteliti dan
ditentukan sesuai batasan yang dimiliki. Contohnya ekonomi keluarga adalah suatu konsep,
untuk mengukur konsep ekonomi, dapat melalui variabel pendapatan atau pengeluaran keluarga.
Tingkat sosial merupakan konsep, maka untuk mengukur tingkat sosial seseorang dapat melalui
variabel pekerjaan. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kerangka konsep
penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang
akan diamati (diukur) melalui penelitian yang dimaksud.
Jenis penelitian
Menjelaskan termasuk ke dalam jenis pendekatan atau metode yang mana, penelitian
yang diusulkan tersebut. Misalnya penelitian itu menggunakan metode survei dengan pendekatan
cross sectional dimana data yang menyangkut variabel bebas atau resiko dan variabel terikat atau
variabel akibat, akan dikumpulkan dalam waktu yang bersama. Berdasarkan tujuan, secara garis
besar dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu penelitian deskriptif yaitu yang mendeskripsikan
suatu kejadian (outcome) dan menjelaskan distribusi masalah kesehatan berdasarkan siapa,bila
dan di mana. Penelitian analitik adalah studi mengenai determinan dari masalah kesehatan yang
mendeskripsikan asosiasi exposure dengan outcome.
Studi epidemiologi deskriptif antaranya adalah studi korelasi, studi kasus dan studi kros
seksional.6 Studi korelasi bertujuan menghubungkan karakteristik dari penduduk dengan
frekuensi masalah kesehatan pada period waktu sama dengan populasi berbeda (korelasi
ekologis) dan period waktu berbeda pada populasi sama (studi seri waktu) . Studi kasus
menganalisis pasien yang memuat laporan terperinci dan cermat tentang seorang atau beberapa
pasien oleh seseorang atau beberapa dokter. Studi kros seksional disebut juga survei penampang
dimana pajanan dan kejadian sakit diketahui pada saat bersamaan.
Desain penelitian analitik terdiri daripada studi observasional dan studi intervensi. Studi
observasional terdiri atas studi kasus control dan studi kohort. Studi kasus control bertujuan
untuk mengetahui apakah satu atau lebih variable independen merupakan faktor risiko dan
10

variable dependen. Kasus adalah kelompok yang menderita penyakit yang dipilih dari populasi
dan control kelompok orang yang tidak mempunya penyakit diteliti ataupun orang yang sehat.
Studi kohort bertujuan membuktikan hipotesis yang menyangkut hubungan sebab akibat. Tahap
pertama ditentukan kelompok yang terpajan dulu, kemudian baru dipilih kelompok yang tidak
terpajan, kemudian semua subyek dari kedua kelompok diiikuti selama masa pengamatan yang
ditentukan sampai terjadinya outcome (sakit). Jadi arah penelitiannya adalah maju (prospective)
maka disebut juga penelitan prospektif. Manakala studi intervensi merupakan rancangan studi
terbaik yang memberikan suatu perlakuan terhadap kelompok studi dengan kelompok studi
lainnya sebagai control.6
Populasi
Dalam suatu penelitian, hasil-hasil yang didapatkan diharapkan dapat berlaku secara
keseluruhan dan bukan untuk sebagian sahaja. Untuk dapat menggeneralisasi hasil penelitian,
maka diperlukan data hasil pengukuran yang benar-benar berasal dari populasi yang mewakili.
Pada seluruh populasi dilakukan sensus dan sebagian populasi dilakukan sampling. Dari populasi
dipilih sejumlah subyek (sampel), yaitu sebagian dari populasi yang memenuhi syarat tertentu.
Syarat sampel adalah dipilih secara acak (random), semua subyek mempunyai kesempatan yang
sama untuk dipilih atau tidak terpilih menjadi sampel (equal probability) dan sifat-sifat dalam
populasi harus terwakili dalam sampel (representative).
Kriteria inklusi atau eksklusi
Kriteria inklusi atau eksklusi adalah kriteria yang dibuat peneliti untuk menentukan atau
membatasi jumlah populasi. Kriteria inklusi adalah kriteria yang memuat persyaratan tertentu
yang harus dimiliki subyek atau responden untuk dapat terpilih sebagai sampel manakala kriteria
eksklusi adalah kriteria yang memuat hal-hal yang tidak dimiliki oleh subyek atau responden
atau subyek yang memenuhi persyaratan sebagaimana pada kriteria inklusi yang karena oleh
sebab tertentu tidak dapat dipilih sebagai subyek.
Sampling
Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan sampel memenuhi syarat.
Sampling perlu dilakukan untuk populasi yang besar, dimana dapat menimbulkan kesalahan yang
besar karena tidak akurat, selain dapat melakukan analisis yang lebih baik pada sampel yang
baik, dapat mengkontrol kesalahan dan dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya. Secara
umum, sampling terdiri daripada dua jenis yaitu probability dan non probability. Sampling non
probability adalah sampling yang tidak memenuhi syarat-syarat probabilitas, manakala
probability sampling terdiri daripada:
1. Simple Random Sampling (SRS). Merupakan cara yang mudah dan sederhana dengan
teknik undian atau table random dimana populasi studi dianggap homogen. Bila tidak homogeny
dapat dilakukan cluster untuk tiap unit sampel, dimana populasi dibagi menjadi kelompokkelompok yang mempunyai sifat sama untuk tiap kelompok.
2. Systematic Random Sampling. Merupakan penentuan sampel dengan menentukan lebih
dulu interval antar 2 responden daripada populasi yang ada.

11

3. Stratified random sampling. Digunakan pada populasi heterogen yang ingin diketahui
sifat-sifat seluruh lapisan populasi, dimana dibagi dulu menjadi beberapa lapisan yang homogen
kemudian dari setiap strata secara proporsional diambil sampel, contohnya dengan menggunakan
teknik proportional simple random sampling.
4. Cluster sampling. Digunakan pada populasi yang tidak homogen dan dipilih kelompok
yang dianggap lebih homogen.
5. Multi Stage Sampling. Merupakan pemilihan sampel terhadap kelompok populasi yang
telah ada sampai terpilihnya unit elementer (individu) secara acak.
Pengumpulan Data
Merupakan kegiatan untuk memperoleh data dengan instrument yang ada bagi mengukur
variable.7 Instrumen penelitian dalah metode atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan data
dan sangat bergantung pada jenis data yang ingin dikumpulkan. Misalnya observasi atau
pengamatan untuk mendapatkan data kesehatan lingkungan rumah sehat, keadaan sumur, reaksi
obat dan sebagainya. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan tekanan darah, tinggi badan,
berat badan dan kadar Hb misalnya. Wawancara dilakukan untuk mengetahui
persepsi,pendapat,sikap dari responden. Kuesioner adalah alat ukur yang dikembangkan untuk
mengukur tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku responden. Bisa berupa angket, yang
dibagikan kemudian dikumpulkan ataupun dapat digunakan sebagai panduan ketika
mengumpulkan data dari responden. Dokumen atau status digunakan pada data sekunder, di
mana semua data yang ada pada dokumen merupakan hasil pengukuran daripada variable yang
ingin diteliti. Misalnya menggunakan rekam medis rumah sakit di mana terdapat data mengenai
suhu badan, berat badan, hasil pemeriksaan laboratorium. Di lapangan dapat menggunakan kartu
menuju sehat (KMS) dan kartu ibu hamil. Pada partisipasi, peneliti ikut serta dalam komunitas
penelitian, misalnya peneliti ingin meneliti kebiasaan dan kepercayaan dari suatu etnis tertentu,
maka ia tinggal dan menetap di lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang diinginkan.
Dijelaskan cara atau metode yang digunakan untuk pengumpulan data. Dalam suatu
penelitian kadang-kadang tidak hanya menggunakan satu cara pengumpulan data. Misalnya : di
samping metode wawancara (interview), kadang-kadang perlu dilengkapi dengan observasi
(pengamatan) atau sebaliknya. Metode angket juga kadang-kadang perlu dilengkapi dengan
wawancara dan sebagainya. Pengumpulan data kadang-kadang tidak dilakukan oleh peneliti
tetapi menggunakan orang lain yang disebut surveyor atau interviewer. Untuk mencegah adanya
data yang bias maka para petugas pengumpulan data tersebut diberikan pelatihan terlebih dahulu
oleh peneliti sendiri. Selain diberikan teknik-teknik pengumpulan data (wawancara, obserview
dan sebagainya) juga diberikan penjelasan tentang cara-cara pengisian instrumen (kuesioner),
editing, coding dan sebagainya. Agar instrumen penelitian valid dan reliable maka sebelum
digunakan perlu diuji coba (pre test) terlebih dahulu. Yang dimaksud valid adalah instrumen
sebagai alat ukur benar-benar mengukur apa yang diukur. Sedangkan reliable artinya instrumen
sebagai alat ukur dapat memperoleh hasil ukur yang ajeg (konsisten) atau tetap asas.7

12

Definisi Operasional
Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau
diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi
operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan
terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur).
Merupakan unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana caranya mengukur suatu variable. Hal
ini karena, variable yang akan diteliti, kadang-kadang tidak sepenuhnya dapat diukur.1,5 Pada
waktu menyusun definisi operasional variabel biasanya sekaligus diidentifikasi skala pengukuran
variabel yang digunakan, apakah nominal, ordinal, interval ataukah rasio. Misalnya variabel air
bersih menggunakan skala pengukuran ordinal (baik, sedang, kurang) dan sebagainya.
Rencana Pengelolaan dan Analisis Data
Bagian ini harus diuraikan rencana yang akan dilakukan untuk mengolah dan analisis
data. Dijelaskan proses pengolahan datanya dari editing, coding dan sebagainya sampai dengan
data entry (apabila pengolahan dilakukan dengan komputer). Juga dijelaskan bagaimana data itu
akan diolah dengan manual atau dengan menggunakan bantuan komputer. Selanjutnya diuraikan
rencana yang akan dilakukan untuk menganalisis data serta uji statistik yang akan digunakan
termasuk program komputer untuk uji statistik tersebut. Data akan dianalisis menggunakan uji
statistik deskriptif dan analitik. Manakala penyajian datanya dilakukan dengan tekstular, tabular
atau dengan grafikal.
Statistik terbagi atas statistik deskriptif dan statistik inferensi atau analitik. Statistik
deskriptif menggambarkan, menerangkan keadaan suatu kelompok tanpa menarik kesimpulan
apapun tentang kelompok yang lebih besar. Manakala, dengan uji statistik analitik, sampel
diteliti dan kesimpulan dapat ditarik tentang kelompok yang lebih besar (populasi).
Uji statistik terdiri atas 2 jenis, yaitu uji parametrik dan uji non parametrik. Uji
parametrik berhubungan dengan inferensi statistik yang membahas parameter-parameter populasi
dimana jenis data interval atau rasio dan distribusi data normal atau mendekati normal. Uji non
parametrik, tidak membahas parameter-parameter populasi dimana jenis data nominal atau
ordinal dan distribusi data tidak diketahui atau tidak normal. Uji parametrik adalah Z-test, t-test,
Korelasi Pearson dan Anova. Uji non parametrik adalah Chi Square Test, Fisher Test,
Kolmogorov-Smirnov dan Mc Noman Test.
Daftar Kepustakaan
Adalah semua literatur atau bacaan yang digunakan untuk mendukung dalam menyusun
proposal tersebut. Literatur ini umumnya terdiri dari buku-buku teks, majalah atau jurnal ilmiah,
makalah ilmiah, skripsi, thesis atau disertasi.
.

13

Kesimpulan
Penyakit TB masih lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat sehingga ke hari ini, dan
penelitian-penelitian berhubung penyakit ini sewajarnya terus menerus dilakukan sebagai upaya
menyelesaikan permasalahan ini.
Daftar Pustaka

1. Notoatmodjo S. Metodologi penelitian kesehatan. Cet. ke-2, Januari. Jakarta : Rineka


Cipta. 2007.
2. Depkes RI. Profil kesehatan Indonesia 2010. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2010
3. Widoyono. Penyakit tropis epidimiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasannya.
Jakarta: Erlangga. 2008
4. Depkes RI. Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI; 2008
5. Azwar A, Prihartono J. Metodologi penelitian kedokteran dan kesehatan masyarakat,
Jakarta: Binurupa Aksara. 2003.
6. Suwandi B. Memahami penelitian kualitatif. Yogyakarta: Rineka Cipta; 2011.
7. Widoyoko SEP. Tehnik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar;
2012.

14