Anda di halaman 1dari 7

1.

Teknik Bleaching secara internal (intrakoronal)


Pemutihan gigi secara intrakoronal dilakukan pada gigi yang telah dirawat
endodontik dengan baik. Metode bleaching yang dapat dilakukan untuk gigi ini adalah
teknik walking bleach, termokatalitik, kombinasi, modified home bleaching technique
atau biasa disebut inside/outside bleaching technique, foto oksidasi ultraviolet dan CP
irradiation method. Bleaching secara internal tidak boleh dilakukan atau diulangi lebih
dari 4 kali karena struktur gigi bagian dalam dapat melemah dan resiko fraktur makhota
semakin meningkat.
a. Teknik Walking Bleach
Teknik ini memakai campuran superoxol dan Na-perborat untuk memutihkan
gigi . Teknik Walking Bleach adalah sebagai berikut:
1) Pasien harus diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai penyebab perubahan
warna, prosedur yang akan dilakukan, hasil yang diharapkan, dan kemungkinan
perubahan warna timbul kembali (regresi) untuk mecegah kekecewaan dan salah
pengertian. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif sebelum, selama, dan sesudah
perawatan mutlak diperlukan.
2) Radiograf dibuat untuk melihat keadaan jaringan periapeks dan kualitas perawatan
saluran akar. Perawatan yang gagal atau pengisian saluran akar yang meragukan
harus dirawat ulang sebelum pemutihan dilakukan.
3) Pemeriksaan kualitas dan warna setiap tumpatan yang ada harus dilakukan terlebih
dahulu. Bila tumpatan rusak maka harus diganti. Perubahan warna gigi sering
disebabkan oleh kebocoran dan perubahan warna tumpatan. Selain itu, pasien harus
diberi tahu bahwa prosedur pemutihan dapat mempengaruhi warna tumpatan untuk
sementara (atau permanen) sehingga restorasi harus diganti.
Keterangan :
Pewarnaan interna dari dentin yang disebabkan oleh sisa material
obturasi (OM) dalam ruang pulpa, juga oleh material dan debris
jaringan di dalam tanduk pulpa (PH)

Gambar 3.

4) Evaluasi warna gigi dilakukan dengan contoh warna dan membuat foto pada saat
awal kedatangan pasien dan selama prosedur dilakukan. Foto ini sebagai acuan untuk
pembanding.
5) Gigi diisolasi dengan isolator karet. Isolasi yang lebih baik dapat diperoleh dengan
memakai baji (wedge) interproksimal. Jika menggunakan Superoxol, krim (misalnya
vaselin, orabase, atau cocoa butter) dipakai sebelum isolator karet dipasang untuk
melindungi jaringan gingiva. Prosedur ini tidak perlu dilakukan jika menggunakan
Na-perborat.
6) Pembongkaran tumpatan pada kavitas. Penghalusan akses dan pengangkatan semua
bahan pengisi lama dari kamar pulpa merupakan tahap yang paling penting dalam
proses pemutihan. Dokter gigi harus memeriksa secara teliti bahwa tanduk pulpa atau
daerah lain yang tidak terbuka. Bahan tumpatan harus dibuang agar bahan pemutih
dapat berkontak dan masuk ke dalam dentin. Pembuangan bahan tumpatan harus
dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari terpotongnya dentin yang sehat.
Keterangan :
Restorasi korona dibuang semua, preparasi akses diperbaiki dan
gutta perca dibuang sampai sebatas di bawah margin gingiva.
Kemudian, tanduk pulpa dibersihkan dengan bur bulat.

7)

Gambar 4.
(Opsional) Tahap ini diperlukan jika perubahan warna
diakibatkan oleh logam, atau jika pada kunjungan
kedua atau ketiga hasil pemutihan tidak memuaskan. Selapis tipis dentin yang
berubah warna di daerah labial kamar pulpa dibuang secara hati-hati dengan bur
bulat putaran rendah. Tindakan ini dapat membuang bagian yang berubah warna
(yang terpusat di daerah permukaan pulpa) lebih banyak, juga dapat membuka

tubulus dentin agar masuknya bahan pemutih lebih baik.


8) Semua bahan harus diangkat sampai sedikit di bawah margin gingiva. Untuk
melarutkan sisa-sisa semen saluran akar, digunakan pelarut yang sesuai (seperti
pelarut oranye, kloroform, atau xylol dalam butiran kapas).
9) Jika yang digunakan adalah Superoxol, lapisan semen protektif seperti semen
polikarboksilat, Zn-fosfat, ionomer kaca, IRM, atau cavit, diletakkan di atas material
obturasi setebal 2 mm. Hal ini penting untuk mencegah bocornya material pemutih.
Barrier semen ini harus melindungi tubulus dentin dan sesuai dengan perlekatan

epitel eksternal. Tinggi lapisan ini tidak boleh meluas melebihi margin gingiva.
Pengetsaan dentin sebelah dalam dengan asam fosfat (atau pengetsa lain) untuk
menghilangkan smear layer dan membuka tubulus dentin ternyata tidak efektif.
Tidak dianjurkan menggunakan zat kimia yang kaustik di dalam kamar pulpa sebab
dapat mengiritasi ligamen periodonsium dan menyebabkan resorpsi eksternal dari
akar.
10) Pasta walking bleach disiapkan dengan mencampurkan Na-perborat dengan cairan
yang inert seperti air, salin, atau cairan anestesi sehingga membentuk konsistensi
seperti pasir basah (kira-kira 2 g/ml). Meskipun Na-perborat yang dicampur dengan
H2O2 30% akan lebih cepat memutihkan, dalam banyak kasus hasil jangka
panjangnya sama dengan yang menggunakan Na-perborat dicampur dengan air.
Selanjutnya, kamar pulpa dipenuhi dengan pasta menggunakan plastis instrumen.
Kelebihan cairan ditekan dengan butiran kapas. Hal ini akan memampatkan dan
mendorong pasta ke dalam ceruk-ceruk kamar pulpa.
Keterangan :
- Basis semen protektif
(B) diletakkan di atas
gutta perca dan tidak
melampaui

margin

gingival.
- Setelah sisa semen
saluran

akar

dan

material dibersihkan dari kamar pulpa dengan pelarut, letakkan pasta

Gambar 5.

(P) campuran dari Na-perborat dengan air yang konsistensinya seperti


pasir basah.
- Daerah insisal diberi undercut guna retensi tambalan sementara.

11) Kelebihan pasta oksidator dibuang dari daerah undercut di dalam tanduk pulpa dan
daerah gingiva dengan eksplorer. Di atas pasta dan ke dalam undercut, campuran
padat OSE atau cavit diaplikasikan tetapi bukan dengan cotton pellet. Tumpatan
sementara dimampatkan dengan hati-hati paling sedikit setebal 3 mm agar
kerapatannya baik.

Keterangan :
Tutup akses dengan campuran tebal OSE (Z)

Gambar 6.
12) Isolator karet dibuka. Pasien diberi tahu bahwa bahan pemutih bekerjanya lambat dan
pemutihannya kemungkinan belum akan terjadi dalam waktu 2 atau 3 minggu. Hasil
yang lebih baik akan terjadi pada minggu berikutnya atau sesudah pemutihan ulang.
13) Pasien diminta datang kembali sesudah 2-6 minggu dan prosedur diulang.
Keterangan:
-

Jika warna yang dikehendaki telah dicapai, buat restorasi permanen.

Metode yang dianjurkan adalah menambal kamar pulpa dengan penambal


sementara yang putih (TS) atau dengan polikarboksilat atau Zn-fosfat
berwarna muda.

Komposit (C) etsa asam merestorasi akses lingual dan meluas ke tanduk
pulpa untuk retensi dan mendukung insisal.

Gambar 7.
b. Teknik Termokatalitik
Teknik termokatalitik adalah teknik pemutihan dengan meletakkan material
oksidator di dalam kamar pulpa dan kemudian memanaskannya. Panas ini diperoleh dari
lampu, alat yang dipanaskan, atau alat pemanas listrik yang dibuat khusus untuk
memutihkan gigi . Teknik termokatalitik menggunakan sepotong kapas kecil yang telah
dibasahi dengan bahan pemutih yang ditempatkan dalam kamar pulpa, kemudian
dilakukan pemanasan selama dua menit. bila perlu dapat juga pemanasan dilakukan
pada sepotong kapas yang dibasahi larutan pemutih dan ditempatkan dibagian labial
gigi. Sumber panas yang dapat digunakan adalah lampu pemanas, alat pemanas listrik,
atau instrumen kecil yang ujungnya dipanaskan .
Pada teknik termokatalitik dengan menggabungkan pemanasan dan konsentrasi
hidrogen peroksida yang tinggi menyebabkan resorpsi dibagian servikal. Teknik
termokatalitik ini tidak sering digunakan lagi pada saat ini . Teknik ini mengunakan
panas untuk mempercepat proses oksidasi. Sumber panas yang dapat digunakan adalah

rheostat controlled photoflood, lihgt activited atau instrumen Woodson. Prosedur teknik
termokatalitik adalah sebagai berikut:
1) Isolasi gigi yang akan dirawat dengan karet isolator. Lindungi jaringan lunak dengan
menggunakan petrolium jelly atau cocoabutter.
2) Dentin dibagian labial kamar pulpa dibuang dengan bur bulat kecepatan rendah.
3) Membuang bahan pengisi dari kamar pulpa 2-3 mm ke apikal dibawah gusi.
4) Membersihkan kamar pulpa dengan kloroform atau xylene, kemudian keringkan
dengan hembusan udara.
5) Jaringan lunak dan gigi tetangga dilindungi dari panas yang berasal dari sumber
panas dengan meletakkan kasa yang telah dibasahi air di bawah karet isolator untuk
menutup bibir dan jaringan lunak.
6) Kapas diletakkan dalam kamar pulpa yang dibasahi hidrogen peroksida 30-35%, lalu
tutup permukaan labial gigi dengan kapas yang telah dibasahi bahan pemutih.
Arahkan sumber panas pada gigi yang telah disiapkan.
7) Kapas dibasahi kembali dengan hidrogen peroksida segar. Ulangi langkah ini 4-5
kali.
8) Evaluasi efek pemutihan, bila belum berhasil pertemuan berikutnya dilakukan
seminggu kemudian setelah kavitas ditutup tumpatan sementara.
Apabila hasilnya sudah memuaskan, bersihkan kamar pulpa dengan kloroform
xylene atau alkohol, kemudian lapisi dengan semen yang berwarna putih sebelum
dilakukan tumpatan permanen dengan resin komposit
c. Teknik Kombinasi
Teknik kombinasi merupakan teknik bleaching gabungan antara teknik walking
bleach dan teknik termokatalitik. Keuntungan dari teknik kombinasi ialah hasil lebih
cepat dan memuaskan karena kedua teknik tersebut dilakukan dengan bergantian.
Prosedur awal teknik kombinasi ialah menggunakan teknik termokatalitik dengan
memanaskan gigi yang akan dilakukan pemutihan. Setelah dipanaskan, kapas yang
mengandung hidrogen peroksida dikeluarkan dari kamar pulpa dan gigi dikeringkan.
Kemudian dilakukan teknik walking bleach yaitu meletakkan pasta campuran
superoksol dan Na-perborat di dalam kamar pulpa. Prosedur selanjutnya mengikuti
teknik walking bleach hingga selesai.
d. Modified Home Bleaching Technique (Inside/Outside Bleaching Technique)

Teknik inside/outside bleaching didasarkan pada aplikasi karbamid peroksida


pada gigi dan menjaga gigi yang telah dipreparasi selama tahap pemutihan. Pemutihan
terjadi di bagian dalam dan luar gigi secara bersamaan. Teknik ini ideal untuk pasien
yang memiliki keinginan untuk memutihkan gigi, tidak hanya untuk memutihkan warna
gigi non vital yang telah dirawat endodontik tetapi juga dapat memutihkan gigi vital yang
berada di sebelahnya. Cara kerja teknik ini cepat karena pasien dapat mengaplikasikan
gel segar karbamid peroksida setiap hari . Home bleaching dilakukan pasien dengan
pengarahan dan pemantauan oleh dokter gigi, akan tetapi terdapat beberapa efek samping
yang mungkin terjadi yaitu iritasi gingiva, hipersensitif sementara pada gigi bagian
servikal, mual jangka pendek, dan nyeri pada regio TMJ.
e. Teknik Foto Oksidasi Ultraviolet
Teknik ini kurang efektif dibandingkan dengan teknik walking bleach, selain itu
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai warna gigi yang diinginkan.
Prosedur teknik ini ialah dengan meletakkan kapas yang dibasahi dengan cairan
hidrogen peroksida 30-35% ke dalam kamar pulpa. Kemudian gigi tersebut akan
disinari dari sisi labial gigi oleh lampu ultraviolet selama 2 menit. Penyinaran dengan
lampu ultraviolet akan melepaskan oksigen seperti pemutihan menggunakan teknik
termokatalitik.
f. Light-Activated Bleaching of Non Vital Teeth (CP irradiation method)

Teknik light-activated bleaching of non vital


teeth menggunakan metode CP irradiation atau
metode Hisamitsu. Prosedur teknik ini ialah
dengan

menempatkan

10%

gel

karbamid

peroksida pada permukaan labial dan masuk ke


rongga akses masuk gigi non vital. Kemudian
Gambar 8.

cahaya diaktifkan dari sisi bukal dan lingual.


Keuntungan dari teknik ini adalah bahwa perubahan
warna
pada gigi non
vital meningkat sejak hari dimulainya perawatan. Mekanisme perbaikan melalui aktivasi
sinar tidak jelas, namun dikemukakan bahwa peningkatan suhu akibat iradiasi
mengkatalis pemecahan menjadi hidrogen peroksida dan merembes ke dentin.

Gambar 9. Hasil CP irradiation method

Mccabe. P.S, Dummer.P.M. 2012. Pulp canal obliteration:


an endodontic diagnosis and treatment challenge.
International Endodontic Journal. Vol. 45. No. 2. Pp.
177-197.
Walton ER, Torabinejad M.

2008. Prinsip dan Praktik Ilmu

Endodonsia. Ed 3. Jakarta: EGC.


Kirchrof A.L, Raldi D.P. 2015. Tooth discolouration and internal
bleaching after use of triple antibiotic paste. International
Endodontic journal. Vol. 12. No.10. (yang hijau gabungan dari
jurnal ini ama Walton)