Anda di halaman 1dari 9

Tatalaksana Pasien Gizi Buruk

Berikut data-data penunjang tatalaksana pasien gizi buruk,

Gambar 1. Tatalaksana Gizi Buruk (Kemenkes, 2011)

Pemeriksaan Klinis, BB/PB, LiLA


di
Poskesdes/Pustu/Polindes/Pusk
esmas

Anak dengan satu atau


lebih
tanda berikut :
Terlihat Sangat
Kurus
Edema pada seluruh
tubuh
BB/PB atau BB/TB <
-3 SD
LiLA < 11,5 cm
(untuk anak usia 659 bulan) dan salah
satu atau lebih dari
tanda-tanda
komplikasi medis
berikut :
Anoreksia
Pneumonia berat
Anemia berat
Dehidrasi berat
Demam sangat tinggi

Gizi buruk
dengan
Komplikasi

Anak dengan satu atau


lebih
tanda berikut :
Terlihat sangat
kurus
Edema minimal,
pada
kedua punggung
tangan / kaki
BB/PB atau BB/TB
< -3SD
LILA <11,5 cm
(untuk anak usia
6-59 bulan
Dan

Anak dengan satu atau


lebih tanda berikut :
Terlihat sangat
kurus
BB/PB atau BB/TB
< - 3SD
LILA <11,5 cm
(untuk
anak usia 6-59
bulan
dan
Nafsu makan baik
Tanpa komplikasi
medis

Bila LILA >


11,5 cm < 12,5
cm (untuk
anak usia 6-59
bulan)
(BB/TB < -2 SD
s.d -3 SD)
Tidak ada
edema
dan
Nafsu makan
baik
Klinis baik

Nafsu makan baik


Tanpa komplikasi
medis

Gizi Kurang
Gizi buruk Tanpa
Komplikasi

Rawat Jalan
Rawat inap di RS / Pusk
RI TFC

Bagan 1. Alur Pemeriksaan Anak Gizi Buruk (Kemenkes, 2011)

PMT Pemulihan

Rawat Inap
Gizi buruk dengan
Komplikasi

Anak
Datang
Sendiri

Penerapan 10
langkah dan 5
kondisi tatalaksana
Anak Gizi Buruk
Pulang

Dirujuk

MTBS

Non MTBS

Yankes Rujukan

Gizi buruk
Tanpa
Komplikasi

Rawat Jalan

Rawat Inap
Gizi Kurang
Penyakit
Berat

Periksa klinis
dan
antropometri
Berat Badan
dan Tinggi
Badan

Obat penyakit
Penambahan
energi dan protein
20-25% di atas AKG
(Anka Kecukupan
Gizi)
Rawat Jalan

Gizi Kurang
Penyakit
Ringan

Catatan :

Obati Penyakit

Puskesmas

Penambahan
Energi dan Protein
20-25 % di atas
AKG (Angka
Kecukupan Gizi)

MTBS ialah Manajemen Terpadu Balita Sakit


Rumah Tangga

Posyandu atau
Pemulihan Gizi
Berbasis Masyarakat

Bagan 2. Alur Pelayanan Anak Gizi Buruk (Kemenkes, 2011)

Alur penanganan anak dengan gizi buruk mengikuti alur pada bagan satu
dan bagan dua yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
pada tahun 2011.
Diagnosis gizi buruk ditegakkan apabila terdapat satu atau lebih tanda
berikut, (Kemenkes, 2011)
1.

Sangat kurus

2.

Edema, minimal pada kedua punggung kaki

3.

BB/PB atau BB/TB < -3 SD (berdasarkan perhitungan Z-Score)

4.

LiLA < 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan)

Keterangan :
LiLA merupakan abreviasi dari Lingkar Lengan Atas. LiLA adalah salah satu
indikator yang digunakan untuk melihat status gizi dengan cara mengukur lingkar
lengan atas.
Dalam tatalaksana anak, tindakan didasarkan pada 10 langkah utama
tatalaksana gizi buruk seperti pada gambar satu. Berikut uraian tentang 10 langkah
tersebut, (WHO, 2009)
1.

Hipoglikemia
Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula
darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga harus diberikan makanan
atau pengganti sejenis. (WHO, 2009)
Makanan yang diberikan di awal yaitu F-25, kalau tidak ada bisa
juga diberikan larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung
gula dalam 50 ml air), yang diberikan secara sering (setiap 2 jam)
melalui oral atau nasogastric tube (NGT). (WHO, 2009)

Apabila memungkinkan, kadar gula darah dicek terlebih dahulu


untuk membantu penentuan tatalaksana yang tepat pada anak. (WHO,
2009)
Bila bayi masih mendapatkan ASI, teruskan pemberian ASI di luar
jadwal pemberian F-75. (WHO, 2009)
2.

Hipotermia
Diagnosis hipotermia ditegakkan ketika suhu aksilar < 35,5 C.
(WHO, 2009)
Tatalaksana yang diberikan yaitu memastikan anak berpakaian
(temasuk kepala). Tutup dengan selimut hangat atau anak diletakkan
dekat dengan pemanas (tak mengarah langsung), atau anak didekatkan
dengan lampu, atau menggunakan metode kanguru (anak diletakkan
langsung pada dada atau perut ibunya, dari kulit ke kulit). Lampu pijar
yang digunakan berdaya 40 W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak.
(WHO, 2009)
Hindarkan anak dari suasana dingin seperti dengan meminimalkan
mandi, hindarkan dari angin atau ruangan berangin, dan biarkan anak
tidur dengan dipeluk orang tuanya. (WHO, 2009)

3.

Dehidrasi
Diagnosis keadaan dehidrasi dengan tepat. Bila gejala dehidrasi tidak
jelas, anggap anak mengalami dehidrasi ringan. (WHO, 2009)
Tatalaksana dehidrasi menggunakan ReSoMal secara oral atau NGT.
ReSoMal ini merupakan modifikasi dari oralit tetapi mengandung kadar
natrium lebih rendah dan kadar kalium lebih tinggi dibanding oralit.
(WHO, 2009)
ReSoMal diberikan setiap 30 menit dalam 2 jam pertama dengan
dosis 5 ml/kgBB. Setelah 2 jam tersebut, ReSoMal dapat diberikan

setiap jam selama 10 jam dengan dosis 5-10 ml/kgBB/jam. ReSoMal


diberikan berselang-seling dengan F-75. (WHO, 2009)
4.

Gangguan Keseimbangan Elektrolit


Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium (K) dan
magnesium (Mg). Guna memperbaiki kondisi yang ada diperlukan
waktu 2 minggu atau lebih. Terdapat kelebihan natrium total dalam
tubuh meski kadar natrium serum menurun. Pemberian natrium
berlebihan

dapat

menyebabkan

kematian.

Tidak

diperbolehkan

pengobatan oedema dengan diuretikum. (WHO, 2009)


5.

Infeksi
Gejala infeksi, seperti demam, seringkali tidak ada padahal infeksi
ganda merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena itu, anggap setiap
anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat datang ke rumah sakit
dan segera diberikan antibiotik spektrum luas, seperti kotrimoksazol,
ampisilin, dan gentamisin. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan
tanda infeksi berat. (WHO, 2009)
Apabila pada diagnosis terdapat infestasi cacing, diberikan
mebendazol atau albendazol. Bila belum terdiagnosis, setelah 7 hari
perawatan, diberikan mebendazol. (WHO, 2009)

6.

Defisiensi Zat Gizi Mikro


Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral
sehingga perlu diberikan multivitamin, asam folat, seng, tembaga,
ferosulfat (pada awal fase rehabilitasi), dan vitamin A. (WHO, 2009)
Meski sering ditemukan anemia pada anak, jangan diberikan zat besi
pada fase awal karena akan memperparah infeksi. Zat besi diberikan
setelah anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah
berat badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase rehabilitasi).
(WHO, 2009)

7.

Pemberian Makan Awal (initial refeeding)


Pada fase awal, pemberian makanan harus diberikan dengan hati-hati
karena keadaan fisiologis anak masih rapuh. (WHO, 2009)

8.

Tumbuh Kejar
Setelah fase stabilisasi, masuk fase transisi. Pada fase transisi,
makanan F-25 diubah secara bertahap dengan F-100. Jumlah F-100
yang diberikan sama dengan F-25 selama 2 hari. Lalu, jumlah
dinaikkan secara bertahap dengan jumlah tambahan 10 ml. Hal ini
dilakukan sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit.
(WHO, 2009)

9.

Stimulasi Sensorik dan Emosional


Lakukan hal-hal berikut, (WHO, 2009)
a) Ungkapan kasih sayang
b) Lingkungan yang ceria
c) Terapi bermain terstruktur, dan perlu penyediaan mainan yang sesuai
dengan umur anak
d) Aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat
e) Keterlibatan ibu sesering mungkin

10. Malnutrisi pada Bayi < 6 Bulan


Bayi < 6 bulan lebih jarang mengalami malnutrisi dibanding anak
yang berusia lebih tua. Akan tetapi, bila mengalami hal tersebut, pada
fase stabilisasi, bayi dapat diberikan ASI atau susu formula bayi.
(WHO, 2009)

Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Bagan Tatalaksana Anak Gizi
Buruk. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Pelayanan Anak
Gizi Buruk. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
World Health Organization. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di
Rumah Sakit. Jakarta : World Health Organization.