Anda di halaman 1dari 2

OBAT PREMEDIKASI

a) Sulfas atropin 0,25 mg : Antikolinergik


Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihanutama untuk
mengurangi efek bronchial dan kardial yang berasal dariperangsangan
parasimpatis, baik akibat obat atau anestesikummaupun tindakan lain dalam
operasi. Disamping itu efek ainnya adalah melemaskan tonus otot polos organorgan dan menurunkanspasme gastrointestinal. Perlu diingat bahwa obat ini tidak
mencegah timbulnya laringospame yang berkaitan dengan anestesi umum. Setelah
penggunaan obat ini (golongan baladona) dalam dosisterapeutik ada perasaan
kering dirongga mulut dan penglihatan jadikabur. Karena itu sebaiknya obat ini
tidak digunakan untuk anestesi regional atau lokal. Pemberiannya harus hati-hati
pada penderitadengan suhu diatas normal dan pada penderita dengan penyakit
jantung khususnya fibrilasi aurikuler.Atropin tersedia dalam bentuk atropin sulfat
dalam ampul 0,25mg dan 0,50 mg. Diberikan secara suntikan subkutis,
intramuscular atau intravena dengan dosis 0,5-1 mg untuk dewasa dan
0,015mg/kgBB untuk anak-anak.
b) Hipnoz 2 mg (Midazolam) : obat penenang(transquilaizer)
Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untukpremedikasi,
induksi dan pemeliharaan anestesi . Dibandingkandengan diazepam, midazolam
bekerja cepat karena transformasimetabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat.
Pada pasien orang tuadengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi
jantung danpernafasan, dosis harus ditentukan secara hati-hati. Efek obat
timbuldalam 2 menit setelah penyuntikan.Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10
mg/kgBB, disesuaikandengan umur dan keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5 mg.
padaorang tua dan pasien lemah dosisnya 0,025-0,05 mg/kgBB.Efek sampingnya
terjadi perubahan tekanan darah arteri, denyutnadi dan pernafasan, umumnya
hanya sedikit
c) Cedantron 4 mg (Ondansentrone)
Suatu antagonis reseptor serotonin 5 HT 3 selektif. Baik untukpencegahan
dan pengobatan mual, muntah pasca bedah.
Efek samping berupa ipotensi, bronkospasme, konstipasi dan sesak nafas.Dosis
dewas 2-4 mg.
OBAT INDUKSI
a. Tracrium 20 mg (Atracurium) : nondepolarisasi
Pelumpuh otot nondepolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare)berikatan dengan
reseptorni kotinik-kolinergik.
Posmedikasi dilakukan dengan maksud :
Diberikan untuk menghilangkan efek samping spt perasaan gelisah dan
mual.Digunakan klorpromazin atau antiemetika lain
Tujuan Premedikasi :
1. Menenangkan penderita
2. Mengurangi rasa sakit
3. Memudahkan induksi
4. Mengurangi dosis obat- obat anestesi
5. Menngurangi refleks yang tidak diinginkan
6. Mengurangi sekresi kelainan mulut & saluran nafas

7. Mencegah mual dan muntah pasca bedah


8. Mencegah penderita ingat situasi selama operasi ( menciptakan amnesia )
Obat obatan Premedikasi :
1. Sedativa, transquilizer
2. Analgetika narkotika
3. Alkaloid belladona :
- Anti sekresi
- Mengurangi efek vagal terhadap jantung dari obat-obat
- Impuls afferent abdomen, thorax, mata
4. Anti emetic
2.8 Penggolongan Anestesi Umum Dan Lokal
Anestesi Umum :
A. Anestetik Inhalasi : gas tertawa, halotan, enfluran, isofluran dan sevofluran.
Obat obat ini diberikan sebagai uap melalui saluran nafas. Keuntungannya
adalah resorpsi yang cepat melalui paru paru seperti juga ekskresinya melalui
gelembung paru paru (alveoli) yang biasanya dengan keadaan utuh .
pemberiannya mudah dipantau dan bila perlu setiap waktu dapat dihentikan. Obat
ini terutama digunakan untuk memelihara anestesi. Dewasa ini senyawa kuno eter,
kloroform, trikoletiren dan siklopropan praktis tidak digunakan lagi karena efek
sampingnya.
B. Anestetik Intravena : thiopental, diazepam dan midazolam, ketamine dan
propofol.
Obat obat ini juga dapat diberikan dalam sediaan suppositoria secara rektal,
tetapi resorpsinya kurang teratur. Terutama digunakan untuk mendahului (induksi)
anestesi local atau memeliharanya juga sebagai anestesi pada pembedahan
singkat.
Anestesi Lokal
Stuktur dasar anestetika lokalpada umumnya terdiri dari tiga bagian, yakni
suatu gugus amino hidrofil (sekunder atau tersier) yang dihubungkan oleh suatu
ikatan ester atau alcohol atau amida dengan suatu gugus aromatis lipofil. Semakin
panjang gugus alkoholnya, semakin besar daya kerja anestetiknya tetapi toksisitas
nya juga meningkat.
Anestetika local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa
kelompok berikut :
a. Senyawa ester : cocain dan ester PABA (benzokain, prokain, oksibuprokain,
tetrakain)
b. Senyawa amida : lidokain dan prilokain, mepivakain. Bupivakain dan cinchokain
c. Lainnya : fenol, benzilalkohol dan etil klorida.
Semua obat tersebut diatas adalah sintetis, kecuali kokain yang alamiah.

Anda mungkin juga menyukai