Anda di halaman 1dari 15

VARIASI WAKTU CURING PADA MORTAR GEOPOLIMER

MENGGUNAKAN FLY ASH DENGAN PERAWATAN OVEN


Alfian Amin Saputra1, Riolan Sagala2, Anni Susilowati3
1)2)

Mahasiswa Program Studi Teknik Konstruksi Gedung, Jurusan Teknik Sipil,


Politeknik Negeri Jakarta, Kampus Baru UI, Depok, 16425
1)
Email : alfian.amin27@yahoo.co.id
2)
Email : riolan.sagala@rocketmail.com
3)

Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Jakarta,


Kampus Baru UI, Depok, 16425
Email : anni_susilowati@yahoo.co.id

ABSTRAK
Mortar geopolimer merupakan campuran mortar di mana bahan dasarnya tidak
menggunakan semen portland sebagai bahan pengikat dan digantikan oleh fly ash.. Cuaca di
Indonesia sering kali ekstrim, musim penghujan mengakibatkan suhu menjadi dingin. Hal ini
mengakibatkan proses hidrasi sulit dicapai dan kekuatan awal mortar sulit didapatkan. Maka
diperlukan panas tambahan dalam kegiatan perawatan mortar. Tujuan dari penelitian ini
untuk mendapatkan waktu curing optimum dengan perawatan oven pada mortar geopolimer.
Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan cara menggunakan beberapa variasi
waktu curing mortar geopolimer dengan menggunakan perawatan oven. Komposisi mortar
dengan perbandingan volume 1 fly ash : 3 Pasir : 0,75 air : 0,4 water/binder. Dengan
konsentrasi NaOH 9 M dan Na2SiO3/NaOH 2. Variasi waktu curing menggunakan perawatan
oven yaitu pada waktu 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa waktu curing 12 jam menghasilkan sifat fisik dan mekanik yang paling baik. Kuat tekan
dan kuat lentur mortar geopolimer yang dihasilkan adalah masing-masing sebesar 29,33
N/mm2 dan 9,79 N/mm2.

KATA KUNCI
Fly ash; Kuat lentur; Kuat tekan; Mortar geopolimer; Perawatan Oven.

LATAR BELAKANG
Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, pembangunan gedung,
perumahan, sarana perhubungan serta infrastruktur lainnya meningkat. Maka dari itu,
penggunaan mortar sebagai salah satu komponen untuk bahan bangunan juga meningkat
dengan pesat.
Mortar merupakan suatu bahan yang terdiri dari campuran bahan perekat, bahan
pengisi dan air. Umumnya bahan perekat yang digunakan adalah semen portland. Produksi
semen salah satu penyumbang pemanasan global yang pada proses produksinya
menghasilkan gas karbondioksida (CO2), yaitu gas penyebab terjadinya efek rumah kaca.
Proses produksi satu ton semen portland menghasilkan satu ton emisi gas CO2, gas ini akan
dilepaskan ke atmosfer dengan bebas dan kemudian merusak lingkungan. Geopolimer
mempunyai potensi mengurangi penggunaan semen portland karena memungkinkan untuk
mengganti seluruh penggunaan semen portland dengan fly ash karena mempunyai kadar
bahan semen yang tinggi dan mempunyai sifat puzzolanik (Rousstia, 2008).
Fly ash adalah bahan buangan dari sisa hasil pembakaran batu bara. Penimbunan fly
ash yang sembarangan akan berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, karena partikelpartikel logam berat yang terkandung dalam fly ash mudah berterbangan dan mengotori udara
serta sumber air. Pemanfaatan limbah fly ash dapat menambah nilai manfaat dari bahan
buangan industri dan dapat tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Suhu disekitar tempat pemasangan mortar sangatlah berpengaruh pada proses
perawatan mortar. Cuaca di Indonesia yang sering kali ekstrim, musim penghujan yang
mengakibatkan suhu menjadi dingin. Hal ini mengakibatkan proses hidrasi sulit dicapai dan
kekuatan awal mortar sulit didapatkan. Maka diperlukan panas tambahan dalam kegiatan
perawatan mortar. Perawatan yang digunakan adalah perawatan oven, yaitu perawatan mortar
dengan mengoven mortar tersebut pada suhu dan waktu tertentu. Agar mortar tidak rusak
maka pada saat di oven mortar dibungkus dengan alumunium foil.
Hasil penelitian (Susilowati dan Setyono, 2013) mengenai dampak perawatan
terhadap kuat tekan mortar geopolimer dengan berbagai variasi aktivator menunjukan bahwa
perawatan dengan metode oven (suhu 900 selama 24 jam) dapat meningkatkan kuat tekan
mortar geopolimer. Adapun peningkatan kekuatan tekan pada umur 28 hari dengan oven
(suhu 900 selama 24 jam) lebih tinggi 56,91% dari perawatan pada suhu ruang dan
perbandingan campuran yang optimum adalah 1 fly ash : 3 pasir : 0,3 water/binder : 9M
NaOH : 2 Na2SiO3/NaOH.

PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan dari penelitian ini adalah :
1. Bagaimana sifat fisik dan mekanik mortar geopolimer menggunakan fly ash dengan
perawatan oven pada berbagai variasi waktu curing.
2. Berapa waktu perawatan mortar geopolimer menggunakan oven agar didapatkan kuat
tekan dan kuat lentur optimum.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang akan dicapai setelah dilakukan penelitian ini adalah :
1. Untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik mortar geopolimer yang menggunakan fly
ash dengan berbagai variasi waktu perawatan oven.
2. Untuk mendapatkan waktu curing optimum dengan perawatan oven pada mortar
geopolimer.
PENGERTIAN MORTAR
Menurut SNI 03-6825-2002 mortar didefinisikan sebagai campuran material yang
terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan air
dengan komposisi tertentu. Pada penelitian mortar geopolimer ini, bahan perekat tidak lagi
menggunakan semen layaknya mortar konvensional yang menggunakan semen sebagai
bahan perekat hidrolisnya melainkan menggunakan fly ash. Geopolimer yang dipakai
berasal dari bahan dasar fly ash yang direaksikan dengan alkali aktivator berupa Sodium
Hidroksida (NaOH) dan Sodium Silikat / waterglass (Na2SiO3) sehingga membentuk
mortar geopolimer berbahan dasar fly ash. Syarat-syarat mortar yang baik adalah memiliki
sifat plastis agar mudah dikerjakan (workability), kuat tekan yang baik, mempunyai daya
lentur yang baik, dan muai susut yang kecil serta tahan lama.
Berdasarkan bahan pengikatnya, mortar dapat dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Mortar semen, yaitu mortar dengan campuran pasir, semen Portland dan air dalam
perbandingan campuran yang tepat.
2. Mortar kapur, yaitu mortar dengan campuran pasir, kapur dan air.
3. Mortar lumpur, yaitu mortar dengan campuran pasir, tanah liat/lumpur dan air.
4. Mortar khusus, yaitu mortar dengan menambahkan bahan khusus pada mortar kapur dan
mortar semen dengan tujuan tertentu.
5. Mortar geopolimer, yaitu mortar dengan bahan perekat selain semen yang banyak
mengandung Silikon dan Alumunium (Davidovits, 1997).

Berdasarkan tujuan penggunaannya, mortar dapat dibagi menjadi beberapa jenis :


1. Mortar untuk pasangan batu (masonry), yaitu mortar yang digunakan untuk merekatkan
bata/sejenisnya untuk membuat suatu bangunan, seperti tembok.
2. Mortar untuk finishing, yaitu mortar yang digunakan untuk menutupi permukaan tembok,
untuk bagian-bagian ornamen/arsitektural, aplikasi dari pelapisan dekoratif pada
tembok/panel.
3. Mortar khusus, yaitu mortar yang mempunyai sifat-sifat tertentu (seperti akustik,
pelindung sinar X, penempelan minyak, dan sebagainya) (Tjokrodimuljo,1996).

PENGERTIAN MORTAR GEOPOLIMER


Mortar geopolimer merupakan campuran mortar di mana bahan dasarnya tidak
menggunakan semen portland sebagai bahan pengikat dan digantikan oleh bahan sampingan
seperti fly ash, abu kulit padi (rice ush ash) dan lain-lain yang banyak mengandung Silikon
dan Alumunium (Davidovits, 1997). Penggantian bahan dasar semen portland ini adalah
sebagai tindakan yang dianggap efektif untuk pemanfaatan bahan sisa limbah juga sebagai
tindakan peduli terhadap lingkungan. Pada penelitian ini digunakan fly ash sebagai bahan
pengganti semen portland 100%. Geopolimer merupakan produk geosintetik dimana reaksi
pengikatan yang terjadi adalah reaksi polimerisasi.
Dalam reaksi polimerisasi ini Alumunium (Al) dan Silika (Si) mempunyai peranan
yang penting (Davidovits, 1994).
Kelebihan mortar geopolimer (Skvara, dkk, 2006) :
1. Tahan terhadap lingkungan yang korosif
2. Mempunyai rangkak dan susut yang kecil
3. Tahan reaksi alkali-silika
4. Tahan terhadap api
5. Mengurangi polusi udara
Kekurangan mortar geopolimer (Kosnatha, dkk, 2007):
1. Pembuatannya lebih rumit dari pada mortar konvensional (karena membutuhkan
alkaline activator)
2. Perlu melakukan Trial mix untuk mendapat komposisi mix design yang tepat.

MATERIAL PENYUSUN MORTAR GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR FLY ASH


Material polimer anorganik alkali alumino silikat dapat disintesis dari binder yang
mengandung alumina dan silica berkonsentrasi tinggi. Binder tersebut dapat berupa mineral
alami ataupun limbah industri. Unsur-unsur kimia di dalam binder bila dicampur dengan
larutan alkali sebagai aktivator, akan menghasilkan mineral pasta geopolimer dengan
kekuatan mengikat seperti pasta semen. Binder dan aktivator akan bersintesa membentuk
material padat melalui proses polimerisasi, dimana proses polimerisasi yang akan terjadi
adalah disolusi dan diikuti dengan proses polikondensasi. Disolusi didefinisikan sebagai suatu
proses melarutnya zat kimia atau senyawa dari keadaan padat ke dalam suatu medium tertentu
(Wagner, 1971). Polimerisasi adalah reaksi pembentukan rantai polimer organik yang
panjang dan berulang.
Proses sintesis terbagi atas proses aktivasi bahan alumina-silika oleh ion alkali dan
proses curing untuk mendorong terjadinya polimerisasi dan monomer alumina-silika menjadi
struktur jaringan molekul tiga dimensi. Kesempurnaan dari polimerisasi, sedemikian hingga
struktur dan properti polimer anorganik telah tersintesis, tergantung pada proses aktivasi dan
proses ikat. Hal penting yang berkaitan dengan sintesis polimer anorganik adalah derajat
polimerisasinya, dimana hal ini menentukan formasi struktur dan sedemikian hingga
menentukan karakteristik akhir dari benda uji (Davidovits, 1999).
Dalam hal penggunaan material polimer sebagai bahan pengikat pada mortar maka hal
yang perlu diperhatikan adalah ikatan yang dihasilkan antara mineral polimer dan agregat
(interface). Ikatan tersebut dapat berupa ikatan mekanis ataupun kimia. Ikatan kimia dapat
pula terjadi apabila matriks yang digunakan adalah polimer, walaupun sebagaimana kita
ketahui bahwa mineral agregat akan bersifat tidak reaktif pada mortar semen. Selain memberi
ikatan, material polimer juga diharapkan memberikan sumbangan kekuatan pada beton
(Widhatra, 2008).
PENELITIAN TERDAHULU
Kosanatha dan Utomo, (2007) Pada Penelitiannya yang menggunakan komposisi fly
ash tipe C dan tipe F menyimpulkan bahwa pengaruh penggunaan oven pada proses curing
sangat berpengaruh terhadap kuat tekan untuk fly ash tipe C dan F pada spesimen mortar dan
peningkatan kuat tekan pada mortar tidak terlalu berpengaruh terhadap umurnya.
Jaarsveld, dkk, (2002) mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu suhu curing yang
lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan kuat tekan mortar geopolimer. Ketika benda uji

di-curing pada suhu 90C selama 24 jam terjadi peningkatan kuat tekan. Curing dengan
periode yang lebih lama justru mengurangi kuat tekan material.
Cahyadi, dkk, (2012) dalam penelitiannya mengggunakan bahan-bahan meliputi fly
ash, serbuk gergaji akasia mangium, pasir, agregat ringan, larutan Natrium hidroksida dan
larutan Natrium silikat. Perbandingan semen-pasir dan fly ash - pasir yaitu 1 : 2 (berdasarkan
berat) dengan rasio air-semen sebesar 0,25; 0,3 dan 0,35; dengan variasi kadar serbuk gergaji
yang dipakai adalah 1 : 2 (berdasarkan volume). Pengujian dilakukan setelah benda uji
berumur 7 hari dan 28 hari untuk mortar geopolimer dan mortar kontrol. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggantian semen portland dengan fly ash serta penambahan larutan
Natrium hidroksida dan larutan Natrium silikat ke dalam campuran dapat meningkatkan kuat
tekannya sampai 19,7 MPa dibandingkan dengan kuat tekan mortar control sebesar 15,3 Mpa.
Sedangkan penambahan kadar serbuk gergaji ternyata menurunkan kuat tekan menjadi 8,1
MPa.
Djawantoro, (2005). Pada penelitiannya membahas secara rinci tentang pembuatan
mortar geopolimer. Karena keterbatasan literatur dan referensi pada saat itu, penelitian ini
melakukan trial error untuk mengetahui parameter yang mempengaruhi sifat mortar
geopolimer. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kuat tekan tertinggi terjadi pada curing
90C, baik untuk NaOH 8M, maupun NaOH 14 M.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian proyek akhir ini, digunakan metode eksperimen dengan cara
menggunakan beberapa variasi waktu curing mortar geopolimer dengan menggunakan
perawatan oven guna mendapatkan waktu curing mortar geopolimer yang tepat, yang
menghasilkan sifat fisik dan mekanik optimum pada mortar geopolimer. Komposisi mortar
dengan perbandingan volume 1 fly ash : 3 Pasir : 0,75 air : 0,4 water/binder. Dengan
konsentrasi NaOH 9 M dan Na2SiO3/NaOH 2. Variasi waktu curing menggunakan perawatan
oven yaitu pada waktu 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 jam.
Penelitian ini berlokasi di laboratorium Uji Bahan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri
Jakarta. Metode pelaksanaan penelitian ini yaitu :
1. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara membuat benda uji berupa mortar. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah variasi waktu curing dengan perawatan oven. Sampel
dibuat dalam 4 komposisi,yaitu :

Tabel 1 Variasi Benda Uji


No

Fly Ash

Pasir

Water/Binder

NaOH

Na2SiO3/

Waktu perawatan

(Molar)

NaOH

oven (jam)

0,3

12

0,3

24

0,3

36

0,3

48

2. Bahan-bahan Penelitian
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fly ash, pasir,
NaOH, Na2SiO3, dan air.

3. Metode Pengujian Kualitas Produk yang dihasilkan


Dibuat benda uji dengan rincian sebagai berikut :
a) Pengujian kuat tekan yang ditinjau pada hari ke 7, 14 dan 28 hari, masing- masing
variasi berjumlah 3 buah benda uji dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm (ukuran berdasarkan
SNI 03-6825-2002).
b) Pengujian kuat lentur yang ditinjau pada hari ke 28, masing-masing variasi
berjumlah 3 buah benda uji dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 10 cm.
c) Pengujian perubahan panjang yang ditinjau pada hari ke 7, 14, dan 28 hari masingmasing varian berjumlah 2 buah benda uji dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 28,5 cm.

4. Alur Penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium bahan Politeknik Negeri Jakarta, dengan
alur penelitian sebagai berikut :

MULAI

Persiapaan Bahan

Pengujian Bahan

1. BJ & Peny. Air (Agregat & fly ash)


2. Berat isi
(Agregat & fly ash)
3. Analisa Ayak (Agregat)
4. Kadar Air
(Agregat)
5. Kadar Lumpur (Agregat)

No

Standar

Yes
Perancangan Mortar
GEOPOLIMER

Pembuatan
Larutan
GEOPOLIMER

Pembuatan/Pengadukan
MortarGEOPOLIMER
Uji Konsistensi

Pencetakan Benda Uji

1.
2.
3.

Pengujian Mortar Keras


Kuat Tekan ( SNI 03-6825-2002 )
Kuat Tarik Lentur (ASTM C 580 02)
Perubahan Panjang (ASTM C 531-00)

Analisis Data

Kesimpulan

SELESAI

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian

DATA DAN ANALISA


Dari hasil pengujian terhadap agregat halus, fly ash dan mortar geopolimer, maka datadata yang didapat perlu dilakukan analisis untuk mengetahui sifat-sifat dari agregat halus, fly
ash, dan mortar geopolimer.
Pengujian agregat halus, fly ash, dan mortar geopolimer dilakukan di Laboratorium Uji
Bahan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta. Adapun hasil yang akan dibahas pada
bab ini berupa tabel dan grafik. Hasil tersebut meliputi:
1. Pengujian Agregat Halus
a. Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air
b. Uji Berat Isi (Unit Weight and Voids)
c. Analisis Ayak

d. Uji Kadar Air


e. Uji Kadar Lumpur
2. Pengujian Fly ash
a. Uji Berat Jenis
b. Uji Berat Isi (Unit Weight and Voids)
3. Hasil Pengujian Mortar Geopolimer
a. Konsistensi
b. Kuat Tekan
c. Kuat Lentur
d. Perubahan Panjang

1. Hasil pengujian agregat halus


NO
PENGUJIAN
Berat Jenis dan penyerapan air
I
Berat Jenis (Bulk Spesify
Grafity)
Berat Jenis SSD
Berat Jenis Semu
Penyerapan Air
Berat Isi
II
Berat Isi Lepas
Berat Isi Padat
Berat Isi Rata-Rata
Voids
III Analisa Ayak
Angka Kehalusan
IV Kadar Air

HASIL

STANDAR

KETERANGAN

2,54
2,6
1,42

2,2-2,7

Memenuhi persyaratan

1466,01 kg/m
1494,83 kg/m
1480,42 kg/m
40,66%

min 1200 kg/m


min 1200 kg/m
min 1200 kg/m
< 50%

Memenuhi persyaratan
Memenuhi persyaratan
Memenuhi persyaratan
Memenuhi persyaratan

2,69

1,5-3,8

Memenuhi persyaratan

Kadar Air

1,60%

agregat dalam keadaan


basah karena kadar air >
penyerapan air

Kadar Lumpur
Kadar Lumpur

1,45%

< 5%

2,5

a. Analisa Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air


Dari hasil uji berat jenis agregat halus didapat berat jenis rata-rata 2,503; berat
jenis SSD 2,538 dan berat jenis semu 2,596 dimana berat jenis rata-rata, berat jenis
SSD dan berat jenis semu telah memenuhi persyaratan berat jenis agregat normal yaitu

antara 2,2-2,7. Dengan nilai ini maka agregat tersebut dapat diklasifikasikan agregat
normal. Didapat angka penyerapan air dengan nilai rata-rata 1,42 %.
b. Analisa Uji Berat Isi (Unit Weight and Voids)
Dari hasil uji berat isi pada agregat halus didapat berat isi rata-rata sebesar
1480,424 kg/m3 dimana nilai berat isi agregat halus ini sudah memenuhi berat isi
agregat halus normal yang lebih besar dari 1200 kg/m3. Nilai voids rata-rata didapat
40,664 %, nilai ini masih memenuhi dalam batas teoritis yaitu maksimum 50%.
c. Analisa Uji Analisa Ayak
Dari hasil uji analisis ayak agregat halus, seluruh gradasi agregat halus memenuhi
Standar Susunan Besar Butir Agregat Halus ASTM C 144-02. Adapun kehalusannya
sebesar 2,69 masih memenuhi SNI 03-6861.1-2002 yaitu antara 1,5-3,8. Agregat ini
termasuk agregat yang tidak terlalu kasar tetapi juga tidak terlalu halus. Semakin
tinggi angka kehalusannya, maka semakin kasar butirannya dan sebaliknya semakin
kecil angka kehalusan, maka agregatnya semakin halus.
d. Analisa Uji Kadar Air
Dari hasil pengujian kadar air pada agregat halus, didapat kadar air rata-rata
1,60%. Jika dibandingkan dengan nilai penyerapan airnya yaitu 1,42% maka agregat
dalam keadaan basah karena kadar air lebih besar dari nilai penyerapan airnya.
e. Analisa Uji Kadar Lumpur
Dari hasil uji kadar lumpur pada agregat halus, didapat nilai rata-rata kadar
lumpur sebesar 1,45%. Nilai ini masih dalam batas yang diijinkan SNI 03-6820-2002
yaitu tidak lebih dari 5%, maka agregat halus tidak perlu dicuci sebelum digunakan.
2. Hasil Pengujian Fly Ash
NO
PENGUJIAN
I
Berat Jenis
Berat Jenis (Bulk Spesify
Grafity)
II

Berat Isi
Berat Isi Lepas
Berat Isi Padat
Berat Isi Rata-Rata

HASIL

2,47

1466,01 kg/m
1494,83 kg/m
1480,42 kg/m

STANDAR

KETERANGAN

ACI Manual of Concrete


Memenuhi persyaratan
Pratice (2,2-2,8)

a. Analisa Pengujian Berat Jenis


Dari hasil uji berat jenis fly ash didapat berat jenis fly ash rata-rata sebesar 2,47
nilai ini masih termasuk dalam syarat berat jenis fly ash menurut ACI Manual of
Concrete Practice, 1003 Parts 1 226. 3R-6 yaitu antara 2.2 2.8.
b. Analisa Pengujian Berat Isi (Unit Weight and Voids)
Dari hasil uji berat isi fly ash, didapat nilai rata-rata berat isi sebesar 1194,05
kg/m3.
3. Hasil Pengujian Mortar Geopolimer
a. Analisa Pengujian Konsistensi
Untuk pengujian konsistensi mortar geopolimer masih belum ada standar yang
mengatur. Namun sebagai pendekatannya digunakan standar konsistensi pada mortar
semen yaitu mengacu pada ASTM C 305-82. Bila melihat nilai flow yang dicapai dari
masing-masing variasi maka semua nilai flow-nya tidak memenuhi syarat tercapainya
konsistensi normal mortar semen karena tidak berada diantara konsistensi normal
yang disyaratkan yang berkisar 110 5% bila diukur dengan caliper khusus, namun
adukan masih mudah dikerjakan. Maka dari itu pembuatan benda uji tetap
dilaksanakan dengan konsistensi mortar pada saat pengujian.
b. Analisa Pengujian Kuat Tekan

KUAT TEKAN (MPA)

50,00
40,00
30,00

12 jam

20,00

24 jam
36 jam

10,00

48 jam
0,00
7

14

21

28

UMUR (HARI)

Gambar 2 Diagram hubungan umur pengujian terhadap kuat tekan


mortar geopolimer

KUAT TEKAN (MPA)

50,00
45,00
40,00
35,00
30,00
25,00
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00

umur 7 hari
umur 14 hari
umur 21 hari
umur 28 hari

12 JAM

24 JAM

36 JAM

48 JAM

WAKTU PERAWATAN OVEN

Gambar 3 Diagram hubungan waktu perawatan oven terhadap kuat


tekan mortar geopolimer
Berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 3 dapat dilihat bahwa pada umur 28 hari,
semakin lama waktu perawatan oven maka kuat tekan mortar geopolimer akan
semakin menurun. Penurunan pada variasi 24 jam sebesar 9,41%; variasi 36 jam
sebesar 29,87% dan pada variasi 48 jam sebesar 2,97%.
c. Analisa Pengujian Kuat Lentur

Kuat Lentur (KN/cm)

12,000
10,000
8,000
6,000
umur 28 hari

4,000
2,000

0,000
12 jam 24 jam 36 jam 48 jam

Waktu Perawatan Oven

Gambar 4 Diagram hubungan waktu perawatan oven dengan kuat


lentur mortar geopolimer
Dari hasil uji kuat lentur mortar geopolimer dengan variasi waktu curing dengan
perawatan oven dapat dilihat pada Gambar 4.6 bahwa nilai kuat lentur yang didapat
dari variasi waktu curing dengan perawatan oven mengalami nilai yang fluktuatif.
Secara umum semakin lama waktu perawatan oven maka kuat lentur mortar
geopolimer semakin menurun. Mulai dari variasi waktu 12 jam sampai 36 jam nilai
kuat lentur terus mengalami penurunan namun pada variasi 48 jam kuat lentur yang

dihasilkan mengalami peningkatan. Kuat lentur tertinggi didapat pada variasi 12 jam
yaitu sebesar 9,79 N/mm2.
d. Analisa Pengujian Perubahan Panjang

Perubahan panjang (%)

1,0000
0,8000
umur 7 hari

0,6000

umur 14 hari
0,4000

umur 21 hari

0,2000

umur 28 hari

0,0000
-0,2000
12

24

36

Waktu Perawatan Oven (jam)

48

Gambar 5 Diagram hubungan waktu perawatan oven dengan


perubahan panjang mortar geopolimer
Gambar 5 menunjukan bahwa semua variasi mortar geopolimer mengalami muai
susut. Mortar pada perawatan oven selama 48 jam pada umur 28 hari mempunyai
perubahan panjang rata-rata paling kecil yaitu 0,0428%, hal ini masih sesuai dengan
ASTM C 157-99 yaitu perubahan panjang maksimal pada mortar adalah 0,0496%.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan analisis terhadap pengujian yang telah dilakukan didapatkan
beberapa kesimpulan yang tertera sebagai berikut:
1.a. Sifat Fisik mortar geopolimer menggunakan fly ash dengan dengan perawatan oven
meliputi:
Konsistensi mortar geopolimer masih tidak memenuhi syarat tercapainya
konsistensi normal mortar semen karena tidak berada diantara konsistensi normal
yang disyaratkan, namun adukan masih mudah dikerjakan. Maka dari itu
pembuatan benda uji tetap dilaksanakan dengan konsistensi mortar pada saat
pengujian.
Perubahan panjang untuk semua waktu perawatan oven mengalami muai susut
yang bervariasi setiap umur pengujiannya.
b. Sifat Mekanik mortar geopolimer menggunakan fly ash dengan perawatan oven meliputi:
Kuat tekan dan kuat lentur mortar geopolimer pada masing-masing perawatan oven
bervariasi. Pada umur 28 hari, semakin lama waktu perawatan oven maka kuat

tekan dan kuat lentur mortar geopolimer semakin menurun. Pada kuat tekan
mengalami penurunan rata-rata sebesar 14,08% dan pada kuat lentur mengalami
penurunan rata-rata sebesar 14,83%.

2. Pada penelitian ini variasi waktu curing optimum dengan perawatan oven dicapai pada
waktu curing 12 jam karena selain menghasilkan kuat tekan dan kuat lentur yang tinggi,
perubahan panjang pada variasi ini juga kecil.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada ibu Anni susilowati selaku
pembimbing dan P3M Politeknik Negeri Jakarta serta semua pihak yang telah memberi masukan
selama penulisan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
ASTM C 157/ C 157M-99, Standard Test Method Length Change of Concrete. American
Society of Testing Materials.
ASTM C 305-99, Standard Practice for Mechanical Mixing of Hydraulic cement Paste and
Mortars of Plastic Consistency, American Association State Highway and
Transportation Official Standard.
Cahyadi, Danni, dkk. 2012. Pemanfaatan Abu Terbang dan Serbuk Gergaji untuk
Pembuatan Mortar Ringan Geopolimer. Bandung : Badan Litbang Pekerjaan
Umum.
Davidovits, J., 1994, Highest Alkali Cements for 21st Century Concretes. Concrete
Technology: Past, Present and Future. P.K Mehta, ACI, Detroit, USA. SP 144-19:
383-397.
Davidovits, J., 1997, Geopolymer Inorganic Polymer New Material. France: Geopolymer
Institute.
Hardjito, D., dan Rangan, B.V., 2005, Development and Properties of Low Calcium Fly Ash
Based Geopolymer Concrete, Research report GC 1, Curtin University of
Technology, Perth, Australia.
Horianto,dkk, tanpa tahun, Pengaruh Suhu dan Durasi Perawatan Terhadap Kuat Tekan
Mortar Geopolimer Berbahan Dasar Abu Terbang. Palu: Universitas Tadulako.
http://id.scribd.com/doc/183736850/JURNAL-Horianto-pdf, diakses pada tanggal 21
November 2013.
SNI 03-6820-2002, Spesifikasi Agregat Halus Untuk Pekerjaan Adukan Dan Plesteran
dengan Bahan Dasar Semen, Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

SNI 03-6825-2002, Metode Pengujian Kekuatan Tekan Mortar Semen Portland Untuk
Pekerjaan Sipil, Jakarta: Badan Standarisasi Nasional
Susilowati, Anni, Widi Setyono, 2012, Dampak Perawatan terhadap Kuat Tekan Mortar
Geopolimer dengan Berbagai Variasi Aktivator, Prosiding Seminar Jurusan
Teknik Sipil, Politeknik Negeri Jakarta, Depok