Anda di halaman 1dari 49

KERAGAMAN NILAI LIGNIN TERLARUT ASAM (Acid

Soluble Lignin) DALAM KAYU REAKSI Pinus merkusii Jungh et


de Vriese dan Gnetum gnemon Linn

EDO NOFRIADI

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN
EDO NOFRIADI. Keragaman Nilai Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble
Lignin) Dalam Kayu Reaksi Pinus merkusii Jungh et de Vriese dan Gnetum
gnemon Linn. Di Bawah Bimbingan WASRIN SYAFII dan DEDED SARIP
NAWAWI.
Kayu reaksi memiliki sifat kimia yang berbeda dibandingkan dengan kayu
normal. Dalam hal kandungan lignin, kayu tekan jenis kayu daun jarum memiliki
kadar lignin yang lebih tinggi dibandingkan kayu normal sedangkan pada kayu
tarik jenis kayu daun lebar berlaku hal sebaliknya. Kayu reaksi adalah salah satu
contoh kayu yang representatif untuk melihat keragaman kadar lignin dalam satu
batang yang sama. Salah satu sifat kimia lignin yang terkait dengan reaktifitasnya
adalah lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin). Namun penelitian dan data
mengenai lignin terlarut asam untuk jenis kayu Indonesia masih sangat kurang.
Metode klason digunakan dalam penentuan lignin dimana prosedur ini
memisahkan lignin sebagai material yang tidak larut dengan depolimerisasi
selulosa dan hemiselulosa dalam asam sulfat 72% yang diikuti dengan hidrolisis
polisakarida pada asam sulfat 3% yang dipanaskan. Bagian yang terlarut menjadi
filtrat disebut lignin terlarut asam (acid soluble lignin) yang ditentukan dengan
menggunakan alat spectrophotometer pada panjang gelombang 205 nm dan
absorban 110 lg-1 cm-1. Dalam penelitian ini diuji keragaman nilai lignin terlarut
asam dalam kayu reaksi Pinus merkusii dan Gnetum gnemon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar lignin pada kayu reaksi P.
merkusii semakin meningkat dari bagian kayu oposit ke arah bagian kayu tekan.
Kecenderungan yang sama juga terdapat pada kayu reaksi G. gnemon.
Kecenderungan sebaliknya terjadi untuk kadar lignin terlarut asam. Nilai lignin
terlarut asam menurun dari bagian kayu oposit ke arah bagian kayu tekan.
Peningaktan kandungan lignin pada kayu tekan P. merkusii sejalan dengan
peningkatan kandungan p-hidroksiphenil. Kandungan p-hidroksiphenil berkorelasi
dengan pembentukan lignin terlarut asam. Semakin tinggi kandungan phidroksiphenil menghasilkan lignin terlarut asam yang semakin rendah. Pada kayu
G. gnemon, kandungan lignin terlarut asam berkorelasi positif dengan proporsi
siringil/guaiasil dimana semakin tinggi proporsi siringil/guaiasil maka lignin
terlarut asam yang dihasilkan juga semakin tinggi.
Kata kunci: kayu reaksi, lignin klason, lignin terlarut asam, siringil/guaiasil, phidroksiphenil

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN


SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Keragaman Nilai
Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble Lignin) Dalam Kayu Reaksi Pinus merkusii
Jungh et de Vriese dan Gnetum gnemon Linn adalah benar-benar hasil karya saya
sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan
sebagai karya ilmiah perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2009

Edo Nofriadi
NRP E24104043

KERAGAMAN NILAI LIGNIN TERLARUT ASAM (Acid


Soluble Lignin) DALAM KAYU REAKSI Pinus merkusii Jungh et
de Vriese dan Gnetum gnemon Linn

EDO NOFRIADI

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Keragaman Nilai Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble


Lignin) Dalam Kayu Reaksi Pinus merkusii Jungh et de
vriese dan Gnetum gnemon Linn

Nama Mahasiswa

: Edo Nofriadi

NRP

: E24104043

Menyetujui:
Dosen Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr

Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Sc

NIP : 130 813 794

NIP : 131 967 242

Mengetahui:
Dekan Fakultas Kehutanan IPB,

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr


NIP : 131 578 788

Tanggal Lulus:

ii

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Edo Nofriadi, lahir pada tanggal 21


November 1985 di Solok. Penulis merupakan anak ke 3 dari
empat bersaudara pasangan Rusdi dan Kasmawati.
Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1992
di SDN 07 Kp. Jawa Solok dan lulus pada tahun 1998,
kemudian melanjutkan ke SLTPN 01 Solok dan lulus pada
tahun 2001. Penulis melanjutkan ke SMUN 3 Solok dan lulus pada tahun 2004.
Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Hasil
Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah aktif di organisasi AFSA
(ASEAN Forestry Students Association) LC IPB, Himasiltan IPB dan berbagai
kepanitiaan kegiatan. Penulis mengikuti kegiatan praktek umum kehutanan (PUK) di
Cilacap-Batur Raden, Jawa Tengah dan praktek umum pengelolaan hutan tanaman
lestari (PUPHTL) di Getas Ngawi, Jawa Timur. Penulis juga telah melaksanakan
praktek kerja lapang (PKL) di PT. Sari Bumi Kusuma, Pontianak-Kalimantan Barat
pada bulan Febuari sampai April 2008. Pada bulan November 2008 penulis mengikuti
kegiatan AFSA MEETING 2008 sebagai delegasi dari AFSA LC IPB yang diadakan
di Bangkok, Thailand. Selama masa kuliah, penulis pernah menerima Beasiswa dari
PPA dan Tanabe Foundation.
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor, penulis melaksanakan kegiatan praktek khusus
(skripsi) dalam bidang kimia kayu dengan judul Keragaman Nilai Lignin

Terlarut Asam (Acid Soluble Lignin) Dalam Kayu Reaksi Pinus merkusii
Jungh et de Vriese dan Gnetum gnemon Linn di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir.
Wasrin Syafii, M.Agr dan Ir. Deded Sarip Nawawi, M.Sc.

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
menyusunnya menjadi sebuah karya ilmiah dengan judul Keragaman Nilai
Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble Lignin) Dalam Kayu Reaksi Pinus merkusii
Jungh et de Vriese dan Gnetum gnemon Linn. Karya ilmiah ini sebagai salah satu
syarat mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan dari Departemen Hasil Hutan,
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Lignin merupakan salah satu dari komponen makromolekul penyusun
kayu selain selulosa dan hemiselulosa. Komponen lignin ini terdiri atas sistem
aromatik yang tersusun atas unit-unit fenilpropana. Salah satu sifat lignin yang
terkait dengan reaktifitas lignin adalah lignin terlarut asam. Penelitian ini
memberikan informasi mengenai kandungan lignin terlarut asam dalam kayu
reaksi Pinus merkusii dan Gnetum gnemon. Keragaman kandungan lignin, lignin
terlarut asam dari posisi berbeda pada batang pohon yang sama, komposisi cincin
aromatik penyusun lignin dan hubungan antara lignin terlarut asam dengan cincin
aromatik penyusun lignin menjadi bahasan dalam karya ilmiah ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kelancaran penulisan karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa
tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan tulisan ini. Semoga bermanfaat.

Bogor, Januari 2009

Penulis

iv

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr dan Bapak Ir. Deded Sarip Nawawi,
M.Sc atas bimbingan dan nasehat serta kesabaran selama membimbing
penulis.
2. Bapak Ir. Nana Mulyana Arifjaya, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Agus Priyono
Kartono, M.Si atas kesediaan waktu menguji penulis serta nasehat dan
masukan kepada penulis.
3. Ibunda tercinta yang telah memberikan perhatian, kasih sayang dan cinta serta
pengorbanan tenaga dan materi untuk penulis I love you Mom.
4. Ayah yang telah memberikan pelajaran bahwa hidup tidak berjalan seperti apa
yang kita inginkan.
5. Saudara-saudaraku Hendra Guswandi, Hirawati dan Muhammad Reza yang
terus memberi semangat dan cinta pada penulis.
6. Tante, Om, Nenekku dan keluarga besar lainnya, Are, Alex, Soppi, Rezi, Resti
dan Rival, semoga penulis dapat menjadi apa yang telah diharapkan.
7. Ahmad Zhillan Zhulila Alaf Lubis, makhluk kecil yang mungil sebagai
anugerah dan inspirasi baru dalam kehidupan penulis.
8. Seluruh dosen dan staf pegawai Fahutan khususnya Departemen Hasil Hutan
yang telah memberikan ilmu yang begitu banyaknya kepada penulis.
9. Teman-teman satu bimbingan (Ali dan Shandi) dan satu bagian Kimia Hasil
Hutan (Puy, Bang Hotman, Rendra, AdiOk, Patria, Kiting, Ting-ting, Ipeh,
Gokma dan Zee), terima kasih atas cerita yang telah terukir dan semua
kenangan suka dan duka yang telah kita ciptakan bersama.
10. Teman-teman THH 41 Mona, Nining, Maya, Gendis, Ady, Ajo, Risqy
(Ahong), Siska, Andre, Weni, Meita dan yang lainnya yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, atas kebersamaan dan persahabatan selama menggali
ilmu.
11. Fi-co, J-co, Si-co atas persahabatan dan pengalaman menakjubkan yang telah
kita lewati dan terukir sendiri sebagai cerita kita.
12. Semua pihak yang telah membantu kelancaran selama penelitian dan
penulisan karya ilmiah ini.

DAFTAR ISI

halaman
DAFTAR ISI............................................................................................................ v
DAFTAR TABEL................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
1.2 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................................... 2
1.3 Manfaat ......................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3
2.1 Komponen Kimia Kayu ................................................................................ 3
2.2 Lignin ............................................................................................................ 4
2.3 Lignin Terlarut Asam .................................................................................... 8
2.4 Kayu Reaksi (Reaction Wood) .................................................................... 10
2.5 Karakteristik Kayu ...................................................................................... 12
2.5.1 Pinus ( Pinus merkusii Jungh et de Vriese) .......................................... 12
2.5.2 Melinjo (Gnetum gnemon Linn) ........................................................... 13
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 14
3.1 Waktu dan Tempat ...................................................................................... 14
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................................ 14
3.3 Tahapan Analisis Lignin Terlarut Asam ..................................................... 14
3.3.1 Persiapan Contoh Uji ............................................................................ 14
3.3.2 Ekstraksi Ethanol Benzene ( 1:2 v/v) ................................................... 15
3.3.3 Penentuan Kadar Lignin Klason (Lignin Tidak Larut Asam) .............. 15
3.3.4 Penentuan Kadar Lignin Terlarut Asam ............................................... 16
3.4 Diagram Alir Penelitian .............................................................................. 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 18
4.1 Lignin Klason dan Lignin Terlarut Asam ................................................... 18
4.2 Hubungan Lignin Klason, Lignin Terlarut Asam dan Total Lignin ........... 21
4.3 Hubungan Kadar Lignin dan Jenis Cincin Aromatik Penyusun Lignin...... 24

vi
ii

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 31


5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 31
5.2 Saran ........................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 32
LAMPIRAN........................................................................................................... 34

vii

DAFTAR TABEL

No.

halaman

1. Komponen kimia kayu pinus (P. merkusii) ....................................................... 12


2. Komposisi lignin beberapa jenis pinus pada bagian tekan
dan normal ......................................................................................................... 12
3. Komponen kimia kayu melinjo (G. gnemon) .................................................... 13
4. Kandungan lignin kayu reaksi P. merkusii dan G. gnemon
pada arah melingkar batang............................................................................... 19
5. Perbandingan nilai lignin klason dan lignin terlarut asam terhadap
total lignin kayu pada kayu P. merkusii dan G. gnemon ................................... 22
6. Kandungan guaiasil dan p-hidroksiphenil pada lignin P. merkusii ................... 25
7. Kandungan siringil/guaiasil pada G. gnemon .................................................... 28

viii

DAFTAR GAMBAR

No.

halaman

1. Bagan umum komponen kimia kayu ................................................................... 4


2. Unit pembentuk lignin ......................................................................................... 5
3. Pembentukan kayu reaksi pada pohon yang tumbuh miring ............................. 10
4. Contoh uji........................................................................................................... 14
5. Bagan diagram alir penelitian ............................................................................ 17
6. Kandungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
P. merkusii pada arah melingkar batang ........................................................... 20
7. Kandungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
G. gnemon pada arah melingkar batang ............................................................ 21
8. Hubungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
P.merkusii.......................................................................................................... 23
9. Hubungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
G. gnemon ......................................................................................................... 23
10. Hubungan kandungan Lignin klason dan p-hidroksiphenil pada
kayu tekan P. merkusii .................................................................................... 26
11. Hubungan kandungan lignin terlarut asam dan p-hidroksiphenil pada
kayu tekan P. merkusii .................................................................................... 27
12. Hubungan kandungan lignin terlarut asam dan siringil/guaiasil pada
kayu reaksi G. gnemon.................................................................................... 29

ix

DAFTAR LAMPIRAN

No.

halaman

1. Lignin klason dan lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin)


pada kayu P. merkusii ....................................................................................... 35
2. Lignin klason dan lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin)
pada kayu G. gnemon ........................................................................................ 36

BAB I
PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang


Kayu sebagai salah satu produk biologi mempunyai sifat yang sangat
beragam dan kompleks, baik dalam jenis yang berbeda, jenis yang sama dari
pohon yang berbeda, maupun dalam satu batang pohon yang sama. Faktor genetis
dan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan pohon yang akan berpengaruh pula
pada kualitas kayu. Kayu yang biasanya dikehendaki untuk digunakan adalah
kayu yang normal, walaupun penyimpangan dari bentuk normal bukanlah hal
yang jarang terjadi. Penyimpangan dapat terjadi berupa terbentuknya kayu reaksi
sebagai respon pertumbuhan kayu terhadap gangguan dari luar seperti angin atau
gravitasi (Hoadley 2000).
Telah diketahui sebelumnya bahwa kayu reaksi memiliki sifat kimia yang
berbeda dibandingkan dengan kayu normal. Dalam hal kandungan lignin, kayu
tekan jenis kayu daun jarum memiliki kadar lignin yang lebih tinggi dibandingkan
kayu normal, sedangkan pada kayu tarik jenis kayu daun lebar berlaku hal
sebaliknya. Banyak literatur yang memberikan informasi tentang lignin mulai
dari manfaat, struktur lignin sampai pengaruhnya terhadap pengolahan dan
penggunaan kayu (Akiyama et al. 2005, Fengel dan Wegener 1995, Sjostrom
1995). Salah satu sifat kimia lignin yang terkait dengan reaktifitasnya adalah
lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin). Namun penelitian dan data mengenai
lignin terlarut asam untuk jenis kayu Indonesia masih sangat kurang.
Metode klason merupakan prosedur yang paling umum digunakan dalam
penentuan lignin. Prosedur ini memisahkan lignin sebagai material yang tidak
larut dengan depolimerisasi selulosa dan hemiselulosa dalam asam sulfat 72%
yang diikuti dengan hidrolisis polisakarida pada asam sulfat 3% yang dipanaskan.
Bagian yang terlarut menjadi filtrat disebut lignin terlarut asam (Yasuda et al.
2001).
Dence (1992), Musha dan Goring (1974), Fuji et al. (1974) dalam
Akiyama et al. (2005) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara
jenis softwood dan hardwood dalam hal kandungan lignin terlarut asam yang

didasarkan pada prosedur lignin Klason. Proporsi lignin terlarut asam umumnya
rendah pada softwood. Proporsi lignin terlarut asam pada hardwood yang tinggi
terdapat pada jenis yang memiliki lignin klason kecil dan kandungan metoksil
yang tinggi. Secara tidak langsung, terlihat bahwa kandungan metoksil berkorelasi
positif dengan kandungan lignin terlarut asam (Obst 1982, Obst dan Ralph 1983,
dalam Akiyama et al. 2005).
Hubungan ini belum bisa digeneralisasi karena keragaman kadar lignin
tidak hanya terdapat diantara jenis kayu yang berbeda tetapi ditemui juga pada
jenis yang sama bahkan dalam satu batang yang sama. Kayu reaksi adalah salah
satu contoh kayu yang sangat representatif untuk melihat keragaman lignin dalam
satu batang yang sama. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian Akiyama et al.
(2003) yang menemukan bahwa kadar dan sifat kimia lignin berbeda pada posisi
jaringan kayu reaksi tarik yang berbeda dan sejalan dengan besarnya tekanan
selama pertumbuhan pohon. Semakin besar tekanan pertumbuhan semakin besar
pula pembentukan kayu reaksi tarik yang diikuti oleh semakin rendahnya kadar
lignin.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman kandungan
lignin klason dan acid soluble lignin pada batang yang sama tetapi pada posisi
yang berbeda yang memiliki kandungan lignin yang berbeda, khususnya pada
kayu reaksi.
1.3 Manfaat
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
sifat kimia kayu berupa lignin klason dan lignin terlarut asam dari bagian reaksi
kayu Pinus merkusii Jungh et de Vriese dan Gnetum gnemon Linn. Informasi ini
dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan mengenai sifat kimia
kayu dan sebagai dasar dalam pemanfaatan kayu berbasis komponen kimianya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komponen Kimia Kayu


Komponen kimia kayu terdiri atas dua komponen utama yaitu komponen
makromolekul yang terdiri dari selulosa, poliosa (hemiselulosa) dan lignin, dan
komponen minor yang terdiri dari ekstraktif dan zat-zat mineral (Gambar 1).
Perbandingan dan komposisi kimia selulosa, lignin dan poliosa berbeda pada kayu
daun jarum dan kayu daun lebar (Fengel dan Wegener 1995). Komposisi kimia
untuk serat kayu daun jarum terdiri dari 283% lignin, selulosa 422%,
hemiselulosa 272% dan zat ekstraktif 32%, sedangkan untuk serat kayu daun
lebar terdiri dari lignin 204%, selulosa 452%, hemiselulosa 305% dan zat
ekstraktif 53%. Dalam kayu dari daerah iklim temperate, bagian senyawa
polimer tinggi yang menyusun dinding sel mencapai 97-99% dari zat kayu. Untuk
kayu tropika, angka tersebut dapat turun hingga angka rerata 90%.
Selanjutnya Fengel dan Wegener (1995) menyebutkan bahwa komponen
kayu zat-zat makromolekul, terdiri dari selulosa yang merupakan komponen kayu
terbesar yang dalam kayu daun jarum dan kayu daun lebar jumlahnya mencapai
hampir setengahnya, poliosa (hemiselulosa) yang sangat dekat asosiasinya dengan
selulosa dalam dinding sel, lignin yang merupakan komponen makromolekul
ketiga dan senyawa polimer minor yang terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam
kayu yaitu sebagai pati dan senyawa pektin.
Zat-zat berat molekul rendah dapat berupa:
1. Senyawa aromatik; senyawa yang paling penting dari kelompok ini adalah
senyawa tanin yang dapat dibagi menjadi tanin yang dapat dihidrolisis
dan senyawa tanin terkondensasi.
2. Terpena; merupakan kelompok senyawa hidrokarbon alami yang tersebar
luas.

3. Asam alifatik; asam lemak jenuh dan tak jenuh tinggi terdapat dalam kayu
terutama dalam bentuk esternya dengan gliserol (lemak dan minyak) atau
dengan alkohol tinggi (lilin).
4. Alkohol; kebanyakan alkohol alifatik dalam kayu terdapat sebagai
komponen ester, sedangkan sterol aromatik, termasuk dalam steroid,
terutama terdapat sebagai glikosida.
5. Senyawa anorganik; komponen mineral kayu dari daerah iklim sedang
terutama adalah unsur-unsur kalium, kalsium dan magnesium. Unsurunsur lain dalam kayu tropika, misalnya silikon, dapat merupakan
komponen anorganik utama.
6. Komponen lain; monosakrida dan disakarida terdapat dalam kayu hanya
dalam jumlah yang sedikit tetapi mereka terdapat dalam persentase yang
tinggi dalam kambium dan dalam kulit bagian dalam. Jumlah sedikit
amina dan etena juga terdapat dalam kayu.

Kayu

Senyawa berat molekul kecil

Bahan organik

ekstraktif

Bahan anorganik

abu

Senyawa makromolekul

polisakarida

selulosa

lignin

poliosa

Gambar 1. Bagan umum komponen kimia kayu


2.2 Lignin
Lignin merupakan polimer alami terbanyak kedua setelah selulosa dan
berperan penting dalam dunia tumbuhan. Lignin meningkatkan sifat-sifat
kekuatan mekanik sedemikian rupa sehingga tumbuhan yang besar seperti pohon
yang tingginya lebih dari 15 m tetap dapat kokoh berdiri.

Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi,
tersusun atas unit-unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen dan
oksigen, lignin bukanlah suatu karbohidrat dan bahkan tidak ada hubungan
dengan golongan senyawa tersebut, akan tetapi lignin pada dasarnya adalah suatu
fenol. Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk yang
bermacam-macam, karenanya susunan lignin yang pasti di dalam kayu tetap tidak
menentu (Haygreen dan Bowyer 1996).
Banyak studi dengan karbon (14C) radioaktif menegaskan bahwa phidroksisinamil alkohol; p-koumaril alkohol (I), koniferil alkohol (II) dan sinapil
alkohol (III) merupakan senyawa induk (precursor) primer dan merupakan unit
pembentuk semua lignin (Gambar 2).

CH2OH
CH
CH

CH2OH
CH
CH

CH2OH
CH
CH

OCH3 H3CO

OCH3

OH

OH

OH

(I)

(II)

(III)

Gambar 2. Unit dasar pembentuk lignin; I (p-koumaril alkohol); II (koniferil


alkohol); III (sinapil alkohol)
Lignin terdapat diantara sel-sel dan di dalam dinding sel. Diantara sel-sel,
lignin berfungsi sebagai perekat untuk mengikat sel-sel bersama-sama. Dalam
dinding sel, lignin sangat erat hubungannya dengan selulosa dan berfungsi untuk
memberikan ketegaran pada sel, berpengaruh dalam memperkecil perubahan
dimensi sehubungan dengan perubahan kandungan air kayu dan lignin dapat
mempertinggi ketahanan kayu terhadap serangan cendawan dan serangga melalui
perannya sebagai physical barrier.
Struktur molekul lignin sangat berbeda bila dibandingkan dengan
polisakarida karena terdiri atas sistem aromatik yang tersusun atas unit-unit

fenilpropana. Dalam kayu daun jarum kandungan lignin lebih banyak bila
dibandingkan dengan kayu daun lebar dan juga terdapat beberapa perbedaan
dalam strukturnya. Dari segi morfologi, lignin merupakan senyawa amorf yang
terdapat dalam lamela tengah majemuk maupun dalam dinding sekunder. Selama
perkembangan sel, lignin dimasukan sebagai komponen terakhir di dalam dinding
sel, menembus diantara fibril-fibril sehingga memperkuat dinding sel (Fengel dan
Wegener 1995).
Sjostrom (1995) menyebutkan bahwa konsentrasi lignin adalah tinggi
dalam lamela tengah dan rendah dalam dinding sekunder, tetapi karena
ketebalannya paling tidak 70% lignin dalam kayu daun jarum terdapat dalam
dinding sekunder.
Lignin dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok menurut unsur
strukturalnya (Sjostrom 1995, Achmadi 1990), yaitu:
1. Lignin guaiasil : terdapat pada kayu daun jarum (26-32%), dengan prazat
koniferil alkohol dan p-coumaryl alkohol.
2. Lignin guaiasil-siringil : merupakan ciri kayu daun lebar (20-28%, pada
kayu tropis > 30%), dengan prazat koniferil alkohol : sinapil alkohol
dengan nisbah 4:1 sampai 1:2.
Proporsi senyawa induk (precursors) pada lignin bervariasi tergantung
pada jenis tumbuhannya. Lignin pada softwood yang normal biasanya merujuk
pada guaiacyl lignin karena elemen strukturalnya secara prinsip diturunkan dari
trans-coniferil alkohol (lebih dari 90%), dan sisanya mengandung senyawa utama
trans-p-coumaryl alkohol. Sebaliknya, lignin pada hardwood umumnya disebut
lignin guaiacyl-syringyl dengan penyusun utamanya adalah unit-unit transconiferyl alkohol dan trans-sinapyl alkohol dengan rasio yang beragam (sekitar
50% trans-coniferyl alkohol dan 50% trans-sinapyl alkohol). Struktur bangun
lignin adalah ikatan bersama dari rantai/ikatan eter (C-O-C) dan ikatan karbonkarbon (C-C). Ikatan antar unit tersebut (lebih dari dua per tiga adalah tipe ether)
pada lignin hardwood dan softwood membentuk struktur -O-4 (Gullichsen dan
Paulapuro, 2004). Untuk struktur lignin pada Graminae , Nimz et al. (1981)

dalam Fengel dan Wegener (1995), mengklasifikasikan lignin kelompok ini


sebagai lignin GSH (guaiasil, siringil, p-hidroksiphenil).
Terdapat beberapa jenis lignin berdasarkan cara isolasinya, diantaranya:
1.

Lignin klason. Isolasi dengan cara klason menggunakan asam sulfat dengan
konsentrasi pada hidrolisis tahap pertama adalah antara 68% dan 78%
(kebanyakan 72%), kemudian dilanjutkan dengan tahap pengenceran dan
untuk menyempurnakan hidrolisis polisakarida digunakan asam dengan
konsentrasi rendah (Fengel dan Wegener 1995).

2.

Lignin Bjorkman. Lignin ini juga disebut lignin kayu yang digiling (Milled
Wood Lignin). Struktur sel kayu dirusak dan bagian lignin dapat diperoleh
dengan cara mengekstraksi dengan campuran dioksan-air (Sjostrom 1995).

3.

Lignin enzimatik selulotik (Cellulolitic Enzime Lignin). Polisakarida


dihilangkan dengan menggunakan enzim-enzim dan lignin yang dihasilkan
tetap mempertahankan struktur aslinya tanpa perubahan (Sjostrom 1995).

4.

Lignin Teknis, dimana lignin dirubah menjadi turunannya yang larut, antara
lain:
Lignosulfonat. Kayu direaksikan pada suhu tinggi dengan larutan yang
mengandung belerang dioksida dan ion hidrogen sulfit.
Lignin kraft dan lignin alkali. Hasil reaksi pada suhu 170oC dengan NaOH
atau campuran NaOH dan Na2S.
Lignin etanol (lignin organosolv). Lignin yang diperoleh dari pemanasan
kayu dengan ethanol pada suhu pengolahan pulp (Achmadi 1990).
Secara kuantitatif, lignin dapat dihidrolisis dan diekstraksi dari kayu atau

diubah menjadi turunan yang mudah larut. Sjostrom (1995) menyatakan bahwa
lignin kayu dapat ditentukan secara gravimetri dengan metode klason. Kayu daun
jarum normal mengandung 2632% lignin, sedangkan kandungan lignin kayu
tekan adalah 3540%.

Penentuan kandungan lignin adalah penting untuk analisis kayu maupun


untuk karakteristik pulp. Metoda-metoda penentuan lignin secara kuantitatif dapat
dibagi sebagai berikut:
1. Metode langsung, yaitu lignin ditentukan sebagai sisa
2. Metode tidak langsung, dimana kandungan lignin:
a. dihitung sesudah penentuan polisakarida
b. ditentukan dengan metoda-metoda spektrofotometri
c. merupakan hasil reaksi lignin dengan bahan kimia pengoksidasi
Metoda langsung didasarkan pada prinsip isolasi dan penentuan secara
gravimetri lignin yang tidak larut dalam asam. Metode yang paling mantap adalah
penentuan lignin menurut Klason. Hidrolisis dilakukan dengan perlakuan kayu
yang sudah diekstraksi lebih dahulu atau pulp tak dikelantang dengan asam sulfat
72% (Fengel dan Wegener 1995).
2.3 Lignin Terlarut Asam
Kesalahan di dalam penentuan lignin dapat disebabkan oleh senyawasenyawa dan hasil-hasil reaksi yang tetap tinggal dengan lignin dalam sisa yang
tidak dapat dihidrolisis dan menyebabkan seolah-olah angka lignin tinggi. Pada
sisi lain sebagian lignin larut pada kondisi asam, memberikan hasil angka lignin
yang lebih rendah. Sekitar 1% lignin larut asam terdapat dalam kayu daun jarum
sedangkan yang terdapat dalam kayu daun lebar sampai 4% (Fengel dan Wegener
1995).
Ada beberapa metode standar dalam penentuan jumlah total lignin dari
kayu dan pulp. Metode yang diberikan pada awalnya oleh klason yang sering
disebut penentuan lignin klason yang didasarkan pada hidrolisis dan kelarutan
dari selulosa dan hemiselulosa yang berasal dari kayu atau pulp yang diekstrak
dengan asam sulfat 72%. Hidrolisis akhir dibuat menjadi asam sulfat 3%. Residu
yang tidak larut dicuci, dikeringkan dan ditimbang. Acid soluble lignin ditentukan
dengan spektrofotometri UV, biasanya dengan panjang 205 nm. Residu lignin
klason tidak dapat digunakan untuk mengetahui struktur lignin karena kondensasi
dan reaksi lain yang terjadi pada kondisi asam kuat (Gullichsen dan Paulapuro
2004).

Hatfield dan Fukushima (2005) menyatakan bahwa sebagian kecil dari


total lignin dapat terlarut didalam larutan asam pada tahap kedua prosedur lignin
klason. Lignin yang larut dalam asam ini dapat ditentukan dengan pengukuran
spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 280, 240 atau 205 nm dan
absorbansi dibandingkan dengan sampel referensi lignin. Hasil degradasi
polisakarida diketahui mempengaruhi absorbansi pada 280 nm, oleh karena itu
pengukuran lebih baik dilakukan pada 200 hingga 208 nm (Fengel dan Wegener
1995).
Ahli kimia kayu menyusun protokol standar untuk mengukur lignin
terlarut asam dengan TAPPI UM-250. Inti dari prosedur ini adalah penentuan
absorpsi sinar UV pada larutan asam terakhir didalam prosedur lignin klason. Ada
dua masalah dalam penggunaan metode ini yaitu (1) koefisien tertentu yang
digunakan sangat bervariasi tergantung tipe lignin dan harus ditentukan untuk tiap
tipe lignin yang sampai sekarang masih dalam penelitian. Selama tidak ada
perlakuan khusus, nilai ini dalam tiap literatur sebesar 110 L g-1 cm-1 dan
dimungkinkan untuk memperkirakan nilai lignin, (2) pemilihan absorpsi
maksimum yang digunakan untuk analisis perlu ditentukan.
Seperti telah diutarakan, persentase kecil sisa lignin umumnya tetap
tinggal dalam holoselulosa. Bagian-bagian sisa lignin ini berubah selama
delignifikasi, yaitu menjadi larut selama penentuan sisa lignin yang tidak larut
dalam asam dengan hidrolisis asam terhadap holoselulosa. Lignin yang larut
dalam asam ini menyebabkan kesalahan hingga 9% dalam analisis kayu. Hanya
jika lignin yang tidak larut dalam asam dan yang larut dalam asam telah
ditentukan,

maka

hasil

analisis

mencapai

100%.

Selain

dengan

cara

spektrofotometri, lignin yang terlarut asam bisa juga ditentukan dengan cara
penentuan sisa lignin total menggunakan metode asetil bromida (Fengel dan
Wegener 1995).

10

2.4 Kayu Reaksi (Reaction Wood)

180 (Kayu Oposit)


180
0

0 (Kayu Tekan)
Softwood
180

180 (Kayu Tarik)

0 (Kayu Oposit)
Hardwood

Gambar 3. Pembentukan Kayu Reaksi Pada Pohon Yang Tumbuh Miring


Kayu reaksi adalah sebuah istilah yang diberikan untuk kayu dari cabang
dan batang yang tumbuh abnormal (tidak lurus). Kayu reaksi ini berhubungan
dengan gaya gravitasi. Terbentuknya kayu reaksi dapat disebabkan karena tiupan
angin, pertumbuhan pohon di bawah es atau salju yang mengarah ke matahari
(Hoadley 2000).
Kayu reaksi dapat terjadi pada jenis-jenis kayu yang berasal dari ordo
coniferales gymnospermae (softwood) yang sering disebut kayu daun jarum
maupun pada jenis-jenis kayu yang berasal dari kelas dikotiledon angiospermae
(hardwood) yang sering disebut kayu daun lebar. Cacat kayu reaksi yang terjadi
pada kayu daun jarum disebut kayu tekan (compression wood) dan bila terjadi
pada kayu daun lebar disebut kayu tarik (Tsoumis,1991). Senada dengan ini,
Haygreen dan Bowyer (1996) menyebutkan bahwa kayu reaksi yang dibentuk
dalam kayu daun lebar berbeda dengan yang dibentuk dalam kayu daun jarum.
Dalam kayu softwood, kayu reaksi disebut kayu tekan dan dalam kayu hardwood
disebut dengan kayu tarik, tetapi dalam keduanya fungsi kayu reaksi sama yaitu
untuk mengembalikan batang atau cabang ke posisi yang semula.

11

Kayu tekan pada batang ditandai dengan adanya cincin pertumbuhan yang
eksentrik dimana muncul proporsi kandungan yang abnormal. Ketika kayu tekan
dipotong, maka pada bagian yang dipotong melintang akan terlihat bahwa pada
bagian cepat tumbuh akan berwarna lebih merah dibanding bagian normal,
terutama pada kayu pinus (Panshin dan de Zeeuw 1970).
Kayu tekan terbentuk pada kayu softwood dimana terdapat distribusi yang
tidak merata dari auxin yang mengatur pertumbuhan di sekitar lingkar kayu. Oleh
karena itu, jika bagian kayu softwood tumbuh tidak vertikal, maka kayu tekan
akan berkembang pada bagian bawah, karena bagian tersebut tertekan dan pada
bagian itu juga terdapat peningkatan jumlah auxin (Desch 1996). Jika
dibandingkan dengan kayu normal, kayu tekan mempunyai kandungan lignin
yang lebih tinggi dan kandungan selulosa yang rendah, serta membutuhkan
konsumsi bahan kimia yang tinggi selama proses pulping dan hasil akhir pulp
yang rendah (Yeh et al. 2005).
Sontag (1904) dalam Timell (1986), memberikan nilai tingkat lignin pada
kayu tekan dengan menggunakan Phloroglucinol-hydrochloric acid sebagai bahan
pewarna untuk mendeteksi lignin. Kayu tekan mengandung lignin lebih besar
20% dibandingkan kayu normal. Panshin dan de Zeeuw (1970) menyebutkan nilai
kandungan lignin berdasarkan berat kering meningkat sekitar 9%, tetapi
persentase selulosa pada kayu tekan menurun 10% dari kayu normal dan
kandungan galaktosa pada kayu tekan meningkat 7,8% dari kayu normal.
Kayu tarik adalah kayu reaksi pada spesies kayu daun lebar. Kayu ini
terbentuk pada sisi atas atau sisi tarikan batang yang miring (Haygreen dan
Bowyer 1982), tetapi ada beberapa jenis pohon yang bagian kayu tarik tertarik di
bagian bawah. Bagian ini membentuk cabang atau batang yang eksentrik (Panshin
dan de Zeeuw 1970). Fengel dan Wegener (1995) menyebutkan bahwa kayu tarik
lebih tinggi dari pada kayu normal dalam hal kandungan selulosa dan abu, tetapi
rendah pada kandungan lignin dan fraksi hemiselulosa.

12

2.5 Karakteristik Kayu


2.5.1 Pinus ( Pinus merkusii Jungh et de Vriese)
Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) termasuk famili Pinaceae. Jenis
ini dikenal juga dengan nama damar batu, damar bunga, huyam, kayu sala, kayu
sugi, tusam, uyam, pinus. Di Indonesia daerah penyebarannya meliputi Aceh,
Sumatera Utara, Sumatera Barat dan seluruh Jawa (tanaman). Tinggi pohon dapat
mencapai 20-40 m dengan panjang batang bebas cabang 2-23 m, diameter sampai
100 cm dan tidak berbanir. Kulit luar kasar berwarna coklat kelabu sampai coklat
tua, tidak mengelupas, beralur lebar dan dalam.
Nilai komponen kimia kayu Pinus (P. merkusii Jungh et de Vriese) tersaji
dalam Tabel 1.
Tabel 1 Komponen kimia kayu pinus (P. merkusii)
Komponen Kimia
Selulosa
Lignin
Pentosan
Abu
Silika

Nilai (%)
54.9
24.3
14.0
1.1
0.2

Kelarutan
Alkohol-benzene
Air dingin
Air panas
NaOH 1%

Nilai (%)
6.3
0.4
3.2
11.1

(Sumber : Martawijaya et al. 1989)

Dalam pemanfaatannya tusam digunakan sebagai bahan untuk bangunan


perumahan, lantai, mebel, kotak dan tangkai korek api, potlot (dengan pengolahan
khusus), pulp, tiang listrik (diawetkan), papan wol kayu dan kayu lapis
(Martawijaya et al. 1989). Tabel 2 menyajikan perbandingan kadar lignin kayu
tekan dan kayu normal dalam beberapa jenis kayu Pinus.
Tabel 2 Komposisi lignin beberapa jenis pinus pada bagian tekan dan normal
Jenis
Pinus densiflora S, et Z.
Pinus radiata D.Don.
Pinus resinosa Ait.
Pinus rigida Mill.
Pinus strobus L.
Pinus sylvestris L.
Pinus taeda L.
Keterangan : Compression Wood; : Normal Wood
(Sumber: Panshin dan de Zeeuw. 1970)

Lignin (%)
CW
NW
36.3
26.6
34.4
24.2
39.7
29.1
37.6
28.1
39.4
29.0
37.9
27.4
35.2
28.3

13

2.5.2 Melinjo (Gnetum gnemon Linn)


Melinjo (Gnetum gnemon Linn) merupakan jenis tumbuhan yang sudah
dikenal banyak oleh masyarakat Indonesia. Melinjo dikenal juga dengan nama
lain belinjo dan bagoe. Selain di Indonesia jenis G. gnemon juga terdapat di
Malaysia, Kamboja, Filipina, Thailand dan Vietnam. Melinjo berperawakan
pohon yang ramping, berkelamin dua dan selalu hijau dengan batang yang lurus,
tingginya 5-10 m, kulit batangnya berwarna kelabu ditandai oleh gelang-gelang
menonjol secara nyata, cabang-cabangnya berbagai ukuran dan letaknya
melingkari batang, terus sampai di pangkal batang. Cabang itu menebal
dipangkalnya. Keragaman sifat kimia lignin kayu reaksi Melinjo disajikan pada
Tabel 3.
Tabel 3 Komponen kimia kayu melinjo (G. gnemon)
Sampel Uji
0
90
180
270
Rata-rata

Selulosa
41,36
41,42
43,47
41,76
42,00

Komponen Kimia Struktural (%)


Holoselulosa
-Selulosa
20,42
80,08
21,86
80,18
23,93
81,60
21,10
80,18
21,83
80,19

Lignin
23,40
23,60
22,45
24,20
23,41

Keterangan: 0: Bagian kayu opposite; 180: Bagian kayu reaksi (Sumber : Nugraheni 2008).

14

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2008 di Bagian
Kimia Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB dan di
Laboratorium Kimia Bersama Departemen Kimia Fakultas MIPA IPB.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, golok, willey
mill, gelas ukur, sokhlet, desikator, pemanas air, water bath, UV Visible
Spectrophotometer SHIMADZU UV Pharma Spec. 1700, aluminium foil, kertas
saring, pipet, erlenmeyer, tabung reaksi, pengaduk kaca, gelas piala, plastik, label
dan saringan.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bagian kayu
reaksi (kayu tekan) dari jenis Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vrise) dan
Melinjo (Gnetum gnemon Linn), ethanol-benzene, asam sulfat 72%, alkohol,
aquadestilata.
3.3 Tahapan Analisis Lignin Terlarut Asam
3.3.1 Persiapan Contoh Uji
Contoh uji yang digunakan berasal dari batang pohon yang mengandung
kayu reaksi. Jenis P. merkusii berumur sekitar 40 tahun yang diambil dari
kawasan Gunung Bunder (Bogor) dan jenis G. gnemon berumur sekitar 20 tahun
yang diambil dari kawasan Petir (Bogor). Contoh uji diambil dari enam posisi
arah melingkar batang (Gambar 4).
0

contoh uji

300

60

240

120

180
180

Gambar 4. Contoh uji

15

Contoh uji dipotong kecil-kecil dengan menggunakan golok kemudian


digiling dengan willey mill agar menjadi serbuk dan disaring. Bagian yang diambil
adalah partikel yang lolos saringan 40 mesh dan tertahan pada saringan 60 mesh.
3.3.2 Ekstraksi Ethanol/Benzene ( 1:2 v/v)
Prosedur ini merujuk pada TAPPI T 204 om 88 yang pada akhirnya
menghasilkan serbuk bebas zat ekstraktif. Serbuk kayu sebanyak 10 gram
dimasukkan kedalam kertas saring yang dibuat seperti thimbel, yang telah
diketahui beratnya. Thimbel dimasukkan kedalam sokhlet dan diekstraksi dengan
300 ml etanol-benzene (1:2) selama 8 jam. Selanjutnya thimbel dicuci dengan
ethanol, hingga larutan bening dan diangin-anginkan.
3.3.3 Penentuan Kadar Lignin Klason (Lignin Tidak Larut Asam)
Prosedur ini menggunakan standar TAPPI T 222 om 88. Sampel kayu
bebas ekstraktif ekuivalen berat kering 1.00.1 gram dimasukan ke dalam gelas
piala. Setelah itu ditambahkan larutan asam sulfat 72% sebanyak 15 ml.
Penambahan asam dilakukan secara perlahan dan bertahap sambil diaduk dengan
suhu dijaga pada 201C. Setelah tercampur sempurna gelas piala disimpan pada
suhu 201C selama 2 jam sambil diaduk sesekali. Sebanyak 300-400 ml air
dimasukkan ke dalam erlenmeyer 1000 ml kemudian sampel dari gelas piala
dipindahkan ke dalam erlenmeyer. Larutan dibilas dan diencerkan dengan air
hingga dicapai konsentrasi asam sulfat 3% yaitu hingga total volume 575 ml.
Larutan dididihkan selama 4 jam dan volume larutan dijaga tetap konstan dengan
menambahkan air panas, kemudian lignin disaring dan dicuci dengan air panas
hingga bebas asam. Sampel lignin dikeringkan dalam oven pada suhu 1053C
hingga beratnya konstan untuk kemudian ditimbang.
Kadar Lignin :
% Lignin =

A
100%
B

A = Berat Lignin (gram)

B = Berat serbuk awal (gram)

16

3.3.4 Penentuan Kadar Lignin Terlarut Asam


Pengujian kadar lignin terlarut asam dilakukan berdasarkan TAPPI T 250.
Filtrat dari hasil penentuan lignin klason digenapkan volumenya menjadi 1000 ml,
kemudian diambil 5 ml sampel uji untuk diuji dengan alat spectrophotometer.
Selain itu, dibuat sampel blanko dari 15 ml asam sulfat yang diencerkan hingga
volumenya menjadi 1000 ml yang juga diambil sampel uji sebanyak 5 ml untuk
pengujian spectrophotometer. Panjang gelombang yang dipakai adalah 205 nm
dan koefisien adsorbsi 110 L/g-cm. Kadar lignin terlarut asam dihitung dengan
menggunakan rumus :
Konsentrasi lignin terlarut asam

Kadar lignin terlarut asam

A
Vfinal
110 Vinitial

ASL =

CV
100%
1000xBKT

= konsentrasi filtrat lignin terlarut asam (g/l)

= volume total filtrat (ml)

= pembacaan pada panjang gelombang 205 nm

Vfinal

= volume akhir larutan (ml)

Vinitial

= volume inisial blanko (ml)

ASL

= kadar lignin terlarut asam (%)

BKT

= berat kering tanur serbuk kayu (g)

17

3.4 Diagram Alir Penelitian

Serbuk kayu 60-40 mesh

Ekstraksi dengan
etanol/benzene (1:2); 8 jam

Hidrolisis 1 gram serbuk dengan 15 ml asam


sulfat 72% selama 2 jam pada suhu 201C

Hidrolisis dengan H2SO4 3%


selama 4 jam pada suhu 100C

Padatan

Filtrat

Lignin Klason

Volume larutan
dijadikan 1000 ml

Uji ASL dengan Spectrophotometer


Gambar 5. Bagan diagram alir penelitian

18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Lignin Klason dan Lignin Terlarut Asam


Lignin merupakan suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul
tinggi, tersusun atas unit-unit fenilpropan (Sjostrom 1995). Penentuan proporsi
kandungan lignin dalam kayu sering ditentukan dengan menggunakan metode
Klason. Metode ini memisahkan lignin sebagai material yang tidak larut dengan
depolimerisasi selulosa dan hemiselulosa dalam asam sulfat 72% yang diikuti
dengan hidrolisis polisakarida pada asam sulfat 3% yang dipanaskan. Bagian yang
terlarut menjadi filtrat disebut lignin terlarut asam (acid soluble lignin) yang dapat
ditentukan nilainya dengan menggunakan spectrophotometer (Fengel dan
Wegener 1995).
Perbedaan dalam hal kandungan lignin tidak hanya terjadi pada lignin
klason tetapi juga pada nilai lignin terlarut asam yang berdampak pada perbedaan
kandungan lignin total. Seperti halnya yang terjadi pada kayu tarik kayu Poplar
(Akiyama et al. 2005), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keragaman kadar
lignin terjadi juga pada kayu tekan dari jenis kayu kelompok gimnospermae
(Tabel 4). Secara umum kayu P. merkusii memiliki kadar lignin yang lebih tinggi,
dibanding kayu G. gnemon. Oleh karena kadar lignin terlarut asam kayu Melinjo
lebih tinggi dibanding kayu Pinus, maka hal ini mendukung hubungan antara
kadar lignin dengan lignin terlarut asam yang telah ditemukan pada beberapa jenis
kayu yang berbeda (Akiyama et al. 2005, Mahmudi 2008).
Satu hal yang menarik adalah tingginya kadar lignin terlarut asam dari
kayu G. gnemon, padahal jenis kayu ini termasuk ke dalam kelompok
gimnospermae yang umumnya memiliki kadar lignin terlarut asam yang relatif
kecil (Fengel dan Wegener 1995). Hal ini mungkin berkaitan dengan struktur
kimia lignin kayu Melinjo yang berbeda dari umumnya jenis kayu softwood.
Kayu Melinjo walaupun termasuk ke dalam kelompok gimnospemae akan tetapi
memiliki beberapa ciri yang menyerupai jenis kayu daun lebar dari kelompok
angiospermae, seperti terdapatnya vessel dalam jaringan kayunya dan struktur
ligninnya yang mengandung unit siringil (Syafii dan Nawawi 2008).

19

Tabel 4 Kandungan lignin kayu reaksi P. merkusii dan G. gnemon pada arah
melingkar batang
Jenis Kayu

Pinus merkusii

Gnetum gnemon

Posisi
Sampel
0o
60o
120o
180o
240o
300o
0o
60o
120o
180o
240o
300o

Klason
25.47
25.60
29.75
32.44
27.01
25.59
20.64
21.36
21.42
21.75
21.43
20.31

Lignin (%)
ASL
1.68
1.58
1.43
1.32
1.63
1.77
2.52
2.23
1.93
1.92
1.92
2.30

Total
27.15
27.17
31.18
33.76
28.64
27.35
23.15
23.59
23.35
23.67
23.35
22.61

(keterangan: 0o: bagian kayu opposite; 180o: bagian kayu tekan)

Kayu P. merkusii seperti umumnya kayu jenis gimnospermae membentuk


kayu tekan sebagai respon terhadap adanya gangguan dari luar seperti angin,
gravitasi atau pohon tumbuh miring. Nilai lignin klason pada arah melingkar
batang kayu menunjukkan suatu kecenderungan dimana terdapat peningkatan
kadar lignin klason dari bagian kayu oposit ke arah bagian kayu tekan dan terjadi
sebaliknya untuk lignin terlarut asam (Gambar 6). Kadar lignin tertinggi, baik
lignin klason maupun total lignin, terdapat pada bagian kayu dengan proporsi
jaringan kayu reaksi yang paling besar. Oleh karena pembentukan kayu reaksi
merupakan respon pohon terhadap pengaruh mekanis dari luar, maka pada jenis
kayu daun jarum semakin tinggi tekanan yang diterima pohon selama
pertumbuhan, pohon akan membentuk jaringan kayu reaksi yang semakin besar
dengan kadar lignin yang semakin tinggi.

Kayu tekan P. merkusii memiliki

kandungan lignin klason paling tinggi yaitu 32,44 % atau lebih tinggi dibanding
bagian kayu oposit dengan kadar lignin klason 25,47 %. Hasil yang didapat ini
sejalan dengan hasil penelitian yang telah disampaikan oleh Hagglund dan
Ljnggren dalam Timell (1986) yang menyebutkan bahwa lignin kayu tekan dapat
lebih tinggi hingga 36% dibandingkan pada kayu normal.

20

Gambar 6. Kandungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
P. merkusii pada arah melingkar batang (0o: bagian kayu
opposite; 180o: bagian kayu tekan)
Kandungan lignin terlarut asam (Acid soluble lignin) dari P. merkusii
memperlihatkan kecenderungan yang berlawanan dengan kecenderungan yang
terjadi pada kandungan lignin klason. Dengan meningkatnya kandungan lignin
klason, lignin terlarut asam semakin menurun. Hal ini kemungkinan karena
adanya keterkaitan antara reaksi pembentukan lignin terlarut asam dengan jenis
dan komposisi struktur kimia penyusun lignin. Dalam kayu P. merkusii yang
merupakan jenis softwood, pembentukan lignin terlarut asam dapat dipengaruhi
oleh komposisi guaiasil dan p-hidroksiphenil yang menyusun lignin kayu daun
jarum.
Seperti halnya pada kayu P. merkusii, kayu reaksi yang terbentuk pada
jenis G. gnemon juga merupakan kayu tekan karena bagian kayu reaksi terbentuk
di bagian bawah batang yang miring yang merupakan ciri dari pembentukan kayu
reaksi dari jenis gimnospermae. Namun melihat pada ciri anatominya jenis ini
tidak seperti halnya pada jenis softwood umumnya, dimana jenis ini mempunyai
pori pada jaringan kayunya yang merupakan salah satu ciri dari jenis hardwood
(angiospermae).
Pada kayu reaksi G. gnemon nilai kandungan lignin klason menunjukan
kecenderungan yang sama dengan jenis P. merkusii. Nilai lignin klason meningkat
sejalan dengan semakin besarnya pembentukan kayu tekan, sedangkan nilai lignin
terlarut asam berlaku sebaliknya (Gambar 7). Kecenderungan nilai lignin terlarut

21

asam diduga berkaitan dengan komposisi struktur kimia lignin kayu G. gnemon.
Berbeda dengan jenis softwood lainnya struktur kimia lignin G. gnemon terdiri
dari siringil dan guaiasil yang merupakan ciri dari hardwood.

Gambar 7. Kandungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
G. gnemon pada arah melingkar batang (0o: bagian kayu
opposite; 180o: bagian kayu tekan)
Kayu reaksi terbentuk sebagai akibat dari adanya pengaruh mekanis dari
luar atau tekanan selama pertumbuhan pohon. Seperti telah diketahui, kayu daun
jarum mempunyai susunan jaringan yang homogen yang terutama disusun oleh
trakeida. Trakeida pada kayu daun jarum mempunyai peran ganda yakni sebagai
penyalur zat makanan dan juga berfungsi sebagai kekuatan mekanis dari pohon.
Pengaruh-pengaruh mekanis dari luar yang dialami pohon memaksa pohon
memberikan reaksi dengan membentuk lignin lebih banyak dari normal sehingga
pada kayu yang mengalami tekanan akan memiliki kandungan lignin yang lebih
besar.
4.2 Hubungan Lignin Klason, Lignin Terlarut Asam dan Total Lignin
Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan kandungan lignin akibat
pembentukan kayu tekan berkorelasi dengan tinggi rendahnya pembentukan kayu
reaksi yang merupakan respon terhadap perbedaan tekanan yang diterima pohon
selama pertumbuhan. Pada kayu tekan P. merkusii nilai lignin klason meningkat
ke arah bagian kayu yang semakin dekat dengan bagian kayu tekan dan kemudian

22

kembali menurun dengan semakin jauhnya posisi sampel dari bagian tekan. Nilai
lignin terlarut asam terjadi sebaliknya dimana nilainya semakin menurun dengan
semakin dekatnya posisi sampel dengan bagian tekan (Tabel 5).
Tabel 5 Perbandingan nilai lignin klason dan lignin terlarut asam terhadap
total lignin kayu pada kayu P. merkusii dan G. gnemon
Jenis Kayu

Pinus
merkusii

Gnetum
Gnemon

Posisi Sampel

Klason/Total (%)

ASL/Total (%)

0o
60o
120o
180o
240o
300o
0o
60o
120o
180o
240o
300o

0.9382
0.9420
0.9541
0.9609
0.9433
0.9354
0.8913
0.9055
0.9173
0.9189
0.9177
0.8981

0.0618
0.0580
0.0459
0.0391
0.0567
0.0646
0.1087
0.0945
0.0827
0.0811
0.0823
0.1019

(keterangan: 0o: bagian kayu opposite; 180o: bagian kayu tekan)

Nilai lignin klason dari kayu tekan P. merkusii sekitar 96% dan nilai lignin
terlarut asam sekitar 4% dari total lignin. Semakin tinggi nilai lignin klason atau
kadar lignin, semakin rendah nilai lignin terlarut asam (Gambar 8). Hal ini diduga
dipengaruhi oleh jenis dan komposisi dari komponen penyusun molekul lignin
yaitu kandungan unit guaiasil dan p-hidroksiphenil. Sebagaimana telah diketahui
bahwa jenis kayu daun jarum disusun oleh lignin dari unit guaiasil dan phidroksiphenil (Fengel dan Wegener 1985, Sjostrom 1995), sehingga karakteristik
kimia molekul lignin kayu daun jarum sangat ditentukan oleh proporsi dan
reaktifitas kedua jenis unit penyusun lignin tersebut. Berdasarkan hal tersebut
mengindikasikan bahwa lignin pada bagian kayu tekan selain secara kuatitatif
lebih tinggi juga lebih mudah berkondensasi selama proses penentuan lignin
klason, yang berakibat tingginya fraksi lignin yang tidak larut asam (lignin
klason) dan rendahnya pembentukan fraksi lignin yang terlarut asam.

23

Gambar 8. Hubungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi
P.merkusii
Pada kayu reaksi G. gnemon rata-rata proporsi nilai lignin klason adalah
sekitar 92% dan nilai lignin terlarut asam sekitar 8% dari total lignin (Tabel 5).
Kadar lignin yang semakin tinggi diikuti oleh semakin rendahnya nilai lignin
terlarut asam (Gambar 9). Sifat kimia lignin pada kayu G. gnemon ini dipengaruhi
oleh struktur kimianya yang terutama disusun oleh unit siringil dan guaiasil.
Proporsi siringil dan guaiasil diduga mempengaruhi nilai lignin terlarut asam yang
dihasilkan setelah terjadinya proses hidrolisis pada saat penentuan lignin klason.

Gambar 9. Hubungan lignin klason dan lignin terlarut asam kayu reaksi G.
gnemon
Pengaruh dari struktur kimia lignin terhadap kandungan lignin terlarut
asam dan lignin klason tidak terlepas dari reaktifitas struktur kimia lignin tersebut.

24

Hubungan yang tergambar mengindikasikan bahwa struktur kimia lignin G.


gnemon berperan dalam pembentukan lignin selama proses kondensasi dalam
larutan asam sulfat. Reaksi kondensasi ini seperti halnya pada kayu P. merkusii
menyebabkan lignin tidak larut dan memadat sehingga kandungan lignin klason
yang dihasilkan tinggi sedangkan lignin terlarut asamnya rendah.
Dalam pembentukan lignin terlarut asam selama proses penentuan lignin
klason terdapat perbedaan faktor penentu dalam lignin kayu G. gnemon dan kayu
P. merkusii. Hal ini didasarkan pada perbedaan jenis unit lignin yang
menyusunnya, terutama p-hidroksiphenil pada lignin kayu Pinus dan keberadaan
unit siringil pada lignin kayu Melinjo selain unit guaiasil yang dimiliki masingmasing jenis. Pada kayu Melinjo nilai lignin terlarut asam memberikan pengaruh
cukup besar terhadap jumlah total lignin dalam kayu. Nilai lignin terlarut asam
rata-rata 2,14%, sehingga pada penentuan total lignin, nilai lignin terlarut asam
tidak bisa diabaikan.
4.3 Hubungan Kadar Lignin dan Jenis Cincin Aromatik Penyusun Lignin
Lignin dapat dibagi menjadi beberapa kelas menurut unsur-unsur
strukturalnya. Disebut Lignin Guaiasil yang terdapat di hampir semua kayu
softwood sebagian besar merupakan produk polimerisasi dari koniferil alkohol
dengan sedikit tambahan proporsi unit p-hidroksiphenil. Lignin GuaiasilSiringil yang merupakan khas hardwood adalah kopolimer dari koniferil dan
sinapil alkohol dengan nisbah bervariasi.
Lignin kayu daun jarum (gimnospermae), kayu daun lebar (angiospermae)
dan rerumputan berbeda dalam hal kandungan unit-unit guaiasil (G), siringil (S)
dan p-hidroksiphenil (H). Hal ini dapat dibuktikan dengan metode oksidasi
nitrobenzene yang menghasilkan jumlah yang berbeda dari aldehida yang
dihasilkan (sebagai produk vanilin, siringaldehida, p-hidroksibenzaldehida).
Metode kimia lain yang dapat digunakan adalah asidolisis, oksidasi permanganat
dan penentuan metoksil (Fengel dan Wegener 1995)
Penentuan komposisi jenis komponen aromatik penyusun lignin dengan
menggunakan metode oksidasi nitrobenzene telah dipaparkan oleh Syafii dan
Nawawi (2008). Produk utama hasil degradasi oksidasi nitrobenzene alkali adalah

25

monomer p-hydroxybenzaldehyde (H), p-hydroxybenzoic acid (HA), vanillin (V),


vanillic acid (VA), syringaldehyde (S) dan syringic acid (SA).
Jenis kayu tekan P. merkusii terutama mengandung cincin aromatik
vanilin (guaiasil) dan sejumlah kecil p-hidroksiphenil. Hasil ini sesuai dengan
Fengel dan Wegener (1995), bahwa kebanyakan lignin gimnospermae adalah jenis
lignin guaiasil dengan jumlah kecil p-hidroksiphenil propana.
Tabel 6 Kandungan guaiasil dan p-hidroksiphenil pada lignin P. merkusii
Posisi
Sampel
0o
60o
120o
180o
240o
300o

Klason Lignin
(%)
25.47
25.60
29.75
32.44
27.01
25.59

ASL
(%)
1.6791
1.5763
1.4295
1.3215
1.6248
1.7674

Keterangan: 0o: opposite; 180o: kayu tekan ;


dan Nawawi, 2008)

G (mmol/gram
kayu)1
0.5257
0.4801
0.4977
0.5142
0.5539
0.5222
1

: Guaiasil;

H (mmol/gram
kayu)2
0.0095
0.0109
0.0658
0.0843
0.0569
0.0262

: p-hidroksiphenil (Sumber: Syaffi

Kandungan unit guaiasil dan p-hidroksiphenil penyusun lignin kayu Pinus


beragam berdasarkan perbedaan posisi sampel kayu. Khususnya untuk phidroksiphenil terdapat kecenderungan semakin meningkat dari arah bagian kayu
oposit ke arah bagian tekan (Tabel 6). Hal ini sejalan dengan apa yang
dikemukakan oleh Fengel dan Wegener (1995) bahwa kayu reaksi kayu daun
jarum tidak hanya mempunyai kandungan lignin yang lebih tinggi daripada kayu
normal tetapi juga persentase unit p-hidroksiphenil yang lebih tinggi. Hal ini
mengindikasikan bahwa selama pembentukan kayu tekan, proporsi phidroksiphenil semakin tinggi.
Kandungan unit guaiasil dalam lignin kayu relatif hampir sama, sehingga
kecenderungan peningkatan kadar lignin selama pembentukan kayu tekan pada
jenis P. merkusii bukan disebabkan oleh peningkatan unit guaiasil, akan tetapi
disebabkan oleh peningkatan proporsi p-hidroksiphenil (Gambar 10). Dengan
kata lain, jenis kayu Pinus merespon pengaruh mekanis eksternal dengan
membentuk molekul lignin dengan kandungan p-hidroksiphenil lebih banyak.
Sebagai akibatnya, sangat logis kayu reaksi tekan memiliki kerapatan dan

26

kekerasan yang lebih tinggi. Hal tersebut terjadi sebagai akibat dari kandungan
yang lebih tinggi dan molekul lignin yang lebih rapat (condensed) karena
tingginya kandungan p-hidroksiphenil. Secara struktur kimianya, p-hidroksiphenil
memiliki potensi ikatan yang lebih banyak (posisi C-3 dan C-5 pada cincin
aromatik) dibanding guaiasil atau siringil.

Gambar 10. Hubungan kandungan lignin klason dan p-hidroksiphenil pada


kayu tekan P. merkusii
Unit penyusun lignin berpengaruh terhadap pembentukan lignin terlarut
asam. Menurut Matshushita et al. (2004) selama proses penentuan lignin klason,
sebagian besar unit guaiasil lignin setelah terhidrolisis akan segera berkondensasi
satu sama lain membentuk produk rekondensasi berbobot molekul tinggi dalam
bentuk fraksi padatan, sehingga kontribusi unit guaiasil terhadap pembentukan
lignin terlarut asam adalah kecil. Oleh sebab itu, jenis kayu daun jarum yang
ligninnya terutama disusun oleh unit guaiasil umumnya menghasilkan lignin
terlarut asam yang kecil.
Lebih lanjut Yasuda et al. (2001) menjelaskan bahwa secara umum vanilin
(guaiasil) tidak memperlihatkan hubungan yang spesifik dengan lignin terlarut
asam. Hal ini terjadi karena reaksi vanilin membentuk kondensasi yang tidak
larut. Selain itu, vanilin membentuk kondensasi yang sangat stabil dalam asam
sulfat 72% dan menghasilkan produk degradasi bobot molekul rendah dalam
jumlah yang kecil sehingga menghasilkan nilai lignin terlarut asam yang rendah.
Berdasarkan hal tersebut, maka adanya kecenderungan perubahan lignin
terlarut asam pada kayu tekan diduga terkait dengan keberadaan unit p-

27

hidroksiphenil dalam lignin kayu daun jarum. Seperti sudah dibahas, bahwa
terdapat kecenderungan lignin terlarut asam semakin menurun sejalan dengan
pembentukan kayu reaksi tekan yang semakin besar. Hal tersebut disertai dengan
semakin meningkatnya kandungan unit p-hidroksiphenil penyusun lignin.
Kandungan lignin terlarut asam kayu tekan P. merkusii menunjukan hubungan
yang erat dengan proporsi p-hidroksiphenil dimana nilai p-hidroksiphenil yang
semakin tinggi menyebabkan lignin terlarut asam yang semakin rendah (Gambar
11).
Matsushita et al. (2004) menyebutkan bahwa selama perlakuan dengan
asam sulfat, struktur lignin akan berubah. Perubahan ini dapat terjadi karena
adanya reaksi kondensasi sebagai akibat dari tingkat reaktifitas yang dimiliki oleh
cincin aromatik penyusun lignin. Unit p-hidroksiphenil memiliki tapak reaktif
pada posisi C3 dan C5 dari cincin aromatik yang akan membentuk ikatan karbonkarbon pada proses kondensasi selama perlakuan dengan asam sulfat. Dengan
semakin

tingginya

proporsi

p-hidroksiphenil

akan

meningkatkan

reaksi

kondensasi sehingga lignin menjadi padat dan tingkat kelarutannya dalam asam
menjadi rendah yang berdampak pada kandungan lignin terlarut asam yang
rendah.

Gambar 11. Hubungan kandungan lignin terlarut asam dan p-hidroksiphenil


pada kayu tekan P. merkusii
Untuk jenis G. gnemon, seperti telah disebutkan sebelumnya walaupun
jenis ini termasuk ke dalam jenis softwood namun jenis ini mempunyai pori pada
jaringan kayunya yang merupakan ciri dari hardwood. Selain itu jenis cincin

28

aromatik penyusun lignin jenis kayu ini seperti halnya kayu hardwood yaitu
siringil dan guaiasil (Tabel 7). Untuk jenis lignin guaiasil-siringil komposisi
monomer penyusun lignin biasanya dinyatakan sebagai rasio siringil terhadap
guaiasil (rasio S/G atau S/V). Hal ini karena kedua jenis unit penyusun lignin
tersebut masing-masing memiliki proporsi yang besar terhadap penyusunan
molekul lignin. Berdasarkan tabel tersebut, menunjukkan bahwa rasio
siringil/guaiasil (rasio S/G) semakin meningkat sejalan dengan semakin
meningkatnya lignin terlarut asam (Gambar 12).
Tabel 7 Kandungan siringil/guaiasil pada G. gnemon
Posisi Sampel
0o
60o
120o
180o
240o
300o

Klason Lignin
(%)
25.56
25.77
26.62
27.06
26.93
25.96

ASL (%)
2.5158
2.2290
1.9296
1.9194
1.9225
2.3044

Rasio S/G
(mmol/gram kayu)
1.23
1.21
0.98
0.85
0.96
1.11

Keterangan: 0o: opposite; 180o: kayu tekan; S: siringil; G: Guaiasil (Sumber: Syafii dan
Nawawi, 2008)

Hal ini menunjukkan bahwa nilai lignin terlarut asam tidak dipengaruhi
oleh kandungan klason lignin secara kuantitatif tetapi lebih ditentukan oleh
komposisi kimia penyusun lignin. Nilai lignin terlarut asam yang lebih tinggi
dihasilkan dari lignin yang memiliki proporsi siringil/guaiasil yang lebih tinggi.
Hal ini mengindikasikan bahwa selama proses hidrolisis dan reaksi kondensasi
dalam asam, adanya unit siringil lignin berkontribusi terhadap pembentukan lignin
terlarut asam.
Yasuda et al. (2001), menyatakan bahwa siringil mempunyai reaktifitas
yang tinggi selama terjadinya hidrolisis dalam asam sulfat 72%. Pada proses
hidrolisis dengan asam sulfat 72%, siringil yang mempunyai sifat kelarutan yang
tinggi dalam asam sulfat 72% pecah dalam perlakuan Klason dan pada saat yang
bersamaan komponen yang pecah tadi mengalami reaksi kondensasi intermolekul,
reaksi kondensasi dengan karbohidrat, degradasi, dan reaksi-reaksi lainnya.
Selanjutnya, produk yang terdapat dalam lignin terlarut asam terutama adalah

29

lignin siringil yang berikatan dengan hemiselulosa (xilan), disamping produkproduk degradasi berbobot molekul rendah. Oleh karena itu nilai lignin terlarut
asam tinggi pada lignin dengan kandungan unit siringil yang tinggi.

Gambar 12. Hubungan kandungan lignin terlarut asam dan siringil/guaiasil


pada kayu reaksi G. gnemon
Hubungan tersebut sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya (Mahmudi
2008) yang menyebutkan bahwa semakin tinggi nilai lignin terlarut asam
berkorelasi dengan tingginya siringil/guaiasil pada jenis kayu yang berbeda.
Disamping itu Obst (1982), Obst dan Ralph (1983) dalam Akiyama et al. (2005)
menyebutkan bahwa pada hardwood, nilai lignin terlarut asam yang tinggi
terdapat pada jenis yang memiliki kandungan lignin klason yang rendah dan
kandungan metoksil yang tinggi. Sementara itu, kandungan metoksil yang tinggi
berkorelasi dengan tingginya kandungan unit siringil.
Matsushita et al. (2004) menyebutkan hardwood dengan kandungan
metoksil yang tinggi memberikan hasil lignin terlarut asam yang tinggi pula dan
siringil mempunyai reakstifitas yang tinggi dibanding guaiasil dalam kondensasi
dehidratif. Selain itu siringil juga dipercaya menghasilkan lignin terlarut asam
yang tinggi melalui pembentukan ikatan C-glikosida dengan hemiselulosa.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa secara botani jenis G.
gnemon termasuk ke dalam jenis softwood. Namun secara kimia jenis ini termasuk
ke dalam jenis hardwood. Hal ini juga telah ditemukan sebelumnya oleh
Nugraheni (2008) bahwa kayu reaksi G. gnemon mempunyai karakter yang unik
karena termasuk jenis kayu kelompok gimnospermae sehingga membentuk kayu

30

tekan namun secara sifat kimia dan dimensi serat kayu, jenis ini seperti kayu tarik
yang merupakan ciri dari kayu hardwood kelompok angiospermae.
Hubungan antara kadar lignin dan cincin aromatik menunjukan bahwa
kayu membentuk kayu reaksi sebagai respon terhadap pengaruh dari lingkungan
terhadap pohon selama pertumbuhan. Pada pembentukan kayu reaksi tekan tidak
hanya nilai kandungan lignin yang meningkat tetapi juga terdapat perubahan
proporsi cincin aromatik penyusun

struktur kimia lignin.

Hal ini juga

menyebabkan adanya perbedaan reaktifitas kayu yang tentunya berpengaruh


dalam pengolahan atau penggunaan kayu berbasis komponen kimianya.

31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Kadar lignin pada kayu reaksi P. merkusii menunjukan nilai yang
meningkat dari bagian kayu oposit ke arah bagian kayu tekan.
Kecenderungan yang sama juga terdapat pada kayu reaksi G. gnemon.
Kecenderungan sebaliknya terjadi untuk kadar lignin terlarut asam dimana
nilai lignin terlarut asam menurun dari bagian kayu oposit ke arah bagian
kayu tekan.
2. Kandungan lignin pada kayu tekan P. merkusii berkorelasi positif dengan
kandungan p-hidroksiphenil dalam lignin. Sejalan dengan peningkatan
kadar lignin, proporsi p-hidroksiphenil meningkat dari bagian kayu oposit
ke arah bagian kayu tekan Pinus, yang mengindikasikan bahwa ketika
pohon mengalami tekanan mekanis dari luar tidak hanya direspon dengan
peningkatan kadar lignin tetapi juga proporsi unit p-hidroksiphenil.
3. Pada kayu G. gnemon, kandungan lignin terlarut asam berkorelasi positif
dengan proporsi siringil/guaiasil dimana semakin tinggi proporsi
siringil/guaiasil maka lignin terlarut asam yang dihasilkan juga semakin
tinggi.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian mengenai kandungan lignin terlarut asam dari
jenis kayu Indonesia lainnya sehingga didapat suatu data yang
komprehensif sebagai dasar bagi pemanfaatan kayu yang sesuai dengan
sifat dasarnya, khususnya pemanfaatan kayu berbasis komponen kimianya.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peranan lignin terlarut
asam terhadap kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan kimia kayu
seperti pada proses pulping.

32

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi SS. 1990. Kimia Kayu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,


Direktorat Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Akiyama T, Goto H, Nawawi DS, Syafii W, Matsumoto Y, Meshitsuka G. 2005.
Erythro/threo Ratio of -O-4 Structures as an Important Structural
Characteristic of Lignin. Part 4: Variation in the Erythro/Threo Ratio in
Softwood and Hardwood Lignins and Its Relation to Syringyl/Guaiacyl
Ratio. Holzforschung 59: 276-281.
Akiyama T, Matsumoto Y, Okuyama T, Meshitsuka G. 2003. Erythro/Threo
Ratio of -O-4 Structures as an Important Structural Characteristic of
Lignin. Part 3:Ratio of Erythro and Threo Forms of -O-4 Structures in
Tension Wood Lignin. Phytochemistry 64 (1): 157-1 162.
Desch HE. 1996. Timber: Structure, Properties, Conversion & Use. The
Macmillan Press. Ltd. London.
Fengel D, Wegener G. 1995. Kayu; Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi.
Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Gullichsen J, Paulapuro H. 2004. Papermaking Science and Technology : Forest
Products Chemistry, Book 3. Finnish Paper Engieneers Association and
TAPPI. Helsinki.
Hatfield R, Fukushima RS. 2005. Can Lignin Be Accuratelly Measured? Crop
Science Society Journal 45: 832-838.
Haygreen JG, Bowyer JL. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar,
Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hoadley RB. 2000. Understanding Wood: A Craftmans guide To Wood
Technology. The Taunton Press, Inc. USA.
Mahmudi A. 2008. Keragaman Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble Lignin) Pada
Empat Jenis Kayu Cepat Tumbuh [Skripsi]. Bogor: Departemen Hasil
Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Prawira SA, Kadir K. 1989. Atlas
Kayu Indonesia Jilid II. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Bogor.

33

Matsushita Y, Kakehi A, Miyawaki S, Yasuda S. 2004. Formation and Chemical


Structures of Acid Soluble Lignin II: Reaction of Aromatic Nuclei Model
Compound with Xylan in the Presence of a Counterpart for Condensation,
and Behavior of Lignin Model Compound with Guaiacyl and Syringyl Nuclei
in 72% Sulfuric Acid. Journal of Wood Science 50: 136-141.
Nugraheni N. 2008. Keragaman Komponen Kimia dan Dimensi Serat Kayu Reaksi
Melinjo (Gnetum gnemon L) [Skripsi]. Bogor: Departemen Hasil Hutan,
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Panshin AJ, de Zeeuw C. 1970. Textbook of Wood Technology. Mcgrew-Hill, Inc.


USA.
Sjostrom E. 1995. Kimia Kayu Dasar-dasar dan Penggunaan. Terjemahan.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Syafii W, Nawawi DS. 2008. Rasio Stereoisomer Erythro dan Threo Struktur O-4 dan Hubungan dengan jenis cincin Aromatik Penyusun Makromolekul
Lignin. Laporan Penelitian Fundamental. Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat IPB. Bogor.
Timell TE. 1986. Compression Wood in Gymnosperms Vol I, Bibliography,
Historical,
Background,
Determination,
Structure,
Chemistry,
Topochemistry, Physical Properties, Origin and Formation of
Compression Wood. Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Germany.
Tsoumis G. 1991. Science and Technology of Wood Structure, Properties,
Utilization. Van, Nostand Reinhold. New York.
Yasuda S, Fukushima K, Kakehi A. 2001. Formation and Chemical Structures of
Acid Soluble Lignin I: Sulfuric Acid Treatment Time and Acid-Soluble
Lignin Content of Hardwood. Journal of Wood Science 47: 69-72.
Yeh TF, Goldfarb B, Min CH, Peszlen I, Braun JL, Kadla JF. 2005. Comparison
of Morphological and Chemical Properties between Juvenile Wood and
Compression Wood of Loblolly Pine. Holzforschung, 59: 669674.

34

LAMPIRAN

35

Lampiran 1. Lignin Klason dan lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin) pada
kayu P. merkusii
Posisi
Sampel
0
60
120
180
240
300

ulangan

Lignin Klason (%)

ASL (%)

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2

25.80
25.15
25.92
25.27
30.72
28.78
32.74
32.14
27.28
26.75
25.52
25.65

1.67
1.69
1.55
1.61
1.42
1.44
1.30
1.34
1.62
1.63
1.74
1.80

Rata-rata
Lignin Klason
ASL
(%)
(%)
25.47

1.68

25.6

1.58

29.75

1.43

32.44

1.32

27.01

1.62

25.59

1.77

36

Lampiran 2. Lignin Klason dan lignin terlarut asam (Acid Soluble Lignin) pada
kayu G. gnemon
Posisi
Sampel
0
60
120
180
240
300

ulangan

Lignin Klason (%)

ASL (%)

1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2

19.54
21.73
20.02
22.71
20.10
22.73
19.98
23.53
20.14
22.72
19.54
21.07

2.84
2.19
2.33
2.13
2.02
1.84
2.01
1.83
2.00
1.84
2.35
2.26

Rata-rata
Lignin Klason
ASL
(%)
(%)
20.64

2.52

21.36

2.23

21.42

1.93

21.75

1.92

21.43

1.92

20.31

2.30