Anda di halaman 1dari 4

a.

Pengertian
Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Zat
ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah
teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan
sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen
reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal darimetabolisme tubuh
maupun faktor eksternal lainnya.
Antioksidan adalah substansi yang menetralkan radikal bebas karena senyawasenyawa tersebut mengorbankan dirinya agar teroksidasi sehingga sel-sel yang lainnya dapat
terhindar dari radikal bebas ataupun melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen
reaktif jika hal itu berkenaan dengan penyakit dimana radikal bebas itu sendiri dapat berasal
dari hasil metabolisme tubuh ataupun faktor eksternal lainnya. Antioksidan merupakan
senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya
dengan cuma-Cuma kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali
dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas.
b. Macam-macam Antioksidan
1)

Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim antara lain superoksida
dismutase, glutathione peroxidase, perxidasi dan katalase.

2)

Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari tanaman atau hewan yaitu tokoferol, vitamin C,
betakaroten, flavonoid dan senyawa fenolik.

3)

Antioksidan sintetik,yang dibuat dari bahan-bahan kimia yaitu Butylated Hroxyanisole


(BHA), BHT, TBHQ, PG dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah
kerusakan lemak.
Antioksidan alami yang berasal dari tanaman. Atas dasar fungsinya antioksidan dapat
dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu :

a) Antioksidan Primer Antioksidan ini berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas
baru karena ia dapat merubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang
dampak negatifnya yaitu sebelum sempat bereaksi. Antioksidan primer yang ada dalam
tubuh yang sangat terkenal adalah enzim superoksida dismutase. Enzim ini sangat penting
sekali karena dapat melinduhngi hancrnya sel-sel dalam tubuh akibat serangan radikal
bebas. Bekerjanya enzim ini sangat idpengaruhi oleh mineral-mineral seperti mangan, seng,
tembaga dan selenium yang harus terdapat dalam makanan dan minuman.
b) Antioksidan Sekunder Antioksidan sekunder merupakan senyawa yang berfungsi
menangkap radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksiberantai sehingga tidak terjadi
keursakan yang lebih besar. Contoh yang populer, antioksidan sekunder adalah vitamin E,
vitamin C, dan betakaroten yang dapat diperoleh dari buah-buahan.
c) Antioksidan Tersier Antioksidan tersier merupakan senyawa yang memperbaiki sel-sel dan
jaringan yang rusak karena serangan radikalbebas. Biasanya yang termasuk kelompok ini

adalah jenis enzim misalnya metionin sulfoksidan reduktase yang dapatmemperbaiki DNA
dalam inti sel. Enzim tersebut bermanfaat untuk perbaikan DNA pada penderita kanker.
d) Oxygen Scavanger Antioksidan yang termasuk oxygen scavanger mengikat oksigen
sehingga tidak mendukung reaksi oksidasi, misalnyavitamin C dan .E.
Chelators/Sequesstrants Mengikat logam yang mampu mengkatalisis reaksi oksidasi
misalnya asam sitrat dan asam amino.Tubuh dapat menghasilkan antioksdan yang berupa
enzim yang aktif bila didukung oleh nutrisi pendukung atau mineralyang disebut juga kofaktor.
c. metode
Berikut ini adalah metode yang sering digunakan untuk mengukur aktifitas
total antioksidan total suatu senyawa:

1.Uji DPPH
DPPH atau 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (,-difenil-pikrilhidrazil) merupakan suatu
radikal bebas yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari
elektron bebas pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga
mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa
diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 517 nm.
Ketika larutan DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom
hidrogen, maka warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan tereduksinya
DPPH.
Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode ini berdasarkan dari
hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh antioksidan. Intensitas
warna dari larutan uji diukur melalui spektrofotometri UV-Vis pada panjang
gelombang sekitar 517 nm. Hasil dari uji ini diinterpretasikan sebagai EC50, yaitu
jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH
sebesar 50%. Pada metode ini tidak diperlukan substrat sehingga memiliki
keuntungan, yaitu lebih sederhana dan waktu analisis yang lebih cepat.
2.Uji ABTS
Asam 2,2-Azinobis(3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS) merupakan substrat
dari peroksidase, di mana ketika dioksidasi dengan kehadiran H2O2 akan
membentuk senyawa radikal kation metastabil dengan karakteristik menunjukan
absorbansi kuat pada panjang gelombang 414 nm. ABTS merupakan senyawa
larut air dan stabil secara kimia.
Akumulasi dari ABTS dapat dihambat oleh antioksidan pada medium reaksi
dengan aktivitas yang bergantung waktu reaksi dan jumlah antioksidan.
Kemampuan relatif antioksidan untuk mereduksi ABTS dapat diukur dengan

spektrofotometri pada panjang gelombang 734 nm. Absorbansi maksimal juga


dapat terjadi pada panjang gelombang yang lain. Panjang gelombang yang
mendekati daerah infra merah (734 nm) dipilih untuk meminimalkan interfensi
dari absorbansi komponen lainnnya.
Hasil pengukuran dengan spektrofotometer selanjutnya dibandingkan dengan
standar baku antioksidan sintetik, yaitu trolox yang merupakan analog vitamin E
larut air. Hasil perbandingan ini diekspresikan sebagai TEAC (Trolox Equivalent
Antioxidant Activity). TEAC adalah konsentrasi (dalam milimolar) larutan trolox
yang memiliki efek antioksidan ekuivalen dengan 1,0 mM larutan zat uji. TEAC
mencerminkan kemampuan relatif dari antioksidan untuk menangkap radikal
ABTS dibandingkan dengan trolox.
3.Uji TRAP
Pengujian TRAP atau Total Radical-Trapping Antioxidant Parameter bekerja
berdasarkan pengukuran konsumsi oksigen selama reaksi oksidasi lipid terkontrol
yang diinduksi oleh dekomposisi termal dari AAPH (2,2-Azobis(2aminidopropana)hidroklorida) untuk mengukur total aktivitas antioksidan. Hasil
uji ini diekspresikan sebagai jumlah (dalam mikromol) radikal peroksil yang
terperangkap oleh 1 liter plasma. Pengukuran serum TRAP berdasarkan
penentuan lamanya waktu yang diperlukan oleh serum uji untuk dapat bertahan
dari oksidasi buatan.
4.Uji FRAP
Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) bekerja berdasarkan reduksi
dari analog ferroin, kompleks Fe3+ dari tripiridiltriazin Fe(TPTZ)3+ menjadi
kompleks Fe2+, Fe(TPTZ)2+ yang berwarna biru intensif oleh antioksidan pada
suasana asam. Hasil pengujian diinterpretasikan dengan peningkatan absorbansi
pada panjang gelombang 593 nm dan dapat disimpulkan sebagai jumlah Fe2+
(dalam mikromolar) ekuivalen dengan antioksidan standar.
d. Tinjauan sampel
Kopi nescafe
Selama ini mengonsumsi minuman berkafein tinggi seperti kopi dianggap sebagai kebiasaan
buruk. Dibalik reputasi buruk yang kini terlanjur melekat pada kopi, ternyata kopi memiliki
segudang manfaat bagi kesehatan. Salah satunya sebagai antioksidan eksogen.
Kemampuan antioksidan dari kopi tergolong hebat, bahkan melebihi kemampuan antioksidan
alami glutathione yang dimiliki rata-rata orang sehat. Kapasitas antioksidan dari biji buah tropis
yang sarat dengan zat aktif kafein ini juga mengungguli kapasitas antioksidan buah-buahan,
sayuran, dan sayuran yang secara umum tersohor sebagai sumber antioksidan. Hal ini terbukti
dengan tingginya kadar antioksidan yang terkandung di dalam plasma darah pada penggemar

kopi. Jika kadar antioksidan dalam plasma yang disebabkan oleh konsumsi buah-buahan dan
sayuran berkisar 0,4-0,8 mmol/dl plasma, maka senyawa antioksidan dari kopi mampu
menyumbang antioksidan ke dalam plasma sebesar 11,1 ml/dl plasma.
Rumput laut

Rumput laut (seaweeds) merupakan salah satu bahan pangan yang telah banyak digunakan
sebagai bahan pembuatan suplemen kesehatan. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena
rumput laut mempunyai kandungan nutrisi cukup lengkap yaitu vitamin, mineral, asam
amino, dan enzim. Senyawa tersebut sangat potensial sebagai antioksidan yang berperan
dalam penyembuhan dan peremajaan kulit. Vitamin A (-karoten) dan vitamin C (asam
askorbat) bekerja sama dalam memelihara kolagen (Anonim, 2008).
Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang cukup melimpah di perairan Indonesia. Beberapa
jenis rumput laut tersebut telah diteliti memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai
sumber antioksidan. Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, terbukti dengan tingkat
konsumsi rumput laut masyarakat Indonesia yang masih rendah. Contoh rumput laut yang telah diteliti
adalah Padina australisyang merupakan salah satu jenis rumput laut yang belum dimanfaatkan.
Aktivitas antioksidan ekstrak P. australis ditentukan berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh. Nilai IC50
ekstrak P. australis menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol secara berurut yaitu
1829,47 ppm, 1160,21 ppm, 267,05 ppm. Senyawa fitokimia yang terdeteksi dalam P. australis yaitu
flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid, triterpenoid, dan saponin.

pustaka
Antolovich, Michael, Paul D. Prenzler, Emilios Patsalides, Suzanne McDonald,
Kevin Robards. 2002. Methods for Testing Antioxidant Activity. Analyst. 127:
183-198.
Molyneux, Philip. The Use of the Stable Free Radical Diphenylpicryl-hydrazyl
(DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci. Technol. 26(2):
211-219.