Anda di halaman 1dari 23

STATUS PASIEN

I. ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama

: An. B

Umur

: 16 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Siswa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Status pernikahan

: Belum menikah

Alamat

: Parung, Bogor

Masuk RS. Fatmawati

: 9 April 2013

B. Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal 15 April 2013 jam 11.00 bertempat di
Ruang Teratai RSUP Fatmawati secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan
teman pasien.
C. Keluhan Utama
Nyeri kepala sejak 15 jam SMRS
D. Riwayat Penyakit sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUP Fatmawati diantar temannya dengan keluhan
nyeri kepala sejak 15 jam SMRS. Nyeri kepala dirasakan pasien setelah pasien
terjatuh dari tempat tidurnya setinggi kurang lebih 2 meter. Pada saat itu
kejadiannya pada pukul 03.00 pagi saat pasien sedang tidur lalu pasien terjatuh
dari tempat tidur dan kepala sebelah kanan membentur lemari lalu jatuh kelantai.
Pada saat itu pasien langsung tidak sadarkan diri, dan oleh temannya pasien
segera diangkat dan dibawa ke pos kesehatan dipesantren tersebut. Menurut
temannya os pingsan kurang lebih selama 10 menit. Di pos kesehatan pasien
tersadar lalu muntah-muntah keluar berisi makanan dan cairan serta sebanyak 6x.
lalu pada pukul 05.30 pagi pasien dibawa ke RS. Dompet dhuafa dan disana
1

pasien langsung dirujuk ke RS.fatmawati. tidak terdapat luka pada kepalanya,


tidak keluar darah baik dari hidung, telinga maupun mulut, tidak ada kejang, tidak
ada kelemahan pada keempat anggota geraknya.
E. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Riwayat kejang (-),
alergi (-), asma (-).
F. Riwayat social
Pasien tidak merokok, minum alkohol (-) obat-obatan terlarang (-).

II.

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 15 April 2013
Keadaan umum
Kesadaran

: Compos mentis

GCS

: E4 V5 M6

Kesan sakit

: Tampak sakit sedang

Status gizi

: baik

Sikap pasien : Kooperatif pada saat pemeriksaan


Tanda vital
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36,5 oC

Pernafasan

: 16 x / menit

Nadi

: 84x / menit

Status Generalis
Kepala
Bentuk
Rambut
Wajah
Mata

: Normochepali, tidak ada cephal hematom


: hitam, distribusi merata
: Pucat (-), ikterik (-).
: Pupil bulat isokor 3 mm, hematom periorbita (-/-),
RCL (+/+), RCTL (+/+), CA -/-

Telinga: Bentuk normal, darah (-/-), secret (-/-)


hematom retroaurikuler (-/-)
Hidung

: Deviasi septum (-), sekret (-/-), darah (-/-).


2

Gigi Mulut
Leher

: Bibir kering (-), gusi berdarah (-)


: Tidak terdapat jejas,
Kelenjar getah bening tidak teraba membesar
trakea simetris ditengah

Thoraks
Paru-paru
Inspeksi

: Gerak dada simetris, retraksi intercostal (-/-)

Palpasi

: Vocal fremitus sama kuat pada kedua hemitorak (+/+)

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), whezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Tampak pulsasi ictus cordis

Palpasi

: Teraba di sela iga V garis midklavikula sinistra

Perkusi

: Batas atas

: ICS III linea midclavicula sinistra

Batas kanan : ICS III-V linea parasternal dextra


Batas kiri
Auskultasi

: ICS V 2 cm medial midclavicula sinistra

: Bunyi jantung 1-2 reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen
Inspeksi

: Dinding abdomen buncit, jaringan parut (-)

Palpasi

: Supel (+), Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-), defans


muskular (-), Hepar lien tidak teraba membesar

Perkusi

: Timpani (+)

Auskultasi

: Bising usus (+) 3x/menit

Ekstremitas
Atas

: akral hangat, edema -/-

Bawah

: akral hangat, edema -/-

STATUS NEUROLOGIS
Kesadaran

: Compos mentis

Kuantitatif

: GCS 15 (E4V5M6)

Orientasi

: Baik

Jalan pikiran

: Baik

Kecerdasan

: Baik

Kemampuan bicara

: Baik
3

Gerakan abnormal

: Tidak ada

Tanda rangsang Meningeal


Kaku kuduk

: (-)

Brudzinski I

: (-)

Brudzinski II

: (-)

Kernig

: (-/-)

Laseque

: (-/-)

Peningkatan tekanan intrakranial :


Penurunan kesadaran

: (-)

Muntah proyektil

: (-)

Sakit kepala

: (-)

Edema papil

: tidak dilakukan pemeriksaan

Saraf Kranial
Nervus I Olfaktorius : Normosmia
Nervus II Optikus
Daya Penglihatan
Pengenalan Warna
Lapang Pandang
Tes konfrontasi
Fundus Okuli

Kanan
Baik
Baik
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Kiri
Baik
Baik
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

N. III, IV, VI (Okulomotorius, Trochlearis, Abducen)


Ptosis
Gerak mata ke nasal
Gerak mata ke atas
Gerak mata ke bawah
Gerak mata ke temporal
Gerak mata ke nasal atas
Gerak mata ke nasal bawah
Gerak mata ke temporal atas
Gerak mata ke temporal bawah
Ukuran pupil
Bentuk pupil
Reflek cahaya langsung

Kanan
Negatif
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
3 mm
Bulat, isokor
+

Kiri
Negatif
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
3 mm
Bulat, isokor
+
4

Reflek cahaya langsung


Diplopia

+
-

+
-

N. V. Trigeminus
Kanan
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Membuka mulut
Sensibilitas ophtalmik
Sensibilitas maxilla
Sensibilitas mandibula
Reflek kornea

Kiri
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

N. VII Fasialis
Kerutan kulit dahi
Mengangkat alis
Memejamkan mata
Menyeringai
Menggembungkan pipi
Mencucukan bibir
Daya kecap lidah 2/3 depan

Kanan
+
+
+
+
+
+
Tidak dilakukan

Kiri
+
+
+
+
+
+
Tidak dilakukan

N. VIII (Vestibulo cochlearis)


Vestibuler
Vertigo

: (-)

Nistagmus

: (-)

Cochlear
Tuli Konduktif: Tidak dilakukan pemeriksaan
Tuli perseptif

: Tidak dilakukan pemeriksaan

N. IX, X (Glossofaringeus, Vagus)


Arkus farings

Simetris

Uvula
Daya kecap lidah 1/3 belakang
Reflek muntah
Menelan

Simetris ditengah
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Baik

N. XI Aksesorius
Memalingkan kepala
Mengangkat bahu
Trofi otot bahu

Kanan
Bisa melakukan
+
Eutrofi

Kiri
Bisa melakukan
+
eutrofi
5

N. XII Hipoglossus
Sikap lidah
Artikulasi
Tremor lidah
Menjulurkan lidah
Kekuatan lidah
Fasikulasi lidah

Normal
Jelas
Negatif
Tidak ada deviasi
Tidak dilakukan
Negatif

Ekstremitas superior
Lengan atas
Kanan
Kiri
5
5

Kekuatan

Lengan bawah
Kanan
Kiri
5
5

Tangan
Kanan
Kiri
5
5

Jari-jari
Kanan
Kiri
5
5

Ekstremitas inferior

Kekuatan

Tungkai atas
Kanan
Kiri
5
5

Gerakan involunter :

Tungkai bawah
Kanan
Kiri
5
5

Kaki
Kanan
Kiri
5
5

kanan

Jari-jari
Kanan
Kiri
5
5

kiri

Tremor

Chorea

Ballismus

Athetose

Kanan

Kiri

Biceps

+2

+2

Triceps

+2

+2

Patella

+2

+2

Achilles

+2

+2

Reflek fisiologis
Extremitas superior

Ekstremitas inferior

Refleks Patologis
Ekstremitas superior
Hoffman Tromner

Kanan

Kiri

Ekstremitas inferior
6

Babinsky

Chaddock

Gordon

Schaeffer

Gonda

Klonus patella

Klonus achilles

Sensorik :

Eksteroseptif : baik
Proprioseptif : baik

Fungsi Keseimbangan dan Koordinasi


Test Rhomberg

: bisa dilakukan

Jari-jari

: bisa dilakukan

Jari-hidung

: bisa dilakukan

Tumit lutut

: bisa dilakukan

Fungsi Vegetatif
Miksi

:+

Inkontinensia urine

:-

Defekasi

:+

Inkontinensia alvi

:-

Fungsi Luhur
Astereognosia

:-

Apraksia

:-

Afasia

:-

Keadaan Psikis
Intelegensia

: baik

Demensia

: (-)

Tanda regresi

: (-)

III.

PEMERIKSAAN PENCITRAAN
Foto Rontgen Thorax
Kesan : paru dan jantung dalam
batas normal

CT-Scan kepala

Tampak lesi hiperdens berbatas tegas bentuk bikonveks di region

temporal kanan
Sulci dan fisura sylvii ditemporoparietal kanan menyempit
Sistem ventrikel dan cisterna baik
Tak tampak pergeseran struktur midline
Pons dan cerebellum tak tampak kelainan
Fraktur os temporal kanan
Fraktur impresi os parietal kanan
Kesan : Epidural hematom regio temporal kanan
Fraktur os temporal kanan
Edema ringan cerebri temporoparietal kanan
Fraktur impresi os parietal kanan

IV.

RESUME
Pada anamnesis didapatkan:
Pasien datang ke IGD RSUP Fatmawati diantar temannya dengan keluhan
nyeri kepala sejak 15 jam SMRS. Nyeri kepala dirasakan pasien setelah pasien
terjatuh dari tempat tidurnya setinggi kurang lebih 2 meter. Pada saat itu
kejadiannya pada pukul 03.00 pagi saat pasien sedang tidur lalu pasien terjatuh
dari tempat tidur dan kepala sebelah kanan membentur lemari lalu jatuh kelantai.
Pada saat itu pasien langsung tidak sadarkan diri, dan oleh temannya pasien
segera diangkat dan dibawa ke pos kesehatan dipesantren tersebut. Menurut
temannya os pingsan kurang lebih selama 10 menit. Di pos kesehatan pasien
tersadar lalu muntah-muntah keluar berisi makanan dan cairan serta sebanyak 6x.
lalu pada pukul 05.30 pagi pasien dibawa ke RS. Dompet dhuafa dan disana
pasien langsung dirujuk ke RS.fatmawati. tidak terdapat luka pada kepalanya,
tidak keluar darah baik dari hidung, telinga maupun mulut, tidak ada kejang, tidak
ada kelemahan pada keempat anggota geraknya.
Pada Pemeriksaan fisik didapatkan:
Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36,5 oC

Pernafasan

: 16 x / menit

Nadi

: 84 x / menit

Pada status neurologis, ditemukan keadaan pasien sebagai berikut :

GCS

: E4 V5 M6
9

Mata

: Pupil bulat isokor, RCL : +/+, RCTL :+/+

TRM

: Kaku kuduk (-), Laseq (>70/>70), Kernigue (>135/>135),


Brudzinsky I dan II (-)

Nervus Cranialis

: Tidak ada parese

Motorik

Sensorik

: Baik

Otonom

: Baik

Refleks fisiologis

Refleks Patologis

5555
5555

+2

+2

+2

+2

5555
5555

:-/-

Hasil pemeriksaan CT Scan didapatkan :


Epidural hematom region temporal kanan
Fraktur os temporal kanan
Edema ringan cerebri temporoparietal kanan
Fraktur impresi os parietal kanan

V.

VI.

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis Klinis

: cephalgia

Diagnosis Topis

: temporal dekstra

Diagnosis Etiologis

: epidural hematom

PENATALAKSANAAN
1. Non medikamentosa
O2 3 ltr
Elevasi kepala 300
2. Medikamentosa
Manitol 4x125 cc
Ondancentron 3x8 mg
Ketorolac 2x30 mg
Ceftriaxone 1x2 gr
PROGNOSIS
Ad Vitam

: Dubia ad bonam

Ad Fungsionam

: Dubia ad bonam

Ad Sanationam

: Dubia ad malam
10

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

11

Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural. Fraktur


tulang kepala dapat merobek pembuluh darah, terutama arteri meningea media yang
masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan
tulang di permukaan dalam os temporale.
Perdarahan yang terjadi menimbulkan epidural hematoma. Desakan oleh
hematom akan melepaskan duramater lebih lanjut dari tulang kepala sehingga
hematom bertambah besar.1,3
Hematoma epidural (EDH) merupakan kumpulan darah di antara duramater
dan tabula interna karena trauma (Gambar-1). Pada penderita traumatic hematoma
epidural, 85-96% disertai fraktur pada lokasi yang sama. Perdarahan berasal dari
pembuluh darah -pembuluh darah di dekat lokasi fraktur. 15
Sebagian besar hematoma epidural (EDH) (70-80%) berlokasi di daerah
temporoparietal, di mana bila biasanya terjadi fraktur calvaria yang berakibat
robeknya arteri meningea media atau cabang-cabangnya, sedangkan 10% EDH
berlokasi di frontal maupun oksipital. Volume EDH biasanya stabil, mencapai volume
maksimum hanya beberapa menit setelah trauma, tetapi pada 9% penderita ditemukan
progresifitas perdarahan sampai 24 jam pertama 8,15,16

12

INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI


Di Amerika Serikat, 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma
epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma. Secara Internasional frekuensi
kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika
Serikat.Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki
masalah berjalan dan sering jatuh.(2,9)
60 % penderita hematoma epidural adalah berusia dibawah 20 tahun, dan
jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun. Angka kematian
meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 55 tahun.
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 4:1. (9)
13

Tipe- tipe : (6)


1. Epidural hematoma akut (58%) perdarahan dari arteri
2. Subacute hematoma ( 31 % )
3. Cronic hematoma ( 11%) perdarahan dari vena
ANATOMI OTAK
Otak di lindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang
membungkusnya, tanpa perlindungan ini, otak yang lembut yang membuat kita seperti
adanya, akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami kerusakan. Selain itu,
sekali neuron rusak, tidak dapat di perbaiki lagi. Cedera kepala dapat mengakibatkan
malapetaka besar bagi seseorang. Sebagian masalah merupakan akibat langsung dari
cedera kepala. Efek-efek ini harus dihindari dan di temukan secepatnya dari tim medis
untuk menghindari rangkaian kejadian yang menimbulkan gangguan mental dan fisik
dan bahkan kematian.(1)
Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeurotika, suatu jaringan fibrosa,
padat dapat di gerakkan dengan bebas, yang memebantu menyerap kekuatan trauma
eksternal. Di antar kulit dan galea terdapat suatu lapisan lemak dan lapisan membrane
dalam yang mngandung pembuluh-pembuluih besar. Bila robek pembuluh ini sukar
mengadakan vasokontriksi dan dapat menyebabkan kehilangan darah yang berarti
pada penderita dengan laserasi pada kulit kepala. Tepat di bawah galea terdapat ruang
subaponeurotik yang mengandung vena emisaria dan diploika. Pembuluh-pembuluh
ini dapat emmbawa infeksi dari kulit kepala sampai jauh ke dalam tengkorak, yang
jelas memperlihatkan betapa pentingnya pembersihan dan debridement kulit kepala
yang seksama bila galea terkoyak. (1)
Pada orang dewasa, tengkorak merupakan ruangan keras yang tidak
memungkinkan perluasan intracranial. Tulang sebenarnya terdiri dari dua dinding atau
tabula yang di pisahkan oleh tulang berongga. Dinding luar di sebit tabula eksterna,
dan dinding bagian dalam di sebut tabula interna. Struktur demikian memungkinkan
suatu kekuatan dan isolasi yang lebih besar, dengan bobot yang lebih ringan . tabula
interna mengandung alur-alur yang berisiskan arteria meningea anterior, media, dan
p0osterior. Apabila fraktur tulang tengkorak menyebabkan tekoyaknya salah satu
14

dari artery-artery ini, perdarahan arterial yang di akibatkannya, yang tertimbun dalam
ruang epidural, dapat manimbulkan akibat yang fatal kecuali bila di temukan dan
diobati dengan segera.
Pelindung lain yang melapisi otak adalah meninges. Ketiga lapisan meninges adalah
dura mater, arachnoid, dan pia mater (1)
1. Dura mater cranialis, lapisan luar yang tebal dan kuat. Terdiri atas dua lapisan:

Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh periosteum


yang membungkus dalam calvaria

Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang


kuat yang berlanjut terus di foramen mgnum dengan dura mater
spinalis yang membungkus medulla spinalis

2. Arachnoidea mater cranialis, lapisan antara yang menyerupai sarang laba-laba


3. Pia mater cranialis, lapis terdalam yang halus yang mengandung banyak
pembuluh darah.
PATOFISIOLOGI
Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan
dura meter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu
cabang arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang
tengkorak di daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau
oksipital.(8)
Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen
spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale.
Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma
akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom
bertambah besar. (8)
Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada
lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian
medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini
menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis.(1)
15

Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus formation
retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini
terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini
mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan
kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini, menyebabkan kelemahan respons
motorik kontralateral, refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda babinski positif.
(1)

Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan terdorong
kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Timbul tandatanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan
gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.(1)
Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus
keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur
mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu beberapa
jam , penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat, kemudian
kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama
penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid. Fenomena lucid
interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural hematom. Kalau pada
subdural hematoma cedera primernya hamper selalu berat atau epidural hematoma
dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak
sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar. (8)
Sumber perdarahan : (8)

Artery meningea ( lucid interval : 2 3 jam )

Sinus duramatis

Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a.


diploica dan vena diploica

Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf


karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura
sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans
dan infra tentorial.Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh
16

nyeri kepala yang berlangsung lama, apalagi progresif memberat, harus segera di
rawat dan diperiksa dengan teliti.(8,10)

Arteri meningea media


ETIOLOGI
Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja dan umur berapa saja,
beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom adalah misalnya
benturan pada kepala pada kecelakaan motor. Hematoma epidural terjadi akibat
trauma kepala, yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan
laserasi pembuluh darah.(2,9)
Pada keadaan yang normal, sebenarnya tidak ada ruang epidural pada
kranium. Dura melekat pada kranium. Perdarahan biasanya terjadi dengan fraktur
tengkorak bagian temporal parietal yang mana terjadi laserasi pada arteri atau vena
meningea media. Pada kasus yang jarang, pembuluh darah ini dapat robek tanpa
adanya fraktur. Keadaan ini mengakibatkan terpisahnya perlekatan antara dura dengan
kranium dan menimbulkan ruang epidural. Perdarahan yang berlanjut akan memaksa
dura untuk terpisah lebih lanjut, dan menyebabkan hematoma menjadi massa yang
mengisi ruang.
Oleh karena arteri meningea media terlibat, terjadi perdarahan yang tidak
terkontrol, maka akan mengakibatkan terjadinya akumulasi yang cepat dari darah
17

pada ruang epidural, dengan peningkatan tekanan intra kranial (TIK) yang cepat,
herniasi dari unkus dan kompresi batang otak.1,4,5,6
GEJALA KLINIS
Pada anamnesa didapatkan riwayat cedera kepala dengan penurunan
kesadaran. Pada kurang lebih 50 persen kasus kesadaran pasien membaik dan adanya
lucid interval diikuti adanya penurunan kesadaran secara perlahan sebagaimana
peningkatan TIK. Pada kasus lainnya, lucid interval tidak dijumpai, dan penurunan
kesadaran berlangsung diikuti oleh detoriasi progresif. Epidural hematoma terkadang
terdapat pada fossa posterior yang pada beberapa kasus dapat terjadi sudden death
sebagai akibat kompresi dari pusat kardiorespiratori pada medulla. Pasien yang tidak
mengalami lucid interval dan mereka yang terlibat pada kecelakaan mobil pada
kecepatan tinggi biasanya akan mempunyai prognosis yang lebih buruk.1
Gejala neurologik yang terpenting adalah pupil mata anisokor, yaitu pupil
ipsilateral melebar. Pada perjalanannya, pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan
reaksi cahaya yang pada permulaan masih positif akan menjadi negatif. Terjadi pula
kenaikan tekanan darah dan bradikardia. Pada tahap akhir kesadaran akan menurun
sampai koma yang dalam, pupil kontralaterak juga akan mengalami pelebaran
sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi, yang merupakan
tanda kematian.3
Tanda Diagnostik Klinik Epidural Hematoma :7
1. Lucid interval (+)
2. Kesadaran makin menurun
3. Late hemiparese kontralateral lesi
4. Pupil anisokor
5. Babinsky (+) kontralateral lesi
6. Fraktur daerah temporal
Gejala dan Tanda Klinis Epidural Hematoma di Fossa Posterior :7
1. Lucid interval tidak jelas
2. Fraktir kranii oksipital
18

3. Kehilangan kesadaran cepat


4. Gangguan serebellum, batang otak, dan pernafasan
5. Pupil isokor
DIAGNOSIS
Diagnosis epidural hematoma didasarkan gejala klinis serta pemeriksaan
penunjang seperti foto Rontgen kepala dan CT scan kepala. Adanya garis fraktur yang
menyokong diagnosis epidural hematoma bila sisi fraktur terletak ipsilateral dengan
pupil yang melebar garis fraktur juga dapat menunjukkan lokasi hematoma.3
Computed tomografi (CT) scan otak akan memberikan gambaran hiperdens
(perdarahan) di tulang tengkorak dan dura, umumnya di daerah temporal dan tampak
bikonveks.
DIAGNOSIS BANDING
1. Subdural Hematoma
Perdarahan yang terjadi diantara duramater dan arachnoid, akibat robeknya vena
jembatan. Gejala klinisnya adalah :
-

sakit kepala

kesadaran menurun + / -

Pada pemeriksaan CT scan otak didapati gambaran hiperdens (perdarahan) diantara


duramater dan arakhnoid, umumnya robekan dari bridging vein dan tampak seperti
bulan sabit.7
2. Subarakhnoid hematoma
Gejala klinisnya yaitu :
-

kaku kuduk

nyeri kepala

bisa didapati gangguan kesadaran

Pada pemeriksaan CT scan otak didapati perdarahan (hiperdens) di ruang


subarakhnoid.
19

PENATALAKSANAAN
Penanganan darurat :

Dekompresi dengan trepanasi sederhana

Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

Terapi medikamentosa
Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau
gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan
meningkakan drainase vena.(9)
Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason
(dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam), mannitol 20%
(dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi
akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik. Dianjurkan
untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama)
untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang
dapat dilanjutkan dengan karbamazepin. Tri-hidroksimetil-amino-metana (THAM)
merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis
lebih superior dari natrium bikarbonat, dalam hal ini untuk mengurangi tekanan
intracranial. Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang
meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis
yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan
kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam
unuk mencapai kadar serum 3-4mg%.(8)
Terapi Operatif
Operasi di lakukan bila terdapat : (15)

Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)

Keadaan pasien memburuk

Pendorongan garis tengah > 3 mm

20

Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional
saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi
emergenci. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang.(8)
Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :

> 25 cc desak ruang supra tentorial

> 10 cc desak ruang infratentorial

> 5 cc desak ruang thalamus

Sedangakan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan :

Penurunan klinis

Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan
penurunan klinis yang progresif.

Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan


penurunan klinis yang progresif.
Penatalaksaan epidural hematoma dapat dilakukan segera dengan cara

trepanasi dengan tujuan melakukan evakuasi hematoma dan menghentikan


perdarahan.3
PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada : (8)

Lokasinya ( infratentorial lebih jelek )

Besarnya

Kesadaran saat masuk kamar operasi.


Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural biasanya baik,

karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Angka kematian berkisar
antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Prognosis sangat buruk pada pasien
yang mengalami koma sebelum operasi. (2,14)

21

Prognosis epidural hematoma biasanya baik. Mortalitas pasien dengan


epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% - 32%. Seperti trauma
hematoma intrakranial yang lain, biasanya mortalitas sejalan dengan umur dari pasien.
Resiko terjadinya epilepsi post trauma pada pasien epidural hematoma diperkirakan
sekitar 2%.9

DAFTAR PUSTAKA
1. Gilroy J. Basic Neurology. USA: McGraw-Hill, 2000. p. 553-5

22

2. Japardi I. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. Bagian Bedah


Fakultas Kedokteran USU. [serial online] 2004. [cited 20 Mei 2008]. Didapat
dari : http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi61.pdf
3. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC,
2003. p. 818-9
4. Waxman SG. Correlative Neuroanatomy. USA: Lange Medical Books, 2000.
p. 183-5
5. Duus P. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Jakarta:
EGC, 1994. p. 329-30
6. Agamanolis DP. Traumatic Brain Injury and Increased Intracranial Pressure.
Northeastern Ohio Universities College of Medicine. [serial online] 2003.
Didapat

dari

http://www.neuropathologyweb.org/chapter4/chapter4aSubduralepidural.html
7. PERDOSSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma
Spinal. Jakarta: PERDOSSI Bagian Neurologi FKUI/RSCM, 2006. p. 9-11
8. Ekayuda I. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta: Gaya Baru, 2006. p.
359-65, 382-87
9. Evans RW. Neurology and Trauma. Philadelphia: W.B. Saunders Company,
1996. p. 144-5

23