Anda di halaman 1dari 17

2

MANAJEMEN PROYEK
Pengantar
Setelah mempelajari Bab 1 yang berisi pengertian dasar manajemen, maka bab 2 ini akan
dilanjutkan dengan pengertian proyek sebagai suatu kegiatan khusus yang dapat dijumpai pada
pekerjaan konstruksi.
Dalam proyek konstruksi dikenal juga pihak-pihak yang berperan yaitu pemberi tugas, konsultan.
Banyak sekali permasalahan yang ditemukan di proyek, karena proyek itu sendiri merupakan
sesuatu yang unik. Antara proyek satu dengan lainnya berbeda.
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan memahami pengertian proyek. Lebih rinci lagi
setelah mempelajari teori Manajemen Proyek diharapkan Anda dapat:

Menyebutkan pengertian proyek dengan benar.

Menyebutkan urutan/ tahapan suatu proyek dengan benar.

Menyebutkan pihak-pihak yang berperan dalam suetu proyek Konstruksi.

2.1. Pengertian Proyek


PROYEK ialah suatu rangkain kegiatan yang bersifat khusus, untuk mencapai suatu hasil yang
bersifat khusus pula. Jadi proyek bukanlah merupakan sesuatu kegiatan rutin yang
dilakukan secara terus menerus, melainkan hanya menyangkut sesuatu jangka waktu
tertentu saja.

Definisi di atas juga berlaku untuk proyek-proyek pekerjaan umum atau dikenal dengan istilah
Pekerjaan Umum atau Konstruksi.
Proyek pelebaran jalan misalnya, kegiatan ini akan berakhir dengan telah selesainya seluruh jalan
raya yang dilebarkan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi terdapat pihak-pihak yang mengerjakan dan mengelola
konstruksi tersebut. karena proyek konstruksi dimulai dari pengumpulan data sampai dengan
pemakaian/ penggunaan bangunan, maka pihak-pihak yang berperan dalam suatu proyekpun cukup
banyak.
Masing-masing pihak tersebut mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab sendiri. Dalam
pelaksanaannya unsur-unsur ini saling berkaitan dan berhubungan mengikuti pola kerja yang sudah
ditetapkan.
Kerja sama dan kordinasi perlu dijalin antara pihak-pihak tersebut agalr diperoleh hasil bangunan/
konstruksi yang memenuhi keinginan semua pihak. Koordinasi dan kerjasama tersebut didasarkan
atas ketentuan/ persyaratan teknis maupun administratif. Ketentuan tersebut dapat berupa peraturanperaturan, undang-undand dan lain-lain yang mengatur pelaksanaan pekerajaan suatu bangunan.

2.2. Pihak-pihak yang Berperan dalam Proyek


Pihak-pihak yang berperan dalam suatu proyek adalah
1. Pemberi Tugas
Sering juga disebut dengan istilah principal, owner, employer, client, bouwheer dan lain
sebagainnya.
Adalah orang/ badan yang memberikan/ menyuruh memberikan pekerjaan bangunan dan
membayar biya pekerjaan bangunan.

2. Perencana
sering pula disebut Konsultan, designer, arsitek, insinyur, konsultan perencana dan lain
sebagainya.
Ialah orang/ badan yang membuat perencanaan lengkap dari suatu pekerjaan bangunan.
Perencana juga dapat perorangan atau perorangan yang berbadan hukum yang bergerak dalam
bidang perencanaan pekerjaan bangunan.
Yang dimaksud dengan badan hukum yaitu badan yang mempunyai akte pendirian perusahaan
dari seorang notaris.

3. Kontraktor

ialah orang/ badan yang menerima dan menyelenggarakan pekerjaan bersama bangunan menurut
biaya yang telah tersedia dan melaksanakan sesuai dengan peraturan dan syarat serta gambar
rencana yang telah ditetapkan.
Kontraktor juga dikenal dengan istilah pemborong bangunan, aanemer, rekanan.
Sub kontraktor ialah kelompok/ badan hukum yang melaksanakan sebagian pekerjaan
kontraktor atas dasar kemampuan khusus yang dimilikinnya.
4. Pihak-pihak yang berwenag
Yang termasuk diantarannya:

Pengawas

Pemberi pinjaman

Pejabat pemberi ijin

Pengawas ialah perseorangan atau badan hukum yang diberi wewenang oleh

pemberi tugas/

pemilik untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan oleh


kontraktor. Karena wewenangnya tersebut. Maka pengawas dapat memberikan ijin
pelaksanaan kepada kontraktor.
Pemberi Pinjaman ialah perseorangan atau badan hukum yang bergerak di bidang pinjammeminjam dana, baik swastra maupun pemerintah. Pemberi pinjaman berwenang
menilai kelayakan proyek, melanjutkan atau menghentikan pinjamannya.
Pejabat Pemberi Ijin adalah lembaga pemerintah yang berwenang memberikan ijin terhadap
perencanaan, pembangunan dan pengunaan bangunan proyek
Sebagai contoh pejabat pemberi ijin adalah Dinas Pengawas Pembangunan Kota
yang menerbitkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Ijin Penggunaan Bangunan.

Sasaran Utama dalam Manajemen Proyek :


1. Pengembangan dan penyelesaian sebuah proyek dalam anggaran/ budget yang telah ditentukan
dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan kulitas mutu pekerjaan yang sesuai dengan
spesifikasi teknis yang telah dirumuskan.
2. Bagi Kontraktor yang bonafide, dapat mengembangkan reputasi kualitas pekerjannya.
3. Menciptakan organisasi di kantor pusat dan di lapangan yang menjamin beroperasinya pekerjaan
secara tim/ kelompok dengan baik.
4. Menciptakan iklim kerja yang mendukung. Baik dari segi, kondisi kerja dan komunikasi timbal
balik yang terbuka antara atasan dan bawahan.

Dalam mencapai tujuan, suatu proyek sudah ditentukan batasan yaitu besar biaya (anggaran) yang
dialokasikan, dan mutu serta waktu (jadwal) yang harus dipenuhi.
Biaya : Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran (within budget).
Mutu : Produk proyek atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang
dipersyaratkan/sesuai mutu.
Waktu : Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah
ditentukan dalam penjadwalan (on schedule).

Tipe-tipe proyek konstruksi :


1. Konstruksi pemukiman
Misalnya :

Perumahan

Rumah Susun

Apartemen

Kondominium dsb.

2. Konstruksi Gedung
Misalnya :

Toko

Sekolah

Kantor

Tempat hiburan dsb.

3. Konstruksi Rekayasa Berat (Heavy engineering Construction)


Misalnya :

Bendungan

Terowongan

Pembangkit Listrik

Pelabuhan

Jalan raya dsb.

4. Konstruksi industri
Misalnnya :

Pabrik

Kilang minyak

Usaha Pengembangan

Tugas dan Kewajiban


Masing-masing pihak yang berperan dalam suatu proyek mempunyai tugas dan kewajiban sesuai
dengan fungsi dan kegiatannya dalam pelaksanaan bangunan.
1. Pemberi tugas
Tugas dan Kewajiban Pemberi Tugas Meliputi :
a. Menyediakan/ membayar sejumlah biaya yang diperlukan untuk terwujudnya suatu pekerjaan
bangunan.
b. Menerima hasil pekerjaan apabila sudah tidak keberatan.
Penerimaan dan persetujuan dapat dilaksanakan apabila pekerjaan bangunan telah selesai secara
keseluruhan atau dapat pula dikeluarkan per bagian. Sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara
pemberi tugas dan Kontraktor.
2. Perencana
Tugas dan kewajiban perencana :
a

Membuat sketsa gagasan/ pemikiran pertama

Membuat pra rencana

c. Membuat rencana pelaksanaan


d. Membuat gambar detail dan penjelasan lengkap, termasuk perhitungan konstruksinya.
e. Membuat peraturan dan syarat-syarat.
f. Membuat Rancangan Anggaran Biaya.
g. Melaksanakan pelelangan
Di samping itu. Konsultan/ perencana juga diberi tugas sebagai pengawas pekerjaan. Hal ini
dapat dimengerti, karena sebagai badan/ orang yang merencanakan pekerjaan, maka tentunya
perencana tersebut tahu apa yang dikerjakan kontraktor nantinya. Namun dapat juga antara
perencana dan pengawas dilaksanakan secara terpisah.
Sebagai pengawas maka tugas dan kewajibannya adalah sebagai berikut :
a. Memeriksa dan meneliti gambar-gambar yang dibuat kontraktor.
b. Menyusun laporan kemajuan pekerjaan (laporan harian, mingguan dan bulanan)
c. Menyiapkan, membimbing dan mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan.
d. Menyelenggarakan surat-surat yang berhubungan dengan pekerjaan.
e. Mengukur, meneliti dan memeriksa pembayaran angsuran biaya pelaksanaan pekerjaan.
f. Membuat gambar-gambar tambahan bila dipandang perlu.
g. dan menghitung kemungkinan adanya pekerjaan tambahan dan kurang.
h. Mengawasi dan menguji kualitas/ mutu bahan bangunan.
i. Menyiapkan dan menyusun berita acara pekerjaan.
j. Membuat gambar-gambar revisi.

1. Kontraktor
Tugas dan kewajiban kontraktor meliputi :
a. Melaksanakan pekerjaan berdasarkan gambar rencana dan persyaratan teknis, risalah
penjelasan pekerjaan dan peraturan lain yang ditetapkan sebelumnya.
b. Menyerahkan pekerjaan apabila pekerjaan telah selesai secara keseluruhan atau dapat pula
diserahkan per bagian pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Oleh karena proyek merupakan sesuatu rangkaian kegiatan untuk mendapatkan sesuatu hasil
tertentu, maka dengan sendirinnya sebelum disusun dan ditetapkan sesuatu proyek, terlebih
dahulu harus diadakan penelitian dan evalusai tentang apakah hasil tertentu yang ingin dicapai itu
benar-benar bermanfaat atau tidak.
Itulah yang kita kenal dengan istilah studi kelayakan proyek. Studi kelayakan merupakan bagian
awal dari suatu proyek.

2.3. Tahapan Proyek


Urutan proyek yang lain akan dibicarakan berikut ini:
1. Gagasan

(Inception)

2. Studi kelayakan

(Feasibility study)

3. Garis Besar Usulan

(Outline Proposal)

4. Desain Bagan

(Scheme Design)

5. Desain Terperinci

(Detail Design)

6. Informasi Produksi

(Production Information)

7. Anggaran Biaya

(Cost Estimation)

8. Kegiatan Lelang

(Tender Action)

9. Persiapan Proyek

(Project Preparation)

10. Pekerjaan di Lapangan

(Site Construction)

11. Penyelesaian

(Finishing)

Uraian masing-masing tahapan :


1.

Gagasan
Yaitu tahapan untuk mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan untuk membangun dan
menunjuk perencanaan arsitek.
Pihak yang berkepentingan :
Pemilik
Perencana/ Arsitek
Tugas pemilik :
1. Memperimbangkan kebutuhan untuk membangun.

2. Menyusun Organisasi
3. Menunjuk Perencana
4. Bertukar informasi dengan perencana
Tugas perencana/ arsitek :
1. Mendapatkan informasi latar belakang kebutuhan proyek dari pemilik/ pemberi tugas.
2. Memberi keterangan kepada pemilik mengenai tanggung jawab pekerjaannya, kontrak dan
honor arsitek.
3. Mendapatkan peta lapangan dan mengunjungi lokasi.
4. Melakukan koordinasi dengan anggota kelompok lainnya (tim perencana).
5. Mempersiapkan jawaban atas kebutuhan biaya dan waktu.

2.

Studi Kelayakan
Yaitu tahapan untuk memperoleh gambaran tentang kemungkinan apa yang akan terjadi dengan
proyek tersebut. Apakah proyek yang akan dibangun akan memberikan manfaat secara
komersial atau yang bersifat non-komersial.
Hasil studi kelayakan merupakan manfaat yang sangat berharga bagi pemilik proyek/ pemberi
pinjaman dalam rangka memudahkan pengambilan keputusan apakah proyek yang
bersangkutan dapat di pertanggungjawabkan pelaksanaanya untuk layak dibangun atau tidak.
Dalam melakukan studi kelayakan, maka akan ditinjau dari berbagai aspek/segi.
1. Aspek teknis/ teknologi
2. Aspek yuridis
3. Asdpek sosial/ Lingkungan hidup
4. Aspek ekonomis

Uraian masing-masing aspek.


1. Aspek teknis/teknologi
Yaitu meneliti serta mengevaluasi apakah hasil tertentu tang akan dicapai memang
memungkinkan untuk dicapai dan menggunakan teknologi yang ada. Bilamana dapat
dicapai dengan menggunakan teknologi yang ada, maka proyek tersebut dikatakan layak
untuk dilaksanakan.
Hal-hal yang diuraikan dalam aspek ini adalah :

Tipe fasilitas yang akan diberikan

Pemilihan lokasi

Jenis teknologi yang dipakai

Pengalaman kerja yang didapat dari proyek yang sejenis

Sumberdaya manusia yang tersedia

Pengadaan bahan material

2. Aspek Yuridis/ hukum


Yaitu meneliti dan mengevalusai apakah hasil terrentu yang ingin dicapai tersebut memang
dibenarkan oleh peraturan-peraturan hokum yang berlaku. Bilamana memang dibenarkan
oleh peraturan tersebut. Maka proyek tersebut dikatakan layak.
Aspek ini juga membahas mengenai pengegahan secara awal pengaruh negatif yang akan
timbul dikemudian hari.

3. Aspek Sosial dan lingkungan Hidup


Yaitu meneliti dan mengevalusai apakah hasil tertentu yang akan dicapai akan memberikan
dampak positif atau memberikan dampak sosial yang negatif.
Bilamana akan memberikan dampak positif, maka proyek tersebut dapat dikatakan layak.
Aspek ini juga membahas mengenai pengegahan secara awal pengaruh negative yang akan
timbul di kemudian hari.

3. Aspek Ekonomis
Yaitu meneliti serta mengevaluasi apakah hasil yang ingin dicapai memang menguntungkan
secara ekonomis.
Bilamana menguntungkan maka proyek dapat dianggap layak untuk dilaksanakan.
Pengertian menguntungkan dapat diuraikan antara lain:

Penciptaan lapangan kerja baru

Meningkatkan penghasilan secara nasional

Merangsang peningkatan standar kehidupan lingkungannya

Masing-masing pihak mempunyai tugas yang berbeda dalam hidup studi kelayakan:
Tugas pemilik :
1. Melengkapi seluruh informasi yang dibutuhkan perencana/ arsitek
2. Menerima hasil/ laporan kelayakan, merundingkan dan mempertimbangkan keputusan
proyek
3. Menyetujui jadwal waktu, metode kerja bagi tahapan berikutnnya, Prosedur pelelangan dan
penyusunan kontrak.

Tugas perencana/ arsitek


1. Mengorganisir kelompok perencana, menetapkan tugas dan tanggung jawab serta
mempersiapkan rencana kerja dan jadwal waktu.
2. Mendapatkan seluruh informasi yang berkaitan dengan tahap kelayakan menggunakan
daftar pertanyaan (kuisioner).
3. Melakukan studi lapangan mengenai kondisi setempat, pencatat geologi, gambaran curah
hujan.
4. Mengatur pertemuan/ rapat-rapat

3. Garis Besar Usulan


Merupakan tahap kelanjutan kelayakan, di mana pemilik proyek mengambil keputusan
mengenai kelanjutan proyek.
Isi pokok tahapn ini adalah:
Menetapkan usulan pokok tentang ukuran bangunan/ luas bangunan, bhan dan informasi lain
untuk kebutuhan perencanaan.
Tugas pemilik :
1. Melengkapi seluruh informasi yang dibutuhkan ahli/ arsitek
2. Mengambil keputusan mengenai kelanjutan proyek
3. Menerima laporan dari perencana dan memberi tugas utk pekerjaan berikut
Tugas perencana :
1. Mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan
2. Mengatur kemajuan proyek
3. Menyusun dokumen tender/ RKS
4. Mengadakan penelaahan/ studi mengenai lapangan, penyelidikan lapangan, penyelidikan
tanah, jenis dan metode struktur, pondasi dan lain-lain.
5. Memberi informasi kepada Quantity Surveyor tentang struktur dan jenis bahan untuk
penyusunan garis besar rencana kerja

Tugas Quantity Surveyor :


1. Mendapatkan informasi untuk perhitungan biaya proyek
2. Menentukan batas biaya dan memberikan perkiraan biaya
3. Menyusun dasar-dasar yang digunakan untuk pengendalian biaya.
Tugas Kontraktor (jika ada)
Meninjau lokasi dan menyelidiki tentang :

Kondisi tanah, Jalan, keadaan tenaga kerja, keadaan sub kontraktor, mandor dan suplier
setempat.

4. Desain bagan (Scheme Design)


Adalah tahapan penyusan dasar-dasar untuk perencanaan (basic design) misalnya: menentukan
perencanaan letak bangunan, perencanaan peralatan kerja yang digunakan, gambar-gambar
bangunan, persiapan rencana biaya, pengembangan akhir usulan-usulan.
Setelah tahapan ini, sebaiknya pembicaraan dan usulan-usulan tidak diubah lagi.
Pada tahap Rancangan Skematik ini, perencana/ arsitek akan mencari konsepsi dasar desain/
rencangan yang terbaik, yang mampu memenuhi persyaratan program rancangan. Pola dan
bentuk arsitektur bangunan diujudkan dalam bentuk gambar-gambar dan nilai fungsional
dalam bentuk diagram-diagram.

Sasaran tahapan ini :


1. Membantu pemilik dalam memperoleh pengertian yang lebih mendalam atas program
rancangan yang dirumuskan oleh perencana.
2. Mencari konsepsi desain dalam jangka waktu yang paling singkat dengan biaya yang
paling ekonomis.
3. Untuk memperoleh keselarasan pengertian yang lebih mendalam atas konsepsi desain
serta pengaruhnya terhadap kelayakan proyek.
4. Membantu pemilik dalam rangka memperoleh IMB dari pemerintah daerah setempat.

Tugas pemilik :
Menerima laporan dari perencana mengenai rencana/ skematis dan memberi tugas
berikutnya.
Tugas perencana :
1. Menjelaskan bagian-bagian penting kepada pemilik, mengurus dan mengatur kemajuan
proyek sampai tahapan ini.
2. Mempelajari laporan kelompok ahli, termasuk perkembangan desain, menerangkan
garis besar program dan membuat RKS.
3. Melakukan berbagai studi mengenai :
Ijin-ijin dari pejabat setempat.
Ijin Mendirikan Bangunan.
4. Mempelajari seluruh rencana gambar, program rancangan dan perhitungan struktur
biaya.

5. Membantu Quantity Surveyor dalam merencanakan biaya akhir


Tugas Quantity Surveyor :
1. Mengadakan biaya studi perbandingan.
2. Mempelajari biaya kasar dari seluruh biaya perencanaan.
3. Membuat rencana biaya akhir.

Tugas Kontraktor (jika ditunjuk) :


Melakukan studi mengenai:
1. Mempertimbangkan program pelaksanaan.
2. Usulan sub kontraktor dan supplier.

5. Desain Terperinci (Detail Design):


Adalah tahapan di mana perencana menerjemahkan konsep design/ rancangannya ke dalam
rancangan tetap dalam bentuk gambar dan uraian teknis yang terinci sehingga dapat
mendukung pemilihan kontraktor/ pemborong. penugasan pemborong dan pengawasan
pelaksanaan pembangunan.
Sistem kontruksi/ struktur, instalasi mekanikal dan elektrikal dipertimbangkan kelayakannya
dan kelaikannya baik secara tersendiri maupun menyeluruh/ terpadu.
Bahan bangunan dijelaskan secara garis besar dengan mempertimbangkan nilai manfaat,
ketersediaan, konstruksi dan nilai ekonomis. Kemudian dilakukan penetapan bahan yang
dipakai.
Sasaran tahap Desain Terperinci:
1. Untuk memastikan dan menguraikan ukuran serta wujud karakter proyek secara
menyeluruh dan terpadu.
2. Untuk mematangkan konsepsi desain/ rancangan secara keseluruhan terutama ditinjau
dari segi kelayakan dan fungsi, estetika dan ekonomi bangunan.
3. Untuk memperoleh kejelasan teknik pelaksanaan pembangunan agar rancangan yang
tercermin dalam rancangan tetap dapat diwujudkan secara fisik dengan baik.
Setiap perubahan dalam hal ukuran, lokasi, bentuk atau biaya setelah tahapan ini
diselesaikan akan mengakibatkan kegagalan pekerjaan/ proyek
Tugas pemilik:
1. Melengkapi detail akhir yang diperlukan perencana.
2. Membuat keputusan tentang hal-hal yang perlu.
Tugas perencana:

1. Membuat gambar-gambar untuk pelelangan, kemudian disusul dengan gambar-gambar


untuk pelaksanaan.
2. Membuat perencanaan tata letak bahan bangunan, perencanaan peralatan kerja yang
digunakan, jangka waktu pelaksanaan dan cara pelaksanaan yang dipakai.
3. Membantu Quatity Surveyor dalam menyiapkan volume pekerjaan dan RAB.

Tugas Quantity Surveying:


1. Mempelajari biaya dan pemeriksaan biaya
2. Membuat laporan pemeriksaan harga sementara
Tugas Kontraktor (jika ditunjuk):
Memeriksa seluruh informasi yang diberikan perencana dan Quantity Surveyor. Misalnya :
RAB, waktu pelaksanaan.

2. Informasi Produksi (Production Information)


Adalah tahapan pembuatan Dokumen Pelaksanaan. Perencana/ arsitek akan menterjemahkan
kensepsi desain/ rancangan yang terkandung dalam rancangan tetap ke dalam gambar dan uraian
teknis yang terinci sehingga dapat mendukung proses pemilihan kontraktor, penugasan
kontraktor, pelaksanaan pembangunan dan pengawasan
Perencana akan menyajikan Dokumen Pelaksanaan dalam bentuk gambar kerja dan tulisan
spesifikasi dan syarat teknis yang jelas, lengkap dan teratur. Perhitungan kuantitas pekerjaan
dan perkiraan biaya pelaksanaan yang jelas, tetap dan terinci.
Sasaran tahap Informasi Produksi
1. Untuk memperoleh kejelasan kuantitatif agar biaya dan waktu pelaksanaan pembangunan
dapat dihitung dengan seksama dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Untuk memperoleh kejelasan teknis dalam bidang administrasi pelaksanaan pembangunan
dan memenuhi persyaratan yuridis yang terkandung dalam Dokumen Pelelangan dan
Dokumen Kontrak
Tugas perencana:
1. Menyusun spesifikasi akhir dan syarat-syarat teknis pembangunan.
2. Menyiapkan pelelangan
Tugas Kontraktor (jika ditunjuk):
1. Menyelidiki/ mengamati tempat pengadaan barang/ bahan penting dan mencari tempat
cadangan yang diperlukan.
2. Menyetujui penempatan pesanan barang.

Produk tahap ini:


1. Gambar kerja
2. Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS/ Spesifikasi)
3. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Dalam hal ini perencana berdasarkan gambar dan spesifikasi yang telah dibuat menghitung
RAB. Gunanya adalah sebagai patokan biaya dalam memilih kontraktor.

3. Kegiatan Lelang (Tender Action)


Tujuan pokok pelelangan adalah:
1. Memilih kontraktor
2. Memperoleh penawaran biaya pelaksanaan pembangunan yang wajar serta memenuhi syarat
sehingga pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan dengan baik.
Pada tahap kegiatan lelang ini perencana membantu pemilik dalam hal:

Mempersiapkan dokumen pelelangan

Melakukan praseleksi terhadap kontraktor yang akan diundang.

Membagikan dokumen pelelangan

Memberikan penjelasan dan petunjuk lelang.

Menerima penawaran kontraktor

Memberikan nasehat dan rekomendasi pemilihan kontraktor

Menyusun surat perjanjian antara pemilik dan kontraktor.

Urutan pelelangan dan perkiraan waktu lelang:


Pengumuman Pendaftaran lelang

> 3 hari

Pendaftaran Lelang Pengambilan Dokumen Lelang

3-5 hari

Pengambilan Dokumen Lelang Penjelasan/ aanwisjing

3-4 hari

Penjelasan Pemasukan penawaran

> 7 hari

Pemasukan penawaran Pembukaan penawaran

--

Pembukaan penawaran Penetapan calon pemenang

7 hari

Penetapan Calon Pemenang Penetapan pemenang

5 hari

Penetapan pemenang Pengumuman pemenang

2 hari

Pengumuman Pemenang - Masa Sanggahan

5 hari

Masa Sanggahan Jawaban sanggahan

5 hari

Jawaban sanggahan Penunjukan pemenang

4-10 hari

4. Persiapan Proyek (Project Preparation)

Tahapan

ini,

kontraktor

mempersiapkan

untuk

melaksanakan

pekerjaan

proyek.

Penandatanganan kontrak pekerjaan dilakukan pada tahap ini antara pemilik dan kontraktor.
Tugas pemilik:
1. Menyiapkan pengaturan keuangan untuk pembiayaan proyek
2. Memeriksa dokumen kontrak dan menandatanganinya
3. Menyiapkan asuransi untuk hal-hal penting
4. Menyiapkan penyerahan tempat/ lapangan kepada kontraktor
Tugas Perencana/ arsitek:
1. Meneliti gambar dan dokumen kontrak
2. Mengatur penandatanganan kontrak antara kontraktor dan pemilik
3. Mengetahui batas-batas akhir pekerjaan kontraktor
4. Membuat usulan mengenai sub-kontraktor dan supplier.
Tugas Quantity Surveyor:
Membantu persiapan pembuatan dokumen untuk administrasi proyek

Tugas kontraktor:
1.

Memeriksa dokumen kontrak dan menandatanganinya

2.

Menunjuk staf lapangan

3.

Mengatur/ menyiapkan asuransi pekerja

4.

Merencanakan program pelaksanaan lapangan bersama dengan sub-kontraktor

5.

Menyiapkan permulaan kerja.

5. Pekerjaan di lapangan (Construction in Site)


Kontaktor akan melaksanakan pekerjaan setelah diberikan surat perintah kerja (SPK). Konsultan
Pengawas mengadakan pengawasan terhadap pekerjaan kontraktor.
Arsitek melakukan tinjauan secara berkala di proyek dan mengadakan pertemuan secara teratur
dengan pemilik dan kontraktor.

Sasaran pengawasan berkala:


1. Untuk membantu pemilik dalam merumuskan kebijaksanaan pada waktu pelaksanaan
pembangunan, khususnya masalah-masalah yang berhubungan dengan rancangan yang
dibuat perencana/ arsitek.
2. Untuk membantu pengawas yang ditunjuk pemilik, khususnya dalam menghadapi masalah
pembangunan.

3. Untuk ikut memastikan bahwa pelaksanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan


ketentuan kualiitatif yang terkandung dalam RKS.
Tugas pemilik:
1. Menyerahkan lapangan kepada kontraktor
2. Memegang teguh kontrak dalam jangka waktu yang ditentukan.
Tugas perencana/ arsitek:
1. Memeriksa/ mengawasi pelaksanaan pekerjaan secara berkala
2. Memberikan penjelasan tambahan untuk memperjelas maksud dan pengertian yang
ditetapkan dalam Dokumen Kontrak.
3. Membuat gambar-gambar atau syarat-syarat tambahan untuk menyesuaikan dengan keadaan
di langangan.
4. Memeriksa dan bila perlu memperbaiki atau menyuruh memperbaiki gambar kerja yang
dibuat oleh kontraktor atau pihak ketiga untuk pelaksanaan pekerjaan fisik konstruksi.
5. Mengevaluasi laporan pengawasan dan pelaksanaan untuk kepentingan pemilik.
Tugas kontraktor:
6. Mengambil alih kewenangan di lapangan
7. Memberitahukan kepada perencana mengenai metode konstruksi
8. Memberi tahu perencana tentang kemungkinan tuntutan mengenai perubahan pekerjaan,
perpanjangan waktu dan penggantian biaya.
9. Memelihara kemajuan pekerjaan
10. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam RKS
Tugas pengawas:
1. Mengawasi secara teratur kualitas pekerjaan
2. Membuat catatan harian yang memuat jumlah pekerja, perlengkapan/ peralatan yang
digunakan, kondisi cuaca, keselamatan pekerja dan lain-lain.
3. Memeriksa dan mengawasi secara cermat terhadap pekerjaan penting.

6.

Penyelesaian (Finishing)
Adalah tahap akhir dari suatu proyek. Pada tahapan ini semua pihak baik pemilik, perencana/
pengawas dan kontraktor akan mengevaluasi hasil pekerjaan kontraktor. Evaluasi ini perlu
sebelum kontraktor menyerahkan hasil pekerjaan/ produk bangunan kepada pemilik.
Kegiatan ini juga untuk menentukan apakah masih ada hasil pekerjaan yang masih harus
diperbaiki dalam masa pemeliharaan.

Latihan:
1. Apa bedanya konsultan perencana dan konsultan pengawas?

2. Apa tujuan pokok kegiatan pelelangan?


3. Mengapa dalam membangun proyek diperlukan adanya studi kelayakan terlebih dahulu?
4. Apakah yang dimaksud dengan bouwheer itu?

Rangkuman:
PROYEK ialah suatu rangkaian kegiatan yang bersifat khusus untuk mencapai suatu hasil yang
bersifat khusus pula. Jadi proyek bukanlah merupakan kegiatan rutin yang dilakukan secara terus
menerus, melainkan hanya menyangkut sesuatu jangka waktu tertentu saja.
Pihak-pihak yang berperan dalam suatu proyek:
1. Pemberi Tugas
2. Perencana/ arsitek
3. Kontraktor dan sub kontraktor
4. Konsultan Pengawas
5. Pihak-pihak yang berwenang
Terdapat urutan tahap proyek yang merupakan urutan secara logis proyek.

LEMBAR JAWABAN
LATIHAN BAB 2 MANAJEMEN PROYEK