Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL PENELITIAN

KATA PENGANTAR

Masalah sampah di daerah perkotaan terutama yang memiliki laju pertumbuhan penduduk
yang pesat dan tinggi pengembangan kegiatannya, patut menjadi perhatian serius mengingat
berbagai macam gangguan lingkungan yang dapat ditimbulkannya. Selain kurangnya kemampuan
pemerintah daerah dalam mengelola sampah, masalah sampah antara lain juga disebabkan oleh
kecenderungan masyarakat kota yang memiliki gaya hidup konsumtif.

Mereka, terutama

masyarakat kelas menengah ke atas lebih memilih untuk membeli barang dengan kemasan yang
bagus tetapi sulit didaur-ulang. Sehingga di daerah permukiman biasanya didominasi oleh sampah
kemasan dibanding dengan sampah organiknya. Pada umumnya pandangan masyarakat terhadap
sampah sampai saat ini adalah sebagai sisa kegiatan manusia yang tidak bermanfaat dan cenderung
harus dibuang. Seringkali mereka rela membayar mahal agar rumahnya bebas dari sampah,
membuangnya jauh-jauh dari rumah tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi kemudian. Upaya
3 M (Mengurangi, Menggunakan kembali, dan Mendaur-ulang) belum terlalu disadari oleh
masyarakat, dan menganggap bahwa tanggung-jawab kebersihan lingkungan berada di tangan
Pemerintah Kota.
Di Indonesia, terutama di kota-kota metropolitan dan besar, upaya mendaur-ulang sampah
anorganik yang dilakukan oleh laskar mandiri contohnya, (pemulung) sungguh sangat
mengesankan. Hal ini diakui pula oleh beberapa negara yang mengamati cara kerja pemulung di
Indonesia seperti Jerman dan Jepang. Sebagai contoh, di Jakarta pada tahun 1988 lebih dari
21.000 m3 sampah dihasilkan per hari, 25% di antaranya atau 2.000 ton berhasil didaur-ulang oleh
sekitar 37.000 pemulung. Pada tahun tersebut, pemulung Jakarta telah memasok sekitar 20.000
ton kertas bekas kepada 11 pabrik kertas, dan menyediakan 90% dari bahan mentah kelas dua

dalam industri tersebut. Pada tahun 1994 paling sedikit 78 pabrik di Jabotabek memanfaatkan
barang bekas dari plastik, kertas, kaca dan logam. Daur-ulang kaca dan kertas mencapai 60-80%.
Berdasarkan studi PPLH-ITB, tahun 1988 di Bandung sekitar 5-15% sampah anorganik
berhasil diserap oleh pemulung untuk didaur-ulang menjadi bahan baku industri. Di Surabaya,
sesuai dengan laporan JICA (1992), sampah anorganik yang berhasil didaur-ulang oleh pemulung
berkisar 17% dari total timbulan sampah.

2.1 DAMPAK LINGKUNGAN

Dewasa ini masalah sampah merupakan penomena sosial yang perlu mendapat perhatian
dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduk sampah, disisi lain masyarakat tidak
ingin berdekatan dengan sampah. Banyak contoh di beberapa daerah, yaitu sampah tidak dikelola
dengan rutin berakibat pada tumpukan sampah yang berdampak pada lingkungan dan gangguan
kesehatan, bahkan bisa saja terjadi merenggut nyawa dari ledakan gas sampah di tempat
pembuangan akhir.
Selain itu pula pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang
menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena
sampah bertebaran dimana-mana.
 Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
 Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan
masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk

mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya
produktivitas).
 Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan
dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti
tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang
atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan
jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki

2.2 RUANG LINGKUP


Perencanaan pengelolaan sampah plastik ini direncanakan dalam ruang lingkup :
1. Jenis sampah yang dikelola adalah sampah yang berasal dari rumah tangga (sampah domestik)
2. Penanganan pengelolaan sampah yang direncanakan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pemilahan sampah organik dan anorganik
b. Daur ulang sampah anorganik
c. Pongomposan sampah organik
3. Perencanaan Material Recovery Facility (MRF).

PEMBAHASAN

3.1 MENGENAL SAMPAH


3.1.1 SAMPAH ORAGANIK
Sampah Organik adalah sampah yang dapat diuraikan, salah satu contoh dari sampah
organik adalah sampah dapur dan kotoran. Karena mudah di uraikan sampah organik tidak
mengambil peran penting dalam penumpukan sampah yang terjadi saat ini.
Contoh Sampah Organik :
1. Sisa makanan;
2. Sisa sayuran dan kulit buah-buahan;
3. Sisa ikan dan daging;
4. Sampah kebun (daun-daunan, rumput, dan sampah yang mudah busuk lainnya).

3.1.2 SAMPAH ANORGANIK


Salah satu contoh sampah Anorganik adalah plastic, plastik mempunyai banyak manfaat,
tetapi plastik juga memiliki sisi gelap. Mereka telah menjadi momok di lingkungan dengan
kantong plastik dan botol memenuhi, mengotori jalan jalan dan manufaktur dari plastik
menyebabkan pencemaran lingkungan dengan bahan kimia berbahaya dan membahayakan
kesehatan.
Beberapa plastik yang menjadi lebih buruk daripada yang lain ketika datang mengotori
lingkungan, namun peningkatan jumlah plastik dapat dikurangi dengan didaur ulang.
Banyak orang yang tidak tahu, sebenarnya plastik yang mempunyai tanda panah segitiga tidak
semuannya dapat didaur ulang. Ini merupakan kesalah pahaman besar. Sebenarnya tanda segitiga

panah dalam plastik menunjukan bahan yang digunakan. Dan kebanyakan dari kita
menganggapnya sebagai tanda recycle saja.
Jenis-jenis plastik:
1. PET atau PETE adalah polyethylene terephtalate. Plastik ini digunakan untuk membuat
sebagian besar botol plastik dan kontainer dari minuman, dan juga digunakan untuk salad dressing
kontainer, botol minyak sayur dan tempat makanan ovenproof. PET dapat didaur ulang menjadi
pakaian,

tote

bags,

furniture,

karpet,

hiasan

jalur,

dan

kontainer

baru.

Bersama dengan botol berlabel code. mereka membentuk 96 persen dari semua kontainer dan botol
plastik di Amerika Serikat, menurut U.S plastic trades association.
2. HDPE adalah polyethylene densitas tinggi, plastik serbaguna yang dapat didaur ulang.
Digunakan untuk membuat botol detergen dan pemutih, botol jus, botol oli motor, tempat mentega
dan yogurt, beberapa kantong sampah dan kotak cereal. dapat didaur ulang lagi menjadi botol dan
kontainer, lantai keramik. pipa drainase, kandang dan outdoor mebel.
3. Vinyl /PVC atau V atau Polyvinyl chloride yang keras dan tahan cuaca. PVC mengandung
khlor, yang berarti bahwa beberapa berbahaya karena dioxins diproduksi selama manufaktur.
Digunakan untuk membuat beberapa kontainer dan botol untuk deterjen dan minyak goreng, serta
jendela, pipa saluran, kawat jacketing, dan bungkus makanan cerah. sering di daur ulang oleh
masyarakat, namun dapat didaur ulang untuk embuat mudflaps, lantai, dan cabbles tikar/keset,
dsb.
4: LDPE adalah low density polyethylene dan memiliki banyak aplikasi. Sering ditemukan
dalam botol, tote bags. umumnya dapat di daur ulang untuk bil pesawat milik maskapai, tong
penyimpan pupuk kompos, bahan untuk lantai dan bahan bangunan.

5. PP adalah Polypropylene umum ditemukan dalam tutup botol, yogurt kontainer, botol
saus, dan straws. memiliki titik lebur yang tinggi dan dapat digunakan untuk tempat cairan panas.
Dapat didaur ulang dan merupakan bagian dari pertumbuhan jumlah program daur ulang kota yang
kemudian lebih berbelok tutup botol dan item lainnya termasuk kabel baterai, wadah, tong dan
nampan.
6. PS adalah polystyrene. yang biasa dikenal dengan merek dagang Styrofoam. styrene itu
ada di mana-mana dalam kontainer barang dan daftar pada banyak kelompok environental. Styrene
telah diklaim oleh banyak anti-waste dan kelompok kesehatan bahwa polystyrene dapat
melepaskan toksin ke dalam makanan. agen perlindungan lingkungan hidup AS menyatakan
bahwa styrene memiliki efek yang merugikan kesehatan. Dapat didaur ulang dan digunakan untuk
membuat insulasi.
7. Other/Lainnya/Polycarbonate, klasifikasi ini meliputi berbagai plastik bukan Resins yang
cocok ke dalam kategori lainnya. Produk yang sering mengandung sejumlah plastik. Lainnya
adalah produk yang digunakan untuk membuat iPod, DVD, kacamata hitam, Anti-peluru dan galon
air 5 liter. jenis plastik ini tidak mudah untuk didaur ulang, namun dapat dilakukan.

3.2 MATERI MATERI YANG DAPAT DI DAUR ULANG

Apapun contoh dari materi materi yang dapat didaur ulang di golongkan kedalam beberapa
kelompok.
1.

Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup,.

2.

Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran,

3.

Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.

majalah, kardus

4.

Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll.

5.

Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll

6.

Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

Namun bila dilihat kembali dalam segi proses masih banyak juga sampah sampah dan barang yang
tidak berguna lain yang masih mempunyai nilai guna, antara lain :
1.

Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan dengan mesin penghancur,

terkadang bersamaan dengan aspal, batu bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar bisa dipakai
menjadi pelapis jalan semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan
bangunan baru semacam bata.
1.

Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini relatif sulit.

Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki perhatian khusus dalam
pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih mengandung merkuri dan kadmium, harus
ditangani secara lebih serius demi mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia.
Baterai mobil umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.
1.

Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone umumnya tidak didaur

ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya. Material yang dapat didaur ulang dari
barang elektronik misalnya adalah logam yang terdapat pada barang elektronik tersebut
(emas, besi, baja, silikon,

dll)

ataupun bagian-bagian

yang

masih

dapat dipakai

(microchip, processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan utama dari proses daur ulang,

yaitu kelestarian lingkungan, sudah jelas dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang
pada bahan ini meski manfaat ekonominya masih belum jelas.
1.

Logam
Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia. Termasuk salah

satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet.
Daur ulang meliputi proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan kembali.
Hasil

yang

didapat

tidak

mengurangi

kualitas

logam

tersebut.

Contoh lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di dunia.
Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam
tersebut, menjadikan logam sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.

POKOK PEMBAHASAN

KEUNTUNGAN DAUR-ULANG SAMPAH ANORGANIK

Selain membantu penanganan sampah di perkotaan, upaya daur-ulang sampah anorganik


yang dilakukan masyarakat di Indonesia memiliki beberapa fungsi dalam aspek lingkungan dan
ekonomi yang seringkali diabaikan oleh berbagai pihak.
Besar.Pengelolaan sampah dapat dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam .salah
satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan cara mendaur ulang sampah-sampah tersebut.
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan
pemilahan, pengumpulan , pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas
pakai, Maanfaat lain yang dirasakan dalama mendaur ulang sampah antara lain :
1.

Mengehemat sumber daya alam

2.

Mengehemat Energi

3.

Mengurangi uang belanja

4.

Menghemat lahan TPA

5.

Lingkungan asri

4.1

Aspek Lingkungan

4.1.1 Penghematan Sumber Daya Alam


Pemenuhan bahan baku pabrik dari hasil daur ulang sampah menyebabkan penggunaan
bahan baku yang berasal dari alam menjadi berkurang dan dapat ditekan. Selanjutnya bahan baku
dari alam dapat digunakan untuk proses produksi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Sebagai

contoh, setiap ton daur-ulang baja dapat menghemat 1,5 ton biji besi dan 3,6 barel minyak atau
menghemat 67% energi.
4.1.2

Pengurangan Pencemaran Lingkungan


Beberapa

keunggulan

daur-ulang

sampah

anorganik

yang

berkaitan

dengan

penanggulangan pencemaran lingkungan antara lain adalah sebagai berikut:


1.

Mendaur-ulang 1 ton kertas koran akan menyelamatkan 17 pohon dan menggunakan kertas

daur-ulang dapat mengurangi 74% pencemaran udara, 34% pencemaran air, dan menghemat
energi hingga 67%.
1.

Usaha daur-ulang sampah anorganik seperti kaca, plastik, kertas koran, kaleng, besi, dapat

mengurangi tumpukan sampah kota hingga 25%.

4.1.3
1.

Aspek Ekonomi
Menghemat Biaya Operasional Pengelolaan Sampah
Daur-ulang sampah anorganik telah terbukti dapat mereduksi biaya pengangkutan dan

pembuangan akhir. Sebagai contoh, di Bandung laju daur-ulang sampah anorganik di 38 TPS yang
ada adalah sekitar 37.204 kg per minggu atau 1.939.923 kg per tahun. Biaya satuan pengangkutan
dan pembuangan akhir untuk setiap ton sampah di Kota Bandung adalah sebesar Rp.58.540,- dan
Rp.17.700,-, maka biaya pengelolaan sampah yang dapat dihemat bisa mencapai Rp. 147 juta
setiap tahun. Bila diasumsikan laju daur-ulang sampah anorganik meningkat sampai 20% dari total
sampah anorganik yang masuk ke TPS, maka biaya yang dapat dihemat mencapai Rp. 379 juta per
tahun.
1.

Menciptakan Lapangan Kerja

Hasil studi CPIS (1988) menyebutkan bahwa seorang pemulung di Jakarta mampu
mengumpulkan rata-rata 35 kg sampah per hari. Apabila penyerapan pemulung terhadap total
produksi sampah kota sebesar 25%, maka di Jakarta saja yang menghasilkan sekitar 6.000 ton
sampah per hari mampu menciptakan lapangan kerja di sektor informal bagi 40.000 pemulung
dan bidang pekerjaan lainnya.
Dari Nara Sumber yang didapatkan juga, para pekerja yang bergelut dalam daur ulang
sampah mampu menghasilkan penghasilan yang menggiurkan, dimana sampah yang mempunyai
nilai guna dan daya jual 0, dirubah menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai seni tinggi
Selain itu kegiatan daur-ulang sampah anorganik mampu menciptakan usaha bagi pelapak,
bandar dan pemasok. Dengan asumsi dasar bahwa seorang pelapak membeli dari 15,5% pemulung
setiap harinya (CPIS, 1988), maka kegiatan daur-ulang sampah mampu menciptakan usaha bagi
sekitar 2.500 pelapak di Jakarta, dengan keuntungan bersih yang relatif cukup besar, yaitu
Rp.32.445,- setiap hari.
1.

Menyediakan Bahan Baku Bagi Industri Daur-Ulang Sampah


Hasil penyortiran sampah oleh pemulung akhirnya akan disetorkan ke pabrik pengolah

bahan sampah sebagai bahan baku kelas dua.


Sebagai contoh di Indonesia terdapat dua pabrik kertas berskala besar yang membutuhkan
bahan baku dari sampah kertas sebesar 50 ton per hari (PT. Gunung Jaya Agung) dan 1.000 ton/hari
(PT. Sinar Dunia Makmur). Dari kedua pabrik kertas tersebut, kebutuhan bahan baku yang dipasok
dari pemulung atau distributor lapak sampah mencapai 378.000 ton setiap tahun yang berarti
penghematan sejumlah 6 juta pohon yang seharusnya ditebang sebagai bahan baku kertas.
Dengan demikian pemulung sebagai salah satu sektor informal telah memberikan andil
dalam pengembangan industri dalam fungsinya sebagai pemasok bahan baku industri daur-ulang.

4.2 MENINGKATKAN PERAN ALAM DAN LINGKUNGAN SEKITAR

Alam merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita, sebab alam selalu memberikan
yang terbaik dalam kehidupan kita namun terkadang kita lupa dan kurang menghargai alam
padahal tanpa kita sadari kita sangat bergantung pada alam. Dan lebih parahnya mreka hanya mau
memanfaatkan alam seenaknya contohnya mengambil hasil hutan seenaknya, menebang hutan
secara liar tanpa mau repot-repot menanam kembali tunas yang baru Tanpa memikirkan akibat
yang akan terjadi.
Lama-lama alam akan habis jika kita terus mengambil dan merusaknya tanpa
mengetahui cara memanfaatkan alam dengan baik & benar padahal populasi pendukpun semakin
bertambah lalu bagaimana dengan anak cucu kita nanti.
Lalu bagaimana solusinya?.. Mudah saja tidak perlu berfikir terlalu yang mulukmuluk mulailah menanam 1 pohon itu sudah sangat membantu.
Dengan mengambil contoh Bambu bisa disebut juga hutan rakyat karna sifatnya yang merakyat,
bambu memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan kita. Karna banyak sekali manfaat
yang dapat
dihasilkan oleh bambu mulai dari pucuk hingga akarnya.
Contohnya saja :
 Tunas bambu dapat dijadikan bahan makanan
 Daunnya dapat dijadi pembungkus makanan
 Pucuknya (daun muda) dapat dijadi makanan ternak
 Akarnya dapat dibuat menjadi kerajinan tangan yang unik

Batangnya tentu lebih banyak lagi kegunaannya mulai daribahan rumah tangga, bahan

kontruksi banguna , karya seni/kerajinan tangan dan dsb

4.3 PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT

Dalam rangka mengatasi hambatan yang ada saat ini dan lebih meningkatkan peranserta
sektor informal dalam penanganan sampah perkotaan telah dapat dilakukan beberapa upaya
melalui proyek percontohan dengan melakukan program pembangunan Masayarakat antara lain:
1.

Melakukan pendekatan untuk perubahan kebijakan bagi perubahan status hukum kerja para

masyarakat.
2.

Meningkatkan citra dan status sosial sampat tak berguna di mata masyarakat.

3.

Meningkatkan posisi tawar sampah / barang alam dengan berbagai pihak.

4.

Menjembatani masyarakat dalam proses pengambilan keputusan setempat

1.

Mengembangkan teknologi tepat guna yang murah untuk memproses sampah.

2.

Menyiapkan program masyarakat dalam skala besar dalam konteks Sistem Pemulihan

Sumberdaya Terpadu.
Sebagai contoh beberapa program pemberdayaan pemulung telah dilakukan di tiga kota, yaitu
Surabaya, Bandung dan Jakarta dengan cara dan penekanan yang berbeda.
1.

Pembinaan Masyarakat di Surabaya


Program ini dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan Kodya Dati II Surabaya bekerjasama

dengan Yayasan Pemukiman Kita dengan tujuan untuk meningkatkan potensi pemulung sebagai
salah satu aktor pengelola sampah dan mitra kerja pemerintah dengan cara antara lain memberikan
pengakuan dan penghargaan kepada mereka secara terbuka.

Penghargaan dan pengakuan pada profesi Masyarakat di Surabaya dengan jalan menyebut
mereka sebagai Mitra Pasukan Kuning (MPK). Selanjutnya adalah memberikan wadah bagi
berkumpul para pemulung tersebut melalui Paguyuban MPK. Pemulung yang terdaftar dalam
PMPK diberi kartu identitas diri sehingga mempermudah dalam pengawasan dan pembinaan,
disamping itu pemulung akan lebih memiliki kepercayaan diri dan tetap mempertahankan nama
baik mereka.
1.

Pembinaan Pemulung di Bandung


Pembinaan pemulung di Kodya Bandung diawali dengan adanya kerjasama antara ITB

dengan PD Kebersihan Kodya Bandung (PDK) dengan membentuk Kawasan Industri Sampah
(KIS), dengan konsep dasar mengolah sampah dengan usaha daur-ulang dan pengomposan sedekat
mungkin dengan sumber sampah. KIS dalam pelaksanaannya sangat menguntungkan, karena
selain menghemat biaya pengangkutan dan pembuangan akhir sampah, KIS juga menyediakan
lapangan kerja bagi pemulung dengan investasi dan teknologi yang murah dan tepat guna.

4.4 BEBERAPA UPAYA PENINGKATAN SISTEM DAUR ULANG SAMPAH

Beberapa upaya yang dapat digunakan untuk peningkatan usaha daur-ulang sampah
perkotaan, yaitu:
1. Promosikan penyuluhan untuk mendapatkan dukungan masyarakat dalam kegiatan daur-ulang
dan

pengurangan

sampah

(misalnya,

meningkatkan

memperkenalkan sistem insentif untuk daur-ulang sampah).

dukungan

masyarakat

dengan

2.

Buat studi tentang aliran sampah (analisis karakteristik sampah), sistem daur-ulang, pasar

untuk produk-produk daur-ulang, dan masalah-masalah dari kondisi yang ada.


3.

Beri dukungan untuk pemilahan di sumber sampah, daur-ulang, dan jaringan perdagangan

melalui pertukaran informasi (khususnya informasi pasar) dan forum untuk pemerintah daerah.
4.

Beri kemudahan bagi pihak swasta melalui peraturan baru (memperbaharui peraturan yang

ada) dalam rangka kerjasama, pinjaman lunak bagi usaha kecil, dsb.
5.

Bantu para pemulung dalam meningkatkan kinerjanya, misalnya dengan memperbolehkan

pemulung memilah sampah di TPS dengan menyiapkan fasilitas pemilahan yang lebih praktis dan
higienis.
6.

Menganjurkan Pemerintah Kota untuk membuat/memilih peraturan tentang reduksi sampah,

misalnya reduksi kemasan, disain ulang produk, dan pemberian kode untuk plastik.
7.

Eksport produk daur-ulang yang dijamin tidak mengandung bahan berbahaya ke negara

tetangga bila dibutuhkan dalam jumlah besar.


8.

Promosikan inovasi untuk menciptakan penggunaan produk-produk daur-ulang.


Sebelum melaksanakan upaya-upaya di atas, tingkat daur-ulang atau potensi yang ada dari

suatu kota atau wilayah harus diketahui terlebih dahulu. Hal ini disebabkan upaya-upaya di atas
hanya cocok diaplikasikan bagi kota-kota dengan tingkat-tingkat daur-ulang tertentu. Misalnya,
promosi tentang daur-ulang sampah tidak diperlukan bagi kota dengan potensial daur-ulang yang
rendah.
Bila sudah diketahui tingkat daur-ulang atau potensi daur-ulang yang ada, maka perlu
ditetapkan target yang diharapkan dapat dicapai melalui kerjasama dengan sektor informal setiap
tahun. Sampai saat ini di Indonesia sektor informal masih memegang peranan jaringan daur-ulang

sampah anorganik, sehingga mengintegrasikan sektor informal ini ke dalam sistem pengelolaan
sampah merupakan upaya yang sangat baik.

PENUTUP

KESIMPULAN
Sampah harus mulai dipandang sebagai sumber daya. Ini berarti kebiasaan membuang
harus diubah menjadi mengolah. Konsep yang dapat digunakan dalam mengolah sampah, adalah
konsep 4R, yaitu:
1.

Reduce: mengurangi penggunaan produk yang akan menghasilkan sampah.

2.

Reuse : menggunakan ulang, menjual atau menyumbangkan barang-barang yang masih dapat

dimanfaatkan.
3.
4.

Recycle: memodifikasi benda yang tadinya tidak bermanfaat, menjadi bermanfaat.


Recovery: upaya pengambilan kembali atau pemanfaatan material yang masih dapat

dimanfaatkan.
Namun didalam pelaksanakan 4R, dirasa kurang cukup, terbukti dari semakin banyaknya
sampah di sepanjang jalan ataupun sungai. Sampah tersebut akhir-akhir ini dirasa sudah mulai
mengganggu aktivitas warga, selain karena mengganggu pemandangan, juga merusak nilai estetik
karena sampah-sampah tersebut menyebarkan aroma yang kurang sedap dan dikerumuni oleh lalat.
Dikhawatirkan, bila hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, sampah ini akan menjadi sumber
penyakit dan sampah yang dibuang di sungai akan mencemari badan air, baik air sungai itu maupun
air tanahnya. Sehingga, dirasakan perlu untuk merencanakan pengelolaan sampah.
Pada saat ini, belum ada institusi yang memegang otoritas dalam mengatur pengelolaan
sampah. Pengelolaan sampah di daerah menjadi tanggungjawab tiap-tiap desa/kelurahan. Usaha
yang telah dilakukan warga desa dalam mengelola sampah adalah dengan mengumpulkan sampahsampah warga pada suatu lahan kosong milik salah satu petugas kebersihan, dimana lahan tersebut

hanya berfungsi sebagai tempat menimbun (open dumping). Warga juga membuang sampah di
sungai dan saluran drainase. Dikhawatirkan, menumpuknya sampah pada sungai dan saluran
drainase akan menyebabkan banjir pada musim hujan. Usaha penangganan lain yang dilakukan
warga adalah dengan membakar sampah di pekarangan rumahnya.

SARAN
Akan sangat baik, untuk segera mengelola sampah desa Sumbergedang selagi bisa. Salah
satu cara yang dirasa dapat mengatasi permasalahan sampah di desa Sumbergedang, adalah dengan
menyediakan wadah untuk menampung dan mengolah sampah, yang disebut Material Recovery
Facility (MRF). Pertimbangan dalam memilih MRF, karena MRF menggabungkan beberapa
teknik pengolahan sampah seperti pemilahan sampah, daur ulang dan komposting, yang dapat
membantu dalam mereduksi sampah. MRF juga dapat mengurangi kebutuhan sumber daya, karena
sampah yang telah dipilah dan masih dapat dimanfaatkan, dapat digunakan lagi atau didaur ulang
dan dengan adanya komposting, lebih murah, lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu
kesehatan masyarakat dibanding sistem pengolahan sampah yang lazim digunakan,
seperti incinerator atau open dumping.