Anda di halaman 1dari 57

TUTORIAL BLOK 13 SKENARIO 1

I. KLARIFIKASI ISTILAH
1. Ras Kaukasoid : ras ini biasanya disebut berkulit putih. Selain itu, ras ini
memiliki hidung yang mancung dan rambut pirang sampai kecoklatan. Jika
dilihat dari lengkung giginya berbentuk paraboloid. Kebanyakan ras ini
berdomisili di Eropa.
Ras Mongoloid : ras ini biasa disebut berkulit kuning namun ada juga yang
berkulit coklat muda sampai coklat gelap. Ras ini memiliki rambut berwarna
hitam lurus dan lipatan pada mata (mata sipit) serta ukuran tubuhnya biasanya
lebih pendek dibandingkan ras kaukasoid. Jika dilihat dari lengkung giginya
berbentuk ellipsoid.
Ras Negroid : ras ini biasa disebut berkulit hitam serta memiliki rambut
keriting. Jika dilihat dari lengkung giginya berbentuk U.
2. Post mortem adalah data-data fisik yang diperoleh melalui personal
identification setelah korban meninggal. Seperti sidik jari, golongan darah,
konstruksi gigi dan foto diri korban pada saat ditemukan lengkap dengan
barang-barang yang melekat di tubuhnya dan sekitarnya, bahkan termasuk isi
kantong pakaiannya.

3. Odontogram adalah suatu bentuk pemetaan gigi yang didalamnya terdapat


data gigi geligi dan kelainan-kelainannya dimana data tersebut dicatat dalam
kartu status gigi.

4. Ante mortem adalah data-data fisik khas korban sebelum meninggal. Mulai
dari pakaian atau aksesoris yang terakhir dikenakan, barang bawaan, tanda
lahir, tato, bekas luka, cacat tubuh, foto diri, berat dan tinggi badan, serta
sampel DNA. Data-data ini biasanya didapatkan dari keluarga, ataupun dari
instansi dimana korban pernah berhubungan semasa hidup.
5. Lengkung rahang menurut Barber adalah suatu garis lengkung imaginer yang
menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan bawah. Lengkung rahang
menurut Morrees &Reed adalah lengkung yang dibentuk oleh susunan
mahkota gigi yang tumbuh tanpa sebarang malposisi.

II.

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Drg. Qorib dating ke ruang jenazah untuk mengidentifikasi korban kecelakaan
pesawat terbang yang penumpangnya terdiri dari ras kaukasoid, mongoloid, dan
negroid
2. Ditermukan kepala dengan luka bakar sehingga hanya tersisa jaringan keras
3. Temuan post mortem:
- 17 hilang
- 34, 35, 36 GTC porcelain
- 44 tambalan amalgam kelas I
- 48 mesio versi
- 16 dan 26 cusp carabelly
- 11 dan 21 outline membulat
- Buko palatal 15 dan 26 < mesio distal
- Lengkung rahang sempit dan oval
- Lengkung gigi paraboloid
- Sudut gonion lebih besar
- Tulang menton lebih ke posterior
- Jarak interprocessus coronoideus lebih kecil
4. Drg. Qorib menyimpulkan jenis kelamin dan ras jenazah berdasarkan data pos
mortem dan ante mortem

III.
1.
2.
3.
4.
5.
IV.

ANALISI MASALAH
Apa ciri khas oromaksilofasial berdasarkan ras dan jenis kelamin?
Bagaimana proses identifikasi korban?
Apa saja komponen pemeriksaan dari post mortem?
Apa saja sumber-sumber dari ante mortem?
Apa jenis kelamin dan ras dari kasus tersebut?

HIPOTESIS
Drg, Qorib menyimpulkan jenazah berjenis kelamin perempuan dengan ras
mongoloid berdasarkan pencatatan post mortem yang dicocokkan dengan data ante
mortem jenazah

V.

LEARNING ISSUES
1. CIRI KHAS OROMAKSILOFACIAL
a. Ras Kaukasoid
1.

Gigi geligi:

Permukaan lingual rata pada gigi incisivus 1.2 1.1, 2.1 2.2

Sering terdapat crowded pada gigi-geligi

Gigi molar pertama rahang bawah (3.6 4.6) lebih panjang, tapered

Buko-palatal< (P2, 1.5 2.5), mesio-distal

Sering, cusp carabelli pada 1.6 2.6 palatal

Lengkung rahang sempit

2. Foramen orbita:
foramen orbitalis simetris seperti kacamata yang lengkung ke medialis lebih
sempit
3. Os concae
mempunyai concae paling kecil dibanding ras lain, berbentuk biji mete
4. Os mastoideus
tonjolan sudut os mastoideus hampir tegak lurus

5.

Outline tulang tengkorak

Gambar a : memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala dari ras caucasoid.
Gambar b : memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala dari ras mongoloid.

Gambar c : memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala dari ras negroid.

Penentuan jenis kelamin melalui gigi-geligi dapat dilakukan dengan melihat bentuk
lengkung gigi, ukuran diameter mesio-distal gigi, dan kromosom yang terdapat pada
pulpa. Bentuk lengkung gigi pada pria cenderung tapered, sedangkan wanita
cenderung oval, ukuran diameter mesio-distal gigi taring bawah wanita = 6,7 mm dan
pria = 7 mm. Kromosom X dan Y dapat ditentukan dengan menggunakan sel pada
pulpa gigi sampai dengan lima bulan setelah pencabutan gigi dan kematian

b. Ras Mongoloid
Ras Mongoloid adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di
Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur
Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara,
Amerika Selatan, dan Oseania. Ciri khas utama anggota ras ini ialah rambut
berwarna hitam yang lurus, berkulit kuning hingga sawo matang, bermata sipit
sampai bulat, berbulu badan sedikit, berwajah bulat dengan kepala lebar, dan
hidung sedang kecil. Selain itu anggota ras manusia ini seringkali juga lebih
kecil dan pendek daripada ras Kaukasoid (Syam, 2007).
Ras Mongoloid memiliki beberapa ciri khas dari segi intral oral, yaitu:
a. Lengkung rahang berbetuk ellipsoid
b. Pada

gigi

incisive

rahanng

atas

(11,12,21,22)

mempunyai

perkembangan yang penuh pada permukaan palatal, dan cingulumnya dominan


sehingga gigi ini berbentuk shovel atau seperti sekop
c. Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20% ras
Mongoloid
d. Gigi molar pada ras Mongoloid lebih dominan membentuk segi
empat dan memiliki fissure-fissure yang jelas
e. Prevalensi cusp carabelli pada gigi molar lebih rendah
f. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus ( Lukman, 2006)

Kari et al (1980) dan Harila et al (2003) menyatakan beberapa bulan


setelah kelahiran seksual dimorfisme sudah terlihat pada ukuran mahkota gigi
desidui. Diameter gigi desidui laki-laki adalah lebih besar dibandingkan
perempuan. Jenis kelamin seseorang yang ditentukan melalui gigi geligi
berdasarkan pada perbandingan dimensi gigi antara laki-laki dan perempuan
ataupun ditentukan melalui perbandingan secara non-metrik seperti frekuensi
cusp carabelli.
Stroud et al (1994) menyatakan perbedaan ukuran gigi antara laki-laki dan
perempuan dapat terlihat melalui ketebalan dentin yang diukur dari foto
radiograf sebagai jarak antara mesial dan distal dentinoenamel junction.
Pengaruh kromosom Y pada pertumbuhan gigi lebih besar dibanding
kromosom X dan ini menyebabkan seksual dimorfisme yang diamati pada
panjang akar gigi dimana laki-laki mempunyai panjang akar yang lebih
panjang daripada perempuan.
Para peneliti mengindikasikan bahwa gen pada kromosom seks terlibat
pada sebagian aspek dari dental ontogeny misalnya struktur gen untuk
amelogenin terletak pada kromosom X dan Y. Amelogenin berperan penting
pada perkembangan enamel. Protein ini membentuk hampir 90% komponen
organik matriks enamel. Amelogenin pada manusia hanya diproduksi oleh satu
gen yaitu kromosom seks X dan Y. Kedua-dua kromosom ini memberi
pengaruh yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan seksual
pada proses amelogenesis yaitu proses pembentukan enamel berhubungan
perbedaan genetik ini.
Kromosom X dan kromosom Y pada manusia akan meningkatkan
ketebalan enamel gigi, dimana kromosom X selain meningkatkan ketebalan
enamel juga memiliki efek mengurangi ketebalan dentin. Hal ini yang
menyebabkan dentin pada gigi laki-laki cenderung lebih tebal daripada
perempuan, sehingga ukuran gigi laki-laki juga cenderung lebih besar
dibandingkan ukuran gigi perempuan. Genetik mempengaruhi kadar hormon
yang mengarah pada bentuk dan ukuran tulang mandibula yang secara tidak

langsung menyebabkan adanya perbedaan ukuran gigi diantara laki-laki dan


perempuan.
Perbedaan yang dimiliki wanita mongoloid dan pria antara lain:
1. Tulang kepala wanita lebih ringan.
2. Cavitas cranium 10% lebih kecil dari laki-laki.
3. Tulang muka bersudut lebih halus dan lebih kecil.
4. Glabella, arcus zygomaticus, arcus super cilliaris, dan prossesus mastoideus
kurang menonjol.
5.

Sinus frontalis tidak begitu berkembang.

6. Angulus mandibularis lebih runcing (kurang tumpul).


Ciri khas tulang bangsa mongoloid, antara lain:
1. cranium berbentuk persegi.
2. Kening miring (inclined)
3. wajah tergolong lebar, datar, tulang pipi menonjol.
4. ekstermis lebih kecil.
5. indeks kepala: 80-85 (brachycephalic, short headed, square headed).
Ilmu Kedokteran Forensik ed.2. Bagian Ilmu kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Prof. dr. Amri Amir, Sp.F.,
DFM., SH. Percetakan Ramadhan. 2006.
BESAR INDEKS PONT DAN KORKHAUS SERTA HUBUNGAN ANTARA
LEBAR

DAN

PANJANG

LENGKUNG GIGI TERHADAP TINGGI

PALATUM PADA SUKU JAWA (MONGOLOID)


Indeks Korkhaus adalah pengembangan index dari Pont sehingga memiliki
beberapa persamaan dalam pengukurannya. Indeks Korkhaus menggunakan
titik referensi interpremolar yang sama digunakan pada indeks Pont dalam
penentuan indeks panjang lengkung gigi dan titik referensi intermolar Pont
dalam penentuan indeks tinggi palatum.

Penentuan indeks Pont maupun Korkhaus pada setiap ras memiliki ciri-ciri
khusus untuk ras tersebut sehingga ciri-ciri tersebut tidak dapat digunakan
sebagai standar untuk ras yang lainnya. Ukuran normalyang ditentukan pada
suatu kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lain. Suku
Jawa yang termasuk ke dalam ras Mongoloid, memiliki ciri-ciri tertentu.
Perbedaan ras Mongoloid dan Kaukasoid tampak pada ukuran gigi dan
morfologi palatum. Ras Mongoloid memiliki ukuran gigi yang lebih besar
daripada ras Kaukasoid.
Indeks Pont menggambarkan adanya hubungan antara lebar mesiodistal
keempat gigi insisivus dengan lebar lengkung gigi di regio premolar dan molar
sehingga kemungkinan pada ras Mongoloid memiliki lengkung gigi yang lebih
lebar daripada ras Kaukasoid. Tinggi palatum pada ras Mongoloid, yang
cenderung memiliki kubah palatum datar, lebih rendah daripada ras Kaukasoid
yang cenderung memiliki kubah palatum tinggi.
Korkhaus menyatakan bahwa nilai indeks tinggi palatum diperoleh dari
membagi tinggi palatum dengan lebar intermolar (metode Pont) yang berarti
bahwa tinggi palatum berbanding terbalik dengan lebar intermolar. Lebar
lengkung gigi berbanding terbalik dengan panjang lengkung gigi. Panjang
lengkung gigi maksila meningkat seiring dengan membesarnya lengkungan
palatum secara sagital.
Orang Amerika (Stifter, 1958) dan orang Indian Utara yang tergolong ras
Mongoloid (Gupta dkk., 1979) juga dijumpai memiliki nilai indeks
interpremolar dan indeks molar yang lebih besar dengan indeks Pont
terdahulu. Ukuran gigi akan berbeda pada ras yang berbeda (Graber, 1972).
Lavelle (1972 sit. Gupta dkk., 1979) yang melakukan penelitian pada ras
Kaukasoid, Negroid, dan Mongoloid, menjumpai bahwa ukuran gigi ras
Negroid terbukti lebih besar dari pada ukuran gigi ras Mongoloid sementara
ukuran gigi ras Mongoloid lebih besar daripada ras Kaukasoid (Lavelle, 1972
sit. Othman dan Harradine, 2006).
Pont (1909 sit.Gupta dkk., 1979;Stifter, 1958) mengatakan adanya hubungan
antara

keempat mesiodistal insisivus permanen dengan lengkung gigi maksila, hal ini
dapat diartikan bahwa semakin besar jumlah mesiodistal insisivus permanen
akan menyebabkan lengkung gigi maksila semakin besar pula. Suku Jawa
yang termasuk ras Mongoloid kemungkinan memiliki lengkung gigi maksila
lebih besar daripada ras Kaukasoid, karena adanya perbedaan ukuran gigi
(Lavelle, 1972 sit. Othman dan Harradine, 2006). Eckert (1997), di lain pihak
juga mengaitkan perbedaan ras ini dengan adanya perbedaan bentuk lengkung
gigi. Ras Kaukasoid cenderung memiliki lengkung gigi yang sempit
sedangkan pada ras Mongoloid, lengkung gigi maksila berbentuk elips.
Pernyataan Eckert tersebut secara tersirat dapat memperjelas lebih besarnya
lebar interpremolar, lebar intermolar, dan panjang lengkung gigi maksila pada
suku Jawa (ras Mongoloid), yang mempunyai lengkung gigi berbentuk elips.
Ras Kaukasoid memiliki kubah palatum yang tinggi (Eckert, 1997), sempit
dan cenderung berbentuk segitiga (Indriati, 2004) sedangkan pada suku Jawa
yang mewakili ras Mongoloid cenderung memiliki kubah palatum datar
(Eckert, 1997) dengan lebar palatum berukuran sedang (Indriati, 2004). Hal
tersebut menyebabkan nilai indeks tinggi palatum pada suku Jawa lebih kecil
daripada nilai indeks Korkhaus pada ras Kaukasoid.
c. Ras Negroid
Ras negroid memiliki gigi geligi dengan ciri khas sebagai berikut:
a. Menurut R. Biggerstaf bahwa akar premolar cenderung membelah atau
b.
c.
d.
e.
f.
g.

terdapat tiga akar (trifukasi)


Bimaxillary protusion
Gigi molar ke-4 sering ditemukan
Gigi premolar pertama terdapat 2 atau 3 cusps
Gigi molar berbentuk segiempat membulat
Lengkung rahang berbentuk U
Sering dijumpai keadaan diastema akibat ukuran gigi yang kecil dan rahang
yang besar

2. IDENTIFIKASI KORBAN
a. Tahapan

Dalam proses identifikasi dikenal sembilan metode identifikasi, yaitu (Idries,


1997) :
1)

Metode visual

Metode ini dilakukan dengan memperhatikan korban secara teliti, terutama


wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya, maka identitas korban dapat
diketahui. Walaupun metode ini sederhana, untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila
keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan
belum terjadi pembusukkan yang lanjut. Selain itu perlu diperhatikan faktor
psikologis, emosi, dan latar belakang pendidikan karena faktor-faktor tersebut
dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Juga perlu diingat bahwa manusia itu
mudah terpengaruh dengan sugesti, khususnya sugesti dari pihak penyidik.
2)

Pakaian

Pencatatan yang teliti atas pakaian, bahan yang dipakai, mode, dan adanya
tulisan-tulisan, seperti merek pakaian, penjahit, laundry, dan inisial nama dapat
memberikan informasi yang berharga, milik siapakah pakaian tersebut. Bagi
korban yang tidak dikenal, menyimpan pakaian secara keseluruhan atau
potongan-potongan dengan ukuran 10 cm x 10 cm adalah tindakan yang tepat
agar korban masih dapat dikenali walaupun tubuhnya sudah dikubur.
3)

Perhiasan

Anting-anting, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh korban,
khususnya bila perhiasan itu terdapat inisial nama seseorang yang biasanya
terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin, akan membantu dokter
atau pihak penyidik dalam menentukan identitas korban. Mengingat
kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhiasan haruslah dilakukan
dengan baik.
4)

Dokumen

Kartu Tanda Penduduk, Surat Izin Mengemudi, paspor, kartu golongan darah,
tanda pembayaran, dan lain sebagainya dapat menunjukkan identitas korban.
Benda-benda tersebut biasa ditemukan dalam dompet atau tas korban.
5)

Medis

Pemeriksaan fisik secara keseluruhan yang meliputi bentuk tubuh, tinggi, berat
badan, warna mata, adanya cacat tubuh, kelainan bawaan, jaringan parut bekas
operasi, dan tato dapat turut membantu menentukan identitas korban. Pada
beberapa keadaan khusus, tidak jarang harus dilakukan pemeriksaan radiologis,
yaitu untuk mengetahui keadaan sutura, bekas patah tulang atau pen, serta
pasak yang dipakai pada perawatan penderita patah tulang.
6)

Gigi

Bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus dari seseorang,
sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada gigi atau rahang
yang identik pada dua orang berbeda. Hal ini menjadikan pemeriksaan gigi
memiliki nilai yang tinggi dalam penentuan identitas seseorang. Satu
keterbatasan pemanfaatan gigi sebagai sarana identifikasi adalah belum
meratanya sarana untuk pemeriksaan gigi, demikian pula pendataannya (rekam
medik gigi) karena pemeriksaan gigi masih dianggap sebagai hal yang mewah
bagi kebanyakan rakyat Indonesia.
7)

Sidik jari

Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang
sama, walaupun kedua orang tersebut kembar. Atas dasar ini, sidik jari

merupakan sarana yang penting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui


identitas seseorang. Pemeriksaan sidik jari ini mudah dilakukan dan murah
pembiayaannya. Walaupun pemerikasaan sidik jari tidak dilakukan oleh dokter,
dokter masih mempunyai kewajiban untuk mengambilkan (mencetak) sidik
jari, khususnya sidik jari pada korban meninggal dan keadaan mayatnya telah
membusuk.
8)

Serologi

Sampel darah dapat diambil dari dalam tubuh korban, maupun bercak darah
yang berasal dari bercak-bercak pada pakaian. Hal-hal tersebut dapat
menentukan golongan darah si korban.
9)

Eksklusi

Metode ini umumnya hanya dipakai pada kasus dimana banyak terdapat korban
(bencana massal), seperti peristiwa kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta api,
dan kecelakaan angkutan lainnya yang membawa banyak penumpang. Dari
daftar penumpang (passenger list) pesawat terbang akan dapat diketahui siapa
saja yang menjadi korban. Bila dari sekian banyak korban tinggal satu yang
belum dapat dikenali oleh karena keadaan mayatnya sudah sedemikian rusak,
maka atas bantuan daftar penumpang akan dapat diketahui siapa nama korban
tersebut, caranya yaitu dari daftar penumpang yang ada dikurangi korban lain
yang sudah diketahui identitasnya.
Dari sembilan metode tersebut hanya metode identifikasi dengan sidik jari yang
tidak lazim dikerjakan oleh dokter dan dokter gigi, melainkan dilakukan oleh
pihak kepolisian (Idries, 1997). Walaupun ada sembilan metode identifikasi
yang kita kenal, dalam prakteknya untuk menentukan identitas seseorang tidak
perlu semua metode dikerjakan. Dari sembilan metode tersebut di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa terdapat metode identifikasi yang dianggap primer,
yaitu identifikasi dengan sidik jari dan gigi. Hal tersebut dikarenakan jarang
bahkan hampir tidak ada sidik jari dan gigi yang identik antara dua orang
berbeda, sehingga kedua metode tersebut bersifat sangat individual dan
memiliki validitas yang sangat tinggi. Apabila dilakukan pemeriksaan DNA,

hasil pemeriksaannya juga dapat dijadikan bahan identifikasi primer, hanya saja
metode identifikasi dengan DNA membutuhkan biaya yang mahal (Depkes RI,
2006).
Identifikasi dalam kedokteran gigi forensik ada beberapa macam, yaitu
(Lukman, 2006):
1) Identifikasi ras korban maupun pelaku melalui gigi-geligi dan antropologi
ragawi.
2) Identifikasi seks atau jenis kelamin korban melalui gigi-geligi, tulang
rahang, dan antropologi ragawi.
3) Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi.
4) Identifikasi umur korban melalui gigi susu (decidui).
5) Identifikasi umur korban melalui gigi campuran.
6) Identifikasi umur korban melalui gigi tetap.
7) Identifikasi korban melalui kebiasaan menggunakan gigi.
8) Identifikasi korban melalui pekerjaan menggunakan gigi.
9) Identifikasi golongan darah korban melalui air liur.
10) Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi.
11) Identifikasi DNA korban melalui analisa air liur dan jaringan dari sel
dalam rongga mulut.
12) Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya.
13) Identifikasi wajah korban melalui rekontruksi tulang rahang dan tulang
facial.
14) Identifikasi melalui wajah korban.
15) Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku.

16) Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban bencana massal.


17) Identifikasi melalui radiologi kedokteran gigi forensik.
18) Identifikasi melalui fotografi kedokteran gigi forensik, misalnya teknik
fotografi superimposisi yang dilakukan dengan menumpang-tindihkan
foto postmortem dan foto wajah antemortem, teknik ini dilakukan apabila
identifikasi dengan teknik lain seperti rekam medik gigi, sidik jari, dan
DNA tidak dapat dilakukan, selain itu harus tersedia fotoantemortem yang
fokus pada wajah (dibahas lebih lanjut dalam BAB III).
19) Identifikasi melalui formulir identifikasi korban.

Waaupun identifikasi dengan menggunakan gigi-geligi sudah banyak terbukti


keakuratannya namun tetap saja ada berbagai syarat yang harus terdapat pada
data-data untuk identifikasi kedokteran gigi forensik agar data tersebut bisa
dikatakan valid. Ada beberapa kriteria yang merupakan syarat untuk validitas
identifikasi dengan gigi-geligi, yaitu ( Sopher, 1976):
1)

Data yang tersedia harus bersifat multipel, permanen, dapat diukur atau

diteliti, sehingga menjamin individualitas dari data yang tersedia.


2)

Terdapat registrasi yang akurat mengenai karakteristik individu

(data antemortem)

yang

memungkinkan

untuk

dibandingkan

dengan

data postmortem.
3)

Data dilengkapi dengan gambaran spesifik yang tahan terhadap gaya

destruktif, sehingga dapat tetap menjadi jaminan untuk keindividualitasan data


walaupun tidak tersedia gambaran identifikasi lainnya.

Gigi mempunyai nilai spesifik atau individualitas yang sangat tinggi mengingat
begitu tidak terbatasnya kemungkinan kombinasi ciri-ciri khas pada gigi, baik

ciri alami maupun akibat tindakan perawatan terhadap gigi-geligi. Ciri-ciri khas
tersebut antara lain (Ardan, 1999):
1)

Jumlah gigi

Jumlah gigi dapat menjadi suatu ciri yang khas pada seseorang. Hal ini karena
jumlah gigi pada seseorang dapat berbeda-beda. Satu atau beberapa gigi pada
rahang dapat tidak ada, baik secara klinis atau radiologis, selain itu sering juga
ditemukan jumlah gigi lebih banyak dari normal. Jumlah gigi yang berkurang
dapat disebabkan gigi yang lepas alami, pencabutan, trauma (benturan dengan
benda tumpul), kongenital (tidak terbentuknya benih gigi molar ketiga,
premolar kedua, incisivus kedua), impaksi, dan pergeseran gigi.
2)

Restorasi mahkota dan protesa

Restorasi mahkota dan protesa sangat bersifat individual karena dibuat sesuai
kebutuhan masing-masing individu. Beberapa ciri khas dari protesa yang dapat
diamati

adalah

bentuk daerah

relief

dari

langit-langit,

bentuk

dan

kedalamanpost-dam, desain sayap labial, penutupan daerah retromolar, warna


akrilik, bentuk, ukuran dan bahan gigi artifisial, serta bentuk dan ukuran linggir
alveolar.
3)

Karies Gigi

Jumlah gigi yang karies dan letaknya dicatat dalam odontogram. Ada
kemungkinan gigi yang karies sudah ditambal, maka harus dilakukan juga
pemeriksaan catatan perawatan.
Fraktur dari gigi yang karies bentuknya tidak teratur, berwarna coklat,
umumnya terjadi pada gigi posterior, dilapisi sisa-sisa makanan, dan bekas
rokok. Adanya dentin sekunder menunjukkan bahwa fraktur sudah lama terjadi.
Fraktur gigi mahkota karena trauma yang baru terjadi atau pascakematian
dengan bagian tepi gigi tidak menunjukkan karies maka permukaan frakturnya
cenderung tajam.
4)

Gigi yang malposisi dan malrotasi

Malposisi dapat berupa gigi berjejal, gigi saling menutup (overlapping),


miring, bergeser, dan jarang-jarang. Malrotasi dapat berupa terputarnya gigi.
Keadaan malposisi dan malrotasi seringkali tidak dicatat pada pemeriksaan
sehari-hari (antemortem), maka untuk mengatasinya keadaan malposisi dan
malrotasi dapat diperiksa data postmortem dari model cetakan atau dari foto
roentgen.
5)

Gigi berbentuk abnormal

Gigi dapat berbentuk abnormal karena faktor kongenital atau dapatan. Gigi
abnormal yang disebabkan faktor kongenital dapat berupa hutchinson dan gigi
incisivus lateral berbentuk runcing (peg shaped). Bentuk gigi abnormal yang
disebabkan faktor dapatan antara lain akibat pekerjaan dan kebiasaan yang
akan mempengaruhi bentuk gigi.
6)

Perawatan endodontik

Perawatan endodontik merupakan perawatan bagian pulpa (rongga pulpa dan


atau saluran akar). Jaringan pulpa pada rongga pulpa dan atau saluran akar
sudah non-vital atau sudah didevitalisasi, yang kemudian diawetkan dengan
bahan mumifikasi atau diisi dengan bahan pengisi berisi obat, sehingga tidak
akan jadi sumber infeksi.
Sebagai bahan pengisi pulpa diberi bahan yang akan memberikan kontras,
sehingga dapat terlihat jelas pada foto roentgen. Bentuk bahan pengisi, maupun
kesempurnaan pengisian pulpa dapat memberikan gambaran foto roentgen
yang spesifik. Biasanya mahkota gigi yang sudah mengalami perawatan saluran
akar dibungkus dengan mahkota tiruan dari bahan logam atau bahan porselen.
7)

Pola trabekulasi tulang

Pola trabekulasi tulang dapat dilihat pada foto roentgen antemortem maupun
foto roentgen postmortem. Dari foto roentgen tersebut dapat juga dilihat
kemiringan gigi, ruang interproksimal, resorpsi tulang akibat penyakit
periodontal, perubahan pada ruangan pulpa, dan bentuk saluran akar.

8)

Oklusi gigi

Oklusi gigi adalah hubungan kontak oklusal antara gigi di rahang atas terhadap
gigi di rahang bawah. Oklusi gigi diklasifikasikan menurut klasifikasi Angle,
yaitu oklusi kelas I, kelas II, dan kelas III. Masing-masing kelas mempunyai
subkelas tergantung keadaan gigi yang lain (berjejal, gigitan bersilang, dll).
9)

Patologi oral

Kelainan struktur oral dapat merupakan suatu ciri yang khas pada individu.
Macam-macam kelainan struktur rongga mulut tersebut dapat berupa:
a)

Torus mandibularis dan torus palatinus

Torus mandibularis adalah protuberansia perkembangan tulang yang kadangkadang terdapat pada aspek lingual mandibula di daerah premolar. Torus
palatinus adalah eminensia perkembangan tulang yang kadang-kadang terdapat
pada garis median palatum keras (Harty dan Ogston, 1993).
b)

Kelainan lidah

Kelainan lidah yang khas pada individu dapat membantu proses identifikasi.
Kelainan yang biasa terjadi pada lidah dapat berupa pendeknya frenulum
lingualis (ankyloglossia), lesi yang berbentuk seperti peta (geographic
tongue),fissure

tongue, Fordices

granules,

dan Median

Rhomboid

Glossitis (Sonis, et al., 1995).


c)

Hiperplasia gusi karena dilantin

Hiperplasia gusi adalah pembengkakkan gingiva akibat proliferasi sel. Hal


tersebut bisa timbul akibat pengobatan (Harty dan Ogston, 1993).
d)

Pigmentasi gusi

Pigmentasi merupakan pewarnaan yang dihasilkan oleh tubuh melalui deposisi


pigmen (Harty dan Ogston, 1993). Deposisi pigmen ini bisa berasal dari
sumber eksogen dan endogen. Sumber eksogen dapat dikarenakan dari deposit

bahan asing pada jaringan, bakteri, fungi, dan ingesti dari bahan logam yang
terdeposit di jaringan. Sumber endogen disebabkan oleh melanin, bilirubin, dan
besi (Sonis, et al., 1995). Jadi dari pigmentasi gusi ini dapat diperkirakan
penyakit sistemis yang diderita korban dan pekerjaan korban.
e)

Adanya kista pada tulang rahang

Kista adalah kantung atau rongga abnormal pada jaringan yang dikelilingi
epitel. Kista memiliki batas jelas dan mengandung cairan atau bahan semi cair
(Harty dan Ogston, 1993).
Gigi-geligi juga dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin korban, ras
korban, dan umur korban. Hal-hal tersebut dibutuhkan sebagai data tambahan
dan dapat juga digunakan sebagai alat mempersempit populasi untuk
memudahkan proses identifikasi.

1)

Penentuan jenis kelamin

Pada kasus-kasus tertentu seperti mutilasi atau korban bencana massal dengan
tubuh yang sudah terpisah-pisah, penentuan jenis kelamin tidak dapat
dilakukan dengan mudah seperti penentuan jenis kelamin pada orang hidup
atau mayat yang masih utuh. Penentuan jenis kelamin pada kasus-kasus
tersebut dapat ditentukan melalui gigi-geligi.
Penentuan jenis kelamin melalui gigi-geligi dapat dilakukan dengan melihat
bentuk lengkung gigi, ukuran diameter mesio-distal gigi, dan kromosom yang
terdapat pada pulpa. Bentuk lengkung gigi pada pria cenderung tapered,
sedangkan wanita cenderung oval, ukuran diameter mesio-distal gigi taring
bawah wanita = 6,7 mm dan pria = 7 mm. Kromosom X dan Y dapat ditentukan
dengan menggunakan sel pada pulpa gigi sampai dengan lima bulan setelah
pencabutan gigi dan kematian (Astuti, 2008).

2)

Penentuan ras korban

Ras korban dapat diketahui dari struktur rahang dan gigi-geliginya. Secara
antropologi, ras dibagi tiga yaitu ras kaukasoid, ras negroid, dan ras mongoloid.
Masing-masing ras memiliki bentuk rahang dan struktur gigi-geligi yang
berbeda (Astuti, 2008) :
a)

Ras kaukasoid
1)

Permukaan lingual yang rata pada gigi incivus

2)

Gigi molar pertama bawah tampak lebih panjang dan bentuknya

lebih tapered
3)

Ukuran buko-palatal gigi premolar kedua bawah sering ditemukan

mengecil dan ukuran mesio-distal melebar

b)

c)

4)

Lengkung rahang sempit

5)

Gigi berjejal

6)

Carabelli cusp pada molar pertama atas

Ras negroid
1)

Akar premolar yang membelah atau tiga akar

2)

Pada premolar pertama bawah terdapat 2 atau 3 lingual cusp

3)

Gigi molar pertama bawah berbentuk segi empat dan kecil

4)

Bimaxillary protrution

5)

Kadang-kadang ditemui molar keempat

Ras mongoloid
1)

Gigi incisivus pertama atas berbentuk sekop

2)

Gigi molar pertama bawah berbentuk bulat dan lebih besar

3)

Adanya kelebihan akar distal dan accesory cusp pada permukaan

mesio-bukal pada gigi molar pertama bawah


4)

3)

Permukaan email seperti butiran mutiara

Penentuan umur korban

Penentuan umur korban atau lebih tepatnya perkiraan umur juga dapat
dilakukan melalui pemeriksaan gigi-geligi (Astuti, 2008):
a)

Melihat pertumbuhan dan perkembangan gigi


Perkembangan gigi mulai dapat dipantau sejak mineralisasi gigi susu,
yaitu umur empat bulan dalam kandungan hingga mencapai saat
sempurnanya gigi molar kedua tetap. Pemanfaatan molar ketiga mulai
terbatas karena sudah mulai banyaknya molar tersebut yang tidak
tumbuh sempurna. Sehubungan dengan ini dikenal beberapa tahap yang
dapat dipantau dengan baik, yaitu:
1)

Intrauteri: dipantau melalui sediaan, dengan melihat tahap

mineralisasi gigi dapat diketahui usia kandungan.


2)

Postnatal tanpa gigi: berkisar antara umur 0 6 bulan, yaitu saat

tumbuhnya gigi susu yang pertama. Penentuan umur secara tetap disini
masih memerlukan sediaan mikroskopis dengan melihat mineralisasi.
Selain

itu

dapat

juga

dilakukan

pemeriksaan

terhadap

tahap

perkembangan gigi yang belum tumbuh atau masih di dalam tulang


dengan bantuan roentgen.
3)

Masa pertumbuhan gigi susu: berkisar antara umur 6 bulan 3

tahun, saat bermunculannya gigi susu ke dalam mulut. Dengan


memperhatikan gigi mana yang sudah tumbuh dan belum tumbuh, umur
dapat diperkirakan dengan kisaran yang relatif sempit.

4)

Masa statis gigi susu: berkisar antara umur 3 6 tahun. Pada masa

ini penentuan umur melihat tingkat keausan gigi susu dan jika diperlukan
dengan bantuan roentgen untuk melihat tahap pertumbuhan gigi tetap.
5)

Masa gigi-geligi campuran: berkisar antara 6 12 tahun. Pada

masa ini umur dapat dilihat dari gigi susu yang tanggal dan gigi tetap
yang tumbuh.
6)

Masa penyelesaian pertumbuhan gigi tetap: yaitu saat tidak adanya

gigi susu yang tanggal dan selesainya pembentukan akar gigi yang
terakhir tumbuh, yaitu molar kedua tetap.
b)

Metode Gustafson
Setelah masa pertumbuhan gigi tetap selesai, maka pertumbuhan dan
perkembangan gigi tidak banyak lagi memberikan bantuan untuk
menentukan umur karena kondisinya dapat dikatakan menetap. Untuk itu
Gustafson (1950) menemukan 6 metode dalam menentukan umur:
1)

Atrisi: akibat penggunaan rutin pada saat makan, sehingga

permukaan gigi mengalami keausan.


2)

Penurunan tepi gusi: sesuai dengan pertumbuhan gigi dan

pertambahan umur, maka tepi gusi (margin-gingivalattachment) akan


bergerak ke arah apikal.
3)

Pembentukan dentin sekunder: sebagai upaya perlindungan alami

pada dinding pulpa gigi akan dibentuk dentin sekunder yang bertujuan
menjaga ketebalan jaringan gigi yang melindungi pulpa. Semakin tua
seseorang semakin tebal dentin sekundernya.
4)

Pembentukan semen sekunder: dengan bertambahnya umur, maka

semen sekunder di ujung akar pun bertambah ketebalannya.


5)

Transparansi dentin: karena proses kristalisasi pada bahan mineral

gigi, maka jaringan dentin gigi berangsur menjadi transparan. Proses


transparan ini dimulai dari ujung akar gigi meluas ke arah mahkota gigi.

6)

Penyempitan atau penutupan foramen apicalis: akan semakin

menyempit dengan bertambahnya umur dan bahkan akan menutup.


Garis besar yang perlu diperhatikan dalam penentuan umur dengan gigi
setelah masa pertumbuhan gigi tetap selesai adalah sebagai berikut
(Harmaini, 2001):
1)

Keausan pada gigi menunjukkan seseorang berusia di atas 50

tahun.
2)

Banyaknya tulang yang hilang terjadi pada usia lebih dari 40

tahun.
3)

Penutupan foramen apicalis molar ketiga tidak terjadi sebelum

usia 20 tahun.
Ada beberapa keuntungan dengan menjadikan gigi sebagai objek pemeriksaan,
yaitu (Lukman, 2006) :
1)

Gigi-geligi

merupakan

rangkaian

lengkungan

secara

anatomis,

antropologis, dan morpologis mempunyai letak yang terlindung dengan otototot, bibir, dan pipi. Apabila terjadi trauma, maka akan mengenai otot-otot
tersebut terlebih dahulu.
2)

Gigi-geligi sukar untuk membusuk walaupun dikubur kecuali gigi

tersebut sudah mengalami nekrotik atau gangren. Umumnya organ-organ lain


bahkan tulang telah hancur tetapi gigi tidak (masih utuh).
3)

Gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama. Menurut Sims dan Furnes,

gigi manusia kemungkinan sama adalah 1 : 2.000.000.000.


4)

Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri yang khusus apabila ciri-ciri gigi tersebut

rusak atau berubah, maka sesuai dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan
gigi bahkan setiap ras memiliki ciri yang berbeda.
5)

Gigi-geligi tahan asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang

terbunuh dan direndam di dalam drum berisi asam pekat, jaringan ikatnya
hancur tetapi giginya masih utuh.

6)

Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400 C gigi

tidak akan hancur, terbukti pada peristiwa Parkman yang terbunuh dan dibakar
tetapi giginya masih utuh. Kemudian pada peristiwa aktor perang dunia kedua,
yaitu Hitler, Eva Brown, dan Arthur Boorman mereka membakar diri kedalam
tungku yang besar di dalam bunker tahanan tetapi giginya masih utuh dan gigi
palsunya bisa dibuktikan. Kecuali dikremasi karena suhunya di atas 1000 C.
Gigi menjadi abu sekitar suhu lebih dari 649 C. Apabila gigi tersebut ditambal
menggunakan amalgam, maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar di atas
871 C. Apabila gigi tersebut memakai mahkota logam atau inlay alloy emas,
maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu 871-1093 C.
7)

Gigi-geligi dan tulang rahang secara roentgenografis, walaupun terdapat

pecahan-pecahan rahang pada roentgenogramnya dapat dilihat (interpretasi)


kadang-kadang terdapat anomali dari gigi dan komposisi tulang rahang yang
khas.
8)

Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia memakai

gigi tiruan dengan berbagai macam model gigi tiruan dan gigi tiruan tersebut
dapat ditelusuri atau diidentifikasi. Menurut Scott, gigi tiruan akrilik akan
terbakar menjadi abu pada suhu 538 C sampai 649 C. Apabila memakai
jembatan dari porselen maka akan menjadi abu pada suhu 1093 C.
9)

Gigi-geligi merupakan sarana terakhir di dalam identifikasi apabila

sarana-sarana lain atau organ tubuh lain tidak ditemukan.


Berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dengan menjadikan gigi-geligi
sebagai objek pemeriksaan tersebut dapat diperoleh dari data gigi-geligi yang
memenuhi berbagai syarat validitas.

Definisi dan Pengertian Korban Tidak Dikenal


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), korban adalah manusia yang
menjadi menderita (mati, dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan
jahat, dan sebagainya. Sedangkan kata tidak dikenal (unidentified)

menujukkan keadaan dimana belum diketahui jati diri seseorang. Korban tidak
dikenal dapat diartikan sebagai manusia yang menjadi menderita atau mati
akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya, dimana jati diri manusia
tersebut belum diketahui.
Korban tidak dikenal tersebut bisa dalam keadaan masih hidup atau meninggal.
Korban tidak dikenal yang masih hidup dapat disebabkan oleh keadaan korban
yang koma, amnesia, gangguan mental, dan keterbatasan bahasa yang
menghalangi korban untuk memberi informasi tentang jati dirinya. Korban
tidak dikenal yang meninggal dapat disebabkan oleh sulit dikenalinya jenazah
korban karena keadaannya sudah rusak atau anggota tubuhnya sudah terpisahpisah (Knight, 1991).
Prosedur Identifikasi Korban Tidak Dikenal dalam Bidang Kedokteran
Gigi.
Tim kedokteran gigi forensik terdiri dari tiga bagian dan seorang komandan.
Ketiga bagian tersebut adalah bagianpostmortem, bagian antemortem, dan
bagian perbandingan. Bagian postmortem bertugas untuk mengumpulkan datadata gigi postmortem ditempat kejadian. Bagian antemortem bertugas untuk
mengkondisikan rekam medik gigi agar dapat diinterpretasikan. Bagian
perbandingan bertugas untuk membandingkan dan menyesuaikan data, serta
menyelesaikan proses identifikasi. Komandan harus selalu siap dan dapat
mengatur pergerakan tim dengan cepat (Eckert, 1992).
Tindakan pertama yang dilakukan oleh dokter gigi forensik saat tiba di Tempat
Kejadian Peristiwa (TKP) adalah menyelamatkan bahan bukti penting yang
dibutuhkan untuk analisa kedokteran gigi forensik (misalnya gigi-geligi yang
berserakan). Tindakan yang perlu dilakukan langsung di TKP misalnya adalah
pengambilan sampel liur pada bite mark, pemotretan keadaan korban, dan
sebagainya (Lukman, 2006).
Tindakan pertama yang bersifat umum di TKP, yaitu pada awalnya menutup
TKP sebatas areal yang aman agar bukti-bukti tidak hilang atau rusak.
Selanjutnya jika ada korban periksa tanda-tanda kehidupannya. Apabila korban
masih hidup, segera selamatkan dengan mengirim ke rumah sakit terdekat. Jika
sempat buat foto posisi atau kondisi korban saat ditemukan, kemudian buat foto
dan sketsa TKP seteliti mungkin. Koordinasikan dengan unsur lain (Dokter

umum, Labkrim, dsb) agar tidak saling menghambat pekerjaan masing-masing.


Terakhir lakukan tindakan yang spesifik sesuai dengan kasusnya (Lukman,
2006).
Tindakan selanjutnya setelah tindakan pertama yang bersifat umum adalah
identifikasi jenazah. Tujuan identifikasi jenazah adalah untuk mengumpulkan
bukti atau petunjuk mengenai identifikasi korban atau jenazah. Tindakan ini
dilakukan dengan mencatat secara teliti keadaan korban khususnya keadaan
kepala, mulut, dan gigi-geligi. Perhatian khusus diberikan terhadap hal-hal
yang mungkin berubah pada saat transportasi korban ke ruang otopsi. Apabila
kerangka yang ditemukan telah rusak atau dalam keadaan membusuk karena
terendam air, cari gigi dengan teliti karena gigi cenderung lepas dari tempatnya.
Apabila gigi-geligi yang lepas telah ditemukan, masukkan dalam kantong
plastik khusus terpisah, jangan dibersihkan atau direkonstruksi di TKP,
rekonstruksi dilakukan di ruang otopsi. Pada kasus terbakar parah, jenazah atau
gigi menjadi sangat rapuh, transportasi harus dilakukan dengan hati-hati.
Bagian gigi yang rapuh dan mudah rusak akibat transportasi dapat direkatkan
dulu dengan lem cair misalnya power glue,alteco, dan super glue agar tetap
utuh saat transportasi. Jika terpaksa, pemeriksaan dapat langsung dilakukan di
TKP. Pada kasus mutilasi buat foto dari sisa jenazah, catat dengan teliti, dan
buat sketsa yang rinci tentang posisi tiap bagian tubuh yang terpisah (Lukman,
2006).
Setelah jenazah berada di ruang otopsi pemeriksaan intraoral mulai dilakukan,
berikan kesempatan pada dokter forensik untuk mengambil sampel cairan atau
bahan dalam mulut jika diperlukan untuk pemeriksaan lab. Setelah bersih,
periksa adanya kemungkinan luka atau tanda-tanda yang tidak wajar dalam
rongga mulut. Jika ada gigi-geligi yang lepas, masukkan kembali gigi-geligi ke
dalam soketnya. Buat pemeriksaan postmortem kedokteran gigi forensik sesuai
juknis atau formulir standar. Setelah itu, buat foto-foto detail wajah dan
keadaan mulut dalam keadaan selengkap mungkin. Jika dirasakan perlu dapat
dibuat cetakan gigi dan panoramic x-ray. Setelah pembuatan x-ray, dapat
dilakukan penentuan golongan darah dengan sampel sepertiga apikal salah satu
gigi. Jika diperlukan dapat dilakukan isolasi DNA, untuk ini harus dikorbankan

satu gigi yang utuh agar dapat memperoleh jaringan pulpa yang cukup
(Lukman, 2006). Pada waktu proses perbandingan, kasus-kasus yang banyak
masalah sebaiknya dikerjakan terakhir (Ardan, 1999).
Semua data-data yang diperoleh dalam identifikasi dituangkan dalam formulir
baku mutu nasional, yaitu ke dalam formulir korban tindak pidana yang
berwarna merah atau disebut dengan data postmortem, pada korban hidup tetap
pula ditulis ke dalam formulir yang sama, sedangkan data-data semasa hidup
ditulis ke dalam formulir antemortem yang berwarna kuning. Hal ini berlaku
pula pada pelaku, ia mempunyai kedua penulisan data pula, antemortem dan
postmortem pada kertas yang berwarna kuning dan merah (Lukman, 2006).
Setelah jenazah teridentifikasi sedapat mungkin dilakukan perawatan jenazah,
antara lain perbaikan tubuh jenazah, pengawetan jenazah, perawatan sesuai
agama korban, dan memasukkan korban dalam peti jenazah. Kemudian jenazah
diserahkan pada keluarga oleh petugas khusus dari tim identifikasi berikut
surat-surat yang diperlukan. Perawatan jenazah setelah teridentifikasi
dilaksanakan oleh unsur Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas terkait dibantu
oleh keluarga korban (Depkes RI, 2006).

JENIS JENIS METODE IDENTIFIKASI FORENSIK


Jenis metode identifikasi forensikdapat dibagi menjadi metode identifikasiprimer dan
metode identifikasisekunder. Metodeidentifikasi tradisional yaitu metodevisual, dimana
metode ini tidak bisadianggap sebagaimetodeterbaik danrentandalam ketidaktelitian.Metode
inidigolongkansebagai metodeidentifikasisekunder.3
Metode IdentifikasiPrimer

Gambar1.Metode identifikasi primer. 1

1. Sidik jari.
1.1. Definisi

Sidik jari adalah suatu impresi dari alur-alur lekukan yang menonjol dari
epidermis pada telapak tangan dan jari-jari tangan atau telapak kaki dan jari-jari kaki,
yang juga dikenal sebagai dermal ridges atau dermal papillae, yang terbentuk dari
satu atau lebih alur-alur yang saling berhubungan. Dari bayi pun, kita semua sudah
mempunyai sidik jari yang sangat identik dan tidak dimiliki orang lain. Alur-alur kulit
di ujung jari dan telapak tangan dan kaki mulai tumbuh di ujung jari sejak janin
berusia empat minggu hingga sempurna saat enam bulan di dalam kandungan.6
Daktiloskopi adalah suatu sarana dan upaya pengenalan identitas diri
seseorang melalui suatu proses pengamatan dan penelitian sidik jari, yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan/kebutuhan, tanda bukti, tanda pengenal
ataupun sebagai pengganti tanda tangan (cap Jempol).6
Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari
antemortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan
demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan
jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan
kedua tangan jenazah dengan kantong plastik.2
Ada tigaalasan mengapasidik jarimerupakan indikatoridentitas yang dapat
diandalkan: 1

Sidik jariunik:Tidak ada kecocokanmutlak antarapapiler ridgespada jaridari


dua individuyang berbeda atau padajariyang berbeda dariorang yang sama.

Sidik jaritidak berubah:papiler ridges terbentukpada bulankeempatkehamilan


dantetaptidak berubahbahkan setelahmati.Sidik jaritumbuh kembalidalam pola
yang samasetelahluka ringan. Lukayang lebih parahmengakibatkanjaringan
parut permanen.

Sidik jaridapat diklasifikasikan:Karenasidik jaridapat diklasifikasikan,maka


dapat diidentifikasidan didata secarasistematisdan dengan demikiandapat
diperiksadengan mudahuntuk tujuanperbandingan.

Gambar2.Anatomikulit: kelenjarekrinmelingkar, yang terletak didermis, memiliki


saluranyangnaik melaluilapisanepidermis dan berakhir disepanjangpapiladermal.
Strukturpapiladermalmemberikanpolasidik jariyang khas.3

Detail anatomi ini memperkasar permukaan telapak tangan dan kaki hingga
memperkuat cengkeraman kala memegang atau berjalan. Benda yang dipegang tidak
mudah lepas. Secara resmi, istilah sidik jari digunakan pertama kali oleh Dr.
Nehemiah Grew yang memperkenalkan pada Royal Collage of Physicians, London
pada tahun 1684 tentang tanda-tanda penting yang ditemukan di ujung-ujung jari
manusia. Setahun kemudian, Gouard Bidloo membuat buku pertama pola sidik jari
lengkap. Pada tahun 1788, JCA Mayer menyatakan bahwa tak ada 2 orang, kembar
sekalipun yang memiliki sidik jari sama persis walaupun masing-masing mempunyai
kemiripan individu. Tahun 1823, John E Purkinje dari University of Breslau membuat
klasifikasi sidik jari dalam sembilan golongan utama, walau kemudian Francis Galton
berpendapat bahwa hanya ada 3 golongan utama, selebihnya adalah variasi.6

Gambar 3. Contohpolayang paling umum untuk dermal ridges.Limakelasutama-left loop, right loop,
whorl, arch, dan tented arch-umum digunakan. Frekuensiperkiraanuntuksetiap tipedinyatakandalam
tanda kurung.Untuk tiap tipe, posisi dariinti ditandai dengan kotakmerah dandeltaditandaisegitigahijau. 3

1.2. Sifat sifat Sidik Jari


Biometrik merupakan cabang matematika terapan yang bidang garapnya untuk
mengindentifikasi individu berdasarkan ciri atau pola yang dimiliki oleh individu
tersebut, misalnya bentuk wajah, sidik jari, warna suara, retina mata, dan struktur
DNA. Sidik jari merupakan salah satu pola yang sering digunakan untuk
mengindentifikasi indentitas seseorang karena polanya yang unik, terbukti cukup
akurat, aman, mudah, dan nyaman bila dibandingkan dengan sistem biometrik yang
lainnya. Hal ini dapat dilihat pada sifat yang dimiliki oleh sidik jari yaitu guratanguratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup, pola ridge
tidaklah bisa menerima warisan, pola ridge dibentuk embrio, pola ridge tidak pernah
berubah dalam hidup, dan hanya setelah kematian dapat berubah sebagai hasil

pembusukan. Dalam hidup, pola ridge hanya diubah secara kebetulan akibat, lukaluka, kebakaran, penyakit atau penyebab lain yang tidak wajar. Dapat dikatakan
bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua
orang tersebut kembar satu telur.Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada 5
juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru
akan terjadi lagi 300 tahun kemudian, atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang
terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang.6
Dibawah ini merupakan sifat-sifat khusus yang dimiliki sidik jari: 6
a) Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit
manusia seumur hidup.
b) Immutability, yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali
mendapatkan kecelakaan yang serius.
c) Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang.
1.3. Macam Macam Sidik Jari
a) Latent prints (Sidik jari Laten). Walaupun kata laten berarti tersembunya atau
tak tampak, pada penggunaan modern di ilmu forensik istilah sidik laten berarti
kemungkinan adanya atau impressi secara tak sengaja yang ditinggalkan dari aluralur tonjolan kulit jari pada sebuah permukaan, tanpa melihat apakah sidik
tersebut terlihat atau tak terlihat pada waktu tersentuh. Teknik memproses secara
elektronik, kimiawi, dan fisik dapat digunakan untuk melihat residu sidik laten
yang tak terlihat yang ditimbulkan dari sekresi kelenjar ekrin yang berada di aluralur tonjolan kulit (yang memproduksi keringat, sebum, dan berbagai macam
lipid) walaupun impressi tersebut terkontaminasi dengan oli, darah, cat, tinta, dll.3
b) Patent prints (Sidik jari Paten). Sidik ini ialah impressi dari alur-alur tonjolan
kulit dari sumber yang jak jelas yang dapat langsung terlihat mata manusia dan
disababkan dari transfer materi asing pada kulit jari ke sebuah permukaan. Karena
sudah dapat langsung dilihat sidik ini tidak butuh teknik-teknik enhancement, dan
diambil bukan dengan diangkat, tetapi hanya dengan difoto.3
c) Plastic prints (Sidik jari Plastik). Sidik plastik adalah impressi dari sentuhan aluralur tonjolan kulit jari atau telapak yang tersimpan di material yang
mempertahankan bentuk dari alur-alut tersebut secara detail. Contoh umum: pada
lilin cair, deposit lemak pada permukaan mobil. Sidik-sidik seperti ini dapat
langsung dilihat, tapi penyidik juga tak boleh mengenyampingkan kemungkinan
bahwa sidik-sidik laten yang tak tampak dari sekongkolan pelaku mungkin juga
terdapat pada permukaan tersebut. Usaha untuk melihat impressi-impressi non
plastik pun harus dilaksanakan.3
I.4 Klasifikasi Sidik Jari

Sebelum komputerisasi menggantikan sistem pendataan manual di operasioperasi pemrosesan sidikjari yang besar, klasifikasi sidik jari manual digunakan
untuk mengkatagorikan sidik jari berdasarkan formasi alur-alur tonjolan secara
umum (seperti ada atau tak adanya pola-pola sirkular pada jari-jari), oleh karena itu
pendataan dan pengambilan catatan laporan dalam jumlah besar berdasarkan polapola tersebut, yang terlepas dari pertimbangan nama, tanggal lahir, dan data biografis.
Sistem-sistem klasifikasi sidik jari yang paling populer diantaranya sitem Roscher,
sistem Vucetich, dan sistem Henry. Dari sistem-sistem ini, sistem Roscher
dikembangkan di Jerman dan diaplikasikan di Jerman dan Jepang. Sistem Vucetich
dikemkangkan di Argentina dan diimplementasikan di seluruh Amerika Utara, dan
sistem Henry dikembangkan di India dan diimplementasikan di kebanyakan negaranegara berbahasa Inggris.6
Sistem Henry berasal dari pola ridge yang terpusat pola jari tangan, jari kaki,
khusunya telunjuk. Metoda yang klasik dari tinta dan menggulung jari pada suatu
kartu cetakan menghasilkan suatu pola ridge yang unik bagi masing-masing digit
individu.Dalam sistem klasifikasi Henry, terdapat tiga pola dasar sidik jari: Arch
(lengkungan), Loop (uliran), dan Whorl (lingkaran).6
a. Tipe Arch, Pada patern ini kerutan sidik jari muncul dari ujung, kemudian mulai
b.

naik di tengah, dan berakhir di ujung yang lain.


Tipe Loop, Pada patern ini kerutan muncul dari sisi jari, kemudian membentuk

c.

sebuah kurva, dan menuju keluar dari sisi yang sama ketika kerutan itu muncul.
Tipe Whorl, Pada patern ini kerutan berbentuk sirkuler yang mengelilingi sebuah
titik pusat dari jari.
Dari ketiga klasifikasi diatas terdapat juga klasifikasi yang lebih kompleks

yang mengikutsertakan pola plain arches (lengkungan sederhana atau tented arches
(lekukan yang seperti tenda) . Pola Loop dapat berarah radial atau ulnar, tergantung
arah ekor dari loop tersebut. Pola Whorl juga dibagi dalam subgrup-subgrup: plain
whorl, accidental whorls, dan central pocket loop.6

I.4

Gambar 4. Pola
dasarJari
sidik jari. 6
Cara Pengambilan Dan Pemeriksaan
Sidik
Dari sembilan metode identifikasi yang dikenal hanya metode penetuan jati

diri dengan sidik jari (daktiloskopi), yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter,

melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak
dilakukan oleh dokter, dokter masih mempunyai kewajiban yaitu untuk
mengambilkan atau mencetak sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas
dan keadaan mayatnya yang telah membusuk. Teknik pengembangan sidik jari pada
jari yang keriput, serta mencopot kulit ujung jari yang telah mengelupas dan
memasangnya pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa, baru kemudian dilakukan
pengambilan sidik jari, merupakan prosedur standar yang harus diketahui dokter.6
Cara pengangkatan sidik jari yang paling sederhana adalah dengan metode
dusting (penaburan bubuk). Biasanya metode ini digunakan pada sidik jari paten /
yang tampak dengan mata telanjang. Sidik jari laten biasanya menempel pada
lempeng aluminium, kertas, atau permukaan kayu. Agar dapat tampak, para ahli
dapat menggunakan zat kimia, seperti lem (sianoakrilat), iodin, perak klorida, dan
ninhidrin. Lem sianoakrilat digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari dengan cara
mengoleskannya pada permukaan benda aluminium yang disimpan di dalam wadah
tertutup, misalnya stoples. Dalam stoples tersebut, ditaruh juga permukaan benda
yang diduga mengandung sidik jari yang telah diolesi minyak. Tutup rapat stoples.
Sianoakrilat bersifat mudah menguap sehingga uapnya akan menempel pada
permukaan benda berminyak yang diduga mengandung sidik jari. Semakin banyak
sianoakrilat yang menempel pada permukaan berminyak, semakin tampaklah sidik
jari sehingga dapat diidentifikasi secara mudah.6
Cara lainnya dengan menggunakan iodin. Iodin dikenal sebagai zat
pengoksidasi. Jika dipanaskan, iodin akan menyublim, yaitu berubah wujud dari
padat menjadi gas. Kemudian, gas iodin ini akan bereaksi dengan keringat atau
minyak pada sidik jari. Reaksi kimia ini menghasilkan warna cokelat kekuningkuningan. Warna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret
agar dapat didokumentasikan. Zat kimia lain yang biasa digunakan adalah perak
nitrat dan larutan ninhidrin. Jika perak nitrat dicampurkan dengan natrium klorida,
akan dihasilkan natrium nitrat yang larut dan endapan perak klorida. Keringat dari
pelaku mengandung garam dapur (natrium klorida, NaCl) yang dikeluarkan melalui
pori-pori kulit. Pada praktiknya, larutan perak nitrat disemprotkan ke permukaan
benda yang diduga tersentuh pelaku. Setelah 5 menit, permukaan benda akan kering
dan perak nitrat pun terlihat. Lalu, sinar terang atau ultra violet yang disorotkan ke
permukaan benda akan membuat sidik jari yang mengandung perak nitrat terlihat.
Seperti halnya iodin, warna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus

segera dipotret agar dapat didokumentasikan. Ninhidrin merupakan zat kimia yang
dapat bereaksi dengan minyak dan keringat menghasilkan warna ungu. Jika jari
pelaku kejahatan mengandung minyak atau keringat, lalu tertempel pada permukaan
benda, sidik jarinya akan terlihat dengan cara menyemprotkan larutan ninhidrin.
Setelah dibiarkan selama 10-20 menit, akan tampak warna ungu. Proses ini dapat
dipercepat dengan memanfaatkan panas lampu.Metode paling mutakhir yang
digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari adalah teknik micro-X-ray fluorescence
(MXRF). Teknik ini dikembangkan oleh Christopher Worley, ilmuwan asal
University of California yang bekerja di Los Alamos National Laboratory.
Dibandingkan dengan metode lainnya yang biasa digunakan, teknik MXRF
mempunyai beberapa kelebihan. MXRF dapat mengidentifikasi sidik jari yang tidak
dapat diidentifikasi metode lain.6
2. Analisis Dental
Forensik Odontologi dapat merupakan suatu penerapan ilmu gigi dalam system
hukum.Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu forensic dentistry dan
odontology forensic. Forensik odontologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang
mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan
presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.7
Ruang lingkup forensik odontologi meliputi :
1. Identifikasi terhadap jenasah korban yang tidak diketahui melalui gigi, rahang
dan tulang-tulang kraniofasial
2. Analisa jejak bekas gigitan
3. Analisa trauma orofasial yang berhubungan dengan kekerasan
4. Dental jurisprudence, termasuk menjadi saksi ahli
Pelayanan dental forensic meliputi baik penyelidikan kematian maupun kedokteran
forensik klinis untuk mengevaluasi korban kekerasan hidup seperti kekerasan seksual,
kekerasan anak, dll. 7
Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai
berikut: 7
1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh
lingkungan yang ekstrim.
2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi
gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.

3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi
(dental record) dan data radiologis.
4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang
mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila
terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa
gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.
6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C.
7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang
terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan
giginya masih utuh.
2.1. Anatomidan Morfologi Gigi Manusia8
a. Anatomi Gigi
Gigi manusia terdiri dari tiga:

Akar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian gigi yang
terletak didalam tulang rahang.

Mahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggiva.

Leher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan mahkota
gigi.

b. Struktur Gigi
Badan dari gigi terdiri dari :
1. Email, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi dan
berfungsi membentuk struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan
terhadap tekanan dan abrasi. Email tersusun dari mineral anorganik terutama
kalsium dan fosfor, zat organic dan air.
2. Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan berwarna
kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak
dari email. Dentin terdiri dari 70 % bahan organic, terutama Kalsium dan
fosfor serta 30 % bahan organic dan air.
3. Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan
menutup akar gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan
ikat yang memperkuat akar gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari

dentin dan terdiri dari 50% bahan organic berupa Kalsium dan Fosfor dan
50% bahan organic.
4. Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian ruang tengah
pulpa dan akar gigi. Pada pulpa terkandung pembuluh darah, syaraf, dan sel
pembentuk dentin. Pulpa berisi nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.

Gambar 5. Struktur gigi.8

c. Morfologi gigi.7,8
Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Gigi susu
Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9 bulan dan
lengkap pada umur 2 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari 5 gigi pada setiap
daerah rahang masing masing adalah : 2 gigi seri (incicivus),1 gigi taring.
2. Gigi permanen
Gigi permanen berjumlah 28 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi taring, 2 gigi
premolar, dan 3 gigi molar pada setiap daerah rahang. Gigi permanen
menggantikan gigi susu. Antara umur 6 14 tahun 20 gigi susu diganti gigi
permanen. Gigi molar 1 dan 2 mulai erupsi pada umur 6 12 tahun
sedangkan gigi molar 3 mulai erupsi pada umur 17 21 tahun.

d. Nomenklatur Gigi8
Nomenklatur yang biasa dipakai adalah :
1. Cara Zsigmondy
Gigi susu
V IV III II I
I II III IV V
V IV III II I
I II III IV V
Contoh : c bawah kanan : III
m2 atas kiri : V
Gigi tetap
8764321
12345678
8764321
12345678
Contoh : P2 atas kanan : 5
I1 bawah kiri : 1
2. Cara Palmer : cara yang paling mudah dan universal untuk dental record

Gigi susu
EDCBA
AB C D E
EDCBA
AB C D E
Contoh : c bawah kanan : C
Gigi tetap
8764321
12345678
8764321
12345678
Contoh : P2 atas kanan : 5

m2 atas kiri : E

I1 bawah kiri : 1

3. Cara Amerika : yaitu dengan menghitung dari atas kiri, ke kanan, ke bawah
kanan, lalu ke bawah kiri.
Gigi Susu (pakai huruf romawi)
X

IX VIII VII

VI

XI XII XIII XIV XV

IV

III

II

XVI XVII XVIII XIX XX

Contoh : c bawah kanan : XIII

m2 atas kiri : I

Gigi Tetap (pakai angka biasa) :


16 15 14 13 12 11 10 9

17 18 19 20 21 22 23 24

25 26 27 28 29 30 31 32

Contoh : P2 atas kanan : 13

3 2

I1 bawah kiri : 25

4. Cara Aplegate
Kebalikan dari cara Amerika yaitu dengan menghhitung dari atas kanan ke
kiri, kebawah kiri lalu ke bawah kanan
Gigi Susu :
I

II

III

IV

VI VII VIII

IX X

XX XIX XVIII XVII XVI

XV XIV XIII XII XI

Contoh : c bawah kanan : XVII

m2 atas kiri : X

Gigi Tetap :
1

3 4

5 6 7

9 10 11 12 13 14 15 16

32 31 30 29 28 27 26 25

24 23 22 21 20 19 18 17

Contoh : P2 atas kanan : 4

I1 bawah kiri : 24

5. Cara Haderup
Gigi Susu :
Gigi Tetap :

0+

+0

0-

-0

Contoh : c bawah kanan : 03-

m2 atas kiri : +05

Contoh : P2 atas kanan : 5+

I1 bawah kiri : -1

6. System Scandinavian (tidak begitu banyak digunakan)


+ : untuk gigi geligi atas
- : untuk gigi geligi bawah
Contoh : P2 atas kanan : +5

I2 bawah kiri : 2-

7. Cara G. B. Denton
Gigi Susu :
Gigi Tetap :

Contoh : c bawah kanan : c.3

m2 atas kiri : a.5

Contoh : P2 atas kanan : 2.5

I1 bawah kiri : 4.1

8. Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )


Gigi Susu :
Gigi Susu :

Contoh : c bawah kanan : 83

m2 atas kiri : 65

Contoh : P2 atas kanan : 15

I1 bawah kiri : 31

2.2. Identifikasi Dental Perbandingan


Dogma sentral identifikasi dental yaitu bahwa gigi postmortem tetap dapat
dibandingkan dengan dental record antemortem, termasuk catatan tertulis, study
casts, radiografi dll, untuk mengkonfirmasi identitas korban. Seseorang yang sering
melakukan perawatan gigi biasanya lebih mudah diidentifikasi daripada seseorang
yang jarang melakukan perawatan giginya. Pada gigi geligi tidak hanya dapat
memperlihatkan perawatan yang melekat atau tertinggal pada gigi korban sebagai

sesuatu yang unik dan mudah dikenali, juga dapat bertahan selama postmortem
bahkan dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada jaringan tubuh yang
lainnya.9
Biasanya, tubuh manusia yang ditemukan dan dilaporkan kepada polisi yang
kemudian akan meminta pemeriksaan identifikasi dental. Biasanya terdapat benda
pengenal pada korban (misalnya dompet atau izin mengemudi) pada tubuh korban
dan pada benda ini mungkin terdapat catatan antemortem korban. Pada kasus lain,
lokasi geografis dimana tubuh korban ditemukan atau karakter fisik lain maupun
bukti-bukti tak langsung mungkin dapat membantu dalam membuat identitas diduga,
biasanya dengan menggunakan data dari data orang hilang. Dental record
antemortem kemudian dapat diperoleh dari data seorang dokter gigi.9
Seorang dokter gigi forensic membuat dental record postmortem dengan
menyusun dan menuliskan gambaran struktur maupun gambaran radiologis dental
yang didapatkan. Jika catatan dental record antemortem tersedia pada saat itu,
gambaran radiografis harus dilakukan untuk membuat replikasi tipe dan sudutnya.9

Gambar 6. Contoh catatan dental postmortem. 9

Setelah

dental

record

postmortem

telah

lengkap,

dapat

dilakukan

perbandingan antara kedua catatan tersebut, postmortem dan antemortem.


Diperlukan pemeriksaan perbandingan yang sistematis dan metodik, dengan

memeriksa setiap gigi dan struktur di sekitarnya. Walapun ditemukannya suatu


bentuk restorasi gigi merupakan point identifikasi yang penting, banyak bagian oral
lain yang dapat dinilai. Semakin banyak data ciri-ciri oral yang ditemukan semakin
berarti data yang dikumpulkan khususnya pada kasus dengan restorasi gigi minimal.
Dengan semakin menurunnya kasus karies gigi, maka kasus non-restorasi akan
semakin sering ditemukan.9

Gambar 7. Contoh perbandingan radiografi dental postmortem dan antemortem untuk menentukan identitas.
Pola, bentuk dan ukuran perawatan gigi tampak dalam satu gambar radiografi (record) yang kemudian
dibandingkan dengan sifat dan karakteristik yang serupa pada gambar radiografi lainnya. Pada kasus diatas,
tampak bahwa kedua foto tersebut berasal dari orang yang sama, menandakan identifikasi positif. 9

Persamaan dan perbedaan yang didapatkan dari kedua dental record


(postmortem dan antemortem) harus dicatat. Ada dua jenis perbedaan, yaitu
perbedaan yang dapat dijelaskan dan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan.
Perbedaan yang dapat dijelaskan biasanya berhubungan dengan waktu diantara
dental record antemortem dan postmortem misalnya terdapat ekstraksi gigi atau
restorasi gigi. Perbedaan yang tidak dapat dijelaskan, misalnya pada antemortem
record tidak terdapat gigi sedangkan pada postmortem record terdapat gigi.9
Beberapa kategori yang disarankan digunakan dalam menentukan hasil
investigasi identifikasi odontology forensik. American Board of Forensic
Odontology merekomendasikannya dalam 4 kesimpulan hasil, antara lain: 9
1. Positif Identification (identifikasi posistif : jika dental record antemortem dan
postmortem memiliki kesesuaian untuk dapat diputuskan bahwa kedua data
tersebut berasal dari orang yang sama. Sebagai tambahan tidak terdapat
perbedaan yang tidak dapat dijelaskan.
2. Possible Identification (kemungkinan identifikasi): jika pada dental record
antemortem dan postmortem memiliki bagian-bagian yang sesuai namun
karena kualitas keadaan sisa-sisa tubuh postmortem atau bukti antemortem
sehingga tidak memungkinkan mengambil keputusan identitas adalah positif.
3. Insufficient Evidence (barang bukti kurang) : jika data-data yang didapatkan
tidak mencukupi untuk menjadi dasar dalam mengambil keputusan.

4. Exclusion (pengecualian): data antemortem dan postmortem jelas tidak sama.


2.3. Profil Dental Postmortem
Jika dental record antemortem tidak tersedia dan medote identifikasi lain tidak
dapat dilakukan, kedoteran gigi forensic dapat membantu mengurangi jumlah
kemungkinan populasi untuk mengidentifikasi jenasah. Metode ini dikenal sebagai
profil dental postmortem. Informasi yang didapatkan dari metode ini dapat membantu
dalam memfokuskan pencarian dental record antemortem. Dengan profil dental
postmortem dapat membantu dalam menemukan informasi mengenai umur, latar
belakang keturunan, jenis kelamin dan status ekonomi. Pada beberapa kasus, metode
ini dapat memberikan informasi tambahan mengenai pekerjaan, kebiasaan konsumsi
makanan, perilaku sehari-hari bahkan penyakit gigi maupun penyakit sistemik.9
Dengan profil dental postmortem dapat membantu mengenali jenis kelamin
maupun latar belakang individu. Pada dasarnya, dari bentuk tengkorak, seorang
dokter gigi forensic dapat membedakan ras dalam tiga kelompok besar yaitu:
Kaukasoid, Mongoloid dan Negroid. Ciri tambahan pada gigi seperti tonjolan
Carabelli, shovel-shape incisor, dan multicusped premolar juga dapat membantu
dalam membedakan ras. Penentuan jenis kelamin biasanya dilakukan dengan melihat
tampilan tengkorak, karena jenis kelamin tidak memberikan bentuk morfologi ggi
yang khas. Pemeriksaan mikroskopi gigi dapat membantu mengenali jenis kelamin
dengan melihat ada atau tidak kromatin Y serta dengan pemeriksaan DNA.9
Struktur gigi dapat memberikan informasi umur seseorang. Umur pada anak
(termasuk fetus dan neonatus) dapat ditentukan dengan analisa perkembangan gigi
dan membandingkannya dengan table perkembangan gigi geligi. Kesimpulan
biasanya akurat hingga sekitar 1,5 tahun. Tabel perbandingan yang biasa digunakan
adalah table Ubelaker, yang mengilustrasikan perkembangan gigi geligi dari umur 5
bulan antenatal hingga umur 35 tahun. Oleh karena itu, table ini memperlihatkan
gambaran susunan gigi dari gigi susu, campuran gigi susu dan permanen, hingga
susunan gigi permanen. Gigi molar ketiga digunakan oleh beberapa ahli gigi forensik
yang menandakan usia dewasa muda. Terdapatnya tanda penyakit periodontal,
pemakaian berlebihan, multiple restoration, ekastraksi, dapat memberikan informasi
usia yang lebih tua. Beberapa ahli gigi forensic menggunakan pemeriksaan rasemisasi
asam aspartat, metode SEM-EDXA (pemeriksaan dentin untuk menentukan umur).

Beberapa penelitian terbaru di Amerika Serikat menggunakan panjang akar gigi dalam
menentukan usia pada anak.9
Didapatkan erosi pada gigi mengarahkan pada penggunaan alkohol atau
penyalahgunaan zat sedangkan noda pada gigi mengarahkan pada kebiasaan merokok,
pengunaan tetrasiklin atau kebiasaan mengunyah sirih. Kualitas, kuantitas serta ada
tidaknya perawatan dental memberikan informasi status ekonomi atau kemungkinan
negara tempat tinggalnya. Jika profil dental postmortem tidak dapat menunjukkan
kemungkinan identitas jenazah maka dibutuhkan rekonstruksi tampilan individu saat
hidup dengan bantuan profil dental.9
2.4. Penentuan Umur Berdasarkan Pemeriksaan Gigi
Penentuan Umur pada anak :
a. Pendekatan Atlas (Morfologi)10
Teknik ini menggunakan gambaran radiografi gigi dimana dapat dilihat
perbedaan tingkat mienralisasi pada setiap gigi. Dibandingkan mineralisasi
tulang, proses mineralisasi gigi kurang dipengaruhi oleh keadaan nutrisi dan
status endokrin, sehingga memberikan informasi yang lebih akurat dalam
menentukan umur.
1) Tables Schour and Massler. Table Schour dan Massler merupakan
pendekatan atlas yang klasik. Schour dan Massler menggambarkan 20 urutan
perkembangan gigi dimulai sejak usia 4 bulan kelahiran hingga usia 21
tahun. Dilakukan perbandingan perkembangan gigi seseorang dengan tabel
hingga dapat menentukan estimasi usia.
2) Moorrees et all, membuat tabel berdasarkan maturasi gigi permanen dalam
14 tingkat dimulai sejak awal pembentukan penonjolan gigi hingga
penutupan apeks sempurna, dan dibuat tabel berbeda untuk pria dan wanita.
3) Anderson et all, melanjutkan tabel Moorrees et all hingga gigi molar ketiga.
b. Sistem Skor10
Demirjian et all menyederhanakan estimasi kronologi perkembangan gigi dalam 8
tingkat (A-H), dan membatasinya untuk 7 gigi pertama mandibula kiri. Tabel
perkembangan gigi Demirjian et all ini dibuat berbeda untuk anak laki-laki dan
perempuan. Untuk menentukan usia seorang anak kedelapan skor tersebut
dijumlahkan untuk mendapatkan kronologi usia.

Gambar 8. Tabel presentasi perkembangan gigi oleh Demirjian et all. 10

Penentuan umur pada orang dewasa :


a. Teknik Morfologi
1) Metode Gustaffson
Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson pada umumnya bermanfaat
selama gigi masih dalam masa pertumbuhan. Untuk memperkirakan umur
seseorang setelah masa itu digunakan 6 metode, antara lain :
1. Atrisi
Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai
dengan bertambahnya usia.
2. Sekunder dentin
Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk
sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia
maka sekunder dentin akan semakin tebal.
3. Ginggiva attachment
Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan
gusi dan gigi.
4. Pembentukan foramen apikalis
Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.
5. Transparansi akar gigi

Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini
dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama kehidupan.
6. Sekunder sement
Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya
usia ketebalan sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah.
Setiap parameter diatas diberi skala berbeda (dari 1-3) dan dengan
menjumlahkan keenam parameter tersebut didapatkan perkiraan kronologi
usia.
b. Teknik Radiografi
1) Kvaal et all mengembangkan teknologi untuk menentukan perkiraan umur
menilai ukuran pulpa gigi dari gambaran radiografi periapical dari tipe gigi :
insisivus sentral dan lateral maksila, kaninus, dan premolar pertama. Perkiraan
umur berdasarkan jenis kelamin dan perhitungan beberapa ratio panjang dan
lebar pulpa untuk mengimbangi pembesaran dan angulasi dari gambar gigi
yang asli dengan gambaran radiografi.
2) Kvaal and Solheim juga mempresentasikan metode yang mengkombinasikan
teknik morfologi dan radiografi untuk menentukan perkiraan umur.
Berdasarkan gigi yang diukur, beberapa parameter yang dinilai : translusensi
apical dalam mm (T), retraksi ligamentum periodontal dalam mm (P), panjang
pulpa yang diukur dari gambar radiografi (PL), panjang akar gigi yang diukur
dari permukaan mesial gambar radiologi (RL), lebar pulpa pada daerah
cementoenal junction pada gambar radiografi (PWC), lebar akar pada daerah
cementoenal junctionpada gambar radiografi (RWC), lebar pulpa pada daerah
pertengahan akar (RWM), lebar akar pada daerah pertengahan akar (RWM).
c. Metode Asam Aspartat
Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan
pada terdapatnya bahan tersebut pada dentin manusia. Komponen protein
terbanyak pada tubuh manusia berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang
ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa mata. D-amino acid dipercaya
mempunyai proses metabolisme yang lambat dan tiap bagiannya mempunyai laju
pemecahan yang lebih lambat dan mempunyai ratio dekomposisi yang lebih
lambat juga. Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi
dari semua asam amino.
Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari
perkiraan umur dengan membandingkan rasio D-Laspartat acid dengan 20 subyek

dengan hasil bagus (r = 0,979) rasio yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan
pada usia muda dan menurun akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan.
Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin
untuk menentukan usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut
metode ini dapat menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia
dibandingkan dengan parameter yang lain.
Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut :
Ln (1 + D/L) / (1 D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta
K : first order kinetik
t : actual age
Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan
premolar pertama. Mereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari
fraksi total asam amino dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut
dan fraksi peptide. Dibandingkan dengan total asam amino, fraksi kolagen yang
tidak larut dan fraksi peptide yang terlarut, mempunyai konsentrasi glutamine dan
asam aspartat yang lebih tinggi.11
1.
2.
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5. Peranan Forensik Odontologi Dalam menangani bencana Massal
Kematian yang tidak wajar atau tidak terduga, atau dalam kondisi bencana
massal, kerusakan fisik yang direncanakan, dan keterlambatan dalam penemuan
jenazah, bisa mengganggu identifikasi. Dalam kondisi inilah forensik odontologi
diperlukan walaupun tubuh korban sudah tidak dikenali lagi.8
Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah
kemanusiaan dan hukum. Masalah kemanusian menyangkut hak bagi yang
meninggal, dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman berdasarkan
agama dan permintaan keluarga. Mengenai masalah hukum, seseorang yang tidak
teridentifiksi karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila telah mencapai 7 tahun
atau lebih. Dengan demikian surat wasiat, asuransi, masalah pekerjaan dan hukum
yang perlu diselesaikan, serta masalah status pernikahan menjadi tidak berlaku lagi.

Sebelum sebab kematian ditemukan atau pemeriksa medis berhasil menentukan


jenazah yang sulit diidentifikasi, harus diingat bahwa kegagalan menemukan
rekaman gigi dapat mengakibatkan hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan
semua harapan keluarga, sehingga sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang
sebelum dia meninggal.8
2.6. Identifikasi Forensik Odontologi
Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk
membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu untuk
membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan/memperkuat identitas
korban.
1. Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi
melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada
pemeriksaan antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi
desidua diawali pada minggu ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12
16 minggu dan berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang
stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini
akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut
sebagai neonatal line. Neonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel
dan dentin telah dibentuk. Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini
menunjukkan bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan
enamel dan dentin ini umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan
dengan melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi
permanen diikuti dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar pertama
dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap pada
usia 14 16 tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat digunakan untuk
menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat digunakan
untuk penentuan perkembangan gigi.8

Gambar 9. Gambaran X-ray gigi pada seorang anak.8

Gambar diatas memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak :


1.

Gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan


perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari akar
gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh secara utuh).

2. Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan Massler


pada gambar (b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.
Penentuan usia antara 15 dan 22 tahun tergantung dari perkembangan gigi molar
tiga yang pertumbuhannya bervariasi. Setelah melebihi usia 22 tahun, terjadi
degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang
lambat dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.8
2. Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi
geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson
mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang
dari 6,7 mm, sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan
pemeriksaan DNA dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.8
3. Penentuan Ras
Gambaran gigi untuk Ras Mongoloid adalah sebagai berikut:8

1. Shovel-shaped insisivus. Insisivus pada maksilasecara nyata menunjukkan

bentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan
12 % ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun
tidak terlalu jelas.
2. Dens evaginatus. Tuberkel asecoris pada permukaan oklusal premolar
bawah pada 1-4% ras mongoloid.
3. Akar distal tambahan pada molar pertama mandibula ditemukan pada 20%
mongoloid dan hanya 1% pada kaukasoid..
4. Lengkungan palatum berbentuk elips dengan dasar yang lebih datar.
5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

Gambar 10.Shovel-shaped incisors pada seorang wanita China.8

Gambaran gigi untuk Ras Kaukasoid adalah sebagai berikut:


1. Cusp Carabelli, yakni berupa tonjolan tambahan pada permukaan mesiolingual
yang hamper selalu ditemukan pada gigi molar pertama permanen maksilaris dan
pada gigi susu molar kedua mandibularis.
2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5. Dagu menonjol.

Gambar 10. Mesiolingual cusps of Carabelli pada gigi molar pertama


atas dari seorang ras Caucasoid.8

Gambaran gigi untuk Ras Negroid adalah sebagai berikut:


1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan pada
2.
3.
4.
5.
6.

permukaan lingual.
Sering terdapat open bite.
Palatum lebar, hiperbolik, dengan dasar palatum sempit.
Sering didapatkan maloklusi klas III
Palatum berbentuk lebar.
Protrusi bimaksila, tulang alveolar maksila dan mandibula menonjol dengan gigi
seri miring ke arah labium ras mongoloid dan non-Anglo Caucasoid juga dapat
memperlihatkan hal tersebut namun lebih sering ditemukan pada populasi

negroid.
7. Sekitar 20 persen orang ras negroid sudah tidak menunjukkan cirri tersebut
karena telah terjadi perkawinan silang ras.
8. Tuberkulum intermedium, terdapat penonjolan tambahan diantara distolingual
dan mesiolingual pada gigi molar pertama.8
3. Analisis DNA.
Tergantungpada karakteristikkhusus dari sebuahinsiden, pendekatan prosedur
identifikasi akan berbeda. Dalam banyak kasus penyelidikan gigi atau sidik jari akan cukup
memadai. Dalam kasus laindengan, dengan keadaan yangsangatmembusukatau ada banyak
potongan

tubuh,analisisdan

perbandingan

DNAmungkinmetode

terbaik

untukdigunakan.Dalam keadaanseperti itu, DNA mungkinmenjadi saranautamauntuk


mendapatkanidentifikasi yang dapat diandalkan. Keputusanapakah analisisDNAakan
dilakukandiambiloleh

kepalaTimIdentifikasiKorbandalam

konsultasidenganlaboratorium

forensikyang tepat.1
Teknik-teknik identifikasi genetika memberikan suatu perangkat diagnostik yang
sangat kuat dalam kedokteran forensik dan dapat secara sukses diterapkan pada identifikasi
korban-korban bencana. Data genetika dari seseorang selalu sama pada seluruh sel-sel
tubuhnya dan akan tetap konstan bahkan setelah meninggal. Analisis dari sebuah sampel
biologis akan memungkinkannya mengaitkan seseorang dengan nenek/kakek moyang dengan
keturunannya dan data dari analisis-analisis ini dapat dengan mudah dikomputerisasikan.1
Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bentuk
yang berbeda dari struktur dasar yang sama. Jika terdapat variasi/modifikasi pada suatu lokus

yang speifik (pada DNA) dalam suatu populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat
polimorfik. Sifat polimorfik ini di samping menunjukkan variasi individu, juga memberikan
keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari orang lain.2
Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA. Polimorfisme protein antara
lain ialah sistem golongan darah, golongan protein serum, system golonngan eritrosit,d dan
system HLA (Human Lymphocyte Antigen). Polimorfisme DNA merupakan suatu
polimorfisme pada tingkat yang lebih awal dibandingkanpolimorfisme protein, yaitu pada
tingkat kode genetic atau DNA.2
Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan polimorfisme
DNA menunjukkan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme DNA menunjukkan tingkat
polimorfis yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan terhadap banyak
system. Kedua, DNA jauh lebih stabil dibandingkan protein, membuat pemeriksaan DNA
dimungkinkan pada bahan yang sudah membusuk, mengalami mumifikasi atau bahkan pada
jenazah yang tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat luas meliputi seluruh sel
tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin untuk digunakan sebagai bahan pemeriksaan.
Keempat, dengan ditemukannya metode PCR, bahan DNA yang kurang segar dan sedikit
jumlahnya masih mungkin untuk dianalisis.2

b. Ante Mortem
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum
kematian. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang
yang terdekat dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban
semasa hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo, tindikan, bekas
luka, dll), rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa
hidup, sampel DNA orang tua maupun kerabat korban, serta informasi
informasi lain yang relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan
identifikasi, misalnya informasi mengenai pakaian terakhir yang dikenakan
korban.

Data gigi antemortem atau disebut juga data-data prakematian gigi-geligi


adalah keterangan tertulis, catatan atau gambaran dalam kartu perawatan gigi
atau keterangan dari keluarga atau orang yang terdekat (Depkes RI, 2006).
Keterangan data-data biasanya berisi (Depkes RI, 2006):
1)

Nama penderita

2)

Umur

3)

Jenis kelamin

4)

Pekerjaan

5)

Tanggal perawatan, penambalan , pencabutan, dan lain-lain

6)

Pembuatan gigi tiruan ,orthodonti, dan lain-lain

7)

Foto Roentgen

Sumber data-data antemortem tentang kesehatan dan gigi diperoleh dari


(Depkes RI, 2006) :
1)

Klinik gigi rumah sakit pemerintah, TNI / Polri, dan swasta

2)

Lembaga-lembaga pendidikan

3)

Praktek pribadi dokter gigi

c. Post Mortem

Bencana bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan bisa meminta korban tidak
hanya satu atau dua orang saja. Jika terjadi suatu bencana baik yang
diakibatkan karena terjadinya kecelakaan mobil, pesawat dan atau kapal laut,
kemudian akibat bencana alam, aksi terorisme dengan pengeboman dan lain
sebagainya yang mengakibatkan

jatuhnya banyak korban, disini akan

menimbulkan masalah dalam mengidentifikasi korban tersebut.


Masalah yang dihadapi dalam mengidentifikasi korban bencana masal :
1. Banyaknya jumlah korban Dengan jumlah petugas identifikasi yang relatif
sediki

2. Perlu Koordinasi antar departemen untuk memperisingkat identifikasi waktu


agar dapa menyelesaikan identifikasi korban secara tepat dan tepat namun
koordinasi ini cenderung terhambat.
3. Medan / Lokasi Dalam kasus bencana biasanya juga menimbulkan faktor
kesulitan baru adalah untuk mencapai medan / lokasi bencana. Faktor-faktor
tersebut di atas menjadi suatu keharusan dimana identifikasi massal dilakukan
secara efektif & efisien. Tujuan dilakukan Identifikasi Korban Massal sangat
penting mengingat kepastian seseorang hidup dan mati sangat diperlukan
untuk kepentingan hukum yang berkaitan dengan Asuransi, Pensiun, Warisan,
dan lain-lain.
Dalam identifikasi korban dalam jumlah yang sedikit dengan adanya cukup
waktu dan tenaga, metode primer yang biasanya digunakan adalah :
a. Sidik jari
b. Dental record
c. DNA
Dengan metode sekunder adalah data-data lainnya yang menjelaskan atau
menerangkan identitas korban seperti ciri fisik secara visual, dokumen,
dll.angkah langkah dalam pelaksanan Identifikasi:
1. Mengamankan tempat kejadian :
memasang garis polisi, mengevakuasi korban, dan memberi label atau tanda
pada korban
2. Mengoleksi data post mortem
Data post mortem adalah data-data hasil pemeriksaan forensik yang dilihat dan
ditemukan pada jenazah korban. Kita harus mencatat data data yang didapat
pada jenasah selengkap lengkapnya. Mulai dari cici-ciri umum, perkiraan
umur, jenis kelamin, ras. Pertama ambil foto keadaan jenasah secara utuh baik
masih menggunakan pakaian atau yang telah dilepas, kemudian lakukan
pemeriksaan fisik untuk melihat ciri-ciri fisik khusus yang ada pada tubuh
korban. Kemudian ambil sidik jari korban, lakukan pemeriksaan radiologis
gunanya yaitu untuk melihat apakah pada jenasah memiliki tanda khusus pada
bagian dalam tubuh, sperti pemasangan pen pada patah tulang, dll. Setelah itu

identifikasi gigi. Setelah semua itu dilakukan cegah peruban pada jenasah.
Pemeriksaan DNA pada Korban juga harus dilakukan untuk membandingkan
dengan pihak keluarga korban.
1. Identifikasi Ras Korban Dari Ciri-ciri Gigi
Ciri-ciri kelima ras tersebut ditinjau dari gigi

insisive, premolar, dan molar, yaitu

gigi insisive dari cingulum, gigi premolar dari jarak mesiodistal dengan bucopalatal
atau relasi jarak mesodistal dengan bucolingual dan gigi molar dari fissure, jumlah pit
dan adanya carabelli ataupun jumlah gigi molar.
Identifikasi ras tersebut antara lain :
1. Ras caucasoid
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Menurut Kierberger55 dan Pederson49, Permukaan lingual rata pada gigi
seri/insisive (1.2 1.1, 2.1 2.2)
b. Sering ditemukan gigi-geligi yang crowded
c. Gigi molar pertama bawah lebih panjang dan tapered (3.6, 4.6)
d. Menurut Dalberg (1956) , bagian buko-palatal lebih kecil dari mesio-distal (P2, 1.5,
2.5)
e. Sering ditemukan cusp carabelli dibagian palatal pada gigi 1.6, 2.6
f. Lengkung rahang sempit

Gambar 3. Ras Caucasoid


1. Memperlihatkan gigi incisive bagian atas tidak terdapat cingulum.
2. Memperlihatkan gigi molar 1 dengan fissure dan dua pit yaitu pit distal dan pit
mesial.
3. Memperlihatkan cusp carabelli pada M1 atas pada bagian mesio palatal.
2. Ras mongoloid
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a. Menurut Herdlicka (1921) bahwa gigi insisive mempunyai perkembangan penuh pada
permukaan palatal bahkan lngual sehingga shovel shaped incisor cingulum jelas
dominan (1.1, 1.2, 2.1, 2.2).
b. Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan oklusal premolar
bawah pada 1-4% ras mongoloid.
c. Bentuk gigi molar segiempat dominan
Oleh karena itu satu individu tidak murni satu ras. Maka identifikasi gigi diperlukan
untuk penentuan ras yang didapat dari penothype gigi dari genotype nya.

Gambar 4. Memperlihatkan adanya cingulum pada permukaan palatal pada gigi


incisive atas dan gigi incisive berbentuk sekop.

Gambar 5
1. Memperlihatkan adanya Dens evaginatus pada permukaan oklusal premolar bawah
pada 1-4% ras mongoloid.
2. Memperlihatkan bentuk gigi molar 1 bawah segiempat dominan.
3. Ras Negroid
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a. Menurut R. Biggerstaf bahwa akar premolar cenderung membelah atau terdapat tiga
b.
c.
d.
e.

akar (trifurkasi). (1.4, 1.5, 2.4, 2.5)


Bimaxillary protusion
Molar ke-4 sering ditemukan (banyak ditemukan)
Premolar pertama terdapat 2 atau 3 cusp (1.4, 2.4)
Gigi molar berbentuk segiempat membulat

Gambar 6. Ras Negroid


3. Ras australoid
Yang termasuk dalam ras ini adalah : suku aborigin dan suku-suku kepulauan kecil
pasifik.
4. Ras khusus
Ras khusus ini menurut Nursil Luth dan Daniel Fernandez (1995), yaitu :
a. Brushman
Suku ini bermukim di negara Spanyol.
b. Vedoid
Suku ini bermukim di Afrika Tengah.
c. Polynesian
Suku ini bermukim di pulau-pulau kecil di lautan Hindia dan lautan Afrika.
d. Ainu
Suku ini bermukim di kepulauan kecil di Jepang.

Gambar 7. Memperlihatkan gigi depan dari ras khusus relatif semua gigi incisive
hampir sama.

2.

Identifikasi Ras Korban Dari Lengkung Gigi


Identifikasi ras melalui lengkung gigi mempunyai 5 jenis :

Gambar 8
a. Memperlihatkan lengkung gigi yang berbentuk elipsoid ciri ini dapat didentifikasi
sebagai ras mongoloid.
b. Memperlihatkan lengkung gigi berbentuk U yang dapat diidentifikasi sebagai ras
negroid.
c. Memperlihatkan lengkung gigi berbentuk paraboloid yang dapat diidentifikasi sebagai
ras caucasoid.

Gambar 9
a. memperlihatkan lengkung rahang berbentuk paraboloid yang lebar degan gigi incisive
yang besar-besar hal ini dapat diidentifikasikan sebagai ras australoid.
b. Memperlihatkan lengkung rahang berbentuk U yang sangat nyata sedangkan gigi
incisive kecil-kecil hal ini dapat diidentifikasikan sebagai ras khusus.
3. Identifikasi Ras Dari Antropologi Ragawi

Identifikasi

ini antara lain

melalui foramen orbitalis, os

concae, mastoideus,

foramen occipitalis magnum dan outline tulang tengkorak.


1. Identifikasi melalui Foramen Orbitalis
Ciri-ciri foramen orbitalis pad aras besar sangat berbeda hal ini dapat jelas terlihat
pada mayat yang sudah jadi tengkorak apabila korban masih jenazah maka harus
dilakukan proyeksi rontgenografi posterior-anterior atau anterior-posterior. Ciri-ciri
pasa ras caucasoid, foramen orbitalis nya simetris seperti kacamata yang lengkung ke
medialis lebih sempit. Sedangkan ras mongoloid ciri-ciri foramen orbitalis simetris
kiri dan kanan terbentuk agak bulat. Sedangkan, pada ras negroid memiliki ciri-ciri
foramen orbitalisnya seperti kacamata tetapi lengkung distalisnya lebih kecil.

Gambar 10.

Memperlihatkan berbagai macam bentuk foramen orbitalis sesuai

dengan ras masing-masing.


2. Identifikasi ras melalui Os. Concae
Os Concae mempunyai bentuk yang berbeda-beda pada setiap ras, ras caucasoid
mempunyai concae yang paling kecil dibandingkan dengan ras lain.
Ciri-ciri ras caucasoid melalui Os Concae seperti bentuk biji mete dan agak kecil
sedangkan pada ras mongoloid sangat besar berbentuk bundar dengan dibagi dua
dengan septa. Pada ras negroid memiliki ciri-ciri seperti buah jambu dengan dibagi
dua dengan septa.
3. Identifikasi ras melalui Os Mastoideus
Pada ras caucasoid, tonjolan sudut Os Mastoideus hampir tegak lurus. Pada ras
mongoloid, tonjolan sudut Os Mastoideus membulat mendekati rahang bawah atau
lebih ke medialis. Sedangkan, pada ras negroid tonjolan Os Mastoideus hampir sejajar
dengan tulang tengkorak outline tulang tengkorak posterior.
4.

Identifikasi ras melalui outline tulang tengkorak

Outline tulang tengkorak masing-masing ras berbeda dan gambar ini memperlihatkan
bentuk tulang kepala.

Gambar 11. Outline tulang tengkorak masing masing ras


a. Memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala sari ras caucasoid
b. Memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala sari ras mongoloid
c. Memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala sari ras negroid
d. Memperlihatkan outline dan bentuk tulang kepala sari ras khusus. Memperlihatkan
outline dan bentuk tulang kepala sari ras australoid
Morfologi cranium :
1. Ras caucasoid

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tipe cranium dolichocephalic (panjang)


Tulang zygomaticus cenderung mundur terhadap tulang fasial
Apertura nasalis sangat sempit dan tepi bawahnya tajam
Dasar tulang orbita cenderung miring kebawah
Palatum rrelatif sempit dan cenderung berbentuk segitiga
Sutura zygomaticomaxillaris cenderung membelok
Persentase sutura metopika cenderung lebih tinggi dibanding 2vras lainnya

2. Ras Mongoloid

a.
b.
c.
d.
e.

Tipe cranium cenderung memiliki tulang zygomaticus yang menonjol


Lebar apertura nasalis sedang dan tepi bawah nasal agak runcing
Tulang orbita cenderung sirkulair
Tulang palatum lebarnya sedang
Sutura zygomaticomaxillaris cenderung lurus

3. Ras Negroid

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tipe cranium mesocephalic (sedang)


Tulang zygomaticus tidak begitu menjorok ke depan relatif terhadap tulang fasial
Apertura nasalis sangat lebar dan tepi bawah tulang nasalis tumpul
Tulang orbita cenderung persegi empat dan jarak interorbitas lebar
Tulang palatum cenderung sangat lebar dan agak persegi empat
Alveolus anterior pada maxilla dan mandibula cenderung sangat prognathis
Sering didapati coronal posterior pada sutura coronaria

h. Sutura zygomaticomaxillaris cenderung membentuk huruf S