Anda di halaman 1dari 24

Produksi kontinu adalah suatu metode proses produksi di mana proses

berlangsung secara terus menerus tanpa terhenti. Proses produksi kontinu


adalah kebalikan dari proses produksi partaian.
Proses produksi secara kontinu dilakukan pada industri dengan skala
produksi besar. Contoh industri yang melakukan produksi secara kontinu
adalah industri gelas. Gelas dipanaskan sehingga berbentuk lunak dan
kemudian dialirkan ke mesin pencetak untuk dibentuk. Proses pencairan dan
pencetakan berlangsung secara terus menerus tanpa terhenti. Proses produksi
pada umumnya dihentikan berdasarkan keperluan perawatan dan perbaikan.
Secara rutin (bisa sebulan sekali, enam bulan sekali, atau setahun sekali)
proses produksi dihentikan dan dilakukan perawatan dan pemeriksaan
menyeluruh (overhaul) terhadap alat-alat proses.
Pada proses produksi secara kontinu umum digunakan sistem yang
terotomatisasi. Dengan bantuan PLC (Programmable Logic Controller) atau
pengontrol otomatis lain, kesalahan proses produksi akibat kecerobohan
manusia dapat dikurangi sehingga proses produksi dapat berlangsung terus
menerus dengan kondisi yang stabil atau bahkan mendekati tunak (semua
keadaan konstan dan tidak berubah).
Bila dibandingkan dengan proses produksi secara partaian, proses produksi
secara kontinu bersifat lebih efisien karena waktu jeda yang terdapat pada
proses produksi partaian dapat dihindari. Kelemahan yang dimiliki proses
produksi secara kontinu adalah sifat alatnya yang tidak dapat dimodifikasi.
Pada umumnya, satu jalur produksi hanya dapat digunakan untuk
memproduksi satu jenis produk.
Reaktor kimia
Dalam teknik kimia, Reaktor kimia adalah suatu bejana tempat
berlangsungnya reaksi kimia. Rancangan dari reaktor ini tergantung dari
banyak variabel yang dapat dipelajari di teknik kimia. Perancangan suatu
reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor, sehingga
didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar dengan
biaya yang minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Tentu saja faktor
keselamatan pun tidak boleh dikesampingkan. Biaya operasi biasanya
termasuk besarnya energi yang akan diberikan atau diambil, harga bahan
baku, upah operator, dll. Perubahan energi dalam suatu reaktor kimia bisa
karena adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan atau
pengurangan tekanan, gaya gesekan (pengaduk dan cairan), dll.
Ada dua jenis utama reaktor kimia:

Reaktor tangki atau bejana


Reaktor pipa

Kedua jenis reaktor dapat dioperasikan secara kontinyu maupun


partaian/batch. Biasanya, reaktor beroperasi dalam keadaan ajeg namun
kadang-kadang bisa juga beroperasi secara transien. Biasanya keadaan
reaktor yang transien adalah ketika reaktor pertama kali dioperasikan (mis:
setelah perbaikan atau pembelian baru) di mana komponen produk masih
berubah terhadap waktu. Biasanya bahan yang direaksikan dalam reaktor
kimia adalah cairan dan gas, namun kadang-kadang ada juga padatan yang
diikutkan dalam reaksi (mis: katalisator, regent, inert). Tentu saja perlakuan
terhadap bahan yang akan direaksikan akan berbeda.
Ada tiga tipe pendekatan utama yang digunakan dalam pengoperasian reaktor:
Model reaktor batch
Model Reaktor tangki berpengaduk (RATB) atau dikenal juga sebagai
RTIK (Reaktor Tangki Ideal Kontinu)
Model Reaktor alir pipa (RAP) atau dikenal juga sebagai RAS (Reaktor
aliran Sumbat)
Lebih jauh lagi, reaktor dengan katalisator (padatan) membutuhkan
pendekatan yang terpisah dari ketiga model tersebut dikarenakan banyaknya
asumsi sehingga menyebabkan tiga model perhitungan di atas tidak lagi
akurat.
Beberapa ubahan yang memengaruhi rancangan reaktor:
Waktu tinggal

Volum (V)

Temperatur (T)

Tekanan (P)

Konsentrasi senyawa (C1, C2, C3, ...,Cn

Koefisien perpindahan panas (h, U), dll

RATB (Reaktor Alir Tangki Berpengaduk)

Bagian dalam suatu RATB.


RATB dikenal juga sebagai RTIK (Reaktor Tangki Ideal Kontinu). Di RATB, satu
atau lebih reaktan masuk ke dalam suatu bejana berpengaduk dan bersamaan
dengan itu sejumlah yang sama (produk) dikeluarkan dari reaktor. Pengaduk
dirancang sehingga campuran teraduk dengan sempurna dan diharapkan
reaksi berlangsung secara optimal. Waktu tinggal dapat diketahui dengan
membagi volum reaktor dengan kecepatan volumetrik cairan yang masuk
reaktor. Dengan perhitungan kinetika kimia, konversi suatu reaktor dapat
diketahui.
Beberapa hal penting mengenai RATB:
Reaktor berlangsung secara steady-state, sehingga jumlah yang masuk
setara dengan jumlah yang ke luar reaktor jika tidak tentu reaktor akan
berkurang atau bertambah isinya.
Perhitungan
RATB mengasumsikan pengadukan terjadi secara
sempurna sehingga semua titik dalam reaktor memiliki komposisi yang
sama. Dengan asumsi ini, komposisi keluar reaktor selalu sama dengan
bahan di dalam reaktor.
Seringkali, untuk menghemat digunakan banyak reaktor yang disusun
secara seri daripada menggunakan reaktor tunggal yang besar. Sehingga
reaktor yang di belakang akan memiliki komposisi produk yang lebih
besar dibanding di depannya.
Dapat dilihat, bahwa dengan jumlah RATB kecil yang tak terbatas model
perhitungan akan menyerupai perhitungan untuk RAP.
RAP (Reaktor Alir Pipa)

RAP dikenal juga sebagai RAS (Reaktor aliran Sumbat). Dalam RAP, satu atau
lebih reaktan dipompa ke dalam suatu pipa. Biasanya reaksi yang
menggunakan RAP adalah reaksi fase gas.
Reaksi kimia berlangsung sepanjang pipa sehingga semakin panjang pipa
konversi akan semakin tinggi. Namun tidak semudah ini menaikkan konversi,
dalam RAP konversi terjadi secara gradien, pada awalnya kecepatan reaksi
berlangsung secara cepat namun setelah panjang pipa tertentu jumlah reaktan
akan berkurang dan kecepatan reaksi berlangsung lebih lambat dan akan
makin lambat seiring panjangnya pipa. Artinya, untuk mencapai konversi
100% panjang pipa yang dibutuhkan adalah tak terhingga.
Beberapa hal penting mengenai RAP:
Perhitungan
dalam model RAP mengasumsikan tidak terjadi
pencampuran, dan reaktan bergerak secara aksial bukan radial.
Katalisator dapat dimasukkan melalui titik yang berbeda dari titik
masukan, diharapkan reaksi lebih optimal dan terjadi penghematan.
Biasanya, RAP memiliki konversi yang lebih besar dibanding RATB
dalam volum yang sama. Artinya, dengan waktu tinggal yang sama RAP
memberikan hasil yang lebih besar dibanding RATB.
Reaktor Semi-Batch
Reaktor jenis berlangsung secara batch dan kontinyu secara bersamaan.
Contoh paling sederhana misalnya tangki fermentor, ragi dimasukkan sekali
ke dalam tangki (secara batch) namun CO 2 yang dihasilkannya dikeluarkan
secara kontinyu. Contoh lainnya adalah klorinasi, suatu reaksi cair-gas, gas
digelembungkan secara kontinyu dari dasar tangki agar bereaksi dengan
cairan di tangki yang diam (batch). test
Neraca energi adalah cabang keilmuan yang mempelajari kesetimbangan
energi dalam sebuah sistem. Neraca energi dibuat berdasarkan pada hukum
pertama termodinamika. Hukum pertama ini menyatakan kekekalan energi,
yaitu energi tidak dapat dimusnahkan atau dibuat, hanya dapat diubah
bentuknya. Perumusan dari neraca energi suatu sistem mirip dengan
perumusan neraca massa. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu suatu sistem dapat berupa sistem tertutup namun tidak
terisolasi (tidak dapat terjadi perpindahan massa namun dapat terjadi
perpindahan panas) dan hanya terdapat satu neraca energi untuk suatu
sistem (tidak seperti neraca massa yang memungkinkan adanya beberapa
neraca komponen). Suatu neraca energi memiliki persamaan:
Energi masuk = Energi keluar + Energi akumulasi
Tidak seperti neraca massa yang memiliki variabel produksi, neraca energi
tidak memiliki variabel produksi. Hal ini disebabkan energi tidak dapat

diproduksi, hanya dapat diubah bentuknya. Namun, bila terdapat suatu jenis
energi diabaikan, misalnya bila neraca dibuat dengan hanya memperhitungkan
energi kalor saja, maka persamaan neraca energi akan menjadi
Kalor masuk + Kalor produksi = Kalor keluar + Kalor akumulasi
dengan Kalor produksi bernilai negatif jika kalor dikonsumsi. Neraca energi
digunakan secara luas pada bidang ilmu murni seperti fisika, biologi, kimia
dan geografi.
Proses isobarik adalah proses termodinamika dimana tekanannya konstan:
P = 0. Istilah ini berasal dari kata Yunani iso-, (sama), dan baros (massa).
Panas dipindahkan ke sistem yang melakuukan kerja namun juga mengubah
energi dalam sistem:

Area kuning menggambarkan kerja yang dilakukan sistem


Menurut Hukum pertama termodinamika, dimana W adalah kerja yang
dilakukan pada sistem, U adalah energi dalam dan Q adalah panas. Kerja yang
dilakukan oleh sistem tertutup didefinisikandengan:
dengan menunjukkan adanya perubahan selama proses berlangsung,
sedangkan d merupakan lambang diferensial. Karena tekanannya konstan,
maka
.
Menurut hukum gas ideal, hal ini menjadi

mengasumsikan jumlah gas konstan (misalnya tak ada transisi fasa selama
reaksi kimia), maka menurut teorema ekuipartisi, perubahan energi dalam
berhubungan dengan suhu sistem dengan
,
dimana
adalah panas spesifik pada volume konstan.
Substitusi 2 persamaan terakhir ke persamaan pertama menghasilkan:

dengan

,
adalah panas spesifik pada tekanan konstan.

Kapasitas panas spesifik


Untuk menemukan kapasitas panas molar spesifik gas, persamaan berikut ini
dapat digunakan untuk gas umum yang secara kalori benar. Properti
merupakan indeks adiabatik atau rasio kapasitas panas. Beberapa sumber
menggunakan huruf k.
Panas spesifik molar isokorik:
.
Panas spesifik molar isobarik:
.
Nilai untuk adalah
untuk gas diatomik seperti udara dan
untuk gas monoatomik seperti gas mulia. Rumus untuk panas spesifik
menjadi (untuk kasus tertentu saja):
Monatomik:

Diatomik:

dan

and
Proses isobarik yang ditunjukkan pada diagram PV adalah garis lurus
horizontal yang menghubungkan keadaan awal dan akhir. Jika proses ke arah
kanan, berarti ada ekspansi, jika ke kiri, berarti terjadi kompresi.
Proses isokorik, juga disebut proses volume konstan atau proses
isovolumetrik atau proses isometrik adalah proses termodinamika dimana
volume dari sistem tertutup yang menjalani proses tetap konstan. Proses

isokorik dapat dicontohkan dengan pemanasan atau pendinginan pada wadah


tertutup anelastis: proses termodinamika adalah bertambahnya atau
berkurangnya panas; isolasi dari wadah menyebabkan sistem menjadi
tertutup, dan ketidakmampuan wadah untuk berdeformasi menyebabkan
kondisi volume konstan.
Proses isokorik dicirikan dengan volume konstan,
. Proses ini
bukanlah kerja tekanan-volume, karena didefinisikan dengan
,
dengan P adalah tekanan. Tanda positif menunjukkan adanya kerja yang
diberikan sistem pada lingkungan.
Untuk proses reversibel, hukum pertama termodinamika menunjukkan
adanya perubahan pada energi dalam sistem:
Ganti usaha dengan perubahan volume menjadi
Karena proses isokorik,

, maka persamaan menjadi

Dengan definisi kapasitas panas spesifik pada volume konstan,


,
Mengintegralkan kedua sisi menghasilkan

Dengan
adalah kapasitas panas spesifik pada volume konstan,
temperatur awal dan adalah temperatur akhir. Maka disimpulkan:

adalah

Proses isokorik pada diagram tekanan volume. Pada diagram ini, tekanan
meningkat namun volume tetap.
Pada diagram tekanan volume proses isokorik ditandai dengan garis vertikal
lurus. Kebalikannya, proses isobarik ditandai dengan garis horizontal lurus.
Proses adiabatik (/dibtk/; dari bahasa Yunani "a" + "diavaton") adalah
proses yang muncul tanpa perpindahan panas dan massa antara sistem dan
lingkungannya.[1][2] Proses ini merupakan salah satu konsep penting dalam
termodinamika dalam pengembangan hukum pertama termodinamika.
Proses adiabatik berlangsung dalam dinding yang disolasi termal sepenuhnya
dan tak dapat ditembus benda.

Untuk substansi sederhana, pada proses adiabatik dimana volume meningkat,


energi dalam dari substansi harus berkurang
Persamaan matematika untuk gas ideal yang mengalami proses adiabatik
reversibel adalah
dengan P adalah tekanan, V adalah volume, dan

adalah panas spesifik pada tekanan konstan,


adalah panas spesifik pada
volume konstan, adalah indeks adiabatik, dan adalah derajat kebebasan (3
untuk gas monoatomik, 5 untuk gas diatomik dan senyawa sederhana, seperti
karbon dioksida).

Untuk gas ideal monoatomik,

, dan untuk gas diatomik (seperti

nitrogen dan oksigen)


.[3] Perhatikan bahwa rumus diatas hanya
berlaku untuk gas ideal klasik dan bukan BoseEinstein atau gas Fermi.
Untuk proses adiabatik reversibel, juga berlaku hubungan

dengan T adalah temperatur absolut.


Dapat juga dituliskan

Ekspansi adiabatik bebas dari suatu gas


Lihat pula: Ekspansi bebas
Untuk ekspansi adiabatik bebas dari suatu gas ideal, gas diletakkan dalam
suatu kontainer terisolasi dan mengembang dalam vakum. Karena tidak ada
tekanan luar untuk gas, maka kerja yang dilakukan oleh atau ke sistem
adalah nol. Karena tidak ada perubahan panas atau kerja, maka menurut
hukum pertama termodinamika, perubahan energi dalam adalah nol. Untuk
gas ideal, temperatur tetap konstan karena energi dalam hanya bergantung
pada temperatur untuk kasus ini. Pada temperatur konstan, entropi
berbanding lurus dengan volume, sehingga entropi juga naik, maka proses ini
tergolong ireversibel
Penurunan rumus pemanasan dan pendinginan adiabatik
Definisi dari proses adiabatik adalah tidak ada perpindahan panas ke dalam
sistem,
. Maka, menurut hukum pertama termodinamika,
dengan dU adalah perubahan energi dalam sistem dan W adalah kerja yang
dilakukan oleh sistem. Semua kerja (W) yang dilakukan besarnya sala dengan
perubahan energi dalam U karena tidak ada panas Q yang masuk dari
lingkungan. Kerja tekanan-volume W yang dilakukan oleh sistem
didefinisikan
Meski begitu, P tidak konstan pada proses adiabatik tapi turut berubah seiring
dengan perubahan V.
Maka perlu diketahui berapa nilai dP dan dV berhubungan satu sama lain.
Untuk gas ideal, energi dalamor an ideal gas the internal energy is given by
dengan adalah angka derajat kebebasan dibagi 2, R adalah konstanta gas
universal, dan n adalah jumlah mol pada sistem.

Turunkan persamaan (3) dan menggunakan hukum gas ideal,


menghasilkan
Persamaan (4) sering dituliskan sebagai
karena
Substitusi persamaan (2) dan (4) ke persamaan (1) sehingga
gabungkan :

bagi kedua sisi dengan PV:

Setelah mengintegralkan sisi kiri dan kanan dari


sampai P maka menjadi,

Eksponenkan kedua sisi, kemudian substitusi


panas

sampai V dan dari

dengan

, rasio kapasitas

Hilangkan tanda negatif dan didapatkan

Maka:

dan

Penurunan rumus diskrit


Perubahan energi dalam sistem, diukur dari keadaan 1 ke keadaan 2, sama
dengan
Di waktu yang sama, kerja yang dilakukan oleh perubahan tekanan-volume
sebagai hasil proses ini, sama dengan

Karena prosesnya adiabatik, maka persamaan hukum pertama termodinamika


menjadi

Dengan persamaan sebelumnya,


Susun ulang persamaan (4) menjadi

Substitusi ke (2)

Diintegralkan

Substitusi

Disusun ulang,

Menggunakan persamaan gas ideal dan mengasumsikan kuantitas molar


konstan,

Dengan rumus,

atau

Substitusi ke persamaan sebelumnya untuk

Substitusi persamaan ini dan (1) ke (3) menghasilkan

Sederhanakan,

Sederhanakan,

Sederhanakan,

Isoterm adalah perubahan keadaan gas pada suhu yang tetap.[1] Proses
isotermal merupakan proses termodinamika yang prosesnya berjalan dan
suhu gasnya tetap.[2] Persamaan umum gasnya adalah P.V= n.R.T.[2]
Karena suhunya konstan, maka usaha yang dilakukan gas adalah: W= P.dV =
n.R.T.dV/V.[2]
Karena berlangsung dalam suhu yang kosntan, maka tidak terjadi perubahan
energi dan berdasarkan hukum termodinamika, kalor yang diberikan sama
dengan usaha yang diberikan (Q = W).[3] Proses isoterm dapat dilihat dari
gambar di samping.[3] Usaha yang dilakukan sistem dan kalor dapat
dinyatakan sebagai Q-W-n.R.T= ln V1/V2.[3] V1 dan V2 adalah volume akhir
dari gas awal.[3] Persamaan keadaan isotomik adalah P1.V1 = P2.V2

isoterm
Perpindahan panas adalah salah satu dari displin ilmu teknik termal yang
mempelajari cara menghasilkan panas, menggunakan panas, mengubah
panas, dan menukarkan panas di antara sistem fisik. Perpindahan panas

diklasifikasikan menjadi konduktivitas termal, konveksi termal, radiasi termal,


dan perpindahan panas melalui perubahan fasa.
Konduksi termal adalah pertukaran mikroskopis langsung dari energi kinetik
partikel melalui batas antara dua sistem. Ketika suatu objek memiliki
temperatur yang berbeda dari benda atau lingkungan di sekitarnya, panas
mengalir sehingga keduanya memiliki temperatur yang sama pada suatu titik
kesetimbangan termal. Perpindahan panas secara spontan terjadi dari tempat
bertemperatur tinggi ke tempat bertemperatur rendah, seperti yang dijelaskan
oleh hukum kedua termodinamika.
Konveksi terjadi ketika aliran bahan curah atau fluida (gas atau cairan)
membawa panas bersama dengan aliran materi. Aliran fluida dapat terjadi
karena proses eksternal, seperti gravitasi atau gaya apung akibat energi panas
mengembangkan volume fluida. Konveksi paksa terjadi ketika fluida dipaksa
mengalir menggunakan pompa, kipas, atau cara mekanis lainnya.
Radiasi termal terjadi melalui ruang vakum atau medium transparan. Energi
ditransfer melalui foton dalam gelombang elektromagnetik.[1]
Mekanisme
Bentuk-bentuk dasar perpindahan massa adalah:
Konduksi atau difusi
Perpindahan energi antara objek-objek yang mengalami kontak fisik.
Konveksi
Perpindahan energi antara sebuah objek dengan lingkungannya karena
adanya pergerakan fluida.
Adveksi
Perpindahan energi dari satu lokasi ke lokasi lain sebagai efek samping
dari objek berenergi yang bergerak.
Radiasi
Perpindahan energi dari atau ke tubuh akibat pelepasan atau
penyerapan radiasi elektromagnetik.
Konduksi
Pada skala mikroskopik, konduksi panas muncul sebagai "rasa panas", atom
yang bergetar atau berpindah sedemikian cepat berinteraksi dengan atom dan
molekul sekelilingnya sehingga memindahkan sejumlah energi mereka ke
partikel di sekelilingnya. Dengan kata lain, panas dipindahkan dengan
konduksi ketika atom yang saling berdampingan menggetarkan satu sama lain,
atau ketika elektron berpindah dari satu atom ke atom lain. Konduksi adalah
bentuk perpindahan panas paling umum pada benda padat pada kontak

termal. Fluida-terutama gas-kurang konduktif. Konduktansi kontak termal


adalah studi konduksi panas antara benda padat yang saling bersentuhan. [2]
Konduksi steady state (lihat hukum Fourier) adalah bentuk konduksi yang
terjadi ketika perbedaan temperatur yang terjadi pada konduksi berlangsung
spontan, maka setelah waktu kesetimbangan, distribusi spasial temperatur
pada benda terkonduksi tidak berubah-ubah lagi.[3] Pada konduksi steady
state, jumlah panas yang memasuki suatu bagian sama dengan jumlah panas
yang keluar.[2]
Konduksi transient (lihat persamaan panas) muncul ketika temperatur objek
berubah sebagai fungsi waktu. Analisis pada sistem transient lebih kompeks
dan sering dipakai untuk aplikasi dari analisis numerik oleh komputer. [2]
Konveksi
Perpindahan panas konveksi atau konveksi adalah perpindahan panas dari
satu tempat ke tempat lain karena adanya perpindahan fluida, proses
perpindahan panas melalui perpindahan massa. Gerak serempak fluida
menambah perpindahan panas pada banyak kondisi, seperti misalnya antara
permukaan solid dan permukaan fluida. [4] Konveksi adalah perpindahan panas
yang umum pada cairan dan gas.
Konveksi bebas muncul ketika gerak fluida disebabkan oleh gaya apung yang
berasal dari perbedaan massa jenis akibat perbedaan temperatur di dalam
fluida. Konveksi tak bebas adalah istilah yang digunakan ketika aliran di
dalam fluida diinduksi oleh benda eksternal, seperti kipas, pengaduk, dan
pompa, sehingga menyebabkan konveksi induksi buatan.[5]
Pendinginan atau pemanasan konveksi di banyak kasus dapat dijelaskan oleh
Hukum Newton tentang pendinginan: "Kecepatan hilangnya panas pada benda
sebanding dengan perbedaan temperatur antara benda tersebut dengan
lingkungannya." Meskipun begitu, dari definisinya, hukum Newton tentang
pendinginan ini membutuhkan kecepatan panas hilang yang membentuk garis
linear pada grafik fungsi ("sebanding dengan"). Padahal, secara umum,
konveksi tidak pernah membentuk gradien garis lurus. Maka, hukum Newton
tidak berlaku.
Radiasi
Radiasi termal adalah energi yang dilepaskan oleh benda sebagai gelombang
elektromagnetik, karena adanya tumpukan energi termal pada semua benda
dengan suhu di atas nol mutlak.[6]
Radiasi termal muncul sebagai akibat perpindahan acak dari atom dan
molekul benda. Karena atom dan molekul ini terdiri dari partikel bermuatan
(proton dan elektron), pergerakan mereka menghasilkan pelepasan radiasi
elektromagnetik yang membawa energi.

Radiasi dari matahari dapat digunakan untuk panas dan tenaga listrik. [7]
Tidak seperti konduksi dan konveksi, radiasi termal dapat dikumpulkan di
sebuah titik kecil menggunakan kaca pemantul, kemudian dimanfaatkan
untuk pembangkit listrik solar.[8]
Reaktor Kimia
Reaktor kimia adalah sebuah alat industri kimia , dimana terjadi reaksi bahan
mentah menjadi hasil jadi yang lebih berharga.
Tujuan pemilihan reaktor adalah :
1. Mendapat keuntungan yang besar
2. Biaya produksi rendah
3. Modal kecil/volume reaktor minimum
4. Operasinya sederhana dan murah
5. Keselamatan kerja terjamin
6. Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya
Pemilihan jenis reaktor dipengaruhi oleh :
1. Fase zat pereaksi dan hasil reaksi
2. Tipe reaksi dan persamaan kecepatan reaksi, serta ada tidaknya reaksi
samping
3. Kapasitas produksi
4. Harga alat (reactor) dan biaya instalasinya
5. Kemampuan reactor untuk menyediakan luas permukaan yang cukup
untuk perpindahan panas
Jenis-jenis reactor
A. Berdasarkan bentuknya
1. Reaktor tangki
Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna, sehingga
komposisi dan suhu didalam reaktor setiap saat selalu uniform. Dapat dipakai
untuk proses batch, semi batch, dan proses alir.
2. Reaktor pipa
Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut Reaktor Alir Pipa.
Dikatakan ideal bila zat pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir
didalam pipa dengan arah sejajar sumbu pipa.
B. Berdasarkan prosesnya

1. Reaktor Batch
Biasanya untuk reaksi fase cair
Digunakan pada kapasitas produksi yang kecil
Keuntungan reactor batch:
- Lebih murah dibanding reactor alir
- Lebih mudah pengoperasiannya
- Lebih mudah dikontrol
Kerugian reactor batch:
- Tidak begitu baik untuk reaksi fase gas (mudah terjadi kebocoran pada
lubang pengaduk)
- Waktu yang dibutuhkan lama, tidak produktif (untuk pengisian, pemanasan
zat pereaksi, pendinginan zat hasil, pembersihan reactor, waktu reaksi)

Reaktor Alir (Continous Flow)


Ada 2 jenis:
a. RATB (Reaktor Alir Tangki Berpengaduk)
Keuntungan:
Suhu dan komposisi campuran dalam rerraktor sama
Volume reactor besar, maka waktu tinggal juga besar, berarti zat pereaksi lebih
lama bereaksi di reactor.
Kerugian:
Tidak effisien untuk reaksi fase gas dan reaksi yang bertekanan tinggi.
Kecepatan perpindahan panas lebih rendah dibanding RAP
Untuk menghasilkan konversi yang sama, volume yang dibutuhkan RATB lebih
besar dari RAP.
b. RAP
Dikatakan ideal jika zat pereaksi dan hasil reaksi mengalir dengan kecepatan
yang sama diseluruh penampang pipa.

Keuntungan :
Memberikan volume yang lebih kecil daripada RATB, untuk konversi yang
sama
Kerugian:
1. Harga alat dan biaya instalasi tinggi.
2. Memerlukan waktu untuk mencapai kondisi steady state.
3. Untuk reaksi eksotermis kadang-kadang terjadi "Hot Spot" (bagian yang
suhunya sangat tinggi) pada tempat pemasukan . Dapat menyebabkan
kerusakan pada dinding reactor
3. Reaktor semi batch
Biasanya berbentuk tangki berpengaduk
C. Jenis reaktor berdasarkan keadaan operasinya
1. Reaktor isotermal.
Dikatakan isotermal jika umpan yang masuk, campuran dalam reaktor, aliran
yang keluar dari reaktor selalu seragam dan bersuhu sama.
2. Reaktor adiabatis.
Dikatakan adiabatis jika tidak ada perpindahan panas antara reaktor dan
sekelilingnya.
Jika reaksinya eksotermis, maka panas yang terjadi karena reaksi dapat
dipakai untuk menaikkan suhu campuran di reaktor. ( K naik dan -rA besar
sehingga waktu reaksi menjadi lebih pendek).
3. Reaktor Non-Adiabatis
D. Reaktor Gas Cair dengan Katalis Padat
1. Packed/Fixed bed reaktor (PBR).
Terdiri dari satu pipa/lebih berisi tumpukan katalis stasioner dan
dioperasikan vertikal. Biasanya dioperasikan secara adiabatis.
2. Fluidized bed reaktor (FBR)
Reaktor dimana katalisnya terangkat oleh aliran gas reaktan.
Operasinya: isotermal.
Perbedaan dengan Fixed bed: pada Fluidized bed jumlah katalis lebih sedikit
dan katalis bergerak sesuai kecepatan aliran gas yang masuk serta FBR
memberikan luas permukaan yang lebih besar dari PBR

E. Fluid-fluid reaktor
Biasa digunakan untuk reaksi gas-cair dan cair-cair.
1. Bubble Tank.
2. Agitate Tank
3. Spray Tower
Pertimbangan dalam pemilihan fluid-fluid reaktor.
1. Untuk gas yang sukar larut (Kl <) sehingga transfer massa kecil maka Kl
harus diperbesar .Jenis spray tower tidak sesuai karena kg besar pada Spray
Tower
2. Jika lapisan cairan yang dominan, berarti tahanan dilapisan cairan kecil
maka Kl harus diperbesar
jenis spray tower tidak sesuai.
3. Jika lapisan gas yang mengendalikan (maka Kg <)
jenis bubble tank dihindari.
4. Untuk gas yang mudah larut dalam air
jenis bubble tank dihindari.
Untuk pendekatan perhitungan reaktor pada umumnya ada 2 (didapat dari
situsnya wikipedia), yaitu :
1. Reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) atau continous stired tank reactor
(CSTR)
2. Reaktor alir pipa (RAP) atau plug flow reaktor (PFR)
-Reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) atau continous stired tank reactor
(CSTR)
Reaktor ini biasa disebut dengan reaktor tangki ideal berpengaduk, kenapa
disebut seperti itu? karena dalam reaktor ini, umpan masuk sama dengan

produk keluar, kalau tidak sama tentu jumlah dalam tangki (bejana) tersebut
akan bertambah atau berkurang. Dan itu berpengaruh dalam kestabilitasan
jumlah produk, yaa sederhananya bisa diasumsikan bahwa ada yang tidak
beres dalam reaktor tersebut. hehehe (dan ini sangat berpengaruh dalam
perhitungan)
Hmm biasanya, pada reaktor model seperti ini, pengadukan dianggap rata di
semua bagian, sehingga komposisi produk yang keluar sama dengan komposisi
bahan yang ada di dalam reaktor. Gimana kawan? udah lumayan ngerti kan?
kalo belum, berarti harus banyak2 baca referensi lagi, oke.
Untuk mendapatkan hasil konversi yang maksimal (tergantung banyak hal
sih), biasanya model seperti ini menggunakan banyak reaktor, dan disusun
secara seri. Dengan adanya reaktor yang disusun seperti ini memungkinkan
konversi ke produk menjadi lebih besar dibandingkan dengan menggunakan
reaktor tunggal.

- Reaktor alir pipa


Biasanya penggunaan model seperti ini digunakan untuk reaktan berfase gas,
dan perlu kawan-kawan ketahui, reaksi kimia tersebut terjadi sepanjang pipa,
jadi semakin panjang pipa maka konversinya juga semakin tinggi. Hmm tapi
tidak segampang itu mengasumsikannya kawan. dalam suatu reaksi terdapat
titik optimum, artinya kita perlu mengetahui tentunya dengan menganilisis, di
mana titik optimum itu berada, sehingga tidak membuang2 energi, karena
pada treaktor jenis ini, konversinya terjadi secara gradien (ngerti kan secara
gradien) di mana pada saat awal kecepatan reaksinya cepat namun seiring
panjang pipa (melewati titik optimum) jumlah reaktan tersebut akan
berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan semakin lambat. Wah...wah...
tambah sulit ya, atau emang saya yang tidak bisa menuliskannya dengan baik.
ya udah saya akan berusaha agar pembahasannya lebih komprehensif.

Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB), Seri Apa Paralel??

TUGAS:
Menentukan rangkaian suatu Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) yang
lebih
baik
antara
seri
dan
parallel
!!

SOLUSI:
Reaktor Tangki Alir Berpengaduk atau yang biasa dikenal sebagai Continuous
Stirred Tank Reactor (CSTR) merupakan jenis reactor dengan model berupa
tangki berpengaduk dan diasumsikan pengaduk yang bekerja dalam tangki
sangat sempurna sehingga konsentrasi tiap komponen dalam reactor seragam
sebesar konsentrasi aliran yang keluar dari reactor. Reaktor jenis ini
merupakan reactor yang umum digunakan dalam suatu industry. Dalam
operasinya, reactor ini sering digunakan dalam jumlah lebih dari satu dengan
rangkaian
reactor
disusun
secara
seri
maupun
paralel.
Pemilihan
susunan
rangkaian
reactor
dipengaruhi
oleh
berbagai
pertimbangan, tergantung keperluan dan maksud dari operasinya. Masingmasing rangkaian memiliki kelebihan dan kekurangan, karena di dunia ini
tidak ada yang sempurna. Semua yang ada didunia ini saling melengkapi satu
sama lainnya. Secara umum, rangkaian reactor yang disusun secara seri itu
lebih baik dibanding secara parallel. Setidaknya ada 2 sisi yang dapat
menjelaskan kenapa rangkaian reactor secara seri itu lebih baik. Pertama,
ditinjau dari konversi reaksi yang dihasilkan dan yang kedua ditinjau dari sisi
ekonomisnya.
Pertama, ditinjau dari konversi reaksinya. Feed yang masuk ke reactor pertama
dalam suatu rangkaian reactor susunan seri akan bereaksi membentuk

produk yang mana pada saat pertama ini masih banyak reaktan yang belum
bereaksi membentuk produk di reactor pertama, sehingga reactor selanjutnya
berfungsi untuk mereaksikan kembali reaktan yang belum bereaksi dan
seterusnya sampai mendapatkan konversi yang optimum. Secara sederhana,
reaksi yang berlangsung itu dapat dikatakan berkali-kali sampai konversinya
optimum. Konversi yang optimum merupakan maksud dari suatu proses
produksi. Sementara itu jika dengan reactor susunan parallel, dengan jumlah
feed yang sama, maka reaksi yang terjadi itu hanya sekali sehingga
dimungkinkan masih banyak reaktan yang belum bereaksi. Walaupun pada
outletnya nanti akan dijumlahkan dari masing-masing reactor, namun tetap
saja konversinya lebih kecil, sebagai akibat dari reaksi yang hanya terjadi satu
kali.
Kedua, tinjauan ekonomisnya. Dalam pengadaan alat yg lain, misal jika seri
hanya memerlukan satu wadah untuk bahan baku (baik dari beton ataupun
stainless steel), dan konveyor yang digunakan juga cukup satu. Namun jika
paralel mungkin memerlukan wadah lebih dari satu ataupun konveyor yang
lebih dari satu untuk memasukkan feed ke masing-masing reactor.
Konsekuensi yang lain dari suatu reactor rangkain parallel adalah karena
masih ada reaktan yang banyak belum bereaksi maka dibutuhkan lah suatu
recycle yang berakibat pada bertambahnya alat untuk menampungnya,
sehingga lebih mahal untuk mendapatkan konversi yang lebih besar.
Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi
berlangsung, baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika.
Dengan terjadinya reaksi inilah suatu bahan berubah ke bentuk bahan
lainnya, perubahannya ada yang terjadi secara spontan alias terjadi dengan
sendirinya atau bisa juga butuh bantuan energi seperti panas (contoh energi
yang paling umum). Perubahan yang dimaksud adalah perubahan kimia, jadi
terjadi perubahan bahan bukan fase misalnya dari air menjadi uap yang
merupakan reaksi fisika.
Jenis
Ada dua jenis reaktor:
Reaktor kimia
Reaktor nuklir
Kedua jenis reaktor berbeda dalam beberapa hal, yang paling mencolok adalah
dalam reaktor kimia hukum kekekalan massa memegang peranan yang sangat
penting, karena tidak ada massa yang hilang dalam reaksi ia hanya berubah

dari satu jenis bahan ke bahan ke jenis yang lain. Sedangkan reaktor nuklir
tidak seperti itu, dalam reaktor ini ada massa yang hilang untuk diubah ke
bentuk energi yang memang untuk inilah reaktor nuklir dirancang.
Reaktor kimia
Reaktor kimia adalah jenis reaktor yang umum sekali digunakan dalam
industri. Hal ini dikarenakan, dalam sintesis bahan kita selalu memerlukan
jenis reaktor ini.
Umumnya reaktor kimia menggunakan dua jenis model perhitungan, yaitu:
RATB (Reaktor Alir Tangki Berpengaduk}
RAS (Reaktor Aliran Sumbat)
Jenis pengoperasian reaktor yang dapat dijumpai di industri:
Partaian/Batch
Kontinyu
Semi-batch
Beberapa jenis reaktor kimia khusus:
Reaktor gelembung
Fixed bed reactor
Fluidized bed reactor
Slurry reactor
Reaktor membran
Reaktor nuklir

Core of CROCUS, suatu reaktor nuklir kecil untuk penelitian di EPFL, Swiss.
Penggunaan reaktor nuklir umumnya sangat dibatasi penggunaannya,
mengingat standar keselamatannya yang sangat tinggi. Reaktor nuklir
umumnya digunakan untuk pembangkit listrik, namun sekarang
penggunaannya sudah mulai luas, misalnya untuk merekayasa genetik suatu
bibit agar menjadi bibit unggul.
Ada dua jenis reaktor nuklir:

Reaktor fisi (pemecahan)


Reaktor fusi (penggabungan)

Reaktor fisi
Reaktor fisi merupakan jenis reaktor nuklir yang pertama kali dikembangkan.
Reaktor ini memanfaatkan pemecahan suatu atom berat menggunakan
neutron, suatu sub-atom, yang dipercepat sehingga melepaskan suatu energi.
Reaktor fusi
Reaktor jenis fusi baru belakangan ini mulai dikembangkan. Banyak negara
mulai bekerjasama dalam pengembangan jenis reaktor ini dikarenakan
mahalnya biaya riset untuk jenis reaktor fusi. Reaktor fusi menjanjikan suatu
energi yang ramah lingkungan dengan bahan baku yang berlimpah. Berbeda
dengan reaktor jenis fisi, reaktor ini bekerja dengan menggabungkan dua atom
ringan sehingga dari penggabungannya didapatkan suatu energi.

Aksesoris Reaktor
Untuk mendukung agar reaktor dapat berfungsi maksimal dan aman
terkendali, maka diperlukan sistem pengendalian proses yang menggunakan
beberapa alat tambahan.
Beberapa contoh dari aksesoris tersebut umumnya adalah :
1. Level Controller (LC), suatu alat yang menjaga agar volum (isi) reaktor
tetap terjaga, tidak kehabisan reaktan ataupun kelebihan yang dapat
menyebabkan kenaikan tekanan. Cara kerja dari alat ini adalah dengan
terus mendeteksi ketinggian permukaan bahan dalam reaktor, jika
kurang dari toleransi yang diberikan (set point) maka kran keluaran
(output) akan mengecil sampai ketinggian mencapai tinggi yang telah di
set. Sebaliknya jika melebihi kran keluaran akan dibuka lebih lebar
untuk mengurangi bahan dalam reaktor.
2. Pressure Controller (PC), Suatu alat yang bertugas untuk menjaga agar
tekanan dalam reaktor masih berada pada kisaran yang ditetapkan.
Biasanya diterapkan pada reaktor yang memakai reaktan berfase gas.
Cara kerjanya mirip dengan LC yaitu dengan membuka dan menutup
kran.
3. Temperature Controller (TC), suatu alat yang bertugas agar suhu di
dalam reaktor masih berada dalam kisaran suhu operasinya. TC juga
bekerja dengan membuka dan menutup kran, namun kran yang
diintervensi adalah kran utilitas. Misalnya CSTR berpemanas, jika suhu

drop maka kran koil uap panas (steam) akan diperbesar sehingga steam
yang masuk akan lebih banyak yang akhirnya suplai panas pun
bertambah dan akhirnya suhu reaktor akan bertambah dan suhu
reaktor pun dapat kembali ke suhu yang normal. Sebaliknya jika suhu
reaktor bertambah.