Anda di halaman 1dari 57

KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH DAN

TRANSFER KE DAERAH, DANA DESA, DANA


DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN
TAHUN ANGGARAN 2016

Disampaikan Pada:
Musrenbang Rencana Kerja Pembangunan Daerah
Prov. Kalimantan Timur

OUTLINE

Hubungan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Dae


Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah
Kebijakan Dana Transfer Ke Daerah dan Dana Desa
Kebijakan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
Arah Kebijakan Transfer Ke daerah ke Depan

HUBUNGAN PERENCANAAN
PEMBANGUNAN NASIONAL DAN
DAERAH

DASAR HUKUM PENYUSUNAN RENCANA


PEMBANGUNAN
Undang-undang Nomor 25 tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
Undang-undang Nomor 17 tahun 2007
tentang
Rencana
Pembangunan
Jangka
Panjang Nasional;
Undang-undang Nomor 23 tahun
tentang Pemerintahan Daerah;

2014

Undang-undang Nomor 33 tahun 2004


tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
Perpres Nomor 2 tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah

POKOK-POKOK PENGATURAN PENYUSUNAN


RENCANA PEMBANGUNAN
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
adalah satu kesatuan tata cara perencanaan
pembangunan untuk menghasilkan rencanarencana pembangunan dalam jangka panjang,
jangka
menengah,
dan
tahunan
yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara
dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah.
Sistem perencanaan pembangunan nasional
bertujuan untuk menjamin keterkaitan dan
konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan dan pengawasan.
Perencanaan
pembangunan
daerah
harus
mengacu kepada rencana pembangunan nasional.

RPJMN 2015-2019

M1. Mewujudkan keamanan nasional yang


mampu menjaga kedaulatan wilayah,
menopang kemandirian ekonomi dengan
mengamankan sumber daya maritim, dan
mencerminkan kepribadian Indonesia
sebagai negara kepulauan.
M2. Mewujudkan masyarakat maju,
berkeseimbangan dan demokratis
berlandaskan Negara Hukum.
M3. Mewujudkan politik luar negeri bebas
aktif dan memperkuat jati diri sebagai
negara maritim
M4. Mewujudkan kualitas hidup manusia
Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera
M5. Mewujudkan Indonesia yang berdaya
saing
M6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara
maritim yang mandiri, maju, kuat, dan
berbasiskan kepentingan nasional
M7. Mewujudkan masyarakat yang
berkepribadian dalam kebudayaan

C1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi


segenap bangsa dan memberikan rasa aman
pada seluruh warga negara
C2. Membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, demokratis dan terpercaya
C3. Membangun Indonesia dari pinggiran
dengan memperkuat daerah-daerah dan
desa dalam kerangka negara kesatuan
C4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan
reformasi sistem dan penegakan hukum yang
bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya
C5. Meningkatkan kualitas hidup manusia indonesia
C6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya
saing di pasar internasional
C7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan
menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi
domestik
C8. Melakukan revolusi karakter bangsa
C9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat
restorasi sosial indonesia

Relevansi Kebijakan HKPD Dengan


Program Kabinet Kerja Jokowi (Nawacita
Jokowi-JK)
1. Membangun dari pinggir dimaksudkan bahwa
pembangunan dimulai dari daerah, utamanya
daerah perbatasan;
2. Meningkatkan kesempatan bagi daerah untuk
menumbuhkembangkan inovasi dan potensi lokal,
sesuai dengan culture dan kebutuhan riil
masyarakatnya;
3. Inovasi dan diskresi yang diberikan kepada
Daerah harus didukung dengan pendanaan dari
Pusat dan kewenangan daerah untuk
mengelolanya.
7

Sinergi Kebijakan Fiskal Nasional dan


Daerah
Kebijakan fiskal daerah
harus sejalan dan
mendukung dengan
keempat kebijakan makro
nasional.
Seluruh kebijakan makro,
terutama Kebijakan Fiskal
mempengaruhi Kebijakan
Transfer ke Daerah

Interrelasi Kebijakan
Makro

Kebijaka
n Fiskal

Kebijakan
Neraca
Pembayar
an

Kebijakan
Moneter

Kebijaka
n Sektor
Riil

HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA


PUSAT DAN DAERAH

Cakupan Hubungan Keuangan Pusat


dan Daerah

Pemberian kewenangan perpajakan


kepada daerah (local taxing power)
dan kewenangan dalam melakukan
pinjaman;
Kebijakan transfer (revenue
assignment);
Keleluasaan untuk Belanja
(expenditure assignment).
10

Penerapan Prinsip Money


Follows Function

11

Otonomi Percontohan

Pajak (40 Jenis)


dan Retribusi
(150 Jenis)
Pelimpahan
Pajak Pusat
PKB/BBNKB
Open list
Pengendalian
oleh
pusat/provinsi

Krisis Ekonomi
tidak banyak
berdampak
terhadap
peningkatan
PAD
Membatasi Jenis
Pajak dan
Retribusi
Closed list
Pajak baru yang
potensial PBBKB

UU No.22 /1999
UU No.25 /1999

Open list
Pengendalian
pungutan
daerah yang
bermasalah sulit
dilakukan

Memperkuat Otonomi

Closed list
Ada Pajak baru
yaitu, PBB-P2,
BPHTB, dan
Pajak Rokok

12

KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH


DAN DANA DESA

13

Kebijakan Umum Transfer ke Daerah


1. Meningkatkan kapasitas fiskal daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah;
2. Mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan
antara Pusat dan Daerah dan mengurangi kesenjangan
pendanaan pemerintahan antardaerah;
3. Meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan publik di
daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik
antardaerah;
4. Memprioritaskan penyediaan pelayanan dasar di daerah
tertinggal, terluar, terpencil, terdepan, dan pasca bencana;
5. Mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan
infrastruktur dasar;
6. Mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan
daerah yang lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel;
7. Meningkatkan kualitas pengalokasian Transfer ke Daerah
dengan tetap memperhatikan akuntabilitas dan transparansi;
8. Meningkatkan kualitas pemantauan dan evaluasi Dana

14

Postur Transfer ke Daerah TA 2014

Postur Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA 2015


Dana
Dana Bagi
Bagi Hasil
Hasil

Dana
Dana Bagi
Bagi Hasil
Hasil
Dana
Dana Alokasi
Alokasi Umum
Umum
Dana
Dana Perimbangan
Perimbangan

Dana
Dana Alokasi
Alokasi Khusus
Khusus

Dana
Dana Transfer
Transfer
ke
ke Daerah
Daerah
DBH Pajak

Dana
Dana
Perimbangan
Perimbangan

DBH
DBH PBB
PBB

Dana
Dana Alokasi
Alokasi Khusus
Khusus

DBH
DBH PPh
PPh

Dana
Dana Otsus
Otsus PAPUA
PAPUA

Dana
Dana Otsus
Otsus PAPUA
PAPUA
Dana
Dana Otsus
Otsus PAPUA
PAPUA BRT
BRT
TRANSFER
KE DAERAH

Dana
Dana
Otsus
Otsus

Dana
Dana Otsus
Otsus PAPUA
PAPUA BRT
BRT

DBH
DBH CHT
CHT

Dana
Dana Otsus
Otsus ACEH
ACEH
Dana
Dana Infras
Infras Otsus
Otsus Papua
Papua

DBH SDA

Dana
Dana Infras
Infras Otsus
Otsus PaBarat
PaBarat

Kehutanan
Kehutanan

Dana
Dana Keistimewaan
Keistimewaan DIY
DIY

Pertum
Pertum

DANA
TRANSFER KE
DAERAH DAN
DESA

Tamb
Tamb Penghasilan
Penghasilan Guru
Guru
Tunjangan
Tunjangan Profesi
Profesi Guru
Guru

Dana
Dana
Penyesuaian
Penyesuaian

Dana
Dana Inf.
Inf. Otsus
Otsus Papua
Papua
Dana
Dana Inf.
Inf. Otsus
Otsus PaBarat
PaBarat

Migas
Migas
Dana
Dana
Transfer Lainnya
Lainnya
Transfer

DBH
DBH PPh
PPh
DBH
DBH CHT
CHT

DBH SDA

Kehutanan
Kehutanan
Pertum
Pertum
Perikanan
Perikanan

Tunjangan
Tunjangan Profesi
Profesi Guru
Guru

Panas
Panas Bumi
Bumi

DBH
Pajak
DBH
DBH PBB
PBB

Dana
Dana Otsus
Otsus ACEH
ACEH

Tamb
Tamb Penghasilan
Penghasilan Guru
Guru

Bantuan
Bantuan Op
Op Sekolah
Sekolah

Migas
Migas
Panas
Panas Bumi
Bumi

Bantuan
Bantuan Op
Op Sekolah
Sekolah
Dana
Dana Insentif
Insentif Daerah
Daerah

Dana
Dana Insentif
Insentif Daerah
Daerah
Dana
Dana P2D2
P2D2

Dana
Dana Otsus
Otsus

Dana
Dana
Keistimewaan
Keistimewaan
DI
DI Yogyakarta
Yogyakarta

Perikanan
Perikanan
Dana
Dana Otsus
Otsus &
&
Penyesuaian
Penyesuaian

Dana
Dana Alokasi
Alokasi Umum
Umum

Dana
Dana Desa
Desa

Dana
Dana P2D2
P2D2

15

2014
POSTUR

Dalam Miliar
Rupiah

2015

APBNP

APBN

PERUBAHAN
APBN-P*

APBNP 2015 APBN 2015


Nominal

1. Transfer ke Daerah

596.504

637.975,1

643.834,5

5.859,40

0,9%

491.882

516.401,0

521.760,5

5.359,50

1,0%

117.663

127.692,5

110.052,0

-17.640,50

-13,8%

1.1.1.1. DBH Pajak

46.116

50.568,7

54.216,6

3.647,90

7,2%

1.1.1.2. DBH Sumber Daya Alam

71.547

77.123,8

55.835,4

-21.288,40

-27,6%

1.1.2. Dana Alokasi Umum

341.219

352.887,8

352.887,8

0,00

0,0%

1.1.3. Dana Alokasi Khusus

33.000

35.820,7

58.820,7

23.000,00

64,2%

16.148

16.615,5

17.115,5

500,00

3,0%

523

547,5

547,5

0,00

0,0%

87.948

104.411,1

104.411,1

0,00

0,0%

9.066,2

20.766,2

11.700,00

129,1%

596.504

647.041,3

664.600,7

17.559,40

2,7%

1.1. Dana Perimbangan


1.1.1. Dana Bagi Hasil (DBH)

1.2. Dana Otonomi Khusus


1.3. Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta
1.4. Dana Transfer Lainnya
2. Dana Desa
JUMLAH

* Setelah penambahan optimalisasi sebesar Rp3 Triliun pada pagu DAK


16

1. Menetapkan perkiraan alokasi DBH secara tepat


waktu
sesuai
dengan
rencana
penerimaan
berdasarkan potensi daerah penghasil sebagai dasar
penyaluran.
2. Menyalurkan alokasi DBH berdasarkan rencana
penerimaan untuk menjamin kepastian jumlah dan
waktu.
3. Menyempurnakan sistem penganggaran dan
pelaksanaan atas PNBP yang dibagihasilkan ke
daerah.
4. Melakukan perhitungan kurang bayar/lebih bayar
DBH dengan memperhitungkan penyaluran tersebut
berdasarkan realisasi penerimaan.
5. Mempercepat
penyelesaian
penghitungan
PNBP SDA yang belum dibagihasilkan.

17

KEBIJAKAN DAU 2015


1. Menerapkan formula DAU secara konsisten dengan penerapan
prinsip Non Hold Harmless, melalui pembobotan dalam Formula
DAU yaitu pada:
o Alokasi Dasar;
o Komponen Kebutuhan Fiskal;
o Komponen Kapasitas Fiskal.
2. Meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah
(sebagai equalization grant) yang ditunjukkan oleh Indeks
Williamson yang paling optimal, melalui pembatasan porsi
alokasi dasar dan mengevaluasi bobot variabel kebutuhan fiskal
dan kapasitas fiskal, dengan arah mengurangi ketimpangan
fiskal antar daerah, serta memperhatikan jumlah daerah yang
mengalami penurunan DAU dan total penurunannya relatif kecil.
3. Menetapkan besaran DAU yang bersifat final (tidak mengalami
perubahan), dalam hal terjadi perubahan APBN yang
menyebabkan PDN Neto bertambah atau berkurang.
18

Bobot Penghitungan Kapasitas Fiskal Dinaikkan Untuk


Mengalokasikan
DAU yang Lebih Besar Bagi Daerah yang Kapasitasnya Rendah

BOBOT VARIABEL
ALOKASI DASAR
CELAH FISKAL
VARIABEL KEBUTUHAN
FISKAL
- INDEKS JUMLAH
PENDUDUK
- INDEKS LUAS WILAYAH
(LUAS LAUT)
- INDEKS IKK
- INDEKS IPM
- INDEKS PDRB /cap
VARIABEL KAPASITAS FISKAL
- PAD
- DBH PAJAK
- DBH SDA

2014
2015
PROVINSI KAB/KOTA PROVINSI KAB/KOTA
40%
49%
40%
49%
60%
51%
60%
51%

30%
14%
35%
27%
15%
14%

30%
13%
40%
28%
15%
14%

30%
14%
35%
27%
17%
12%

30%
13%
40%
28%
17%
12%

58%
55%
63%

60%
57%
57%

70%
100%
100%

65%
80%
95%
19

KEBIJAKAN DAK DALAM APBN 2015


1. Mendukung pencapaian prioritas nasional dalam RKP, serta melakukan
restrukturisasi bidang DAK sehingga lebih fokus dan berdampak
signifikan;
2. Membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif
rendah dalam membiayai pelayanan publik untuk mendorong
pencapaian standar pelayanan minimal (SPM), melalui penyediaan
sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat;
3. Memprioritaskan daerah tertinggal, daerah perbatasan dengan negara
lain, daerah pesisir dan kepulauan sebagai kriteria khusus dalam
pengalokasian DAK;
4. Melanjutkan kebijakan affirmatif DAK yang diprioritaskan pada bidang
infrastruktur dasar untuk daerah tertinggal dan perbatasan yang
memiliki kemampuan keuangan relatif rendah.
5. Perubahan jumlah bidang DAK dari 19 bidang pada APBN 2014 menjadi
14 bidang pada APBN 2015
6. Perubahan kriteria kewilayahan dari 6 kriteria (ketahanan pangan, rawan
bencana, pariwisata, daerah tertinggal, perbatasan, dan pesisir
kepulauan) pada APBN 2014 menjadi 3 kriteria (daerah tertinggal,
perbatasan, dan pesisir kepulauan) pada APBN 2015
20

Kebijakan Afirmasi DAK dalam APBN 2015


Affirmative policy kepada 196 daerah tertinggal dan/atau daerah
perbatasan yang berkemampuan keuangan relatif rendah, melalui:
1.Pemberian alokasi DAK Tambahan bagi daerah tertinggal dan
perbatasan yang berkemampuan keuangan relatif rendah, yang
diperuntukan bagi DAK Bidang Infrastruktur Dasar, yaitu:
Infrastruktur Transportasi (sub bidang jalan dan sub bidang transportasi
perdesaan);
Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum; dan
Infrastruktur Irigasi.
2. Dana Pendamping untuk DAK Tambahan diatur berdasarkan
kemampuan keuangan daerah, yaitu:
Kemampuan Keuangan Daerah Rendah Sekali, diwajibkan menyediakan
dana pendamping paling sedikit 0% (nol persen);
Kemampuan Keuangan Daerah Rendah, diwajibkan menyediakan dana
pendamping paling sedikit 1% (satu persen); dan
Kemampuan Keuangan Daerah Sedang, diwajibkan menyediakan dana
pendamping paling sedikit 2% (dua persen).

21

KEBIJAKAN DAK DALAM APBN-P 2015


Dalam
rangka
mendukung
pendanaan
atas
berbagai
urusan
pemerintahan dan penyelenggaran layanan publik yang telah diserahkan
kepada daerah, maka salah satu mekanisme pendanaan yang tepat
untuk mendukung program prioritas nasional adalah melalui DAK.
Untuk itu dalam APBN-P 2015, dialokasikan DAK Tambahan:
Untuk mengakomodasi berbagai program/kegiatan yang mendukung
prioritas Kabinet Kerja (Kedaulatan Pangan, Revitalisasi Pasar
Tradisional, Peningkatan Layanan Kesehatan, dan Peningkatan
Konektivitas antar Wilayah), dialokasikan DAK Tambahan Pendukung
Program Prioritas Kabinet Kerja (P3K2) pada TA 2015;
Untuk mengakomodasi berbagai usulan daerah yang disampaikan
melalui DPR-RI dan disetujui oleh DPR-RI.
DAK Tambahan dialokasikan pada bidang:
1)
2)
3)
4)
5)

Bidang
Bidang
Bidang
Bidang
Bidang

Infrastruktur Irigasi
Pertanian
Sarana Perdagangan
Kesehatan, dan
Transportasi/jalan

Pagu DAK Tambahan dalam APBN-P 2015 disepakati sebesar Rp23


Triliun.

22

Tunjangan Guru PNSD melalui


Transfer ke Daerah
Tunjangan Profesi Guru (TPG) PNSD
1.Tunjangan Profesi diberikan kepada Guru Pegawai Negeri Sipil
Daerah (PNSD) yang telah memiliki sertifikat pendidik dan
memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Tunjangan
Guru PNSD

2.Tunjangan Profesi Guru PNSD diberikan sebesar 1 (satu) kali


gaji pokok PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, tidak termasuk untuk bulan
ke-13.

Tambahan Penghasilan Guru (Tamsil) PNSD


1.Dana Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil
Daerah (PNSD) diberikan kepada guru yang belum
mendapatkan tunjangan profesi guru sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
2.Besarnya adalah Rp250.000,00 per bulan selama 12 bulan.

23

Kebijakan
Bantuan Operasional Sekolah TA 2015
1.Dana BOS dialokasikan dalam APBN untuk meringankan
beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan
dasar yang lebih bermutu.
2.Dana BOS dialokasikan untuk SD/SDLB dan SMP/SMPLB
serta digunakan untuk:
Biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar, dan
Mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
3.Dana BOS merupakan pelengkap dari kewajiban daerah
untuk menyediakan anggaran pendidikan dan bukan
merupakan pengganti BOS Daerah (BOSDA).
4.Perhitungan Kebutuhan Alokasi Dana BOS diusulkan
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
5.Dana BOS disalurkan dari rekening kas negara ke
rekening kas umum daerah provinsi untuk selanjutnya
diteruskan ke sekolah dengan mekanisme hibah.

24

Dana Insentif Daerah (DID)


Dana Insentif Daerah dialokasikan kepada Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk melaksanakan
fungsi pendidikan dengan mempertimbangkan kriteria kinerja tertentu, yang terdiri dari kriteria
kinerja utama, kriteria kinerja keuangan, kriteria kinerja pendidikan, kriteria kinerja ekonomi dan
kesejahteraan, dan batas minimum kelulusan kinerja.
Kriteria

No
Kriteria Kinerja Keuangan

Bobot Tahun 2014

Usulan Bobot
Tahun 2015

50%

50%

1.

Opini BPK atas LKPD

35%

35%

2.

Penetapan Perda APBD tepat waktu

35%

35%

3.

Effort peningkatan PAD

15%

15%

4.

Penyampaian LKPD Tepat Waktu

15%

15%

100%

100%

Total Bobot Kriteria Kinerja Keuangan Daerah


Kriteria Kinerja Pendidikan

25%

25%

1.

Partisipasi Sekolah (APK)

50%

50%

2.

Reduction Shortfall IPM

50%

50%

100%

100%

Total Bobot Kriteria Kinerja Pendidikan


Kriteria Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan

25%

25%

1.

Pertumbuhan Ekonomi

30%

35%

2.

Penurunan Tingkat Kemiskinan

30%

30%

3.

Penurunan Tingkat Pengangguran

20%

20%

Kluster Kemampuan fiskal daerah (KFD)

20%

15%

100%

100%

Total Bobot Kriteria Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan

25

Peta Sebaran Desa Per Provinsi


Aceh
6474
Sumu
t
5389

Kepri
275

Jambi
1398

Kalba
r
1908
Kalten
g
1434

Babel
309

Bengkul
u
1341

Gorontal
o
657

Kals
el
1864

Sumsel
2817

Papua
5118

Kalti
m
833

Sulba
r
576
Sulsel
2253

Jabar
5319

Jateng
7809

DIY
392

Jatim
7723

Bali
636

Malut
1063
PaBar
1628

Sultra
1820

Lampung
2435
Banten
1238

Sulut
1490

Sulten
g
1839
Riau
1592

Sumba
r
880

Kaltara
447

NTB
995

NTT
2950

Maluk
u
1191

Jumlah
Desa
74.093

(Kemendagri)

26

KEBIJAKAN UMUM DANA DESA


1. Menetapkan alokasi Dana Desa yang bersumber dari
Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang
berbasis desa (sesuai dengan amanat UU No.6 Tahun
2014 tentang Desa);
2. Mengalokasikan Dana Desa kepada kabupaten/kota
berdasarkan jumlah desa dengan memperhatikan
jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan
tingkat kesulitan geografis;
3. Menyalurkan Dana Desa kepada
melalui mekanisme transfer;

kabupaten/kota

4. Dana Desa digunakan untuk mendanai keseluruhan


kewenangan Desa dengan prioritas untuk mendukung
program pembangunan Desa dan pemberdayaan
masyarakat Desa.
27

PENGALOKASIAN DANA DESA DALAM


APBN 2015
(BERDASARKAN PP 60/2014)

Keterangan:
Jumlah Penduduk adalah Jumlah Penduduk kabupaten/kota (sumber BPS)
Jumlah Penduduk Miskin adalah Jumlah Penduduk Miskin kabupaten/kota (sumber BPS)
Luas Wilayah adalah Luas Wilayah kabupaten/kota (sumber Kemendagri dan BIG)
IKK adalah IKK kabupaten/kota (sumber BPS)

28

PENGALOKASIAN DANA DESA DALAM


APBNP 2015 (BERDASARKAN REVISI PP
60/2014)
MENTERI KEUANGAN
BUPATI/WALIKOTA
APBN

Transfer
ke Daerah

Dana
Desa

DANA DESA
PER KAB/KOTA
10 %
Formula

90%
Alokasi Dasar

DANA DESA
PER DESA
10 %
Formula

25% x Jumlah
Penduduk Desa
35% x Jumlah
Penduduk Miskin
Desa
10% x Luas
Wilayah Desa

25% x Jumlah
Penduduk Desa
35% x Jumlah
Penduduk Miskin
Desa
10% x Luas
Wilayah Desa

30% x IKK

30% x IKG

Keterangan:
Jumlah Penduduk adalah Jumlah Penduduk Desa pada kabupaten/kota (sumber BPS)
Jumlah Penduduk Miskin adalah Jumlah Penduduk Miskin Desa pada kabupaten/kota (sumber BPS)
Luas Wilayah adalah Luas Wilayah Desa pada kabupaten/kota (sumber Kemendagri dan BPS)
IKK adalah IKK kabupaten/kota (sumber BPS)

90%
Alokasi
Dasar

29

KEBIJAKAN DANA DESA DALAM APBN-P 2015


1.

Sejalan dengan visi Pemerintah untuk Membangun Indonesia dari Pinggiran dalam
kerangka NKRI, perlu dialokasikan dana yang lebih besar untuk memperkuat
pembangunan daerah dan desa.

2.

Dalam rangka memenuhi ketentuan UU 6/2014, yakni anggaran Dana Desa dari APBN
sebesar 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah secara bertahap, Pemerintah sedang
menyiapkan Road Map Dana Desa.

3.

Sesuai roadmap Dana Desa, dalam APBNP tahun 2015 diusulkan tambahan anggaran
dana desa sebesar Rp11.700,0 miliar, sehingga total dana desa dalam APBNP 2015
sebesar Rp20.766,2 miliar.

4.

Anggaran Dana Desa tersebut akan dialokasikan melalui mekanisme sebagai berikut:
a. Alokasi dari Pusat ke kab/kota (ditetapkan dalam Perpres Rincian APBN)
b. Alokasi dari kab/kota ke desa (ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah)

5.

Untuk menghindari ketimpangan alokasi Dana Desa untuk setiap kab/kota dan setiap
desa, penghitungan alokasi dana desa akan dilakukan berdasarkan:
a. alokasi yang dibagi secara merata; dan
b. alokasi yang dibagi berdasarkan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah,
dan tingkat kesulitan geografis.

Dana Desa

APBN 2015

APBN-P 2015

Rp 9.066,2 miliar

Rp 20.766,2 miliar
30

PENYALURAN DANA DESA


PEMERINTAH PUSAT
(Mekanisme Transfer APBN)
1

PEMERINTAH KAB/KOTA
(Mekanisme Transfer APBD)
31

MEKANISME DAN
JADWAL PENYALURAN DANA DESA
TAHAPAN PENYALURAN DD
URAIAN

Proporsi

KETERANGAN/
PERSYARATAN

TAHAP I

TAHAP 2

TAHAP 3

40%

40%

20%

Dasar: Perpres Alokasi Dana Desa

Minggu II
Bulan Oktober

Persyaratan:
Perda APBD thn berjalan;
Perkada ttg tata cara pembagian dan
penetapan Dana Desa setiap desa ; dan
Laporan realisasi thn sebelumnya.

Penyaluran Dana
Desa dari
PUSAT KE
KAB./KOTA

Minggu II Bulan April

Penyaluran Dana
Desa dari KAB /
KOTA KE DESA

7 hari kerja setelah


diterima di Kas
Daerah

Minggu II
Bulan Agustus

7 hari kerja setelah


diterima di Kas Daerah

7 hari kerja setelah


diterima di Kas Daerah

Persyaratan:
Tahap I: Penyampaian APB Desa;
Tahap II: Laporan penggunaan
semester sebelumnya.

Menteri Keuangan selaku BUN akan menyalurkan Dana Desa dari Rekening Kas Umum
Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) untuk alokasi per Kab/Kota;
Mekanisme penyaluran dari RKUN ke RKUD sesuai mekanisme APBN untuk Transfer
ke Daerah;
Selanjutnya Bupati/Walikota selaku BUD akan menyalurkan alokasi Dana Desa setiap
Desa dari RKUD ke Rekening Kas Desa.
Mekanisme penyaluran dari RKUD ke Rekening Desa sesuai mekanisme Transfer
dalam APBD.
32

Roadmap Dana
Desa
Dana Desa (DD):
Rp20.766,2 M
Rata-rata DD per
Desa:
Rp 280,3 juta
ADD:
Rp34.236,6 M
Bagi Hasil PDRD:
Rp4.109,3 M
TOTAL= Rp59.112,1
M
Rata2 perdesa:
Rp797,8 juta

Penggunaan:
-Sesuai kewenangan hak asal usul dan
kewenangan lokal berskala desa
-Open menu dg prioritas utk mendukung
program pembangunan & pemberdayaan
masyarakat desa melalui pembangunan
infrastruktur dasar desa
-Tdk dapat digunakan utk penghasilan
tetap Kades dan Perangkat Desa
Perencanaan:
-APBDes
-RKP Des
Pedoman Pelaksanaan;
Pendampingan;
Pengembangan Database
Target Keberhasilan

Dana Desa (DD):


Rp103.791,1M
Rata-rata DD per Desa:
Dana Desa (DD):
Rp 1.400,8 juta
Rp81.184,3M
Rata-rata DD per Desa: ADD:
Dana Desa (DD):
Rp55.939,8M
Rp1.095,7 juta
Rp47.684,7 M
Bagi Hasil PDRD:
ADD:
Rata-rata DD per Desa: Rp42.285,9M
Rp5.680,1M
Rp643,6 juta
TOTAL= Rp165.411,1M
Bagi Hasil PDRD:
ADD:
Rata2 perdesa:
Rp4.975,9 M
Rp37.564,4 M
TOTAL= Rp128.446,3M Rp2.232,5 juta
Bagi Hasil PDRD:
Rata2 perdesa:
Rp4.270,3 M
Rp1.733,6 juta
TOTAL= Rp89.519,4M
Rata2 perdesa:
Rp1.208,2 juta

Penggunaan:
-Sesuai kewenangan hak asal
usul dan kewenangan lokal
berskala desa
-Open menu dg prioritas utk
mendukung program
pembangunan & pemberdayaan
masyarakat desa melalui
pembangunan infrastruktur dasar
desa
-melalui pembangunan
infrastruktur dasar Desa
-Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan
Perangkat Desa
Perencanaan:
-APBDes
-RKP Des
-RPJM Des

Penggunaan:
-Sesuai kewenangan hak
asal usul dan kewenangan
lokal berskala desa
-Open menu dg prioritas utk
mendukung program
pembangunan &
pemberdayaan masyarakat
desa melalui pembangunan
infrastruktur dasar desa
-Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan
Perangkat Desa
Perencanaan:
-APBDes
-RKP Des
-RPJM Des

Penggunaan:
-Sesuai kewenangan hak asal
usul dan kewenangan lokal
berskala desa
-Open menu dg prioritas utk
mendukung program
pembangunan &
pemberdayaan masyarakat
desa melalui pembangunan
infrastruktur dasar desa
-Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan
Perangkat Desa
Perencanaan:
-APBDes
-RKP Des
-RPJM Des
Pedoman Pelaksanaan;
Pendampingan;
Pengembangan Database:
Target Keberhasilan

Dana Desa (DD):


Rp111.840,2 M
Rata-rata DD per
Desa:
Rp 1.509,5 juta
ADD:
Rp60.278,0 M
Bagi Hasil PDRD:
Rp6.384,6M
TOTAL=
Rp178.502,8 M
Rata2 perdesa:
Rp2.409,2 juta

Penggunaan:
-Sesuai kewenangan hak asal usul
dan kewenangan lokal berskala
desa
-Open menu dg prioritas utk
mendukung program pembangunan
& pemberdayaan masyarakat desa
melalui pembangunan infrastruktur
dasar desa
-Tdk dapat digunakan utk
penghasilan tetap Kades dan
Perangkat Desa
Perencanaan:
-APBDes
-RKP Des
-RPJM Des
Pedoman Pelaksanaan;
Pendampingan;
Pengembangan Database:
Target Keberhasilan

Jumlah Desa
33
74.093
33

KEBIJAKAN DANA
DEKONSENTRASI DAN TUGAS
PEMBANTUAN

PRINSIP DASAR PENDANAAN


Pemerintah (K/L) berwenang menentukan lokasi, anggaran dan
kegiatan yang akan didekonsentrasikan dan ditugaskan dengan
memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan
pendanaan di daerah, dan kebutuhan pembangunan daerah.
( PP 7/2008 Pasal 21 dan Pasal 50 )

Penjelasan PP 7/2008 Pasal 21 dan Pasal 50


Kemampuan keuangan negara pengalokasian disesuaikan dengan kemampuan
APBN dalam mendanai urusan pemerintah pusat melalui bagian anggaran K/L
Keseimbangan pendanaan di daerah pengalokasian mempertimbangkan
kemampuan fiskal daerah yang terdiri dari besarnya transfer ke daerah dan
kemampuan keuangan daerah
Kebutuhan pembangunan daerah pengalokasian disesuaikan dengan prioritas
pembangunan nasional dan prioritas pembangunan daerah
35

TUJUAN REKOMENDASI

Mewujudkan proporsionalitas agar sebaran


alokasi
dana
Dekonsentrasi
dan
Tugas
Pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah
tertentu.
Meningkatkan
efisiensi,
efektifitas,
transparansi
dan
akuntabilitas
dalam
pengelolaan dana Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan.
Memberi
masukan
kepada
Kementerian/Lembaga dalam
perencanaan
lokasi dan anggaran dana Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan
36

REKOMENDASI TAHUN 2015


Dalam Perencanaan Lokasi dan Alokasi Dana Dekon/TP Tahun 2016:
1.Daerah yang direkomendasikan untuk diprioritaskan mendapat alokasi dana dekonsentrasi dan/atau dana
tugas pembantuan T.A 2016 sebanyak 390 daerah, dengan rincian :
Prioritas 1: daerah yang mempunyai tingkat kemampuan keuangan dibawah rata-rata nasional,
dan tingkat pembangunan kesejahteraan masyarakat (IPM) dibawah IPM nasional. Kelompok
daerah ini perlu mendapat perhatian melalui intervensi pemerintah pusat melalui kewenangan yang
dimiliki sehingga dapat menstimulasi percepatan pembangunan di daerah tersebut melalui
penyelenggaraan program dan kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Kelompok daerah ini
sebanyak 242 daerah, yang terdiri dari 15 Provinsi dan 227 Kabupaten/Kota
Prioritas 2: daerah yang mempunyai tingkat kemampuan keuangan dibawah rata-rata nasional,
namun memiliki tingkat pembangunan kesejahteraan masyarakat (IPM) di atas IPM nasional.
Kelompok daerah ini diasumsikan sebagai daerah berkinerja baik, karena walaupun memiliki
tingkat kemampuan keuangan dibawah rata-rata nasional namun masih dapat secara efektif
melalukan pembangunan daerah melalui kegiatan pelayanan terhadap masyarakat dengan baik.
Kelompok ini perlu mempertahankan kinerjanya, dengan diberikan program dan kegiatan
dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang berkesinambungan. Kelompok daerah ini sebanyak 148
daerah, yang terdiri dari 12 Provinsi dan 136 Kabupaten/Kota

37

REKOMENDASI TAHUN 2015


2. Kementerian/Lembaga wajib memperhatikan program/kegiatan yang merupakan urusan pemerintah
yang didanai melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan secara tertib, dan taat pada
peraturan perundang-undangan.
3. Kementerian/Lembaga mempertimbangkan program/kegiatan tugas pembantuan dengan komposisi
belanja modal yang lebih besar dari jenis belanja lainnya dalam rangka meningkatkan perekonomian
daerah.
4. Kementerian/Lembaga melakukan langkah-langkah percepatan penyerapan anggaran kegiatan
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dalam rangka pencapaian target pembangunan nasional.
5. Kementerian/Lembaga melakukan koordinasi dengan kepala daerah pada saat penyusunan Renja K/L
dalam rangka sinergi kebijakan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
6. Kementerian/Lembaga memberikan masukan kepada Kepala Daerah agar memperhatikan
ketersediaan sumber daya manusia yang mampu dan berpengalaman dalam pengelolaan keuangan di
setiap SKPD sehingga tidak mengganggu pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan,
terutama apabila pejabat dimaksud berpindah tugas atau promosi.

38

ARAH KEBIJAKAN TRANSFER KE


DEPAN

Dasar Penyusunan Kebijakan Transfer


TA.2016

40

Kebijakan Strategis Transfer ke Daerah dan


Dana Desa TA.2016
Arahan Presiden agar alokasi Transfer ke
Daerah bagi pembangunan infrastruktur
daerah (Kab/Kota) terus ditingkatkan;
Melanjutkan affirmative policy terkait alokasi
DAK;
Pengalokasian
DAU
dengan
tetap
mempertimbangkan agar semua daerah
memiliki kemampuan keuangan daerah yang
sama untuk membiayai urusan yang menjadi
tanggungjawabnya.
Mengalokasikan dana desa dengan arah
segera
mencapai
jumlah
yang
telah
diamanatkan UU Nomor 6 Tahun 2014.
41

LANGKAH-LANGKAH YANG TELAH DILAKUKAN


TERKAIT KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH DAN
DANA DESA

1.Percepatan penyampaian informasi alokasi transfer ke


daerah dan dana desa melalui pengunggahan dalam
website DJPK segera setelah pengambilan keputusan
dalam rapat kerja banggar DPR RI bersama pemerintah
untuk mempermudah Daerah dalam menyusun APBD;
2.Percepatan penyampaian informasi penetapan rincian
transfer ke daerah dan dana desa dalam Peraturan
Presiden melalui website DJPK. Kebijakan ini dilakukan juga
dalam rangka mempermudah Daerah dalam menyusun
APBD;
3.Pedoman penyusunan APBD harus dikoordinasikan
terlebih dahulu kepada Kemenkeu dan Bappenas sebelum
ditetapkan Kemendagri. Kebijakan ini dilakukan untuk
memastikan sinkronisasi perencanaan dan
penganggaran antara Pusat dengan Daerah.

42

ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN


(DRAFT REVISI UU 28/2009)

Peningkatan Kemandirian Daerah Dalam


Pembiayaan Untuk Meningkatkan Efisiensi dan
Akuntabilitas
Memperluas basis pajak daerah melalui pendaerahan PBB
P3.
Memberikan kewenangan kepada daerah untuk
mengenakan opsen atas pajak pusat (PPh Orang Pribadi).
Menyederhanakan struktur pajak daerah dan retribusi
daerah.

43

ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN


(1)
(DRAFT REVISI UU 33/2004)
1. Reformulasi Sumber Pendanaan APBD
a. Reformulasi DBH:
Memperkuat konsepsi by origin DBH (menghapus DBH yang
tidak punya dampak signifikan terhadap penerimaan daerah
namun menyalahi prinsip by origin), yaitu menghapus DBH
Perikanan.
Penyaluran DBH menggunakan mekanisme prognosa pada akhir
tahun, yang selanjutnya selisihnya dengan realisasi akan
diperhitungkan pada tahun berikutnya.
b. Reformulasi DAU:
Menghapus alokasi dasar (belanja pegawai daerah), sehingga
formula DAU hanya didasarkan pada Fiscal Gap, guna
mengurangi dorongan inefisiensi belanja pegawai.
Penetapan bobot daerah berdimensi jangka menengah (3
tahun)
Kebutuhan fiskal diukur dengan ukuran kebutuhan riil (transisi
penerapan 5 tahun)

44

ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN


(2)
(DRAFT REVISI UU 33/2004)

c. Reformulasi DAK:
DAK Prioritas Nasional: DAK harus benar-2 tepat sasaran dan mendukung
target prioritas program kerja pemerintah(i) prioritas bersifat fleksibel
sesuai RKP; (ii) penentuan daerah berbasis pada kriteria prioritas
pencapaian output; (iii) jumlah bidang per tahun relatif terbatas namun
mempunyai dampak yg signifikan.
DAK untuk pencapaian SPM/SPN sektor layanan dasar (sektor kesehatan,
pendidikan dan infrastruktur dasar (jalan, jembatan, air minum dan
irigasi).
DAK untuk pencapaian prioritas nasional (dapat ditentukan setiap tahun
sesuai prioritas pemerintah) berbasis prioritas kewilayahan dan/atau
sektoral.
Konsep output based untuk mengurangi rigiditas petunjuk penggunaan
dari Pusat (K/L terkait), namun digantikan dengan target output yang
harus dicapai oleh daerah.
Penerapan kerangka pendanaan jangka menengah pada DAK.
Besaran DAK harus ditingkatkan secara signifikan agar arah
pembangunan nasional dapat lebih terkendali
Tidak ada dana pendamping DAK
d. Mengintegrasikan dana transfer lainnya (yang penggunaannya telah
ditentukan, seperti TPG, BOS, dll) ke dalam DAK yang dapat digunakan
untuk kegiatan fisik dan non-fisik.

45

ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN


(3)
(DRAFT REVISI UU 33/2004)
2. Penegasan mekanisme pendanaan sesuai urusan
pemerintahan
a. Urusan daerah didanai dari APBD, dan APBD dilarang mendanai
urusan Pusat diserta dengan penerapan sanksi berupa
pembatalan Perda APBD oleh Gubernur untuk APBD Kab/Kota dan
Mendagri untuk APBD Provinsi apabila Daerah melanggar.
b. Urusan Pusat didanai dari APBN, dan K/L dilarang mendanai
urusan Daerah
c. Pelanggaran dikenakan sanksi pemotongan anggaran tahun
berikutnya.
3. Pengendalian pemekaran daerah
Pengalokasian Dana Perimbangan kepada daerah otonom baru tidak
secara otomatis setelah penetapan, namun baru dilakukan pada
tahun kedua.
4. Pengendalian belanja daerah dan perbaikan pengelolaan
keuangan:
a. kontrol terhadap dana idle daerah, bila Pemda mempunyai
deposito jangka > 2 bulan sebesar >1/12 belanja APBD, maka
transfer dapat digantikan dengan SUN. Hal ini dimaksudkan agar

46

ARAH KEBIJAKAN HKPD KE DEPAN


(4)
(DRAFT REVISI UU 33/2004)
b. Pengendalian batas maksimal kumulatif defisit APBD;
c. Pengaturan mengenai belanja, utamanya batas minimal
untuk belanja infrastruktur yang langsung terkait dengan
peningkatan kuantitas layanan publik dalam APBD.
5. Pengaturan mengenai Pinjaman Daerah
a. Ruang yang lebih leluasa bagi daerah dalam melakukan
pinjaman daerah aturan tetap prudent namun tidak
mempersulit daerah;
b. Pengembangan Lembaga pembiayaan daerah semacam
RIDF.
6. Surveillance serta reward and punishment
Surveillance dilakukan secara berkala, sebagai salah satu alat
untuk memberikan reward and punishment kepada daerah
yang didasarkan pada kinerja keuangannya.

47

Terima Kasih
Kementerian Keuangan
Jl. DR Wahidin No. 1, Gd. Radius Prawiro
Jakarta Pusat, Indonesia, 10710
Telp. +6221-3509442
Fax. +6221-3509443
Website : http://www. djpk.depkeu.go.id

PROFIL KEUANGAN, EKONOMI


DAN KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT

49

STRUKTUR APBD PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA DAN


SE-PROV. KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2010 - 2015
Dalam kurun waktu tahun
2010-2015,
terjadi
kenaikan pendapatan dan
belanja daerah.
Dalam kurun waktu tahun
2010-2012
terdapat
surplus anggaran daerah
(realisasi APBD), defisit
anggaran terjadi dalam
APBD
secara Nasional
tahun 2013-2015.

Keterangan:
Keterangan:
-Tahun
-Tahun 2010
2010
--Tahun
Tahun 2014
2014

2013
2013
2015
2015

::
::

Data
Data
Data
Data

realisasi
realisasi APBD
APBD
APBD
APBD

50

STRUKTUR PENDAPATAN PROVINSI/KAB/KOTA SEINDONESIA DAN SE-KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2010 2015
Struktur
pendapatan
daerah secara nasional
masih didominasi oleh
dana
perimbangan
(transfer ke daerah).
Secara nasional, rata-rata
proporsi
dana
perimbangan
terhadap
total pendapatan mencapai
61,8%, sedangkan ratarata proporsi pada daerah
se-Prov. Kaltim mencapai
64,5%.
Secara nasional, rata-rata
proporsi PAD terhadap
total
pendapatan
mencapai
21,3%,
sedangkan
rata-rata
proporsi pada daerah seProv.
Kaltim
mencapai
14,4%.

51

PERANANAN PAD TERHADAP PENDAPATAN DAERAH


PROVINSI/KAB/KOTA SE-INDONESIA TAHUN 2010
2015

Secara Nasional, peranan PAD


dalam
pendapatan
daerah
relatif masih rendah meskipun
terus meningkat, dari 18,1%
tahun 2010 menjadi 25% pada
tahun 2015.
Peranan
PAD
terhadap
pendapatan
daerah
juga
meningkat di provinsi/kab/kota
se-Kalimantan
Tengah,
dari
14,7%
pada
tahun
2010
menjadi 22,5% pada tahun
2015.
Hal ini diantaranya disebabkan
adanya kebijakan penguatan
Local
Taxing
Power,
pendaerahan PBB dan BPHTB
serta pengenaan pajak rokok).
Implikasinya
inefisiensi
dan
kurang akuntabelnya daerah
dalam
membelanjakan
pendapatannya

52

TAX RATIO DAN ELASTISITAS PAJAK DAERAH DAN


RETRIBUSI DAERAH

Secara Nasional, rasio penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah


terhadap PDRB (tax ratio) masih sangat rendah meskipun terus mengalami
peningkatan selama periode 2011 2013 dari sebesar 1,45% pada tahun
2011 menjadi 1,66% pada tahun 2013.
Adapun tingkat elastisitas PDRD terhadap PDRB secara Nasional dapat
dikatakan cukup baik meskipun hanya sebesar 1,63 pada tahun 2013. Hal
ini menunjukkan bahwa upaya pemungutan PDRD relatif lebih baik.
53

PERANAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP


PENDAPATAN DAERAH YANG SEMAKIN MENURUN

Secara
Secara Nasional,
Nasional, peranan
peranan
dana
perimbangan
dana
perimbangan
terhadap
pendapatan
terhadap
pendapatan
daerah
daerah terus
terus mengalami
mengalami
penurunan
penurunan dari
dari 68,3%
68,3%
tahun
2010
menjadi
tahun
2010
menjadi
55,3%
55,3% pada
pada tahun
tahun 2015.
2015.

dana
Peranan
Peranan
dana
perimbangan
terhadap
perimbangan
terhadap
pendapatan
pendapatan daerah
daerah di
di
provinsi/kab/kota
se
provinsi/kab/kota
se
Kaltim
Kaltim juga
juga mengalami
mengalami
penurunan
penurunan dari
dari 75,6%
75,6%
pada
pada tahun
tahun 2010
2010 menjadi
menjadi
63,6%
63,6% pada
pada tahun
tahun 2015.
2015.

54

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI

Laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur mengalami fluktuasi


selama periode 2009 2013, semula 2,28% menjadi 1,59%. Selama
periode tersebut, laju pertumbuhan selalu berada di bawah laju
pertumbuhan ekonomi nasional.

55

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

Indeks Pembangunan Manusia terus mengalami peningkatan selama periode 2009 2013. Dari semula 75,11% pada tahun 2009 menjadi 77,33% pada tahun 2013.

56

PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN


Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
di Kalimantan Timur menurun dari
semula 11,14% pada tahun 2011
menjadi 7,95% pada tahun 2013.

Persentase penduduk miskin di


Kalimantan Timur terus mengalami
penurunan selama periode 2010 2014. Dari semula 7,66% pada
tahun 2010 menjadi 6,31% pada
tahun 2014.

57