Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Belajar |

JURNAL BELAJAR
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A. IDENTITAS
Nama

: Annas Jannaatun Naim

NIM

: 130341603379

Kelas / Offering

: A/AA

Tanggal Pertemuan

: 1 & 3 September 2015

Topik

: Teori Behaviorisme dan teori


Kognitivisme serta penerapan
Keduanya.

B. KONSEP YANG DIPELAJARI


Konsep yang dipelajari pada perkuliahan tanggal 1 & 3 September 2015
ini yaitu tentang yang tertera seperti pada bagan berikut ini.

Kognitivisme

Behaviorisme

C. BUKTI BELAJAR SEBAGAI HASIL EKSPLORASI


Teori Behaviorisme dan Kognitivisme
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984). Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi
antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat
diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan

Jurnal Belajar |

respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang
diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses
perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi
stimulus untuk merangsang siswa dalam berperilaku. Pendidik yang masih
menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum
dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai
dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut
disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul,
1997).
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung
dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran,
karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan
(transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan
akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.
Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus
dipahami oleh murid (Degeng,2006).
Menurut Sugihartono (2007) misi dari pemerolehan pengetahuan
melalui strategi pembelajaran kognitif adalah kemampuan memperoleh,
menganalisis dan mengelola informasi dengan cermat serta kemampuan
pemecahan masalah. Pembelajaran didesain lebih berpusat pada peserta didik,
bersifat analitik dan lebih berorientasi pada proses pembentukan pengetahuan
dan penalaran.

Jurnal Belajar |

Bandura berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang


dijelaskan dalam buku karya John W. Santrock (2007:285) yang
menyatakan bahwa teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory)
merupakan faktor sosial dan kognitif dan juga faktor perilaku, memainkan
peran penting dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa faktor kognitif
berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor
sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Jadi
menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor lingkungan dan
faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor ini bisa
saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif
mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.

Jurnal Belajar |

Menurut Piaget dalam buku Teknologi Pembelajaran dari Drs.


Bambang Warsita (2008) yang menjelaskan bahwa perkembangan kognitif
merupakan suatu prosess genetika yaitu proses yang didasarkan atas
mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dalam buku
Psikologi Pendidikan karya Wasty Soemanto (1997) yang menyatakan
teori belajar piaget disebut cognitive-development yang memandang
bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi intelektual
dari kongkrit. Belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu :asimilasi, akomodasi
dan equilibrasi. Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.
Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap satu debfab
tahap lainnya yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang
maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh
karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif
anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang
sesuai dengan tahapannya.

D. RELEVANSI
Belajar
Upaya seseorang

Perbedaan
Mengajar
Pengajaran
Kegiatan
Istilah lama,

Pembelajaran
Istilah baru, lebih

untuk memperoleh

mentransfer

lebih ke

student center,

informasi dan

informasi dari

teacher center.

berlangsung

ditandai dengan

narasumber ke

Tidak terjadi

interaksi timbal

terjadinya perubahan

peserta didik

timbal balik

balik yang aktif.

tingkah laku

yang aktif.

E. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Pertanyaan pertama
Apa perbedaan mendasar behaviorisme dan kognitivisme?
Jawab: kedua teori ini terlihat kontras berbeda sekali, penganut
behaviorisme lebih condong teacher center, yangmana murid lebih
memperhatikan apa yang guru sampaikan dan mengikuti segala
perintahnya. Pada kognitivisme hal tersebut menjadi berbalik, teori ini

Jurnal Belajar |

lebih condong student center. Kognitivisme menganggap murid dapat


mengembangkan kemampuan kognitifnya sendiri untuk belajar tentang
segala hal.
2. Pertanyaan kedua
Apakah behaviorisme benar-benar ditinggalkan ?
Jawab: Tidak, walaupun behaviorisme dikatakan tidak efektif untuk
pembelajaran jaman sekarang. Namun, behavioristik ini tetap harus
dipakai, karena penanaman moral juga melibatkan behavioristik. Mata
pelajaran tertentu juga tidak mungkin terlepas dari behavioristik, misalnya
mata pelajaran yang mengandung ajaran yang kental menyangkut masalah
budaya dan norma.
3. Pertanyaan ketiga
Mengapa kognitivisme dinyatakan lebih unggul daripada behavioristik ?
Jawab: kognitivisme lebih membebaskan siswanya sehingga akan
muncul inovasi-inovasi baru, cara-cara unik yang dimiliki siswa ini
muncul. Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi masing-masing.
Apabila yang digunakan adalah behavioristik, maka potensi ini tadi justru
terbendung dan siswa akan merasa terkekang.

F. ELEMEN YANG MENARIK


1. Ternyata behaviorisme dianggap lebih belakang daripada kognitivisme.
Hal tersebut terjadi karena jaman sekarang, siswa dituntut lebih aktif.
Guru hanyalah sebagai pencegah terjadinya miskonsepsi dan semacam
mediator antara materi ajar dengan murid.
2. Walaupun dianggap terbelakang. Teori behavioristik ini tidak benar-benar
ditinggalkan, karena pada dasarnya terdapat mata pelajaran yang
menggunakan behaviorisme, misalnya mata pelajaran yang berusaha
menanamkan moral kepada peserta didik. Baik itu mengenani budaya
yang baik maupun norma-norma.
3. Ternyata ada beberapa ahli yang menyatakan teori kognitivisme yang
berkebalikan walaupun menggunakan dasar definisi yang sama. Dalam
kasus ini, kita bisa melihat seorang ahli bernama piaget mengambil sudut
pandang usia sedangkan ausubel tidak menekankan usia namun
bagaimana siswa itu mengolah informasi yang ia miliki.

Jurnal Belajar |

G. REFLEKSI DIRI
Umum
Pada tanggal 1 & 3 Agustus 2015 kegiatan berlangsung
menyenangkan dan tanpa halangan. Ibu Dosen Sri Endah memberikan
pengarahan yang baik dan berhasil mencegah terjadinya miskonsepsi.
Secara umum, mahasiswa tidak mengantuk dan tidak bosan. Kami
menikmati jalannya diskusi sehingga materi yang dibahas menjadi mudah
dipahami.

Khusus
Pada tanggal 1 September 2015, menurut saya kegiatan pada hari
ini baik. Tidak membosankan, diskusi berjalan dengan lancar. Mahasiswa
dapat segera berkontribusi memberikan tanggapan terkait materi yang
dibahas pada saat itu. Fasilitas yang tersedia di kampus juga sangat
membantu, dalam hal ini adalah ketersediaan koneksi internet yang mudah
dan lancar.
Pada tanggal 3 September 2015, diskusi kali ini agak berbeda.
Yang saya rasakan saya bosan dan aspirasi tidak tersalur dengan efektif.
Jalannya diskusi terlalu dikendalikan oleh asisten yang mana hal ini
menjadikan moderator seolah tak berguna. Penggunaan metode yang baru
saja diterapkan ini saya katakan tidak efektif karena menurut saya,
mahasiswa jadi tidak bisa mengacungkan jari dan menyampaikan
pendapatnya ke dalam diskusi sehingga masalah-masalah yang muncul
dari pikiran mahasiswa tidak terbahas. Sebaiknya untuk pertemuanpertemuan berikutnya dikaji lagi bagaimana metode yang pantas untuk
kelas kami.