Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara
keseluruhan sehingga perlu dibudayakan di seluruh lapisan masyarakat. Rongga
mulut manusia tidak pernah bebas dari bakteri dan umumnya bakteri plak memegang
peranan penting dalam menentukan pembentukan kalkulus, perlekatan kalkulus
dimulai dengan pembentukan plak gigi, sedangkan permukaan kalkulus supragingiva
dan kalkulus subgingiva selalu diliputi oleh plak gigi.
Untuk menghilangkan plak dan dental deposit dilakukan perawatan scaling.
Diharapkan setelah perawatan scaling akan terjadi proses penyembuhan berupa
hilangnya keradangan dalam jaringan ikat gingiva dan terbentuknya long junctional
epithelium Proses penyembuhan ini secara histologis tidak menunjukkan adanya
perlekatan jaringan ikat baru.
Adapun Antibiotik yang digunakan untuk penyembuhan dan perawatan gigi
ialah Tetracyclin yaitu sebagai obat antimikrobial, antikolagenase dan anti inflamasi.
Penggunaan sebagai anti kolagenase telah mampu menghalangi MMP-8dan dapat
menurunkan progresi radang periodontal dan menghambat hilangnya tulang alveolar,
Tetrasiklin dapat mengikat ion kalsium dan ion Zn yang terletak di sisi aktif dari

enzim

kolagenase.Hambatan

pada

enzim

kolagenase

menghasilkan

efek

antiproteolitik yang dapat menghambat resorbsi tulang.


Penggunaan sediaan tetrasiklin gel sebagai terapi penunjang skeling dan
penghalusan akar gigi memberikan efek klinik yang lebih baik daripada Skeling dan
penghalusan akar gigi saja(Maduratna,2000 ; Nilawati, 2003)

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana efektifitas Tetracyclin untuk perawatan pada gigi ?

1.3. Tujuan Penulisan


Bagaimana efektifitas Tetracyclin untuk perawatan pada gigi ?
1.4. Manfaat Penelitian
1.
2.

Sebagai pengetahuan bagi para dokter tentang efektifitas


Tetracyclin untuk perawatan pada gigi.
Sebagai acuan para dokter dalam mengatasi kasus yang membutuhkan

penggunaan Tetracyclin untuk perawatan pada gigi.


3.
Diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan masukan dalam
penelitian

selanjutnya

yang

berhubungan

Tetracyclin untuk perawatan pada gigi.

dengan

efektifitas

BAB II
FARMASI FARMAKOLOGI
2.1.

Definisi Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam

natrium atau garam HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan
garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin
sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya (1).
Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara deklorrinasi
klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga fermentasi (3).
Tetrasiklin mempunyai mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari
975 g tetrasiklin hidroklorida,(C22H24N2O8.HCl),per mg di hitung terhadap zat
anhidrat (4).
Struktur kimia dari tetrasiklin adalah sebagai berikut:

Gambar.1.Struktur Tetrasiklin (2)

Tabel 1. Struktur kimia golongan tetrasiklin (1)


Jenis tetrasiklin
1. Klortetrasiklin
2. Oksitetrasiklin
3. Tetrasiklin
4. Demeklosiklin
5. Doksisiklin
6. Minosiklin

R1
-Cl
-H
-H
-Cl
-H
-N(CH3)2

Gugus
R2
-CH3, -OH
-CH3, -OH
-CH3, -OH
-H, -OH
-CH3, -H
-H, -H

R3
-H, -H
-OH, -H
-H, -H
-H, -H
-OH, -H
-H, -H

Tetracycline adalah spektrum luas Poliketida antibiotik yang dihasilkan oleh


Streptomyces genus dari Actinobacteria , diindikasikan untuk digunakan melawan
infeksi bakteri banyak. Ini adalah inhibitor sintesis protein. acnerosaceacholera Hal
ini umumnya digunakan untuk mengobati jerawat hari ini, dan yang lebih baru,
rosacea , dan memainkan peran historis dalam memerangi kolera di negara maju. Itu
dijual dengan merek Sumycin, Terramycin, Tetracyn, dan Panmycin, antara lain.
Actisite adalah seperti bentuk-serat benang, digunakan dalam aplikasi gigi.
tetracycline antibiotics Hal ini juga digunakan untuk memproduksi turunan semisintetik beberapa yang bersama-sama dikenal sebagai antibiotik tetrasiklin (3).
Menurut farmakope Indonesia Edisi 4, Tetrasiklin memiliki pemerian serbuk
hablur kuning, tidak berbau. Stabil di udara tetapi pada pemaparan dengan cahaya
matahari kuat, menjadi gelap. Dalam laruta dengan pH lebih kecil dari 2, potensi
berkurang dan cepat rusak dalam larutan alkali hidroksida (4).
Tetrasiklin mempunyai kelarutan sangat sukar larut dalam air, larut dalam 50
bagian etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dan dalam eter P. Larut
dalam asam encer, larut dalam alkali disertai peruraian (3).
Tetrasiklin adalah salah satu antibiotik yang dapat menghambat sintesis
protein pada perkembangan organisme. Antibiotik ini diketahui dapat menghambat
kalsifikasi dalam pembentukan tulang. Tetrasiklin diketahui dapat menghambat
sintesis protein pada sel prokariot maupun sel eukariot. Mekanisme kerja
penghambatannya, yaitu tetrasiklin menghambat masuknya aminoasil-tRNA ke

tempat

aseptor A pada kompleks

mRNA-ribosom,

sehingga menghalangi

penggabungan asam amino ke rantai peptide (7).


2.2.

FARMAKOKINETIK
2.2.1. Absorbsi
Kira-kira 30-80% tetrasklin diserap lewat saluran cerna. Doksisiklin
dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini sebagian besar
berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas. Berbagai faktor dapat
menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam lambung
(kecuali doksisiklin dan monosiklin), pH tinggi, pembentukan kelat
(kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca 2+,
Mg2+, Fe2+, Al3+, yang terdapat dalam susu dan antasid). Oleh sebab itu
sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan (1).
Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorbsinya dari
sediaan tetrasiklin biasa (1).
2.2.2. Distribusi
Dalam plasma serum jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam
jumlah yang bervariasi. Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin
dan oksitetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar 2,0-2,5 g/ml (1).
Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga
obat ini boleh diberikan pada gagal ginjal. Dalam cairan serebrospinal
(CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum.
Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke
cairan tubuh lain dalam jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini
ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati, limpa dan sumsum tulang,
serta di dentin dan email gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin
menembus sawar uri, dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang

relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, daya penetrasi


doksisiklin dan minosiklin ke jaringan lebih baik (1).
2.2.3.

Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati.

Doksisiklin dan minosiklin mengalami metabolisme di hati yang cukup


berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal (1).
2.2.4.

Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi

glomerulus. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin


diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke
dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum. Sebagian besar obat
yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik;
maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi
dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal
hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap
diekskresi melalui tinja (1).
Antibiotik golongan tetrasiklin yang diberi per oral dibagi menjadi 3
golongan berdasarkan sifat farmakokinetiknya, yaitu :
a. Tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorpsi kelompok
tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa paruh 6-12 jam.
b. Demetilklortetrasiklin. Absorpsinya lebih baik dari masa paruhnya kirakira 16 jam sehingga cukup diberikan 150mg per oral tiap 6 jam.
c. Doksisiklin dan minosiklin. Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya
17-20 jam. Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1 atau 2 kali 100
mg sehari (1).

2.3. FARMAKODINAMIK
Golongan tetrasiklin menghambat sintesisprotein bakteri pada ribosomnya.
Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya anti biotik ke dalam ribosom
bakteri gram negative, pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua
melalui sistem transport aktif. Setelah masuk anti biotik berikatan secara revarsible
dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan tRNA amino asil pada kompleks
mRNA ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang
tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein (1).

Tetrasiklin termasuk antibiotika broad spektrum. Spektrum golongan


tetrasiklin umumnya sama, sebab mekanisme kerjanya sama, namun terdapat
perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman
tertentu. Derivat dari tetrasiklin yaitu: demeklosiklin, klortetrasiklin,
doksisiklin, methasiklin, oksitetrasiklin, dan minosiklin.

2.4. INTERAKSI OBAT

1. Golongan tetrasiklin dengan antasida ( termasuk garan alimunium, kalsium,


atau magnsium), garam besi, garan zink. Menyababkan absorpsi dan kadar
serum tetrasiklin turun.
Pengatasan : tetrasiklin diberikan 1 jam sebalum atau 2 jam setelah antasida.
2. Golongan tetrasiklin dengan garam bismuth menyebabkan kadar serum
tetrasiklin turun.
Pengatasan : bismuth diberikan 2 jam setelah tetrasiklin
3. Golongan tetrasiklin dengan cholestyramine atau colestipol menyebabkan
absorpsi tetrasiklin turun sehingga kadar serumnya juga turun.
Pengatasan : bila perlu dilakukan penyesuaian dosis tetrasiklin.
4. Golongan tetrasiklin dengan pengalkali urin (contoh: Na. Laktat, K. Sitrat)
menyababkan terjadi peningkatan ekskresi dan penurunan kadar serum
tetrasiklin.
Pengatasan : pemisahan waktu pemakaian 3-4 jam atau bila perlu dilakukan
peningkatan dosis tetrasiklin ( jika pH urin naik signifikan)
5. Golongan tetrasiklin dengan anti koagulan oral. Efek antikoagualan
meningkat karena berkurangnya vitamin K yang diproduksi bakteri dalam
usus akibat pemakaian tetrasiklin.
Pengatasan : monitor parameter anti koagualan dan bila perlu dosis anti
koagualan disesuaikan.
6. Golongan tetrasiklin dengan kontrasepsi oral. Tetrasiklin mempengaruhi
resirkulasi enterohepatik kontrasepsi steroid, sehingga menurunkan efeknya.
7. Golongan tetrasiklin denga digoxin. Dapat terjadi peningkatan kadar serum
digoxin pada sejumlah kecil pasien ( sekitar 10%).
Pengatasan : monitor kadar digoxin dan tanda-tanda toksisitasnya.

BAB III

PENGGUNAAN KLINIK
3.1

PENYAKIT YANG BERKAITAN

Karena penggunaan yang berlebih, dewasa ini terjadi resistansi yang mengurangi
efektivitas tetrasiklin. Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin ialah:
1. Riketsiosis
Perbaikan yang dramatis tamapak setelah pemberian golongan tetrasiklin.
Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari.
Perbaikan klinis yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi dimulai.
2. Infeksi Klamidia
a.

Limfogranuloma venereum.

Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada
infeksi akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan kronis
diberikan terapi 1-2 bulan. Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai
mengecil.
b.

Psikatosis

Pemberian golongan tetrasiklin selama beberapa hari dapat mengatasi gejala


klinis. Dosis yang digunakan ialah 2 gram per hari selama 7-10hari atau 1
gram per hari selama 21 hari.
c.

Konjungtivitis inklusi

Penyakit ini dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3 minggu dengan
memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung golongan
tetrasiklin.
d.

Trakoma

Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan


doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil pengobatan
yang baik.

e.

Uretritis nonspesifik.

Infeksi yang disebabkan oleh Ureaplasma urealyticum atau Chlamydia


trachomatis ini terobati baik dengan pemberian tetrasiklin oral 4 kali 500 mg
sehari selama 7 hari. Infeksi C.trachomatis seringkali menyertai uritritis
akibat gonokokus.
3. Infeksi Mycoplasma Pneumoniae
Pneumonia primer atipik yang disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi
dengan pemberian golongan tetrasiklin. Walaupun penyembuhan klinis cepat
dicapai Mycoplasma pneumoniae mungkin tetap terdapat dalam sputum
setelah obat dihentikan.
4. Infeksi Basil
a. Bruselosis
Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk
penyakit ini. Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya didapat dengan
pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat, seringkali perlu diberikan
bersama streptomisin 1gram sehari IM.
b. Tularemia
Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya ialah streptomisin, tetapi
terapi dengan golongan tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.
c. Kolera
Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk
penyakit ini. Pemberian dapat mengurangi volume diare dalam 48 jam.
d. Sampar
Antibiotik terbaik untuk mengobati infeksi ini ialah streptomisin. Bila
streptomisin tidak dapat diberikan, maka dapat dipakai golongan tetrasiklin.
Pengobatan dimulai dengan pemberian secara IV selam 2 hari dan dilanjutkan
dengan pemberian per oral selama 1 minggu.
5. Infeksi Kokus

Golongan tetrasiklin sekarang tidak lagi diindikasikan untuk infeksi


stafilokokus maupun streptokokus karena sering dijumpai resistensi.
Tigesiklin efektif untuk infeksi kulit dan jaringan lunak oleh streptokokus dan
stafilokokus (termasuk MRSA).
6. Infeksi Venerik
a. Sifillis
Tetrasiklin merupakan antibiotik pilihan kedua setelah penisilin untuk
mengobati sifillis. Dosisnya 4 kali 500 mg sehari per oral selama 15 hari.
Tetrasiklin juga efektif untuk mengobati chancroid dan granuloma inguinal.
Karena itu dianjurkan memberikan dosis yang sama dengan dosis untuk terapi
sifilis.
7. Akne Vulgaris
Tetrasiklin diduga menghambat produksi asam lemak dari sebum. Dosis
yang diberikan untuk ini ialah 2 kali 250 mg sehari selama 2-3 minggu, bila
perlu terapi dapat diteruskan sampai beberapa bulan dengan dosis minimal
yang masih efektif.
8. Penyakit Paru Obstruksi Menahun
Eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif menahun dapat diatasi dengan
doksisiklin oral 2 kali 100 mg/ hari. Antibiotika lain yang juga bermanfaat
ialah kotrimoksazol dan koamoksiklav.
9. Infeksi Intraabdominal
Tigesiklin efektif untuk pengobatan infeksi intraabdominal yang
disebabkan oleh E. Coli, C.freundii, E.faecalis, B.fragilis dan kuman-kuman
lain yang peka.
10. Infeksi lain
a. Aktinimikosis
Golongan tetrasiklin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini bila
penisilin G tidak dapat diberikan kepada pasien.
b. Frambusia

Respons penderita terhadap pemberian golongan tetrasiklin berbeda-beda.


Pada beberapa kasus hasilnya baik, yang lalin tidak memuaskan. Antibiotik
pilihan utama untuk penyakit ini ialah penisilin.
c. Leptospirosis
Walaupun tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk pengobatan
leptospirosis, efektifitasnya tidak terbukti secara mantap.
d. Infeksi saluran cerna
Tetrasiklin mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amubiasis
intestinal akut, dan infeksi Plasmodium falciparum. Selain itu mungkin efektif
untuk disentri yang disebabkan oleh strain Shigella yang peka.
11. Penggunaan Topikal
Pemakaian topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata
golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada
mata oleh kuman Gram-positif dan Gram-negatif yang sensitif. Selain itu
salep mata ini dapat pula digunakan untuk profilaksis oftalmia neonatorum
pada neonatus (1).
3.2

CONTOH OBAT

Contoh obat yang mengandung tetrasiklin antara lain:


1. Conmycin
Komposisi

: Tetracycline HCL

Indikasi

: Infeksi karena organisme yang peka terhadap tetrasiklin

Dosis

: 1 kaps 4 x/ hr. Brucellosis 500 mg 4 x/hr selama 3 minggu.


Sifilis 30-40 g dalam dosis terbagi selama 15 hr.

Penggunaan obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah makan dengan segelas air, dalam posisi tegak. Dapat
diberikan bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak
nyaman pada GI.

Kontra Indikasi

: Riwayat hipersensitivitas terhadap tetrasiklin. Hamil, anak


<12 tahun.

Efek samping

Anoreksia,

enterokolitis,

mual,
lesi

muntah,

inflamasi,

diare,
ruam

gossitis,

disfagia,

makulopapular

dan

eritematosa, fotosensitif.
2. Corsamycin
Komposisi

: Oxytetracycline HCl

Indikasi

: Bronkitis akut dan kronis termasuk pencegahan eksaserbasi


akut, bronkopneumonia dan atipikal pneumonia disebabkan
oleh

mikoplasma

pneumonia,

bronkiektasis

terinfeksi,

bronkiolitis, otitis media, angina vincenti, infeksi traktus


urinatius, uretritis non-GO, infeksi bakteri pada trakusGI dan
biliaris, infeksi jaringan lunak, infeksi pasca persalinan
(endometritis), meningitis dan endokarditis, akne vulgaris, GO
dan sifilis yang tidak sesuai dengan penisilin. Granuloma
inguinal dan khankroid, bruselosis, kolera, amubasis, tifus dan
Q-fever, psikatosis dan limfogranuloma venereum, trakoma.
Dosis

: Dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari (untuk


kebanyakan infeksi). Infeksi nafas seperti eksaserbasi akut
bronkitis dan pneumonia karena mikoplasma 500 mg 4 x/hr.
Profilaksis infeksi saluran respiratorius 250 mg 2-3 x/hr. GO
dan sifilis, bruselosis total dosis 2-3 g/hr.

Penggunaan Obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah makan.
Kontra Indikasi

: Hipersensitif, gangguan ginjal. Hamil, anak < 7 tahun.

Efek samping

: Gangguan GI, gatal di anus dan vulva. Perubahan warna gigi


dan hipoplasia pada anak, hambatan pertumbuhan tulang
sementara. Dosis tinggi: uremia.

3. Corsatet
Komposisi

: Tetracycline HCl

Indikasi

Abses,

akne,

bartonellosis,

amubiasis,

bronkitis

anthraks,

akut

dan

disentri

basiler,

kronis,

infeksi

bronkopulmoner, bruselosis, kankroid, difteri, infeksi traktus


genitourinaria,

GO, granuloma

inguinale,

infeksi

yang

menyertai fibrosis kistik pankreas, listeriosis, limfograuloma


venereum, infeksi bakteri campuran, osteomielitis, otitis
eksterna dan media, pertusis, faringitis, pneumonia, psittakosis,
pielonefritis akut dan kronis, rocky mountain spotted fever,
demam scarlet, sinusitis, infeksi jaringan lunak, sifilis,
tonsilitis, tularemia, tifoid, ricketsia, uretritis (non-GO),
pencegahan pra dan pasca bedah dan dental.
Dosis

: Dewasa 250 mg 4 x/hr. Infeksi berat 1500-2000 mg/hr. Anak


20-40 mg/kg/BB/hr, dosis terbagi. Sifilis dosis total 30-40 g
dalam dosis terbagi rata selam 10-15 hari. Bruselosis
kombinasi dengan streptomisin.

Penggunaan obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah makan dengan segelas air, dalam posisi tegak. Dapat
diberkian bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak
nyaman pada GI.
Kontra Indikasi

: Hipersensitif, gangguan ginjal berat, hamil, anak < 12 tahun.

Efek samping

: Gangguan GI, supersenitif, hepatotoksik dan nefrotoksik.


Jarang meningkatkan TIK, SLE. Perubahan warna gigi dan
hipoplasia gigi pada anak dalam masa pertumbuhan (6).

BAB IV
TOKSISITAS
4.1. EFEK SAMPING OBAT
Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin
dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan
iritatif serta reaksi yang timbul akibat perubahan biologik.
1.

Reaksi Kepekaan

Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah
erupsi mobiliformis, urtikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat
ialah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Demam dan eosinofilia dapat
pula terjadi pada waktu terapi berlangsung. Sensitisasi silang antara berbagai
derivat tetrasiklin sering terjadi.
2. Reaksi toksik dan iritatif
Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per oral,
terutama dengan oksitetrasiklin dan doksisiklin. Makin besar dosis yang
diberikan, makin sering terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan
mengurangi dosis untuk sementara waktu atau memberikan golongan tetrasiklin
bersama dengan makanan, tetapi jangan dengan susu atau antasid yang
mengandung alumunium, magnesium atau kalsium. Diare seringkali timbul
akibat iritasi dan harus dibedakan dengan diare akibat superinfeksi stafilokokus
atau Clostridium difficile yang sangat berbahaya.
Manifestasi reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya tromboflebitis pada
pemberian IV dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM
tanpa anestetik lokal.
Terapi dalam waktu lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti
leukositosis,

limfosit

trombositopenia.

atipik,

granulasi

toksik

pada

granulosit

dan

Reaksi fototoksik paling jarang timbul dengan tetrasiklin, tetapi paling sering
timbul

pada

pemberian

dimetilklortetrasiklin.

Manifestasinya

berupa

fotosensitivitas, kadang-kadang disertai demam dan eosinofilia. Pigmentasi kuku


dan onikolisis, yaitu lepasnya kuku dari dasarnya, juga dapat terjadi.
3. Efek samping akibat perubahan biologik
Seperti antibiotik lain yang berspektrum luas, pemberian golongan tetrasiklin
kadang-kadang diikuti oleh terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan
jamur. Superinfeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, bahkan
kadang-kadang menyebabkan infeksi sistemik. Faktor predisposisi yang
memudahkan terjadinya superinfeksi ini ialah diabetes melitus, leukimia, lupus
eritematosus diseminata, daya tahan tubuh yang lemah dan pasien yang mendapat
terapi kortikosteroid dalam waktu lama.

4.2.

RESISTENSI
Mekanisme resistensi yang terpenting adalah diproduksinya pompa
protein yang akan mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri. Protein ini
dikode dalam plasmid dan dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri lain
melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis
tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya.
Mekanisme resistensinya adalah sebagai berikut: Tetrasiklin (tet)
merupakan molekul hidrofobik, dan masuk ke dalam sel dengan difusi pasif..
Jika tetrasiklin tidak ada, repressor tetR akan mencegah proses transkripsi gen
tetA, selain itu tetR juga akan melakukan siintesis proteinnya sendiri pada
urutan operator tetO di dalam sitosol, tetrasiklin membentuk kompleks dengan
bivalent ion ion metal seperti magnesium itu semacam sebuah ikatan

kompleks ke tetR, sehingga mengubah konformasi dan disosiasi nya dari


bagian operator kemudian, tidak hanya antiporter tetA, tetapi antipoerter tetR
juga tersintesis tetA mengeluarkan kompleks [tet-Mg2+] +H+ keluar dari
sitosol, dan memasukkan proton pada waktu yang bersamaan. Setelah
tetrasiklin dikeluarkan, sisa protein tetR mengikat rangkaian tetO lagi dan
menonaktifkan tetA dan tetR.

Gambar.2.Mekanisme Resistensi Tetrasiklin (2)

Resistensi terhadap tetrasiklin dapat timbul melalui penembusan obat,


perlindungan ribosomal protein, mutasi rRNA 16S, dan inaktivasi obat
melalui aksi sebuah monooxygenase.

BAB V
PENYELIDIKAN / PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN

1. Judul : Tetracycline tooth discolouration in Benin City


Penulis: Matthew A.Sede
Isi Jurnal :
Pendahuluan
Perubahan warna pada gigi merupakan masalah estetika yang terkait
pada banyak factor. Pengaruh terhadap perubahan warna yang disebabkan
oleh Tetrasiklin sudah banyak yang terdokumentasikan 1. Perubahan warna
gigi akibat Tetrasiklin merupakan masalah estetika yang serius bagi pasien 1.
Perubahan warna pada gigi ini merupakan efek samping dari pengobatan
menggunakan Tetrasiklin saat mengobati infeksi pada anak anak, atau saat
diberikan pada ibu hamil pada masa kehamilan 14-16 minggu 4. Perubahan
warna termanifestasi pada 50% dari janin yang terpapar dengan penggunaan
Tetrasiklin5. Kadang kala selain perubahan warna gigi,ditemukan juga adanya
hypoplasia enamel5. Kejadian perubahan warna pada penggunaan Tetrasiklin
tidak hanya terjadi pada anak anak dan juga bayi. Efek perubahan warna pada
gigi orang dewasa juga sudah banyak didokumentasikan pada penggunaan
berkepanjangan dari Tetrasiklin atau derivatnya yaitu Minocycline 1.
Perubahan warna karena Tetrasiklin digolongkan sebagai perubahan warna
intrinsic pada dentin. Perubahan warna yang terjadi bervariasi,mulai dari

warna kuning muda sampai abu abu tua7. Tingkat keparahan perubahan warna
dari Tetrasiklin tergantung pada jumlah dosis Tetrasiklin yang diberikan 6.
Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan angka kejadian dari perubhan
warna gigi yang disebabkan oleh Tetrasiklim, pengobatan untuk itu yang bisa
diberikan,serta persepsi dari pasien terhadap hasil pengobatan yang akan
datang.
Metode Penelitian
Semua rekam medis dari pasien diambil dari rumah sakit dan klinik
perawatan gigi yang menangani perubahan warna gigi akibat Tetrasiklin
dalam kurun waktu antara Januari 1998 sampai Desember 2002. Informasi
yang diambil dari rekam medis tersebut mencakup parameter demografis dari
pasien pasien tersebut seperti riwayat keluarga dengan perubhahan warna gigi
(akibat Tetrasiklin), perawatan yang sudah diterima dan yang akan diterima.
Kriteria yang dipakai untuk mengelompokan tingkat keparahan perubahan
warna akibat Tetrasiklin menggunakan kriteria dari Jorda et al yang
mengelompokan tingkat keparahan berdasarkan berat,sedang, dan ringan.
Perubahan warna ringan ditandai dari perubahan warna gigi menjadi kuning
muda atau abu abu muda dari seluruh dentin tanpa pewarnaan mahkota gigi.
Perubahan warna yang lebih gelap tanpa disertai perubahan warna mahkota
gigi termasuk dalam kategori sedang. Lalu perubahan warna pada mahkota
gigi termasuk kategori berat6,7.
Hasil Penelitian

Selama periode 5 tahun penelitian ini, total pasien baru yang tercakup
dalam kriteria penelitian sebanyak 3750 pasien dengan 81 orang (2,2%)
menderita perubahawan warna karena Tetrasiklin. Rekam medis menunjukan
bahwa semua pasien megalami perubahan warna gigi sejak kecil,tapi tidak
tersedia data apakah yang meminum Tetrasiklin itu sang pasien langsung saaat
kecil ataukah ibu dari pasien saat mengandung. Sebanyak 32 orang pasien
(39.5%) diteliti termasuk dalam kelompok dengan perubahan warna gigi
berat, sedangkan 25 orang dengan perubahan warna gigi sedang dan 24 orang
dengan perubahan warna gigi ringan.
Simpulan
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyebab perubahan
warna gigi yang utama adalah pemberian antibiotic Tetrasiklin pada saat anak
anak dan saat ibu hamil. Studi ini juga menunjukan adanya riwayat perubahan
warna pada keluarga, dimana tren tersebut mungkin berhubungan dengan
kebiasaan pada keluarga untuk mengobati sendiri penyakit infeksi pada anak
anak di populasi tersebut. Kesimpulan dari studi ini adalah adanya perubahan
warna pada gigi tidak terkait pada genetic melainkan akibat dari penggunaan
antibiotic yang tidak tepat karena kurangnya edukasi.
2. Judul: Pengaruh Tetrasiklin Terhadap Perubahan Warna Gigi Anak
Penulis : Aprilisa
Isi Jurnal :
Pendahuluan

Pemberian obat obat tertentusering memberikan dapak bagi gigi,baik


gigi sulung maupun gigi permanen. Salah satu dari jenis obat obatanyang
telah terbukti memberikan dampak buruk bagi gigi yaitu Tetrasiklin1.
Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang sering digunakan
untuk pengobatan infeksi terutama pada anak-anak, ibu hamil dan crang
dewasa1. Penggunaan tetrasiklin sebagai antibiotik mengakibatkan perubahan
warna intrinsic pada gigi yang sifatnya menetap dan dapat mengenai enamel
serta dentin. Perubahan warna yang ditimbulkan oleh tetrasiklin merupakan
akibat dari pengendapan senyawa orthocalcium phosnhat complex dalam gigi
dengan variasi warna mulai dari hilling hingga kccoklatan, tergantung jenis
tetrasiklin yang digunakan, dosis dan lamanya pemakaiar obat. Kondisi ini
dapat terjadi pada gigi sulung, gigi permanen, gigi anterior maupun posterior.
Jika perubahan warna ini mengenai gigi anterior, maka akan menimbulkan
permasalahan estetis. Oleh karena itu, maka diperlukan perawatan yang tepat
untuk mengembalikan warna gigi menjadi normal kembali.
Hasil Penelitian
Tetrasikiln yang diberikan saat ibu hamil dapat melewati blood
plasental barrier dan akan mempengaruhi warna gigi sulung dari janin di
dalamnya3. Demikian juga halnya dengan bayi yang diberikan pengobatan
dengan menggunakan Tetrasiklin,gigi sulung serta gigi permanennya akan
mengalami perubahan warna dengan tingkat perubahan warna yang bervariasi
(severe, moderate, mild)3. Perawatan untuk mengembalikan warna gigi yang
dipakai dalam studi ini menggunakan dua tehnik yaitu bleaching dan veneer.

Kesimpulan
Tehnik pengembalian warna gigi untuk mengatasi perubahan warna
gigi akibat tetrasiklin dengan cara bleaching kurang memberikan hasil yang
maksimal dibandingkan dengan prosedur pengembalian warna gigi yang
menggunakan teknik veneer.

3. Judul : Pemberian Tetrasiklin Gel 0,7 % Setelah Skeling Dan Penghalusan


Akar Gigi Dapat Mengurangi Kedalaman Pocket Periodontal Dan Daerah
Beradang Jaringan Periodontal Penderita Periodontitis Kronis.
Peneliti : I Putu Yudhi Astaguna Wibawa
Isi Jurnal :
Pendahuluan
Di Indonesia tetrasiklin gel tidak populer, mungkin karena mahal dan
tidak mudah diperoleh, sehingga ada ide untuk membuat campuran tetrasiklin
gel 0,7 % dengan relatif lebih murah. Tindakan skeling dan penghalusan akar
gigi kadang-kadang tidak dapat mencapai hasil yang maksimal karena
kompleksitas anatomi gigi yang menyulitkan akses instrumen ke dalam pocket
periodontal, sehingga membatasi efektivitas penghalusan akar gigi. Tetrasiklin
gel 0,7 % sebagai tambahan untuk skeling dan penghalusan akar gigi
menunjukkan efek klinik yang lebih baik dari skeling dan penghalusan akar
gigi saja. Penggunaan sediaan tetrasiklin gel sebagai terapi penunjang skeling
dan penghalusan akar gigi memberikan efek klinik yang lebih baik daripada
Skeling dan penghalusan akar gigi saja (Maduratna, 2000; Nilawati, 2003 ).
Tindakan skeling dan penghalusan akar gigi kadang-kadang tidak dapat

mencapai hasil yang maksimal karena kompleksitas anatomi gigi yang


menyulitkan akses instrumen ke dalam pocket periodontal, sehingga
membatasi efektivitas penghalusan akar gigi ( Thomas dan Jorgen, 1996 ).
Secara biokompatibilitas penggunaan tetrasiklin telah diteliti dalam bentuk
tetrasiklin gel dengan konsentrasi 0,7 % yang dapat diterima jaringan dan
dapat menghilangkan lapisan smir, membuka tubuli dentin dan membuka
matriks kolagen ( Maduratna, 2000 ).
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian uji klinik (clinical trial)
yaitu penelitian dengan rancangan eksperimental randomized double blind pre
test - post test control group design , Untuk mengetahui efek pemberian
sediaan tetrasiklin gel 0,7 % apakah dapat mengurangi kedalaman pocket
periodontal dan daerah beradang jaringan periodontal pada penderita
periodontitis khronik.. Dua puluh enam pasien periodontitis khronik yang
memiliki minimal tiga gigi kedalaman pocket 4 mm, dan 4 mm
kehilangan

perlekatan,

serta

perdarahan

saat

probing

dipilih

dan

dikelompokkan ke dalam kelompok tetrasiklin gel 0,7 %, dan kelompok


kontrol . Setelah skeling dan penghalusan akar gigi pada semua sample , tiga
gigi secara acak dipilih dan diberikan tetrasiklin gel 0,7 % yang diterapkan
pada hari 1 dan hari ke 7. BOP, PPD, dan perlekatan gingiva di catat pada
awal dan satu bulan setelah pemberian tetrasiklin gel 0,7 % . Dengan uji
statistik perbandingan berdasarkan perlakuan bahwa rerata kedalaman pocket

kelompok kontrol adalah 3,770,44, rerata kelompok tetrasiklin gel 0,7%


adalah

2,460,52.

Analisis

kemaknaan

dengan

uji

Mann-Whitney

menunjukkan bahwa nilai U = 9,00 nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa
rerata peningkatan kedalaman pocket pada kedua kelompok berbeda secara
bermakna (p < 0,05). Rerata daerah beradang kelompok kontrol adalah
59,698,37, rerata kelompok tetrasiklin gel 0,7% adalah 20,159,95. Analisis
kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 10,97 nilai
p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata daerah beradang pada kedua kelompok
berbeda secara bermakna (p < 0,05).
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tetrasiklin
gel 0,7 % setelah skeling dan penghalusan akar gigi dapat mengurangi
kedalaman pocket periodontal dan daerah beradang jaringan periodontal
penderita periodontitis kronis. Untuk penelitian lanjutan dapat disarankan
bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efek
kombinasi tetrasiklin obat dan antibiotika lain dengan tetrasiklin tunggal
apakah dapat mempercepat penyembuhan penyakit periodontitis khronik dan
juga mengenai kombinasi sediaan tetrasiklin agar obat dapat bertahan lama
dalam saku gusi sehingga memberikan efek maksimal.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan
Tetracycline merupakan spektrum luas Poliketida antibiotik yang dihasilkan

oleh Streptomyces genus dari Actinobacteria , di indikasikan untuk melawan infeksi


bakteri. Tetracycline adalah salah satu antibiotik yang dapat menghambat sintesis
protein pada perkembangan organisme. Antibiotik ini diketahui dapat menghambat
kalsifikasi dalam pembentukan tulang.
Kira-kira 30-80% Tetracycline diserap lewat saluran cerna. Dalam cairan
serebrospinal (CSS) kadarnya hanya 10-20% dari kadar dalam serum. Penetrasi ke
cairan tubuh lain dalam jaringan tubuh cukup baik, Tetracycline akan ditimbun dalam
sistem retikuloendotelial di hati, limpa dan sumsum tulang, serta di dentin dan email
gigi yang belum bererupsi. Tetracycline tidak dimetabolisme secara berarti di hati.
Golongan Tetracycline akan diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi glomerulus.
Pada pemberian per oral kira-kira 20-55% golongan Tetracycline diekskresi melalui
urin.
Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan Tetracycline
yaitu reaksi kepekaan pada kulit seperti urtikaria dan dermatitis eksoliatif. Reaksi
toksik dan iritatif dapat juga terjadi, seperti iritasi pada lambung akibat pemberian
tetrasiklin per oral. Manifestasi reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya tromboflebitis

pada pemberian IV dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM
tanpa anestetik lokal. Reaksi yang timbul akibat perubahan biologik seperti terjadi
superinfeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, bahkan kadangkadang menyebabkan infeksi sistemik.
Pemberian Tetracycline untuk penyembuhan dan perawatan gigi cukup
efektif. Dimana fungsi Tetracycline sebagai anti kolagenase telah mampu
menghalangi MMP-8dan dapat menurunkan progresi radang periodontal dan
menghambat hilangnya tulang alveolar, Tetracycline dapat mengikat ion kalsium dan
ion Zn yang terletak di sisi aktif dari enzim kolagenase. Hambatan pada enzim
kolagenase ini menghasilkan efek antiproteolitik yang dapat menghambat resorbsi
tulang. Penggunaan sediaan Tetracycline gel sebagai terapi penunjang skeling dan
penghalusan akar gigi juga memberikan efek klinik yang lebih baik daripada Skeling
dan penghalusan akar gigi saja.