Anda di halaman 1dari 58

Perbedaan Kurikulum 2013 Dengan KTSP - Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada

tanggal 15 Juli 2013. Sedangkan implementasinya telah diterapkan pada tahun pelajaran
2013/2014 di sekolah-sekolah tertentu atau masih terbatas. Dulu dan sekarang, kita sudah
mengenal dengan yang namanya KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mulai
diberlakukan sejak tahun ajaran 2007/2008. Kalau kita cermati bersama, perbedaan paling
mendasar antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus
merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan
pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran
tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
- See more at: http://info-data-guru.blogspot.com/2014/01/perbedaan-kurikulum-2013-denganktsp.html#sthash.EeApSrSz.dpuf
Namun dibalik perbedaan yang ada, sebenarnya juga terdapat kesamaan esensi antara Kurikulum
2013 dengan KTSP. Misalnya tentang pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada
hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan
menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan
Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi
masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan
di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila
guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
No
Kurikulum 2013 : SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui
Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk
Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun
2013
KTSP : Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah
itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006

2013 : Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi
aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
KTSP :lebih menekankan pada aspek pengetahuan

2013 : di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI


KTSP :di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III

2013 : Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit
dibanding KTSP
KTSP :Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding
Kurikulum 2013

2013 : Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang
SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses
dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan,
dan Mencipta.
KTSP : Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi

2013 : TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan
sebagai media pembelajaran
KTSP : TIK sebagai mata pelajaran

2013 :Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi
sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
KTSP : Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan

2013 : Pramuka menjadi ekstrakuler wajib


KTSP : Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib

2013 : Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA


KTSP : Penjurusan mulai kelas XI

2013 : BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa


KTSP : BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa

-------------------------------------------------------------------------------------

Perbedaan Esensial KTSP dan Kurikulum 2013~Perbedaan pokok antara KTSP atau kurikulum
tingkat satuan pendidikan (Kurikulum 2006) yang selama ini diterapkan dengan Kurikulum 2013
yang akan dijalankan secara terbatas mulau Juli 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan
pembelajaran. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan
pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi
kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus
dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Meskipun silabus sudah di kembangkan oleh pemerintah pusat , namun guru tetap dituntut untuk
dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk
kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, kajian silabus tampak menjadi
penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok sehingga diharapkan para guru dapat
memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami seluruh isi
silabus yang telah disiapkan tersebut.
Adapun penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) masih merupakan kewenangan
guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk
silabus) yang telah disiapkan pemerintah.
Perbedaan esensial dari KTSP dan kurikulum 2013 itu sendiri adalah sebagai berikut :
No
KTSP : Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu
2013 : Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (Sikap, Keteampilan, Pengetahuan)

kTSP : Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri
2013 :Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi
dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas

KTSP : Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain


2013 : Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap dan keterampilan berbahasa)

kTSP : Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda

2013 : Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang sama (saintifik) melalui
mengamati, menanya, mencoba, menalar

KTSP : Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah


2013 : ermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lainKonten
ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya

KTSP : Tematik untuk kelas I-III (belum integratif)


2013 : Tematik integratif untuk kelas I-III

KTSP : TIK mata pelajaran sendiri


2013 :TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata
pelajaran lain

KTSP : Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan


2013 : Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge

KTSP : Untuk SMA ada penjurusan sejak kelas XI


2013 : Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata pelajaran wajib, peminatan, antar minat, dan
pendalaman minat

KTSP : SMA dan SMK tanpa kesamaan kompetensi


2013 : SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait dasar-dasar
pengetahuan, keterampilan dan sikap.

KTSP : Penjurusan di SMK sangat detil

2013 : Penjurusan di SMK tidak terlalu detil sampai bidang studi, didalamnya terdapat
pengelompokkan peminatan dan pendalaman
-----------------------------------------------------------------

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Penelitian


Pendidikan adalah suatu usaha untuk melakukan proses pembelajaran bagi peserta didik untuk
mencapai tujuan pendidikan yang diterapkan di suatu negara.

Pendidikan tidak terlepas dari kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Kurikulum merupakan suatu metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
suatu negara. Kurikulum yang dipakai saat ini, mengacu pada Undang-Undang No.20 Tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional. Kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), akan tetapi dinilai dari berbagai sudut kurikulum
yang digunakan saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu pemerintah
merancang kurikulum baru yaitu Struktur Kurikulum 2013. Oleh karena itu kita selaku calon
pendidik perlu mengetahui perbedaan dan persamaan antara 2 kurikulum tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian pendidikan ?

2. Apakah yang dimaksud dengan kurikulum dan bagaimana struktur kurikulum tersebut?

3. Bagaimana peran kurikulum dalam pendidikan ?

4. Apa persamaan dan perbedaan antara kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 ?

5. Apakah kelebihan dan kekurangan Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian pendidikan.

2. Mengetahui lingkup dan struktur kurikulum .

3. Mengetahui dengan pasti peran kurikulum dalam pendidikan.

4. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara kurikulum KTSP dan kurikulum 2013.

5. Memahami dengan baik tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing kurikulum.

D. Metode Penelitian
Metode literatur : metode pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku dan situs-situs
internet yang mendukung dan menunjang dalam pembuatan dan penyusunan laporan, sekaligus
dijadikan sebagai landasan dalam penulisan laporan.

BAB II

KURIKULUM KTSP DAN KURIKULUM 2013

A. Pengertian Pendidikan dan Kurikulum

2.1 Pengertian Pendidikan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan , yang berasal dari
kata didik, Lalu kata ini mendapat awalan kata me sehingga menjadi mendidik artinya
memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya
ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989, Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta
didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang
akan datang.
Menurut UU No. 20 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan Negara.
Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak,
adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak
itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Menurut Langeveld, Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang
diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak
agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri
Menurut J.J. Rousseau,Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang ada pada masa kanakkanak sampai remaja yang nantinya akan dibutuhkan pada saat kita dewasa nanti.
Dari beberapa Pengertian Pendidikan diatas dapat disimpulkan mengenai pengertian Pendidikan,
yaitu salah satu proses yang dilakukan oleh pemerintah secara sadar dan terencana untuk
memajukan negaranya melalui ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan negaranya.

2.2 Pengertian Kurikulum

Menurut Crow and Crow Kurikulum adalah Rancangan Pengajaran atau sejumlah mata pelajaran
yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.

Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan
untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial,
kurikulum pendidikan fisika (Carter V. Good dalam Oliva, 191:6)
Menurut wikipedia, Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang
diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang
akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
B. KTSP dan Kurikulum 2013

2.2.1 KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

KTSP yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum
operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah.
Departemen Pendidikan Nasional mengharapkan paling lambat tahun 2009/2010, semua sekolah
telah melaksanakan KTSP. Penyusunan KTSP yang dipercayakan pada masing tingkat satuan
pendidikan ini hampir senada dengan prinsip implementasi KBK (Kurikulum 2004) yang disebut
Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (KBS). Prinsip ini diimplementasikan untuk
memberdayakan daerah dan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengelola serta
menilai pembelajaran sesuai dengan kondisi dan aspirasi mereka. Prinsip Pengelolaan KBS ini
mengacu pada kesatuan dalam kebijaksanaan dan keberagaman dalam pelaksanaan. Yang
dimaksud dengan kesatuan dalam kebijaksanaan ditandai dengan sekolah-sekolah
menggunakan perangkat dokumen KBK yang sama dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional. Sedangkan Keberagaman dalam pelaksanaan ditandai dengan keberagaman silabus
yang akan dikembangkan oleh sekolah masing-masing sesuai dengan karakteristik sekolahnya.
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional
pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan di
Indonesia.KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun
ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta
Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar
sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat
satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada
Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Struktur KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

No.

Komponen

Alokasi Waktu KTSP SD

Kelas
Mata Pelajaran

A.

Mata Pelajaran

1.

Pendidikan

2.

Pendidikan Kewarganegaraan

3.

B.Indonesia

4.

Matematika

5.

Ilmu Pengetahuan Alam

6.

Ilmu Pengetahuan Sosial

7.

Seni Budaya dan Keterampilan

8.

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesenian

T
E

K
A

T
B.

Mutlok

a. Budaya Daerah

b. Bahasa Inggris

2*)

2*)

c. (disesuaikan)

C.

Pengembangan Diri
Jumlah 26

27

2*)
28

*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

36

36

36

Keterangan :

1. 1 (Satu) jam pelajaran alokasi waktu 35 menit

2. Kelas 1, 2 dan 3 pendekatan Tematik, alokasi waktu per mata pelajaran di atur sendiri oleh
SD/MI

3. Kelas 4,5, dan 6 pendekatan mata pelajaran

4. Sekolah dapat memasukan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal dan global, yang
merupakan bagian dari mata pelajaran yang diunggulkan.

5. Mengenal pembelajaran tematis sekolah dapat menentukan alokasi waktu per-mata pelajaran
sedangkan dalam PMB menggunakan pendekatan tematis.

Kelebihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

1. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat


dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah
adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di
lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.

2. Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin
meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.

3. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan
mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan
pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah

kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa inggris, sebagai keterampilan
hidup.

4. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban
belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.

5. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk
mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.

6. Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.

7. Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk


mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan
kondisi daerahnya masing-masing.

8. Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau


kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.

9. Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan


belajar, maupun konteks social budaya.

10. Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang
berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi
bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

11. Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat


pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan
yang dituangkan dalam kurikulum.

12. Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untyuk menyususn dan mengembangkan silabus
mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan
peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

13. Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan
kemudahan belajar siswa.

14. Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman yang
akan membentuk kompetensi individual.

15. Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat,
dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.

16. Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.

17. Berpusat pada siswa.

18. Menggunakan berbagai sumber belajar.

19. kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan

Sedangkan kelemahan dari kurikulum KTSP :

1. Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan
pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.

2. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari


pelaksanaan KTSP .

3. Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya,
penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan

4. Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak


berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai
syarat sertifikasi guru untukmendapatkan tunjangan profesi.

2.2.2 Struktur Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 ini merupakan Kurikulum yang sedang dalam tahap perencanaan oleh
Pemerintah, karena ini merupakan perubahan dari struktur kurikulum KTSP. Perubahan ini
dilakukan karena banyaknya masalah dan salah satu upaya untuk memperbaiki kurikulum yang
kurang tepat.

Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan dalam empat tahap, yakni :

1. Pertama, penyusunan kurikulum di lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan


sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan.

2. Kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite
Pendidikan yang telah dilaksanakan pada 13 November 2012 serta di depan Komisi X DPR RI
pada 22 November 2012.

3. Ketiga, pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat.
Salah satu cara yang ditempuh selain melalui saluran daring (on-line) pada laman
http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id , juga melalui media massa cetak.

4. Keempat, dilakukan penyempurnaan untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013.

Struktur Kurikulum 2013

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-4

Kelebihan dari Kurikulum 2013:

Selain kreatif dan inovatif, pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi
satu. Misalnya, pendidikan budi pekerti dan karakter harus diintegrasikan ke semua program
studi, kata Prof Anna Suhaenah Suparno dari Kementerian Pendidikan

Ia mengatakan asumsi dari kurikulum itu adalah tidak ada perbedaan antara anak desa atau kota.
Anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi mereka.

Menurut dia, potensi siswa perlu dirangsang dari awal, misalnya melalui jenjang pendidikan
anak usia dini.

Namun, kata dia, kunci terpenting adalah kesiapan pada guru. Guru, lanjut dia, juga harus terus
dipacu kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk
meningkatkan kecakapan profesionalisme secara terus menerus.

Ia mencontohkan di Singapura, dalam setahun guru berhak mendapatkan pelatihan selama 100
jam. Sementara di Indonesia, tagihan hanya mendapat sertifikat

kelemahan kurikulum 2013:

Saat ini, KTSP saja baru menuju uji coba dan ada beberapa sekolah yang belum
melaksanakannya. Bagaimana bisa, kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari
pelaksanaan kurikulum sebelumnya, katanya di Yogyakarta, Senin lalu.

Kelemahan lainnya, lanjut Wuryadi, pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki
kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam
proses pengembangan kurikulum 2013.

Wuryadi juga menilai tak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil
dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih
diberlakukan.

UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan
proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak
diujikan dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar untuk
mewujudkan tujuan pendidikan, tambahnya.

Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan
dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata
pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.

http://edukasi.kompas.com

C. Perbedaan Struktur Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013

Perbedaan Struktur KTSP dan Kurikulum 2013:

1. Struktur Kurikulum 2013 pelajarannya lebih sedikit dari pada kurikulum KTSP yaitu yang
semula berjumlah 11 mata pelajaran menjadi 7 atau 6 pelajaran. Ke tujuh mata pelajaran
tersebut yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Bahasa
Indonesia, Matematika, Pengetahuan Umum, Kesenian, dan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Kesehatan (PJOK).

2. Kelas I-VI menggunakan metode belajar tematik.

3. Penambahan waktu mata pelajaran.

4. Pemisahan mata pelajaran IPA dan IPS.

Persamaan Struktur KTSP dan Kurikulum 2013:

1. Dibuat dan dirancang oleh Pemerintah tepatnya oleh Depdiknas.

2. Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP

Berbagai macam perubahan Kurikulum, hendaknya kita sebagai calon guru tetap melaksanakan
tugas kita sebagai pendidik yang dapat mencerdaskan anak bangsa. Kurikulum mana pun yang
akan kita gunakan akan berdampak positif jika kita menanggapinya dengan positif juga. Ayo
kita cerdaskan anak bangsa,!!

------------------------------------------------------------------------------

1. ANALISIS PERBEDAAN KURIKULUM KTSP DAN KURIKULUM 2013 ANALISIS


KURIKULUM: PERBEDAAN TUJUAN, SK_KD, DAN EVALUASI DALAM KURIKULUM
KTSP DAN KURIKULUM 2013 Oleh: Suhartono, S.Pd.
2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang
berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak

serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Peningkatan kualitas
sumber daya manusia melalui sistem pendidikan antara lain dilakukan melalui proses pendidikan
yang terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien, sehingga diharapkan setiap individu diberi
kesempatan untuk mengembangkan semua potensi pribadinya. Sekolah merupakan salah satu
sistem pendidikan yang merfungsi untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Dari pendidikan ang diterima anak bangsa di bangku sekolah, akan mampu mengubah
pola pikir dan daya kreativitas untuk menciptakan negara dengan taraf kesejahteraan yang baik
dan perekonomian yang meningkat. Sekolah ada merupakan bagian dari rancangan yang dibuat
oleh pemeritah di bidang pendidikan dengan landasan operasionalnya adalah kurikulum. Dari
kurikulum inilah tujuan dari pendidikan bangsa diharapkan dapat tersusun dengan sistematis
untuk mencapai tujuan bangsa dan negara Indonesia. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan tentang tujuan, isi dan bahan pelajaran yang dikembangkan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan
tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan
potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik serta kebutuhan lapangan kerja. Subandiyah
(2001:4-6) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum yaitu, komponen tujuan, komponen
isi/materi, komponen media (sarana dan prasarana), komponen strategi, dan komponen proses
belajar mengajar. Kurikulum yang digunakan saat ini di Indonesia adalah kurikulum KTSP.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan
yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara
yuridis diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah tersebut memberikan
arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga
kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
standar penilaian pendidikan. Namun, isu terhangat saat ini adanya penyempurnaan kurikulum
KTSP menjadi kurikulum 2013 yang mendapatkan pro dan kontra dari berbagai pihak baik dari
kalangan pendidikan maupun dari masyarakat umum. Kurikulum 2013 justru dianggap dapat
memasung kreativitas dan otonomi di bidang pendidikan karena kurikulum dan persiapan proses
pembelajaran akan disediakan dalam bentuk produk jadi (completely-built up product). Di sisi
lain, sebagian orang beranggapan justru dengan adanya kurikulum 2013 dapat memicu
pengembangan kompetensi siswa kearah yang lebih analisis dan tuntutan guru agar lebih kreatif
dan inovatif dalam pembelajaran karena guru dianggap mampu semua hal yang dapat membantu
siswa berkembang. Hal ini sangat menarik untuk menjadi bahan analisis dan diskusi bagi kita,
apakah kurikulum KTSP lebih baik dari kurikulum 2013, atau justru adanya pengembangan
kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 ini akan melahirkan output yang sesuai dengan
tuntutan masyarakat saat ini dan yang akan datang. B. Tujuan Analisis Tujuan dari analisis

kurikulum ini adalah untuk mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: 1. Melihat bagaimana
bentuk tujuan, SK-KD, dan evaluasi kurikulum KTSP. 2. Melihat bagaimana bentuk tujuan, SKKD, dan evaluasi kurikulum 2013. 3. Mengetahui perbedaan tujuan, SK-KD, evaluasi antara
kurikulum KTSP dan kurikulum 2013. C. 1. Manfaat Analisis Bagi penulis adalah memberikan
pengetahuan tentang pengembangan kurikulum yang ada saat ini di indonesia, khususnya
kurikulum yang sedang digunakan saat ini yaitu kurikulum KTSP dan isu terbaru tentang
3. penyempurnaan kurikulum lama menjadi kurikulum 2013 yang sedang dalam proses
percobaan di beberapa sekolah yang sudah dalam tahap pelaksanaan. 2. Bagi pembaca dan
pemerintah, memberikan sumbangan pada pengembangan ilmu dan wawasan dalam
pengembangan kurikulum yang ada di indonesia dan mencari solusi bersama untuk terus
mengembangkan kurikulum ke arah yang lebih baik dari saat ini untuk memenuhi tuntutan
zaman yang akan datang guna mencerdaskan bangsa. BAB II PEMBAHASAN A. 1. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab
1 Pasal 1 Ayat (15) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah Kurikulum
operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP
merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang
disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah (Muslich,
2007:17). Kurikulum tersebut telah diberlakukan secara berangsung-angsur mulai tahun
pelajaran 2006/2007, pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Berdasarkan definisi
tersebut, maka pihak sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan kurikulum. Implementasi KTSP menuntut kemampuan sekolah dengan
cara memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dalam pengembangan kurikulum,
karena masing-masing sekolah lebih mengetahui tentang kondisi satuan pendidikannya.
Kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa serta rencana
pembelajaran yang dibuat oleh guru dan sejumlah pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh
siswa. Dalam penyelenggaraan pendidikan perlu adanya komponen-komponen pendidikan agar
tercapainya tujuan pendidikan, diantaranya adalah tenaga pendidik, peserta didik, lingkungan,
alat-alat pendidikan, kurikulum dan fasilitas yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004
(KBK). KTSP diwujudkan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar dan telah
disahkan penggunaannya di sekolah, baik negeri maupun swasta, yang diberlakukan secara
bertahap pada tahun pelajaran 2006/2007, pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pemerintah pusat (Depdiknas) mengharapkan paling lambat tahun pelajaran 2009/2010, semua
sekolah telah menerapkan KTSP (Mulyasa, 2007:1-2). 2. Landasan KTSP KTSP disusun dalam
rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PeraturanPemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Muslich, 2008:1). Dalam
penyusunannya, KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah mengacu kepada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan

Pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006
tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, dan berpedoman pada
panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Landasan penyusunan
KTSP sekurang-kurangnya menunjukkan (1) adanya undang-undang yang jelas sebagai acuan
dalam penyusunan KTSP; (2) adanya PP dan Permendiknas yang dijadikan acuan dalam
penyusunan KTSP; (3) khusus untuk madrasah, adanya Surat Keputusan/Edaran Dirjen
Pendidikan Islam atau Direktur Pendidikan Madrasah yang dijadikan acuan dalam penyusunan
KTSP; dan (4) adanya rencana pengembangan sekolah/madrasah yang dijadikan acuan dalam
penyusunan KTSP (Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo, 2008:46). Berikut ini akan
dikemukakan landasan penyusunan KTSP adalah: 1. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketentuan di dalam UU No. 20
Tahun 2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4);
4. Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1),
(2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2). 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Ketentuan di dalam PP No. 19 Tahun 2005 yang mengatur KTSP, adalah
Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3),
(4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 (1), (2), (3), (4);
Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal
17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); dan Pasal 20. 3. Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Dengan adanya landasan
penyusunan KTSP berupa undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri
pendidikan nasional menjadi landasan yang sangat kuat dalam mengelola penyelenggaraan
otonomi pendidikan di sekolah. Kebijakan otonomi pendidikan ini merupakan suatu keniscayaan
dan harus diimplementasikan pada tataran praktis, tidak hanya sebuah wacana semata-mata.
Kebijakan desentralisasi pendidikan akan berhasil dengan baik apabila didukung oleh
stakeholders dan anggota masyarakat yang sangat peduli dengan urgensi pendidikan bagi masa
depan bangsa Indonesia. 3. Karakteristik KTSP Pada KTSP, kewenangan tingkat satuan
pendidikan atau sekolah untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum lebih diperbesar.
Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) memungkinkan berkurangnya materi pembelajaran yang banyak dan padat, tersusunnya
perangkat standar dan patokan kompetensi yang perlu dikuasai oleh peserta didik, berkurangnya
beban tugas guru yang selama ini sangat banyak dan beban belajar siswa yang selama ini sangat
berat, serta terbukanya kesempatan bagi sekolah untuk mengembangkan kemandirian sesuai
dengan kondisi yang ada di sekolah. Sebagai sebuah konsep dan program, KTSP memiliki
karakteristik sebagai berikut: (1) KTSP menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik
secara individual maupun klasikal. Dalam KTSP peserta didik dibentuk untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat yang pada akhirnya akan

membentuk pribadi yang terampil dan mandiri; (2) KTSP berorientasi pada hasil belajar
(learning outcomes) dan keberagaman; (3) penyampaian dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan dan metode yang bervariasi; (4) sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber
belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif; (5) penilaian menekankan pada proses dan hasil
belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi (Kunandar, 2007:138).
Dalam KTSP hanya dideskripsikan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru sendiri yang
harus menentukan indikator dan materi pokok pelajaran, disesuaikan dengan situasi daerah dan
minat peserta didik. Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan KTSP di sekolah (kepala
sekolah dan guru) diberikan otonomi yang lebih besar dalam pengembangan kurikulum dengan
tetap memperhatikan karakteristik KTSP, karena masing-masing sekolah dipandang lebih tahu
tentang kondisi satuan pendidikannya. Keberhasilan atau kegagalan implementasi kurikulum di
sekolah sangat bergantung pada kepala sekolah dan guru, karena dua figur tersebut merupakan
kunci yang menentukan dan menggerakkan berbagai komponen di lingkungan sekolah. Setiap
sekolah dapat mengelola dan mengembangkan berbagai potensinya secara optimal dalam
kaitannya dengan implementasi KTSP. 4. Komponen dan Struktur Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan a. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak
mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan
pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia,
serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan
pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
sesuai dengan kejuruannya. b. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI
meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut. Kelompok mata pelajaran agama dan
akhlak mulia
5. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian Kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi Kelompok mata pelajaran estetika Kelompok mata pelajaran
jasmani, olahraga dan kesehatan Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui
muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 Pasal 7.
Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan
beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan
kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. 1. Mata pelajaran Mata pelajaran
beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur
kurikulum yang tercantum dalam SI. 2. Muatan Lokal Muatan lokal merupakan kegiatan
kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi
daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata
pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri.
Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran

keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus
mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal
yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan
lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat
menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. 3. Kegiatan Pengembangan Diri
Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat,
setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi
dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam
bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui
kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial,
belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan keparamukaan, kepemimpinan,
dan kelompok ilmiah remaja. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri
terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Pengembangan diri
untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan
kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bukan
merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif,
tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. 4. Pengaturan Beban Belajar Beban belajar dalam
sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB baik
kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar. Beban
belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh SMP/MTs/SMPLB kategori
mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar. Beban belajar dalam sistem
kredit semester (SKS) digunakan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri. Jam
pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera
dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat
pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan
jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat
jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping
dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam
struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Alokasi waktu untuk penugasan
terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% 40%, SMP/MTs/SMPLB 0% - 50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% - 60% dari waktu
kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut
mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Alokasi
waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka.
Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.
6. Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak
terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS
mengikuti aturan sebagai berikut. i. Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka,

20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. ii. Satu SKS pada
SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur. 5. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar setiap indikator yang
telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan
untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan
minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik, kompleksitas
kompetensi, serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran.
Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus
untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal. Pelaporan hasil belajar (raport) peserta didik
diserahkan pada satuan pendidikan dengan memperhatikan rambu-rambu yang disusun oleh di
rektorat teknis terkait. 6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap
akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait.
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan
pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: menyelesaikan seluruh program
pembelajaran; memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata
pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan
kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga,
dan kesehatan; lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan
dan teknologi; dan lulus Ujian Nasional. Ketentuan mengenai penilaian akhir dan ujian
sekolah/madrasah diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP. 7.
Penjurusan Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. Kriteria penjurusan diatur
oleh direktorat teknis terkait. Penjurusan pada SMK/MAK didasarkan pada spektrum pendidikan
kejuruan yang diatur oleh direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 8. Pendidikan
Kecakapan Hidup Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB,
SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan
pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan
kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran
dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus. Pendidikan kecakapan hidup
dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan
pendidikan formal lain dan/atau nonformal. 9. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan
Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan
keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa,
teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi
pengembangan kompetensi peserta didik. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan
dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Pendidikan berbasis
keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat
menjadi mata pelajaran muatan lokal. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh
peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau satuan pendidikan nonformal. c.
Kalender Pendidikan Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender
pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan
masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam

Standar Isi. Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada
setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan
7. dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar
yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan.
Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur
kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Prinsip-Prinsip Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum merupakan salah satu indikator yang
menentukan berhasil tidaknya suatu pendidikan dan harus dikelola secara baik dan profesional.
Pengembangan KTSP berdasarkan prinsip bahwa sebaiknya dilakukan secara terus-menerus
untuk merespon dan mengantisipasi perkembangan dan tuntutan zaman. Prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum adalah (1) prinsip relevansi, yaitu kesesuaian antara program
pendidikan dengan tuntunan kehidupan masyarakat. Pendidikan dikatakan relevan bila hasil yang
diperoleh akan berguna bagi kehidupan seseorang; (2) prinsip efektivitas, yaitu sejauh mana
perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan yang telah ditentukan; (3) prinsip
efisiensi, yaitu dengan modal atau biaya, tenaga, dan waktu yang sekecil-sekecilnya akan dicapai
hasil yang memuaskan; (4) prinsip kesinambungan, yaitu saling terkait antara tingkat pendidikan,
jenis program pendidikan, dan bidang studi; (5) prinsip fleksibilitas, yaitu tidak kaku dan adanya
ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam bertindak; (6) prinsip berorientasi tujuan, yaitu
sebelum bahan ditentukan, langkah yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik adalah
menentukan tujuan terlebih dahulu sehingga dapat menentukan secara tepat metode mengajar,
alat pengajaran, dan evaluasi; (7) prinsip dan model pengembangan kurikulum, yaitu
pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dan terus menerus dengan implikasi bahwa
kurikulum senantiasa mengalami revisi dan bersifat dinamis (Idi, 2007:179-183). Prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum tersebut merupakan dasar pokok untuk mengkaji pembelajaran dan
pengembangan kurikulum lebih lanjut. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran
saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti;
bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah,
dan lain-lain yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Khusus
untuk kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP telah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi
dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan
berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta
memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan
khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan propinsi dan berpedoman pada SI dan
SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Pengembangan KTSP,
antara lain menggunakan pendekatan KBK yang memiliki ciri-ciri: Menitikberatkan pencapaian
target (attainment targets) kompetensi daripada penguasaan materi; Lebih mengakomodasikan

keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia; Memberikan kebebasan yang
lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan
program pendidikan sesuai dengan kebutuhan (Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo, 2008:56).
Menurut Rusman (2009:474-475), prinsip-prinsip pengembangan KTSP adalah: Berpusat pada
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Beragam
dan terpadu Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Relevan
dengan kebutuhan kehidupan Menyeluruh dan berkesinambungan Belajar sepanjang hayat
Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Berdasarkan prinsip-prinsip
pengembangan KTSP di atas pada praktek pengajaran di dalam kelas sangat tergantung pada
situasi dan kondisi peserta didik di sekolah sehingga setiap guru memiliki kebebasan untuk
menentukan materi pelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar), indikator, metode,
media, dan ketercapaiannya. Selain itu, prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa kalau
terjadi perubahan kurikulum hendaknya terjadi perubahan secara menyeluruh termasuk materi,
metode, guru, sarana, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan proses pembelajaran sehingga
dampak positif dari perubahan kurikulum akan dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.
8. 5. Keunggulan dan Kelemahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Untuk melihat
keunggulan atau kelebihan KTSP dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya perlu dicari bahan
pembanding. Karena sesuatu dianggap lebih baik kalau dapat dibandingkan dengan sesuatu yang
lain untuk menunjukkan keunggulannya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui kelebihan dan
kelemahan KTSP terlebih dahulu, kemudian baru kita mengetahui perbedaan antara KTSP dan
kurikulum-kurikulum sebelumnya. Misalnya antara KTSP dan KBK 2004 atau KTSP dan
kurikulum 1994. Setiap kurikulum memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing tergantung
kepada situasi dan kondisi, dimana kurikulum tersebut diberlakukan. Menurut Fasli Jalal (dalam
Imam Hanafie, 2008:1-5), kelebihan yang dimiliki KTSP adalah: Mendorong terwujudnya
otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Mendorong para guru, kepala sekolah, dan
pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan
program pendidikan. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan
dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. KTSP
akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20 %.
KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan
kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan. Sementara beberapa kelemahan dalam KTSP maupun
penerapannya, antara lain: Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan mampu
menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Kurangnya ketersediaan
sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan. Masih banyak guru yang belum
memahami KTSP secara komprehensif baik konsep penyusunan maupun prakteknya di lapangan.
Penerapan KTSP merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurang
pendapatan para guru. Beberapa kelebihan KTSP tersebut merupakan faktor pendukung bagi
sekolah untuk meningkatan mutu pembelajarannya. Sedangkan faktor kelemahannya merupakan
faktor penghambat yang harus diantisipasi dan diatasi oleh pihak sekolah dan juga menjadi
perhatian bagi pemerintah agar pemberlakuan KTSP tidak hanya akan menambah daftar

persoalan yang dihadapi dalam dunia pendidikan kita. Dengan demikian, ide dasar KTSP adalah
mengembangkan pendidikan demokratis dan non monopolistik dengan cara memberikan
otonomi yang lebih besar kepada sekolah dalam pengembangan kurikulum, karena
masingmasing sekolah dipandang lebih tahu tentang kondisi satuan pendidikannya. 6. LangkahLangkah Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Implementasi KTSP bermuara
pada pelaksanaan pembelajaran, yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum (standar
kompetensi dan kompetensi dasar) dapat diterima oleh peserta didik secara tepat dan optimal.
Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yaitu pembukaan,
pembentukan kompetensi, dan penutup. Kegiatan pembukaan adalah kegiatan awal yang harus
dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran. Membuka pembelajaran merupakan
suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara
optimal agar memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar. Kegiatan inti dalam proses
pembelajaran merupakan tahapan kegiatan pembelajaran yang paling utama untuk pembentukan
kompetensi peserta didik selama berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas. Pembentukan
kompetensi peserta didik merupakan kegiatan inti pembelajaran, antara lain mencakup
penyampaian informasi tentang materi pokok dan membahas materi pokok untuk membentuk
kompetensi peserta didik. Pembentukan kompetensi peserta didik perlu dilakukan dengan tenang
dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam
menciptakan lingkungan yang kondusif. Kegiatan penutup adalah kegiatan mengakhiri materi
pembelajaran. Kegiatan menutup pembelajaran perlu dilakukan secara profesional agar
mendapatkan hasil yang memuaskan dan menimbulkan kesan yang menyenangkan (Mulyasa,
2008:180-187). Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam dimensi
kegiatan adalah sebagai manifestasi dari upaya untuk mewujudkan kurikulum yang masih
bersifat tertulis menjadi aktual dalam bentuk serangkaian kegiatan pembelajaran di sekolah.
Implementasi KTSPmemberikan pemahaman tentang situasi dan kondisi sekolah, sasaran
implementasi yang efektif dan efisien, serta harapan sekolah terhadap kurikulum yang
diimplementasikan.
9. Ada dua hal pokok yang perlu disiapkan oleh pihak sekolah, yaitu kesiapan materil (sumber
daya alamiah sekolah) dan non materil (sumber daya manusia sekolah). Bentuk kesiapan materil
sekolah dapat dilihat dari dimensi perangkat kurikulum, sarana dan prasarana sekolah, keuangan,
dan lingkungan sekolah yang mencakup lingkungan fisik (gedung) dan lingkungan sosial.
Sedangkan bentuk kesiapan non materil sekolah dapat dilihat dari dimensi kepemimpinan kepala
sekolah, guru, siswa, dan orang tua (Susilo, 2008:180-191). Hal senada dikemukakan oleh
Rusman (2009:202-205), banyak komponen yang berpengaruh terhadap kegagalan atau
keberhasilan pendidikan, antara lain (1) kepala sekolah; (2) guru; (3) kurikulum; (4) sarana
pendidikan; (5) sistem penerapan pendidikan; dan (6) suasana sosial dan lingkungan sekolah.
Sejalan dengan uraian di atas, Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo (2008:37-38)
mengemukakan tingkat kesiapan sekolah dalam pengembangan KTSP. Untuk menjawab
persoalan ini perlu melihat kondisi nyata sekolah dalam membangun kemampuannya (capacity
building), yang secara sederhana dapat dipetakan ke dalam beberapa tahap berikut ini: Tahap

Pra-formal, yakni sekolah yang belum memenuhi standar teknis, atau belum dapat memiliki
sumber- sumber pendidikan (guru, sarana dan prasarana pendidikan, dan sebagainya) yang
memadai untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan secara minimal. Tahap Formalitas,
yakni sekolah yang sudah memiliki sumber-sumber pendidikan yang memadai secara minimal
atau mencapai standar teknis minimal, seperti jumlah dan kualifikasi guru, jumlah dan kualitas
ruang kelas, jumlah dan kualitas buku pelajaran, dan jumlah dan kualitas fasilitas pendidikan
lainnya. Tahap Transisional, yakni sekolah yang sudah mampu memberikan pelayanan minimal
pendidikan bermutu, seperti kemampuan mendayagunakan sumber-sumber pendidikan secara
optimal, meningkatnya kreativitas guru, pendayagunaan perpustakaan secara optimal,
kemampuan menambah anggaran dan dukungan fasilitas pendidikan dari sumber masyarakat,
dan lain-lain. Tahap Otonomi, yakni sekolah yang berada pada tahap penyelesaian capacity
building menuju profesionalisasi dan pelayanan pendidikan yang bermutu. Strategi membangun
kemampuan (capacity building) yang bisa dilakukan agar layak atau semakin layak untuk
mengembangkan KTSP, antara lain: Terhadap sekolah tahap pra-formal, strategi capacity
building dilakukan melalui upaya melengkapi sumber- sumber pendidikan dengan sarana dan
prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan secara minimal, tetapi memadai untuk dapat
mencapai tahap perkembangan berikutnya. Terhadap sekolah yang sudah mencapai tahap
formalitas, strategi capacity building dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan
kemampuan tenaga kependidikan, seperti kepala sekolah agar mampu mendayagunakan sumbersumber pendidikan secara optimal dengan tanpa banyak pemborosan. Bagi tenaga pengajar
dikembangkan kemampuan untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran secara kreatif dan
inovatif, serta dapat melakukan penelitian terhadap pendekatan pembelajaran yang paling efektif.
Terhadap sekolah yang sudah mencapai tahap transisional, perlu dikembangkan sistem
manajemen berbasis sekolah yang didukung oleh partisipasi masyarakat dalam pendidikan serta
mekanisme akuntabilitas pendidikan melalui fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Terhadap sekolah yang sudah mencapai tahap otonomi perlu ditingkatkan pengembangannya
secara optimal dan menyeluruh yang mencakup seluruh komponen pendidikan yang ada
didalamnya, sehingga dapat dikembangkan ke arah sekolah nasional yang berstandar
internasional. Demikian uraian langkah-langkah implementasi KTSP yang telah dijelaskan di
atas, yang akan mempengaruhi perkembagan lembaga pendidikan di masa sekarang dan masa
yang akan datang. Semua komponen yang berada dalam sistem pendidikan adalah penentu bagi
keberhasilan atau kegagalan suatu proses belajar mengajar berdasarkan KTSP di sekolah. KTSP
merupakan sikap peduli pemerintah (dalam hal ini pemerintah pusat) dalam menjawab tuntutan
zaman. Ditinjau dari perubahan kurikulum terakhir, yaitu kurikulum 2006 (KTSP), kiranya
memang sudah waktunya pemerintah melakukan penyempurnaan kurikulum dan ide
memperbaiki kurikulum merupakan lebih baik daripada statis. Hambatan KTSP adalah masalah
implementasi, artinya perencanaan yang baik belum tentu akan menghasilkan produk yang baik.
Hal tersebut tergantung pada implementasi, di mana harus ada dukungan dari semua pihak
(stakeholders). 7. Pengembangan Silabus a. Pengertian Silabus Silabus adalah rencana
pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup

standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,


indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
10. b. Prinsip Pengembangan Silabus Ilmiah Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi
muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan
tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai
kompetensi. Konsisten Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi
dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem
penilaian. Memadai Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar,
sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
Aktual dan Kontekstual Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar,
dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam
kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Fleksibel Keseluruhan komponen silabus dapat
mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di
sekolah dan tuntutan masyarakat. Menyeluruh Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah
kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). c. Unit Waktu Silabus Silabus mata pelajaran
disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama
penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus memperhatikan
alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain
yang sekelompok. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus
sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi
waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus
berdasarkan satuan kompetensi. d. Pengembang Silabus Pengembangan silabus dapat dilakukan
oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa
sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru
(PKG), dan Dinas Pendikan. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan
mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya.
Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan
silabus secara mandiri, maka pihak sekolah/madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk
kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh
sekolah/madrasah tersebut. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI,
menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu
disusun secara bersama oleh guru yang terkait. Sekolah/Madrasah yang belum mampu
mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah
sekolah/madrasah-madrasah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama
mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam
lingkup MGMP/PKG setempat. Dinas Pendidikan/Departemen yang menangani urusan
pemerintahan di bidang agama setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan
membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

e. Langkah-langkah Pengembangan Silabus Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi


Dasar Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana
tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
11. 1) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak
harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI; 2) keterkaitan antara standar kompetensi dan
kompetensi dasar dalam mata pelajaran; 3) keterkaitan antara standar kompetensi dan
kompetensi dasar antar mata pelajaran. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar
dengan mempertimbangkan: 1) potensi peserta didik; 2) relevansi dengan karakteristik daerah, 3)
tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; 4)
kebermanfaatan bagi peserta didik; 5) struktur keilmuan; 6) aktualitas, kedalaman, dan keluasan
materi pembelajaran; 7) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8) alokasi waktu. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dirancang
untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi
antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam
rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui
penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.
Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. 1)
Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya
guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional. 2) Kegiatan
pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara
berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. 3) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus
sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran. 4) Rumusan pernyataan dalam kegiatan
pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan
pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi. Merumuskan Indikator Pencapaian
Kompetensi Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan
pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau
dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Penentuan
Jenis Penilaian Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan
indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis
maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek
dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Penilaian merupakan serangkaian
kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penilaian. 1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. 2) Penilaian
menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah

mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap
kelompoknya. 3) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk
menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui
kesulitan peserta didik. 4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak
lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang
pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta
didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. 5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan
pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran
menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan
12. baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil
melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Menentukan Alokasi
Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu
efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah
kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi
dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk
menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Menentukan
Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan
fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi
dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi. f. Contoh Model Silabus Dalam menyusun silabus dapat menggunakan
salah satu format yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Pada dasarnya ada dua jenis,
yaitu jenis kolom (format 1) dan jenis uraian (format 2). Dalam menyusun format urutan KD,
urutan penempatan materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator dan seterusnya
dapat ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sejauh tidak mengurangi komponenkomponen dalam silabus. Format 1 CONTOH SILABUS Nama Sekolah : SD ... Kediri, Jawa
Timur Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas/semester : IV/2 (dst, sama dengan format
secara umum) Standar Kompetensi : 2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan
kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi Kompetensi Dasar : 2.3
Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman
menggunakannya Alokasi Waktu : 12 x 35 Menit Format 2 CONTOH SILABUS Nama Sekolah :
SMP ... Padang, Sumatera Barat Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas/Semester :
VII/1 I. Standar Kompetensi: Menunjukkan sikap positif terhadap norma-norma yang berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. II. Kompetensi Dasar:
Mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang berlaku dalam
masyarakat III. Materi Pokok/Pembelajaran: Sikap positif terhadap norma-norma, kebiasaan,
adat istiadat, peraturan yang berlaku di masyarakat. IV. Kegiatan Pembelajaran: Mencari
informasi dari berbagai sumber tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Minang
Kabau Mencari informasi dari berbagai sumber tentang kebiasaan yang berlaku dalam

masyarakat Minang Kabau Mencari informasi dari berbagai sumber tentang adat-istiadat yang
berlaku dalam masyarakat Minang Kabau Mencari informasi dari berbagai sumber tentang
peraturan yang berlaku dalam masyarakat Minang Kabau Mendiskusikan perbedaan macammacam norma yang berlaku di masyarakat Minang Kabau Mencari informasi akibat dari tidak
mematuhi norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan yang berlaku dimasyarakat Minang
Kabau V. Membuat laporan Indikator: Menjelaskan pengertian norma-norma dan peraturan
yang berlaku dalam masyarakat Menjelaskan pengertian kebiasaan dan adat istiadat yang
berlaku dalam masyarakat
13. Memberi contoh norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang berlaku dalam
masyarakat Menunjukkan sikap mematuhi norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan yang
berlaku dalam masyarakat VI. Penilaian: Tes tertulis dalam bentuk uraian Perilaku siswa
dalam bentuk laporan VII. Alokasi Waktu: 4 x 40 menit VIII. Sumber Belajar: Buku Teks PKn
Kelas VII Perpustakaan Narasumber g. Pengembangan Silabus Berkelanjutan Dalam
implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan,
dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Silabus harus dikaji dan dikembangkan
secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses
(pelaksanaan pembelajaran),dan evaluasi rencana pembelajaran. 8. Evaluasi dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Evaluasi atau penilaian dalam KTSP dibedakan menjadi dua,
yaitu evaluasi yang dilakukan oleh pihak dalam (guru dan pengelola sekolah) yang selanjutnya
disebut evaluasi diri dan evaluasi oleh pihak luar (badan indpenden atau badan akreditasi
sekolah). Sasaran evaluasi secara garis besar mencakup masukan (termasuk program), proses,
dan hasil (Wahyono, 2013:1). Diberakukannya KTSP mengharapkan adanya perubahan dalam
kegiatan pembelajaran termasuk dalam penilaian. Mulyasa (2007:258) menjelaskan, penilaian
hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar,
penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program. Hal
tersebut dijelaskan sebagai berikut: a. Penilaian Kelas Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan
harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses
pembelajaran dalam kompetensi dasar tertentu. Ulangan harian terdiri dari seperangkat soal yang
harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang
sedang dibahas. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali setiap semester. Ulangan harian ini
terutama ditujukan untuk memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup
kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya sebagai bahan pertimbangan dalam
memberikan nilai bagi para peserta didik. Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester,
dengan bahan yang diujikan sebagai berikut: Ulangan umum semester pertama soalnya diambil
dari materi semester pertama. Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dan
semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua. Ujian akhir
dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh
kompetensi dasar yang telah diberikan, dengan penekanan pada kompetensi dasar yang dibahas
pada kelas-kelas tinggi. Hasil evaluasi ujian akhir ini terutama digunakan untuk menentukan
kelulusan bagi setiap peserta didik, dan layak tidaknya untuk melanjutkan pendidikan pada

tingkat diatasnya. Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil
belajar peserta didik, mendiaknosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan
prosespembelajaran, dan menentukan kenaikan kelas. b. Tes Kemampuan Dasar Tes kemampuan
dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang
diberlakukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes
kemampuan dasar dilakukan pada setiap tahun akhir kelas III. c. Penilaian Akhir Satuan
Pendidikan dan Sertifikasi Pada setiap semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan
penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar
peserta didik dalam satuan waktu tertentu. d. Benchmarking Benchmarking merupakan suatu
standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu
keunggulan yang memuaskan. Hasil penilaian tersebut dapat dipakai untuk melihat keberhasilan,
keberhasilan kurikulum dan pendidikan secara keseluruhan dan dapat digunakan untuk
memberikan peringkat
14. kelas, tetapi tidak untuk memberikan nilai akhir peserta didik. Hal ini dimaksudkan sebagai
salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja sekolah. e. Penilaian Program Penilaian
program dilakukan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan dan dinas pendidikan secara
kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian
KTSP dengan dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan
perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman. B. Kurikulum 2013 untuk SMA/MA
Kurikulum 2013 untuk SMA/MA dijelaskan secara terperinci oleh Kemendikbud (2012), dengan
urutan sebagai berikut: 1. Organisasi Kompetensi Mata pelajaran adalah unit organisasi terkecil
dari Kompetensi Dasar. Untuk kurikulum SMA/MA, organisasi Kompetensi Dasar dilakukan
dengan cara mempertimbangkan kesinambungan antarkelas dan keharmonisan antar mata
pelajaran yang diikat dengan Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar SMA/MA diorganisasikan atas
dasar pengelompokan mata pelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik dan mata
pelajaran yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik (peminatan). Substansi
muatan lokal termasuk bahasa daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Seni Budaya.
Substansi muatan lokal yang berkenaan dengan olahraga serta permainan daerah diintegrasikan
ke dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Sedangkan Prakarya dan
Kewirausahaan merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri. 2. Tujuan Satuan Pendidikan
Penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang dinyatakan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan
berkepribadian luhur; b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan
percaya diri; dan d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. 3. Struktur
Kurikulum dan Beban Belajar Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten
kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum,
distribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran
dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan

aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban
belajar dalam sistem pembelajaran. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang
digunakan adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem
pembelajaran berdasarkan jam pelajaran Struktur kurikulum per semester. juga gambaran
mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai posisi seorang siswa dalam menyelesaikan
pembelajaran di suatu satuan atau jenjang lanjut, struktur kurikulum menggambarkan posisi
menyelesaikan seluruh belajar mata seorang siswa yaitu pendidikan. apakah mereka pelajaran
yang tercantum Lebih harus dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan kepada
siswa untuk menentukan berbagai pilihan. Struktur kurikulum pendidikan menengah terdiri atas
sejumlah mata pelajaran, beban belajar, dan kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas:
Mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap
satuan atau jenjang pendidikan. Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai
dengan pilihan mereka. Mata pelajaran wajib merupakan mata pelajaran yang harus diambil oleh
setiap peserta didik di SMA/MA dan SMK/MAK. Sedangkan mata pelajaran pilihan untuk
SMA/MA berbeda dengan untuk SMK/MAK. Untuk SMA/MA mata pelajaran pilihan bersifat
SMK/MAK mata pelajaran pilihan bersifat akademik dan vokasi. akademik, sedangkan
15. a. Struktur Kurikulum SMA/MA Struktur Kurikulum SMA/MA terdiri atas: Kelompok mata
pelajaran wajib yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok A adalah mata pelajaran yang
memberikan orientasi kompetensi lebih kepada aspek kognitif dan afektif sedangkan kelompok
B adalah mata pelajaran yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor. Kelompok
Mata Pelajaran Peminatan terdiri atas 3 (tiga) kelompok yaitu Peminatan Matematika dan Sains,
Peminatan Sosial, dan Peminatan Bahasa. Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat yaitu mata
pelajaran yang dapat diambil oleh peserta didik di luar Kelompok Mata Pelajaran Peminatan
yang dipilihnya tetapi Peminatan lainnya. Misalnya bagi peserta masih didik Kelompok
Peminatan Bahasa dapat memilih mata pelajaran dari Kelompok dalam Kelompok yang
Peminatan memilih Sosial dan/atau pelajaran dalam Kelompok Peminatan Matematika dan
Sains. Mata Pelajaran Pendalaman dimaksudkan untuk mempelajari salah satu mata kelompok
Peminatan untuk persiapan ke perguruan tinggi. Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan Mata
Pelajaran Pendalaman bersifat opsional, dapat dipilih keduanya atau salah satu. b. Kelompok
Mata Pelajaran Wajib Kelompok Mata Pelajaran Wajib merupakan bagian dari kurikulum
pendidikan menengah yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang bangsa, bahasa,
sikap sebagai bangsa, dan kemampuan penting untuk mengembangkan logika dan kehidupan
pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa, pengenalan lingkungan fisik dan alam, kebugaran
jasmani, serta seni budaya daerah dan nasional. Struktur kelompok mata pelajaran wajib dalam
kurikulum SMA/MA adalah sebagai berikut: Struktur Kurikulum SMA untuk Mata Pelajaran
Wajib menurut Kurikulum 2013 c. Kelompok Mata Pelajaran Peminatan
16. Kelompok mata pelajaran peminatan bertujuan (1) untuk memberikan kesempatan kepada
peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan minat
keilmuannya di perguruan tinggi, dan (2) untuk mengembangkan minatnya terhadap suatu

disiplin ilmu atau keterampilan tertentu. Struktur mata pelajaran peminatan dalam kurikulum
SMA/MA adalah sebagai berikut: Kurikulum SMA/MA dirancang untuk memberikan
kesempatan kepada peserta didik belajar berdasarkan minat mereka. Struktur kurikulum
memperkenankan peserta didik melakukan pilihan dalam bentuk pilihan Kelompok Peminatan,
pilihan Lintas Minat, dan/atau pilihan Pendalaman Minat. Kelompok Peminatan terdiri atas
Peminatan Matematika dan Sains, Peminatan Sosial, dan Peminatan Bahasa. Sejak kelas X
peserta didik sudah harus memilih kelompok peminatan yang akan dimasuki. Pemilihan
peminatan berdasarkan nilai rapor di SMP/MTs dan/atau nilai UN SMP/MTs dan/atau
rekomendasi guru BK di SMP/MTs dan/atau hasil tes penempatan (placement test) ketika
mendaftar di SMA/MA dan/atau tes bakat minat oleh psikolog dan/atau rekomendasi guru BK di
SMA/MA. Pada akhir minggu ketiga semester pertama peserta didik masih mungkin mengubah
pilihan peminatannya berdasarkan rekomendasi para guru dan ketersediaan tempat duduk. Untuk
sekolah yang mampu menyediakan layanan khusus maka setelah akhir semester pertama peserta
didik masih mungkin mengubah pilihan peminatannya. Semua mata pelajaran yang terdapat
dalam suatu Kelompok Peminatan yang dipilih peserta didik harus diikuti. Setiap Kelompok
Peminatan terdiri atas 4 (empat) mata pelajaran dan masing-masing mata pelajaran berdurasi 3
jam pelajaran untuk kelas X, dan 4 jam pelajaran untuk kelas XI dan XII. Setiap peserta didik
memiliki beban belajar per semester selama 42 jam pelajaran kelas X dan 44 jam pelajaran untuk
kelas XI dan XII. Beban belajar ini terdiri atas Pelajaran Wajib A dan B dengan durasi 24 jam
pelajaran Kelompok dan untuk Mata Kelompok
17. Mata Pelajaran Peminatan dengan durasi 12 jam pelajaran untuk kelas X dan 16 jam
pelajaran untuk kelas XI dan XII. Untuk Mata Pelajaran Pilihan Lintas Minat dan/atau
Pendalaman Minat kelas X, jumlah jam pelajaran pilihan per minggu berdurasi 6 jam pelajaran
yang dapat diambil dengan pilihan sebagai berikut: Dua mata pelajaran di luar Kelompok
Peminatan yang dipilihnya tetapi masih dalam Kelompok Peminatan lainnya, dan/atau Mata
pelajaran Pendalaman Kelompok Peminatan yang dipilihnya. Sedangkan pada kelas XI dan XII,
peserta didik mengambil Pilihan Lintas Minat dan/atau Pendalaman Minat dengan jumlah jam
pelajaran pilihan per minggu berdurasi 4 jam pelajaran yang dapat diambil dengan pilihan
sebagai berikut: Satu mata pelajaran di luar Kelompok Peminatan yang dipilihnya tetapi masih
dalam Kelompok Peminatan lainnya, dan/atau Mata pelajaran Pendalaman Kelompok
Peminatan yang dipilihnya. d. Beban Belajar Dalam struktur kurikulum SMA/MA ada
penambahan jam belajar per minggu sebesar 4-6 jam sehingga untuk kelas X bertambah dari 38
jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam menjadi 44 jam
belajar. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar adalah 45 menit. Dengan adanya
tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan
waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif belajar. Proses
pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran
penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk melakukan mengamati,
menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses menunggu respon pembelajaran yang
dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam peserta didik karena mereka belum terbiasa.

Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil
belajar. 4. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau
operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah
menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu,
gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan,
dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk
suatu jenjang sekolah, kelas mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas
yang seimbang antara dan pencapaian hard skills dan soft skills. Kompetensi Inti berfungsi
sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur
pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi
horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Dasar adalah keterkaitan antara konten
Kompetensi Kompetensi Dasar jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga satu
kelas atau memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara
konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara konten Kompetensi
Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda
dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling
memperkuat. Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu
berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2),
pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4). Keempat
kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap
peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap dansosial
dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada keagamaan waktu peserta
didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan
(kompetensi Inti kelompok 4). Kompetensi Inti SMA/MA adalah sebagai berikut: KELAS X
Menghayati dan KELAS XI Menghayati dan KELAS XII Menghayati dan
18. mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,
tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Memahami dan
menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Mencoba,
mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan
dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan. mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Mengembangkan perilaku (jujur,
disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta
damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta

dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif),
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta
memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa
dan dunia. Memahami, menerapkan, danmenjelaskanpengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitifdalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkaitpenyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Memahami,
menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untukmemecahkan masalah. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret
dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah
keilmuan. Mencoba, mengolah, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri serta bertindak
secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang
diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri
atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus
dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik
peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Mata pelajaran sebagai
sumber dari konten untuk menguasai kompetensi bersifat terbuka dan tidak selalu
diorganisasikan berdasarkan disiplin ilmu yang sangat berorientasi hanya pada filosofi
esensialisme dan perenialisme. Mata pelajaran dapat dijadikan organisasi konten yang
dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu atau non diperbolehkan menurut filosofi rekonstruksi
sosial, progresif disiplin ilmu atau humanisme. Karena filosofi yang dianut dalam kurikulum
adalah eklektik seperti dikemukakan landasan isi filosofi maka nama mata pelajaran dan mata
yang pun di bagian pelajaran
19. untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu terikat pada kaedah filosofi
esensialisme dan perenialisme. Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran
untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar SMA/MA tercantum
pada Lampiran 1A s.d. Lampiran 5F yang untuk mencakup: setiap mata mata pelajaran pelajaran
Wajib Kelompok A, Wajib Kelompok B, Kelompok Peminatan Matematika dan Sains,
Kelompok Peminatan Sosial, dan Kelompok Peminatan Bahasa. Contoh bentuk KI dan KD
untuk SMA/MA Mata Pelajaran Ekonomi/Akuntansi: Kelas X Kompetensi Inti 1. Menghayati
dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,

tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami dan
menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Kompetensi
Dasar 1.1. Mensyukuri sumber daya karunia Tuhan YME dalam rangka pemenuhan kebutuhan
1.2. Mengamalkan ajaran agama dalam pengelolaan keuangan bank dan lembaga keuangan
lainnya 2.1. Bersikap peduli, disiplin, tanggung jawab dalam mengatasi kelangkaan sumber daya
2.2. Bersikap peduli, kreatif, kerja sama, dan mandiri dalam mengatasi permasalahan ekonomi di
lingkungan sekitar 3.1. Memahami konsep dasar ilmu ekonomi 3.2. Menganalisis kelangkaan
(hubungan antara sumber daya dengan kebutuhan manusia) dan strategi untuk mengatasi
kelangkaan sumber daya 3.3. Menganalisis masalah pokok ekonomi (apa, bagaimana, dan untuk
siapa) serta alternatif pemecahannya melalui berbagai sistem ekonomi 3.4. Memahami perilaku
konsumen dan produsen serta peranannya dalam kegiatan ekonomi 3.5. Memahami pasar dan
bentuk-bentuk pasar (monopoli, oligopoli, persaingan sempurna, persaingan monopolistik, dll)
dan peranannya terhadap perskonomian 3.6. Menganalisis masalah dan kebijakan ekonomi
(mikro dan makro) 3.7. Memahami konsep, metode, dan manfaat perhitungan pendapatan
nasional 3.8. Memahami lembaga keuangan Bank dan lembaga keuangan lain (konsep, fungsi,
peran, dan produk). 3.9. Memahami konsep pasar modal dan perannya dalam perekonomian 4.
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam 4.1. Menyajikan konsep permintaan, penawaran, dan
ranah konkret dan ranah abstrak terkait harga keseimbangan dalam bentuk skedul/tabel, fungsi,
dengan pengembangan dari yang dan kurva dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan 4.2.
Menyajikan fungsi konsumsi, tabungan, investasi, mampu menggunakan metoda sesuai kaidah
dan pendapatan keseimbangan dalam bentuk grafik (dalam keilmuan. perekonomian tertutup
sederhana/ekonomi dua sektor) 4.3. Menghitung indeks harga dan inflasi (konsep, faktor
penyebab dan dampak inflasi terhadap perekonomian Indonesia) 4.4. Menyajikan konsep
permintaan dan penawaran uang dalam bentuk fungsi dan grafik Kelas XI Kompetensi Inti
Kompetensi Dasar
20. 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.3. Mensyukuri sumber daya
karunia Tuhan YME dalam rangka pemenuhan kebutuhan 1.4. Mengamalkan ajaran agama
dalam pengelolaan keuangan bank dan lembaga keuangan lainnya 2. Mengembangkan perilaku
2.1. Bersikap kreatif, kerjasama, mandiri dan (jujur, disiplin, tanggung jawab, tanggung jawab
dalam upaya mengatasi peduli, santun, ramah lingkungan, permasalahan ketenagakerjaan di
Indonesia gotong royong, kerjasama, cinta 2.2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, dan damai,
responsif dan proaktif) dan tanggung jawab dalam kegiatan penyusunan menunjukkan sikap
sebagai bagian keuangan perusahaan dari solusi atas berbagai 2.3. Menunjukkan perilaku kreatif,
percaya permasalahan bangsa dalam diri, disiplin, tanggung jawab, jujur, kerjasama berinteraksi

secara efektif dengan dan mandiri dalam menerapkan lingkungan sosial dan alam serta kegiatan
rencana usaha/bussines plan secara dalam menempatkan diri sebagai sederhana cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan, dan 3.1. Menganalisis konsep dasar
menjelaskan pengetahuan faktual, pembangunan ekonomi, permasalahan konseptual, prosedural,
dan pembangunan ekonomi, faktor yang metakognitif dalam ilmu mempengaruhi, dan strategi
untuk pengetahuan, teknologi, seni, mengatasinya budaya, dan humaniora dengan 3.2.
Memahami pengertian, fungsi, dan wawasan kemanusiaan, tujuan, APBN maupun APBD
kebangsaan, kenegaraan, dan 3.3. Menganalisis permasalahan peradaban terkait penyebab
ketenagakerjaan, faktor penyebab dan upaya fenomena dan kejadian, serta untuk mengatasi
masalah ketenagakerjaan di menerapkan pengetahuan Indonesia prosedural pada bidang kajian
yang 3.4. Memahami kebijakan spesifik sesuai dengan bakat dan pemerintah dalam bidang fiskal
dan moneter minatnya untuk memecahkan 3.5. Memahami konsep manajemen, unsurmasalah.
unsur manajemen, dan fungsi manajemen dalam pengelolaan perusahaan 3.6. Memahami konsep
kewirausahaan , cara mengelola usaha/bisnis secara sederhana dan peran wirausaha dalam
perekonomian 3.7. Memahami akuntansi sebagai sistem informasi 3.8. Memahami konsep
persamaan akuntasi 3.9. Memahami konsep perusahaan jasa 4. Mengolah, menalar, dan 4.1.
Menerapkan prinsip penyusunan dan menyaji dalam ranah konkret dan penutupan siklus
akuntansi perusahaan jasa ranah abstrak terkait dengan 4.2. Membuat perencanaan
usaha/bussines pengembangan dari yang plan sederhana dan menerapkannya secara dipelajarinya
di sekolah secara efektif dan kreatif mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Kelas XII Kompetensi Inti 1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin,
tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai,
responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam
membangun peradaban bangsa dan dunia. Kompetensi Dasar 1.1. Mensyukuri sumber daya
karunia Tuhan YME dalam rangka pemenuhan kebutuhan 1.2. Mengamalkan ajaran agama
dalam pengelolaan keuangan bank dan lembaga keuangan lainnya 2.1. Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin, mandiri, dan tanggung jawab dalam melakukan perhitungan dan pencatatan
akuntansi 2.2. Menghargai ajaran agama dalam melakukan kerjasama dan perdagangan
internasional 2.3. Mengembangkan kerjasama dalam perdagangan internasional yang responsif
dan proaktif dan bertanggung jawab 2.4. Menunjukkan perilaku kreatif, percaya diri, disiplin,
tanggung jawab, jujur, kerjasama dan mandiri dalam melakukan praktik mengelola koperasi
sekolah
21. 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan
mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang

dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 5. 3.1. Memahami konsep, manfaat, keuntungan,
dan faktor pendorong perdagangan internasional 3.2. Menganalisis kerjasama internasional
dibidang ekonomi dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia 3.3. Menganalisis peran
pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia (BUMN, BUMS, Koperasi). 3.4.
Memahami konsep perusahaan dagang 4.1. Menerapkan penyusunan siklus akuntansi perusahaan
dagang 4.2. Menerapkan penutupan siklus akuntansi perusahaan dagang 4.3. Menyajikan
penyusunan dan penutupan siklus akuntansi perusahaan dagang 4.4. Menerapkan teori
pengelolaan koperasi sekolah Langkah-langkah Penyusunan RPP Kurikulum 2013 Langkahlangkah Penyusunan RPP Kurikulum 2013, merupakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
adalah rencana kerja yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam
silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang
terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Setelah memperhatikan rambu-rambu penyusunan RPP kurikulum 2013 danprinsip-prinsip
penyusunan RPP kurikulum 2013, selanjutnya seorang guru harus memperhatikan langkahlangkah penyusunan Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibagi dalam 3 (tiga)
langkah besar, Kegiatan pendahuluan, Kegiatan inti dan Kegiatan penutup dengan rincian
sebagai berikut: A. Kegiatan Pendahuluan Motivasi: guru memberikan gambaran manfaat
mempelajari materi yang akan diajarkan. Pemberian acuan: 1) Berkaitan dengan kajian ilmu
yang akan dipelajari. 2) Ajuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran
secara garis besar. 3) Pembagian kelompok belajar. 4) Penjelasan mekanisme pelaksanaan
pengalaman belajar sesua dengan rencana langkah-langkah pembelajaran B. Kegiatan Inti
Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi inti dan kompetensi dasar. Dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik. Menggunakan
metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran dengan proses
eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi dilaksanakan melalui aktifitas mengamati, menanya,
mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. C. Kegiatan Penutup Kegiatan guru mengarahkan
peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan. Pemberian tes atau tugas dan memberikan
arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan diluar kelas, dirumah atau tugas
sebagai bagian remidi/pengayaan. Contoh format RPP dapat dilihat seperti gambar di bawah ini:
C. Analisis Perbedaan Tujuan dan SK_KD dalam Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013
Perbedaan Esensial KTSP dan Kurikulum 2013, perbedaan pokok antara KTSP atau kurikulum
tingkat satuan pendidikan (Kurikulum 2006) yang selama ini diterapkan dengan Kurikulum 2013
yang akan dijalankan secara terbatas mulau Juli 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan
pembelajaran. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan
pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan
22. pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata
pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.
Meskipun silabus sudah di kembangkan oleh pemerintah pusat, namun guru tetap dituntut untuk

dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk
kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, kajian silabus tampak menjadi
penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok sehingga diharapkan para guru dapat
memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami seluruh isi
silabus yang telah disiapkan tersebut. Adapun penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) masih merupakan kewenangan guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha
mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.
Perbedaan esensial dari KTSP dan kurikulum 2013 itu sendiri adalah sebagai berikut: No KTSP
Kurikulum 2013 1 Mata pelajaran tertentuTiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi
mendukung kompetensi tertentu Keteampilan, Pengetahuan) (Sikap, 2 Mata pelajaran dirancang
berdiriMata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki sendiri dan memiliki
kompetensikompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas dasar sendiri 3 Bahasa
Indonesia sejajarBahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap dan keterampilan dengan
mapel lain berbahasa) Tiap mata pelajaran diajarkanSemua mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang sama dengan pendekatan berbeda (saintifik) melalui mengamati, menanya,
mencoba, menalar. 4 5 6 7 8 9 Tiap jenis konten pembelajaranBermacam jenis konten
pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu diajarkan terpisah sama lainKonten ilmu
pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya Tematik untuk
kelas I-III (belum Tematik integratif untuk kelas I-III integratif) TIK mata pelajaran sendiri TIK
merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge
pengetahuan Untuk SMA ada penjurusan Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata pelajaran wajib,
peminatan, antar sejak kelas XI minat, dan pendalaman minat 10 SMA dan SMK tanpa kesamaan
SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait dasarkompetensi dasar
pengetahuan, keterampilan dan sikap. 11 Penjurusan di SMK sangat detil Penjurusan di SMK
tidak terlalu detil sampai bidang studi, didalamnya terdapat pengelompokkan peminatan dan
pendalaman Struktur Kurikulum meliputi sejumlah mata pelajaran yang ditempuh dalam satu
jenjang pendidikan. Dalam Kurikulum sekarang (KTSP), materi muatan lokal dan kegiatan
pengembangan diri merupakan bagian dari muatan kurikulum. Misal, untuk kurikulum SMP dan
MTs, terdiri dari 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri yang harus diberikan
kepada peserta didik. Pada Kurikulum 2013 nanti, ada perubahan mendasar dibanding kurikulum
sekarang, yaitu antara lain: 1. Untuk SD, meminimumkan jumlah mata pelajaran dengan hasil
dari 10 dapat dikurangi menjadi 6 melalui pengintegrasian beberapa mata pelajaran: IPA
menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia , Matematika, dll. IPS menjadi materi
pembahasan pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dll. Muatan lokal menjadi materi pembahasan
Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Mata pelajaran
Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran. 2. Untuk SD, menambah 4 jam
pelajaran per minggu akibat perubahan proses pembelajaran dan penilaian. 3. Untuk SMP,
meminimumkan jumlah mata pelajaran dengan hasil dari 12 dapat dikurangai menjadi 10 melalui
pengintegrasian beberapa mata pelajaran: TIK menjadi sarana pembelajaran pada semua mata
pelajaran, tidak berdiri sendiri. Muatan lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan

Prakarya. Mata pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran. 4. Untuk
SMP, menambah 6 jam pelajaran per minggu sebagai akibat dari perubahan pendekatan proses
pembelajaran dan proses penilaian. 5. Untuk lebih jelas melihat perbedaan struktur kurikulum,
dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
23. 6. Struktur Kurikulum SD 7. Struktur Kurikulum SMP
24. 8. Struktur Kurikulum SMA/MA
25. BAB III PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan BAB II pembahasan di atas, maka penulis
dapat simpulkan perbedaan tujuan, SK_KD, maupun evaluasi secara umum dalam KTSP,
kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam
Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah,
kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan
yang bersangkutan. Rinciannya adalah sebagai berikut: No KTSP Kurikulum 2013 1 Mata
pelajaran tertentu mendukung Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (Sikap,
kompetensi tertentu Keteampilan, Pengetahuan) 2 Mata pelajaran dirancang berdiriMata
pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan sendiri dan memiliki kompetensi
dasarmemiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap sendiri kelas 3 Bahasa
Indonesia sejajar dengan Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap dan mapel lain
keterampilan berbahasa) 4 Tiap mata pelajaran diajarkan denganSemua mata pelajaran diajarkan
dengan pendekatan yang sama pendekatan berbeda (saintifik) melalui mengamati, menanya,
mencoba, menalar. 5 Tiap jenis konten pembelajaranBermacam jenis konten pembelajaran
diajarkan terkait dan diajarkan terpisah terpadu satu sama lainKonten ilmu pengetahuan
diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya 6 Tematik untuk kelas I-III
(belum Tematik integratif untuk kelas I-III integratif) 7 TIK mata pelajaran sendiri TIK
merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain 8
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of pengetahuan
knowledge 9 Untuk SMA ada penjurusan sejak Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata pelajaran
wajib, peminatan, kelas XI antar minat, dan pendalaman minat 10 SMA dan SMK tanpa
kesamaan SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait kompetensi dasardasar pengetahuan, keterampilan dan sikap. 11 Penjurusan di SMK sangat detil Penjurusan di
SMK tidak terlalu detil sampai bidang studi, didalamnya terdapat pengelompokkan peminatan
dan pendalaman B. Saran Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis menyarankan baik pada
pihak pemerintah yang membuat kurikulum, maupun pihak-pihak yang akan secara operasional
menjalankan, begitu pula masyarakat luas umumnya, dapat mendukung penyempurnaan
kurikulum KTSP menjadi 2013 dengan sepenuhnya. Ha ini agar apa yang dicitacitakan atau apa
yang menjadi tujuan bangsa indonesia dan pendidikan nasional dalam menghadapai tantangan
kemajuan dapat dicapai.
--------------------------------------------------------------------------------------

ANALISIS KURIKULUM 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu usaha untuk melakukan proses pembelajaran bagi peserta didik
untuk mencapai tujuan pendidikan yang diterapkan di suatu negara.
Pendidikan tidak terlepas dari kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Kurikulum merupakan suatu metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
suatu negara. Kurikulum yang dipakai saat ini, mengacu pada Undang-Undang No.20 Tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional.
Kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan), akan tetapi dinilai dari berbagai sudut kurikulum yang digunakan saat ini masih
memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu pemerintah merancang kurikulum baru yaitu
Struktur Kurikulum 2013. Oleh karena itu kita selaku calon pendidik perlu mengetahui
perbedaan dan persamaan antara 2 kurikulum tersebut.

B.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan maslaah dari karya tulis ini yaitu:


1)

Bagaimana Peran Kurikulum dalam Pendidikan ?

2) Apa persamaan dan perbedaan antara kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 ?
3) Apakah kelebihan dan kekurangan Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 ?

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari karya tulis ini yaitu:
1)

Mengetahui dengan pasti peran kurikulum dalam pendidikan.

2)

Mengetahui persamaan dan perbedaan antara kurikulum KTSP dan kurikulum 2013.

3)

Memahami dengan baik tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing kurikulum.

BAB II
PEMBAHSAN
KURIKULUM KTSP DAN KURIKULUM 2013

A.

Peran Kurikulum dalam Pendidikan

Kurikulum dalam pendidikan formal di sekolah/madrasah memiliki peranan yang sangat


strategis dan menentukan pencapaian tujuan pendidikan. Apabila dirinci secara lebih mendetail
terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting, yaitu peranan konservatif, peranan kreatif, dan
peranan kritis/evaluative (Oemar Hamalik, 1990)
1.

Peranan Konservatif

Peranan konservatif menekankan bahwa kurikulum dapat dijadikan sebagai sarana untuk
mentransmisikan nilai nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa
kini kepada generas muda, dalam hal ini para siswa. Peranan konservatif ini pada hakikatnya
menempatkan kurikulum yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat
mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses
social. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai
dengan nilai-nilai social yang hidup di lingkungan masyarakatnya.
2.

Peranan Kreatif

Perkembangan ilmu pengetahuan dan aspek aspek lainnya senantiasa terjadi setiap saat. Peranan
kreatif menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesatu yang baru sesuai
dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang
dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa
mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuanpengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berfikir baru yang dibutuhkan dalam
kehidupannya.
3.

Peranan kritis dan evaluative

Peranan ini di latarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup
dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya
masa lalu kepada siswa perlu diseusaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang.
Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang belum tentu
sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, peranan kurikulum tidak hanya mewariskan
nilai dan budaya, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya
serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif
berpartisipasi dalam control atau filter social. Nilai-nilai social yang tidak sesuai lagi dengan
keadaan dan tuntutan masa kin dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaanpenyempurnaan.

Ketiga peranan kurikulum di atas tentu saja harus berjalan secara seimbang dan harmonis agar
dapat memenuhi tuntutan keadaan. Jika tidak, akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang
menyebabkan peranan kurikulum persekolahan menjadi tidak optimal. Menyelaraskan ketiga
peranan kurikulum tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses
pendidikan, diantaranya : guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, siswa, dan masyarakat.
Dengan demikian, pihak-pihak yang terkait tersebut idealnya dapat memahami betul apa yang
menjadi tujuan dan isi dari kurikulum yang diterapkan sesuai dengan bidang tugas masingmasing.

B.

Persamaan dan Perbedaan Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013

Kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

KTSP yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK) adalah Kurikulum
operasional disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah.
Departemen Pendidikan Nasional mengharapkan paling lambat tahun 2009/2010, semua sekolah
telah melaksanakan KTSP. Penyusunan KTSP yang dipercayakan pada masing-masing tingkat
satuan Pendidikan ini hampir senada dengan Prinsip Implementasi KBK (Kurikulum 2004) yang
disebut Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (KBS). Prinsip ini diimplementasikan untuk
memberdayakan daerah dan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengelola serta
menilai pembelajaran sesuai dengan kondisi dan aspirasi mereka. Prinsip Pengelolaan KBS ini
mengacu pada Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagamaan dalam pelaksanaan. Yang
dimaksud dengan Kesatuan dalam Kebijakan ditandai dengan Sekolah-sekolah menggunakan
perangkat dokumen KBK yang sama dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Sedangkan Keberagaman dalam pelaksanaan ditandai dengan keberagaman silabus yang akan
dikembangkan oleh masing-masing sekolah sesuai dengan karakteristik sekolahnya.
KTSP

atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan
yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP
secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan.
Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada
Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah
sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, masing-masing
Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Paduan Pengembangan KTSP yang
dikeluarkan oleh BSNP. Pad aprinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah
itu sendiri.
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas
Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Kurikulum 2013

Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk


mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya,
yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan
peradabannya. Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator
strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi abad ke-21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan
yang jelas bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum
berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi,
yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia
seutuhnya.
Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi
dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat
sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan
bertakwa, berilmu, dan seterusnya. Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka
lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi
yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan
pendidikan tercapai.

Perencanaan pembelajaran

Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik,
proses panjang tersebut dibagi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan
peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan
peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan
dapat diminimalkan. Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagibagi menjadi tujuan antara. Pada dasarnya, kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran
yang dirancang berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan
menentukan kompetensi lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang
satuan pendidikan.
Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum
harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik
(keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus
diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha
membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses,
termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses) supaya ketiga kompetensi
yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan
ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses,
dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.
Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa
pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum karena yang perlu diperbaiki
sebenarnya metodologi pembelajaran, bukan kurikulum (Mohammad Abduhzen, Urgensi
Kurikulum 2013, Kompas 21/2 dan Implementasi Pendidikan, Kompas 6/3).
Hal ini
menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi mencakup
metodologi pembelajaran. Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk
kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam
ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai memiliki (melalui mengamati, menanya,
mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif
dan kreatif, dalam ranah konkret dan abstrak, sesuai yang ditugaskan kepadanya.
Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak
termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu sudah dirumuskan
dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.
Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar
taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan
tantangan abad ke-21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang
disampaikan Elin Driana, Gawat Darurat Pendidikan (Kompas, 14/12/2012) yang
mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap
kurikulum sebelumnya.

Mengatakan tak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh,
hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata
pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah
diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP. Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai
tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi mata pelajaran dan tumpang
tindih yang tak diperlukan pada beberapa materi mata pelajaran, kecepatan pembelajaran yang
tak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga
peserta didik kurang dilatih bernalar dan berpikir.

Kompetensi inti

Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan
yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk
memudahkan proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagibagi jadi beberapa tahap sesuai jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan. Sejalan
dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai
pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring
meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas. Melalui
kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal
antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas
dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi,
kompetensi inti juga multidimensi.
Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua,
yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan
kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri,
demokratis, dan bertanggung jawab. Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk
dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata
pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua
mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap

pembentukan kompetensi inti. Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensikompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi
inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran. Dengan pengertian ini,
kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu.
Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran
adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran
yang tepat menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah dipahami dengan baik,
tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah dengan alasan pada
Kompetensi Inti Bahasa Indonesia tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi
Bahasa Indonesia karena memang tak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia,
sebagaimana dipertanyakan Acep Iwan Saidi, Petisi untuk Wapres (Kompas, 2/3).
Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi
kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini sesuai dengan
rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual,
kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan. Uraian
kompetensi dasar sedetail ini adalah untuk memastikan capaian pembelajaran tidak berhenti
sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap.
Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik karena
kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihapalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi
pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut ada pesan-pesan sosial dan spiritual
yang terkandung dalam materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami dapat
mengurangi, bahkan menghilangkan, kegelisahan yang disampaikan L Wilardjo dalam Yang
Indah dan yang Absurd (Kompas, 22/2).

Kedudukan bahasa

Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama
saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat peserta didik mulai
diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD
masih belum terlatih berpikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dulu perlu
dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian
besarnya abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berpikir abstrak. Di sini peran
bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua
sumber kompetensi kepada peserta didik.
Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat
dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain.
Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam
penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran

tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar,
pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.

Dengan cara ini pula, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual,
sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran
Bahasa Indonesia kurang diminati pendidik dan peserta didik. Melalui pembelajaran Bahasa
Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi
dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang
memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik, terhadap ilmu
pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, Petisi untuk Wapres), sama saja
dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu pengetahuan.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk
segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Rumusannya
berdasarkan sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi sehingga sangat
dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang.
Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan
kurikulum berbasis materi.

C.

Kelebihan dan kekurangan Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013

Kelebihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

o Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat


dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah
adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di
lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.
o
Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin
meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
o
KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat
menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya.
Sebagai contoh, di daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa
inggris sebagai keterampilan hidup.
o KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban
belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.

o
KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk
mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.
o

Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.

o
Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk
mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan
kondisi daerahnya masing-masing.
o Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau
kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar
o

Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan,

kecakapan belajar, maupun konteks social budaya.


o

Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang

berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi


sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

bawaan

o
Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat
pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan
yang dituangkan dalam kurikulum.
o
Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untyuk menyususn dan mengembangkan silabus
mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan
kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.
o

Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan

kemudahan belajar siswa.


o

Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman

yang akan membentuk kompetensi individual.


o Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat,
dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.
o

Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.

Berpusat pada siswa dan menggunakan berbagai sumber belajar.

kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan

Sedangkan kelemahan dari kurikulum KTSP yaitu sebagai berikut:

o
Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan
pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
o

Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari

pelaksanaan KTSP .
o

Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya,

penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan


o

Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak

berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam,


sebagai syarat sertifikasi guru untukmendapatkan tunjangan profesi.

Kelebihan Kurikulum 2013

Selain kreatif dan inovatif, pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi
menjadi satu. Misalnya, pendidikan budi pekerti dan karakter harus diintegrasikan ke semua
program studi, kata Prof Anna Suhaenah Suparno dari Kementerian Pendidikan. Ia mengatakan
asumsi dari kurikulum itu adalah tidak ada perbedaan antara anak desa atau
kota. Anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi
mereka.Menurut dia, potensi siswa perlu dirangsang dari awal, misalnya melalui jenjang
pendidikan anak usia dini.
Namun, kata dia, kunci terpenting adalah kesiapan pada guru. Guru, lanjut dia, juga harus
terus dipacu kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk
meningkatkan kecakapan profesionalis secara terus menerus.

Kelemahan Kurikulum 2013

Saat ini, KTSP saja baru menuju uji coba dan ada beberapa sekolah yang belum melaksanakannya. Bagaimana bisa, kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari pe-laksanaan
kurikulum sebelumnya, katanya di Yogyakarta, Senin lalu. Kelemahan lainnya, lanjut Wuryadi,
pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa me-miliki kapasitas yang sama dalam
kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan
kurikulum 2013.

Wuryadi juga menilai tak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran danhasil
dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional
(UN) masih diberlakukan. UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama
sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya
mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan
kontribusi besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan, tambahnya.
Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk
jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena
rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.

D.

Struktur Baru Kurikulum 2013

Draf Struktur Kurikulum 2013 SD inilah bentuk kurikulum baru 2013 yang akan diberlakukan
pada anak-anak tingkat sekolah dasar (SD). Enam Mata Pelajaran Berbasis Tematik. Mata
pelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi enam
mata pelajaran, yaitu:
1. Agama,
2.

PPKn,

3.

Matematika,

4.

Bahasa Indonesia,

5.

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan,

6.

Seni Budaya

Sementara empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu:


1.

IPA,

2.

IPS,

3.

Muatan lokal, dan

4.

Pengembangan diri.

Diintegrasikan dengan enam mata pelajaran lainnya.

Memang sewajarnya seperti itu. IPA dan IPS dijadikan penggerak dan masuk dalam materi
bahasan semua mata pelajaran. Begitu pula dengan mulok dan pengembangan diri itu kaitannya
nanti dengan seni budaya," ujar Mendikbud, Mohammad Nuh. Dengan pemadatan mata
pelajaran dan pembelajaran berbasis tema ini, anak-anak juga tidak akan lagi kerepotan
membawa buku yang banyak dalam tasnya. Nuh mengungkapkan dengan pendekatan tematik
ini, anak-anak hanya perlu membawa paling tidak dua atau tiga buku sesuai dengan tema yang
dipilih pada minggu tersebut.
Belajar di Sekolah Lebih Lama Berkurangnya mata pelajaran dalam kurikulum ini justru
membuat durasi belajar anak di sekolah bertambah. Mohammad Nuh menjelaskan bahwa metode
baru ini mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap
tema yang menjadi bahasan.
"Pola ini tentu tidak bisa dilakukan dengan durasi belajar
sebelumnya. Untuk itu ditambah sebanyak empat jam pelajaran per minggu," kata Nuh. Dengan
demikian, untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu bertambah
menjadi 30-32 jam seminggu. Sementara pada kelas IV-VI yang semula belajar selama 32 jam
per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu.
"Penambahan jam belajar ini masih sesuai karena dibandingkan negara lain, Indonesia
terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9 tahun," ungkap Nuh. Pramuka Jadi
Skskul Wajib Bahasa Inggris yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan dihilangkan memang
tidak tercantum dalam salah satu mata pelajaran yang ada. Ternyata untuk tingkat SD ini, Bahasa
Inggris masuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah Remaja (PMR),
UKS, dan Pramuka". Pramuka ini akan jadi ekskul wajib untuk berbagai jenjang tidak hanya di
SD. Nanti akan dibicarakan juga dengan Kemenpora," kata Mendikbud.

BAB III
KESIMPULAN

Pengembangan kurikulum sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan


kualitas pendidikan. Ia sebagai instrumen yang membantu praktisi pendidikan untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat. Caswell menyatakan bahwa pengembangan
kurikulum merupakan alat untuk membantu guru melakukan tugasnya mengajar dan memenuhi
kebutuhan masyarakat. Pengembangan kurikulum tidak pernah berhenti, ia merupakan proses
yang berkelanjutan dan proses siklus yang terus menerus sejalan dengan perkembangan dan
tuntutan perubahan masyarakat.
Kajian-kajian pada pengembangan yang bersifat filosofis, psikologis, situasi sosial politis, dan
perkembangan iptek menjadi sangat penting ketika dikehendaki perubahan perubahan dan
pengembangan pendidikan masa depan.pertinbangan-pertimbangan tentang pentingnya relevansi,
fleksibilitas, dan kontinuitas merupakan prinsip-prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam
pengembangan kurikulum.
Kurikulum baru pendidikan nasional yang sedang dipersiapkan pemerintah bersama tim
penyusun, nantinya akan memangkas jumlah mata pelajaran menjadi lebih sedikit, sehingga
meringankan peserta didik. Demikian dikatakan Wamendikbud bidang Pendidikan, Musliar
Kasim. Jumlah mata pelajaran yang banyak membebani siswa, dan menyebabkan siswa menjadi
bosan, katanya dalam pertemuan pers bersama Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu
Nuryanti, terkait Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, di Jakarta, Kamis
(27/9/2012) petang.
Banyak orang yang mempertanyakan Kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara
pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang
menjadi dasar Kurikulum 2013. Secara falsafat, pendidikan adalah proses panjang dan
berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan
tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta
segenap isi dan peradabannya.

Daftar pustraka

Bincang Edukasi, Kurikulum 2013 [internet] 07/03/2013. (dikutip pada tanggal 06/04/2013).
Tersedia dari http://www.bincangedukasi.com/kurikulum-2013.html
Ilham Mahesa Sinaga, Dampak Kurikulum Baru pada Pelaksanaan UN [internet] 20/11/2012.
(dikutip
pada
tanggal
06/04/2013).
Tersedia
dari
http://www.beritakaget.com/berita/3576/dampak-kurikulum-baru-pada-pelaksanaan- un.html
Ilham Mahesa Sinaga, Bahasa Inggris akan dihapus dari Kurikulum SD [internet] 12/10/2012.
(dikutip
pada
tanggal
06/04/2013).
Tersedia
dari
http://www.beritakaget.com/berita/3126/bahasa-inggris-akan-dihapus-dari- kurikulum-sd.html
Ilham Mahesa Sinaga, Uji Publik Kurikulum 2013 [internet] 03/12/2012. (dikutip pada tanggal
06/04/2013). Tersedia dari http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publikkurikulum2013-4
10304065, Struktur Baru Kurikulum 2013 [internet] 21/11/2012. (dikutip pada tanggal
06/04/2013)
tersedia
dari
http://www.diknaspadang.org/mod.php?
mod=publisher&op=viewarticle&cid=13&artid=1057

-----------------------------------------------------------------------------------

PERBEDAAN STRUKTUR KURIKULUM 2013 DENGAN KTSP


PERBEDAAN STRUKTUR KURIKULUM 2013 DENGAN KTSP
PADA TINGKAT SD/MI

A.

PENDAHULUAN

Di dalam UU No.20 Tahun 2003 (UU Sisdiknas) dijelaskan, kurikulum merupakan seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Tujuan pendidikan Indonesia saat ini berdasarkan UU Sisdiknas yaitu . Untuk mencapai
tujuan tersebut, maka kurikulum di Indonesia selalu mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan zaman.
Saat ini, dunia pendidikan Indonesia akan memasuki kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 yang
rencananya akan diterapkan pada bulan Juli tahun ini. Sebelumnya, Indonesia telah menerapkan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterapkan sejak tahun 2006. Dapat
dikatakan, kurikulum 2013 merupakan perkembangan dari KTSP. Di dalam KTSP, kurikulum

ditekankan pada desentralisasi pengelolaan pendidikan dari pemerintah kepada satuan


pendidikan. KTSP dianggap sesuai dengan prinsip otonomi daerah sehingga pendidikan akan
lebih mengakomodasi kepentingan daerah. Sedangkan dalam kurikulum 2013 saat ini, kurikulum
lebih memfokuskan pada perubahan struktur kurikulum itu sendiri. Kurikulum 2013 diyakini
mampu memenuhi tuntutan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pendidikan
tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, akan tetapi juga diarahkan pada pengembangan
aspek afektif dan psikomotor.
Jika dilihat dari strukturnya, kurikulum untuk tingkat SD dan MI paling banyak mengalami
perubahan. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mengambil pokok permasalahan tentang
perbedaan kurikulum 2013 dengan KTSP khususnya pada tingkat SD/MI. Dari permasalahn
tersebut, maka makalah ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kurikulum 2013 dengan
KTSP pada tingkat SD/MI. Selain itu, makalah ini memiliki beberapa manfaat. Secara umum,
pembaca sebagai pengguna pendidikan akan mengetahui perkembangan kurikulum yang terjadi
di Indonesia. Dengan begitu, masyarakat dapat mengevaluasi pelaksanaan kurikulum
berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian secara khusus, makalah ini juga memiliki
manfaat untuk guru maupun calon guru yang nantinya akan menerapkan kurikulum 2013. Guru
harus benar-benar memahami struktur serta muatan dari kurikulum yang digunakan untuk
kemudian disesuaikan dengan kondisi kelasnya masing-masing.
B.

ISI

1.

Pengertian

Dalam kurikulum 2013, Struktur kurikulum dijelaskan sebagai gambaran konseptualisasi konten
kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum,
dostribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran
dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan
aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban
belajar dalam sistem pembelajaran.
Sedangkan dalam KTSP, struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang
harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum
pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang
harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur
kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan.
Berdasarkan dua pengertian tersebut, pengertian struktur kurikulum dalam kurikulum 2013
maupun KTSP tidak jauh berbeda. Perbedaannya, pengertian kurikulum 2013 tidak menyebutkan
adanya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Akan tetapi, dalam kurikulum 2013 nanti
terdapat kompetensi inti dan kompetensi dasar.

2.

Mata Pelajaran

Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang
pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Struktur kurikulum
SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran
dengan ketentuan-ketentuan tertentu tergantung dari kurikulum yang dipakai.
Kurikulum SD/MI di dalam KTSP memuat 8 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan
diri. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya
tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Muatan lokal dalam KTSP
meliputi Bahasa Daerah dan Bahasa Inggris yang merupakan muatan lokal wajib serta muatan
lokal pertanian yang tidak diwajibkan. Sedangkan pengembangan diri meliputi Pramuka dan
Komputer yang tidak berstatus wajib.
Sedangkan pada kurikulum 2013, mata pelajaran dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok A
yang menekankan aspek kognitif dan kelompok B yang lebih menekankan aspek afektif dan
psikomotor. Kelompok A terdiri dari 4 mata pelajaran untuk kelas III dan 6 mata pelajaran untuk
kelas IV VI. Perbedaan tersebut terletak pada tidak adanya mata pelajaran IPA dan IPS.
Sedangkan pada kelompok B, terdapat 2 mata pelajaran termasuk di dalamnya muatan lokal.
Pada kurikulum 2013, muatan lokal SD meliputi Pramuka, UKS, PMR, dan Bahasa Daerah.
Berbeda dengan KTSP, Pramuka merupakan muatan lokal wajib. Pengembangan diri tidak
dicantumkan dalam kurikulum 2013 SD/MI karena sudah dimasukkan dalam muatan lokal.
Selain itu, Bahasa Inggris yang sebelumnya merupakan mata pelajaran wajib menjadi tidak wajib
dan hanya berupa muatan lokal.
Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada KTSP SD/MI merupakan IPA Terpadu dan IPS
Terpadu. Hal ini masih diterapkan pada kurikulum 2013. Bahkan untuk kelas rendah, IPA dan
IPS diintegrasikan dengan mata pelajaran lain melalui pendekatan tematik integratif.
3.

Pembelajaran

Berdasarkan KTSP, Pembelajaran pada Kelas IIII dilaksanakan melalui pendekatan tematik,
sedangkan pada Kelas IVVI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Akan tetapi,
dalam melalui kurikulum 2013, pembelajaran dari kelas I VI seluruhnya harus dilaksanakan
dengan pendekatan tematik integratif. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam
berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap,
keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar
yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar
konsep dasar secara parsial. Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh
kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia.

4.

Beban Belajar

Beban belajar selama satu minggu pada kurikulum 2013 mengalami penambahan jika
dibandingkan KTSP. Pada KTSP, beban belajar kelas satu 26 jam, kelas dua 27 jam, kelas tiga 28
jam, dan kelas empat sampai enam selama 32 jam dengan menambah maksimum empat jam
pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Sedangkan pada kurikulum 2013, beban belajar di
SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 dan untuk kelas IV, V, dan VI menjadi 36
jam setiap minggu. Alokasi waktu satu jam pembelajaran baik dalam kurikulum 2013 maupun
KTSP adalah 35 menit.
Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru
memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa
aktif. Selain itu, bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan
hasil belajar.
5.

Pengembangan Kurikulum

Jika dilihat dari pengembangan kurikulum KTSP, kurikulum dikembangkan hanya sampai pada
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dalam kurikulum KTSP, guru dituntut
mengembangkan kompetensi dasar yang telah ditentukan menjadi silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan karakterisrik siswa. Guru juga diberikan kebebasan
menentukan buku referensi serta media. Akan tetapi, kenyataan di lapangan, guru cenderung
memisahkan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Guru juga lebih mementingkan
aspek kognitif dibanding aspek afektif dan psikomotor.
Berbeda dengan kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan tahun ini, pengembangan kurikulum
sudah mencakup silabus, buku teks, serta buku pedoman guru. Hal tersebut akan meringankan
pekerjaan guru karena tidak perlu membuat silabus lagi. Guru hanya tinggal membuat rencana
pengajaran dalam bentuk RPP. Sebagian orang berpendapat, hal tersebut akan mematikan
kreativitas guru karena semua sudah diatur dari pusat. Akan tetapi, jika dilihat kembali,
kurikulum 2013 ini masih memberikan peluang dan kebebasan kepada satuan pendidikan dan
pendidik khususnya untuk melaksanakan KTSP dalam pembelajaran dan penilaian.
C.

PENUTUP

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak perbedaan antara struktur
kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari
berbagai sudut. Pertama, dari pengertian struktur kurikulum itu sendiri, kurikulum 2013 tidak
menyebutkan adanya standar kompetensi mata pelajaran dan menggantinya dengan istilah
kompetensi inti. Kedua, jumlah mata pelajaran pada kurikulum 2013 lebih sedikit dibandingkan
dengan KTSP. Ketiga, kurikulum 2013 menuntut pembelajaran dilakukan dengan pendekatan
tematik integratif, berbeda dengan KTSP yang masih menggunakan pendekatan mata pelajaran.
Keempat, beban belajar yang dicantumkan pada kurikulum 2013 mengalami penambahan

dibanding KTSP. Dan yang kelima, pengembangan kurikulum 2013 mencakup silabus, buku
teks, dan buku pedoman guru, berbeda dibanding KTSP yang hanya sampai pada kompetensi
dasar.
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis memberikan saran kepada pembaca pada umumnya dan
guru khususnya untuk terus memantau pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah dasar masingmasing, terutama menyangkut efektif dan tidaknya penerapan kurikulum 2013 bagi anak didik
sebagai sasarannya.
Daftar Pustaka
Deksa
Ferdika.
2012.
Makalah
Kurikulum
2013.
blogspot.com.
(Online),
(http://ferdikakinestetik.blogspot.com/2012/12/makalah-kurikulum-2013.html, diakses 15 Juli
2013)Karsidi. 2007. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD dan MI. Solo: Tiga
Serangkai.Kemendikbud. 2013. Kompetensi Dasar untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
---------------------------------------------------------------------------