Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kopi merupakan salah satu komoditas penting di dalam perdagangan dunia
yang melibatkan beberapa negara produsen dan banyak negara konsumen. Kopi,
meskipun bukan merupakan tanaman asli Indonesia, tanaman ini mempunyai peranan
penting dalam industri perkebunan di Indonesia. Menurut Ditjen Perkebunan (2011),
areal perkebunan kopi di Indonesia pada tahun 2010 mencapai lebih dari 1,210 juta
hektar dengan total produksi sebesar 686.921 ton dimana 96% diantaranya adalah
areal perkebunan kopi rakyat, dengan jumlah petani yang terlibat sebanyak 1.881.694
KK. Laju perkembangan areal kopi di Indonesia rata-rata mencapai sebesar 2,11 %
per tahun.
Perkembangan yang cukup pesat tersebut perlu di dukung dengan kesiapan
teknologi dan sarana pascapanen yang cocok untuk kondisi petani agar mereka
mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu seperti yang dipersyaratkan oleh
Standard Nasional Indonesia. Adanya jaminan mutu yang pasti, ketersediaan dalam
jumlah yang cukup dan pasokan yang tepat waktu serta keberlanjutan merupakan
beberapa persyaratan yang dibutuhkan agar biji kopi rakyat dapat dipasarkan pada
tingkat harga yang lebih menguntungkan.
Untuk memenuhi persyaratan di atas penanganan pascapanen kopi rakyat
harus dilakukan dengan tepat waktu, tepat cara dan tepat jumlah seperti halnya
produk pertanian yang lain. Buah kopi hasil panen perlu segera diproses menjadi
bentuk akhir yang lebih stabil agar aman untuk disimpan dalam jangka waktu
tertentu.
Oleh karena itu tahapan proses dan spesifikasi peralatan kopi yang menjadi
kepastian mutu harus didefinisikan dengan jelas. Untuk itu diperlukan suatu acuan
standar sebagai pegangan bagi petani/pengolah dalam menghasilkan produk yang
dipersyaratkan pasar. Seiring dengan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap

produk yang aman dan ramah lingkungan, maka acuan standar tersebut harus
mengakomodasi prinsip penanganan pascapanen yang baik dan benar.
Keberhasilan penanganan pascapanen sangat tergantung dari mutu bahan
baku dari kegiatan proses produksi/budidaya, karena itu penanganan proses produksi
di kebun juga harus memperhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip cara budidaya
yang baik dan benar (Good Agricultural Practices/GAP). Penerapan GAP dan GHP
menjadi jaminan bagi konsumen, bahwa produk yang dipasarkan diperoleh dari hasil
serangkaian proses yang efisien, produktif dan ramah lingkungan. Dengan demikian
petani akan mendapatkan nilai tambah berupa insentif peningkatan harga dan jaminan
pasar yang memadai.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pengolahan kopi robusta di PTPN XII.
2. Untuk mengetahui proses biodiesel menggunakan minyak jarak.
3. Membandingkan proses pengolahan kopi di PTPN XII dengan pengolahan
kopi teori.
1.3 Manfaat
1. Menambah wawasan pengetahuan tentang cara menanam kopi robusta
yang benar.
2. Memberi informasi tentang cara menangani atau memperbaiki mutu kopi
robusta.
3. Menambah pengetahuan tentang bagaimana proses biodiesel dengan
minyak jarak.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Kopi Robusta

Kopi robusta adalah Kopi robusta merupakan salah satu jenis kopi yang
diproduksi di Indonesia. Kopi robusta dapat ditanam pada dataran rendah (400-800
mdpl). Citarasa kopi robusta tidak lebih baik dari kopi arabika karena mimiliki
kandungan kafein yang lebih tinggi dan asam yang lebih rendah. Pengolahan kopi
robusta di Afdeling rayap kebun rayap PTPN XII menggunakan metode basah, kopi
ini tidak memerlukan adanya fermentasi karena taste yang diinginkan adalah pahit.
2.2 Pengolahan Kopi Robusta
Tempat Penerimaan

Pencucian + Sortasi
basah + pengupasan
Pengeringan

Ruang
Penggerebusan

Ruang
Sortasi

Penggudan
gan

a. Penerimaan

Penerimaan merupakan tahap awal dari proses pengolahan. Penerimaan


meliputi penimbangan dan penerimaan pada bak penerimaan (sipon). Sebelum masuk
ke sipon/bak penerimaan kopi gelondong terlebih dahulu ditimbang di jembatan
timbang untuk didata yang mencakup berat, afdeling asal kopi, varietas dan waktu
penerimaan. Data tersebut menjadi propil kopi selama proses pengolahan sampai
pengiriman, sehingga ketika terjadi penyimpangan dalam proses pengolahan akan
lebih cepat dan mudah diambil langkah penanggulangan. Selain itu penerimaan juga
bertujuan untuk mengetahui hasil panen gelondong tiap-tiap afdeling. Kopi
gelondong ditimbang bersamaan dengan truk pengangkut kopi. Untuk mengetahui
berat kopi, berat keseluruhan dikurangi berat truk pengangkut.
Setelah penimbangan di jembatan timbang kopi gelondong kemudian
ditampung sementara di sipon untuk persiapan tahapan proses selanjutnya. Kopi
gelondong yang telah ditampung di sipon kemudian dialirkan ke konishtank.
Kapasitas sipon adalah 265 ton kopi gelondong / hari. Pada tahapan ini juga
dilakukan uji petik. Uji petik adalah proses penganbilan sampel setiap kopi
gelondong yang masuk ke sipon dari masing-masing afdeling untuk diuji kualitasnya.
Sampel kopi gelondong untuk uji petik diambil 1 kg dari 5 ton kopi gelondong tiap
afdeling. Proses pengambilan sampel dilakukan secara acak (random). Parameter
yang diamati antara lain: persentase kopi yang berkualitas baik/kopi gelondong
merah, persentase kopi gelondong bancut, persentase kopi gelondong hijau,
persentase rembangan dan persentase benda asing.
b. Pencuci, sortasi dan pengupasan.
Pencucian dan pengupasan kulit buah kopi, dilakukan

dengan

mesin

pengupas. Selama pengupasan, dialirkan air secara terus menerus kedalam mesin
pengupas. Fungsi pengaliran air untuk melunakkan jaringan kulit buah agar mudah
terlepas dari bijinya. Hasil dari proses pengupasan kulit buah adalah biji kopi yang
masih memiliki kulit tanduk atau disebut juga biji kopi HS.
Sortasi buah kopi sebelum pengolahan sangat menentukan mutu fisik kopi
dan citarasa seduhan akhir. Tujuan sortasi adalah untuk memperoleh buah kopi yang

seragam mutunya dan dapat meningkatkan efisiensi proses berikutnya. Caranya


adalah pemisahan buah kopi sehat, segar, besar dan matang (mutu superior) dari buah
kopi kopong, mentah, busuk, terkena penyakit atau cacat lainnya (mutu inferior).
Sortasi buah kopi dilakukan dua tahap, yaitu cara kering dan basah. Sortasi
kering disebut juga sebagai pra-sortasi dilakukan di kebun atau dipenerimaan hasil,
yaitu pemisahan buah matang dari buah hijau dan kotoran-kotoran yang mudah
dilihat dengan mata seperti daun, kayu dll. Sortasi basah dilakukan di pabrik dengan
prinsip dasar beda berat jenis antara buah superior dan inferior di dalam air. Peralatan
sortasi basah umumnya adalah siphon. Alat ini merupakan bak penampung air dengan
bentuk geometris lantai dasar kerucut. Campuran buah masuk ke dalam siphon lewat
kanal air. Buah kopi superior akan tenggelam, sedang yang inferior akan mengapung.
Kedua jenis mutu terpisah dan dikeluarkan dari bak lewat saluran yang berbeda.
Kotoran bukan kopi seperti tanah, batu atau serpihan kayu keluar lewat kasa di dasar
siphon.
Buah kopi superior hasil sortasi basah segera diproses di mesin
pengupas. Pengupasan adalah proses pelepasan kulit buah dari kulit tanduk, dan
sangat

menentukan

mutu

fisik

dan

citarasa

seduhan

akhir.

Kualitas

pengupasan/pulping sangat menentukan proses pencucian lapisan lendir, proses


pengeringan dan hulling. Untuk kapasitas besar pengupasan dilakukan dengan alat
yang digerakkan listrik atau motor sedangkan untuk kapasitas kecil dapat dilakukan
dengan alat yang digerakkan manual atau listrik.
Buah kopi dari tangki siphon diumpankan ke dalam mesin pengupas lewat
corong (feed hopper) dan jatuh di permukaan rotor. Gaya putaran silinder mendesak
buah kopi hingga terhimpit dan tergencet pada permukaan stator, sehingga kulit buah
terkelupas dari biji kopi, kemudian dipisahkan dengan pisau ke saluran yang
berbeda.
Buah kopi yang ukurannya terlalu besar akan terkelupas sampai kulit
tanduknya, sedang yang terlalu kecil akan lolos. Untuk menghindari hal tersebut,

maka mesin pengupas dilengkapi dengan beberapa rotor dan stator (umumnya tiga
pasang), yang disusun secara seri. Ukuran celah diatur berurutan mulai dari paling
besar sampai yang terkecil. Dengan demikian, buah kopi yang lolos dari silinder
pertama akan terperangkap pada silinder kedua dan seterusnya. menyemprotkan
sejumlah air ke dalam celah pengupas. Air berfungsi untuk membantu mekanisme
pengupasan, dan pembersihan. Pengupasan buah kopi umumnya dilakukan secara
basah, yaitu dengan awal lapisan lendir, mengurangi gaya geser silinder sehingga
kulit tanduk tidak pecah dan membantu pengangkutan ke mesin berikutnya. Mesin
pengupas silinder dengan putaran 120 - 200 rpm, berkapasitas 1,50 - 2 ton buah kopi
per jam membutuhkan air antara 7 - 9 m3/ jam.
Buah kopi yang telah dipanen dikumpulkan, kemudian diseleksi dengan
meletakkannya di dalam air. Keberadaan buah di dalam air menjadi penentu kualitas
awalnya. Bila buah mengapung di permukaan air, maka buah memiliki kualitas yang
jelek. Sebaliknya, bila buah tenggelam di dasar air, maka hal ini berarti buah
berkualitas baik.
Buah yang berkualitas baik menjalani prosedur selanjutnya, yaitu buah
dikupas secara mekanis untuk memisahkan biji berkulit tanduk [biji kopi HS] dan
kulit buah. Proses ini dilakukan dengan mesin dan tetap dilakukan di dalam air.
Sekalipun telah berhasil menghilangkan sebagian besar komponen penyelubung biji,
namun selaput biji terkadang masih menempel dan harus dihilangkan. Biji kopi HS
diolah lanjut sebagai bahan minuman, sedangkan kulit buah merupakan limbah yang
dapat digunakan sebagai bahan baku kompos, pakan ternak dan biogas.

Pada pengeringan hari pertama, biji kopi dihamparkan di atas lantai semen
dengan ketebalan antara 2 - 5 cm. Mekanisme pengeringan akan dimulai dari kulit

tanduk dan diakhiri di dalam biji (kernel). Jika pembalikan dilakukan secara intensif
sekali setiap - 1 jam, pada ketebalan tersebut maka kulit tanduk dapat kering dalam
satu hari. Pada hari kedua, tebal lapisan biji dapat ditingkatkan tanpa ada resiko
pertumbuhan jamur.
c. Pengeringan
Pengering tipe ini di kalangan praktisi populer disebut VlS Dryer. Model pengering
ini relatif tua dan tidak efisien dari aspek efisiensi panas, kemudahan pengoperasian,
tenaga kerja dan mutu hasil. Mekanisme pemanasan udara pengering berlangsung
secara alamiah alas dasar beda suhu. Bangunan pengering mirip dengan gedung
berlantai dua. Lantai pertama untuk instalasi tungku dan pipa-pipa pemindah panas,
sedang lantai kedua untuk ruang pengering yang dibuat dari pelat besi berlubang
(perforated plate). Bahan bakar yang dipakai adalah kayu.
Pengeringan kombinasi adalah mengkombinasikan berapa jenis pengeringan yang
ada, umumnya antara pengeringan tradisional dengan mekanis (Vis Dryer dan
Mason). Pengeringan kombinasi hanya dilakukan apabila lantai penjemuran sudah
mencukupi kapasitas dan faktor cuaca yang mendung atau hujan. Pengeringan
kombinasi dapat dilakukan dengan cacatan kadar air biji kopi +30%. Hal ini
dilakukan agar tidak terjadi penurunan kadar air yang signifikan pada biji kopi yang
dapat menurunkan mutu biji kopi yang dihasilkan.
Pengeringan konvensional yaitu pengeringan dengan sinar matahari
Biji kopi yang dijemur/dikeringkan dengan full sun drying memiliki mutu yang lebih
baik dibandingkan dengan jenis pengeringan yang lain. Hal ini diduga disebabkan
karena interval laju penurunan kadar air di lantai jemur lebih lambat menyebabkan air
keluar dengan merata dan teratur.

Pengeringan mekanis
Pada pengering mekanis, udara pengering dihembuskan dengan kipas dengan
laju aliran tertentu melewati pipa-pipa pindah panas. Dengan demikian mekanisme
perpindahan panas lebih sempurna dan suhu udara yang dihasilkan lebih stabil. Udara
panas yang dihasilkan kemudian lewat ke dalam lapisan biji kopi. Jenis pengering
mekanis yang populer digunakan di perkebunan kopi adalah Mason.

d. Ruang penggerebusan
Penggerbusan adalah proses pemisahan biji kopi dengn kulit tanduk dan kulit
ari. Mekanisme pengupasan kulit tanduk hampir sama dengan pengupasan kulit buah,
yaitu adanya gesekan dan tekanan antara stator dan rotor yang mendesak permukaan
kulit hingga terkelupas. Greader atau pengayak merupakan rangkaian alat yang
terdapat dalam proses pengerebusan berfungsi memisah biji-biji kopi yang telah
digeerbus berdasarkan ukurannya. Terdapat 3 tingkatan alat pengayakan yang
memisahkan masing-masing ukuran. Ayakan pertama memisahkan ukuran atau L
besar (tidak lolos ayakan 6,5 mm), ayakan kedua memisahkan ukuran M atau sedang
(tidak lolos ayakan 6 mm) dan ayakan ketiga memisahkan ukuran S atau kecil (tidak
lolos ayakan 5 mm). Kapasitas greader adalah 1 ton kopi pasar / jam.
e. Ruang Sortasi
Pada ruang sortasi ini dilakukan secara manual dengan memisahkan biji
berdasarkan tingkat kecacatannya menggunakan beberapa variabel yaitu biji kopi
gosong, berlubang hitam, dan biji setengah. Sortasi secara manual membutuhkan
tenaga kerja yang terampil memiliki kejelian dan ketelitian yang cukup tinggi. Sortasi
dilakuan oleh ibu-ibu istri kariawan tetap yang bekerja dan menetap di arel pabrik.
Sortasi dilakukan setiap ada pesanan.
f. Pengemasan dan Penggudangan
Pengemasan pada biji kopi menggunakan karung goni variable yang harus
diperhatikan saat penggudangan yaitu kelembapan, penerangan : sirkulasi udara,
jumlah tumpukan, kapasitas gudang dan sanitasi gudang .

2.3 Penjelasan proses pengolahan biodiesel yang ada di rayap


Proses pembuatan Biodesel yang disebut transesterifikasi relatif sederhana :
Lemak atau minyak lemak yang diperoleh dari CJCO ( Jarak pagar) atau CPO

( kelapa sawit) di beri metanol ( bisa diperoleh dari gas bumi atau biomassa) atau
etanol dalam keadaan katalis ( yaitu diberi KOH) dan dipanaskan dengan suhu diatur
25 80oC maka akan menjadi ester metil/etil, dilakukan sentrifugasi dengan ukuran
6000 Rpm dengan dibantu air dan kotoran, asam-asam lemak ( biodesel).
Apa tujuan dari proses transesterifikasi adalah untuk menurunkan viskositas atau
kekentalan CJCO sehingga akan menyamai petrodiesel ( solar atau ADO ) hingga
mencapai nilai 4,84 cst.
Selain itu, kondisi operasi esterifikasi dan transesterifikasi yang dipakai
kemungkinan tidak sesuai untuk menghasilkan biodiesel dari minyak kopi dengan
yield dan kemurnian yang tinggi. Salah satu contoh adalah tingginya kadar
trigliserida dalam metil ester yang diuji kemungkinan disebabkan perbandingan
methanol minyak yang sedikit berlebih.
Keberadaan gliserol yang tinggi dalam larutan alkil ester akan mendorong reaksi
berbalik kekiri, sehingga yield alkil ester menjadi berkurang. Kesalahan dalam
pemilihan kondisi operasi ini disebabkan oleh keterbatasan referensi yang akurat
mengenai pembuatan biodiesel dari minyak kopi.
2.4 Pengolahan Kopi menurut literatur
Pengolahan Kopi Cara Basah (Fully Washed) hanya digunakan untuk
mengolah kopi sehat yang berwarna merah, sedangkan kopi yang berwarna hijau dan
kopi yang rambang diolah secara kering.
a. Sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang superior (masak, bernas,
seragam) dari buah inferior (cacat, hitam, pecah, berlubang dan terserang
hama/penyakit). Sortasi buah kopi juga dapat menggunakan air untuk memisahkan
buah yang diserang hama. Kotoran seperti daun, ranting, tanah dan kerikil harus
dibuang, karena dapat merusak mesin pengupas.
Buah kopi merah (superior) diolah dengan cara proses basah atau semi-basah,
agar diperoleh biji kopi HS kering dengan tampilan yang bagus. Sedangkan buah
campuran hijau, kuning dan merah diolah dengan cara proses kering. Hal yang harus
dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau sak selama lebih

dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-fermentasi sehingga aroma dan citarasa
biji kopi menjadi kurang baik dan berbau tengik (stink) . (Sri Mulato.2012)
b. Pengupasan kulit buah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin pengupas kulit
buah (pulper). Pulper dapat dipilih dari bahan dasar yang terbuat dari tembaga/logam
dan atau kayu. Air dialirkan ke dalam silinder bersamaan dengan buah yang akan
dikupas. Sebaiknya buah kopi dipisahkan atas dasar ukuran sebelum dikupas.
c. Fermentasi umumnya dilakukan untuk pengolahan kopi Arabika, bertujuan
untuk meluruhkan lapisan lendir yang ada dipermukaan kulit tanduk biji kopi.
Fermentasi ini dapat dilakukan secara basah dengan merendam biji kopi dalam
genangan air, atau fermentasi cara kering dengan cara menyimpan biji kopi HS
basah di dalam wadah plastik yang bersih dengan lubang penutup dibagian bawah
atau dengan menumpuk biji kopi HS di dalam bak semen dan ditutup dengan karung
goni. Agar fermentasi berlangsung merata, pembalikan dilakukan minimal satu kali
dalam sehari. Akhir fermentasi ditandai dengan meluruhnya lapisan lendir yang
menyelimuti kulit tanduk. Waktu fermentasi berkisar antara 12 sampai 36 jam. .
(Soetriono.2007)
d. Pencucian dengan cara yang lebih sederhana lagi bisa dilakukan dalam bak yang di
bawahnya diberi lubang pengatur keluarnya air. Di dalam bak yang memanjang atau
pada bak yang lebih sederhana ini, kopi diaduk-aduk dengan tangan atau dengan kaki
untuk melepaskan sisa lendir yang masih melekat. Bila kopi sudah bersih dan tidak
licin dapat diangkat dari bak dan ditiriskan
e. Pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air biji kopi HS dari 60 65 %
menjadi maksimum 12,5 %. Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran,
mekanis, dan kombinas keduanya. Profil lantai jemur dibuat miring lebih kurang 5
7o dengan sudut pertemuan di bagian tengah lantai. Ketebalan hamparan biji kopi HS
dalam penjemuran sebaiknya 6 10 cm lapisan biji. Pembalikan dilakukan setiap jam
pada waktu kopi masih basah. (Soetriono,dkk.2010)
Pengeringan biji kopi (drying) adalah upaya menurunkan kadar air sampai
pada batas tertentu. Pengeringan mekanis untuk biji kopi menggunakan tipe
pemanasan tidak langsung (indirect system) untuk mencegah kontaminasi asap dari
pembakaran bahan bakar ke permukaan/ke dalam biji kopi. (Edy Suharyanto.2012)

f. Pengupasan dimaksudkan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk untuk
menghasilkan biji kopi beras dengan menggunakan mesin pengupas. Biji kopi HS
yang baru selesai dikeringkan harus terlebih dahulu didinginkan sampai suhu ruangan
sebelum dilakukan pengupasan. Sedangkan biji kopi yang sudah disimpan di dalam
gudang dapat dilakukan proses pengupasan kulit. (M. Nasir.1989)
g. Sortasi biji dimaksudkan untuk membersihkan kopi beras dari kotoran sehingga
memenuhi syarat mutu, dan mengklasifikasikan kopi tersebut menurut
standar mutu yang ditetapkan. Mesin produksi pada pengolahan kopi basah terdiri
dari 4 jenis mesin yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Pulper berfungsi
mengupas kulit dan daging buah kopi gelondong, washer berfungsi mencuci biji kopi
HS yang keluar dari pulper, dryer berfungsi mengeringkan kopi untuk mengurangi
kadar air yang terkandung di dalamnya, dan grader berfungsi menggolongkan ukuran
kopi sesuai standar mutu yang ditetapkan. (Soejono.2010)
h. Pengemasan dan penggudangan bertujuan untuk memperpanjang daya simpan hasil.
Pengemasan biji kopi harus menggunakan karung yang bersih dan baik, serta diberi
label sesuai dengan ketentuan SNI 01-2907-2008 kemudian simpan tumpukan kopi
dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan kontaminan lainnya. Hal yang
harus diperhatikan dalam pengemasan dan penggudangan adalah :
Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen.

Cat untuk label menggunakan pelarut non minyak.


Karung yang digunakan bersih dan jauh dari bau asing.
Tumpukan karung kopi diatur di atas landasan kayu dan diberi batas dengan
dinding atau jarak dengan dinding sekitar 50 cm, supaya memudahkan
inspeksi terhadap hama gudang. Tinggi tumpukan karung kopi maksimal 150

cm dari atap gudang penyimpanan.


Kondisi biji dimonitor selama disimpan terhadap kadar airnya, keamanan
terhadap organisme pengganggu (tikus, serangga, jamur, dll) dan faktor-

faktor lain yang dapat merusak biji kopi.


Kondisi gudang dimonitor kebersihannya dan kelembaban sekitar 70 %
Untuk menjaga kelembaban gudang tersebut perlu dilengkapi ventilasi yang

memadai. (Dedi.2012)

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Kopi robusta adalah Kopi robusta merupakan salah satu jenis kopi yang
diproduksi di Indonesia.
2. Kopi robusta dapat ditanam pada dataran rendah (400-800 mdpl).
3. Pengolahan kopi robusta di Afdeling rayap kebun rayap PTPN XII dilakukan
secara basah, kopi ini tidak
4.

memerlukan adanya fermentasi dikarenakan taste

yang diinginkan adalah pahit.


Pengolahan kopi robusta di Afdeling rayap kebun rayap PTPN XII memiliki
delapan tahap pemrosesan yaitu penanaman, pencucian, sortasi basah,

pengupasan,

pengeringan,

ruang

penggerebusan,

ruang

sortasi

dan

penggudangan.
5. Proses pembuatan Biodesel yang disebut transesterifikasi relatif sederhana :
Lemak atau minyak lemak yang diperoleh dari CJCO ( Jarak pagar) atau CPO
( kelapa sawit) di beri metanol ( bisa diperoleh dari gas bumi atau biomassa)
atau etanol dalam keadaan katalis ( yaitu diberi KOH) dan dipanaskan dengan
suhu diatur 25 80oC maka akan menjadi ester metil/etil, dilakukan sentrifugasi
dengan ukuran 6000 Rpm dengan dibantu air dan kotoran, asam-asam lemak
( biodesel).
6. pengolahan kopi robusta secara basah menurut literature terdapat 8 tahap
pemrosesan yaitu sortasi buah, pengupasan, fermentasi, pencucian, pengeringan,
pengupasan, sortasi biji dan pengemasan
3.2 Saran
Suara penjelasan dari pemateri perusahaan kurang, dan anggota kunjungan
lapang juga banyak. Banyak materi yang kurang jelas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dedi.2012.

Pedoman

Teknis

Penanganan

Pascapanen

Kopi.

Direktorat

Pascapanen Dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian


Pertanian. Jakarta
2. Edy Suharyanto.2012. Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen Kopi. Direktorat
Pascapanen Dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian
Pertanian. Jakarta
3. Soejono. 2010. Laporan Akhir Lokakarya Pengembangan Industri Hulu-Hilir.IMHERE Program Universitas Jember: Jember
4. Soetriono, dkk, 2010, Pemodelan dan Pengukuran Dayasaing Komoditas Kopi
Robusta Dengan Pendekatan Three Five, Lembaga Penelitian Universitas
Jember, Jember.

5. Soetriono, 2007, Strategi Pengentasan Keterpurukan Petani Kedelai Melalui


Rancang Bangun Hulu Hilir dan Kebijakan Pemerintah (2007, 2008,
6.

2009) Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian Universitas Jember


Sri Mulato.1999.Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen Kopi. Direktorat
Pascapanen Dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian

Pertanian. Jakarta
7. M. Nasir, 1989, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta