Anda di halaman 1dari 18

BIOTEHNOLOGI HIDROPONIK

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Biotehnologi

1
2

Dosen Pengampu:
Prof.Dr. Supartono, M.S.
Dr. Nanik Wijayati, M.Si.

Disusun oleh:
Taufik Dwi Samudro
0402514001

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


FAKULTAS PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN IPA (KONS. PENDIDIKAN IPA)
2015

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................1
DAFTAR ISI .........................................................................................................2
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................3
1.1..........................................................................................La
tar Belakang ........................................................................................3
1.2..........................................................................................R
umusan Masalah ...............................................................4
1.3..........................................................................................Tu
juan ...................................................................................4
BAB II. PEMBAHASAN...................................................................5
1 Pengertian Hidroponik........................................................5
2 Penanaman Tanaman Hidroponik ......................................6
3 Manfaat
Penanaman
Hidroponik
...........................................................................................
10
4 Jenis
Tanaman
Hidroponik
...........................................................................................
12
BAB III. PENUTUP
....................................................................................................
17
3.1...........................................................................................K
esimpulan
...........................................................................................
17
3.2...........................................................................................S
aran
...........................................................................................
17
DAFTAR PUSTAKA
....................................................................................................
18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara berkembang yang termasuk ke dalam
kawasan Asia Tenggara karena rata-rata pendidikan penduduknya relative
cukup rendah. Sebagian besar pendudukn Indonesia masih memegang prinsip
hidupbanyak anak banyak rejeki sehingga dari tahun ke tahun jumlah
penduduk di Indonesia semakin bertambah banyak. Pemerintah Indonesia
telah berupaya menekan p`ertumbuhan penduduk yang begitu pesat dengan
program KB(Keluarga Berencana). Namun karena sebagian besar tingkat
pendidikan penduduk cukup rendah sehingga menyebabkan pentingnya
melaksanakan program KB masih minim.
Dengan pesatnya jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan
kebutuhan akan papan, pangan, dan sandang perkapitannya cukup tinggi.
Konsekuensi akan kebutuhan papan yang cukup tinggi menyebabkan
pembangunan fisik baik gedung-gedung dan perumahan semakin marak. Hal
ini tentulah menyebabkan makin menyempitnya lahan untuk bidang pertanian

dan perkebunan. Dengan menyempitnya lahan untuk bercocok tanam, hasil


produksi pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduk
Indonesia yang begitu besar.
Hal inilah yang memerlukan suatu inovasi IPTEK di bidang pertanian
dan perkebunan. Salah satu inovasi tersebut dapat kita adopsi dari Negara
Jepang. Dengan lahan yang begitu sempit Jepang mampu memenuhi
kebutuhan pangan penduduknya dengan teknologi yang mereka miliki yaitu
teknik bercocok tanam dengan hidroponik. Dengan diterapkannya hidroponik
di Indonesia diharapkan mampu mengatasi kekurangan lahan dan hasil
produksi pangan. Atas dasar tersebut penulis merasa tertarik untuk mengkaji
dan mengetahui lebih dalam mengenai hidroponik serta segala sesuatu yang
berkaitan dengan hidroponik tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis angkat, yaitu:
1. Apakah pengertian dari hidroponik?
2. Apakah keuntungan dari teknik bercocok tanam secara hidroponik?
3. Bagaimanakan susunan nutrisi yang perlu disiapkan dalam bertanam
dengan teknik hidroponik?
4. Apa sajakah jenis tanaman yang dapat ditanam secara hidroponik?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dari hidroponik.
2. Untuk mengetahui keuntungan dari teknik bercocok tanam secara
hidroponik.
3. Untuk mengetahui susunan nutrisi yang perlu disiapkan dalam bertanam
dengan teknik hidroponik.
4. Untuk mengetahui jenis tanaman yang dapat ditanam secara hidroponik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hidroponik
Definisi hidroponik berasal dari kata Yunani, yaitu hydro yang berarti
air dan ponos yang berarti mengerjakan, sehingga hidroponik diartikan
sebagai pengerjaan air. Hal ini karena pada mulanya orang melakukan
penanaman pada air. Meskipun ada yang mengartikan langkah tersebut
sebagai aquaculture. Seiring dengan perkembangan metode penanaman yang
menggunakan berbagai jenis media maka istilah itu juga berkembang, yang
pada dasarnya adalah budidaya tanpa tanah.
Pada zaman dahulu hidroponik dikenal dengan istilah bercocok
tanam dalam air, yang masih terbatas hanya menggunakan air dan lokasinya
di laboratorium, sekedar bahan uji coba saja (aquaculture). Kenyataannya
dalam laboratorium fisiologi tumbuhan, kita berhasil menumbuhkan tanaman
dalam pot dan gelas berisi air dengan baik asal air itu diberi unsur makanan
yang cukup atau sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut. Dalam
perkembangan selanjutnya hidroponik kemudian mengalami perubahan,
sehingga jauh berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang Elemen yang
digunakan untuk menumbuhkan tetap sama seperti nutrisi/ vitamin. Hanya
dengan menggunakan hydroponic bisa lebih eficient karena nutrient bisa

langsung menerima nutrient itu sehingga energy tumbuhan tidak perlu


digunakan untuk mencari nutrient tersebut. Itulah kenapa hasil dari
hydroponic lebih cepat besar dan berbuah lebih banyak dibandingkan
menanam di tanah
Cara penanaman di atas air belakangan ini malah sudah banyak
ditinggalkan dan diganti dengan cara penanaman diatas media lain yang lebih
praktis, mudah didapat dan dilakukan. Ketika ahli patologis tanaman
menggunakan nutrien khusus untuk media tanaman muncullah istilah nutri
culture. Setelah itu bermuncullan istilah water culture, solution culture, dan
gravel bed culture untuk menyebut hasil percobaan tanpa menggunakan tanah
sebagai medianya. Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir. Istilah
ini diberikan untuk hasil dari DR. WF. Gericke, seorang agronomis dari
Universitas California, USA, berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang
penuh buah dan ditanam dalam bak yang berisi mineral hasil ujicobanya.
Sejak itu, hidroponik yang tersusun dari kata hydros (air) dan ponics
(bercocok tanam), digunakan untuk menyebutkan segala aktivitas bercocok
tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya.
Menurut Nicholls (1986), semua ini dimungkinkan dengan adanya
hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya. Elemen
dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan
makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga
dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini
semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan
zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu tanaman
dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat makanan.
Dalam perkembangannya sejak mulai populer 40 tahun yang lalu,
hidroponik telah banyak mengalami perubahan-perubahan. Media tanam yang
digunakan pun banyak yang dibuat secara khusus, demikian juga dengan
wadah yang digunakan. Seperti pot misalnya, ada yang sengaja menciptakan
pot khusus lengkap dengan alat perunjuk kebutuhan air, dan sebagainaya.
Media tanam yang digunakan pun ada pula yang sengaja dibuat khusus

seperti kerikil sintetis (perlit). Jadi bukan kerikil sebagaimana kita kenal,
tetapi kerikil yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kerikil
dengan sifat yang sama.
2.2 Penanaman Tanaman Hydroponic
A. Metode penanaman tanaman hydroponic
1. Metode kultur air,
Yaitu metode yang menggunakan air sebagai media tanam. Air
sebagai media tanam diisikan dalam wadah seperti stoples atau tabung
kaca atau wadah lain.
2. Metode kultur pasir,
Merupakan metode yang paling praktis dan lebih mudah
diterapkan. Pasir yang digunakan sebagai media tanam bisa digunakan
pasir kali. Sejak kurang lebih 30 tahun lalu, pasir merupakan pilihan
medium yang banyak dipakai dalam tata cara hidroponik. Selain
sifatnya

steril

(bukan

steril

seratus

persen),

juga

dapat

mempertahankan kelembaban lebih lama dibandingkan dengan


medium lain dan dapat digunakan dengan hasil yang sama baiknya
pada skala besar dan skala kecil (Agus Irawan: hal.33, 2003). Tetapi
tidak semua pasir memiliki sifat yang sama. Sementara itu, sejumlah
ahli beranggapan bahwa medium pasir memiliki kecenderungan terlalu
basah, sehingga agak memboroskan zat makanan. Anggapan yang
sebenarnya tidak bisa dipastikan.
3. Metode kultur bahan porous
Seperti; kerikil, pecahan genteng, gabus putih, termasuk
kerikil.
4. Hidroponik substrat
Tidak menggunakan air sebagai media padat (bukan tanah)
yang dapat menyerap atau menyediakan nutrisi, air dan oksigen serta
mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi tanah.
5. Hidroponik NFT (Nutrien Film Technique)

Model budi daya dengan meletakkan akar tanaman pada


lapisan air yang dangkal. Air tersebut tersirkulasi dan mengandung
nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran dapat berkembang di
dalam larutan nutrisi, karena di sekeliling perakaran terdapat selapis
larutan nutrisi.
6. Metode kerikil
Penggunaan bahan-bahan ini umumnya memiliki kelemahan
pada kemampuan untuk mempertahankan kelembaban sehingga
kondisi medium lebih cepat kering. Akan tetapi penggunaan bahanbahan ini banyak disukai oleh pengelola hidroponik perumahan karena
selain

mudah

didapat

dengan

harga

murah,

juga

dapat

mempertahankan kebersihan dan tidak mudah terlalu basah.


7. Auto pot
Pada dasarnya adalah sebuah pot yang memiliki sistem untuk
mengairi tanaman, biasnya berbentuk pot biasa yang memiliki
mekanisme untuk mengairi tanaman y ada di pot tersebut bisa juga
dengan cara polybag yang diberi arang sekam, kemudian di airi dengan
menggunakan drip irrigation (emmitter hose) yang kita bahas kemarin
Emmitter hose ini di airi nutrient yang sudah disiapkan dan di teteskan
ke polybag. ( mungkin rekan dari Info bunga bisa menceritakan lebih
lanjut)
8. Flood and drain
Adalah teknik yang memompa air kedalam pot untuk apada
waktu tertentu yang kemudian air tersebut akan kembali ke tangki
untuk di pompakan lagi ( skema bisa dilihat di gambar)
9. Aeroponic,
Adalah teknik dimana akar tumbuhan tersebut di semprot
nutrient dalam bentuk kabut
10. Teknik Larutan Statis
Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke15 olehbangsa Aztec. Dalam teknik ini, tanaman disemai pada media

tertentu bisa berupaember plastik, baskom, bak semen, atau tangki.


Larutan biasanya dialirkansecara pelan-pelan atau tidak perlu
dialirkan. Jika tidak dialirkan, maka ketinggian larutan dijaga serendah
mungkin sehingga akar tanaman berada di ataslarutan, dan dengan
demikian tanaman akan cukup memperoleh oksigen. Terdapatlubang
untuk setiap tanaman. Tempat bak bisa disesuaikan dengan
pertumbuhantanaman. Bak yang tembus pandang bisa ditutup dengan
aluminium foil, kertaspembungkus makanan, plastik hitam atau bahan
lainnya untuk menghindari cahayasehingga dapat menghindari
tumbuhnya lumur di dalam bak. Untuk menghasilkangelembung
oksigen dalam larutan, bisa menggunakan pompa akuarium. Larutan
bisadiganti secara teratur, misalnya setiap minggu, atau apabila larutan
turun dibawah ketinggian tertentu bisa diisi kembali dengan air atau
larutanbernurtrisi yang baru.
11. Teknik Larutan Alir
Ini adalah suatu cara bertanam hidroponik yang dilakukan
dengan mengalirkanterus menerus larutan nutrisi dari tangki besar
melewati akar tanaman. Teknikini lebih mudah untuk pengaturan
karena suhu dan larutan bernutrisi dapatdiatur dari tangki besar yang
bisa dipakai untuk ribuan tanaman. Salah satuteknik yang banyak
dipakai dalam cara Teknik Larutan Alir ini adalah teknik lapisan nutrisi
(nutrient film technique) atau dikenal sebagai NFT, teknik ini
menggunakan parit buatan yang terbuat dari lempengan logam tipis
anti karat, dan tanaman disemai di parit tersebut. Di sekitar saluran
parit tersebut dialirkan air mineral bernutrisi sehingga sekitar tanaman
akan terbentuk lapisan tipis yang dipakai sebagai makanan tanaman.
Parit dibuat dengan aliran air yang sangat tipis lapisannya sehingga
cukup melewati akar dan menimbulkan lapisan nutrisi disekitar akar
dan terdapat oksigen yang cukup untuk tanaman.
B. Beberapa faktor yang harus diperhatikan

Larutan Nutrisi, harus memperhatikan jumlah dan unsur pH yang


sesuai. UnsurpH berkisar 5,5 hingga 7,5. Larutan nutrisi ini mengandung
konsentrasi N, P, K,Ca, Mg, S, dalam jumlah yang besar, sedangkan unsur
Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, danCl dalam jumlah yang kecil. Larutan hara
dibuat dengan cara melarutkan garam-garampupuk dalam air. Berbagai
garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara,pilihan biasanya
atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut. Larutan Nutrisi, harus
memperhatikan jumlah dan unsur pH yang sesuai. UnsurpH berkisar 5,5
hingga 7,5. Larutan nutrisi ini mengandung konsentrasi N, P, K,Ca, Mg, S,
dalam jumlah yang besar, sedangkan unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, danCl
dalam jumlah yang kecil. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan
garam-garampupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat
digunakan untuk larutan hara,pilihan biasanya atas harga dan kelarutan
garam pupuk tersebut. Oksigen, memegang peranan penting dalam
hidroponik. Kekurangan oksigen akanmenyebabkan dinding sel sulit untuk
ditembus, sehingga tanaman akan kekuranganair. Dengan demikian
tanaman akan cepat layu karena larutan tidak mengandungoksigen.
Pemberian oksigen ke dalam larutan dapat melalui gelembung udaraseperti
pompa air gelembung yang dipakai akuarium, penggantian larutan
nutrisisecara rutin, membersihkan atau mencabut akar tanaman yang
terlalu panjang, danmemberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman.
C. Susunan Nutrisi yang Diperlukan dalam Teknik Hidroponik
Tidak menjadi masalah jenis metode hidroponik yang bagaimana
yang akan diterapkan.. Yang penting dipahami ialah bahwa semua tanaman
yang ditumbuhkan dengan metode hidroponik harus diberi makanan
berupa campuran garam-garam mineral yang dilarutkan dan diberikan
secara teratur. Dalam sistem hidroponik maka media tanam yang
digunakan tidak berfungsi sebagai tanah. Media tanam hanya berfungsi
untuk menopang tanaman dan menjaga kelembaban tanaman. Oleh karena
itu, media tanaman yang digunakan harus berasal dari bahan yang porous
dan steril. Pemberian pupuk dilakukan dengan melarutkan pupuk dengan

konsentrasi tertentu yang kemudian disiramkan ke dalam tanaman


hidroponik.
2.3 Manfaat Penanaman tanaman hydroponic
Ada beberapa alasan yang menarik untuk berhidroponik. Alasan
utama adalah kebersihan tanaman begitu terjamin sehingga bisa dilakukan di
kamar tidur sekalipun. Hidroponik hampir dapat dilakukan pada semua
tanaman, hasilnya sudah teruji lebih melimpah dibanding bercocok tanam di
lahan atau di sawah. Tetapi keuntungan yang lebih penting lagi adalah bahwa
dengan cara hidroponik maka kita dapat memelihara tanaman lebih banyak
dalam ruang yang lebih sempit daripada bercocok tanam tradisional, karena
pot-pot atau kantong plastik yang digunakan dapat diatur dengan lebih
mudah.
Dapat dilihat keuntungan dari bercocok tanam tanpa tanah adalah
sebagai berikut :
a. Produksi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan media
tanam tanah biasa.
b. Lebih terjamin kebebasan tanaman dari hama dan penyakit.
c. Tanaman tumbuh lebih cepat dan pemakaian air dan pupuk lebih hemat.
d. Bila ada tanaman yang mati, bisa diganti dengan tanaman baru dengan
mudah.
e. Tanaman akan memberikan hasil yang kontinu.
f. Metode kerja yang sudah distandarisasi, lebih memudahkan pekerjaan dan
tidak membutuhkan tenaga kasar.
g. Kualitas daun, buah atau bunga yang lebih sempurna dan tidak kotor.
h. Beberapa jenis tanaman malah bisa ditanam di luar musimnya dan hal ini
menyebabkan harganya lebih mahal di pasaran.
i. Tanaman dapat tumbuh di tempat yang semestinya tidak cocok bagi
tanaman yang bersangkutan.
j. Tidak ada resiko kebanjiran, erosi, kekeringan ataupun ketergantungan
lainnya terhadap kondisi alam setempat.
k. Efisiensi kerja kebun hidroponik menyebabkan perawatannya tak banyak
memakan biaya dan tak banyak memerlukan peralatan.
l. Keterbatasan ruang dan tempat bukan halangan untuk berhidroponik.
Sehingga untuk pekarangan terbatas juga bisa diterapkan hidroponik. Bila
perlu di dapur dan ruang tamu juga bisa digunakan untuk berhidroponik.

m. Harga jual produk hidroponik lebih tinggi dari produk non-hidroponik.


Dapat disimpulkan bahwa metode bercocok tanam tanpa tanah memberi
keuntungan yang besar sekali terutama bagi penduduk kota yang tidak
mempunyai lahan untuk bercocok tanam, daerah gersang dan sulit air,
atau gedung-gedung pencakar langit sebagai tempat menanam tanaman
hias berbagai jenis. Cara ini memberi kemungkinan tambahan untuk
menghijaukan lingkungan pada tempat yang tak mungkin lagi untuk
menanam tanaman pada tanah.
2.4 Jenis Tanaman Hidroponik
Adapun jenis- jenis tanaman hidroponik, antara lain:
1. Bunga-bungaaan:
a. Hibiscus rosa-sinensis
Tanaman ini lebih dikenal dengan sebutan Kembang Sepatu
atau Kembang Wera, yang berasal dari familia Malvaceae. Tanaman ini
berasal dari Asia, sangat digemari orang karena bunganya yang
bertangkai panjang menjurai dengan lima helai mahkota, yang tersusun
membentuk terompet. Umumnya bunga berwarna merah, dengan
nuansa lebih tua di bagian pangkalnya. Tetapi dapat juga bermacammacam warnanya. Varietas yang merah dikenal sebagai Hibiscus
rosasinensis varietas Liliiflorus. Tetapi dewasa ini muncul varietasvarietas lain dengan warna bunga jingga, kuning, putih dengan ukuran
yang bermacam-macam. Disebut rosa-sinensis (mawar dari Cina),
kerana bentuk bunganya memang mirip dengan bunga mawar, tetapi
bukan. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan di Cina, lalu dibawa
orang ke Eropa dan disilangkan dengan bunga jenis lain. Sebagai
tanaman hidroponik, Kembang Sepatu memerlukan cahaya matahari
penuh, tetapi tidak tahan terhadap kekeringan. Jika kondisi tumbuhnya
kering, bunga mudah diserang kutu daun yang merusak kuncup bunga
yang mengakibatkan tejadinya cacat setelah berkembang.
b. Gardenia augusta
Tanaman ini berasal dari familia Rubiaceae, yang terkenal
sebagai Kacapiring (Jempiring) yang berasal dari Cina dan Jepang

sehingga dikenal dengan nama Bunga Cina. Tanaman ini digemari


orang sebagai tanaman penghias kebun perkarangan, karena berbentuk
perdu yang tingginya mencapai sekitar 3 meter. Apabila tanaman ini
dihidroponikkan, tanaman akan tetap kerdil dengan bagus di dalam
ruangan kantor atau tempat rapat. Warna bunga Kacapiring putih dan
berbentuk seperti mawar dan akan selalu muncul pada ujung ranting.
Ada dua jenis tanaman Kacapiring yaitu, berbunga tunggal dan
berbunga dobel penuh. Kacapiring berbunga tunggal hanya dapat
tumbuh baik dan membentuk bunga yang besar di daerah pegunungan
(400 meter dari permukaan laut). Jika ditanam pada dataran rendah
yang panas, bunganya akan kecil. Sedangkan Kacapiring berbunga
dobel penuh dapat tumbuh dengan bagus pada daerah dataran rendah.
Sebagai tanaman hidroponik, bau bunganya kurang menyolok jika
dibandingkan dengan Gardenia yang ditanam dikebun. Tanaman ini
dapat diperbanyak dengan stek batang.
c. Begonia glabra
Tanaman Begonia Semak berasal dari familia Begoniaceae
yang berasal dari Peru namun di Jawa Barat disebut Bihun. Tanaman
ini biasanya ditanam di dalam pot karena permukaan daunnya yang
berbentuk jantung, tidak simetris dan berwarna hijau. Namun pada
bagian pangkalnya berwarna putih perak. Begonia terdiri dari tiga
kelompok

tanaman,

namun

tidak

semuanya

cocok

untuk

dihidroponikkan. Kelompok Begonia Kembang seperti Begonia elatior


(nama umum), berbunga semusim dan sulit dipelihara dalam pot
hidroponik. Kelompok Begonia Semak mudah hidup dan mudah
berbunga. Bahkan pada usia muda sesudah disemaikan sebagai stek
daun sering berbunga. Salah satu hibrida Begonia Semak yang berhasil
dihidroponikkan di Jerman ialah Hibrida Kleopatra dari Begonia
ricinifolia. Kelompok Begonia Daun dapat dipelihara dalam media
tanam hidroponik. Jenis kelompok ini yang terkenal ialah Begonia rex,
yang daunnya berwarna tiga macam. Tanaman Begonia Semak dan
Begonia Daun akan cepat tumbuh apabila dipelihara di dalam rumah

yang teduh. Tanaman ini cocok ditanam di daerah pegunungan dengan


ketinggian 500 meter diatas permukaan laut. Tanaman ini diperbanyak
dengan stek daun dan dapat berbunga sepanjang tahun.
2. Semak Hiasan
a. Caladium bicolor
Tanaman ini lebih dilenal dengan daun keladi dari familia
Araceae (seperti talas-talasan dan bunga bangkai). Tanaman ini berasal
dari Amerika Selatan yang memiliki bentuk daun jantung bulat telur,
atau panah segitiga berwarna putih dengan urat-urat hijau, oleh karena
itu disebut bicolor. Jenis Caladium yang berwarna putih dan hijau
dikenal sebagai Caladium bicolor candidum sedangkan yang berwarna
hijau tepiannya dengan warna merah jingga bertaburan putih
ditengahnya dikenal sebagai Caladium bicolor Mrs. Halderman.
Dan daunnya yang berwarna hijau ditepian dengan urat berwarna
merah jambu ditengah disebut Caladium bicolor rosebud. Tanaman
ini dapat ditanam di pekarangan atau di dalam box dan dapat dipelihara
baik di dataran rendah maupun di pegunungan. Pembiakan tanaman ini
melalui umbi.
b. Coleus blumei
Tanaman ini sejenis dengan tanaman Jawer Kotok atau Iler,
dari familia Labiatae. Tanaman ini dianggap berasal dari Jawa.
Tanaman ini memiliki keindahan daun yang berwarna merah anggur
dengan bagian tengah merah jambu diselingi warna hijau. Sebagai
tanaman hidroponik Coleus blumei tumbuh bagus dengan pengairan
yang cukup dan menerima cahaya matahari terang secara langsung.
Cra pembiakan tanaman ini dengan stek pucuk batang.
c. Iresine herbstii
Tanaman Brasilia dari familia Amaranthaceae yang terkenal
sebagai Byam Merah karena warna daunnya merah tetapi diantaranya
juga terdapat warna hijau muda dengan urat daun kuning. Sebagai
tanaman hidroponik memerlukan lingkungan dengan intensitas cahaya
matahari penuh.

3. Perdu dan Pohon Hiasan


a. Chrysalidocarpus lutescens
Pohon palem berbatang satu ini biasanya disebut Areca palem
karena mirip dengan pohon pinang Areca catechu namun hal tersebut
merupakan kesalahan karena lebih mirip Chamaedorea elegans.
Sebagai tanaman hidroponik, tanaman ini tahan dipelihara dalam
ruangan dengan suasana sedang.
b. Cocos nucifera
Pohon kelapa yang dapat dipelihara dalam pot hidroponik ialah
varietas pendek seperti Kelapa Gading (Cocos nucifera varietas
eburnea). Sebagai tanaman hidroponik kelapa gading memerlukan
cahaya terang dan penyiraman sedang.
c. Ficus benyamina
Pohon Beringin familia Moraceae berasal dari Indonesia.
Sebagai tanaman pot, tanaman ini dapt dikerdilkan, dan memerlukan
cahaya terang serta matahari penuh. Selain itu juga dibutuhkan
penyiraman yang teratur.
4. Sayur dan Buah
a. Brokoli
Sayuran sejenis kubis (Brasica oleracea varietas botrytis) dari
familia Cruciferae yang berasal dari daerah laut tengah. Cara
penamanmanya seperti bunga kol, desemaikan dahulu bijinya,
kemudian bibitnya dipindahkan ke pot hidroponik. Tanaman ini sangat
peka terhadap udara panas dan harus di panen sewaktu kepala
bunganya masih kompak.
b. Tomat
Solanum lycopersicum dari familia solanaceae ditanam pada
lahan yang memiliki udara sejuk dilingkungan yang kering, artinya
tanaman ini tidak tahan panas dan hujan. Baik bibit berupa tanaman
kecil maupun biji yang harus disemaikan sesuai petunjuk pada
pembungkusnya, hanya bagus ditanam pada pot hidroponik jika

tanaman sudah tinggi 6-10 cm. Setelah tanaman tumbuh diberikan


tiang rambatan yang berupa pipa atau tali plastik.
c. Terong
Solanum

melongena

ditanam

secara

hidroponik

untuk

mempercepat waktu panen di luar musim tanamnya. Biji terong


disemaikan dulu di pot persemaian lalu sesudah cukup kuat dipindahka
kedalam pot hidroponik di bawah atap peneduh.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun simpulan yang diperoleh dari pembahasna di atas adalah
Hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara
bercocok tananm tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam
tanaman, Lebih terjamin kebebasan tanaman dari hama dan penyakit,
tanaman tumbuh lebih cepat dan pemakaian pupuk lebih hemat, bila ada
tanaman yang mati, bisa diganti dengan tanaman baru dengan mudah,
tanaman akan memberikan hasil yang kontinu,dll. Keuntungan dari bercocok
tanam secara hidroponik adalah produksi tanaman lebih tinggi, lebih terjamin
kebebasan tanaman dari hama dan penyakit, tanaman tumbuh lebih cepat dan
pemakaian pupuk lebih hemat, bila ada tanaman yang mati, bisa diganti
dengan tanaman baru dengan mudah, tanaman akan memberikan hasil yang
kontinu,dll.
Jenis tanaman yang dapat ditanam secara hidroponik antara lain
bunga- bungaan, semak hiasan, perdu dan pohon hiasan, sayur dan buahbuahan. Susunan nutrisi untuk tanaman hidroponik disesuaikan dengan jenis
tanaman serta keperluan masing-masing tanaman akan unsur hara. Formula
pupuk dapat dikreasikan sendiri oleh tiap orang atau pengembang untuk
memperoleh hasil yang optimal.
3.2 Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis berikan kepada pembaca
setelah membaca makalah ini adalah, pembaca diharapkan untuk dapat
mengembangkan teknik bertanam hidroponik secara maksimal. Hal tersebut
diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi pangan terutama jenis-jenis
tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi walaupun dengan
keadaan lahan yang minim.

DAFTAR PUSTAKA
http://222.124.222.229/bitstream/handle/123456789/6052/RISPA
%20JURNAL.pdf?sequence=1 (diakses 8 September 2015, pukul 09.30
wib)
Ari Wijayani dan Wahyu Widodo. Usaha Meningkatkan Kualitas Beberapa Varietas
Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Ilmu Pertanian Vol. 12 No.1,

2005 : 77 83. (diakses 8 September 2015, pukul 08.20 wib)


http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196709191991032
DIANA_ROCHNTANIAWATI/BIOLOGY_TERAPAN/HIDROPONIK_
SEDERHANA.pdf (diakses 8 September 2015, pukul 07.40 wib)