Anda di halaman 1dari 6

Peran Makronutrien pada Pertumbuhan Manusia

Magdalena/102013248
Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731
Pendahuluan
Asupan karbohidrat, lemak, dan protein menyediakan energi yang dapat digunakan
untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh atau disimpan untuk penggunaan selanjutnya.
Kestabilan berat badan dan komposisinya selama waktu yang lama membutuhkan
keseimbangan masukan energi dan pengeluarannya. Bila seseorang makan berlebihan dan
masukan energi melebihi pengeluarannya, kebanyakan energi berlebih tersebut akan
disimpan sebagai lemak, dan berat badan akan meningkat; sebaliknya, kehilangan masa tubuh
dan kelaparan terjadi bila masukan energi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh. Kekurangan gizi pada fase pertumbuhan akan menghasilkan manusia
dewasa dengan sifat sifat berkualitas inferior.1
Zat makanan atau zat gizi atau lebih sering disebut nutrient merupakan satuan yang
menyusun bahan makanan yang telah dihidangkan. Zat makanan bahan dasar menurut ilmu
gizi atau nutrient yang kita kenal ialah; karbohidrat atau hidrat arang, protein atau zat putih
telur, lemak atau lipid, vitamin vitamin dan mineral.1

Pembahasan
Karbohidrat
Karbohidrat terdiri atas unsur unsur carbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O),
yang pada umumnya mempunyai rumus kimia Cn(H 2O)n. Rumus umum ini memberi kesan
zat karbon yang diikat dengan air (dihidrasi), sehingga diberi nama karbohidrat. Dari sudut
fungsi, karbohidrat adalah penghasil utama energi dalam makanan maupun di dalam tubuh.
Karbohidrat yang terasa manis, biasa disebut gula (sakar). Molekul dasar dari karbohidrat
disebut monosakarida atau monosa. Dua monosa dapat saling terikat, membentuk disakarida
atau diosa, dan tiga monosakarida yang saling terikat diberi nama trisakarida atau triosa.
Ikatan lebih dari tiga monosakarida disebut polisakarida atau poliosa. Polisakarida yang
mengandung jumlah monosakarida yang tidak begitu banyak, disebut oligosakarida.1

Jenis Jenis Karbohidrat


Karbohidrat yang terdapat di dalam makanan pada umumnya hanya tiga jenis, ialah
monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Mono dan disakarida terasa manis, sedangkan
polisakarida tidak mempunyai rasa (tawar). Di dalam bahan makanan nabati terdapat dua
jenis polisakarida, yaitu yang dapat dicerna dan yang tidak dapat dicerna. Yang dapat dicerna
ialah zat tepung (amilum) dan dekstrin. Yang tidak dapat dicerna ialah selulosa, pentosan dan
galaktan. Polisakarida di dalam bahan makanan hewani dapat dicerna dan disebut glikogen.
Tidak ada polisakarida hewani yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia. Disakarida di
dalam bahan makanan juga hanya ada tiga jenis yang mempunyai arti giz, yaitu sukrosa,

maltosa dan laktosa. Laktosa hanya dijumpai pada hewani, yaitu merupakan jenis gula di
dalam air susu, baik susu ibu, maupun susu hewan. Sukrosa dan maltosa terutama terdapat di
dalam bahan makanan nabati. Akhirnya monosakarida di dalam bahan makanan juga hanya
ada tiga jenis yang mempunyai arti gizi, yaitu glukosa, fruktosa dan galaktosa. Galaktosa
merupakan komponen yang karakteristik bagi gula hewani pada laktosa, yang terdapat di
dalam air susu. Di dalam polisakarida, satuan dasarnya ialah glukosa. Kalau polisakarida
dihidrolisa total, akan terurai menjadi molekul molekul glukosa. Monosakarida di dalam
bahan makanan mungkin mengandung lima buah atom karbon disebut pentos, dan mungkin
pula mengandung enam karbon disebut heksosa. Di dalam tubuh, ada pula monosa yang
mengandung tiga atom karbon, disebut triosa, dan bahkan ada yang mengandung tujuh buah
karbon, disebut heptulosa. Monosa makanan yang dapat dicerna oleh tubuh, hanya heksosa,
sedangkan polisakarida yang terdiri atas molekul molekul pentosa tidak dapat dicerna di
dalam saluran gastrointestinal, sehingga tidak dapat diserap melalui mukosa usus, dan
diekskresikan di dalam tinja. Namun demikian, ada molekul pentosa di dalam jaringan tubuh,
sebagai hasil metabolisme.1

Protein
Protein merupakan zat gizi yang sangat penting, karena yang paling erat hubungannya
dengan proses proses kehidupan. Di dalam sel, protein terdapat sebagai protein struktural
maupun sebagai protein metabolik. Protein struktural merupakan bagian integral dari struktur
sel dan tidak dapat diekstraksi tanpa menyebabkan disintegrasi sel tersebut. Protein metabolik
ikut serta dalam reaksi reaksi biokimia dan mengalami perubahan bahkan mungkin
destruksi atau sintesis protein baru. Protein metabolik dapat diekstraksikan tanpa merusak
integritas struktur sel itu sendiri. Kalau protein dihidrolisis total, akan dihasilkan dua puluh
sampai dua puluh empat jenis asam amino, tergantung dari cara menghidrolisisnya. 1

Asam Amino
Dari dua puluh sampai dua puluh empat jenis asam aminoyang dihasilkan dalam
hidrolisis total suatu protein, ada yang dapat disintesis di dalam tubuh, tetapi ada pula yang
tidak. asam amino yang tidak dapat disintesis harus tersedia dalam makanan yang
dikonsumsi, jadi merupakan bagian yang esensial dari makanan. Karena itu, asam amino
yang tidak dapat disintesis oleh tubuh, disebut asam amino esensial, sedangkan yang lainnya
disebut asam amino non esensial. Telah diteliti oleh para ahli bahwa untuk orang dewasa
terdapat delapan jenis asam amino esensial, yaitu lisin, metionin, valin, leusin, isoleusin,
triptofan, fenilalanin, threonin. Sedangkan untuk anak anak yang sedang tumbuh,
ditambahkan dua jenis lagi, yaitu histidin dan arginin. Tubuh mensintesis suatu protein
tertentu bila semua asam amino yang diperlukan untuk struktur protein tersebut tersedia
lengkap dalam jumlah masing masing yang cukup. Bila ada yang kurang tetapi dari jenis
non esensial, maka asam amino ini akan disintesis lebih dahulu agar menjadi lengkap dan
baru protein itu dapat disusun. Tetapi bila yang tidak ada itu asam amino esensial, maka
tubuh tidak dapat mensistesisnya dan protein tersebut tidak dapat disusun. Dapat atau
tidaknya dibuat suatu protein tubuh, tergantung dari ada tidaknya semua asam amino esensial
secara lengkap dan dalam jumlah yang dibutuhkan masing masing.1

Jenis Jenis Protein


Klasifikasi protein dapat dilakukan berdasarkan berbagai cara. Berdasarkan
komponen komponen penyusunnya, dibagi menjadi simple protein, complex protein, dan
derivative protein. Simple protein hasil hidrolisisnya merupakan campuran yang hanya terdiri
atas asam asam amino. Sedangkan complex protein, hasil hidrolisisnya selain terdiri atas
berbagai jenis asam amino, juga terdapat komponen lain, misalnya; unsur logam, gugusan
phosphat, dan sebagainya (contoh: hemoglobin, lipoprotein, glikoprotein, dan sebagainya).
Serta derivative protein merupakan ikatan antara sebagai hasil hidrolisis parsial dari protein
native, misalnya albumin, pepton, dan sebagainya. Berdasarkan sumbernya, protein hewani
dan protein nabati. Protein hewani yaitu protein dalam bahan makanan yang berasal dari
binatang, seperti protein dari daging, protein susu, dan sebagainya. Sedangkan protein nabati
ialah protein yang berasal dari bahan makanan tumbuhan, seperti protein dari jagung (zein),
dari terigu, dan sebagainya.1
Klasifikasi protein dapat pula dilakukan berdasarkan fungsi fisiologiknya,
berhubungan dengan daya dukungnya bagi pertumbuhan badan dan bagi pemeliharaan
jaringan, yaitu; protein sempurna, protein setengah sempurna, dan protein tidak sempurna.
Protein sempurna merupakan protein yang sanggup mendukung pertumbuhan badan dan
pemeliharaan jaringan. Protein setengah sempurna merupakan protein yang sanggup
mendukung pemeliharaan jaringan, tetapi tidak dapat mendukung pertumbuhan badan.
Protein tidak sempurna merupakan protein yang sama sekali tidak sanggup menyokong
pertumbuhan badan, maupun pemeliharaan jaringan.1

Lemak
Lemak adalah sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsur unsur carbon (C),
hidrogen (H), dan oksigen (O), yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat zat pelarut
tertentu (zat pelarut lemak). Lemak yan mempunyai titik lebur tinggi bersifat padat pada suhu
kamar, sedangkan yang mempunyai titik lebur rendah, bersifat cair. Lemak yang padat pada
suhu kamar disebut lemak (gaji), sedangkan yang cair pada suhu kamar disebut minyak.1

Klasifikasi Lipid
Berbagai kelas lipid dihubungkan satu sama lain berdasarkan komponen dasarnya,
sumber penghasilnya, kandungan asam lemaknya, maupun sifat-sifat kimianya. Kebanyakan
lipid ditemukan dalam kombinasi dengan senyawa sederhana lainnya (seperti ester lilin,
trigliserida, steril ester dan fosfolipid), kombinasi dengan karbohidrat (glikolipid), kombinasi
dengan protein (lipoprotein). Berdasarkan komponen dasarnya, lipid terbagi ke dalam lipid
sederhana (simple lipid), lipid majemuk (compound lipid), dan lipid turunan (precursor and
derived lipid). Berdasarkan sumbernya, lipid dikelompokkan sebagai lemak hewan (animal
fat), lemak susu (milk fat), minyak ikan (fish oil), dan lain lain. Klasifikasi lipid ke dalam
lipid majemuk karena lipid tersebut mengandung asam lemak yang dapat disabunkan,
sedangkan lipid sederhana tidak mengandung asam lemak dan tidak dapat disabunkan.
Lipid seperti lilin (wax), lemak, minyak, dan fosfolipid adalah ester yang jika dihidrolisis
dapat menghasilkan asam lemak dan senyawa lainnya termasuk alkohol. Steroid tidak
mengandung asam lemak dan tidak dapat dihidolisis.3

Fungsi Lemak
Fungsi lemak umumnya yaitu sebagai sumber energi, bahan baku hormon, membantu
transport vitamin yang larut lemak, sebagai bahan insulasi terhadap perubahan suhu, serta
pelindung organ-organ tubuh bagian dalam. Kurangnya lemak dalam makanan juga akan
menyebabkan kulit menjadi kering dan bersisik. Dalam saluran pencernaan, lemak dan
minyak akan lebih lama berada di dalam lambung dibandingkan dengan karbohidrat dan
protein, demikian juga proses penyerapan lemak yang lebih lambat dibandingkan unsur
lainnya. Oleh karena itu, makanan yang mengandung lemak mampu memberikan rasa
kenyang yang lebih lama dibandingkan makanan yang kurang atau tidak mengandung lemak.
Fungsi lemak sebagai bahan baku hormon juga sangat berpengaruh terhadap proses fisiologis
di dalam tubuh, contohnya yaitu pembuatan hormon seks.3

Vitamin
Fungsi vitamin secara umum berhubungan erat dengan fungsi enzim, terutama
vitamin vitamin kelompok B. Enzim merupakan katalisator organik yang menjalankan dan
mengatur reaksi reaksi biokimiawi di dalam tubuh. Suatu enzim terdiri atas komponen
protein yang dihasilkan oleh sel dan disebut apoenzim. Apoenzim ketika disintesis tidak
mempunyai aktivitas; baru menjadi aktif bila berkonjugasi dengan komponen non protein
yang disebut ko-enzim. Ko-enzim inipun dibuat di dalam tubuh dan mengandung komponen
yang disebut vitamin. Susunan lengkap apoenzim dan ko-enzim disebut holoenzim dan
holoenzimlah yang mempunyai aktivitas sebagai biokatalisator. Di dalam sel apoenzim
terdapat sebagai butir yang mengisi suatu vakuole, dan disebut proenzim atau zymogen, yang
belum mempunyai aktivitas. Peranan hampir seluruh vitamin kelompok B telah diketahui
fungsinya di dalam ko-enzim. Tidak demikian halnya dengan vitamin vitamin yang larut
lemak. Meskipun gejala gejala sebagai akibat defisiensi vitamin telah diketahui, tetapi
peranannya yang jelas di dalam rantai reaksi biokimiawi di dalam proses metabolisme, belum
diketahui. Kekecualian adalah untuk vitamin D. Untuk vitamin ini telah jelas diketahui bahwa
vitamin D ini di dalam tubuh diubah menjadi hormon yang berpengaruh atas transpor zat
kapur (Ca).1

Mineral
Sekitar 4% tubuh kita terdiri atas mineral, yang dalam analisa bahan makanan
tertinggal sebagai kadar abu, yaitu sisa yang tertinggal bila suatu sampel bahan makanan
dibakar sempurna di dalam suatu tungku. Kadar abu ini menggambarkan banyaknya mineral
yang tidak terbakar menjadi zat yang dapat menguap. Mineral dibedakan dalam dua
kelompok besar (elemen, unsur) yang terdapat pada analisa tubuh kita, berdasarkan
jumlahnya, yaitu; makro elemen, mikro elemen dan trace elemen. Makro elemen, yang
terdapat dalam jumlah yang relatif besar, seperti K, Na, Ca, Mg, dan P, D serta Cl. Mikro
elemen, yang terdapat dalam jumlah yang relatif sedikit. Mikro elemen dapat dikelompokan
lagi menurut kegunaannya di dalam tubuh; mikro elemen esensial, yaitu yang betul betul
diperlukan oleh tubuh, jadi harus ada, seperti Fe, Cu, Co, Se, Zn, J, dan F. Kedua, mikro
elemen yang mungkin esensial, belum pasti betul diperlukan atau tidak di dalam struktur atau
fisiologi tubuh, seperti Cr, Mo. Serta Mikro elemen yang tidak diperlukan, atau non esensial.

Jenis ini terdapat di dalam tubuh karena terbawa tidak sengaja bersama bahan makanan, jadi
sebagai kontaminan, seperti Al, As, Ba, Bo, Pb, Cd, Ni, Si, Sr, Va, dan Br. Trace elemen yang
sebenarnya sudah termasuk kelompok mikro elemen, tetapi diperlukan dalam jumlah yang
lebih kecil lagi, seperti; Co, Cu dan Zn.1
Makro elemen berfungsi sebagai bahan dari zat yang aktif dalam metabolisme atau
sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Adapula yang memegang fungsinya di
dalam cairan tubuh, baik intraseluler maupun ekstraseluler. K, Na, S, dan Cl terutama
berfungsi dalam keseimbangan caitan dan elektrolit, sedangkan Ca, Mg, dan P terutama
terdapat sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Mikro elemen pada umumnya
berfungsi berhubungan dengan enzim, bahkan yodium merupakan bagian dari struktur suatu
hormon. Sejumlah besar enzim memerlukan mikro elemen dan trace elemen untuk dapat
berfungsi secara maksimal. Beberapa elemen bekerjasama erat sekali dalam melaksanakan
fungsinya, misalnya Na dan K, Ca dan P. Fungsi Na erat sekali dengan tekanan osmotik
cairan tubuh.1

Kesimpulan
Dengan demikian, kesimpulan yang dapat saya ambil ialah kekurangan gizi pada fase
pertumbuhan akan menghasilkan manusia dewasa dengan sifat sifat berkualitas inferior.
Zat makanan atau zat gizi atau lebih sering disebut nutrient merupakan satuan yang
menyusun bahan makanan yang telah dihidangkan. Zat makanan bahan dasar menurut ilmu
gizi atau nutrient yang kita kenal ialah; karbohidrat atau hidrat arang, protein atau zat putih
telur, lemak atau lipid, vitamin vitamin dan mineral.

Daftar Pustaka
1. Sediaoetama AD. Ilmu gizi. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat; 2008. h. 31-180.
2. Nio OK. Daftar analisis bahan makanan. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012.
3. Gibney MJ, Margets BM, Kearney JM, Arab L. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta:
EGC; 2005. h. 92.

4. Murray RK. Biokimia harper. Ed 25. Jakarta: EGC; 2005. h.151-241.


5. Ganong WF. Fisiologi kedokteran. Ed 22. Jakarta: EGC; 2005. h. 275-6.
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 6. Jakarta: EGC; 2011. h. 740-6.