Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

Trovafloksasin

Dessica Natalia Panjaitan


NIM. 141501134
2014

Trovafloksasin
Pembahasan
Antibiotik pertama (penisillin) ditemukan pada tahun 1928 oleh Alexander
Flemming,seorang ahli mikrobiologi dari Inggris. Tahun 1930-an,penisillin mulai diresepkan
untuk mengobati penyakit-penyakit infeksi. Sebelum antibiotik ditemukan,banyak infeksi
yang tidak bisa disembuhkan dan menyebabkan kematian. Namun sejak penisillin
ditemukan,jutaan penderita infeksi di seluruh dunia bisa diselamatkan nyawanya. Begitu
hebatnya antibiotik sehingga sejak tahun 1944-1972 rata-rata harapan hidup manusia
meningkat.
Antibiotik seperti yang kita ketahui saat ini ternyata berasal dari bakteri yang
dilemahkan,tidak ada yang menduga bahwa bakteri lemah mampu membunuh bakteri lain
yang berkembang dalam tubuh mahluk hidup. Antibiotik adalah segolongan senyawa baik
alami maupun sintetik,yang mempunyai efek menekan atau menghentikan proses biokimia
dalam organisme,khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
Ada banyak antibiotik yang telah ditemukan. Salah satu golongannya adalah golongan
kuinolon.Golongan kuinolon pada umumnya menghambat enzim DNA gyrase bakteri
sehingga menghambat sintesa DNA.
Pada saat perkembangbiakan kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi
dimana terjadi pemisahan double helliks dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA. Pemisahan
ini akan menyebabkan puntiran berlebihan pada double helix DNA sebelum titik pisah.
Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase.
Disinilah peranan antibiotik turunan kuinolon ini yaitu menghambat kerja enzim DNA gyrase.
Pada antibiotik yang resisten terjadi dikarenakan adanya mutasi oleh subunit DNA girase atau
topoisomerase IV.
Kuinolon generasi keempat pada umumnya digunakan untuk mengobati infeksi organ
seperti jalan pernafasan,ruang abdomen,kulit dan aringan lunak yang berat oleh kuman yang
sensitif,onfeksi urologis,gonore,infeksi dengan Klamidia dan Mikoplasma,tuberkulosis.
Karena efektifitasnya terhadap Helicobacter pylori, juga digunakan pada gastris kronis
atau Ulkus duodenum .
Semua turunan yang termasuk dalam senyawa ini memperlihatkan aktivitas yang
meningkat terhadap kuman Gram-positif,tetapi berkurang pada Pseudomonas. Juga beberapa

diantaranya kurang aman dibandingkan dengan siprofloksasin,misalnya trovafloksasin


(Trovan) telah ditarik dari peredaran di Amerika Serikat, Hal ini dikarenakan trovan dapat
mengakibatkan gangguan hati yang sangat parah,terutama bila digunakan lebih lama dari 2
minggu. Di Indonesia trovafloksasin masih beredar dan didistribusikan.
Pada tahun tahun terkahir senyawa kuinolon sangat berhasil dalam pengobatan oral
dari berbagai penyakit infeksi oleh kuman. Modifikasi selanjutnya pada strukutr kimia
menghasilkan

sederetan

kuinolon

baru

seperti

a.l.

gemifloksasin,grepafloksasin,levofloksasin,moksifloksasin,sparfloksasin dan trovafloksasin.


Pada kali ini akan dibahas secara khusus tentang trovafloksasin. Secara struktur kimia,trovan
memiliki struktur seperti berikut:

Trovafloksasin memiliki nama IUPAC 7-(6-Amino-3-azabicyclo[3.1.0]hex-3-yl)-1(2,4-difluorophenyl)-6-fluoro-4-oxo-[1,8] naphthyridine-3-carboxylic acid dan memiliki


gugus fungsi C20H15F3N4O3.
Trovafloksasin atau lebih dikenal dengan istilah trovan adalah antibiotik turunan
kuinolon generasi IV kelas kuinolon. Trovafloksasin memiliki ciri-ciri berspektrum luas
dimana dapat membunuh pertumbuhan bakteri gram positif dan negatif. Bekerja secara
spesifik melawan bakteri anaerob dan bakteri penyebab penyakit pernafasan.
Trovafloksasin diedarkan oleh perusahaan Pfizer. Ada sebuah tragedi dimana tahun
1996 terjadi wabah penyakit meningtis dan Pfizer melakukan uji coba trovafloksasin terhadap
200 anak. Tanpa diduga anak-anak tersebut menjadi cacat seumur hidup bahkan meninggal.

Seperti yang dikemukakan dalam jurnal Roles of gyrA Mutations in Resistance of


Clinical Isolates and In Vitro Mutants of Bacteroides fragilis to the New Fluoroquinolone
Trovafloxacin . Bakteri fragilis adalah bakteri anaerob yang menyerang manusia di bagian
perut. Bakteri ini sudah resisten terhadap turunan kuinolon yang dulu seperti ciprofloxacin
and ofloxacin. Sehingga diuji cobakan pada fluorokuinolon yang baru yaitu trovafloksasin dan
diperkirakan akan cukup aktif menghambat pertumbuhan bakteri secara in vitro.
Didalam jurnal ini dikatakan bahwa dilakukannya penelitian terhadap kepekaan
bakteri fragilis terhadap trovafloksasin. Uji coba ini dilakukan dengan 150 B.fragilis yang
diisolasikan dari sampel klinik di tahun 1995 dan 1999 dan b.fragilis ATCC 25285. Pada
penelitian didapatkan kesimpulan bahwa B.fragilis telah resisten terhadap antibiotik trovan.
Dan faktor utamanya adalah terjadi mutasi gen pada B.fragilis.
Di

jurnal

Efficacy

Experimental Staphylococcus

of

Trovafloxacin

aureusEndocarditis

dikatakan

against
turunan

terdahulu sebelum trovan telah resisten pada S.aureus sehingga menarik


perhatian para ahli mikrobiolog untuk mengetahui apakan antibiotik ini
juga resisten terhadap bakteri ini.Pada penelitian ini dilakukan percobaan
terhadap hewan yaitu kelinci. Dan hasil yang didapatkan bahwa bakteri
S.aureus tidak resisten terhadap antibiotik ini. Di banyak studi ditunjukkan
bahwa fluorokuinolon banyak dibandingkan keefektifitasannya dengan
menggunakan hewan yang terinfeksi bakteri S.aureus.
Dibandingkan dengan vankomisin yang dijadikan sebagai standar
pengobatan,trovafloksasin

lebih

efisien

dalam

membunuh

bakteri.

Ditemukan bahwa trovafloksasin efektif terhadap S.aureus. Hal ini


dibuktikan sedikitnya jumlah kandungan bakteri ini dalam kelinci tersebut
dibandingkan dengan antibiotik lain. Trovafloksasin bisa menjadi alternatif
dalam penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.
Ekskresi

dan

metabolisme

trovafloksasin

diselidiki

setelah

pemberian dosis oral tunggal trovafloksasin ke tikus jenis Sprague Dawley


dan anjing Beagle. Empedu adalah rute utama ekskresi pada tikus (59%
dari dosis). Trovafloksasin secara ekstensif dimetabolisme dalam spesies
ini, dan hanya 3% dari dosis diekskresikan tidak berubah. Glukuronidasi

dan asetilasi adalah jalur metabolisme utama yang terlibat dalam


penghapusan, dan tidak ada metabolit oksidatif yang terdeteksi pada
tikus. Pada anjing, 97,6 dan 2,7% dari dosis yang ditemukan di feses dan
urine, masing-masing, dalam 72 jam. Namun, penelitian ekskresi dalam
saluran empedu anjing mengungkapkan bahwa 28,2% dari radioaktivitas
itu pulih dalam empedu, sedangkan 45,6% adalah dalam urin. Hal ini
menunjukkan bahwa saluran empedu kanulasi telah mempengaruhi
disposisi trovafloksasin. Analisis empedu dan urin dari saluran empeducannulated anjing dengan LC / MS / MS menunjukkan bahwa glukuronidasi
adalah jalur metabolik utama pada anjing juga. Dua metabolit baru
diidentifikasi dalam empedu spesies ini. Satu dikonfirmasi sebagai analog
Pirolina

dari

trovafloksasin

diidentifikasi

sebagai

metabolisme

trovafloksasin

analog

dan
asam

dalam

yang

kedua

adalah

hidroksikarboksilat
saluran

sementara
Perbedaan

empedu-cannulated

dan

noncannulated diselidiki oleh perbandingan profil metabolit dalam urin dan


kotoran hewan-hewan ini. Meskipun metabolit dalam urin adalah serupa,
ekstrak

sampel

tinja

yang

diperoleh

dari

hewan

noncannulated

mengungkapkan adanya N-acetyltrovafloxacin .Inkubasi trovafloksasin


dengan isi cecal anjing dalam kondisi anaerob menyarankan keterlibatan
mikroflora usus dalam pembentukan metabolit ini. Metabolit M3 absen dari
ekstrak kotoran dari saluran empedu-cannulated anjing, menunjukkan
bahwa operasi telah mempengaruhi metabolisme trovafloksasin oleh
mikroflora usus.

Daftar Pustaka
Schmitz,Gery.,et al (2009). Farmakologi dan Toksikologi Ed.3.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Siswandono, Soekardjo,Bambang (1995). Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga Press
Stringer,Janet (2008).Konsep Dasar Farmakologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
NCBI (2004): Roles of gyrA Mutations in Resistance of Clinical Isolates and In Vitro Mutants
of Bacteroides fragilis to the New Fluoroquinolone Trovafloxacin .From:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC89971/
NCBI (1999): Efficacy of Trovafloxacin in Treatment of Experimental
Staphylococcal or Streptococcal Endocarditis. From:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC89024/
NCBI (1999): Methabolism Of Trovafloxacin. From:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8937858