Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU KESEHATAN OBSTETRIK DAN GENEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFERAT
JANUARI 2015

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MOLA HIDATIDOSA

DISUSUN OLEH :
Ruwaida Anis

C111 10 851

RESIDEN PEMBIMBING :
dr. Acholder TP Sirait
SUPERVISOR :
Dr.dr. Sharvianty Arifuddin, Sp OG (K)
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN OBSTETRIK DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Ruwaida Anis (C111 10 851)

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Universitas Hasanuddin

Judul Referat

: Mola Hidatidosa

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian ILMU
KESEHATAN

OBSTETRIK

DAN

GENIKOLOGI

Fakultas

Kedokteran

Universitas Hasanuddin.

Makassar, Januari 2015


Supervisor,

Pembimbing

(Dr.dr.Sharvianty Arifuddin,Sp OG (K))

( dr.Acholder TP Sirait )

Mengetahui,
KPM Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran UNHAS

(Dr.dr.Sharvianty Arifuddin,Sp OG (K))

SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFARAT


Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Ruwaida Anis (C111 10 851)

Fakultas

: Kedokteran Universitas Hasanuddin

Judul Referat

: Mola Hidatidosa

Benar telah membaca referat dengan judul Mola Hidatidosa pada:


Hari/tanggal

: Jumat/

Januari 2015

Tempat: Gedung Pinang, Lt 2 Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo


Minggu ke

Nilai

Dengan ini dibuat untuk digunakansebaik-baiknya dan sebagaimana mestinya.

Makassar, Januari 2015


Supervisor,

Pembimbing

(Dr.dr.Sharvianty Arifuddin,Sp OG (K))

( dr.Acholder TP Sirait )

Mengetahui,
KPM Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran UNHAS

(Dr.dr.Sharvianty Arifuddin,Sp OG (K))

DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan...........................................................................................................
2
Surat Keterangan Pembacaan Refarat.................................................................................
3
Daftar isi..............................................................................................................................
4
Bab I Pendahuluan...............................................................................................................
5
Bab II Pembahasan
I. Definisi.............................................................................................................................
6
II. Etiologi dan Faktor Risiko..............................................................................................
6
III. Tanda dan Gejala...........................................................................................................
6
IV. Klasifikasi......................................................................................................................
7
V. Diagnosis.........................................................................................................................
11
4

VI. Diagnosa Banding.........................................................................................................


14
VII. Penatalaksanaan...........................................................................................................
15
VIII. Follow up....................................................................................................................
16
IX. Komplikasi....................................................................................................................
17
X. Prognosis.........................................................................................................................
18
Bab III Kesimpulan.............................................................................................................
19
BAB I
PENDAHULUAN
Mola hidatidosa merupakan salah satu jenis penyakit trofoblas yang
bersifat jinak. Mola hidatidosa juga disebut hamil anggur karena pada kehamilan
ini terdapat vesikel multipel yang mirip seperti anggur di dalam uterus serta
biasanya tidak ada fetus di dalamnya. Jenis mola hidatidosa ini disebut mola
hidatidosa komplit sedangkan disebut mola hidatidosa parsial apabila terdapat
fetus di dalamnya. 1,2
Angka kejadian mola hidatidosa di Amerika Serikat adalah 1 dari 1200
kehamilan.3Sedangkan di negara lain seperti Mexico kejadian mola hidatidosa

adalah 1 : 200 dan Paraguay 1: 5000. Di Indonesia 1 dari 100 kehamilan


merupakan mola hidatidosa.4
Penderita mola hidatidosa biasanya sudah didiagnosis hamil namun
mengalami mual dan muntah yang parah, pembesaran uterus yang lebih besar dari
umur kehamilan,dan terkadang diikuti dengan perdarahan pervaginam serta
keluarnya jaringan dari vagina yang bentuknya menyerupai anggur.5
Prinsip penanganan dari penyakit ini termasuk di dalamnya menegakkan
diagnosis, evakuasi jaringan mola, dan pemantauan kadar serum - hCG setelah
dilakukan evakuasi.1
Kematian pada mola hidatidosa disebabkan oleh perdarahan, infeksi,
payah jantung dan tirotoksikosis. Sebagian dari pasien mola hidatidosa akan
segera sehat kembali setelah jaringan dikeluarkan, akan tetapi ada sekelompok
wanita yang kemudian menjadi penderita degenarasi keganasan. Rata rata 20%
penderita mola hidatidosa berkembang menjadi malignan.4,6

BAB II
PEMBAHASAN
I.

DEFINSI
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar di

mana tidak ditemukan janin atau terdapat janin dan sebagian atau seluruh vili
korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik, avaskular degenerasi
dari vili korialis yang berbentuk gelembung menyerupai anggur.2,6
II.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Mola hidatidosa belum diketahui etiologi pastinya hingga sekarang.


Namun terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan mola hidatosa.
Faktor risiko mola hidatidosa sebagai berikut.
1. Usia
Mola hidatidosa lebih sering terjadi pada wanita di usia produktif. Wanita
dengan usia lebih dari 35 tahun berisiko 2 kali lebih tinggi menderita mola
hidatidosa. Wanita dengan usia lebih dari 40 tahun memiliki risiko 5 10 kali
dibandingkan wanita dengan usia yang lebih muda.3,4
2. Riwayat mola hidatidosa sebelumnya
Wanita dengan mola hidatidosa meningkatkan risiko mola hidatosa di
kehamilan berikutnya. Dari penelitian yang dilakukan oleh Garner et al (2002)
dikemukakan bahwa 1,4% pasien mengalami pengulangan kehamilan mola
komplit dan 2,4 % merupakan kehamilan mola parsial berulang.3
III.
TANDA DAN GEJALA
Tanda yang sering terjadi pada 90% pasien dengan penyakit mola hidatidosa
adalah terjadinya perdarahan seringnya pada trimester pertama. dari
kelompok pasien ini sering terjadi pada akhir trimester 1.
Mual dan muntah dicatatkan pada 14-32% pasien dengan mola hidatidosa
dan kadang tidak dapat dibedakan dengan mual dan muntah karena
kehamilan. 2, 3,4
Hampir sebagian pasien mempunyai ukuran uterus yang lebih besar dari
ukuran berdasarkan usia kehamilan. Namun terdapat sepertiga pasien
mempunyai ukuran uterus yang lebih kecil dari yang diprediksi. 2.
Multipel kista tekalutein menyebabkan pembesaran satu atau kedua-duanya
ovarium dan berkemungkinan itu penyebab terjadinya kesakitan.2,5
Preeklamsia pada trimester pertama atau pada awal trimester kedua dikatakan
bahwa patognomonik untuk mola hidatidosa. Ini dapat dilihat pada 10-12%
pasien mola hidatidosa. 2.
Hipertiroidisme juga merupakan salah satu gejala yang terjadi pada 10-12%
pasien mola hidatidosa. 2,7.
IV.

KLASIFIKASI

Mola hidatidosa diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu mola


hidatidosa komplit dan parsialis. 1,3
1. Mola Hidatidosa Komplit
Mola hidatidosa komplit diidentifikasi secara makroskopik di mana
didapatkan edema pada korion tanpa adanya fetal dan membran amnion. Vili yang
mengalami degenerasi hidrofik biasanya berdiameter 1 3 cm dan memberi
gambaran seperti anggur.1

Gambar 2.1. Mola hidatidosa komplit


Secara histologis, mola hidatidosa komplit memiliki gambaran sebagai
berikut. 1,3
a.
b.
c.
d.

degenerasi hidrofik dan edema dari struma vili korialis


tidak adanya pembuluh darah pada vili korialis
proliferasi dari epitel trofoblas
tidak adanya fetus dan amnion

Gambar 2.2. Gambaran histopatologis dari mola hidatidosa komplit

Mola hidatidosa komplit memiliki dua tipe, yaitu tipe androgenetik dan
biparental.4
a. Tipe androgenetik
Homogen
- Hampir 80% mola komplit memiliki tipe adrogenetik
- Terdiri dari dua kromosom paternal identik.
- Selalu perempuan 46XX dikarenakan fertilisasi terjadi pada ovum
yang kosong oleh sperma haploid kemudian terjadi reduplikasi
walaupun beberapa mengalami dispermi fertilisasi dari kantung ovum

yang kosong.1
Heterozygot
- Berjumlah 20% dari seluruh mola hidatidosa
- Dapat laki laki atau perempuan

Gambar 2.3. Patogenesis Mola Hidatidosa KomplitTipe Androgenetik1


b. Tipe biparental
Tipe biparental terjadi karena pembuahan ovum oleh satu sperma di mana
terjadi

deregulasi

dari

satu

atau

lebih

cetakan

gen pada

kehamilan

tersebut.4,7Penyebab terjadinya kehamilan mola ini adalah mutasi dari NLRP7 di


19q13.4 pada gen maternal.

Gambar 2.4. Patogenesis Mola Hidatidosa Komplit Tipe Biparental7


2. Mola Hidatidosa Parsial

Rata rata 1% kehamilan mola merupakan mola hidatidosa parsial yang


memiliki kariotip triplet. Memiliki gambaran histopatologis yang mirip dengan
mola hidatidosa komplit namun berbeda pada kariotip, patologi dan klinis.1

Gambar 2.5. Mola Hidatidosa Parsial


Pada mola hidatidosa parsial secara makroskopis sering ditemukan bagian
bagian fetus dan membran amnion. Terlihat adanya campuran antara vili korialis
yang normal dan yang mengalami degenerasi hidrofilik. Pada degenerasi
hidrofilik ini secara mikroskopis terlihat adanya proliferasi medium pada elemen
elemen trofoblas. Pembuluh darah fetal dapat terlihat dan berisi eritrosit di
dalamnya.1

Gambar 2.6. Gambaran histopatologis dari mola hidatidosa partial (tanda


panah : pembuluh darah dan eritrosit)

10

Secara kromosomal,mola hidatidosa parsial memiliki karyotip 69XXX


atau 69 XXY. Hal ini terjadi karena fertilisasi ovum haploid dan duplikasi dari
kromosom haploid paternal atau dari dispermi. 1,4

Gambar 2.7. Patogenesis Mola Hidatidosa KomplitPartial7


Mola hidatidosa parsial memiliki fetus yang tidak dapat bertahan lama. Pada fetus
yang dapat bertahan, 70% memiliki gangguan pertumbuhan janin terhambat dan
90% memiliki anomali struktural seperti sindaktili, hidrocephalus, anomali
jantung dan micrognathia.3.
Biasanya pada pasien dengan mola hidatidosa parsial mengalami abortus
spontan atau missed abortion. Pasien ini memiliki kadar hCG yang lebih rendah
dibandingkan mola hidatidosa komplit.
V.
DIAGNOSIS
1. Anamnesis
a. Mola hidatidosa komplit
Pada mola hidatidosa komplit pasien mengeluhkan terjadinya perdarahan
pervaginam, hiperemesis, dan gejala gejala dari hipertiroid seperti jantung
berdebar, berkeringat banyak, tremor dan penurunan berat badan.4
Perdarahan pervaginam disebabkan terlepasnya jaringan mola dari
desidua. Tingginya konsentrasi hCG menyebabkan peningkatan kadar estrogen di
dalam darah. Hormon estrogen merangsang pusat muntah di medula oblongata
sehingga responnya adalah mual dan muntah. Selain itu hCG dan thyroid
stimulating hormone (TSH) mempunyai struktur yang sama pada fragmen oleh

11

karena itu hCG dapat bertindak seolah olah seperti TSH yang dapat
meningkatkan produksi dari hormon T3dan T4. Akibatnya TSH akan menurun
kadarnya di dalam darah.4Keadaan seperti ini dinamakan hipertiroid. Kadar
hormon

tiroid

berlebihan

menyebabkan

overstimulasi

metabolisme

dan

meningkatkan efek pada sistem saraf simpatis sehingga menyebabkan


peningkatan frekuensi denyut jantung, berdebar debar, tremor, gangguan
pencernaan dan penurunan berat badan.3
b. Mola hidatidosa parsial
Mola hidatidosa parsial memiliki keluhan dari pasien seperti perdarahan
dari vagina dan detak jantung bayi dapat saja terdengar atau pun tidak. Namun
lebih sering tidak terdengar karena janin mati oleh sebab abnormalitas kromosom
yang terjadi. Sehingga keluhan ini mirip dengan keluhan keluhan abortus
inkomplit atau missed abortion.4
2. Pemeriksaan fisik
a. Tekanan darah diatas 140 / 90 dan disertai proteinuria yang menunjukan
gejala preeklampsia sebelum usia kehamilan 20 minggu.
b. Nyeri pada pelvis.
c. Tinggi fundus uteri lebih besar daripada umur kehamilan.
d. Dapat ditemukan atau tidak ditemukan denyut jantung janin
3. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium

Kadar serum - hCG: lebih dari 100,000 mIU/mL


Darah lengkap dan fungsi pembekuan darah : dapat terjadi anemia
dan koagulopati

Fungsi hati dan ginjal

12

Kadar T4, T3, TSH di dalam darah yang terkadang meningkat dan
memberikan gejala klinis hipertiroid.

Serum inhibin A dan activin A yang biasanya meningkat 7 10 kali


lipat dari pada kehamilan normal.

b. Radiologi
Ultrasonografi merupakan kriteria standar dalam mengidentifikasi
kehamilan mola komplit atau parsial. Gambaran klasik dari mola hidatidosa
adalah badai salju. Bila didapatkan gambaran seperti ini maka pasien
diharapkan untuk melakukan foto x-ray dada mengingatkan paru paru
merupakan tempat pertama metastasis dari tumor ganas trofoblas.

Gambar 2.8. USG Mola Hidatidosa tampak gambaran badai salju


Namun, kita harus dibedakan dengan mola invasiv yang merupakan komplikasi
kepada hampir 15% pasien mola hidatidosa. Gambaran USG pada mola invasiv
akan tampak gambaran yang hampir sama dengan mola hidatidosa karena tampak
villinya. Yang membedakan antara mola hidatidosa dan mola invasiv dari segi
ultrasonografinya adalah letak villinya sama ada pada miometrium atau bukan.

13

Gambar 2.9.1: Ultrasonografi transvaginal menunjukkan bahwa terdapat


gambaran heterogen hiperechoic lesi solid yang mempunyai batas yang tidak
tegas (anak panah putih yang mengarah ke kiri), dengan kawasan berkistik (anak
panah putih yang menunjuk ke atas), yang dilihat dalam miometrium, pada regio
kanan fundus uteri, menjauhi dari endometrium.

Gambar 2.9.2 a) Pada colour Doppler menunjukkan adanya aliran darah yang
prominen pada lesi-lesi tersebut (anak panah putih) menyatakan bahwa terdapat
neovaskularisasi b) Pada pulsed Doppler menunjukkan vascular impedensi aliran
darah ateri yang rendah.
c. Histopatologi
Mola hidatidosa komplit memiliki gambaran sebagai berikut. 1,3
- degenerasi hidrofik dan edema dari struma vili korialis
- tidak adanya pembuluh darah pada vili korialis
- proliferasi dari epitel trofoblas
- tidak adanya fetus dan amnion

14

Mola hidatidosa parsial


- degenerasi hidrofilik dan edema dari struma vili korialis
- proliferasi medium pada elemen elemen trofoblas
- pembuluh darah fetal dapat terlihat dan berisi eritrosit di
dalamnya.
- Terdapat fetus dan amnion.

Mola hidatidosa komplit

Mola hidatidosa parsial


Triploid (69 XXX atau 69

Kariotip

Diploid (46 XX atau 46 YY)

Patologi
Fetus
Amnion, sel darah merah

Tidak ada

Kadang kadang ada

Tidak ada

Kadang kadang ada

Difus
Bervariasi, ringan sampai

Bervariasi, fokal
Bervariasi, ringan sampai

berat

sedang

Kehamilan mola
50% lebih besar untuk umur

Missed abortion

janin
Edema villa
Proliferasi trofoblastik
Gambaran klinis
Diagnosis
Ukuran uterus
Kista tekaluteal
Komplikasi

kehamilan
15 % - 30%,
Sering terjadi

XXY)

Kecil untuk umur kehamilan


Jarang
Jarang

Tabel 2.1. Karakteristik Mola hidatidosa komplit dan parsial1

VI.

DIAGNOSA BANDING
Berikut beberapa diagnosa banding dari mola hidatidosa.4,9

1.
2.
3.
4.
5.

Hipertensi dalam kehamilan/superimposed preeklampsia


Mola invasiv
Hipertiroid
Kehamilan dengan mioma uteri
Abortus

15

6. Gemeli
VII.

PENATALAKSANAAN
Dikarenakan besarnya kesadaran dan teknologi diagnosa yang lebih baik

maka kehamilan mola sudah dapat didiagnosa sangat awal sebelum terjadinya
komplikasi. Penanganan mola hidatidosa terbagi menjadi dua fase yaitu evakuasi
dengan segera jaringan mola dan evaluasi berkelanjutan untuk memantau
proliferasi dari trofoblas dan kemungkinan menjadi ganas.
Sebelum dilakukan pengangkatan jaringan mola melalui cara kuretase
diharapkan selalu dilakukan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan pelvis,
pemeriksaan darah lengkap, kimia darah termasuk di dalamnya tes fungsi hepar,
ginjal, dan tiroid, kadar serum - hCG dalam darah, foto X ray thorax dan USG
pelvis.1
Vakum aspirasi merupakan cara pengangkatan jaringan mola yang aman,
cepat dan efisien pada kebanyakan pasien dengan mola. Untuk ukuran mola yang
besar disarankan supaya dipersiapkan darah dan dipasang infus pada pasien.
Gunakan obat yang berfungsi untuk dilatasi serviks agar penghisap kuret yang
berukuran 10 12 mm dapat masuk ke dalam kavum uteri. Setelah sebagian besar
jaringan telah diaspirasi, pasien akan dikuretase menggunakan kuret tajam untuk
mengevakuasi sisa jaringan yang masih ada. Pemberian oksitosin diberikan
setelah evakuasi jaringan selesai. Tidak seperti protap yang sebelumnya yaitu pada
tahun 1995 yang dimasukkan oksitosin sebelum dikuretase. Hal ini karena untuk
memastikan uterus dilatasi dan resiko untuk terjadinya emboli sewaktu dikuretase
berkurang. Jika diberikan oksitosin sebelum kuretase, dikhuatiri akan terjadinya
emboli kerana adanya tekanan positif dari dalam rahim yang akan memudahkan
terjadinya emboli.7
Kista tekaluteal dapat ditemukan pada 15-30% pasien yang mengalami
kehamilan mola. Hal ini disebabkan hiperstimulasi pada ovarium karena tingginya
kadar - hCG . Kista ini dapat regresi dengan sendirinya setelah beberapa minggu
16

dilakukan evakuasi jaringan mola. Apabila kista membesar dan mengalami torsi,
infark dan ruptur maka tindakan operasi disarankan untuk dilakukan4.
Kemoterapi profilaksis untuk pencegahan terjadinya keganasan setelah
evakuasi jaringan mola tetap menjadi kontroversi. Namun terdapat beberapa
kajian menyatakan bahwa kemoprofilaksis menurunkan angka tumor post molar.
Goldsterin menyatakan kemoprofilaksis menurunkan resiko terjadinya tumor
persisten dari 20% ke 8% dan mengeliminasi metastase. Demikian juga
Kashimura dkk menyatakan kemoprofilaksis pada pasien dengan menurunkan
frekuensi tumor post molar dari 18%-7%. Fasoli dkk juga mengobservasi,
kemoterapi profilaksis menurunkan resiko untuk terjadinya penyakit pos molar
dari 9% ke 3%. Pemberian yang sering diberikan pada pasien penyakit trofoblast
gestational non metastasis termasuk siklus tahapan atau dosis tahapan methotrexat
pada dosis 1mg/kgbb (maksimum 50mg) pada hari 1, 3, 5, dan 7
diadministrasikan bersama asam folinat secara intramuscular dengan dosis
0.1mg/kgbb pada hari 2, 4, 6, dan 8.2
Histerektomi boleh dilakukan jika pasien sudah tidak ada perancangan
untuk menambah jumlah anak. Histerektomi disarankan dilakukan pada pasien
yang berumur di atas 40 tahun yang mempunyai resiko yang tinggi untuk
terjadinya PTG. Berdasarkan penelitian dinyatakan histerektomi menurunkan
resiko untuk terjadinya PTG hingga 50%. 13

VIII.

FOLLOW UP
Setelah selesai dilakukan evakuasi, dilakukan pengamatan terhadap kadar
serum hCG tetap dilakukan setiap minggu sehingga tidak terdeteksi
selama empat minggu dan kemudian dipantau setiap 2 minggu selama 4
minggu untuk memastikan penurunan serum hCG, setelah itu setiap

17

bulan selama 4 bulan dan jika masih normal diulang setiap 6 bulan selama
setahun, dan setelah itu satu kali dalam tahun berikutnya.7,11

Gambar 2.9 menunjukkan kurva morrow yang untuk menandai kadar


penurunan serum -hCG
Selama pengawasan ini pasien diharapkan untuk tidak hamil
karena kehamilan dapat menyebabkan false positif yang dapat mengarah
ke keganasan. Agar tidak hamil pasien dapat menggunakan kontrasepsi
seperti kondom atau pil (estrogen-progestin).10 Namun terdapat beberapa
perdebatan

mengatakan

bahwa

penggunaan

pil

hormonal

dapat

menyebabkan peningkatan post-molar tumor 2 hingga 3 kali lipat. Namun


ada yang mengatakan jika dosisnya kurang dari 50g ethynil estradiol atau
mestranol, kadar untuk terjadi peningkatan resiko terjadinya post molar
IX.

tumor berkurang. 7,10


KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi adalah perforasi uterus dan perdarahan

terutama pada saat dilakukan kuret. Kehamilan mola dapat berlanjut menjadi
penyakit trofoblas ganas sehingga diperlukan monitoring kadar serum hCG
sesuai dengan prosedur. Dan terkadang terjadi emboli yang dapat menyebabkan
insufisiensi respirasi akut .1,4Tingginya kadar hCG dapat menyebabkan

18

hipertiroidisme hingga tirotoksikosis, preeklampsia hingga eklampsia serta kista


teka luteal.4,10
X.

PROGNOSIS
Kematian oleh karena mola hidatidosa sudah tidak ditemukan lagi

dikarenakan cepatnya diagnosis dan kesesuaian terapi yang diberikan. Evakuasi


jaringan mola lebih awal menurunkan risiko 20 % untuk menjadi penyakit
trofoblas ganas dan 81% pasien mengalami regresi spontan namun sisanya
berkembang menjadi penyakit trofoblas ganas.3

BAB III
KESIMPULAN
19

1. Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar di


mana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami
perubahan berupa degenerasi hidropik, avaskular degeransi dari vili
korialis yang berbentuk gelembung menyerupai anggur
2. Etiologi dari mola hidatidosa belum ditemukan, namun, faktor risikonya
adalah usia 35 40 tahun serta ada riwayat kehamilan mola.
3. Mola hidatidosa diklasifikasikan menjadi mola hidatidosa komplit dan
mola hidatidosa parsial.
4. Mendiagnosis mola hidatidosa dapat dilakukan dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Hal hal yang dapat
mengarah ke mola adalah sebagai berikut.
a. Perdarahan pervaginam pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu
b. Tinggi fundus uteri lebih besar daripada usia kehamilan.
c. Tidak adanya bagian bagian janin atau tidak ada detak jantung janin
d. Melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) ditemukan gambaran badai
salju.
e. Peningkatan serum hCG yang tidak sesuai dengan umur
kehamilan.
f. Preeklampsia eklampsia sebelum usia kehamilan 20 minggu.
g. Hiperemesis gravidarum.
5. Diagnosa banding dari mola hidatidosa : hipertensi, hipertensi maligna,
hipertiroid, kehamilan dengan mioma uteri, abortus, gemeli.

20

6. Penatalaksanaan mola hidatidosa adalah vakum aspirasi atau histerektomi


kemudian dilakukan pengawasan dari kadar hCG.
7. Komplikasi mola hidatidosa : perdarahan, perforasi uterus, penyakit
trofoblas ganas, emboli, hipertiroid dan preeklampsi eklampsi.
8. Prognosis : kematian sudah tidak ada lagi, terjadi penurunan risiko 20%

menjadi ganas apabila mola hidatidosa dievakuasi, 81% mengalami regresi


spontan namun sisanya menjadi penyakit trofoblas ganas.

21