Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

SISTEM PERKEMIHAN
URETHRITIS-CYSTITIS

Disusun Oleh :
1. Adi Syahputra (2013.03.001)
2. Moh Ali Fauzy (2013.03.018)
Akademi Keperawatan William Booth Surabaya
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul Tugas
keperawatan Medikal Bedah II Sistem Perkemihan dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi paca pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapatlebih baik lagi.
Makalah ini kami akui masih bnanyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, Oktober 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................

KATA PENGANTAR....................................................................................

ii

DAFTAR ISI..................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah....................................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................
1.3 Tujuan................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 URETRITIS
2.1.1 PENGERTIAN
2.1.2 ETIOLOGI
2.1.3 TANDA DAN GEJALA
2.1.4 PATOFISIOLOGI
2.1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
2.1.6 KOMPLIKASI
2.1.7 MANIFESTASI KLINIK
2.1.8 PENGOBATAN
2.2 SISTITIS
2.2.1 PENGERTIAN
2.2.2 ETIOLOGI
2.2.3 TANDA DAN GEJALA

2.2.4 PATOFISIOLOG
2.2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

2.2.6 MANIFESTASI KLINIS

BAB III TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN (TEORI) .


BAB IV PENUTUP
BAB V POWER POINT

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa mempedulikan
umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai pertumbuhan usia dan
aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran perkemihan pada wanita terutama
yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan seksual dan diperkirakan pula karena
uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai substansi anti mikroba seperti yang
ditemukan pada cairan seminal.
Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma karena
kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah pengosongan
sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder akibat bebarapa
faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau batu pada kandung kemih.
2. Tujuan
2.1Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
sistitis.
3.Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami defenisi sistitis
2. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisologi kandung kemih
3. Mengetahui dan memahami etiologi sistitis
4. Mengetahui dan memahami klasifikasi sistitis
5. Mengetahui dan mamahami tanda dan gejala sistitis

6. Mengetahui dan mamahami patofisiologi sistitis


7. Mengetahui dan memahami manifestasi klinik sistitis
8. Mengetahui dan memahami peme
9. riksaaan diagnostik dan diagnosa banding sistitis
10. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien sistitis.

1. Urethritis
Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks (PMS),urethritis
secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan nongonococal urethritis
Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra, yang terjadi pada lapisan
kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang menyerang saluran kemih seperti
Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae, tricomonal vaginalis dan lain-lain. peradangan
ini biasanya terjadi pada ujung urethra atau urethra bagian posterior, urethritis juga
merupakan salah satu dari infeksi dari saluran kemih yaitu urethra, prostate, vas deferens,
testis atau ovarium, buli-buli, ureter sampai ginjal. Dan dapat dikatakan sebagai bagian dari
infeksi saluran kemih superficial atau mukosa yang tidak menandakan invasi pada jaringan.
Secara mikrobiologis dapat dikatakan terjadinya askep urethritis jika ditemukan pertumbuhan
mikroorganisme yang berlebihan di dalam sample urine dan disuria. Inflamasi urethra dapat
menyerang pasien dari berbagai usia dari mulai bayi yang baru lahir hingga orang tua. Tetapi
pada umumnya yang lebih sering terkena urethritis adalah wanita, hal ini terjadi karena
urethra wanita lebih pendek dari urethra pria, tetapi pada masa neonatus penyakit ini lebih
sering terjadi pada bayi laki-laki. serta dapat hilang dengan adanya antibody kandung kemih.
Tetapi keadaan ini kadang tidak terjadi dan menyebabkan peradangan pada urethra yang
disebabkan oleh mikroorganisme tersebut.

2.Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
3. Tujuan Umum
Diperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan URETRITIS
. Tujuan Khusus
a.Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan URETRITIS
b.Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan URETRITIS
c.Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan URETRITIS
dMampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan URETRITIS
e.Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan URETRITIS
f. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus URETRITIS

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 URETRITIS
2.1.1 PENGERTIAN
Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang menyebar naik
yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan nongonoreal. Namun demikian kedua
kondisi tersebut dapat terjadi pada satu pasien.
Uretritis terbagi menjadi dua yaitu ;
1. uretritis akut, terjadi karena naiknya infeksi atau sebaliknya oleh karena prostat
mengalami infeksi
2. uretritis kronik, infeksi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidaksempurna pada
masa akut, prostatitis kronik, atau striktura uretra.
2.1.2 ETIOLOGI
Uretritis disebabkan oleh kuman gonore atau terjadi tanpa adanya bakteri. Sesuai
dengan sebutan infeksi itu sendiri yaitu uretritis gonoreal dan nongonoreal.
1. Uretritis gonoreal, disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae. Dan ditularkan melalui
kontak seksual. Pada pria inflamasi orifisium meatal terjadi disertai rasa
terbakarketika urinasi, meskipun demikian penyakit ini dapat asimtomatik. Pada
wanita, rabas uretra tidak selalu muncul dan penyalkit juga asimtomatik, oleh karena
itu gonore pada wanita tidak didiagnosis/dilaporkan.
2. Uretritis nongonoreal, uretritis yang tidak berhubungan dengan neisseria
gonorrhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia trakomatik atau urea plasma
urelytikum. Jika pasien pria adalah simtomatik akan mengeluh adanya disuria tingkat
sedang atau parah dan rabas uretral dengan jumlah sedikit atau sedang.
2.1.3 TANDA DAN GEJALA

Terdapat cairan eksudat yang purulent


Mukosa merah udematus
Ada ulserasi pada uretra, iritasi, vesikal iritasi, prostatitis
Mikroskopis ; terlihat infiltrasi leukosit sel-sel plasma dan sel-sel limfosit
Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu morning
sickness
Pada pria pembuluhdarah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh pus
Pada wanita jarang ditemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita

2.1.4 PATOFISIOLOGI
Uretra Gonorhoeal disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae dan ditularkan melalui
kontak seksual. Pada pria inflamasi orifosium meatal terjadi disertai rasa terbakar
ketika urinasi. Rabas uretral purulen muncul dalam 3-4 hari setelah kontak seksual.
Pada wanita rabas uretral tidak selalu muncul dan penyakit bersifat asimtomatik. Pada
pria melibatkan jaringan disekitar uretra menyebabkan periuretritis, prostitis,
epididimis dan striktur uretra.
Uretra gonorhoeal tidak berhubungan dengan neisseria gonorrhoeae biasanya
disebabkan oleh Klamidia trakomatik atau Ureaplasma urelytikum. Pada pria adalah
asimtomatik, pasien akan disuria tingkat sedang-parah dan rabas uretral dengan
jumlah sedikit-sedang.
2.1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uretra Gonorhoeal disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae dan ditularkan melalui
kontak seksual. Pada pria inflamasi orifosium meatal terjadi disertai rasa terbakar
ketika urinasi. Rabas uretral purulen muncul dalam 3-4 hari setelah kontak seksual.
Pada wanita rabas uretral tidak selalu muncul dan penyakit bersifat asimtomatik. Pada
pria melibatkan jaringan disekitar uretra menyebabkan periuretritis, prostitis,
epididimis dan striktur uretra.
Uretra gonorhoeal tidak berhubungan dengan neisseria gonorrhoeae biasanya
disebabkan oleh Klamidia trakomatik atau Ureaplasma urelytikum. Pada pria adalah
asimtomatik, pasien akan disuria tingkat sedang-parah dan rabas uretral dengan
jumlah sedikit-sedang.

2.1.6 KOMPLIKASI
a. Prostatitis, epididimitis, striktur uretra, dan mandul berhubungan dengan sumbatan
saluran vasoepididinal.
b. Infeksi rektal, paringitis, konjungtivitis, lesi kulit, dan arhtritis dengan infeksi
gonokokus.
2.1.7 MANIFESTASI KLINIK
a. Terkadang asimptomatis
b. Rasa gatal dan terbakar di sekitar uretra
c. Cairan pada uretra: pada prepusium, dapat berwarna bbening, kental, pekat, atau
purulent
d. Disuria atau sering berkemih
e. Gangguan rasa nyaman pada penis.
2.1.8 PENGOBATAN
Pada uretritis dilakukan pengobatan dengan
1. Chemoterapi
2. Antibiotika
3. Anti inflamasi
2.2 CYSTITIS
2.2.1 PENGERTIAN
Sistitis merupakan penyakit radang kandung kemih atau saluran kencing, mungkin
kita lebih mengenalnya sebagai anyang-anyangan. Sistitis lebih banyak dialami oleh
wanita daripada pria. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan pada bentuk kelamin
antara wanita dan pria.
Systitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh infeksi
asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra kedalam
kandung kemih. Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop.
Pada wanita, uretra atau saluran kencing bagian bawah yang berfungsi untuk

menyalurkan air kencing, lebih pendek dibandingkan pada pria. Hal ini menyebabkan
kuman dan bakteri lebih mudah memasuki kandung kemih. Oleh karena itu, uretra
pada wanita biasanya mengandung kuman seperti E. Coli, streptokokus, stolilokokus,
atau basilus. Padahal seharusnya kandung kemih ini terbebas dari kuman.
Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa
mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai
pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran
perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan
seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak
mempunyai substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan seminal.
Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma
karena kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah
pengosongan sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi
sekunder akibat bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau
batu pada kandung kemih.
Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
Cystitis primer,merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat
terjadi karena penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi
prostat dan striktura uretra.
Cystitis sekunder, merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit
primer misalnya uretritis dan prostatitis.
2.2.2 ETIOLOGI
Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat
menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainanurologis atau
kalkuli. Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter,
serratea, dan pseudomonas bertanggung jawab atas sebagian kecil infeksitanpa
komplikasi. Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada
infeksi-infeksi rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung dengan
manipulsi urologis, kalkuli atau obstruksi.
Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra atau dari
meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena renal infeksi tetapi
yang tersering disebabkan karena infeksi E.coli.
Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh karena

adanya urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra, neurogenik


bladder) atau karena infeksi dari usus.
JALUR INFEKSI
Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyalkit ini lebih sering
ditemukan pada wanita
Infeksi ginjalyan sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung kemih.
Penyebaran infeksi secara lokal dari organ laindapat mengenai kandung kemih
misalnya appendiksitis
Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi.
FAKTOR PREDISPOSISI
Benda asing yang menyebabkan iritasi, misalnya kalkulus tumor dan faeces dari
fistula usus
Instrumentasi saat operasi menyebabkan trauma dan menimbulakn infeksi Retensi
urine yang kronis memungkinkan berkembang biaknya bakteri
Hubungan seksual
2.2.3 TANDA DAN GEJALA
Pada umumnya tanda dan gejala yang terjadi pada cystitis adalah ;
Peningkatan frekwensi miksi baik diurnal maupun nokturnal
Rasa nyeri pada saluran kencing dan perut bagian bawah. Jika dibawa buang air kecil
terasa sakit dan nyeri.
Sering buang air kecil, tetapi air seni yang keluar hanya sedikit dan disertai rasa nyeri.
Jika sistitis disebabkan oleh kanker kandung kemih, biasanya kencing disertai rasa
nyeri dan darah yang keluar bersama air seni.
Disuria karena epitelium yang meradang tertekan
Rasa nyeri pada daerah suprapubik atau perineal
Rasa ingin buang air kecil
Hematuria
Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah

2.2.4 PATOFISIOLOGI
Systitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum
disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Escheriachia Coli peradangan timbul

dengan penjalaran secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian
bawah, baik akut maupun kronik dapat bilateral maupun unilateral.
2.2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada kasus infeksi kandung kemih pemeriksaan yang biasa dilakukan
berdasarkan literatur yang ada adalah ;
Pemeriksaan urine lengkap
Pemeriksaan USG abdomen
Pemeriksaan photo BNO dan BNO IVP

2.2.6 MANIFESTASI KLINIS


Pasien mengalami urgensi, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat berkemih,
nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan supra pubis. Piuria
(adanya sel darah putih dalam urine), hematuria (adanya sel darah merah pada
pemeriksaan urine). Pasien mengalami demam, mual, muntah, badan lemah, kondisi
umum menurun. Jika ada demam dan nyeri pinggang, perlu dipikirkan adanya
penjalaran infeksi ke saluran kemih bagian atas. Infeksi kandung kemih biasanya
menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih.
Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di
punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam
hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.
Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat
pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain). Sistitis tanpa gejala terutama
sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia urin sebagai
akibatnya.
Inkontenensia urine adalah eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali
atau terjadi di luar keinginan.
Inkontinensia Urine dapat dibagi menjadi empat jenis :
1. Urge incontinence
Terjadi bila pasien merasakan dorongan atau keinginan untuk berkemih tetapi tidak
mammpu menahannya cukup lama sebelum mencapai toilet. Keadaan ini dapat terjadi
pada pasien disfungsi neurology yang mengganggu penghambatan kontraksi kandung

kemih.
2. Overflow incontinence
Ditandai oleh eliminasi urine yang sering dan kadang-kadang terjadi hamper terus
menerus dari kandung kemih. Kandung kemih tidak dapat mengosongkan isinya
secara normal dan mengalami distensi yang berlebihan. Dapat disebabkan oleh
kelainan neurology ( lesi medulla spinalis) atau oleh factor-faktor yang menyumbat
saluran urine. Meskipun eliminasi terjadi dengan sering, kandung kemih tidak pernah
kosong.
3. Incontinensia fungsional
Merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tapi
ada factor lain, seperti gangguan kognitif berat yang membuat pasien sulit untuk
mengidentifikasi perlunya berkemih (pasien demensia alzeimer) atau gangguan fisik
yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin menjangkau toilet untuk berkemih
4. Bentuk-bentuk inkontinensia urine campuran
Mencakup cIri-ciri inkontinensia seperti yang baru disebutkan, dapat pula terjadi.
Selain itu, inkontinensia urine dapat terjadi akibat interaksi banyak factor.

BAB III

ASKEP SECARA TEORI


Asuhan Keperawatan pada Urethritis
1. Pengkajian
a. Kaji riwayat kontak seksual tanpa perlindungan
b. Kaji tanda dan gejala gangguan perkemihan serta saluran reproduksi
c. Lakukan pemeriksaan genetalia untuk mengetahui infeksi internal
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko infeksi berhubungan dengan penyebaran patogen secara asending atau sistemik
b. Resiko infeksi akibat penularan melalu kontak seksual.
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosis Keperawatan 1
Tujuan: Infeksi sembuh dan mencegah komplikasi
a. Kumpulkan cairan uretra urin dan darah dengan kapas lidi steril sesuai anjuran untuk
pemeriksaan laboratorium.
b. gunakan sarung tangan
c. berikan anti biotik sesuai dengan resep:
- biasanya diberikan berdasarkan diagnosis dan penyebab
- monitor efek samping dan alergi obat
Diagnosis keperawatan 2

Tujuan: Cegah penyebaran infeksi


a. hindari komplikasi dengan memberikan anti mikroba sesuai waktu yang telah diresepkan
b. nasihatkan untuk tidak melakukan kontak seksual hingga pengobatan selesai (biasanya 710 hari)
c. beritahu pasien untuk menghindari kontak seksual dengan pasangannya hingga
pasangannya telah diperiksa dan diobati
d. pemakaian kondom dapat mencegah penularan, tetapi tergantung teknik penggunaa

4. EVALUASI
a. terapi dosis tunggal sesuai dengan anjuran
b. melaporkan bahwa pasangannya telah diterapi.

ASKEP SECARA TEORI


Asuhan Keperawatan pada Cystitis

1. Pengkajian
a. Kaji hematuria,gejala iritasi saat berkemih,faktor resiko (khususnya riwayat
merokok),penurunan berat badan,kelelahan,dan tanda metastase.
b. Kaji kemampuan koping dan pengetahuan tentang penyakit.
2. Diagnosis Keperawatan
a. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan hematuria dan bedah transuretra ditandai
dengan:
DS : Laporan adanya darah dalam urine dan status pasca operasi trans-uretra.
DO: Pasca operasi trans-uretra dan hematuria.

b. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan gejala berkemih dan gangguan rasa nyaman akibat
pemasangan kateter ditandai dengan:
DS : Laporan adanya nyeri.
DO: Ekspresi wajah meringis,menahan sakit,dan perubahan tanda vital.
c. Cemas berhubungan dengan diagnosis kanker ditandai dengan:
DS : Laporan akan perasaan cemas.
DO: Ekspresi wajah tegang,tidak bisa tidur,gelisah,perubahan tanda vital,dan
berkeringat.

3.Intervensi Keperawatan
Diagnosis keperawatan 1
Tujuan: Eliminasi urine teratur sesudah pembedahan trans-urethal
a. Pasang kateter (irigasi manual merupakan kontraindikasi berhubungan dengan perubahan
perforasi kadung kemih,mungkin dilakukan irigasi kandung kemih secara terus-menerus jika
diperlukan).
b. Pastikan bahwa asupan cairan per oral atau iv mencukupi.
c. Monitoring asupan dan pengeluaran,termasuk caira irigasi.
d. Monitor output urine untuk membersihkan hematuria.
Diagnosis Keperawatan 2
Tujuan: Nyeri terkontrol
a. Berikan obat analgesik untuk memberikan rasa nyaman pada pelvis.
b. Berikan antikolinergik atau beladonna dan opium suposutoria untuk menghilangkan
spasme kandung kemih.
c. Pastikan kateter pada posisi yang tepat,jangan lakukan irigasi tanpa pemberitahuan.

d. Angkat kateter segera setelah prosedur.


Diagnosis keperawatan 3
Tujuan: Mehilangkan cemas
a. Biarkan pasien mengungkapkan perasaan cemas.
b. Berikan informasi yang realistis mengenai hasil pemeriksaan diagnostic,pembedahan,dan
pengobatan.
4.Evaluasi
a. Fungsi ginjal maksimal.
b. Tidak ada/berkurangnya laporan mengenai nyeri.
c. Tidak ada/berkurangnya laporan mengenai rasa cemas

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Sistitis terjadi karena adanya kuman / bakteri yang masuk kedalam vesika urinaria melalui
uretra dari mikroba yang terkandung dalam urin yang lama tertampung dalam vesika urinaria
dan akan menginfeksi di kandung kemih. Pada wanita lebih cenderung terkena sistitis karena
uretra pendek dibanding pria. Setelah terjadi infeksi akibat dari kuman dalam urine yang
tertampung dalam vesika urinaria akan menyebabkan daerah tersebut meradang dan bisa juga
karena kateter atau adanya trauma dari luar sehingga menyebabkan orang mengalami sistitis
seperti perasaan/ dorongan selalu ingin BAK.
Pengenalan penyakit sistitis secara dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk
mencegah kekambuhan infeksi dan kemungkinan komplikasi seperti gagal ginjal atau sepsis.
Tujuan penanganan adalah untuk mencegah infeksi agar tidak berkembang dan menyebabkan
kerusakan renal permanen dan gagal ginjal.
1. Saran
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti
dan memahami serta menambah wawasan tentang Asuhan keperawatan pada klien dengan
Sistitis.
A.Kesimpulan Urethritis
Pada

bab

ini

penulis

dapat

menyimpulkan

antara

lain

Pada pengkajian penulis menyimpulkan data melalui ilustrasi kasus, wawancara, pemeriksaan
fisik, tidak dilakukan karena penulis tidak mengkaji langsung pada klien, penulis hanya
mendapatkan data dari ilustrasi kasus yang didapat. Data yang didapat pada kasus yaitu pada

lubang kencing kadang keluar cairan putih kental, juga ketika dilakukan pemeriksaan kultur
urine didapatkan adanya bakteri pada urine. Dan juga data yang didapatkan adalah klien
pernah berhbungan intim dengan teman wanitanya dan setelah itu klien menderita uretritis.

B.Saran
Untuk teman sejawat dan penulis agar dapat memprioritaskan masalah sesuai kebutuhan
dasar manusia dan masalah utama klien tersebut, walaupun pendokumentasian data tidak
dapat dilakukan karena data yang diperoleh hanya berdasarkan ilustrasi kasus tetapi rencana
tindakan

dapat

dilakukan

dengan

baik.

Untuk perawat diruangan agar dapat mendokumentasikan semua data pada klien baik verbal
maupun obyektif dengan benar sehingga dapat membuat evaluasi dengan baik. Untuk
menunjang pendokumentasian pihak rumah sakit harus menyediakan lembaran renpra untuk
perawat ruangan.