Anda di halaman 1dari 9

Media Pembelajaran

1.1. Pengertian Media Pembelajaran


Secara harfiah, media berarti perantara atau pengantar. Menurut Nurhayati dan Sappe (2004), ada
beberapa pengertian media yang dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut : 1)
Assocation for education and Communication Technology (AECT) mengartikan sebagai segala bentuk
yang digunakan untuk proses penyaluran informasi. 2) National Educational Association (NEA)
mengartikan sebagai segala bentuk yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau
dibicarakan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. 3) Blake dan Horalsem
mengatakan media yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan sesuatu pesan dimana
media merupakan jalan atau alat yang mana suatu pesan berjalan antara komunikator dengan
komunikan. 4) Santoso dan Harmidjojo menyatakan semua bentuk perantara yang dipakai orang
penyebar ide, sehingga gagasan itu sampai pada penerima.
Menurut Hidayat (2010), media diartikan meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana
pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan
penyalur pesan, media belajar dalam hal hal tertentu, bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar
kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan
dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru. Pada hakekatnya media pendidikan
juga merupakan media komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi.
Apabila kita bandingkan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum,
sebagaimana
pengertian
pendidikan
itu
sendiri.
Sedangkan media pembelajaran sifatnya lebih mengkhusus, maksudnya media pendidikan yang
secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara
khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media
pembelajaran pasti termasuk media pendidikan. Alat peraga, alat bantu guru (teaching aids), alat
bantu audio visual (AVA), atau alat bantu belajar yang selama ini sering juga kita denga pada
dasamya, semua istilah itu dapat kita masukkan dalam konsep media, karena konsep media
merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep konsep tersebut.
1.2.
Prinsip-prinsip
Pemilihan
Media
Pembelajaran
Sebelum menggunakan media, guru harus memilih secara cermat. Memilih media yang terbaik untuk
tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemilihan itu rumit dan sulit, karena harus
mempertimbangkan berbagai faktor. Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem
pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai
dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan
media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi
dengan
media
yang
guru
pilih.
Apabila guru telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan dalam pembelajaran, maka
pertanyaan berikutnya adalah sudah tersediakah media tersebut di sekolah? Jika sudah tersedia,
maka guru tinggal meminjam atau membelinya saja. Itupun jika media yang ada memang sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang telah guru rencanakan, dan terjangkau harganya. Jika media yang
kita butuhkan temyata belum tersedia, mau tak mau kita harus membuat sendiri program media
sesuai
keperluan
tersebut.
Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena begitu banyak
jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan masing masing.
Menurut hidayat (2010), secara umum kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media
pembelajaran diuraikan sebagai berikut :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Tujuan. Apa tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang ingin
dicapai? Apakah tujuan itu masuk ranah kognitif, afektif, psikomotor, atau kombinasinya? Jenis
rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, atau kombinasinya?
Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan
mengarahkan kita pada jenis media tertentu, apakah media realia, audio, visual diam, visual
gerak, audio visual gerak dan seterusnya.
Sasaran didik. Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana
karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, bagaimana
motivasi dan minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka
media yang kita pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada
akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu,
media harus sesuai benar dengan kondisi mereka.
Karakteristik media yang bersangkutan. Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa
kelebihan dan kelemahannya, sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan
dicapai? Kita tidak akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik
karakteristik masing masing media. Karena kegiatan memilih pada dasamya adalah kegiatan
membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai dibanding yang lain. Oleh
karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu, pahami dengan baik bagaimana
karaktristik media tersebut.
Waktu. Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu yang
tersedia/yang kita memiliki, cukupkah? Pertanyaan lain adalah, berapa lama waktu yang
diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu yang tersedia dalam
proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang baik, tetapi kita tidak cukup
waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula terjadi, media yang telah kita buat dengan
menyita banyak waktu, tetapi pada saat digunakan dalam pembelajaran temyata kita kekurangan
waktu.
Biaya. Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam menyewa media tersebut?
Bisakah kita mengusahakan biaya tersebut/apakah besarnya biaya seimbang dengan tujuan
belajar yang hendak dicapai? Tidak mungkinkah tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa
memilih media. Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya
justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus kita pertimbangkan.
Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau menggunakan media itu, adakah
alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan belajar? Media yang
mahal belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan belajar dibandingkan media sederhana
dan murah.
Ketersediaan. Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan kita.
Adakah media yang kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran? Kalau kita harus
membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk membuatnya? Kalau
semua itu ada, pertanyaan berikutnya adalah tersediakah sarana yang diperlukan untuk
menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang proses terjadinya gerhana
matahari memang lebih efektif disajikan melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada
video player, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari.
Konteks Penggunaan. Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi
bagaimana media tersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok
kecil, kelompok besar atau masal? Dalam hal ini kita perlu merencanakan strategi pembelajaran
secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran, sehingga tergambar
kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media tersebut dalam pembelajaran.
Mutu teknis. Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media siap pakai yang telah ada,
misalnya program audio, video, grafis atau media cetak lain. Mutu teknis media tersebut, visual

jelas, menarik, dan cocok; suaranya jelas dan enak didengar, jangan sampai hanya karena
keinginan kita untuk menggunakan media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan
penggunaannya.
1.3.
Media
Audio
Visual
(Animasi)
Menurut Wikipedia (2009) dalam Anonim (2010), animasi atau lebih akrab disebut dengan film
animasi adalah film yang merupakan hasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar
yang bergerak, dengan bantuan computer dan grafika computer, pembuatan film animasi menjadi
sangat mudah dan cepat. Flash adalah alat untuk membuat web site yang interaktif dan web site yang
dianimasikan. Animasi flash adalah gambar bergerak yang dibuatdengan menggunakan alat untuk
membuat web site yang interaktif dan web yang dianimasikan.
Menurut Artawan (2010), ada tiga jenis format animasi yaitu animasi tanpa sistem control misalnya
untuk pause, memperlambat kecepatan pergantian frame, zoom in, zoom out dan lain sebagainya,
animasi dengan sistem kontrol dan animasi manipulasi langsung, dimana guru dapat berinteraksi
langsung dengan kontrol navigasi.
Media animasi termasuk jenis media visual audio, karena terdapat gerakan gambar dan suara.
Menurut Sudrajat (2010), pembelajaran audio visual didefinisikan sebagai produksi dan pemanfaatan
bahan yang berkaitan dengan pembelajaran melalui penglihatan dan pendengaran yang secara
eksklusif tidak selalu harus bergantung kepada pemahaman kata-kata dan symbol-simbol sejenis.
Menurut Furoidah (2009), media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan
gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio
sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran
dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan pun digunakan untuk menyampaikan materi
pelajaran.
1.4.
Peranan
Media
Audio
Visual
(Animasi)
Menurut Hidayat (2010) Manfaat secara umum, media dalam proses pembelajaran adalah
memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif
dan efisien. Tetapi secara. lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci.
Menurut Kemp dan Dayton (1985) dalam Hidayat (2010) manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:

Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan. Setiap guru mungkin mempunyai


penafsiran yang berbeda beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan
media, penafsiran yang beragam tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada
siswa secara seragam. Setiap siswa yang melihat atau mendengar uraian suatu materi pelajaran
melalui media yang sama, akan menerima informasi yang persis sama seperti yang diterima oleh
siswa-siswa lain. Dengan demikian, media juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan
informasi diantara siswa di manapun berada.

Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik. Berbagai potensi yang dimilikinya,
media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami
maupun manipulasi. Materi pelajaran yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas,
lengkap, serta menarik minat siswa. Dengan media, materi sajian bisa membangkitkan rasa
keingintahuan siswa dan merangsang siswa bereaksi baik secara fisik maupun emosional.
Singkatnya, media pembelajaran dapat membantu guru untuk menciptakan suasana belajar
menjadi lebih hidup, tidak monoton, dan tidak membosankan.

Proses belajar menjadi lebih interaktif. Jika dipilih dan dirancang secara baik, media dapat
membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses
pembelajaran. Tanpa media, seorang guru mungkin akan cenderung berbicara satu arah kepada

siswa. Namun dengan media, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru sendiri yang
aktif tetapi juga siswanya.

Efesiensi dalam waktu dan tenaga. Keluhan yang selama ini sering kita dengar dari guru
adalah, selalu kekurangan waktu untuk mencapai target kurikulum. Sering terjadi guru
menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini sebenarnya tidak
harus terjadi jika guru dapat memanfaatkan media secara maksimal. Misalnya, tanpa media
seorang guru tentu saja akan menghabiskan banyak waktu untuk mejelaskan sistem peredaran
darah manusia atau proses terjadinya gerhana matahari. Padahal dengan bantuan media visual,
topik ini dengan cepat dan mudah dijelaskan kepada anak. Biarkanlah media menyajikan materi
pelajaran yang memang sulit untuk disajikan oleh guru secara verbal. Dengan media, tujuan
belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal
mungkin. Dengan media, guru tidak harus menjelaskan materi pelajaran secara berulang ulang,
sebab hanya dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami
pelajaran.

Meningkatkan kualitas hasil belajar. Penggunaan media bukan hanya membuat proses
pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi pelajaran lebih
mendalam dan utuh. Bila hanya dengan mendengarkan informasi verbal dari guru saja, siswa
mungkin kurang memahami pelajaran secara baik. Tetapi jika hal itu diperkaya dengan kegiatan
melihat, menyentuh, merasakan, atau mengalami sendiri melalui media, maka pemahaman siswa
pasti akan lebih baik.

Media memungkinkan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan


kapan saja.Mediapembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat
melakukan kegiatan pembelajaran secara lebih leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa
tergantung pada keberadaan seorang guru. Program program pembelajaran audio visual,
termasuk program pembelajaran menggunakan komputer, memungkinkan siswa dapat melakukan
kegiatan belajar secara mandiri, tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Penggunaan media akan
menyadarkan siswa betapa banyak sumber sumber belajar yang dapat mereka manfaatkan dalam
belajar. Perlu kita sadari bahwa alokasi waktu belajar di sekolah sangat terbatas, waktu terbanyak
justru dihabiskan siswa di luar lingkungan sekolah.

Media dapat menumbuhkan sikap positip siswa terhadap materi dan proses belajar. Dengan
media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai
ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber sumber ilmu pengetahuan. Kemampuan
siswa untuk belajar dari berbagai sumber tersebut, akan bisa menanamkan sikap kepada siswa
untuk senantiasa berinisiatif mencari berbagai sumber belajar yang diperlukan.

Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif. Dengan memanfaatkan media
secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu satunya sumber belajar bagi siswa. Seorang
guru tidak perlu menjelaskan seluruh materi pelajaran, karena bisa berbagi peran dengan media.
Dengan demikian, guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian kepada aspek
aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian,
memotivasi belajar, dan lain-lain.
Menurut Hidayat (2010), manfaat praktis media pembelajaran antara lain:
1.

Media dapat membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi lebih konkrit. Arus listrik
misalnya dapat dijelaskan melalui media grafis berupa simbol simbol dan bagan. Demikian pula
materi pelajaran yang rumit dapat disajikan secara lebih sederhana dengan bantuan media.
Misalnya materi yang membahas rangkaian peralatan elektronik atau mesin dapat
disederhanakan melalui bagan skema yang sederhana.
2.
Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu. Sesuatu yang terjadi di
luar ruang kelas, bahkan di luar angkasa dapat dihadirkan di dalam kelas melalui bantuan media.
Demikian pula beberapa peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, dapat kita sajikan di depan

siswa sewaktu waktu. Dengan media pula suatu peristiwa penting yang sedang terjadi di benua
lain dapat dihadirkan seketika di ruang kelas.
3.
Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia. Obyek pelajaran yang
terlalu kecil, terlalu besar atau terlalu jauh, dapat kita pelajari melalui bantuan media. Demikian
pula obyek berupa proses/kejadian yang sangat cepat atau sangat lambat, dapat kita saksikan
dengan jelas melalui media, dengan cara memperlambat, atau mempercepat kejadian.
Misalnya, proses perkembangan janin dalam kandungan selama sembilan bulan, dapat
dipercepat dan disaksikan melalui media hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sebaliknya,
ketika anak belajar teknik menendang bola atau melakukan smash permainan bulu tangkis yang
sangat cepat, dapat dipelajari dengan cara memperlambat gerakan tersebut melalui bantuan
media (slow motion). Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa
langka dan berbahaya ke dalam kelas. Peristiwa terjadinya gerhana matahari total yang jarang
sekali terjadi, dapat disaksikan oleh siswa setiap saat melalui media rekaman. Terjadinya gunung
meletus yang berbahaya dapat pula disaksikan siswa di kelas melalui media. Informasi pelajaran
yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan mendalam dan lebih lama
tersimpan pada diri siswa.
Menurut Nurhayati dan sappe (2004), media pembelajaran berfungsi sebagai 1) memperjelas dan
memperkaya/melengkapi informasi yang diberikan secara verbal. 2) meningkatkan motivasi,
efektivitas dan efesiensi penyampaian informasi. 3) menambah variasi penyajian materi. 4) dapat
menimbulkan semangat, gairah, dan mencegah kebosanan siswa untuk belajar. 5) memudahkan
materi untuk dicerna dan lebih membekas, sehingga tidak mudah dilupakan siswa. 6) memberikan
pengalaman yang lebih konkret bagi hal yang mungkin abstrak. 7) memberikan stimulus dan
mendorong respon siswa.
Kelebihan media animasi adalah penggabungan unsur media lain seperti audio, teks, video, image,
grafik, dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan
modalitas belajar siswa. Selain itu, dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif,
mupun
kinestetik.
(Sudrajat,
2010).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seorang guru atau pelatih dalam memilih dan
menggunakan media audio-visual dalam menyampaikan informasi, fikiran dan pesan kepada anak
didiknya, menurut Sadiman (2003:23) dalam Anonim (2009) antara lain: 1) Media audio-visual
mempermudah orang menyampaikan dan menerima materi, fikiran dan pesan serta dapat
menghindarkan salah pengertian, 2) Media audio-visual mendorong keinginan seseorang untuk
mengetahui lebih lanjut informasi yang sedang dipelajarinya, 3) Media audio-visual dapat
mengekalkan pengertian yang didapat, 4) Media audio-visual sudah berkembang di masyarakat.
Menurut Artawan (2010), kelebihan media animasi dalam pembelajaran biologi diantaranya :
1.

2.
3.
4.
5.

Memudahkan guru untuk menyajikan informasi mengenai proses yang cukup kompleks
dalam kehidupan, misalnya siklus nitrogen, respirasi aerob, sistem peredaran darah dan proses
lainnya.
Memperkecil ukuran objek yang cukup besar dan sebaliknya seperti hewan dan mikroba.
Memotivasi siswa untuk memperhatikan karena menghadirkan daya tarik bagi siswa terutama
animasi yang dilengkapi dengan suara.
Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan
visual.
Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon
pengguna.

6.

Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian
rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Menurut Artawan (2010), kelemahan dari media animasi diantaranya :
1.

Memerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang cukup memadai untuk mendesain animasi yang
dapat secara efektif digunakan sebagai media pembelajaran
2.
Memerlukan software khusus untuk membukanya
3.
Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memiliki kemampuan memahami siswanya,
bukan memanjakannya dengan berbagai animasi pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya
usaha belajar dari mereka atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu frame
cenderung akan sulit dicerna siswa.
2.
Strategi
Pembelajaran
Aktif
(Active
Learning
Strategy)
Pengertian
Strategi
Pembelajaran
Aktif
Strategi merupakan istilah lain dari pendekatan, metode atau cara. Di dalam kepustakaan pendidikan
istilah-istilah tersebut di atas sering digunakan secara bergantian. Menurut Udin S. Winataputra & Tita
Rosita ( 1995: 124) dalam Hasim (2008), istilah strategi secara harfiah adalah akal atau siasat.
Sedangkan strategi pembelajaran diartikan sebagai urutan langkah atau prosedur yang digunakan
guru untuk membawa siswa dalam suasana tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.
Sedangkan pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani
(2007:xvi) dalam Hasim (2008) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar
secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas
pembelajaran.
Menurut Ramadhan (2008), pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru
harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan
mengemukakan gagasan.
Menurut Anonim (2010), pembelajaran aktif berarti bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai
pengalaman untuk memperoleh pemahaman baru. Siswa aktif terlibat di dalam proses belajar
mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Teori belajar konstruktivisme merupakan titik berangkat
pembelajaran aktif. Atas dasar itu pembelajaran ini secara sengaja dirancang agar mengaktifkan
anak. Di dalam implementasinya, seorang guru harus merancang dan melaksanakan kegiatankegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses
pembelajaran. Menurut Dryden & Voss, 2000dalam Anonim (2010), mengapa pembelajaran harus
mengaktifkan siswa? Hasil penelitian menunjukkan bahwa kita belajar 10% dari yang kita baca, 20%
dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari yang kita
ucapkan, dan 90% dari yang kita ucapkan dan kerjakan serta 95% dari apa yang kita ajarkan kepada
orang lain. Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
Aplikasi
Strategi
Pembelajaran
Aktif
Menurut Hasim (2008), tips yang dapat digunakan guru untuk mengarah pada strategi pembelajaran
yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar:
1.
Selalu berpenampilan menarik dan penuh wibawa. Kesan pertama siswa saat bertemu
gurunya adalah fisik dari guru tersebut. dengan penampilan yang menarik dan penuh wibawa
akan membuat kesan yang positif dari siswa, sehingga dengan mudah guru akan dapat
membawa siswa kedalam suasana belajar yang guru inginkan.

2.

Manfaatkan pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan antar warga kelas.
Tunjukkan cara-cara belajar biologi yang baik, buatlah kesepakatan (kontrak) terkait normanorma yang harus dipatuhi oleh warga kelas.
3.
Buatlah formasi tata letak meja, kursi, pajangan dinding, dan perabot kelas yang lain sesuai
dengan kesepakatan warga kelas dan kebutuhan.
4.
Siapkan semua peralatan yang akan digunakan di dalam ruang kelas sebelum memulai
pembelajaran.
5.
Mulailah proses belajar mengajar dengan materi yang ringan tetapi menantang yang dapat
merangsang siswa turut aktif berfikir. Kemudian masuk pada materi yang akan kita ajarkan
dengan senantiasa melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa
mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa lebih mudah
memahami materi yang kita berikan.
6.
Selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan salam yang
menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.
7.
Gunakan bahasa yang santun, hormat, dan dengan nada bicara yang lembut.
8.
Memahami dan menghormati berbagai perbedaan yang ada
9.
Menghormati kerahasiaan setiap siswa
10.
Tidak merendahkan dan mencemooh siswa
11.
Memberi kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk bicara dan jangan mengintrupsi
pembicaraan siswa
12.
Bila seorang siswa mengemukakan pendapat, jadilah pendengar yang baik dan selanjutnya
berikan kesempatan kepada siswa lain untuk memahaminya dan memberikan komentarnya.
13.
Memahami dan menghormati pendapat setiap siswa, bila perlu melancarkan kritik: gunakan
bahasa yang mengayomi, dan bila kritik bersifat pribadi seyogyanya dilakukan di ruang khusus.
14.
Sekali waktu, berilah kesempatan kepada siswa untuk memberikan saran atau kritik guna
perbaikan proses pembelajaran.
15.
Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan siswa di luar kelas.
Menurut
Anonim
(2010),
Jenis
dan
langkah
strategi
pembelajaran
aktif
yaitu
1.
Question
students
have
Langkah

Bagikan
kartu
kosong
kepada
setiap
siswa
Mintalah setiap siswa menulis satu pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat
pelajaran
yang
sedang
dipelajarai
(jangan
mencantumkan
nama
peserta
didik)

Putarlah
kartu
tersebut
searah
jarum
jam
Ketiaka setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, dia (pria atau wanita) harus membaca dan
memberinya tanda ceklis pada kartu itu apabila kartu berisi pertanyaan mengenai pembaca
Saat kartu kembali kepada penulisnya, setiap peserta akan memeriksa seluruh pertanyaan
kelompok tersebut, poin ini mengindentifikasi pertanyaan yang memperoleh suara terbanyak
Panggil beberapa peserta berbagai pertanyaan secara sukarela, sekalipun mereka tidak
memperoleh
suara
terbanyak

Kumpulkan
semua
kartu
(fungsi strategi ini: penilaian secara cepat)
3. Kaitan Penggunaan Media Animasi, Strategi Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,khususnya teknologi informasi sangat berpengaruh
terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Melalui kemajuan tersbut para guru
dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan
menggunakan media komunikasi bukan saja dapat mempermudah dan mengefektifkan proses

pembelajaran,akan tetapi juga bias membuat proses pembelajaran lebih menarik. Proses
pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga
komponen pokok, yaitu komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Kadangkadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau
pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh
materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa, lebih parah lagi siswa sebagai penerima
pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat
menyusun strategi pembelajaran (Sanjaya, 2007).
Strategi pembelajaran yang baik adalah yang mengandung kegiatan-kegiatan yang dapat
membangkitkan motivasi siswa. Menurut Sutikno (2007), belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan
belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi belajar tidak
akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Dan cara yang terbaik untuk membangkitkan motivasi
siswa adalah dengan penggunaan media.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa, yakni melalui pengamatan aktivitas siswa selama proses
pembelajaran dan melalui pemberian penilaian atau evaluasi. Menurut Hamalik (2001), penilaian atau
evaluasi adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal yang telah dimiliki oleh siswa dari
hal-hal yang telah diajarkan. Evaluasi memiliki beberapa tujuan antara lain :

Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar
melalui berbagai kegiatan belajar.

Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membinan kegiatan-kegiatan belajar lebih
lanjut, baik keseluruhan maupun individu

Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dan
menyarankan kegiatan-kegiatan remedial

Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi
belajar siswa dengan cara mengenal kemajuan sendiri dan merangsangnya untuk melakukan
upaya perbaikan.
4.
Hasil
Belajar
Siswa
Menurut Sudjana (1989) dalam Sadiati (2006), apabila dicapai kualitas pembelajaran yang baik maka
akan dicapai pula hasil belajar yang baik. Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya. Menurut Bloom
dalam Sudjana dalam Sadiati (2006) membagi tiga ranah hasil belajar yaitu:
1.
Ranah kognitif. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu
pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
2.
Ranah Afektif. Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek yaitu penerimaan,
jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan internalisasi.
3.
Ranah Psikomotorik. Berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemauan bertindak,
ada enam aspek yaitu gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, ketrampilan membedakan
secara visual, ketrampilan dibidang fisik, ketrampilan komplek dan komunikasi.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir
pembelajaran, sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur pada proses
pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan siswa. Untuk dapat mencapai hasil belajar
yang optimal, seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta
metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi kegiatan belajar mengajar

dapat berlangsung dengan baik, dengan suasana yang tidak membosankan siswa. Salah satu model
pembelajaran yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran, adalah penggunaan
media animasi .
Menurut Artawan (2010), media animasi dalam proses pembelajaran biologi ternyata dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa karena memiliki kemampuan untuk memaparkan
sesuatu yang rumit atau komplek melalui stimulus audio visual yang akhirnya membuahkan hasil
lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubunghubungkan fakta dan konsep. Pembelajaran dengan memanfaatkan media animasi dapat
menciptakan pembelajaran biologi menjadi efektif, menyenangkan, tidak membosankan sehingga
mempercepat
proses
penyampaian
materi
kepada
siswa.
Menurut Furoidah (2009), penggunaan media animasi pembelajaran memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang
dibelajarkan menggunakan media animasi lebih tinggi daripada siswa yang dibeljarkan tanpa
menggunakan media animasi.