Anda di halaman 1dari 3

Manajemen Luka Dekubitus

(Pressure Ulcer/Sore)
Dr. Suriadi, MSN,AWCS
Kejadian Pressure Ulcer
Kejadian luka dekubitus di indonesia 33.3% (Suriadi, 2007)
ASEAN lainnya (japan, korea, china) 2,1 18%
Study Internasional (1,9 63.6%)
Pressure Ulcer Definition
A pressure ulcer is localized injury to the skin and/or underlying tissue usually over a bony
prominence, as a result of pressure, or pressure in combination with shear and/or friction.

Stage I:
Intact skin with non-blanchable redness of a localized area usually over a bony prominence.
Darkly pigmented skin may not have visible blanching; its color may differ from the
surrounding area.
Stage II:
Partial thickness loss of dermis presenting as a shallow open ulcer with a red pink wound
bed, without slough. May also present as an intact or open/ruptured serum-filled blister.
Stage III:
Full thickness tissue loss. Subcutaneous fat may be visible but bone, tendon or muscle are not
exposed. Slough may be present but does not obscure the depth of tissue loss. May include
undermining and tunneling.
Stage IV:
Full thickness tissue loss with exposed bone, tendon or muscle. Slough or eschar may be
present on some parts of the wound bed. Often include undermining and tunneling.

Pencegahan dan intervensi awal pasien dengan luka tekan


Kaji resiko individu terhadap kejadian luka tekan
Skala yang sering digunakan adalah skala Braden dan Norton. Saat ini skala Braden telah
diuji validitasnya di Indonesia, dan memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi
Skala S.S (Suriadi & Sanada) untuk ICU Pasien

The S.S Scale for Predicting Risk of Pressure Ulcer


Intervensi
4. Identifikasi usia lebih dari 60 tahun, bayi dan neonatal, pasien injuri tulang belakang
adalah kelompok yang mempunyai resiko tinggi terhadap kejadian luka teka

5. Kaji keadaan kulit secara teratur


a. Pengkajian kulit setidaknya sehari sekali
b. Kaji semua daerah diatas tulang yang menonjol setidaknya sehari sekali .
c. Kulit yang kemerahan dan daerah diatas tulang yang menonjol seharusnya tidak dipijat
karena pijatan yang keras dapat mengganggu perfusi ke jaringan
6. Kaji status mobilitas.
Intervensi
Penggunaan bantal:
Diantara lutut kanan dan lutut kiri
Diantara mata kaki
Dibelakang punggung
Dibawah kepala
7. Minimalkan terjadinya tekanan.
Hindari menggunakan kasa yang berbentuk donat di tumit
Tentukanlah jenis matras yang sesuai dengan kondisi pasien[19].
8. Kaji dan minimalkan terhadap pergesekan (friction)dan tenaga yang merobek (shear).
9. Bersihkan dan keringkan kulit secepat mungkin setelah episode inkontinensia. Posisi 30
derajat untuk mencegah pasien merosot yang dapat mengakibatkan terjadinya perobekan
jaringan

10. Kajilah inkontinensia


Bersihkanlah setiap kali lembab
Hindari menggosok kulit dengan keras
Pembersih perianal yang mengandung antimikroba
Gunakalah air yang hangat atau sabun yang lembut
Berikanlah pelembab setelah dimandikan
Bila pasien menggunakan diaper, pilihlah diaper yang memiliki daya serap
11. Kaji status nutrisi
serum albumin & hemoglobin << dari yang tidak PU
Kajilah status ; BB, intake makanan, nafsu makan, masalah pencernaan, gangguan pada
gigi, riwayat pembedahan
Intervensi
12. Kaji dan monitor luka tekan dressing
13. Deskripsi luka tekan ; lokasi, tipe jaringan ( granulasi, nekrotik, eschar), ukuran luka,
eksudat ( jumlah, tipe, karakter, bau), serta ada tidaknya infeksi.
Stadium dari luka tekan
Kondisi kulit sekeliling luka
Nyeri pada luka
14. Kajilah faktor yang menunda status penyembuhan
gagal sembuh; malignansi, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, pneumonia
Medikasi seperti steroid, agen imunosupresif, atau obat anti kanker juga akan mengganggu
penyembuhan luka

15. Evaluasi penyembuhan luka


PSST (pressure sore status tool ), dan PUSH ( pressure ulcer scale for healing)[4].
16. Kaji komplikasi ; abses, osteomielitis, bakteremia, fistula
17. Edukasi berupa penyebab dan faktor resiko untuk luka tekan dan cara cara untuk
meminimalkan luka tekan