Anda di halaman 1dari 11

Reaktivitas Biologis

Pendahuluan
Setiap manusia memiliki keunikan pada tubuhnya. Dalam tubuh kita terdapat banyak sekali
sel. Sel sendiri merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan. Sel
memiliki lapisan pelindung yang disebut membran sel. Dalam kerjanya sel menyeleksi unsurunsur dan ikatan kimia yang diperlukan oleh sel tersebut. Dari ikatan kimia tersebut dapat
menghasilkan reaktivitas biologis.
Membran Sel
Membran sel atau membran plasma merupakan lapisan terluar yang dimiliki sebuah sel.
Membran plasma bersifat permeabel selektif atau semipermeabel.1 Membran plasma juga
bersifat fleksibel yang memungkinkan sel berubah ke banyak bentuk karena sebagian besar
disusun oleh lipid.2 Struktur dari membran plasma adalah terdapat protein yang mengambang
di dua lapisan lipid. Selain lipid dan protein membran plasma juga mengandung karbohidrat.
Karbohidrat menempel pada protein integral, perifer dan pada molekul lipid. Lipid adalah
bagian yang bertanggung jawab dalam fungsi membran sebagai pengisolasi. Sedangkan
protein bertugas meregulasi pertukaran subbstansi-substansi dan komunikasi dengan
lingkungan sekitar. Model membran plasma tersebut pertama kali diperkenalkan oleh ahli
biologi S.J. Singer dan G.L. Nicolson pada tahun 1972.3 Model ini dikenal sebagai model
mosaik cair(fluid mosaic model).1,2,3 Berdasarkan model tersebut jika dilihat dari atas,
membran terlihat seperti sesuatu yang kental dan secara konstan menggerak-gerakan mosaik
ekor-ekor fofolipid. Bentuk dua lapis(bilayer) fosfolipid adalah cairan kental yang mengisi
sela-sela mosaik. Berbagai macam protein merupakan ekornya yang kadang meluncur
diantara lapisan fofolipid.3 Molekul protein dapat membentuk saluran atau carrier untuk
mentranspor substansi tertenntu menembus membran plasma. Protein dan lipid pada membran
dapat membentuk kanal-kanal yang hidrofobik atau hidrofilik yang memungkinkan
perpindahan molekul dengan sifat-sifat berbeda. Lapisan ganda (fosfolipid) bersifat amfifilik
karena terdiri atas ekor yang hidrofob(menolak air) dan kepala yang hidrofil. Lapisan ganda
(fosfolipid) mempunyai permukaan luar yang bersifat hidrofobik (menolak air). Sedangkan,
satu sisi hidrofilik(menarik air) menghadap ke daerah sitosolik dan sisi lain menghadap ke
permukaan ekstrasitosolik. Molekul protein berinteraksi dengan molekul-molekul lipid

dengan cara yang berbeda-beda. Protein yang menempel pada permukaan luar lipid disebut
protein perifer. Protein perifer dapat dilepaskan dari struktur membran dengan adanyya
perubahan Ph. Protein perifer berperan sebagai jangkar atau tempat menempel serabut
ekstraselluler. Sedangkan yang terbenam dalam lapisan lipid disebut protein integral. Protein
terbagi atas dua kelompok yaitu protein transmembran yang letaknya terentang dari
permukaan dalam sampai ke permukaan luar lapisan fosfolipid. Protein integral lainnya
sebagian terbenam dalam lapisan fosfolipid dan sebagian lainnya muncul di permukaan.
Fungsi dari membran adalah sebagai berikut:

Sebagai pembatas antara sel dengan lingkungan luar dan pembatas antara organel

dengan bahan sel lainnya


Sebagai reseptor molekul-molekul khusus(hormon) metabolit dan agenisa khas

bakteri dan virus.


Mengatur lalu lintas senyawa-senyawa atau ion-ion yang masuk dan keluar sel
Tempat berlangsungnya berbagai reaksi kimia seperti pada membran mitokondria,

kloroplas, retikulum endoplasma dan lain-lain.


Sebagai reseptor perubahan lingkungan sel seperti perubahan suhu, intensitas cahaya,
dan lain-lain.

Transportasi Sel
Transportasi sel dibagi menjadi dua cara yaitu transport aktif dan transport pasif. Transportasi
pasif adalah perpindahan zat-zat mengikuti aliran perbedaan konsentrasi. Transportasi pasif
berlangsung melalui proses difusi, dialisis, difusi terfasilitasi, filtrasi dan osmosis.
Transportasi aktif adalah perpindahan zat-zat melawan aliran perbedaan konsentrasi dan
memerlukan energi. Transportasi aktif berlangsung melalui proses

Transport aktif,

endositosis, dan eksositosis.4


Difusi
Difusi merupakan perpindahan molekul-molekul suatu zat dari bagian yang berkonsentrasi
tinggi menuju bagian yang berkonsentrasi rendah atau gerakan downhill (turun bukit).
Difusi dapat berlangsung dalam suatu cairan, gas, atau zat padat melalui membran hidup atau
membran tak hidup yang permeabel untuk molekul tersebut. Difusi terbagi dalam beberapa
macam, yaitu:
1. Difusi dalam cairan

Difusi dalam cairan adalah gerakan partikel zat terlarut dan pelarut ke semua arah
melalui suatu larutan, atau dua arah melalui membran yang permeabel.5
2. Difusi saring
Difusi saring adalah pergerakan partikel dari area berkonsentrasi tinggi menuju ke
area yang berkonsentrasi lebih rendah yaitu sejalan dengan gradien konsentrasinya
sendiri. Partikel-partikel yang bergerak lebih banyak ke satu arah dibandingkan arah
lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi saring adalah gradien konsentrasi
yang tinggi, Berat molekul rendah, dan peningkatan suhu.5
3. Difusi setara
Difusi setara terjadi setelah ekuilibrium tercapai, yaitu setelah difusi saring zat
terlarut ke suatu arah dan pelarut (solven) ke arah yang berlawanan mengakibatkan
hillangnya gradien konsentrasi. Jumlah partikel yang berdifusi ke satu arah setara
dengan yang berdifusi ke arah lainnya.5
Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi disebut difusi diperantai carrier. Difusi terfasilitasi adalah suatu bentuk
transport pasif, meningkatkan laju difusi dengan menggunakan protein pembawa. Difusi
terfasilitasi tidak mengeluarkan energi karena molekul yang menurunkan gradien
konsentrasinya. Masing-masing jenis protein pembawa adalah bentuk untuk mengenali, atau
terikat dengannya satu jenis molekul. Ketika molekul glukosa terikat pada permukaan protein
pembawanya, protein akan mulai merubah bentuknya. Kemudian satu pori-pori atau lubang
mulai terbentuk pada sisi ikatan. Lubang ini nantinya akan menjadi suatu saluran yang dapat
dilewati molekul glukosa. Setelah glukosa masuk ke dalam sel, protein pembbawa akan
kembali ke bentuk aslinya dan melakukannya ke glukosa yang lainnya. Protein pembawa
memiliki

kekhususan

dengan

selektif

dalam

membedakan

molekul-molekul

yang

berhubungan erat. Difuusi terfasilitasi dapat dihambat oleh molekul inhibitor kompetitif atau
non kompetitif yang sangat menyerupai molekul zat terlarut.4,5
Dialisis
Dialisis adalah pemisahan zat terlarut kristaloid yang berdiameter kurang dari 1nm dengan
berdifusi melalui membran yang permeabel untuk partikel tersebut, tetapi tidak permeabel
untuk partikel zat terlarut koloid. Prinsip dialisis dipakai dalam ginjal artifisial(buatan).5
Osmosis
Osmosis adalah difusi saring molekul air melalui membran permeabel selektif atau
semipermeabel. Proses osmosis tidak membutuhkan energi dari sel oleh karena dihasilkan
dari energi kinetik molekul molekul yang bergerak. Suatu larutan dikatakan hipotonik jika

mengandung konsentrasi yang lebih rendah dari bahan terlarut atau larutan dibandingkan
suatu larutan yang ada sebelumnya. Sedangkan dikatakan hipertonik jika mengandung larutan
dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan larutan pembandingnya. Molekul air cenderung
bergerak ke larutan hipertonik. Larutan dikatakan isotonik jika memiliki konsentrasi yang
sama dengan konsentrasi partikel yang tidak dapat berdifusi.4,5
Filtrasi
Filtrasi adalah kekuatan gerakan air dan molekul yang dapat berdifusi melewati membran
plasma akibat tekanan mekanik atau tekanan cairan yang tinggi, misalnya tekanan hidrostatik
atau tekanan darah. Tekanan darah menyebabkan terjadinya filtrasi yang melewati pembuluh
darah khusus di ginjal sebagai langkah awal produksi urin.5
Transport aktif
Transport aktif terjadi apabila sel secara aktif memindahkan zat-zat melalui membran sel
dengan menggunakan energi metabolik. Transport aktif digunakan untuk menggerakan ion
atau molekul melawan gradien konsentrasinya (uphill) dri area berkonsentrasi rendah ke area
konsentrasi tinggi.5 Transport aktif melibatkan mekanisme diperantai carrier. Carrier tersebut
adalah protein integral yang disebut pompa. Energi yang digunakan dalam transport aktif
adalah pemecahan ATP menjadi Adenosin difosfat(ADP).4,5 Contoh dari transport aktif adalah
pompa ion natrium/kalium dan pompa kalsium. Transport aktif juga terjadi pada kotransport.
Kotransport sendiri adalah gabungan antara difusi dan transport aktif. Pada kotransport, suatu
transport protein khusus dapat memasangkan transport aktif suatu zat melawan gradien
konsentrasinya sendiri dengan difusi pasif zat kedua. Salah satu contonhnya adalah
kotransport natrium dalam ginjal.
Eksositosis
Eksoitosis merupakan mekanisme transport molekul keluar dari sel dengan cara membentuk
vesikula. Eksositosis terjadi apabila molekul-molekul berukuran besar tidak dapat
ditransportasi melalui mekanisme transport aktif. Suatu sel akan membentuk vesikula apabila
akan mengeluarkan suatu molekul. Vesikula akan melingkupi molekul yang akan dibawa
keluar dan bergerak menuju membran sel. Setelah melekat dengan membran sel, molekul
yang dibawa vesikula akan keluar dari dalam sel. Contoh proses eksositosis adalah pelepasan
produk dari sel-sel sekretori dan pelepasan transmitter kimia dari sel-sel saraf di ujung saraf.4
Endositosis
Ebdositosis merupakan mekanisme masuknya molekul berukuran besar ke dalam sel dengan
bantuan vesikula. Mekanismenya, suatu sel akan membentuk vesikula dengam cara
menjulurkan bagian luar membran sel. Bagian luar sel tersebut akan mengurung atau
menangkap molekul yang akan dibawa masuk. Kemudian, vesikula akan menelan molekul

tersebut sehingga masuk ke dalam sel. Terdapat tiga jenis endositosis yaitu fagositosis,
pinositosis, dan endositosis yang diperantai reseptor. Pada fagositosis, sel menelan suatu
partikel

dengan

pseudopod

yang

membalut

disekeliling

partikel

tersebut

dan

membungkuusnya di dalam kantong berlapis membran yang cukup besar untuk digolongkan
sebagai vakuola. Partikel itu dicerna setelah vakuola bergabung dengan lisosom yang
mengandung enzim hidrolitik. Pada pinositosis, sel meneguk tetesan flluida ekstraseluler
dalam vesikula kecil. Karena adalah satu atau seluruh zat terlarut yang larut dalam tetesan
tersebut dimasukkan ke dalam sel, pinositosis tidak bersifat spesifik dalam substansi yang
ditransportnya. Endositosis diperantai reseptor mengacu pada proses pengikatan molekul
reseptor dipermukaan sel dengan zat tertentu yang disebut ligan. Protein reseptor biasanya
mengelompok dalam daerah membran yang disebut lubang terlapisi, yang sisi
sitoplasmiknyya dilapisi oleh lapisan protein samar. Protein pelapis ini mungkin membantu
memperdalam lubang dan membentuk vesikula. Endositosis yang diperantai reseptor
memungkinkan sel dapat memperoleh substansi spesifik dalam jumlah yang melimpah,
sekalipun substansi itu mungkin saja konsentrasinya tidak tinggi dalam fluida ekstraseluler.4,5
Metabolisme sel
Metabolisme adalah proses-proses kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup/sel.
Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan
enzim sebagai katalisator. Metabolisme terbagi dalam 2 proses yaitu katabolisme dan
anabolisme.6 Katabolisme merupakan reaksi penguraian makromolekul besar menjadi
senyawa yang lebih kecil untuk menghasilkan energi. Sedangkan anabolisme adalah tahap
penggunaan energi di mana senyawa-senyawa kompleks dibentuk dari zat penyusun yang
sederhana. Katabolisme dalam sel dilakukan oleh mitokondria. Energi dihasilkan dari
pemecahan glukosa, asam amino, dan asam lemak secara kimia dengan glukosa sebagai
sumber terpenting. Contoh peristiwa katabolisme adalah fermentasi dan respirasi sel. Untuk
mengirimkan energi dari glukosa ke tempat yang membutuhkan, sel menggunakan molekul
pembawa yaitu ATP( Adenosin Tri Phospat). Struktur kimia ATP terdiri dari molekul adenin
yang melekat pada gula ribosa. Yang menempel pada molekul ribosa merupakan rantai dari
tiga gugus fosfat. Untuk melepaskan energi, ATP harus diubah menjadi ADP (Adenosin
diphospat),6 yaitu suatu molekul yang hanya memiliki dua gugus fosfat. Persamaan reaksi nya
sebagai berikut: ATP ADP + P + Energi

Reaksi sebaliknya juga terjadi dan ditunjukkan oleh tanda panah bolak balik. ADP dan P
menyerap energi untuk membentuk ATP. Energi untuk mengisi ulang ATP disediakan dari
pemecahan molekul makanan seperti glukosa.
Katabolisme dibedakan menurut dilibatkan atau tidaknya oksigen pada reaksi tersebut. Reaksi
yang melibatkan oksigen disebut reaksi aerobik. Sedangkan yang tidak melibatkan oksigen
adalah reaksi anaerobik.6 Fermentasi merupakan proses anaerobik yang dilakukan oleh sel-sel
ragi(yeast). Ferrmentasi dimulai setelah glukosa berdifusi dalam sel ragi. Glukosa dirombak
setelah beberapa reaksi-reaksi kimia menjadi dua, molekul 3 karbon disebut asam piruvat.
Asam piruvat kemudian diubah menjadi karbon dioksida dan etanol(etil akohol). Energi yang
dilepaskan membuat 2 molekul ATP.
C6H12O6 2 CH3CH2OH + 2CO2 + Energi
Glukosa

etanol

(2ATP)

Etanol dan karbondioksida adalah produk limbah atau sisa fermentasi, maka berdifusi keluar
dari sel. Contoh hasil fermentasi sel ragi adalah roti atau jus anggur. Selain sel ragi, bakteri
juga dapat melakukan fermentasi. Bakteri dapat merusak susu dengan mengkonversikannya
menjadi asam laktat.

Gambar 4. Jenis reaksi fermentasi


(Sumber : http://media-2.web.britannica.com/eb-media/69/116269-004-730AB723.gif)
Organisasi aerobik merombak glukosa lebih lanjut menjadi karbondioksida dan air. Jalur yang
menggunakan oksigen memanfaatkan lebih banyak energi yang terkandung di dalam molekul
glukosa. Perombakan total aerobik glukosa disebut respirasi seluler.6
C6H12O6
1 mol glukosa

6O2

6CO2

+ 6H2O

6 mol oksigen 6 mol karbon

6 mol air

+ energi
38 ATP

Respirasi menghasilkan jauh lebih banyak energi dibandingkan fermentasi. Pembakaran satu
molekul glukosa dengan oksigen menghasilkan 38 molekul ATP. 38 ATP yang dihasilkan saat
respirasi adalah 19 kali jumlah ATP yang dibuat melalui fermentasi. Pada tingkat ini, sel
aerobik kembali hanya sekitar 40% energi pada molekul glukosa, 60% lainnya hilang sebagai
panas. Respirasi seluler terjadi dalam 2 tahap. Pertama, fase anaerob yang terjadi di
sitoplasma sel. Tahap kedua adalah fase aerobik yang terjadi dalam mitokondria dan
menghasilkan lebih dari 90% ATP yang dibuat dari respirasi. Fase anaerobik respirasi sel

sama seperti proses fermentasi. Glukosa dirombak menjadi asam piruvat dan menghasilkan 2
ATP. Pada fase aerobik reaksi ini disebut glikolisis. Asam piruvat yang dihasilkan glikolisis
memasuki mitokondria. Dalam mitokondria, asam piruvat terurai menjadi karbondioksida dan
molekul 2 karbon yang disebut asam asetat. Karbondioksida meninggalkan sel sebagai
limbah, tetapi asam asetat menempel pada molekul pembawa dan berjalan melalui
serangkaian reaksi yang disebut siklus krebs(Hans Krebs, 1980-1981). Pada awal siklus krebs
atau siklus asam sitrat, asam asetat 2 karbon melekat pada 4 molekul karbon. Enam senyawa
kkarbon yang dihasilkan adalah asam sitrat. Asam sitrat ini kemudian dipecah dalam
serangkaian reaksi. Setiap reaksi dikendalikan oleh sebuah enzim yang terpisah. Selama
reaksi-reaksi ini, 2 molekul karbondioksida dibuang, meninggalkan 4 senyawa karbo pada
akhir setiap siklus. Empat senyawa karbon kemudian bergabung dengan assam asetat 2
karbon lainnya, memulai penggantian siklus lainnya. Sel aerobik memiliki cara penghematan
energi dari elektron yang dihasilkan dalam respirasi.Pembawa elektron membawa elektron ini
pada sekelompok koenzim yang terletak di membran dalam mitokondria. Seperti beberapa
orang yang membawa ember dan saling tolong menolong, koenzim ini membentuk rantai
transpor elektron. Setiap kali sebuah elektron dilewatkan dari satu koenzim ke koenzim yang
lainnya, seperti seember air, energi dilepaskan. Energi ini digunakan untuk membentuk
sejumlah besar molekul ATP dari ADP dan P. Pada saat elektron mencapai ujung rantai,
electron telah kehilangan sebagian besar energinya. Elektron dibawa oleh pembawa electron
pada awal rantai transport harus dibuang pada akhir rantai. Akseptor terakhir dari electron
adalah oksigen. Hidrogen dan oksigen dikeluarkan selama reaksi respirasi yang bergabung
dengan oksigen untuk membentuk air. Oksigen, kemudian bertindak seperti orang pada akhir
jalur perakitan mobil yang mengendarai mobil masing-masing yang sudah selesai keluar dari
pabrik. Jika orang itu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya, seluruh jalur perakitan
harus ditutup. Tanpa oksigen untuk membawa keluar elektron berenergi rendah, semua reaksi
respirasi menjadi berhenti. Sel berhenti membuat ATP, dan cepat mati karena tidak lagi
memiliki sumber energi. Pada penyelesaian glikolisis dan siklus asam sitrat, glukosa telah
dipecah menjadi karbondioksida yang dilepaskan dari mitokondria. Oksigen dan hidrogen
telah diubah menjadi air, dan maksimum 38 ATP yang telah diproduksi untuk sel.

Ikatan ion (logam-non logam)

Ikatan ion terjadi akibat gaya tarik menarik antara ion bermuatan positif (kation) dengan ion
bermuatan negatif (anion) atau akibat dari serah terima elektron dari suatu atom ke atom
lainnya. Ikatan ion biasa nya terjadi antara golongan alkali dengan halogen kecuali Hidrogen.
Contoh dari ikatan ion adalah Na+ + Cl- NaCl.8
Ikatan Kovalen (Non logam-non loogam)
Ikatan kovalen adalah ikatan antar atom yang sejenis atau berbeda didasarkan pada pemakaian
elektron bersama sehingga setiap atom memiliki susunan elektron stabil seperti gas mulia.
Pada umumnya ikatan kovalen terbentuk dari unsur-unsur yang keelektronegatifannya sama
atau hampir sama( perbedaan keelekronegatifannya rendah). Ikatan kovalen terjadi pada
atom-atom non logam. Berdasarkan jenis ikatannya, ikatan kovalen dibagi menjadi kovalen
tunggal, rangkap dua, rangkap tiga, dan kovalen koordinat(semipolar). Ikatan kovalen tunggal
adalah ikatan kovalen yang terbentuk melalui sepasang elektron. Sedangkan, ikatan kovalen
rangkap dua terbentuk melalui dua pasang elektron dan selanjutnya ikatan kovalen rangkap
tiga. Contoh ikatan kovalen tunggal adalah CCl4, H2O, dan Cl2. Contoh ikatan kovalen
rangkap dua adalah O2. Contoh kovalen rangkap tiga adalah N 2. Ikatan rangkap tiga pada
nitrogen menyebabkan nitrogen bersifat lamban pada suhu kamar. Ikatan kovalen koordinat
terjadi bila pasangan elektron yang dipakai bersama berasal dari salah satu atom yang
berikatan. Dalam rumus struktur, ikatan kovalen koordinat digambarkan dengan anak panah
kecil yang diarahkan kepada atom yang meminjam elektron. Contoh ikatan kovalen koordinat
adalah pada molekul NH3 BF3. Berdasarkan kepolarannya Ikatan kovalen ada yang bersifat
polar dan nonpolar. Sifat polar dan non-polar dari senyawa kovalen berdasarkan pada
perbedaan

kelektronegatifan

atom-atom

yang

membentuk

senyawa

kovalen

serta

memperhatikan bentuk molekul senyawa kovalen yang terjadi.7,8,9 Ikatan kovalen polar terjadi
jika elektron-elektron yang digunakan cenderung lebih tertarik ke salah satu atom(polarisasi).
Contoh dari kovalen polar adalah molekul asam klorida (HCl). Ikatan kovalen non-polar
terjadi jika elektron-elektron yang digunakannya tersebar merata ke setiap atom yang
berikatan atau daya tarik atom untuk menarik elektron sama kuat. Biasanya, ikatan kovalen
non-polar terjadi antara atom-atom sejenis. Molekul dengan ikatan kovalen non-polar pasti
bersifat non-polar. Sedangkan Molekul dengan ikatan kovalen polar dapat bersifat polar
ataupun non-polar bergantung pada bentuk molekulnya. Jika ikatan kovalen polar, tetapi
membentuk molekul simetris maka secara keseluruhan molekul itu akan bersifat non-polar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu ikatan kovalen polar bersifat polar jika bentuk
molekulnya asimetris.

Ikatan Logam (logam-logam)


Ikatan ogam adalah ikatan yang terbentuk karen adanya gaya tarik inti atom-atom logam (ionion positif) ddengan larutan elektron. Ciri - ciri dari ikatan logam adalah mempunyai gaya
elektrostatis yang mengikat seluruh kristal logam sebagai satu kesatuan. Mempunyai daya
hantar panas dan listrik yang tinggi.8,9

Gambar 6. Ikatan Logam


Gaya Tarik Intramolekul dan Intermolekul
Gaya intramolekul (dalam molekul) adalah gaya yang memungkinkan terjadi ikatan antara
semua atom di dalam molekul. Gaya intramolekul memungkinkan suatu zat mengalami
perubahan wujud. Sedangkan, gaya intermolekul (antar molekul) adalah gaya yang
mempersatukan molekul yang satu dengan yang lainnya Gaya tarik antar molekul lebih lemah
dibandingkan gaya tarik dalam molekul. Terdapat 3 jenis gaya tarikk intermolekul, yaitu:
1. Gaya london (gaya dispersi = gaya tarik menarik dipol sesaat dipol terimbas)
Gaya london merupakan gaya tarik menarik yang ditimbulkan oleh ikatan dipol
sesaat dan dipol terimbas. Dipol sesaat merupakan ikatan yang terjadi karen
aelektron dalam orbital senantiasa bergerak berpindah dari satu daerah ke daerah
lainnya sehingga menyebabkan suatu molekul yang secara normal bersifat nonpolar
dapat berubah menjadi non-polar. Sedangkan, dipol terimbas dihasilkan dari dipol
sesaat pada suatu molekul yang dapat mengimbas molekul sekitarnya sehingga
membentuk suatu dipol terimbas. Gaya london terdapat pada zat polar dan non-polar.

Gaya london bersifat lemah. Kekuatan gaya london dipengaruhi oleh massa molekul
relatif(Mr) dan bentuk molekul.7,10
2. Gaya Tarik dipol-dipol
Gaya tarik dipol-dipol adalah gaya tarik antar molekul pada zat yang polar karena
molekul-molekulnya cenderung menyusun diri dengan kutub positif berdekatan
dengan kutub negatif dari molekul didekatnya. 10 Gaya tarik dipol-dipol lebih kuat
dibandingkan gaya london sehinga zat polar cenderung memiliki titik didih dan cair
lebih tinggi dibandingkan zat non-polar.
3. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen adalah ikatan yang terjadi karena gaya tarik menarik antarmolekul
yaitu antara atom hidrogen dengan atom lain yang mempunyai keelektronegatifan
besar pada molekul yang lain.