Anda di halaman 1dari 113

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

DIKTAT AJAR

ASUHAN KEBIDANAN II (PERSALINAN)

Oleh :
CITRA HADI KURNIATI, S.ST

PROGRAM STUDI KEBIDANAN DIII


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2010

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB I
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DALAM MASA PERSALINAN

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa mampu menjelaskan definisi persalinan dan macamnya.

Mahasiswa mampu menjelaskan sebab-sebab mulainya persalinan

Mahasiswa mampu membedakan tahapan-tahapan persalinan

Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan asuhan persalinan

Mahasiswa mampu menyebutkan tanda-tanda persalinan

b. URAIAN MATERI

Persalinan
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan
pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan
imatur adalah persalinan saat kehamilan 20 -28 minggu dengan berat janin
antara 500 1000 gr. Persalinan premature adalah persalinan saat
kehamilan 28 36 minggu dengan berat janin antara 1000 2500 gr.
Macam-macam persalinan:
a. Persalinan spontan
Bila persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri, melalui jalan
lahir ibu tersebut.
b. Persalinan buatan
Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi
forceps, atau dilakukan operasi Sectio Caesaria.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

c. Persalinan anjuran
Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru
berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau
prostaglandin.
Sebab sebab mulainya persalinan
a. Penurunan kadar progesterone
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim sebaliknya
estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan
terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di
dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun
sehingga timbul his.
b. Teori oxytocin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu
timbul kontraksi otot-otot rahim.
c. Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung bila dindingnya
teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk
mengeluarkan isinya. Demikian pula dengan rahim, maka dengan
majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim makin rentan.
d. Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang
peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama
dari biasa.
e. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah
satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan
bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra
dan extraamnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap
umur kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer
pada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.
Tahapan persalinan (Kala I, II,III,IV)
a. Kala I / Kala Pembukaan
Dimulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan cervix
menjadi lengkap. Berdasarkan kemajuan pembukaan maka Kala I
dibagi menjadi:
-

Fase latent, yaitu fase pembukaan yang sangat lambat ialah dari 0
sampai 3 cm yang membutuhkan waktu 8 jam.

Fase aktif, yaitu fase pembukaan yang lebih cepat yang terbagi lagi
menjadi:

Fase Accelerasi (fase percepatan), dari pembukaan 3 cm


sampai 4 cm yang dicapai dalam 2 jam.

Fase Dilatasi Maksimal, dari pembukaan 4 cm sampai 9 cm


yang dicapai dalam 2 jam.

Fase Deselerasi (kurangnya kecepatan), dari pembukaan 9 cm


sampai 10 cm selama 2 jam.

b. Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai keluarnya janin
c. Kala III
Dimulai dari keluarnya janin sampai lahirnya plasenta
d. Kala IV
Masa 1 2 jam setelah placenta lahir. Dalam klinik, atas
pertimbangan-pertimbangan praktis masih diakui adanya Kala IV
persalinan meskipun masa setelah placenta lahir adalah masa
dimulainya masa nifas (puerperium), mengingat pada masa ini sering
timbul perdarahan.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Tujuan asuhan persalinan


Sebagai

bidan

harus

mampu

menggunakan

pengetahuan,

ketrampilan dan pengambilan keputusan yang tepat terhadap kliennya


untuk :
a. Memberikan dukungan baik secara fisik maupun emosional kepada ibu
dan keluarganya selama persalinan dan kelahiran.
b. Melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mencegah, menangani
komplikasi-komplikasi dengan cara pemantauan ketat dan deteksi dini
selama persalinan dan kelahiran.
c. Melakukan rujukan pada kasus-kasus yang tidak bisa ditangani sendiri
untuk mendapatkan asuhan spesialis jika perlu.
d. Memberikan asuhan yang adekuat kepada ibu, dengan intervensi
minimal, sesuai dengan tahap persalinannya.
e. Memperkecil resiko infeksi dengan melaksanakan pencegahan infeksi
yang aman.
f. Selalu memberitahukan kepada ibu dan keluarganya mengenai
kemajuan, adanya penyulit maupun intervensi yang akan dilakukan
dalam persalinan.
g. Memberikan asuhan yang tepat untuk bayi segera setelah lahir.
h. Membantu ibu dengan pemberian ASI dini.
Prinsip umum dari asuhan sayang ibu yang harus diikuti oleh bidan
adalah:
a. Rawat ibu dengan penuh hormat.
b. Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan ibu.
Hormati pengetahuan dan pemahaman mengenai tubuhnya. Ingat
bahwa mendengar sama pentingnya dengan memberikan nasehat.
c. Menghargai hak-hak ibu dan memberikan asuhan yang bermutu serta
sopan.
d. Memberikan asuhan dengan memperhatikan privasi.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

e. Selalu menjelaskan apa yang akan dikerjakan sebelum anda


melakukannya serta meminta izin dahulu.
f. Selalu mendiskusikan temuan-temuan kepada ibu, serta kepada siapa
saja yang ia inginkan untuk berbagi informasi ini.
g. Selalu mendiskusikan rencana dan intervensi serta pilihan yang sesuai
dan tersedia bersama ibu.
h. Mengizinkan ibu untuk memilih siapa yang akan menemaninya selama
persalinan, kelahiran dan pasca salin.
i.

Mengizinkan ibu menggunakan posisi apa saja yang diinginkan selama


persalinan dan kelahiran.

j.

Menghindari penggunaan suatu tindakan medis yang tidak perlu


(episiotomi, pencukuran dan enema).

k. Memfasilitasi hubungan dini antara ibu dan bayi baru lahir (Bounding
and Attachment).

Tanda tanda persalinan


Tanda-tanda bahwa persalinan sudah dekat:
-

Lightening
Beberapa minggu sebelum persalinan, calon ibu merasa bahwa
keadaannya menjadi lebih enteng. Ia merasa kurang sesak, tetapi
sebaliknya ia merasa bahwa berjalan sedikit lebih sukar, dan sering
diganggu oleh perasaan nyeri pada anggota bawah.

Pollakisuria
Pada akhir bulan ke-IX hasil pemeriksaan didapatkan epigastrium
kendor, fundus uteri lebih rendah dari pada kedudukannya dan kepala
janin sudah mulai masuk ke dalam pintu atas panggul. Keadaan ini
menyebabkan kandung kencing tertekan sehingga merangsang ibu
untuk sering kencing yang disebut Pollakisuria.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

False labor
3 atau 4 minggu sebelum persalinan, calon ibu diganggu oleh his
pendahuluan yang sebetulnya hanya merupakan peningkatan dari
kontraksi Braxton Hicks. His pendahuluan ini bersifat:

nyeri yang hanya terasa di perut bagian bawah.

Tidak teratur

Lamanya his pendek, tidak bertambah kuat dengan majunya


waktu dan bila dibawa jalan malah sering berkurang.

Tidak ada pengaruh pada pendataran atau pembukaan cervix.

Perubahan cervix
Pada akhir bulan ke-IX hasil pemeriksaan cervix menunjukkan bahwa
cervix yang tadinya tertutup, panjang dan kurang lunak namun
menjadi: lebih lembut, beberapa menunjukkan telah terjadi pembukaan
dan penipisan. Perubahan ini berbeda untuk masing-masing ibu,
misalnya pada multipara sudah terjadi pembukaan 2 cm namun pada
primipara sebagian besar masih dalam keadaan tertutup.

Energy Spurt
Beberapa ibu akan mengalami peningkatan energi kira-kira 24-28 jam
sebelum persalinan mulai, setelah beberapa hari sebelumnya merasa
kelelahan fisik karena tuanya kehamilan maka ibu mendapati satu hari
sebelum persalinan dengan energi yang penuh. Peningkatan energi ibu
ini tampak dari aktifitas yang dilakukannya seperti membersihkan
rumah, mengepel, mencuci perabot rumah, dan pekerjaan rumah
lainnya sehingga ibu akan kehabisan tenaga menjelang kelahiran bayi,
persalinan menjadi panjang dan sulit.

Gastrointestinal Upsets
Beberapa ibu mungkin akan mengalami tanda-tanda seperti diare,
obstipasi, mual dan muntah karena efek penurunan hormon terhadap
sistem pencernaan.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Tanda-tanda persalinan
-

Timbulnya his persalinan ialah his pembukaan dengan sifat-sifatnya


sebagai berikut:

Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut bagian


depan.

Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat


intensitasnya.

Kalau dibawa berjalan bertambah kuat

Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan


cervix.

Bloody show (Lendir disertai darah dari jalan lahir)


Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis cervicalis
keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini
disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen
bawah rahim hingga beberapa capillair darah terputus.

Premature Rupture of Membrane


Adalah keluarnya cairan banyak dengan sekonyong-konyong dari jalan
lahir. Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin robek.
Ketuban biasanya pecah kalau pembukaan lengkap atau hampir
lengkap dan dalam hal ini keluarnya cairan merupakan tanda yang
lambat sekali. Tetapi kadang-kadang ketuban pecah pada pembukaan
kecil, malahan kadang-kadang selaput janin robek sebelum persalinan.
Walaupun demikian persalinan diharapkan akan mulai dalam 24 jam
setelah air ketuban keluar
Kala I
-

His belum begitu kuat, datangnya setiap 10 15 menit dan tidak


seberapa mengganggu ibu hingga ia sering masih dapat berjalan.

Lambat laun his bertambah kuat: interval lebih pendek, kontraksi


lebih kuat dan lebih lama.

Bloody show bertambah banyak.

Lama kala I untuk primi 12 jam dan untuk multi 8 jam.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Pedoman untuk mengetahui kemajuan kala I adalah: Kemajuan


pembukaan 1 cm sejam bagi primi dan 2 cm sejam bagi multi,
walaupun ketentuan ini sebetulnya kurang tepat seperti akan
diuraikan nanti.

Kala II
-

His menjadi lebih kuat, kontraksinya selama 50 100 detik,


datangnya tiap 2 3 menit.

Ketuban biasanya pecah pada kala ini ditandai dengan keluarnya


cairan kekuning-kuningan sekonyong-konyong dan banyak.

Pasien mulai mengejan.

Pada akhir kala II sebagai tanda bahwa kepala sudah sampai di


dasar panggul, perineum menonjol, vulva menganga dan rectum
terbuka.

Pada puncak his, bagian kecil kepala nampak di vulva dan hilang
lagi waktu his berhenti, begitu terus hingga nampak lebih besar.
Kejadian ini disebut: Kepala membuka pintu.

Pada akhirnya lingkaran terbesar kepala terpegang oleh vulva


sehingga tidak bisa mundur lagi, tonjolan tulang ubun-ubun telah
lahir dan subocciput ada di bawah symphisis disebut Kepala
keluar pintu.

Pada his berikutnya dengan ekstensi maka lahirlah ubun-ubun


besar, dahi dan mulut pada commissura posterior.

Saat ini untuk primipara, perineum biasanya akan robek pada


pinggir depannya karena tidak dapat menahan regangan yang kuat
tersebut.

Setelah kepala lahir dilanjut dengan putaran paksi luar, sehingga


kepala melintang, vulva menekan pada leher dan dada tertekan
oleh jalan lahir sehingga dari hidung anak keluar lendir dan cairan.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Pada his berikutnya bahu belakang lahir kemudian bahu depan


disusul seluruh badan anak dengan fleksi lateral, sesuai dengan
paksi jalan lahir.

Sesudah anak lahir, sering keluar sisa air ketuban, yang tidak
keluar waktu ketuban pecah, kadang-kadnag bercampur darah.

Lama kala II pada primi 50 menit pada multi 20 menit


.

Kala III
-

Setelah anak lahir his berhenti sebentar, tetapi setelah beberapa


menit timbul lagi disebut His pengeluaran uri yaitu his yang
melepaskan uri sehingga terletak pada segmen bawah rahim (SBR)
atau bagian atas dari vagina.

Setelah anak lahir uterus teraba seperti tumor yang keras, segmen
atas lebar karena mengandung placenta, fundus uteri teraba sedikit
di bawah pusat.

Bila placenta telah lepas bentuk uterus menjadi bundar dan tetap
bundar hingga perubahan bentuk ini dapat diambil sebagai tanda
pelepasan placenta.

Jika keadaan ini dibiarkan, maka setelah placenta lepas fundus


uteri naik sedikit hingga setinggi pusat atau lebih dan bagian tali
pusat di luar vulva menjadi lebih panjang.

Naiknya fundus uteri disebabkan karena placenta jatuh dalam SBR


atau bagian atas vagina dan dengan demikian mengangkat uterus
yang berkontraksi; dengan sendirinya akibat lepasnya placenta
maka bagian tali pusat yang lahir menjadi panjang.

Lamanya kala uri 8,5 menit, dan pelepasan placenta hanya


memakan waktu 2 3 menit.

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

c. RANGKUMAN MATERI
-

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran


bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran
placenta dan selaput janin dari tubuh ibu.

Persalinan disebabkan kerena penurunan kadar progesterone, teori


oksitosin, keregangan otot otot, pengaruh janin, dan teori prostaglandin.

Tahapan persalinan mulai dari Kala I, kala II, kala III dank ala IV.

Tujuan dari persalinan yaitu

Memberikan dukungan baik secara fisik maupun emosional kepada


ibu dan keluarganya selama persalinan dan kelahiran.

Melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mencegah, menangani


komplikasi-komplikasi dengan cara pemantauan ketat dan deteksi
dini selama persalinan dan kelahiran.

Melakukan rujukan pada kasus-kasus yang tidak bisa ditangani


sendiri untuk mendapatkan asuhan spesialis jika perlu.

Memberikan asuhan yang adekuat kepada ibu, dengan intervensi


minimal, sesuai dengan tahap persalinannya.

Memperkecil resiko infeksi dengan melaksanakan pencegahan


infeksi yang aman.

Selalu memberitahukan kepada ibu dan keluarganya mengenai


kemajuan, adanya penyulit maupun intervensi yang akan dilakukan
dalam persalinan.

Memberikan asuhan yang tepat untuk bayi segera setelah lahir.

Membantu ibu dengan pemberian ASI dini.

Tanda-tanda persalinan:
a. Timbulnya his persalinan
b. Bloody show (Lendir disertai darah dari jalan lahir)
c. Premature Rupture of Membrane

10

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan tentang persalinan!
2. Diskusikan tentang sebab sebab terjadinya persalinan!
3. Diskusikan tentang tahapan dalam persalinan!

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


1. Persalinan

adalah

serangkaian

kejadian

yang

berakhir

dengan

pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan
pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan adalah
suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam
uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan imatur adalah persalinan
saat kehamilan 20 -28 minggu dengan berat janin antara 500 1000 gr.
Persalinan premature adalah persalinan saat kehamilan 28 36 minggu
dengan berat janin antara 1000 2500 gr.
2. Sebab sebab terjadinya persalinan
a. Penurunan kadar progesterone
b. Teori oksitosin
c. Keregangan otot otot
d. Pengaruh janin
e. Teori prostaglandin
3. Tahapan dalam persalinan
a. Kala I / Kala Pembukaan
Dimulai dari his persalinan yang pertama sampai pembukaan cervix
menjadi lengkap. Berdasarkan kemajuan pembukaan maka Kala I
dibagi menjadi:
-

Fase latent, yaitu fase pembukaan yang sangat lambat ialah dari 0
sampai 3 cm yang membutuhkan waktu 8 jam.

Fase aktif, yaitu fase pembukaan yang lebih cepat yang terbagi
lagi menjadi:

11

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Fase Accelerasi (fase percepatan), dari pembukaan 3 cm


sampai 4 cm yang dicapai dalam 2 jam.

Fase Dilatasi Maksimal, dari pembukaan 4 cm sampai 9 cm


yang dicapai dalam 2 jam.

Fase Decelerasi (kurangnya kecepatan), dari pembukaan 9 cm


sampai 10 cm selama 2 jam.

b. Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai keluarnya janin
c. Kala III
Dimulai dari keluarnya janin sampai lahirnya plasenta
d. Kala IV
Masa 1 2 jam setelah placenta lahir. Dalam klinik, atas
pertimbangan-pertimbangan praktis masih diakui adanya Kala IV
persalinan meskipun masa setelah placenta lahir adalah masa
dimulainya masa nifas (puerperium), mengingat pada masa ini sering
timbul perdarahan.

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala 1. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
3. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
4.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

5.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

6. Ilmu Kandungan dan Kebidanan, Sarwono Prawiroharjo, 2008


7. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
8. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta

12

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

9. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet


Publishers, Sudbury: England
10. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

13

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB II
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa mampu menjelaskan pengaruh passage terhadap persalinan

Mahasiswa mampu memaparkan pengaruh power terhadap persalinan

Merinci pengaruh passenger terhadap persalinan

b. URAIAN MATERI
Faktor yang mempengaruhi persalinan
1. Passage
Passage atau faktor jalan lahir dibagi atas:
a. Bagian keras :Tulang-tulang panggul (Rangka panggul).
b. Bagian lunak : Otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament-ligamen.
Rangka Panggul / Ukuran Panggul
-

Tulang panggul
1. Os coxae : os ilium, os ischium, os pubis
2. Os sacrum = promontorium
3. Os Coccygis

Artikulasi
1. Simfisis pubis, di depan pertemuan os pubis
2. Artikulasi sakro-iliaka yang menghubungkan os sacrum & os ilium
3. Artikulasi sakro-koksigium yang menghubungkan os sacrum dan
koksigis

Ruang panggul
1. Pelvis mayor (False pelvis)
2. Pelvis minor (True pelvis)

14

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Pelvis mayor terletak di atas linea terminalis yang di bawahnya


disebut pelvis minor.
-

Pintu panggul
1. Pintu atas panggul (PAP) = Inlet, dibatasi oleh linea terminalis
(linea inominata)
2. Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadika,
disebut midlet
3. Pintu bawah panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis,
disebut outlet.
4. Ruang panggul yang sebenarnya berada antara inlet dan outlet

Sumbu panggul
Adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah ruang panggul
yang melengkung ke depan (sumbu carus).

Bidang-bidang
1. Bidang Hodge I : jarak antara promontorium dan pinggir atas
simfisis, sejajar dengan PAP.
2. Bidang Hodge II : sejajar dengan PAP, melewati pinggir bawah
simfisis.
3. Bidang Hodge III : sejajar dengan PAP, melewati Spina ischiadika
4. Bidang Hodge IV : sejajar dengan PAP, melewati ujung
coccygeus.

Ukuran-ukuran panggul
1. Alat pengukur ukuran panggul :
-

pita meter

jangka panggul : Martin, Oseander, Collin dan Baudeloque

pelvimetri klinis dengan periksa dalam

pelvimetri rontenologis dibuat oleh ahli radiology dan hasilnya


diinterpretasikan oleh ahli kebidanan

15

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

2. Ukuran-ukuran panggul luar


DS : Distansia Spinarum, yaitu jarak antara kedua spina iliaka
anterior superior (24-26 cm)
DC : Distansia Cristarum, yaitu jarak antara kedua crista iliaka
kanan dan kiri (28-30 cm)
CE : Conjugata Eksterna (Boudeloque) 18-20 cm.
CD : Conjugata Diagonalis, dengan periksa dalam 12,5 cm)
DT : Distansia Tuberum, dengan menggunakan jangka Oseander
(10,5 cm).
3. Ukuran-ukuran panggul dalam
a. Pintu atas panggul : Merupakan suatu bidang yang dibentuk
oleh promontorium, line inominata dan pinggir atas simfisis
pubis.
-

Conjugata Vera : dengan periksa dalam diperoleh


conjugata diagonalis 11 cm 1,5 cm

Conjugata Transversa 12-13 cm

Conjugata oblique 13 cm

Conjugata obstetrica adalah jarak bagian tengah simfisis


ke promontorium

b. Pintu tengah panggul


-

Bidang terluas ukurannya 13 x 12,5 cm

Bidang sempit ukurannya 11,5 x 11 cm

Karak antar spina ischiadika 11 cm

c. Pintu bawah panggul


-

Ukuran antero-posterior 10-11 cm

Ukuran melintang 10,5 cm

Arcus pubis membentuk sudut 900 lebih

4. Inklinasi pelvis (miring panggul) :


Adalah sudut yang dibentuk dengan horizon bila wanita berdiri
tegak dengan inlet 55-60 derajat.

16

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

5. Jenis panggul (menurut Caldwell & Moloy, 1933)


Didasarkan pada cirri-ciri bentuk PAP, ada 4 bentuk dasar panggul:
a. Ginekoid : paling ideal, bulat 45%
b. Android : panggul pria, segitiga 15%
c. Antropoid : agak lonjong seperti telur 35%
d. Platipeloid : picak, menyempit arah muka belakang 5%
Terkadang dijumpai bentuk panggul kombinasi dari keempat
bentuk klasik tersebut, misalnya:
-

Jenis gineko-android

Jenis gineko-antropoid

Dan kombinasi-kombinasi lainnya (ada 14 jenis)

6. Jalan Lahir Lunak / Otot Otot Dasar Panggul


Jalan lahir lunak yang berperan dalam persalinan adalah SBR,
serviks uteri dan vagina. Disamping itu otot-otot, jaringan ikat dan
ligament yang menyokong alat-alat urogenetal juga sangat
berperan dalam persalinan.
Dasar panggul (pelvic floor) terdiri dari:
a. Diafragma pelvis : adalah bagian dalam yang terdiri dari M.
Levator Ani & M. Pubococcygeus, M. Ileococcygeus & M.
Ischiococcygeus
b. Diafragma urogenetal terdiri dari perineal fasciae otot-otot
superficial.

2. Power
Adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang
mendorong janin keluar dalam persalinan ialah : his, kontraksi otot-otot perut,
kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama yang baik dan
sempurna.

17

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

HIS (kontraksi uterus)


Adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan
sempurna dengan sifat-sifat:
-

Kontraksi simetris

Fundus dominant, kemudian diikuti

Relaksasi
Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi

tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil mendorong janin dan
kantong amnion kearah bawah rahim dan serviks.
Sifat-sifat lainnya dari his adalah :
-

Involuntir

Intermitten

Terasa sakit

Terkoordinasi dan simetris

Dalam melakukan observasi pada ibu bersalin, hal-hal yang harus diperhatikan
dari his adalah :
-

Frekuensi his : adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit
atau per 10 menit.

Intensitas his : adalah kekuatan his (adekuat atau lemah)

Durasi (lama his) : adalah lamanya setiap his berlangsung dan ditentukan
dengan detik, misalnya 50 detik.

Interval his : adalah jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya
his datang tiap 2 3 menit.

Datangnya his : apakah sering, teratur atau tidak.

Perubahan-perubahan akibat his:


-

Pada uterus dan serviks : Uterus teraba keras / padat karena kontraksi.
Serviks tidak mempunyai otot-otot yang banyak, sehingga setiap muncul

18

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

his maka terjadi pendataran (effacement) dan pembukaan (dilatasi) dari


serviks.
-

Pada ibu : Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim, terdapat
pula kenaikan nadi dan tekanan darah.

Pada janin : Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero plasenter kurang


sehingga timbul hipoksia janin. Denyut jantung janin melembat dan
kurang jelas didengar karena adanya iskemia fisiologis. Kalau betul-betul
terjadi hipoksia yang agak lama, misalnya pada kontraksi tetanik, maka
terjadi gawat janin asfiksia dengan denyut jantung janin diatas 160
permenit dan tidak teratur.

Tenaga mengejan
a. Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang
mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi
otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan
intraabdominal.
b. Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi
jauh lebih kuat lagi.
c. Saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu reflek yang
mengakibatkan ibu menutup glottisnya, mengkontraksikan otot-otot
perutnya dan menekan diafragmanya kebawah.
d. Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil, bila pembukaan sudah lengkap
dan paling efektif sewaktu ada his.
e. Tanpa tenaga mengejan ini anak tidak dapat lahir, misalnya pada penderita
yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan harus dibantu dengan forceps
f. Tenaga mengejan ini juga melahirkan placenta setelah placenta lepas dari
dinding rahim.

19

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

3. Passanger
Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin,
yang meliputi sikap janin, letak janin, presentasi janin, bagian terbawah, dan
posisi janin.
1. Sikap (Habitus) :
Menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu janin,
biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap fleksi
dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi, lengan
bersilang di dada.
2. Letak (Situs):
Adalah bagaimana sumbu janin berada terhadap sumbu ibu misalnya
Letak Lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu. Letak
membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, ini bisa letak
kepala atau letak sungsang.
3. Presentasi:
Dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah rahim
yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya
presentasi kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain-lain.
a. Bagian terbawah janin:
Sama dengan presentasi hanya lebih diperjelas istilahnya.
b. Posisi janin
Untuk indikator atau menetapkan arah bagian terbawah janin apakah
sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu ibu (materal
pelvis). Misalnya pada letak belakang kepala (LBK) ubun-ubun kecil
(uuk) kiri depan, uuk kanan belakang.

20

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

c. RANGKUMAN MATERI
-

Faktor yang mempengaruhi persalinan yaitu passage, power dan passanger

Passage / jalan lahir, terdiri dari bagian keras yaitu tulang- tulang panggul
dan lunak yaitu otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament-ligamen

Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang


mendorong janin keluar dalam persalinan ialah : his, kontraksi otot-otot
perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama yang
baik dan sempurna.

Passanger yaitu keadaan janin, yang meliputi sikap janin, letak janin,
presentasi janin, bagian terbawah, dan posisi janin.
1. Sikap (Habitus)
Menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu janin,
biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap
fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi,
lengan bersilang di dada.
2. Letak (Situs)
Adalah bagaimana sumbu janin berada terhadap sumbu ibu misalnya
Letak Lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu. Letak
membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, ini bisa letak
kepala atau letak sungsang.
3. Presentasi
Dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah
rahim yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam.
Misalnya presentasi kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan
lain-lain.

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan faktor apa sajakan yang mempengaruhi persalinan?
2. Diskusikan presentasi pada janin pada saat persalinan?

21

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


1. Faktor yang mempengaruhi persalinan :
-

Passage / jalan lahir, terdiri dari bagian keras yaitu tulang- tulang
panggul dan lunak yaitu otot-otot, jaringan-jaringan dan ligamentligamen

Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang


mendorong janin keluar dalam persalinan ialah : his, kontraksi otototot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan
kerjasama yang baik dan sempurna.

Passanger yaitu keadaan janin, yang meliputi sikap janin, letak janin,
presentasi janin, bagian terbawah, dan posisi janin

2. Dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah rahim
yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya
presentasi kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain-lain.

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala 1. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
3. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
4.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

5.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

6. Ilmu Kandungan dan Kebidanan, Sarwono Prawiroharjo, 2008


7. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
8. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina
Pustaka Prawirohardjo : Jakarta
9. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

22

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB III
KEBUTUHAN DASAR PADA IBU DALAM PROSES PERSALINAN

a. KOMPETENSI DASAR
-

Menjelaskan kebutuhan dasar yang dibutuhkan ibu pada masa persalinan

b. URAIAN MATERI
Asuhan Sayang Ibu Sebagai Kebutuhan Dasar Persalinan
Persalinan merupakan tugas berat yang harus dilakukan oleh seorang ibu
hamil. Diperlukan segenap tenaga dan pikiran untuk melaksanakannya. Rasa
sakit, rasa lelah, tegang, dan hal lainnya membayangi proses persalinan yang
dihadapi. Banyak ibu hamil merasakan bahwa persalinan merupakan proses yang
cukup menakutkan untuk dilalui, namun ada juga ibu hamil yang mengatakan
bahwa proses melahirkan adalah merupakan kodrat wanita yang mudah untuk
dilalui. Mudah atau sulitnya suatu proses persalinan tergantung oleh banyak
faktor, salah satunya adalah ibu hamil cukup pengetahuan untuk menghadapi
persalinan, kesehatan yang cukup baik, dan dukungan yang cukup dari berbagai
pihak, serta adanya perasaan nyaman saat melahirkan. Dukungan yang dapat
diberikan dalam proses persalinan yaitu :
Mengatur Posisi
Mencari posisi yang paling nyaman sesuai dengan waktunya dan
perhatikan perbedaan tentang cara ibu hamil mengatasi nyeri persalinan. Pada
tahap awal, ketika kontraksi relatif masih ringan usahakan untuk berjalan, duduk,
bergoyang atau berendam. Dengan meningkatnya kontraksi, duduk, bergoyang (di
kursi goyang) atau berbaring kerap kali merupakan hal paling nyaman. Rasa nyeri
yang paling berat adalah pada punggung dan ini sering bisa diredakan dengan
duduk tegak, dengan lengan memeluk pendamping, atau dengan mengambil posisi

23

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

merangkak. Posisi perlu dirubah rubah selama proses persalinan, hal ini baik
untuk memperbaiki peredaran darah dan membantu pencegahan kelelahan otot.
Titik Pusat Perhatian
Bawalah sesuatu dari rumah sebagai titik pusat perhatian secara visual
selama kontraksi. Foto atau gambar yang membuat pikiran menjadi tenang
merupakan pilihan yang baik. Sering kali sangat besar manfaatnya mendengarkan
musik dengan lagu-lagu kesayangannya. Banyak ibu hamil tidak menggunakan
titik pusat perhatian, lebih suka memejamkan mata atau memusatkan perhatian
pada penolong persalinan. Tetapi anda mungkin akan mendapat rasa nyeri
berkurang ketika anda mengalihkan perhatian ke titik pusat perhatian, maka
pilihlah salah satu untuk menyertai anda dalam proses persalinan.
Kompres
Pada awal persalinan kehangatan terasa lebih nyaman pada otot yang
bekerja keras. Gunakanlah waslap yang dicelupkan dalam air hangat dan letakkan
pada punggung, leher, atau perut. Kemudian setelah mulai kontraksi pada tahap
transisi atau ketika mengedan membuat ibu hamil merasa kepanasan, lakukan
kompres dingin pada dahi dan perut akan terasa menyejukkan . Kompres ini harus
sering diganti
Pijatan
Pijatan pada otot kerap kali akan sangat efektif dalam proses persalinan.
Ini terutama sangat membantu dalam mengurangi sakit punggung dan membantu
otot untuk relaksasi dari ketegangan pada akhir kontraksi. Karena pijatan hanya
baik kalau terasa enak dan nyaman, maka ibu hamil dan pendampingnya perlu
berkomunikasi mengenai bagian mana yang terasa nyaman kalau dipijat dan mana
yang tidak. Tapi ada juga beberapa ibu hamil dalam proses persalinan ada yang
sama sekali tidak mau disentuh, namun meskipun demikian mereka masih
memerlukan dukungan emosional.

24

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Sering sekali ibu hamil sangat menderita oleh nyeri persalinan di daerah
punggung bagian bawah. Kalau hal ini terjadi tekanan yang kuat dan tetap terasa
paling enak diberikan dengan ibu jari atau pangkal telapak tangan di tengah di
atas pantat.
Usapan atau Sentuhan
Banyak ibu hamil dalam proses persalinan merasa berkurang rasa nyerinya
karena sapuan lembut pada perut selama kontraksi. Hal ini bisa dilakukan sendiri
oleh ibu hamil sendiri atau pendampingnya. Gunakanlah satu atau dua tangan,
kemudian sapulah

permukaan perut dengan ujung jari secara lembut.

Pergerakannya melingkari di sekeliling pusar.


Persalinan adalah proses yang fisiologis dan merupakan kejadian yang
menakjubkan bagi seorang ibu dan keluarga. Penatalaksanaan yang terampil dan
handal dari bidan serta dukungan yang terus-menerus dengan menghasilkan
persalinan yang sehat dan memuaskan dapat memberikan pengalaman yang
menyenangkan.

Sebagai bidan, ibu akan mengandalkan pengetahuan, keterampilan dan


pengambilan keputusan dari apa yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk :
1. Mendukung ibu dan keluarga baik secara fisik dan emosional selama
persalinan dan kelahiran.
2. Mencegah membuat diagnosa yang tidak tepat, deteksi dini dan penanganan
komplikasi selama persalinan dan kelahiran.
3. Merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap bila terdeteksi komplikasi.
4. Memberikan asuhan yang akurat dengan meminimalkan intervensi.
5. Pencegahan infeksi yang aman untuk memperkecil resiko.
6. Pemberitahuan kepada ibu dan keluarga bila akan dilakukan tindakan dan
terjadi penyulit.
7. Memberikan asuhan bayi baru lahir secara tepat.

25

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

8. Pemberian ASI sedini mungkin.


Kebutuhan dasar selama persalinan tidak terlepas dengan asuhan yang
diberikan bidan. Asuhan kebidanan yang diberikan, hendaknya asuhan yang
sayang ibu dan bayi. Asuhan yang sayang ibu ini akan memberikan perasaan
aman dan nyaman selama persalinan dan kelahiran.
Konsep Asuhan Sayang Ibu
1. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan
kelangsungan hidup ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya,
kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.
2. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses
persalinan,

menghargai

kebiasaan

budaya,

praktik

keagamaan

dan

kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan


keputusan.
3. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan
merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.
4. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.
5. Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu
tentang apa yang terjadi dan apa yang bisa diharapkan.
Asuhan Sayang Ibu Selama Persalinan
Upaya penerapan asuhan sayang ibu selama proses persalinan meliputi kegiatan:
1.

Memanggil ibu sesuai nama panggilan sehingga akan ada perasaan dekat
dengan bidan.

2. Meminta ijin dan menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan bidan
dalam pemberian asuhan.
3. Bidan memberikan penjelasan tentang gambaran proses persalinan yang akan
dihadapi ibu dan keluarga.
4. Memberikan informasi dan menjawab pertanyaan dari ibu dan keluarga
sehubungan dengan proses persalinan.

26

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

5. Mendengarkan dan menanggapi keluhan ibu dan keluarga selama proses


persalinan.
6. Menyiapkan rencana rujukan atau kolaborasi dengan dokter spesialis apabila
terjadi kegawatdaruratan kebidanan.
7. Memberikan dukungan mental, memberikan rasa percaya diri kepada ibu,
serta berusaha memberi rasa nyaman dan aman.
8. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik meliputi sarana
dan prasarana pertolongan persalinan.
9. Menganjurkan suami dan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses
persalinan.
10. Membimbing suami dan keluarga tentang cara memperhatikan dan
mendukung ibu selama proses persalinan dan kelahiran bayi, seperti:
memberikan makan dan minum, memijit punggung ibu, membantu mengganti
posisi ibu, membimbing relaksasi dan mengingatkan untuk berdoa.
11. Bidan melakukan tindakan pencegahan infeksi.
12. Menghargai privasi ibu dengan menjaga semua kerahasiaan.
13. Membimbing dan menganjurkan ibu untuk mencoba posisi selama persalinan
yang nyaman dan aman.
14. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak kontraksi.
15. Menghargai dan memperbolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak
merugikan.
16. Menghindari tindakan yang berlebihan dan membahayakan.
17. Memberi kesempatan ibu untuk memeluk bayi segera setelah lahir dalam
waktu 1 jam setelah persalinan.
18. Membantu ibu memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah
kelahiran bayi dengan membimbing ibu membersihkan payudara, posisi
menyusui yang benar dan penyuluhan tentang

27

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Asuhan sayang ibu membantu ibu dan keluarganya untuk merasa aman
dan nyaman selama proses persalinan.Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan
prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu.

Kala I adalah suatu kala dimana dimulai dari timbulnya his sampai pembukaan
lengkap. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
1. Memberikan dukungan emosional.
2. Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan sampai kelahiran
bayinya.
3. Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama persalinan.
4. Peran aktif anggota keluarga selama persalinan dengan cara :
a. Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan memuji ibu.
b. Membantu ibu bernafas dengan benar saat kontraksi.
c. Melakukan massage pada tubuh ibu dengan lembut.
d. Menyeka wajah ibu dengan lembut menggunakan kain.
e. Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman.
5. Mengatur posisi ibu sehingga terasa nyaman.
6. Memberikan cairan nutrisi dan hidrasi Memberikan kecukupan energi dan
mencegah dehidrasi. Oleh karena dehidrasi menyebabkan kontraksi tidak
teratur dan kurang efektif.
7. Memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur dan
spontan Kandung kemih penuh menyebabkan gangguan kemajuan persalinan
dan menghambat turunnya kepala; menyebabkan ibu tidak nyaman;
meningkatkan

resiko

perdarahan

pasca

persalinan;

mengganggu

penatalaksanaan distosia bahu; meningkatkan resiko infeksi saluran kemih


pasca persalinan.
8. Pencegahan infeksi Tujuan dari pencegahan infeksi adalah untuk
mewujudkan persalinan yang bersih dan aman bagi ibu dan bayi; menurunkan
angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi baru lahir.

28

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Kala II adalah kala dimana dimulai dari pembukaan lengkap serviks sampai
keluarnya bayi.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
1. Pendampingan ibu selama proses persalinan sampai kelahiran bayinya oleh
suami dan anggota keluarga yang lain.
2. Keterlibatan anggota keluarga dalam memberikan asuhan antara lain :
a. Membantu ibu untuk berganti posisi.
b. Melakukan rangsangan taktil.
c. Memberikan makanan dan minuman.
d. Menjadi teman bicara/ pendengar yang baik.
e. Memberikan dukungan dan semangat selama persalinan sampai
kelahiran bayinya.
3. Keterlibatan penolong persalinan selama proses persalinan & kelahiran
dengan cara :
a. Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan keluarga.
b. Menjelaskan tahapan dan kemajuan persalinan.
c. Melakukan pendampingan selama proses persalinan dan kelahiran.
4. Membuat hati ibu merasa tenteram selama kala II persalinan dengan cara
memberikan bimbingan dan menawarkan bantuan kepada ibu.
5. Menganjurkan ibu meneran bila ada dorongan kuat dan spontan umtuk
meneran dengan cara memberikan kesempatan istirahat sewaktu tidak
ada his.
6. Mencukupi asupan makan dan minum selama kala II.
7. Memberikan rasa aman dan nyaman dengan cara :
a. Mengurangi perasaan tegang.
b. Membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi.
c. Memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan setiap tindakan
penolong.
d. Menjawab pertanyaan ibu.
e. Menjelaskan apa yang dialami ibu dan bayinya.

29

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

f. Memberitahu hasil pemeriksaan.


8. Pencegahan infeksi pada kala II dengan membersihkan vulva dan
perineum ibu.
9. Membantu ibu mengosongkan kandung kemih secara spontan.

Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi sampai plasenta lahir.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
1.

Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk bayinya dan menyusui


segera.

2.

Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.

3.

Pencegahan infeksi pada kala III.

4.

Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan).

5.

Melakukan kolaborasi/ rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.

6.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.

7.

Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III.

kala

IV

adalah

kala

dimana

1-2

jam

setelah

lahirnya

plasenta.

Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :


1.

Memastikan tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan dalam keadaan normal.

2.

Membantu ibu untuk berkemih.

3.

Mengajarkan ibu dan keluarganya tentang cara menilai kontraksi dan


melakukan massase uterus.

4.

Menyelesaikan asuhan awal bagi bayi baru lahir.

5.

Mengajarkan ibu dan keluarganya ttg tanda-tanda bahaya post partum


seperti perdarahan, demam, bau busuk dari vagina, pusing, lemas, penyulit
dalam menyusui bayinya dan terjadi kontraksi hebat.

6.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.

7.

Pendampingan pada ibu selama kala IV

8.

Nutrisi dan dukungan emosional.

30

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

c. RANGKUMAN MATERI
Persalinan merupakan tugas berat yang harus dilakukan oleh seorang
ibu hamil. Diperlukan segenap tenaga dan pikiran untuk melaksanakannya. Rasa
sakit, rasa lelah, tegang, dan hal lainnya membayangi proses persalinan yang
dihadapi. Mudah atau sulitnya suatu proses persalinan tergantung oleh banyak
faktor, salah satunya adalah ibu hamil cukup pengetahuan untuk menghadapi
persalinan, kesehatan yang cukup baik, dan dukungan yang cukup dari berbagai
pihak, serta adanya perasaan nyaman saat melahirkan.
-

Mengatur posisi

Titik pusat perhatian

Kompres

Pijatan

Usapan dan sentuhan

Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut:
1. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan
kelangsungan hidup ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai
budaya, kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan
keinginan ibu.
2. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses
persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan
kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan
keputusan.
3. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan
persalinan merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa
adanya komplikasi.
4. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan tentang asuhan sayang ibu sesuai dengan kebutuhannya?
31

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

2. Diskusikan asuhan yang diberikan pada saat ibu kala I?


3. Diskusikan asuhan yang diberikan pada saat ibu kala II?

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


1. Asuhan sayang ibu adalah sebagai berikut :
a. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan
kelangsungan hidup ibu.
b. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses
persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan
kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan
keputusan.
c. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan
persalinan merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa
adanya komplikasi.
d. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan
2. Asuhan yang diberikan pada saat ibu kala I, yaitu :
a.

Memberikan dukungan emosional.

b.

Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan sampai


kelahiran bayinya.

c.

Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama


persalinan.

d.

Peran aktif anggota keluarga selama persalinan

e.

Mengatur posisi ibu sehingga terasa nyaman.

f.

Memberikan cairan nutrisi dan hidrasi

g.

Memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara


teratur dan spontan

h.

Pencegahan infeksi

3. Asuhan yang diberikan pada saat kala II,yaitu :


a.

Pendampingan ibu selama proses persalinan sampai kelahiran bayinya

32

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

oleh suami dan anggota keluarga yang lain.


b.

Keterlibatan anggota keluarga dalam memberikan asuhan

c.

Keterlibatan penolong persalinan selama proses persalinan &


kelahiran

d.

Membuat hati ibu merasa tenteram selama kala II persalinan


Menganjurkan ibu meneran bila ada dorongan kuat dan spontan
umtuk meneran

e.

Mencukupi asupan makan dan minum selama kala II.

f.

Memberikan rasa aman dan nyaman

g.

Pencegahan infeksi pada kala II

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
3.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

4.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

5. Ilmu Kandungan dan Kebidanan, Sarwono Prawiroharjo, 2008


6. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
7. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta
8. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet
Publishers, Sudbury: England
9. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

33

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB IV
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN KALA I

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa dapat menjelaskan perubahan fisiologis dan psikologis pada


kala I

Mengidentifikasi masalah yang terjadi pada kala I

Mahasiswa mampu membuat diagnosa

Mahasiswa mampu menilai kemajuan persalinan

Mahasiswa mampu membuat rencana tindakan asuhan

Mahasiswa mampu mendemonstrasikan manajemen asuhan kebidanan


pada kala I

b. URAIAN MATERI
Persalinan Kala I
Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedmen,
diperhitungkan

pembukaan

primigravida

cm/jam

dan

pembukaan

multigravida 2 cm/jam. Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan


lengkap dapat diperkirakan
Tanda-tanda persalinan kala I adalah :
a. Rasa sakit adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan
kecil pada servik.
c. Terkadang ketuban pecah dengan sendirinya.
34

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

d. Servik mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement)


Fase-fase persalinan kala I adalah sebagai berikut :
a. Fase Laten
1) Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan servik secara kurang dari 4 cm.
2) Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.
b. Fase aktif
1) Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi
dianggap adekuat / memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam
waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
2) Servik membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan kecepatan 1 cm
atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).
3) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.
4) Dibagi dalam 3 fase
a) Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4
cm.
b) Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c) Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali dalam
waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
- Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan
dan pembukaan servik secara kurang dari 4 cm.
- Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam.
Perubahan fisiologis dan psikologis pada kala 1
Perubahan fiologis yang terjadi pada masa persalinan kala I, yaitu :

35

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

1. Tekanan Darah
Tekanan Darah (TD) meningkat, sistolik rata-rata naik 10-20mmHg,
diastolik 5-10mmHg, antara kontraksi TD normal. rasa sakit, cemas,
dapat meningkatkan TD.
2. Metabolisme
Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara
berangsur disebabkan oleh kecemasan dan aktivitas otot skeletal.
peningkatan ini ditandai adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi,
kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang.
3. Suhu Tubuh, suhu tubuh sedikit meningkat (tidak lebih dari 0,5-1C)
karena peningkatan metabolisme terutama selama dan segera setelah
persalinan.
4. Detak Jantung, Detak jantung akan meningkat cepat selama kontraksi
berkaitan juga dengan peningkatan metabolisme. sedangkan antara
kontraksi detak jantung mengalami peningkatan sedikit dibanding
sebelum persalinan.
5. Pernafasan, Terjadi peningkatan laju pernafasan berhubungan dengan
peningkatan metabolisme. Hipeventilasi yang lama dapat menyebabkan
alkalosis.
6. Perubahan pada ginjal, poliuri (jumlah urin lebih dari normal) sering
terjadi selama persalinan, disebabkan oleh peningkatan kardiak output,
peningkatan filtrasi glomerulus dan peningkatan aliran plasma ginjal.
proteinuria dianggap gejala normal selama persalinan
7. Perubahan Gastro Intestinal (GI) motilitas lambung dan absorbsi
makanan padat secara substansial berkurang banyak selama persalian.
pengeluaramn getah lambung berkurang, menyebabkan aktivitas
pencernaan hampir berhenti dan pengosongan lambung menjadi lambat.
cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam tempo yang
biasa. mual dan muntah sering terjadi sampai akhir kala I.
8. Perubahan Hematologi, hemoglobin meningkat sampai 1,2 gram/100ml
selama persalianan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum

36

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali pada perdarahan


postpartum
Perubahan Psikologis yang terjadi pada kala I, yaitu :
Perubahan psikologis pada kala I dipengaruhi oleh pengalaman
sebelumnya, kesiapan emosi, persiapan menghadapi persalinan (fisik, mental,
materi), support sistem, lingkungan, mekanisme koping, kultur, sikap terhadap
kehamilan. Masalah psikologis yang mungkin terjadi dalam menghadapi
persalinan intervensinya adalah :
-

Kaji penyebab kecemasan

Orientasikan ibu terhadap lingkungan

Pantau tanda vital (tekanan darah dan nadi)

Ajarkan teknik2 relaksasi

Pengaturan nafas untuk memfasilitasi rasa nyeri akibat kontraksi uterus


dan kurang pengetahuan tentang proses persalinan intervensinya

Kaji tingkat pengetahuan, beri informasi tentang proses persalinan dan


pertolongan persalinan yang akan dilakukan.

Pengurangan Rasa Sakit (pain relief)

Pengurangan Rasa Sakit (pain relief)


Berdasarkan hasil penelitian, pemebrian dukungan fisik, emosional
dan psikologis selama persalinan akan dapat membantu mempercepat
proses persalinan dan membantu ibu memperoleh kepuasan dalam melalui
proses persalinan normal.
Metode mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara terus
menerus dalam bentuk dukungan harus dipilih yang bersifat sederhana,
biaya rendah, resiko renedah, membantu kemajuan persalinan, hasil
kelahiran bertambah baik dan bersifat sayang ibu.
Menurut Varney, pendekatan untuk mengurangi rasa sakit dapat
dilakukan dengan cara :

37

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Menghadirkan seseorang yang dapat memberikan dukungan selama


persalinan (suami, orang tua)

Pengaturan posisi : duduk atau setengah duduk, posisi merangkak,


berjongkok atau berdiri, berbaring miring ke kiri, relaksasi dan
pernafasan, istirahat dan privasi

Penjelasan mengenai proses/kemajuan/prosedur yang akan dilakukan,


asuhan diri, sentuhan.
Ada beberapa teknik dukungan untuk mengurangi rasa sakit yautu

dengan kehadiran seorang pendamping yang terus menerus, sentuhan yang


nyaman, dan dorongan dari orang yang memberikan support, perubahan
posisi dan pergerakan, sentuhan dan massase, counterpressure untuk
mengurangi tegangan pada ligamen, pijatan ganda pada pinggul,
penekanan pada lutut, kompres hangat dan kompres dingin, berendam,
pengeluaran suara, visualisasi dan pemusatan perhatian (dengan berdoa),
musik yang lembut dan menyenangkan ibu.

Penatalaksanaan Persalinan Kala 1


1. Menyiapkan Kelahiran
a. Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi
Dimanapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi, diperlukan hal
sebagai berikut :
-

Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang


baik dan terlindung dari tiupan angin.

Sumber air bersih yang mengalir untuk cuci tangan dan mandi ibu
sebelum dan sesudah melahirkan.

Air desinfeksi tingkat tinggi untuk membersihkan vulva dan


perineum

sebelum

periksa

dalam

selama

persalinan

dan

membersihkan perineum ibu setelah bayi lahir.

38

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Air bersih dalam jumlah yang cukup, klorin, deterjen, kain


pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk membersihkan
ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan.

Penerangan yang cukup baik disiang maupun di malam hari.

Tempat tidur yang bersih untuk ibu.

Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi baru lahir.

b. Menyiapkan perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan.


Daftar perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan untuk asuhan
dasar persalinan dan kelahiran bayi adalah sebagai berikut :
-

Partus set yang terdiri dari dua klem kelly atau dua klem kocher,
gunting tali pusat, benang tali pusat atau klem plastik, kateter
nelaton, gunting episotomi, alat pemecah selaput ketuban atau
klem kocher, dua pasang sarung tangan DTT steril, kasa atau
kain kecil, gulungan kapas basah menggunakan air DTT, tabung
suntik 3 ml dengan larutan IM sekali pakai, kateter penghisap de
lee (penghisap lendir) atau bola karet yang baru dan bersih, empat
kain bersih, tiga handuk atau kain untuk mengeringkan dan
menyelimuti bayi.

Bahan terdiri dari partograf (halaman depan dan belakang), catatan


kemajuan persalinan atau KMS ibu hamil, kertas kosong atau
formulir rujukan, pena, termometer, pita pengukur, pinnards,
fetoskop, doppler, jam yang mempunyai jarum detik, stetoskop,
tensimeter, sarung tangan pemeriksaan bersih (lima pasang),
sarung tangan DTT atau steril (lima pasang) larutan klorin atau
klorin serbuk, perlengkapan pelindung pribadi, sabun cuci tangan,
deterjen, sikat kuku dan gunting kuku, celemek plastik dan gaun
oenutup, lembar plastik untuk alas tempat tidur saat persalinan,
kantong plastik, sumber air bersih yg mengalir, wadah untuk
larutan klorin, wadah untuk air DTT.

39

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Peralatan resusitasi bayi baru lahir yang terdiri dari balon resusitasi
dan sungkup, lampu sorot 60 watt.

Obat

dan

perlengkapan

untuk

asuhan

rutin

dan

penatalaksanaan/penanganan penyulit yang terdiri dari 8 ampul


oksitosin 1 ml 10 U (atau 4 ampul oksitosin 2 ml 10 U/ml), 20 ml
Lidokain 1% tanpa epinefrin atau 10 Lidoksin 2% tanpa epinefrin
dan air steril atau cairan garam fisiologis (NS) untuk pengenceran,
tiga botol ringer laktat atau cairan garam fisiologis (NS) 500 ml,
selang infus, dua kanula IV nomor 16 18 G, dua ampul metil
ergometrin maleat, dua vial larutan magnesium sulfat 40% (25gr),
enam tabung suntik (2 3 ml) sekali pakai dengan jarum IM, 2
tabung suntik 5 ml steril sekali pakai dengan jarum IM, satu 10 ml
tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum IM ukuran 22
panjang 4 cm atau lebih, 10 kapsul/kaplet amoksilin/ampisilin 500
mg atau amoksilin/ampisilin IV 2 g.
-

Set jahit yang terdiri dari 1 tabung suntik 10 ml steril sekali pakai
dengan jarum IM ukuran 22 panjang 4 cm atau lebih, pinset,
pegangan jarum, 2-3 jarum jahir tajam ukuran 9 11, benang
chromic sekali pakai ukuran 2.0 dan 3.0, satu pasang sarung tangan
DTT atau steril, satu kain bersih.

c. Menyiapkan Rujukan
Menkaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika
perlu dirujuk disiapkan dan disertakan dokumentasi tertulis semua
asuhan dan perawatan dan hasil penilaian yang telah dilakukan untuk
dibawa ke fasilitas rujukan.
d. Memberikan Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk, memberikan
dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan

40

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

dan nutrisi, keleluasaan ke kamar mandi secara teratur, pencegahan


infeksi.
2. Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai
menilai kesehatan dan kenyamanan
fisik ibu dan bayinya. Langkah yang dilakukan sebelum pemeriksaan fisik
terdiri dari mencuci tangan sebelum pemeriksaan, bersikap lemah lembut
dan sopan serta menentramkan, meminta ibu untuk mengosongkan
kandung kemih, menilai
menilai kesehatan ibu secara umum, menilai tanda-tanda
tanda
vital ibu.
a. Menentukan Tinggi Fundus
Memastikan tidak ada kontraksi selama penilaian. Ukur tinggi
fundus dengan menggunakan pita ukur. Mulai dari tepi atas simfisis
pubis, rentangkan hingga ke puncak fundus
fundus uteri mengikuti aksis
atau linea medialis pada abbdomen. Pita pengukur harus menempel
pada kulit abdomen. Jarak antara tepi atas sinifisis pubis dari puncak.
fundus uteri adalah tinggi fundus

Gambar
bar 4.1 Menentukan tinggi fundus
b. Memantau kontraksi uterus
Letakkan tangan dengan hati-hati
hati hati di atas uterus dan rasakan jumlah
kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi
atau lama setiap kontraksi berlangsung. Pada fase aktif, minimal
minim
terjadi dua kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi 40 detik
41

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

atau lebih. Diantara dua kontraksi, dinding uterus melunak kembali


dan mengalami relaksasi.
c. Memantau Denyut Jantung Janin
Jika DJJ sulit ditemukan, palpasi abdomen dan tentukan dataran
datara
punggung bayi. Biasanya denyut jantung bayi lebih mudah didengar
melalui dinding abdomen yang sesuai dengan dataran punggung
bayi.
d. Menentukan Presentasi
Untuk menentukan presentasi bayi apakah presentasi kepala atau
presentasi bokong/ sungsang.
e. Menentukan
Menentuk Penurunan Janin
Akan lebih nyaman bagi ibu jika penurunan janin ditentukan melalui
pemeriksaan abdomen dibandingkan dengan pemeriksaan dalam.
Menilai penurunan melalui palpasi abdomen juga memberikan
informasi mengenai kemajuan persalinan dan membantu mencegah
pemeriksaan dalam yang tidak perlu.

Gambar 4.2 Kepala sudah turun 2/5


f. Pemeriksaan Vagina
Periksa dalam berguna untuk memastikan pembukaan serviks,
keadaan ketuban (sudah pecah/belum) letak dan posisi
posi janin, molase
verteks dan penurunan bagian bawah janin. Pemeriksaan dalam
dilakukan paling sedikit tiap 4 jam.

42

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Periksa dalam perlu dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah


resiko infeksi pada vagina, serviks dan uterus. Pemeriksaan ini sering
membuat ibu bersalin merasa tidak nyaman. Periksa dalam perlu
dilakukan dengan perlahan-lahan.
Pada waktu periksa dalam, perhatikan:
1) Tingkat kekeringan dan suhu vagina : vagina yang panas dan
kering mungkin menunjukkan partus lama, dehidrasi dan infeksi.
2) Bekas luka pada vagina : mungkin akibat robekan atau
episiotomi
3) Selaput ketuban : ketuban biasanya pecah setelah serviks terbuka
lebih dari setengah dari pembukaan lengkap. Perhatikan warna
cairan ketuban bila sudah pecah.
4) Tebal dan pembukaan serviks : pada saat persalinan serviks
menipis, lembek dan membuka.
5) Letak janin: Perhatikan seberapa jauh kepala telah turun ke
rongga

panggul.

Bandingkan

dengan

pemeriksaan

luar

(Abdomen). Bila kepala dapat disentuh, mba kedua ubun-ubun


dan suturanya untuk menilai molase. Tentukan posisi janin

Memberikan Asuhan Persalinan pada Kala I

Asuhan Sayang Ibu


Memberi dukungan emosional kepada ibu bahwa ibu harus bangga dan
mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT dan optimis
bahwa ibu bisa mendidik anak dengan baik, mengatur posisi yang nyaman
bagi ibu, cukup asupan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk mobilisasi,
termasuk ke kamar kecil, dan penerapan prinsip pencegahan infeksi yang
sesuai. Yang tidak dianjurkan kateterisasi rutin, periksa dalam berulang
kali (tanpa indikasi yang jelas), mengharuskan ibu pada posisi tertentu dan
membatasi mobilisasi (pergerakan). memberikan informasi yang tidak
akurat atau berlawanan dengan kenyataan. Mengosongkan kandung kemih

43

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

dengan memfasilitasi kemajuan persalinan, memberi rasa nyaman bagi


ibu, mengurangi gangguan kontraksi, mengurangi penyulit pada distosia
bahu (bahu besar/ lebar), bila dilakukan sendiri dapat mencegah terjadinya
infeksi akibat trauma atau iritasi

Partograf
Instrumen untuk memantau kemajuan persalinan, data untuk membuat
keputusan klinik dan dokumentasi asuhan persalinan yang diberikan oleh
seorang penolong persalinan.

c. RANGKUMAN MATERI
Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kla
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedmen,
diperhitungkan

pembukaan

primigravida

cm/jam

dan

pembukaan

multigravida 2 cm/jam. Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan


lengkap dapat diperkirakan. Kala 1 persalinan dimulainya proses persalinan
yang ditandai dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan
menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap.
Tanda-tanda persalinan kala I adalah :
a) Rasa sakit adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b) Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan
kecil pada servik.
c) Terkadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d) Servik mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement)
Fase-fase persalinan kala I adalah sebagai berikut :
a. Fase Laten

44

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

b.

Fase aktif , dibagi menjadi 3 fase, yaitu :


1. Fase akselerasi
2. Fase dilatasi maksimal
3. Fase deselerasi

Penatalaksanaan pada kala I yaitu :


1. Menyiapkan kelahiran
-

Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi

Menyiapkan perlengkapan, bahan, dan obat yang dibutuhkan

Menyiapkan rujukan

Asuhan sayang ibu

2. Pemeriksaan fisik
-

Menentukan tinggi fundus uteri

Memantau kontraksi uterus

Memantau denyut jantung janin

Menentukan presentasi

Menentukan penurunan janin

Pemeriksaan vagina
Pemberian dukungan fisik, emosional dan psikologis selama persalinan

akan dapat membantu mempercepat proses persalinan dan membantu ibu


memperoleh

kepuasan

dalam

melalui

proses

persalinan

normal.

Asesment pada persalinan sesungguhnya yaitu Persalinan juga harus dicurigai


pada ibu dengan umur kehamilan > 22 minggu usia kehamilan, dimana ibu
merasa nyeri abdomen berulang dengan disertai cairan lendir yang mengdung
darah atau show. Agar dapat mendiagnosa persalinan, bidan harus
memastikan perubahan cerviks dan kontraksi yang cukup.

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan persalinan Kala I?
2. Diskusikan tanda tanda kala I?
3. Diskusikan perubahan fisiologis pada kala I?

45

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


1. Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kla
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam
2. Tanda tanda kala I yaitu :
a. Rasa sakit adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena
robekan kecil pada servik.
c. Terkadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d. Servik mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement)
3. Perubahan fisiologis pada kala I, yaitu :
a. Tekanan Darah
Tekanan Darah (TD) meningkat, sistolik rata-rata naik 10-20mmHg,
diastolik 5-10mmHg, antara kontraksi TD normal. rasa sakit, cemas,
dapat meningkatkan TD.
b. Metabolisme
Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara
berangsur disebabkan oleh kecemasan dan aktivitas otot skeletal.
peningkatan ini ditandai adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi,
kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang.
c. Suhu Tubuh, suhu tubuh sedikit meningkat (tidak lebih dari 0,5-1C)
karena peningkatan metabolisme terutama selama dan segera setelah
persalinan.
d. Detak Jantung, Detak jantung akan meningkat cepat selama kontraksi
berkaitan juga dengan peningkatan metabolisme. sedangkan antara
kontraksi detak jantung mengalami peningkatan sedikit dibanding
sebelum persalinan.

46

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

e. Pernafasan, Terjadi peningkatan laju pernafasan berhubungan dengan


peningkatan

metabolisme.

Hipeventilasi

yang

lama

dapat

menyebabkan alkalosis.
f. Perubahan pada ginjal, poliuri (jumlah urin lebih dari normal) sering
terjadi selama persalinan, disebabkan oleh peningkatan kardiak output,
peningkatan filtrasi glomerulus dan peningkatan aliran plasma ginjal.
proteinuria dianggap gejala normal selama persalinan
g. Perubahan Gastro Intestinal (GI) motilitas lambung dan absorbsi
makanan padat secara substansial berkurang banyak selama persalian.
pengeluaramn getah lambung berkurang, menyebabkan aktivitas
pencernaan hampir berhenti dan pengosongan lambung menjadi
lambat. cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam tempo
yang biasa. mual dan muntah sering terjadi sampai akhir kala I.
h. Perubahan

Hematologi, hemoglobin

meningkat

sampai

1,2

gram/100ml selama persalianan dan akan kembali pada tingkat seperti


sebelum persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali pada
perdarahan postpartum

f. DAFTAR PUSTAKA
1.

Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.


Jakarta : Buku Kedokteran EGC

2.

Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala 1. 2003.


Jakarta : Buku Kedokteran EGC

3.

Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

4.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

5.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

6.

Ilmu Kandungan dan Kebidanan, Sarwono Prawiroharjo, 2008

7.

Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

8.

Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

47

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB V
ASUAHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN KALA II

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa mampu menjelaskan fisiologi ibu bersalin kala II

Mahasiswa mampu menperagakan manajemen pertolongan

persalinan

kala II normal
-

Mahasiswa mampu mendemonstrasikan teknik amniotomi dan episiotomi

Mahasiswa mampu mendeteksi adanya komplikasi dan penyulit persalinan


kala II dan cara mengatasinya

Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada kala II

Mahasiswa mampu melakukan amniotomi dan episiotomi

Mahasiswa mampu mendeteksi adanya komplikasi dan penyulit persalinan


kala II dan cara mengatasinya

b. URAIAN MATERI

ASUHAN KALA II
Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi , kala II dikenal juga sebagai kala pengeluaran.
Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi)
yang dapat hidup, dari dalam rahim (uterus) melalui vagina atau jalan lain ke
dunia luar. Usia kehamilan yang dianggap normal (matur / aterm) untuk
melahirkan adalah berkisar 38-42 minggu. Jika partus terjadi di usia
kehamilan < 38 minggu disebut preterm (prematur), sebaliknya jika partus
terjadi saat usia kehamilan > 42 minggu dinamakan posterm (postmatur).

48

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Tanda dan Gejala kala II


1.

Ibu ingin meneran

2.

Ibu merasakan adanya tekanan pada anus

3.

Perineum terlihat menonjol

4.

Vulva vagina dan spingter ani terlihat membuka

5.

Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

Mendiagnosis kala II persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan


dalam yang menunjukkan adanya pembukaan serviks telah lengkap dan
terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina

Perubahan Fisiologis Ibu Bersalin


Perubahan fisiologis yang normal pada ibu saat memasuki kala II persalinan yaitu
a. Tekanan darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi 15 25 mmHg selama kontraksi kala II.
Upaya meneran ibu juga berpengaruh terhadap tekanan darah, menyebabkan
tekanan darah meningkat dan kemudian menurun dan pada akhirnya berada
pada sedikit diatas normal.Diperlukan evaluasi tekanan darah dengan cermat
diantara kontraksi. Rata-rata peningkatan tekanan darah 10 mmHg di antara
kontraksi ketika wanita telah meneran merupakan hal yang normal.
b. Metabolisme
Peningkata metabolisme yang terus menerus berlanjut sampai kala II disertai
upaya meneran ibu menambah aktifitas otot-otot rangka untuk memperbesar
peningkatan metabolisme.
c. Denyut Nadi
Frekuensi denyut nadi ibu bervariasi untuk setiap upaya meneran ibu. Secara
keseluruhan, frekuensi nadi meningkat selama kala II persalinan disertai
takikardi yang nyata ketika telah mencapai puncak pada saat proses
melahirkan.

49

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

d. Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat proses melahirkan dan segera
setelahnya. Peningkatan normal adalah 1 sampai 2 derajat Farenheit (0,5
sampai 1 derajat celcius).
e. Perubahan Gastrointestinal
Penurunan motilitas lambung dan absorbsi yang hebat berlanjut sampai kala
II. Biasanya mual dan muntah pada transisi mereda selama kala II persalinan
tetapi dapat terus ada pada beberapa wanita. Muntah, ketika terjadi, normalnya
hanya sesekali. Yang konstan dan menetap kapan saja selama persalinan
merupakan hal yang abnormal dan mungkin merupakan indikasi komplikasi
obstetrik, seperti ruptur uterus atau toxemia.
Pemantauan ibu pada kala II
1. Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
2. Suhu , Nadi , dan respirasi ibu setiap 60 menit
3. Tekanan darah setiap 15 menit
4. Pastikan ibu sudah berkemih dalam 2 jam terakhir, anjurkan agar ia berkemih
setiap 2 jam, atau lebih sering jika kandung kemih terasa penuh. Sebab
kandung kemih yang penuh dapat menghalangi kontraksi dan penurunan
kepala bayi, hal ini akan menambah rasa sakit, kesulitan untuk melahirkan
plasenta, perdarahan pascapersalinan dan menghambat penatalaksanaan
distosia bahu.
5. Adanya kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelumnya (setelah bayi
pertama lahir).

Pemantauan Janin
a. Sebelum bayi lahir :
-

DJJ setiap selesai meneran

Penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen (pemeriksaan luar)


setiap 30 menit dan pemeriksaan dalam setiap 60 menit atau kalau ada
indikasi

50

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Kondisi kepala janin ( adakah caput atau moulage )

Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah ( jernih atau bercampur
mekonium atau darah )

Apakah ada presentasi majemuk ( misalnya tangan atau tali pusat berada
di samping atau di atas kepala

Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir

b. Pemantauan saat bayi lahir :


-

Apakah bayi menangis atau tidak ( bernafas tanpa kesulitan )

Apakah bayi bergerak dengan aktif atau dalam keadaan lemas

Apakah warna kulit bayi merah muda , pucat atau biru

Kebutuhan Ibu Dalam Persalinan


A. Dukungan Persalinan
Persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan
keluarganya, bahkan dapat menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi
ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut seorang wanita memerlukan dukungan
selama persalinan. Karena dukungan emosional selama persalinan akan
menjadikan waktu persalinan menjadi pendek, meminimalkan intervensi, dan
menghasilkan persalinan yang baik.
Asuhan yang sifatnya mendukung selama persalinan merupakan suatu
standar pelayanan kebidanan. Asuhan yang mendukung berarti bersifat aktif dan
ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Dukungan fisik dan
emosional yang diberikan oleh bidan harus memperhatikan prinsip-prinsip asuhan
sayang ibu.
Lima kebutuhan seorang wanita dalam persalinan menurut Varneys Midwifery :
1. Asuhan fisik dan psikologis
Asuhan fisik yang diberikan pada wanita dalam persalinan dapat berupa :
memberikan cairan dan nutrisi, kelelussaan ke kamar mandi secara teratur,

51

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

pencegahan infeksi, membuat ibu senyaman mungkin dengan posisi yang ia


inginkan.
Asuhan psikologis selama persalinan meliputi : memberikan dukungan
emosional kepada ibu , memberikan kesempatan kepada ibu untuk memilih
pendamping selama persalinan, mengucapkan kata-kata yang membesarkan
hati dan pujian kepada ibu, bersikap dan bertindak dengan tenang dan berikan
dukungan penuh selama persalinan dll.
2. Kehadiran pendamping secara terus menerus
3. Pengurangan rasa sakit
4. Penerimaan atas sikap dan perilakunya
Persalinan dan kelahiran merupakan hal yang fisiologis namun banyak wanita
yang

tidak siap untuk menghadapi persalinannya. Wanita biasanya

membutuhkan perhatian lebih dari suami dan keluarganya bahkan bidan


sebagai penolong persalinan.

Asuhan yang harus diberikan adalah selain

pemberian dukungan mental juga penjelasan kepada ibu bahwa rasa sakit yang
ia alami selama persalinan merupakan suatu proses yang harus dilalui dan
diharapkan ibu tenang menghadapi persalinannya.
5. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman
Dalam setiap persalinan wanita atau keluarga membutuhkan penjelasan
mengenai persalinan yang dihadapinya baik mengenai kondisi ibu maupun
bayinya, serta perkembangan persalinannya.
Hasil penelitian telah memperlihatkan efektifnya dukungan fisik,
emosional dan psikologis selama persalinan dan kelahiran. Dari 14 percobaan
yang melibatkan 5000 wanita memperlihatkan bahwa kehadiran seorang
pendamping secara terus menerus selama persalinan akan menghasilkan :
1. Kelahiran dengan bantuan vakum dan forsep semakin kecil atau sedikit
2. Seksio sesaria untuk membantu kelahiran menjadi berkurang
3. Kejadian asfiksia menjadi berkurang

52

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

4. Lamanya persalinan yang semakin pendek


5. Kepuasan ibu yang semakin besar dalam pengalaman melahirkan mereka
Kehadiran pendamping dalam memberikan dukungan bisa dilakukan dengan
bentuk:
1. Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati ibu
2. Mengusap keringat
3. Membantu mobilisasi
4. Memberikan makanan dan minuman bila dikehendaki
5. Memilih posisi
6. Memijat punggung
7. Membantu mengatur nafas saat kontraksi

B. Mengurangi Rasa Sakit (Pain Relief)


Rasa sakit yang dirasakan ibu selama persalinan sangat bervariasi
tingkatannya tergantung dari keadaan jaringan saraf tubuh ibu dalam
menerima rangsangan sakit atau nyeri. Untuk itu juga diperlukan dukungan
yang baik selama persalinan agar dapat menenangkan dan mengurangi rasa
sakit tersebut.Pendekatan pengurangan rasa sakit dapat dilakukan dengan
pendekatan nonfarmakologi dan farmakologi.
1. Pendekatan menajemen pengurangan rasa sakit secara nonfarmakologi
Metode mengurangi rasa sakit yang diberikan secara terus menerus
dalam bentuk dukungan adalah sederhana dan efektif, biaya dan risiko
rendah, membantu kemajuan persalinan, hasil kelahiran bertambah baik
dan bersifat sayang ibu.
Pendekatan-pendekatan untuk mengurangi rasa sakit, menurut Varneys
Midwifery :
1. Adanya seseorang yang dapat mendukung persalinan
2. Pengaturan posisi

53

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

3. Relaksasi dan latihan pernafasan


4. Istirahat dan privacy
5. Penjelasan mengenai proses/kemajuan/prosedur yang akan dilakukan
6. Asuhan diri
7. Sentuhan
Penny Simpkin, menjelaskan cara-cara untuk mengurangi rasa sakit :
1. Mengurangi rasa sakit langsung di sumbernya
2. Memberikan rangsangan alternative yang kuat
3. Mengurangi reaksi mental negative, emosional dan reaksi fisik ibu
terhadap rasa sakit.
Beberapa teknik dukungan untuk mengurangi rasa sakit adalah
a. Kehadiran pendamping yang terus-menerus, sentuhan yang nyaman
dan dorongan dari orang yang mendukung.
b. Perubahan posisi dan pergerakan
c. Sentuhan dan massase
d. Counter pressure untuk mengurangi ketegangan pada ligament
sacroiliaka
e. Pijatan ganda pada pinggul
f. Penekanan pada lutut
g. Kompres hangat dan kompres dingin
h. Berendam
i. Pengeluaran suara
j. Visualisasi dan pemusatan perhatian
k. Musik
2. Pendekatan menajemen pengurangan rasa sakit secara farmakologi
Penggunaan sedative/ tranquilizer : misalnya golongan barbiturate.
Opioids : misalnya morphin

54

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

C. Posisi Dalam Persalinan


Pengaturan posisi adalah salah satu teknik relaksasi karena dapat
mengurangi titik tekanan dan ketegangan otot-otot dasar panggul. Persalinan
dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau
tidak mau harus berlangsung. Untuk itu ibu harus dibantu memperoleh posisi
yang senyaman mungkin bagi dirinya. Untuk membantu ibu agar tetap tenang
dan rileks sedapat mungkin bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi
yang diinginkan ibu dalam persalinannya. Sebaliknya, peranan bidan adalah
mendukung ibu dalam posisi yang dipilihnya, menyarankan alternativealternative hanya apabila tindakan ibu tidak efektif atau membahayakan bagi
dirinya sendiri atau bagi bayinya.
Bidan harus memberitahu ibu bahwa ibu tidak perlu terlentang terus
menerus dalam persalinanya. Jika ibu sudah semakin putus asa dan merasa
tidak nyaman, bidan bisa mengambil tindakan-tindakan yang positif untuk
merubah kebiasaan atau merubah setting tempat yang telah ditentukan. Bidan
harus memberikan suasana yang nyaman dan tidak menunjukkan ekspresi
terburu-buru, sambil memberikan kepastian yang menyenangkan serta pujian
lainnya.
Jenis posisi dalam persalinan menurut Varneys Midwifery adalah :
1. Duduk / setengah duduk
Rasionalisasi : Memudahkan melahirkan kepala bayi , nyaman bagi ibu
karena bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi jika ia merasa lelah
2. Posisi merangkak
Rasionaliasi : Baik bagi ibu yang mengalami nyeri punggung saat persalinan,
membantu bayi melakukan rotasi, peregangan minimal pada perineum
3. Berjongkok / berdiri
Rasionalisasi : Membantu penurunan kepala bayi, mempercepat kemajuan
kala II persalinan dan mengurangi rasa nyeri yang hebat
4. Berbaring miring ke kiri
55

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Rasionalisasi : Memberi rasa santai bagi ibu yang letih, karena ibu bisa
beristirahat dengan mudah di antara kontraksi memberi oksigenisasi yang
baik bagi bayi,lebih nyaman dan efektif untuk meneran ,membantu mencegah
terjadinya laserasi

Duduk / setengah duduk

Merangkak

Berdiri
Miring ke kiri

Gambar 5.1 Posisi ibu saat bersalin


Bersalin dalam posisi terlentang terus menerus tidak diperbolehkan karena :
a. Dapat menyebabkan hipotensi yang mengakibatkan ibu pingsan dan hilangnya

suplai oksigen bagi bayi


b. Dapat menambah rasa sakit
c. Bisa memperlama proses persalinan
d. Lebih sulit bagi ibu untuk melakukan pernafasan
e. Membuat buang air lebih sulit
f.

Membatasi pergerakan ibu

g. Bisa membuat ibu tidak berdaya


h. Bisa membuat proses meneran menjadi lebih sulit

56

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

i.

Bisa menambah kemungkinan terjadinya laserasi pada perineum

j.

Menimbulkan kerusakan syaraf pada kaki dan punggung

Proses persalinan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu power, passage,
dan pasanger. Pada faktor passage atau factor ibu ukuran panggul sangat
mempengaruhi jalannya/ proses persalinan. Sedangkan faktor passenger/ janin
adalah kepala. Karena dalam persalinan perbandingan antara besarnya kepala dan
luasnya panggul merupakan hal yang menentukan.
Jika kepala dapat melewati jalan lahir maka bagian-bagian lain dapat
menyusul dengan mudah. Menurut penelitian Cadweel dkk, 1934, 95% dari
semua kehamilan, janin dengan presentasi belakang kepala/ oksiput. Oksiput
memasuki panggul dengan sutura sagitalis melintang.
Ukuran kepala janin hampir sama dengan ukuran dalam panggul. Karena
bentuk panggul yang tidak teratur, maka ketika kepala janin masuk panggul harus
menyesuaikan diri dengan bentuk panggul mulai dari PAP ke bidang tengah
panggul dan PBP, supaya janin dapat lahir.
Proses penyesuaian masuknya kepala janin ke dalam panggul merupakan
mekanisme persalinan. Pada proses ini kepala janin melakukan gerakangerakan tertentu, yaitu :
1. Penurunan
Turunnya kepala dapat dibagi dalam :
a. Masuknya kepala dalam PAP
Masuknya kepala ke dalam PAP biasanya dengan sutura sagitalis
melintang dan dengan fleksi yang ringan.
Sinklitismus : Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir dan
tepat diantara simfisis dan promontorium.
Asinklitismus : Sutura sagitalis agak ke depan mendekati symfisis atau
agak ke belakang mendekati promontorium.
57

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Asinklitismus anterior : Sutura sagitalis


italis mendekati promontorium
sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang.
Asinklitismus posterior : Sutura sagitalis mendekati simfisis dan os
parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan.

Gambar 5.2 Masuknya kepala ke PAP


b. Majunya kepala
Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk ke
dalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II.
Pada multipara majunya dan masuknya kepala janin ke dalam rongga
panggul terjadi bersamaan.
Yang menyebabkan majunya kepala adalah :
a. Tekanan cairan amnion
b. Tekanan langsung fundus pada bokong
c. Kontraksi otot-otot
otot
abdomen
d. Ekstensi dan pelurusan badan janin.

58

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Majunya kepala terjadi bersamaan dengan gerakan-gerakan


gerakan gerakan yang lain,
yaitu : Fleksi, Putaran paksi dalam dan ekstensi.
eks
2. Fleksi
Dengan majunya kepala maka fleksi juga bertambah hingga ubun-ubun
ubun
kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun
ubun ubun besar, karena diameter
suboksipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboksipito
frontalis (11 cm).
Fleksi kepala biasanya terjadi bila penurunan kepala menemukan tahanan,
apakah dari serviks, dinding panggul atau dasar panggul.

Gambar 5.3 Posisi kepala Fleksi


3. Rotasi Dalam/ Putar Paksi Dalam
Yaitu pemutaran kepala janin secara perlahan
perlahan menggerakan oksiput dari
posisi asalnya ke anterior menuju simfisis pubis, atau ke posterior menuju
lubang sacrum.
Rotasi dalam tidak terjadi sendiri, tetapi selalu bersamaan dengan
majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala sampai Hodge III,
III
kadang-kadang
kadang baru setelah kepala sampai di dasar panggul.
Sebabsebab
sebab terjadinya rotasi dalam:
a. Pada letak fleksi, bagian belakang kepala atau oksiput merupakan
bagian terendah dari kepala.
b. Bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit.
sedik

59

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

c. Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul adalah diameter antero


posterior.
4. Ekstensi
Setelah kepala janin sampai pada dasar panggul, terjadilah ekstensi atau
defleksi kepala. Hal ini disebabkan karena :
o Sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah kedepan dan
atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya.
o Adanya dua kekuatan, yang satu mendesaknya ke bawah
o Satunya tahanan dasar panggul yang menolaknya ke atas.
Resultantenya adalah kekuatan ke arah depan atas.
Setelah suboksiput
ksiput tertahan pada pinggir bawah simpisis maka yang dapat
maju karena kekuatan tersebut di atas bagian yang berhadapan dengan
suboksiput, maka lahirlah berturut-turut
berturut turut pada pinggir atas perineum ubunubun
ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan
denga gerakan
ekstensi. Dan sebagai hipomoklion (pusat pemutaran) adalah sub oksiput.

Gambar 5.4 Kepala Ekstensi


5. Rotasi Luar/ Putaran Paksi Luar
Putaran ini untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena
putaran paksi dalam. Kepala memutar kembali searah punggung janin.
Gerakan ini disebabkan karena ukuran bahu (diameter bisakromial)
menempatkan diri dalam diameter antero posterior dari pintu bawah
panggul.

60

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Gambar 5.5 Rotasi Luar

6. Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah
bawah simpisis dan
menjadi hipomoklion untuk melahirkan bahu belakang. Kemudian bahu
depan menyusul dan selanjutnya badan anak lahir searah dengan jalan
lahir.
Amniotomi
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka
perlu dilakukan tindakan
indakan amniotomi. Perhatikan warna air ketuban saat dilakukan
amniotomi. Jika trjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka lakukan
persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut menunjukkan adanya
hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan.Prosedur
persalinan.Prosedur melakukan
amniotomi :

61

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

1. Membantu prosedur bersama ibu dan keluarganya dan jawab pertanyaan


apapun yang mereka ajukan
2. Dengarkan denyut jantung janin dan catat pada partograf
3. cuci tangan
4. pakai sarung tangan DTT atau seteril
5. Diantara kontraksi, lakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati. Raba dengan
hati-hati selaput ketuban untuk memastikan bahwa kepala telah masuk ke
dalam panggul dengan baik dan bahwa tali pusat dan/atau bagian-bagian tubuh
yang kecil dari bayi (misalkan tangan)tidak bisa dipalpasi, jika tali pusat atau
bagian-bagian tubuh yang kecil dari bayi bisa dipalpasi, jangan pecahkan
selaput ketuban.
Catatan : Pemeriksaan dalam yang dilakukan diantara kontraksi seringkali
lebih nyaman untu ibu. Tetapi jika selaput ketuban tidak dapat diraba
diantara kontraksi, tunggu sampai kekuatan kontraksi berikutnya. Mendorong
cairan ketuban menekan selaput ketuban dan membuatnya lebih mudah untuk
dipalpasi dan dipecahkan.
6. Dengan menggunakan tangan yang lain, tempatkan klem setelah kocher atau
setengah kelly DTT/ seteril dengan lembut kedalam vagina dipandu klem
dengan jari dari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan. Gerakkan jari
mencapai selaput ketuban.
7. Pegang ujung klem diantara ujung jari pemeriksaan, gerakkan jari dengan
lembut. Gosokkan klem ke selaput ketuban dan pecahkan.
Catatan : Seringkali lebih mudah untuk memecahkan selaput ketuban diantara
kontraksi ketika selaput ketuban tidak tegang,hal ini juga akan mencegah air
ketuban menyemprot pada saat selaput ketuban dipecahkan.
8. Biarkan air ketuban membasahi jari tangan yang digunakan untuk
pemeriksaan.
9. Gunakan tangan yang lain untuk mengambil klem dan menempatkannya ke
dalam larutan klorin 0,5% untuk didekontaminasi. Biarkan jari tangan

62

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

pemeriksaan tetap didalam vagina untuk mengetahui penurunan kepala janin


dan memastikan bahwa tali pusat atau bagian kecil dari janin tidak teraba.
Setelah memastikan penurunan kepala dan tidak ada tali pusat dan bagianbagian tubuh bayi yang kecil, keluarkan tangan pemeriksa secara lembut dari
dalam vagina.
10. Evaluasi warna cairan ketuban, periksa apakah ada mekonium atau darah
(lebih bayak dari bercak bercampur darah yang normal) jika mekonium atau
darah terlihat, lakukan penatalaksanaan lanjut.
11. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5% lalu lepaskan sarung tangan dan biarkan terendam di larutan
klorin 0,5% selama 10 menit.
12. Cuci kedua tangan.
13. Segera periksa ulang DJJ.
14. Catat pada partograf waktu dilakukan pemecahan selaput ketuban, warna air
ketuban dan DJJ

Episiotomi Dengan Anestesi Lokal


Ingat : Episiotomi bisa dipertimbangkan hanya pada kasus-kasus:

Gawat janin

Persalinan pervaginam dengan penyulit (sungsang, distosia bahu,


ekstraksi, vorcep, ekstraksi vacum)

Jaringan parut pada perineum atau vagina yang menghalangi kemajuan


persalinan

63

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Gambar 5.6 Jenis- jenis Episiotomi


Persiapan

Pertimbangkan indikasi-indikasi untuk melakukan episiotomi dan pastikan


bahwa episiotomi tersebut penting untuk keselamatan dan kenyamanan ibu
dan bayi

Pastikan bahwa semua perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah


tersedia dan dalam keadaan DTT/steril

Gunakan tehnik aseptik setiap saat. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
DTT/steril

Jelaskan pada ibu mengapa ia memerlukan episiotomi dan diskusikan


prosedurnya dengan ibu, berikan alasan rasional pada ibu.

Memberikan Anaestesi Lokal


Berikan anaestesi lokal secara dini agar obat tersebut memiliki cukup waktu untuk
memberikan efek sebelum episiotomi dilakukan. Episiotomi adalah tindakan yang
menimbulkan rasa sakit dan menggunakan anastesi lokal adalah bagian dari
asuhan sayang ibu.
1. Jelaskan kepada ibu apa yang akan anda lakukan dan bantu dia untuk merasa
rilex

64

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

2. Hisap 10 ml larutan Lidokaine 1% tanpa Epineprin ke dalam tabung suntik


steril ukuran 10 ml (Tabung suntik lebih besar boleh digunakan, jika
diperlukan).
Jika lidokaine 1% tidak tersedia, larutkan 1 bagian lidokaine 2% dengan 1
bagia cairan garam fisiologis atau air destilasi seteril, sebagai contoh larutkan
dalam 5 ml cairan garam fisiologis atau air seteril.
3. Pastikan bahwa tabung suntik memiliki jarum ukuran 22 dan panjang 4 cm
(jarum yang lebih panjang boleh digunakan, jika diperlukan).
4. Letakkan dua jari kedalam vagiana diantara kepala bayi dan perineum.
5. Masukkan jarum ditengah forcette dan arahkan jarum sepanjang tempat yang
akan diepisiotomi.
6. Aspirasi (tarik batang penghisap) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada
didalam pembuluh darah. Jika darah masuk kedalam tabung suntik, jangan
suntikkan lidokaine, tarik jarum tersebut keluar. Ubah posisi jarum
dantusukkan kembali. Alasan : Ibu bisa mengalami kejang dan bisa terjadi
kematian jika lidokaine disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
7. Tarik jarum perlahan sambil menyuntikkan masukkan 10 ml lidokaine.
8. Tarik jarum bila sudah kembali ketitik asal jarum suntik ditusukkan. Kulit
melembung karena anaestesia bisa terlihat dan dipalpasi pada perineum
disepanjang garis yang akan dilakukan episiotomi
Prosedur Episiotomi
1. Tunda tindakan episiotomi sampai perineum menipis dan pucat, dan 3-4 cm
kepala bayi sudah terlihat pada saat kontraksi. Alasan: Melakukan episiotomi
akan menyebabkan perdarahan, jangan melakukannya terlalu dini.
2. Masukkan dua jari kedalam vagina diantara kepala bayi dan perineum. Kedua
jari agak direnggangkan dan berikan sedikit tekanan lembut kearah luar pad
pperineum. Alasan: Hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan
meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah diepisiotomi.
3. Gunakan gunting tajam DTT/steril, tempatkan gunting ditengah-tengah
fourcette posterior dan gunting mengarah kesudut yang diinginkan untuk

65

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

melakukan episiotomi mediolateral (jika anda bukan kidal, episiotomi


mediolateral yang dilakukan disisi kiri lebih mudah dijahit). Pastikan untuk
melakukan palpasi/mengidentifikasi spingter ani eksternal dan mengarahkan
gunting cukup jauh kearah samping untuk menghindari spingter.
4. Gunting perineum sekitar 3-5 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu
atau dua guntingan yang mantap. Hindari menggunting jaringan sedikit demi
sedikit karena akan menimbulkan tepi yang tidak rata sehingga akan
menyulitkan penjahitan dan waktu penyembuhannya lebih lama.
5. Gunakan gunting untuk memotong 2-3 cm ke dalam vagina.
6. Jika kepala bayi belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episiotomi
dengan dilapisi kain atau kasa DTT/steril diantara kontraksi untuk membantu
mengurangi perdarahan.
7. Kendalikan kelahiran kepala, bahu dan badan bayi untuk mencegah perluasan
episiotomi.
8. Setelah bayi dan plasenta lahir, periksa dengan hati-hati apakah episiotomi,
perineum dan vagina mengalami perluasan robekan atau laserasi, lakukan
penjahitan jika terjadi perluasan episiotomi atau laserasi tambahan.

c. RANGKUMAN MATERI
-

Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi , kala II dikenal juga sebagai kala
pengeluaran

Tanda dan gejala kala II


1. Ibu ingin meneran
2. Ibu merasakan adanya tekanan pada anus
3. Perineum terlihat menonjol
4. Vulva vagina dan spingter ani terlihat membuka
5. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

Perubahan fisiologis pada ibu bersalin yaitu tekanan darah, metabolisme,


suhu dan pernafasan meningkat

66

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan tentang pengertian persalinan!
2. Diskusikan tanda tanda kala II?
3. Diskusikan tentang perubahan fisiologis apa saja yang terjadi pada ibu saat
persalinan kala II?
e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL
1. Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi , kala II dikenal juga sebagai kala
pengeluaran. Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil pembuahan
(konsepsi) yang dapat hidup, dari dalam rahim (uterus) melalui vagina
atau jalan lain ke dunia luar. Usia kehamilan yang dianggap normal (matur
/ aterm) untuk melahirkan adalah berkisar 38-42 minggu. Jika partus
terjadi di usia kehamilan < 38 minggu disebut preterm (prematur),
sebaliknya jika partus terjadi saat usia kehamilan > 42 minggu dinamakan
posterm (postmatur).
2. Tanda tanda kala II, yaitu :
-

Ibu ingin meneran

Ibu merasakan adanya tekanan pada anus

Perineum terlihat menonjol

Vulva vagina dan spingter ani terlihat membuka

Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

3. Perubahan fisiologis yang normal pada ibu saat memasuki kala II


persalinan yaitu
a.

Tekanan darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi 15 25 mmHg selama kontraksi
kala II. Upaya meneran ibu juga berpengaruh terhadap tekanan darah,
menyebabkan tekanan darah meningkat dan kemudian menurun dan
pada akhirnya berada pada sedikit diatas normal.Diperlukan evaluasi
tekanan darah dengan cermat diantara kontraksi. Rata-rata peningkatan

67

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

tekanan darah 10 mmHg di antara kontraksi ketika wanita telah


meneran merupakan hal yang normal.
b.

Metabolisme
Peningkata metabolisme yang terus menerus berlanjut sampai kala II
disertai upaya meneran ibu menambah aktifitas otot-otot rangka untuk
memperbesar peningkatan metabolisme.

c.

Denyut Nadi
Frekuensi denyut nadi ibu bervariasi untuk setiap upaya meneran ibu.
Secara keseluruhan, frekuensi nadi meningkat selama kala II
persalinan disertai takikardi yang nyata ketika telah mencapai puncak
pada saat proses melahirkan.

d.

Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat proses melahirkan dan
segera setelahnya. Peningkatan normal adalah 1 sampai 2 derajat
Farenheit (0,5 sampai 1 derajat celcius).

e.

Perubahan Gastrointestinal
Penurunan motilitas lambung dan absorbsi yang hebat berlanjut sampai
kala II. Biasanya mual dan muntah pada transisi mereda selama kala II
persalinan tetapi dapat terus ada pada beberapa wanita. Muntah, ketika
terjadi, normalnya hanya sesekali. Yang konstan dan menetap kapan
saja selama persalinan merupakan hal yang abnormal dan mungkin
merupakan indikasi komplikasi obstetrik, seperti ruptur uterus atau
toxemia.

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala 1. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
3. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
4.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

68

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

5.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

6. Hurlock B, 1999, Psikologi Perkembangan,Jakarta


7. Ilmu Kandungan dan Kebidanan, Sarwono Prawiroharjo, 2008
8. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
9. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta
10. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet
Publishers, Sudbury: England
11. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

69

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB VI
ASUAHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN KALA III

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa mampu menjelaskan perubahan fisiologis pada kala III

Mahasiswa mampu mendemonstrasikan manajemen aktif kala III

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan plasenta

Mahasiswa mampu mendeteksi komplikasi persalinan kala III dan cara


mengatasinya

Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian pada kala III

b. URAIAN MATERI

PERSALINAN KALA III


Persalinan Kala III merupakan persalinan yang dimulai dari bayi
lahir sampai keluarnya plasenta. Biasanya berlangsung antara 5 10 menit.
Partus kala III disebut pula kala uri. Kelainan pada kala III ini bisa
menyebabkan perdarahan. Waktu yang paling kritis untuk mencegah
perdarahan postpartum adalah ketika plasenta lahir dan segera setelah itu.
Akan tetapi, kisaran normal kala III sampai 30 menit. Risiko perdarahan
meningkat apabila kala III lebih dari 30 menit, terutama antara 30 60
menit.

Kemajuan Persalinan
Kala III persalinan terdiri dari dua fase berurutan, yaitu :
1. Pelepasan plasenta
Pelepasan plasenta merupakan hasil penurunan mendadak
ukuran kavum uteri selama dan setelah kelahiran bayi, sewaktu uterus
berkontraksi mengurangi isi uterus. Pengurangan ukuran uterus secara

70

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

bersamaan berarti penurunan area perlekatan plasenta. Pada sisi


perlekatan ini, tidak mampu menahan tekanan dan melengkung,
akibatnya terjadi pelepasan plasenta dari dinding uterus di lapisan
spongiosa. Setelah lepas, plasenta turun ke segmen bawah uterus atau
ke dalam ruang vagina atas.
Setelah ibu melahirkan bayinya, kita harus mengevaluasi
kemajuan persalinan dan kondisi ibu. Satu tangan ditempatkan di
abdomen ibu untuk merasakan, tanpa melakukan masase, bentuk dan
posisi uterus serta menentukan apakah uterus berkontraksi. Pelepasan
plasenta normal dari dinding uterus dicapai dengan efek kontraksi
uterus. Jika uterus dimasase sebelum pelepasan plasenta dari dinding
uterus, masase dapat menyebabkan pelepasan sebagian plasenta yang
berakibat perdarahan. Bahaya pelepasan sebagian adalah bagian
plasenta masih menyatu dengan uterus dan uterus tidak mampu
berkontraksi cukup kuat untuk meligasi dan membuat kolaps
pembuluh yang dialiri darah, yang terjalin melalui serat otot melalui
serat otot dalam area tempat pelepasan telah terjadi. Bidan dapat
mengecek dengan menggunakan :
a. Kustner
Dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada/di atas simfisis,
tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk menandakan
plasenta belum lepas, kalau plasenta diam atau maju berarti
plasenta sudah lepas.
b. Strassman
Menegangkan tali pusat dan mengetok pada fundus, bila tali pusat
bergetar menandakan plasenta belum lepas, jika plasenta tidak
bergetar berarti plasenta sudah lepas.
c. Klein
Pada saat ada his rahim kita dorong sedikit, bila tali pusat kembali
berarti plasenta belum lepas, jika plasenta diam atau turun berarti
plasenta sudah lepas.

71

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

2. Pengeluaran plasenta
Pengeluaran plasenta dimulai dengan penurunan plasenta ke
dalam segmen bawah uterus. Plasenta kemudian keluar melewati
serviks keruang vagina atas, dari arah plasenta ke luar.
Tanda tanda lepasnya plasenta

Terjadi perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri

Tali pusat memanjang atau terjulur keluar melalui vagina/vulva

Adanya semburan darah secara tiba-tiba


Setelah plasenta lepas, gunakan tangan diabdomen ibu untuk

meyakinkan bahwa uterus berkontraksi. Kemudian menempatkan


permukaan telapak tangan tepat di atas simfisis pubis dan tekan
berlawanan arah dengan uterus, angkat sedikit ke arah atas menuju
umbilikus. Pada saat yang sama, tangan yang lain menarik tali pusat,
menggunakan klem di sekeliling tempat tali pusat. Pada saat yang
sama meminta ibu tersebut mengedan. Pada saat menarik tali pusat
mengikuti sumbu yang dilalui oleh janin yaitu ke bawah dan ke atas
sewaktu plasenta lepas. Jangan pernah memberikan tarikan pada tali
pusat kapanpun kecuali uterus berkontraksi. Jika uetrus tidak
berkontraksi dan plasenta atau membran melekat ke dinding uterus,
inversi uterus adalah bahaya potensial.

Pada keadaan demikian,

tarikan plasenta tidak hanya menarik plasenta tetapi dinding uterus


yang menyatu. Kala III berakhir jika membrane segera mengikuti
plasenta dan dilahirkan bersama plasenta.
Mekanisme pengeluaran plasenta :
a. Mekanisme Schultze
Kelahiran plasenta dengan presentasi sisi janin. Pelepasan plasenta
dimulai dari sisi tengah, disertai pembentukan bekuan retroplasenta
sentral, yang mempengaruhi berat plasenta sehingga bagian sentral
turun terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan plasenta dan kantong
amnion terbalik dan menyebabkan membran melepaskan desidua

72

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

dan tertinggal dibelakang plasenta, membran yang terbalik


menangkap dan menahan darah.
b. Mekanisme Duncan
Kelahiran plasenta dengan sisi maternal. Pelepasan plasenta terjadi
pada bagian pinggir atau perifer plasenta. Darah keluar di antara
membran dan dinding uterus dan terlihat secara eksternal. Plasenta
turun kesamping dan kantong amnion, oleh karena itu tidak
berbalik tetapi tertinggal di belakang plasenta untuk kelahiran
Tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat
pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta
dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang
utero-plasenter akan mendorong plasenta ke luar. Pelepasan dan
pengeluaran terjadi karena kontraksi, yang mulai terjadi lagi setelah
terhenti singkat setelah kelahiran bayi. Kontraksi kurang lebih setiap 2
sampai 2,5 menit selama kala dua persalinan. Kemudian kontraksi
berlangsung setiap 4 5 menit sampai plasenta telah lepas dan keluar.
Setelah uterus kosong, berkontraksi dengan sendirinya dan tetap
berkontraksi jika tonus otot baik. Apabila kontraksi buruk akan
mengalami peningkatan aliran lokia dan kontraksi uterus berulang
sewaktu uterus relaksasi. Hal ini menyebabkan nyeri setelah
melahirkan.
Rencana penatalaksanaan kala III
Kesalahan

penatalaksanaan

kala

III

adalah

penyebab

utama

perdarahan juga menyebabkan inversi uterus serta syok yang mengancam


jiwa. Komplikasi yang membahayakan seperti itu akan dapat dihindari
dengan aturan sebagai berikut :
1. Lakukan masase sesegera mungkin setelah kelahiran plasenta
2. Jangan lakukan masase uterus sebelum pelepasan plasenta kecuali
apabila pelepasan sebagian telah terjadi dengan proses alamiah dan
tampak perdarahan berlebihan.

73

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

3. Jangan mendorong tali pusat sebelum plasenta lepas dan jangan


mendorong tali pusat pada saat uterus tidak berkontraksi.
4. Jangan mencoba melahirkan plasenta sebelum pelepasan lengkap

Manajemen Aktif Kala III


Tujuan manajemen aktif kala III adalh untuk menghasilkan kontraksi
uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah
perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala III persalinan. Sebagian
besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh
perdarahan pasca persalinan dimana sebagian disebabkan oleh atonia uteri dan
retensio plasenta yang sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan
manajemen aktif kala III.
Tiga langkah utama dalam manajemen aktif kaka III

Pemberian oksitosin/uterotonika sesegera mungkin

Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)

Rangsangan taktil pada dinding uterus atau fundus uteri

Penegangan tali pusat terkendali

Berdiri disamping kanan ibu

Pindahkan jepitan semula tali pusat ke titik 5-20 cm dari vulva dan pegang
klem penjepit tersebut

Letakkan telapak tangan (alas dengan kain) yang lain, pada segmen bawah
rahim atau dinding uterus di suprasimfisis

Pada saat terjadi kontraksi, tegangkan tali pusat sambil tekan uterus ke
dorsokranial

Ulangi kembali perasat ini bila plasenta belum dapat dilahirkan (jangan
lakukan pemaksaan)

Pemeriksaan Plasenta, Selaput Ketuban Dan Pelepasan Plasenta


Setelah plasenta lahir, jangan lupa harus dilakukan pemeriksaan secara
teliti karena salah satu penyebab dari perdarahan adalah masih tertinggalnya
jaringan di uterus. Jaringan tersebut mempengaruhi proses involusi dari

74

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

uterus. Bidan harus waspada apakah plasenta dan membran lengkap, dan
apakah ada abnormalitas seperti ada simpul sejati atau ada tali pusat yang
mempunyai dua pembuluh saja. Setelah melahirkan plasenta, penting untuk
memeriksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa keduanya
lengkap. Sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal di dalam
uterus akan menghalangi kontraksi uterus sepenuhnya. Jika uterus tidak
sepenuhnya berkontraksi, maka ibu bisa kehilangan banyak darah.
Permukaan plasenta bagian ibu hendaknya diperiksa untuk memastikan
bahwa semua cotyledons ada di pinggiran membran semuanya rata (licin). Hal
ini harus dilakukan secepat mungkin supaya jika ada bagian yang hilang,
bidan bisa dengan segera mengeluarkannya. Jika membrannya tidak lengkap,
kadang-kadang bisa ditarik keluar secara perlahan-lahan dengan menggunakan
klem. Jika wanita tersebut tidak mengeluarkan darah, anda bisa memberikan
injeksi methergin 0,2 mg (IM) agar kontraksi uterus akan mendesak keluar
membran tersebut. Jika ibu mengeluarkan darah, kenakanlah sarung tangan
steril atau yang telah di-DTT dengan kasa yang dililit di jari telunjuk dan
sapulah lobang servik dan uterus untuk mengeluarkan membran yang
tertinggal.
Setelah pemeriksaan plasenta, periksalah daerah perineum. Dengan
lembut dan perlahan periksalah perineum, vagina, dan vulva untuk
mengetahui apakah ada robekkan. Setelah proses kelahiran, vagina akan
mengalami peregangan dan lebih besar dari biasanya. Mungkin akan ada
bagian-bagian yang merah, edema dan lecet. Dengan perlahan-lahan
periksalah anus untuk mengetahui apakah ada trauma atau hemorhoid yang
bisa menonjol keluar atau terjadi thrombosis setelah proses kelahiran.

Deteksi Komplikasi Persalinan


Perdarahan kala III terjadi akibat pelepasan plasenta sebagian.
Perdarahan terjadi karena kesalahan penatalaksanaan pada kala III. Pelepasan
sebagian plasenta dapat terjadi secara alami selama pelepasan plasenta
fisiologis, tetapi pelepasan sebagian akibat masase uterus sebelum plasenta

75

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

lepas dari dinding uterus tidak fisiologis, dan akibatnya dapat dipastikan
adalah perdarahan kala III.
1. Atonia uterus
Faktor predisposisi terjadinya perdarahan karena atonia uteri
a. Umur yang terlalu muda dan terlalu tua
b. Sering dijumpai pada multipara dan grandemultipara
c. Partus lama
d. Obstetri operatif dan narkose
e. Uterus terlalu regang dan besar (gemeli, hidramnion, atau janin
besar)
f. Kelainan pada uterus (mioma uteri)
g. Sosio ekonomi (malnutrisi)
Penanganan perdarahan karena atonia uteri
Tahap I

perdarahan yang tidak begitu banyak dapat diatasi dengan

cara pemberian uterotonika dan masase uterus


Tahap II :

bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak,


selanjutnya berikan infuse dan transfusi darah dan lakukan
kompresi bimanual, kompresi aorta, dan jepitan artari.

Tahap III : bila semua upaya di atas tidak berhasil maka usaha yang
terakhir dilakukan adalah menghilangkan sumber perdarahan,
yaitu dengan meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi.
2. Retensio plasenta
Adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama setengah jam setelah
bayi lahir.
Penyebab terjadinya retensio plasenta :
a. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat
lebih dalam. Menurut tingkat perlekatan :
-

Plasenta adhesiva (melekat pada desidua endometrium lebih


dalam)

Plasenta inkreta (dimana vili khorealis tumbuh lebih dalam dan


menembus desidua sampai miometrium)

76

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Plasenta akreta (menembus lebih dalam ke dalam miometrium


tetapi belum menembus serosa)

Plasenta perkreta (yang menembus sampai serosa atau perimetrium


dinding rahim)

b. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan
menyebabkan perdarahan yang banyak. Bisa juga karena adanya
lingkaran kontriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan
penanganan kala III, yang akan menghalangi plasenta keluar.
Penanganan
Apabila plasenta dalam waktu setengah sampai 1 jam tidak lahir dan
terjadi perdarahan, maka harus segara dikeluarkan. Tindakan yang
dapat dikerjakan adalah :
a) Manual plasenta
b) Bila perdarahan banyak berikan transfusi darah
c) Berikan obat obatan seperti uterotunika dan antibiotika.
3. Perlukaan jalan lahir
Setelah persalinan dan keluar perdarahan tetapi kontraksi uterus baik,darah
yang keluar berwarna merah muda kemungkinan perdarahan terjadi karena
adanya robekan jalan lahir. Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan
dari laserasi atau robekan perineum dan vagina. Nilai perluasan laserasi
perineum, laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.
-

Derajat satu dan dua : mukosa vagina, komisura posterior, kulit dan
otot perineum.

Derajat tiga : mukosa vagina, komisura posterior, kulit dan otot


perineum, dan otot sfingter ani.

Derajat empat : mukosa vagina, komisura posterior, kulit dan otot


perineum, otot sfingter ani dan dinding depan rectum.

Jika terdapat robekan yang berdarah dan lebih dari 1 cm, dilakukan
penjahitan luka perineum.

77

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

d. RANGKUMAN MATERI
-

Persalinan Kala III merupakan persalinan yang dimulai dari bayi lahir
sampai keluarnya plasenta

Pelepasan plasenta merupakan hasil penurunan mendadak ukuran kavum


uteri selama dan setelah kelahiran bayi, sewaktu uterus berkontraksi
mengurangi isi uterus.

Pengeluaran plasenta dimulai dengan penurunan plasenta ke dalam


segmen bawah uterus, plasenta kemudian keluar melewati serviks keruang
vagina atas, dari arah plasenta ke luar

Tanda tanda lepasnya plasenta

Terjadi perubahan bentuk uterus dan tinggi fundus uteri

Tali pusat memanjang atau terjulur keluar melalui vagina/vulva

Adanya semburan darah secara tiba-tiba

Tiga langkah utama dalam manajemen aktif kaka III

Pemberian oksitosin/uterotonika sesegera mungkin

Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)

Rangsangan taktil pada dinding uterus atau fundus uteri

e. LATIHAN / TUGAS
Diskusikan tentang persalinan kala III!

f. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


Persalinan Kala III merupakan persalinan yang dimulai dari bayi lahir sampai
keluarnya plasenta. Tiga langkah manajemen aktif kala III
a. Pemberian oksitosin/uterotonika sesegera mungkin
b. Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)
c. Rangsangan taktil pada dinding uterus atau fundus uteri
Pelepasan plasenta merupakan hasil penurunan mendadak ukuran kavum uteri
selama dan setelah kelahiran bayi, sewaktu uterus berkontraksi mengurangi isi

78

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

uterus. Pengeluaran plasenta dimulai dengan penurunan plasenta ke dalam


segmen bawah uterus, plasenta kemudian keluar melewati serviks keruang
vagina atas, dari arah plasenta ke luar

g. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
3.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

4.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

5. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
6. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta
7. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet
Publishers, Sudbury: England
8. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

79

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB VII
ASUAHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN KALA IV

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa dapat menjelaskan perubahan fisiologis pada kala IV

Mahasiswa mampu memantau dan mengevaluasi pada kala IV

Mahasiswa mampu menunjukkan ketrampilan penjahitan luka laserasi /


episiotomi

b. URAIAN MATERI
KALA IV (Kala Pengawasan)
Adalah kala pengawasan selama 1 2 jam setelah bayi dan uri lahir
untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post
partum. Darah yang keluar diperkirakan sebaik-baiknya. Kehilangan darah
pada persalinan biasa disebabkan oleh luka pada pelepasan uri dan robekan
pada serviks dan perineum. Rata-rata dalam batas normal jumlah perdarahan
adalah 250 cc, biasanya 100 300 cc. Bila perdarahan lebih dari 500 cc ini
sudah dianggap abnormal dan harus dicari penyebabnya.
Jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan uri lahir.
Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang dulu
dan perhatikan 7 pokok penting:
1. Kontraksi rahim: baik/tidak dapat diketahui dengan palpasi. Lakukan
massasse dan berikan uterus tonika: methergin, ermetrin dan pitosin.
2. Perdarahan: ada/tidak, banyak/biasa
3. Kandung kencing: harus kosong, kalau penuhibu suruh kencing dan
kalau tidak bisa lakukan kateterisasai.
4. Luka-luka: jahitannya baik/tidak, ada perdarahan/tidak
5. Uri dan selaput ketuban harus lengkap.
80

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

6. Keadaan umum ibu: tensi, nadi, pernapasan, dan rasa sakit.


7. Bayi dalam keadaan baik.

Memberikan Asuhan Pada Ibu Bersalin Kala IV


1. Fisiologi Kala IV
Setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari
dibawah pusat. Otot otot uterus berkontraksi, pembuluh darah yang ada
diantara anyaman anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah palsenta dilahirkan.
2.

Evaluasi Uterus : konsistensi, atonia


Setelah

plasenta

lahir

dilakukan

pemijatan

uterus

untuk

merangsang uterus berkontraksi. Dalam evaluasi uterus yang perlu


dilakukan adalah mengobservasi kontraksi dan konsistensi uterus.
Kontraksi uterus yang normal adalah pada perabaan fundus uteri akan
teraba keras. Jika tidak terjadi kontraksi dalam waktu 15 menit setelah
dilakukan pemijatan uterus akan terjadi atonia uteri.
3.

Pemeriksaan Serviks, vagina, dan perineum


a. Serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks adalah serviks agak menganga
seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat
mengadakan kontraksi, sedangkan srviks tidak berkontraksi sehingga
seolah-olah ada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk
semacam cincin. Dilihat dari warnanya serviks menjadi merah
kehitam- hitaman karena penuh pembuluh darah, konsistensinya lunak.
Segera setelah janin dilahirkan serviks masih bisa dimasuki oleh
tangan pemeriksa, tetapi setelah 2 jam hanya bisa dimasuki 2-3 jari.
b. Vagina Dan Perineum
Evaluasi laserasi dan perdarahan aktif pada perineum dan vagina. Nilai
perluasan laserasi perineum. Derajat laserasi perineum terbagi atas :

81

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

1) Derajat I
Meliputi mokosa vagina, fourchette posterior dan kulit perineum.
Pada derajat I ini tidak perlu dilakukan penjahitan, kecuali jika
terjadi perdarahan.
2) Derajat II
Meliputi mokosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum dan
otot perineum. Pada derajat II dilakukan penjahitan dengan teknik
jelujur
3) Derajat III
Meliputi mokosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum, otot
perineum dan otot spingter ani external.
4) Derajat IV
Derajat III ditambah dinding rectum anterior.
Pada derajat III dan IV segera lakukan rujukan karena laserasi ini
memerlukan t teknik dan prosedur khusus
Setelah melahirkan plasenta, penting untuk memeriksa plasenta dan
selaput ketuban untuk memastikan bahwa keduannya lengkap. Sisa-sisa
plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal di dalam uterus akan
menghalangi kontraksi uterus sepenuhnya. Jika uterus tidak sepenuhnya
berkontraksi, maka ibu bisa kehilangan banyak darah.
Permukaan plasenta bagian ibu hendaknya diperiksa untuk
memastikan bahwa semua cotyledons ada di pinggiran membran
semuanya rata (licin). Hal ini harus dilakukan secepat mungkin supaya
jika ada bagian yang hilang, bidan bisa dengan segera mengeluarkannya.
Jika membrannya tidak lengkap, kadang-kadang bisa ditarik keluar secara
perlahan-lahan dengan menggunakan klem. Jika wanita tersebut tidak
mengeluarkan darah, anda bisa memberikan injeksi methergin 0,2 mg (IM)
agar kontraksi uterus akan mendesak keluar membran tersebut. Jika ibu

82

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

mengeluarkan darah, kenakanlah sarung tangan steril atau yang telah diDTT dengan kasa yang dililit di jari telunjuk dan sapulah lobang servik
dan uterus untuk mengeluarkan membran yang tertinggal.
Setelah pemeriksaan plasenta, periksalah daerah perineum. Dengan
lembut dan perlahan periksalah perineum, vagina, dan vulva untuk
mengetahui apakah ada robekkan. Setelah proses kelahiran, vagina akan
mengalami peregangan dan lebih besar dari biasanya. Mungkin akan ada
bagian-bagian yang merah, edema dan lecet. Dengan perlahan-lahan
periksalah anus untuk mengetahui apakah ada trauma atau hemorhoids
yang bisa menonjol keluar atau terjadi thrombosis setelah proses kelahiran.
4. Pemantauan dan evaluasi lanjut
Selama dua jam pertama pascapersalinan :
a. Pantau tekanan darah, nadi, suhu, TFU, kandung kemih dan
perdarahan yang terjadi setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan
setiap 30 menit dalam satu jam kedua. Jika ada temuan yang tidak
normal lakukan observasi dan penilaian secara lebih sering
b. Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras setiap 15
menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam
kedua. Jika ada temuan yang tidak normal tingkatkan frekuensi
observasi dan penilaian.
c. Pantau suhu tubuh ibu 1x setiap jam selama dua jam pertama
pascapersalinan. Jika suhu tubuh meningkat pantau lebih sering
d. Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam
satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua
e. Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai tonus dan perdarahan
uterus juga bagaimana melakukan pemijatan jika uterus menjadi
lembek
f. Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan Bantu ibu
untuk mengenakan baju atau sarung yang bersih dan kering, atur posisi

83

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

ibu agar nyamandengan cara duduk bersandarkan bantal atau berbaring


miring. Jaga agar tubuh dan kepala bayi diselimuti dengan baik,
berikan bayi kepada ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI.
g. Lengkapi dengan asuhan esensial bagi bayi baru lahir.
h. Periksa banyaknya urine setiap 15 menit pada satu jam pertama dan
setiap 30 menit pada satu jam kedua
Sebagian besar kematian ibu pada periode paska persalinan terjadi
pada 6 jam pertama setelah persalinan. Kematian ini disebabkan oleh
infeksi, perdarahan dan eclampsia. Olek karena itu, pemantauan selama
dua jam pertama post partum sangat penting. Selama kala IV ini haruslah
peneruskan penatalaksanaan .
Yang harus dievaluasi:
a. Suhu harus diperiksa satu kali pada kala IV
b. Tekanan darah, nadi, ukuran dan tonus uterus, kandung kemih dan
perdarahan semuanya harus dievaluasi setiap 15 menit untuk satu jam
pertama post partum dan kemudian, jika semuanya normal, setiap 30
menit pada jam kedua.
5.

Perkiraan darah yang hilang


Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan cara
melihat darah tersebut dan memperkirakan berapa banyak botol berukuran
500 ml yang bias dipenuhi darah tersebut. Jika darah bias mengisi 2 botol
artinya ibu telah kehilangan 1 lt darah. Memperkirakan kehilangan darah
hanyalah sal;ah satu cara u ntuk menilai kondisi ibu. Upaya yang lebih
penting adalah dengan memeriksa ibu secara berkala dan lebih sering
selama kala IV dan menilai kehilangan darahnya dengan cara memantau
tanda vital, mengevaluasi kondisi terkini, memperkirakan jumlah
perdarahan lanjutan dan menilai tonus uterus
Sangat sulit untuk memperkirakan kehilangan darah secara tepat
karena darah sering kali bercampur dengan cairan ketuban atau urin dan

84

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

mungkin terserap di handuk, kain atau sarung. Tidak mungkin menilai


kehilangan darah secara akurat dengan menghitung sarung, karena ukuran
sarung bermacam-macam dan mungkin siganti jika terkena sedikit darah
atau pada saat benar-benar basah oleh darah. Meletakkan wadah atau
pispot di bawah bokong ibu untuk mengumpulkan darah bukanlah cara
yang efektif untuk mengukur kehilangan darah dan bukan merupakan
cerminan asuhan sayang ibu, berbaring di atas wadah atau pispot sangat
tidak nyaman dan menyulitkan ibu untuk memegang dan menyusui
bayinya.
Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan cara melihat
darah tersebut dan memperkirakan berapa banyak botol berukuran 500 ml
yang bisa dipenuhi darah tersebut. Jika darah bisa mengisi 2 botol, ibu
telah kehilangan darah 1 liter. Darah bisa mengisi setengah botol, ibu
kehilangan 250 ml darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah
salah satu cara untuk menilai kondisi ibu.
Prinsip Penjahitan Luka Episiotomi
1. Anestesi Lokal, Prinsip Penjahitan perineum
a. Anestesi Lokal
Berikan anestesi local pada setiap ibu yang memerlukan penjahitan
laserasi atau episiotomi, ini merupakan asuhan sayang ibu. Jika ibu
dilakukan tindakan episiotomi dengan anestesi local, lakukan
pengujian pada luka untuk mengetahui bahwa bahan anestesi masih
bekerja. Sentuh luka dengan jarum yang tajam atau cubit dengan
forseps atau cunam. Jika ibu merasa tidak nyaman, ulangi pemberian
anestesi local.
Gunakan tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum ukuran 22
atau lebih kecil tergantung pada tempat yang memerlukan anestesi
dengan panjang 4 cm. Obat standar untuk anestesi local adalah
lidokain 1 %. Lidokain 2 % tidak dianjurkan karena terlalu tinggi

85

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

konsentrasinya dan bisa menimbulkan nekrosis jaringan. Lidokain


dengan epinephrine tidak dianjurkan juga karena akan memperlambat
efek kerjanya.
1) Jelaskan pada ibu apa yang akan anda lakukan dan bantu ibu
merasa santai.
2) Hisap 10 ml larutan lidokain 1 % ke dalam alat suntik sekali pakai
ukuran 10 ml (tabung suntik yang lebih besar boleh digunakan, jika
diperlukan).
3) Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik
tersebut.
4) Tusukkan jarum ke ujung atau pojok laserasi atau sayatan lalu tarik
jarum sepanjang tepi luka (ke arah bawah di antara mukosa dan
kulit perineum)
5) Aspirasi (tarik pendorong tabung suntik) untuk memastikan bahwa
jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Jika darah masuk ke
dalam tabung suntik, jangan suntikkan lidokain dan tarik jarum
seluruhnya. Pindahkan posisi jarum dan suntikkan kembali.
Alasan: Ibu bisa mengalami kejang dan kematian bisa terjadi jika
lidokain disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
6) Suntikkan anestesi sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum
suntik ditarik perlahan-lahan.
7) Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat dimana jarum tersebut
disuntikkan.
8) Arahkan lagi jarum ke daerah di atas tengah luka dan ulangi
langkah ke 4. Tusukkan jarum untuk ketiga kalinya dan sekali lagi
ulangi langkah ke 4 sehingga tiga garis di satu sisi luka
mendapatkan anestesi local. Ulangi proses ini di sisi lain dari luka
tersebut. Setiap sisi luka akan memerlukan kurang lebih 5 ml
lidokain untuk mendapatkan anestesi yang cukup.

86

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

9) Tunggu selama 2 menit dan biarkan anestesi tersebut bekerja dan


kemudian uji daerah yang dianestesi dengan cara dicubit dengan
forseps atau disentuh dengan jarum yang tajam. Jika ibu merasakan
jarum atau cubitan tersebut, tunggu 2 menit lagi dan kemudian uji
kembali sebelum mulai menjahit luka.
b. Prinsip Penjahitan Perineum
Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (sauperfisial) saja
atau jika perlukaan-perlukaan tersebut tidak mengeluarkan darah,
biasanya tidak perlu dijahit. Hanya perlukaan yang aktif dalam di
mana jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik atau perlukaan
yang aktif mengeluarkan darah memerlukan suatu penjahitan.
Perlukaan bisa sembuh karena pembentukan jaringan-jaringan baru.
Jaringan bekas luka akan tumbuh kembali diantara kedua sisi luka
untuk kemudian menyatu kembali. Penjahitan akan membawa kedua
sisi perlukaan menyatu untuk mempermudah pertumbuhan jaringan
bekas luka. Setiap kali tujukan jahitan dibuat, jaringan akan terluka
dan satu tempat baru masuknya bakteri akan tercipta. Oleh karena itu,
sangatlah penting untuk menggunakan jumlah jahitan yang sesedikit
mungkin untuk merapatkan jaringan dan untuk menghentikan
pegeluaran darah dari perlukaan.
Tujuan dari penjahitan perlukaan perineum/episiotomi ialah:
1) Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan
bisa terjadi. Proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari
penjahitan tersebut tetapi hasil dai pertumbuhan jaringannya.
2) Untuk menghentikan perdarahan.
2.

Penjahitan Episiotomi/laserasi
Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur :
a.

Mudah dipelajari karena hanya melibatkan satu jenis teknik


penjahitan saja.

87

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

b.

Sedikit memberikan rasa nyeri bagi ibu karena lebih sedikit


benang yang digunakan.

c.

Jumlah jahitan lebih sedikit.

Persiapan Penjahitan
a.

Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada


di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat
penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu
sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.

b.

Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.

c.

Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga


perineum bisa dilihat dengan jelas.

d.

Gunakan teknik aseptic pada saat memeriksa robekan atau


episiotomi, memberikan anestesi local dan menjahit luka.

e.

Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.

f.

Pakai sarung tangan DTT atau steril.

g.

Dengan menggunakan teknik aseptic, persiapkan peralatan dan


bahan-bahan DTT untuk penjahitan.

h.

Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa


dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa
kesulitan.

i.

Gunakan kain/kasa DTT atau bersih untuk menyeka vulva,


vaginadan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau
bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.

j.

Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan


bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat satu
atau dua. Jika laserasi atau episiotomi telah meluas, periksa lebih
jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat tiga
atau empat. Masukkan jari yang bersarung tangan ke dalam anus
dengan hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk
mengidentifikasi sfingter ani. Raba tonus atau ketegangan

88

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

sfingter, jika sfingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat tiga


atau empat dan harus dirujuk segera. Ibu dirujuk jika mengalami
laserasi serviks.
k.

Ganti sarung tangan dengan sarung tangan DTT atau steril yang
baru setelah melakukan pemeriksaan rectum.

l.

Berikan anestesi local (kajilah teknik untuk memberikan anestesi


local di bawah ini).

m. Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan
benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. Benang kromik
bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan
reaksi jaringan.
n.

Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat,


dan jepit jarum tersebut.

Langkah-langkah penjahitan laserasi perineum/episiotomi:


a.

Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan DTT atau
steril. Ganti sarung tangan jika terkontaminasi, atau jika tertusuk
jarum maupun peralatan tajam lainnya.

b.

Pastikan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk


melakukan penjahitan sudah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril.

c.

Setelah memberikan anestesi local dan memastikan bahwa daerah


tersebut sudah di anestesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan
satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka. Nilai
kedalaman luka dan lapisan jaringan mana yang terluka. Dekatkan
tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya
menjadi satu dengan mudah.

d.

Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi di


bagian dalam vagina. Setelah membuat tusukkan pertama, buat
ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dari ikatan.

e.

Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke


arah cincin hymen.

89

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

f.

Tepat sebelum cincin hymen, masukkan jarum ke dalam mukosa


vagina lalu ke bawah cincin hymen sampai jarum ada di bawah
laserasi. Periksa bagian antara jarum diperineum dan bagian atas
laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.

g.

Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan


jahitan jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi. Pastikan
bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah
dijahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk
melakukan satu atau dua lapis jahitan terputus-putus untuk
menghentikan perdarahan dan/atau mendekatkan jaringan tubuh
secara efektif.

h.

Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan


teruskan penjahitan menggunakan jahitan jelujur untuk menutupi
lapisan subkutikuler dan jahitan ini akan menjadi jahitan lapis
kedua. Periksa lubang bekas jarum, jahitan lapis kedua ini akan
meninggalkan luka yang tetap terbuka berukuran 0,5 cm atau
kurang. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat
penyembuhan luka.

i.

Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina dan


jarum harus keluar dari belakang cincin hymen.

j.

Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong


ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm. Jika ujung benang
dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar dan laserasi akan
membuka.

k.

Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan


bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang tertinggal di dalam.

l.

Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba


apakah ada jahitan pada rectum. Jika ada jahitan yang teraba,
ulangi pemeriksaan rectum 6 minggu pascapersalinan. Jika
penyembuhan belum sempurna (misalnya jika ada fistula

90

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

rektovaginal atau jika ibu melaporkan inkontinensia alvi atau


feses), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
m. Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air DTT,
kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih
nyaman.
n.

Nasehati ibu untuk:


1) Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering
2) Hindari

penggunaan

obat-obatan

tradisional

pada

perineumnya
3) Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir
3-4 kali/hari
4) Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan
lukanya. Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami
demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari
daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.
Robekan tingkat III dan IV
Jika robekan tingkat III dan IV tidak diperbaiki dengan baik,
pasien dapat menderita gangguan defekasi dan flatus. Jika robekan rectum
tidak diperbaiki, dapat terjadi infeksi dan fistula rektovaginal.
Jahitan sfingter ani
1. Jepit otot sfingter dengan klem Allis atau pinset
2. Tautkan ujung otot sfingter ani dengan 2-3 jahitan benang kromik 2-0
angka 8 secara interuptus
3. Larutkan antiseptic pada daerah robekan
4. Reparasi mukosa vagina, otot perineum dan kulit
Pemantauan Selama Kala IV
1. Tekanan Darah, Suhu
Tekanan Darah yang Normal adalah < 140/90 mmHg. Sebagian
wanita mempunyai tekanan darah < 90/60 mmHg. Jika denyut nadinya

91

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

adalah normal, maka tekanan darah yang rendah tidak akan menjadi
masalah. Akan tetapi, jika tekanan darah adalah < 90/60 dan nadinya
adalah > 100 x/mnt, maka ini mengindikasikan adanya suatu masalah.
Suhu tubuh yang normal adalah, < 38 oC, jika suhunya > 38 oC,
bidan harus mengumpulkan data-data lain untuk memungkinkan dia
mengidentifikasi masalahnya. Suhu yang tinggi tersebut mungkin
disebabkan oleh dehydrasi (oleh karena persalinan yang lama dan tidak
cukup minum) atau oleh infeksi.
2. Tonus Uterus dan Tinggi Fundus Uterus
Palpasilah uterus untuk menentukan tonusnya serta lokasinya dalam
hubungannya dengan umbilikus. Uterus akan terasa lembek jika tidak
berkontraksi dengan baik. Masasselah uterus tersebut setiap 15 menit
selama satu jam kedepan. Tinggi fundus yang normal segera setelah
persalinan adalah kira-kira setinggi umbilikus. Jika ibu tersebut sudah
berkali-kali melahirkan anak, atau jika anaknya adalah kembar atau bayi
yang besar, maka tinggi fundus yang normalnya adalah di atas umbilikus.
3. Perdarahan
Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan
sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau
seperti darah haid yang banyak. Jika perdarahan lebih banyak dari ini,
maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki. Apakah ada laserasi
pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik?
Apakah kandung kencingnya kosong?
4. Kandung Kencing
Jika kandung kencingnya penuh dengan air seni, maka uterus tidak
dapat berkontraksi dengan baik. Jika uterus naik di dalam abdomen, dan
tergeser kesamping, hal ini biasanya merupakan pertanda bahwa kandung
kencingnya penuh. Bantulah ibu tersebut bangun dan coba apakah ia dapat

92

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

buang air kecil. Jika ia tidak bisa buang air kecil, bantulah ia agar merasa
rileks dengan meletakkan jari-jarinya di dalam air hangat, mengucurkan
air keatas perineumnya, dengan menjaga privacinya. Jika ia tetap tidak
dapat kencing, lakukan kateterisasi. Setelah kandung kencingnya kosong,
maka uterusnya akan dapat berkontraksi dengan baik.
c. RANGKUMAN MATERI
-

Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan uri lahir
untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post
partum

Setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari dibawah pusat.
Otot otot uterus berkontraksi, pembuluh darah yang ada diantara
anyaman anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah palsenta dilahirkan.

Setelah melahirkan plasenta, penting untuk memeriksa plasenta dan


selaput ketuban untuk memastikan bahwa keduannya lengkap. Sisa-sisa
plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal di dalam uterus akan
menghalangi kontraksi uterus sepenuhnya. Jika uterus tidak sepenuhnya
berkontraksi, maka ibu bisa kehilangan banyak darah.

Tujuan dari penjahitan perlukaan perineum/episiotomi ialah:


1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa
terjadi. Proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan
tersebut tetapi hasil dai pertumbuhan jaringannya.
2. Untuk menghentikan perdarahan.

Pemantauan Kala IV meliputi tekanan darah, suhu, tonus uterus, TFU,


perdarahan, dan kandung kencing

d. LATIHAN / TUGAS
Diskusikan tentang persalinan pada kala IV!

93

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


Kala IV adalah kala pengawasan selama 1 2 jam setelah bayi dan uri lahir
untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post
partum. Pemantauan Kala IV meliputi tekanan darah, suhu, tonus uterus, TFU,
perdarahan, dan kandung kencing. Setelah melahirkan plasenta, penting untuk
memeriksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa keduannya
lengkap. Sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal di dalam
uterus akan menghalangi kontraksi uterus sepenuhnya. Jika uterus tidak
sepenuhnya berkontraksi, maka ibu bisa kehilangan banyak darah.

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
3.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

4.

_____, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Depkes RI, Jakarta

5. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
6. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta
7. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet
Publishers, Sudbury: England

94

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

BAB VIII
ASUAHAN KEBIDANAN PADA BAYI SEGERA SETELAH LAHIR

a. KOMPETENSI DASAR
-

Mahasiswa mampu menjelaskan adanya perubahan fisiologis BBL


terhadap kehidupan di luar uterus

Mahasiswa mampu memantau dan mengevaluasi pada BBL

Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian pada BBL

b. URAIAN MATERI
Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir dalam hari-hari pertamanya merupakan masa
kehidupan yang rentan dan berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi
atau gangguan kesehatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu diketahui
berbagai perubahan/adaptasi BBL terhadap kehidupan di luar uterus, rawat
gabung, dan pencegahan infeksi pada BBL. Transisi/proses adaptasi BBL
yang paling dramatik dan cepat terjadi pada 4 aspek, yaitu pada system
pernafasan, sistem sirkulasi/kardiovaskuler, kemampuan termoregulasi, dan
kemampuan menghasilkan sumber glukosa. Selain itu pada sistem tubuh
lainnya juga terjadi perubahan walaupun tidak jelas terlihat.
Perubahan Sistem Pernafasan
1. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh (jaringan endoderm) yang muncul dari
faring yang bercabang kemudian bercabang kembali membentuk struktur
percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga
sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan
sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti

95

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

gerakan nafas sepanjang trimester 2 dan 3. Ketidakmatangan paru-paru


terutama akan mengurangi peluang kelangsungan hidup BBL sebelum usia
24 minggu, yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus,
ketidakmatangan system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya
jumlah surfaktan.
2. Awal adanya nafas
Empat faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi :

Penurunan Pa O2 dan kenaikan Pa CO2 merangsang kemoreseptor yang


terletak di sinus karotis

Tekanan terhadap rongga dada (toraks) sewaktu melewati jalan lahir.

Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permukaan


gerakan pernafasan.

Refleks deflasi Hering Breur


Pernafasan pertama pada BBL terjadi normal dalam waktu 30 detik

setelah kelahiran, tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan lahir
pervaginam mengakibatkan cairan paru-paru (jumlahnya 80-100 ml)
kehilangan 1/3 dari jumlah cairan tersebut, sehingga cairan yang hilang ini
diganti dengan udara. Paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali
pada bentuk semula pernafasan pada neonatus terutama pernafasan
diafragmatik dan abdominal dan biasanya masih tidak teratur frekuensi dan
dalamnya pernafasan.
Kompresi dan dekompresi kepala bayi selama proses kelahiran
diyakini merangsang pusat pernafasan di dalam otak yang pada gilirannya
mempertahankan rangsangan tersebut terhadap upaya bernafas. Rangsangan
taktil dianggap kecil (sedikit) arti pentingnya dalam hal ini. Akan tetapi rasa
sakit yang disebabkan oleh ekstensi tungkai yang masih fleksi, sendi-sendi
dan tulang punggung bisa dianggap menjadi penyebab timbulnya respon awal
dari anak tersebut terhadap kehidupan di luar uterus.

96

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

3. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas


Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :

Mengeluarkan cairan dalam paru-paru

Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali


Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup

dan aliran darah ke paru-paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu


kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-paru matang sekitar 30
34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan paru
dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps
pada akhir pernafasan. Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah
akhir setiap pernafasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan
kebutuhan energi memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa.
Berbagai peningkatan ini menyebabkan stress pada bayi yang sebelumnya
sudah terganggu.

4. Fungsi sistem pernafasan dalam kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler


Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia,
pembuluh drah paru-paru akan mengalami vasokonstriksi. Pengerutan
pembuluh darah ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna
menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan
penurunan oksigenasi yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran
gas dalam alveolus dan menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran
darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi limfe
dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan
sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim..

97

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Perubahan Sistem Peredaran Darah/Kardiovaskuler dan darah


Setelah lahir, darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.
Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim,
harus terjadi dua perubahan besar:
Penutupan foramen ovale pada atrium paru-paru dan aorta
Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh system
pembuluh tubuh. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung berpengaruh
pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah
tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga
mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam pembuluh darah:
Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun. Tekanan atrium kanan menurun karena
berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan
penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini
membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru
untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
Pernafasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru-paru dan
meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernafasan pertama ini
menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru-paru.
Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan pembuluh
darah dan tekanan pada atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium
kanan ini dan penurunan tekanan atrium kiri, foramen ovale secara
fungsional akan menutup.
Dengan pernafasan, kadar oksigen dalam darah meningkat. Mengakibatkan
duktus arteriosus mengalami konstriksi dan menutup dalam waktu 8-10 jam
setelah bayi lahir. Vena umbilicus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari
tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan
98

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

setelah tali pusat di klem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung


dalam 2-3 bulan.
Total volume darah yang bersirkulasi pada waktu lahir adalah 80 ml/kg bobot
tubuh. Akan tetapi dapat meningkat jika pemutusan tali pusat tidak dilakukan
pada waktu lahir. Tingkat haemoglobin tinggi (15-20 g/dl). 70% adalah Hb
janin. Perubahan Hb janin ke dewasa yang terjadi di rahim selesai pada 1-2
tahun kehidupan.

Penyesuaian Termal/Pengaturan Suhu


BBL belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat
bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian
masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lenih dingin. Suhu
dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga
mendinginkan darah bayi.BBL/neonatus dapat menghasilkan panas dengan
tiga cara: menggigil, aktivitas volunter otot, dan termogenesis bukan melalui
mekanisme menggigil.
Menggigil saja tidak efisien dan seorang bayi cukup bulan tidak
menghasilkan panas dengan jalan ini. Aktivitaas otot dapat membangkitkan
panas tetapi manfaatnya terbatas bahkan pada bayi-bayi cukup bulan dengan
kekuatan otot cukup kuat untuk tetap berada dalam posisi fleksi.
Termogenesis bukan menggigil menunjuk pada penggunaan lemak coklat
untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terletak pada dan sekitar tulang
belakang, klavikula dan sternum, ginjal serta pembuluh darah utama. Jumlah
lemak coklat tergantung pada usia kehamilan dan menurun pada BBL yang
terhambat pertumbuhannya. Produksi panas melalui penggunaan cadangan
lemak coklat mulai dengan rangsangan dingin yang memicu aktivitas
hipotalamus. Pesan-pesan imiawi akan dikirim ke sel-sel lemak coklat. Sel-sel
ini menghasilkan energi yang mengubah lemak menjadi energi panas.

99

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Luasnya permukaan kulit bayi berbanding dengan besar massa tubuh


bayi akan membuat kehilangan panas menjadi potensial. Lapisan lemak di
bawah kulit yang tipis dan memberikan daya isolasi yang buruk
akanmemungkinkan pemindahan inti panas ke lingkungannya.
Pusat pengaturan panas di dalam otak bayi mempunyai kemampuan
untuk mendorong produksi panas sebagai reaksi terhadap rangsangan yang
diterima dari termoreseptor. Akan tetapi, hal ini sangat bergantung pada
kegiatan metabolisme yang meningkat yang mengurangi kemampuan bayi
tersebut untuk mengendalikan suhu tubuh, terutama dalam kondisi lingkungan
yang tidak mendukung.

Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang
bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap
BBL, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam).
Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara:
-

Melalui penggunaan ASI (BBL sehat harus didorong untuk menyusu ASI
secepat mungkin setelah lahir)

Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)

Melalui

pembuatan

glukosa

dari

sumber

lain

terutama

lemak

(glukoneogenesis)
BBL yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup
akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini hanya terjadi jika bayi
mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan
menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam hati, selama bulanbulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang mengalami
hipotermi pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan
persediaan glikogen dalam jam I kelahiran. Perhatikan bahwa keseimbangan

100

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam I pada bayi cukup bulan
yang sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam I maka otak bayi
dalam keadaan berisiko. BBL kurang bulan, IUGR, dan distress janin
merupakan risiko utama, karena simpanan energi berkurang atau digunakan
sebelum lahir.

Sistem Ginjal
Walaupun ginjal sangat penting dalam kehidupan janin namun muatan kecil
hingga setelah kelahiran. Air seninya encer, warna kekuning-kuningan dan
tidak berbau. Warna coklat akibat lendir bebas membran mukosa dan udara
acid dapat terjadi dan hilang setelah banyak minum. Garam uric acid dapat
menyebabkan noda merah jambu namun ini tidak penting. Tingkat filtrasi
glomerular rendah dan kapabilitas peresapan tubular terbatas. Bayi tidak
mampu membersihkan/mengencerkan air seni dengan baik dalam memberikan
reaksi terhadap penerimaan cairan dan juga tidak dapat mengantisipasi tingkat
larutan yang tinggi atau rendah dalam darah. Air seni dibuang dengan cara
mengosongkan kandung kemih secara refleks. Air seni pertama dibuang saat
lahir dan dalam 24 jam

dan setelahnya semakin seirng dengan semakin

banyaknya cairan yang masuk.

Sistem Gastrointestinal
Saluran usus lambung bayi secara fungsional belum matang dibandingkan
orang dewasa. Selaput lendir pada mulut berwarna merah jambu dan basah.
Gigi tertanam di dalam gusi dan sekresi ptyalin rendah. Sebelum lahir, janin
cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan batuk
yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi
untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan
antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna mengakibatkan
gumoh pada BBL dan neonatus. Kapasitas lambung sangat terbatas, kurang

101

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

dari 30 ml (15-30 ml) untuk seorang BBL cukup bulan. Kapasitas lambung ini
akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya BBL.
Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting, contohnya memberi
ASI on demand.
Asam lambung jumlahnya sama dengan yang ada pada orang dewasa dalam
beberapa hari pertama dan pada hari ke-10 bayi benar-benar tidak memiliki
asam hidroklorida yang meningkatkan risiko infeksi. Waktu mengosongkan
lambung adalah 2,5-3 jam. Sesuai dengan ukuran bayi, usus pun panjang,
terdiri dari sejumlah besar kelenjar sekresi dan daerah permukaan yang besar
untuk menyerap gizi makanan. Ada enzim walaupun terdapat kekurangan
amilase dan lipase yang menghilangkan kemampuan bayi mencerna
karbohidrat dan lemak.
Pada waktu lahir, usus dalam keadaan steril hanya dalam beberapa jam.
Terdengan bunyi isi perut dalam 1 jam I kelahiran. Mekonium yang ada dalam
usus besar sejak 16 minggu kehamilan, diangkat dalam 24 jam I kehidupan
dan benar-benar dibuang dalam waktu 48-72 jam. Kototran pertama berwarna
hijau kehitam-hitaman, keras, dan mengandung empedu. Pada hari 3-5 kotoran
berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Begitu bayi diberi makanan,
kotoran berwarna kuning. Kotoran bayi yang meminum susu botol lebih pucat
warnanya, lunak dan berbau agak tajam. Bayi BAB 4-6 x sehari namun ada
kecenderuangan untuk sulit BAB.

Adaptasi Kekebalan
Sistem imunitas BBL masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus
rentan terhadap infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan
memberikan kekebalan alami maupun yang didapat.
Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau
meminimalkan infeksi. Beberapa contoh kekebalan alami meliputi:

Perlindungan oleh kulit membran mukosa

102

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

Fungsi saringan saluran nafas

Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus

Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung


Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang

membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL sel-sel


darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu
melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL yang lahir
dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya.
Reaksi antibody keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa
dilakukan sampai awal kehidupan anak. Salah satu tugas utama selama masa
bayi dan balita adalah pembentukan system kekebalan tubuh.
Bayi memiliki imunoglobulin waktu lahir namun keberadaannya
dalam rahim terlindung membatasi kebutuhan untuk bereaksi pada kekebalan
terhadap antigen tertentu. Ada tiga macam imunoglobulin (Ig)

antibodi,

(huruf menunjukkan masing-masing golongan) yaitu IgG, IgA dan IgM, dan
hanya IgG yang cukup kecil melewati pembatas palsenta.
IgG merupakan golongan antibodi yang sangat penting dan kira-kira
75% dari seluruh antibodi. IgG mempunyai kekebalan terhadap infeksi kuman
virus tertentu. Pada waktu lahir tingkat IgG bayi sama dengan atau sedikit
lebih banyak dari pada ibu. Ini memberikan kekebalan pasif selama beberapa
bulan kehidupan.
IgM dan IgA tidak melintasi pembatas plasenta nemun dibuat oleh
janin. Tingkat IgM pada periode kehamiloan besarnya 20% dari IgM orang
biasa dan diperlukan waktu 2 tahun untuk dapat menyamai tingkat orang
dewasa. Tingkat IgM yang relatif rendah membuat bayi lebih rentan terkena
infeksi. IgM juga penting sebab sebagian besar

antibodi yang terbentuk

sewaktu terjadi respon primer adalah golongan ini. Tingkat IgA sangat rendah
dan diproduksi dalam waktu yang lama walaupun tingkat salive sekresi
mencapai tingkat orang dewasa dalam kurun waktu 2 bulan. IgA melindungi
103

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

dari infeksi saluran pernafasan, saluran usus lambung, dan mata. Sedangkan
Imunoglobulin jenis lainnya, yaitu IgD dan IgE tidak begitu berkembang pada
masa awal bayi/neonatus.
ASI dan terutama kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada bayi dalam
bentuk:

Laktoferin
Merupakan protein yang mempunyai afinitas yang tinggi terhadap zat besi.
Bersama dengan salah satu imunoglobulin yaitu IgA, laktoferin
mengambil zat besi yang diperlukan untuk perkembangan E. Colli,
stafilokokus, dan ragi. Kandungan zat besi yang rendah pada kolostrum
dan ASI akan mencegah perkembangan kuman patogen.

Lisosom.
Bersama IgA mempunyai fungsi antibakteri dan juga menghambat
pertumbuhan berbagai macam virus.

Faktor antitripsin
Enzim tripsin berada di dalam saluran usus dan fungsinya adalah memecah
protein. Adanya faktor tripsin dalam kolostrum ASI akan menghambat
kerja tripsin, sehingga akan menyebabkan imunoglobulin pelindung tidak
akan dipecah oleh tripsin.

Faktor bifidus
Lactobacili ada di dalam usus bayi dan laktobcili ini menghasilkan asam
mencegah perrtumbuhan kuman patogen. Untuk pertumbuhannya,
lactobacili membutuhkan gula yang mengandung nitrogen, yaitu faktor
bifidus dan faktor ini terdapat dalam ASI.

Kelenjar timus tempat diproduksinya limfosit relatif besar pada waktu lahir
dan terus meningkat hingga usia 8 tahun. Karena adanya defisiensi kekebalan
alami dan didapat ini, BBL sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi BBL
terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai. Oleh karena itu, pencegahan
infeksi (seperti praktek persalinan aman, menyusui ASI dini terutama

104

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat
penting.

Sistem Reproduksi
Spermatogenesis pada anak laki-laki tidak terjadi hingga masa pubertas
namun total tambahan folikel primordial yang mengandung ova primitif ada
pada gonad wanita. Pada bayi laki-laki dan perempuan penarikan estrogen
maternal menghasilkan kongesti local di dada dan yang kadang-kadang diikuti
oleh sekresi susu pada hari ke 4 atau ke 5. Untuk alasan yang sama gejala haid
dapat berkembang pada bayi perempuan. Akan tetapi ini tidak lama.

Sistem Skeletomuskuler
Otot bayi lengkap berkembang karena hipertrofi dari pada hiperplasi. Tulang
yang panjang mengeras dengan tidak lengkap untuk memudahkan
pertumbuhan pada epifise. Tulang rongga tengkorak kekurangan esensi
osifikasi untuk pertumbuhan otak dan memudahkan pembentukan selama
persalinan. Pembentukan selesai dalam waktu beberapa hari selatelah lahir.
Fontanel posterior tertutup dalam waktu 6-8 minggu. Fontanel anterior tetap
terbuka hingga usia 18 bulan dan membuat perkiraaan tekanan hidrasi dan
intrakranium yang memungkinkan dengan palpasi tegangan fontanel.

Sistem Neurologi
Dibandingkan dengan sistem tubuh lain, sistem saraf BBL sangat muda baik
secara anatomi maupun fisiologi. Ini menyebabkan kegiatan refleks spina dan
batang otak dengan kontrol minimal oleh lapisan luar serebrum pada bulanbulan awal walaupun interaksi sosial terjadi lebih awal. Setelah bayi lahir,
pertumbuhan otak memerlukan persediaan oksigen dan glukosa yang tetap dan

105

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

memadai. Otak yang masih muda rentan terhadap hipoksia, kesetimbangan


biokimia, infeksi dan perdarahan.
Ketidakstabilan suhu dan gerak otot yang tidak terkoordinasi menggambarkan
keadaan perkembangan otak yang tidak lengkap dan mielinisasi saraf tidak
lengkap. BBL dilengkapi dengan rangkaian aktifitas refleks yang luas pada
usia yang berbeda-beda memberikan indikasi kenormalan dan perpaduan
system neurology dan skeletomuskuler.

1. Refleks Moro (reflek terkejut).


Reflek ini terjadi karena adanya reaksi miring terhadap rangsangan mendadak.
Ini dapat terjadi dengan cara menggendong bayi dengan sudut 45o, lalu
biarkan kepala menurun sekitar 1-2 cm. Bayi akan bereaksi dengan menarik
dan menjulurkan lengannya yang kadang-kadang gemetar. Lalu kedua
lengannya memeluk dada. Reaksi yang sama juga terjadi pada kaki, yang
lentur tertekuk diperut.
Ada atau tidaknya serta simetris atau tidaknya reflek ini dapat memberikan
keterangan mengenai keadaan susunan saraf pusat, fleksus brakhialis, fraktur
klavikula/ ekstremitas, dislokasi panggul, dll. Refleks moro yang ada pada
saat lahir dan kemudian menghilang, menunjukkan terdapatnya perdarahan
serebral; sebaliknya jika pada waktu lahir tidak ada kemudian timbul
menunjukkan terdapatnya edema serebri.
Reflek moro akan menghilang pada umur 5 bulan, bila refelk masih menetap
sampai umur lebih dari 5 bulan berarti terdapat kerusakan susunan saraf pusat.

2. Refleks Rooting (reflek mencari)


Reflek mencari akan timbul bila pada bayi yang lapar diletakkan sesuatu ke
dalam mulutnya, maka bayi akan mencarinya kemudian akan menghisapnya.
Bisa juga dengan memberikan reaksi terhadap belaian di pipi atau sisi mulut,

106

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

bayi akan menoleh ke arah sumber rangsangan dan membuka mulutnya siap
untuk mengisap.

3. Refleks mengedip/refleks mata


Melindungi mata dari trauma.

4. Refleks menggenggam
Genggaman tangan diperoleh dengan menempatkan jari di dalam telapak
tangan bayi yang akan menggenggam dengan erat. Reaksi yang sama dapat
ditunjukkan dengan berjalan bagian bawah tumit (genggam telapak kaki).

5. Refleks berjalan dan melangkah (walking reflek)


Jika disangga secara tegak dengan kaki menyentuh permukaan yang rata, bayi
akan terangsang untuk berjalan. Jika digendong dengan tulang karing
menyentuh pinggir meja, bayi akan memanjat ke meja (reflek penempatan
tungkai).

6. Refleks leher tonik asimetris (tonic neck reflek)


Pada posisi telentang disamping tubuh tempat kepala menoleh ke arah itu
terulur sedangkan lengan sebelah terkulai. Jika didudukkan tegak, kepala bayi
pada awalnya akan terkulai ke belakang lalu bergerak ke kanan sesaat sebelum
Akhirnya tunduk ke arah depan..

c. RANGKUMAN MATERI
Bayi baru lahir dalam hari-hari pertamanya merupakan masa
kehidupan yang rentan dan berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi
atau gangguan kesehatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu diketahui
berbagai perubahan/adaptasi BBL terhadap kehidupan di luar uterus, rawat

107

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

gabung, dan pencegahan infeksi pada BBL. Selain itu pada sistem tubuh
lainnya juga terjadi perubahan walaupun tidak jelas terlihat. Perubahan yang
terjadi pada bayi baru lahir yaitu :
1. Perubahan system pernafasan
a. Perkembangan paru paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari faring yang
bercabang

kemudian

bercabang

kembali

membentuk

struktur

percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran


hingga sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus
akan sepenuhnya berkembang
b. Awal adanya nafas
Pernafasan pertama pada BBL terjadi normal dalam waktu 30 detik
setelah kelahiran, tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan
lahir pervaginam mengakibatkan cairan paru-paru kehilangan 1/3 dari
jumlah cairan tersebut, sehingga cairan yang hilang ini diganti dengan
udara.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :

Mengeluarkan cairan dalam paru-paru

Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali

d. Fungsi

sistem

pernafasan

dalam

kaitannya

dengan

fungsi

kardiovaskuler
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas
dalam alveolus dan menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan
aliran darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan
sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan
merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim..

108

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

2. Perubahan Sistem Peredaran Darah/Kardiovaskuler dan darah


Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
system pembuluh tubuh. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung
berpengaruh pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh
mengubah

tekanan

dengan

cara

mengurangi

atau

meningkatkan

resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.


3. Penyesuaian Termal/Pengaturan Suhu
Pusat pengaturan panas di dalam otak bayi mempunyai kemampuan untuk
mendorong produksi panas sebagai reaksi terhadap rangsangan yang
diterima dari termoreseptor.
4. Metabolisme glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Pada setiap BBL, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam).
5. Perubahan ginjal
Bayi tidak mampu membersihkan/mengencerkan air seni dengan baik
dalam memberikan reaksi terhadap penerimaan cairan dan juga tidak dapat
mengantisipasi tingkat larutan yang tinggi atau rendah dalam darah.
6. System gastrointerstinal
Saluran usus lambung bayi secara fungsional belum matang dibandingkan
orang dewasa.
Kemampuan bayi untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu)
masih terbatas.
7. Adaptasi kekebalan
Sistem imunitas BBL masih belum matang, sehingga menyebabkan
neonatus rentan terhadap infeksi dan alergi.
8. System reproduksi
9. System skeletomuskular
10. System neurologi
a. Refleks Moro

109

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

b. Refleks Roting
c. Refleks Mengedip
d. Refleks Menggenggam
e. Refleks berjalan dan melangkah
f. Refleks leher tonik asimetris

d. LATIHAN / TUGAS
1. Diskusikan adanya perubahan fisiologis yang terjadi pada bayi baru lahir?
2. Diskusikan perubahan pada system peredaran darah?

e. RAMBU RAMBU JAWABAN SOAL


1. Bayi baru lahir merupakan masa kehidupan yang rentan dan berisiko
tinggi karena mengalami berbagai komplikasi atau gangguan kesehatan
karena berbagai perubahan/adaptasi BBL terhadap kehidupan di luar
uterus. Perubahan tersebut terjadi pada system pernafasan, system
peredaran darah, pengaturan susu, metabolisme glukosa, perubahan ginjal,
system ginjal, system gastrointerstinal.
2. Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
system pembuluh tubuh. Jadi perubahan-perubahan tekanan langsung
berpengaruh pada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh
mengubah

tekanan

dengan

cara

mengurangi

atau

meningkatkan

resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.

f. DAFTAR PUSTAKA
1. Chapman, Vicky. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kelahiran. 2003.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
2. Depkes, RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.
3.

_____, 2002, Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Depkes RI.

4. Prawirohardjo Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

110

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

5. Saefudin Abdul Bari, 2003, Buku Acuan Nasional, Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo : Jakarta
6. Varney, 1997, Varneys Midwifery, 3rd Edition, Jones and Barlet
Publishers, Sudbury: England
7. Wiknjosastro,

2006,

Ilmu

Kebidanan,

Yayasan

Bina

Pustaka

Prawirohardjo : Jakarta

111

Diktat Ajar Asuhan Kebidanan II

CURICULUM VITAE

1. NAMA

: CITRA HADI KURNIATI,S.ST

2. BIDANG KEAHLIAN

: ASUHAN KABIDANAN II
DOKUMENTASI KEBIDANAN
KETRAMPILAN DASAR PRAKTEK KLINIK
GINEKOLOGI

3. ALAMAT

: KLEGENWONOSARI RT 01 / RW II KLIRONG,
KEBUMEN

4. PENDIDIKAN

: D IV KEBIDANAN

5. PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG


IMUNISASI DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI PADA BAYI DI
KLEGENWONOSARI, KLIRONG KEBUMEN

PENULIS

CITRA HADI KURNIATI, S.ST

112