Anda di halaman 1dari 17

THERAPY SUPPORTIF PASCA OPERASI

Pascaoperasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam penatalaksanaan suatu
penyakit, sebab rasa nyeri dan tidak nyaman akan dialami pasien. Tujuan perawatan pasca
operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi kembali normal. Periode postoperatif
meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas
normal dan gaya hidupnya. Secara klasik, kelanjutan ini dibagi dalam tiga fase yang tumpang
tindih pada status fungsional pasien. Aturan dan perhatian para dokter secara gradual
berkembang sejalan dengan pergerakan pasien dari satu fase ke fase lainnya. Fase pertama,
stabilisasi perioperatif, menggambarkan perhatian para ahli bedah terhadap permulaan fungsi
fisiologi normal, utamanya sistem respirasi, kardiovaskuler, dan saraf. Pada pasien yang berumur
lanjut, akan memiliki komplikasi yang lebih banyak, dan prosedur pembedahan yang lebih
kompleks, serta periode waktu pemulihan yang lebih panjang. Periode ini meliputi pemulihan
dari anesthesia dan stabilisasi homeostasis, dengan permulaan intake oral. Biasanya periode
pemulihan 24-28 jam.
Fase kedua, pemulihan postoperatif, biasanya berakhir 1-4 hari. fase ini dapat terjadi di rumah
sakit dan di rumah. Selama masa ini, pasien akan mendapatkan diet teratur, ambulasi, dan
perpindahan pengobatan nyeri dari parenteral ke oral. Sebagian besar komplikasi tradisional
postoperasi bersifat sementara pada masa ini. Fase terakhir dikenal dengan istilah kembali ke
normal, yang berlangsung pada 1-6 minggu terakhir. Perawatan selama masa ini muncul secara
primer dalam keadaan rawat jalan. Selama fase ini, pasien secara gradual meningkatkan kekuatan
dan beralih dari masa sakit ke aktivitas normal.
Pedoman Perawatan Post Operasi
Setelah operasi selesai, penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar. Harus dijaga supaya
jalan napas tetap bebas. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang
operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya. Penderita yang
menjalani operasi kecuali operasi kecil, keluar dari kamar operasi dengan infus intravena yang
terdiri atas larutan NaCl 0,9% atau glukosa 5% yang diberikan berganti-ganti menurut rencana
tertentu. Di kamar operasi (atau sesudah keluar dari situ) ia, jika perlu, diberi pula transfusi
darah.

Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan, sehingga ia meninggalkan kamar
operasi dengan defisit cairan. Oleh karena itu, biasanya pascaoperasi minum air dibatasi,
sehingga perlu pengawasan keseimbangan antara cairan yang masuk dengan infus, dan cairan
yang keluar. Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi, tetapi sebaliknya juga jangan terjadi
kelebihan dengan akibat edema paru-paru. Untuk diketahui, air yang dikeluarkan dari badan
dihitung dalam 24 jam berupa air kencing dan cairan yang keluar dengan muntah harus ditambah
dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. Dapat diperkirakan bahwa dalam 24 jam sedikitnya
3 liter cairan harus dimasukkan untuk mengganti cairan yang keluar.
Sebagai akibat anestesi, penderita pascaoperasi biasanya enek, kadang sampai muntah. Ia tidak
boleh minum, sampai rasa enek hilang sama sekali; kemudian, ia boleh minum sedikit-sedikit,
untuk lambat laun ditingkatkan. Dalam 24 sampai 48 jam pascaoperasi, hendaknya diberi
makanan cair; sesudah itu, apalagi jika sudah keluar flatus, dapat diberi makanan lunak bergizi
untuk lambat-laun menjadi makanan biasa.
Pada pascaoperasi peristalik usus mengurang dan baru lambat laun pulih kembali. Pada hari
kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi; dengan gejala mules, kadang-kadang disertai
dengan perut kembung sedikit. Pengeluaran flatus dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil
prostigmin, dengan teropong angin dimasukkan ke dalam rektum, dan kadang-kadang perlu
diberikan klisma kecil terdiri atas 150 cc. campuran minyak dan gliserin.
Pemberian antibiotik pada pascaoperasi tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Misalnya,
setelah kista ovarium kecil diangkat, tidak perlu diberi antibiotik; akan tetapi sesudah
histerektomi total dengan pembukaan vagina, sebaiknya obat tersebut diberikan.

Pasien dengan masalah kesehatan membutuhkan perawatan postoperatif dalam ICU untuk
mendapatkan ventilasi jangka panjang dan monitoring sentral. Ketika pasien diserahterimakan
kepada perawat harus disertai dengan laporan verbal mengenai kondisi pasien tersebut berupa
kesimpulan operasi dan intruksi pasca operatif. Intruksi pasca operatif harus sesuai dengan
elemen berikut:
1. Tanda Tanda Vital
Evaluasi tekanan darah, nadi, dan laju pernapasan dilakukan setiap 15-30 menit sampai pasien
stabil kemudian setiap jam setelah itu paling tidak untuk 4-6 jam. Beberapa perubahan signifikan
harus dilaporkan sesegera mungkin. Pengukuran ini, termasuk temperatur oral, yang harus
direkam 4 kali sehari untuk rangkaian sisa pasca operatif. Anjurkan pernapasan dalam setiap jam
pada 12 jam pertama dan setiap 2-3 jam pada 12 jam berikutnya. Pemeriksaan spirometri dan
pemeriksaan respirasi oleh terapis menjadi pilihan terbaik, utamanya pada pasien yang berumur
tua, obesitas, atau sebaliknya pada pasien lainnya yang bersedia atau yang tidak bisa berjalan.
2. Perawatan Luka
Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan meminimalkan komplikasi
dan biaya perawatan. Fokus utama dalam penanganan luka adalah dengan evakuasi semua
hematoma dan seroma dan mengobati infeksi yang menjadi penyebabnya. Perhatikan perdarahan
yang terlalu banyak (inspeksi lapisan dinding abdomen atau perineal). Lakukan pemeriksaan
hematokrit sehari setelah pembedahan mayor dan, jika perdarahan berlanjut, diindikasikan untuk
pemeriksaan ulang. Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari. Umumnya luka jahitan pada kulit
dilepaskan 3-5 hari postoperasi dan digantikan dengan Steri-Strips.Idealnya, balutan luka diganti
setiap hari dan diganti menggunakan bahan hidrasi yang baik. Pada luka yang nekrosis,
digunakan balutan tipis untuk mengeringkan dan mengikat jaringan sekitarnya ke balutan dalam
setiap penggantian balutan. Pembersihan yang sering harus dihindari karena hal tersebut
menyebabkan jaringan vital terganggu dan memperlambat penyembuhan luka.

3. Penanganan Nyeri
Pengontrolan nyeri dilakukan dengan menggunakan analgetik secara intravena atau intratrakea
utamanya untuk pembedahan abdomen terbuka. Kombinasi anestesi spinal-epidural dapat
memanfaatkan anestesi spinal. Dengan anestesi spinal continu, pasien yang menjalani
pembedahan mayor dibawah level umbilikus akan mendapatkan analgetik postoperatif jangka
panjang dan efektif. Kelanjutan dari pembedahan mayor, pemberian analgetik narkotik
(contohnya: meperidin, 75-100 mg secara intramuscular setiap 4 jam, atau morfin, 10 mg
intramuskuler setiap 4 jam) untuk mengontrol nyeri juga dibutuhkan.
Ketika pasien mentoleransikan intake oral dengan baik, regimen obatnya harus diganti menjadi
analgetik oral dan harus didukung oleh ambulasi. Dua kelas besar untuk terapi non-opioid adalah
acetaminophen dan obat-obat anti inflamasi (NSAIDs). Secara umum, obat-obat ini ditoleransi
secara baik dan mempunyai resiko rendah terhadap efek samping yang serius. Meskipun
demikian, acetaminophen bersifat toksik untuk hati jika digunakan dalam dosis yang besar. Dosis
acetaminophen yang lebih dari 4.000 mg/hari harus dihindari, khususnya jika kombinasi terapi
obat opioid dan non-opioid oral digunakan. Jika diberikan secara preoperatif, NSAIDs
menurunkan nyeri pasca operasi dan mengurangi jumlah kebutuhan opiate (Adachi, 2007;
Akarsu, 2004; Chan, 1996; Mixter, 1998).
Meskipun efek samping dari opiat berupa depresi saluran pernapasan, mual serta muntah. Akan
tetapi terapi opiat merupakan pilihan utama untuk mengelola nyeri sedang sampai berat. Ketiga
obat opiat yang biasanya diresepkan setelah pembedahan adalah morfin, fentanil, dan
hydromorphin.

4. Posisi Tempat Tidur


Pasien biasanya ditempatkan pada posisi miring untuk mengurangi inhalasi muntah atau mukus.
Posisi lainnya yang diinginkan oleh ahli bedah harus dinyatakan dengan jelas, contohnya, posisi
datar dengan kaki tempat tidur yang elevasi.

5. Selang Drainase
Hubungkan bladder dengan kateter untuk sistem drainase berdasarkan gravitasi. Penulisan
intruksi untuk drainase postoperatif lainnya, penggunaan kateter suksion, pemintaan tekanan
negatif dan interval pengukuran volume drainase harus spesifik dan jelas.

6. Penggantian Cairan
Pemberian cairan secara oral atau intravena dibutuhkan. Untuk penentuan cara pemberian cairan
pasien dibutuhkan, selalu ambil berdasarkan faktor-faktor jumlah seperti kehilangan cairan
intraoperatif dan output urin, waktu pembedahan, penggantian cairan intraoperatif, dan jumlah
cairan yang diterima pada waktu pemulihan. Meskipun setiap pasien dan jenis operasi berbeda,
rata-rata pada pasien muda yang sehat mendapatkan penggantian cairan intraoperatif sebanyak
2400 mL sampai 3 liter cairan kristaloid dan glukosa, seperti Dekstrose 5% dalam setengah
larutan garam normal selama 24 jam pertama. Laju hidrasi intravena harus dilakukan secara
individu, seperti banyak pasien lainnya yang memerlukan volume yang kurang dan
menyebabkan cairan overload pada laju cairan yang lebih cepat. Pada pasien dengan fungsi
ginjal normal, penggantian cairan adekuat dapat dinilai pada output urin paling tidak sebesar 30
mL/jam.

7. Diet
Tujuan utama pemberian makan setelah operasi adalah untuk meningkatkan fungsi imun dan
mempercepat penyembuhan luka yang meminimalisir ketidakseimbangan metabolik. Dari

penelitian random didapatkan bahwa pemberian makan harus sesuai dan bermanfaat. Untuk
pembedahan minor, pemberian makanan dibutuhkan dan ditoleransi, ketika pasien sadar secara
penuh. Ketidaksetujuan muncul berupa seberapa cepat kemajuan diet pasien setelah pembedahan
major. Hal ini bersifat individual bergantung pada setiap pasien dan pada beberapa faktor. Satu
cara kemungkinan yang dapat dilakukan pada pasien berupa isapan air pada hari pembedahan.
Jangan berikan air es, karena dapat menurunkan motilitas usus secara signifikan. Berikan cairan
encer pada hari pertama pasca operasi jika telah terdengar bunyi usus sampai udara usus keluar.
Kemudian ganti makanan secara teratur. Waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan diet
secara lengkap bergantung pada prosedur pembedahannya, durasi anestesi, dan variasi individu
pasien. Pada dua penelitian random didapatkan bahwa pasien tertentu dapat diberikan makan
sesegera mungkin 1 hari setelah operasi pembedahan ginekologi intra-abdomen.
Kurangnya asupan protein-kalori yang besar pada pasien yang mengalami pembedahan dapat
menyebabkan gangguan pada penyembuhan luka, penurunan fungsi jantung dan paru,
perkembangan bakteri yang berlebih dalam traktus gastrointestinal, dan komplikasi lainnya yang
menambah jumlah hari rawat inap dan morbiditas pasien (Elwyn, 1975; Kinney, 1986; Seidner,
2006). Jika substansial intake kalori terlambat diberikan dalam 7-10 hari, maka perlu pemberian
makanan tambahan. Berikut ini adalah kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan setelah operasi.

Kebutuhan Nutrisi Setelah Operasi


Karena tidak adanya kontraindikasi, pemberian nutrisi secara enteral lebih dipilih dibanding rute
parenteral, khususnya jika terdapat komplikasi infeksi (Kudsk, 1992; Moore, 1992). Keuntungan
lain dari nutrisi enteral adalah penurunan biaya penyembuhan (Nehra, 2002). Setelah operasi
telah ditemukan efektif, dimulai sesegera mungkin setelah operasi. Makan segera setelah operasi
telah menunjukkan peningkatan penyembuhan luka, merangsang motilitas usus, menurunkan
stasis usus, meningkatkan aliran darah usus, dan merangsang refleks sekresi hormon
gastrointestinal yang dapat mempermudah kerja usus setelah operasi (Anderson, 2003; Braga,
2002; Correia, 2004; Lewis, 2001). Keputusan inisiasi makan sesegera mungkin dengan cairan
atau makanan lunak telah diteliti secara prospektif (Jeffery, 1996). Pada pasien yang diberikan
makanan lunak sebagai makanan pertama setelah operasi.

Sesudah penderita sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan lengan dan kakinya, dan tidur
miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus yang diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan
yang pasti kapan ia bisa duduk, keluar dari tempat tidur, dan berjalan. Hal itu, tergantung dari
jenis operasi, kondisi badannya, dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul. Di Indonesia
keperluan early ambulation tidak seberapa mendesak karena disini bahaya tromboflebitis
pascaoperasi tidak besar. Pada umumnya pengangkatan jahitan pada laparatomi dilakukan pada
hari ke-7 pascaoperasi untuk sebagian dan diselesaikan pada hari ke-10.
Secara umum, untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien pasca
operasi, perlu kita perhatikan tips di bawah ini:
Makan makanan bergizi, misalnya: nasi, lauk pauk, sayur, susu, buah.
Konsumsi makanan (lauk-pauk) berprotein tinggi, seperti: daging, ayam, ikan, telor dan
sejenisnya.
Minum sedikitnya 8-10 gelas per hari.
Usahakan cukup istirahat.
Mobilisasi bertahap hingga dapat beraktivitas seperti biasa. Makin cepat makin bagus.
Mandi seperti biasa, yakni 2 kali dalam sehari.
Kontrol secara teratur untuk evaluasi luka operasi dan pemeriksaan kondisi tubuh.
Minum obat sesuai anjuran dokter.
Komplokasi Post Operasi Ginekologi Berdasarkan Sistem
1. Sistem Urinaria
Retensi urin merupakan masalah yang sering muncul setelah pembedahan ginekologi, dengan
insidensi 7-80% bergantung pada prosedur pembedahan yang dilakukan (Stanton, 1979;
Tammela, 1986). Overdistensi dapat menyebabkan kesulitan miksi jangka panjang dan kerusakan
detrusor secara permanen (Mayo, 1973).

Keita dan kawan-kawan (2005) secara prospektif mengevaluasi faktor resiko potensial dari
retensi urin pasca operasi. Tiga faktor utama yang bersifat independen dan berhubungan dengan
peningkatan resiko seperti umur yang lebih dari 50 tahun, pemakaian cairan intraoperatif yang
lebih dari 750 mL, dan volume urin bladder yang lebih dari 270 mL yang diukur sewaktu
memasuki ruang pemulihan. Diantara prosedur ginekologi, resiko lebih besar setelah laparatomi
dilakukan jika dibandingkan dengan prosedur laparaskopi (Bodker, 2003).
Tanda klinis dari retensi urin berupa nyeri, takikardi, urgensi, dan pembesaran bladder yang
didapatkan dengan palpasi atau perkusi. Tanda klinis ini ditemukan bersamaan dengan evaluasi
volume urin disamping penggunaan sonography bladder (Bodker, 2003). Saat retensi
teridentifikasi, kateterisasi dan drainase bladder harus dilakukan. Lau dan Lam (2004)
memperlihatkan bahwa kateterisasi merupakan cara terbaik dalam pengelolaan retensi urin pasca
operasi. Dibanding dengan dekompressi bladder sepanjang malam dengan kateter indwelling,
episode kateterisasi in dan out sama-sama efektif. Lebih jauh, morbiditas infeksi antara keduanya
tidak berbeda secara signifikan.

2. Sistem Respirasi
Komplikasi paru yang luas menyebabkan sulitnya memperkirakan insidensinya secara akurat,
tetapi laporan memperkirakan kisaran antara 9-69% (Calligaro, 1993; Hall, 1991; Qaseem,
2006). Komplikasi paru yang sering ditemui oleh para ginekolog adalah atelectasis dan
pneumonia. Lima faktor resiko signifikan untuk komplikasi paru yang muncul setelah
pembedahan abdomen adalah umur yang lebih dari 60 tahun, IMT lebih dari 27, riwayat kanker,
merokok dalam waktu 8 minggu terakhir, dan insisi pembedahan yang dilakukan pada abdomen
bagian atas (Brooks-Brunn, 1997).

a. Atelektasis
Penyakit ini ditandai dengan penurunan suara pernapasan atau bunyi tumpul pada saat perkusi
pada bagian paru yang terkena. Sebagai tambahan, densitas linear pada lapangan paru bagian
bawah yang ditemukan dalam gambaran radiografi dada (Hall, 1991). Secara klasik, atelektasis

dihubungkan dengan demam derajat rendah. Meskipun demikian, Engoren dan kawan-kawan
(1995) menilai 100 pasien postoperasi dewasa yang didiagnosis radilogi atelektasis tidak
mengalami demam, sehingga kesimpulan penelitian ini bahwa tidak ada hubungan antara
atelektasis dan demam postoperasi. Meskipun, demam sering terjadi setelah operasi abdominal,
kondisi ini biasanya bersifat sementara, tergantung kondisi pasien, dan jarang memperlambat
penyembuhan pasien (Platell, 1997). Pada kasus berat, atelektasis dapat dicegah dengan beberapa
hal menggunakan terapi pengembangan paru (modalitas ekspansi paru).

b. Pneumonia
Penyakit ini merupakan infeksi nosokomial yang paling sering ditemukan di Amerika Serikat dan
mempunyai angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi (tablan, 2004). Insidensi pada pasien
pembedahan beragam dengan kisaran 1-19 % tergantung pada prosedur pembedahan dan
peninjauan rumah sakit (Kozlow, 2003). Untuk infeksi ini, sebagian besar bakteri patogen secara
khas bertanggung jawab adalah bakteri aerob gram-negatif yang berbentuk basil, seperti spesies
Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, dan Acinetobacter.
Keluhan pada pneumonia mulai tampak 2-3 hari pascaoperasi. (ilmu kandungan) Secara klinik,
pneumonia didiagnosis jika radiografi dada memperlihatkan sebuah gambaran infiltrat baru atau
progresif dan jika dua atau tiga gejala klinis (seperti leukositosis, demam yang lebih dari 38C,
atau sekresi purulen) ditemukan. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan endotrakeal
oral atau orogastrik tube yang ditempatkan pada selang hidung; elevasi kepala terhadap tempat
tidur sebesar 30-45, utamanya selama makan; aspirasi sekresi subglotis pada kasus ini tidak
dapat dihilangkan (American Thoracic Society, 2005).

3. Sistem Gatrointestinal
Fungsi gastrointestinal yang normal memerlukan motilitas yang sama di sepanjang sistem,
mukosa untuk transportasi bahan makanan, dan refleks pengosongan (Nuley, 2004). Meskipun
demikian, setelah pembedahan abdominal, disfungsi dari aktivitas saraf usus secara khas
mengacaukan tenaga normal. Aktivitas pertama terjadi pada usus yang tercatat biasanya dalam

24 jam. Aktivitas kontraksi usus halus terhambat dalam 24 jam setelah pembedahan, tetapi fungsi
normalnya terlambat dalam 3-4 hari (Condon, 1986; Dauchel, 1976). Motilitas kolon yang ritmik
dimulai paling akhir, kira-kira 4 hari setelah pembedahan intra-abdomen (Huge, 2000).
Pengeluaran flatus merupakan tanda khas dari kembalinya fungsi ini, dan tinja biasanya telah
dapat dikeluarkan dalam 1-2 hari.
Ileus yang terjadi setelah operasi merupakan kerusakan sementara dari aktivitas gastrointestinal
yang mengakibatkan distensi abdomen, bunyi usus hipoaktif, mual dan muntah yang
menyebabkan akumulasi udara dan air di saluran gastrointestinal, dan pengeluaran flatus serta
terlambat (Livingston, 1990).
Awal mula terjadinya ileus adalah multifaktorial. Pertama, manipulasi usus selama pembedahan
menyebabkan munculnya beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya ileus: (1)
faktor neurogenik yang dihubungkan dengan overaktivitas simpatis, (2) faktor hormonal yang
menyebabkan pengeluaran hypothalamic corticotrophin-releasing factor (CRF), yang memainkan
peran kunci dalam respon stress, dan (3) faktor inflamasi (Tache, 2001). Sebagai tambahan,
penggunaan opioid perioperatif juga menjadi salah satu etiologi dari ileus. Kemudian, dalam
pemilihan obat ini, dokter harus menyeimbangkan manfaat analgesik yang dihasilkan oleh ikatan
reseptor opioid sentral melawan disfungsi gastrointestinal yang dihasilkan dari reseptor perifer
yang menghasilkan efek ikatan (Holzer, 2004).
Tidak terdapat penanganan tunggal untuk pengelolaan ileus postoperasi. Pemberian elektrolit dan
cairan intravena untuk memperbaiki kembali keadaan euvolemik yang merupakan terapi
tradisional. Biasanya, dekompresi dengan menggunakan NGT rutin untuk mengistirahatkan usus
telah ditantang oleh beragam prospektif, berupa percobaan random. Dalam sebuah penelitian
meta-analisis terbaru pada 4200 pasien ditemukan bahwa dekompresi NGT rutin tidak berhasil
dan tidak bermanfaat terhadap penggunaan selektif pada pasien simptomatis. Secara spesifik,
pasien tanpa NGT fungsi ususnya kembali normal lebih cepat dan menurunkan resiko infeksi
luka dan hernia ventral (Nelson, 2005). Sebagai tambahan, perasaan discomfort, mual, dan lama
rawat inap akan berkurang. Untuk alasan ini, pemasangan NGT direkomendasikan hanya untuk
mengurangi gejala kembung pada abdomen dan muntah yang rekurensi (Nunley, 2004).

4. Sistem Sirkulasi
Disfungsi sirkulasi menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan dan menghasilkan kegagalan
multiorgan jika tidak dikenali dan diterapi dengan segera. Pada kasus ginekologi, penyebab
utama syok adalah perdarahan yang berakhir ke hipovolemia. Meskipun syok kardiogenik, sepsis
dan neurogenik dapat juga dipertimbangkan selama observasi. Penilaian tehadap perfusi oksigen
dan status hemodinamik cukup penting dalam masa postoperasi awal. Sayangnya, tanda-tanda
berupa tekanan darah dan denyut jantung saat istirahat tidak berdampak sepanjang kompensasi
awal. Contohnya, setelah kehilangan darah yang lebih dari 25-30% dari volume tubuh total,
hipotensi biasanya muncul terlambat dibanding tanda-tanda disfungsi organ lainnya yang berupa
oliguri, dan perubahan status mental.
Penanganan shock hipovolemia oleh karena perdarahan yang tidak berhenti adalah dengan
penggantian volume intravaskuler. Pada awalnya, suplai oksigen disajikan untuk menghindari
desaturasi jaringan (Wilson, 2003). Secara simultan, infus segera dengan cairan kristaloid
isotonik melalui intravena dapat mempercepat penggantian cairan. Jika terdapat hipotensi berat,
pemberian koloid dan tranfusi sel darah merah dibutuhkan. Jika terdapat hipovolemia,
penggunaan vasopressor tidak direkomendasikan untuk digunakan kecuali untuk bantuan yang
bersifat sementara dengan kondisi yang tidak stabil ketika resusitasi cairan dipertimbangkan.
Selama penanganan, resusitasi dimonitoring secara berkelanjutan sepanjang tekanan vena
sentral, output urin, dan status pasien secara umum. Akhirnya, jika perdarahan terus-menerus
terjadi, campur tangan operatif dapat menurunkan resiko untuk melanjutkan terapi konservatif.
Intraoperatif, isolasi dan pengontrolan perdarahan harus dilakukan secara sistematik. Setelah
pasien stabil, penting dilakukan pemeriksaan abnormalitas elektrolit, ketidakseimbangan
koagulasi, dan iskemia organ.

5. Demam Sistemik Pasca Operasi


Salah satu masalah yang sering ditemukan setelah operasi adalah demam. Meskipun demam
merupakan sebuah gambaran proses infeksi, sebagian besar merupakan penyakit self-limited
(Garibaldi, 1985). Meskipun demikian, untuk penyakit ini dengan gejala persisten, pendekatan
sistemik dalam mengevaluasi pasien akan menolong membedakan inflamasi dari etiologi infeksi.

Demam merupakan sebuah respon inflamasi yang dilakukan oleh mediator, dikenal dengan
pyrogen, yang berasal dari dari endogen atau eksogen. Pyrogen bersirkulasi menyebabkan
pengeluaran prostaglandin (utamanya PGE2), yang mengubah set point pada termoregulator.
Reaksi infalamasi ini menghasilkan sejumlah sitokin (Interleukin-1, interleukin-6, dan TNF)
yang ditemukan dalam sirkulasi setelah beragam kejadian seperti pembedahan, kanker, trauma,
dan infeksi (Wortel, 1993). Kemudian, differential diagnosis terhadap demam yang terjadi
setelah operasi termasuk penyebab non-infeksi dan infeksi.
Demam setelah operasi berkembang lebih dari 2 hari setelah pembedahan yang biasanya
disebabkan oleh infeksi. Penyebab tersering berada dalam kategori besar yakni angin, air,
berjalan, luka, dan obat yang meragukan. Pertama, pneumonia harus dipertimbangkan, dan
wanita berada pada resiko paling besar yang secara mekanik mendapatkan ventilasi lebih banyak
karena periode rawat inap yang lebih panjang, memakai NGT, atau pernah mendapatkan COPD
sebelumnya. Sebagai tambahan, pemakaian kateter juga akan meningkatkan resiko infeksi pada
traktus urinarius. Secara logis, penggunaan lama kateter berhubungan secara postif dengan resiko
infeksi ini. Demam yang berhubungan dengan infeksi pada area pembedahan biasanya
berkembang pada hari ke 5-7 setelah pembedahan. Infeksi ini menyerang lapisan dinding pelvis
dan abdomen. Akhirnya obat-obatan yang sering digunakan setelah operasi seperti heparin,
antibiotik beta-laktam, dan sulfonamide dapat menyebabkan kemerahan, eosinofilia, atau demam
karena obat.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk mendeteksi demam adalah pemeriksaan
darah lengkap, urinalisis, kultur darah, dan radiografi dada yang telah dievaluasi pada beberapa
penelitian dan sangat efisien serta efektif (Badillo, 2002; de la Torre, 2003; Schey, 2005).
Kemudian, pemeriksaan utama pada wanita dengan demam setelah operasi dilakukan sendiri dan
dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis.

6. Dehisensi Luka
Meskipun perkembangan klinis telah maju di bidang anesthesia, antibiotik preoperatif, teknologi
jahitan bedah, dan perawatan postoperatif, insidensi gangguan luka tidak banyak berubah (Cliby,
2002). Dehisensi menyebabkan pasien harus dirawat inap dalam jangka waktu yang lama dan

membutuhkan perawatan intensif. Kemudian, seorang ahli bedah memiliki ilmu pengetahuan
terhadap faktor resiko dan pilihan penanganan untuk komplikasi ini.
Luka superficial biasanya muncul pada hari ke 3-5 setelah pembedahan, dengan luka yang
eritema dan drainase onset baru. Satu cara mengidentifikasi adalah dengan isolasi selulitis luka
dengan terapi antibiotik sistemik. Meskipun demikian, keterlambatan dalam evakuasi cairan
eksudat luka yang inflamasi dari lapisan subkutan yang tidak memiliki ruang dapat melemahkan
fascia dan meningkatkan resiko dehisensi fascia.
Umumnya dehisensi terjadi dalam 10 hari setelah operasi. Gangguan superficial pada lapisan
subkutaneus dan kebocoran ekstensif berupa cairan purulen peritoneal diindikasikan untuk
didrainase. Irigasi digunakan untuk menutupi luka dan memindahkan bakteri tanpa merusak
komponen penyembuh luka. Povidone-iodne, balutan iodophor, cairan hydrogen peroksida, dan
cairan Daiken bersifat sitotoksik terhadap sel darah putih dan tidak boleh digunakan pada
perawatan luka (Bennett, 2001; Otoole, 1996).

7. Tromboflebitis
Komplikasi ini jarang ditemukan pada penderita pascaoperasi di Indonesia. Penyakit ini terdapat
pada vena yang bersangkutan sebagai radang, dan sebagai trombosit tanpa tanda radang. Pada
tromboflebitis dalam minggu kedua pascaoperasi suhu naik, nadi mencepat, timbul nyeri spontan
pada perabaan vena yang bersangkutan, dan tampak edema pada kaki, terutama jika vena
femoralis yang terkena. Trombus disini melekat kuat pada dinding pembuluh darah, dan tidak
banyak bahaya akan emboli paru-paru. Pada trombosis vena tidak terdapat banyak gejala,
mungkin suhu agak naik; thrombus tidak melekat erat pada dinding pembuluh darah, dan bahaya
emboli paru-paru lebih besar.
Walaupun komplikasi ini jarang terjadi di Indonesia, ada juga manfaatnya untuk
menyelenggarakan pencegahan dengan menyuruh penderita selama masih berbaring di tempat
tidur menggerakkan kakinya secara aktif, ditambah dengan gerakan lain yang diselenggarakan
dengan bantuan seorang perawat.

Perubahan Pasca Operasi


Sesudah operasi, timbul beberapa perubahan pada badan. Ini perlu diketahui. Perubahan
perubahan itu ialah:
1. Kehilangan darah dan air ynag menyebabkan berkurangnya volume cairan dalam sirkulasi.
Karena hemokonsentrasi dan vasokonstriksi tekanan darh dipertahankan, dan dengan
mengalirnya cairan daari ruang ekstraselular, volume kemudian pulih kembali. Akan tetapi jika
misalnya terjadi perdarahan terlalu banyak, tensi menurun dan nadi menjadi cepat, dan bahaya
syok mengancam.
2. Dieuresis pascaoperasi agak berkurang, tetapi beberapa hari kemudian menjadi normal
kembali. Pengukuran air kencing yang dikeluarkan sangat perlu oleh karena oliguri merupakan
tanda syok mengancam.
3. Perlu diketahui bahwa sebagai akibat operasi terjadi penghancuran protein jaringan; bahwa
ekskresi kalsium meningkat, sedang pengeluaran natrium dan klorida berkurang.

Penanganan Pasca Operasi


Setelah operasi selesai, penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar harus dijaga supaya
jalan pernapasan tetap bebas. Pada umunya, setelah dioperasi, penderita ditempatkan dalam
ruang pulih(recovery room) dengan penjagaan terus-menerus sampai ia sadar. Selama beberapa
hari sampai dianggap tiidak perlu lagi, suhu, nadi, tensi, dan dieresis harus diawasi terusmenerus. Sesudah penderita sadar, biasanya ia mengeluh kesakitan. Rasa sakit ini dalam
beberapa hari berangsur kurang. Pada hari opersai dan esok harinya ia biasnya memerlukan obat
tahan nyeri, seperti petidin; kemudian, biasanya dapat diberikan analgetikum yang lebih ringan.
Penderita yang mengalami operasi - kecuali operasi kecil- keluar dari kamar operasi dengan
infuse intravena yang terdiri atas larutan NaCl 0,9%, atau glukosa 5%, yang diberikan berganti
ganti menurut rencana tertentu. Di kamar operasi(atausesudah keluar dari situ)ia, jika perlu,
diberi transfuse darah. Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan, sehingga ia
meninggalkan kamar operasi dengan defisit cairan. Maka, khususnya apabila pada pascaoperasi

minum air perlu dibatasi, perlulah diawasi benar keseimbangan antara cairan yang masuk dengan
infus, dan cairan yang keluar. Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi, tetapi sebaliknya juga
jangan juga jangan terjadi kelebihan dengan akibat edema paru paru. Untuk diketahui, air yang
dikeluarkan dari badan dalam 24 jam, air kencing dan cairan yang keluar dengan muntah harus
ditambah dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. Dapat diperkirakan bahwa dalam 24 jam
sedikit-dikitnya 3 liter cairan harus dimasukkan untuk mengganti yang keluar.
Sebagai akibat anestesi, penderita pascaoperasi biasanya enek, kadang sampai muntah. Ia tidak
boleh minum, sampai rasa enek hilang sama sekali, kemudian ia boleh minum sedikit-sedikit,
untuk lambat laun ditingkatkan. Dalam 24 jam sampai 48 jam pascaoperasi, henfaknya diberi
makanan cairan, sesudah itu apabila jika sudah keluar flaktus, dapat diberi makanan lunak yang
bergizi ubtuk lambat-laun menjadi makanan biasa.
Pada pascaoperasi peristaltik usus mengurang dan baru lambat laun pulih kembali. Pada hari
kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi. Dengan gejala mules, kadang kadang disertai
dengan perut kemubung sedikit. Pengeluaran flatus dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil
prostigmin, dengan teropong angin dimasukkan kedalam rectum, dan kadang kadang perlu
diberikan klisma kecil terdiri atas 150cc. campuran minyak dan gliserin.
Pemberian antibiotika pada pascaoperasi tergantung dari jenis operasi yang dilakukan. Misalnya,
setelah kista ovarium diangkat, tidak perlu diberi antibiotika, akan tetapi, sesudah histeroktomi
total dengan pembukaan vagina, sebaiknya obat tersebut diberikan.
Setelah penderita sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan lengan dan kakinya, tidur
miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus yang diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan
yang pasti kapan ia bisa duduk, keluar dari tempat tidur, dan berjalan. Hal itu tergantung dari
jenis operasi, kondisi badannya dan komplikasi- komplikasi yang mungkin timbul. Di Indonesia
keperluan early ambulation tidak seberapa mendesak karena disini bahaya tromboflebitis
pascaoperasi tidak besar. Pada umumnya pengangkatan jahitan pada laparotomi dilakukan pada
hari ke 7 pascaoperasi untuk sebagian dan diselesaikan pada hari ke 10.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1. Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi wanita
kembali normal
2. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai
pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya
3. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai
pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya
4. Pedoman perawatan pasca operatif harus sesuai dengan elemen elemen seperti, tanda tanda
vital,perawatan lukan, penanganan nyeri, posisi tempat tidur, selang drainase, penggantian
cairan, diet
5. Pemberian nutrisi pada pasien post operasi dapat diberikan sesegera setelah operasi(bila
keadaan memungkinkan)
6. Komplikasi pasca operasi ginekologi berdasarkan system meliputi system urinaria, system
respirasi, system sirkulasi,dan system gastrointestinal.
7. Setelah operasi akan terjadi perubahan perubahan seperti : Kehilangan darah dan air, Dieuresis
pascaoperasi agak berkurang. Perlu diketahui bahwa sebagai akibat operasi terjadi penghancuran
protein jaringan; bahwa ekskresi kalsium meningkat, sedang pengeluaran natrium dan klorida
berkurang.

Saran
Pada pasien post operasi sebaiknya pemberian nutrisi sesegera setelah operasi lebih diutamakan
karena telah dibuktikan memiliki banyak keuntungan untuk mempercepat proses penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2008 ilmu kandungan. Jakarta:yayasan bina pustaka sarwono prawihardjo
2. Uliyah musrifatul. 2008, Ketrampilan Dasar Praktek Klinik untuk kebidanan.Jakarta: salemba
medika
3. G-Mundy, Chrissie. 2005, Pemulihan Pascaoperasi Caesar (Hal: 32), Jakarta : Erlangga
4. C. Rothrock, Jane. 1999, Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif (Hal: 543), Jakarta:
EGC
5. Cameron, John L. 1997, Terapi Bedah Mutakhir (Hal: 576), Jakarta: Binarupa Aksara