Anda di halaman 1dari 5

Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan berjuta potensi.

Dengan luas
wilayah perairan mencapai 5,8 juta km dan garis pantai mencapai 81.000 km,
Indonesia memiliki potensi besar dalam hal pengelolaan kekayaan laut (Riana, 2012).
Salah satu kekayaan laut indonesia adalah kerang. Perairan Indonesia memiliki
potensi kerang cukup besar dan produksinya menunjukkan kecenderungan meningkat
dari tahun ke tahun.
Potensi kerang sangat banyak dihasilkan di Indonesia, namun kebanyakan
masyarakat hanya memanfaatkan daging kerang saja sedangkan cangkang kerang
belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini menimbulkan permasalahan berupa
sampah cangkang kerang yang menumpuk di daerah pesisir pantai. Mengingat
komposisi cangkang kerang lebih banyak dibandingkan dagingnya, yaitu sekitar 70%
cangkang dan 30% daging (Ariesta, 2013).

Cangkang kerang yang tidak

termanfaatkan ini menimbulkan serangkaian masalah terutama kebersihan lingkungan


yang terganggu sehingga menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu pula.
Salah satu limbah cangkang kerang yang mengalami penumpukan adalah jenis
kerang laut (Anadara grandis). Kerang laut (Anadara grandis) adalah salah satu dari
jenis kerang yang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Kerang ini banyak
dikonsumsi masyarakat karena banyak mengandung protein. Jumlah kerang yang
cukup berlimpah akan sebanding dengan jumlah kulitnya yang selama ini sebagian
besar hanya dibuang dan sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan
baku pembuatan kosmetik, dan kerajinan tradisional. Limbah kulit kerang laut
mengandung senyawa kimia yang bersifat pozzolan yaitu zat kapur (CaO) sebesar
66,7%, alumina, dan senyawa silika (Siregar 2009). Berdasarkan senyawa kimia
tersebut, maka kerang darah dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku utama atau
bahan substitusi pembuatan ekosemen. Dengan demikian limbah cangkang kerang

darah dapat dioptimalisasi menjadi bahan baku pembuatan ekosemen yang ramah
lingkungan.
Ekosemen adalah salah satu jenis produk semen yaang hampir sama dengan
semen portland dan karena bahan bakunya menggunakan bahan berbasis limbah serta
ramah lingkungan maka disebut ekosemen. Produksi semen yang telah banyak
beredar pada saat ini memberikan dampak ancaman ekologis yang serius Menurut
International Energy Authority: World Energy Outlook, produksi semen portland
adalah penyumbang CO2 sebesar 7% dari keseluruhan CO2 yang dihasilkan oleh
berbagai sumber. Hal ini terjadi karena dari satu ton semen portland yang doproduksi
menghasilkan satu ton CO2. Oleh karena itu, ekosemen dari cangkang kerang laut
merupakan semen yang ramah lingkungan.
Proses pembuatan ekosemen menggunakan metode green ecology atau ramah
lingkungan. Peroses pembuatan ekosemen meliputi pembuatan abu cangkang kerang
dengan cara cangkang kerang dihancurkan kemudian dibakar dengan suhu 700 oC,
sehingga diperoleh abu cangkang kerang. Abu ini merupakan bahan pengganti dari
batu kapur/limestone. Komposisi kimia abu cangkang kerang adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Komposisi Kimia Abu Cangkang Kerang
No
Komponen
.
1
CaCO3
2
Na
3
P
4
Mg
5
Fe, Cu, Ni, B, Zn, dan Si
Sumber: (Siregar 2009)

Kandungan (%berat)
98,7
0,9
0.02
0,05
0,2

Selain abu cangkang kerang, ada bahan baku tambahan seperti tanah liat (siltstone),
tanah alumina (shale), Pasir besi (iron sand), dan gypsum. Penambahan tanah liat
berfungsi sebagai sumber silika (SiO 2), sedangkan tanah alumina sebagai sumber

alumina (Al2O3). Penambahan pasir besi berfungsi sebagai sumber ferrit (Fe 2O3).
Sedangkan penambahan gypsum berfungsi sebagai pengatur waktu pengetas
ekosemen (setting time). Setelah itu, semua bahan baku digiling di dalam raw mill
dengan kecepatan 14,5 rpm dengan power motor 2.500 kW per motor dengan
kapasitas 240 ton/jam. Hasil dari raw mill disebut raw meal. Raw meal kemudian
masuk ke dalam preheater. Preheater berguna untuk pemanasan awal raw meal
sehingga pemanasan selanjutnya dalam klin lebih mudah. Preheater terdiri dari 4
stage preheater yang diatur secara vertikal. Pada masing-masing stage terjadi proses
kalsinasi, yaitu proses pelepasan senyawa CO2 ke udara luar terjadi pada suhu 820900oC. Preheater hanya mengalami proses kalsinasi sebesar 88%, sedangkan
kalsinasi sempurna 100% akan terjadi di dalam rotary kiln. Material yang telah
mengalami kalsinasi sebesar 88% masuk ke dalam rotary kiln secara perlahan-lahan
untuk dilakukan pembakaran sehingga menyempurnakan reaksi kalsinasi dan
pembentukan clinker. Pembakaran material di dalam rotary kiln mencapai temperatur
1450 oC. Setelah mengalami pembakaran dalam kiln, material yang bebentuk lahar
panas masuk ke grate cooler dan didinginkan secara tiba-tiba dengan menggunakan
udara pendingin yang dihembuskan dari 6 buah fan. Akhirnya material akan
berbentuk bulatan-bulatan keras yang disebut terak (clinker). Clinker yang berukuran
besar dihancurkan dengan menggunakan breaker (hammer crusher). Clinker yang
telah hancur dimasukkan ke clinker silo yang berkapasitas 30.000 ton. Selanjutnya
clinker diangkut ke unit penggilingan cement mill. Proses akhir pembuatan semen
adalah penggilingan clinker yang dicampur dengan gypsum. Komposisi campuran
adalah 96% clinker dan 4 % gypsum. Hasil dari cement mill adalah ekosemen
(Syafpoetri 2012).
Ekosemen yang telah jadi dilakukan analisis terhadap komposisi kimia dengan
metode kimia dan dibandingkaan dengan komposisi kimia semen portland. Hasil
yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 2. Perbandingan Komposisi Kimia Ekosemen dan Semen Portland


Pengujian
Insoluble
SO3
SiO2
R2O3
CaO
MgO
Hilang Pijar
Fe2O3
Sumber: (Siregar 2009)

Ekosemen
11,358
1,0633
10,565
12,94
42,756
1,9837
30,896
3,6012

Semen Portland
Satuan dalam %
10,114
1,8762
21,972
13,2010
44,067
2,1502
3,896
1,3608

Ekosemen yang menggunakan bahan baku dari abu cangkang kerang darah
sebagai pengganti limestone dapat mengurangi pencemaran lingkungan seperti pada
proses penambangan serta emisi gas buang pada pembakaran clinker. Dari sisi
ekonomi penggunaan cangkang kerang darah sebagai pengganti limestone dinilai
lebih murah dan mudah diperoleh. Selain itu, dari hasil pengujian secara kimia,
ekosemen memiliki hasil pengujian yang mendekati semen portland

sehingga

kualitas dari ekosemen mendekati kualitas semen portland.


DAFTAR PUSTAKA
Ariesta, S. 2013. Studi Eksperimental Pembuatan Ekosemen Dari Abu Sampah dan
Cangkang Kerang Sebagai Bahan Alternatif Pengganti Semen. Jurnal Teknik
Fisika. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Riana, Dwi. 2012. Upaya Mengurangi Sampah Kerang. Artikel Laporan Akhir
PKMM. Universitas Airlangga.
Siregar. 2009. Pemanfaatan Kulit Kerang Dan Resisn Epoksi Terhadap Beton
Polimer. Tesis. Jurusan Fisika Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Medan

Syafpoetri. Nelvia. 2012. Pemanfaatan Abu Kulit Kerang (Anadara grandis) Untuk
Pembuatan Ekosemen.Tugas Akhir. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Riau Pekanbaru.