Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X


PG. KREMBOONG
SIDOARJO

DISUSUN OLEH :
ANGEL HERUWATY NOVALINDA S.

NIM. 12.14.009

LISA LUKITA GUNAWAN

NIM. 12.14.022

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA
PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X
PABRIK GULA KREMBOONG SIDOARJO
27 JULI 28 AGUSTUS 2015

DISUSUN OLEH :
ANGEL HERUWATY NOVALINDA S.

NIM. 12.14.009

LISA LUKITA GUNAWAN

NIM. 12.14.022

Laporan ini telah disetujui oleh Dosen Pembimbing :


Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Rini Kartika Dewi, ST, MT.


NIP. P. 103 0100 370

Mengetahui,

Ketua Jurusan
Teknik Kimia ITN Malang

Koordinator Praktek Kerja Nyata

Jimmy, ST, MT.

Faidliyah Nilna Minah, ST, MT.

NIP. Y. 103 9900 330

NIP. P. 103 0400 392

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA NYATA
PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X
PABRIK GULA KREMBOONG SIDOARJO
27 JULI 28 AGUSTUS 2015

Telah diperiksa dan disetujui oleh :


Menyetujui,

Manager Quality Control

Pembimbing Praktek Kerja Nyata

Yosef A.A.K, SP.

Juli Tri Hariyadi, ST.

Mengetahui,

PT. Perkebunan Nusantara X


Pabrik Gula Kremboong

PT. Perkebunan Nusantara X

Ir. Gatot Soebijakto, MMA


General Manager

........................................
Manager SDM

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME, yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya,
sehingga kami dapat menyelesaikan Praktek Kerja Nyata ini dan menyusun laporan Praktek
Kerja Nyata di PTPN X pabrik gula Kremboong.
Pelaksanaan dan penyusunan laporan Praktek Kerja Nyata ini merupakan syarat
kelulusan mata kuliah Praktek Kerja nyata. Tujuan dari Praktek Kerja Nyata ini adalah untuk
melihat secara langsung keadaan dan dimensi alat pabrik serta implementasi proses dalam
skala pabrik.
Dalam menyelesaikan laporan Praktek Kerja Nyata ini, kami banyak mendapatkan ilmu
dan bantuan dari beberapa pihak. Maka dari itu kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada :
1.
2.
3.
4.

Direksi PT. Perkebunan Nusantara X Surabaya.


Bapak Ir. Gatot Soebijakto, MMA, selaku General Manager di Pabrik Gula Kremboong.
Bapak Yosef A.A.K, SP selaku Manager Quality Control Pabrik Gula Kremboong.
Bapak Juli Tri Hariyadi, ST selaku Asisten Manager Quality Control juga sebagai
pembimbing lapangan Praktek Kerja Nyata kami di Pabrik Gula Kremboong.
5. Bapak Hendra selaku pendamping lapangan Praktek Kerja Nyata kami di Pabrik Gula
Kremboong.
6. Ibu Rini Kartika Dewi, ST. MT selaku dosen pembimbing Praktek Kerja Nyata.
7. Bapak Jimmy, ST. MT selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia ITN Malang.
8. Ibu Faidliyah Nilna Minah, ST. MT selaku koordinator Praktek Kerja Nyata.
9. Para bapak-ibu karyawan Pabrik Gula Kremboong.
10. Rekan-rekan Praktek Kerja Nyata atas kerja samanya sehingga Praktek Kerja Nyata di
Pabrik Gula kremboong dapat terselesaikan dengan baik.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penyusun pada
khususnya.

Sidoarjo, 30 Juli 2015

Penyusun

INTISARI
Pabrik Gula Kremboong merupakan Pabrik Gula yang berada di bawah PT. Perkebunan
Nusantara X yang berkedudukan di Jl. Jembatan merah No. 3-9, Surabaya. Pabrik ini terletak
di Desa Krembung, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo.
Produk utama PG Kremboong adalah gula SHS dan hasil samping berupa tetes dan
ampas. Kapasitas giling rata-rata 1100 ton tebu/hari. Proses pembuatan gula ini dilakukan
bertahap dalam 6 stasiun : stasiun penggilingan, pemurnian, penguapan, masakan, putaran
dan penyelesaian.
Tebu sebagai bahan utama diangkut dengan truk atau lori ke tempat penampungan dan
ditampung dalam emplasemen. Setelah itu dipersiapkan di Stasiun Penggilingan,
penggilingan dilakukan 4 tahap. Pada tahap ketiga dilakukan penambahan air imbibisi
bertujuan untuk memaksimalkan pemerahan nira.
Setelah melalui tahap penggilingan nira masuk ke Stasiun Pemurnian. Nira yang
dihasilkan diproses dalam Pemanasan Pendahuluan I (PP 1), Nira masuk ke juice tank dengan
pH 5,6 6,0 pre Liming, kemudian masuk ke juice Heater (PP 1) dipanaskan sampai 80oC.
Kemudian dialirkan ke Reaktor dan ditambahkan susu kapur dan saat overload ditambahkan
gas SO2 sampai pH nira 6,9 7,2, fungsi susu kapur dan belerang untuk mengikat kotoran
2yang ada di nira dengan reaksi Ca2+ + SO3

CaSO3. Setelah itu, nira

dialirkan ke PP 2 lalu dipanaskan di pemanas II sampai suhu 100 105oC lalu nira di alirkan
ke Flash Tank yang bertujuan untuk menghilangkan gas yang tidak terembunkan karena gaya
sentrifugal lalu nira turun ke Door Clarifier ditambahkan flokulan yang berfungsi untuk
mengendapkan kotoran, disini flokulan yang diguanakan adalah Amyfloc. Proses
pengendapan ini dibantu dengan pengaduk untuk menghomogenkan flokulan dengan nira.
Lalu nira dipisahkan, nira kotor masuk ke Rotary Vaccum Filter menghasilkan blotong dan
nira jernih ditampung di Clear Just Tank kemudian nira masuk ke PP 3 dan dipanaskan lagi
sampai suhu 105 oC pada badan penguapan I (evaporator I). Karena di PP 3 nira hanya
dilewatkan saja.
Dalam stasiun penguapan bertujuan untuk menguapkan kandungan air dalam nira jernih
sehingga didapat nira kental. Nira jernih dari unit pemurnian akan diuapkan pada serangkaian
evaporator melalui sistem quadruple effect. Dengan menggunakan proses tekanan vaccum.
Pada stasiun masakan bertujuan untuk mengkristalkan nira kental dengan proses
penguapan lanjut pada kondisi tekanan vaccum, sehingga didapat kristal dengan ukuran dan
spesifikasi tertentu.
Pada stasiun pemutaran, gula yang dihasilkan di sentrifuge untuk memisahkan kristal
gula dari sirupnya. Gula yang masih basah ini dikeringkan dalam talang getar yang

dilengkapi dengan pengering. Hasilnya berupa gula kristal, gula halus dan gula normal. Gula
normal adalah produk utama, yang kemudian dipacking dan siap untuk dipasarkan.
Stasiun pemutaran dan pengemasan bertujuan untuk memisahkan kristal dengan larutan
induknya. Kristal akan dikeringkan, disaring, dikemas, dan ditimbang pada unit pengemasan.

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

BAB I
PENDAHULUAN
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Terdapat berbagai
macam gula di Indonesia, namun yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah gula yang
berbahan dasar tebu atau yang biasa disebut dengan gula pasir. Dalam memenuhi kebutuhan
gula dalam negeri maka didirikan pabrik gula baru untuk mengurangi ketergantungan akan
gula impor. PG Kremboong merupakan salah satu pabrik gula yang didirikan untuk
memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.
Proses pembuatan gula dimulai dengan pemotongan dan pencacahan tebu. Pencacahan
tebu tersebut digiling di unit penggilingan.Nira hasil penggilingan disaring kemudian
dimurnikan dengan proses sulfitasi kontinyu. Nira encerhasil pemurnian diendapkan untuk
diperoleh nira jernih. Nira jernih kemudian diuapkan dalam evaporator hingga diperoleh nira
dengan brix 60-62% yaitu kekentalan nira untuk pemasakan. Nira kental dipucatkan dalam
tangki sulfitasi sebelum dimasak dalam pan masakan. Setelah itu, nira dimasak untuk
didapatkan kristal gula dan strop hasil kristalisasi dipisahkan secara sentrifugal. Produk
utama yang dihasilkan adalah gula kristal putih (GKP) jenis Superior Hooft Suiker(SHS).
Hasil samping proses berupa tetes, blotong, dan ampas yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan monosodium glutamate (MSG), pupuk cair, permen, dan bahan bakar ketel serta
kertas.
Dengan didirikannya PG Kremboong ini dan beberapa pabrik gula lainnya diharapkan
dapat memenuhi kebutuhan gula nasional saat ini.
I.1 Sejarah Singkat PG Kremboong
PG. Kremboong didirikan Oleh N.V. COOY dan COSTER VAN VOOR HOUT pada
tahun 1847 di Desa Krembung, kab sidoarjo. Pada saat itu pabrik gula Krembung
memproduksi Gula masih dengan tenaga manusia yang dibantu dengan peralatan yang masih
sederhana.
Pada saat Belanda mengalami kekalahan perang atas tentara Jepang, sehingga
kedudukan Belanda di Indonesia digeser oleh Jepang. Pabrik Gula Kremboong pada masa
kedudukan Jepang tidak hanya digunakan untuk memproduksi gula, tetapi juga digunakan
untuk pembuatan senjata Perang.
Selang beberapa tahun pecah Perang Dunia II antar Jepang Melawan Sekutu, Jepang
Mengalami kekalahan sehingga terjadi Kevakuman Kekuasaan di Negara Indonesia.
Sehingga Pada tahun 1945 Indonesia Memproklamasikan Kemerdekaannya, selanjutnya

pabrik Gula yang dikuasai oleh Jepang diambil alih oleh Indonesia. Pada saat itu PG.
Kremboong belum dapat memproduksi gula karena situasi negara yang masih belum stabil.
Setelah Perang Dunia II pada tahun 1948, Belanda masuk Lagi Ke Indonesia, sehingga
Perusahaan-Perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dikuasai lagi. Baru pada tahun 1950
PG. Kremboong, dibangun lagi dan mulai berproduksi kembali.
Pada tahun 1957, saat terjadi perebutan Irian Barat, semua perusahaan di Indonesia
yang dikuasai oleh bangsa asing diambil oleh Bangsa Indonesia. Pada tahun itu kepengurusan
ditangani oleh Kementrian Perkebunan Lama ( Perusahaan Perkebunan Negara Lama )
diubah menjadi Perusahaan Negara Perkebunan ( PNP ). Kemudian tahun 1973 PNP diubah
lagi menjadi PTP ( Perseroan Terbatas Perkebunan ). Dengan terbentuknya PTP ini maka
PNP XXI dan PNP XXII dilebur menjadi satu yaitu PTP XXI-XXII. Dimana PG. Kremboong
termasuk didalamnya.
Berdasarkan peraturan pemerintah RI no.15 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 maka
diadakan PTP XXI-XXII dan PTP XIX klaten Jawa Tengah dan PTP XXVII Jember Jawa
Timur digabung menjadi PTP Nusantara X( Persero ).Berdasarkan akte pendirian perseroan
terbatas ( PTPN X ) dengan surat keputusan no.43 tanggal 11 Maret 1996 sesuai daftar
keputusan Menteri Kehakiman RI no. C-2-8338 HT.01.01 tahun 1996, diumumkan dalam
Berita RI no.81 tanggal 08 Oktober 1996.
Unit Perusahaan gula di Jawa Timur yang tergabung di PT. Perkebunan Nusantara X
Persero ) antara lain :
1. PG. Kremboong, Sidoarjo
2. PG. Toelangan, Sidoarjo
3. PG. Watoetoelis, Sidoarjo
4. PG. Gempolkrep, Mojokerto
5. PG. Djombang Baru, Jombang
6. PG. Tjoekir, Jombang
7. PG. Lestari, Kertosono

8. PG. Meritjan, Kediri


9. PG. Ngadiredjo, Kediri
10. PG. Pesantren Baru, Kediri
11. PG. Modjopanggong, Tulungagung

I.2 Lokasi Pabrik PG Kremboong


PG Kremboong terletak di Desa Krembung, Kec. Krembung, Kab. Sidoarjo, tepatnya
20 km sebelah selatan kota Sidoarjo pada ketinggian 7 mdpl dan curah hujan 1,450 1,675
mm/tahun serta jenis tanah alluvial (Sidoarjo) dan regusol (Mojokerto)
I.3 Fasilitas
PTPN X telah menyediakan beberapa sarana kesehatan demi menunjang karyawan
dengan memiliki 3 buah rumah sakit, yaitu:
1. Rumah Sakit Gathoel di Mojokerto
2. Rumah Sakit Tulung Rejo di Kediri
3. Rumah Sakit Perkebunan Jember
Sedangkan dalam lingkungan PG Kremboong sendiri memenuhi karyawan dan
masyarakat, pabrik memberikan fasilitas berupa :
1. Sarana Ibadah
2. Perumahan
3. Poliklinik
4. Sarana Olahraga dan kesenian
5. Koperasi
I.4 Profil Perusahaan dan Struktur Organisasi
PT. Perkebunan Nusantara X adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara

BUMN ) yang bergerak di bidang perkebunan dengan bisnis utamanya adalah gula kristal
putih dan tetes berbahan baku tebu dan tembakau. Perusahaan ini merupakan penggabungan
antara PT. Perkebunan XXI XXII (Persero) yang unit usahanya berada diwilayah
karesidenan Surabaya ( kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, Jombang ), karesidenan Kediri
( kabupaten Kediri, Tulungagung, Nganjuk ), karesidinan Besuki ( kabupaten Jember ) dan
karesidenan Surakarta (kabupaten Klaten). Adapun Kantor Pusat

beralamatkan di jalan

Jembatan merah no 3 5 Surabaya, pada tahun 2014 terbentuk Badan Usaha Negara Milik
Negara ( BUMN ) baru dalam bentuk badan usaha Holding dengan nama PT. Perkebunan
Nusantara III (Persero) dan PT. Perkebunan Nusantara X menjadi anak perusahaan di bawah
naungan PT. Perkebunan Nusatara III sebagai induk perusahaan.

Unit usaha yang dimiliki PT. Perkebunan Nusantara X terdiri 11 pabrik gula, 3
kebun tembakau, dan memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan
kesehatan ( PT. Nusantara Medika Utama terdiri dari 3 rumah sakit ), bio ethanol
( PT. Energi Agro Nusantara ), produksi okura & edamame (PT. Mitra Tani), pabrik karung
plastik ( PT. Dasaplast )

Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan agro industri terkemuka yang berwawasan lingkungan.
Misi Perusahaan

Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebu dan tembakau yang
berdaya saing tinggi untuk pasar domestik dan internasional dan berwawasan lingkungan.

Berkomitmen menjaga pertumbuhan dan kelangsungan usaha melalui optimalisasi dan


effisiensi di segala bidang.

Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai perusahaan bagi kepuasan


stake holder melalui kepemimpinan, inovasi dan kerja sama tim serta organisasi yang
profesional.

Strategi Korporat
Dalam upaya mencapai target dan sasaran kinerja, strategi yang dipilih adalah kombinasi
stabilitas dan pertumbuhan dengan memantapkan usaha pokok dan bukan usaha pokok yang
menguntungkan.
Stategi Bisnis
Memantapkan usaha pokok melalui produktivitas dan over all cost leadership untuk
memperoleh harga produksi kompetitif dan menghasilkan produk dengan mutu sesuai
permintaan pasar.
Salah satu unit usaha strategis milik PT. Perkebunan Nusantara X yang berada di
Sidoarjo adalah Pabrik Gula Kremboong yang berada di desa Krembung Kecamatan
Krembung Kabupaten Sidoarjo, yang mempunyai kapasitas terpasang 2.600 TCD. Sumber
bahan baku berasal dari tebu sendiri (TS) sebesar lahan sewa (IPL) sebesar 10% dan tebu
rakyat (TR) sebesar 90% yang wilayah kerjanya berada di Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto
dan Pasuruan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, upaya strategi yang dilakukan adalah :

1. Upaya mencapai harga pokok produksi (HPP) yang rendah melalui peningkatan produksi
dan pengendalian biaya produksi, serta meningkatkan produktivitas sumberdaya manusia.
2. Peningkatan efisiensi pabrik dengan perbaikan dan penggunaan tehnologi unggul yang
sudah dilakukan mulai tahun 2012.
3. Perbaikan mutu bahan baku tebu sehingga mempunyai protas dan rendemen yang optimal
4. Membina hubungan yang berkesinambungan dengan stakeholder terutama petani tebu
rakyat.
Pabrik gula sebagai salah satu unit bisnis, dipimpin seorang General Manager dan
di bantu enam Manager yaitu :
1. Manager Tanaman bertugas di on farm
2. Manager Tehnik bertugas di off farm
3. Manager QulityControl bertugas menganalisa tugas di on farm dan off farm.
4. Manager Pengolahan bertugas mengelola bahan baku tebu
5. Manager Keuangan dan Umum bertugas mengelola keuangan dan administrasi.
6. Manager SDM
Pabrik Gula Kremboong diharapkan dapat memberikan kontribusi secara
berkesinambungan terhadap perusahaan dengan menyumbang keuntungan (profit) dari
produk gula yang dihasilkan dengan kualitas gula yang mampu bersaing di pasar, namun
demikian kinerja PG Kremboong pada tahun 2014 memperoleh keuntungan yang tidak sesuai
di harapkan akibat turunnya harga gula.

STRUKTUR ORGANISASI
PABRIK GULA KREMBOONG TAHUN 2015

KEPALA DIVISI
SDM & HI

MANAJER SDM

ASISTEN
MANAJER SDM

GENERAL
MANAGER
PABRIK GULA

MANAJER
KEUANGAN DAN
UMUM

MANAJER
TANAMAN

ASISTEN
MANAJER UMUM
& HUMAS

ASISTEN MANAJER
TANAMAN
WILAYAH I
(PERENCANAAN,

ASISTEN
MANAJER
KEUANGAN

ASISTEN MANAJER
TANAMAN
WILAYAH II
(PERKREDITAN &

ASISTEN
MANAJER TI

ASISTEN
MANAJER
TEBANG

KEPALA DIVISI
QC &
PENGEMB.

MANAJER
INSTALASI

ASISTEN
MANAJER
INSTALASI

MANAJER
PENGOLAHAN

MANAJER
QUALITY
CONTROL

ASISTEN
MANAJER
PENGOLAHAN

ASISTEN
MANAJER QC

Tugas dan tanggung jawab General Manager


Manager Keuangan dan Umum (K&U)
Bertanggung jawab terhadap kegiatan opeerasional di bidang administrasi yang
meliputi perencanaan/pengawasan, pengendalian biaya, dan ketertiban bidang
administrasi dan akutansi pabrik gula.
Manager Administrasi Keuangan dan Umum membawahi:
a. Asman Perencanaan dan Produksi
b. Pembukuan
Mempertanggung jawabkan pembukuan biaya dan pendapatan sesuai dengan pospos perkiraan.
c. T.U. Hasil

Administrasi pemasukan dan pengeluaran produksi gula dan pembayaran cukai


gula.
d. Sekretaris Umum
Bertanggung jawab terhadap semua urusan administratif.
e. Gudang Material dan PDE
Melaksanakan administrasi gudang dan menjaga keamanan atas penyimpanan
bahan baku barang perlengkapan.
f. Keamanan
Bertanggung jawab atas pengamanan baik personil maupun materil
Perusahaan.
-

Manager Tanaman
Bertanggung jawab kepada kepala administratur dalam bidang tanaman. Manager
Tanaman membawahi antara lain:
a. Asman Tanaman
Menjaga kelancaran pemasukan tebu sesuai kapasitas giling baik dari dalam
maupun luar daerah untuk dipertanggung jawabkan kepada Manager tanaman.
b. Asman Koordinator Kebun Wilayah
Mengkoordinasikan kelancaran penyediaan tebu untuk dipertanggung jawabkan
kepada kepala bagian tanaman dan membawahi beberapa Distrik.
c. Asman Asman Distrik (Tebang Angkut)
Melaksanakan penyuluhan dan bimbingan teknis sekaligus mengawasi pekerjaan
kebun.

Manager Instalasi
Bertanggung jawab menangani peralatan-peralatan pabrik untuk proses produksi.
Manager Instalasi mempunyai wakil sebagai Koordinator Asman yang membawahi
beberapa jabatan, antara lain:
a. Asman Gilingan
Bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan di Stasiun Gilingan dari awal
proses gilingan sampai akhir proses gilingan.
b. Asman Besali
Bertanggung jawab atas pekerjaan di bidang workshop untuk proses perbaikan
spart part mesin,seperti : Bubut,Frais (Milling),Skrap,Bor dan lainnya.
c. AsmanBoiler
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang ada di Stasiun Boiler.
d. Asman Listrik
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan kelistrikan di
semua stasiun.
e. Asman Instrumentasi
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan pada semua instrumentasi di lingkungan
Pabrik Gula dan menjaga/mengontrol yang berhubungan dengan Control
Valve,PLC dan Control Panel di lingkungan Pabrik Gula Kremboong.

Manager Pengolahan

Bertanggung jawab atas kelangsungan segala proses yang terjadi mulai dari
perencanaan tebu,penggilingan, sampai didapatkan produk gula sesuai dengan
kwalitas dan kwantitas yang telah ditetapkan.
Manager Pengolahan mempunyai wakil sebagai Koordinator Asman yang
membawahi beberapa jabatan, antara lain:
a. Asman Pemurnian
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berhubungan di Stasiun Pemurnian.
b. Asman Penguapan
Bertanggung jawab terhadap proses pekerjaan yang ada di dalam Stasiun
Penguapan.
c. Asman Masakan
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berhubungan di dalam Stasiun
Masakan.
d. Asman Puteran
Bertanggung jawab terhadap pekerjaan di proses puteran atau pengeringan sampai
ke proses pengemasan,dan proses lainnya yang ada di Stasiun Puteran.
e. Gudang gula
Bertanggung jawab atas penyimpanan produksi berupa gula dan semua yang
terjadi pada gudang gula.
-

Manager QC (Quality Control)


Bertanggung jawab atas terlaksananya analisa dan pemantauan proses produksi baik
On Farm dan Off Farm. Dan bertanggung jawab kepada General Manager.
Manager QC membawahi beberapa jabatan,anatara lain :
a. Juru Tulis
Bertanggung jawab pada proses pembukuan Manager QC,bisa juga disebut
sebagai Sekertaris Manager yang tugasnya meliputi : permintaan dana,laporan
kerja dan kepentingan lainnya didalam QC.
b.

c.

Asman On Farm (BB)


Bertanggung jawab segala kegiatan diluar produksi atau bisa dikatakan di dalam
perkebunan dan menaksir jumlah kapasitas tebu yang akan diproduksi tebu untuk
1 periode giling.
Asman Off Farm (BO)
Bertanggung jawab segala kegiatan QC dilingkungan Produksi dan memantau
kualitas dan mutu selama produksi sampai menjadi gula.

Manager SDM (Sumber Daya Manusia)


Bertanggung jawab terhadap administrasi di perkantoran dan bertanggung jawab
kepada penerimaan rekrutmen pegawai serta tahapan seleksinya.
Manager SDM membawahi jabatan,yaitu :
a. Asman SDM
Bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mengupayakan bahwa tahapan
rekrutmen dan seleksi karyawan dilaksanakan sesuai dengan pedoman dan bahan
baku teknis yang telah disiapkan.

I.5 Tujuan Praktek Kerja Nyata

Adapun maksud dan tujuan kami melaksanakan kerja praktek ini adalah sebagai
berikut:
1. Dapat mengetahui, mempelajari dan memahami secara langsung sistem manajemen dan
proses produksi di PG Kremboong.
2. Menerapkan kemampuan teoritis yang diperoleh di bangku kuliah.
3. Belajar mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lapangan.
4. Menambah pengalaman praktis yang akan berguna sebagai bekal untuk terjun ke
masyarakat dan dunia kerja.
5. Meningkatkan keahlian dalam ruang lingkup disiplin ilmu teknik kimia.
6. Menganalisa kualitas dan kuantitas suatu produk yang dihasilkan.
7. Dapat membandingkan antara teori-teori tentang manajemen dan proses produksi yang
telah kami dapatkan pada bangku perkuliahan dengan dunia industri, khususnya
pelaksanaan sistem manajemen dan proses produksi yang dilakukan oleh PG
Kremboong.
I.6 Pelaksanaan Praktek Kerja Nyata
Sebagai pelaksana dalam kerja praktek ini adalah mahasiswa Teknik Kimia Institut
Teknologi Nasional Malang, yang beranggotakan :
1. Angel Heruwaty N. S.
12.14.009
2. Lisa Lukita Gunawan
12.14.022
Waktu kegiatan praktek kerja nyata ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan, yaitu
mulai tanggal 27 Juli 28 Agustus 2015.

I.7 Ruang Lingkup Praktek Kerja Nyata


Ruang lingkup dari praktek kerja nyata ini adalah mengumpulkan informasi serta datadata yang berkaitan dengan keberadaan PG Kremboong dan mempelajari proses kimia yang
dilakukan dalam proses produksi PG Kremboong, serta alat-alat yang digunakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Bahan Baku
Bahan baku proses pabrik gula adalah tanaman yang banyak mengandung gula.
Kandungan gula dalam tanaman ini berasal dari hasil proses asimilasi yang terjadi dalam
tanaman ini. Tanaman sebagai bahan baku pabrik gula di Indonesia terutama adalah tebu,
memang ada banyak tanaman yang juga dapat menghasilkan gula seperti kelapa, enau, nipah,
dan lain sebagainya. Tanaman yang paling banyak digunakan sebagai sumber bahan baku
pabrik gula di Indonesia adalah tebu. Tebu adalah tanaman keluarga rumput-rumputan
(graminae) yang mempersyaratkan iklim banyak hujan saat mulai ditanam dan sedikit hujan
pada saat akan dipanen. Kebetulan kondisi ini sesuai dengan iklim di Indonesia yang
memiliki dua macam iklim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Tebu yang
digunakan sebagai bahan baku pabrik merupakan tanaman keturunan hasil persilangan antara
tebu alam dan pimping untuk tumbuhnya juga mempersyaratkan kondisi tanah tempat
tumbuhnya. Maka untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan agar di
tanaman jenis (varietas) tertentu yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim (suhu, angin,
dan intensitas curah hujan) agar didapat hasil gula yang cukup tinggi.
Gula sebagai hasil proses asimilasi disimpan oleh tanaman di dalam cairan sel tebu,
cairan ini di lingkungan pabrik gula disebut nira. Selanjutnya mudah dimengerti bahwa di

dalam nira tanaman ini pasti gula tercampur dengan bahan-bahan lain yang diperlukan dalam
pertumbuhannya (Soejardi, 2003).
Batang tanaman tebu merupakan sumber gula.Namun demikian rendemen/persentase
gula yang dihasilkan hanya berkisar 10-15%. Sisa pengolahan batang tebu adalah :
1. Tetes tebu (molase) yang diperoleh dari tahap pemisahan kristal gula dan masih
mengandung gula 50-60%, asam amino, dan mineral. Tetes tebu adalah bahan baku
bumbu masak MSG, gula cair, dan arak.
2. Putik dan tebu yang diperoleh dari penebangan digunakan untuk pakan ternak dalam
bentuk silase, pelet, dan wafer.
3. Ampas tebu merupakan hasil sampingan dari proses ekstrasi cairan tebu.
Dimanfaatkan sebagai bahan bakar pabrik, bahan industri kertas, particle board dan
media untuk budidaya jamur atau dikompakkan untuk pupuk.
4. Blotong yang merupakan hasil sampingan dari proses penjernihan. Bahan organik ini
dipakai sebagai pupuk (Anonimousa, 2010).
Beberapa masalah yang perlu diperhatikan dan memerlukan tindak lanjut antara lain :
1. Gula yang terdapat dalam tanaman (tebu) merupakan hasil proses asimilasi. Proses
asimilasi hanya dapat dilakukan tanaman terjadi di dalam hijau daun dan bantuan
sinar matahari. Karena terbentuknya gula dengan cara ini maka dapat dikatakan yang
mampu membuat gula hanyalah tanaman dalam hal pabrik gula Indonesia adalah
tanaman tebu, karena itu dalam kegiatan di pabrik gula harus berusaha agar
terbentuknya gula dalam tebu adalah maksimal.
2. Gula yang sudah terbentuk di dalam tebu secara maksimal itu harus diusahakan agar
selama proses di pabrik gula yang sudah terbentuk tersebut tidak hilang maupun
rusak.
Untuk dapat memperoleh hasil sesuai dengan rencana diatas maka perlu diikuti
perkembangan terbentuknya gula di tanaman tebu maupun langkah pabrikasi di dalam
mengambil gula yang sudah terdapat di dalam tebu.Agar gula yang sudah terbentuk
tersebut tidak hilang dan tidak rusak. Karena itu petugas yang menangani kegiatan di
pabrik harus dapat mengikuti proses yang terjadi baik semenjak usaha menghasilkan
gula di dalam tanaman maupun pada saat memisahkan gula dari komponen tebu yang
lain dalam proses pabrikasi (Soejardi, 2003).
Pemerintah pernah menerapkan berbagai kebijakan yang secara langsung ataupun
tidak langsung, berpengaruh terhadap industri gula Indonesia. Kebijakan pemerintah
tersebut mempunyai dimensi yang cukup luas, dari kebijakan input dan produksi,
distribusi dan kebijakan harga. [1]
Table Regim Kebijakan Pergulaan Nasional

Tujuan utama pengolahan tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur yang
tinggi.Hablur adalah gula sukrosa yang dikristalkan. Dalam sistem produksi gula,
pembentukan gula terjadi didalam proses metabolisme tanaman. Proses ini terjadi di lapangan
(on farm). Pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat ekstraksi untuk mengeluarkan
nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi gula kristal (Purwono, 2003).
Setelah tebu dipanen dan diangkut ke pabrik, selanjutnya dilakukan
pengolahan.Pengolahan tebu menjadi gula putih dilakukan di pabrik dengan menggunakan
peralatan yang sebagian besar bekerja secara otomatis. Beberapa tahap pengolahan, yaitu
ekstraksi nira, penjernihan, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan,
pengemasan serta penyimpanan (Tim Penulis, 2000).
Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin
pemeras (mesin press) di pabrik gula.Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring,
dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan
tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse)
dan air (Anonimus(c), 2010).
Dasar pengolahan gula tebu dalam bentuk kristal atau nama umum gula pasir,
prinsipnya memisahkan gula sukrosa dari kotoran-kotoran bukan gula dan air yang untuk
selanjutnya dilakukan pengkristalan. Pada umumnya proses pengolahan gula secara pabrik

digolongkan menjadi beberapa stasiun yang berturut-turut sebagai berikut pertama stasiun
penggilingan, kedua stasiun pemurnian, ketiga stasiun penguapan, keempat stasiun
kristalisasi, kelima stasiun putaran dan keenam stasiun penyelesaian. Masing-masing stasiun
ini mempunyai fungsi dan tugas tersendiri, namun tetap merupakan satu kesatuan yang saling
berkaitan sehingga harus dipahami berbagai aspek operasionalnya, termasuk pengendalian
dan pengawasan prosesnya (Setyohadi, 2006).
Tanaman tebu merupakan salah satu bahan dasar pembuatan gula. Produk olahan
pabrikan dalam bentuk gula kristal atau gula putih. Komposisi nira tebu rata-rata
mengandung sukrosa (10 - 11%), air (2%), zat lain bukan gula (74 76%) dan sabut (14%),
ini tergantung jenis tebu (Setyohadi, 2006).
Bahan baku untuk pengolahan gula yang paling umum digunakan adalah batang
tanaman tebu. Batang tanaman tebu yang masih segar hampir seluruhnya tersusunatas unsur
karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Dari sejumlah itu, kira-kira 75% diantaranya
dalam bentuk air (H2O) dan sisanya dalam bentuk bahan kering.Untuk kepentingan
pengolahan gula, batang tanaman tebu dianggap tersusun atas nira tebu dan ampas. Tujuan
dari pengolahan tebu adalah untuk memisahkan gula atau sukrosa yang terkandung didalam
batang tebu atau umbi tanaman bit gula sebanyak-banyaknya ( Tjokroadikoeoernodan Baktir,
1984).
Bila tebu dipotong, akan terlihat serat-serat dan terdapat cairan yang manis. Serat dan
kulit batang biasa disebut sabut dengan persentase sekitar 12,5% dari bobot tebu. Cairannya
disebut nira dengan persentase 87,5%. Nira terdiri dari air dan bahan kering.[2]
2.2.

1.

Proses Pembuatan Gula


Pembuatan gula dari tebu adalah proses pemisahan sakharosa yang terdapat dalam
batang tebu dari zat-zat lain seperti air, zat organic, sabut. Pemisahan dilakukan secara
bertingkat dengan jalan tebu digiling dalam beberapa mesin penggiling sehingga diperoleh
cairan yang disebut nira.
Nira yang diperoleh dari mesin penggiling dibersihkan dari zat-zat bukan gula dengan
pemanasan dan penambahan zat kimia.Sedangkan ampas digunakan bahan ketel uap.
Pemurnian Nira
Pelaksanaan pemurnian dalam pembuatan gula dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
a. Proses Defekasi
Pemurnian cara Defekasi adalah car pemurnian yang paling sederhana, bahan
pembantu hanya berupa kapur tohor. Kapur tohor hanya digunakan untuk menetralkan
asam-asam yang terdapat dalam nira. Nira yang telah diperoleh dari mesin penggiling
diberi kapur sampai diperoleh harga pH sedikit alkalis ( pH 7,2 ). Nira yang telah
diberi kapur kemudian dipanaskan sampai mendidih. Endapan yang terjadi dipisahkan
b. Proses Sulfitasi
Pada pemurnian cara sulfitasi pemberian kapur berlebihan .Kelebihan kapur ini
dinetralkan kembali dengan gas sulfite.Penambahan gas SO2 menyebabkan SO2
bergabung dengan CaO membentuk CaSO3 yang mengendap.SO2 memperlambat
reaksi antara asam amino dan gula reduksi yang dapat mengakibatkan terbentuknya
zat warna gelap.SO2 dalam larutan asam dapat mereduksi ion ferrri sehingga
menurunkan efek oksidasi.
Pelaksanaan proses sulfitasi adalah sebagai berikut :
Sulfitasi dingin
Nira mentah disulfitasi sampai pH 3,8 kemudian diberi kapur sampai pH 7.
Setelah itu dipanaskan sampai mendidih dan kotorannya diendapkan
Sulfitasi panas

2.

3.

Pada proses sulfitasi terbentuk garam CaSO3 yang lebih mudah larut dalam
keadaan dingin, sehingga waktu dipanaskan akan terjadi endapan pada pipa
pemanas. Untuk mencegah hal ini pelaksanaan proses sulfitasi dimodifikasi
sebagai berkut :
Dimulai dengan nira mentah yang dipanaskan sampai 70-80 0C, disulfitasi,
deberi kapur, dipanaskan sampai mendidih dan akhirnya diendapkan.Pada suhu
kira-kira 750C kelarutan CaSO3 paling kecil.
Pengapuran sebagian dan sulfitasi
Bila dicara sulfitasi panas tidak dapat memberikan hasil yang baik maka dipakai
cara modifikasi berikut : pengapuran pertama sampai pH 8,0 pemanasan sampai
50-700C, sulfitasi sampai pH 5,1 5,3 pengapuran kedua sampai pH 7 7,2
dilanjutkan dengan pemanasan dengan pemanasan sampai mendidih dan
pengendapan. ( E.Hugot , 1960 )
Pelaksanaan sulfitasi dipandang dari sudut kimia dibagi menjadi 3 yaitu :

Sulfitasi Asam
Nira mentah disulfitasi dengan SO2 sehingga dicapai pH nira 3,2. Sesudah
sulfitasi nira diberi larutan kapur sehingga pH 7,0 7,3.

Sulfitasi Alkalis
Pemberian larutan kapur sehingga pH nira 10,5 dan sesudah itu diberi SO2 pH
nira menjadi 7,0 7,3
Sulfitasi netral
Pemberian larutan kapur sehingga pH nira 8,5 dan ditambah gas SO2 pH nira
menjadi 7,0 7,3. ( Halim K , 1973 )

Proses Karbonatasi
c. Proses Karbonat
Cara ini merupakan cara yang paling baik disbanding dengan keduacara diatas.
Sebagai bahan pembantu untuk pemurnian nira adalah susu kapur dan gas CO2.
Pemberian susu kapur berlebihan kemudian ditambah gas CO2 yang berguna utnuk
menetralkan kelebihan susu sehingga kotoran-kotoran yang terdapat dalam nira akan
diikat.
Reaksi : Ca (OH)2 CaCO3 + H2O
Karena terbentuknya endapan CaCO3 banya maka endapan dapat dengan mudah
dipisahkan.( E. Hugot, 1960 )
Penguapan
Nira yang telah mengalami proses pemurnian masih mengandung air, air ini harus
dipisahkan dengan menggunakan alat penguap. Penguapan adalah suatu proses
menghilangkan zat pelarut dari dalam larutan dengan menggunakan panas. Zat pelarut
dalam proses penguapan nira adalah air. Bila nira dipanaskan terjadi penguapan
molekul air. Akibat penguapan, nia akan menjadi kental. Sumber panas yang
digunakan adalah uap panas.Pada pemakaian uap panas terjadilah peristiwa
pengembunan.Sistem penguapan yang dipakai perusahaan gula adalah penguapan
efek banyak.( Soejardi , 1975 )
Pengkristalan
Proses pengkristalan adalah salah satu langkah dalam rangkaian proses di pabrik gula
dimana akan dikerjakan pengkristalan gula dari larutan yang mengandung gula.
Dalam larutan encer jarak antara molekul satu dengan yang lain masih cukup besar.
Pada proses penguapan jarak antara masing-masing molekul dalam larutan tersebut
saling mendekat. Apabila jaraknya sudah cukup dekat masing-masing molekul dapat
saling tarik menarik.Apabila pada saat itu disekitarnya terdapat sakharosa yang

4.

melarut dan molekul sakharosa yang menempel, keadaan ini disebut sebagai larutan
jenuh.
Pada tahap selanjutnya, bila kepekatan naik maka molekul-molekul dalam larutan
akan dapat saling bergabung dan membentuk rantai-rantai molekul sakharosa.
Sedangkan pada pemekatan lebih tinggi maka rantai-rantai sakharosa tersebut akan
dapat saling bergabung pula dan membentuk suatu kerangka atau pola kristal
sakharosa.
Pengeringan
Gula yang keluar dari alat pemutar ditampung dalam alat getar ( talang goyang ).
Talang goyang ini selain berfungsi sebagai alat pengengkut, juga sebagai alat
pengering gula. Pengeringan ini menggunakan udara yang dihembuskan dari bawah,
hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar air dalam gula. Setelah pengeringan gla
dimasukkan dalam karung dan disimpan digudang.[3]
2.3.
Produk Gula
Gula merupakan produk akhir dari pengolahan tebu terdapat dalam bahan kering yang
larut dalam nira. Akan tetapi, bahan kering yang larut juga mengandung bahan bukan tebu.
Jadi dapat dibayangkan betapa kecilnya persentase gula dalam tebu (Tim Penulis, 2000).
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok dan paling banyak dikonsumsi oleh
masyarakat. Sebagai produk makanan tentunya harus memenuhi standar mutu yang telah
ditetapkan sehingga layak untuk dikonsumsi. Gula yang kita konsumsi sehari-hari adalah gula
kristal putih secara internasional disebut sebagai plantation white sugar. GKP dibuat dari
tebu yang diolah melalui berbagai tahapan proses, untuk Indonesia kebanyakan menggunakan
proses sulfitasi dalam pengolahan gula. Kriteria mutu gula yang berlaku di Indonesia (SNI)
saat ini pada dasarnya mengacu pada kriteria lama yang dikenal dengan SHS (Superieure
Hoofd Suiker), yang pada perkembangannya kemudian mengalami modifikasi dan terakhir
SNI 01-3140-2001/Rev 2005 (Kuswurj, 2009).
Berikut ini merupakan kriteria uji syarat mutu gula kristal putih menurut SNI-31402001/Rev 2005 adalah sebagai berikut :
Polarisasi menunjukkan kadar sukrosa dalam gula, semakin tinggi polarisasi semakin
tinggi kadar gulanya. Batasan minimal kadar pol adalah 99,5 %.
Warna kristal dapat dilihat secara langsung dengan mata, secara kualitatif dengan cara
membandingkan dengan standar dapat diketahui tingkat keputihan (whiteness) gula.
Penggunaan peralatan (spektrofotometer refleksi) diperlukan untuk pengukuran
kuantitatif yang dinyatakan dalam CT (colour type). Semakin tinggi nilai CT semakin
putih warna gulanya. Untuk gula GKP kisaran nilai CT sekitar 5 sampai 10. Pada
penentuan premi mutu gula warna kristal ini merupakan salah satu tolak ukur utama
yang menentukan.
Warna larutan gula berkisar dari kuning muda (warna muda) sampai kuning
kecoklatan (warna gelap) diukur dengan metode ICUMSA (International Commission
for Uniform Methods of Sugar Analysis), dinyatakan dalam indeks warna. Semakin
besar indeks semakin gelap warna larutan. Batasan maksimal indeks warna untuk
GKP adalah 300 iu.
Besar jenis butir adalah ukuran rata-rata butir kristal gula dinyatakan dalam milimeter.
Persyaratan untuk GKP adalah 0,8 sampai 1,1 mm.

Kadar SO2 gula produk kita berkisar 5 sampai 20 ppm, ini disebabkan sebagian besar
pabrik gula menggunakan proses sulfitasi, sehingga terdapat residu SO2 seperti pada
kisaran tersebut. Adanya residu SO2 menjadi kendala untuk konsumsi industri
makanan atau minuman, yang biasanya menuntut bebas SO2. Kadar SO2 maksimal
yang diperkenankan di Indonesia adalah 30 ppm.
Kadar air adalah jumlah air (%) yang terdapat dalam gula, biasanya batasan maksimal
0,1%. Gula yang mengandung kadar air tinggi cepat mengalami penurunan
mutu/kerusakan dalam penyimpanan, berubah warna, mencair dan sebagainya.
(Kuswurj, 2009).[2]

2.4.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Keselamatan Kerja Menurut Mathis dan Jackson (2002:245), Keselamatan Kerja
adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang. Tujuan
keselamatan kerja yang efektif diperusahaan adalah mencegah kecelakaan atau cidera yang
terkait dengan pekerjaan. Sedangkan Mondy (2008:82), Keselamatan kerja adalah suatu
perlindungan karyawan dari cidera yang disebabkan oleh kecelakaan yang berkaitaan dengan
pekerjaan. Berbeda dengan pendapat Mangkunegara (2000:161), memberikan pengertian
tentang Keselamatan Kerja karyawan adalah keselamatan kerja menunjukkan kondisi yang
aman atau terhindar dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja yang dapat
menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah
tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendengaran. Dari teori yang dipaparkan dapat
ditarik kesimpulan bahwa Keselamatan Kerja adalah menyangkut tentang kesejahteraan fisik
karyawan agar terhindar dari kecelakaan atau cidera yang terkait dengan pekerjaan. Selain itu
juga menghindari kerusakan atau kerugian di tempat kerja. Dengan adanya Keselamatan
Kerja maka risiko yang terjadi pada saat karyawan bekerja dapat diminimalisir.
Menurut Moenir dalam Mahendra Rahman (2009:13) faktor dari keselamatan kerja
dilihat dari lingkungan kerja secara fisik antara lain:
a.
Penempatan benda atau barang sehingga tidak membahayakan atau mencelakakan
orangorang yang berada ditempat kerja atau sekitarnya.
b.
Perlindungan pada pegawai atau pekerja yang melayani alat-alat kerja yang dapat
menyebabkan kecelakaan, dengan cara memberikan alat-alat perlindungan yang
sesuai dan baik.
c.
Penyediaan perlengkapan yang mampu digunakan sebagai alat pencegahan,
pertolongan, dan perlindungan.
Kesehatan Kerja Menurut pendapat Mondy (2008:82) Kesehatan Kerja mengacu
pada kebebasan dari penyakit fisik maupun emosional. Sedangkan menurut Megginson
dalam Mangkunegara (2000:161), Kesehatan Kerja yaitu suatu kondisi yang menunjukkan
pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan
oleh lingkungan kerja. Selain iu menurut Mathis dan Jackson (2002:245) Pengertian
Kesehatan Kerja adalah merupakan kondisi yang merujuk pada kondisi fisik, mental dan
stabilitas emosi secara umum. Individu yang sehat adalah individu yang bebas dari penyakit,
cidera serta masalah mental dan emosi yang bisa mengganggu aktivitas manusia normal
secara umum. Dari teori yang dipaparkan, maka Kesehatan Kerja lebih merujuk pada
penghindaran dari timbulnya penyakit yang bisa diderita oleh karyawan yang diakibatkan
selama melakukan pekerjaan. Kesehatan Kerja menjamin kesehatan karyawan dari penyakit

yang bisa ditimbulkan sehingga karyawan dapat tetap bekerja sesuai dengan tuntutan dari
perusahaan.
Menurut Manullang dalam Mahendra Rahman (2009:13) faktor dari kesehatan kerja
antara lain adalah:
a. Lingkungan kerja secara medis
Kebersihan lingkungan kerja
Suhu udara dan ventilasi di tempat kerja
Sistem pembuangan sampah dan limbah industri
b. Sarana kesehatan tenaga kerja
Penyediaan air bersih
Sarana olah raga
Sarana kamar mandi dan WC
c. Pemeliharaan kesehatan tenaga kerja
Pelayanan kesehatan tenaga kerja
Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja [4]

BAB III
MANAJEMEN PRODUKSI

Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau
pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata (Brantas, 2009). Sedangkan menurut Massie (1983) menyatakan bahwa
manajemen diartikan sebagai proses yang mengarahkan langkah-langkah kelompok
manunggal menuju tujuan yang sama.
Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan
organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan

pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya (Tisnawati dan Saefullah,
2005). Terry (1978) menyatakan bahwa manajemen adalah usaha-usaha untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.
Terlepas dari segi mana para ahli itu memandang manajemen dan mengemukakan
definisinya, pada hakikatnya setiap definisi itu mengandung dasar falsafah dan unsur-unsur
1.

yang bersamaan yang terletak pada :


Di dalam manajemen terdapat tujuan yang ingin dicapai yang telah ditetapkan terlebih

2.

dahulu (adanya predetermined objectives).


Dalam pencapaian tujuan tersebut manajer tidak selalu mengerjakan sendiri tetapi melalui
pendelegasian wewenang. Kegiatan dilakukan oleh para bawahan berdasarkan hierarki
organisasi dengan mempergunakan orang-orang atau pegawai (kegiatan dilakukan through

3.

the effort of other people).


Dalam proses pencapaian tujuan dilakukan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, bimbingan dan pengawasan sehingga penggunaan faktor-faktor human dan non
human dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien (Brantas, 2009).

A.

Fungsi Manajemen
Menurut Tisnawati dan Saefullah (2005) mengemukakan fungsi dari manajemen
1.

terdiri dari 4 fungsi, yaitu:


Perencanaan atau Planning, proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk
mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan dating dan penentuan strategi dan taktik

2.

yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.


Pengorganisasian atau Organizing, proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik
yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang
tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif dan bisa memastikan
bahwa semua pihak dalam organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian

3.

tujuan organisasi.
Pengimplementasian atau Directing, proses implementasi program agar bisa dijalankan oleh
seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat

4.

menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktivitas yang tinggi.
Pengendalian dan Pengawasan atau Controlling, proses yang dilakukan untuk memastikan
seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan, dan diimplementasikan
bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi

1.

dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.


Sedangkan Brantas (2009) membagi fungsi menajemen ke dalam 5 bagian yaitu:
Planning, menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan
datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan itu.

2.

Organizing, mengelompokkan dan menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan

3.

kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.


Staffing, menentukan keperluan-keperluan sumber daya manusia, pengerahan, penyaringan,

4.
5.

latihan dan pengembangan tenaga kerja.


Motivating, mengarahkan atau menyalurkan perilaku manusia ke arah tujuan-tujuan.
Controlling, mengukur pelaksanaan dengan tujuan-tujuan, menentukan sebab-sebab
penyimpangan-penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan korektif dimana perlu.

B.

Perencanaan (Planning)
1. Pengertian Perencanaan
Perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi,
menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh untuk
mengintegrasikan dan mengkoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya
tujuan organisasi (Robbins, 2000). Sedangkan Massie (1983) menyatakan bahwa perencanaan
adalah fungsi dari manajemen yang telah menentukan secara jelas pemilihan pola-pola
pengarah untuk para pengambil keputusan sehingga terdapat koordinasi demikian banyak
keputusan-keputusan dalam suatu kurun waktu tertentu dan mengarah kepada tujuan-tujuan
yang telah ditentukan.
Selain itu, perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan
memilih tujuan-tujuan, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, program-program
dari alternatif-alternatif yang ada (Koontz, 1980).
Menurut Terry (1978) menyatakan bahwa perencanaan adalah memilih dan
menghubungkan fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang
akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
2. Fungsi dari Perencanaan
Robbins (2000) menjelaskan bahwa paling tidak ada 4 fungsi dari perencanaan, yaitu
perencanaan berfungsi sebagai arahan, perencanaan meminimalkan dampak dari perubahan,
perencanaan meminimalkan pemborosan dan kesia-siaan, serta perencanaan menetapkan
standar dalam pengawasan kualitas.
3. Tipe-tipe Perencanaan
Menurut Handoko (1992) paling sedikit ada 5 dasar pengklasifikasian rencana1.

2.

rencana, sebagai berikut :


Bidang Fungsional
Mencakup rencana produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia. Setiap faktor
memerlukan tipe perencanaan yang berbeda.
Tingkatan Organisasional

Termasuk keseluruhan organisasi atau satuan-satuan kerja organisasi. Teknik-teknik dan isi
3.

4.

perencanaan berbeda untuk tingkatan yang berbeda pula.


Karakteristik-karakteristik (sifat) rencana
Meliputi faktor-faktor kompleksitas, fleksibilitas, keformalan,

kerahasiaan,

biaya,

rasionalitas, kuantitatif dan kualitatif.


Waktu menyangkut rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Semakin lama
rentangan waktu antara prediksi dan kejadian nyata, kemungkinan terjadinya kesalahan

5.

semakin besar.
Unsur-unsur rencana dalam wujud anggaran, program, prosedur, kebijaksanaan, dan
sebagainya. Perencanaan meliputi berbagai tingkatan dan setiap tingkatan merupakan bagian
dari tingkatan yang lebih tinggi.

C.

Organisasi (Organizing)
1. Pengertian Organisasi
Sutarto (1995) mendefinisikan organisasi sebagai kumpulan orang, proses pembagian
kerja, dan sistem kerja sama atau sistem sosial. Sedangkan Tisnawati dan Saefullah, 2005
menyatakan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama dalam struktur
dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu.
2. Asas-asas Organisasi
Menurut Brantas (2009) terwujudnya suatu organisasi yang baik, efektif, efisien serta
sesuai dengan kebutuhan, secara selektif harus didasarkan pada asas-asas (prinsip-prinsip)
1.

organisasi sebagai berikut :


Principle of organizational objectives
Menurut asas ini tujuan organisasi harus jelas dan rasional, apa bertujuan untuk mendapatkan
laba (business organization) ataukah untuk memberikan pelayanan (public organization). Hal

2.

ini merupakan bagian penting dalam menentukan struktur organisasi.


Principle of unity of objectives
Menurut asas ini, di dalam suatu organisasi (perusahaan/lembaga) harus ada kesatuan tujuan
yang ingin dicapai. Organisasi secara keseluruhan dan tiap-tiap bagiannya harus berusaha

3.

untuk mencapai tujuan tersebut. Organisasi akan kacau, jika tidak ada kesatuan tujuan.
Principle of unit command
Menurut asas ini, hendaknya setiap bawahan menerima perintah ataupun memberikan
pertanggungjawaban hanya kepada satu orang atasan, tetapi seorang atasan dapat memerintah

4.

beberapa orang bawahan.


Principle of the span of management
Menurut asas ini, seorang manajer hanya dapat memimpin secara efektif sejumlah bawahan
tertentu, misalnya 3 sampai dengan 9 orang. Jumlah bawahan ini tergantung kecakapan dan

5.

kemampuan manajer bersangkutan.


Principle of delegation authority

Menurut asas ini, hendaknya pendelegasian wewenang dari seorang atau sekelompok orang
6.

kepada orang lain jelas dan efektif, sehingga ia mengetahui wewenangnya.


Principle of parity of authority and responsibility
Menurut asas ini, hendaknya weweang dan tanggung jawab harus seimbang. Wewenang yang
didelegasikan dengan tanggung jawab yang timbul karenanya harus sama besarnya,
hendaknya wewenang yang dididelegasikan tidak meminta pertanggungjawaban yang lebih
besar dari wewenang itu sendiri atau sebaliknya.

7.

Principle of responbility
Menurut asas ini, hendaknya pertanggungjawaban dari bawahan terhadap atasan harus sesuai
dengan garis wewenang (line authority) dan pelimpahan wewenang. Seseorang hanya

8.

bertanggung jawab kepada orang yang melimpahkan wewenang tersebut.


Principle of departmentation
Menurut asas ini, pengelompokan tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan, atau kegiatan-kegiatan
yang sama ke dalam satu unit kerja (departemen) hendaknya didasarkan atas eratnya

9.

hubungan pekerjaan tersebut.


Principle of personal placement
Menurut asas ini, hendaknya penempatan orang-orang pada setiap jabatan harus didasarkan
atas kecakapan, keahlian, dan keterampilannya. Efektivitas organisasi yang optimal
memerlukan penempatan karyawan yang tepat. Untuk itu harus dilakukan seleksi yang

objektif dan berpedoman atas job specification dari jabatan yang akan diisinya.
10. Principle of scalar chain
Menurut asas ini, hendaknya saluran perintah atau wewenang dari atas ke bawah harus
merupakan mata rantai vertikal yang jelas dan tidak terputus-putus serta menempuh jarak
terpendek.
11. Principle of efficiency
Menurut asas ini, suatu organisasi dalam mencapai tujuannya harus dapat mencapai hasil
yang optimal denga pengorbanan yang minimal.
12. Principal of continuity
Organisasi harus mengusahakan cara-cara untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
13. Principle of coordination
Asas ini merupakan tindak lanjut dari asas-asas organisasi lainnya. Koordinasi dimaksudkan
untuk mensinkronkan dan mengintegrasikan segala tindakan, supaya terarah kepada sasaran
yang ingin dicapai.
3. Struktur Organisasi
Hasibuan, 2001 menjelasakan bahwa struktur organisasi adalah suatu gambar yang
menggambarkan tipe organisasi. Pendepartemenan organisasi kedudukan dan jenis wewenang

pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali
dan sistem pimpinan organisasi.

1.

Suatu struktur organisasi akan memberikan informasi tentang :


Tipe Organisasi, artinya struktur organisasi akan memberikan informasi tentang tipe

2.

organisasi yang dipergunakan perusahaan.


Pendepartemenan organisasi, artinya struktur organisasi akan memberikan informasi

3.

mengenai dasar pendepartemenan (bagian).


Kedudukan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai apa seseorang

4.

termasuk kelompok manajerial atau karyawan operasional.


Jenis wewenang, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang wewenang yang

5.

dimiliki seseorang.
Rentang kendali, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai jumlah

6.

karyawan dalam setiap departemen (bagian).


Manajer dan bawahan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai garis

7.

perintah dan tanggung jawab.


Tingkatan manajer, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang top manager,

8.

middle manager, dan lower manager.


Bidang pekerjaan, artinya setiap kotak dalam struktur organisasi memberikan informasi
mengenai tugas-tugas dan pekerjaan-perkerjaan serta tanggung jawab yang dilakukan pada

9.

bagian tersebut.
Tingkatan manajemen, artinya sebuah bagan tidak hanya menunjukkan manajer dan bawahan

secara perorangan, tetapi juga hierarki manajemen secara keseluruhan.


10. Pimpinan organisasi, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang apa pimpinan
tunggal atau pimpinan kolektif, atau presidium.
D.

Pelaksanaan/Penggerakan (Actuating)
Menurut Terry (1978) memberikan definisi penggerakan adalah membuat semua
anggota kelompok agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk
mencapai sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian sedangkan Koontz,
1980 menyatakan penggerakan adalah hubungan antara aspek-aspek individu yang
ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawah-bawahan untuk dapat dimengerti dan
pembagian pekerjaan yang efektif dan efisien untuk tujuan perusahaan yang nyata.
Jadi, penggerakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk membimbing,
mengarahkan, mengatur segala kegiatan usaha. Agar proses penggerakan berjalan efektif,
merupakan suatu keharusan bagi seorang manajer untuk memahami perilaku manusia,
sehingga dapat memimpin organisasi dengan baik, menjalankan komunikasi dengan efektif,

dapat memberikan motivasi yang tepat serta dapat menciptakan hubungan yang harmonis
dengan bawahan (Brantas, 2009).
E.

Pengawasan/Pengontrolan (Controlling)
1. Pengertian Pengawasan
Koontz (1980) menjelaskan bahwa pengawasan adalah pengukuran dan perbaikan
terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai
tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara. Sedangkan Terry (1978) menyatakan bahwa
pengawasan dapat didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai, yaitu
standar, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu
melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras
dengan standar.
2. Tujuan Pengawasan
Menurut Brantas (2009) mengemukakan bahwa tujuan pengawasan adalah sebagai
berikut: (1) Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
rencana; (2) Melakukan tindakan perbaikan (corrective), jika terdapat penyimpanganpenyimpangan (deviasi); (3) Supaya tujuan yang dihasilkan sesuai dengan rencananya; (4)
Menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan,
hambatan, dan ketidakadilan; (5) Mencegah terulangnya kembali kesalahan, penyimpangan,
penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan; (6) Mendapatkan cara-cara yang
lebih baik atau membina yang lebih baik; (7) Menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran,
partisipasi, dan akuntabilitas organisasi; (8) Meningkatkan kelancaran operasi organisasi; (9)
Meningkatkan kinerja organisasi; (10) Memberikan opini atas kinerja organisasi; (11)
Mengarahkan manajemen untuk melakukan koreksi atas masalah-masalah pencapaian kinerja
yang ada; (12) Menciptakan terwujudnya pemerintahan yang bersih.
3. Asas-asas Pengawasan
Koontz (1980) mengemukakan asas-asas pengawasan yaitu :
1. Principle of assurance of objective
Pengawasan harus ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan
2.

untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari rencana.


Principle of efficiency of control
Pengawasan itu efisien, jika dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga tidak
menimbulkan hal-hal lain yang di luar dugaan.

3.

4.

Principle of control responsibility


Pengawasan hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
rencana.
Principle of future control

Pengawasan yang efektif harus ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan-penyimpangan


5.

yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang.
Principle of direct control
Teknik control yang paling efektif ialah mengusahakan adanya manajer bawahan yang
berkualitas baik. Pengawasan itu dilakukan oleh manajer, atas dasar bahwa manusia itu sering

6.

berbuat salah.
Principle of reflection plans
Pengawasan harus disusun dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan

7.

rencana.
Principle of organization suitability
Pengawasan harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi. Manajer dengan bawahannya
merupakan sarana untuk melaksanakan rencana. Dengan demikian pengawasan yang efektif
harus disesuaikan dengan besarnya wewenang manajer, sehingga mencerminkan struktur

8.

organisasi.
Principle of individual of control
Pengawasan dan teknik pengawasan harus sesuai dengan kebutuhan manajer. Teknik

9.

pengawasan harus ditujukan terhadap kebutuhan-kebutuhan akan informasi setiap manajer.


Principle os standard
Pengawasan yang efektif dan efisien memerlukan standar yang tepat yang akan dipergunakan

sebagai tolok ukur pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.


10. Principle of strategic point control
Pengawasan yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap
faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
11. The exception principle
Efesiensi dalam pengawasan membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor
kekecualian. Kekecualian ini dapat terjadi dalam keadaan tertentu ketika situasi berubah atau
tidak sama.
12. Principle of flexibility of control
Pengawasan harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
13. Principle of review
Sistem pengawasan harus ditinjau berkali-kali, agar sistem yang digunakan berguna untuk
mencapai tujuan.
14. Principle of action
Pengawasan dapat dilakukan apabila ada ukuran-ukuran untuk mengkoreksi penyimpanganpenyimpangan rencana, organisasi, staffing, dan directing.
4. Jenis-jenis Pengawasan
Menurut Brantas, 2009 menjelaskan bahwa ada beberapa jenis pengawasan antara lain
1.

sebagai berikut :
Pengawasan Karyawan

Pengawasan ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan.
Misalnya apakah karyawan bekerja sesuai dengan rencana, perintah, tata kerja, disiplin,
2.

absensi, dan sebagainya.


Pengawasan Keuangan
Pengawasan tersebut ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut keuangan, tentang

3.

pemasukan dan pengeluaran, biaya-biaya perusahaan termasuk pengawasan anggarannya.


Pengawasan Produksi
Pengawasan ini ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan,

4.

apakah sesuai dengan standar atau rencana.


Pengawasan Waktu
Pengawasan ini ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya apakah waktu untuk

5.

mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak dengan rencana.


Pengawasan Teknis
Pengawasan ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang berhubungan dengan

6.

tindakan dan teknis pelaksanaan.


Pengawasan Kebijaksanaan
Pengawasan ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai, apakah kebijaksanaan-

7.

kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan.


Pengawasan Penjualan
Pengawasan ini ditujukan untuk mengetahui, apakah program atau jasa yang dihasilkan
terjual sesuai dengan target yang ditetapkan.

8.

9.

Pengawasan Inventaris
Pengawasan ini ditujukan untuk mengetahui, apakah inventaris perusahaan masih ada
semuanya atau ada yang hilang.
Pengawasan Pemeliharaan
Pengawasan ini ditujukan untuk mengetahui, apakah semua inventaris perusahaan dan kantor
dipelihara dengan baik atau tidak, dan jika ada yang rusak apa kerusakannya, apa masih dapat
diperbaiki atau tidak.

5. Cara-cara Pengawasan
Brantas (2009) menjelaskan bahwa seorang manajer harus mempunyai berbagai cara
untuk memastikan bahwa semua fungsi manajemen dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat
diketahui melalui proses kontrol atau pengawasan. Cara-cara pengawasan atau pengawasan
1.

ini dilakukan sebagai berikut:


Pengawasan Langsung
Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh
seorang manajer. Manajer memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui

2.

apakah dikerjakan dengan benar dan hasil-hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.
Pengawasan Tidak Langsung

Pengawasan jarak jauh, artinya dengan melalui laporan yang diberikan oleh bawahan.
Laporan ini dapat berupa lisan atau tulisan tentang pelaksanaan perkerjaan dan hasil-hasil
3.

yang telah dicapai.


Pengawasan Berdasarkan Pengecualian
Pengawasan yang dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar biasa dari hasil atau
standar yang diharapkan. Pengawasan semcam ini dilakukan dengan cara kombinasi langsung
dan tidak langsung oleh manajer.

6. Sifat dan Waktu Pengawasan


Menurut Brantas (2009) menjelaskan bahwa ada beberapa sifat dan waktu
1.

pengawasan antara lain sebagai berikut :


Preventive Control
Pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dilakukan untuk menghindari terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya. Preventive control dilakukan dengan
cara: (1) Menentukan proses pelaksanaan pekerjaan; (2) Membuat peraturan dan pedoman
pelaksanaan pekerjaan itu; (3) Menjelaskan dan atau mendemonstrasikan cara pelaksanaan
pekerjaan itu; (4) Mengorganisasi segala macam kegiatan; (5) Menentukan jabatan, job
description, authority, dan responsibility bagi setiap individu karyawan; (6) Menetapkan
sistem koordinasi pelaporan dan pemeriksaan; (7) Menetapkan sanksi-sanksi bagi karyawan

2.

yang membuat kesalahan.


Repressive Control
Pengawasan yang dilakukan setelah terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, dengan maksud
agar tidak terjadi pengulangan kesalahan, sehingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
Repressive control ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Membandingkan antara
hasil dengan rencana; (2) Menganalisis sebab-sebab yang menimbulkan kesalahan dan
mencari tindakan perbaikannya; (3) Memberikan penilaian terhadap pelaksanaannya; jika
perlu dikenakan sanksi hukuman kepadanya; (4) Menilai kembali prosedur-prosedur
pelaksanaan yang ada; (5) Mengecek kebenaran laporan yang dibuat oleh petugas pelaksana;
(6) Jika perlu meningkatkan keterampilan atau kemampuan pelaksana melalui training atau

3.
4.

education.
Pengawasan saat proses dilakukan, jika terjadi kesalahan segera diperbaiki.
Pengawasan berkala, adalah pengawasan yang dilakukan secara berkala, misalnya per bulan,

5.

per semester, dan lain-lain.


Pengawasan mendadak (sidak), adalah pengawasan yang dilakukan secara mendadak untuk
mengetahui apa pelaksanaan atau peraturan-peraturan yang ada dilaksanakan atau tidak
dilaksanakan dengan baik. Pengawasan mendadak ini sekali-sekali perlu dilakukan, supaya
kedisiplinan karyawan tetap terjaga baik.

6.

Pengamatan melekat adalah pengawasan yang dilakukan secara integratif mulai dari
sebelum, pada saat, dan sesudah kegiatan dilakukan.

7. Macam-macam Pengawasan
Menurut Brantas (2009) pengawasan dikenal atas beberapa macam, yaitu :
1. Internal Control
Pengawasan yang dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya. Cakupan dari
pengawasan ini meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, prosedur kerja,
kedisiplinan karyawan, dan lain-lainnya. Audit control, adalah pemeriksaan atau penilaian
atas masalah-masalah yang berkaitan dengan pembukuan perusahaan. Jadi, pengawasan atas
masalah khusus, yaitu tenatang kebenaran pembukuan suatu perusahaan.

2.

External Control
Pengawasan yang dilakukan oleh pihak luar. Pengawasan intern ini dapat dilakukan secara
formal atau informal, misalnya pemeriksaan pembukuan oleh kantor akuntan dan penilaian

3.

yang dilakukan oleh masyarakat.


Formal Control
Pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi atau pejabat resmi dan dapat dilakukan secara
intern maupun ekstern. Misalnya: Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa

4.

Keuangan (BPK) terhadap BUMN dan lain-lainnya.


Informal Control
Penilaian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik langsung maupun tidak
langsung.

8. Alat-alat Pengawasan
Brantas (2009) menjelaskan bahwa ada beberapa alat yang dapat dipergunakan untuk
1.

melakukan fungsi pengawasan adalah:


Budget (Anggaran)
Budget adalah suatu ikhtisar hasil yang akan diharapkan dari pengeluaran yang disediakan
untuk mencapai hasil tersebut. Pengendalian budget (budgetary control) dapat diketahui
(diawasi), apakah hasil yang diharapkan dari penerimaan atau pengeluaran itu sesuai dengan
yang diinginkan atau tidak.
Hal ini dapat diketahui dengan cara membandingkannya dengan budget, karena dalam
anggaran telah ditetapkan jumlah penerimaan, jumlah pengeluaran serta hasil yang akan
diperoleh untuk masa yang akan datang. Apabila tidak sesuai dengan anggaran baik
penerimaan/pengeluaran maupun hasil yang diperoleh, maka perusahaan itu tidak efektif
karena terdapat penyimpangan (deviasi) dan pimpinan perusahaan harus mengadakan
perbaikan.

Budgetary control biasanya digunakan sehubungan dengan kontrol basis yang bersifat
fungsional yaitu penjualan, produksi dan pembelian dan tidak terhadap control basis yang
bersifat fakturil, misalnya kualitas, biaya waktu.
2. Non Budget
a. Personal Observation
Pengawasan langsung secara pribadi oleh pimpinan perushaan terhadap karyawan/bawahan
yang sedang bekerja. Apabila terjadi penyimpangan maka pimpinan dapat segera melakukan
koreksi dengan cara menegur atau memberikan petunjuk, sehingga pada saat itu juga kegiatan
tersebut dapat segera diperbaiki.
b. Report
Laporan dibuat oleh para manajer bawahan, misalnya manajer produksi menyusun laporan
produksi (production reports), manajer pemasaran (marketing reports), manajer personal
membuat laporan personal (personal reports) dan manajer keuangan membuat laporan
keuangan (financial reports). Berdasarkan laporan-laporan ini dapat diketahui dan diawasi
perkembangan dan kegiatan-kegiatan ini dapat diketahui dan diawasi perkembangan dan
kegiatan-kegiatan yang lampau. Tetapi jika terjadi penyimpangan tidak dapat segera diketahui
sehingga perbaikan akan terlambat. Hal ini merupakan suatu kelemahan alat pengawasan dan
apabila dibandingkan dengan personal observation, yang dapat dengan segera mengadakan
perbaikan terhadap penyimpangan yang ada.
c. Financial Statement
Daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari balance sheet dan income statement
(neraca dan daftar rugi laba). Dari kedua daftar ini dapat diketahui dan diawasi melalui
analisis laporan keuangan, mengenai keadaan permodalan perusahaan.
d. Statistik
Proses pengumpulan data, keterangan dan kejadian yang telah berlalu. Menganalisis data
tersebut dan menyajikannya dalam bentuk-bentuk tertentu, misalnya grafik-grafik, kurvakurva sehingga dapat memudahkan pimpinan mengetahui kejadian yang telah berlalu dan
dapat dengan mudah pula dijadikan informasi sebagai bahan dalam mengambil keputusan.
e. Break even point
Suatu titik atau keberadaan ketika jumlah penjualan tertentu tidak mendapat laba ataupun
rugi. Jadi, jumlah biaya sama dengan jumlah penjualan.
f. Internal audit
Pengawasan yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan yang meliputi bidang-bidang
kegiatan secara menyeluruh yang menyangkut masalah keuangan, apakah sesuai dengan
prosedur dan praktik yang telah ditetapkan.

BAB IV
PROSES PRODUKSI, LABORATORIUM DAN QUALITY CONTROL
4.1. Proses Produksi
Pabrik Gula Kremboong menghasilkan produk utama gula Kristal putih dan hasil
sampingnya adalah ampas untuk bahan bakar boiler dan tetes, sedangkan limbahnya adalah
blotong. Proses produksi pada dasarnya adalah salah satu pengolahan bahan baku tebu
menjadi gula. Garis besar proses pembuatan gula dari bahan baku tebu menjadi gula kristal
terdiri dari 5 tahapan proses, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Stasiun gilingan
Stasiun pemurnian
Stasiun penguapan
Stasiun masakan
Stasiun puteran

Pada PG Kremboong proses tersebut dibagi dalam stasiun penerimaan, stasiun


timbangan, stasiun gilingan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan, stasiun masakan, stasiun
puteran, stasiun pembungkusan.
4.1.1.
Pengadaan bahan baku
Bahan baku PG Kremboong yang digunakan adalah tebu yang berasal dari petani 90%
dan dari industry atau pabrik 10%. Untuk memenuhi kebutuhan pabrik, tebu didatangkan dari
luar yaitu dari Malang, Lumajang, Mojokerto, Krembung, Sidoarjo, Jember dan Madura.
Kualitas bahan baku pembuat gula atau tebu di PG Kremboong rata-rata memiliki kualitas C,
yang mana ada sogolan, ada daduk, ada pucukan, ada akar, ada tanah.
4.1.2.

Stasiun penerimaan

Truk tebu yang masuk PG Kremboong harus ditempatkan dulu dipenampungan truk
tebu sementara sebelum masuk ke stasiun penggilingan yang disebut emplacement.
Emplacement merupakan suatu tempat penimbunan pengaturan tebu yang ditimbang dan
digiling. Adanya emplacement diharapkan dapat meningkatkan kelancaran proses
penimbangan dan penggilingan tebu. Pada PG Kremboong terdapat dua emplanement yaitu:
a. Emplacement dalam yaitu tempat penampungan truk bermuatan tebu yang terletak di area
depan pabrik.
b. Emplacement luar yaitu tempat penampungan yang terdapat dibagian luar pabrik tepatnya
di area pabrik bagian depan.
Pemasukan tebu dari emplacement luar menggunakan truk dan lori. Di PG Kremboong
truk yang beroperasi sebanyak 350 482, sedangkan lori yang broperasi sebanyak 240.
Pemasukan tebu dari emplacement menggunakan system FIFO (First In First Out)
dimana jadwal masuknya tebu untuk ditimbang dan digiling sesuai dengan masuknya tebu ke
emplacement. Diberlakukannya system FIFO ini bertujuan untuk menjaga rendemen tebu

agar tetap baik. Selain itu, juga untuk menjaga tebu dari pengaru sinar matahari yang dapat
menyebabkan inversi sakarosa pada tebu dan air hujan dapat menyebabkan timbulnya tunas
tebu sehingga dapat menurunkan kadar sakarosa dalam tebu. Setiap truk yang mengangkut
tebu harus membawa Surat Perintah Tebang dan Angkut (SPTA) dari supplier tebu yang telah
memiliki kode registrasi. Pemegang kode registrasi adalah pemilik atau pengirim tebu yang
telah terdaftar di PG Kremboong. SPTA merupakan lembar rangkap lima yang berbeda
warna, yaitu:
-

Lembar 1 (putih) : arsip PDE


Lembar 2 (hijau) : arsip sopir
Lembar 3 (biru) : arsip bina wilayah
Lembar 4 (kuning) : arsip pabrikasi
Lembar 5 (merah) : arsip bagian tebang dan angkut (penerimaan)

Bahan baku yang masuk proses produksi gula harus memiliki kualitas baik, yaitu tebu
layak giling yang memiliki standart MBS, yaitu:
-

M (manis) : tebu harus memiliki % Brix yang tinggi atau lebih dari 15% hal ini dapat

diketahui dari kadar % Brix yang terukur.


B (bersih) : tebu yang masuk tidak mengandung trash yang terdiri dari daduk, akar,
tanah, pucuk/sogolan, pasir dan kerikil karena dapat menurunkan kapasitas gilingan dan

akan menyulitkan proses pemurnian bila terdapat koloid tanah (Al, Se, Fe).
S (segar) : waktu antara tebu ditebang dan digiling tidak lebih dari satu hari dan
maksimal 4 hari setalah panen.

Analisa MBS ini dilakukan di emplacement agar tebu yang masuk ke unit gilingan
adalah tebu yang sudah memenuhi standart MBS PG Kremboong program ini, diterapkan
oleh PG Kremboong, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas tebu, membuat pemasok
tebu harus lebih selektif dalam mengirimkan tebunya. Dalam program ini, apabila tebu yang
masuk dan mempunyai kualitas lebih rendah dari standart maka akan dikenakan refraksi atau
rendemen kusus.
4.1.3.
Stasiun timbangan
Tujuan:
Untuk mengetahui berat tebu yang masuk, serta bahan-bahan non tebu yang keluar. Ada
tiga unit timbangan yang digunakan di PG Kremboong. Timbangan yang beroperasi, yaitu:
a. Timbangan truk tebu biasa dan truk tebu gandeng, berfungsi untuk mengukur berat tebu
yang masuk dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:
Bruto
: berat truk + tebu
Tarra
: berat truk
Netto (berat tebu) : bruto tarra
Jumlah truk tebu yang ditimbang dengan menggunakan timbangan kurang lebih 350 482
truk/per hari dengan bobot muatan rata-rata 6 -10 ton
b. Timbangan truk non tebu, berfungsi untuk mengukur berat bahan non tebu yang keluar
masuk. Bahan-bahan itu diantaranya tetes(molasses), abu, besi, residu premium
solar(minyak residu), belerang, kapur tohor, asam phospat, dan soda. Bobot maksimal

timbangan ini adalah 40 ton dengan bilangan terkecil 5 kg. timbangan ini memakai system
timbangan dua kali, yaitu timbangan bruto dan tarra.
4.1.4.
Stasiun gilingan
Tujuan:
Mengambil gula yang ada di dalam tebu sebanyak mungkin dengan cara yang lebih
efisien, efektif, dan ekonomis dan memisahkan ampas dengan nira yang sebanyakbanyaknya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemerahan nira di stasiun ini antara lain
sebagai berikut:
- Kwalitas tebu
- Persiapan tebu sebelum masuk gilinan
- Air imbibisi
- Derajat kompresi terhadap ampas
- Jumlah roll gilingan
Mekanisme proses penggilingan
Tebu yang telah ditimbang, kemudian tebu dibongkar dan diangkut dengan cane
unloading dan selanjutnya dimasukkan ke dalam meja tebu (cane table) untuk diatur dan
diarahkan ke proses penggilingan. PG Kremboong menggunakan 1 buah cane unloading.
Tebu-tebu tersebut diangkut oleh cane carrier dengan kecepatan putar 1425 rpm
menuju cane cutter dengan kecepatan putar 500 rpm. Cane cutter merupakan alat yang
digunakan untuk memotong, memecah, dan menyayat tebu, agar sel-sel tebu menjadi terbuka
sehingga tebu mudah diperah. PG Kremboong memiliki dua buah cane cutter dengan
kecepatan putar yang sama yaitu 600 rpm. Jarak cane cutter 1 dengan lantai yaitu 20 cm
dengan mata pisau sebanyak 68 buah. Tebu yang keluar dari cane cutter ukurannya masih
kasar sehingga perlu penanganan lebih lanjut dengan menggunakan Unigrator agar cacahan
tebu dari cane cutter ukurannya menjadi lebih halus sehingga mempermudah dalam proses
pemerahan nira. Pada alat ini terdapat bagian yang berbentuk seperti palu, yang bekerja
sebagai penumbuk cacahan tebu. Putaranny berkisar 745 1500 rpm.
Setelah tercacah, tebu dibawa ke dalam gilingan. Terdapat 4 buah rangkaian mesin
giling dengan kapasitas gilingan 1100 ton/hari. Cacahan tebu yang pertama kali dimasukkan
ke gilingan 1, menghasilkan nira perahan dan ampas gilingan 1. Kecepatan putar gilingan 1
berkisar 4600 rpm. Nira adalah cairan hasil ekstraksi tebu yang mengandung gula, sedangkan
ampas adalah padatan sisa gilingan tebu yang telah kehilangan gula. Kemudian ampas
tersebut diangkut dengan menggunakan IMC (Intermediate Carrier) menuju gilingan 2.
Ampas dari gilingan 1 langsung masuk ke gilingan 2 dengan menggunakan
intermediate carrier 2. Ampas sebelum masuk ke gilingan 2 ditambahkan nira hasil dari
gilingan 3, kemudian nira hasil gilingan 2 ditampung bersama dengan nira hasil perahan pada
gilingan 1. Hasil perahan dari gilingan 2 disebut nira perahan 2 (N 2), sedangkan ampas yang
dihasilkan disebut ampas 2 (A2). Kecepatan putar turbin gilingan 2 berkisar 3800 rpm. Nira

perahan dari gilingan 1 dan 2 langsung ditampung di bak untuk dipompa ke saringan DMS
Screen dan dialirkan ke tangki nira mentah yang selanjutnya dibawa ke stasiun pemurnian
untuk diproses. Ampas dari gilingan 2 diteruskan ke gilingan 3 yang sebelumnya telah
dibasahi dengan nira perahan gilingan 4. Di gilingan 3 juga dihasilkan ampas dan nira
perahan 3. Kecepatan putar turbin gililingan 3 berkisar 4400 rpm. Niranya digunakan untuk
membasahi ampas gilingan 1.
Ampas gilingan 3 dibasahi dengan air imbibisi yang kemudian ampas dari gilingan 3
dibawa ke gilingan 4. Kecepatan putaran pada gilingan 4 yaitu 400 rpm. Ampas hasil gilingan
4, dikirim ke stasiun ketel sebagai bahan bakar ketel
Air imbibisi yang ditambahkan pada ampas bertujuan untuk menyempurnakan ekstraksi
nira dari cacahan tebu dan juga untuk menekan kehilangan gula di dalam ampas. Air imbibisi
yang digunakan berasal dari air kondensat yang dihasilkan evaporator dan bersuhu 60-70 C
(merupakan suhu optimum air imbibisi). Apabila suhunya terlalu tinggi, maka akan merusak
alat dan dapat melarutkan getah lilin yang terkandung dalam tebu, sehingga terbentuk zat lilin
(menjadi lilin). Namun, dengan suhu tinggi dapat melarutkan nira yang ada, sedangkan pada
suhu rendah nira yang terkandung dalam ampas tidak larut.

Cane Truck

Cane unloading

Cane carier

Cane Table

Berikut Diagram alir pada proses penggilingan tebu menjadi gula di stasiun
penggilingan :
Cane cutter

Unigrator

Gilingan I

Gilingan II

Gilingan III

Gilingan IV

Air Imbibisi

Nira
Mentahnira mentah
Saringan

Tangki Nira Mentah

Stasiun Pemurnian

Ketel

Gambar 4.1. Diagram Alir StasiunGilingan PG. Kremboong

4.1.5.

Stasiun pemurnian

Tujuan:
Stasiun ini bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran bukan gula yang terkandung
dalam nira mentah, sehingga diperoleh nira bersih yang dinamakan nira encer atau nira jernih
dengan prinsip pengendapan.
Pada proses ini diperoleh kotoran padat yang dinamakan blotong yang mana dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk. Karena dalam nira banyak mengandung kotoran atau zat-zat
bukan gula maka untuk mendapatkan Kristal gula dari nira maka kotoran atau komponen
bukan gula harus dipisahkan terlebih dahulu pada stasiun pemurnian.
Proses Pada Stasiun Pemurnian :
Nira yang telah disaring di DSM Screen kemudian dialirkan ke tangki nira mentah.
Langka selanjutnya adalah penambahan phospat H3PO4 dan susu kapur. H3PO4 sampai
kadarnya dalam nira mentah mencapai 300 ppm tetapi pada kenyatannya penambahan
phospat hanya mencapai kurang lebih 180 ppm yang dikarenakan biaya yang dibutuhkan utuk
mencapai kondisi optimum terlalu tinggi, tujuan penambahan phospat H3PO4 yaitu:
-

menyerap koloid dan zat warna


menurunkan kadar susu kapur nira
melunakkan kerak evaporator
mempermudah proses pengendapan (pembentukan flok), sehingga nira yang dihasilkan
lebih jernih.

Larutan H3PO4 (asam phosphat) akan ditambahkan apabila kandungan phosphate di


dalam tebu kurang dari 300 ppm, apabila kandungan phosphatnya lebih, maka tidak akan
terjadi penambahan asam phosphat, jadi tergantung pada kualitas nira tersebut . Penambahan
susu kapur juga untuk menaikan PH nira, karena jika nira terlalu asam maka akan susah
mengkristal. Kemudian, nira dipompa menuju PP I (pemanas pendahuluan) atau yang dapat
disebut Pre-Heater. Pada PP I nira akan dipanaskan dengan suhu sekitar 70-80 C denga n
steam yang dihasilkan oleh boiler, dengan tujuan mempercepat proses penggumpalan koloid,
membantu reaksi antara komponen nira mentah dengan sakarat(campuran susu kapur
dengan nira kental) dan membunuh bakteri pathogen. Setelah dipanaskan, nira tersebut akan

menuju reactor berpengaduk, dimana di dalam reaktorberpengaduk akan terjadi


pencampuran antara nira, belerang dan susu kapur.
Dalam reactorberpengaduk ini belerang dan susu kapur akan di campurkan dengan nira
secara bersamaan sampai mencapai PH netral atara 6,9 sampai 7,2. Dalam reactor
berpengaduk susu kapur akan dimasukan dari atas dan belerang yang berupa gas akan
disemprotkan dari bawa, hal ini dilakukan agar pencampuran atara nira susu kapur dan
belerang menjadi homogen. SO2atau belerang bertujuan untuk mempercepat pemisahan
antara kotoran dengan nira menggunakan gas SO2 dengan proses absorbsi, penambahan
belerang juga bertujuan untuk menetralkan, belerang yang bersifat asam akan netral jika di
campurkan dengan basa dengan konsentrasi tertentu. Sebelum masuk reactorberpengaduk
susu kapur akan dipanaskan dan dicampurkandengan air panas kemudian diaduk dengan alat
pengaduk, setelah didapatkan cairannya, cairan tersebut akan melewati saringan, dari
saringan tersebut akan diambil larutan susu kapurnya, kemudian dicampurkan dengan nira
kental dari gilingan, campuran antara nira kental dengan susu kapur disebut dengan sakarat,
sakarat yang telah dicampur harus memiliki standar pH sekitar 11-12 (keadaan basa). Dalam
pemeberian sakarat juga harus mengetahui kapasitas giling dari nira mentah yang ada.
Gas SO2 ini didapatkan dari pemanasan belerang di alat rotary sulfur burner, alat ini
berfungsi mencampurkan udara dengan belerang (sulfur) dengan prinsip kerja berputar,
kemudian setelah didapatkan gas belerang, gas ini akan dihantarkan dengan bantuan screw
yang berada di dalam sublimator, ke rector.Gas belerang ini akan bergerak dari bawah alat
menuju ke atas alat dengan bantuan blower, SO 2atau belerang akan bereaksi dengan H2O atau
air menjadi H2SO3atau asam sulfit. Nira yang terdapat di dalam alat ini akan bergerak dari
atas menuju ke bawah alat dan akan terabsorbsi sempurna oleh gas belerang. Hal ini
dikarenakan luas permukaan nira menjadi lebih besar.

Reaksi yang terjadi secara umum:


Nira kental + Susu kapur
C12H22O11 + Ca(OH)2
Susu kapur + Gas SO2
SO2(g) + H2O
H2SO3
H2SO3

22H+ + SO3

Ca(OH)2

Ca2+ + 2OH2-

Ca2+ + SO3

CaSO3

Selanjutnya nira akan melewati peti reaction tank, dimana di dalam peti reaction tank
atau juga bisa disebut tangki netralizer, ini akan terjadi pemrosesan pengadukan nira yang
dihasilkan agar pH yang dikandung oleh nira menjadi lebih netral sekitar 7.1, prinsip kerja
yang dilakukan sama seperti dengan mesin pengaduk kue. Setelah mengalami proses
pengadukan di peti reaction tank, nira akan memasuki mesin Pemanas Pendahuluan II (PP
II), dalam mesin Pemanas Pendahuluan II, nira akan dipanaskan dengan mencapai suhu

sekitar 100C sampai dengan 105 C. Tujuan dipanaskan kembali pada pemanas pendahuluan
II (PP II) adalah untuk menurunkan kelarutan garam-garam, menurunkan viskositas, dan
menyempurnakan reaksi antara nira mentah, susu kapur dan gas SO2 atau belerang,
mempercepat pengendapan serta meningkatkan suhu nira untuk memudahkan proses
pengeluaran gelembug gas dalam nira di flash tank. Setelah itu, nira akan masuk ke dalam
flash tank, di dalam flash tank nira akan diputar dan diaduk, fungsi dari pemutaran di dalam
mesin flash tank adalah untuk menghilangkan gelembung-gelembung gas yang tidak
terembunkan sehingga tidak menghambat proses pengendapan ke depannya, selain itu untuk
memudahkan percampuran antara nira dengan floculant. Untuk selanjutnya, nira akan masuk
ke dalam peti pengendapan (dor clarifier), dalam tangki pengendapan ini nira akan diberikan
zat floculant dengan cara menghembuskan atau menyemprotkan. Flokulan yang di pakai di
PG. Kremboong yaitu Amyflok. Dalam mesin ini, nira akan mengalir ke bawah mesin dan
disemprotkan dengan floculant, sedangkan gas-gas yang tidak terpakai akan keluar melalui
pengeluaran gas buang. Fungsi dari floculant ini adalah untuk menangkap kotoran-kotoran
yang masih melekat pada nira, selain itu untuk mengikat rantai endapan sehingga
menghasilkan rantai endapan yang lebih besar untuk selanjutnya, di dalam mesin ini akan
terjadi proses pengendapan kotoran yang dikandung oleh nira, dan untuk memisahkan antara
nira encer/jernih dengan nira kotor. Nira kotor akan mengendap sedangkan nira encer berada
di atas. Nira encer hasil pemisahan disaring pada DSM screen, dengan tujuan untuk
menyaring kotoran-kotoran halus yang masih terkandung dalam nira jernih.
Table jumlah belerang, phosphate, kapur dan flokulan/1000 kg tebu
Nama
Jumlah/1000 kg tebu
Phosphate (cair)
10 kg
Belerang
50 kg
Kapur
0.12 ku
Flokulan
0,30 kg

4.1.6.
Stasiun penguapan
Stasiun penguapan bertujuan untuk memisahkan air dengan nira serta mengubah nira
mentah menjadi nira kental. Kandungan air dalam nira sangat besar, sehingga penguapan
dilakukan sampai kandungan air didalam nira bisa dikurangi secara maksimal. Apabila
kekentalannya kurang, maka kerja dari stasiun masakan akan menjadi berat, karena itu akan
memperlambat proses pemasakan nira. Penguapan nira dilakukan untuk memaksimalkan
kerja di stasiun masakan untuk membentuk kristal-kristal gula. Pada pabrik gula Kremboong
memiliki 7 evaporator, tetapi hanya 4 evaporator yang sering digunakan untuk proses,
sedangkan sisanya hanya digunakan sebagai cadangan. Evaporator yang telah digunakan
biasanya akan dibersihkan dengan menggunakan sistem masak soda, soda yang digunakan
berupa soda kaustik ditambahkan dengan skrap, tujuan pembersihan ini adalah untuk
membersihkan kerak yang timbul di dalam evaporator.
Prinsip kerja evaporator dan evaporator vaccum adalah menguapkan sebagian besar
kandungan air yang ada dalam nira, dengan menggunakan sistem quadruple effect. Proses

perpindahan panas (heat transfer) dari uap ke nira dalam rangkaian pipa tidak berkontak
secara langsung, melainkan keduanya dipisahkan oleh adanya rangkaian pipa nira yang
tersusun secara seri. evaporator dengan susunan berangkai (multiple effect), sedangkan
evaporator vaccum dengan susunan tunggal (single effect).
Proses di stasiun penguapan, yaitu:

a.

b.

c.

d.

1. Evaporator
Alat ini berfungsi untuk mengurangi kandungan air yang tedapat di dalam nira dengan
cara penguapan seri mulai dari badan awal hingga badan akhir. Evaporator pada PG.
Kremboong terdapat 4 badan evaporator, yaitu:
Evaporator I
Pada evaporator ini, kondisi operasi dari penguapan nira dengan kondisi operasi
yaitu, suhu uap 120C dan tekanan in 0,8 kgf/cm2 serta suhu badan 105C dan tekanan
out 0,3 kgf/cm2 sampai dengan 0,35 kgf/cm2.
Evaporator II
Kondisi operasi penguapan nira pada evaporator ini yaitu, suhu yang digunakan
berkisar antara 100C, dengan tekanan uap sekitar 0,2 sampai dengan 0,3 kgf/cm2.
Evaporator III
Suhu yang digunakan dalam evaporator ini yaitu, 90C dan tekanan uapnya sekitar
-27 cmHg.
Evaporator IV
Kondisi operasi penguapan nira pada evaporator ini yaitu, suhu sekitar 60C dan
tekanan uapnya sekitar 60 sampai 62 cmHg atau dalam keadaan vakum. Dan orangorang biasa menyebutnya evaporator vakum.

Badan Evaporator terdiri dari:


-

Badan Penguap
Badan penguap ini berbentuk silinder dengan penutup bagian atas. Penutup ini digunakan
untuk menahan percikan nira dari bawah. Badan penguap ini terbuat dari plat besi agar
badan tidak pecah akibat tekanan yang tinggi dari dalam badan ketika proses penguapan
berlangsung. Badan penguap juga dilapisi dengan selimut untuk mencegah adanya
kehilangan panas dari dalam keluar dan selimut ini juga digunakan sebagai pengaman.
Kaca Penglihat
Kaca penglihat pada badan evaporator ini adalah untuk mempermudah mengamati tinggi
permukaan nira yang ada di dalam badan evaporator. Ketinggian nira di dalam badan
evaporator harus diperhatikan dengan baik, agar tidak banyak nira yang ikut bersama
dengan uap nira yang terbentuk dari proses evaporasi ini.
Pipa Calandiria
Pipa ini digunakan sebagai tempat pemanasan nira yang diluarnya dilewati oleh uap
pemanas.
Pipa Sentral

Pipa ini terletak di bagian tengah dan dikelilingi oleh pipa-pipa calandria. Pipa ini juga
memiliki fungsi sebagai tempat keluarnya nira ke badan atau proses selanjutnya (untuk
badan akhir) setelah diuapkan.
- Pipa Equalizer
Pipa equalizer berfungsi untuk menyamakan tekanan ke Buffer tank nira kental. Pipa ini
terdapat pada badan akhir.
- Pipa noncondensable gas
Pipa ini berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas yang tidak terembunkan di dalam
evaporator dan memperluas permukaan transfer panas dalam evaporator lebih besar.
- Pipa Kondensat
Pipa ini berfungsi untuk mengeluarkan air yang terbentuk oleh proses penguapan. Air ini
perlu dikeluarkan agar tidak mengganggu proses.
- Pipa Uap Pemanas
Pipa ini berfungsi sebagai tempat masuk aliran uap pemanas yang digunakan untuk
menguapkan nira.
- Pipa Pancingan Vaccum
Pipa ini berfungsi untuk mempertahankan kondisi hampa udara (vaccum) di dalam badan
evaporator.
- Manometer
Alat ini memiliki fungsi untuk mengetahui seberapa besar tekanan yang ada di dalam
badan evaporator.
- Termometer
Termometer berfungsi untuk mengetahui temperatur nira dan uap pemanas di dalam
badan evaporator.
2. Juice Catcher
Juice Catcher ini berfungsi untuk menangkap percikan nira yang terkandung di dalam
uap nira. Alat ini dilengkapi dengan alat penahan yang berupa sirip-sirip dan terbuat dari
bahan stainless steel. Uap nira yang masuk akan menabrak penahan sehingga nira yang
ikut bersama uap akan tertahan oleh penahan ini, sedangkan uap yang tidak mengandung
nira akan lanjut ke dalam proses selanjutnya.
3. Dorr Clarifier
Dorr Clarifier ini berfungsi untuk mengendapkan kotoran yang terkandung pada nira.
Pada alat ini akan ditambahkan flokulan yaitu Amyfloc, pada 1 tangki dorr clarifier
dibutuhkan flokulan sebanyak 3 kg. Suhu nira yang masuk pada alat ini yaitu 100 oC. Alat
ini di lengkapi dengan 4 tray, di setiap tray ada 6-8 pengaduk dan dilengkapi dengan
pompa membran untuk menarik kotoran juga 4 manhole untuk proses pembersihan alat.
Alat ini terbuat dari plat besi baja. Untuk mengalirkan nira keluar dari alatini ke alat
berikutnya digunakan 2 pompa, tetapi 2 pompa ini digunakan secara bergantian.
4. Kondensor
Kondensor yang digunakan merupakan tipe direct contact condenser berfungsi sebagai
alat penukar panas antara uap bekas yang keluar dari Juice Catcher dengan air pendingin
(aie injeksi) atau mengkondensasikan steam dengan mencampurnya langsung dengan air
pendingin. Uap nira dipecah atau didinginkan dengan siraman air injeksi yang bersuhu
antara 35-38C sehingga uap nira ini akan terdinginkan menjadi air yang bersuhu sekitar
48-58C.
5. Condensat Checking Plant (CCP)

Pada alat ini dilakukan pengecekan air kondensat yang berasal dari evaporator, heater
dan pan masak. Pengecekan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi air kondensat,
mengandung nira atau tidak sebelum dimanfaatkan untuk proses yang lain dan stasiun
ketel.
6. Tangki
Tangki ini digunakan untuk menampung air kondensat dari evaporator badan I, II, dan
III yang telah dicek di CCP sebelum digunakan di ketel.
7. Tower
Pada alat ini terjadi proses bleaching atau pemucatan nira menggunakan gas SO2. Proses
ini dilakukan dengan mengontakkan nira dengan gas SO2 dari sulfur burner.
8. Peti nira kental
Peti ini digunakan untuk menampung nira kental yang telah mengalami proses sulfitasi
nira kental sebelum dikristalisasa di stasiun masakan.
Setelah dari badan evaporator, nira yang telah mengalami pemekatan kembali
direaksikan dengan sulfur. Hal ini berfungsi untuk memucatkan warna nira kental yang
berwarna gelap setelah dari proses penguapan agar menjadi lebih terang (bleaching).

4.1.7.

Stasiun masakan

Stasiun ini bertujuan untuk mengubah sukrosa yang berbentuk larutan menjadi Kristal
gula yang rata-rata berukuran 0,7 1 mm. sukrosa yang terkandung dalam nira kental
diuapkan sehingga menghasilkan massecuite, yaitu campuran kristal gula dan larutannya.
Pemasakan akan dilakukan secara bertingkat untuk mencapai efisiensi proses. Dengan proses
bertingkat akan dihasilkan sakarosa dalam nira kental hingga mencapai kualitas kristal
maksimal. Jumlah tingkatan proses tergantung pada kemurnian nira. Nira dengan kemurnian
tinggi akan dikristalkan dalam 4 tahap, sedangkan nira dengan kemurnian rendah 85% akan
dikristalkan dalam 3 tahap. Di PG Kremboong akan menerapkan 3 tahap pemasakan dengan
proses ACD.
Pada proses pemasakan ini berkelanjutan dengan proses puteran (sentrifugasi).
Pada PG Kremboong terdapat 8 pan masakan tapi yang dipakai hanya 6 pan masakan, dengan
pembagian:
1. Pan masakan A
2. Pan masakan C
3. Pan masakan D

: pan 3,4,5
: pan 6
: pan 7,8

Ukuran kristal yang disyaratkan untuk masing masing pan adalah:


1. Pan masakan A
2. Pan masakan C
3. Pan masakan D

: 0,8 1,2 mm
: 0,16 0,5 mm
: 5m 0,3 mm

Proses Pada Stasiun Masakan :

1. Masakan D2
Bahan baku yang digunakan: stroop C, klare SHS, klare D, fondan.
Proses yang dilakukan:
Bahan baku sebanyak 200 HL dipanaskan hingga kental, kemudian ditambahkan 200 cc
fondan (inti kristal). Setelah kristal mulai terbentuk, maka ditambahkan lagi bahan baku
hingga volume mencapai 400 HL. Setelah terbentuk kristal yang disyaratkan maka
sample diambil untuk mengetahui Brix, Pol dan HK (harga kemanisan) gula yang
dihasilkan. HK yang diinginkan sekitar 60 64. Selanjutnya, 200 HL hail dipompa ke
pan masakan D1. Apabila HK yang diinginkan tidak tercapai dan belum terbentuk kristal
maka biasanya akan ditambahkan sedikit nira kental.

2. Masakan D1
Bahan baku dari pan masakan D2 dimassak pada Continous Vaccum Pan (CVP) D1
menghasilkan gula D dengan HK 58 59. Selanjutnya dialirkan ke palung pendingin lalu
dipompa ke rapid cool crystalizer untuk mendinginkan kemudian dteruskan ke putaran
D.
3. Masakan C
Bahan yang digunakan: klare SHS, stroop A, babonan D.
Bahan baku sebanyak 200 HL dikentalkan, kemudian ditambakan babonan D (40 HL),
kemudian dikentalkan lagi agar kristal yang terbentuk semakin baik. Selanjutnya
ditambahkan bahan baku sambil terus dikentalkan hingga volume 300 HL. Setelah
mencapai volume yang diinginkan, kemudian dianalisa Brix, Pol dan HK nya. HK yang
diinginkan adalah 70 72. Setelah HK diketahui, ditambahkan lagi bahan baku,
kemudian dikentalkan dan selanjutnya diturunkan ke palung pendingin dan dialirkan ke
putaran.
4. Masakan A2
Bahan baku yang digunakan: nira kental, klare SHS, babonan C dan babonan D.
Bahan baku sebanyak 200 HL dikentalkan kemudian ditambahkan 40 HL babonan C.
Selanjutnya dikentalkan kembali, sehingga kristal yang terbentuk semakin baik.
Kemudian bahan baku ditambahkan lagi secara bertahap sambil terus dikentalkan,
sehingga volume mencapai 400 HL. Hasil yang diperoleh diteruskan ke pan masakan A1.
5. Masakan A1
Bahan baku masakan A2 berasal dari pan A1, kemudian ditambahkan bahan baku secara
bertahap kemudian dikentalkan hingga mencapai volume 400 HL. Setelah kental,
kemudian diturunkan ke palung pendingin lalu dipompa ke putaran A.
Alat alat yang digunakan dalam stasiun masakan:
a.) Pan masak
Pan masak ini digunakan untuk memasak nira dengan cara menguapkan air yang ada
dalam nira.
b.) Palung Pendingin
Palung adalah tempat untuk menampung massecuite yang sudah dimasak sebelum
dialirkan ke sentrifugasi dan sebagai tempat penyempurnaan kristalisasi. Karena apabila

didinginkan maka kelarutan akan turun sehingga kristal yang dihasilkan menjadi semakin
besar dan tebal.
c.) Kondensor
Kondensor yang digunakan merupakan tipe direct contact condenserberfungsi untuk
mengkondensasi uap nira dari pan masakan. Kondensor ini dipasang pada setiap pan
masakan agar tidak terjadi gangguan vakum antara pan yang satu dengan pan yang lain.
d.) Tangki kondensat
Sebagai tempat untuk menampung air kondensat.
e.) Pompa air injeksi
Berfungsi untuk memompa air pendingin ke kondensor.
f.) Talang ulir
Merupakan tempat untuk mengalirkan nira ke sentrifugasi disertai dengan adanya
pengaduk yang membantu pendinginan.
4.1.8.
Stasiun puteran
Tujuan dari stasiun puteran adalah untuk memisahkan antara kristal gula dengan
cairannya (mollase). Dalam Stasiun puteran, puteran di bagi menjadi 3 bagian yaitu puteran
gula jenis A, C dan D.
1. Puteran discontinue untuk gula A
Sebelum pemutaran dilakukan, alat akan membersihkan sendiri dengan cara penyiraman
dengan air panas 95 oC selama 12 14 detik. Macuite A ditampung pada palung pendingin
selanjutnya di alirkan ke palung distributor setelah itu diturunkan ke mesin puteran dan
dilakukan 2 kali penyiraman. Suhu air yang digunakan untuk penyiraman 95 oC
tergantung kualitas gula, penyiraman pertama selama 10 detik akan menghasilkan stoop A
dan penyiraman kedua menghasilkan klare SHS dan gula A. Gula akan tetap menempel pada
saringan selama mesin berputar dan selanjutnya diturunkan ke talang goyang, sedangkan
stroop A dan klare SHS dialirkan ke dalam tangki penampung untuk digunakan pada stasiun
masakan. Sisa gula yang menempel pada dinding mesin puteran dibersihkan dengan scrapp
(Discharge). Jumlah puteran A ada 2 jenis yaitu WS (Westrn State) dan Broat Bent. Untuk
yang WS ada 3 buah dengan kapasitas 1200 kg(2 buah) dan kapasitas 1000 kg (1 buah).
Sedangkan jenis Breat Bent ada 4 buah secara dengan kapasitas 1850 kg.
2. Puteran continue untuk gula C
Mascuite C ditampung pada palung pendingin selanjutnya di alirkan ke palung
distributor setelah itu diturunkan ke mesin puteran. Mesquite C diputar dan dilakukan
penyiraman satu kali dengan air bersuhu 40 50 oC sehingga diperoleh stoop C dan gula C.
Gula C dengan HK = 961 diturunkan di pompa ke peti babonan C sedangkan stroop C.
Jumlah puteran C ada 5 buah dengan kecepatan putar 2400 rpm.
3. Puteran continue untuk gula D
Hasil dari masakan D ditampung dalam penampung kemudian di pompa ke rapid
crystallizer untuk menurunkan suhu sampai 50 oC lalu diturunkan ke puteran gula D1 dan
disiram air dengan suhu 40 50 oC sehingga diperoleh gula D1 dan tetes. Tetes dialirkan ke
penampung dan dipompa ke tangki penampung tetes, sedangkan gula D1 diturunkan ke
distributor D2 kemudian diturunkan ke puteran D2 dan disiram air dengan suhu 60 oC,
dihasilkan gula D dan klare D. Gula D dengan HK = 956 diturunkan dan di pompa ke peti

babonan, sedangkan klare D dipompa ke panampung klare D. Jumlah puteran D1 ada 5 buah
dengan kecepatan putar maksimum 2000 rpm. Sedangkan puteran D2 ada 4 buah dengan
kecepatan putar 2000 rpm (3 buah) dan 2100 rpm (1 buah).
Alat yang digunakan dalam stasiun puteran adalah:
1. Discontinue Sentrifuge
Berfungsi untuk memisahkan Kristal gula A dengan stroop dan Klare. Pada alat ini akan
diperoleh gula SHS sebagai hasil akhir putaran.
2. Continue Sentrifuge
Berfungsi untuk memisahkan Kristal gula C dan D dari stroop dan klare. Proses
pemutaran pada alat ini berlangsung terus menerus tanpa terputus.
3. Palung Distribusi
Berfungsi untuk mengumpankan mascuite ke mesin puteran
4. Rapid Crystalizer
Berfungsi untuk menurunkan suhu hasil dari masakan D sebelum masuk ke puteran D1
agar terjadi kristalisasi lanjut sehingga kristal tidak mudah larut saat disiram air.
5. Talang goyang
Berfungsi untuk membawa gula menuju stasiun penyelesaian.
4.1.9.

Pengeringan (Sugar Dryer)

Pengeringan bertujuan untuk mengeringkan gula dan untuk memisahkan antara Kristal
gula yang memenuhi dan tidak memenuhi syarat. Gula dari puteran diturunkan ke talang
goyang akan menyebabkan gula bersinggungan dengan udara sehingga kelembaban akan
berkurang secara alami. Kemudian dilanjutkan ke Sugar Dryer, disini gula yang masih
mengandung air dikeringkan dengan menggunakan udara panas untuk menghilangkan
kelembabannya. Setelah itu gula dikeringkan, kemudian gula dibawa dengan elevator menuju
saringan gula. Pada saringan gula, gula disaring melalui 3 saringan yaitu gula halus, gula
sedang dan gula kasar. Gula halus dimasukkan ke mixer kemudian ditambahkan air dan
dipompa menuju ke peti nira kental. Gula produk yaitu gula SHS ditampung pada silo dan
diturunkan sebanyak 50 kg untuk pengarungan.
4.1.10.

Pembungkusan (Packing)

Pembungkusan bertujuan untuk menjaga kualitas gula mealui proses pengepakan. Gula
yang berasal dari silo diturunkan kebawah menggunakan packer, packer adalah alat yang
dipasang di ujung silo untuk membagi gula yang turun. Pada PG Kremboong gula dikemas
sebanyak 50 kg setiap karungnya. Dengan menggunakan kemasan plastik sebagai kemasan
primer dan karung sebagai kemasan sekunder. Setelah itu, dilakukan pengecekan
penimbangan kembali dan setelah itu dijahit kemudian masuk ke dalam gudang penyimpanan
menggunakan conveyor. Gudang merupakan tempat penyimpanan gula produk setelah gula
dikemas dan diketahui beratnya (sudah memenuhi standar). Adapun syarat-syarat
penyimpanan gula di dalam guadang penyimpanan antara lain:
-

Berat jenis butir harus sesuai dengan SNI


Warna gula harus memenuhi persyaratan

Kadar air gula tidak boleh lebih dari 0,1%.


Gula dikemas dalam karung dan diketahui beratnya
Telah dihitung oleh petugas gudang

BAB V
SPESIFIKASI ALAT
STASIUN PERSIAPAN
1. Lori Tebu
Fungsi
: Membawa tebu dari pos penimbangan ke stasiun
penggilingan.
Merk/Type
: Yaskawa / FEF
Speed
: 1460
Tenaga
: 5,5 Hp
Jumlah
: 240 unit
Messin penggerak
: Motor listrik
2. Pengangkat Tebu
Fungsi
: Mengangkat tebu dari lori dan menjatuhkan ke atas meja tebu
Bahan
: Besi siku / besi kanal
Kecepatan
: 2,9 m/menit
Daya gelegar
: 30 ton
Daya crane
: 10 ton
3. Gearbox
Ratio
: 50
Daya
: 15 KW
4. Elektomotor Vertikal
Merk
: Yaskawa
Kecepatan putar
: 1470 rpm
Daya
: 15 KW
5. Electromotor Horizontal
Merk
: Yaskawa
Kecepatan putar
: 975 rpm
Daya
: 7,5 KW
STASIUN GILINGAN
1. Meja Tebu
Fungsi
: Untuk menampung dan mengatur tebu yang dipindahkan ke
cane carrier menggunakan rantai bergigi yang dapat berputar
Panjang
:7m
Lebar
:5m
Sudut kemiringan
: 35
Tinggi meja depan
Tinggi meja belakang
Kapasitas
Penggerak
Panjang rantai
Jumlah set rantai
Sprocket
Gear box

: 0,8 cm
: 1,31 m
: 15 ton
: Electromotor merk Yaskawa, 380 volt, 1460 rpm, 7,5 KW
: 19 m
: 4 set
: 12 gigi
: mer AUG, ratio 183

2. Cane carrier
Fungsi
: Sebagai alat pembawa tebu ke alat pencacah ( cane cutter dan
unigrator)
Cara kerja
: Tebu yang jatuh dari meja tebu dibawa oleh cane carrier ke
cane cutter untuk dipotong-potong/ dicacah.
Kapasitas angkat
: 8 ton
Penggerak
: Elektromotor
Merk
: Figer Harian Holland
Cene travel
: 2 buah
Daya
: 40 Hp
RPM
: 1425
Kecepatan
: 104 detik / siklus
3. Cane cutter 1 dan cane cutter 2
Fungsi
: Utuk mencacah dan memotong tebu menjadi potonganpotongan kecil.
Cara kerja
: Setelah melewati cane carrier tebu masuk ke cane cutter untuk
dipotong dan dicacah, bertujuan untuk memperluas bidang permukaan sehingga
proses pemerasan menjadi lebih mudah.
Piringan
: 53 cm
Tebal bahan
:18 mm
Panjang pisau
: 38 cm
Lebar pisau
: 14 cm
Jumlah piring
: 14 buah
Jumlah pisau/piring : 4 buah
Jumlah total pisau
: 56 buah
RPM
: 500
Penggerak
: electromotor
4. Unigrator
Fungsi
: Menumbuk tebu, sehingga memperkecil sel-sel tebu menjadi
ukuran yang seragam.
Type
: Mark fuuri
Tahun
: 1992
Ukuran
: 66 72
Kecepatan
Jumlah disc
Jumlah hamer
Power

5. Roll Gilingan
Fungsi
ampas tebu.
Jenis alur

: 745 rpm
: 11 buah
: 44 buah
: 355 Kw

: Menggiling tebu, sehingga akan didapatkan nira mentah dan

Ukuran

: V Groven
: 36 66

Dalam alur

: 52

Jumlah alur

: 28 buah

STASIUN PEMURNIAN
1. Saringan Nira Mentah (Vibrating Screen)
Fungsi
: Menyaring nira gillingan 1 dan 2
Panjang
:2m
Lebar
:1m
Lubang perforasi
: 1 mm
Rpm motor
: 1455
Rpm saringan
: 470
Power motor
:15 Kw
2. Rotary Cush Cush (Rotary Screen machine)
Fungsi
: Menyaring nira mentah sebelum masuk ke stasiun pemurnian
Type
: 31 Ferrier road Narangba/Q4504
Buatan
: Australia
Tahun
: 2012
Berat
: 1800 Kg
Fabrikasi
: 2
Angular
3. Vapour Juice heater
Fungsi
Type
Tahun
Pipa

: 0,25
: Memanaskan nira mentah sebelum masuk ke defikator
: Horizontal/PT. Boma
: 1975
: 45/50 3200

Jumlah pipa
: 204 buah
Rate
: 10 lintasan
LP
: 100 m2
4. Pemanas Nira (Pemanas awal/Juice heater/ Voorwarmer)
No
1
2
3
4
5
6

Panjang pipa
(mm)
3100
3100
3100
3100
3600
3100

Pipa

(mm)
32/35
32/35
32/35
32/35
33/36
32/35

Jumlah pipa
(buah)

Jumlah passes
(x)

LP
(m2)

400
501
397
400
340
400

6
8
12
12
11
12

125
155
125
125
125
125

5. Defikator I
Fungsi
: Sebagai tempat bereaksinya nira dengan susu kapur
Standar yang digunakan :
PH
: 7,2 -7,4

Waktu tinggal
Indicator
Data spesifikasi alat
Diameter
Tinggi
Pipa masuk
Pipa keluar

: 3 menit
: BTB
:
: 1420 mm
: 2830 mm
: 8
: 8

6. Defikator II
Fungsi
: Sebagai tempat bereaksinya nira dengan susu kapur
Standar yang digunakan :
PH
: 8,6
Waktu tinggal
Indicator
Data spesifikasi alat
Diameter
Tinggi
Pipa masuk
Pipa keluar

:15 detik
: PP
:
: 820 mm
: 2320 mm
: 8
: 8

7. Sulfirtir Nira Mentah


Fungsi
: Mencampur sulfit dengan nira mentah yang telah diberi susu
kapur
Type
: Parabolis
Ukuran
: 1600 2500 mm
Waktu tinggal

: 5 menit

Volume
: 5 m3
8. Pompa Nira Mentah Tersulfitir
Kapasitas
: 100 m3/jam
Power
a. Utara
: 45 KW
b. Selatan
: 15 KW
Head
: 50 mka
Kecepatan
: 1475 rpm
Jumlah
: 2 buah
9. Dapur Belerang Nira Mentah
No.1 (T) LB
: 1,4 m2
No.2 (T) LB
: 1,4 m2
10. Dapur Belerang Nira Kental
No.1 (T) LB
: 0,6 m2
No.2 (T) LB
: 0,6 m2
11. Tangki Susu Kapur
Fungsi
: Menampung susu kapur yang akan di campur nira mentah
Volume
: 1,6 m3
12. Pompa Susu Kapur
Fungsi
: Memompa susu kapur ke defikator
Type
: centrifugal

Kapasitas
Head
Rpm
Power
Jumlah
Inlet/outlet

: 6 m3/jam
: 15 mka
: 2860
: 5,5 KW
: 2 buah
: 2,5/2,5

13. Drum Vacuum Filter


Fungsi
: Menyerap gula yang masih terdapat dalam nira kotor
Merk
: PT. Karpindo Bahagia
Ukuran
: 3.150 3.674 mm
Kecepatan
: 1 rpm
14. Flash Tank
Diameter
: 3,5 m
Tinggi
: 2,5 m
Waktu tinggal
: 12-15 detik
Volume efektif
: 4,7 m3
15. Sublimator I/II
Fungsi
: Membuang gas-gas dalam nira yang mengganggu proses
pengendapan pada Door Clarifier
Volume
: 2,78 m3
16. FSB
Fungsi
: Untuk merubah kecepatan pembakaran belerang melalui
automatisasi, tanpa merubah konsentrasi (sesui persyaratan proses)
Kapasitas
: 400 kg/jam
Tahun
: 2010
STASIUN PENGUAPAN
Nama Alat

Type

Evaporator
I-A

Ducro &
Brons

Evaporator
I-B

Werk
Spoor

Evaporator
II

Diameter Pipa
x Panjang
33/36

3340

Diameter Pipa
(mm)
500

Kapasitas
(m2)
750

2.400
33/36

1178

480

425

PT. Barata

2.370
33/36

2470

790

600

Evaporator
III

PT. Barata

2.400
33/36

3232

600

500

Evaporator
IV

Werk
Spoor

2.400
33/36

2744

590

450

Evaporator
V

PT. Grung
Nasional

1.565
33/36

2984

880

500

1.580

Jumlah Pipa

STASIUN MASAKAN
1. Kristaliser
Nama Alat

Type

Diameter
Pipa x
Panjang
98/102

Jumlah
Pipa

Kapasitas

LP
(m2)

Kristaliser
1

Calandia /Werk
Spoor

320

200

112

Kristaliser
2

Calandia/Ducro
& Brons

98/100

564

250

60

Kristaliser
3

Calandia

98/102

320

180

56

Calandia

985
144/152

Kristaliser
4
Kristaliser
5
Kristaliser
6
Kristaliser
7
Kristaliser
8

5 coil

120

56

Calandia

144/152

5 coil

120

56

Calandia

144/152

5 coil

120

56

Calandia

130/134

5 coil

120

56

Calandia

96/100

416

250

124

1.050
740

970

2. Palung Bibitan D
a. Dipakai untuk bibitan D II 1 buah volume 10 m3
b. Dipakai untuk bibitan C 1 buah volume 20 m3
3. Palung Pendingin
No. Pendingin

Volume (m3)

Keterangan

1 dan 2

220

Jenis O

Diameter x Panjang
(mm)
2200 6500

3 dan 4

240

Jenis U

2100 6500

5 dan 6

220

Jenis U

1600 6500

7,8,9,12, 13 dan 14

120

Jenis O

1600 6500

10 dan 11

150

Jenis U

1600 6500

15

400

Jenis U

2100 6500

4. Seed Vessel
a. Dipakai untuk A 1 buah volume 20 m3
b. Dipakai untuk D 1 buah volume 10 m3

5. Peti-peti Tunggu
No.
1
2
3
4
5

Nama Alat
Peti tunggu nira kental 1
Peti tunggu strop A
Peti tunggu strop C
Peti tunggu klare D
Peti tunggu klare SHS

jumlah
3
5
5
4
2

Volume (m3)
35
80
50
30
34

STASIUN PUTERAN
1. Putaran A
Jumlah
: 2 buah
Kapasitas per charge : 50 kg
Jumlah cycle per jam : 25
Tinggi
: 18
Diameter
: 36
Type
: Batch
2. Putaran Broad Bent/ WS
Jumlah
: 2 buah
Kapasitas per jam
: 800 kg
Tinggi
: 36
Diameter
: 48
Type
: continuous
3. Putaran SHS
Jumlah
Kapasitas per jam
Type
4. Putaran C
Jumlah
Kapasitas per jam
Tinggi
Diameter
Type
5. Putaran D
Jumlah
Kapasitas per jam
Tinggi
Diameter
Type
Fungsi
cara centrifugal.
Alat-alat penunjang

: 2 buah
:1.200 kg
: continuous
: 1 buah
: 3.500 kg
: 47,6
: 48
: continuous/ BMA-K 850 S
: D1= 4, D2 = 2
: 3.500 kg
: 28
: 36
: continuous
: Memisahkan Kristal gula dari tetes atau larutannya dengan
: Screw conveyor, mixer SHS
BAB VI

UTILITAS, INSTRUMENTASI, PENGENDALIAN PROSES DAN PENGOLAHAN


LIMBAH

1. UTILITAS
2. INSTRUMENTASI
3. PENGENDALIAN PROSES
4. PENGOLAHAN LIMBAH
PG Kremboong merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah. Hal ini dapat
menjadi sumber pencemaran apabila tidak dilakukan penanganan secara tepat. Oleh karena
itu sebagai salah satu dari masyarakat industri menyadari sepenuhnya atas tanggung jawab
sosial dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup tanpa mengesampingkan tanggung jawab
internal perusahaan.
Dalam hal ini sebagai landasan kerja adalah segala undang-undang peraturan serta
keputusan yang dikeluarkan pemerintah.
Undang-undang dan peraturan yang berhubungan dengan lingkungan hidup antara lain :
Undang-undang R.I. No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan
hidup.
Peraturan Pemerintah R.I. No. 51 tahun 1993 yang menggantikan peraturan pemerintah
R.I. No. 29 tahun 1986 tentang analisa dampak lingkugan.
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 363/KPTS/Re 220/6/1989 tentang pedoman teknis
penyusunan analisa mengenai dampak di lingkungan Departemen Pertanian
Keputusan 51/Men KLH/6/1987 tentang pedoman Penyusunan Studi Evaluasi mengenai
dampak lingkungan.

BAB VII
KRITIK DAN SARAN

BAB VIII
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
TUGAS KHUSUS