Anda di halaman 1dari 9

NAMA

: CECEP RUDI NUGRAHA

KELAS

: SPI IV A

NIM

: 1135010029

TUGAS

: UTS SIS (Sejarah Islam Sunda)

JUDUL

: RESUME LAPORAN PENELITIAN SASTRA LISAN (JAMPE)


SUATU KAJIAN STRUKTUR DAN FUNGSI)

LAPORAN PENELITAIAN

ESISI 17/FEBRUARI 1999


ISSN 0854-7475

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL
BALAI KAJIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL

SASTRA LISAN (JAMPE)


SUATU KAJIAN STRUKTUR DAN FUNGSI
Oleh : Drs. SuwardiAlamsyah P.

BAB I: Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Kerangka Teori
1.6 Metode Penelitian
1.7 Sistematika Penelitian

BAB II

: Tinjauan Umum Daerah Penelitian

2.1

Selintas Tentang Sejarah Kecamatan Ibun

2.2

Istilah Puisi Mantra

2.3

Lahir dan Berkembangnya Sastra Lisan (Jampe)

2.4

Latar Belakang Sosial Budaya Masyarakat


2.4.1 Adat dan Tradisi Masyarakat
2.4.2 Kedudukan dan Fungsi

BAB III
3.1

: Analisis Jampe

Bentuk dan Bahasa


3.1.1 Bentuk

Bentuk adalah cara dan gaya dalam penyusunan dan pengaturan bagian-bagian karangan;
pola struktural karya sastra. Jadi yang dimaksud dengan bentuk disini adalah komposisi,
rumusan, dan gaya karangan; misalnya sajak terdiri atas komposisi, susunan, gaya keterangan
dan isi. Maka kaitannya dengan jampe, jampe pun termasuk kepada apa yang dimaksud dengan
bentuk itu, baik komposisi, susunan atau gayanya. Misalnya saja pada masyarakat lama, apabila
seseorang menderita atau mengalami kecelakaan, maka untuk mengatasi hal tersebut, orang pada

masyarakat waktu itu mencurahkan perasannya dalam bentuk kata-kata bertuah untuk mengusir
bahaya dengan memberi jampe kepada orang yang menderita.
Jadi, jelas bahwa jampe itu sebagai karya sastra berbentuk puisi yang bersajak dan
berirama dalam arti larik-larik yang lainnya mengandung persamaan atau pertentangan bunyi
disamping kata dan pemakaian bahasa yang berhubungan secara erat serta mengandung
pengertian yang utuh. Amun ada anggapan bahwa jampe sebagai karya seni dari segi bentuknya
yang mirip puisi dengan alasan bahwa jampe itu disampaikan atau diucapkan atau dibaca cukup
dalam hati yang sifatnya perseorangan (individual) tidak dapat dinikmati masyarakat seperti
pantun sunda umpanya.
3.1.2 Bahasa
Bahasa adalah sistem dari pada lambang (tanda yang berupa sebarang bunyi bunyi
bahasa yang dipakai orang untuk melahirkan pikiran dan perasaan. Seperti halnya dalam jampe
digunakan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa dengan mahluk ghaib den mempunyai
sifat satu arah dengan tujuan supaya mahluk ghaib mengabulkan permintaan manusia.
Bahasa yang dipakai pada jampe umumnya mempergunakan panca indra penglihatan,
pendengarandan perasaan dalam arti mempengaruhi, membujuk, dan mengubah pendirian, yakni
roh halus supaya mengabulkan permohonan serta melindungi manusia dari roh-roh jahat yang
mau membinasakan manusia. jampe dengan mempergunakan bahasa sunda sebagai medianya,
mula-mula dilatarbelakangi oleh kepercayaan animisme/dinamisme, slanjutnya Hidu/Budha, dan
ajaran Islam. Hal ini mungkin didalam jampe ditmukan kata-kata dari bahasa jawa dan pengaruh
Islam yang mempunyai sistem kemaknaan dari sistem bahasa yang kita pakai.

3.2

Persajakan (Purwakanti)

Persajakan (Purwakanti) menurut Soekono Wirjosoedarmo (1984:1) adalah rima


(persamaan atau perulangan bunyi). Menurut Syofyan Zakaria (1984:48) rima adalah persamaan
atau perulangan bunyi banyak kita temui dalam puisi, berupa perulangan bunyi yang sama. Yus
Rusyana mengemukakan bahwa purwakanti yaitu selarasnya bunyi antara dua suku kata atau
lebih dalam kata yang berbeda. Bunyi yang sama itu, baik vocal atau pun konsonan.
3.2.1 Purwakanti Menurut Bunyi dan Suaranya
A. Adusari, adalah menempatkan vokal yang sama diulang-ulang pada satu suku kata atau
dalam satu lirik. Contoh: sumsum lebur jadi rasa pangawasa.
B. Adurasa, adalah menempatkan konsonan yang sama diulang-ulang pada akhir kata atau
dalam satu baris puisi. Contoh: tulang patepung tulang.

C. Adumanis, adalah menempatkan vocal konsonan diakhir kata atau dalam satu baris puisi
secara berulang-ulang. Contoh:
Tina socaparat kana urat
Bayu pepet bayu apet
Pangpung mangpurung catang mangparang
Deuk muntang kagagang muncang
Nini goreleng ponteng
3.2.2 Purwakanti Menurut Letak dan Tempatnya
A. Purwakanti Rantayan
a. Rantayan Adusari, adalah perulangan bunyi yang berimbang ditengah-tengah kata
atau menempatkan vokal yang sama diulang-ulang pada satu atau suku kata atau dalam satu lirik.
b. Rantayan Aduraras, adalah perulangan konsonan yang sama diulang-ulang pada awal
kata atau akhir kata dalam satu baris puisi. Aduraras ada dua rupa, yaitu: Aduraras Wiwit
(perulangan konsonan pada awal suatu suku kata) dan Aduraras Wekas (perulangan konsonsn
pada akhir suatu suku kata).
c. RantayanAdumanis, adalah perulangan vokal konsonan, konsonan vokal konsonan,
konsonan vokal diawal atau diakhir kata dalam satu baris puisi secara berulang-ulang. Adumanis
ada dua rupa, yaitu: Adumanis Wiwit dan Adumanis Welit.
B. Purwakanti Runtuyan, adalah pengulangan bunyi antara dua baris atau lebih secara berurutan
kebawah.
1) Runtuyan Puhu, adalah pengulangan bunyi pertama pada tiap-tiap baris secara
berurutan kebawah.
2) Runtuyan Tengah, adalah pengulangan bunyi yang letaknya ditengah baris secara
berurutan kebawah.
3) Runtuyan Pungkas, adalah pengulangan bunyi yang sama pada tiap-tiap baris
kebawah secara berurutan.
3.2.3 Purwakanti Menurut Letaknya pada Kata
1) Purwakanti wiwit, adalah perulangan bunyi pada awal kata-kata dalam tiap larik secara
berturut-turut.
2) Purwakanti wekas, adalah perulangan bunyi berdasarkan letak kata dalam tiap
larak/baris, perulangan bunyi terletak pada setiap akhir kata suatu baris sama berturut-turut.

3.3 Gaya Bahasa (Majas)


Gaya atau khususnya gaya bahasa berasal dari bahasa latin stilus, yaitu semacam alat
untuk menulis pada lempengan lilin, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian
untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.
Kaitannya dengan jampe, jampe pun memiliki gaya bahasa seperti tersebut diatas, yang
dibacakannya atau dilafalkannya merupakan salah satu alat ekspresi atau salah satu bentuk
struktur puisi, sehingga menyebabkan sajak atau puisi mempunyai bahsa plastik sebagaimana
telah dikemukakan bahwa jampe termasuk puisi bebas.
3.3.1 Metafora
Metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berarti memindahkan, dari meta
diatas; melebihi dan pherein membawa. Metafora disebut juga kiasan, karena orang Indonesia
mentafsirkan metafora dengan kias.
Metafora dijumpai dalam jampe, sebagai berikut: tiis alah batan birit leuwi, comrek alah
batan hate kole. Kata-kata tiis dan comrek meperti larik ini menunjukan langsung sebagai
perbandingan pada birit leuwi dan hate kole, yang merupakan kias bagi perasaan yang skit.
3.3.2 Personifikasi
Gaya bahasa personifikasi berasal dari bahasa latin persona (orang, pelaku, aktor, atau
topeng yang dipakai dalam drama) dan fic (membuat). Jadi gaya Personifikasi adalah alat
ekspresi manusia, sebagai suatu cara mengkiaskan atau mengidentitaskan benda yang dianggap
bernyawa yang dapat bergerak sendiri.
Gaya personifikasi yang ditemui dalam jampe, sebagai berikut: aya pasir humariring,
aya lebak humaherang. Dan ulah ngarajak panon manusa, ngarajak ka cantang bobo.
3.3.3 Hiperbol
Gaya hiperbol berasal dari bahasa Yunani yang berarti pemborosan, berlebih-lebihan.
Asal kata dari hyper melebihi dan ballein melemparkan.
Hiperbol adalah gaya bahasa untuk memperjelas suatu maksud atau pernyataan, maka
suatu kata diganti dengan kata lain yang pengertiannya lebih hebat dari kata tadi.
Gaya bahasa hiperbol yang ditemui dalam jampe sebagai berikut: sihung sakti
ingdatullah. Dan sang lemes putih pangeran.
3.3.4 Litoles

kata litoles berasal dari bahasa kata litoles berasal dari bahasa yunani, yaitu litos
sederhana. Jadi litoles adalah ungkapan kata-kata yang sifatnya merendahkan diri,
bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya.
Fungsi litoles pada jampe adalah untuk memohon atau perlindungan agar suatu maksud
dikabulkan. Contoh: waras ku kersaning Allah.
3.3.5 Paralelisme
Gaya paralelisme adalah pengulangan kata-kata. Dalam jampe yang menjadi lulugu
(patokan) itu adalah pengulangan bunyi; jarang berdiri sendiri. Pengulangan kata dapat dibagi
menjadi dua, yaitu:
1. Babalikan Rantai, yaitu perulangan bunyi menurut tepat atau tidaknya kata yang
diulang. Contoh : tulang patepung tulang, sumsum patepung sumsum, ....
2. Bablikan Runtuy, yaitu bunyi yang berurutan kebawah bersamaan dengan perulangan
bunyi dalam satu lirik, yakni yang diulang itu ada pada larik dan larik-larik
berikutnya. Bablikan Runtuy dapat dibagi pada :
a. Bablikan Runtuy Puhu (anafora), kata yang diulang berada pada awal kalimat.
b. Bablikan Runtuy Tengah (responi), kata yang diulang berada pada tengah-tengah
baris.
c. Bablikan Runtuy Pungkas (epifora), kata yang diulang berada pada akhir larik.
d. Bablikan Runtuy puhu jeung tengah.
e. Babalukan puhu, tengah jeung pungkas.
f. Bablikan Tengah jeung Muhu, iyalah kata yang ada ditengah larik diulang
kembali pada kata awal larik.

3.4 Diksi
Diksi adalah pilihan kata atau kata yang dipilih oleh pengarang dalam karya sastra,
terutama puisi. Kaitannya dengan jampe bisa ditemui diksi atau pilihan kata, dalam arti katakata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan atau membentuk pengelompokan
kata-kata yang paling baik dalam suatu situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat.
Hal ini barnagkali ada kaitannya dengan tujuan, keinginan dan kehendak agar permohonannya
kepada yang gaib dikabulkan.
3.5 Arti dan Makna
Arti adalah suatu pengertian yang menunjuk suatu kata yang ditujunya. Menurut Saini
K.M. bahwa arti, dalam berpuisi, penyair mengemukakan pendapatnya mengenai suatu pokok,
mungkin dilakukannya secara langsung, mungkin secara tidak langsung.

Dalam membedakan arti sebuah kata dapat saja terjadi kekeliruan, misalnya kata rumah
yakni suatu bentuk untuk tempat tinggal, beratap, berdinding, berpintu, berjendela dan lain
sebagainya. Sedangkan rumah menurut makna bisa saja disebut kompleks atau suatu tempat
yang terdiri dari banyak rumah, walaupun sukar membedakan antara makna denotasi (makna
yang wajar/ konkrit) dengan konotasi (nilai rasa atau kata atau maksud tautan sebuah kata)
Berdasarkan uraian tersebut, maka jampe .sebagai hasil karya sastra sampai seberapa jauh
dalam membentuk dunia imajinasi, dengan begitu arti suatu karya dikonkritkan dalam
hhubungan penerimaan masyarakat.
Berikut contoh jampe-jampe :
3.5.1 jampe paranti reheut jampe untuk luka
Bismilahirrahmanirrahim
Tulang patepung tulang
Sumsum patepung sumsum
Urat patepung urat
Daging patepung daging
Lamad patepung lamad
Kulit patepung kulit
Bulu patepung bulu
Sihung sakti ingdatullah
Dijampe ku nu kawasa
Hurip ku nabi
Waras ku kersaning Allah
Hurip ku kakang manusa
3.5.2 Jampe paranti kabereuyan
Tunggul nangtung catang malang
Kadupak ku cai caah
sanglay
3.5.3 Jampe Rieut Sakit Kepala
Nini ikeut-ikeut
Aki ikeut-ikeut
Pangeureutkeun tajam rieut
Tiis ala batan birit leuwi
Comrek alah batan hate kole
Les leungit leus leungit

3.5.4 Jampe Paranti Nyeuri Beuteung


Bismilahirrahmanirrahim
Nini dara gedug nutu
Aki dara gedug nutu
Lanten kasemahan
Semah naon ....?
Bawana peso kasibatan
Kasibat rasa mokaha
Pager Allah wirang Allah
Hurip kakang manusa
Ambon putih tawa herang
Tawa lenggang pangeran sira
Nalawading ratu honeng
Sang lemes putih pangeran
Sang awaking nurmat Allah
Waras kersaning Allah
3.5.5 Jampe Paranti Nyeuri Huntu
Uler mati mati uler
Mati geni talipurna
Tiis ti peuting ngeunah ti beurang
Hurip waras
3.5.6 Jampe Paranti Tutung Ku Seuneu
Tutung langit kembang jagat
Dibura ku meong petot
Ceuhay ..... ceuhay

3.5.7 Jampe Paranti Nyeuri Cangkeng, Tuur (Honjeeu)


Hong bima sanggawe gunung
Sesemar sanggawe rasa
Aya nu hurung di gunung
Aya pasir humariring
Aya lebak humareang
Dikecut ku bage nalih
Tiis alah batan birit leuwi
Comrek alah batan hate kole
Hir tiis
Purna hurip waras

3.5.8 Jampe Paranti Kapatil Lele


Bulu putih jampe matih
Tiis alah batan birit leuwi
Comrek alah batan hate kole
Cep tiis
Tiis dingin talipurna
3.5.9 Jampe Parnti Nu Pateuh
Bismilahirrahmanirrahim
D pipinding ku jabrail panangan
Malaikat seuri wesi
Braja manusa anak sia
Kuta beusi
Tiis ti peuting ngeunah ti beurang
Cep tiis cep tiis
3.5.10 Jampe Paranti Nu nyeuri Panon
Nini ajak-ajak
Aki ajak-ajak
Ulah ngarajak panon manusa
Ngarajak ka catang bobo