Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Iman dan proses lahirnya iman
A. Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah percaya atau yakin, keimanan berarti kepercayaan
atau keyakinan. Dengan demikian, rukun iman adalah dasar, inti, atau pokok pokok
kepercayaan yang harus diyakini oleh setiap pemeluk agama Islam.Kata iman juga berasal
dari kata kerja amina-yumanu amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman
berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati.Dalam surat al-Baqarah
165, dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada
Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu, beriman kepada Allah berarti sangat rindu
terhadap ajaran Allah. Oleh karena iu beriman kepada Allah berarti amat sangat terhadap
ajaran Allah yaitu Al-Quran dan sunnah rasul.Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu
Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan
lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (al-Imaanu aqdun bil qalbi waiqraarun
billisaani waamalun bil arkaan).
Istilah iman dalam al-quran selalu dirangkaikan dengan kata lain yang
memberikan corak dan warna tentanhg suatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa:
51 yang dikaitkan dengan jibti (kebatinan/Idealisme) dan thaghut (realita/nasionalisme).
Sedangkan dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu wallaziina
aamanuu bil baathili. Bathil berarti tidak benar menurut Allah.Sementara dalam surat alBaqarah: 4 iman dirangkaikan dengan kata ajaran yang diturunkan oleh Allah. Dengan
demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau ajaran nya, dikatakan
sebagai iman haq, sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya dinamakan iman bathil.
Keimanan adalah perbuatan yang bila diibaratkan pohon, mempunyai pokok dan
cabang. Bukankah sering kita baca atau dengar sabda Rasullah saw. Yang kita jadikan
kata-kata mutiara, misalnya malu adalah sebagian dari iman, kebersihan sebagian dari
iman, cinta bangsa dan Negara sebagian dari iman, bersikap ramah sebagian dari iman,
menyingkirkan duri atau yang lainnya yang dapat membuat orang sengsara dan menderita,
itu juga sebagian dari iman. Diantara cabang - cabang keimanan yang paling pokok adalah
1

keimanan kepada Allah SWT. (Sumber : http://abr26-k1m14.blogspot.com/2011/04/blogpost.html)


B. Proses Terbentuknya Iman
Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila disertai pemeliharaan yang intensif, besar
kemungkinan menjadi punah. Demikian halnya dengan benih Iman. Berbagai pengaruh
terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang baik dari lingkungan
keluarga, masyarakat, pendidikan dll. Pada dasarnya, proses pembentukan iman.
Diawali dengan proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau
benci. Mengenal ajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Allah.
Jika seseorang tidak mengenal ajaran Allah maka orang tersebut tidak mungkin beriman
kepada Allah. Disamping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan,
karena tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja seorang yang benci menjadi senang.
Seorang anak harus dibiasakan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan menjahui
larangan Allah agar kelak nanti terampil melaksanakan ajaran Allah. Berbuat sesuatu
secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Tetapi
tingkah laku tidak terdiri dari perbuatan yang nampak saja.
2.2 Ruang Lingkup Iman
Hadits Ibnu Majah diatas membuktikan bahwa ruang lingkup Iman mencakup
tiga aspek kehidupan manusia, yaitu meliputi seluruh isi hati, seluruh ucapan dan
segenap laku perbuatan. Ketiga aspek tersebut yaitu isi atau ketetapan hati, seluruh
ucapan dan segenap laku perbuatan adalah satu kebulatan hidup manusia dalam arti
kebudayaan dan peradaban.
Untuk lebih ringkas dan tajam maka masalah bagian isi hati dan ucapan yang memberi
dan menyatakan pernilaian dan pandangan, misalnya Matahari berputar tetap pada
sumbunya Surat 036 Yasin ayat 38 - Wasy syamsu tajri li mustaqarril lahaa dzaalika
taqdiirulaziizil aliim dsb. Kita simpulkan menjadi pandangan hidup; dan bagian isi hati
dan ucapan yang mengenai dan mencakup seluruh laku perbuatan manusia kita
simpulkan menjadi sikap hidup.

Dengan demikian maka hadits diatas, untuk lebih singkat dan mendekati hakikinya,
kita terjemahkan menjadi Iman ialah Pandangan dan Sikap Hidup. Ruang lingkup Iman
ialah Pandangan dan Sikap Hidup ini,
Dengan perkataan lain, oleh Surat 002 Al-Baqarah ayat 165 merumuskan demikian :
165 Dan sebagian manusia adalah orang yang memperlakukan ajaran selain Allah (AlQuran ms Rasul-Nya) menjadi Pembina pandangan & sikap hidupnya. Mereka
mencintai yang demikian itu seperti mencintai ajaran Allah ms Rasul-Nya. Tetapi yang
benar-benar ber-Iman (hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Quran ms RasulNya) adalah sangat rindu untuk hidup dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya. Dan jikalaulah
yang berlaku dzulumat ms Syayathin itu sudi melihat (dengan pandangan al-Quran ms
Rasul-Nya) niscaya pada saat itu akan melihat laku perbuatan dzulumat ms syayathin
satu siksa nestapa bahwa sebenarnya kekuatan hidup tangguh itu adalah dengan ajaran
Allah ms Rasul-Nya secara bulat. Dan Allah, dengan pembuktian Al-Quran ms RasulNya, adalah pembalas kehidupan sangat jahat atas pilihan dzulumat ms syayathin
biadab.
Dengan demikian maka istilah Iman ialah pandangan dan sikap hidup sama dengan
Sangat rindu untuk hidup atau dipuncak kerinduan atau dilambung cinta / rindu
untuk hidup dengan ajaran Allah (Al-Quran ms Rasul).
Demikianlah konsekuensinya jikalau kata kerja aamana-yukminu-mukminun
pembentukan bentuk katanya adalah alternative dari kata benda (isim) yaitu menurut
hadis yang kita sitir diatas.
Dan hal ini akan bertolak belakang dengan alternatif pembentukan dari kata kerja tiga
huruf pokok. Konsekuensi yang lebih jauh, untuk melogiskan Iman = percaya maka
sistematik Iman digusur pula menjadi Tauhid, Fikih, Ahlak dan Tasauf.
Akibatnya Al-Quran ms Rasul yaitu hudan lil muttaqien hampir tidak fungsional
dalam kenyataan hidup ini. Kesemua ini otomatis merusak nilai dan harga Iman.
(http://www.academia.edu/4527943/Hal_hal_yang_meningkatkan_dan_menurunkan_iman_se
seorang)

2.3. Faktor yang dapat merusak iman dan cara memperbaikinya


Faktor yang merusak iman,yaitu:
A. Faktor internal rusaknya iman
1. Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar rusaknya iman, sebagaimana ilmu adalah
2.

sebab terbesar bertambahnya iman.


Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah

3.

satu sebab penting rusaknya iman.


Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan
memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah
Allah Taala menambah iman, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah
Taala mengurangi iman. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkattingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana
disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ungkapan beliau, Sudah
pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman

4.

dan amal shalih pun bertingkat-tingkat.


Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammaratu bissu). Inilah
nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak kepada keburukan
dan kebinasaan, sebagaimana Allah Taala jelaskan dalam menceritakan istri alAziz ,Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi
Maha Penyanyang. (Qs Yusuf: 53)
Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga
wajib bagi kita berlindung kepada Allah Taala darinya dan berusaha
bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.

B. Faktor eksternal rusaknya iman


1. Pertama: Syeitan musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab penting
2.

eksternal yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.


Kedua: Dunia dan fitnah (godaan)nya. Menyibukkan diri dengan dunia dan
perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi iman. Sebab semakin
semangat manusia memiliki dunia dan semakin menginginkannya, maka
semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian akherat,
sebagaiman dituturkan Imam Ibnul Qayyim.

3.

Ketiga: Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi sesuatu
yang sangat berbahaya terhadap keimanan, akhlak dan agamanya. Karena itu
Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal ini dalam
sabda beliau,Seorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya),
maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.
Demikianlah perkara yang harus diperhatikan dalam iman, mudah-mudahan
hal ini dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman

dan

menyempurnakannya.
Cara memperbaikinya,yaitu:
1.

Lakukan berbagai macam ibadah


Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi
seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang
memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat
untuk menyembuhkan lemah iman kita. Puasa membuat kita khusyu dan
mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat
menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak
mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman
kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak
pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa yang
menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu
surga: Wahai hamba Allah, ini adalah baik. Lalu barangsiapa yang menjadi
orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat.
Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu
jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia
dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak
mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.

2.

Berdzikirlah yang banyak


Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum
kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang
yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah.
Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa. (Al-Kahfi: 24) Ingatlah, hanya dengan

mengingat Allah lha hati menjadi tentram. (Ar-Rad: 28). Ibnu Qayim berkata,
Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan
dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan
dzikrullah.
3.

Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-NyaSeseorang selagi


banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda
Rasulullah saw., Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia
dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa. Seseorang selagi mau
bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan
kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan
kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin
banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada
Allah swt.

.
1.4.

Dampak dari Krisis Iman Bagi Individu dan Masyarakat


Jika seorang sudah krisis iman maka sangat berdampak pada kehidupanya. Orang
yang krisis imanya sangat mudah terpengaruh oleh hal hal yang buruk,contohnya: orang
yang krisis iman mudah menjadi musrik karena ia tidak mempercayai oleh kuasa allah.
Orang yang krisis iman hidupnya tidak akan tenang.Akibat orang yang tidak beriman
kepada Allah SWT,Adapun bagi orang yang tidak beriman kepada Allah swt, akan

mengalami kerugiankerugian yang dapat membahayakan dirinya sendiri, bahkan juga


nerugikan orang lain .

Kerugian kerugian itu antara lain :


1) Orang yang tidak beriman, tidak memiliki pedoman hidup dengan benar, dimana
orang itu hatinya tidak akan pernah tenang mudah terbawa ajakan orang, mudah
tergoda oleh setan, pandangannya sempit, kadang kadang bisa membawa dirinya
kearah frustasi jika mengahadapi masalah. Firman Allah QS surat yusuf ayat 87.
Artinya : Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan
saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
2) Orang yang tidak beriman tidak bisa membedakan mana yang halal dan mana yang
haram, dan mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga orang seperti ini berbuat
dan bertindak sesuka hatinya tanpa melihat kepentingan atau aturan aturan agama
ataupun norma norma yang hidup dalam masyarakat. Serta rasa sombong dan
takabur menguasai dirinya. Nabi Muhammad saw bersabda:
Artinya : "Bahwasannya Allah telah mewahyukan kepada ku agar kamu bertawadlu
(rendah hati). Janganlah kamu sombong terhadap orang lain dan janglah berlaku
curang terhadaporang lain (HR.Bukhori).
3) Orang yang tidak beriman akan bersikap individualistis, yaitu hanya mementingkan
dirinya sendiri. Firman Allah QS.Al Imran ayat 180.
Artinya : Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-

lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.
4) Orang yang tidak beriman menganggap bahwa kehidupan diakhirat itu tidak
ada.Firman Allah QS. Al Jaatsiyah 24.
Artinya : Dan mereka berkata: "Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,
dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain
hanyalah menduga-duga saja.
5) Orang yang tidak beriman diakhiran akan dimasukkan kedalam neraka sebagai balasan
dari sikap mereka yang tidak meyakini Allah swt. Firman Allah dalam surat Fushsilat
27.
Artinya : Maka Sesungguhnya kami akan merasakan azab yang keras kepada orang orang kafir dan kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk
pembalasan bagi apa yang Telah mereka kerjakan.
(http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/akibat-bagi-orang-tidak-berimankepada.html)

2.5. Pentingnya Iman Bagi Seorang Muslim


(Alimaanu yajidu wayankus; iman itu kadang naik kadang turun)
A. FIKIR ALAM
Nabi Muhammad saw adalah nabi yang terakhir, yang diutus oleh allah swt. Untuk
seluruh alam ( pembawa rahmat bagi seluruh makhluk di dunia ini ).Nabi Muhammad saw
mempunyai tugas khusus yakni da`wah, menyampaikan kebaikan dab mencegah
kemungkaran, sebagaimana diterangkan dalam ayat suci Al-Qur`an, Orang orang
beriman, baik laki-laki maupun wanita sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian
yang lain, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.(At-Taubah : 71 )
Sebelumnya Allah swt. Telah mengirimkan nabi-nabi-Nya yang terdahulu untuk
menyebarkan agama Allah swt. Kepada manusia di muka bumi ini agar manusia mendapat
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Demikianlah Nabi Muhammad saw. Adalah nabi yang terakhir yang mengemban tugas
khusus yaitu tugas da`wah dan kita sebagai umatnya mempunyai tugas yang sama yaitu
da`wah, baik laki-laki maupun wanita.
Nabi Muhammad saw. Adalah nabi terakhir dan nabi yang paling baik, kita
umatnya yang terakhir dan umat yang terbaik. Dikatakan dalam hadits bahwa kelak
diakhirat diharamkan surga bagi nabi dan umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad
saw beserta umat beliau memasukinya terlebih dahulu.
Umat Nabi Muhammad saw adalah umat yang terbaik karena umat da`wah
(mengemban tugas da`wah ), mengapa disebut paling baik / terbaik ?, karena tugas da`wah
adalah tugas yang paling mulia disisi Allah swt., sampai-sampai Nabi Musa as. Pun ingin
menjadi umat Muhammad saw, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah swt. Hanya nabi Isa as.
Yang dikabulkan kelak menjadi umat Rasulullah saw.
Pada waktu Nabi mengerjakan haji wada`, nabi telah berkhotbah dihadapan para umatnya
dan para sahabatnya, pesan beliau antara lain :

Hai sekalian manusia ketahuilah oleh kamu bahwa Tuhan mu satu. Kamu sekalian
keturuna Adam as. Yang dijadikan dari tanah, sesungguhnya yang termulia disisi allah swt
adalah orang yang paling bertaqwa kepada-Nya.
Kemudian Nabi menerima wahyu dari Allah swt, surat Al-Ma`idah yang intinya
bahwa Allah telah redha Islam menjadi agama . Para sahabat mendengar dan
membenarkan serta Nabi berpesan kepada yang mendengarkan agar menyampaikan
pesan-pesan beliau kepada yang tidak hadir dan yang dialam roh. Sejak saat itu para
sahabat dan yang hadir disitu mengemban tugas untuk menyampaikan da`wah dan
menyebarkan para sahabat yang kira-kira 124.000 orang keseluruh penjuru dunia, hanya
10.000 orang meninggal di Makkah, sedangkan yang lainnya meninggal di luar Makkah,
seperti : Cina, Spanyol, Prancis, Roma dll.
Akhirnya kitapun demikian, mempunyai tugas yang sama dengan para sahabat
Rasulullah. Bagaimana agar manusia raat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, semua ini
tergantung pada fikir dan usaha atas umat di seluruh alam. Untuk memahami antara
hubungan aagama dengan hidayah harus ada usaha setiap orang, contoh : lemparkan batu
jesebuah danau, maka batu akan jatuh ketengah danau tapi riaknya bergelombang
sambung bersambung keseluruh danau hingga ketepinya.
Sama halnya bila seorang muslim berda`wah pada suatu tempat dan fikir atas
seluruh umat manusia, maka Allah swt akan turunkan hidayah keseluruh alam. Jadi
berkembangnya usaha da`wah ini tergantung pada fikir dan usaha kita.
Contoh :
Setelah Ka`bah dibangun oleh nabi Ibrahim as. Beliau mendapat perintah dari Allah swt
untuk memanggil seluruh umat. Beliau meresa bingung karena tidak mampu bagaimana
untuk memanggil seluruh umat yang sekian banyaknya untuk datang ke Ka`bah, Allah swt
berfirman : Kerjakanlah perintah-Ku ( hanya memanggil dan menyampaikan ), Akulah
yang akan menyebarkan suaramu keseluruh umat di alam ini.
Demikianlah ketika nabi Ibrahim a.s menyeru suaranya, Allah sampaikan keseluruh
penjuru dunia dan juga pada ruh-ruh manusia, ini terbukti setiap tahun dari berbagai
penjuru dunia manusia berbondong-bondong menunaikan ibadah haji.

10

Jadi pada dasarnya kita umat nabi yang terakhir disuruh menyampaikan walau hanya 1
ayat saja, sedangkan hidayah adalah Allah yang akan turunkan pada orang yang Dia
kehendaki. Kita harus berdo`a kepada Allah swt bagaimana agar kita mempunyai fikir
yang sama dengan fikirnya nabi dan rapa sahabatnya.
Jadi :
a)
b)
c)
d)
e)

Fikir nabi adalah fikir kita


Kerja nabi adalah kerja kita
Tugas nabi adalah tugas kita
Cemas nabi adalah cemas kita
Risau nabi adalah risau kita.

Setiap saat nabi selalu risau pada umatnya, demikian pula kita hendaknya selalu cemas
dan risau pada umat yang besar ini. Sewaktu nabi hendak wafat nabi selalu risau pada
umat(ummati-ummati, ashsholah,an-nisa`-annisa`).
Kita harus selalu risau dan fIkir setiap saat bahwa setiap detik ada orang orang
yang mati tanpa menyebut kalimat Laailaahaillallaah, sehingga mereka dilemparkan ke
nerakanya Allah swt, bagaaimana kalau ini semua terjadi pada saudara-saudara kita?.
Dan kitapun harus ada fikir bagaimana saudara-saudara kita muslim yang ada di negaranegara Islam yang saat ini sedang tertindas kehidupannya. Bagaimana saudara muslim
kta yang saat ini belum mengamalkan sunnah-sunnah nabi. Bagaimana dengan saudarasaudara kita baik itu muslim ataupun non-muslim agar Allah turunkan hidayah kepada
mereka, hingga mereka masuk ke dalam Islam secara Kaffah.
Perlu diketahui, kerja agama penting untuk kesempurnaan agama.
Jika kita punya fikir atas seluruh umat manusia setiap usaha yang kita lakukan
( da`wah ) akan diterima oleh Allah swt sebagai perantara turunnya hidayah. Umat Islam
sekarang ini banyak dihinakan karena banyak yang tinggalkan sunnah-sunnahnya. Kita
semua ( laki-laki dan perempuan ) mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama yakni
da`wah, Da`wah adalah kerja yang sangat disukai Allah dan kedudukannya sangat tinggi
dan mulia disisi Allah, dibandingkan dengan amalan apapun. Dengan sering da`wah maka
iman akan naik, tentunya kerja ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Usaha da`wah ini
memerlukan pengorbanan-pengorbanan yang tidak sedikit. Fikir sesaat tentang agama
Allah lebih baik dari 70 tahun ibadah .
11

A. 3 Perkara Untuk Mendapatkan Fikir Alam :


1. Do`a, agar Allah swt memberikan kekuatan fikir alam pada kita untuk umat
2.

seluruh alam.
Kita harus selalu berfikir, bahwa setiap detik ada orang yang mati tanpa kalimah

3.

iman,sehingga mereka dilemparkan ke neraka.


Fikir, bagaimana saudara-saudara muslim yang hidupnya miskin, lemah iman,
sedikir saja dorongan dan bantuan dari orang non-muslim dapat menjerumuskan
pada malapetaka kekafiran.

B. Allah swt akan menjaga diri kita apabila dalam diri kita ada 3 sifat :
1. Setiap saat, risau pada umat bertambah dalam fikir kita, fikir Islam dan non
2.

Islam.
Beri da`wah ifrirodi setiap waktu, dengan demikian kita bahu membahu

3.

menyelesaikan masalah umat.


Kasih sayang dapat bertambah pada setiap muslim tiap hari bertambah. Kasih
sayang dapat bertambah kalau kita tidak melihat kelemahan atau kekuranga
saudara kita, pandanglah selalu kebaikannya. Rasul bersabda, Tidak sempurna
iman seseorang sebalum menyayangi orang lain seperti dia menyayangi dirinya
sendiri.
(Sumber : http://abuaqil.wordpress.com/pentingnya-iman/)

2.6. Ciri ciri Orang yang Beriman


Al-quran menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:
1) Jika disebut nama Allah, hatinya akan bergetar dan berusaha ilmu Allah tidak lepas
dari syaraf memorinya (al-anfal : 2)
2) Senantiasa tawakal, yaitu bekeja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah. (Ali imran :
120, Al maidah: 12, al-anfal : 2, at-taubah: 52, Ibrahim:11)
3) Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu melaksanakan perintah-Nya. (al-anfal: 3,
Al-muminun: 2, 7)
4) Menafkahkan rizki yang diterima dijalan Allah. (al-anfal: 3, Al-mukminun: 2, 7)
5) Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan. (Almukminun: 3, 5)
6) Berjihad di jalan Allah dan Suka menolong. (al-Anfal : 74)
7) Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin. (an-nur: 62)
8) Tidak akan meniru atau terpengaruh dengan orang-orang yang kafir dan yang
dimurkai Allah SWT, samada dalam pemikiran, perbuatan, penampilan atau
12

sebagainya. Firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah


kamu menjadi seperti orang-orang kafir. Surah Ali Imran: 156. Mereka juga tidak
akan meniru gaya dan tingkah laku orang yang lupakan Allah SWT. Bahkan contoh
mereka adalah para Nabi-nabi dan salafus soleh. Firman Allah SWT: Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan
mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.
Surah al-Hasyr: 19.
a. Mereka lebih suka dengan identiti keimanan yang ada pada mereka sendiri. Ini
kerana mereka memahami itulah yang terbaik untuk mereka. Firman Allah
SWT: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih

hati,

padahal

kamulah

orang-orang

yang

paling

tinggi

(kedudukannya), jika kamu orang-orang yang beriman. Surah Ali Imran:


139.
9) Orang yang beriman tidak akan melampau dalam menilai sesuatu sehingga
mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau sebaliknya. Firman Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik
yang telah Allah halalkan kepada kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya Allah tidak sukakan orang-orang yang melampaui batas. Surah alMaidah: 87.
10) Orang yang beriman adalah orang yang amanah. Mereka memahami bahawa
merosakkan amanah merupakan sikap orang munafiq. Firman Allah SWT: Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan
(juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada
ka)mu, sedang kamu mengetahui (wajib taat dan menunaikannya). (Surah alAnfal: 27). Anas bin malik menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. dalam banyak
ucapan khutbahnya menyebut:

.
(11
a. artinya: Tidak ada iman kepada orang yang tiada amanah, dan tiada agama
kepada orang yang tiada janji. Hadis riwayat Ahmad, dan Syeikh Syuaib al-

Arnauth menganggapnya hadis hasan.


12) Orang yang beriman akan sentiasa bersama orang yang benar-benar mentaati Allah.
Mereka tidak akan suka untuk bersama dengan golongan yang menderhakai Allah,
apatah lagi yang merendah-rendahkan agama. Firman Allah SWT: Wahai orangorang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama

13

orang-orang yang benar. Surah at-Taubah: 119. Mereka tidak akan bersama
golongan yang bidah yang berfahaman dengan ideologi-ideologi baru atau ajaran
sesat, apatah yang menghina agama mereka. Firman Allah SWT: Dan sungguh
Allah telah turunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahawa apabila kamu
mendengar ayat-ayat Allah diengkari dan dipermain-mainkan, maka janganlah
kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka bercakap perkara yang lain.
Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan
mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik
dan orang-orang kafir di dalam (neraka) Jahannam. Surah an-Nisa: 140.
a. Mereka juga tidak akan bersama dengan golongan yang jelas-jelas melakukan
kemaksiatan kepada Allah SWT. Jabir r.a. menyatakan bahawa Nabi s.a.w.
bersabda:


.
(13
a. artinya: Dan sesiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka
janganlah dia duduk pada hidangan yang dihidangkan arak. Hadis riwayat
Tirmizi dan al-Hakim, dan beliau menganggapnya sohih mengikut syarat Imam
Muslim dan diakui az-Zahabi.
14) Di antara sikap orang yang beriman yang sebenar ialah bergaul dengan orang ramai
dan bukannya hidup bersendirian. Ini kerana mereka memahami dengan pergaulan
mereka mampu berdakwah dan amar makruf serta nahi munkar. Lagipun bergaul
merupakan sikap keseluruhan Rasul yang diutuskan Allah SWT. Sabda Nabi s.a.w.:



(15


a. artinya: Orang beriman yang bergaul dengan orang ramai dan mampu
bersabar dengan kejahatan mereka adalah lebih banyak pahalanya daripada
orang beriman yang tidak bergaul dan tidak mampu bersabar dengan kejahatan
orang ramai. Hadis riwayat Ahmad dengan sanad yang sohih.
b. Tambahan lagi mereka memahami bahawa syaitan sukakan orang yang
bersendirian. Saidina Umar r.a. menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda
dalam khutbah baginda:


(16
a. artinya: Sesungguhnya syaitan itu bersama dengan orang yang bersendirian.
Dan dengan orang yang berdua itu, dia lebih jauh. (Namun,) janganlah kamu
berdua-duaan dengan seorang perempuan, kerana yang ketiganya adalah
syaitan. Hadis riwayat Ahmad dengan sanad yang sohih.
17) Orang yang beriman adalah orang yang beradab dan berpertauran. Kehidupan mereka
adalah teratur dan beradab kerana keimanan yang ada pada mereka. Mereka tidak akan
14

masuk ke rumah orang lain tanpa keizinan terlebih dahulu. Firman Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak
dapati seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu
diberikan keizinan. Dan jika dikatakan kepadamu: "Pulanglah, maka hendaklah
kamu pulang. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. Surah an-Nur: 27-28.
i. Sebagaimana mereka mempunyai adab di luar rumah, mereka juga
mempunyai adab-adab dalam rumah. Firman Allah SWT: Wahai
orang-orang yang beriman, hendaklah hamba-hamba (lelaki dan
wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di
antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)
iaitu: sebelum solat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian
(luar)mu di tengah hari dan sesudah solat isyak. (Itulah) tiga aurat
bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka
selain daripada (tiga waktu) itu. Kamu dan mereka saling pergi mari
(kerana keperluan masing-masing). Demikianlah Allah menjelaskan
hukum hakam untuk kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. Dan apabila kanak-kanak di kalangan kamu telah
sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti
orang-orang yang sebelum mereka meminta izin (setiap masa).
Demikianlah Allah menjelaskan hukum hakamNya. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Surah an-Nur: 58-59.
b. Mereka juga mempunyai adab bila bersama orang ramai dalam majlis. Firman
Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan
kepadamu: "lapangkanlah (berikanlah ruang) dalam majlis", maka
lapangkanlah, nescaya Allah akan memberi kelapangan kepadamu. Dan
apabila dikatakan: "Bangunlah kamu (untuk perkara-perkara kebaikan)",
maka bangunlah, nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Surah al-Mujadilah: 11.

15

18) Orang beriman yang sebenar tidak akan memperlekeh dan menghina orang Islam yang
lain. Firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan
lelaki mempermainkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang dipermainkan itu lebih
baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mempermainkan
kumpulan yang lain, boleh jadi yang dipermainkan itu lebih baik dari mereka. Dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri (mencela antara sesama mukmin kerana
orang-orang mukmin seperti satu tubuh). Dan jangan memanggil dengan gelaran
yang mengandungi ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasiq
sesudah keimanan (seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya kepada orang yang
beriman). Dan sesiapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang
yang zalim. Surah al-Hujurat: 11.
i. Mereka juga tidak akan buruk sangka sesama mereka dan tidak akan
memperburukkan orang lain. Firman Allah SWT: Wahai orang-orang
yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), kerana
sebahagian daripada prasangka itu dosa. Dan janganlah mencaricari keburukan orang lain dan janganlah mengumpati satu sama
lain. Adakah seorang di kalangan kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Wahai manusia,
sesungguhnya Kami ciptakan kamu daripada seorang lelaki dan
seorang perempuan dan jadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di kalangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenali. Surah al-Hujurat: 12-13.
19) Orang beriman yang sebenar adalah orang yang sekata antara lidah dan perilakunya.
Mereka bukanlah orang yang hanya pandai bercakap dan berteori, namun tidak
mempraktikkannya. Firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman,
mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak lakukan? Amat besar
kebencian di sisi Allah bahawa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
lakukan. Surah as-Sof: 2-3.

16

i. Mereka tidak akan meniru perangai sebahagian pendeta Yahudi yang


hanya pandai bercakap, tetapi tidak beramal dengan ilmunya. Firman
Allah

SWT:

Adakah

patut

kamu

menyuruh

orang

lain

(mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri kamu


sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah
kamu berpikir? Surah al-Baqarah: 44.
20) Orang yang beriman akan sentiasa bersedia untuk akhirat. Mereka mengetahui bahawa
kehidupan akhirat adalah lebih kekal, kerana itu persediaan mereka untuknya adalah
lebih banyak. Firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri melihatkan apa yang telah disediakannya
untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan. Surah al-Hasyr: 18.
a. Mereka meyakini bahawa dunia ini hanyalah tempat ujian, dan akhirat adalah
kehidupan yang sebenar. Firman Allah SWT: Dan tidaklah kehidupan dunia
ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Surah alAnkabut: 64.
21) Orang yang beriman tidak akan terpesona dengan kehidupan dunia, sekalipun orang
yang kafir hidup dengan penuh kemewahan dan kaya raya. Mereka akan merasakan
tiada nilai dalam kehidupan jika tiada ketaatan kepada Allah padanya. Firman Allah
SWT: Katakanlah: "Dengan kurniaan Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan
itu mereka bergembira. Kurniaan Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari
apa yang mereka kumpulkan". Surah Yunus: 58.
a. Mereka memahami dunia ini tiada nilai di sisi Allah SWT. Sahl bin Saad r.a.
meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
.
(22

a. Artinya: Kalaulah dunia ini bernilai di sisi Allah seberat sayap nyamuk
sekalipun, maka Allah tidak akan berikan orang kafir walau seteguk air.
Hadis riwayat Tirmizi dan beliau berkata hadis sohih gharib. Al-Albani juga
menganggapnya sohih.
23) Sangat menjaga masa dan tidak mensia-siakannya. Segala masa yang diberikan
mereka akan gunakan sebaik mungkin, kerana semuanya mesti menjadi pengabdian
kepada Allah SWT dan bekalan di akhirat nanti. Firman Allah SWT: 1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang

17

yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati dengan
kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran. Surah al-Asr: 1-3.
i. Inilah sebahagian daripada sifat orang yang beriman. Untuk mengenali
lagi sifat-sifat orang yang beriman, maka kita hendaklah mengenali
dengan lebih dekat lagi para Nabi dan Rasul. Ini kerana merekalah
orang yang benar-benar beriman. Dan perincian terhadap keseluruhan
sifat-sifat orang yang beriman terkandung dalam al-Quran dan juga
Hadis Nabi s.a.w. Kerana itu kedua-dua sumber tersebut hendaklah
sentiasa dipelajari dan dikaji oleh para mukmin supaya timbulnya sikap
yang baik yang perlu ada pada seorang mukmin. Sikap inilah yang akan
membawa kejayaan kepada individu muslim dan juga umat Islam dunia
dan akhirat.
(http://tasekpauh.blogspot.com/2010/02/ciri-ciri-orang-yang-beriman-siri-5.html)

2.7. Pengertian Takwa dan Indikatornya


Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga,
memelihara dan melindungi.Sesuai dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa
dapat diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran
agama Islam secara utuh dan konsisten ( istiqomah ). Karakteristik orang orang yang
bertaqwa, secara umum dapat dikelompokkan kedalam lima kategori atau indikator
ketaqwaan.
a. Iman kepada Allah, para malaikat, kitab kitab dan para nabi. Dengan kata
lain, instrument ketaqwaan yang pertama ini dapat dikatakan dengan
memelihara fitrah iman.
b. Mengeluarkan harta yang dikasihnya kepada kerabat, anak yatim, orang
orang miskin, orang orang yang terputus di perjalanan, orang orang yang
meminta minta dana, orang orang yang tidak memiliki kemampuan untuk
memenuhi kewajiban memerdekakan hamba sahaya. Indikator taqwa yang
kedua ini, dapat disingkat dengan mencintai sesama umat manusia yang
diwujudkan melalui kesanggupan mengorbankan harta.

18

c. Mendirikan solat dan menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara
ibadah formal.
d. Menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan
diri.
e. Sabar disaat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang, atau dengan kata lain
memiliki semangat perjuangan.
(Sumber : http://abr26-k1m14.blogspot.com/2011/04/blog-post.html)
1) Korelasi Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang di kenal dengan istilah Tauhid di bagi
menjadi dua, yaitu Tauhid Teoritis (Tauhid Rububiyah) dan Tauhid Praktis (Tauhid
Uluhiyyah).Tauhid teoritis adalah Tauhid yang membahas tentang keesaan zat,
keesaan sifat, dan keesaan perbuatan Tuhan. Konsekuensi tauhid teoritis adalah
pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya wujud mutlak.Adapun Tauhid
Praktis yang merupakan terapan Tauhid Teoritis, berhubungan dengan ibadah manusia.
Dalam menegakkan Tauhid seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep
dan pelaksanaan, pikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks dengan demikian
bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan percaya kepada Allah
melalui pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan
mengamalkannya dengan perbuatan.
1) Implementasi Iman Dan Takwa
Problematika, Tantangan dan Resiko dalam Kehidupan Modern
Pada millennium ketiga, bangsa Indonesia dimungkinkan sebagai masyarakat
yang satu dengan yang lainnya saling bermusuhan. Hal itu digambarkan oleh
Ali Imran : 103, sebagai kehidupan yang terlibat dalam wujud saling
bermusuhan ( idz kuntum a daaan ), yaitu suatu wujud kehidupan yang
berada pada ancaman kehancuran.
Adopsi modernisme (westernisme), kendatipun tidak secara total, yang
dilakukan bangsa Indonesia selama ini, telah menempatkan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang semi naturalis. Di sisi lain, di adopsinya idealisme juga
telah menjadikan bangsa Indonesia menjadi pengkayal. Adanya tarik menarik
antara kekuatan idealisme dan naturalisme menjadikan bangsa Indonesia
bersikap tidak menentu. Oleh karena itu, kehidupannya selalu terombangambing oleh isme-isme tersebut.

19

Untuk membebaskan bangsa Indonesia dari persoalan tersebut, perlu dilakukan


revolusi pandangan. Dalam kaitan ini, iman dan taqwa yang dapat berperan
menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan modern tersebut.
(Sumber : http://abr26-k1m14.blogspot.com/2011/04/blog-post.html)
2) Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan
Modern
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini
dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan
manusia:
a. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah.
Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu
kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Sebaliknya,jika Allah hendak
menimpakan bencana, maka tidak ada satu kekuatanpun yang sanggup
menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian
menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang
memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian bendabenda keramat, mengikis kepercayaan pada khufarat, takhyul, jampi-jampi
dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat
Al Fatihah ayat 1-7
b. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak
diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena
takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa
kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup
dan mati adalah firman Allah:
Dimana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu
kendatipun kamu di benteng yang tinggi lagi kokoh.( An Nisa 4: 78)
c. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
Rezeki memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak
orang yang melepaskan pendirian bahkan tidak segan-segan melepaskan
prinsip,menjual kehormatan,bermuka dua,menjilat dan memperbudak diri

20

karena kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini adalah
firman Allah:
Dan tidak ada satu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata
(lauhul

mahfud)

(Hud,

11:6)

(Sumber

http://abr26-

k1m14.blogspot.com/2011/04/blog-post.html)
d. Iman memberikan kententraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, serta digoncang oleh
keraguan

dan

kebimbangan.

Orang

yang

beriman

mempunyai

keseimbangan , hatinya tentram(mutmainah), dan jiwanya tenang(sakinah),


seperti dijelaskan firman Allah:
..(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram
dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tentram (Ar-Rad,13:28)

e. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)


Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu
melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini
dijelaskan dalam firman Allah :
Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih baik dari apa yang mereka
kerjakan. (An Nahl, 16:97)
f. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat ikhlas, tanpa
pamrih , kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen
dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun
dengan hatinya. Ia senantiasa berfirman pada firman Allah:
Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Anaam, 6:162)

21

g. Iman memberikan keberuntungan


Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah
membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan
demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam
hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan
merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah, 2:5) (Sumber :
(http://abr26-k1m14.blogspot.com/2011/04/blog-post.html)
h. Iman mencegah penyakit
Ahlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis
tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Jika seseorang jauh dari
prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas moral dan ahlak, merobekrobek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat
kepada Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh
kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya hormon
adrenalin dan persenyawaan kimia lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan
pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian
atas.
Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan
terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia.
Pada waktu itulah timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan
psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian. Demikianlah
pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya
sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang
mendorong dan membentuk sikap perilaku hidup. Apabila suatu
masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk
masyarakat yang aman, tentram, damai, dan sejahtera.
(Sumber : http://abr26-k1m14.blogspot.com/2011/04/blog-post.html)
2.8. Iman dan taqwa melahirkan sifat tawakal
Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang
mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan
Allah, dan dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah

22

diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya
dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah.
Allah telah menciptakan semua makhluk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun
benda-benda tak bernyawa masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan
takdirnya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut
kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita
tersandung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu
anda, teman kepala sekolah anda, diri anda pendek kata segala sesuatunya, takdirnya
telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan
dalam sebuah kitab yang dalam al-Quran disebut sebagai Lauhul-Mahfuzh. Saat
kematian, saat jatuhnya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu
yang menyebabkan kita tersandung pendek kata semua peristiwa, yang remeh maupun
yang penting semuanya tersimpan dalam kitab ini.
Orang-orang yang beriman meyakini takdir ini dan mereka mengetahui bahwa
takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Itulah sebabnya
setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan
kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah menciptakan semua peristiwa ini sesuai
dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah.
Misalnya, terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam,
menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau menghadapi peristiwa yang
sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak
menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja
yang telah diciptakan Allah untuk mereka.
Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja,
keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan
putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesungguhnya telah
direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang menghadapi
semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia
ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang
kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan,
ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan

23

mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang
beriman. Allah menjelaskan dalam al-Quran bahwa Dia mencintai orang-orang yang
bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali Imran: 159) Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini,
beliau bersabda:
Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan
buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik
dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan
buruk).1
Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Quran tentang bertawakal kepada
Allah adalah tentang melakukan tindakan. Al-Quran memberitahukan kita tentang
berbagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai
keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelaskan rahasia bahwa tindakantindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah
takdir. Nabi Yaqub a.s. menasihati putranya agar melakukan beberapa tindakan ketika
memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah
ayat yang membicarakan masalah tersebut:
Dan Yaqub berkata, Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu
gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan, namun demikian aku
tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan
menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan
hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri. (Q.s. Yusuf:
67).
Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Yaqub, orang-orang yang beriman
tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka
tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, seseorang
harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini
merupakan tindakan yang penting dan merupakan sebuah bentuk ibadah demi
keselamatan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu
meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk
mencegah kematiannya.

24

Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuatan tampaknya dapat


menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan
keputusan penting yang dapat mengubah jalan hidupnya, atau seseorang dapat sembuh
dari penyakitnya yang mematikan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya.
Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu.
Sebagian orang salah menafsirkan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai mengatasi
takdir seseorang atau mengubah takdir seseorang. Tetapi, tak seorang pun, bahkan
orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah
ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memiliki kekuatan seperti itu.
Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya
fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak mengubah
kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetapkan demikian.
Karena itulah orang-orang yang menghindari kematian atau penyakit, atau mengubah
jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah
menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Quran sebagai berikut:
Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu
jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah
ditetapkan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah menyatakan
kepada manusia supaya tidak berduka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya,
seseorang yang kehilangan semua harta bendanya dalam sebuah kebakaran atau
mengalami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan.
Dengan demikian mustahil baginya untuk menghindari atau mencegah kejadian tersebut.
Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji
hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orangorang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu,
Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bertawakal

25

kepada Allah akan selalu mengalami kesulitan, keresahan, ketidakbahagiaan dalam


kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat
kelak. Dengan demikian sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan
keberuntungan dan ketenangan di dunia dan di akhirat. Dengan menyingkap rahasiarahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai
kesulitan dan menjadikan ujian dalam kehidupan di dunia ini mudah bagi mereka.
(http://gueresa.blogspot.com/2012/10/makalah-iman-dan-taqwa.html)

26