Anda di halaman 1dari 3

KAPUR DAN SPIDOL SERTA HUBUNGANNYA DENGAN OBJEK

ARSITEKTUR
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat terlepas dari
kegiatan berkomunikasi.
Kegiatan berkomunikasi ini terus
mengalami perkembangan sejak Zaman Pra-Aksara, dimana
manusia belum mengenal tulisan dan masih menggunakan bodylanguage sederhana untuk berkomunikasi. Pada awal Zaman PraAksara, manusia cenderung hidup mengelompok dan berpindahpindah tempat, atau nomaden. Dalam sejarah perkembangannya,
manusia mulai menggambar di dinding-dinding gua untuk bertukar
informasi, atau hanya sekadar bercerita tentang harapan dan
pengalaman mereka.
Seiring berjalannya waktu, manusia sudah mulai hidup
menetap dengan membuat desa-desa kecil, sehingga menyebabkan
intensitas berkomunikasi menjadi lebih tinggi dan terbentuklah
ikatan emosional antara satu dengan yang lain. Selain itu,
berkomunikasi juga menyebabkan munculnya mitos dan legenda
yang diturunkan secara turun-temurun dari lisan ke lisan.
Berkomunikasi menjadi semakin intensif disebabkan oleh
perkembangan golongan-golongan masyarakat yang semakin
kompleks, sehingga memunculkan pembagian kerja yang teratur
dan transaksi-transaksi antar manusia.
Ribuan tahun kemudian, manuasia mulai mencoba cara baru
untuk berkomunikasi, yaitu dengan tulisan. Perkembangan tulisan
tersebut dimulai dari sistem petroglif, yaitu ukiran diatas batu,
hingga sistem alfabetis.
Sistem alfabetis mulai disebarluaskan oleh para saudagar,
dan mengalami asimilasi oleh kebudayaan setempat yang secara
tidak langsung menyebabkan kebutuhan berkomunikasi melalui
tulisan semakin tinggi.
Perkembangan tulisan yang semakin pesat juga berdampak
pada sektor pemerintahan, sehingga dibentuklah sebuah kantor pos
karena sistem surat menyurat dianggap lebih efisien untuk
menyelesaikan masalah kenegaraan. Selain itu, perkembangan
tulisan juga merambah ke dunia pendidikan, yang dibuktikan
dengan dibangunnya perpustakaan oleh Bangsa Yunani pada tahun
530 SM.
Memasuki abad ke-18, manusia mulai mengembangkan
teknologi-teknologi untuk berkomunikasi. Namun uniknya, manusia
masih menggunakan sebuah papan batu sebagai media untuk
menulis di sekolah. Hal tersebut dikarenakan oleh harga kertas yang
terlalu mahal dan susah didapat.
Papan batu tersebut semakin berkembang, sehingga mulai
dikenal dengan sebutan papan tulis hitam (blackboard).
Perkembangan papan batu menjadi papan tulis hitam (blackboard)
juga berdampak pada alat untuk menulis itu sendiri. Pada awalnya
manusia menggunakan semacam batu putih yang kemudian
digantikan oleh gipsum yang mengalami modifikasi bentuk dan
1

FATIMAH AL ZAHRA/21020114140122

lebih dikenal dengan sebutan kapur tulis. Kapur tulis banyak


digunakan dalam berbagai bidang termasuk seni (
Penggunaan kapur tulis ini semakin menjamur di bidang
pendidikan, sehingga muncullah permintaan-permintaan untuk
membuat kapur dengan berbagai warna. Permintaan-permintaan
tersebut berdasarkan kepada berbagai pertimbangan, salah satunya
adalah pertimbangan estetika.
Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaan kapur
sebagai alat tulis perlahan-lahan mulai digeser dengan spidol
(board-marker) dengan alasan kapur dianggap kotor dan berdebu.
Selain itu, penelitian mengatakan partikel-partikel kapur yang lepas
bebas di udara dapat menyebabkan gangguan pernafasan.
Penggunaan spidol sebagai alat tulis, diikuti dengan dibuatnya
media baru berupa papan tulis putih (white board).
Pada masa perkembangannya, spidol dirancang sebagai alat
yang dapat mengakomodasi kebutuhan manusia untuk menulis.
Spidol pertama kali dipatenkan pada tahun 1910-an berbentuk
silinder kaca yang berfungsi sebagai reservoir tinta dan memiliki
ujung berupa sponsyang berguna sebagai penyalur tinta dari
reservoir ke atas media tulis. Seiring berjalannya waktu, spidol
dikemas secara lebih praktis dengan bahan dasar plastik.
Tinta yang digunakan untuk spidol dapat berupa tinta
permanen maupun non permanen. Dalam kegiatan belajar
mengajar, biasanya digunakan spidol dengan tinta non-permanen.
Perpaduan antara spidol non-permanen dengan papan tulis
putih (whiteboard) merupakan jawaban atas masalah kebersihan
dan kesehatan yang disebabkan oleh penggunaan kapur tulis dan
papan tulis hitam (blackboard) karena penggunaan spidol itu sendiri
tidak menghasilkan debu atau pertikel-partikel yang melayang
bebas di udara.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kapur tulis
dan spidol memiliki hubungan yang terkait dengan objek
arsitektural karena kedua buah benda tersebut lahir dari buah pikir
manusia setelah dihadapkan dengan sebuah permasalahan yang
berawal dari bidang pendidikan, yang kemudian merambah ke
bidang kebersihan bahkan kesehatan.
Dalam perkembangannya, manusia memulai dengan langkah
yang paling sederhana, yaitu dengan melakukan pendekatanpendekatan dengan alam, sehingga dipilihlah batu putih sebagai
alat untuk menulis.
Pendekatan-pendekatan sederhana dengan alam merupakan
langkah awal dari proses mendesign. Sedangkan objek dari proses
mendesign itu sendiri berawal dari kesulitan untuk mendapatkan
kertas dengan harga yang murah.
Proses mendesign tersebut terus berlanjut, sehingga manusia
dapat mengembangkan sebuah batang gipsum silindris yang
dikenal dengan sebutan kapur tulis. Dalam perkembangannya,
kapur tulis memiliki berbagai variasi warna yang diperoleh dari
pertimbangan di bidang estetika. Perihal pertimbangan kesehatan,
2 FATIMAH AL ZAHRA/21020114140122

manusia mulai menemukan sebuah inovasi baru berupa spidol.


Proses mendesign yang terus berlanjut menandakan bahwa
kapur tulis dan spidol merupakan suatu objek arsitektural yang akan
selalu mengalami perkembangan demi mengakomodasi kebutuhan
manusia.
Selain itu, kedua alat tersebut memiliki subjek pengguna yang
sama dengan bidang ilmu arsitektur, yaitu manusia.
Arsitektur merupakan suatu bidang ilmu yang keberadaannya
didasari oleh keinginan manusia untuk merancang sesuatu demi
kemudahan dan kelancaran hidup mereka. Kata merancang pada
bidang arsitektur tidak hanya merujuk pada sebuah bangunan atau
landscape; namun segala sesuatu yang dibuat dan dirancang
dengan sistem dan menjadikan manusia dan lingkungan sekitarnya
sebagai sumber pertimbangan dalam perancangan, dapat disebut
sebagai Arsitektur. Rancangan tersebut akan senantiasa berubah
dan berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan masalah
yang hadir.

FATIMAH AL ZAHRA/21020114140122