Anda di halaman 1dari 25

Peran Mahasiswa Islam sebagai Agen Perubahan

Ada tiga kata kunci dalam judul di atas yang akan coba saya bahas
dalam tulisan ini., yaitu kata mahasiswa, kata Islam dan kata perubahan.
Tentunya menarik untuk dipertanyakan atau dibayangkan mengapa kita
tidak memberi judul "Peran Manula sebagai Agen Perubahan" atau
"Peran Mahasiswa Gaul sebagai Agen Perubahan".
Saya mulai dengan kata mahasiswa. Mahasiswa dipilih sebagai pelaku
karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan.
Mahasiswa saya definisikan di sini sebagai segmen pemuda yang
tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual. Di sini saya tidak
membicarakan mahasiswa sebagai orang yang faham teknologi, atau
faham ilmu-ilmu sosial, namun saya mengartikan mahasiswa sebagai
orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat
membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif
lainnya, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya)
mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum
terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa
masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik,
tanpa adanya resistansi yang terlalu besar. Anda dapat membandingkan
misalnya Amin Rais (yang memiliki 'beban' sebagai mantan Ketua
Muhammadiyah) dan seorang pemuda yang baru masuk menjadi
anggota Muhammadiyah. Jika misalnya - sekali lagi misalnya - keduanya
berfikir bahwa NU lebih baik, resistansi yang dimiliki oleh Amin Rais
untuk beramal dalam wadah NU lebih besar dibanding pemuda tadi.
Sedang energik berarti pemuda biasanya siap sedia melakukan
'kewajiban' yang dibebankan oleh suatu ideologi manakala dia telah
meyakini akan kebenaran ideologi itu. Sebagai contoh adalah para
shahabat yang bahkan siap meninggalkan malam pertamanya manakala
mendengar perintah jihad.
Dengan potensi seperti di atas, wajar jika pada setiap zaman kemudian
pemuda memegang peran penting dalam perubahan kaumnya. Kita lihat
kisah Ibrahim as sang pembaharu, atau kisah pemuda Kahfi (18:9-26)
yang masing-masing begitu sigap menerima kebenaran. Atau orangorang yang segera menerima dan mendukung Rasulullah saw pun

ternyata adalah para pemuda, bukan orang-orang tua yang saat itu
menjadi pemuka kaumnya. Bukan Abu Jahal atau Abu Sufyan, tetapi
Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah lah yang
kemudian mengusung panji-panji Islam. Bahkan Abu Bakar - yang cukup
tua pun - saat itu baru berusia 37 tahun.
Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda dapat
memiliki tiga peran, yaitu:
1. Sebagai generasi penerus (AthThur:21); meneruskan nilai-nilai
kebaikan yang ada pada suatu kaum.
2. Sebagai generasi pengganti (Al Maidah:54); menggantikan kaum
yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai
Allah, lemah lembut kepada kaum mu'min, tegas kepada kaum
kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
3. Sebagai generasi pembaharu (Maryam:42); memperbaiki dan
memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.
Kata kunci yang kedua adalah Islam. Islam adalah sebuah ideologi yang
memberikan energi besar bagi perubahan. Hal ini dimungkinkan karena
karakter Islam yang syumul, mewarnai seluruh aspek kehidupan dan
mengatur seluruh bagian manusia. Islam tidak hanya sekedar mewarnai
pola pikir, namun dia juga mempengaruhi emosi, perasaan, pemikiran
dan juga fisik. Berislamnya seseorang akan melahirkan sebuah totalitas.
Dengan adanya syahadah, seorang muslim akan meyakini bahwa dia
memang diciptakan hanya untuk beribadah, bahwa tidak ada yang dapat
memberikan kemudharatan kecuali atas izin Allah, sehingga dengan
demikian tidak ada lagi sesuatupun yang ditakutinya. Kalaupun harus
berperang, dia meyakini bahwa apapun hasilnya akan berupa kebaikan.
Matinya adalah syahid, dan hidupnya adalah kemuliaan.
Dengan demikian gabungan kata mahasiswa dan Islam memberikan
sebuah energi besar yang berlipat, yang apabila diarahkan dengan baik
dapat memberikan sebuah perubahan.
Berbicara tentang perubahan, tentunya akan memunculkan pertanyaan
mengapa harus ada perubahan. Di sini ada beberapa hal yang bisa
dijadikan sebagai jawaban:

1. Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri
bahwa masyarakat (termasuk atau terutama di Indonesia) saat ini
masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak di
permukaan adalah pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang
membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak
salah jika ada ulama yang mengatakan kondisi sekarang sebagai
jahiliyah modern.
2. Perubahan adalah suatu keniscayaan, atau sunnatullah. Artinya
suka atau tidak, kita akan menemui perubahan. Kalaupun kita
diam, maka ada banyak pemikiran lain (komunis, liberal, dll) yang
mencoba mengubah masyarakat sesuai dengan kehendak mereka.
Oleh karena itu, diamnya kita berarti membiarkan 'kekalahan'
ideologi yang kita yakini kebenarannya dan membiarkan terjadinya
perubahan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dalam Ar Ra'd:11,
Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu
kaum hingga mereka mengubah kondisi dirinya sendiri.
3. Melakukan perubahan adalah perintah di dalam ajaran Islam,
sebagaimana dalam suatu hadits Rasulullah saw menyatakan
bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang
yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti
rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah
celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa
perubahan - apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih
buruk - berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di
dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang
menyeru kepada kebaikan - sebagai sebuah perubahan.
Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah mengapa harus
saya yang melakukan perubahan, dan bukan orang lain. Secara
sederhana jawabannya adalah karena kita adalah orang-orang terpilih. :)
Dari sekitar 5 milyar penduduk bumi, hanya 1 milyar yang memeluk
Islam, suatu segmen yang tidak terlalu besar. Dari sekian banyak
pemeluk Islam, mungkin hanya sekitar 5 % yang menjadi mahasiswa.
Berarti kita (baca: mahasiswa muslim) merupakan sebuah segmen yang
sangat kecil. Dan dari sekian mahasiswa muslim, hanya puluhan atau
mungkin ratusan yang tertarik mengikuti kajian, atau membaca tulisan
bertemakan peran mahasiswa Islam sebagai agen perubahan. Orangorang yang sedikit ini seharusnya tidak kemudian lepas tangan, yang
artinya membiarkan perubahan berjalan ke arah yang tidak kita

kehendaki. Dengan kata lain, kita telah sadar akan potensi yang kita
miliki; dan setiap potensi bermakna adanya tanggung jawab. Makin
besar potensi yang dimiliki seseorang, makin besar pula tanggung
jawab yang dimilikinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al
Hakim, Rasulullah juga mengingatkan kita untuk mempergunakan lima
kesempatan, yang di antaranya adalah masa muda sebelum datangnya
tua.
Kesadaran bahwa kita 'harus' menjadi agen perubahan merupakan
langkah awal yang kemudian harus dibarengi dengan pemahaman
bagaimana cara melakukan perubahan atau ke arah mana perubahan itu
kita arahkan. Di dalam surat Ali Imran:104 yang disebutkan di atas, Allah
menyebutkan bahwa perubahan itu harus dilakukan ke arah "kebaikan".
Dalam tataran praktis, tentu kita harus mem-break down tujuan global
itu ke dalam sasaran-sasaran jangka pendek, jangka menengah hingga
jangka panjang. Arah kebaikan yang dimaksud adalah Islam dan tauhid,
sehingga sebagai tujuan jangka panjang adalah terbentuknya
masyarakat dan pemerintahan yang Islami yang lingkupnya tidak hanya
Indonesia namun dunia. Sebagai sasaran antara, bisa saja kita
memikirkan perubahan kepemimpinan nasional, penggolan agenda
reformasi, dst. Tentu dalam menyusun agenda jangka pendek kita perlu
memikirkan secara lebih detil, disesuaikan dengan kondisi yang ada dan
kondisi ideal yang kita inginkan.
Dalam ilmu sosiologis disebutkan ada dua pandangan tentang
perubahan, yaitu pandangan materialistik yang meyakini bahwa tatanan
masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi atau benda. Misalnya Marx
yang menyatakan bahwa kincir angin menimbulkan masyarakat feodal;
mesin uap menimbulkan masyarakat kapitalis-industri. Atau mungkin
sekarang kita bisa mengatakan internet menimbulkan masyarakat
informasi, dst. Sedang pandangan kedua adalah pandangan idealistik
yang menekankan peranan ide, ideologi atau nilai sebagai faktor yang
mempengaruhi perubahan. Dalam kaitannya dengan perbincangan kita,
pandangan kedua inilah yang lebih mengena, di mana sasaran
perubahan kita adalah manusia dan ideologi yang kita bawa adalah
Islam.
Juga disebutkan bahwa ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan untuk
melakukan perubahan. Yang pertama dengan mengubah individu
sehingga kemudian akan mempengaruhi tatanan sosial, kelompok atau
organisasi. Yang kedua dengan mengubah kelompok, sehingga

perubahan suasana dalam kelompok akan mempengaruhi individu


(sebagai contoh orang yang sehari-harinya biasa saja, di dalam acara
daurah pun akan terimbas untuk ikut melakukan amal-amal kebaikan,
seperti mengaji, dll). Yang ketiga adalah menekankan pada perubahan
struktur sosial yang kemudian akan menyebar ke seluruh bagian
masyarakat. Kita bisa dan perlu melakukan ketiganya secara simultan,
hanya saja perlu ditekankan bahwa perubahan yang langgeng adalah
yang berasal dari pemahaman individu.
Ada beberapa aplikasi praktis atau tahapan yang perlu dilakukan dalam
mengarahkan perubahan di dalam masyarakat, antara lain sebagai
berikut:
Perbaikan individu, yaitu perbaikan diri.
Dalam hal ini kita perlu menjawab pertanyaan, kita ada di mana
dan mau ke mana, sehingga dapat dilakukan perbaikan (perubahan
ke arah yang lebih baik). Tentu perbaikan diri di sini menyeluruh,
baik (terutama) aspek agama, (kemampuan) akademis,
(kemampuan) sosial, dll.
Pembentukan lingkungan, perbaikan kaum, perbaikan umat.
Ini adalah tahapan berikutnya. Perlu diingat juga Ar Ra'd:11 dan Al
Anfal:53
Penyebaran wacana dan opini.
Dalam masyarakat luas, yang sulit untuk dilakukan pembinaan
intensif yang melahirkan pemahaman, minimal perlu dilakukan
penyebaran wacana dan opini. Perlu diingat bahwa pelaku
penyebaran wacana dan opini perlu memiliki kredibilitas moral
(masyarakat tidak akan mempercayai orang yang cacat moral) dan
kredibilitas intelektual (baik lahir dari pendidikan maupun
pengalaman).
Juga perlu diingat bahwa selain menyebarkan wacana normatif,
kita perlu juga memberikan solusi aplikatif untuk menjawab
permasalahan umat. Sekedar slogan "Islam adalah solusi"

mungkin baik untuk langkah awal. Namun berhenti di situ hanya


akan menyebabkan masyarakat apatis, sehingga perlu dilanjutkan
dengan bagaimana cara Islam menjadi solusi. Dalam penelitian
yang dilakukan di Turki disebutkan bahwa di masa represif Islam
mampu bertahan karena kemampuannya untuk muncul dalam hal
normatif yang tidak terlalu berbenturan dengan penguasa, namun
di masa liberal justru Islam terkalahkan oleh gerakan kiri, karena
gagal membumikan aspek normatif tadi ke dalam masalah praktis.
Seharusnya gerakan Islam di Indonesia belajar dari hal ini.
Penanaman motivasi pada masyarakat.
Motivasi akan melahirkan sebuah gerakan sehinga siapa yang
berbicara sebuah perubahan akan membicarakan juga cara
menanamkan motivasi. Sebagai catatan, motivasi 'semu' cukup
mudah diberikan, seperti dalam demonstrasi di mana peserta
demonstrasi akan mengikuti perintah danlap karena larut dalam
massa, atau motivasi yang muncul karena perintah dari penguasa.
Namun motivasi ini akan lenyap begitu faktor luar yang
menimbulkannya hilang. Dengan demikian pemberian motivasi
yang terbaik adalah memunculkan motivasi internal, yang hanya
mungkin muncul dengan adanya pemahaman. Pemahaman bahwa
ideologi Islam adalah yang terbaik dan perlu diperjuangkan.
Penanaman motivasi ini menjadi makin penting kalau kita
mengingat pendapat saintis (Thuman and Bennet) yang
mengatakan bahwa faktor utama kepunahan sebuah peradaban
(misal: peradaban Maya, peradaban Islam) adalah hilangnya
kepercayaan diri, motivasi dan semangat untuk bertahan.
Melakukan mobilitas vertikal dan network antar bidang.
Langkah di atas kebanyakan adalah perbaikan internal masyarakat
Islam. Agar peradaban Islam kemudian mengemuka di antara
peradaban lainnya, kita juga perlu melakukan mobilitas vertikal,
atau memfungsikan seluruh potensi kita sebaik-baiknya - dalam
term Islam disebut ihsan, dan menjalin network, yang dalam term
Islam disebut dengan amal jama'i (61:4). Dengan demikian Islam
akan mempengaruhi tidak hanya orang-orang yang telah

tercerahkan dengan Islam (baca: muslim), namun juga orangorang yang masih berada di luar Islam.
Satu catatan lain, bahwa adalah sebuah sunnatullah untuk melakukan
perubahan secara bertahap (tadarruj), seperti halnya penciptaan
manusia yang bertahap. Penerapan aturan Islam secara drastis oleh
sebuah pemerintah - misalnya - tanpa mempersiapkan masyarakatnya
lebih dahulu, hanya akan menimbulkan penolakan spontan. Dalam hal
ini patut diingat ucapan Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan, "Jangan
engkau tergesa-gesa wahai anakku, sesungguhnya Allah pernah
mencela khamr dalam Al Qur'an dua kali dan mengharamkannya pada
kali yang ketiga. Aku khawatir jika membawa kebenaran ini kepada
manusia secara spontan, maka mereka pun menolaknya secara spontan
pula, sehingga dari sinilah akan muncul fitnah."
Tentu dalam hal lain juga kita sadari bahwa di sisi lain pemahaman yang
benar akan Islam, akan menimbulkan perubahan revolusioner dalam diri
seseorang, seperti kondisi para shahabat yang begitu sigap dalam
menerima perintah Allah dan Rasul-Nya.
Terakhir ada dua kata kunci yang perlu diingat dalam melakukan
perubahan ini, yang pertama adalah pembinaan (tarbiyah) sehingga
akan memberikan pemahaman dan motivasi yang langgeng. Musthafa
Masyhur pernah berkata, "Tarbiyah bukan segalanya, tapi segalanya
tidak ada tanpa tarbiyah." Dan yang kedua adalah kerja keras dengan
beramal, karena Allah hanya menilai amal dan usaha kita bukan hasil
dari usaha kita.
Wallahu a'lam.

Pemuda dan perannya sebagai agen perubahan bangsa


Indonesia
Sampai saat ini, pemuda (mahasiswa) selalu disebut-sebut sebagai pelopor perubahan,
perubahan sistem, perubahan kehidupan yang berasal dari keterpurukan menuju kehidupan bangsa yang
lebih baik. Dalam hal ini, mahasiswa sudah menunjukkan perannya dalam Sumpah Pemuda pada tahun
1928, Proklamasi (1945), Orde Baru (1966), Reformasi (1998). Semua momen ini merupakan bukti
kekuatan para pemuda Indonesia, yaitu mahasiswa sebagai tonggak perubahan kehidupan bangsa.

Bagaimana pun, Sumpah Pemuda menjadi bukti torehan sejarah para pemuda
bangsa untuk menyamakan pandangan akan pentingnya persatuan dan kesatuan
bangsa dalam meluluhlantahkan penjajahan di atas bumi pertiwi. Dalam sejarah bangsa
kita tercatat, para pemuda bangsa yang berasal dari beragam latar belakang yang
berbeda, bersatu melaksanakan kongres pemuda dengan satu tujuan bersama, yakni

mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Melalui tangan-tangan para pemuda,


Indonesia diakui sebagai negara yang berdaulat.
Refleksi pada sejarah ini menjadi awal perubahan bangsa dari ketertindasan,
pembodohan, dan ketidakadilan. Hal yang seharusnya kita lakukan saat ini ialah terus
berjuang menuju restorasi bangsa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa
menuju pembebasan dari ketertindasan dan ketidakadilan para pemangku
pemerintahan ini.
Bagi bangsa Indonesia masa kini, semangat perjuangan para pemuda terdahulu
benar-benar harus disadari sebagai wujud perjuangan para pemuda dalam
mengejawantahkan intelektualitasnya menuju pembebasan dan keadilan sosial. Jangan
sampai perburuan intelektual itu, semata hanya didasari kepentingan personal dan
cenderung melupakan kehidupan sosial.
Hal ini dapat terjadi atas dasar kesamaan visi para pemuda bangsa
yangingin mengesampingkan egoisme golongan demi perubahan bangsa ini. Kalau
saja dulu para pemuda tidak bersepakat membentuk wadah perjuangan pemuda yang
sama, mustahil spirit kebersamaan akan terwujud di atas kebhinekaan bangsa ini.
Kesepakatan tersebut terwujud sebagai manifestasi perjuangan pemuda untuk
menegakkan dan membebaskan ketertindasan pribumi dari kaum penjajah yang
semena-mena.
Di mana dari waktu ke waktu, bangsa Indonesia memang selalu membutuhkan inovasi-inovasi
baru untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang juga semakin berkembang menuntut suatu
perubahan. Lihat saja, sejak sebelum kemerdekaan, bangsa kita mengalami masalah dalam
menuntaskan penjajah. Akan tetapi permasalahan itu tidak lantas selesai setelah proklamasi
dikumandangkan di tanah Indonesia. Sekitar tahun 1994, krisis moneter mulai lahir dengan segala
pengaruhnya dalam berbagai bidang aspek kehidupan. Tidak itu saja perbedaan idealisme yang
menyebabkan perpecahan semakin kuat menggerogoti mental bangsa.
Kemudian pada puncak tahun 1998 terjadilah suatu revolusi terbesar di negara kita oleh
kekuatan para pemuda yang bersatu dalam satu tujuan sama, yaitu menuntut perubahan. Hal ini terjadi
akibat jiwa pemuda yang selalu panas akan pemerintahan yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan
kebutuhan masyarakat. Di sinilah momen besar yang membuktikan bahwa kekuatan dan pengaruh
pemuda, utamanya mahasiswa mampu membawa perubahan dengan menggulingkan rezim orde baru
menuju reformasi yang diharapkan mampu membawa kesejahteraan dan kehidupan bangsa yang lebih
baik. Akan tetapi, apakah perjuanagan itu selesai sampai di sini? Atau sudah puaskah kita sebagai
pemuda dengan kondisi bangsa kita saat ini?
Tentu saja tidak, reformasi yang sudah diusung pemuda pada 1998 ternyata masih belum bisa
dijadikan sebagai tonggak kehidupan kehidupan bangsa yang ideal. Karena pemerintah yang berdiri di
sana semakin larut, semakin jauh dari tujuan mahasiswa. Kepentingan pemerintah sudah bukan
berorientasi pada rakyat, akan tetapi lebih kepada pemenuhan perut pribadi.
Pada awal abad ke-21 ini, permasalahan di negara kita semakin kompleks dibandingkan dengan
masa-masa sebelumnya. KKN, keserakahan, kapitalisme, lunturnya harga diri bangsa danLack of
Leadership sudah menjadi hal yag dianggap biasa terjadi di Indonesia. Tanpa disadari, permasalahan
itulah yang menyebabkan kerugian terbesar dan semakin rendahnya mental bangsa Indonesia. Mulai dari
kemiskinan yang tidak henti, pendidikan rendah, sumber daya manusia lemah, sampai teknologi yang
selalu ketinggalan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, dan Belanda. Bahkan kondisi
alam Indonesia pun sudah tidak mendukung atau bersahabat dengan negara kita. Bencana alam terjadi

di mana-mana. Masih banyak sekali permasalahan bangsa kita, mulai dari aspek hukum, keadilan, sistem
pemerintahan, dan politik.
Oleh karena itu, para mahasiswa sebagai pemuda masa kini diharapkan mampubermetamorfosa
menjadi penerus tombak estafet pembangunan negara, dengan intelegensinya diharapkan bisa
mendobrak pilar-pilar kehampaan suatu negara dalam mencari kesempurnaan kehidupan berbangsa dan
bernegara, serta secara moril akan dituntut tanggung jawab akademisnya dalam menghasilkan buah
karya yang berguna bagi kehidupan lingkungan.
Akan tetapi sangat disayangkan, jika dalam kondisi bangsa kita saat ini peran mahasiswa
semakin lemah. Jiwa kritis mahasiswa semakin luntur akibat termakan oleh penggunaan teknologi yang
semakin canggih. Padahal kecanggihan teknologi yang semakin tinggi tersebut, harusnya menjadi
inspirasi mahasiswa Indonesia untuk menciptakan karya dan inovasi besar untuk peningkatan teknologi
bangsa. Akan tetapi, kenyataan yang ada, sebagian besar adalah sebaliknya. Para pemuda semakin
terlena akan teknologi canggih yang ditawarkan negara-negara maju untuk menurunkan mental pemuda
Indonesia. Dari situlah bangsa Indonesia mulai dicap dengan baangsa yang konsumtif. Hal inilah yang
akan semakin dimanfaatkan negara-negara digdaya terhadap bangsa kita.
Oleh karena itu, saat ini diperlukan revitalisasi mahasiswa sebagai solusi permasalahan bangsa
dan perubahan. Karena memang pada dasarnya peran mahasiswa adalah sebagai agen perubahan
(agent of change). Sumber daya manusia terbesar dalam perubahan berada di tangan
mahasiswa (pemuda), karena dari pemikiran-pemikirannya yang selalu inovatif, penuh akan ide, dan tidak
mudah berhenti sebelum mencapai titik optimum. Selain itu, dalam setiap langkah mahasiswa akan
didasari dengan ketulusan dan keikhlasan untuk rakyat kecil utamanya.
Sebagai pelaku utama dan agent of change, dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki
makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif,
kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa.
Mahasiswa adalah para pemuda yang menjadi salah satu harapan suatu bangsa agar bisa
berubah ke arah lebih baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus
dan kematangan berpikir yang cukup luwes. Maksudnya, bila ada sesuatu yang terjadi di lingkungan
sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya.
Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Quran surat
Ar-Rad: 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan
sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini
lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik
dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang
harus kita lakukan.
Sedangkan Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki
tanggung jawab sosial yang khas. Shill menyebutkan ada lima fungsi kaum intelektul, yakni mencipta dan
menyebar kebudayaan tinggi menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina
keberdayan dan bersama mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik.
Peran selanjutnya, yaitu sebagai social control yang mana peran ini merupakan fungsi kontrol
terhadap pemerintah yang sangat perlu diawasi terus menerus. Sifat mahasiswa yang didasari idealisme
tinggi akan menjadi kekuatan besar dalam mengawasi jalannya pemerintahan yang sudah tidak sesuai
dengan kepentingan rakyat. Peran ketiga yaitu sebagai Iron Stock. Di sini mahasiswa sangat berperan
besar dalam menyediakan sumber-sumber daya manusia dengan ideaisme yang tinggi dalam proses
perubahan bangsa. Pemuda Indonesia harus dipersiapkan dengan baik untuk menjadi penerus
pemerintahan. Mulai dari kejujuran, idealisme tinggi, tulus dan ikhlas dalam membawa bangsa.

Mahasiswa adalah pemuda yang akan menjadi generasi penerus bangsa untuk mengganti atau
memperkuat generasi yang sudah tua. Jadi mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang
memimpin di pemerintahan nantinya, dan untuk itu di butuhkan mahasiswa yang bermental kuat sekuat
besi. Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia
tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikangenerasigenerasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsauntuk masa
depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifatmengalir, yaitu ditandai
dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus
dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang
sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yangmemiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam AlMaidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai
dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadapkaum kafir. Sejarah
telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman
nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.
Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan perubahan
tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam bidang kajian yang berbeda-beda
dapat diklasifikasikan meliputi: keteknologian, sosial budaya, hukum dan politik, serta perekonomian.
Semua bidang kajian itu ternyata dapat disatu padukan untuk menganalisis permasalahan
bangsa dilihat dalam berbagai sudut pandang. Mulai dari pendidikan, ekonomi, keteknologian, serta
pemerintahan. Itulah yag merupakan tonggak yang dapat dilakukan sebagai langkah strategis dalam
revitalisasi mahasiswa sebagai solusi permasalahan bangsa Indonesia.

Perlu sebuah revolusi dinamis menuju perubahan bangsa, demikian ungkapan


Riri Ari Mori seorang aktivis perempuan, pembela hak-hak bernegara. Ungkapannya
mengisyaratkan perintah bagi para pemegang tonggak perjuangan bangsa agar
senantiasa mengutamakan keadilan sosial di muka bumi ini. Tidak salah kiranya
ungkapan yang seringkali dilontarkan tentang perubahan, bahwa revolusi sampai kapan
pun tidak pernah mati.
Sejurus dengan itu, Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqadimah meramalkan
dalam siklus sejarah dunia berupa perubahan berbentuk spiral history, yakni, torehan
sejarah akan terus terukir sepanjang hayat hidup manusia di bumi ini. Ketika kehidupan
masih berkecamuk di bumi ini, namun perang kepentingan masih berlangsung, maka
perubahan tidak akan pernah usai. Setiap masa kehidupan akan berakhir dengan
perubahan. Dan perubahan awal menjadi antitesa dari kehidupan selanjutnya dan
demikianlah seterusnya.
Hal ini menunjukkan, untuk menjadi bangsa yang berdaulat dibutuhkan soliditas
dan kebersamaan mencapai perubahan bangsa menuju kebaikan dan perbaikan
bersama. Seperti halnya disebutkan bahwa pemuda sbagai generasi pembaharu
(Maryam: 42); memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.
Kilas balik perjuangan pemuda bangsa ini patut menjadi teladan gerakan
perubahan bangsa kita dalam merenggut kemerdekaan yang berdaulat bagi Indonesia
tercinta. Banyak hal yang kemudian dapat kita lakukan demi perubahan bangsa ini.
Berkarya menjadi nilai mutlak yang harus dilakukan para pemuda bangsa dalam
mengisi kemerdekaan Indonesia. Melalui karya-karya positif pemuda, pada akhirnya
bangsa kita benar-benar merasakan kemerdekaan penuh dari tangan-tangan pejabat

yang tidak amanat, tangan-tangan pemuja hasrat kuasa sesaat, dan dari tangan-tangan
para
pendosa
biadab.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/15/revitalisasi-mahasiswa-pemuda-masa-kinisebagai-pemegang-estafet-tonggak-perubahan-bangsa/
Web 2

Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memilki


corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan
kreatifitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI
Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada
masyarakat.Sungguh menarik memang jika kita kembali memperbincangkan
persoalan kampus dan dinamikannya yang sangat dinamis. Kampus
merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran,
sikap, dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas
yang tercerah.
Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh
menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang
persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa
terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas
persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan
nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan
pokok persoalan apapun.
Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan
beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian
diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam
kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Menjadi
agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik
masyarakat secara luas. Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi
barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan
oleh mahasiswa. Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah,
tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya
selama berada dalam laboratorium kampus.
Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan
perlawanan yang dinamis. Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar

ilmiah diawali dengan konsep membaca, sesuatu yang berhubungan bukan


hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah,
meriset, merenungkan , bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa
berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat. Mulai dari persoalan
sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan
moralitas. Paradigma mahasiswa dikampus bertumpu pada penyelarasan
ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang
terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi
secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah
persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang
konstruktif. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan mampu
memberikan jawaban atas kondisi zaman yang terus berubah.
Karena pada hakikatnya mahasiswa memiliki peran pengabdian masyarakat
yaitu sebagai agent of change, Iron stock, dan Social Control. Dalam
aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan
perubahan tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam
bidang kajian yang berbeda-beda dapat diklasifikasikan meliputi:
keteknologian, sosial budaya, hukum dan plitik, serta perekonomian.
Mulai dari keteknologian, mahasiswa teknik harus mengambil peran sebagai
pioner dalam pengembangan teknologi bangsa. Misalkan dalam tata ruang
kota, mahasiswa dapat menjadi pioner pengembangan kota tropis dana dapat
mengembangkan pola arsitektur yang bersifat tradidioanal. Selain itu, kajian
dalam bidang keteknologian ini memiliki peran yang luas, baik dalam
teknologi bangsa, maupun untuk menganalisis permasalahan yang terdapat di
negara kita, seperti ROB, kemacetan, energi listrik, dan lain-lain.
Dalam bidang ekonomi, mahasiswa tentunya harus mampu menganalisa
sistem ekonomi yang ideal untuk bangsa kita. Salah satunya adalah sistem
ekonomi syariah. Selanjutnya dalam bidang hukum dan politik, mahasiswa
harusnya memiliki idealisme tinggi untuk menciptakan sistem hukum yang
baik dalam pemerintahan di Indonesia. Semua bidang kajian itu ternyata
dapat disatu padukan untuk menganalisis permasalahan bangsa dilihat dalam
berbagai sudut pandang. Dan yang perlu diingat di sini adlah bahwa
mahasiswa maupun pemuda harus memiliki dasar moral yang baik dan jiwa
religius agar langkahnya benar-benar terarah. Hal tersebut akan menjadi pilar

utama dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa menuju bangsa yang cerdas


dan didasari religiusitas.

Web 3

Revitalisasi Mahasiswa Masa Kini


Mahasiswa selalu disebut-sebut sebagai pelopor perubahan, perubahan sistem, perubahan
kehidupan yang berasal dari keterpurukan menuju kehidupan bangsa yang lebih baik. Dalam hal
ini, mahasiswa sudah menunjukkan perannya dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928,
Proklamasi (1945), Orde Baru (1966), Reformasi (1998). Semua moment ini merupakan bukti
kekuatan para pemuda Indonesia, yaitu mahasiswa sebagai tonggak perubahan kehidupan
bangsa.
Di mana dari waktu ke waktu, bangsa Indonesia memang selalu membutuhkan inovasiinovasi baru untuk mengatasi permasalahan-permaslahan yang juga semakin nerkembag
menuntut suatu perubahan. Lihat saja, sejak sebelum kemerdekaan, bangsa kita mengalami
masalah dalam menuntaskan penjajah. Akan tetapi permasalahan itu tidak lantas selesai setelah
proklamasi dikumandangkandi tanah Indonesia. Sekitar tahun 1994, krisis moneter mulai lahir
dengan segala pengaruhnya dalam berbagai bidang aspek kehidupan. Tidak itu saja perbedaan
idealime yang menyebabkan perpecahan semakin kuat menggerogoti mental bangsa.
Kemudian pada puncak tahun 1998 terjadilah suatu revolusi terbesar di negara kita oleh
kekuatan para pemuda yang bersatu dalam satu tujuan sama, yaitu menuntut perubahan. Hal ini
terjadi akibat jiwa pemuda yang selalu panas akan pemerintahan yang dianggap sudah tidak
sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat. Di sinilah moment besar yang membuktikan bahwa
kekuatan dan pengaruh pemuda, utamanya mahasiswa mampu membawa perubahan dengan
menggulingkan rezim orde baru menuju reformasi yang diharapkan mampu membawa
kesejahteraan dan kehidupan bangsa yang lebih baik. Akan tetapi, apakah perjuanagan itu selesai
sampai di sini? Atau sudah puaskah kita sebagai pemuda dengan kondisi bangsa kita saat ini?
Tentu saja tudak, reformasi yang sudah diusung pemuda pada 1998 ternyata masih belum
bisa dijadikan sebagai tonggak kehidupan kehidupan bangsa yang ideal. Karena pemerintah yang
berdiri di sana semakin larut, semakin jauh dari tujuan mahasiswa. Kepentingan pemerintah
sudah bukan berorientasi pada rakyat, akan tetapi lebih kepada pemenuhan perut pribadi.
Pada awal abad ke-21 ini, permasalahan di negara kita semakin kompleks dibandingkan
dengan masa-masa sebelumnya. KKN, Keserakahan, Kapitalisme, Lunturnya harga diri bangsa
dan Lack of Leadership sudah menjadi hal yag dianggap biasa terjadi di Indonesia. Tanpa
disadari, permasalahan itulah yangmenyebabkan kerugian terbesar dan semakin rendahnya
mental bangsa Indonesia. Mulai dari kemiskinan yang tidak henti, pendidikan rendah, sumber

daya manusia lemah, sampai teknologi yang selalu ketinggalan dengan negra-negara maju seperti
Jepang, Amerika, dan Belanda.Bahkan kondisi alam Indonesia pun sudah tidak mendukung atau
bersahabat dengan negara kita. Bencana alam terjadi di man-mana. Masih banyak sekali
permasalahan bangsa kita, mulai dari aspek hukum, keadilan, sisem pemerintahan, dan politik.
Sangat disayangkan, jika dalam kondisi bangsa kita saat ini peran mahasiswa semakin
lemah. Jiwa kritis mahasiswa semakin luntur akibat termakan oleh penggunaan teknologi yang
semakin canggih. Padahal kecanggihan teknologi yang semakin tinggi tersebut, harusnya menadi
inspirasi mahasiswa Indonesia untuk menciptakan karya dan inovasi besar untuk peningkatan
teknologi bangsa. Akan tetapi, kenyataan yang ada, seagian besar adalah sebaliknya. Para
pemuda semakin terlena akan teknologi canggih yang ditawarkan negara-negara maju untuk
menurunkan mental pemuda Indonesia. Dari situlah bangsa Indonesia mulai dicap dengan
baangsa yang konsumtif. Hal inilah yang akan semakin dimanfaatkan negaranegara didaya
terhadap bangsa kita.
Oleh karena itu, saat ini diperlukan Revitalisasi mahasiswa sebagai solusi permasalahan
bangsa dan perubahan. Karena memang pada dasarnya peran mahasiswa adalah sebagai agen
perubahan (agent of change). Sumber daya manusia terbesar dalam perubahan berada di tangan
mahasiswa, karena dari pemikiran mahasiswa yang selalu inovatif, penuh akan ide, dan tidak
mudah berhenti sebelum mencapai titik optimum. Selain itu, dalam setiap langkah mahasiswa
akan didasari dengan ketulusan dan keikhlasan untuk rakyat kecil utamanya.
Peran selanjutnya, yaitu sebagai social control yang mana peran ini merupakan fungsi
kontrol terhadap pemerintah yang sangat perl diawasi terus menerus. Sifat mahasiswa yang
didasari idealisme tinggi akan menjadi kekuatan besar dalam mengawasi jalannya pemerintahan
yang sudah tidak sesuai dengan kepentingan rakyat. Peran ketiga yaitu sebagaiIron Stock. Di sini
mahasiswa sangat berperan besar dalam menyediakan sumber-sumber daya manusia dengan
ideaisme yang tinggi dalam proses perubahan bangsa.Pemuda Indonesia harus dipersiapkan
dengan baik untuk menjadi penerus pemerintahan. Mulai dari kejujuran, Idealisme tinggi, tulus
dan ikhlas dalam membawa bangsa.
Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan
perubahan tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam bidang kajian yang
berbeda-beda dapat diklasifikasikan meliputi: keteknologian, sosial budaya, hukum dan plitik,
serta perekonomian.
Mulai dari keteknologian, mahasiswa teknik harus mengambil peran sebagai pioner
dalam pengembangan teknologi bangsa. Misalkan dalam tata ruang kota, mahasiswa dapat
menjadi pioner pengembangan kota tropis dana dapat mengembangkan pola arsitektur yang
bersifat tradidioanal. Selain itu, kajian dalam bidang keteknologian ini memiliki peran yang luas,
baik dalam teknologi bangsa, maupun untuk menganalisis permasalahan yang terdapat di negara
kita, seperti ROB, kemacetan, energi listrik, dan lain-lain.
Dalam bidang ekonomi, mahasiswa tentunya harus mampu menganalisa sistem ekonomi
yang ideal untuk bangsa kita. Salah satunya adalah sistem ekonomi syariah. Selanjutnya dalam
bidang hukum dan politik, mahasiswa harusnya memiliki idealisme tinggi untuk menciptakan
sistem hukum yang baik dalam pemerintahan di Indonesia. Semua bidang kajian itu ternyata

dapat disatu padukan untuk menganalisis permasalahan bangsa dilihat dalam berbagai sudut
pandang. Mulai dari pendidikan, ekonomi, keteknologian, serta pemerintahan. Itulah yag
merupakan tonggak yang dapat dilakukan sebagai langkah strategis dalam revitalisasi mahasiswa
sebagai solusi permasalahan bangsa Indonesia.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bebicara tentang peran merupakan pembicaraan yang berkaitan dengan segala aspek dan
elemen yang ada, dia biasa menyentuh segala aspek baik itu aspek individu maupun sosial, atau
aspek di bidang ekonomi, politik, budaya, transformasi, industri, perdagangan, baik itu mikro
maupun dalam ruang lingkup makro, dan masih banyak lagi. Dan juga berkaitan dengan masyarakat
sebuah bangsa maupun masyarakat dunia (International), karena peran dari berbagai macam aspek
dan bidang merupakan sebuah kontribusi yang akan ditransformasikan kepada sesuatu yang
membangun demi kemaslahatan bersama (Muhammad, 2009)
Tapi disini yang ingin kita bicarakan tentang Peran Mahasiswa dalam Pembangunan
Bangsa. Didalam kehidupan seseorang mengalami segala macam proses yang panjang saat
dimana ia pertama kali menatap dunia ini keluar dari rahim ibunya, lalu ia belajar berbicara
kemudian setelah ia bisa berbicara, kemudian iapun mulai merangkak sampai ia bisa berjalan dan
lari kesana kemari, kemudian iapun belajar membaca dan menulis sampai ia mengerti arti sebuah
perjalanan hidupnya. Begitu panjang proses yang kita tempuh dalam perjalanan hidup ini sudah
tentu membawa arti tersendiri bagi siapapun.
Didalam kehidupan berbangsa dan bernegara kadang kita sebagai masyarakat kurang bisa
meresapi dan menghayati arti sebuah kedewasaan didalam berbangsa, karena lemahnya mental
kita didalam memahami tentang peran kita masing-masing baik itu didalam sektor sosial, politik,
ekonomi, dan lain-lain. Maupun peran tiap-tiap individu yang masih sangat lemah mentalnya
didalam kemandirian, mungkin karena lamanya kita di jajah oleh penjajah selama 350 tahun
lamanya, hingga saat ini benih-benih yang telah ditanam oleh para penjajah didalam mendoktrin

masyarakat kita masih menjadi momok bagi kita didalam memahami arti sebuah peran. Di saat
kemerdekan kita raih dari tangan penjajah berapa banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh
pejuang-pejuang dan pendahulu kita didalam meraih sebuah kemerdekaan, dengan mengorbankan
jiwa dan raga mereka demi mencapai sebuah cita-cita dan tujuan bersama yaitu Kemerdekaan.
Merdeka atau mati itulah salah satu semboyan mereka didalam memperjuangkan kemerdekaan.
Begitu dahsyatnya dan luarbiasa mental-mental para pejuang kita didalam menumbangkan
kekuasaan imperalis yang telah lama meraja lela di negeri yang kaya dengan sumber daya alam,
kaya akan budaya, bahasa, dan beragam macam etnis di negeri ini. Dengan kebersamaan tekat
yang bulat dan mental yang membaja baik tua, anak-anak, laki-laki, wanita, remaja, pemuda dan
pemudi semua bergotong-royong bahu-membahu membantu antara sesama demi terciptanya
kemerdekaan yang sudah sejak lama menjadi impian dan dambaan rakyat Indonesia. Yaitu merebut
kemerdekaan dari tangan-tangan kolonialis yang telah menjajah kita hampir 3 abad lamanya. Dan
selama itu pula kita dibodoh-bodohi, hingga pada akhirnya pada tanggal 17 agustus 1945 seorang
putra terbaik bangsa beliau Ir. Sukarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dari sini awal dan pondasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia ini terbentuk. Tapi saat teks proklamasi dibacakan oleh Bung Karno, saat itu pula
perjuangan baru negara ini dimulai, dan perjuangan tidak hanya berhenti di situ saja, akan tetapi
perjuangan akan semakin berat karena kita akan menghadapi tantangan era selanjutnya yang akan
menentukan akan dibawa kemana bangsa ini. Oleh karna itu sangat dibutuhkan kebersamaan
gotong-royong, bahu-membahu di dalam mewujudkan cita-cita bangsa (Wahyu, 2009)
Tulang punggung perubahan itu ada di tangan pemuda, khususnya mahasiswa disini karena
mahasiswa secara strata social diyakini setiap orang dapat dipercaya dan memiliki capital intelektual
dan social lebih baik dibandingkan dengan cluster pemuda lainnya yang tak bergelar mahasiswa.
Kurang tepat rasanya jika kita sebagai mahasiswa hanya memiliki cita-cita yang orientasinya terlalu
egosentris, belajar yang baik, dapat gelar cum laude, lulus cepat dengan segudang prestasi
akademik, lalu cari kerja, nikah, punya anak, ingin punya rumah yang besar dan bagus, lalu di kala
tua hidup dengan nyaman tanpa gangguan. Egois sekali rasanya kalo kita memiliki cita-cita seperti
itu tanpa punya cita-cita untuk bisa berkontribusi bagi proses perbaikan nasib bangsa ini, tanpa
berpikir untuk bisa hidup bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas. Tidak salah memang,
tapi kurang tepat untuk kondisi negara kita saat ini yang sedang carut marut, bangsa ini butuh bahan

bakar dan bahan bakar itu ada dalam diri mahasiswa. Percayalah bahwasanya proyek kebangkitan
bangsa ini akan dipelopori oleh kaum intelektual mahasiswa,seperti sejarah yang terus berulang dari
masa ke masa.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana sebenarnya peran mahasiswa dalam membangun proyek kebangkitan bangsa
ini dalam konteks mahasiswa sebagai sebuah cluster penerus bangsa pioner dan sebagai pemilik
capital intektual.
C. Tujuan Penulisan
Bedasarkan koteks bahwa mahasiswa sebagai sebuah cluster penerus bangsa pioner serta
sebagai pemilik capital intelektual, maka melalui tulisan ini diharapkan mampu membawa pemikiran
baru yang ditujukan kepada seluah mahasiswa dan mahasiswa Indonesia pada khususnya,
sedangkan pemikiran baru disini adalah myangkut peranan mahasiswa dalam pembangunan
bangsa, sehingga melalui tulisan ini dihapkan mampu tercipta mahasiswa-mahasiswa pioner yang
walaupun menjadi cluster tersendiri tetapi tidak terlepas dari masyarakat namun mampu menjadi
mahasiswa sekaligus masyarkat yang potensial dalam andil pembangunan bangsa.

BAB II
PEMBAHASAN

Tulang punggung perubahan itu ada di tangan pemuda, khususnya mahasiswa disini karena
mahasiswa secara strata social diyakini setiap orang dapat dipercaya dan memiliki capital intelektual
dan social lebih baik dibandingkan dengan cluster pemuda lainnya yang tak bergelar mahasiswa.
Kurang tepat rasanya jika kita sebagai mahasiswa hanya memiliki cita-cita yang orientasinya terlalu
egosentris, belajar yang baik, dapat gelar cum laude, lulus cepat dengan segudang prestasi
akademik, lalu cari kerja, nikah, punya anak, ingin punya rumah yang besar dan bagus, lalu di kala
tua hidup dengan nyaman tanpa gangguan. Egois sekali rasanya kalo kita memiliki cita-cita seperti
itu tanpa punya cita-cita untuk bisa berkontribusi bagi proses perbaikan nasib bangsa ini, tanpa
berpikir untuk bisa hidup bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas. Tidak salah memang,
tapi kurang tepat untuk kondisi negara kita saat ini yang sedang carut marut, bangsa ini butuh bahan
bakar dan bahan bakar itu ada dalam diri mahasiswa. Percayalah bahwasanya proyek kebangkitan
bangsa ini akan dipelopori oleh kaum intelektual mahasiswa,seperti sejarah yang terus berulang dari
masa ke masa.
Peran mahasiswa sebaiknya dalam membangun proyek kebangkitan bangsa adalah mengisi
pembangunan, melakukan social control terhadap kebijakan pemerintah, dan melakukan
pengabdian pada masyarakat. Mengisi pembangunan misalnya adalah dengan cara belajar dengn
baik di kampus, ikut lomba sana-sini, buat suatu penelitian atau temuan-temuan baru yang dapat
menjawab permasalahan yang ada. Mengisi pembangunan dengan intellectual capital yang
mahasiswa seharusnya miliki. Kedua, melakukan social control terhadap segala kebijakan
pemerintah, namun ketika mahasiswa berbicara sebagi agen of control ada sekian konsekuensi
yang menghadang baik berupa tekanan, ancaman maupun bentuk lain dan sejenis, walaupun
demikian bukan berarti konsekuensi semacam ini lantas mampu menyurutkan mahasiswa dalam
cinta-citanya yang mulia selalma mahasiswa memhami perannya sebagai agen of control.
Mahasiswa adalah salah satu kelompok elit dalam masyarakat yang masih memiliki idealisme yang
tinggi, dikarenakan posisi mahasiswa sebai cluster penerus bangsa yang sanggat dihapkan mampu
membawa perubahan maka tidaklah bijak apabila mahasiswa hanya diam ketika melihat
kesewenang-wenangan baik dilakukan oleh pihak pemerintah maupun pihak non pemerintah, dalam

konteks ini mahasiswa haruslah mampu menempatkan diri sesuai dengan fungsi sosialnya secara
tepat walapun mahasiswa seakan-akan terpisah dari jenis masyarkat lainnya tetapi sejatinya
mahasiswa tetap terikat dengan fungsi-fungsi sosilanya, maka mahsiswa haruslah mampu menjadi
suatu cluster masyarakat yang mampu membaca kebenaran secara proporsional, ketika pemerintah
misalnya benar dalam kebijakannya maka mahasiswa harus berani memuji keberhasilan pemerintah
dan sebaliknya ketika pemerintah mengambil keputusan yang menyudutkan rakyat maka
mahasiswa harus berada di barisan depan perjuanggan. Tetapi sekali lagi bahwa mahasiswa
haruslah mehamami perannya secara utuh dan mendalam karena dinamika saat ini cenderung
merujuk pada jenis mahasiswa yang egois, yang hanya mengangap diri mereka sebagai cluster
tersendiri dari masyarakat yang sedikit atau bahkan sama sekali memeliki ikatan fungsi-fungsi sosial
tertentu, sehingga yang terjadi beberapa tahun terakhir mahasiswa kehilangan jatidirinya hal ini
ditandai dengan terikan-terikan mahsiswa yang kurang mengena dan kontekstual dengan kebutuhan
dan harapan masyarakat, kecenderungan yang terjadi adalah mahasiswa membawa kepentingan
kelompok, kepentingan cluster tertentu, maupun yang paling parah suara mereka adalah suara hasil
provokasi yang terkadang kurang mendasar serta difrent orientation. Lalu yang ketiga adalah
melakukan pengabdian yang rutin dan massif kepada masyarakat luas. Penyuluhan-penyuluhan
telah banyak digalakkan di desa-desa sebagian lingkar kampus bahkan desa di seluruh pelosok di
Indonesia, namun sayang kesadaran semacam ini hanya dimiliki oleh segelintir mahasiswa, sebuah
pekerjaan rumah yang cukup rumit sebenarnya bagi bangsa Indonesia namun harapan selalu
muncul seiring dengan munculnya generasi baru mahasiswa Indonesia. Tidak bisa dipungkiri
tampilnya mahsiswa sebagai genarasi pengapdi adalah peranan mahasiswa yang paling diharpakan
segera muncul namun, kondisi setelah perang kemerdekaan menunjukan progress kearah
sebaliknya, mahasiswa era modern cenderung apatis dengan kondisi masyarakat walupun memang
ada sebagain kecil mahasiwa yang begitu peduli dengan kondisi masyrakat, hal ini amatlah ketika
kita bandinghkan dengan konteks hamasiswa pada zaman kemerdekaan yang tidak hanya
menyuarakan pembellaan terhadap kepentingan masyarakat tetapi mereka sekaligus menjadi
barisan depan yang melalukan perubahan baik berupa pemikiran maupun pratik nyata, dan terbukti
Indonesia mampu terbebas dari belenggu penjajahan, maka tiada yang lebih bijak ketika mahasiswa
dengan sekian kondisinya terus memegang cita-cita sebagai suatu cluster intelektual yang
senantiasa bertangungjawab dengan kondisi sosial-kemasyarakatan.

Dengan memahami secara bijak akan ketiga peran mahasiswa, kebangkitan bangsa ini tak
akan lama lagi kita raih. Mengisi pembangunan, melakukan control social terhadap kebijakan
pemerintah, dan pengabdian masyarakat adalah peran-peran mahasiswa unggulan yang dibutuhkan
dengan segera saat ini. Mahasiswa harus dapat memerankannya secara proporsional, adil, arif dan
bijak tanpa hanya mengambil satu peran saja dan menggugurkan peran-peran lainnya.

BAB III
KESIMPULAN

Mengisi pembangunan, melakukan control social terhadap kebijakan pemerintah, dan


pengabdian masyarakat adalah peran-peran mahasiswa unggulan yang dibutuhkan dengan segera
saat ini. Mahasiswa harus dapat memerankannya secara proporsional, adil, arif dan bijak tanpa
hanya mengambil satu peran saja dan menggugurkan peran-peran lainnya. Mahasiswa hendaknya
menjadi msyarakat independent-intelligence sehingga mahasiswalah yang paling sensitif mengenai
permasalahan-permasalahan bangsa kemudian mampu tampil kedepan dengan membawa solusi
yang optimal, sehingga mahasiswa Indonesia menjadi mahasiswa seutuhnya yang tidak hanya
berani menyuarakan saja tanpa berani mengambil tidakan nyata. Saat ini yang paling dibutuhkan
adalah mahasiswa-mahasiswa dengan semangat juang tinggi dalam mengoptimalkan kemerdekaan
bukan sebatas mahasiswa yang padai meyuarakan tetapi nol besar dalam pratik melaksanakan
pembangunan bangsa, sehingga mahasiswa Indonesia mamapu benar-benar menjadi pioner
pembangunan bangsa.

MAHASISWA ASET BANGSA

Indonesia merupakan Negara paling kaya dengan sumber daya alam (SDA)
yang dimilikinya. Seharusnya, dengan kekayaan berlimpah yang telah dikaruniakan
Tuhan tersebut, Indonesia lebih maju dari kondisi sekarang. Namun faktanya, alihalih sumber daya alam itu dimanfaatkan dengan baik, kekayaan kita justru banyak
diambil dan dimanfaatkan oleh Negara lain. Ini menunjukan masih lemahnya
pendidikan di Indonesia.
Perubahan-perubahan besar di dunia ini--khususnya Indonesia--memerlukan
hadirnya pakar-pakar ahli dalam segala segi kehidupan. Di sinilah peranan

pendidikan sangat dibutuhkan untuk memperoleh bibit-bibit unggul yang nantinya


dapat menelurkan karya-karya besar dan akan membawa Negara kita pada
peradaban yang maju.
Perguruan tinggi (PT) merupakan tempat di mana lahirnya pemikir-pemikir
handal. Sebagai bagian integral dari perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk
mengembangkan potensi diri, mengasah kreatifitas, serta melahirkan ide-ide kreatif
untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dengan bidang kajian ilmu yang
beragam, PT seharusnya mampu melahirkan anak-anak bangsa yang kompeten
dibidang masing-masing sesuai dengan disiplin ilmu yang pernah didalami di
bangku kuliah.
Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Koprasi Indonesia, Muhammad Hatta
bahwa

perguruan

tinggi

haruslah

memenuhi

tiga

tugas

utamanya. Pertama, membentuk manusia susila dan demokrat yang memiliki


keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat. Kedua, cakap dan
mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan. Ketiga,cakap dalam
memangku jabatan atau pekerjaan dimasyarakat. Tiga tugas PT tersebut kemudian
menjadi amanat yang diemban mahasiswa.
Tentu saja, mahasiswa

sebagai aset bangsa sudah seharusnya menjadi

pioner dalam melakukan perubahan-perubahan besar bagi bangsa ini. Mahasiswa


diharapkan memiliki sense of crisis atau kepekaan terhadap persoalan-persoalan
yang terjadi dalam masyarakat serta memikirkan solusi yang tepat dalam
penyelesaiannya. Untuk itu sebelum melakukan perubahan terhadap bangsa yang
cakupannya sangat luas, hendaknya mahasiswa terlebih dahulu melakukan
perubahan pada lingkup terkecil yaitu pada diri sendiri. Meski terkesan sederhana,
kesadaran untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, sudah seharusnya dimulai
dari dalam diri masing-masing individu. Seperti yang ditegaskan di dalam Al-Quran,
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (QS Ar-Raad [13]:11).

Kenakalan remaja yang saat ini menggejala, perlu mendapatkan perhatian serius dari
berbagai pihak. Pemuda hendaklah menjadi tema bersama untuk didialogkan, dicarikan
solusinya, dan diberikan tempat untuk mengaplikasikan semangat mereka. Kobaran api
semangat mereka menjadi modal yang signifikan untuk berkontribusi bagi pembangunan
bangsa. Potensi dan bakat mereka harus diakomodasi dan digalih secara terus-menerus,
sehingga membuat waktu mereka banyak disibukkan dengan urusan pengembangan
keterampilan, sehingga tidak banyak waktu kosong yang dapat bermuara pada perilakuperilaku yang anarkis, banal, dan segala perbuatan yang menjerumuskan mereka pada jalan
yang tidak lurus.
Dalam perjalanan sejarah bangsa, pemuda merupakan aset bangsa yang sangat berharga.
Kemajuan dan kehancuran bangsa bergantung pada kesiapan kaum muda sebagai agen
perubahan. Pada setiap perkembangan dan pergantian sejarah selalu ada darah muda yang
mempeloporinya. Sejarah berulang kali telah membuktikannya. Pada 1928, kalangan
pemuda menorehkan sejarah baru. Kaum muda dari berbagai pelosok daerah di Indonesia
berkumpul dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Ada yang datang dari Ambon sehingga
bergabung menjadi Jong Ambon. Yang berasal dari Sulawesi berkumpul dalam nama Jong
Celebes. Ada lagi Jong Sumatra Bond, Jong Java, dan kelompok kepemudaan berbasis daerah
lainnya. Meski di tengah hiruk-pikuk situasi perang melawan penjajah, namun keberanian
mereka mengalahkan kebisingan ledakan dan tembakan senjata militer bangsa kolonial.
Ketika itu, pola pergerakan seperti itu menjadi daya dobrak yang mengejutkan di mata
rakyat Tanah Air. Semangat mencita-citakan persatuan dan kesatuan seluruh rakyat
Indonesia akhirnya terpenuhi. Mulai saat itu, sejarah gerakan pemuda untuk pertama kali
mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia secara luas. Pemuda menjadi pioner
dalam proses bangkitnya bangsa Indonesia.
Selanjutnya pada era modern, tepatnya tahun 1998, kaum muda Indonesia melakukan
gerakan Reformasi yang meruntuhkan rezim Orde Baru. Mahasiswa dari berbagai kampus di
Indonesia setiap hari melakukan demonstrasi menuntut reformasi di segala bidang. Lukaluka, diculik, hingga dibunuh aparat militer dilewati oleh generasi muda demi terwujudnya
kondisi sosial yang lebih baik daripada sebelumnya. Banyak tokoh muda bermunculan dan
menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.
Sayangnya, cita-cita mewujudkan Reformasi yang didengungkan kalangan muda tersebut
sampai saat ini belum signifikan terwujud. Proses transisi demokrasi yang berjalan
terhambat tembok yang tebal bernama korupsi. Reformasi tersandera politik transaksional,
politik kesukuan, dan politik saling serang antarpartai politik. Tidak sedikitpun masyarakat
kelas bawah (grass root) turut merasakan manisnya buah Reformasi. Hingga 14 tahun
Reformasi berjalan, bangsa ini banyak diwarnai krisis sosial; pengangguran merajalela,
ancaman disintegrasi bangsa, korupsi meluas, kebobrokan moral ambetenaar, jaminan
hidup dan menikmati pendidikan yang tidak tertunaikan. Sebuah pertanyaan besar sekaligus
menjadi persoalan serius bagi pemuda Indonesia. Segala persoalan kebangsaan yang
menghimpit ini kembali membutuhkan pergerakan kalangan muda. Tanggungjawab pemuda

menjadi sangat penting karena agenda reformasi yang dahulu didengungkan, sampai saat
ini masih mengambang.
Ironisnya, pada kenyataannya perilaku pemuda dewasa ini kehilangan jati dirinya terutama
pemahaman wawasan kebangsaan dan patriotisme atau cinta Tanah Air. Kalangan pemuda
hendaknya bisa belajar dari semangat Sumpah Pemuda. Meneguhkan spirit membangun
kebangsaan dengan tanpa kekerasan, tidak membeda-bedakan suku, rasa atau golongan
sehingga berakhir pada tawuran antarpelajar, mahasiswa, atau warga. Yang mayoritas
semestinya tidak merasa berposisi mayor yang kemudian mengancam keberadaan
minoritas. Yang kuat tidak semestinya mengumbar kesombongan sehingga semena-mena
kepada yang lemah. Semua hal itu tidak boleh terjadi karena Indonesia adalah satu untuk
semua rakyatnya yang plural (Jimmy B. Oentoro: 2010). Anak bangsa yang beraneka ragam
tersatukan dalam semangat satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia dan satu bahasa, yaitu
Bahasa Indonesia. Ikrar tersebut harus benar-benar terpatri dalam setiap jiwa kaum muda.
Untuk melangkah bagi kemajuan Indonesia di masa depan, kalangan pemuda bisa
meneladani semangat dan ketangguhan para kaum muda saat mendeklarasikan Sumpah
Pemuda dan bagaimana kalangan mahasiswa menggerakkan semangat bangsa untuk
memperbaiki kondisi negara.
Demi membangkitkan kembali nasionalisme dan semangat patriotisme, dibutuhkan upayaupaya merumuskan kembali (re-thinking) dan menemukan kembali (re-inventing) karakter
kebangsaan bagi pemuda. Upaya pembangunan karakter menjadi prioritas pertama agar
gerakan yang diciptakan pemuda tidak sekedar bersifat heroik saja, tetapi benar-benar
mempunyai dampak sosial yang menumbuhkan manfaat di masa depan. Strategi
pembangunan pemuda Indonesia dapat dilakukan dengan cara: Pertama, membangun moral
dan budi pekerti luhur dan suci. Moral dan kepribadian yang luhur menjadi syarat penting
agar mereka bisa berpikir dalam segala tindakan yang ingin mereka lakukan. Kapasitas ini
akan mendorong mereka untuk berpikir sebelum bertindak. Strategi ini juga bertujuan agar
mereka bisa membedakan mana perbuatan yang kira-kira baik dan mana yang nantinya
mengganggu hak-hak orang lain. Kedua, membangun sarana prasarana fisik dan non-fisik
dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi,
kelompok atau golongan. Strategi pembangunan ini bertujuan menggali potensi dan bakat
kalangan muda. Pemenuhan fasilitas merupakan syarat yang tidak bisa dinafikan sebagai
tempat mengasah semua bakat pemuda.
Ketiga, membangun sumber daya manusia dengan keteladanan, solidaritas, gotong royong,
sopan santun, ramah tamah, saling menghormati, saling menghargai, dan memelihara
kepekaan sosial. Pembangunan kapasitas ini penting, karena justru akan mengkhawatirkan
jika gerakan kaum muda yang terlahir saat ini nantinya mengadopsi cara-cara atau pola
berpikir elite politik yang tidak jujur. Seperti tersaksikan bersama, citra beberapa elite politik
yang ada sekarang nampak bukan perilaku positif yang mereka tampilkan sehari-hari,
melainkan sebaliknya. Korupsi, suap, dan bergaya hedon adalan perilaku-perilaku yang
kerap mereka pertontonkan sejauh ini. Tugas mereka yang sejatinya mensukseskan aspirasi
rakyat, tetapi malah dijual demi kepentingan golongan. Aspirasi rakyat akhirnya
dikesampingkan dan kepercayaan publik tidak dihiraukan lagi. Untuk itu, pembangunan
pemuda pada faktor kepekaan sosial menjadi sangat penting.
Sementara pada sisi pembentukan jiwa yang solider, ramah tamah, saling menghormati dan

bersikap gotong royong bisa menjadi modal sosial untuk menciptakan kondisi sosial yang
rukun dan harmonis. Apalagi di negara yang punya kultur beragam seperti di Indonesia,
semangat atau modal sosial ini sangat penting untuk ditradisikan sejak dini. Pasalnya, jika
modal sosial ini tidak dipupuk dari awal, tidak mustahil bila berbagai bentuk persekusi atau
tindakan anarkis akan kerap dilakukan generasi muda. Pertarungan antaridentitas akan
kerap terjadi karena tidak ada pemahaman mengenai keberagaman, dialog dan kesadaran
sosial yang tinggi di antara pemuda. Dari kesemua itu, modal sosial ini sungguh diperlukan
guna membangun peradaban bangsa yang maju.
Keempat, membangun semangat juang dan cinta Tanah Air, dan kelima, membuat peta
masa depan yang cemerlang. Hal ini ditujukan sebagai catak biru pembentukan karakter
bangsa. Selain itu, strategi pembangunan ini saja tidak cukup jika wujud pembangunan
generasi muda Indonesia belum diaplikasikan. Wujud pembangunan generasi muda
Indonesia adalah: (1) Pemberdayaan pemuda untuk membangkitkan potensi pemuda
supaya bisa berperan serta dalam pembangunan. (2) Pengembangan pemuda untuk
menumbuhkembangkan potensi manajerial, kewirausahaan dan kepeloporan pemuda, dan
(3) Perlindungan pemuda, yang bisa mendorong pemuda dalam menghadapi demoralisasi,
degradasi nasionalisme, tindakan destruktif, regenerasi dan perlindungan hak dan kewajiban
pemuda. Akhirnya, diharapkan di masa depan akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa dari
generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air, yaitu pemuda yang
memiliki sikap, berintelektualitas, dan berperilaku yang luhur.