Anda di halaman 1dari 9

Warna

Terdiri dari warna segar dan warna lapuk, sertakan pula variasi warnanya untuk memperjelas
pemerian. Contoh: batupasir berwarna segar kelabu kehijau-hijauan. Pemerian warna ini
mencerminkan tingkat oksidasi, kandungan mineral, dan lingkungan pengendapan batuan itu
sendiri.

Warna merah: menunjukan keadaan oksidasi > non marin, mengan-dung Fe


(umumnya hematit).

Warna hijau: merupakan reduksi dari warna merah, mengandung glaukonit, zeolit atau
chamosite.

Warna kelabu: menunjukan keadaan reduksi > marin, kaya akan bahan organik. Warna, kuning-coklat: menunjukan keadaan oksidasi, mengandung limonit, goethite,
dan oksida besi.

Tekstur (properties of individual grain/sifat-sifat butiran)


Besar butir (grain size), ditentukan dengan cara membanding-kannya dengan Skala
Wentworth, kalau perlu bisa dibantu dengan manggunakan loupe, untuk breksi dan
konglomerat dapat ditentukan dengan bantuan mistar kecil, kemudian tentukan pula ukuran
minimal dan maksimal dari butiran atau komponennya. Contoh: batupasir berbutir sedang
(114mm-112mm). Breksi dengan ukuran butir 7cm-12cm (Berangkal, 64mm-256mm). Besar
butir ini mencerminkan energi hidrolik lingkungannya, dalam artian jika ia berbutir kasar
maka dahulunya ia diendapkan dengan arus yang cepat dan begitu pula sebaliknya.
Bentuk Butir (grain shape), ditentukan dengan bantuan chart yang telah tersedia pada
komparator dan gunakan istilah :
1. Sangat menyudut (very angular)
2. Menyudut (angular)
3. Menyudut tanggung (subangular)
4. Membundar tanggung (subrounded)
5. Membundar (rounded)
6. Sangat membundar (very Rounded)

Gambar Bentuk butir


Untuk melihat bentuk butiran ini dapat dilakukan dengan bantuan loupe (terutama untuk
batupasir), dan tentukan pula kisarannya. Contoh: batupasir menyudut-menyudut tanggung.
Bentuk butir ini mencerminkan tingkat transportasi butirannya, dalam artian bahwa jika ia
memiliki bentuk butir yang membundar maka ia cenderung telah tertranspor jauh dari batuan
asalnya.
Tabel Skala Wentworth

Kemas (fabric/grain packing), adalah derajat keterkaitan antar butiran penyusun batuan atau
hubungan antar butir, dan ini dapat mencerminkan viscositas (kekentalan) medianya. Bila
butirannya saling bersentuhan maka dinyatakan dengan kemas tertutup (berarti dia
diendapkan oleh media yang cair/encer, sehingga kemungkinan mengandung semen-matrik).
Bila butirannya tidak saling bersentuhan maka dinyatakan dengan kemas terbuka (berarti dia
diendapkan oleh media yang pekat). Selain itu perhatikan pula apakah butirannya
memperlihatkan pengarahan (imbrikasi) atau tidak. Kemas merupakan salah satu hal penting
terutama dalam pen-deskripsian breksi atau konglomerat, dan bisa langsung diten-tukan tanpa
menggunakan loupe.
Struktur Sedimen
Berguna dalam menentukan top & bottom suatu lapisan, arah arus-purba (Paleocurrent) dan
lingkungan pengendapan.
Secara garis besar struktur sedimen terbagi menjadi dua katagori, yaitu:

Struktur sedimen primer (depositional structures), struktur sedimen yang terbentuk


bersamaan dengan terbentuknya suatu batuan, contohnya adalah: graded bedding,
parallel lamination, ripple mark, dune and sand wave, cross stratification, shrinkage
crack (mud crack), flacer, lenticular, dll.

Struktur sedimen sekunder (post-deposition structures), struktur sedimen yang


terbentuk setelah proses litifikasi. Struktur sedimen sekunder meliputi:

1. Struktur erosional, terbentuk karena erosi, contohnya: flute cast, groove cast, tool
marks, scour marks, channel, dll.
2. Struktur deformasi, terbentuk oleh adanya gaya, contohnya: slump, convolute, sand
dyke, dish, load cast, nodule, dll.
3. Struktur biogenik, terbentuk oleh adanya aktivitas makhluk hidup, contohnya:
bioturbation, trace fossils, rootlet bed, dll.

Gambar Struktur sedimen, A : Wavy, B : Cross Stratification, C : Mudcrack, D : Flute cast,


E : Bioturbation, F : Load Cast.
Permeabilitas
Adalah kemampuan suatu batuan untuk meloloskan fluida. Cara menentukannya yaitu:

Teteskan air di atas permukaan sampel yang akan diperiksa.

Perhatikan apakah air tersebut diserap atau tidak oleh batuan ter-sebut.

Bila cairan diserap dengan cepat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya baik.

Bila cairan diserap dengan cukup cepat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya
sedang.

Bila cairannya diserap dengan lambat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya


buruk.

Porositas
Adalah perbandingan volume rongga-rongga pori terhadap volume total seluruh batuan, dan
dinyatakan dalam persen,

Sedangkan dalam penentuannya di lapangan gunakan istilah porositas baik jika


permeabilitasnya baik, porositas sedang jika permebili-tasnya sedang, dst.
Pemilahan (Sorting)
Adalah tingkat keseragaman besar butir penyusun batuan, mencer-minkan viskositas media
pengendapan serta energi mekanik/arus ge-lombang medianya. Jika pemilahannya baik maka
ia diendapkan oleh media yang cair/encer dengan energi arus yang kecil, dan begitu pula
dengan sebaliknya. Gunakan istilah:

Terpilah baik (well sorted) jika besar butirannya seragam.

Terpilah sedang (medium sorted) jika besar butirannya relatif sera-gam.

Terpilah buruk (poorly sorted) jika besar butirannya tidak seragam.

Dan untuk menentukan pemilahan ini dapat dibantu dengan menggu-nakan loupe (misalnya
untuk Batupasir).

Gambar Pemilahan batuan


Kandungan CaC03
Ditentukan dengan jalan meneteskan larutan HCl 0,1 Normal pada permukaan sampel batuan
yang masih segar, jika ia berbuih/bereaksi (ngecos!) maka batuan tersebut bersifat
karbonatan (calcareous), dan begitu pula sebaliknya.
Kandungan mineral
Mineral-mineral sekunder yang umum terdapat dalam batuan sedimen misalnya kalsit
(ngecos oleh HCl, sedangkan kuarsa tidak), aragonit (memiliki habit yang menjarum), pirit
(kuning pucat seperti emas de-ngan bentuk kristal kubik), glaukonit (berwarna hijau kotor),
kaolinit (serbuk putih seperti bedak), dll.
Kandungan fosil
Yang dapat ditentukan di lapangan tentu saja fosil-fosil yang bersifat makro (besar). Dalam
penentuannya, sebutkan minimal kelas atau filumnya, jika ia berongga atau bolong-bolong
maka itu adalah koral (filum coelenterata, artinya rongga), jika ia memiliki dua cangkang
yang tidak sama besar (memiliki bagian ventral dan dorsal) maka itu adalah brachiophoda,
jika ia memiliki dua cangkang yang sama besar, maka itu adalah moluska. Jika ia berbentuk
menyerupai keong mas, maka itu adalah gastrophoda, dan jika ia berbentuk seperti bintang
laut, maka itu adalah echinodermata, dll.
Kekerasan
Merupakan tingkat kekuatan partikel batuan terhadap disagregasi.

Kompak, bila tidak dapat dicukil dengan jarum penguji.

Keras, bila masih dapat dicukil dengan jarum penguji.

Agak keras, bila dapat hancur ketika ditekan dengan jarum penguji.

Lunak, bila dapat dipotong-potong dengan mudah menggunakan jarum penguji.

Dapat diremas, bila dapat diremas dengan jari tangan.

Spongi, bila sifatnya seperti karet busa. Jika ditekan balik lagi ke asal.

Kontak (hubungan dengan batuan sekitarnya)


Perhatikan hubungan tiap satuan batuannya, apakah ia selaras (tentukan kontaknya apakah
tegas, gradasi, atau interkalasi) atau tak selaras (ditandai dengan bidang erosi: angular
unconformity, disconformity, paraconformity, atau nonconformity).
Deskripsi Batuan Sedimen Klatika (Batulanau dan batulempung)
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah batulanau, batulempung, napal, serpih. Pada
kelompok ini yang tidak dideskripsi adalah tekstur, pemilahan, porositas, dan permeabelitas.
Namun ada pula yang harus ditambahkan dalam pendeskripsiannya, yaitu kilap (luster). Kilap
dapat membantu pembedaan asal warna. Istilah istilah yang dipakai untuk ini adalah :
1. Dull : Mati atau warnanya gelap
2. Earthy: Seperti tanah
3. Scoty : Seperti jelaga (katel gosong)
4. Oily : Seperti minyak
5. Silky : Seperti sutra
6. Velvel : Seperti beludru
7. Resinous: Seperti lemak
8. Waxy : Seperti lilin
9. Soapy : Seperti sabun
Deskripsi Konglomerat, Breksi, Breksi Gunungapi, Agglomerat.
Untuk breksi, konglomerat, begitu pula breksi gunungapi dan agglomerat (detritus kasar),
yang harus di deskripsi adalah komponen dan matriknya.
Komponen
Dalam pendeskripsian komponen dalam breksi dan konglomerat, dilakukan secara biasa,
namun yang perlu diperhatikan:

Komposisi, apakah monomik (jika klastika terdiri dari satu tipe litologi), Oligomik
(terdiri dari 2-3 tipe klastika), polimik (klastika terdiri lebih dari 3 jenis litologi). Dan
tentukan pula jenis jenis batuannya, jika batuan beku tentukan sifatnya apakah
basaltis atau andesitis.

Ukuran komponen, tentukan ukuran maksimal dan minimal dari besar komponennya.

Kemas, tentukan kemasnya (terbuka atau tertutup). Dan lihat jika ada imbrikasi

Kekompakan, apakah komponennya lepas lepas, atau monolitik (komponen dan


matriks tak dapat dipisahkan)

Matrik
Dalam pendeskripsian matrik pada breksi dan konglomerat, dilihat apakah terdiri satu jenis
batuan atau campuran, kemudian deskripsi seperti biasa.
Deskripsi Batuan Karbonat (Batugamping)
Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mengandung mineral karbonat lebih dari 50%.
Pada umumnya, mineral karbonat adalah kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg (Co3)2). Batuan
karbonat umumnya terdiri atas batugamping (kalsit sebagai mineral utama) dan batudolomit
(dolostone).
Secara umum, beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan akumulasi maksimum
sedimen karbonat adalah lingkungan yang mempunyai:
1. Kedalaman yang cukup (umumnya pada laut dangkal <40m)
2. Hangat dengan penetrasi cahaya yang baik (25 30 C)
3. Kadar garam yang relatif stabil (27 40 /mil)
4. Aliran air yang jernih, agar proses fotosintesis sempurna
Klasifikasi batuan karbonat mempunyai banyak ragamnya. Sampai saat ini belum ada satu
klasifikasi yang dapat memuaskan semua pihak, seperti halnya pada batuan klastika (seperti
batupasir misalnya). Beberapa klasifikasi yang akan disajikan di bawah ini merupakan
klasifikasi yang lebih umum dipakai oleh para ahli geologi.

Gambar Klasifikasi Folk (1959/1962)

Gambar Klasifikasi Dunham (1962)

Gambar Klasifikasi Embry & Klovan (1971)


Secara konvensional batuan karbonat juga diklasifikasikan menurut ukuran butiranya, seperti
klasifikasi sedimen klastik berdasarkan skala ukuran butir Wentworth. Batuan karbonat
dengan ukuran butir >2 mm dinamakan kalsirudit (disebut konglomerat pada sedimen nonkarbonat), 63 mikron - 2 mm disebut kalkarenit (disebut batupasir pada sedimen nonkarbonat), dan yang ukuran butirnya <63 mikron dinamakan kalsilutit (setara dengan
batulempung).
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam mendeskripsi batugamping antara lain:

Nama Batuan, disesuaikan dengan klasifikasi yang digunakan

Warna, deskripsikan warna segar dan warna lapuknya.

Feature, dari lapangan tentukan apakah batugamping berlapis atau terumbu

Dominasi, deskripsikan didominasi oleh skletal atau Non skletal

Organisme, deskripsikan organisme dari batuan per kelas, (Gastropoda, Alga, Coral,
Bivalve, Foram)

Tekstur, penentuan tekstur mengunakan klasifikasi Folk, Dunham, Embry & Klovan,
atau secara konvensional.

Struktur, kenali struktur yang terdapat pada batugamping tersebut.

Gambar Struktur sedimen pada Batugamping, A : Cavity Structures, B : Stromatolites, C :


Tepees, D : Hardground