Anda di halaman 1dari 6

PENGANTAR REKAYASA LALU LINTAS

BAB I
TEKNIK LALU LINTAS
1.1. Pengantar
Apa saja pendekatan yang dilakukan subjek teknik lalu lintas telah dikenal banyak. Siapapun
yang mengemudi, menumpang kendaraan, memakai bis atau taksi, berjalan di jalan umum, telah
dilindungi dengan mahal oleh sistem yang terpusat pada profesi para sarjana teknik lalu lintas.
Kemacetan dan kecelakaan yang cenderung terus meningkat, telah menghamburkan sumber dana
yang amat tinggi. Demikian juga pencemaran udara akibat asap buangan yang dikeluarkan oleh
knalpot kendaraan bermotor, telah mengancam kehidupan manusia, terutama di kota-kota besar
atau metropolitan.
Bertambahnya kendaraan bermotor yang sangat tinggi, dan tidak diiringi dengan bertambahnya
panjang jalan untuk mengimbanginya, akan menimbulkan masalah transportasi yang tidak
efisien dan boros.
Dengan klarifikasi (menjelaskan) kebiasaan umum pada terminology di atas, maka timbul
pertanyaan yang mendasar : Apakah maksud Teknik Lalu Lintas itu ?.
1.2. Defenisi dan Tujuan Teknik Lalu Lintas
Defenisi menurut The Institute of Traffic Engineers : Teknik Lalu lintas adalah fase teknik
transportasi (phase of transportation engineering) yang erat kaitannya dengan perencanaan,
perancangan geometri serta pengoperasian lalu lintas jalan, jaringan jalan, terminal, daerah yang
berdampingan dengannya, dalam hubungannya dengan moda transportasi, untuk menghasilkan
keselamatan, kenyamanan serta efisiensi dalam pergerakan orang atau barang
Defenisi lain menetapkan : Teknik Lalu lintas adalah aplikasi teknologi dan prinsip ilmiah ke
dalam aspek seperti :
1. Perencanaan,
2. Perancangan fungsional,
3. Perancangan geometri jalan dan fasilitas-fasilitas jalan raya,
4. Operasi dan kontrol lalu lintas,
5. Keselamatan lalu lintas,
6. Perawatan fasilitas dan kontrol lalu lintas,
7. Manajemen fasilitas dan kontrol lalu lintas untuk mendapatkan gerakan manusia atau barang
yang aman, cepat dan nyaman, tepat, ekonomis, dan lingkungan yang cocok.
Berdasarkan pada defenisi tersebut, maka tujuan dari Teknik Lalu lintas adalah untuk
memperoleh : Keamanan, Kenyamanan, dan Ekonomis dalam transportasi orang atau barang.
1.3. Perkembangan Teknik Lalu Lintas
Teknik Lalu Lintas merupakan salah satu cabang baru dari Teknik Jalan Raya (Highway
Engineering) yang akhir-akhir ini telah berkembang sangat pesat, terutama di negara-negara
maju. Fakta menunjukkan, bahwa lalu lintas kendaraan meningkat tajam karena pesatnya
pertambahan kendaraan bermotor tiap tahunnya, seiring dengan kemajuan industri di bidang
otomotif. Sedangkan panjang jalan relatif hampir tetap. Perbandingan pertambahan yang tidak
seimbang ini menimbulkan kemacetan, kecelakaan, yang mengakibatkan transportasi menjadi

tidak aman, nyaman dan tidak efisien. Kecelakaan, problem parkir dan pencemaran udara akibat
kemacetan, telah serius mempengaruhi kehidupan lingkungan. Untuk itu perlu perhatian yang
lebih tinggi dalam pengoperasian karakteristik angkutan jalan dan studi mengenai kebutuhan
untuk perencanaan geometri yang lebih baik, kapasitas simpang jalan, sinyal lalu lintas, rambu
dan marka jalan, fasilitas parkir, terminal bis serta penerangan jalan. Hal-hal tersebut diatas
merupakan kebutuhan khusus yang terus dicari oleh para Sarjana Teknik Lalau Lintas, untuk
memberikan pelayanan yang lebih baik dalam transportasi.
Di Amerika Serikat, tahun 1904 telah dilakukan survei lalu lintas di beberapa tempat, melalui
sumbangan dari END Foundation SAUGATUCK, melalui riset lalu lintas yang bermanfaat. Hasil
warisan yang sampai sekarang masih dipakai adalah ditetapkannya 3 warha lampu sinyal lalu
lintas, yang dimunculkan tahun 1918. tahun 1931, The Institute of Traffic Engineers dididrikan,
dan mulai saat itu pekerjaan secara resmi ditetapkan.
Teknik jalan dan teknik lalu lintas mempunyai subjek yang paling berkaitan, dan belakangan ini
masing-masing ditetapkan menjadi cabang.
Sekarang, di USA teknik lalu lintas telah diakui sebagai cabang yang spesialis. Sejumlah
program graduate dan post graduate course dalam ilmu teknik lalu lilntas ditawarkan. Di Eropa,
sekarang ini teknik lalu lintas merupakan suatu cabang yang penting dan kebutuhan profesi di
bidang ini meningkat dengan tajam.
Produksi otomotif di Jepang sekarang ini telah menguasai pasaran dunia dan teknik lalu lintasnya
berkembang amat pesat. Di Indonesia, teknik lalu lintas mulai diperkenalkan pada permulaan
tahun 1970-an, dengan perkembangan yang cukup menggembirakan.
1.4. Fungsi dan Peranan Teknik Lalu Lintas
Suatu kenyataan yang sangat jelas, bahwa perhatian yang nyata sarjana teknik lalu lintas adalah
gerakan orang dan barang, dan gerakan kendaraan hanyalah cara untuk mengerjakannya.
Ini berguna dalam menilai bagaimana orang melakukan gerakan dengan bermacam kendaraan
dan perbedaan tipe fasilitas. Fasilitas transportasi meliputi berikut ini :
1. Jalan freeway perkotaan,
2. Jalan arteri utama,
3. Lajur bis,
4. A light rail-transit sistem,
5. A heavy rail-transit sistem.
Perbedaan fasilitas tersebut akan menentukan tipe kendaraan yang dilayaninya.
Jumlah kendaraan yang ada di jalan perlu diketahui, agar dapat dievaluasi pengaruhnya terhadap
fasilitas jalan. Hal ini berkaitan dengan fungsi dan peranan teknik lalu lintas.

Beberapa fungsi dan peranan teknik lalu lintas yang dimaksud adalah :
1.4.1 Melakukan Pengumpulan, Analisis dan Interpretasi Data Lalu Lintas
Salah satu fungsi sarjana teknik lalu lintas yang penting adalah mengatur dan melaksanakan
survei lalu lintas, serta studi untuk memperoleh data karakteristik lalu lintas. Kegiatan-kegiatan
tersebut mencakup :
1. Studi survei asal-tujuan (O-D surveys),
2. Hitungan volume lalu lintas (traffic volume counts),

3. Studi yang meliputi kecepatan, waktu perjalanan, dan ukuran ketertundaan (delay
measurements),
4. Studi statistik kecelakaan,
5. Studi karakteristik parkir,
6. Studi perilaku pejalan kaki (pedestrian behaviour), dan pemakaian jalan (use of streets),
7. Studi kapasitas (capacity studies),
8. Studi mengenai kehilangan ekonomi karena kekurangan fasilitas lalu lintas (economic loss
caused by inferior traffic facilities).
Data yang diperoleh dari studi diatas, dianalisis dan diinterpretasi oleh sarjana teknik lalu lintas,
kemudian diobservasi keteraturannya lebih lanjut. Untuk memilih solusi yang tepat dalam
mengatasi problema tersebut.
1.4.2 Membuat Perencanaan Lalu Lintas dan Transportasi
Sarjana teknik lalu lintas sangat menaruh perhatian terhadap persiapan rencana lalu lintas dan
transportasi untuk menjamin keselamatan, kelancaran, ketertiban yang digabungkan secara
penuh pada sistem transportasi dan studi mengenai karakteristik perjalanan. Dasar analisis studi
tersebut telah dirumuskan dalam model matematik untuk memperkirakan bagaimana suatu
sistem mempunyai perilaku pada suatu kondisi yang diberikan. Akan diperoleh alternatif solusi
untuk perkembangan suatu sistem jalan yang kemudian dievaluasi kebaikan dan keburukannya.
Solusi yang optimal dipilih dan dilaksanakan. Agar diperoleh hasil solusi yang optimal dan
terhindar dari suatu penilaian yang subjektif, landasan dasar berikut ini harus dipakai dalam
menentukan langkah-langkah tersebut, yaitu :
1. Menentukan obyek yang harus dilayani,
2. Menentukan keuntungan yang akan didapat dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh
masyarakat,
3. Menentukan kesepakatan yang akan dipakai untuk pemilihan alternatif,
4. Menentukan alternatif mana saja yang harus diutamakan,
5. Menentukan perimbangan antara batas pelayanan yang harus dicapai dengan besarnya sumber
yang dipakai,
6. Menentukan perimbangan antara derajat kelebihan hasil dan tingkatan sosial, ekonomi, dan
teknologi masyarakat.
1.4.3 Membuat Perancangan Geometrik Jalan
Bagian dari fungsi sarjana teknik lalu lintas adalah menaruh perhatian khusus pada perancangan
geometric jalan, rancangan simpang, rancangan interchange, rancangan fasilitas parkir off-street
dan on-street, serta rancangan fasilitas terminal truk dan bis. Dalam bidang perancangan
geometrik, fungsi sarjana teknik lalu lintas saling melengkapi, dan diperlukan suatu kerja sama
yang lebih erat serta saling konsultasi diantara mereka.
1.4.4 Melaksanakan Pengoperasian Lalu Lintas
Untuk maksud efisiensi dan keamanan pengoperasian lalu lintas, sarjana teknik lalu lintas telah
mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pembuatan undang-undang dan langkah-langkah pelaksanaan untuk mengatur kendaraan, dan
pemakai jalan (pengemudi dan pejalan kaki),

2. Langkah pengelolaan seperti pengaturan jalan searah, larangan berbelok atau berputar arah
pada simpang, pengaturan arus pasang, pengaturan lajur bis terpisah, dan lain-lain, dengan
maksud untuk memperoleh manfaat yang maksimum di luar fasilitas yang telah ada,
3. Langkah untuk pengaturan parkir kendaraan,
4. Melengkapi alat pengaturan lalu lintas seperti rambu dan marka jalan, sinyal lalu lintas, dan
teknik kanalisasi (channelization techniques) untuk memandu, menjamin keselamatan dan
efisiensi lalu lintas.
1.4.5 Melakukan Pendekatan-Pendekatan Lalu Lintas
Membangun jalan raya beserta fasilitasnya, umumnya sering kurang atau tidak sesuai dengan
pertumbuhan volume lalu lintas yang cepat seperti sekarang ini. Hal tersebut karena akibat
kenaikan jumlah kendaraan yang sangat pesat, sehingga sering terjadi tundaan (delays) dan
kemacetan (congestion) di jalan terutama di kota-kota besar. Selain itu jumlah kecelakaan di
simpang jalan yang sudah ada, baik di daerah perkotaan maupun di luar kota menjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan jumlah kecelakaan di simpang yang telah dirancang dengan perancangan
modern. Dalam ini diusulkan cara pencegahannya dengan menggunakan peraturan lalu lintas
yang cukup.
Teknik lalu lintas akan menjawab tantangan atau masalah tundaan, kemacetan dan kecelakaan
lalu lintas melalui dua pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan konstruktif (construction approaches), yaitu mengatasi tantangan dan masalah lalu
lintas, melalui pembangunan (secara fisik) prasarana dan sarana yang baru atau meningkatkan
(secara fisik) prasarana dan sarana yang sudah ada. Termasuk di dalamnya perencanaan dan
perancangan geometrik jalan baru yang meliputi transit, fasilitas parkir dan sebagainya,
memperlebar lajur, bahu jalan, serta memperbaiki alinyemen.
2. Pendekatan dengan pembatasan (restrictive approaches), yaitu mengatasi tantangan dan
masalah lalu lintas melalui pembatasan pemakian jalan yang sudah ada, melakukan efisiensi dan
pengaturan dengan memakai kontrol lalu lintas, termasuk melakukan pembatasan kendaraan
yang lewat, mengoperasikan arus searah, arus pasang, membatasi kecepatan dan sebagainya.
Analisis dan studi lalu lintas akan menghasilkan dasar untuk pendekatan konstruktif dan
pendekatan pembatasan secara bersama-sama.
1.5. Elemen-Elemen Teknik Lalu Lintas
Beberapa elemen teknik lalu lintas yang dikenal adalah :
1. Studi dan koleksi data. Aktifitas pertama dalam teknik lalu lintas yang selalu untuk diketahui ;
sebagai dokumen masalah, dan mengumpulkan informasi untuk dilakukan suatu analisis yang
tepat dan rancangan kerja.
2. Perancangan geometrik. Fasilitas harus dirancang sesuai dengan kriteria dan standar yang
pasti, dan rencana-rencana harus didokumentasikan serta dilaksanakan.
3. Analisis kapasitas dan evaluasi. Operasi setiap fasilitas lalu lintas ditentukan oleh interaksi
diantara pengemudi dan kendaraannya dan antara pengemudi, kendaraan dan jalan. Terdapat
prosedur penentuan yang baik untuk mengestimasi berapa kendaraan yang dapat ditampung pada
tingkat kualitas pengemudi yang bervariasi pada aliran lalu lintas, untuk kondisi yang spesifik.
Prosedur ini mungkin digunakan untuk membantu dalam perancangan fasilitas, untuk maksud
perencanaan, atau untuk evaluasi operasi yang sudah ada.
4. Kontrol, operasi dan manajemen. Pengemudi diarahkan dan dikontrol oleh rambu, marka jalan
dan sinyal. Ada syarat ketentuan yang baik dalam pemakaian, penempatan, dan bentuk fisik dari

alat kontrol ini, yaitu adanya keseragaman yang tepat dalam komunikasi dengan pengemudi.
Perhatian sarjana teknik lalu lintas tidak hanya ketepatan pemakaian alat kontrol saja, akan tetapi
juga meningkatkan operasi aliran lalu lintas.
Terlebih lagi, adanya tekanan manajemen dari sumber yang ada, terbatasnya dana, ruang dan
prioritas sosial untuk membangun fasilitas baru di sepanjang Right Of Way (ROW).
1.6. Hubungan Perkembangan Masyarakat dan Transportasi
Terdapat hubungan yang erat antara tingkat perkembangan masyarakat dengan kebutuhan
transportasi. Apabila perkembangan masyarakat diukur dengan income per capita dan dinyatakan
dalam GNP/jumlah penduduk, dan kebutuhan transportasi dinyatakan dalam kendaraan x km,
serta perkembangan masyarakat adalah normal, maka hubungan tersebut dapat digambarkan
mengikuti kurva Gauss, seperti gambar 1.1.
Gambar 1.1 Hubungan tingkat perkembangan masyarakat dengan transportasi
Stadium I : Merupakan tingkat perkembangan yang paling rendah. Perekonomian masih sangat
lemah pendapatan per kapita sangat rendah dibandingkan dengan taraf kebutuhan hidup yang
normal. Dalam stadium ini seluruh tenaga masyarakat dikerahkan untuk meningkatkan taraf
hidup dengan jalan meningkatkan produksi. Kebutuhan transportasi kurang. Growth-rate
kendaraan x km lebih rendah daripada growth-rate income per capita.
Stadium II : Merupakan titik perkembangan yang dikenal dengan istilah take off. Pada stadium
ini masyarakat mulai mengerahkan segala daya untuk meningkatkan transportasi agar dapat
menyalurkan semua kelebihan produksinya. Ini berarti dinamika masyarakat tersebut menjadi
tinggi.
Dalam stadium ini dengan dinamika masyarakat lebih dilipat gandakan, growth rate kend x km
relatif lebih besar daripada growth rate income per capita.
Stadium III : Merupakan tingkat perkembangan yang berimbang atau equilibrium, yang dalam
proses perkembangannya dinamika masyarakat selalu seimbang dengan kenaikan tingkat
pendapatan. Segala kelebihan pendapatan yang diperoleh akan mulai diinvertasikan dalam sector
lain di luar angkutan, misalnya kenaikan comfort, safety, convenient. Dalam stadium ini growth
rate kend x km seimbang dengan growth rate income per capita.
Stadium IV : Merupakan tingkat perkembangan yang terakhir. Dalam stadium ini garis
perkembangan kebutuhan transportasi dan garis perkembangan dinamika masyarakat akan naik
secara asimptotis terhadap garis batas.
1.7. Dampak Perkembangan dan Pertumbuhan Manajemen
Selama tahun 1970 sampai 1990, kebutuhan pelayanan teknik lalu lintas dalam proyek-proyek
perkembangan telah meningkat dengan kuat. Pada umumnya setiap peningkatan proyek baru
atau modifikasi fasilitas memerlukan penilaian formal terhadap pengaruhnya. Sarjana lalu lintas
sangat terlibat langsung dengan dampak lalu lintas, yang sangat berkait erat dengan dampak
suara dan pencemaran udara.
Apabila dampak tersebut signifikan, pekerjaan biasanya meliputi bentuk spesifikasi dan
perancangan untuk mengurangi dampak, yang mempunyai jangkauan :
1. Memperbaharui sinyal simpang,
2. Menambah jalur fasilitas yang ada,
3. Memasukkan fasilitas baru dalam perencanaan total.

Sejumlah alat-alat harus diaplikasikan untuk difokuskan pada evaluasi operasi. apa dan bila
sejumlah alternatif harus dipertimbangkan, dan penggunaan rancangan yang mudah untuk
mengurangi biaya efektif. Perkembangan menyebabkan masyarakat sangat memperhatikan akan
hal ini.
Selama tahun 1970-an beberapa masyarakat mengembangkan kebijakan resmi atas tingkat lalu
lintas yang sesuai, atau atas kecepatan bertindak, seperti :
1. Tak ada simpang jalan dalam masyarakat ini dioperasikan pada suatu rasio volume kapasitas
(v/c) lebih dari 0,80.
2. Suatu proyek yang akan menyebabkan rasio v/c melebihi 0,80 harus diganti dengan bentuk
yang menjamin nilai 0,80 tidak dilampaui.
3. Suatu proyek yang menyebabkan rasio v/c menigkat 0,01 harus diganti dengan bentuk yang
menjamin nilai 0,01 tidak terjadi.
Kebijakan-kebijakan ini selalu merupakan suatu sikap mental masyarakat terhadap nodevelopment, memaksa penambahan persyaratan atas zoning serta menambah tingkat biaya
yang membuat proyek pasti dikerjakan.
Sebagai kelengkapan biaya atas perkembangan baru tersebut, telah menjadi perhatian lebih besar,
serta banyak masyarakat mengambil peraturan untuk memperoleh biaya yang sebenarnya. Selain
transportasi, ini meliputi estimasi gorong-gorong, pipa air, pembersihan sampah, pemadam
kebakaran, polisi, sekolah dan pelayanan masyarakat yang lain.
Sarjana lalu lintas dapat menjamin persoalan pertumbuhan manajemen yang sangat besar
mempengaruhi keahlian mereka di kehidupan mendatang. Berkait erat dengan persoalan
keringanan finansial, faktor biaya dasar, dan alokasi biaya yang pantas.