Anda di halaman 1dari 58

BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah


Tekanan darah adalah tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung
memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan darah sering naik dan turun sepanjang
hari. Tekanan darah bisa berubah dalam hitungan menit, tegantung pada keadaan
psikologis atau aktivitas fisik. Gangguan tekanan darah sering disebut the silent
disease atau penyakit tersembunyi. Sebutan tersebut berawal dari banyaknya orang
tidak sadar telah mengidap gangguan tekanan darah sebelum mereka melakukan
pemeriksaan tekanan darah. Gangguan tekanan darah dapat menyerang siapa saja, dari
berbagai kelompok umur dan status sosial ekonomi (sutanto 2010). Gangguan tekanan
darah yang paling sering tejadi dan dapat berakibat fatal jika tidak dikendalikan adalah
hipertensi.
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah
meningkat secara kronis. Hipertensi disebut juga sebagai pembunuh gelap karena
merupakan penyakit mematikan tanpa gejala terlebih dahulu. Hipertensi yang tidak
terkontrol dan terdeteksi dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung, stroke, dan
gagal ginjal yang berujung dengan kematian.

1,2

Lebih dari tiga perempat penduduk

dunia usia dewasa berisiko mengalami hipertensi dan angka ini diperkirakan meningkat
sebanyak 29,5% pada tahun 2025. 3 Penelitian yang di lakukan oleh WHO pada tahun
2006 menunjukkan bahwa orang usia dewasa yang menderita hipertensi sebesar 26% di
seluruh dunia.4 Menurut riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi hipertensi di
Indonesia yang di dapat melalui pengukuran pada umur 18 tahun sebesar 25,8%.

Sedangkan di Jakarta, menurut penelitian Kartikawati, prevalensi hipertensi sebesar


39,4%.
Gaya hidup menjadi salah satu faktor penting terjadinya hipertensi, salah
satunya adalah konsumsi kopi. Indonesia merupakan negara penghasil kopi ketiga
terbesar di dunia sehingga konsumsi kopi masyarakat tergolong tinggi. Berdasarkan
penelitian di Bogor, dari 89 wanita dewasa sebesar 54 orang mempunyai kebiasaan
minum kopi 2-6 cangkir/minggu sedangkan >7 orang cangkir/minggu. Hal ini
menunjukkan bahwa konsumsi kopi oleh masyarakat masih tinggi.
Kopi dapat mempengaruhi tekanan darah karena adanya polifenol, kalium dan
kafein yang terkandung di dalamnya. Polifenol dan kalium bersifat menurunkan
1

tekanan darah. Polifenol menghambat terjadinya aterogenesis dan memperbaiki fungsi


vaskular. Kalium menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan menghambat
pelepasan renin sehingga terjadi peningkatan ekskresi natrium dan air. Hal tersebut
menyebabkan terjadinya penurunan volume plasma, curah jantung, dan tekanan perifer
sehingga tekanan darah akan turun. Kafein memiliki efek antagonis kompetitif terhadap
reseptor adenosin. Adenosin merupakan neuromodulator yang mempengaruhi sejumlah
fungsi pada susunan saraf pusat. Hal ini berdampak pada vasokonstriksi dan
meningkatkan total resistensi perifer, yang akan menyebabkan tekanan darah naik.
Penelitian di USA yang dilakukan oleh Cuno Uiterwaal dkk pada tahun 2007
menunjukkan subyek yang tidak terbiasa minum kopi memiliki tekanan darah yang
lebih rendah jika dibandingkan dengan yang mengkonsumsi kopi 1-3 cangkir per hari.
Pria yang mengkonsumsi kopi 3-6 cangkir per hari memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi jika di bandingkan dengan yang mengkonsumsi kopi 1-3 cangkir per hari. 5
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ayu Martiani pada tahun 2012, dengan
judul Faktor Risiko Hipertensi Ditinjau dari Kebiasaan Minum Kopi, membuktikan
bahwa subyek yang memiliki kebiasaan minum kopi 1-2 cangkir per hari meningkatkan
risiko hipertensi sebanyak 4,12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi kopi 0
cangkir perhari.5
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan
antara kopi dengan tekanan darah dan faktor-faktor lainnya. Penelitian ini
dilaksanankan di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Grogol II.

Oleh karena itu

peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah sitol dan
diastol seperti kebiasaan minum kopi, umur, jenis kelamin, dan keturunan (genetik).
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kelurahan Grogol II, Kecamatan Gogol
Petamburan, Jakarta Barat karena Puskesmas Kelurahan Grogol II belum pernah
dilakukan penelitian mengenai hal ini sebeumnya dan termasuki wilayah kerja peneliti.

1.2. Rumusan Masalah


1. Ada penelitian menunjukkan bahwa orang usia dewasa yang menderita
2.

hipertensi sebesar 26% di seluruh dunia.


Prevalensi hipertensi di Indonesia yang di dapat melalui pengukuran pada umur
18 tahun sebesar 25,8%.

3.

Di Bogor, dari 89 wanita dewasa sebesar 54 orang mempunyai kebiasaan minum

4.

kopi 2-6 cangkir/minggu sedangkan >7 orang cangkir/minggu.


Ada penelitian membuktikan bahwa subyek yang memiliki kebiasaan minum
kopi 1-2 cangkir per hari meningkatkan risiko hipertensi sebanyak 4,12 kali

5.

lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi kopi 0 cangkir perhari.


Belum pernah dilakukan penelitian tentang hubungan kebiasaan minum kopi
dengan hipertensi di Puskesmas Kelurahan Grogol II, Kecamatan Grogol
Petamburan, Jakarta Barat.

1.3. Tujuan
1.3.2. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi dengan
tekanan darah dan faktor-faktor lain yang berhubungan pada pengunjung Puskesmas
Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2012.
1.3.3. Tujuan Khusus

Diketahuinya sebaran tekanan darah sistolik dan diastolik pengunjung


Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode

Agustus 2014.
Diketahuinya sebaran umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga,
kebiasaan minum kopi pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II,

Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2014.


Diketahuinya sebaran
jenis kopi yang dikonsumsi oleh pengunjung
Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode

Agustus 2014.
Diketahuinya sebaran

jumlah kopi yang dikonsumsi oleh pengunjung

Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode

Agustus 2014.
Diketahuinya sebaran

frekuensi minum kopi yang dikonsumsi oleh

pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta

Barat, periode Agustus 2014.


Diketahuinya hubungan jenis, jumlah, dan frekuensi minum kopi

dengan

tekanan darah sistolik dan diastolik pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol

II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2014.


Diketahuinya sebaran kegemukan (obesitas) pada pengunjung Puskesmas
Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus

2014.
Diketahuinya sebaran merokok pada pada pengunjung Puskesmas Kelurahan
Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2014.
3

Diketahuinya sebaran status sosial ekonomi pada pengunjung Puskesmas


Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus

2014.
Diketahuinya sebaran aktivitas fisik pada pengunjung Puskesmas Kelurahan

Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2014.


Diektahuinya sebaran konsumsi alkohol pada pengunjung P Puskesmas
Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus

2014.
Diketahuinya sebaran konsumsi garam (natrium) berlebihan pada pengunjung
Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode

Agustus 2014.
Diketahuinya hubungan antara tekanan darah sistol dan diastol dengan umur,
jenis kelamin, riwayat penyakit kleuarga, kebiasaan minum kopi, jenis, jumlah,
dan frekuensi minum kopi, kegemukan (obesitas), merokok, status sosial
ekonomi, aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, serta konsumsi garam
(natrium) berlebihan pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II,
Grogol Petamburan, Jakarta Barat, periode Agustus 2014.

1.4. Hipotesis
Terdapat hubungan antara kebiasaan minum kopi terhadap kenaikan tekanan darah
dengan faktor lain seperti usia, jenis kelamin dan keturunan (genetik) yang juga
berpengaruh.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan

1.5.2

pngetahuan bagi peneliti selanjutnya


Mengembangkan daya nalar, minat, dan kemampuan dalam bidang penelitian
Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat
Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian

Bagi Universitas

Merealisasikan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi atau


tugas Perguruan Tinggi sebagai Lembaga yang menyelenggarakan pendidikan,
penelitian dan pengertian bagi masyarakat.

Memperkenalkan Fakultas Kedokteran Ukrida kepada masyarakat dan


mewujudkan kampus sebegai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya dalam
bidang kesehatan.

1.5.3

Bagi Puskesmas

Meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat yang berbasis

kesehatan perorangan dan lingkungan.


Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya dipuskesmas

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Tekanan Darah


2.1.1 Definisi
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluj arteri yang terdiri
dari tekanan darah sistol dan diastol yang dapat dukur dengan pengukuran tekanan darah.
Peristiwa yang terjadi pada jantung berasal dari bermulaan sebuah denyut jantung sampai
berakhirnya denyut jantung beirkutnya disebut siklus jantung. Siklus jantung terdiri atas satu
periode relaksasi yang disebut Diastolik, yaitu periode pengisian jantung dengan darah yang
diikuti oleh satu periode kontraksi yang disebut Sistolik.6,7
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak
terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah
tekanan terendah yang terjadi saat ventrikel beristirahat dan mengisi ruangannya. Tekanan
darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik.6
Fisiologi Tekanan Darah
Ada 2 faktor yang mempengaruhi tekanan darah, yaitu curah jantung (cardiac output)
dan resistensi tahanan perifer total. Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh
5

tiap-tiap ventrikel permenit (bukan jumlah total darah yang dipompa oleh jantung. Curah
jantung dipengaruhi oleh kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup. Kecepatan denyut
jantung distimulasi oleh saraf parasimpatis dan simpatis. Saraf parasimpatis ke jantung yaitu
saraf vagus, mempersyarafi atrium, terutama nodus SA dan AV. Persarafan parasimpatis ke
ventrikel tidak signifikan. Pengaruh sistem saraf parasimpatis pada nodus SA adalah untuk
menurunkan kecepatan denyut jantung. Dengan demikian, jantung bekerja lebih santai
dibawah pengaruh parasimpatis dimana jantung berdenyut lebih lambat, waktu antara
kontraksi atrium dan ventrikel memanjang dan kontraksi atrium melemah. Sebaliknya, sistem
saraf simpatis yang mengontrol kerja jantung pada situasi-situasi darurat atau berolah raga.
Saat terjadi peningkatan kebutuhan akan aliran darah, akan mempercepatkan denyut jantung
melalui efeknya pada jaringan pemacu. Komponen lain yang menentukan curah jantung
adalah volume sekuncup, yaitu jumlah darah yang dipompa keluar oleh tiap-tiap ventrikel
seklai berdenyut. Terdapat 2 jenis kontrol yang mempengaruhi volume sekuncup : 1) kontrol
interinsik yang berkaitan dengan seberapa banyak aliran balik vena, 2) kontrol ekstrinsik
yang berkaitan dengan tingkat stimulasi simpatis pada jantung.6,7
Selain curah jantung, resistensi perifer total juga berpengaruh terhadap tekanan darah.
Resistensi perifer total dipengaruhi oleh diameter arteriol dan viskositas darah. Ada 2 faktor
yang mempengaruhi diameter arteriol : 1) kontrol interinsik, yang penting untuk
menyesuaikan aliran darah melalui suatu jaringan dengan kebutuhan metabolik jaringan
tersebut dan diperantarai oleh faktor-faktor lokal yang bekerja pada otot polos arteriol, dan 2)
kontrol ekstrinsik, yang penting dalam mengatur tekanan darah terutama diperantarai oleh
pengaruh simpatis pada otot polos arteriol. Tahanan yang diberikan oleh arteriol juga
dipengaruhi oleh viskositasdarah yang tergantung dari jumlah sel darah merah dan
konsentrasi protein plasma dengan kata lain bila viskositas darah yang rendah akan
berhubungan dengan tekanan darah rendah dan bila viskositas darah tinggi akan
menyebabkan tekanan darah tinggi.7
2.1.2

Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang menetap yang penyebabnya masih tidak

diketahui (hipertensi esensial, idiopatik, atau primer) maupun yang berhubungan dengan
penyakit yang lain (hipertensi sekunder). Hipertensi juga dapat didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah arteri di atas batas normal yang diharapkan pada kelompok usia
tertentu.6,7

2.1.3 Faktor faktor yang berhubungan dengan hipertensi


2.1.3.1 Faktor yang tidak dapat dikontrol
2.1.3.1.1 Usia
Terdapat hubungan yang positif antara usia dan frekuensi hipertensi, dimana
prevalensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia (Bullock 1996). Risiko terkena
hipertensi tinggi pada saat memasuki masa pra lansia dan dengan bertambahnya usia, risiko
menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu
sekitar 40% dengan kematian lebih banyak terjadi pada usia diatas 65 tahun. Tingginya
hipertensi sejalan dengan bertambahnya usia disebabkan oleh perubahan struktur pada
pembuluh darah besar, yang menyebabkan penyempitan lumen dan kekakuan dinding
pembuluh darah dan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik.8

2.1.3.1.2

Jenis kelamin

Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria diduga memiliki
gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita
(WHO 2001). Setelah menopause, prevalensi hipertensi pada wanita lebih tinggi
dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal (Bullock 1996). Wanita
yang belum menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang sistem imun dan berperan
dalam meningkatkan kadar High Density Lipoproptein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang
dtinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya aterosklerosis. Ketika
memasuki masa pemenopause, wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen
dan seiring dengan bertambahnya usia, hormon estrogen berubah kuantitasnya secara alami.
Proses ini akan terus berlanjut sehingga kadar HDL menurun dan menyebabkan kemungkinan
terjadinya aterosklerosis semakin besar. Hal ini umumnya terjadi pada wanita usia 4555
tahun.9,10,11
2.1.3.1.3

Ras

Kajian populasi menunjukan bahwa orang kulit hitam memiliki risiko hipertensi dua
kali lebih besar dibandingkan dengan orang kulit putih. Tingkat keparahan dan kematian yang
disebabkan oleh hipertensi juga lebih tinggi pada orang kulit hitam. Hal tersebut terjadi
diduga karena akses terhadap pelayanan kesehatan yang lebih rendah, perbedaan genetik
dengan kulit putih, aspek psikososial dan atau karena faktor nutrisi.10
2.1.3.1.4

Keturunan ( genetik)
7

Genetik berperan dalam perkembangan hipertensi, yang tentunya juga dipengaruhi


oleh faktor-faktor lingkungan lainnya. Diduga peran genetik dalam terjadinya hipertensi
berkaitan dengan sensitivitas terhadap garam yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal, sistem
saraf simpatik, and lain-lain. Jika kedua orang tua memiliki hipertensi primer, kecenderungan
hipertensi pada anaknya adalah satu dari dua anak. Jika salah satu dari orang tua hipertensi,
maka kecenderungannya satu dari tiga anak. Sedangkan orang tua yang normotensi,
kecenderungan hipertensi pada anaknya adalah satu dari 20 anak (Bullock 1996). Hal ini
sejalan dengan dengan pernyataan Depkes RI (2007), bahwa meskipun tidak setiap penderita
hipertensi didapat dari garis keturunan, namun seseorang akan memiliki potensi untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi, terutama hipertensi
primer (esensial). Bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun
ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka sekitar
30% akan turun ke anak-anaknya.8
2.1.3.2 Faktor yang dapat dikontrol
2.1.3.2.1 Status sosial ekonomi
Level tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi terdapat pada
golongan sosio ekonomi rendah selalu dapat ditunjukkan di negara-negara yang berada pada
tahap pasca peralihan perubahan ekonomi dan epidemiologi. Akan tetapi, dalam masyarakat
yang berada pada masa peralihan, level tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih
tinggi ternyata terdapat pada golongan sosio ekonomi yang lebih tinggi. Hubungan terbalik
itu berkaitan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan(WHO 2001). Pendapatan
yang rendah diketahui menjadi penyebab yang lebih besar terhadap kejadian hipertensi jika
dibandingkan dengan faktor risiko yang lainnya (Bullock 1996). Menurut Gaudemaris et al.
(2002) pada penduduk Perancis ditemukan adanya hubungan antara jabatan rendah dalam
pekerjaan dengan prevalensi hipertensi yang tinggi dan rendahnya tingkat pengobatan
penyakit hipertensi. Pada perempuan selain dipengaruhi tingkat pekerjaan juga dipengaruhi
tingkat pendidikan yang rendah, dan pada laki-laki selain dipengaruhi pekerjaan yang rendah
juga dipengaruhi tingkat konsumsi alkohol.9,10,11
2.1.3.2.2

Kegemukan ( obesitas)

Tubuh manusia terdiri dari berbagai komponen penyusun yang terdiri dari tulang,
otot, berbagai organ, cairan tubuh, dan lemak yang kesemuanya akan menghasilkan berat
badan. Secara normal beberapa komponen akan mengalami perubahan seiring pertumbuhan
tubuh, perkembangan reproduksi, akibat latihan fisik, maupun akibat proses penuaan.
8

Penambahan berat badan bisa diakibatkan dari perubahan faktor-faktor tersebut tetapi
terutama akibat penumpukan lemak yang tersimpan dalam sel lemak. Obesitas dapat
disebabkan akibat sel lemak mengalami hipertrofi, hiperplasi ataupun keduanya. Pada semua
golongan umur maupun etnis, kelebihan berat badan adalah faktor utama yang mempengaruhi
tekanan darah. Indeks Massa Tubuh (IMT) 2529 kg/m2 mempunyai risiko 70% lebih besar
terkena hipertensi. Joint National Committee (1977) menunjukkan bahwa Indeks Massa
Tubuh (IMT) diatas 27 berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Lingkar pinggang >
34 inci (86 cm) pada laki-laki dan 39 inci (99 cm) pada perempuan diikuti dengan
peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lain (Myers 2004).12
Menurut penelitian Wildman et al. (2005) yang dilakukan di Cina, tekanan darah baik
sistolik maupun diastolik meningkat seiring pertambahan IMT dan lingkar pinggang.
Sedangkan penelitian Nowson et al. (2005) menyebutkan dengan Dietary Approaches to Stop
Hypertension (DASH) yang dimodifikasi disertai olah raga dengan intensitas sedang > 30
menit setiap hari, dicapai penurunan berat badan 5 kg dalam waktu tiga bulan yang diikuti
dengan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 5 mmHg dandiastolik sebesar 4 mmHg bila
dibandingkan diet rendah lemak yang biasa dilakukan.13
2.1.3.2.3

Psikososial dan stress

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, takut, rasa
bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu
jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika
stress berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul
perubahan patologis. Gejala yang muncul antara lain berupa hipertensi atau penyakit maag.8
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan adanya transaksi antara individu dengan
lingkungan sekitarnya yang mendorong seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan
antara tuntutan situasi dan sumber daya (biologis, psikologis, dan sosial) yang ada pada diri
seseorang (Damayanti 2003, diacu dalam Depkes 2006). Peningkatan darah akan lebih besar
pada individu yang mempunyai kecenderungan stress emosional yang tinggi (Pinzon 1999,
diacu dalam Depkes 2006). Hal ini sejalan dengan pernyataan Simon (2002) bahwa seseorang
yang mengalami stress, cemas dan depresi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk
menderitahipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami masalah tersebut.8
2.1.3.2.4

Merokok

Rokok merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi, selain itu juga sebagai
salah satu faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (Bullock 1996). Di dunia,
tembakau merupakan penyebab kelima penyakit kardiovaskular. Merokok meningkatkan
denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Oleh karena itu,
merokok pada penderita hipertensi akan semakin meningkatkan risiko kerusakan pada
pembuluh darah arteri (Depkes 2006). Data Depkes menyebutkan bahwa pada tahun 2002
konsumsi rokok di Indonesia menempati urutan ke lima diantara sepuluh negara dengan
konsumsi rokok tertinggi dengan trend yang meningkat selama periode 19702000 sebesar 7
kali lipat, yaitu 23 milyar batang pada tahun 1970 menjadi 217 milyar batang pada tahun
2000. Nikotin dan gas monoksida (CO) adalah dua bahan penting dalam asap rokok yang
berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. Asap rokok mengandung sekitar 0,5% sampai 3%
nikotin, dan jika dihisap maka kadar nikotin dalam darah akan berkisar antara 40-50 mg/ml.
Nikotin di dalam rokok melepaskan zat cathecolamins yang dapat meningkatkan tekanan
darah dan zat lainnya yang dapat mengganggu jantung, membuat irama jantung menjadi tidak
teratur, mempercepat aliran darah, menimbulkan kerusakan lapisan dalam pembuluh darah
dan menimbulkan penggumpalan darah. Sedangkan CO memiliki kemampuan yang jauh
lebih kuat daripada sel darah merah dalam hal menarik atau menyerap oksigen, sehingga
menurunkan kapasitas darah merah tersebut untuk membawa oksigen ke jaringan-jaringan,
termasuk jantung (Soeharto 2000).8,10,14
2.1.3.2.5

Aktifitas fisik

Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang
memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik)
merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis dan secara keseluruhan
diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO,2012; Physical Ativity). Menurut
Baecke (1982), indeks aktivitas disik merupakan aktivitas sehari-sehari yang meliputin
indeks kegiatan waktu bekerja, indeks kegiatan berolah raga, dan indeks kegiatan waktu
luang. Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang
aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai
pencegahan primer dari hipertensi.
Menurut kowalski (2007), aktivitas fisik secara teratur tidak hanya menurunkan
tekanan darah, juga menyebabkan perubahan yang signifikan. Aktivitas fisik meningkatkan
aliran darah ke jantung, kelenturan arteri dan fungsi arterial. Aktivitas fisik juga

10

menlambatkan aterosklerosis dan menurunkan resiko serangan jantung dan stroke (kowalski,
2007).
Menurut para dokter di Selandia Baru yang dimuat di tajuk rencana The Lancet
menyimpulkan Aktivitas fisik memiliki konsep yang lebih luas dari olah raga dan dapat
didefinisikan sebagai pergerakan otot yang menggunakan energi. Aktivitas fisik berpengaruh
secara langsung terhadap tekanan darah karena latihan fisik dapat mempengaruhi tekanan
darah dengan menormalkan proses-proses tubuh lainnya (Hull 1996). Aktivitas fisik atau olah
raga merupakan bentuk pemberian rangsang berulang pada tubuh. Tubuh akan
beradaptasijika diberi rangsangan secara teratur dengan takaran dan waktu yang tepat
(Depkes 2007). Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan atau
berenang secara teratur sekitar 3045 menit selama 34 kali dalam seminggu dapat
menurunkan hipertensi sekitar 48 mmHg dan risiko kematian akibat penyakit jantung
koroner sebesar 30% dibandingkan dengan individu yang sedentary. Hal ini diduga karena
latihan mengakibatkan penurunan tekanan darah dan meningkatkan HDL kolesterol.8,15,16
2.1.3.2.6

Konsumsi alkohol berlebih

Konsumsi

alkohol

yang berlebihan

akan meningkatkan

kejadian penyakit

kardiovaskular dan terjadinya hipertensi. Orang yang mengkonsumsi alkohol setiap hari akan
menyebabkan tekanan darah sistolik naik sekitar 6,6 mmHg dan tekanan darah diastolik
sekitar 4,7 mmHg dibandingkan dengan peminum sekali seminggu, berapa pun jumlah total
yang diminum setiap minggunya. Konsumsi alkohol berlebihan di negara barat seperti
Amerika berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di Amerika
disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan di kalangan pria separuh baya. Akibatnya,
kebiasaan meminum alkohol ini menyebabkan terjadinya hipertensi sekunder di kelompok
usia ini.8,9
2.1.3.2.7

Konsumsi kopi

Kopi disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi.
Kopi mengandung kafein yang merupakan stimulan ringan yang dapat mengatasi kelelahan,
meningkatkan konsentrasi dan menggembirakan suasana hati. Kopi merupakan sumber kafein
terbesar, konsumsi kafein yang terlalu banyak akan membuat jantung berdegup lebih cepat
dan tekanna darah meningkat. Kafein dalam 23 cangkir kopi (200250 mg) terbukti dapat
meningkatkan tekanan sistolik sebesar 314 mmHg dan tekanan diastolik sebesar 413
mmHg. Kafein bukan termasuk zat gizi, tetapi secara nyata menyebabkan naiknya tekanan
11

darah dalam waktu singkat untuk kemudian kembali normal (Khomsan 2004).
Mengkonsumsi kopi pada penderita hipertensi akan membahayakan karena meningkatkan
risiko terjadinya stroke dan meningkatkan ekskresi kalsium yang akan berakibat peningkatan
tekanan darah.17
2.1.3.2.8

Konsumsi garam( natrium)berlebih

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar
sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada
sekitar 60% kasus hipertensi primer (esensial) terjadi respons penurunan tekanan darah
dengan mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi garam 3 gram atau
kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat asupan garam
sekitar 78 gram memiliki tekanan darah yang lebih tinggi (Depkes 2006). Pada umumnya
manusia mengkonsumsi natrium (Na+) melebihi kebutuhannya, sehingga mengurangi asupan
Na+ dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi esensial (Garrow 1996, diacu
dalam Yuliarti 2007). Kadar natrium darah diatur oleh ginjal yaitu oleh hormon aldosteron,
yang mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh. Recommended Daily Intake (RDI)
untuk natrium adalah 9202300 mg per hari. Menurut Scottish Intercollegiate Guideline
Network (SIGN) penurunan konsumsi garam dari 10 mg menjadi 5 gram dapat menurunkan
TDS sebesar 5 mmHg dan TDD sebesar 3 mmHg pada penderita hipertensi usia lanjut.18
2.1.3.2.9

Hiperlipidemia

Hiperlipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid (lemak) yang ditandai dengan


peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan/atau penurunan kadar
kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol merupakan faktor penting dalam terjadinya
aterosklerosis yang mengakibatkan peninggian tahanan perifer pembuluh darah sehingga
tekanan darah meningkat.8

2.1.4

Patofisiologi hipertensi
Progresifitas hipertensi pada usia 1030 tahun dimulai dari prehipertensi

(meningkatnya curah jantung), kemudian menjadi hipertensi stadium awal pada usia 2040
tahun (dimana ketahanan perifer meningkat), kemudian menjadi hipertensi pada usia 3050
tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 4060 tahun.19

12

Mekanisme terjadinya hipertensi dimulai dengan terbentuknya angiotensin II dari


angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peranan
fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang
diproduksi di dalam hati. Selanjutnya angiotensinogen akan diubah menjadi angiotensin I
oleh hormon renin yang diproduksi oleh ginjal. Kemudian angiotensin I diubah menjadi
angiotensin II oleh ACE yang terdapat di paru-paru. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah
dengan meningkatkan rasa haus dan sekresi antidiuretic hormone (ADH). ADH diproduksi di
hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur kekentalan dan
volume urin. Meningkatnya ADH diiukuti dengan jumlah urin yang dieksresikan ke luar
tubuh sangat sedikit (anti diuresis) sehingga osmolalitasnya menjadi pekat dan tinggi. Untuk
mengencerkannya, cairan dari bagian intraseluler ditarik untuk meningkatkan volume cairan
ekstraseluler. Mekanisme ini menyebabkan volume darah meningkat, yang pada akhirnya
akan meningkatkan tekanan darah (Muhaimin 2008; diacu dalam Ananda 2011). Aksi kedua
adalah dengan menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan
hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan
ekstraseluler,

aldosteron

akan

mengurangi

eksresi

NaCl

(garam)

dengan

cara

mereabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali
dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler. Inilah yang kemudian akan
meningkatan volume dan tekanan darah.19
2.1.5

Tanda dan gejala klinis


Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah

yang tinggi, maka dari itu pada umumnya sebagian besar penderita hipertensi tidak
mempunyai keluhan khusus dan tidak mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi.
Keluhan-keluhan yang tidak spesifik yang umum dialami oleh seseorang yang mengalami
tekanan darah tinggi/hipertensi antara lain: sakit kepala yang khas terjadi pada bangun tidur
di pagi hari dan akan berkurang ketika siang hari (Tierney et al. 2002, diacu dalam Sumaerih
2007), gelisah, jantung berdebar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit didada, sukar
tidur/insomnia, telinga berdengung, mudah marah, rasa berat di tengkuk, mata berkunangkunang, lesu dan mudah lelah (Mansjoer et al. 2002, diacu dalam Sumaerih 2007; Depkes
2006). Sedangkan gejala akibat komplikasihipertensi pada organ target seperti ginjal, mata,
otak dan jantung antara lain ganngguan penglihatan, gangguan saraf, gangguan jantung,
13

gangguan fungsi ginjal, dan gangguan serebral/otak yang mengakibatkan kejang dan
perdarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran
hingga koma.8,21,22

2.1.6

Diagnosis hipertensi
Data diperoleh melalui anamnesis mengenai keluhan pasien, riwayat penyakit dahulu

dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik, tes laboratorium rutin, dan prosedur diagnostik
lainnya. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan darah yang benar,
pemeriksaan funduskopi, perhitungan BMI (Body Mass Index) yaitu berat badan (kg) dibagi
dengan tinggi badan (meter kuadrat), auskultasi arteri karotis, abdominal, dan bruit arteri
femoralis. Selain itu, pemeriksaan juga meliputi palpasi pada kelenjar tiroid, pemeriksaan
lengkap jantung dan paru-paru, pemeriksaan abdomen untuk melihat pembesaran ginjal,
massa intraabdominal dan pulsasi aorta yang abnormal, palpasi ekstremitas bawah untuk
melihat adanya edema dan denyut nadi, serta penilaian neurologis.
Hipertensi seringkali disebut silent killer karena pasien dengan hipertensi esensial
biasanya tidak ada gejala (asimtomatik). Penemuan fisik yang utama adalah meningkatnya
tekanan darah. Pengukuran rata-rata dua kali atau lebih dalam waktu dua kali kontrol
dilakukan untuk mendiagnosis hipertensi. Tekanan darah ini digunakan untuk mendiagnosis
dan mengklasifikasikan sesuai dengan tingkatnya.
Pemeriksaan laboratorium rutin yang direkomendasikan sebelum memulai terapi
antihipertensi adalah urinalisis, kadar gula darah dan hematokrit, kalium, kreatinin, kalsium
serum, profil lemak (setelah puasa 912 jam) termasuk HDL, LDL dan trigliserida, serta
elektrokardiogram. Pemeriksaan pilihan yang biasanya dilakukan adalah pengukuran ekskresi
albumin urin atau rasio albumin/kreatinin.
Selain itu, melalui anamnesis, didapatkan riwayat penyakit untuk membedakan
penyebab yang mungkin. Anamnesis dan pemeriksaan fisik harus meliputi hal-hal, seperti
otak (stroke, TIA, dementia), mata (retinopati), jantung (hipertropi ventrikel kiri, angina atau
pernah infark miokard, pernah revaskularisasi koroner), ginjal (penyakit ginjal kronis) dan
penyakit arteri perifer.
Klasifikasi hipertensi dapat dilihat berdasarkan tekanan darah sistolik dan diastolik
dalam satuan millimeter merkuri (mmHg). The Seventh of the Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7)
14

mengategorikan tekanan darah orang dewasa menjadi empat yaitu kelompok normal, prehipertensi, hipertensi tingkat I dan hipertensi tingkat II.
Tabel 3 Klasifikasi pengukuran tekanan darah orang dewasa dengan usia diatas 18
tahun berdasarkan JNC 7 Tahun 2003
Klasifikasi tekanan darah
Normal
Prehipertensi

Tekanan darah sistolik


(mmHg)
<120
120-139

Tekanan darah diastolik


(mmHg)
<80
80-89

Hipertensi tingkat 1

140-159

90-99

Hipertensi9 tingkat II

160

100

Sumber: (U.S Department of Health and Human Services 2003)


Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
hipertensi essensial/primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi essensial/primer
merupakan jenis hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat diketahui. Sekitar
9095 % penderita hipertensi menderita jenis hipertensi ini. Oleh karena itu,
penelitian dan pengobatan lebih banyak ditujukan bagi penderita hipertensi essensial
ini (Depkes 2006). Faktor yang dapat menjadi penyebab hipertensi primer antara lain
(Askes 2011):
1. Tekanan darah tidak terdeteksi (diastolik < 90 mmHg, sistolik >105 mmHg);
2. Peningkatan kolesterol darah;
3. Kebiasaan merokok dan atau alkohol;
4. Kelebihan berat badan/kegemukan/obesitas;
5. Kurang aktivitas fisik/olah raga;
6. Gagal ginjal
7. Faktor genetik/keturunan
8. Usia

2.2.7 Dasar pengukuran tekanan darah


Kecepatan aliran (velocity) suatu cairan dalam pembuluh akan bergantung
kepada isi aliran (flow) dan luas penampang pembuluh (area). Dalam hal ini, kecepatan
yang dimaksud adalah kecepatan linier yang mempunyai rumus V= Q/A dengan V
adalah kecepatan, Q adalah aliran, dan A adalah luas penampang. Berdasarkan rumus di
15

atas, dapat diketahui bahwa perubahan pada luas penampang, misalnya penyempitan
pembuluh, akan sangat mempengaruhi kecepatan aliran.10,11
Apabila dikaji lebih jauh, kecepatan aliran berpengaruh pada tekanan sisi
(lateralpressure) pembuluh. Tekanan dalam pipa merupakan jumlah tekanan sisi
ditambah energi kinetik. Energi ini dapat dihitung berdasarkan viskositas cairan dan
kecepatan aliran (1/2 PV2 dengan P adalah viskositas cairan dan V adalah kecepatan
aliran). Kecepatan aliran yang berubah akan mempengaruhi energi kinetik dan
perubahan pada energi ini akan mempengaruhi tekanan sisi pembuluh. Hal ini
dikemukakan karena pada hakikatnya yang diukur pada pengukuran tekanan darah
secara tidak langsung adalah tekanan sisi pembuluh darah.8,9,10
a. Alat ukur tekanan darah
Hingga saat ini, alat ukur yang masih diandalkan untuk mengukur tekanan
darah secara tidak langsung ialah sfigmomanometer air raksa. Kadang- kadang
dijumpai sfigmomanometer dengan pipa air raksa yang letaknya miring terhadap
bidang horisontal (permukaan air) dengan maksud untuk memudahkan pembacaan
hasil pengukuran oleh pemeriksa. Untuk sfigmomanometer jenis ini, perlu dilakukan
koreksi skala ukurannya karena seharusnya pipa air raksa tegak lurus terhadap
permukaan air (Singgih, 1989).
Menurut laporan WHO, yang penting ialah lebar kantong udara dalam manset
harus cukup lebar untuk menutupi 2/3 panjang lengan atas. Demikian pula, panjang
manset harus cukup panjang untuk menutupi 2/3 lingkar lengan atas. Ukuran manset
tersebut bertujuan agar tekanan udara dalam manset yang ditera dengan tinggi kolom
air raksa, benar-benar seimbang dengan tekanan sisi pembuluh darah yang akan
diukur.
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran tekanan darah, Menurut
Singgih (1989), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran tekanan
darah agar hasil pengukurannya lebih akurat, yaitu:
i. Ruang pemeriksaan
Suhu ruang dan ketenangan ruang periksa yang nyaman harus diperhatikan.
Suhu ruang yang terlalu dingin dapat meningkatkan tekanan darah.
ii.

Alat
16

Alat yang sebaiknya digunakan adalah sfigmomanometer dengan pipa air


raksa yang tegak lurus dengan bidang horisontal. Hindarkan paralaks sewaktu
membaca permukaan air raksa. Gunakan manset dengan lebar yang dapat
mencakup 2/3 panjang lengan atas serta panjang yang dapat mencakup 2/3
lingkar lengan. Penggunaan manset yang lebih kecil akan menghasilkan nilai
yang lebih tinggi daripada yang sebenarnya.
iii.

Persiapan

Apabila

diperlukan

dan

keadaan

pasien

memungkinkan,

sebaiknya

dipersiapkan dalam keadaan basal karena biasanya hanya diperlukan nilai


tekanan darah sewaktu, maka pengaruh kerja jasmani, makan, merokok
dihilangkan terlebih dahulu sebelum diukur.
iv.

Jumlah pengukuran
Apabila memungkinkan, dilakukan pengukuran sebanyak tiga kali untuk

diambil nilai rata-ratanya. Apabila pasien menderita hipertensi, dianjurkan untuk


mengukur dalam 3 hari berturut-turut.
v.

Tempat pengukuran
Pengukuran dilakukan pada lengan kanan dan kiri bila dicurigai terdapat

peningkatan tekanan darah. Kesenjangan nilai lengan kanan dan kiri dapat
ditimbulkan karena coarctatio aorta. Posisi orang yang diperiksa sebaiknya
dalam posisi duduk. Dalam keadaan ini, lengan bawah sedikit fleksi dan lengan
atas setinggi jantung. Hindarkan posisi duduk yang menekan perut, terutama
pada orang yang gemuk. Untuk pasien hipertensi, terutama yang sedang dalam
pengobatan, perlu diukur dalam posisi berbaring dan pada waktu 1-5 menit
setelah berdiri.
vi.

Pemompaan dan pengempesan manset

Manset seharusnya dipompa dan dikempeskan sebelum mengukur tekanan darah


pasien. Hal ini untuk menghindarkan kesalahan nilai karena rangsang atau reaksi
obstruksi sirkulasi darah. Pemompaan dilakukan dengan cepat hingga 20-30
mmHg di atas tekanan pada waktu denyut arteri radialis tidak teraba.
Pengempesan dilakukan dengan kecepatan yang tetap (konstan) 2-3 mmHg tiap

17

detik. Pengempesan yang terlalu cepat akan mengakibatkan nilai diastolik yang
lebih rendah daripada yang sebenarnya.23
2.2 Kopi
Kopi merupakan biji-bijian dari pohon jenis coffea. Kopi termasuk ke dalam
famili Rubiaceae, subfamili Ixoroideae, dan suku Coffeae. Satu pohon kopi dapat
menghasilkan sekitar satu kilogram kopi per tahun.24
Komponen kimia biji kopi berbeda-beda, tergantung tipe kopi, tanah tempat
tumbuh dan pengolahan kopi. Struktur kimia yang terpenting terdapat di dalam kopi
adalah kafein dan caffeol.25
Kafein
Komponen utama di dalam biji kopi adalah kafein dan caffeol. Kafein
merupakan zat perangsang syaraf yang sangat penting, sementara caffeol adalah salah
satu zat pembentuk cita rasa dan aroma. Kafein merupakan salah satu jenis purin
alkaloid yang dapat dijumpai secara alami dalam daun, biji, atau buah berbagai
tanaman seperti kopi, daun teh, biji coklat yang digunakan untuk produk cokelat dan
buah kola yang digunakan untuk produk minuman ringan (soft drink). Selain itu,
kafein juga ada pada tanaman guarana yang disebut guaranina dan pada tanaman
mate yang disebut mateina.25
Kafein berasosiasi dengan konsumsi dari kopi, kafein berefek melalui
antagonisme dari Ai dan A2a subtipe dari reseptor adenosin. Adenosine merupakan
neuromodulator endogenous dengan kebanyakan memiliki efek inhibisi, dan
antagonisme adenosine mempunyai efek yang menstimulasi. Beberapa efek fisiologi
berhubungan dengan peningkatan dari stimulasi, peningkatan dari tekanan darah,
meningkatkan metabolisme, dan diuresis. Kafein diserap paling banyak pada usus
kecil dan didistribusi keseluruh tubuh termasuk otak. Kafein dimetabolisme paling
banyak di liver, dimana dengan dimana 95% dimetabolisme oleh cyp P450 dengan
isoform CYP1A2. CYP1A2-katalase 3-demethylation dari kafein menghasilkan
formasi dari 1,7 dimethylxanthine (paraxanthine). Paraxanthine dimetilasi oleh
CYP1A2 menjadi 1-methylxanthine, yang dioksidasi menjadi 1-methyluric acid oleh
xanthine oksidase. Paraxanthine juga dapat dihidroksilasi oleh CYP2A6 menjadi 1,7dimethyluric acid, atau N-acetyltransfse 2 (NAT2) untuk membentuk 5-acetylamino-

18

6-formylamino-3-mehtyluracil merupakan komponene yang dideformasi secara


nonenzimatik menjadi 5-acetylamino-6-amino-3-methyluriacil.25
Kandungan kafein setiap jenis kopi berbeda-beda. Kadar kafein rata-rata pada
jenis kopi arabika adalah 1,2%1,5 % dan pada jenis kopi robusta 2,2%2,4%.
Sedangkan pada penelitian di Amerika Serikat dikatakan pada satu gelas kopi terdapat
100 mg kafein, namun pada penelitian terkini yang diambil dari 14 kedai kopi
ternama, didapatkan bahwa pada satu gelas (~240ml) didapatkan 72-130 mg kafein.
Kafein pada espresso berkisar sekitar 58-76 mg. Kafein mempunyai rasa yang pahit,
namun kafein sendiri hanya menyumbang cita rasa pahit sebanyak kurang dari 10%.
Kafein bekerja sebagai perangsang saraf pusat, jantung dan pernafasan serta bersifat
diuretik ringan. Kafein berbentuk serbuk putih yang mengandung gugus metil dengan
rumus kimia C8H10N4O2.24
International Food Information Council Foundation (IFIC) menyatakan
bahwa batas aman konsumsi kafein yang masuk ke dalam tubuh perharinya adalah
100150 mg atau 1,73 mg/kgBB, sedangkan untuk anak-anak dibawah 1422 mg.
Dengan jumlah ini, tubuh sudah mengalami peningkatan aktivitas yang cukup untuk
membuatnya tetap terjaga . Sebuah studi menunjukkan bahwa 100200 mg kafein (1
2,5 cangkir kopi) setiap hari adalah batas aman yang dianjurkan oleh beberapa
dokter, namun jumlah tersebut berbeda setiap individu dan para ahli sepakat bahwa
600 mg kafein (47 cangkir kopi) atau lebih setiap harinya adalah jumlah yang
terlalu banyak karena overdosis kafein berbahaya dan dapat membunuh.24,25
Efek Kafein
Menurut Australian Drug Foundation (ADF), pengaruh setiap obat termasuk
kafein bervariasi setiap individu. Kafein mempengaruhi seseorang ditentukan oleh
beberapa faktor, salah satunya ukuran tubuh, berat badan, status kesehatan, faktor
genetik dan jumlah yang dikonsumsi. Efek yang dirasakan seseorang yang
mengkonsumsi kafein secara teratur akan berbeda dengan orang yang hanya sesekali
mengkonsumsi. Pengaruh dari konsumsi kafein dapat dirasakan dalam waktu 530
menit dan bertahan hingga 12 jam. Kafein membutuhkan waktu 530 menit untuk
beredar dalam tubuh setelah di konsumsi. Efeknya akan berlanjut dalam darah selama
sekitar 12 jam. Konsumsi satu atau dua cangkir kopi dalam sehari dapat membuat
seseorang merasa lebih terjaga dan waspada untuk sementara waktu. Konsentrasi
kafein dalam darah mencapai puncaknya pada 30120 menit setelah dikonsumsi dan
meningkat hingga 75% dari nilai maksimal dalam waktu 15 menit.24
19

Food and Drug Administration (FDA) dan American Medical Association


(AMA) menyatakan bahwa asupan moderat kafein diakui sebagai asupan yang aman.
Berikut klasifikasi asupan kafein:

Asupan rendah sampai moderat: 130 mg200 mg perhari


Asupan moderat: 200 mg300 mg per hari
Dosis tinggi: > 400 mg per hari
Konsumsi kafein yang berbahaya: 600 mg per hari

Konsumsi kafein yang berlebihan tidak hanya berdampak jangka pendek tapi
juga jangka panjang yang dapat mengganggu kesehatan. Efek jangka pendek
konsumsi kafein antara lain: merasa lebih waspada dan aktif, buang air kecil lebih
sering, peningkatan denyut jantung, dan stimulasi sistem saraf dan otak. Konsumsi
kafein yang moderat (contoh: 4 cangkir kopi sehari) tidak akan menyebabkan
kerusakan jangka panjang. Namun penggunaan secara berlebihan dapat memiliki
beberapa efek serius seperti: osteoporosis, tekanan darah tinggi, penyakit jantung,
insomnia parah, infertilitas, depresi, gelisah, tremor otot, dan dapat menyebabkan
kematian (ADF 2011).24

Polifenol (Chlorogenic Acid/CGA)


Polifenol adalah senyawa kimia dari keluarga ester yang berhubungan quinik
dan asam trans-cinnamic yang ditemukan dalam makanan yang membantu untuk
mencegah kerusakan radikal bebas dalam tubuh yang dapat menyebabkan berbagai
masalah kesehatan karena merupakan molekul yang tidak stabil dan dapat merusak
dinding arteri. Polifenol dapat ditemukan pada buah-buahan, sayur-sayuran, bijibijian, kacang-kacangan, dan beberapa makanan dan minuman. Efek dari polifenol
dalam makanan saat ini menjadi perhatian besar karena aktivitas antioksidan dan
antikanker.24,25
Ada banyak jenis polifenol yang terkandung dalam makanan dan merupakan
antioksidan in vitro yang kuat. Konsumsi kakao, teh atau kopi dapat menambah
asupan polifenol menjadi 5001000 mg. Asupan total polifenol yang diharapkan
sebesar 828 mg per hari bagi setiap orang. Jumlah total polifenol dari minum kopi
adalah yang tertinggi diantara minuman lainnya 200mg/100ml, teh hijau
(115mg/100ml), teh hitam (96mg/100ml).24

20

Polifenol dalam kopi mengandung chlorogenic acid (CGA), caffeic acid,


ferrulic acid dan p-coumaric acid, yang merupakan komponen antioksidan. Asam
klorogenat (CGA) merupakan komponen utama polifenol dalam kopi karena itu kopi
mengandung asam klorogenat paling tinggi dibandingkan dalam minuman lainnya
seperti coklat dan teh. Kadar asam klorogenat akan meningkat seiring dengan tingkat
kematangan dan tingkat kadar kafein.24,25
Kandungan asam klorogenat pada biji kopi robusta dan arabika masingmasing 7%10% dan 5%7%. Satu cangkir kopi mengandung asam klorogenat
sebesar 15325 mg tergantung varietas, komposisi, pengolahan dan penyajian.24
Berbagai penelitian tentang asam klorogenat menunjukan bahwa 1)
peningkatan asupan asam klorogenat dapat melindungi eritrosit dari stress oksidasi, 2)
memelihara oksidan alami dalam tubuh termasuk vitamin E, 3) melindungi membran
dan plasma sel dari oksidasi, 4) menurunkan toksik radikal bebas dalam tubuh. Peran
proteksi ini akan berimplikasi pada berbagai penyakit yang berkaitan dengan
disfungsi endothelial seperti penyakit kronik dan akut karena merokok, penyakit
hipertensi, hiperkolesterol, hiperglikemia, atherosclerosis, serta gagal jantung. Hasil
kajian epidemiologi mutakhir membuktikan bahwa minum secangkir kopi atau
sekedarnya dapat meningkatkan kemampuan tubuh memerangi oksidan, bahkan
asupan polifenol seperti asam klorogenat dapat menurunkan risiko penyakit
jantung.24,25
2.3 Jenis-jenis kopi
Sebanyak lebih dari 25 jenis kopi dengan 4 jenis kopi yang cukup terkenal yaitu kopi
arabika (Coffea arabica), kopi liberika (Coffea liberica), kopi robusta (Coffea canephora)
dan kopi excelsa (Coffea dewevrei) yang mewakili 70% dari total produksi kopi. Kopi
arabika menguasai 70% pasar di dunia dan robusta sebanyak 30%. Kopi arabika memiliki
kualitas tinggi dan beraroma harum, sedangkan kopi robusta cenderung berasa asam dan
pahit serta kandungan kafein yang lebih tinggi 23 kali dari kopi arabika.24
Kopi arabika merupakan kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Kopi ini tumbuh di
negara beriklim tropis atau subtropis pada ketinggian 10002100 meter diatas permukaan
laut dengan suhu rata-rata 1622C. Semakin tinggi lokasi perkebunan kopi, maka cita rasa
yang dihasilkan oleh biji kopi akan semakin baik. Kopi robusta dapat tumbuh pada ketinggian
4001.200 meter diatas permukaan laut dengan suhu 2028C.24
21

Kopi terkenal akan kandungan kafeinnya yang tinggi. Satu cangkir kopi setara dengan
120480 ml dapat mengandung kafein 75 mg400 mg atau lebih, bergantung pada jenis
biji kopi, cara pengolahan kopi dan mempersiapkan minuman kopi. Kafein merupakan
senyawa hasil metabolisme sekunder golongan alkaloid dari tanaman kopi dan memiliki rasa
yang pahit. Berbagai efek kesehatan dari kopi pada umunya terkait dengan aktivitas kafein
didalam tubuh. Cara baik minum kopi adalah dengan meminimalkan deterpen dengan cara
minum kopi yang disaring atau kopi instan serta mengkonsumsinya dalam jangka waktu 46
jam. Rekomendasi yang aman minum kopi bagi orang sehat adalah 23 cangkir.24
Tabel 2.3.1 jenis kopi dan kandungannya
Jenis Pangan

Produk Pangan

Ukuran

kopi

Kopi Murni
Kopi Instan
Kopi Dekafenisasi
Kopi Espresso
Es Krim Starbucks

250 ml
250 ml
250 ml
250 ml
30 g

Kandungan
(mg)
150-124
80-120
2-6
105-110
40-60

kafein

Sumber: Higdon JV, Frei B. Coffee and health: a review of recent human research. In:
Critical Review in Food Science and Nutrition, 2006. 46:101-123.

Komponen biji kopi arabika dan robusta sebelum dan sesudah disangrai dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 2.3.2 komponen kopi
Komponen

Kafein
Air
Trigonelline

Biji Kopi
(%)
0,9-1,2
1,0-1,2

Arabika
Kopi Sangrai
(%)
1,2-1,5
0-5
0,5-1,0

Robusta
Kopi Sangrai
(%)
2,2-2,4
0-5
0,6-0,75
0,3-0,7
Biji Kopi
(%)
1,6-2,4

Protein

11-13

7,5

11-13

7,5

Asam Amino
Gula

2
6-8

0
0,3

2
6-7

0
0,3

Polisakarida
Oligosakarida

50-55
6,0-8,0

38
0-3,5

37-47
5,0-7,0

42
0-3,5

Asam Alifatik
Asam Quinat

1,5-2,0

1,6
0,8

1,5-2,0

1,6
1,0

Asam Klorogenat
Lemak

5,5-8,0
12,0-18,0

2,5
14,5-20,0

7,0-10
9,0-13,0

3,8
11,0-16,0

Mineral

3,0-4,2

3,5-4,5

4,0-4,5

4,6-5,0

Asam

Sumber: Wahyuni T. Hubungan konsumsi kopi dengan tekanan darah pada pasien
rawat jalan puskemasbogortengah.IPB.2013.

2.4 Hubungan antara perilaku minum kopi dan tekanan darah


22

2.4.1

Ginjal dan kopi


Chlorogenic acid adalah polyphenol utama dalam biji kopi. CGA akan mengalami

hidrolisa oleh mikroba dalam traktus digestivus menghasilkan caffeic acid.Caffeic acid
merupakan salah satu metabolit dari CGA yang ditemukan dalam urin dan dapat
menyebabkan hiperplasia sel tubulus. Kafein merupakan antagonis reseptor A2a adenosin.
Dengan penghambatan reseptor tersebut akan memperbesar aktivasi PMN, hal ini
memungkinkan kafein memperparah inflamasi intersisial sel pada nefropati. Adanya PMN
dan inflamasi intersisial sel akan menurunkan fungsi ginjal, menyebabkan proteinuria, dan
perubahan progresif yang lambat terhadap gambaran histologi pada nefropati. Kafein juga
merupakan antagonis reseptor A1 adenosin selektif. Akibat blokade reseptor A1 adenosin
menyebabkan penghambatan efek renovaskular dari adenosin. Hal ini menyebabkan
meningkatnya angiotensin II dan mempertinggi tekanan darah sistemik yang akan ditransmisi
ke glomerulus, sehingga bisa terjadi kerusakan pada ginjal.26

2.4.2

Konsumsi kopi
Kopi disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi.

Kopi mengandung kafein yang merupakan stimulan ringan yang dapat mengatasi kelelahan,
meningkatkan konsentrasi dan menggembirakan suasana hati. Kopi merupakan sumber kafein
terbesar, konsumsi kafein yang terlalu banyak akan membuat jantung berdegup lebih cepat
dan tekanan darah meningkat. Kafein dalam 2-3 cangkir kopi (200-250mg) terbukti dapat
meningkatkan tekanan sistolik sebesar 3-14mmHg dan diastolik sebesar 4-13mmHg. Kafein
bukan termasuk zat gizi, tetapi secara nyata menyebabkan naiknya tekanan darah dalam
waktu singkat untuk kemudian kembali normal (Khomsan 2004). Mengkonsumsi kopi pada
penderita hipertensi akan membahayakan kerana meningkatkan risiko terjadinya stroke dan
meningkatkan ekskresi kalsium yang berakibat peningkatan tekanan darah (Simon 2002).26
Kopi mengandung zat yang disebut kafein. Hasil penelitian membuktikan bahwa
konsumsi kefein 10 mg per Kg berat badan secara signifikan meningkatkan kolesterol total,
meningkatkan LDL dan menurunkan HDL darah (Adebayo et al, 2007). Kowalski (2010)
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingginya kolesterol dengan kejadian
hipertensi, karena itulah kafein kopi sering dikaitkan sebagai pemicu timbulnya hipertensi.
Kopi biasanya digunakan untuk menghilangkan rasa kantuk dan keletihan saat bekerja. Kopi
membuat seseorang tetap terjaga sepanjang waktu dengan cara menghambat aktivitas
23

adenosin (Weinberg dan Bealer, 2010). Aroma kopi juga digunakan untuk menghilangkan
stress (Health Secret, 2012).27
Efek Kafein adalah memacu kerja jantung dan meningkatkan aliran darah ke otot,
sehingga meningkatkan tekanan darah. Pecandu kopi rata-rata 1,5 lebih rentan mengalami
serangan jantung dalam waktu 1 jam sesudah minum kopi.27
Menurut penelitian dari Ayu Martiani dengan judul Faktor Risiko Hipertensi Ditinjau
dari Kebiasaan Minum Kopi (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran pada Bulan
Januari-Februari 2012) mendapatkan suatu simpulan berupa Kebiasaan minum kopi
meningkatkan risiko kejadian hipertensi, namun tergantung dari frekuensi konsumsi harian.
Subyek penelitian sebanyak 94 orang, terdiri dari 47 kasus dan 47 kontrol.subyek penelitian
adalah pria warga wilayah kerja Puskesmas Ungaran yang berusia 45-65 tahun, diambil
secara consecutibe sampling. Kebiasaan minum kopi dilihat dari jenis kopi, frekuensi,
kekentalan, dan lamanya minum kopi yang ditanyakan langsung dengan kuesioner. Analisis
statistik yang dilakukan adalah Chi Square dan dilakukan perhitungan OR (Odd Ratio) untuk
besarnya risiko. Hasil : OR subyek yang minum kopi 5 cangkir kopi (p=1,000 OR=4,12, IK
95%:0,08-21,10) lebih rendah dibanding subyek yang minum kopi 1-2 cangkir per hari
(p=0,017 OR=4,12, IK 95%:1,22-13,39), walaupun secara statistik tidak bermakna. OR
subyek minnum kopi 3-4 cangkir per hari (p=1,000; OR=0,95; IK 95%:0,20-4,57) lebih
rendah dibandingkan subyek yang tidak minum kopi, walaupun secara statistik tidak
bermakna. Subyek yang mengkonsumsi kopi 1-2 cangkir per hari, meningkatkan risiko
hipertensi 4,11 lebih tinggi (p=0,017; OR=4,11; IK 95%:1,22-13,39) dibandingkan subyek
yang tidak minum kopi.5
Selain itu juga ada penelitian Tri Wahyuni tentang Hubungan Konsumsi Kopi dengan
Tekanan Darah pada Pasien Rawat Jalan Puskesmas Bogor Tengah. Dibimbing oleh YEKTI
HARTATI EFFENDI dan DODIK BRIAWAN. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari
hubungan pola konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan Puskesmas
Bogor Tengah. Penelitian ini menggunakan desain Case Control dengan perbandingan kasus
dan kontrol adalah 1:1 dengan jumlah keseluruhan 160 contoh. Contoh kontrol yang memiliki
tekanan darah <120/<80 mmHg, sedangkan contoh kasus yang memiliki tekanan darah
>140/>90 mmHg berdasarkan diagnosa dokter minimal 1 bulan terakhir. Data pola konsumsi
kopi diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner berisi 15 pertanyaan. Kebiasaan
minum kopi contoh kasus berkurang setelah didiagnosa hipertensi dan secara statistik
menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p<0,05). Konsumsi kopi lebih dari 7
24

cangkir/minggu secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan hipertensi
(OR=0,677; 95% CI: 0,3331,378) (p>0,05).1
Nurminen et al. (1999) menyatakan dosis tunggal kafein 200250 mg atau setara
dengan dua atau tiga cangkir kopi dapat meningkatkan tekanan darah sistolik 314 mmHg
dan tekanan darah diastolik 413 mmHg pada contoh non-hipertensi. Corti et al. (2002)
menemukan bahwa tekanan darah sistolik contoh bukan peminum kopi meningkat tajam
setelah mengonsumsi kopi (+12,6 mmHg), sedangkan pada peminum kopi peningkatan
tekanan darah sistolik tidak signifikan (+2,3 mmHg). Peningkatan tekanan darah diastolik
juga lebih jelas pada contoh bukan peminum kopi (+7,1 mmHg) dibandingkan dengan
peminum kopi (+0,7 mmHg) (Mattioli 2007). Konsumsi kopi pada umumnya dapat
meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah biasanya meningkat dalam waktu 30 menit dan
semakin meningkat maksimal selama 60 sampai 120 menit setelah mengkonsumsi kafein.
FAKTOR YANG TIDAK DAPAT DIKONTROL

Efek terbesar dari asupan kafein lebih kuat pada orang yang tidak biasa mengonsumsi kafein
daripada orang yang biasa mengonsumsi kafein. Tingkat respon tekanan darah dengan dosis
Usia

kafein (200250 mg) berbanding terbalik dengan konsentrasi plasma kafein, yaitu respon
Jenis Kelamin

tekanan darah terbesar terjadi pada contoh dengan konsentrasi kafein terendah. Adanya
Keturunan (genetik)

temuan beberapa studi yang menunjukkan bahwa konsumsi kopi dan kafein dapat
Ras
meningkatkan
bahkan menurunkan tekanan darah diduga karena adanya toleransi tubuh

terhadap konsumsi kopi atau kafein secara berulang. Respon peningkatan tekanan darah akan
berkurang dalam bebeapa hari dari konsumsi awal rutin kopi atau kafein. Namun, hal tersebut
FAKTORbersifat
YANG DAPAT
DI KONTROL
sebagian,
karena dalam

beberapa studi, konsumsi kopi atau kafein masih dapat

meningkatkan tekanan darah dan menjadi risiko hipertensi. Selain itu, periode tindak lanjut
Kegemukan
yang panjang,
(obesitas)
menunjukkan adanya peran konsumsi kopi dalam perkembangan hipertensi.1
Status sosial ekonomi

TEKANAN DARAH

Aktivitas fisik
Konsumsi kopi
Merokok
Konsumsi garam(natrium) berlebihan

2.2. Kerangka
Teori
Konsumsi
alkohol berlebihan
Hiperlipidemia/hiperkolesterolemia
25
Psikososial & stress

FAKTOR YANG TIDAK DAPAT DIKONTROL

Usia
Jenis Kelamin
Keturunan (genetik)

FAKTOR YANG DAPAT DI KONTROL

Kegemukan (obesitas)
Status sosial ekonomi

TEKANAN DARAH

Aktivitas fisik
Konsumsi kopi

2.3. Kerangka
Merokok Konsep
Konsumsi garam(natrium) berlebihan
26
Konsumsi alkohol berlebihan

BAB III
Metodologi Penelitian
27

3.1 Desain Penelitian


Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi analitikobservasional dengan pendekatan cross-sectional mengenai hubungan antara kopi
dengan tekanan darah serta faktor-faktor lain yang berhubungan pada pengunjung
Puskesmas Keluarajan Grogol II, Grogol Peramburan, Jakarta Barat periode Agustus
2014.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan,
Jakarta Barat tanggal 19 Agustus 2014 dan 21 Agustus 2014.
3.3 Sumber Data
Sumber data terdiri dari data primer yang diambil dari subjek penelitian dengan
menggunakan kuesioner yang disebar dan pemeriksaan fisik (tinggi badan, berat badan,
tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik) terhadap pengunjung Puskesmas
Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat periode Agustus 2014.
Kuesioner yang disebar akan diuji coba kepada para pengunjung Puskesmas Tanjung
Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat periode Agustus 2014.
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi target adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan

3.4.2

Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.


Populasi terjangkau adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Puskesmas

Kelurahan Grogol II, Grogol Petamburan, Jakarta Barat periode Augustus 2014.
Sampel
Sampel adalah pasien rawat jalan yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Grogol
II, yang merupakan pengunjung lama yang memenuhi kriteria inklusi.

3.5 Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi


3.5.1 Kriteria Inklusi

Semua pengunjung puskesmas kelurahan Grogol II, kecamatan Grogol


Petambora, Jakarta Barat, tanggal 19 Agustus 2014 dan 21 Agustus 2014..

Pengunjung berumur 20 - 60 tahun

Bersedia menjadi sampel


3.5.2 Kriteria Eksklusi

Pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II yang memiliki riwayat penyakit


diabetes mellitus, penyakit ginjal, penyakit jantung.
28

3.6 Perhitungan Besar Sampel


3.6.1 Besar Sampel
Perhitungan besar sampel berdasarkan rumus :
Z()2 . p . q

n2 = n + ( 10 % . n1 )
L2
Keterangan :n1 =
n1
= Jumlah sampel
n2
= Jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen responden
Z()
P
Q
L

yang mungkin drop out)


= Tingkat batas kepercayaan, dengan = 5%
= Proporsi variabel yang ingin diteliti adalah 25,6% (WHO 2006)
= 100% - P = 100% = Derajat kesalahan yang masih dapat diterima adalah 10%

Berdasarkan rumus didapatkan angka :


n = Z2. p. q
= 1.962 . 0.26 . 0.74
d2

0.01

n = 0.73912
0.01
n = 73.912
Untuk menjaga kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out maka dihitung
n2 = n1 + (10% . n1)
n2 = 73.912 + (10% . 73.912)
n2 = 81.3032 (Dibulatkan menjadi 82 subyek penelitian)
3.6.2

Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik nonprobability sampling yaitu consecutive sampling, yang mana semua subjek yang
datang dan memenuhi kriteria dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subjek
yang diperlukan terpenuhi.

3.7 Identifikasi Variabel


Dalam penelitian ini digunakan variabel tergantung (dependent) dan variabel bebas
(independent). Variabel tergantung berupa tekanan darah sistolik dan diastolik pada
pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta
Barat.

29

Variabel bebas berupa umur, jenis kelamin, keturunan(genetik), konsumsi kopi,


kegemukan (obesitas), merokok, status sosial ekonomi, aktivitas fisik, konsumsi
alkohol dan konsumsi garam (natrium).
3.8 Cara Kerja
3.8.1 Menghubungi Kepala Puskesmas Kelurahan Grogol II yang menjadi tempat penelitian
untuk melaporkan tujuan dan meminta ijin untuk mengadakan penelitian di
3.8.2

puskesmas tersebut.
Menentukan sampel dengan teknik non-probability sampling yaitu consecutive
sampling. sampel diambil berdasarkan populasi terjangkau yaitu pengunjung

3.8.3

Puskesmas Kelurahan Grogol II, yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Melakukan pengumpulan data-data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa
sfigmomanometer, timbangan berat badan, microtoise, dan kuesioner di puskesmas
kelurahan Grogol

dan puskesmas kelurahan Tanjung duren utara, kuesioner

disebarkan ke pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II dan melakukan uji


kuisioner ke pengunjung Puskesmas Tanjung Duren Utara.
3.8.4 Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data dengan program SPSS.
3.8.5 Penulisan laporan penelitian.
3.8.6 Pelaporan penelitian.
3.9 Manajemen Data
3.9.1 Pengumpulan Data
Data primer yang sudah diuji coba dikumpulkan dengan teknik wawancara dengan
3.9.2

menggunakan kuesioner dan pemeriksaan.


Pengolahan Data
Terhadap data yang telah dikumpulkan akan dilakukan pengolahan berupa proses
editting, verivikasi, coding dan tabulasi. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan

3.9.3

menggunakan program komputer SPSS.


Analisis Data
Terhadap data yang telah diolah dilakukan analisis sesuai dengan cara uji statistik
menggunakan uji korelasi Pearson dan t-test, (selanjutnya dimasukkan dan diolah)
dengan menggunakan program komputer, yaitu program SPSS (Statistical Package

3.9.4

3.9.5
3.9.6

for Social Science)


Interpretasi Data
Data diinterpretasi secara korelatif analitik anat variabel-variabel yang telah
ditentukan.
Penyajian Data
Data yang didapat, disajikan secara tektular dan tabular.
Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian

yang

selanjutnya

akan

dipresentasikan di hadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu Kesehatan

30

Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA)


dalam forum pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UKRIDA.
3.10 Definisi Operasional
3.10.1 Data Umum
3.10.1.1
Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluj arteri yang
terdiri dari tekanan darah sistol dan diastol yang dapat dukur dengan
pengukuran tekanan darah. Peristiwa yang terjadi pada jantung berasal dari
bermulaan sebuah denyut jantung sampai berakhirnya denyut jantung
beirkutnya disebut siklus jantung. Siklus jantung terdiri atas satu periode
relaksasi yang disebut Diastolik, yaitu periode pengisian jantung dengan darah
yang diikuti oleh satu periode kontraksi yang disebut Sistolik.
Cara Ukur :
Meminta subjek untuk duduk istirahat selama 5 menit di kursi, lengan

diletakkan sejajar dengan jantung dan kaki menyentuh lantai.


Pastikan lengan yang akan diperiksa tidak ditutupi dengan pakaian.
Palpasi arteri brachialis untuk memastikan pulsasinya baik.
Posisikan lengan sehingga arteri brachialis dna fossa cubiti sejajar

dengan jantung.
Kemudian pasang manset yang dapat diisi udara diletakkan melingkari
lengan atau tidak terlalu ketat, dengan jarak 3 cm antara bagian bawah

manset dan fossa cubitii.


Manset tersebut diisi udara dengan pompa tangan kecil, dan tekanan
didalam manset diukur dengan status manometer mercuri. Alat ini

disebut sfignomanometer yang bermerk Riester.


Lakukan palpasi pada nadi radialis dipergelangan tangan dan sambil
jari-jari kita melakukan palpasi, tangan yang lain memompa mengisi

manset sampai suatu tekanan dimana nadi radialis menghilang.


Stetoskop diletakkan diatas arteri brachialis dan tekanan didalam

manset diturunkan secara perlahan-lahan.


Bila suara yang seirama dengan bunyi dengut jantung terdengar lewat
stetoskop yang bermerk Littman, hal ini mennadakan tekanan darah
sistol dengan makin menurunnya tekanan manset, suara-suara menjadi
semakin keras tetapi pada saatnya tekanan darah diastol, suara tersebut
sifatnya menjadi suara tertutup.

Alat Ukur : Sfignomanometer dan stetoskop.

31

Skala : Interval
Hasil ukur :
Kode 0 : normal ( sistol 120 mmHg & diastol 80 mmHg)
Kode 1 : hipertensi ( sistol 130 mmHg / diastol 90 mmHg)

3.10.1.2

Umur
Umur adalah lamanya hidup seseorang sejak dilahirkan sampai saat penelitian
dilakukan. Umur dihitung dari tanggal, bulan dan tahun penelitian dikurangi
tanggal, bulan dan tahun lahir yang tertera di KTP yang masih berlaku. Bila
terdapat kelebihan, umur kurang dari enama bulan, dibulatkan ke bawah.
Cara ukur : tanggal, bulan dan tahun peneltian dikurangi tanggal, bulan dan
tahun kelahiran.
Alat ukur

: kartu tanda penduduk

Skala

: Rasio

Hasil :
Kode 0 : 20-30 tahun
Kode 1 : 31-40 tahun
Kode 2 : >40 tahun
3.10.1.3

Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan petanda gender seseorang yang dibagi menjadi lakilaki dan perempuan.
Alat ukur

: kartu tanda penduduk

Skala

: Nominal

Hasil Ukur:
Kode 1: Laki-laki
Kode 0: Perempuan
3.10.1.4

Riwayat Penyakit Keluarga

32

Herediter adalah faktor genetik yang menurun dari orang tua kepada anak
kandungnya . Faktor herediter merupakan salah satu penyebab hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga yang di maksud dalam penelitian ini adalah
keluarga yang menderita hipertensi dan masih dalam satu garis keturunan, di
mana mencakup ayah kandung, ibu kandung, serta kakek dan nenek dari
kedua orang tua.
Alat ukur

: Kuesioner

Skala

: Nominal

Hasil Ukur:
Kode 1: terdapat riwayat hipertensi pada keluarga
Kode 0: tidak terdapat riwayat hipertensi pada keluarga
3.10.1.5

Status Sosial Ekonomi


Pengertian status menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012) yaitu
kedudukan atau sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok
sosial. Sedangkan pengertian ekonomi menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2012) yaitu ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan
pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian,
dan perdagangan); pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yangg
berharga; tata kehidupan perekonomian (suatu negara); cak urusan keuangan
rumah tangga (organisasi, Negara).
Menurut Sumardi (2011) kondisi sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang
diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam
masyarakat, pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan
kewajiban yang harus dimainkan oleh orang yang membawa status tersebut.
Sementara W.S Winke (1991) menyatakan bahwa pengertian status sosial
ekonomi mempunyai makna suatu keadaan yang menunjukan pada
kemampuan finansial keluarga dan perlengkapan material yang dimilki
(Basrowi, 2010).
Penghasilan adalah gaji tetap yang diterima setiap bulan. Penghasilan akan
erat kaitannya dengan kemampuan orang untuk memenuhi kebutuhan gizi,
perumahan yang sehat, pakaian dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan.Rendahnya tingkat pendapatan keluarga akan sangat
berdampak rendahnya daya beli keluarga (Suhardjo, 2013). Status ekomoni

33

dapat disimpulakan sebagai kedudukan berdasarkan pendapatan finansial


untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga dalam bermasyarakat.
UMR merupakan kepanjangan dari upah minimum regional, yang artinya
suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku
industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di
dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan
melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei
1989 tentang Upah Minimum.
Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mulamula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi,
buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke
lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh
pegawai, karyawan dan buruh.
Daftar Upah Minimum Propinsi UMP/UMR 2014 Terbaru Jakarta :
Rp 2.441.301 (naik 9% UMP/UMR sebelumnya tahun 2013 Rp 2.200.000)
Cara ukur : kuisioner
Alat ukur : kuisioner
Skala ukur : kategorikal
Hasil ukur :
Kode 2 : menengah kebawah <1.000.000
Kode 1 : menengah 1.000.000-2.500.000
Kode 0 : menengah keatas > 2.500.000
3.10.1.6

Indeks Massa Tubuh (IMT)


Indeks massa tubuh (IMT) adalah alat pengukuran komposisi tubuh yang
diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)

seseorang.
Alat ukur indeks massa tubuh adalah timbangan berat badan orang dewasa

dan meteran dinding


skala dalam pengukuran IMT adalah numerik

34

Cara kerja menentukan IMT: sampel diukur terlebih dahulu berat


badannya dengan timbangan kemudian diukur tinggi badannya dan
dimasukkan ke dalam rumus di bawah ini:
IMT=

Berat badan (kg)


Tinggi badan2 (m)2

Kemudian hasil IMT dimasukan kedalam tabel dibawah ini


Klasifikasi
Berat badan kurang
Kisaran Normal
Berat Badan Lebih

IMT
< 18.5
18.5-22.9
23

Hasil Kode:

3.10.1.7

Kode 1 : IMT kurang ( IMT < 18,5)

Kode 0: IMT normal (IMT 18,5 22,9)

Kode 2: IMT lebih (IMT 23)

Merokok
Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat
mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat. Berdasarkan
PP No. 19 tahun 2003, diketahui bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau
dibungkus termasuk cerutu ataupun bentuk lainnya yang dihasilkan dari
tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan
tambahan. Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70
hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm
yang berisi daundaun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah
satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut
pada ujung lain. Merokok merupakan suatu kegiatan menghisap rokok
tersebut.
Jumlah rokok yang dikonsumsi per hari dapat diklasifikasikan sebagai
berikut ; ringan (1-10 batang per hari), sedang (11-20 batang per hari), dan
berat (lebih dari 20 batang per hari).

35

Cara ukur : memberikan formulir yang berisi tentang pertanyaan seputar rokok
untuk mendapatkan informasi penelitian
Alat ukur : kuisioner
Skala data : kategorikal
Hasil ukur :
Kode 0 : Tidak merokok
Kode 1 : perokok ringan (1-10 batang per hari) / perokok sedang ( 11-20

3.10.1.8

batang per hari)


Kode 2 : perokok berat ( lebih dari 20 batang per hari)
Aktivitas Fisik
Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot
rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada
(kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit
kronis dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara
global (WHO,2012; Physical Ativity). Menurut Baecke (1982), indeks
aktivitas disik merupakan aktivitas sehari-sehari yang meliputin indeks
kegiatan waktu bekerja, indeks kegiatan berolah raga, dan indeks kegiatan
waktu luang. Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 3050% daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit
sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
Aktivitas fisik berpengaruh secara langsung terhadap tekanan darah karena
latihan fisik dapat mempengaruhi tekanan darah dengan menormalkan prosesproses tubuh lainnya (Hull 1996). Aktivitas fisik atau olah raga merupakan
bentuk pemberian rangsang berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasijika
diberi rangsangan secara teratur dengan takaran dan waktu yang tepat (Depkes
2007). Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan
atau berenang secara teratur sekitar 3045 menit selama 34 kali dalam
seminggu dapat menurunkan hipertensi sekitar 48 mmHg dan risiko
kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 30% dibandingkan dengan
individu yang sedentary. Hal ini diduga karena latihan mengakibatkan

Score :

penurunan tekanan darah dan meningkatkan HDL kolesterol.


Cara mengukur : menyebarkan kuesioner
Alat ukur : kuesioner
Skala pengukuran : Kategorik
Hasil Ukur :

Score
Kategor
i
Kategorik
Score
9 1
cukup
Kebiasaan
Ya
Tidak
2-8 3
kurang
3.10.1.9
Lama/hari
< 30 menit
1
1
tidak

30
3
menit
Kali/mingg
Tidak tentu
1
<3x
2
u
>2x
3

Kode
0
1
2

Konsumsi Alkohol
36

Minuman keras atau alkohol merupakan suatu senyawa alifatis etil


alkohol dan tergolong kelompok alkohol, sehingga lebih dikenal dengan
alkohol saja. WHO memasukkan etil alkohol ke dalam jenis obat yang
berbahaya (drug) dan alkohol termasuk kelompok obat psikoaktif atau obat
penenang bersama dengan transkuiliser, sedatif, atau hipnotikum dan
narkotika atau opiat.
Hundley dan Mercer (dikutip Hardani 1999, h.9) menggolongkan
minuman keras menjadi tiga jenis yaitu:
a. Bir dengan kadar alkohol 1% sehingga 5%
b. Anggur dengan kadar 5% sehingga 20%
c. Liquor dengan kadar alkohol 20% sehingga 55%
Cara Mengukur : Menyebarkan kuesioner
Alat Ukur : Kuesioner
Skala pengukuran : Ordinal
Scoring :
kategori

score

Tidak konsumsi
Ringan (1x/tahun)
jenis
Sedang (2-5x/tahun)
Dll

0
1
score
2 1

Anggur

Berat (>5x/tahun)
Bir

3 2

Hasil Ukur :
Kategori
Tidak minum
Ringan/sedang

Score
0
1-5

Kode
0
1

Anggur

3.10.1.10

Konsumsi Kopi
37

Konsumsi kopi
Kopi mengandung kafein yang merupakan stimulan ringan yang dapat
mengatasi kelelahan, meningkatkan konsentrasi dan menggembirakan suasana
hati. Kopi merupakan sumber kafein terbesar, konsumsi kafein yang terlalu
banyak akan membuat jantung berdegup lebih cepat dan tekanan darah
meningkat.

Alat ukur konsumsi kopi adalah kuesioner dengan teknik wawancara.


Cara kerja adalah pengambilan data adalah dengan menanyai adalah

mengkonsumsi kopi atau tidak.


Skala ukur adalah kategorik

Jumlah Minum Kopi adalah total gelas kopi yang diminum oleh individu
dalam satu hari. Takaran untuk satu gelas kopi (~200 ml).

Asupan rendah sampai moderat: 130 mg200 mg perhari


Asupan moderat: 200 mg300 mg per hari
Dosis tinggi: > 400 mg per hari
Konsumsi kafein yang berbahaya: 600 mg per hari
Alat ukur jumlah minum kopi adalah kuesioner dengan teknik

wawancara.
Cara Kerja dalam pengambilan data adalah dengan menanyai berapa

gelas kopi sampel minum kopi dalam satu hari.


Skala ukur jumlah minum kopi adalah numerik

Frekuensi Minum Kopi


Definisi frekuensi minum kopi adalah frekuensi minum kopi yang diminum
oleh individu dalam satu minggu. Frekuensi minum ini untuk melihat individu
yang mengkonsumsi jarang atau setiap hari. Kafein dalam 2-3 cangkir kopi
(200-250mg) terbukti dapat meningkatkan tekanan sistolik sebesar 3-14mmHg
dan diastolik sebesar 4-13mmHg. Kafein bukan termasuk zat gizi, tetapi
secara nyata menyebabkan naiknya tekanan darah dalam waktu singkat untuk
kemudian kembali normal.

Alat ukur frekuensi minum kopi adalah kuesioner dengan teknik

wawancara.
Cara Kerja dalam pengambilan data adalah dengan menanyai berapa
kali minum kopi dalam satu minggu.
38

Skala ukur frekuensi minum kopi adalah numerik.

Jenis Kopi adalah jenis kopi yang diminum oleh individu.


Jenis Pangan

Produk Pangan

Ukuran

kopi

Kopi Murni
Kopi Instan
Kopi Dekafenisasi
Kopi Espresso
Es Krim Starbucks

250 ml
250 ml
250 ml
250 ml
30 g

Kandungan
(mg)
150-124
80-120
2-6
105-110
40-60

kafein

Scoring

Konsumsi

Jumlah (gelas)

Frekuensi/hari

Frekuensi/mingg
u

Jenis kopi

Kategorik

Skoring

Tidak

Ya

1 gelas

2-3 gelas

4 gelas

1x

2-3x

1x

2-3x

Instan

murni

Hasil Ukur
Kategorik

skor

kode

Berat

12-15

Sedang/ringan

2-11

Tidak konsumsi

39

3.10.1.11

Konsumsi garam (natrium)


Kebutuhan Natrium
National Research Council of The National Academy of Sciences
merekomendasikan konsumsi natrium per hari sebanyak 1.100-3.300 mg.
Jumlah tersebut setara dengan -1 sendok teh garam dapur per hari. Untuk
orang yang menderita hipertensi, konsumsi natrium dianjurkan tidak lebih dari
2.300 mg perhari. Jumlah tersebut sama dengan 6 gram NaCl atau lebih
kurang satu sendok teh garam dapur (Astawan, 2010).
American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi natrium
bagi orang dewasa tidak lebih dari 2.400 mg/hari, yaitu setara dengan satu
sendok teh garam dapur sehari. Menurut United States Department of
Agriculture (USDA), rata-rata kebutuhan natrium ibu hamil sekitar 2.400 mg
dalam sehari, atau kira-kira setara dengan satu sendok teh (Wardlaw et al,
2004)
Bahan makanan sumber natrium yang perlu dibatasi, yaitu sebagai berikut
a. Garam.
Setiap 1 gram garam dapur mengandung 400 mg natrium. Apabila
dikonversikan ke dalam ukuran rumah tangga 4 gram garam dapur setara
dengan sendok teh atau sekitar 1600 mg natrium.
b. Semua makanan yang diawet dengan garam, seperti ikan asin, telur asin,
ikan pindang, ikan teri, dendeng, abon, daging asap, asinan sayuran,
asinan buah, manisan buah, serta buah dalam kaleng.
c. Makanan yang dimasak dengan garam dapur atau soda kue (natrium
bikarbonat), seperti biskuit, kracker, cake dan kue-kue lainnya.
Universitas Universitas Sumatera Sumatera Utara
Dibagi menjadi 2 kategorik
Riwayat konsumsi natrium berlebih adalah riwayat mengkonsumsi
makanan dengan kadar natrium lebih dari 3.300 mg perhari ( setara dengan,
lebih dari 1 sendok teh garam perhari)

40

Riwayat konsumsi natrium normal adalah riwayat mengkonsumsi makanan


dengan kadar natrium antara 1.100- 3.300 mg perhari ( setara dengan 1
sendok teh )
Riwayat konsumsi natrium rendah adalah riwayat mengkonsumsi makanan
dengan kadar natrium kurang dari 1.100 mg ( setara dengan kurang dari
sendok teh)
Alat ukur : kuisoner
Skala : ordinal
Score
Kategori
Jumlah (sendok teh/hari)
Makanan awet /minggu

Score
1
2
3
1
2
3

<1/2
1/2 1
1/2
1x/minggu
2-4x/minggu
>4x/minggu

Hasil ukur :

Kategorik

skor

kode

Tinggi

4-6

3.11
Etika Penelitian
Dalam penelitian ini subjek penelitian

Sedang/ringan

3-4

yang mengisi kuesioner diberi jaminan

kerahasiaan terhadap data-data yang


normal
1-2
0
diberikan dan berhak menolak menjadi subjek penelitian
3.12 Sarana Penelitian
3.12.1 Tenaga
Penelitian dilakukan oleh 5 orang mahasiswa kepaniteraan Ilmu Kedokteran
Komunitas, dengan dibantu oleh 1 orang pembimbing yaitu dosen IKM.
3.12.2 Fasilitas
Fasilitas yang tersedia berupa ruang perpustakaan, ruang diskusi, lembar kuesioner,
komputer, printer, program SPSS, internet dan alat tulis.

BAB IV
Hasil Penelitian

41

4.1 Analisis Univariat


Berdasarkan hasil pengukuran variabel dan hasil kuesioner. Diperoleh hasil gambaran
karakteristik responden yang terdapat pada tabel-tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Sebaran responden berdasarkan tekanan darah, usia, jenis kelamin, genetik,
indeks massa tubuh, status ekonomi, konsumsi kopi, kebiasaan merokok, aktivitas fisik,
konsumsi garam, konsumsi alkohol
Variabel
Tekanan Darah
Normotensi
Hipertensi
Usia
20-30 Tahun
31-40 Tahun
>40 Tahun
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Genetik
Tidak ada Riwayat
Ada Riwayat
Indeks Massa Tubuh
Normal
Underweight
Overweight
Status Ekonomi
Menengah Keatas
Menengah
Menengah Kebawah
Konsumsi Kopi
Bukan Peminum Kopi
Peminum Kopi Ringan
Peminum Kopi Berat
Rokok
Bukan Perokok
Perokok Ringan
Perokok Berat
Aktivitas Fisik
Aktivitas Fisik Cukup
Aktivitas Kurang
Tidak Beraktivitas
Konsumsi Garam
Konsumsi Garam
Rendah
Konsumsi Garam
Sedang
Konsumsi Garam
Tinggi
Konsumsi Alkohol
Bukan Peminum
Peminum Jarang
Peminum

Frekuensi

Persentase (%)

32
52

38.1
61.9

30
14
40

35.7
16.7
47.6

45
39

53,6
46,4

23
61

27.4
72.6

42
4
38

47.6
4.8
47.6

39
30
15

46.4
35.7
17.9

21
49
14

25
58.3
16.7

50
30
4

59.5
35.7
4.8

21
37
26

25
44
31

36

42.9

34

40.5

14

16.7

72
11
1

85.7
13.1
1.2

4.2 Analisis Bivariat


Tabel 4.2.1 Hubungan antara Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah Pada Pengunjung
Puskesmas Kelurahan Grogol II.

42

Variabel

Tekanan Darah
Normotens Hipertens Total
i
i

Bukan
Peminum
Kopi
Peminum
Kopi Ringan
Peminum
Kopi Berat
Total

17

Uji

Ho

Chi-square

0.074

Diterim
a

21

23

26

49

14

32

52

84

Tabel 4.2.2 Kebiasaan Minum Kopi dan Tekanan Darah Dilihat dari Frekuensi, Jenis
Kopi, dan Jumlah Kopi
Varibel
Tekanan Darah
Total
Uji
Normotensi

Hipertensi

Minum Kopi

28

35

63

Tidak
Minum Kopi
0

17

21

17

21

18

20

38

2-3

14

22

17

21

11

14

25

2-3

13

21

17

Frekuensi per 0
minggu
(gelas/minggu) 1
2-3

17

21

14

21

21

42

Bukan
Peminum
Kopi
Kopi Instan

17

21

24

18

42

Kopi Murni

17

21

Peminum
Kopi

Jumlah Gelas
Per kali
Minum

Frekuensi Per
hari
(gelas/hari)

Jenis Kopi

Chisquare

0.038

Chisquare

0.114

Chisquare

0.140

Chisquare

0.044

Chisquare

0.001

Tabel 4.2.3 Hubungan antara Tekanan Darah dengan Usia, Jenis Kelamin, Genetik,
Indeks Massa Tubuh, Status Ekonomi, Konsumsi Kopi, Kebiasaan Merokok, Aktivitas
43

Fisik, Konsumsi Garam, dan Konsumsi Alkohol Pada Pengunjung Puskesmas


Kelurahan Grogol II.
Variabel
Tekanan Darah
Total
Uji
P
Ho
Normotens Hipertens
i
i
Usia
20-30 Tahun
18
12
30
31-40 Tahun
6
8
14
Chi-square
0.002
ditolak
>40 Tahun
8
32
40
Jenis Kelamin
Perempuan
18
27
45
Chi-square
0.872
Diterima
Laki-Laki
14
25
39
Genetik
Tidak ada
13
10
23
Chi-square
0.033
Ditolak
Riwayat
Ada Riwayat
19
42
61
Indeks Massa Tubuh
Normal
22
20
42
Underweight
1
3
4
Chi-square
0.025
Di tolak
Overweight
9
29
38
Status Ekonomi
Menengah
21
18
39
Keatas
Menengah
8
12
30
Chi-square
0.018
Ditolak
Menengah
3
12
15
Kebawah
Rokok
Bukan Perokok
20
30
50
Perokok Ringan
11
19
30
Chi-square
0.814
Diterima
Perokok Berat
1
3
4
Aktivitas Fisik
Aktivitas Fisik
11
10
21
Cukup
Aktivitas Kurang
14
23
37
Chi-square
0.201
Diterima
Tidak
7
19
26
Beraktivitas
Konsumsi Garam
Konsumsi Garam
13
23
36
Rendah
Konsumsi Garam
14
20
34
Chi-square
0.891
Diterima
Sedang
Konsumsi Garam
5
9
14
Tinggi
Konsumsi Alkohol
Bukan Peminum
28
44
72
Peminum Jarang
3
8
11
Chi-square
0.283
Diterima
Peminum
1
0
1

44

BAB V
Pembahasan

5.1. Gambaran Karakteristik Lokasi Penelitian


Puskesmas Kelurahan Grogol II adalah puskesmas kelurahan dalam wilayah
kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat dengan total
pengunjung dalam satu bulan kurang lebih 500 pengunjung. Setiap hari pengunjung di
puskesma mencapai 30-45 orang.
5.2. Gambaran Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek yang menjadi Responden adalah pengunjung Puskesmas Kelurahan
Grogol II, jakarta barat. Sampel penelitian sebanyak 84 subjek. Pada setiap subjek yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta telah dilakukan pengukuran tiap
variabel.
Berdasarkan tabel 4.1 tentang sebaran reponden tekanan darah, usia, jenis
kelamin, genetik, indeks massa tubuh, status ekonomi, konsumsi kopi, kebiasaan
merokok, aktivitas fisik, konsumsi garam, konsumsi alkohol dapat dilihat gambaran
karakteristik dari subjek penelitian. Jumlah subjek dengan hipertensi lebih banyak
jumlahnya dari pada subjek dengan normotensi. Dari kategori subjek yang dibagi
menjadi usia 20-30 tahun didapatkan subjek paling banyak berusia >40 tahun dengan
batasan umur 60 tahun dan subjek yang paling sedikit berusia 31-40 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin subjek lebih banyak wanita daripada laki-laki.
Sebaran Indeks Massa tubuh yang normal sebanyak 47.6%, underweight 4.8%
dan overweight sebanyak 47.6%. Didapatkan dari penelitian ini bahwa terdapat banyak
orang yang memiliki berat badan normal dan juga berlebih. Sedangkan sebaran Status
Ekonomi dengan menengah keatas 46.4%, menengah 35.7% dan menengah kebawah
17.9%. Didapatkan dari penelitian ini bahwa dari hasil penelitian didapatkan orang
yang datang ke puskesmas paling banyak yang berpenghasilan diatas dua juta lima
ratus ribu rupiah.

45

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa paling banyak subjek yang datang ke
puskesmas merupakan peminum kopi ringan. Responden bukan perokok 59.5%,
perokok ringan sebanyak 35,7%, perokok berat sebanyak 4.8% menunjukkan bahwa
kebanyakan dari pengunjung puskesmas tidak merokok. Kebanyakan pengunjung
puskesmas memiliki aktivitas fisik yang kurang dan yang mengkonsumsi garam sedikit
serta hampir semua pengunjung puskesmas bukan peminum alkohol.

5.3. Analisis Bivariat


Pada analisis bivariat ini di uji distribusi dengan uji one sample-Kolmogrov Smirnov
dan didapatkan hasil data dengan distribusi tidak normal. Jadi kedua data ini di uji untuk
mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chi-square kerana data mempunyai merupakan
kategorik-kategorik.
Pada Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non paramerik
one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000 atau sama dengan
P<0.05 yang bearti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak normal. Karena distribusi
tidak normal , untuk mencari nilai hubungan antara kedua variabel tersebut, usia dan tekanan
darah ,maka digunakan analisa data ordinal dengan Chi-square.
a. Hubungan antara Tekanan Darah dengan usia

Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.1) hubungan antara variabel usia dengan
tekanan darah didapatkan p = 0.002 Karena p < 0,05 maka Ho diterima, artinya
didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan tekanan darah
pengunjung puskesmas.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Tri Wahyuni, dengan asil uji
statistik menunjukkan contoh dengan umur 40 tahun lebih berisiko 4,956 kali
(95% CI: 2,40210,227; p<0,05) terhadap hipertensi dibandingkan contoh dengan
umur < 40 tahun.
Terdapat hubungan yang positif antara usia dan frekuensi hipertensi, dimana
prevalensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia (Bullock 1996). Risiko
terkena hipertensi tinggi pada saat memasuki masa pra lansia dan dengan
bertambahnya usia, risiko menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di
kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40% dengan kematian lebih banyak
terjadi pada usia diatas 65 tahun. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya
usia disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, yang
46

menyebabkan penyempitan lumen dan kekakuan dinding pembuluh darah dan


mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik (Kamso 2000; Depkes
2007).
b. Hubungan antara Tekanan Darah dengan Jenis kelamin

Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non paramerik
one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000 atau sama
dengan P<0.05 yang berarti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak normal.
Karena distribusi tidak normal , untuk mencari nilai hubungan antara

kedua

variabel tersebut, jenis kelamin dan tekanan darah ,maka digunakan analisa data
nominal dengan Chi-square. Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.2)

adalah

Pearson-Chi-square 0.872 atau sama dengan P>0.05 yang artinya Ho diterima.


Dari hasil uji statistik

diatas, terlihat bahwa tidak ada hubungan antara jenis

kelamin dengan tekanan darah seseorang.


Pada tinjauan pustaka Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi,
dimana pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan
tekanan darah dibandingkan dengan wanita (WHO 2001). Wanita yang belum
menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang sistem imun dan berperan dalam
meningkatkan kadar High Density Lipoproptein (HDL). Kadar kolesterol HDL
yang

dtinggi

merupakan

faktor

pelindung

dalam

mencegah

terjadinya

aterosklerosis. Ketika memasuki masa pemenopause, wanita mulai kehilangan


sedikit demi sedikit hormon estrogen dan seiring dengan bertambahnya usia,
hormon estrogen berubah kuantitasnya secara alami.
Pada penelilitan ini secara statistik tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin
dengan tekanan darah. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah sampel yang dipilih
lebih banyak dari perempuan yang merupakan faktor protektif terhadap kenaikan
tekanan darah. Sedangkan menurut teori kaum laki- laki cenderung banyak yang
menderita hipertensi, yang berkaitan dengan pola hidup. Pada penelitian ini ,
peneliti tidak meneliti tentang pola hidup. Ada kemungkinan bahwa pola hidup
perempuan dan laki- laki yang cenderung sama di jaman sekarang yang membuat
hasil dari tekanan darah antara kaum pria dan wanita memiliki perbedaan yang
tidak terlalu bermakna secara statistik.
c. Hubungan antara Tekanan Darah dengan Genetik
Pada data ini di uji distribusi dengan uji one sample-Kolmogrov Smirnov dan
didapatkan hasil data dengan distribusi tidak normal. Jadi kedua data ini di uji untuk
47

mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chi-square karena data termasuk


kategorik-kategorik.
Pada tabel 4.2.3 didapatkan pada sampel, subjek yang tidak memiliki riwayat
hipertensi, 13 subjek dengan normotensi dan 10 subjek dengan hipertensi.
Sedangkan subjek dengan riwayat hipertensi, 19 subjek dengan normotensi dan 42
subjek dengan hipertensi.
Setelah diuji dengan Chi-square, didapatkan nilai p<0,005 yaitu 0,033 pada uji
bivariat antara genetik dengan tekanan darah. Jadi dapat disimpulkan bahwa H0
pada hubungan ini ditolak dan HA diterima.
Jadi terdapat hubungan antara Genetik dengan tekanan darah pada pengunjung
Psukesmas Kelurahan Grogol. Hasil Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hasrin Mannan tahun 2012 yang meneliti faktor risiko kejadian
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bangkala Kabupaten Jeneponto. Penelitian
Hasrin menunjukkan berdasarkan riwayat keluarga yang pernah menderita
hipertensi, lebih banyak responden yang memiliki keluarga yang menderita
hipertensi yaitu sebesar (69,5%) dibandingkan responden yang tidak memiliki
keluarga yang hipertensi (30,5%) dan responden yang memiliki riwayat keluarga
hipertensi lebih banyak pada kelompok kasus (84,1%) dibandingkan pada
kelompok kontrol (54,9%). Riwayat keluarga yang hipertensi berisiko 4,36 kali
menderita hipertensi dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga
yang hipertensi, sehingga riwayat keluarga merupakan faktor risiko kejadian
hipertensi dengan nilai LL dan UL (95% CI 2,09-9,10) tidak mencakup nilai 1
sehingga nilai OR yang diperoleh bermakna secara statistik atau variabel ini
merupakan faktor risiko kejadian hipertensi.
d. Hubungan Tekanan Darah dengan IMT
Pada data ini di uji distribusi dengan uji one sample-Kolmogrov Smirnov dan
didapatkan hasil data dengan distribusi tidak normal. Jadi kedua data ini di uji untuk
mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chi-square kerana data mempunyai
merupakan kategorik-kategorik.
Pada tabel 4.2.4 didapatkan pada sampel yang IMT underweight sebesar 4 orang, 3
daripadanya merupakan penderita hipertensi. Pada sampel yang mempunyai IMT
normal berjumlah 42 orang, 20 daripadanya merupakan penderita hipertensi.
Manakala pada sampel yang mempunyai IMT overweight berjumlah sebanyak 38
orang, 29 daripadanya menderita hipertensi.

48

Setelah di uji dengan Chi-square, didapatkan nilai P<0.005 pada uji bivariat antara
IMT dengan tekanan darah. Nilai P yang di dapatkan adalah P=0.025, jadi dapat
disimpulkan bahwa H0 pada hubungan ini di tolak dan HA diterima.
Jadi, terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tekanan darah
pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wildman et. Al
yang

dilakukan di China, yaitu tekanan darah baik sistolik maupun diastolik

meningkat seiring pertambahan IMT.


e. Hubungan Tekanan Darah dengan Status Ekonomi
Pada data ini di uji distribusi dengan uji one sample-Kolmogrov Smirnov dan
didapatkan hasil data dengan distribusi tidak normal. Jadi kedua data ini di uji untuk
mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chi-square kerana data mempunyai
merupakan kategorik-kategorik.
Pada tabel 4.2.5 di dapatkan orang yang hipertensi pada status ekonomi menengah
atas sebesar 8 orang, manakala yang normotensi sebanyak 21 orang. Dengan jumlah
sampel yang status ekonominya menengah ke atas sebanyak 39 orang. Pada sampel
yang status ekonomi menengah, sampel yang hipertensi adalah sebesar 22 orang,
manakala yang normotensi adalah 8 orang. Pada sampel yang status ekonomi
menengah kebawah jumlah total sampel adalah sebesar 15 orang, dengan 12 dari
total merupakan yang menghidap hipertensi.
Setelah di uji dengan uji Chi-square, didapatkan nilai P pada hubungan antara status
ekonomi dengan tekanan darah P <0.05. P yang di dapatkan hanya P=0.018.
Dengan ini dapat di katakan H0 pada sampel ini ditolak. Jadi HA diterima.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, terdapat hubungan antara status ekonomi dengan
tekanan darah.
Menurut Bullock, pendapatan yang rendah diketahui menjadi penyebab yang lebih
besar terhadap kejadian hipertensi jika dibandingkan dengan faktor risiko yang
lainnya. Menurut Gaudemaris et al. pada penduduk Perancis ditemukan adanya
hubungan antara jabatan rendah dalam pekerjaan dengan prevalensi hipertensi yang
tinggi dan rendahnya tingkat pengobatan penyakit hipertensi.
f. Hubungan Tekanan Darah dengan Konsumsi Kopi
Pada data ini di uji distribusi dengan uji one sample-Kolmogrov Smirnov dan
didapatkan hasil data dengan distribusi tidak normal. Jadi kedua data ini di uji untuk
mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chi-square kerana data mempunyai
merupakan kategorik-kategorik.

49

Pada tabel 4.2.6 didapatkan jumlah bukan peminum kopi adalah 21 orang, yang
menderita darah tinggi pada sampel bukan peminum kopi adalah sebanyak 17
orang. Jumlah sampel yang merupakan peminum kopi ringan-sedang adalah 49
orang, daripada 49 orang ini didapatkan 26 orang merupakan penderita hipertensi.
Manakala, pada sampel peminum kopi berat berjumlah 14 orang dan 9 daripada
sampel ini merupakan penderita darah tinggi.
Setelah diuji dengan uji Chi-square, didapatkan nilai P>0.05 pada uji bivariat ini.
Nilai P yang didapatkan pada uji hubungan konsumsi kopi dengan tekanan darah
adalah P=0.074. Jadi, H0 pada hubungan konsumsi kopi dan tekanan darah diterima
dan HA di tolak.
Disimpulkan disini, bahwa tidak ada hubungan di antara konsumsi kopi dengan
tekanan darah pada pengunjung Puskesmas Kelurahan Grogol II. Hasil penelitian
ini bertentangan dengan penelitian-penelitian yang lain yang mengatakan bahwa
ada hubungan di antara konsumsi kopi dengan tekanan darah.
Tapi dapat dijelaskan dengan penelitian yang di lakukan oleh Ayu Martiani Faktor
Risiko Hipertensi Di tinjau dari Kebiasaan Minum Kopi

yang mempunyai

beberapa persamaan. Penelitian Ayu Martini,mendapat kesimpulan berupa


kebiasaan minum kopi dapat meningkatkan risiko kejadian hipertensi, namun masih
tergantung dari frekuensi konsumsi kopi.
Hasil penelitian Ayu Martiani, menunjukkan bahwa subjek yang memiliki kebiasaan
minum kopi >3 cangkir per hari dapat mentoleransi efek kafein pada kopi, sehingga
tidak berefek meningkatkan tekanan darah.
Tubuh mempunyai regulasi hormon kompleks yang bertugas menjaga tekanan
darah yang dapat menyebabkan toleransi tubuh terhadap paparan kafein pada kopi,
ketika paparan kafein itu terjadi decara terus-menerus. Selain memiliki kandungan
yang bersifat meningkatkan tekanan darah, kopi mengandung substansi yang
bersifat menurunkan tekanan darah yaitu polifenol dan kalium. Kopi yang di
konsumsi subjek merupakan kopi instan. Kopi instan mengandung serat larut air
yang tinggi dan dihubungkan dengan kandungan polifenol (antioksidan).
Kandungan kalium dalam kopi juga diketahui tinggi. Polifenol menghambat
terjadinya aterogenesis dan memperbaiki fungsi vaskuler. Kalium menurunkan
tekanan darah dengan menghambat pelepasan renin sehingga terjadi peningkatan
ekskresi natrium dan air. Hal ini menyebabkan penurunan volume plasma, curah
jantung, dan tekanan perifer sehingga tekanan darah akan turun. Polifenol dan
kalium dapat menyimbangkan efek kafein.
50

Konsumsi kopi pada dosis tertentu, cenderung menurunkan tekanan darah. Hal ini
disebabkan oleh kandungan kalium pada kopi yang tinggi. Ada penelitian meta
analisis yang dilakukan untuk mebandingkan perubahan tekanan darah antara
subjek yang diberi tablet kafein dan subjek yang diberi kafein dalam kopi.
Penelitian ini menghasilkan peningkatan tekanan darah pada subjek yang diberi
tablet kafein lebih tinggi dibandingkan subjek yang diberi kafein melalui kopi. Hal
ini memnungkinkan penurunan tekanan darah yang disebabkan oleh kalium dan
polifenol pada kopi mempengaruhi efek kafein yang terkandung di dalamnya.
Kelemahan yang di dapatkan dari penelitian ini adalah penelitian ini terlalu singkat
dilakukan.
g. Hubungan Tekanan Darah dengan Kebiasaan Merokok
Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non paramerik
one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000 atau sama
denga n P<0.05 yang bearti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak normal.
Jadi kedua data ini di uji untuk mencari hubungannya asosiasinya dengan uji Chisquare kerana data mempunyai merupakan kategorik-kategorik.
Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.7) adalah likelihood ratio 0.814 atau sama
dengan P>0.05 yang artinya Ho diterima. Dari hasil uji statistik diatas , terlihat
bahwa tidak ada hubungan antara perilaku merokok dengan tekanan darah
seseorang.
Pada tinjuan pustaka , mengatakan bahwa rokok merupakan salah satu penyebab
terjadinya hipertensi, selain itu juga sebagai salah satu faktor risiko terjadinya
penyakit kardiovaskular (Bullock 1996). Sedangkan teori lainnya mengatakan
bahwa merokok meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk
disuplai ke otot-otot jantung. Oleh karena itu, merokok pada penderita hipertensi
akan semakin meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri (Depkes
2006).
Pada hasil penelitian ini, secara statistik tidak terdapat hubungan antara merokok
dengan tekanan darah. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebanyak dari sampel kita
adalah perokok ringan sampai sedang. Sedangkan untuk berpengaruh terhadap
tekanan darah butuh kadar nikotin dalam jumlah yang lebih besar, yang biasa
dijumpai pada perokok berat.
Hal tersebut mungkin juga dapat disebabkan oleh faktor- faktor lain yang juga
mempengaruhi tekanan darah. Pada teori Aktivitas fisik berpengaruh secara
langsung terhadap tekanan darah karena latihan fisik dapat mempengaruhi tekanan
51

darah dengan menormalkan proses-proses tubuh lainnya (Hull 1996) . Hal ini
diduga karena latihan mengakibatkan penurunan tekanan darah dan meningkatkan
HDL kolesterol. Pada teori lainnya Faktor gender berpengaruh pada terjadinya
hipertensi, dimana pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat
meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita (WHO 2001). Pada
penelitian ini kebanyakan dari sampel adalah kita adalah perempuan dan juga
banyak yang melakukan aktifitas fisik secara rutin, kedua faktor tersebut bisa
menjadi faktor protektif terhadap terjadinya peningkatan tekanan darah.
h. Hubungan Tekanan Darah dengan Aktivitas Fisik
Pada Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non
paramerik one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000
atau sama dengan P<0.05 yang bearti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak
normal. Jadi kedua data ini di uji untuk mencari hubungannya asosiasinya dengan
uji Chi-square kerana data mempunyai merupakan kategorik-kategorik.
Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.8) hubungan antara variabel aktivitas fisik
dengan tekanan darah didapatkan p = 0.201 Karena p > 0,05 maka Ho diterima,
artinya tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik
pada tekanan darah pengunjung puskesmas. Pada penelitian di Jagakarsa tahun
2007 tidak didapatkan hubungan secara bermakna pada aktivitas fisik dengan
tekanan darah tinggi. Pada penelitian di Cikarang Barat tahun 2012, didapatkan
hubungan bermakna pada orang yang memiliki aktivitas rendah

dapat terjadi

tekanan darah tinggi sebesar 44,1 kali.


i. Hubungan Tekanan Darah dengan Konsumsi Garam
Pada Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non
paramerik one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000
atau sama dengan P<0.05 yang bearti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak
normal. Jadi kedua data ini di uji untuk mencari hubungannya asosiasinya dengan
uji Chi-square kerana data mempunyai merupakan kategorik-kategorik.
Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.9) hubungan antara variabel konsumsi garam
dengan tekanan darah melalui uji Kendell-tau didapatkan p = 0.891 Karena p > 0,05
maka Ho diterima, artinya tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara
konsumsi garam pada tekanan darah pengunjung puskesmas. Pada penelitian di
Cikarang Barat tahun 2012 didapatkan hubungan bermakna pada orang yang
mengkonsumsi garam tinggi terhadap tekanan darah tinggi.
52

j. Hubungan Tekanan Darah dengan Konsumsi Alkohol


Pada Pada uji nomalitas terhadap variabel ini, dengan menggunakan uji non
paramerik one-sample kolmogorov-smirnov test mendapat nilai Asymp.sig 0.000
atau sama dengan P<0.05 yang bearti bahwa distribusi dari variabel tersebut tidak
normal. Jadi kedua data ini di uji untuk mencari hubungannya asosiasinya dengan
uji Chi-square kerana data mempunyai merupakan kategorik-kategorik.
. Hasil dari uji Chi-square ( tabel 4.2.10) adalah likelihood ratio 0.283 atau sama
dengan P>0.05 yang artinya Ho diterima. Dari hasil uji statistik diatas, terlihat
bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan tekanan darah
seseorang.
Berdasarkan teori yang ada sebelumnya, dikatakan bahwa alcohol merupakan salah
satu resiko terjadinya peningkatan tekanan darah. Namun peningkatan tekanan
darah tersebut disertai dengan adanya penyakit sistemik yang ditimbulkan akibat
konsumsi

alcohol.

Penelitian

yang

kita

lakukan

pada

responden

yang

mengkonsumsi alcohol tanpa adanya peningkatan tekanan darah di karenakan


kemungkinan responden belum mengalami gangguan sistemik dalam tubuhnya.

53

BAB VI
Kesimpulan dan Saran

6.1. Kesimpulan
Dari usia didapatkan bahwa pengunjung puskesmas paling banyak dengan usia
diatas 40 tahun sebanyak 47,6% diikuti dengan usia 20-30 tahun sebanyak 35.7% dan
paling sedikit usia 31-40 tahun sebanyak 16,7%. Dan tidak didapatkan hubungan
bermakna pada usia dengan tekanan darah tinggi.
Dari aktivitas fisik didapatkan bahwa pengunjung puskesmas paling banyak
dengan aktivitas fisik kurang dengan angka 44%, tidak beraktivitas dengan 31% dan
paling sedikit dengan aktivitas cukup sebanyak 25%. Dan tidak didapatkan hubungan
bermakna antara aktivitas fisik dengan tekanan darah tinggi.
Dari konsumsi garam didapatkan bahwa pengunjung puskesmsa paling banyak
dengan konsumsi garam rendah sebanyak 42.9%, konsumsi garam sedang sebanyak
40.5% dan pengkonsumsi garam tinggi sebanyak 16.7%. Dan tidak didapatkan
hubungan bermakna antara konsumsi garam dengan tekanan darah tinggi.
Dari sebaran responden tersebut didapatkan bahwa:

Usia
Sebagian besar responden merupakan usia diatas 40 tahun sebanyak 47,6%
Aktivitas fisik
Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik kurang sebanyak 44%
Konsumsi garam
Sebagian besar responden mengkonsumsi garam rendah sebanyak 42.9%

Tidak didapatkan hubungan bermakna antara usia dengan tekanan darah tinggi.
Tidak didapatkan hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan tekanan darah
tinggi.
Tidak didapatkan hubungan bermakna antara konsumsi garam dengan tekanan darah
tinggi.

Saran.
54

Dari hasil penelitian dan kesimpulan di atas, peneliti hendak menyarankan beberapa hal
antara lain:
6.2.1. Bagi Puskesmas Kelurahan Grogol II.
Agar mengadakan kegiatan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai tatalaksana
hidup

sehat

serta

pengertian

mengenai

hipertensi

serta

bagaimana

cara

pencegahannya.
.
6.2.2. Bagi para peneliti selanjutnya
Diharapkan dapat meneruskan penelitian ini agar dapat melihat kemajuan dan
perkembangan tentang hubungan antara tekanan darah dengan faktor-faktor risiko
yang ada pada puskesmas grogol II.

DAFTAR PUSTAKA

55

1. Karo karo S. Hipertensi adalah Masalah Kesehatan Masyarakat. Dalam : Penyakit


Cardiovaskular. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. 2012. 235-239.
2. Yogiantoro. M. Hipertensi Esensial. Dalam :Buku Ajar Penyakit Dalam.jilid 2. Edisi
5. Jakarta: Interna Publishing. 2009. 1079-85.
3. Riset Kesehatan Dasar 2013. Hipertensi. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI tahun 2013. Di unduh tanggal 8 Augustus 2014
dari Depkes.go.id./download/Riskesdas2013/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf.
4. Kartikawati A. Prevalensi Hipertensi. Dalam Prevalensi dan Determinasi Hipertensi.
2008.

Diunduh

pada

Augustus

2014

dari

http://lontar.ui.ac.id/file?

file=digital/122551/s/5407/prevalensi%20dan-analisis.pdf
5. Ayu Martiani. Faktor Risiko Hipertensi Ditinjau dari Kebiasaan Minum Kopi. 2012.
Diunduh

pada

tanggal

Augustus

2014

dari

eprints.undip.ac.id/38404/1/451_AYU_MARTIANI_GC2C007012.pdf.
6. Isles C.G. Essential hypertension in oxford Textbook of medicine.4th ed.
Inggris,Oxfordshire:Oxford press 2003, hal 1392-1395
7. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31.Jakarta 2010 : Penerbit Buku Kedokteran EGC
8. [Depkes] Departemen Kesehatan. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana
Penyakit Hipertensi. Jakarta: Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular,
Departemen Kesehatan RI.
9. [WHO] World Health Organization. 2001. Pengendalian Hipertensi: Laporan Komisi
Pakar WHO. Padmawinata K, penerjemah. Bandung: Penerbit ITB
10. Bullock BL. 1996. Pathophysiology: Adaptions and Alterations in Function (4th ed).
Philadelphia: Lippincott.
11. Gaudemaris R et al. 2002. Socioeconomic Inequalities in Hypertension Prevalence
and Care: The IHPAF Study. Hypertension 39: 11101125.
12. Myers. 2004. Complication of obesity. California: Wheight.com.
13. Wildman et al. 2005. Are waist circumference and body mass index independently
associated with cardiovascular risk in Chinese adults? The American Journal of
Clinical Nutrition 82: 1195202.

56

14. Soeharto I. 2000. Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
15. Hull A. 1996. Penyakit Jantung, Hipertensi, dan Nutrisi. Ali W, penerjemah. Jakarta:
Pernerbit Bumi Aksara.
16. Chalmers J et al. 1999. 1999 World Health Organization-International society of
hypertension guidelines for the management of hypertension. Journal of Hypertension
17: 151185.
17. Simon. 2002. What is Blood Pressure? Harvard Medical School. Physician
Massachusetts General Hospital.
18. [SIGN] Scottish Intercollegiate Guideline Network. 2001. Hypertension in older
people. http://www.sign.ac.uk. Edinburgh. [10 Januari 2013].
19. Ananda S. 2011. Hipertensi pada kelompok pra lansia dan lansia (4575 tahun)
gakin di Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat Tahun 2011
[Skripsi]. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonsesia.
20. Mansjoer A, Triyani K, Savitri R, Whardani WI, Setio W. 2002. Kapita Selekta
Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
21. Tierney LM, Phee SJMc, Papadakis MA. 2002. Diagnosis dan Terapi Kedokteran
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Salemba Medika.
22. Askes. 2011. Sehat bersama hipertensi. http://www.ptaskes.com [30 April 2011].
23. Bekti Ciptaming Gerhastuti. Pengaruh pemberian kopi dosis bertingkat per oral
selama 30 hari terhadap gambaran histologi ginjal tikus wistar. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro Semarang. 2009.
24. Wahyuni T. Hubungan konsumsi kopi dengan tekanan darah pada pasien rawat jalan
puskemas

bogor

tengah.

IPB.

2013.

Diunduh

dari

http://repository.ipb.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/63961/I13twa.pdf?
sequence=1 tanggal 07 Agustus 2014.

57

25. Higdon JV, Frei B. Coffee and health: a review of recent human research. In: Critical
Review in Food Science and Nutrition, 2006. 46:101-123.
26. Juju Julaeha. Analisis kejadian hipertensi berdasarkan asupan kopi pada anggota
reserse kepolisian resor tasikmalaya kota. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Siwangi. 2012.
27. PBPAPDI. 17 July 2013. Pemicu Serangan Jantung yang Ditemui Sehari-hari.
Diunduh dari : http://www.pbpapdi.org/papdi.php?pb=detil_berita&kd_berita=15 .
tanggal 5 Agustus 2014.

58