Anda di halaman 1dari 3

PENGARUH BEKAM TERHADAP PENINGKATAN SEL MAKROFAG

SEBAGAI SISTEM KEKEBALAN TUBUH


A. PENDAHULUAN
B. ISI JURNAL
C. ANALISIS JURNAL (PICO)
1) Patient and Clinical Problem
Penelitian ini dilakukan pada 20 orang di kabupaten Jember yang baru
pertama kali melakukan bekam
2) Intervention
Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan
menggunakan rancangan non random pre test-post test without control
group design yang dilakukan terhadap manusia sebagai subjek
penelitian. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
kuota sampling. Penelitian pada jurnal ini dilakukan pengumpulan data
dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium terhadap darah vena
mediana cubiti 15 menit sebelum pembekaman dan 15 hari setelah
pembekaman.
3) Comparator
Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan menyatakan bahwa
adanya pengaruh bekam terhadap peningkatan sistem kekebalan tubuh:
Sel T CD8+. Jadi pembuangan darah (blood letting) seperti dalam cara
kerja bekam ini terbukti dapat menjaga dan sekaligus meningkatkan
sistem kekabalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh dalam sirkulasi darah
adalah tanggung jawab sistem seluler dalam hal ini sel T CD 8+.
Limfosit T adalah sel di dalam salah satu grup sel leukosit yang
diketahui sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada kekebalan
selluar. Limfosit T mampu membedakan jenis patogen dengan
kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan sistem
kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan
karena sejumlah limfosit T teraktivasi menjadi limfosit T memori
dengan kemampuan berkembangbiak cepat untuk melawan infeksi
yang dapat terulang. Sel T CD8+ merupakan populasi sel T yang
mempunyai fungsi pertahanan terhadap patogen intraseluler.

Sedangkan penelitian ini ingin meneliti tentang adanya pengaruh


bekam terhadap peningkatan sel makrofag sebagai sistem kekebalan
tubuh. Sel makrofag merupakan bagian dari sistem kekebalan seluler
yang lazim kita kenal. Makrofag menghasilkan sitokin dalam jumlah
yang berlebih sehingga makrofag merupakan sel efektor penting dalam
bentuk tertentu dari kekebalan yang diperantai oleh sel.
4) Outcome
Hasil dari penelitian ini adalah adanya pengaruh bekam terhadap
peningkatan sel makrofag sebagai sistem kekebalan tubuh yang
ditunjukan dengan nilai makrofag di awal perlakuan pada subjek
penelitian sejumlah 20 orang memiliki mean 18,3775, SD 3,32348,
nilai terendah 12,14, nilai tertinggi 23,54. Sedangkan nilai makrofag
di akhir perlakuan memiliki mean 65,2630, SD 6,42253, nilai terendah
56,58, nilai tertinggi 71,64. Hasil paired-sample t-test didapat p value
sebesar 0,000 maka karena p < 0,05 dapat disimpulkan bahwa
pengaruh bekam terhadap peningkatan sel makrofag sebagai system
kekebalan tubuh adalah bermakna.
D. KESIMPULAN
Bekam adalah suatu teknik pengobatan yang menstimulasi titik meridian
tertentu dengan cara memberi tekanan negatif (cupping) beberapa menit,
melukai dengan jarum steril dan dilanjutkan dengan pemberian tekanan
negatif lagi sehingga ada darah yang keluar dari bekas tusukan jarum
terebut. Bekam dilakukan umumnya didaerah punggung, leher, tengkuk
dan kaki. Bekam dapat memperbaiki mikrosirkulasi dan fungsi sel dengan
cepat. Sebagaimana
diketahui bekam dapat meningkatkan kemampuan regenerasi eritrosit
(Majid, 2099). Terapi
Bekam yang dilakukan secara teratur diduga kuat dapat menstimulasi kerja
kekebalan seluler sehingga daya tahan tubuh meningkat baik sebagai
pencegahan maupun perlawanan terhadap penyakit (Widada, 2010). Pada
pembekaman, dimana terjadi bendungan lokal, stimulasi titik meridian,

hipoksia dan radang, dapat memperbaiki mikrosirkulasi dan fungsi sel


dengan cepat. Lima belas hari setelah pembekaman terbukti terjadi
peningkatan elastisitas dinding sel darah merah (Widada, 2010),
menstimulasi kerja system kekebalan tubuh : sel pembunuh alami (Natural
Killer cells) (Widada, 2010), sehingga daya tahan tubuh meningkat baik
sebagai pencegahan maupun perlawanan terhadap penyakit.