Anda di halaman 1dari 185

PENCEMARAN UDARA

DAN SAMPLING POLUTAN UDARA


Oleh

Sudrajat

Program S-2 Ilmu Lingkungan


UNMUL
Samarinda
2010

UDARA
SEBAGAI KOMPONEN PENTING KEHIDUPAN
TELAH MENGALAMI PERUBAHAN KUALITAS
(SEGAR MENJADI KERING DAN KOTOR)

ALAMI

ANTROPOGENIK

BILA TIDAK DITANGGULANGI AKAN


BERDAMPAK NEGATIF THD KES.
MANUSIA, KEHIDUPAN HEWAN &
TUMBUHAN, MATERIAL, VISIBILITAS,
DAN ESTETIKA.

Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan


pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar
(berbentuk gas-gas dan partikel/aerosol) ke dalam udara.

ALAMI
ALAMI
1.
2.
3.
4.

asap kebakaran hutan,


letusan gunung berapi,
debu meteorit,
pancaran garam dari
laut
5. dekomposisi biotik,
6. debu,
7. spora, dll

ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK
1. kegiatan transportasi,
2. industri,
3. pembuangan sampah
(dekomposisi atau
pembakaran)
4. pertanian, dll

PENCEMAR
PENCEMAR UDARA
UDARA
PARTIKULAT:
PADAT
CAIR

GAS:

ORGANIK

: Debu (Dust), Asap (Smoke),


Abu Terbang (Fly ash), Uap asap
(Fumes)
: Halimun (Mist), Percikan (Spray)

: Hidrokarbon (hexane, benzene, etilen,


metana, butana), Formaldehid,
Aseton,
Chlorinated Hydrocarbon
ANORGANIK : Oksida karbon (CO, CO2), oksida
sulfur
(SOx), oksida nitrogen (NOx), H2S,
HF,
Ammonia

1.
1. ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK TRANSPORTASI
TRANSPORTASI

ANTROPOGENIK

>

SUMBER ALAMI

TRANSPORTASI DARAT/KENDARAAN BERMOTOR


- CO
- NOx
- HC
- SO2
- Pb
- Partikulat

ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK TRANSPORTASI
TRANSPORTASI

ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK TRANSPORTASI
TRANSPORTASI

2.
2. ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK INDUSTRI
INDUSTRI
Emisi pencemaran udara oleh industri sangat
tergantung dari jenis industri dan prosesnya.
Berbagai industri dan pusat pembangkit tenaga
listrik menggunakan tenaga dan panas yang berasal
dari pembakaran arang dan bensin, hasil sampingan
dari pembakaran tersebut adalah SOx, asap, dan
bahan pencemar lainnya.
Penggunaan energi dari bahan bakar fosil telah
diikuti dengan peningkatan konsentrasi emisi gasgas rumah kaca, utamanya CO2 ke lingkungan
global. Gas-gas rumah kaca yang antropogenik
tersebut diyakini sebagai penyebab terjadinya
pemanasan global.

ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK INDUSTRI
INDUSTRI

2.
2. ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK INDUSTRI
INDUSTRI
Masyarakat negara maju gunakan hampir 70% dari
seluruh bahan bakar fosil dunia.
AS adalah negara pengemisi CO2 terbesar di dunia
yaitu sekitar 1.387 juta metrik ton pada tahun 1994,
dan disusul oleh China sekitar 67% di bawahnya.
Yang menarik adalah Indonesia, sebagai pengemisi ke
16 terbesar di dunia dengan jumlah sekitar 67 juta
metrik ton.
Selama tahun 1989-1990 saja emisi CO2 Indonesia
meningkat sangat mencolok yaitu sebesar 76,7%,
sebagian besar karena peningkatan penggunaan gas
alam.

2.
2. ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK INDUSTRI
INDUSTRI

Pada tahun 1994, komposisinya adalah 74% emisi


CO2 Indonesia berasal dari bahan bakar minyak dan
14% dari gas alam yang penggunaannya bertambah
terus sejak tahun 1970.
Emisi CO2 perkapita Indonesia pada tahun 1994
adalah 0,34 metrik ton karbon, masih jauh lebih
rendah dari rata-rata angka global, tetapi meningkat
10 kali lipat sejak tahun 1950.
Walaupun masih rendah, namun perlu diwaspadai
karena besarnya jumlah penduduk.

3.
3. ANTROPOGENIK
ANTROPOGENIK BAKAR
BAKAR SAMPAH
SAMPAH
Proses pembakaran sampah walaupun skalanya kecil
sangat berperan dalam menambah jumlah zat
pencemar di udara, terutama debu dan hidrokarbon.
Hal penting yang perlu diperhitungkan dalam emisi
pencemaran udara oleh sampah, adalah emisi
partikulat akibat proses pembakaran, sedangkan
emisi dari proses dekomposisi yang perlu
diperhatikan adalah emisi hidrokarbon (HC) dalam
bentuk gas methane.

LAUTAN SAMPAH DIMANAMANA

JENIS
JENIS PENCEMAR
PENCEMAR
Dilihat dari ciri fisik, bahan pencemar dapat berupa:
Partikel (debu, aerosol, timah hitam)
Gas (CO, NOx, SOx, H2S, Hidrokarbon)
Energi (suhu dan kebisingan)
Berdasarkan dari kejadian, terbentuknya pencemar
terdiri dari:
Pencemar primer (diemisikan langsung oleh
sumber)
Pencemar sekunder (terbentuk karena reaksi di
udara antara berbagai zat.

Dilihat secara kimiawi, banyak sekali macam bahan


pencemar (puluhan ribu bahkan tidak terbatas), sebagai
contoh dari asap rokok telah diidentifikasikan lebih dari
200 macam bahan pencemar.
Namun biasanya yang menjadi adalah pencemar utama
(major air pollutants) yaitu golongan:
Oksida Karbon (CO, CO2),
Oksida Belerang (SO2, SO3),
Oksida Nitrogen (N2O, NO, NO3),
Senyawa hasil reaksi foto kimia,
Partikel (asap, debu, asbestos, metal, minyak, garam
sulfat),
penyawa anorganik (asbestos, HF, H2S, NH, H2SO4,
HNO3),
Hidrokarbon (CH4, C4H10),
Unsur radioaktif (Tritium, Radon),
Energi panas (suhu) dan kebisingan.

SUMBER,
SUMBER, TOTAL
TOTAL EMISI,
EMISI, &
& EFEK
EFEK KESEHATAN
KESEHATAN
ZAT PENCEMAR

EMISI TAHUNAN
% Total
Urutan

SO2
Partikulat
NO2
HC
CO

12,9%
9,7%
8,6%
13,1%
55,7%

Sumber
1. Pembangkit Tenaga
2. Industri
3. Transportasi
4. Kebakaran hutan
5. Sampah
6. Lain-lain

3
4
5
2
1
% Total
16,9%
15,3
54,5
7,3
4,2
1,8

EFEK KESEHATAN
% Total
Urutan
14,6
27,9
18,6
17,7
1,2
Urutan
2
3
1
4
5
6

4
1
2
3
5

DAMPAK
DAMPAK TERHADAP
TERHADAP KESEHATAN
KESEHATAN
INDOOR:
Sick Building Syndrome
Asbestos
Asap Rokok
Senyawa Organik Volatil (VOCs)
Formaldehyde
Pestisida
Mikroorganisme
Kenyamanan dalam Gedung
Dan lain-lain

Pengaruh Sick Building


Syndrome
Sindrome Penyakit yang diakibatkan oleh kondisi
gedung
Beberapa penyakit yang terdapat di dalam
ruang :
Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan
Kulit dan lapisan lendir yang kering
Erythema
Kelelahan mental, sakit kepala
Infeksi saluran pernafasan, batuk
Bersin-bersin
Reaksi sensitivitas yang sangat tinggi
(Sumber : WHO, 1984)

Asbestos
Asbes adalah campuran berbagai silikat
dengan komponen utama magnesium silikat.
Penyakit yang disebabkan oleh pengaruh
debu asbes adalah asbestosis.
Gejala-gejala:
- Sesak nafas
- Batuk dan banyak mengeluarkan lendir
- Pelebaran ujung-ujung jari
- Krepitasi halus di dasar paru-paru
- Resiko kanker paru-paru 5x >

ASAP ROKOK
Dampak bagi perokok aktif << perokok pasif
Resiko terhadap kanker paru-paru & penyakit
Cardio Pulmonari.
Kanker paru-paru (perokok pasif) proses biologis
senyawa2 kimia asap sidestream.
Asap sidestream mengandung racun yang sama
dan agent tumor seperti pada mainstream
Beberapa diantaranya kondisi yang lebih tinggi
kondisi pembakaran (pembentukan sidestream)

Senyawa Organik Volatil (VOC)


Beberapa senyawa organik volatil yang ditemukan di
dalam ruangan:
Formaldehyde
Benzene
Naphtalene
Styrene
Beberapa gejala penyakit yang dijumpai di dalam
ruangan:
Sakit kepala
Iritasi mata dan selaput lendir
Iritasi sistem pernafasan
Drowsiness (mulut kering)
Fatigue (kelelahan)
Malaise umum

Formaldehyde
Formaldehyde banyak didapati pada perlengkapan
dalam gedung.
Menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan, iritasi
pada mata, iritasi pada kulit dan tenggorokan serta
sakit kepala.
Sifat Formaldehyde molekul reaktif & kovalen
dengan protein iritasi / sensitifitas / alergi.

Dampak lainya pada efek kesehatan dan ketidak


nyamanan terhadap bau dan di dalam ruangan adalah
sebagai berikut:
limone,
a-pinene
n-hexanol
1,3- xylenes

Pestisida
Efek pestisida bagi kesehatan:

Sakit kepala
Mual
Pusing
Iritasi kulit dan mata

Efek akut pada pemakaian pestisida


dgn konsentrasi tinggi ex ; pemakaian
termisida dlm pengawetan kayu.

Mikroorganisme

Dampak bagi kesehatan :


Alergi pernafasan infeksi pernafasan & asma.

Tergantung sensitifitas perorangan/individu


Tingkatan penyakit berbeda2 tipe partikel

Sumber mikroorganisme:

1. Sistem pemanas udara yg terkontaminasi

2. Kelembaban yang terkontaminasi

Kenyamanan dalam Gedung


Parameter :

Bau
Kondisi panas
Kelembaban relatif
Kecepatan udara
Turbulensi
Temperatur dan radiasi
Pakaian
Parameter lain

DAMPAK
DAMPAK TERHADAP
TERHADAP KESEHATAN
KESEHATAN

OUTDOOR:
Pencemaran oleh Karbon Monoksida (CO)
Pencemaran oleh Nitrogen Oksida (NOX)
Pencemaran oleh Belerang Oksida (SOX)
Pencemaran oleh Hidrokarbon
Pencemaran oleh Partikel
Pencemaran Udara Lainnya

Types of air pollution


Air Pollution
Particles

PM10, PM2.5

Oxidizing-type air pollution

NOx, O3

Heavy metals

Cd, Pb

Organic pollutants

PAH, Benzene

28

Air Pollution

Acute vs chronic effects

Acute effects of short-term exposure


Day to day variation in air pollution
Chronic effects of long-term exposure
Heterogeneous concentration on a
limited geographic area
Source pollution
29

Air Pollution

Acute effects

Majority of air pollution studies focused on


acute effects of exposure
Evaluate short-term temporal associations
(1 to 14 d)
Provide little information about
how much life is shortened harvesting
effect
pollution's potential role in the process of
inducing chronic diseases
30

Air Pollution

Chronic effects

Chronic exposure studies

Evaluate the effects of low or moderate exposure

that persist for long periods;


Cumulative effects of repeated exposure to

elevated levels of pollution.


Do people who live in areas with elevated air

pollution experience cumulative adverse health


effects?

31

Dampak Pencemaran Udara Oleh


Karbon Monoksida (CO)
Ciri-ciri Karbon Monoksida (CO):
Tidak berbau
Tidak berasa
Tidak berwarna
Bersifat racun metabolis
Lebih stabil berikatan dengan darah
daripada
oksigen

EFEK KARBON MONOKSIDA (CO)


Dalam keadaan normal, tiap atom karbon dari
bahan kayu, bensin, minyak tanah akan
bereaksi dengan 2 atom Oksigen diatmosfer
dan terbentuk gas CO2.
Dari proses pembakaran bahan bakar fosil atau
bahan organik yang tidak sempurna
( kekurangan waktu dan oksigen), maka tiap
atom karbon akan bereaksi dengan satu atom
oksigen dan terbentuklah CO. Gas ini
mempunyai sifat lebih ringan dari udara, tidak
berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.
Secara alamiah, CO dapat berasal dari reaksi
HC, metana di atmosfer.

33

SUMBER KARBON MONOKSIDA (CO)


Sumber utama CO adalah :
* Kemacetan lalu lintas di perkotaan
* Asap rokok

34

EFEK KARBON MONOKSIDA (CO)


Memblokir fungsi transpor Hb02 dan
meningkatkan HbCO dalam darah
Kerusakan otot jantung dan susunan
syaraf pusat ( SSP)

35

Mekanisme pencemaran CO terhadap Manusia.


Udara kotor (ada COnya)---- Paru-paru -- Alveoli
--- berdiffusi ke darah - Ikut peredaran darah ---
mengikat Hb ( affinitasnya lebih tinggi dibandingkan
O2).
a). Tubuh defisit O2
b). Tubuh keracunan CO ditandai dengan tanda-tanda
pusing, rasa tidak enak pada mata, detak jantung
meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas,
kelemahan otot-otot, tidak sadar dan bisa meninggal
dunia.
Dalam keadaan normal : CO dalam darah ada di
antara 0,2 1 %. Rata-rata CO dalam darah 0,5 %.
36

37

Efek CO di dalam tubuh manusia ( Wellburn Alan, 1988)


Konsentrasi paparan Efek
( ppm) setelah 2 jam

Kadar COHb di
dalam darah ( %)

0 - 10

Tanpa gangguan

0-2

10-50

Tampak kelelahan

2-10

50-100

Sedikit sakit kepala, lesu dan


sensitif

10-20

100-200

Sakit kepala sedang

20-30

200-400

Sakit kepala berat,


gangguan visual, enek,
lemas, mual-mual

30-40

400-600

Mirip di atas, mungkin


collaps

40-50

600-800

Sakit semua badan,


meningkatkan laju denyut
jantung dan konvulsi

50-60

800-1600

Koma, mungkin mati

60-70

> 1600

Kematian dalam periode


pemajanan singkat

> 70
38

39

40

41

Air pollution (PM10) and


Health

Increase and aggravate asthma


and hospital admissions for lung
and heart disease.
Create disease in the airways of
children and increase respiratory
illness in children.
Damage the lungs and
permanent changes in lung
structure.
Increase deaths from respiratory
and cardiovascular disease.
Increase cause chest pain and
nausea.
Cause shortness of breath and
(faster) laboured breathing.
http://www.ecan.govt.nz

http://www.ecan.govt.n
z

42
http://www.epa.gov

43

4. EFEK NITROGEN DIOKSIDA (NO2)


Terbentuknya MethHb ( Meth
Hemoglobin)
Peningkatan inspiratory resistance
Peningkatan expiratory resistance
Terjadinya sembab paru
Terjadinya fibrosis paru

44

Respon manusia terhadap kadar NO2 ( Wellburn Alan,


1988)
Konsentrasi
( ppm)

Gejala

0 0.21

Tanpa efek

0.11-0.21

Terdeteksi sedikit bau

0.22-1.1

Terganggunya beberapa
proses metabolisme

1.1-2

Terjadinya perubahan laju


respirasi volume paru dan
mudah terinfeksi

2.1 5.3

Terganggunya jaringan paru


( mis.hilangnya cilia)

> 5.4

Gangguan kelainan paru


berat dan emphysema, jika
terpapar lama akan

45

5. EFEK LOGAM BERAT Pb ( Lead)


Terbentuk dari penggunaan sebagai aditif
gasolin berupa Tetraethyl Lead ( TEL).
Merupakan neurotoksin yg berfifat akumulatif
dan dapat merusak pertumbuhan otak anakanak, sehingga dapat menurunkan IQ
Mengganggu fungsi ginjal,saluran pencernaan,
sistem syaraf remaja, menurunkan fertilitas,
menurunkan produksi spermatoza dan
menyebabkan abnormalitas spermatozoa
secara spontan.
46

Pengaruh konsentrasi CO di udara dan


pengaruhnya pada tubuh bila kontak terjadi
pada waktu yang lama
Konsentrasi CO di
udara (ppm)

Konsentrasi
COHb dalam
darah (%)

Gangguan pada
tubuh

0,98

Tidak ada

1,3

Belum begitu terasa

10

2,1

Sistem syaraf sentral

20

3,7

Panca indera

40

6,9

Fungsi jantung

60

10,1

Sakit kepala

80

13,3

Sulit bernafas

100

16,5

Pingsan-kematian

Dampak Pencemaran Nitrogen Oksida


(NOx)
Dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Gas nitrogen monoksida (NO)
Konsentrasi Gas NO yg tinggi dpt menyebabkan gangguan
pada sistem syaraf yg mengakibatkan kejang2.
Gas NO sulit diamati tidak berwarna & tidak berbau
2. Gas nitrogen dioksida (NO2)
Paru2 yang terkontaminasi oleh gas NO2 akan membengkak
sulit bernafas yg dpt mengakibatkan kematian.
Gas NO2 mudah diamati baunya menyengat & berwarna
coklat kemerahan
Sifat racun/ toksisitas gas NO2 4x lebih kuat daripada toksisitas
gas NO
Menyebabkan Peroxy Acetil Nitrates (PAN) iritasi pada mata
& kabut foto kimia yg mengganggu lingkungan (bercampur
dgn senyawa kimia lain di udara)

Dampak pencemaran oleh Belerang Oksida


(SOx)
Sebagian besar pencemaran udara oleh gas
belerang oksida (SOX) berasal dari pembakaran
bahan bakar fosil, terutama batubara.
Menyebabkan hujan asam
2SO2 + O2 2SO3
SO2 + H2O H2SO3
SO3 + H2O H2SO4
Dampak hujan asam bagi lingkungan : terjadi
kerusakan pada tanaman akibat kenaikan pH
tanah menjadi asam ketandusan lingkungan
Dampak bagi manusia :

Dampak Pencemaran
Hidrokarbon (HC)
Senyawa HC

Benzena

Konsentrasi
(ppm)

Pengaruh terhadap
tubuh

100

Iritasi terhadap
mukosa

3.000

Lemas

7.500

Paralysys

20.000

Kematian

Dampak Pencemaran oleh Partikel


Penyakit Silikosis
Disebabkan o/ pencemaran debu silika bebas (SiO2)
paru-paru & mengendap
Gejala penyakit silikosis sesak nafas yg disertai
batuk-batuk yg tidsk disertai dahak.
Penyakit Asbestosis
Disebabkan oleh debu/serat asbes di udara paru-paru
Gejala sesak nafas & batuk-batuk yg disertai dgn
dahak.
Penyakit Bisinosis
Disebabkan o/ pencemaran debu kapas/serat kapas di
udara paru2
Gejala penyakit pneumokoniosis
Gejala kronis: bronkitis kronis & disertai emphysema

PENYAKIT ANTRAKOSIS
Disebabkan o/ pencemaran debu batubara
mengandng debu silikat penyakit silikosis
Gejala penyakit saluran pernafasan Rasa
sesak nafas Penyakit silikoantrakosis

PENYAKIT BERILIOSIS

Disebabkan o/ pencemaran debu logam


berilium
Gejala penyakit pernafasan (beriliosis) ex;
nasoparingitios, bronkitis & pneumonitis

53
Holgate ST, Samet JM, Koren HS, editors. Air Pollution and Health. UK: Academic Press; 1999.

Biomonitoring

Exposure routes

54

Determinants of exposure, dose and biologically


effective dose that underlie the development of
health effects (Modified from Jaakkola et al., 1994)

55

Pollutant Exposure
(External dose)
Susceptibility Factors

Internal
Dose
Susceptibility Factors

Metabolites, Adducts, or
Biologically Effective Dose
Susceptibility Factors

Early Biological Effects; Altered Structure


and Function; Ultimately Clinical Disease

56

Biomonitoring

Biomarkers

57

Health outcome measures in studies of air


pollution

General

Overall mortality
Morbidity index
Respiratory
Acute and chronic symptoms
Acute infections
Chronic respiratory diseases
Degree of non-specific airways responsiveness
Reduced level of lung function
Increased rate of lung function decline
Decreased rate of lung function growth
Exacerbation of a chronic respiratory disease
Hospitalization for a chronic respiratory disease
Lung cancer
Death secondary to a chronic respiratory disease
Neuropsychological
Reduced performance on neurobehavioural testing
Neuropsychological syndrome
Neuropsychological disease

58

Some other health


endpoints of interest
Cardiovascular disease (AMI, heart
failure)
ECG changes
Hospital admissions
Mortality

Perinatal outcomes
Birth weight and gestational age
Neonatal and infant mortality

Cancer incidence lung cancer


59

EFEK BAHAN PENCEMAR UDARA


Baik gas maupun partikel yg berada di atmosfer
dapat menyebabkan kelainan pada tubuh manusia.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap
individu atau masyarakat dapat berupa :
1. Sakit ( akut atau kronis)
2. Menghambat pertumbuhan / perkembangan
3. Mengganggu fungsi fisiologis ( paru, syaraf,
transpor oksigen oleh Hb, kemampuan sensorik
4. Kemunduran penampilan / prestasi
5. Iritasi sensorik
6. Penimbunan bahan berbahaya dalam tubuh
7. Rasa tidak nyaman ( bau)

60

Respon manusia terhadap kadar SO2 ( Wellburn Alan, 1988)


Konsentrasi ( ppm)

Periode

Efek

0,03 0.5

Kontinyu

Menyebabkan bronkitis

0,3 - 1

20 detik

Perubahan aktivitas
otak

0,5- 1,4

1 menit

Tercium rasa bau

0,3-1,5

15 menit

Meningkatkan
sensitivitas mata

1-5

30 menit

Meningkatkan resistensi
saluran paru dan
kehilangan rasa
pembauan

1,6-5

6 jam <

Konstriksi saluran
hidung dan paru

5-20

> 6 jam

Kerusakan paru yang


bisa pulih jika sumber
polutan segera dibuang

> 20

> 6 jam

Salutam Paru-paru
penuh air dan
jaringan,menyebabkan

61

EFEK POLUTAN OZON (O3)


Menyebabkan iritasi dan rasa kering di
tenggorokan
Peningkatan airway resistance
Sakit kepala, mual, tidak suka makan
Batuk dan nyeri dada serta
pernapasan menjadi pendek
Sembab paru
62

Kriteria Udara bersih dan udara tercemar menurut WHO,


1976.
Parameter

Udara bersih

Udara tercemar

1. Bahan partikel

0,01-0,02 mg/m3

0,07-0,7 mg/m3

2.SO2

0,003-0,02 ppm

0,02-2 ppm

3. CO

< 1 ppm

5-200 ppm

4. NO2

0,003-0,02 ppm

0,02-0,1 ppm

5. CO2
6. HC

310-330 ppm
< 1 ppm

350-700 ppm
1-20 ppm

63

6. EFEK PARTIKULAT
-

Sangat jelas tampak jika udara terkena sinar matahari


langsung dan kelihatan beterbangan di udara

Dibedakan atas partikel padat yang sangat kecil atau


cair atau tetes embun ( droplets) dengan macammacam nama.Misalnya
Grit, partikel berbentuk padat, cepat mengendap
biasanya > 500 mikron
Debu, partikel padat,lambat mengendap 2-500
mikron
Asap, berupa Gas pekat 2 mikron > Mist, berupa tetes
cair di udara 0,1 2 mikron
Aitken nukleus, padat atau tetes cair 0,003-0,1 mikron
64

- Untuk kepentingan kesehatan, partikulat


dibedakan atas partikel yang dapat masuk ke
( disebut RPM= respirable particulate matter)
dalam paru-paru dengan diameter antara 2,5 -10
mikron dan partikel yang tertahan di saluran
hidung, sedangkan > 10 mikron dinamakan debu
-

Setiap menit kita bernapas 15-17 kali dan


setiap
menghirup udara di kota akan terhisap pula
sekitar
60.000 partikel ke dalam paru-paru ( Sastrawijaya
Tresna , 2000)
65

PARTIKULAT :
-PARTIKULAT ANORGANIK
H2O, Hbr, NO2,SO2, SO42- , SO32Cl,

, NH3, HCl,

NH4, dll
-PARTIKULAT ORGANIK:
Benzo ( ) pyrene, chrysene,
benzofluoranthene,
Polycyclic aromatic hydrocarbon ( PAH)

66

67

Fly ash ( abu terbang)


-Berupa partikel kecil,berasal dari cerobong
pembakaran yang tidak menggunakan
alat
kolektor debu
Umumnya dari hasil pembakaran yang
menggunakan bahan bakar batubara
68

Tabel . Komposisi Fly Ash dari pembakaran batubara


tanpa kolektor debu
Komponen ( % sebagai ash )

Prosentase

Silikon ( SiO2)

17.3-63.6

Alumunium ( Al203)

9.81-58.4

Potasium ( K20)

2.8-3.0

Iron ( Fe203)

2.0-26.8

Carbon ( C)

0.37-36.2

Sodium( Na20)

0.2-0.9

Sulfur ( SO2)

0.12-24.33

Calsium ( Ca0)

0.12-14.3

Phosphorus ( P205)

0.07-47.2

Magnesium ( Mg0)

0.06-4.77

Carbonate ( CO3)

0.0-2.6

Titanium ( Ti02)

0.0-2.8

69

- Partikel ini dapat berasal dari proses


alam maupun limbah hasil kegiatan
manusia
- Wujudnya dapat berupa karbon, jelaga,
abu terbang ( fly ash),lemak, minyak,
pecahan material padat
- Umumnya diperoleh karena erosi,
pemotongan zat padat, gesekan,
penyemprotan, penumbukan
70

- Sumbernya terutama cerobong asap


pabrik, kebakaran hutan, emisi
kendaraan bermotor, lalu lintas
kendaraan angkut batubara,
perkebunan, peremukan
batu,pembersihan jalan raya,
pembersihan lantai, letusan gunung
api, dll
- Setiap hari suatu kota/tempat dijatuhi
ribuan partikel dan hal ini berbahaya
bagi kesehatan kita
71

72

73

74

Pencemaran Udara Lainnya


Dampak Kebisingan
Menggangu kenyamanan pendengaran
> 50dB kebisingan
65-80 dB kerusakan alat pendengaran, tuli, stress

Dampak Pemakaian Insektisida


Merangsang timbulnya kanker & gangguan
pernafasan

Dampak Kerusakan Ozon dan Efek Rumah Kaca


Kanker kulit
Suhu bumi naik

KARAKTERISTIK
KARAKTERISTIK PENCEMAR
PENCEMAR UDARA
UDARA
PENCEMAR
UDARA

KARAKTERISTIK

SUMBER

DAMPAK

Partikulat

Partikel padatan
tersuspensi di
udara

Unit
penggilingan,
pengeringan,
pembakaran,
kendaraan
bermotor

Mengurangi
visibilitas, korosi
logam, merusak
bangunan,
gangguan
pernafasan/kesehat
an

NOX

Berwarna
kemerahan, lebih
berat dari udara,
NO, NO2

Pembakaran,
kendaraan
bermotor

Menghambat
pertumbuhan
tanaman, gangguan
kesehatan, hujan
asam pemanasan
global, korosi logam

SOX

Tidak berwarna,
relatif stabil di
atmosfer, berbau
tajam, SO, SO2

Pembakaran
terutama
batubara dan
minyak bumi,

Hujan asam, korosi


logam, merusak
tumbuhan dan
batuan,

KARAKTERISTIK
KARAKTERISTIK PENCEMAR
PENCEMAR UDARA
UDARA
PENCEMA
R UDARA

KARAKTERISTIK

SUMBER

CFC

Stabil, tidak
beracun, tidak
mudah terbakar,
CFCl3, CF2Cl2

Karbon
Oksida

Tidak berwarna,
Pembakaran,
tidak berbau, tidak kendaraan
berasa, CO, CO2
bermotor

CO beracun, bereaksi
dgn haemoglobin dgn
afinitas 300X
dibanding dgn
oksigen. CO2
menangkap panas di
atmosfer, pemanasan
global.

Hidrokarbo
n

Tidak berwarna,
relatif stabil di
atmosfer, berbau
tajam, SO, SO2

Kanker, gangguan
pernafasan, CH4
terlibat dalam
pemansan global

Refrigeran dan
propelan, produkproduk spray

Tangki
penyimpanan,
pembakaran tidak
sempurna,
kendaraan
bermotor,
sawah,penambanga

DAMPAK
Penipisan ozon

DAMPAK
DAMPAK TERHADAP
TERHADAP LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Perubahan lingkungan global yang langsung


maupun tidak langsung akan mempengaruhi
kesehatan adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Pemanasan Global
Lubang atau Penipisan Lapisan Ozon
Efek Rumah Kaca
Hujan Asam
Naiknya permukaan air laut

EFEK
EFEK RUMAH
RUMAH KACA
KACA
Sebagian panas sinar matahari yang diterima
permukaan bumi dipantulkan kembali sebagai radiasi
sinar infra merah ke angkasa efek rumah kaca
(fenomena rumah kaca)
Panas yang timbul di dalam lapisan atmosfer bawah,
dekat dengan permukaan bumi, akan terperangkap.
Keseimbangan energi antara kedua proses tersebut
akan menentukan temperatur rata-rata di permukaan
bumi.
Fenomena rumah kaca sudah berlangsung sejak lama
di lapisan troposfer.
Gas rumah kaca: CO2, CO, methana, N2O, CFC, dll.

PENIPISAN LUBANG OZON

HUJAN
HUJAN ASAM
ASAM
Turunnya derajat keasaman air hujan karena
terjadinya reaksi antara polutan dengan air di udara
membentuk suatu komposisi baru di udara yang
bersifat asam dan turun bersama hujan.
Hujan Asam pH < 5,5
Sumber penyebab hujan asam SOx (bahan bakar
fosil), dan NOx.
Dampak:
1. H2SO4 berikatan dengan partikulat masuk ke sal.
Pernafasan gangguan paru-paru kronis hingga
kanker.
2. Kematian tumbuhan dan hewan. Area jadi gersang.
3. Korosif thd material dan memudarkan warna akibat
adanya asam nitrat yang menjadi oksidator.

KEBAUAN
KEBAUAN (ODOUR)
(ODOUR)
Bau adalah sesuatu yang disebabkan oleh
zat/senyawa an organik atau organik, umumnya
bersifat volatil yang memberikan efek rangsang
terhadap penciuman.
Bau adalah parameter kualitas udara yang bersumber
dari pembusukan limbah (industri/domestik) yang
mengandung unsur sulfida dan nitrogen yg diuraikan
oleh bakteri baik di air, tanah, atau udara secara
anareob menghasilkan senyawa H2S, NH3, Karbon
disulfida (CS2), dll.
Dampak:
1. NH3 iritasi pada sal. Pernafasan, batuk, muntah, dll
2. H2S iritan thd paru-paru, melumpuhkan sal.
pernafasan, hingga kematian karena tersumbatnya
sal pernafasan.

KEBISINGAN & GETARAN


Bising (Noise) dan Getaran (Vibration) sering
dijelaskan perbedaannya dengan menyebut
bahwa bising adalah sesuatu fenomena yang
dapat didengar (Hearing) sedangkan getaran
adalah fenomena yang dapat dirasakan
(Feeling).
Pada umumnya tidak semua suara
menimbulkan getaran yang dapat dirasakan.
Namun dapat dikatakan bahwa semua getaran
pasti dapat didengar.

PENGERTIAN
Kebisingan dapat diartikan sebagai bentuk
suara yang tidak dikehendaki atau bentuk
suara yang tidak sesuai dengan tempat dan
waktunya. Pengertian bising dalam Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP.
48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan didefinisikan sebagai Bunyi yang
tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan
dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan manusia
dan kenyamanan lingkungan.

DUA HAL YANG MENENTUKAN KUALITAS


BISING SUATU BUNYI:
1. Frekuensi, yang dinyatakan dalam jumlah getaran
per detik atau disebut Hertz (Hz), yaitu jumlah
dari gelombang-gelombang yang sampai di
telinga setiap detiknya.
2. Intensitas atau arus energi per satuan luas,
biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang
disebut decibel. (dB(A)).
Skala A artinya pembobotan dengan skala
A=Weighted Sound Level, karena telinga manusia
kurang memberikan reaksi pada frekuensi
rendah dan tinggi dibandingkan frekuensi seperti
pada saat berbicara.

SKALA INTENSITAS KEBISINGAN


DESIBEL

BATAS DENGAR TERTINGGI

Menulikan

120
110

Halilintar
Meriam
Mesin uap

Sangat Hiruk

100
90

Jalan hiruk pikuk


Perusahaan sangat gaduh
Pluit polisi

Kuat

Sedang

Tenang
Sangat Tenang

80
70

Kantor gaduh
Jalan pada umumnya
Radio
Perusahaan

60
50

Rumah gaduh
Kantor umumnya
Percakapan kuat
Radio perlahan

40
30

Rumah Tenang
Kantor Perorangan
Auditorium
Percakapan

20
10
0

Suara daun-daun
Berbisik
Batas dengar terendah

JENIS KEBISINGAN
1. BISING YANG KONTINYU (STEADY
NOISE).
Jenis bising ini mempunyai tingkat tekanan
suara yang relative sama selama terjadinya
bising. Contoh penyebab bising ini adalah
air terjun, mesin pembangkit tenaga listrik,
mesin industri, dan lain-lain.
2.

BISING YANG TIDAK TERUS-MENERUS.


Jenis bising ini mempunyai tingkat tekanan
suara yang berbeda-beda selama bising
berlangsung. Contoh penyebab bising ini
adalah lalu lintas kendaraan bermotor (dari
jarak
dekat), suara senjata, pesawat terbang sedang
lewat, dan sebagainya.

DAMPAK TERHADAP MANUSIA


Gangguan kebisingan dapat berakibat buruk bagi
manusia, baik secara psikis maupun fisik. Gangguan
fisik adalah jika kebisingan itu mengakibatkan
kerusakan organ pendengaran manusia, sedangkan
gangguan psikis adalah reaksi manusia pada
kebisingan yang cenderung menjurus stress.
Tinggi rendahnya tingkat kebisingan akan
mempengaruhi tinggi rendahnya dampak pada
manusia. Tingkat kebisingan di atas 85 dB(A), tidak
hanya mengganggu aspek psikologis, tetapi juga
akan merusak aspek fisiologik ke pendengaran
sesudah periode ulangan pemaparan selama 8 jam
atau lebih.

SUMBER BISING

MEDIA PENCEGAH

ALAT
PENDENGARAN

DAMPAK NEGATIF KEBISINGAN


1.

Gangguan psikologik, yang berupa:


- Sukar berkonsentrasi & Sukar tidur
- Mudah marah
- Kepala pusing & Cepat lelah
- Menurunkan daya kerja
- Menimbulkan stress

2.

Gangguan pendengaran, yaitu hilangnya pendengaran


seseorang, jika dibiarkan berlanjut dapat menderita
ketulian yang bersifat:
- Sementara,
- Permanen

3.

Gangguan tubuh lainnya, yang dapat berupa:


- Ketegangan otot
- Kontraksi pembuluh darah
- Meningkatnya tekanan darah
- Meningkatnya denyut jantung
- Meningkatnya produksi adrenalin

International Standard Organization (ISO)


mengeluarkan acuan tentang derajat gangguan
1. Gangguan pendengaran tingkat ringan, jika seseorang
tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat
kebisingan 25-40 dB(A) (hearing loss 25-40 dB(A)).
2. Gangguan pendengaran tingkat sedang, jika seseorang
tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat
kebisingan 40-55 dB(A) (hearing loss 40-55 dB(A)).
3. Gangguan pendengaran tingkat berat, jika seseorang
tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat
kebisingan > 55 dB(A) (hearing loss >55 dB(A))).
4

Jadi pada hearing loss pada tingkat kebisingan 0-25


dB(A) masih dalam keadaan normal atau tidak ada
gangguan pendengaran.

PENGARUH KEBISINGAN DISEBABKAN


BEBERAPA FAKTOR
1. Intensitas Kebisingan
Makin tinggi intensitasnya, makin besar risiko untuk
terjadinya gangguan pendengaran.
2. Frekuensi Kebisingan
Makin tinggi frekuensi kebisingan, makin besar
kontribusinya untuk terjadinya gangguan pendengaran.
3. Jenis Kebisingan
Kebisingan yang kontinyu lebih besar kemungkinannya
untuk
menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran
daripada kebisingan yang terputus-putus.
4. Lama Pemaparan
Makin lama pemaparannya, makin besar risiko untuk
terjadinya gangguan pendengaran.

5. Lama Tinggal
Makin lama seseorang tinggal di sekitar kebisingan,
makin besar risiko untuk terjadinya gangguan
pendengaran.
6. Umur
Pada umumnya, sensitivitas pendengaran
berkurang
dengan bertambahnya umur.
7. Kerentanan Individu
Tidak semua individu yang terpapar dengan
kebisingan pada kondisi yang sama akan mengalami
perubahan nilai ambang pendengaran yang sama
pula. Hal ini disebabkan karena respon tiap-tiap
individu pada kebisingan berlainan, tergantung dari
kerentanan tiap-tiap individu.

BAKU MUTU TINGKAT KEBISINGAN


PERUNTUKAN KAWASAN/
LINGKUNGAN KEGIATAN

A. Peruntukan Kawasan
1. Perumahan dan Permukiman
2. Perdagangan dan Jasa
3. Perkantoran dan Perdagangan
4. Ruang Terbuka Hijau
5. Industri
6. Pemerintahan dan Fasum
7. Rekreasi
Bandar Udara*
Stasiun Kereta Api*
Pelabuhan Laut
Cagar Budaya
B. Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit dan Sejenisnya
2. Sekolah atau sejenisnya
3. Tempat Ibadah atau Sejenisnya

KepMen LH No. 48/MNLH/11/1996

TINGKAT KEBISINGAN
dB (A)
55
70
65
50
70
60
70
70
60
55
55
55

NILAI AMBANG BATAS


Untuk mencegah kemungkinan gangguan pada
manusia terutama ketulian akibat bising (noise
induced hearing loss), maka telah ditetapkan batas
pemaparan yang aman terhadap bising untuk jangka
waktu tertentu, dan dikenal dengan sebutan Nilai
Ambang Batas (threshold limit value).
Nilai ambang batas dimaksudkan sebagai batas
konsentrasi dimana seseorang dapat terpapar dalam
lingkungan kerjanya selama 8 jam sehari, 40 jam
seminggu berulang-ulang kali tanpa mengakibatkan
gangguan kesehatan yang tidak diinginkan.

NILAI AMBANG BATAS


Derajat
Kebisingan
85
90
95
100
105
110
115

Lama Pemaparan yang


Diperbolehkan (jam)
8
4
4
1
0,5
0,25
0,125

DAMPAK GETARAN DAPAT


DIKELOMPOKKAN MENJADI:
1. Terganggunya kenyamanan dan kesehatan
manusia.
2. Dapat menyebabkan kerusakan pada
bangunan dan komponen bangunan.
3. Dampak Getaran Kejut.

PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA


Upaya pengendalian pencemaran udara
dapat dilakukan melalui:
1.
Penelitian dan Pemantauan
2.
Peraturan Perundangan
3.
Teknologi Pengendalian Pencemaran

PENGENDALIAN PENCEMARAN
1. TEKNOLOGI
Perubahan paradigma pengelolaan limbah:
End of Pipe Treatment minimisasi limbah
minimisasi limbah
a. Source Reduction (reduksi pada sumbernya)
substitusi bahan
b. Reuse
c. Recycle
3R
d. Recovery
2. PERATURAN PERUNDANGAN & PROGRAM
KEBIJAKAN
a. Baku Mutu (ambien, emisi, effluen, down stream,
upstream)
b. Amdal, UKL-UPL, Audit Lingkungan,
c. PROPER, Adipura, Kota Praja, Produksi Bersih, Langit
Biru,
Prokasih, dll.

PENGENDALIAN PENC. UDARA


1. TEKNOLOGI.
Contoh:
1. Dust Precipator/Collector
2. Filter
3. Catalitic Converter
4. Substitusi Bahan Baku
2. PENEMPATAN SUMBER EMISI (dengan
mempertimbangkan hasil simulasi terhadap kondisi
meteorologis, topografi, self
purification, dll)
3. PENEMPATAN PENGHALANG
4. PERATURAN
5. MONITORING

PENGENDALIAN KEBISINGAN
PENGURANGAN KEBISINGAN PADA SUMBERNYA:
a. Mengurangi vibrasi sumber kebisingan, berarti
mengurang
tingkat kebisingan yang dikeluarkan
sumbernya.
b. Menutupi sumber suara.
c. Melemahkan kebisingan dengan bahan penyerap suara
atau peredam suara.
PENEMPATAN PENGHALANG:
d. Menghalangi merambatnya suara (penghalang).
e. Memperpanjang jarak antara sumber bising & manusia.
f. Melindungi ruang tempat manusia atau makhluk lain
berada dari suara.
PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI
g. Melindungi telinga dari suara (tutup telinga/ear muffs/
ear
plugs).

CONTOH LAIN PENGENDALIAN


KEBISINGAN
1. Menggunakan alat-alat yang lebih rendah
kebisingan yang dikeluarkannya.
2. Menggunakan cara pengelolaan yang kurang
bising.
3. Pemilihan bahan-bahan yang mengurangi
kebisingan.
4. Penanaman pagar dan tanaman peredam suara
(tanaman hanya mampu mereduksi kebisingan
hingga 2,23 dB(A) dan nilai ini masih jauh lebih
rendah dibandingkan tembok yang mampu
mereduksi
6,59 dB(A).
5. Maintenance dan Housekeeping yang baik terhadap
peralatan.
6. Dan lain sebagainya.

CONTOH LAIN PENGENDALIAN KEBISINGAN


AKIBAT KEGIATAN LALU LINTAS

1. Penggunaan peredam suara mesin mobil


(knalpot)
2. Mengurangi kepadatan lalu lintas
3. Membuat landscaping yang dapat meredam
suara, misalnya dengan menanami pohon,
semak dan perdu di kiri-kanan jalan.
4. Membuat badan jalan yang meredam dan
permukaan jalan yang halus.
5. Dan sebagainya.

PERHITUNGAN TINGKAT KEBISINGAN


RUMUS:
L24 = 10 Log 1/24 (16.10 0,1 . LS + 8.10 0,1 .
(Lm + 10))
Dimana:
L24 = nilai Leq selama 24 jam
Ls
= nilai Leq sepanjang siang hari (16 jam)
dari jam
06.00 s/d 22.00.
Lm = nilai Leq sepanjang malam hari (8 jam)
dari jam
22.00 s/d 06.00

GETARAN
Getaran adalah suatu gerakan dari hasil kegiatan yang
dapat dirasakan (feeling).
1. Akibat Tingkat Getaran tertentu yang dihasilkan dari
suatu kegiatan dapat menimbulkan gangguan kesehatan
manusia, makhluk hidup lainnya dan lingkungan.
2. Getaran adalah gerakan bolak-balik suiatu massa
melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan.
3. Getaran Mekanik adalah getaran yang disebabkan oleh
sarana/peralatan kegiatan manusia.
4. Getaran Kejut adalah getaran yang berlangsung secara
tiba-tiba dan sesaat.
5. Baku Tingkat Getaran Mekanik dan Getaran Kejut adalah
batas maksimal Tingkat Getaran Mekanik yang
diperbolehkan dari suatu usaha atau kegiatan pada
media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan
terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan
bangunan.

Metode Pengumpulan Data


Kimia Fisika (Udara)

Metode Pengumpulan Data


Kimia Fisika (Udara)
1. LOKASI DAN TITIK PENGAMBILAN SAMPEL
2. PARAMETER KUALITAS LINGKUNGAN
3. UKURAN, JUMLAH, DAN VOLUME SAMPEL
4. HOMOGENITAS SAMPEL
5. JUMLAH TITIK PENGAMBILAN SAMPEL
6. WAKTU PENGAMBILAN SAMPEL

PERILAKU
KONSENTRASI
SENYAWA
Pengaruh parameter meteorologis sangat
ATMOSFER
perlu
diperhatikan.
Konsentrasi senyawa yang diukur akan
merupakan suatu fungsi dari:
1. intensitas emisi sumber emisi,
2. keadaan meteorologis,
3. potensi dispersi atmosfer (angin,
kecepatan,
arah,kelembaban, radiasi, sinar matahari,
tekanan, temperatur,
4. jarak titik pengukuran

TUJUAN SAMPLING DAN ANALISIS


1.

SAMPLING UDARA AMBIEN.

mengetahui tingkat pencemaran yang


ada
di suatu daerah, dengan
mengacukannya
pada ketentuan perundangan yang
berlaku.

Data Base dalam evaluasi pengaruh


(pengembangan kota, tata guna lahan,
transportasi, evaluasi penerapan strategi
pengendalian pencemaran)

Pengamatan kecenderungan tingkat


pencemaran

Mengaktifkan & menentukan prosedur


pengendalian darurat.

Untuk pengambilan sampel


udara ambien, yang perlu diukur
adalah:
a. kecepatan angin,
b. arah angin,
c. suhu dan,
d. kelembaban udara,
Pengukuran itu sangat berguna
sebagai bahan interpretasi data
hasil pengujian di laboratorium.

Pertimbangan sampling udara ambien


Di samping itu, faktor meteorologi, seperti arah angin,
kecepatan angin, suhu udara, kelembaban, dan faktor
geografi, seperti topografi dan tata guna lahan, harus
dipertimbangkan.
Beberapa acuan dalam menentukan titik pengambilan adalah:
1) Hindari daerah yang dekat dengan gedung, bangunan, dan
atau pepohonan yang dapat mengabsorpsi atau
mengadsorpsi pencemar udara ke gedung atau
pepohonan tersebut.
2) Hindari daerah di mana terdapat pengganggu kimia yang
dapat memengaruhi polutan yang akan diukur. Contoh
pengganggu itu adalah gas emisi kendaraan bermotor yang
secara kimiawi dapat menggangu pengukuran ozon.
3) Hindari daerah di mana terdapat pengganggu fisika yang
dapat memengaruhi hasil pengukuran. Sebagai ilustrasi,
pengukuran total partikulat di dalam udara ambien tidak
diperkenankan di dekat insinerator.

Pertimbangan sampling udara ambien


Sedapat mungkin letakkan peralatan di daerah terbuka atau di
daerah dengan gedung atau bangunan relatif rendah dan saling
berjauhan. Penempatan peralatan di atap bangunan lebih haik
bagi daerah pemukiman yang cukup padat atau perkantoran.
Lalu, apabila peralatan tersebut diletakkan di sana, harus
dihindari pengaruh emisi gas buang dan dapur, insinerator, atau
sumber lainnya.
Sementara itu, roadside adalah tepi jalan raya yang secara
langsung memengaruhi pencemaran udara sumber bergerak yang
disebabkan oleh relatif tingginya kepadatan lalu lintas.
Pengambilan sampel udara roadside yang bertujuan mengetahui
kualitas udara setelah memperoleh dampak emisi kendaraan
bermotor harus memenuhi ketentuan seperti pengambilan sampel
udara ambien. Ada pun lokasi pengambilannya ditentukan pada
jarak 15 meter dan tepi jalan raya dengan ketinggian 1,53
meter dan permukaan jalan (RSNI, 2004).

2.

SAMPLING UDARA SUMBER/EMISI

SAMPLING
MengetahuiDAN
dipenuhi
tidaknya
TUJUAN
ANALISIS

peraturan
emisi.

Mengukur tingkat emisi berdasarkan laju


produksi industri yang ada.
(kesetimbangan proses & emisi)

Evaluasi keefektifan metode


pengendalian
dan peralatan pengendali
Beberapa jenis kesalahan:
a.
Kesalahan sampling dengan
pertimbangan
faktor lingkungan,
metode penangkapan
b.
Kesalahan dalam analisis laboratorium

TITIK PEMANTAUAN
TITIK PEMANTAUAN DISESUAIKAN DENGAN MAKSUD
DAN TUJUAN BERDASARKAN SUMBER PENCEMAR:
1. PEMANTAUAN TITIK SUMBER (EMISI)
mengukur kadar emisi sumber emisi
2. PEMANTAUAN DAERAH DAMPAK
mengukur di sebelah hilir angin (down wind) yang
menerima secara langsung pengaruh emisi.
3. PEMANTAUAN DAERAH REFERENSI
mengetahui latar belakan kualitas udara
(rona awal/kontrol) up wind area atau hulu.
4. PEMANTAUAN PENGARUH SUMBER LAIN
mengetahui pengaruh sumber utama pencemar
lain
selain sumber yang diamati

Pengambilan sampel
dilakukan pada bagian
cerobong yang berukuran
delapan kali diameter
bawah atau dua kali
diameter atas dan bebas
dan gangguan aliran
seperti bengkokan,
ekspansi, atau
penyusutan aliran di
dalam cerobong.

TEKNIK PENGUMPULAN & ANALISIS DATA


KUALITAS UDARA AMBIEN, NOISE & OPASITAS
PARAMETER

ALAT SAMPLING

METODE
SAMPLING

METODE
ANALISIS

HIDROCARBON

CARBON TUBE &


AIR PUMP

DRY METHOD

FLAME IONIZATION

SULFUR DIOKSIDA

IMPINGER & AIR


PUMP

WET METHOD

PARAROSANILIN

NITROGEN OKSIDA

IMPINGER & AIR


PUMP

WET METHOD

SALTZMAN

OZON

IMPINGER & AIR


PUMP

WET METHOD

CHEMILUMINESCEN
T

KARBON MONOKSIDA

IMPINGER & AIR


PUMP

WET METHOD

NDIR

KARBON DIOKSIDA

IMPINGER & AIR


PUMP

WET METHOD

INFRA RED

DEBU

HVAS

DRY METHOD

GRAVIMETRIK

TIMBAL

HVAS

DRY METHOD

AAS

KEBISINGAN

SOUND LEVEL
METER

DIRECT
READING

MATHEMATIC

OPASITAS

OPASIMETER

DIRECT

DIRECT READING

WAKTU SAMPLING
SOx

NOx
CO
HC
CO2
Debu
Pb
Kebisingan
O3

pagi (06.00-09.00),
siang (11.00-13.00),
sore (16.00-18.00).
idem
idem
idem
idem
idem
idem
idem (+ malam hari)
pagi (06.00-09.00),

HIGH
HIGH VOLUME
VOLUME AIR
AIR SAMPLER
SAMPLER HVAS
HVAS
-- sampling
sampling debu,
debu, logam,
logam, outdoor
outdoor (dry
(dry method
method by
by filter
filter paper)
paper)

INSTRUMEN LAPANGAN PENGUMPULAN DATA


KUALITAS KIMIA FISIKA UDARA
KUALITAS UDARA
1.
Air Pump
2.
HVAS LVAS
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Impinger
Botol Sampel
Anemometer
Hygrometer Sling
Opasimeter
matahari
Sound Level Meter
Cool Box
Kertas Label
Alat Tulis
GPS

: Pompa udara (prinsip vakum)


: Vakum penghisap udara untuk
sampling debu/partikulat
: Tabung larutan penyerap
: Botol sampel untuk wet method
: Ukur kecepatan angin
: Ukur kelembaban
: Ukur kemampuan tembus cahaya
: Ukur kebisingan
: Tempat sampel/pendingin
: Coding sample
: Tentukan koordinat lokasi sampling

A.MONITORING KUALITAS LINGKUNGAN


Di dalam aspek pengelolaan pencemaran
lingkungan, kegiatan monitoring dapat
dipusatkan kepada :
Monitoring faktor ( pemantauan terhadap
bagian lingkungan yang berbeda, misalnya
terhadap kualitas udara, air, tanah, biota, dll)
Monitoring sasaran ( pengaruh pencemar
pada ekosistem alamiah dan biota yang
berhubungan)

SOURCE

WORKING AREA

WORKERS

EMISSION

SPREAD

EFFECT ON
HEALTH :
- Inhalation
- ingestion
- skin

Monitoring faktor yakni dengan melakukan


pengukuran paparan atau besarnya dosis
bahan toksis ( kimia, fisika) pada suatu
media lingkungan. Contohnya adalah
monitoring emisi ke lingkungan,
keberadaan polutan dalam lingkungan
( pada permukaan sasaran, di dalam tubuh
organisme, dll).
Caranya :
-Identifikasi sifat-sifat bahan toksis
-Pengukuran konsentrasi dan pemaparannya

MONITORING FAKTOR FISIKA KIMIA


POLUTAN
- Kualitas Udara ( Udara Ambien,
Udara Emisi, udara dalam ruang kerja )
- Kualitas Air ( Badan air, Air Limbah)
- Kualitas Tanah
* Lokasi TPA/B3
* Tercemar

Pengukuran kualitas udara ambien


bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat
pencemar yang ada di udara.
Data hasil pengukuran tersebut sangat
diperlukan untuk berbagai kepentingan,
diantaranya :
-untuk mengetahui tingkat pencemaran
udara di suatu daerah atau
- untuk menilai keberhasilan program
pengendalian pencemaran udara yang
sedang dijalankan.

Untuk mendapatkan hasil pengukuran


yang valid ( yang representatif) , maka
dari mulai pengambilan contoh udara
( sampling) sampai dengan analisis di
laboratorium harus menggunakan
peralatan, prosedur dan operator
( teknisi, laboran ,analis dan
chemist ) yang dapat
dipertanggungjawabkan .

Teknik sampling kualitas udara dilihat


lokasi pemantauannya terbagi dalam
dua kategori yaitu teknik sampling
udara emisi dan teknik sampling udara
ambien.
Sampling udara emisi adalah teknik
sampling udara pada sumbernya :
- cerobong pabrik dan
- saluran knalpot kendaraan bermotor.

Teknik sampling kualitas udara ambien adalah


sampling kualitas udara pada media
penerima polutan udara/emisi udara.
Untuk sampling kualitas udara ambien, teknik
pengambilan sampel kualitas udara ambien
saat ini terbagi dalam dua kelompok besar
yaitu:
a. pemantauan kualitas udara secara aktif
(konvensional) dan
b. secara pasif.
Dari sisi parameter yang akan diukur,
pemantauan kualitas udara terdiri dari
pemantauan gas dan partikulat.

Gambar . Klasifikasi Sampling Kualitas Udara

Pemantauan parameter partikulat secara


konvensional (aktif sampling) metoda passive
sampling dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Metoda Pengujian Partikulat dari Udara Ambien
secara Aktif
Partikulat atau debu adalah suatu benda padat
yang tersuspensi di udara dengan ukuran dari 0,3
m sampai 100 m, berdasarkan besar ukurannya
partikulat (debu) ada dua bagian besar yaitu debu
dengan ukuran lebih dari 10 m disebut dengan
debu jatuh (dust-fall) sedang debu yang ukuran
partikulatnya kurang dari 10 m disebut dengan
Suspended Partikulate Matter (SPM).
Debu yang ukurannya kurang dari 10 m ini
bersifat melayang-layang di udara.

Peralatan yang dipakai untuk melakukan


pengukuran debu SPM (melayang-layang) ada
beberapa jenis alat diantaranya :
1. HVS (High Volume Sampler)
Cara ini dikembangkan sejak tahun 1948
menggunakan filter berbentuk segi empat
seukuran kertas A4 yang mempunyai porositas
0,3 - 0,45 m dengan kecepatan pompa berkisar
1.000 1.500 lpm. Pengukuran berdasarkan
metoda ini untuk penentuan sebagai TSP (Total
Suspended Partikulate). Alat ini dapat digunakan
selama 24 jam setiap pengambilan contoh udara
ambien. Bentuk alat HVS dapat dilihat pada
Gambar di bawah ini :

Gambar . High Volume Sampler

Cara operasional alat ini adalah sebagai berikut :


Panaskan kertas saring pada suhu 105 oC, selama 30 menit.
Timbang kertas saring, dengan neraca analitik pada suhu 105
oC dengan menggunakan vinset (Hati-hati jangan sampai
banyak tersentuh tangan)
Pasangkan pada alat TSP, dengan membuka atap alat TSP.
Kemudian dipasangkan kembali atapnya.
Simpan alat HVS tersebut pada tempat yang sudah ditentukan
sebelumnya .
Operasikan alat dengan cara, menghiduo (pada posisi On )
pompa hisap dan mencatat angka flow ratenya (laju alir
udaranya).
Matikan alat sampai batas waktu yang telah ditetapkan.
Ambil kertasnya, panaskan pada oven listrik pada suhu
Timbang kertas saringnya.
Hitung kadar TSPnya sebagai mg/NM3
Metoda penggunaan alat ini bisa juga dilakukam, terhadap pm
10 atau pun dilanjutkan pada pengukuran parameter logam.

2.MVS (Middle Volume Sampler).


Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan
porositas 0,3-0,45 m, kecepatan pompa yang dipakai untuk
pengangkapan suspensi Particulate Matter ini adalah 50 500 lpm.
Alat MVS dapat dilihat pada Gambar 3.

Operasional alat
ini sama dengan
High Volume
Sampler, hanya
yang membedakan
dari ukuran filter
membrannya. HVS
ukuran A 4 persegi
panjang, sedang
MVS ukuran bulat
diameter 12 cm.
Gambar . Middle Volume Sampler

3.LVS (Low Volume Sampler)


Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan
porositas 0,3-0,45 m, kecepatan pompa yang dipakai untuk
pengangkapan Suspensi Partikulate Matter ini adalah 10 30 lpm. Alat
LVS dapat dilihat pada Gambar .

Gambar . Low Volume Sampler

B. MONITORING POLUTAN PADA SASARAN


Melakukan analisis terhadap pengaruh
pencemar pada ekosistem alamiah dan
biota yang berhubungan.
- Studi hubungan respon organisme
terhadap kadar polutan ( studi lapangan/
di lab)
- Studi ambang batas polutan yang
dapat ditoleransi suatu organisme dalam
suatu lingkungan
- Studi tingkat mortalitas organisme akibat
terpapar suatu polutan

- Uji respon genetis suatu organisme

thdp polutan
- Analisis akumulasi polutan di dalam
organisme yang diduga terpapar
- Uji morbidity/kesakitan
- Evaluasi dampak terhadap kesehatan
masyarakat
- Analisis respon komunitas terhadap
hadirnya polutan di dalam
lingkungan

JENIS MONITORING :
1. Swapantau
2. Pentaatan Terhadap peraturan
perundang-undangan (dengan
supervisi Bapedalda/KLH)

Sampling udara ambien dilakukan dengan


tujuan tujuan sebagai berikut :
Untuk mengetahui tingkat pencemaran udara
yang ada di suatu daerah, dengan mengacu
kepada ketentuan dan peraturan mengenai
kualitas udara yang berlaku dan baku kualitas
udara yang berlaku.
Untuk mengamati kecenderungan tingkat
pencemaran yang ada di daerah pengendalian
pencemaran udara tertentu, termasuk daerah
perkotaan.

Sampling udara ambient dilakukan dengan


beberapa cara :
- Sampling menerus ( kontinu ) pada interval
waktu yang reguler.
-Sampling setengah kontinu ( semi kontinu ),
mingguan, bulanan atau semesterial.
-Sampling sesaat / tidak kontinu, pada saat
saat diperlukan saja.

Dalam melakukan sampling udara, kita dapat membagi daerah


monitoring (pemantauan) atas tiga daerah dengan keperluan dan
cara sampling yang berbeda-beda satu sama lainnya, yaitu :
1.Daerah ambient
Daerah ambient merupakan daerah tempat tinggal penduduk
(pemukiman) dimana diperkirakan seseorang mengalami
keterpaan terhadap zat pencemar yang berlangsung selama 24
jam. Sehingga, konsentrasi zat pencemar udara harus sekecil
mungkin dan memenuhi baku mutu udara yang dipersyaratkan.
2. Daerah tempat kerja (work place)
Daerah tempat kerja (work place) merupakan daerah dimana
seseorang bekerja selama periode waktu tertentu. Biasanya
seseorang bekerja di industri/pabrik selama 8 jam per hari,
sehingga keterpaan zat pencemar terhadap seseorang yang
bekerja diharapkan tidak mengganggu kesehatannya.
3. Daerah/sumber pencemar udara
Daerah/sumber pencemar udara, yang berasal dari cerobong
asap pabrik perlu dilakukan monitoring terhadap jenis dan
konsentrasi zat pencemar, minimal setiap penggantian teknologi
proses dan penggunaan bahan baku yang berbeda.

Pengertian sampling disini adalah pengambilan


suatu contoh udara pada tempat-tempat
tertentu, dimana diharapkan konsentrasi zat
pencemar yang didapat dari hasil pengukuran
dapat mewakili konsentrasi contoh secara
keseluruhan.
Dalam melakukan sampling udara ini, ada
beberapa faktor yang menentukan hasil
analisisnya, diantaranya :
1. Arah angin
2. Kecepatan angin (m/s)
3. Waktu dan lama pengambilan contoh (jam)
4. Tekanan udara (mmHg)
5. Temperatur udara (oC)
6. Kelembapan udara (%)
7. Pola terdifusinya zat pencemar

Dalam melakukan sampling kualitas


udara ketujuh hal diatas haruslah dicatat
saat pelaporan kualitas udara sebagai
faktor yang mempengaruhi kualitas
udara.
Termasuk juga, dekat atau jauhnya
industri dari lokasi sampling, jarak dan
ramainya kendaraan bermotor serta
aktivitas penduduk.

Alat :
- Midget impinger
- Spektrofotometer
- Gelas Ukur
- Labu Ukur
- Labu Erlenmeyer
- Vacum Pump
- Flow meter

Dalam melakukan pengumpulan gas pencemar dengan metode ini ,


perlu diperhatikan efisiensi pengumpulan gas pencemar . Untuk itu,
dalam pelaksanaannya harus digunakan alat absorber , pereaksi
kimia , waktu sampling dan laju aliran yang sesuai dengan prosedur
standar yang ditetapkan Contoh teknik absorpsi adalah : Pengukuran SO2 dengan metode pararosaniline, - NOx dengan
metode Saltzman - Pengukuran ozon /oksidan dengan metode NBKI

METODE DAN ALAT PENGUKURAN


PARAMETER
SO2
CO
NO2
O3
Hidrokarbon
PM10
PM2,5
TSP
Pb
Debu jatuh
Total fluorida
Fluor Indeks
Klorin dan Klor
dioksida
Sulfat indeks

METODE

ALAT

Pararosanilin
NDIR
Saltzman
Chemiluminesens
Flame Ionization
Gravimetri
Gravimetri
Gravimetri
GravimetriPengabuan
Gravimetri
Elektroda Ion
Selektif
Kolorimetri
Elektroda Ion
Selektif

Spektrofotometer
NDIR Analyser
Spektrofotometer
Spektrofotometer
Gas Kromatografi
Hi-Vol
Hi-Vol
Hi-Vol
AAS
Timbangan
Impinger
Lime Filter Paper
Impinger
Lead Perokside

Particulate matter
PM,
is the term for particles found in the air,
including dust, dirt, soot, smoke, and liquid
droplets. Particles can be suspended in the
air for long periods of time. Some particles
are large or dark enough to be seen as soot
or smoke. Others are so small that
individually they can only be detected with
an electron microscope.

Sumber P.M. di atmosfir

The PM-10 sampler is one example of sizeselective samplers. In industrial hygiene


three size-selective mass fractions are
used:
(1) inspirable mass fraction for particles
that are able to enter the head,
(2) thoracic mass fraction for particles that
enter the lung during mouth breathing,
and
(3)respirable mass fraction for particles that
enter the deep lung during nose
breathing.

Thoracic particulate mass is about equivalent


to PM-10 as described by the U.S.
Environmental Protection Agency.
Respirable particulate mass represents a PM3.5 since the cut size is at 3.5 m m (the newly
proposed ambient standard is for a 2.5 m m
cut-point).
Inertial separators such as aerosol cyclones
(figure 4) are frequently used for sizeselective sampler inlets followed by a suitable
filter.

Alat Pengukur Partikel Materi

BGI Sampler Collocation

P.M. Sampling
BGI, Andersen and R&P Collocation/Comparison

Andersen Single Channel Sampler

R&P Single Channel Sampler

BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL


Paramet
er

B.M.
(24
jam)

B.M.
(1
tahun)

900

365

60

30.000

10.000

NO2

400

150

O3

235

SO2
CO

H.K.

B.M.
( 1 jam)

B.M.
( 3 jam)

100
50

160

PM10

150

PM2,5

65

15

230

90

Pb
Dustfall

Total F

TSP

10 - 20

Fluor-I
Cl2-ClO
Sulfat- I

B.M.
(30 hari)

0,5
40

150
1

Indeks Kualitas Udara

Good

Moderat
e

Unhealthy
(for sensitive
groups)

Unhealth
y

Very
Unhealthy

Hazardou
s

0
BAIK

51
SEDANG

101

151

TIDAK SEHAT

201

> 30

SANGAT BERBAHAYA
TIDAK SEHAT

KUALITAS UDARA

Indeks

Tingkatan

0 50

Baik

51 100

Sedang

101
150

Tidak
SehatKel.
Sensitif

151
200

Tidak Sehat

201
300

Sangat tidak Sangat peka untuk anak-anak dan


sehat
orang sakit pernapasan

> 300

Berbahaya

Keterangan / Akibat
Tidak ada
Kurangi berada di luar rumah
Peka untuk orang sakit
pernapasan (asma, dll.)
Peka untuk anak-anak dan orang
sakit pernapasan

Jangan ke luar rumah

Tabel Indeks Kualitas Udara


Indeks

PM10
(24
jam)

SO2
(24
jam)

CO
(8 jam)

O3
(1 jam)

NO2
(1 jam)

50

50

80

120

100

150

365

10

235

200

350

800

17

400

1130

300

420

1600

34

800

2260

400

500

2100

46

1000

3000

500

600

2620

57,5

1200

3750

CARA PERHITUNGAN
Ia - Ib
IKU = ------------ (Xx Xb) + Ib
Xa - Xb
IKU = Indeks Kualitas Udara Hasil Perhitungan
Ia = IKU batas atas
Ib = IKU Batas bawah
Xa = ambien batas atas
Xb = ambien batas bawah
Xx = Kandungan gas / pencemar di udara ambien

Contoh Perhitungan
Hasil pengukuran SO2 di udara = 322
Dari Tabel:
Ia = 100
Ib = 50
Xa = 365
Xb = 80
Masukkan ke dalam rumus, akan diperoleh:
Indeks Kualitas Udara untuk SO2 = 92,45 = 92
Kesimpulan, tidak ada akibat

What are Contaminants ?


Contaminants are :
1. Products or substances other than
product manufactured
2. Foreign products
3. Particulate matter
4. Micro-organisms
5. Endotoxins (degraded micro-organisms)
Cross-contamination is a particular
case of contamination

Airborne Contaminants
Particle sizes

Bioaerosol Sampling
Analysis by non-culture-based methods
(e.g. spore trap, Air-O-Cell cassette)
Identification and quantitation of
(non-viable) particulate matter,
including fungal spores, hyphae,
etc.
Predominant individual genera and /
or species identified
relative rank or relative
prevalence
indoor / outdoor ratio

The BioCassetteTM

Types of Biological Samples

Gambar Fungi mikroskopis


Stachybotrys

Sumber-sumber &
Penyebab kualitas udara
yg buruk

Kimiawi
Biologis
Fisika
Psikososial

Sumber-sumber
Biologis

Pollen
Mold / Fungus
Bacteria
Viruses
By-products of
microbes

Epithelial cells
Pet dander
Human skin particles

Dust mites
Insects
insect parts)
Roaches

(&

Sumber biologis
Air pada Pipa /
daerah gelap dan
lembab
Humidity / microbial
growth / trigger
illness & allergies
Humidity / dust mite
growth causes
asthma / allergies

Sterile Swabs

Types of Biological Samples


Air
Viable or Culture-based
Employs the use of an Andersen (or similar)
sampler
Results usually reported as colony forming
units per cubic meter of air (CFU/m 3)
Non-viable or Non-culture-based
Employs the use of a spore trap sampler
Results usually reported as particles per
cubic meter of air (particles/m3)

Bioaerosol Sampling
Fungi and bacteria by impactor / culture
plate methods (i.e. Andersen sampler)
Requires sanitary handling
28.3 Liters (1 cubic foot) per minute
Predominant individual genera and / or
species identified
Relative prevalence
Indoor / outdoor ratio

Types of Biological Samples

Types of Biological Samples

Where Do Contaminants Come


From?
Outside air carries dust which is a
contaminant
People generate contaminants:
We completely shed our outer skin every 24 hrs.
Particles of 0,3 micron & greater are liberated at
a rate varying between of 100 000 to 10 million
per minute
A person walking will liberate 5000
bacteria/minute and a single sneeze can
produce up to 1 million bacteria.

The manufacturing process itself can


generate contaminants eg paint off
equipment, dust from belt drives, etc

Cross-contamination (1)

Contaminants
from
Environment
& Operators

Contamination

Contaminants
from
Equipment

Product
from
Environment
& Operators

Cross
Contamination

Product
from
Equipment

Cross-Contamination (2)
Cross-contamination can be minimized by
1. Personnel procedures
2. Adequate premises
3. Use of closed production systems
4. Adequate, validated cleaning
procedures
5. Appropriate Levels of Protection of
product
6. Correct air pressure cascade

Why All the Concern About Dust?


Dust Is a Bacteria Carrier
Virus
(0,006m to 0,03m)

Dust Particle

Bacteria

(0,5m to 500m)

(0,2m to 2m)

Typical size relationship between


dust, bacteria and viruses