Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Blok Etika, Hukum dan Komunikasi Medik adalah blok kedua pada semester 1 dari
Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran
untuk tutorial. Penulis kali ini memaparkan kasus yang diberikan mengenai mahasiswa
yang mengalami kesulitan dalam mengikuti sistem pembelajaran di FK-UMP.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari system
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
dan pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Data Tutorial
TUTORIAL SKENARIO B
Tutor

: dr. Ni Made Elva Mayasari

Moderator

: Meitry Tiara Nanda

Sekretaris meja

: Ghita Novita

Sekretaris papan

: Nur Dianah Atikah Siregar

Waktu

: Selasa, 9 November 2010

Rule tutorial

: 1. Alat komunikasi boleh diaktifkan tetapi harus di silent.


2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat.
3. Boleh membawa makanan dan minuman pada saat proses
tutorial berlangsung.
4. Mengacungkan tangan bila ingin berbicara.

2.2

Skenario Kasus
Dokter Anyar baru selesai yudisium dan menerima ijazah dokter bulan lalu, saat ini
dia sedang dalam proses mengurus surat tanda registrasi pada Konsil Kedokteran
Indonesia sebagai persyaratan untuk mendapatkan surat izin praktik dari Dinas Kesehatan
Kota setempat. Namun saat ini dia sudah bekerja sebagai dokter honorer poli kebidanan
di Rumah Sakit khusus Ibu dan anak Bunda Mulia Husada di kota Palembang.
Keluarga dokter Anyar, sebagai wakil direktur di Rumah Sakit tersebut meminta dia
bekerja disana, dan dokter Anyar menerima usul tersebut dengan pertimbangan daripada
menganggur sambil menunggu STR selesai.
Suatu waktu dokter Anyar melakukan pemasangan implant (susuk) KB pada
seorang wanita di RS tersebut, padahal dokter Anyar belum pernah dilatih khusus tentang
tehnik pemasangan implant, namun karena pernah melihat bidan memasang implant ke
pasien dan prinsipnya sama dengan tehnik pemasangan infus, maka dia berani

melakukannya. Seminggu kemudian pasien dating kembali karena terjadi pembengkakan


dan nyeri ditempat pemasangan implant. Pasien melihat tetangga yang pernah di implant
tidak mengalami hal yang serupa, sehingga ia menuntut pihak Rumah Sakit membayar
ganti rugi.
2.3

Paparan
2.3.1 Klarifikasi Istilah
1. Yudisium : Penentuan nilai (lulus) suatu ujian
sarjana lengkap / perguruan tinggi.
2. Surat Tanda Registrasi :

Surat resmi tanda

setelah daftar ulang.


3. Konsil Kedokteran Indonesia
kedokteran

yang

mengatur

Lembaga
hukum

dan

kurikulum kedokteran di Indonesia.


4. Surat Izin Praktik

: Surat resmi yang

melegalkan dokter untuk melakukan praktek.


5. Honorer : Orang yang menerima upah yang
tidak tetap (bersifat sementara)
6. Poli Kebidanan :
kesehatan

yang

Bagian
melayani

dari

instansi

segala

sesuatu

tentang kelahiran.
7. Implant

: Objek / bahan yang dimasukkan ke

dalam tubuh untuk tujuan prostetik diagnosis


atau pemeriksaan.
8. KB

Program

pemerintah

yang

menetapkan satu keluarga hanya memiliki


maksimal 2 orang anak.
9. Infus

: Cairan yang berisi vitamin dan

mineral melalui botol ke pembuluh darah.

10. Pembengkakan

Proses

pengelembungan

karena pengaruh sesuatu.


11. Nyeri

Rasa yang menimbulkan sakit /

menderita
2.3.2 Identifikasi Masalah
1. Dokter Anyar sedang dalam proses mengurus surat tanda registrasi pada
Konsil Kedokteran Indonesia sebagai persyaratan untuk mendapatkan
Surat Izin Praktik tetapi dokter Anyar sudah bekerja sebagai dokter
honorer di Rumah Sakit khusus Ibu dan anak Bunda Mulia Husada .
2. Rumah Sakit khusus Ibu dan anak Bunda Mulia Husada meminta dokter
Anyar untuk bekerja sebagai dokter honorer dan dokter Anyar menerima
tawaran Rumah Sakit tersebut padahal dokter Anyar belum memiliki Surat
Izin Praktik.
3. Dokter Anyar memasang implant (susuk) KB, padahal dokter Anyar belum
terlatih untuk memasang implant.
4. Seminggu kemudian pasien datang kembali karena terjadi pembengkakan
dan nyeri di tempat pemasangan implant sehingga pasien menuntut pihak
Rumah Sakit untuk membayar ganti rugi.
2.3.3 Analisis Masalah
1. a. Bagaimana proses mengurus Surat Tanda Registrasi pada Konsil
Kedokteran Indonesia?
b. Apa saja syarat untuk mendapatkan Surat Izin Praktik?
c. Apa peranan Konsil Kedokteran Indonesia?
d. Apa saja resiko yang akan diterima oleh dokter apabila belum
mempunyai Surat Izin Praktik?
e. Apa saja sanksi yang didapatkan dokter apabila dokter tersebut
praktektanpa memiliki Surat Izin Praktik?
f. Apa saja syarat-syarat untuk membuka tempat praktik?

2. a. Apa sanksi yang akan diterima oleh Rumah Sakit apabila


mempekerjakan dokter yang belum mempunyai Surat Izin Praktik?
b. Apa saja syarat Rumah Sakit untuk mempekerjakan seorang dokter?
c. Adakah perbedaan dalam mengurus Surat Izin Praktik di Rumah Sakit
dan praktik pribadi? jika ada jelaskan!
d. Menurut KODERSI, bagaimana tindakan Rumah Sakit yang
mempekerjakan seorang dokter yang tidak mempunyai Surat Izin
Praktik?
3. a. Apa saja standar kompetensi dokter untuk melakukan tindakan medis?
b. Bagaimana cara memasang implant?
c. Apakah dalam pemasangan implant seorang dokter diharuskan
mengikuti pelatihan khusus?
d. Bagaimana menurut pandangan Islam tentang tindakan dokter Anyar?
e. Bagaimana menurut pandangan Islam tentang KB?
f. Apakah tindakan dokter Anyar termasuk malapraktik?
4. a. Mengapa terjadi pembengkakan dan nyeri ditempat pemasangan
implant?
b. Apa hak dan kewajiban Rumah Sakit terhadap pasien?
c. Apa hak dan kewajiban pasien ditinjau dari Medicolegal?
d. Bagaimana prosedur pengajuan complain?
e. Apakah Rumah Sakit khusus Ibu dan anak Bunda Mulia Husada
sudah menerapkan Standar Operasional Prosedur?

2.3.4 Kerangka Konsep

KODERSI

Medico legal

RS menawarkan dokter Anyar untuk


bekerja dan dokter Anyar
menerimanya

SKD

Malpraktik

Hak Pasien

Pemasangan implant
KB

SOP

Pandangan Islam

Terjadi
pembengkakan dan
nyeri

Pasien menuntut
pihak RS

Kewajiban
RS

2.3.5 Hipotesis
Rumah Sakit Bunda Mulia Husada melanggar KODERSI, UUPK,
UURS dan SKD karena mempekerjakan dokter yang belum memiliki SIP
sehingga menyebabkan pasien menuntut pihak Rumah Sakit dengan dugaan
malpraktik

2.3.6 Keterbatasan Ilmu


No.

Pokok

I Know

I Dont Know

Bahasan
1

Medico
legal

UUPK
UURS

What I

How I

Have To

Will

Prove?

Learn?

Syarat
mendapatkan SIP
dan proses

KODERSI

Definisi

mengurus STR
Penjabaran

SOP

Definisi

KODERSI
Bagaimana SOP

Malpraktik

& Tujuan
Definisi

Batasan-batasan

Hakkewajiban

1.
2.
3.
4.
5.
6.

pasien
SKD

Malpraktik
Hak-kewajiban RS
dan pasien

Penjabaran SKD

2.3.7 Learning Issue


Medico Legal
KODERSI
SOP
Malpraktik
Hak-Kewajiban RS dan Pasien
SKD

2.3.8

Sintesis
1.a

Text
book,
Internet,

RS dan
6

slide,

Prosesnya tercantum pada KKI No.1


BAB II
SURAT TANDA REGISTRASI
Bagian Pertama
STR Dokter dan STR Dokter Gigi

jurnal

Pasal 2
(2) Untuk memperoleh STR seperti dimaksud pada ayat (1), dokter dan
dokter gigi wajib mengajukan permohonan kepada KKI dengan
melampirkan :
a. fotokopi ijazah dokter/dokter spesialis/dokter gigi/dokter gigi
spesialis;
b. surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau
dokter gigi;
c. surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang
memiliki SIP;
d. fotokopi sertifikat kompetensi;
e. surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan
etika profesi; dan
f. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 4 (empat)
lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Alur proses permohonan STR
Dokter/dokter gigi

FK/FKG/KPS

(kelengkapan
persyaratan STR)

-ijazah
-bukti sumpah

KOLEGIUM
(Uji Kompetensi &
Sertifikat
Kompetensi)

Tembusan:
Kirim ke Rumah
yang
Bersangkutan
Melalui PT.Pos

IDI/PDGI,Dink
es

KKI
(Proses
Registrasi)

b. Syarat-syarat yang diperlukan untuk mendapatkan SIP adalah sebagai


berikut;
-Permohonan Kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang bermaterai
Rp. 6.000,-Foto copy KTP 1 lembar

-Foto copy Surat Tanda Registrasi Dokter / Dokter Gigi yang telah
dilegalisir yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia yang
masih berlaku sebanyak jumlah tempat praktik
-Foto copy SK Pertama dan SK Pangkat Terakhir (bagi PNS) / SK
pengangkatan sebagai pegawai honorer / SK pengangkatan sebagai
pegawai Tetap atau honorer bagi Dokter/Dokter Gigi yang bekerja di
sarana swasta / SK Pensiun bagi yang purna tugas / SK selesai masa
bhakti
-Surat keterangan dari Sarana Pelayanan Kesehatan sebagai tempat
praktik nya
-Surat Rekomendasi dari Organisasi Profesi di wilayah tempat praktik
yang masih berlaku
-Pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 sebanyak tempat praktik +1 lbr
untuk registrasi
-Surat keterangan dari Kepala Dinas Kesehatan tempat asal (jika tempat
kerja pemohon berada di luar Kota atau mempunyai tempat praktik di
luar Kota)
-Surat tidak keberatan dari Kepala Program Studi (KPS) bagi yag
mengikuti PPDS
c. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa peran KKI adalah sebagai
regulator dan auditor baik dalam bidang pendidikan profesi, registrasi
dan pembinaan praktik dokter dan dokter gigi.
1. Peran KKI sabagai Regulator meliputi :
a. Bidang pendidikan yang bertujuan untuk memelihara dan
meningkatkan kualitas pendidikan profesi Kedokteran dan
Kedokteran Gigi.
b. Bidang pelaksanaan praktik kedokteran yang bertujuan untuk
memelihara dan meningkatkan kualitas pelayanan medik.
c. Bidang pembinaan masyarakat yang bertujuan untuk menyadarkan
masyarakat akan kewajiban dan haknya dalam mendapatkan
pelayanan medik yang berkualitas.
2. Peran KKI sebagai Auditor meliputi:
a. Asesmen (mengevaluasi) Pendidikan Profesi Kedokteran dan
Kedokteran Gigi yang meliputi input, proses dan output yang

bertujuan untuk mendapatkan kualitas lulusan yang sesuai standar


pendidikan.
b. Asesmen (mengevaluasi) Pelayanan Kedokteran yang bertujuan
untuk menyediakan pelayanan medik yang aman bagi masyarakat.
Fungsi KKI adalah untuk pengaturan, penetapan, pengesahan,
pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran
dalam rangka menaikkan mutu pelayanan medis.
Tugas KKI adalah sebagai berikut:
1. Meregistrasi
2. Pengesahan SKD dan SKDG
3. Pembinaan terhadap praktik kedokteran yang dilaksanakan
bersama lembaga terkait.
d. Bentuk Pelanggaran Disiplin Kedokteran
1. Tidak kompeten/cakap
2. Tidak merujuk
3. Pendelegasian kepada nakes yang tidak kompeten
4. dr/drg pengganti tidak beritahu ke pasien, tiddak punya SIP
5. Tidak layak praktik (kesehatan fisik & mental)
6. Kelalaian dalam penatalaksanaan pasien
7. Pemeriksaan dan pengobatan berlebihan
8. Tidak berikan informasi yang jujur
9. Tidak ada informrd consent
10.Tidak buat/simpan rekam medic
11.Penghentian kehamilan tanpa indikasi medis
12.Euthanasia
13.Penerapan pelayanan yang belum diterima kedokteran
14.Penelitian klinis tanpa persetujuan etis
15.Tidak member pertolongan darurat
16.Menolak/menghentikan pengobatan tanpa alas an yang sah
17.membuka rahasia medis tanpa izin
18.buat keterangan medis tidak benar
19.ikut serta tindakan penyiksaan
20.Peresepan obat psikotropik/narkotik tanpa indikasi
21.Pelecehan seksual, intimidasi, kekerasan
22.penggunaan gelar akademik/sebutan profesi palsu
23.Menerima komisi terhadap rujukan/peresepan
24.Pengiklanan diri yang menyesatkan
25.Ketergantungan NAPZA
26.STR, SIP,Sertifikat Kompetensi tidak sah
27.Imbal jasa tidak sesuai tindakan
28.Tidak berikan data/informasi atas permintaan MKDKI

Sesuai bentuk pelanggaran disiplin kedokteran, dokter Anyar


melanggar disiplin kedokteran pada nomor 4. Resiko yang akan
dialami dokter Anyar adalah proses pembuatan SIP akan ditahan
oleh pihak yang berwenang (KKI), sehingga dokter Anyar tidak bias
praktik dan tidak bias membela diri atas tindakan medic yang
dilakukannya.
e.

Undang-Undang No 29/2004 mengancam pidana bagi mereka yang


berpraktik tanpa STR dan atau SIP, mereka yang bukan dokter tetapi
bersikap atau bertindak seolah-olah dokter, dokter yang berpraktik tanpa
membuat rekam medis, tidak memasang papan praktik atau tidak
memenuhi kewajiban dokter
Akibat hukum bagi Dokter dan Dokter gigi yang tidak mempunyai
Ijin. Pemerintah dapat melakukan tindakan tegaas sesuai dengan Pasal
75, 76, 77, 78, 79, 80 dalam UU Nomor 29 tahun 2004 tentang praktik
kedokteran
Kurang lebih isinya sesuai berikut:
Pasal 75
(1) Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan
praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).
(2) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda
registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda
registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 77
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar

atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah


yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki
surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi
dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau
denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
Pasal 78
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara
lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau
dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat
tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima
puluh juta rupiah).
Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda
paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter
atau dokter gigi yang
Berdasarkan Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
kedokteran pada pasal 69 ayat (3)
Adalah:

Pemberian peringatan tertulis;


Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin
Praktek; dan/atau
Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi

f. Syarat Perizinan :
(1) Syarat administrasi permohonan izin dokter umum, dokter gigi,
dokter spesialis dan dokter gigi spesialis yang menyelenggarakan
pelayanan Sarana Kesehatan adalah sebagai berikut :

Foto copy Kartu Tanda Penduduk permohonan yang masih


berlaku
Foto copy Ijazah sesuai profesi

Surat keterangan persetujuan kerja dari pimpinan sarana


pelayanan kesehatan
Foto copy Surat Tanda Registrasi (STR) yang dilegalisir oleh
Konsil Kedokteran Indonesia yang masih berlaku bagi dokter
Surat pernyataan bersedia praktik paling banyak 3 (tiga)
tempat bermeterai cukup
Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang telah
mempunyai izin praktek
Rekomendasi dari organisasi profesi
Pas foto berwarna ukuran 4X6 cm sejumlah 2 (dua) lembar.

(2) Permohonan izin penyelenggaraan sarana kesehatan harus memenuhi


persyaratan administrasi sebagai berikut :

Foto copy Kartu Tanda Penduduk permohonan yang masih


berlaku bagi pemohon perorangan
Foto copy akta pendirian bagi pemohon yang berbadan hukum
atau berbadan usaha
Foto copy izin gangguan
Melampirkan denah lokasi bangunan
Proposal studi kelayakan dalam pengelolaan sarana kesehatan

2 a. Dokter tidak bisa berpraktik tanpa surat ijin tersebut karena apabila
seorang dokter nekat berparaktik tanpa adanya SIP maka sama saaja
dengan membunuh karir kedokterannya sendiri.
Kemudian dari pada itu seseorang atau badan Usaha tidak boleh
menerima atau mempekerjakan seorang yang tidak mempunyai SIP.
Sesuai di atur dalam
Pasal 80
(1) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter
gigi yang tidak /mepunyai ijin praktik, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh korporasi, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana
denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga atau
dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan izin
b. UU no 44 tahun 2009 RUMAH SAKIT
BAGIAN 5 ( sumber daya mannusia )

Pasal 13
(1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit
wajib memiliki Surat Izin Praktik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib
memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja
sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan Rumah Sakit,
standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi,
menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
Tenaga medis yang melakukan praktik memiliki SIP,bekerja sesuai
dengan standar profesi,standar pelayanan rumah sakit,SOP,etika
profesi,menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
c.

Perbedaannya terdapat di tanggungjawab SIP tersebut. Apabila praktik


pribadi, maka dokter yang bersangkutanlah yang wajib
bertanggungjawab. Sedangkan praktik di Rumah Sakit, maka yang
bertanggungjawab adalah direktur Rumah Sakit tersebut.

d.

Menurut

KODERSI,

bagaimana

tindakan

Rumah

Sakit

yang

mempekerjakan seorang dokter yang tidak mempunyai Surat Izin


Praktik?
BAB IV
Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Pimpinan, Staf, dan Karyawan
Pasal 13
Rumah sakit harus menjamin agar pimpinan, staf, dan karyawannya
senantiasa mematuhi etika profesi masing-masing.
Pasal 14
Rumah sakit harus mengadakan seleksi tenaga staf dokter, perawat, dan
tenaga lainnya berdasarkan nilai, norma, dan standar ketenagaan.
Pasal 15
Rumah sakit harus menjamin agar koordinasi serta hubungan yang baik
antara seluruh tenaga di rumah sakit dapat terpelihara.
Pasal 16
Rumah sakit harus memberi kesempatan kepada seluruh tenaga rumah
sakit untuk meningkatkan dan menambah ilmu pengetahuan serta
keterampilannya.
Pasal 17

Rumah sakit harus mengawasi agar penyelenggaraan pelayanan


dilakukan berdasarkan standar profesi yang berlaku.
PasaI18
Rumah sakit berkewajiban memberi kesejahteraan kepada karyawan
dan menjaga keselamatan kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Jika dikaitkan dengan kasus pada skenario, RS telah
melakukan tindakan yang melanggar isi dari KODERSI terutama
pada bab IV pasal 13,14 dan 17 mengenai penerimaan tenaga
kesehatan (dokter) dimana RS tersebut tidak memilih tenaga
kesehatan (dokter) berdarakan nilai,norma, etik dan standar
profesionalisme tetapi malah melakukan tindakan nepotisme.
3.a. Area Komunikasi Efektif
1. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya
1.1. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya
Memberikan salam
Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien
Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya
Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi
waktu yang cukup pada pasien untuk
menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien)
Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun
harapannya
Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat
pribadi, dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu
Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta
persetujuannya dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan
1.2. Mengumpulkan Informasi
Mampu menggunakan open-ended maupun closed question
dalam menggali informasi (move from open to closed question
properly)
Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang
dimengerti
Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat
penyakit pasien sekarang, riwayat keluarga, atau riwayat
kesehatan masa lalu
Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien
Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur
saat masih mengumpulkan data
1.3. Memahami Perspektif Pasien

Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang


menyangkut penyakitnya
Melakukan
eksplorasi
terhadap
kepentingan
pasien,
kekhawatirannya, dan harapannya
Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan
emosi pasien (marah, takut, malu, sedih, bingung, eforia,
maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya bisutuli, gangguan psikis)
Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien
secara profesional
Memperhatikan faktor biopsiko sosiobudaya dan norma-norma
setempat untuk menetapkan dan mempertahankan terapi
paripurna dan hubungan dokter pasien yang professional
Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh
pasien (termasuk bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur,
tingkat pendidikan ketika menyampaikan pertanyaan, meringkas
informasi, menjelaskan hasil diagnosis, pilihan penanganan
serta prognosis.
1.4. Memberi Penjelasan dan Informasi
Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut
dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisik
Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang
mungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannya
Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap, dan jujur
tentang tujuan, keperluan, manfaat, risiko prosedur diagnostik
dan tindakan medis (terapi, operasi,prognosis, rujukan) sebelum
dikerjakan
Menjawab pertanyaan dengan jujur, memberi konsultasi, atau
menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit.
Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien
maupun keluarganya
Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihanpilihan tindakan telah dipahami oleh pasien
Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk
merenungkan kembali serta berkonsultasi sebelum membuat
persetujuan
Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan
menjunjung tinggi etika kedokteran
Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan
disepakati
2. Berkomunikasi dengan sejawat

Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi


pasien baik secara lisan, tertulis, atau elektronik pada saat yang
diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan
benar, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran

Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas,


demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran
3. Berkomunikasi dengan masyarakat

Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat


Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat
Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar
masyarakat memahami kesehatan sebagai kebutuhan
Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara
efektif ketika melakukan promosi kesehatan
Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan
secara professional
4. Berkomunikasi dengan profesi lain

Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu


cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya
Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang
sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk
pemrosesan klaim
Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum
atau sebagai saksi ahli di pengadilan (jika diperlukan)
Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka
pemecahan masalah kesehatan masyarakat

Area Keterampilan Klinis


5. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting
tentang pasien dan keluarganya

Menggali dan merekam dengan jelas keluhan-keluhan yang


disampaikan (bila perlu disertai gambar), riwayat penyakit saat
ini, medis, keluarga, sosial serta riwayat lain yang relevan.
6. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium

Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai


denganmasalah pasien
Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan
pasien dan kewenangannya
Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal
mungkin menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada
pasien
Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah
pasien
Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis
dengan jelas dan benar

Mengidentifikasi, memilih dan menentukan pemeriksaan


laboratorium yang sesuai
Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar
Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang
Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan
penyakit
Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik, serta tindakan
prevensi sesuai dengan kewenangannya
7. Melakukan prosedur kedaruratan klinis

Menentukan keadaan kedaruratan klinis


Memilih prosedur kedaruratan klinis sesuai kebutuhan pasien
atau menetapkan rujukan
Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis,
sesuai dengan kewenangannya
Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut

Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran


8. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik,
klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan
pelayanan kesehatan tingkat primer

Menjelaskan prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang


berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan, beserta
patogenesis dan patofisiologinya.
Menjelaskan masalah kesehatan baik secara molecular maupun
selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh.
Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh
terhadap masalah kesehatan.
Mengembangkan strategi untuk menghentikan sumber penyakit,
poin-poin patogenesis dan patofisiologis, akibat yang
ditimbulkan, serta risiko spesifik secara efektif
Menjelaskan tujuan pengobatan secara fisiologis dan molekular
Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam
penanganan pasien.
Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan
penanganan penyakit baik klinik, epidemiologis, farmakologis,
fisiologis, diet, olah raga, atau perubahan perilaku
Menjelaskan pertimbangan pemilihan intervensi berdasarkan
farmakologi, fisiologi, gizi, ataupun perubahan tingkah laku
Menjelaskan indikasi pemberian obat, cara kerja obat, waktu
paruh, dosis, serta penerapannya pada keadaan klinik

Menjelaskan kemungkinan terjadinya interaksi obat dan efek


samping
Menjelaskan manfaat terapi diet pada penanganan kasus tertentu
Menjelaskan perubahan proses patofisiologi setelah pengobatan.
Menjelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam
mengelola masalah kesehatan
9. Merangkum dari interpretasi anamnesis, pemeriksaan fisik, uji
laboratorium dan prosedur yang sesuai

Menjelaskan (patofisiologi atau terminologi lainnya) data klinik


dan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti.
Menjelaskan alasan hasil diagnosis dengan mengacu pada
evidence- based medicine.
10. Menentukan efektivitas suatu tindakan

Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan


Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan.
Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan
penyakit.

Area Pengelolaan Masalah Kesehatan


11.Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai
individu yang utuh, bagian dari keluarga dan masyarakat

Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi


diagnosis sementara dan diagnosis banding
Menjelaskan penyebab, patogenesis, serta patofisiologi suatu
penyakit
Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai
penyakit pasien.
Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat
berdasarkan prinsip kendali mutu, kendali biaya, manfaat, dan
keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien
Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu
Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan
Medis yang berlaku, tanpa atau sesudah terapi awal (lihat
lampiran 2. Daftar Penyakit)
Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung
jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya (lihat lampiran 2.
Daftar Penyakit)
Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih
berdasarkan patofisiologi, patogenesis, farmakologi, factor
psikologis, sosial, dan faktor-faktor lain yang sesuai

Membuat instruksi tertulis secara jelas, lengkap, tepat, dandapat


dibaca
Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi, tepat obat,
tepat dosis, tepat frekwensi dan cara pemberian, serta sesuai
kondisi pasien), jelas, lengkap, dan dapat dibaca
Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan,
memonitor perkembangan penanganan, memperbaiki dan
mengubah terapi dengan tepat
Memprediksi, memantau, mengenali kemungkinan adanya
interaksi obat dan efek samping, memperbaiki atau mengubah
terapi dengan tepat
Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara
holistik,
komprehensif,
koordinatif,
kolaboratif,
dan
berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah
pasien
Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan
lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin
berpengaruh terhadap pertimbangan terapi
12. Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit

Mengidentifikasi, memberi alasan, menerapkan dan memantau


strategi pencegahan tertier yang tepat berkaitan dengan
penyakit pasien, keadaan sakit atau permasalahannya
(Pencegahan tertier adalah pencegahan yang digunakan untuk
memperlambat progresi dari penyakitnya dan juga timbulnya
komplikasi, misalnya diet pada penderita DM, olah raga)
Mengidentifikasi, memberikan alasan, menerapkan dan
memantau strategi pencegahan sekunder yang tepat berkaitan
dengan pasien dan keluarganya (Pencegahan sekunder adalah
kegiatan penapisan untuk mengidentifikasi faktor risiko dari
penyakit laten untuk memperlambat atau mencegah timbulnya
penyakit, contoh pap smear, mantous test)
Mengidentifikasi, memberikan alasan, menerapkan dan
memantau kegiatan strategi pencegahan primer yang tepat,
berkaitan dengan pasien, anggota keluarga dan masyarakat
(Pencegahan primer adalah mencegah timbulnya penyakit,
misalnya imunisasi)
Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan
lingkungan sosial sebagai faktor risiko terjadinya penyakit dan
sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pencegahan
penyakit.
Menunjukkan pemahaman bahwa upaya pencegahan penyakit
sangat bergantung pada kerja sama tim dan kolaborasi dengan
professional di bidang lain

13.Melaksanakan

pendidikan

kesehatan

dalam

rangka

promosi

kesehatan dan pencegahan penyakit

Mengidentifikasi kebutuhan perubahan perilaku dan modifikasi


gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok
umur, jenis kelamin, etnis, dan budaya
Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam
rangka promosi kesehatan di tingkat individu, keluarga, dan
masyarakat
Bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan program
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Area Pengelolaan Masalah Kesehatan


14.Menggerakkan

dan

memberdayakan

masyarakat

untuk

meningkatkan derajat kesehatan

Memotivasi masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah


kesehatan masyarakat
Menentukan insidensi dan prevalensi penyakit di masyarakat
serta mengenali keterkaitan yang kompleks antara factor
psikologis, kultur, sosial, ekonomi, kebijakan, dan factor
lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan
Melibatkan masyarakat dalam mengembangkan solusi yang
tepat bagi masalah kesehatan masyarakat
Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam
menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan
kebijakan kesehatan pemerintah, termasuk antisipasi terhadap
timbulnya penyakit-penyakit baru
Menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam
intervensi kesehatan
Merencanakan dan mengimplementasikan intervensi kesehatan
masyarakat, serta menganalisis hasilnya
Melatih kader kesehatan dalam pendidikan kesehatan
Mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan
Bekerja sama dengan masyarakat dalam menilai ketersediaan,
pengadaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat
15. Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara
efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan
pendekatan kedokteran keluarga

Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin,


pemberi informasi, dan pengambil keputusan)

Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan


kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga
Mengelola sumber daya manusia
Mengelola fasilitas, sarana dan prasarana

Area Pengelolaan Informasi


16.Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan
promosi kesehatan, serta penjagaan, dan pemantauan status
kesehatan pasien

Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet)


dengan baik
Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai
relevansi dan validitasnya
Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan
informasi ilmiah
Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk
menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi
Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk
melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik
Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam
merangkum dan menyimpan arsip
17. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi

Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi


untuk membantu penggunaannya, dengan memperhatikan
secara khusus potens i untuk berkembang dan keterbatasannya
18. Memanfaatkan informasi kesehatan

Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database


dalam praktik kedokteran secara efisien
Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran
dengan menganalisis arsipnya
Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan

Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri


19. Menerapkan mawas diri

Menyadari kemampuan dan keterbatasan diri berkaitan dengan


praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan

Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal dan


masalah yang berkaitan dengan kesehatannya yang dapat
mempengaruhi kemampuan profesinya
Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama
pendidikan dan praktik kedokteran
Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan
profesi dan pribadi
Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik
yang membangun dari pasien, sejawat, instruktur, dan penyelia
Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian dari pelatihan
dan praktik
Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik
kedokterannya
20. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat

Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.


Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan
Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman
belajarlainnya
Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis
bukti (Evidence-Based Medicine)
Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi
atau evidence untuk penanganan pasien dan justifikasi alas an
keputusan yang diambil
Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya
terhadap pasiennya
Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi
kebutuhan belajarnya
21. Mengembangkan pengetahuan baru

Area

Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang


sudah ada dan mengembangkannya menjadi pertanyaan
penelitian yang tepat
Merencanakan,
merancang,
dan
mengimplementasikan
penelitian untuk menemukan jawaban dari pertanyaan
penelitian.
Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah
Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya

Etika,

Moral,

Medikolegal

Keselamatan Pasien
22. Memiliki Sikap profesional

dan

Profesionalisme

serta

Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter


Indonesia
Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien
Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam
hubungan dokter pasien
Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh
Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain
dalam memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya
Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai
standar profesi
Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit
Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan
etik dalam pengobatan setiap individu pasien
23. Berperilaku profesional dalam bekerja sama

Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial


Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai
kontribusi dan peran yang berharga, tanpa memandang status
sosial
Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama
dengan para petugas kesehatan lainnya
Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi
konflik
Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan
dari orang lain
Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan
dengan petugas kesehatan lain, serta bertindak secara
professional
Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan
suatu tindakan yang tidak profesional
24. Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional

Area

Berperan dalam pengelolaan masalah pasien dan menerapkan


nilai-nilai profesionalisme
Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif
Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan
Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun
dalam sistem pelayanan kesehatan
Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat
dan dapat melakukan suatu perubahan
Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota
tim pelayanan kesehatan lain
Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta

Keselamatan Pasien

25. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di


Indonesia

Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan


budaya dari pasien dan sejawat
Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia,
gender, orientasi seksual, etnis, kecacatan dan status sosial
ekonomi
26. Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran

Memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan


dengan :
1. Hak asasi manusia
2. Resep obat
3. Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual
4. Kode Etik Kedokteran Indonesia
5. Pembuatan surat keterangan sehat, sakit atau surat kematian
6. Proses di pengadilan
7. Memahami UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran
8. Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai
badan yang mengatur praktik kedokteran
9. Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam
kebijakan kesehatan
27. Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran

Menerapkan standar keselamatan pasien :


1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan
pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk
mencapai keselamatan pasien

Menerapkan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien :


1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
2. Memimpin dan mendukung staf
3. Integrasikan aktifitas pengelolaan risiko
4. Kembangkan sistem pelaporan
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien

7. Cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan


pasien
b. Dua kapsul tipis, fleksibel berisi levonorgestrel (LNG) yang disisipkan
di bawah kulit lengan atas seorang wanita.

c.

Pelatihan Keterampilan Pemasangan dan Pencabutan


Implan ini dirancang untuk mempersiapkan dokter dan atau
bidan agar mampu melakukan pemasangan dan pencabutan
Implan sesuai dengan standar. Proses pelatihan disusun
berdasarkan pengalaman sebelumnya dari para peserta, serta
memanfaatkan motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan
kegiatan belajar dalam waktu yang sesingkat mungkin. Fokus
pelatihan adalah bagaimana mereka mengerjakan, bukan
hanya sekedar mengetahui, dan evaluasi kinerja dilakukan
berdasarkan kompetensi yang dicapai.

Pelatihan ini, terdiri dari sembilan komponen:

Gambaran Umum
Organ Reproduksi
Siklus Haid Normal
Profil Implan
Konseling KB
Penyaringan Medis
Pencegahan Infeksi
Langkah Standar Pemasangan Implan
Langkah Standar Pencabutan Implan
Rancangan pelatihan ini mengacu pada asumsi bahwa peserta
pelatihan adalah dokter atau bidan yang masih secara aktif
melaksanakan pelayanan dan mempunyai minat dalam pelayanan
Implan.
Ada beberapa perbedaan cara pelatihan ini dibandingkan dengan
pelatihan tradisional pada umumnya yaitu:
Pada hari pertama pelatihan, tingkat pengetahuan dan kinerja para
peserta akan ditampilkan melalui pengisian kuesioner awal
pelatihan dan penilaian keterampilan klinik awal.
Sesi-sesi di dalam kelas terfokus pada aspek-aspek utama
keterampilan pengelolaan pelayanan Implan.

Kemajuan serapan pengetahuan, akan diukur selama pelatihan


melalui kegiatan selama dan setelah masing-masing sesi serta
kuesioner tengah pelatihan.
Evaluasi kinerja kelompok dan pemecahan masalah setiap peserta
dilakukan oleh pelatih dengan menggunakan ceklis kompetensi
keterampilan.

Dasar penilaian keberhasilan pelatihan adalah penguasaan komponen


pengetahuan maupun keterampilan setiap peserta.
Jadi, diperlukan pelatihan untuk memasang implant KB.

d. -Barang siapa bertindak sebagai Thabib, sedang ia sebelumnya belum


pernah mengkaji ilmu ath-thabib, maka ia harus mengganti kerugian (R.
Abu Daud, Nasiy,Ibnu Majah).
-Seseorang yang bertindak sebagai thabib merawat orang orang sakit,
sedangkan ia tidak mengetahui sebelumnya cara perawatan kedokteran,
sehingga menyebabkan pasien jauh lebih parah, maka ia harus
bertanggung jawab (R. Abu Daud).
-Jika suatu perkara diserahkan bukan ada ahlinya, tunggulah
kehancurannya (R. Al-Bukhary).
[QS Al Qashash 50]


50. Maka jika mereka tidak Menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa
sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka
(belaka). dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti
hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.
sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim.


57. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan
yang saleh, Maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan
sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim.



40. dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka
barang siapa memaafkan dan berbuat baik[1345] Maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang
yang zalim.
[1345] Yang dimaksud berbuat baik di sini ialah berbuat baik kepada
orang yang berbuat jahat kepadanya.

e.

Jika program Keluarga Berencana (KB) dimaksudkan untuk


membatasi kelahiran, maka hukumnya tidak boleh. Karena Islam tidak
mengenal pembatasan kelahiran (tahdid an-nasl). Bahkan, terdapat
banyak hadits yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak anak.
Misalnya: Tidak bolehnya membunuh anak apalagi karena takut miskin

31. dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut


kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga

kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang


besar.
Yang dikenal dalam Islam adalah pengaturan kelahiran (tanzhim
an-nasl). Hal ini didasarkan pada para sahabat yang melakukan azal di
masa Nabi, dan beliau tidak melarang hal tersebut. (HR. Bukhari dan
Muslim)



195. dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.

Beberapa alasan yang membenarkan pengaturan kelahiran antara


lain: pertama, kekhawatiran akan kehidupan dan kesehatan ibu jika ia
hamil atau melahirkan, berdasarkan pengalaman atau keterangan dari
dokter yang terpercaya. Firman Allah: Dan janganlah kalian
campakkan diri kalian dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah: 195).

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,


bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa
di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka
hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah
kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Kedua, khawatir akan kesulitan materi yang terkadang
menyebabkan munculnya kesulitan dalam beragama, lalu menerima saja
sesuatu yang haram dan melakukan hal-hal yang dilarang demi anakanaknya. Allah berfirman: Allah menghendaki kemudahan bagi kalian
dan tidak menghendaki kesulitan. (QS. al-Baqarah: 185).
Ketiga, alasan kekhawatiran akan nasib
kesehatannya buruk atau pendidikannya tidak teratasi

anak-anaknya;

Membatasi anak dengan alasan takut miskin atau tidak mampu


memberikan nafkah bukanlah alasan yang dibenarkan. Sebab, itu
mencerminkan kedangkalan akidah, minimnya tawakal dan keyakinan
bahwa Allah Maha Memberi rezeki. Allah Swt. berfirman: Dan
janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin.
Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian. (QS.
al-Isra: 31).
Jumhur ulama berpendapat bahwa seseorang yang tidak mau
mempunyai anak dikarenakan semata-mata hanya karena takut miskin,
takut tidak dapat memberikan makan, tidak dibenarkan. Karena dengan
melakukan demikian, dinilai tidak meyakini dengan kekuasaan Allah.
Dari sini juga, barangkali kita dapat mengkategorikan praktek KB ini
kepada dua bagian besar.
Pertama, melakukan program KB, dengan alasan takut tidak dapat
memberikan makan, takut miskin dan lain sebagainya, maka praktek KB
seperti ini tidak dibenarkan. Karena hal ini menyangkut keyakinan

seorang muslim kepada Allah, bahwa Allah yang akan memberikan


rizkinya.
Dalam al-Quran, Allah juga mengecam mereka yang tidak mau
memperoleh keturunan dengan alasan semata-mata karena takut miskin,
rizki seret dan lain sebagainya. Hal ini karena sudah merupakan janji
Allah bahwa, Allah yang akan memberikan rizki kepada anak-anak
tersebut.
Selain itu, sebagian besar ulama juga mentidakbolehkan seseorang yang
melakukan praktek KB dengan jalan memasang alat yang
mengakibatkan si wanita tidak dapat hamil selamanya (bukan sementara
waktu), tanpa ada alasan syari yang dibenarkan, bukan karena demi
kesehatan si ibu atau lainnya. Untuk jenis ini, praktek KB tidak
diperbolehkan, karena tidak sesuai dengan di antara maksud utama
pernikahan dalam Islam.
Kedua, praktek KB untuk mengatur saja, demi kesejahteraan si anak
atau kesehatan si ibu. Misalnya, menurut dokter sebaiknya demi
kesehatan si ibu, agar melahirkan lagi setelah dua atau tiga tahun ke
depan, atau agar jarak antara putra yang satu dengan yang lain tidak
terlalu dekat, atau dengan dasar agar pendidikan setiap anak dapat
terpantau dengan baik, atau menurut dokter, kalau jaraknya terlalu dekat,
akan mengakibatkan si anak kurang normal, atau kurang sehat, maka
untuk jenis ini diperbolehkan, karena ada alasan syari dan praktek KB
tersebut bukan untuk selamanya (sementara waktu saja).
f. Definisi malpraktik pada intinya mengandung salah satu unsur berikut :
1. Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan kedokteran dan
keterampilanyang sudah berlaku dikalangan profesi kedokteran
2. Dokter memberikan pelayanan di bawah standar
3. Dokter melakukan kelalaian berat atau kurang hati-hati
4. melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum
Pada skenario, dr. Anyar menganggap pemasangan implan sama
dengan pemasangan infus. Dari hal ini, terlihat memenuhi unsur
malpraktik nomor 1.
4.a. Karena Hal tersebut merupakan efek samping dari pemasangan implant.
Solusi : Hematoma (warna biru dan rasa nyeri) pada deerah
pemasangan, kompres dengan air dingin selama 2 hari, selanjutnya
kompres dengan air panas/hangat sampai warna biru hilang.

Karena dr. Anyar belum menguasai tekhni pemasngan implant.


Akibat tindakan tersebut yang menyebabkan pembengkakan dan nyeri di
daerah pemasangan implant. Perbuatan dr. Anyar ini dapat disebut
Malpraktik.
Malapraktik dapat dibedakan menjadi malapraktik yuridis dan
malapraktik etis. Malapraktik yuridis dibedakan 3 (tiga) kelompok, yaitu
criminal malpractice (pidana), civil malpractice (perdata), dan
administrative
malpractice
(administrasi)
Beberapa contoh administrative malpractice yang berakibat sanksi
pidana
atau
denda,
diberikan
kepada
dokter
yang:
1.
Melakukan
praktik
tanpa
STR
2.
Melakukan
praktik
tanpa
SIP
3. Menyalahgunakan gelar dokter/dokter gigi oleh yang tidak berhak.
4. Menggunakan alat, metode dll.yang ingin mengesankan
penggunaannya
seolah-olah
oleh
dokter/dokter
gigi
5. Tidak memasang papan nama, tidak membuat rekam medik
6. Mempekerjakan dokter/dokter gigi yang tidak memiliki SIP
b. Hak :

membuat peraturan yang berlaku di RS (hospital bylaws)


Mensyaratkanbahwa pasien harus menaati segala peraturan RS
Mensyaratkan bahwa pasien harus menaati segala intruksi yang
diberikan dokter kepadanya
Memilih tenaga dokter yang akan bekerja di RS
Menuntut pihak-pihak yang telah melakukan wanprestasi

Kewajiban :

merawat pasien sebaik-baiknya


Menjaga mutu perawatan
Memberikan pertolongan pengobatan di UGD
Menyediakan sarana dan peralatan umum yang dibutuhkan
Menyediakan sarana dan peralatan medik yang dibutuhkan sesuai
dengan tingkat RS dan urgensinya
Menjaga agar semua sarana dan peralatan senantiasa dalam keadaan
siap pakai
Merujuk pasien kepada rumah sakit lain apabila tidak mempunyai
peralatan medis khusus atau tenaga dokter khusus yang diperlukan
Menyediakan daya penangkal kecelakaan (alat pemadam api, sarana
dan alat pertolongan penyelamatan pasien dalam keadaan darurat)

Ditinjnau dari MEDICOLEGAL/UUPK no 44 RUMAH SAKIT,apa hak


dan Kewajiban RS terhadap PASIEN
BAB I
Kewajiban Umum Rumah Sakit
Pasal 1
Rumah Sakit harus mentaati Kode Etik Rumah Sakit Indonesia
(KODERSI)
Pasal 2
Rumah sakit harus dapat mengawasi serta bertanggung jawab terhadap
semua kejadian di rumah sakit.
BAB III
Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Pasien
Pasal 9
Rumah sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien.
Pasal 10
Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien,
dan tindakan apa yang hendak dilakukan.
Pasal 11
Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien (informed consent)
sebelum melakukan tindakan medik.
Pasal 12
Rumah sakit berkewaijiban melindungi pasien dari penyalahgunaan
teknologi kedokteran.
Bagian Ketujuh
Tanggung jawab Hukum
Pasal 46
Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua
kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan di Rumah Sakit.
Pasal 1366 KUH Perdata
Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang
disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan karena kelalaiannya atau kurang hati-hati
c. Hak Pasien antara lain :
-

Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa


diskriminasi

Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan


standar profesi dan standar prosedur operasional

Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasein


terhindar dari kerugian fisik dan materi

Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan

Memilih dokter dan kelas perawatan yang berlaku dirumah sakit

Menggugat dan / atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit


diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar
baik secara perdata maupun pidana.

Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan


standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan

Kewajiban Pasien antara lain :


Memberikan Informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya
Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter
Mematuhi ketentuan yang berlaku disarana kesehatan
Memberikan imbal jasa
d. Komplain ke DOKTER : Pasal 66
(1) Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugiakan atas
tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik
kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
(2) Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat :
a. Identitas pengadu
b. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan
waktu tindakan dilakukan ;dan
c. Alasan pengaduan
(3) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghilangkan hak setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan
tindak pidana kepada pihak yang berwenang dan atau menggugat
kerugian perdata ke pengadilan.
Komplain ke RUMAH SAKIT :

BAGIAN 4 ( hak pasien )


Pasal 32
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit
diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik
secara perdata ataupun pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan
standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketujuh
Tanggung jawab Hukum
Pasal 46
Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua
kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan di Rumah Sakit.
Pasal 66, UU No.29/2004 tentang Prakdok
(1).Pasien yg dirugikan oleh Dr/Drg dapat mengadu tertulis pada
MKDKI
(2).Pengaduan harus dng identitas,alamat dan alasan yg jelas
(3).Pengaduan ke MKDKI tdk menghilangkan hak utk dapat
menuntut/menggugat secara pidana/perdata.
Pasal 29 UU No. 36/2009 tentang perintah untuk mediasi justice
restoration
Mediasi dapat dilakukan apabilah kedua belah pihak yaang
bersangkutan hadir pasien dan pihak yang berwenang (Humas RS atau
pun staf yang ditugaskan).
UU No.44/2009 tentang Rumah Sakit. Pasal 32 Hak Pasien
Pada point ke 18 yang berbunyi mengeluhkan Rumah Sakit yang tidak
sesuai dengan standat pelayanan melalui media cetak dan elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

e.

SOP adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan


sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instasi pemerintah
berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan prosedural
sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja
yang bersangkutan. Dan bertujuan untuk menciptakan komitment
mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi
pemerintahan untuk mewujudkan good governance.
14 indikator kriteria pengukuran kinerja
1.Prosedur pelayanan
2. Persyaratan pelayanan
3. Kejelasan petugas pelayanan
4. Kedisiplinan petugas pelayanan
5. Tanggung jawab petugas pelayanan
6. Kemampuan petugas pelayanan
7. Kecepatan pelayanan
8. Keadilan mendapatkan pelayanan
9. Kesopanan dan keramahan petugas
10. Kewajaran biaya pelayanan
11. Kepastian biaya pelayanan
12. Kepastian jadwal pelayanan
13. Kenyamanan lingkungan
14. Keamanan pelayanan
pengukuran kinerja melalui internal maupun eksternal

internal
proses pencapaian tujuan sudah sesuai dengan
rencana bila dilihat dari proses

Eksternal
dilakukan dengan mengukur kepuasan masyarakat
terhadap pelayanan organisasi.

Dari indikator pengukuran kinerja diatas jelas RS Bunda Mulia


Husada belum menerap SOP, karena masih belum melaksanakan
14 indikator tersebut .

Pada intinya tindakan dokter Anyar telah melanggar aturan-aturan sebagai seorang
dokter yang dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia no.29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, standar kompetensi dan standar operasional prosedur dokter
umum, dan tidak sesuai etik seorang dokter muslim.
Tindakan Rumah sakit serta Wakil Direktur sebagai pejabat Rumah Sakit telah
menyalahi aturan dalam Undang-undang Rumah Sakit no.44 tahun 2009, Undang-undang
Rumah Sakit no.36 tahun 2009, dan Standar Operasional Prosedur Rumah Sakit.

Dari sintesa yang telah dipaparkan terbukti bahwa hipotesis yang kami kemukakan
benar adanya. Hal ini sesuai dengan teori-teori yang kami dapatkan dari kuliah integrasi
serta referensi yang relevan seperti jurnal, .ppt, .pdf ataupun texbook.

DAFTAR PUSTAKA
____.http://inamc.or.id/download/Manual%20Rekam%20Medis.pdf
____. http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/Rhs%20Kedokteran.pdf
____. Hanafiah, M. Yusuf. Kedokteran EGC: Jakarta,2007.
____. Amir, Amri. Buku Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia:
Jakarta,2007.
____. Fakultas Kedokteran Universitas sumatera Utara. Kode Etik Kedokteran,2004.
____. http://anneahira.edu/hak-kewajiban-dokter-pasien.pdf
____.http://www.freewebs.com/rizky-md/registrasi.pdf
____.http://inamc.or.id/download/Kepkonsil1.pdf
____.http://inamc.or.id/download/Alur%20Registrasi.pdf
____.http://www.freewebs.com/rizky-md/registrasi.pdf
____.http://www.pkmi-online.com/training_implan.htm
____.http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/STANDAR
%20OPERASIONAL%20PROSEDUR.pdf
____.http://inamc.or.id/?open=data_registrasi
____.http://inamc.or.id/?open=tata_cara_reg
____.http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=9&ved=0CDEQFjAI&url=http%3A
%2F%2Fp2kb.idionline.org%2Findex.php%3FuPage%3Ddl.dl_handler%26smod%3Ddl
%26sp%3Dpublic%26id%3D5&rct=j&q=KKI%20no.1%20tahun
%202005&ei=rMjaTKebJcOlcM3ksMMG&usg=AFQjCNHi7PoEzfaPtNuxDuE6rsg0TOH
OMg&cad=rja

____.http://inamc.or.id/download/Kepkonsil18.pdf
____.http://inamc.or.id/download/KepKonsil%2017.pdf
____.http://www.freewebs.com/rizky-md/registrasi.pdf
____.http://www.cdc.fk.ui.ac.id/_UPLOAD_/_ARTICLE_/Registrasi%20Dr,%20%20Drg
%20Berdasarkan%20UUPK.pdf
____.http://inamc.or.id/download/Kepkonsil1.pdf
____.http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&ved=0CCEQFjAE&url=http%3A
%2F%2Fharien.student.umm.ac.id%2Ffiles%2F2010%2F02%2FSTANDARTKOMPETENSI-DOKTER_dr.-Irma-Suswati-M.Kes_.ppt&rct=j&q=standar
%20kompetensi
%20dokter&ei=Qf7aTKO2N8PQcbOOgcQG&usg=AFQjCNEfmow7YoTfAgOlH_ESGQn
5cCVHew&cad=rja
____.http://www.scribd.com/doc/34724427/Standar-Kompetensi-Dokter-Indonesia-SKDI