Anda di halaman 1dari 6

A.

Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak sistem
kekebalan tubuh manusia yang tiidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan
sistem kekebalan tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit.
Sedangkan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah Sekumpulan gejala,
infeksi dan kondisi yang diakibatkan infeksi HIV pada tubuh. Muncul akibat rusaknya
sistem kekebalan tubuh manusia sehingga infeksi dan penyakit mudah menyerang tubuh
dan dapat menyebabkan kematian. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang muncul akibat
lemahnya system pertahanan tubuh yang telah terinfeksi HIV atau oleh sebab lain. Pada
orang yang sistem kekebalan tubuhnya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya,
namun pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah (HIV/AIDS) bisa menyebabkan
kematian.
Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat sepanjang hidupnya apabila ia menjaga
kesehatan tubuhnya: makan teratur, berolahraga dan tidur secara seimbang. Gaya hidup
sehat akan tetap melindungi kebugaran orang dengan HIV dan ia akan tetap produktif
dalam berkarya. Bila telah muncul tanda-tanda penyakit infeksi dan tidak kunjung
sembuh atau berulang, artinya daya tahan tubuh menjadi buruk, sistim kekebalan tubuh
berkurang, maka berkembanglah AIDS.
B. Sejarah HIV
Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Franoise Barr-Sinoussi dari
Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita
sindrom limfadenopati. Pada awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathyassociated virus). Bersama dengan Luc Montagnier, mereka membuktikan bahwa virus
tersebut merupakan penyebab AIDS. Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika
Serikat juga meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III. Setelah diteliti
lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada
tahun 1986, istilah yang digunakan untuk menyebut virus tersebut adalah HIV, atau lebih
spesifik lagi disebut HIV-1.
Tidak lama setelah HIV-1 ditemukan, suatu subtipe baru ditemukan di Portugaldari
pasien yang berasal dari Afrika Barat dan kemudian disebut HIV-2. Melalui kloning dan
analisis sekuens (susunan genetik), HIV-2 memiliki perbedaan sebesar 55% dari HIV-1
dan secara antigenik berbeda. Perbedaan terbesar lainnya antara kedua strain (galur) virus
tersebut terletak pada glikoprotein selubung. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa

HIV-2 berasal dari SIV (retrovirus yang menginfeksi primata) karena adanya kemiripan
sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap kedua jenis virus tersebut.
Kedua spesies HIV yang menginfeksi manusia (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal
dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke manusia dalam sebuah proses
yang

dikenal

sebagai zoonosis.

HIV-1

merupakan

hasil

evolusi

dari simian

immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan


troglodyte troglodyte. Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV
yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabey, monyet dunia lama GuineaBissau. Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 karena spesies virus
ini lebih virulen dan lebih mudah menular dibandingkan HIV-2. Sedangkan, HIV-2
kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.
Berdasarkan susuanan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu
M, N, dan O. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada
kelompok N dan O belum diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di
dalamnya. Namun, kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari
simpanse. HIV-2 memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang
berbeda-beda (Wayan Sutrimo, 2013).
C. Patofisiologi
Tubuh mempunyai suatu mekanisme untuk membasmi suatu infeksi dari benda asing,
misalnya : virus, bakteri, bahan kimia, dan jaringan asing dari binatang maupun manusia
lain. Mekanisme ini disebut sebagai tanggap kebal (immune response) yang terdiri dari 2
proses yang kompleks yaitu :
Kekebalan humoral dan kekebalan cell-mediated. Virus AIDS (HIV) mempunyai cara
tersendiri sehingga dapat menghindari mekanisme pertahanan tubuh. ber-aksi bahkan
kemudian dilumpuhkan.
Virus AIDS (HIV) masuk ke dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada
di dalam sel limfosit. Virus ini memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang
mempunyai molekul CD4. Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan
limfosit T4 helper. Saat virus memasuki tubuh, benda asing ini segera dikenal oleh sel T
helper (T4), tetapi begitu sel T helper menempel pada benda asing tersebut, reseptor sel T
helper .tidak berdaya; bahkan HIV bisa pindah dari sel induk ke dalam sel T helper
tersebut. Jadi, sebelum sel T helper dapat mengenal benda asing HIV, ia lebih dahulu
sudah dilumpuhkan. HIV kemudian mengubah fungsi reseptor di permukaan sel T helper
sehingga reseptor ini dapat menempel dan melebur ke sembarang sel lainnya sekaligus

memindahkan HIV. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan
menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper.
Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan
melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat
double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel
T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen.
Fungsi T helper dalam mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan, genom dari
HIV proviral DNA dibentuk dan diintegrasikan pada DNA sel T helper sehingga
menumpang ikut berkembang biak sesuai dengan perkembangan biakan sel T helper.
Sampai suatu saat ada mekanisme pencetus (mungkin karena infeksi virus lain) maka
HIV akan aktif membentuk RNA, ke luar dari T helper dan menyerang sel lainnya untuk
menimbulkan penyakit AIDS. Karena sel T helper sudah lumpuh maka tidak ada
mekanisme pembentukan sel T killer, sel B dan sel fagosit lainnya. Kelumpuhan
mekanisme kekebalan inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
atau Sindroma Kegagalan Kekebalan.
D. Transmisi HIV
Transmisi HIV dari satu orang ke orang lain dapat melalui berbagai jalur, antara lain:
1. Transmisi melalui jalur hubungan seksual
Infeksi HIV dapat menular melalui hubungan seksual, baik heteroseksual
maupun homoseksual. Virus HIV dapat ditemukan di cairan semen, sediaan apus
serviks, dan cairan vagina. Selain itu, ditemukan kaitan yang erat antara infeksi
HIV dengan hubungan seks anogenital. Berbagai macam infeksi menular seksual
yang menimbulkan ulserasi di daerah genital juga meningkatkan kemungkinan
terjadinya infeksi HIV. Oleh karena itu, penatalaksanaan infeksi menular seksual
dapat mencegah penularan HIV.
2. Transmisi melalui darah, produk darah, dan organ donor
Infeksi HIV dapat menular kepada seseorang yang menerima darah atau
produk darah yang terkontaminasi HIV.14 Lima sampai sepuluh persen dari
infeksi HIV di dunia ditularkan melalui transfusi dari darah dan produk darah
terkontaminasi HIV.15 Selain itu, HIV juga bisa menular melalui pemakaian alat
medis (suntikan dan jarum, mesin dialisis) bersama dengan pasien HIV.
3. Transmisi karena faktor pekerjaan
Faktor pekerjaan juga dapat menjadi faktor yang dapat mentransmisikan
infeksi HIV. Pekerjaan yang berhubungan dengan materi biologis yang

mengandung HIV berisiko menjadi media transmisi HIV. Pekerjaan tersebut


antara lain pekerja di laboratorium, tenaga kesehatan seperti perawat, atau bahkan
pekarya. Mereka pada umumnya tertular HIV secara tidak sengaja akibat tertusuk
jarum atau alat tajam bekas digunakan pada pasien HIV atau terkena cairan tubuh
yang infeksius.
4. Transmisi maternal-fetal
Infeksi HIV bisa ditransmisikan dari ibu yang terinfeksi ke fetus ketika
dalam kandungan, proses persalinan, dan menyusui.
5. Transmisi dari cairan tubuh lain
Meski HIV dapat diisolasi dalam titer yang rendah dari saliva seorang
pengidap HIV, tidak ditemukan bukti yang meyakinkan bahwa saliva dapat
menularkan infeksi HIV. Saliva sendiri mengandung faktor antivirus endogen
seperti IgA, IgG, dan IgM yang spesifik terhadap HIV yang dapat dideteksi pada
pengidap HIV. Diduga glikoprotein besar seperti musin dan thrombospondin-1
dapat menggumpalkan HIV untuk dikeluarkan (Braunwald, 2008).
E. Pemeriksaan HIV
1. ELISA
ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi
yang dibuat tubuh terhadap virus HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi
mulai minggu ke 2, atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV.
Kerena alasan inilah maka para ahli menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan
setelah minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas seksual berisiko tinggi atau
tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi.
2. Western Blot
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi antibodi terhadap
HIV. Western blot menjadi tes konfirmasi bagi ELISA karena pemeriksaan ini
lebih sensitif dan lebih spesifik, sehingga kasus 'yang tidak dapat disimpulkan'
sangat kecil. Walaupun demikian, pemeriksaan ini lebih sulit dan butuh keahlian
lebih dalam melakukannya.
3. IFA
IFA atau indirect fluorescent antibody juga meurupakan pemeriksaan
konfirmasi ELISA positif. Seperti halnya dua pemeriksaan diatas, IFA juga
mendeteksi antibodi terhadap HIV. Salah satu kekurangan dari pemeriksaan ini
adalah biayanya sangat mahal.
4. PCR Test

PCR atau polymerase chain reaction adalah uji yang memeriksa langsung
keberadaan virus HIV di dalam darah. Tes ini dapat dilakukan lebih cepat yaitu
sekitar seminggu setelah terpapar virus HIV. Tes ini sangat mahal dan
memerlukan alat yang canggih. Oleh karena itu, biasanya hanya dilakukan jika
uji antibodi diatas tidak memberikan hasil yang pasti. Selain itu, PCR test juga
dilakukan secara rutin untuk uji penapisan (screening test) darah atau organ yang
akan didonorkan (Sutrimo, 2013).

DAFTAR PUSTAKA
Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, et al, editors. 2008.

Human Immunodeficiency Virus: AIDS and related disorders.In: Fauci AS, Kasper DL,
Longo DL. Harrisons Principle of Internal Medicine 17th Edition. McGraw-Hill.USA.
Emirza,

Wicaksono.

103.

HIV

dan

AIDS.

Online.

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/03/27/hiv-aids/.
Hardjoeno. 2007. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diaggnostik. Cet 5. Makassar:
Hasanuddin University Press.
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series
Rosisdi,

david.2012.Makalah

HIV.

http://davidrosidi.blogspot.com/2012/09/makalah-hiv-aids.html.
Sutrimo, Wayan 2013. Pemeriksaan HIV. Online. Available on:
http://analiskesehatankendariangkatan5.blogspot.com/2013/01/uji-hiv.html
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan
pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

Online.