Anda di halaman 1dari 15

1.

Memahami dan menjelaskan TB paru


1.1 Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi
dapat

juga

mengenai

organ

tubuh

lainnya.

1.2 Klasifikasi
Berdasarkan WHO 1991, dibagi 4 kriteria TB paru:
a.Katregori I

Kasus baru dengan sputum positif

Kasus baru dengan bentuk TB berat

b.Kategori II
Kasus kambuh
Kasus gagal dengan sputum BTA positif
c.Kategori III

Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas

Kasus TB ekstra paru

d.Kategori IV

TB kronik

Berdasarkan pemeriksaan, Tuberkulosis dapat di klasifikasikan menjadi:


1. TB Paru BTA Positif
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu)
hasilnya positif
- 1 spesimen dahak SPS positif disertai pemeriksaan radiologi paru menunjukan
gambaran TB aktif
- 1 spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif
2. TB Paru BTA Negatif
- Apabila dalam 3 pemeriksaan spesimen dahak SPS BTA negatif dan pemeriksaan
radiologi dada menunjukan gambaran TB aktif
- TB Paru dengan BTA (-) dan biakan M.tuberculosis positif
3. TB Ekstra Paru

TB yang menyerang organ tubuh di luar paru, termasuk pleura yaitu yang
menyelimuti paru, serta organ lain seperti selaput otak, selaput jantung pericaditis,
kelenjar limpa, kulit, persendian ginjal, saluran kencing, dan lain-lain.
( Sumber : IPD jilid II Edisi IV )
Berdasarkan tipe pasien:
a. Kasus baru
Pasien yang belum parnah mendapat pengobatan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan
b. Kasus kambuh (relaps)
Penderita TBC yang sebelumnya sudah pernah pengobatan TBC dan telah
dinyatakan sembuh, lalu berobat kembali dengan pemeriksaan BTA positif atau
biakan positif.
c. Kasus drop out
Pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat 2
bulan berturut-turut.
d. Kasus gagal
Pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke 5
e. Kasus kronik
Pasien dengan pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan
ulang pengobatan kategori 2.
f. Kasus bekas TB
- Hasil pemeriksaan BTA negatif dan gambaran radiologi paru dengan lesi TB
tidak aktif
- kasus gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat terapi OAT 2 bulan
1.3 Prevalensi penyakit TBC paru
Walaupun pengobatan TB yang efektif sudah tersedia tapi sampai saat ini TB
masih tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Pada bulan Maret 1993
WHO mendeklarasikan TB sebagai global health emergency. TB dianggap sebagai
masalah kesehatan yang penting karena kurang lebih 1/3 penduduk dunia terinfeksi
oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TB yang
tercatat di seluruh dunia.

Sebagian besar kasus TB ini (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di negaranegara yang sedang berkembang. Di antara mereka 75% berada pada usia produktif
yaitu 20-49 tahun.
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah
China dan India. Berdasarkan survei kesehatan 1985 dan survei kesehatan nasional
2001, TB menempati rangking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di
Indonesia.
( Sumber : IPD jilid II Edisi IV )
1.4 Menjelaskan faktor resiko penyakit TBC paru
1. Infeksi TBC

Orang-orang yang lahir di negara asing dari negara-negara yang berinsiden


tinggi

Orang-orang miskin dan sangat miskin, terutamaa di kota-kota besar

Penghuni penjara sekarang atau sebelumnya

Orang tunawisma

Pengguna obat injeksi

Pekerja perawat kesehatan yang merawat penderita yang beresiko tinggi

Anak yang terpajan dengan keluarganya yang memiliki riwayat TBC

2. Penyakit TBC bila terinfeksi

Koinfeksi dengan virus HIV

Penyakit gangguan imun, terutama penyakit keganasan

Pengobatan imunosupresif

Bayi dan anak < 3 tahun

1.5 Sumber infeksi penyakit TBC paru

Agent

: Mycobacterium tuberculosis tipe humanium, bovinum, avium

dan atypic

Reservoir

: manusia, sapi dan burung

Transmisi

: udara pernafasan / aerogen, air borne transmission, droplet

kering udara, susu sapi yang terkontaminasi oleh M.bovis


1.6 Cara Penularan Penyakit TBC

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk,
dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan
tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau
kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi
hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran
pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian
organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan


segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya
melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha
dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel
paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya
menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat).
Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada
pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem

kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan


sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk
sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber
produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat
diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif
terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak


dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi
sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat,
meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan
adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang
lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang
memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

1.7 Etiologi
Menurut Suriadi (2001) penyebab dari TB Paru adalah : 1) Mycobacterium
tuberculosis 2) Mycobacterium bovis
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis :
a) Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan secara
genetik.
b) Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka kematian dan
kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
c) Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
d) Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat, kemungkinan
infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
e) Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang nutrisi,
stress emosional, kelelahan yang kronik)
f) Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi dan
memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.
g) Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih mudah
h) Nutrisi ; status nutrisi kurang
i) Infeksi berulang : HIV, Measles, pertusis.
j) Tidak mematuhi aturan pengobatan.

1.8 Patogenesis
Tempat masuk kuman M. tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi
melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mendukung kumankuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan
merupakan tempat masuk utama bagi jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu
yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas
perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya limfosit
T) adalah sel imunosupresifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan
makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya . Respon ini
disebut sebagai reaksi hipersensitivitas.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai
suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil. Setelah berada di alveolus biasanya
dibagian bawah lobus atas paru-paru atau bagian atas lobus bawah basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Alveoli yang terserang akan mengalami
konsolidasi dan akan mengalami gejala pneumonia akut. Pneumonia ini dapat sembuh
dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga
berlanjut terus dan bakteri dapat terus difagosit atau berkembang biak dalam sel. Basil
juga menyebar dalam getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Makrofag
yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga
membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya
membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan
seperti keju, lesi nekrosis ini disebut kaseosa. Lesi primer pary-paru dinamakan focus
Ghon dan dan gabungan terserangnya getah bening regional dan lesi primer
dinamakan kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis
adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronchus dan menimbulkan
kavitas kemudian akan masuk kepercabangan trakheobronkhial. Proses ini dapat
terulang kembali dibagian lain dari paru-paru atau basil dapat terbawa sampai
kelaring, telinga tengah atau usus.
1.9 Manifestasi
manifestasi klinik TB Paru dibagi :
1.Gejala Umum: Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih.

Pada TB Paru anak terdapat pembesaran kelenjar limfe superfisialis.


2. Gejala lain yang sering dijumpai:
a) Demam
b) Dahak bercampur darah.
c) Batuk darah
d) Sesak nafas dan rasa nyeri dada
e) Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan
(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih
dari sebulan.
Oleh karena itu setiap orang yang datang ke unit pelayanan kesehatan dengan
gejala tersebut diatas, harus dianggap sebagi seorang suspek TB Paru atau tersangka
penderita TB Paru, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
langsung.
1.10 Diagnosis
.

Penyebab TBC adalah Mycrobacterium tubercolosis, basil atau kuman yang


berbentuk batang, dan mempunyai sifat tahan terhadap pewarnaan asam dan alkohol.
Menenukan kuman BTA ini, menjadi dasar yang sangat penting dalam proses
diagnosis.
Mengacu pada program nasional penanggulangan TB, diagnosis dilakukan
dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Adapun diagnosis pastinya
adalah melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak. Namun, pemeriksaan kultur
memerlukan waktu yang lama, hanya akan dilakukan bila diperlukan atas indikasi
tertentu, dan tidak semua unit pelayanan kesehatan memilikinya. Pemerintah melalui
gerakan terpadu nasional, memiliki upaya untuk meningkatkan kemampuan
Puskesmas untuk melakukan diagnosis TB berdasarkan pemeriksaan BTA ini.
Pemeriksaan dahak dilakukan sedikitnya 3 kali, yaitu pengambilan dahak sewaktu
penderita datang berobat dan dicurigai menderita TB, kemudian pemeriksaan kedua
dilakukan keesokan harinya, yang diambil adalah dahak pagi. Sedangkan pemeriksaan
ketiga adalah dahak ketika penderita memeriksakan dirinya sambil membawa dahak
pagi. Oleh sebab itu, disebut pemeriksaan SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu).

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya


BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan
positif apabila sedikit 2 dari 3 pemeriksaan spesimen SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu)
BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut,
yaitu rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Kalau dalam pemeriksaan
radiologi, dada menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah kepada TB maka
yang bersangkutan dianggap positif menderita TB. Kalau hasil radiologi tidak
menunjukkan adanya tanda-tanda TB, maka pemeriksaan dahak SPS harus diulang.
Sedangkan pemeriksaan biakan basil atau kuman TB, hanya dilakukan apabila sarana
mendukung untuk itu.
Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif, maka diberikan antibiotik
berspektrum luas selama 1 hingga 2 minggu, amoksilin atau kotrimoksasol. Bila tidak
berhasil, dan penderita yang bersangkutan masih menunjukkan adanya tanda-tanda
TB, maka ulangi pemeriksaan dahak SPS. Selanjutnya prosedur terdahulu dilakukan,
yakni kalau dalam pemeriksaan ulang ternyata dahak SPS positif, maka yang
bersangkutan adakah positif menderita TB. Namun, apabila dahak negatif, maka
ulangi pemeriksaan radiologi. Apabila hasil radiologi mendukung TB dianggap
sebagai penderita TB dengan BTA negatif, radiologi positif. Apabila baik radiologi
tidak mendukung TB, spesimen dahak negatif, maka yang bersangkutan bukan TB.
Karena tingginya prevalensi TB di Indonesia, maka tes tuberkulin pada orang
dewasa, tidak memiliki makna lagi. Pada anak, sulit untuk mendapatkan BTA,
sehingga diagnosis TB pada anak didapat dari gambaran klinik, radiologi dan uji
tuberkulin.
Untuk itu, seorang anak dapat dicurigai menderita TB, kalau terdapat gejala seperti:
1. Mempunyai riwayat kontak serumah dengan penderita TB dengan BTA positif.

2. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG dalam waktu 3-7 hari.
3. Terdapat gejala umum TB.
1.11 Komplikasi TB Paru
a. Komplikasi dini = pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis
b. Komplikasi lanjut = obstruksi jalan nafas (sind. Obstruksi pasca TBC), kerusakan
parenkim berat ( fibrosis paru ), amiloidosis, karsinoma paru
1.12 Prognosis
1. .Jika berobat teratur sembuh total (95%).
2. Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 % yang mungkin relaps
1.13 Penatalaksanaan TBC Paru
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis yakni
1.Aktivitas bakterisid
Obat ini bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
(metabolismenya

masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan

kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada


pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan
pengobatan).
2.Aktivitas sterilisasi
Obat ini bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat
(metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan
setelah pengobatan dihentikan.
Dalam pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat
saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi.
Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis dilskukan dengan
memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat
bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal
dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau
lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH.

OAT (Obat Anti Tuberkulosis)


-

Obat lini pertama, antara lain : Isoniazid (INH / H), Rifampisin (R), Etambutol
(E), Pirazinamid (Z), Streptomisin (S)

Obat lini kedua, antara lain : Kapreomisin, Etionamid, Sikloserin, Kanamisin,


Asam paraaminosalisilat (PAS), kuinolon

Pengobatan primer tuberkulosis dibagi bedasarkan beberapa kategori :


1 Kategori I : 2RHZE / 4R3H3
2 Kategori II : 2RHZES / 1RHZE / 5R3H3E3
3 Kategori III: 2RHZE / 4R3H3
4. Kategori IV : TB Multiple Drug Resistance
Rekomendasi terapi awal tuberkulosis oleh WHO menggunakan regimen obat
selama 6 bulan, yakni : INH + Rifampisin + Pirazinamid atau Etambutol yang
diberikan selama 2 bulan awal setiap hari. Dan diteruskan untuk 4 bulan selanjutnya
dengan INH dan Rifampisin setiap hari atau tiga kali seminggu.
Sedangkan untuk regimen obat selama 9 bulan didasarkan pada INH dan
Rifampisin yang diberikan setiap harinya selama 1-2 bulan dan dua kali, tetapi cara
ini tidak harus dilakukan jika ada kemungkinan resistensi obat. Dan untuk
Pirazinamid, Etambutol, dan Streptomisin diberikan secara bersamaan hingga hasil tes
kerentanan diketahui.
Farmakodinamik
Mekanisme kerja obat primer tuberkulosis :
1. Isoniazid (INH)
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesis
yang diajukan, di antaranya efek pada lemak, biosintesis asam nukleat, dan glikolisis.
Ada pendapat bahwa efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat yang
merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium.
Efek sampingnya ialah kesemutan, rasa terbakar di kaki, nyeri otot. Efek ini
bisa dikurangi dengan piridoksin 100 mg perhari atau vitamin B kompleks. Dan efek
samping beratnya ialah hepatitis imbas obat.
2. Rifampisin
Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh. Kerjanya
menghambat

DNA-dependent

RNA

polymerase

dari

mikobakterium

dan

mikroorganisme lain dengan menekan awal terbentuknya rantai dalam sintesis RNA.
Efek sampingnya ialah demam, menggigil, mual, muntah, tidak nafsu makan,
gatal kemerahan pada kulit. Dan efek samping beratnya ialah hepatitis imbas obat,
anemia hemolitik, gagal ginjal, dan sesak nafas. Selain itu bisa menyebabkan air seni,
keringat, air mata berwarna merah.

3. Pirazinamid
Efek sampingnya ialah hepatitis imbas obat, nyeri sendi, demam, mual, dan
kemerahan di kulit
4. Etambutol
Efek sampingnya ialah gangguan penglihatan, seperti berkurangnya ketajaman
dan buta warna.
5. Streptomisin
Efek sampingnya ialah tinitus, pusing, dan kehilangan keseimbangan. Bisa juga
timbul reaksi hipersensitivitas, seperti demam, sakit kepala, muntah, dan eritem di kulit.
Resiko meningkat pada pasien dengan gangguan ekskresi ginjal.
Sebelum ditemukannya rifampisin metode terapi terhadap tuberculosis paru
adalah dengan system jangka panjang (terapi standar) yaitu: INH (H) + Streptomisin
(S) + PAS atau Etambutol (E) tiap hari dengan fase initial selama 1-3 bulan dan
dilanjutkan dengan INH +Etambutol atau PAS selama 12-18 bulan.
Setelah ditemukannya Rifampisin maka paduan obat menjadi: INH +
Rifampisin + Streptomisin atau Etambutol setiap hari (fase initial) dan diteruskan
dengan INH + Rifampisin atau Etambutol (fase lanjut)
Paduan ini selanjutnya berkembang menjadi terapi jangka pendek, dimana
diberikan INH + Rifampisin +Streptomisin atau Etambutol atau Pirazinamid (Z)
setiap hari sebagai fase initial selama 1-2 bulan dilanjutkan dengan INH + Rifampisin
atau Etambutol atau Streptomisin 2-3 kali seminggu selama 4-7 bulan, sehingga lama
pengobatan keseluruhan menjadi 6-9 bulan.
Dengan pemberian terapi jangka pendek akan didapat beberapa keuntungan seperti :
1. Waktu pengobatan lebih dipersingkat.
2. Biaya keseluruhan untuk pengobatan menjadi lebih hemat dan efisien.
3. Jumlah penderita yang membangkang menjadi berkurang.
4. Tenaga pengawas pengobatan menjadi lebih hemat dan efisien.
Oleh karena itu Departemen Kesehatan R.I. dalam rangka program
pemberantasan penyakit tuberculosis paru lebih menganjurkan terapi jangka pendek
dengan perpaduan obat HRE/5 H2R2 (Isoniazid + Rifampisin + Etambutol setiap hari
selama satu bulan, dan dilanjutkan dengan Isoniazid + Rifampisin 2 kali seminggu
selama 5 bulan)
PEMANTAUAN HASIL PENGOBATAN

1. Pengawasan terhadap respon pengobatan. Perhatikan perbaikan klinik, aktivitas, nafsu


makan, kenaikan berat badan. Bila ada tuberkulosis ekstra torakal diamati perbaikan
yang terjadi. Respon klinis yang baik terhadap terapi mempunyai nilai diagnostik.
Respon yang baik dapat dilihat dari perbaikan semua keluhan awal. Nafsu makan
membaik, berat badan meningkat dengan cepat, keluhan demam dan batuk
menghilang dan tidak merasa sakit.Respon yang nyata biasanya terjadi dalam 2 bulan
awal (fase intensif)
2. Pengawasan terhadap komplikasi
3. Pengawasan terhadap efek samping obat : biasanya jarang terjadi pada anak. Neuritis
perifer, gangguan Nervus VIII, gangguan penglihatan, gejala hepatotoksik
4. Pengamatan terhadap perbaikan gambaran laboratorium darah.Pemeriksaan kimia
darah atas indikasi
5. Pengamatan terhadap perbaikan radiologik dilakukan pada akhir pengobatan
6. Mencari sumber infeksi pada keluarga dan masyarakat sekitarnya
1.14 Kegagalan Terapi OAT
Penyebabnya:
1.Obat
a. Panduan tak adekuat
b. Dosis tak cukup
c. Minum obat tak teratur sesuai petunjuk
d. Terjadi resistensi obat
2. Drop out
a. Kurang biaya pengobatan
b. Merasa sudah sembuh
c. Malas berobat
3. Adanya penyakit
a. Lesi paru yang sakit terlalu luas
b. Ada gangguan imunologis
c. Ada penyakit lain yang menyertai
1.15 Menjelaskan pencegahan penyakit TBC paru
1. Vaksinasi BCG
Vaksinasi BCG ini dilakukan pada bayi berumur 0-3 bulan. Dari beberapa
penelitian diketahui bahwa vaksinasi BCG yang telah dilakukan pada anak-anak

selama ini hanya memberikan daya proteksi sebagian saja, yakni 0-80%. Tetapi BCG
masih tetap dipakai karena dapat mengurangi kemungkinan terhadap TBC berat
(meningitis, TBC milier, dll) dan TBC ekstra paru lainnya.
2. Kemoprofilaksis
Kemoprofilaksis TBC merupakan masalah tersendiri dalam penanggulangan TBC
paru di samping diagnosis yang cepat dan pengobatan yang adekuat. Isoniazid banyak
dipakai selama ini karena harganya murah dan efek sampingnya sedikit.
Obat alternatif lain setelah Isoniazid adalah Rifampisin. Beberapa peneliti pada I
DAT ( International Union Against Tuberculosis ) menyatakan bahwa profilaksis
dengan INH diberikan selama 1 tahun, dapat menurunkan insiden TBC sampai 5583%, dan yang kepatuhan minum obatnya cukup baik dapat mencapai penurunan
90%. Yang minum obatnya tidak teratur, efektivitasnya masih cukup baik.
1.16 Memahami tentang DOTS
Salah satu dari komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka
pendek dengan pengawasan langsung untuk menjamin keteraturan pengobatan
diperlukan seseorang PMO.
Lima kompenen DOTS
a. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB nasional
b. Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskopik
c. Pengobatan obat jangka pendek diawasi secara langsung
d. Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang baku
Persyaratan PMO
o Seseorang yang di kenal, di percaya dan di setujui baik oleh petugas kesehatan
maupun penderita.
o Disegani dan dihormati oleh penderita .
o Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita
o Bersedia membantu penderita dengan suka rela
o Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama sama penderita
Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan , misalnya bidan di desa, perawat,
pekarya sanitarian , juru imunisasi , dan lain lain . bila tidak ada petugas kesehatan
yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, PKK atau tokoh
masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

Tugas seseorang PMO


mengawasi penderita TBC agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan .
memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.
Mengingatkan penderita untuk dahak pada waktu yang telah ditentukan .
Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC yang mempunyai
gejala gejala penderita TBC untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan
kesehatan.
Merujuk pasien bila efek samping semakin berat
Tugas seseorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban penderita mengambil
obat dari unit pelayanan kesehatan .
Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk di sampaikan
TBC bukan penyakit keturunan atau kutukan.
TBC dapat disembuhkan dengan berobat teratur.
Tata laksana pengobatan penderita pada tahap intensif dan lanjutan.
Pentingnya berobat secara teratur karena itu pengobatan perlu diawasi.
Efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi efek samping
tersebut.
Cara penularan dan mencegah penularan .
1.17 Memahami P2M TB
P2M TB adalah strategi penanggulangan yang di rekomendasikan oleh WHO
dalam pelaksanaan program penanggulangan tuberculosis. Strategis ini dilaksanakan
di indonesia sejak 1995 . Strateginya terdiri dari lima komponen , yaitu :
1. Komitmen politis dari para pengambilan keputusan, termasuk dukungan dana .
2. Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik .
3. Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung
oleh pengawasan menelan obat PMO
4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin.
5. Pencatatan dan pelaporan secara baku unyuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program penanggulangan TB