Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN ANAK
VARISELLA
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOBIRIN
MUSI RAWAS LUBUK LINGGAU

Di susun Oleh :
RORI ARIESTA SETIAWAN, S. Kep
1426050050

Perceptor Akademik

Perceptor Klinik

Ns. Velliza Collin.S. Kep, MAN

Ns. FrimaUlfa A, S.Kep

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2015
LAPORAN PENDAHULUAN

VARISELA

A. Landasan Teori
1. Definisi
Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini
dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama
Chicken pox.
Varisela merupakan penyakit kulit akut, menular yang di tandai oleh
vesikel di kulit dan selaput lendir yang disebabkan oleh virus varisela.
( Ngastiyah, 1995), Sedangkan menurut Arif Mansjoer dkk, Menyatakan bahwa
varisela adalah infeksi akut primer oleh virus varisela zoster yang menyerang
kulit dan mukosa, secara klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit
polimorfi, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Di sebut juga cacar air,
chicken pox. Tersebar kosmopolit, menyerang terutama anak-anak. Transmisi
penyakit ini secara aerogan. Masa penularannya lebih kurang 7 hari di hitung
dari timbulnya gejala kulit.
2. Etiologi
Varisela di sebabkan oleh herpes virus varisela atau di sebut juga virus
varisela zoster ( Virus Z-V). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes
zoster. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di duga
setelah ada kontak dengan virus V-Z akan terjadi varisela. Kemudian setelah
pasien varisela tersebut sembuh mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten
(tanpa ada manifestasi klinik) dan kemudian V-Z dapat ditemukan dalam cairan
vesikel dan dalam darah pasien varisela, dapat di lihat dengan mikroskop
elektron dan dapat di isolasi dengan menggunakan biakan dari fibrolas paru
embrio manusia. (Ngastiyah, 1995).
Virus varisela-zoster.infeksi primer virus ini menyebabkan penyakit
varisela, sedangkan reaktivitasi menyebabakan herpes zoster. ( Arif Mansjoer
2000)

3. Tanda dan Gejala


1. Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh.

2. Pusing.
3. Demam dan kadang kadang diiringi batuk.
4. Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi
(mirip kulit yang terangkat karena terbakar).
5. Terakhir menjadi benjolan benjolan kecil berisi cairan.
Sebelum munculnya erupsi pada kulit, penderita biasanya mengeluhkan
adanya rasa tidak enak badan, lesu, tidak nafsu makan dan sakit kepala. Satu
atau dua hari kemudian, muncul erupsi kulit yang khas.
Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna
kemerahan (makula), yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil
pada kulit), papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung kecil berisi
cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh
(pustula). Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan mengering tanpa
meninggalkan abses.
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk_php?id=&iddtl
4. Patofisiologi
Virus yang menyebabkan varisela adalah virus herpes DNA. Saat
penyakit ini aktif, maka akan sangat menular. Masa inkubasinya 14-21 hari.
Infeksi biasanya timbul pada anak-anak usia sekolah, tetapi terkadang juga
menyerang orang dewasa muda. Varisela di tandiai oleh perasaan tidak enak
badan dan demam, yang di ikuti oleh erupsi makula eritomatosa kecil multipel
palpula dan vesikel.
Vesikel-vesikel akan menjadi perulen, berkusta dan akan sembuh dengan
sendirinya dalam satu minggu. Lesi-lesi terdapat berbagai stadium dan ini
merupakan ciri khas dari varisela. Lesi mula-mula timbul di tubuh dan dan wajah
dan kemudain menyebar keperifer menuju ekstremitas. Pada anak-anak yang
mengalami imunosupresi maka dapat timbul komplikasi akibat infeksi varisela
yaitu pneumonitis atau ensefalitis, dan keduanya mungkin fatal.
Herpes zoster di sebabkan oleh virus yang sama dengan virus yang
menyebabkan varisela. Herpes zoster biasanya menyerang pasien yang lanjut
usia. Virus varisela yang dorman di aktifkan dan timbul vesikel-vesikel
meradang unileteral di sepanjang satu dermatom. Kulit di sektiarnya mengalami
edema dan pendarahan, keadaan seperti ini biasanyan di dahului oleh rasa nyeri
hebat dan atau rasa terbakar, meskipun setiap syaraf dapat terkena namun syraf
torakal, lumbal atau kranial palin sering terserang. Herpes zoster dapat

berlangsung selama kurang lebih tiga minggu. Nyeri yang timbul sesudah
serangan herpes disebut neuralgia post hepatika dan biasanya berlangsung
selama beberapa bulan. Bahkan terkadang sampai beberapa tahun. (Sylvia A.
Pearce)
Menyebar Hematogen, virus varicella zoster juga menginfeksi sel satelit
di sekitar Neuron pada ganglion akar dorsal Sumsum Tulang Belakang. Dari sini
virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk Herpes Zoster.
Sekitar 250 500 benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh,
tidak terkecuali pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata, termasuk
bagian tubuh yang paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu , lesi
teresebut akan mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1
3 minggu bekas pada kulit yang mengering akan terlepas.
Virus Varicella Zoster penyebab penyakit cacar air ini berpindah dari satu
orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal dari batuk atau bersin
penderita dan diterbangkan melalui udara atau kontak langsung dengan kulit
yang terinfeksi. Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui paru-paru dan
tersebar kebagian tubuh melalui kelenjar getah bening. Setelah melewati periode
14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya ke jaringan kulit. Memang
sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanak dan pada kalau sudah
dewasa. Sebab seringkali orang tua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air
lebih dini.
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak; di negara-negara
bermusim empat, 90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anakanak, pada umumnya penyakit ini tidak begitu berat. Namun di negara-negara
tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja dan orang dewasa yang
terserang Varisela. 50% kasus varisela terjadi diatas usia 15 tahun. Dengan
demikian semakin bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varisela
semakin bertambah berat.
http://www.klinikku.com/pustaka/medis/integ/varisela-klinis.html

5. Web of caution

Virus herpes

Kontak langsung
dengan penderita

Menginfeksi sel satelit neuron

Proses inflamasi

1. Lesu
2. Anoreksia
3. Sakit kepala

munculnya bintikbintik merah

munculnya papula

Pustula pecah

Terpaparnya
dengan antigen
dari luar

Mk ; Resiko
Tinggi Infeksi

Proses inflamasi

Perluasan luka, di
bagian tubuh yang
terinfeksi terpapar

Proses proses
penyembuhan
Terdapat jaringan
nekrotik

Mk ; gangguan
citra tubuh
6. Penatalaksanaan
Pengobaan bersifat simtomatik dengan antiperetik dan analgesik. Unutk
menghlangkan gatal dapat di berikan sedative. Di berikan bedak mengandung zat
anti gatal, unutk mencegah pecahnya vesikel secara dini dan menghilangkan

gatal. Pada infeksi sekunder dapat di berikan antibiotika berupa salep dan oral.
Dapat pula di berikan obat-obatan anti virus atau imunistimulator. (Arif
Mansjoer 2000)
Pencegahan yang harus di berikan pada klien dengan varisela terutama
pada usia anak yaitu dengan pencegahan secara pasif dan aktif, pencegahan
secara pasie yaitudengan memberikan zoster imun globulin ( ZIG ) dan zoster
imun plasma (ZIP). ZIG adalah globulin gama dengan antibosi yang tinggi, yang
di dapatkan dari pasien yang telah sembuh dari infeksi herpes zoster. Pemberian
ZIG di berikan sebanyak 5 ml dalam 72 jam setelah kontak dengan pasien
varisela dapat mencegah penyakit ini pada anak yang sehat. Tetapi pada anak
dengan defisiensi imunologis, leukemia atau penyakit keganasan lainnya,
pemberian ZIG tidak menyebabkan pencegahan yang sempurna, lagipula di
perlukan ZIG dengan liter yang tinggi dan dalam jumlah yang besar.
ZIP adalah plasma yang berasal dari pasien yang baru sembuh dari herpes
zoster dan di berikan secara intravena sebanyak 3-14,2 ml/kgBB. Pemberian ZIP
dalam 1-7 hari setelah kontak dengan pasien varisela pada anak dengan defisensi
imunologis, leukemia atau penyakit keganasan lainnya yang menyebabkan
menurunnya angka varisela dan mencegah varisela keduanya. (Ngastiyah 1997)
7. Komplikasi
Pada kejadian Varisela mungkin terjadi komplikasi pada susunan saraf seperti
ensefalitis, ataksia, nistagmus, tremor, mielitis transversa, kelumpuhan saraf
muka, neuromielitis optika atau penyakit devis dengan kebutaan sementara,
sindrom hipotalamus yang di sertai dengan obesitas dan panas badan berulangulang. Pasien varisela denga komplikasi ensefalitis setelah sembuh dapat
meninggakan gekala seperti sisa kejang, RM, dan kelainan tingkah laku.
(Ngastiyah 1997)
8. Pemeriksaan penunjang
Dilakukan percobaan tranck dengan membuat sediaan hapus yang di warnai
dengan geimsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan di dapati sel
datia berinti banyak. (Arif Mansjoer, 2001)
B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
1. Pengkajian teoritis
Meliputi, nama mahasiswa, tempat praktek, tanggal praktek, tanggal
Pengkajian.
a. Identitas Klien

Meliputi identitas pasien yaitu nama, umur,

jenis kelamin, status

perkawinan, agama, suku, pendidikan, alamat, nama ibu dan identitas


penanggung jawab.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kesehatan
Masalah kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah did derita sebelumnya, pernah di rawat di rumah
sakit, obat-obatan yang oernah di gunakan, Alergi, dan riwayat imunisasi.
Masalah Kesehatan sekarang
Masalah kesehatan keluarga/keturunan
Gonogram 3 generasi
d. Riwayat tumbuh kembang
1. Kemandirian dan bergaul
2. Motorik kasar
3. Motorik halus
4. Koqnitif dan bahasa
5. Psikososial
6. Lain-lain
e. Riwayat sosial
1. Yang mengasuh klien
2. Hubungan dengan anggota keluarga
3. Hubungan dengan teman sebaya
4. Pembawaan secara umum
5. Lingkungan rumah
f. Pemeriksaan fisik
1.Aktivitas/istirahat
Gejala:

lemas

2.Sirkulasi
Tanda :

DBN

3.Makan/cairan
Gejala:

Anoreksia

4.Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Keluhan berbagai rasa nyeri/gejala tidak jelas
Tanda :

adanya bolus yang di timbulkan oleh penyakit yang di derita

klien
5.Keamanan
Tanda :

Demam (biasanya rendah)

6.Pernafasan
Tanda : DBN
7.Penyuluhan dan pembelajaran

Gejala:

Riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan gejala Varisela

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul


1. Hipertermi
2. Resiko tinggi infeksi.
3. Kerusakan integritas kulit
4. Gangguan Body image

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.
Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. 2000. Media Aesculapius fakultas
Kedokteran. Jakarta
Price A. Sylvia. Patofisiologi. 1995. Penerbit buku kedokteran. Jakarta