Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN II

PEMBUATAN LARUTAN
A. Tujuan
1. Mengetahui macam-macam konsentrasi dalam larutan
2. Mengetahui dan menghitung konsentrasi larutan
3. Mengetahui dan menjelaskan teknik pembuatan larutan
B. Dasar Teori
Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang
jumlahnya lebih sedikit disebut zat terlarut, sedangkan zat yang jumlahnya
lebih banyak disebut pelarut. Larutan bisa berwujud gas (seperti udara), padat
(seperti alloy/ paduan logam ), atau cair (misalnya air laut) (Chang, 2005).
Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang
molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Perubahan gaya
antar molekul yang dialami oleh molekul dalam bergerak dari zat terlalu murni
atau pelarut ke keadaan mempengaruhi baik kemudahan pembentukkan
maupun kestabilan larutan (Oxtoby,1998).
Larutan terdiri dari zat terlarut atau yang biasa disebut solute, dan pelarut
yang biasa disebut solven. Larutan didefinisikan sebagai campuran larutan
homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat yang terlarut. Contoh dari pelarut
disini adalah air, karena air merupakan molekul polar dan nonpolar yang dapat
membentuk ikatan hidrogen. Pada larutan ada yang dikenal dengan
konsentrasi larutan. Konsentrasi larutan disini dapat didefinisikan sebagai
jumlah zat terlarut dalam larutan disebut osmolitas atau bisa disebut
osmolalitas (James, 2007).
Contoh zat terlarut di dalam pelarut seperti melarutnya gula di dalam air.
Air dengan rumus molekul H2O dan gula dengan rumus molekul C12H22O11. Air
dan gula terdiri atas molekul-molekul zat tersebut. Molekul gula yang padat
letaknya berdekatan dan juga teratur. Gaya tarik antara molekul-molekul zat
padat luas dan juga geraknya terbatas. Gerak dari molekul dapat berputar
(rotasi), bergerak (vibrasi), berputar dan berpindah (translasi) seperti ban

mobil yang sedang berjalan. Molekul zat padat tadi ternyata geraknya terbatas
dan bergetar serta berputar di tempatnya saja. Air adalah zat cair gerak
molekulnya lebih bebas dan lebih cepat daripada zat padat.
Sewaktu-waktu molekul air yang bergerak cepat bertumbukan dengan
molekul garam yang berada di permukaan kristal. Tumbukan itu menyebabkan
molekul garam terlepas dari kelompoknya. Molekul itu selanjutnya
memperoleh energi tambahan dari tumbukan berikutnya dengan molekulmolekul air dan bergerak menyebar. Penyebaran yang disebabkan oleh gerak
molekul itu disebut difusi. Uraian gula menjadi molekul-molekul dan
penyebarannya di seluruh zat cair disebut melarut.
(Sastrawijaya, 1993).
Larutan terdiri dari fase padatan cair dan gas meskipun zat terlarut dan
pelarut dapat berupa kombinasi fasa atau bentuk padat, cair atau gas. Akan
tetapi air merupakan suatu pelarut yang paling lazim dan paling penting. Jika
kita tekankan larutan berair dengan pengertian bahwa pelarut juga dapat
terjadi dengan pelarut lain dengan mempertahankan gaya antar molekul dan di
antara zat terlarut dan molekul air (Suminar, 2001).
Kelarutan menyatakan pengertian secara kualitatif dan proses larutan juga
dinyatakan secara kuantitatif untuk menyatakan komposisi dari larutan. Suatu
larutan dapat ditambahkan untuk memproses berbagai larutan yang jenuh, jika
(solute) dapat digunakan untuk memperoleh berbagai larutan yang berbeda
dalam konsentrasinya. Dalam banyak hal, tenyata proses penambahan solute
pada sejumlah solven yang tertentu tidak akan menghasilkan larutan lain yang
mempunyai konsentrasi lebih tinggi. Pada suatu keadaan ini solute tetap tidak
larut hingga dominan ada batas jumlah tertentu dari solute yang terlarut dari
sejumlah solven dalam jumlah solven tertentu yang digunakan konsentrasi
dari larutan jenuh. Suatu larutan tergantung pada sifat solven, sifat solute,
suhu dan tekanan (Hardjono, 2005).
Sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat disebut larutan.
Biasanya larutan dianggap sebagai larutan atau cairan yang dianggap sebagai
zat terlarut misalnya padatan atas gas ini merupakan istilah yang digunakan

pada larutan. Larutan suatu padatan dalam padatan lain juga lazim, misalnya
perpaduan antara emas dan perak. Pada pernyataan setiap sistem homogen dari
dua atau lebih zat (cairan, padatan gas) dengan komponen utama yang
biasanya disebut dengan nama solven atau pelarut dan komponen yang minor
dinamakan zat terlarut (solute). Pelarut dianggap sebagai pembawa atau
medium larutan atau juga mengairkan larutan dikarenakan oleh proses
pengendapan atau suatu penguapan. Uraian mengenai gejala ini memerlukan
suatu hasil spesifik kuantitatif mengenai banyaknya atau jumlah zat yang
dapat terlarut dalam larutan atau konsentrasi atau komposisi larutan.
Larutan terbentuk melalui pencampuran dua zat atau lebih zat yang
murni molekulnya dan berinteraksi langsung dengan molekul dalam bergerak
dari zat pelarut murni atau pelarut yang stabil. Larutan juga harus memiliki
molaritas tertentu. Sewaktu larutan terjadi karena diantara partikel dalam fase
asalnya atau biasa dikatakan dalam larutan dengan pelarut dan dalam zat yang
terlarut dengan zat yang terlarut berat molekulnya, tidak seperti senyawa
lautan memiliki komponen dalam proporsi tertentu dan tidak dapat dinyatakan
dalam rumus kimia.
(Suminar, 2001).
Larutan memiliki kemampuan untuk dapat menghantarkan listrik dengan
baik apabila zat terlarutnya bersifat elektrolit. Jika zat terlarutnya adalah non
elektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik. Berdasarkan aturan umum
kelarutan senyawa ionik, kita dapat meramalkan apakah endapan akan
terbentuk dalam suatu reaksi (Chang, 2005).
Pada konsentrasi suatu larutan analisis gravimetri dapat digunakan untuk
menentukan identitas senyawa. Konsentrasi larutan dalam titrasi asam dan
basa yang diketahui konsentrasinya (misalnya larutan basa) ditambahkan
sedikit demi sedikit ke dalam larutan yang konsentrasinya belum diketahui
dengan tujuan untuk menentukan konsentrasinya yang belum diketahui. Pada
saat reaksi dalam titrasi tersebut titik ekivalen terjadi apabila reaksi dalam
suatu titrasi telah sempurna (Chang, 2005).

Kepekatan suatu larutan adalah jumlah zat yang terlarut dalam suatu
larutan. Larutan pekat adalah larutan yang memiliki kepekatan tinggi yaitu
larutan yang memiliki kandungan banyak zat terlarut. Larutan encer adalah
larutan yang memiliki kepekatan rendah yaitu larutan yang di dalamnya
mengandung sedikit zat terlarut (larutan jenuh) biasa juga disebut saturated
solution. Pada larutan jenuh terdapat keseimbangan antara partikel yang
melarut dan partikel yang tidak melarut.
Larutan yang mengandung zat terlarut dengan jumlah lebih sedikit
dibandingkan dengan kemampuan pelarutnya disebut larutan tidak jenuh
(unsaturated solution), sedangkan larutan yang mengandung zat terlarut
dengan jumlah lebih banyak dari kemampuan pelarutnya disebut larutan lewat
jenuh (super saturated solution).
(Sumardjo, 2008).
Dalam larutan ada juga yang dikenal dengan sebutan larutan elektrolit dan
non elektrolit. Elektrolit adalah suatu zat yang ketika akan dilarutkan dalam
air akan menghasilkan larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Larutan
non elektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik ketika dilarutkan dalam
air. Walaupun air merupakan senyawa atau molekul yang memiliki muatan
netral (atom 0) atau kutub positif dan negatif. Oleh karena itu, air sering
disebut sebagai pelarut polar (Chang, 2005).
Suatu larutan dapat dikatakan sebagai larutan yang homogen karena
susunannya seragam sehingga tidak teramati adanya bagian-bagian dikenal
dengan sebutan zat pendispersi yang tempat menyebarnya partikel-partikel zat
terlarut. Menyebutkan komponen-komponen dalam larutan saja tidak cukup
memberikan larutan secara lengkap informasinya tambahan diperlukan yaitu
konsentrasi larutan. Banyaknya cara untuk memberikan konsentrasi larutan
yang semuanya menyatakan kualitas zat terlarut dalam kuantitas zat yang
terlarut atau larutan kuantitas pelarut dengan demikian menentukan sistem
konsentrasi harus menyatakan satuan yang digunakan untuk zat terlarut.
Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan dan satuan
yang digunakan untuk kuantitas kedua.

Sifat-sifat larutan dapat ditentukan dalam beberapa cara untuk menyatakan


konsentrasinya dengan cara fraksi mol, yaitu perbandingan jumlah zat, mol
dari suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan, molaritas dari
solute yaitu jumlah mol solute per liter larutan dan biasanya dinyatakan
dengan huruf capital (M), molalitas yaitu jumlah mol solute per 1000 gram
solven, normalitas yaitu jumlah gram ekivalen solute per liter, ppm yang
digunakan satuan konsentrasi per million atau logam per satuan juta.
(Ralph, 1985).
Zat- zat yang tidak menguap apabila dilarutkan ke dalam pelarut atau zat
terlarut, sifat-sifat fisika larutan berbeda nyata dengan sifat-sifat fisika pelarut
murni. Sifat fisika larutan yang hanya bergantung pada jumlah partikel zat
terlarut dalam larutan dan tidak bergantung pada jenis partikel yang dikenal
dengan

sifat-sifat

keelektronegatifan

larutan.

Ada

empat

sifat-sifat

keelektronegatifan larutan yaitu penurunan titik beku yang dimana terjadi


perbandingan titik larutan yang diperoleh dan titik beku larutan pelarut,
derajat keasaman yang menyatakan tingkat keasaman suatu larutan, kenaikan
titik didih, timbulnya tekanan osmotik dan penguapan uap.
Prosedur penyiapan suatu larutan yang molaritasnya diketahui adalah zat
terlarut ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu volumetrik melalui
corong. Labu digoyangkan perlahan untuk melarutkan padatan. Setelah semua
padatan larut, air ditambahkan secara perlahan sampai ketinggian larutan tepat
mencapai volume. Dengan mengetahui volume larutan dan kuantitas senyawa
terlarut dapat menghitung molaritas larutan.
(Sumardjo, 2008).

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Batang Pengaduk
Botol Semprot
Corong
Gelas Kimia
Kaca Arloji
Labu Ukur 25 mL, 50 mL, 100 mL
Pipet Tetes
Pipet Volume
Propipet
Sendok Tanduk
Timbangan

2. Bahan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Aquades
CuSO4. 5H2O
CH3COOH
Etiket atau label
HCl
H2C2O4.5H2O
H2SO4 pekat
K2Cr2O7
Na2S2O3.5H2O
Padatan NaOH

D. Prosedur Kerja
1. Pembuatan 100 mL NaOH 0,01M dari padatan NaOH
a. Dihitung padatan NaOH dalam membuat 100 mL NaOH 0,01M
b. Ditimbang padatan NaOH dari hasil perhitungan
c. Dilarutkan dengan sedikit aquades di dalam gelas kimia, diaduk
sampai semua padatan larut
d. Didinginkan larutan dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL,
ditambahkan aquadest sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dimasukkan ke botol yang telah dicuci bersih dan
kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
2. Pembuatan 50 mL asam oksalat 0,02 M dari padatan asam oksalat

a. Dihitung berat padatan asam oksalat yang dibutuhkan dalam membuat


50 mL asam oksalat 0,02 M
b. Ditimbang padatan asam oksalat sejumlah hasil perhitungan
c. Dimasukkan padatan asam oksalat yang telah ditimbang ke dalam
gelas kimia, ditambahkan aquades dan diaduk sampai larut
d. Dipindahkan larutan yang ada dalam gelas kimia ke dalam labu ukur
50 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
3. Pembuatan 25 mL Asam sulfat 4 M dari asam sulfat pekat
a. Ditentukan konsentrasi larutan asam sulfat pekat
b. Dihitung volume asam sulfat pekat yang dibutuhkan dalam membuat
25 mL asam sulfat 4M
c. Dimasukkan sedikit aquades ke dalam labu ukur 25 mL
d. Dimasukkan asam sulfat pekat yang telah dipipet ke dalam labu ukur
25 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
4. Pembuatan 25 mL K2Cr2O7 0,06 M dari padatan K2Cr2O7
a. Dihitung berat padatan K2Cr2O7 yang dibutuhkan dalm membuat 25
mL K2Cr2O7 0,01 M
b. Ditimbang padatan K2Cr2O7 sejumlah hasil perhitungan
c. Dimasukkan padatan K2Cr2O7 yang telah ditimbang ke dalam gelas
kimia, ditambahkan aquades dan diaduk sampai larut
d. Dipindahkan larutan yang ada dalam gelas kimia ke dalam labu ukur
25 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
5. Pembuatan 50 mL asam asetat 1% dari asam asetat 100%

a. Dihitung volume asam asetat 100% yang dibutuhkan untuk membuat


50 mL asam asetat 1%
b. Dipipet asam asetat 100% sesuai hasil perhitungan, dimasukkan ke
dalam labu ukur 50 mL dan ditambahkan aquades sampai tanda batas
c. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
d. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
6. Pembuatan 50 mL Na2S2O3 0,01 M dari Na2S2O3.5H2O
a. Dihitung berat Na2S2O3.5H2O yang dibutuhkan dalam membuat 50 mL
Na2S2O3 0,01 M
b. Ditimbang Na2S2O3.5H2O sejumlah hasil perhitungan
c. Dimasukan Na2S2O3.5H2O yang telah ditimbang ke dalam ke dalam
gelas kimia, ditambahkan aquades dan diaduk sampai tanda batas
d. Dipindahkan larutan yang ada dalam gelas kimia ke dalam labu ukur
50 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
7. Pembuatan 100 mL Asam klorida 0,01 M dari Asam klorida pekat
a. Dihitung volume asam klorida pekat yang dibutuhkan untuk membuat
100 mL asam klorida 0,01 M
b. Pipet asam klorida pekat sesuai hasil perhitungan, dimasukkan ke
dalam labu takar 100 mL dan ditambahkan aquades sampai tamda
batas
c. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
d. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan
8. Pembuatan 25 mL larutan Cu2+ 100 ppm dari padatan CuSO4.5H2O
a. Dihitung berat padatan CuSO4.5H2O yang dibutuhkan dalam membuat
25 mL Cu2+ 100 ppm
b. Ditimbang CuSO4.5H2O sejumlah hasil perhitungan

c. Dimasukkan CuSO4.5H2O yang telah ditimbang ke dalam gelas kimia,


ditambahkan aquades dan diaduk sampai larut
d. Dipindahkan larutan yang ada dalam gelas kimia ke dalam labu ukur
25 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas
e. Dihomogenkan dan dipindahkan larutan ke botol yang telah dicuci
bersih dan kering
f. Diberi label pada botol tersebut sesuai dengan nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan

E. Hasil Pengamatan
1. Perhitungan
a. Pembuatan 100 mL NaOH 0,01 M dari padatan NaOH
Diketahui

: V NaOH = 100 mL
M NaOH = 0,01 M
Mr NaOH = 40

Ditanyakan : gr NaOH ?
Jawab

: M =

0,01 =

0,04 = gr x 10 mL
gr = 0,04 gram
Jadi diambil sebanyak 0,04 gram dari padatan NaOH untuk dilarutkan
dengan 100 mL aquades, untuk dibuat NaOH 0,01 M.
b. Pembuatan 50 mL Asam Oksalat 0,02 M dari padatan asam oksalat
Diketahui

: V H2C2O4 = 50 mL
M H2C2O4 = 0,02 M

Mr H2C2O4 = 126
Ditanyakan : gr H2C2O4 ?
Jawab

: M =

0,02 =

2,52 = gr x 20 mL
gr = 0,126 gram
Jadi diambil sebanyak

0,126 gram dari padatan H 2C2O4 untuk

pembuatan 50 mL larutan H2C2O4 0,02 M.


c. Pembuatan 25 mL Asam Sulfat 4 M dari asam sulfat pekat
Diketahui

: V1 H2SO4 = 25 mL
M1 H2SO4 = 4 M
Mr H2SO4 = 98

Berat jenis H2SO4 = 1,84


% H2SO4 = 98 %
Ditanyakan : M2 dan V2 ?
Jawab

: M2 =

M2 =
M2 = 18,4 M
M1 .V1 = M2 . V2
V2 =

V2 =
V2 = 5,43 mL
Jadi diambil sebanyak 18,4 M dan 5,43 mL untuk pembuatan 25 mL

H2SO4 4 M.
d. Pembuatan 25 mL K2Cr2O7 0,06 M dari padatan K2Cr2O7
Diketahui

: V K2Cr2O7 = 25 mL
M K2Cr2O7 = 0,06 M
Mr K2Cr2O7 = 294

Ditanyakan : gr K2Cr2O7 ?
Jawab

: M =

0,06 =

17,64 = gr x 40 mL
gr = 0,441 gram
Jadi diambil sebanyak 0,441 gram dari padatan

K 2Cr2O7 untuk

dilarutkan dengan 25 mL aquades, untuk pembuatan K2Cr2O7 0,06 M


e. Pembuatan 50 mL asam asetat 1 % dari asam asetat 100 %
Diketahui

: V1 CH3COOH = 50 mL
M1 CH3COOH = 1 %
M2 CH3COOH = 100%

Ditanyakan : V2 CH3COOH ?
Jawab

: M1 .V1 = M2 . V2
V2 =

V2 =
V2 = 0,5 mL
Jadi diambil sebanyak 0,5 mL dari larutan CH3COOH 100 % untuk
pembuatan 50 mL CH3COOH 1 %.
f. Pembuatan 50 mL Na2S2O3 0,01 M dari Na2S2O3.5H2O
Diketahui

: V Na2S2O3 = 50 mL
M Na2S2O3 = 0,01 M

Mr Na2S2O3.5H2O = 248
Ditanyakan : gr Na2S2O3.5H2O ?
Jawab

:M=

0,01 =

2,48 = gr . 20 mL
gr = 0,124 gram
Jadi diambil sebanyak 0,124 gram dari larutan Na2S2O3.5H2O untuk
pembuatan 50 mL Na2S2O3 0,01 M.
g. Pembuatan 100 mL Asam Klorida 0,01 M dari Asam Klorida pekat
Diketahui

: V1 HCl = 100 mL
M1 HCl = 0,01M

Berat jenis HCl = 1,2


% HCl = 37 %
Mr HCl = 36,5
Ditanyakan : V2 HCl ?
Jawab

: M2 =

M2 =
M2 = 12,16 M
M1 .V1 = M2 . V2
V2 =
V2 = 0,08 mL
Jadi diambil sebanyak 0,08 mL dari larutan HCl pekat untuk
pembuatan 100 mL HCl 0,01 M.
h. Pembuatan 25 mL larutan Cu2+ 100 ppm dari padatan CuSO4.5H2O

Diketahui

: V Cu2+ = 25 ml 100 ppm

Ditanyakan : gr Cu2+ ?
Jawab

: 100 ppm =
CuSO4

Cu2+ + SO42-

1CuSO4.5H2O ~ 1Cu2+ + SO421CuSO4.5H2O ~ 1Cu2+


mol 1CuSO4.5H2O ~ mol 1Cu2+
mol 1CuSO4.5H2O = mol 1Cu2+
=

=
Mg = 9,822 mg
Gram = 0,00982 gram
Jadi diambil sebanyak 0,00982 gram dari larutan CuSO4.5H2O untuk
pembuatan 25 ml larutanCu 2+ 100 ppm.

F. Pembahasan
Percobaan kali ini akan membahas mengenai pembuatan larutan yang
bertujuan untuk mengetahui macam-macam konsentrasi larutan, menghitung

konsentrasi larutan serta mengetahui dan menjelaskan teknik pembuatan


larutan.
Larutan merupakan suatu zat homogen yang terdiri dari campuran dua
komponen atau lebih yang berupa gas, cair, atau juga padatan. Zat yang
jumlahnya sedikit didalam larutan disebut zat terlarut atau solute, sedangkan
zat yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan zat-zat lain didalam larutan
disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan
dinyatakan dalam konsentrasi larutan. Konsentrasi larutan menyatakan secara
kuantitatif komposisi suatu zat terlarut dan pelarut di dalam larutan.
Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan sejumlah zat terlarut
dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah
molar, molal, normal dan bagian per juta (part per million, ppm).
Peralatan yang digunakan pada percobaan ini yaitu batang pengaduk,
botol, botol timbang, corong, gelas kimia, kaca arloji, labu ukur 25 mL, 50 mL
dan 100 mL, pipet volume, dan timbangan. Digunakan pula beberapa bahan
yaitu aquades, CH3COOH, CuSO4.5H2O, etiket atau label, HCl, H2C2O4,
2H2O, H2SO4 pekat, K2Cr2O7, NaOH, Na2SO2O3.5H2O.
Percobaan pertama adalah membuat 100 ml NaOH 0,01 M dari padatan
NaOH, Padatan NaOH yang dibutuhkan yaitu sebanyak 0,04 gram. Jadi
diambil sebanyak 0,04 gram dari padatan NaOH untuk dilarutkan dengan 100
mL aquades, untuk dibuat NaOH 0,01 M. Pada saat penimbangan bahan
digunakan timbangan analitik karena timbangan analitik memiliki tingkat
ketelitian yang lebih tinggi dan tidak memiliki proses kalibrasi seperti pada
timbangan biasa. Kemudian bahan dilarutkan dengan sedikit aquades di dalam
gelas kimia lalu diaduk dengan batang pengaduk sampai semua padatan larut.
Pengadukan dilakukan untuk mempercepat proses pelarutan. Kemudian
larutan didinginkan dan dimasukkan ke dalam labu ukur yang berukuran 100
mL. Ditambahkan aquades sampai tanda batas lalu larutan dihomogenkan dan
dimasukkan ke dalam botol yang telah dicuci bersih dan kering. Pada botol
diberi label sesuai dengan nama larutan, konsentrasi, tanggal pembuatan dan

sifat larutan. Larutan NaOH bereaksi secara eksoterm dimana dapat


melepaskan kalor atau panas ketika dilarutkan dalam air. NaOH bersifat sangat
basa, keras, rapuh dan bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap
karbondioksida dan lembab.
Percobaan kedua adalah pembuatan 25 mL H2SO4 4 M dari H2SO4 pekat
dengan menghitung volume H2SO4 yang dibutuhkan lalu dimasukkan sedikit
aquades ke dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. Pada pembuatan
H2SO4 diperlukan perlakuan khusus dimana pembuatannya dilakukan di dalam
lemari asam karena sifat H2SO4 yang berbahaya. Proses pembuatannya yaitu
dengan mengalirkan H2SO4 pekat melalui dinding labu ukur yg telah diisi oleh
sedikit air terlebih dahulu. Kemudian larutan dihomogenkan dan dipindahkan
kedalam botol bersih dan kering serta diberi label sesuai dengan nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan da sifat larutan. Asam sulfat (H2SO4) bereaksi
dengan semua logam yang membebaskan hidrogen kecuali Al, Cr, Bi, yang
pada keadaan biasa tidak bereaksi.
Percobaan ketiga adalah pembuatan 50 mL asam oksalat 0,02 M dari
padatan asam oksalat sebanyak 0,126 gram padatan asam oksalat. Saat
penimbangan, digunakan timbangan analitik. Kemudian padatan yang telah
ditimbang dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan aquades,
diaduk dengan batang pengaduk sampai larut. Lalu larutan yang ada di gelas
kimia dipindakhan ke dalam labu ukur 50 mL, dan ditambahkan aquades
sampai tanda batas. Larutan dihomogenkan dan dipindahkan kebotol yang
telah dicuci bersih dan kering. Kemudian diberi label pada botol sesuai dengan
nama, konsentrasi, tanggal pembuatan dan sifat larutan. Sifat dari asam oksalat
yaitu memiliki afinitas yang besar terhadap air, beracun dapat menggantikan
hidrogen dalam reaksinya dengan logam aktif dan membentuk garam,dapat
digunakan sebagai pembersih logam.
Percobaan keempat adalah pembuatan 25 mL K2Cr2O7 dari padatan
K2Cr2O7 dilakukan dengan menghitung berat padatan K2Cr2O7 lalu ditimbang
dan dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan aquades dan diaduk
hingga larut. Pengadukan dilakukan agar proses pelarutan lebih cepat. Larutan

dipindahkan ke dalam labu ukur 25 mL dan ditambahkan aquades sampai


tanda batas. Larutan kemudian dihomogenkan dan dipindahkan ke dalam botol
kering dan bersih serta diberi label sesuai dengan nama, konsentrasi, tanggal
pembuatan dan sifat larutan. Sifat dari K 2Cr2O7 adalah lebih mudah larut
dalam air panas daripada air dingin sehingga lebih mudah menghablur.
K2Cr2O7 merupakan oksidator kuat dan berbahaya.
Percobaan kelima adalah untuk membuat 50 mL asam asetat 1% dari asam
asetat 100% dibutuhkan 0,5 mL asam asetat 100%. Perhitungan dilakukan
dengan pengenceran larutan. Hasil dari perhitungan tersebut dipipet dan
dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL dan ditambahkan aquades sampai
tanda batas. Kemudian dihomogenkan dan dimasukkan ke dalam botol yang
telah dicuci bersih dan kering. Diberi label pada botol sesuai dengan
nama,konsentrasi,tanggal pembuatan dan sifat larutan. Sifat dari asam asetat
adalah korosif terhadap banyak logam seperti Fe, Mg, dan Zn, membentuk gas
hidrogen dan garam asetat serta melarutkan senyawa polar dan non polar
dengan baik.
Percobaan keenam adalah untuk membuat 50 mL Na2S2O3 0,01 dari
Na2S2O3.5H2O

dibutuhkan

0,124

gram

Na2S2O3.5H2O.

penimbangan

digunakan timbangan analitik. Na2S2O3 yang telah ditimbang dimasukkan ke


dalam gelas kimia dan ditambahkan aquades kemudian diaduk sampai larut.
Pindahkan larutan ke dalam labu ukur 50 mL, ditambahkan aquades sampai
tanda batas dan dihomogenkan lalu dipindahkn larutan ke botol yang telah
dicuci bersih dan kering. Diberi label pada botol sesuai nama, konsentrasi,
tanggal pembuatan dan sifat larutan. Sifat dari Na2S2O3 dapat membentuk
kompleks, bertindak sebagai oksidator apabila direaksikan dengan iod dan
dapat membentuk belerang jika direaksikan dengan asam klorida.
Percobaan ketujuh adalah pembuatan 100 mL asam klorida 0,01 M dari
asam klorida pekat dilakukan dengan menghitung volume asam klorida pekat
yang dibutuhkan, kemudian dipipet dan dimasukkan kedalam labu ukur 100
mL dan ditambahkan aquades sampai tanda batas. Larutan dihomogenkan dan
dimasukkan ke dalam botol kering dan bersih serta diberi label sesuai nama,

konsentrasi, tanggal pembuatan dn sifat larutan. Sifat dari asam klorida ini
adalah berbau tajam, berasap tebal diudara lembab, dapat larut dalam
hidroksida kloroform, eter, oksidator kuat. Pada pembuatan asam klorida
pekat biasanya diperlukan perlakuan khusus dimana pembuatannya dilakukan
di dalam lemari asam karena sifat asam klorida yang berbau tajam dan sangat
korosif yang berbahaya bagi kulit. Proses pembuatannya yaitu dengan
mengalirkan asam klorida pekat melalui dinding labu ukur yg telah diisi oleh
sedikit air terlebih dahulu
Percobaan kedelapan adalah pembuatan 25 mL larutan Cu 2+ 100 ppm dari
padatan CuSO4.5H2O dibutuhkan 0,00982 gram CuSO4.5H2O. penimbangan
dilakukan dengan timbangan analitik. Kemudian,

hasil dari perhitungan

dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan aquades lalu diaduk


sampai larut. Pengadukan dilakukan untuk mempercepat proses pelarutan.
Larutan dipindahkan ke dalam labu ukur 25 mL. Ditambahkan aquades
sampai tanda batas. Kemudia dihomogenkan dan dipindahkan ke botol yang
telah dicuci bersih dan dikeringkan. Diberi label pada botol sesuai nama,
konsentrasi, tangal pembuatan dan sifat larutan. CuSO4 memiliki sifat akan
terdekomposisi sebelum mencair pada suhu 1500 C, akan kehilangan dua
molekul airnya pada suhu 630 C, diikuti dua molekul lagi pada suhu 109 0 C
dan molekul air terakhir pada suhu 2000 C. CuSO4 berwarna biru berasal dari
hidrasi air.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan adalah
perhitungan dan penimbangan bahan yang diperlukan harus tepat, bahannya
harus benar-benar diperhatikan karena jika volume yang ditambahkan tidak
tepat maka konsentrasi larutan juga tidak tepat. Pada pembuatan larutan ada
beberapa hal yang penting yang harus kita ketahui diantaranya ialah
konsentrasi, jenis-jenis larutan dan sifat koligatif larutan. Konsentrasi larutan
menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam
larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan
jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi

adalah molar, molal, normalitas, dan bagian per juta (part per million, ppm).
Molaritas adalah banyaknya mol zat terlarut tiap satuan volum zat pelarut.
Molal atau kemolalan adalah konsentrasi yang menyatakan jumlah mol zat
terlarut dalam 1000g pelarut. Normalitas menyatakan jumlah mol ekivalen zat
terlarut dalam 1 liter larutan. Dan bagian per sejuta ialah suatu konsentrasi
larutan yang dilambangkan dengan satuan berat atau satuan massa solute
(bahan yang terlarut) per sejuta satuan berat atau satuan massa larutan.
Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai
encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi). Larutan cair
encer menunjukkan sifat-sifat yang bergantung pada efek kolektif jumlah
partikel terlarut, disebut sifat koligatif (dari kata Latin colligare, "mengumpul
bersama"). Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap, peningkatan titik
didih, penurunan titik beku, dan gejala tekanan osmotik. Sedangkan
berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, larutan dapat dibedakan
sebagai larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Larutan elektrolit
mengandung zat elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik, sementara
larutan non-elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.
Pada pembuatan larutan, terdapat beberapa bahan yang pengerjaannya
harus dilakukan dengan perlakuan khusus misalnya perlakuan dilakukan
dilemari asam dengan menitrasi pada dinding labu Erlenmeyer. Pada
percobaan ini H2SO4 dan asam klorida pekat harus mendapat perlakuan khusus
tersebut. Hal ini dikarenakan sifat dari kedua senyawa tersebut sangat korosif
terhadap kulit dan sangat toksik apabila masuk dalam sistem sirkulasi udara
pada manusia. Perlakuan khusus ini bertujuan menjaga keamanan (safety) saat
melakukan percobaan terhadap senyawa kimia tersebut.
Pada pembuatan larutan perlu juga diperhatikan mengenai pemberian label
dengan penulisan nama, tanggal dan konsentrasi. Hal ini wajib dilakukan
untuk mempermudah proses pengerjaan bahan pada saat praktikum. Dengan
adanya nama bahan yang tertera akan memudahkan dalam pemilihan bahan
yang akan digunakan juga konsentrasi yang diperlukan dalam sebuah proses
pengenceran. Sedangkan penulisan tanggal dilakukan untuk mengetahui kapan

sebuah larutan itu dibuat agar dapat diketahui waktu penggunaannya hingga
waktu kadaluarsanya suatu larutan tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembacaan alat ukur volume adalah
meniskus. Meniskus larutan yang tidak berwarna harus dibaca pada posisi
bagian bawah cekungan yang terbentuk. Sedangkan pada meniskus larutan
berwarna harus dibaca pada posisi yang terlihat cembung atau meniskus atas.
Yang termasuk larutan tidak berwarna adal air, NaOH, asam oksalat, asam
sulfat dan asam asetat. Sedangkan K2Cr2O7 termasuk larutan berwarna.

G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa :
1. Larutan NaOH, asam oksalat, asam sulfat, K2Cr2O7, asam asetat,
Na2S2O3,asam klorida dan Cu2+ memiliki konsentrasi berbeda-beda.

2. Untuk mengetahui konsentrasi larutan atau padatan dari konsentrasi


larutan

yang ingin dibuat dengan menghitung dari konsentrasi larutan

yang diketahui.
3.

Pembuatan larrutan 100 mL NaOH 0,01 M dari 0,04 gram padatan NaOH.

4.

Pembuatan larutan 50 mL asam oksalat 0,02 M dari 0,126 gram padatan


asam oksalat.

5.

Pembuatan larutan 25 mL asam sulfat 4 M dari 18,4 M dan 5,43 mL asam


sulfat pekat

6.

Pembuatan larutan 25 mL K2Cr2O7 0,06 M dari 0,441 gram padatan


K2Cr2O7.

7.

Pembuatan larutan 50 mL asam asetat 1% dari 0,5 mL asam asetat 100 %.

8.

Pembuatan larutan 50 mL Na2S2O3 0,01 M dari 0,124 gram Na2S2O3.5H2O.

9.

Pembuatan larutan 100 mL asam klorida 0,01 M dari 0,08 mL asam


klorida pekat.

10.

Pembuatan larutan 25 mL larutan Cu2+100 ppm dari 0,00982 gram


CuSO4.5H2O.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Hardjono, S. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press.

James, Joyce. 2002. Sains Untuk keperawatan. Jakarta : Erlangga.


Oxtoby, David W. 1998. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Keempat Jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
Ralph, H.P, Suminar. 1985. Kimia Dasar dan Terapan Modern. Jakarta : Erlangga.
Sastrawijaya, Tresna. 1993. Materi Pendidikan Kimia Dasar II. Jakarta :
Universitas Indonesia.
Sumardjo, Damn. 2008. Pengantar Kimia. Jakarta : EGC.
Suminar. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi IV. Jakarta : Erlangga.