Anda di halaman 1dari 10

Mekanisme Transportasi Sel pada Pemberian Cairan Infus

Akibat Perdarahan
Katarina Dewi Sartika (102013157)
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat
Alamat korespondensi : katarinadewisartika@gmail.com

Abstrak : Sel adalah unit terkecil dimana proses kehidupan dapat terjadi. Sel merupakan
pusat dinamisdimana ada banyak proses dan fungsi yang terjadi secara bersamaan. Untuk
tujuan ini, ada kebutuhan untuk zat dan produk akhir dari proses metabolisme untuk bergerak
keluar masuk sel. Membran adalah batas terluar dari sel-sel individual dan organel-organel
tertentu.Membran sel berfungsi membatasi sel dan lingkungan sekitar. Namun demikian,
tidak berarti sel menjadi satu sistem tertutup yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Sel memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan untuk berbagai proses metabolismenya dari
lingkungan diluar sel. Transportasi aktif melibatkan transportasi zat dari daerah konsentrasi
rendah ke daerah konsentrasi lebih tinggi dengan memerlukan energi. Sedangkan transpor
pasif adalah proseszat bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dan tidak
memerlukan energi. Pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah
karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Berdasarkan letak keluarnya darah,
perdarahan dibagi menjadi 2 macam, yaitu perdarahan terbuka dan tertutup. Pemberian infus
cairan isotonik bermanfaat terhadap pasien yang mengalami hipovolemi yaitu kekurangan
cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun. Pemberian infus NaCl 0,9%
dimaksudkan untuk memenuhi dan menyeimbangkan kekurangan cairan yang disebabkan
oleh perdarahan terbuka yang cukup parah.
Kata kunci : cairan infus, perdarahan, transportasi sel
Pendahuluan
Transpor aktif adalah pergerakan atau pemindahan yang menggunakan energy untuk
mengeluarkan dan memasukan ion - ion dan molekul melalui membran sel yang bersifat
parmeabel dengan tujuan memelihara keseimbangan molekul kecil di dalam sel. 1 Transpor
1

aktif dipengaruhi oleh muatan listrik di dalam dan di luar sel, dimana muatan listrik ini
ditentukan oleh ion natrium (Na+), ion kalium (K+), dan ion klorin (Cl-). Keluar masuknya
ion Na+ dan K+ diatur oleh pompa natrium - kalium. Transpor aktif dapat berhenti jika sel
didinginkan, mengalami keracunan, atau kehabisan energi. Transpor aktif memerlukan
molekul pengangkut berupa protein integral pada membran, dimana di dalam molekul ini,
terdapat situs pengikatan. Proses transport aktif dimulai dengan pengambilan tiga ion
Na+ dari dalam sel dan menempati situs pengikatan pada protein integral. Energi diperlukan
untuk mengubah bentuk protein integral pada membran yang sebelumnya membuka kearah
dalam sel menjadi membuka kebagian luar sel. Selanjutnya, ion Na+ terlepas dari situs
pengikatan dan keluar dari protein integral menuju keluar sel. Kemudian dari luar sel, dua ion
K+ menempati situs pengikatan di protein integral. Bentuk protein integral berubah, dari
sebelumnya membuka kearah luar menjadi membuka kearah dalam sel dan ion kalium
dilepaskan kedalam sel.
Endositosis adalah transport makromolekul dan materi yang sangat kecil ke dalam sel dengan
cara membentuk veskula baru dari membran plasma. Langkah - langkahnya pada dasarnya
merupakan kebalikan dari eksositosis.1 Sebagian kecil luas membran plasma terbenam
kedalam membentuk kantong. Begitu kantong ini semakin dalam, kantong ini terjepit
membentuk vesikula yang berisi materi yang didapat dari luar selnya. Endositosis dibutuhkan
untuk berbagai macam fungsi yang penting bagi sel, karena endositosis dapat meregulasi
berbagai macam proses seperti pengambilan nutrisi, adhesi dan migrasi sel, reseptor sinyal,
masuknya patogen, neurotransmisi, presentasi antigen, polaritas sel, mitosis, pertumbuhan
dan diferensiasi, dan masuknya obat. Endositosis terdiri tiga jenis2, yaitu :
1. Fagositosis (pemakan seluler), sel menelan suatu partikel dengan pseudopod yang
membalut disekeliling partikel tersebut dan membungkusnya di dalam kantong berlapismembran yang cukup besar untuk digolongkan sebagai vakuola. Partikel itu dicerna setelah
vakuola bergabung dengan lisosom yang mengandung enzim hidrolitik.
2. Pinositosis (peminum seluler), sel meneguk tetesan fluida ekstraseluler dalam vesikula
kecil. Karena salah satu atau seluruh zat terlarut yang larut dalam tetesan tersebut
dimasukkan ke dalam sel, pinosistosis tidak spesifik dalam substansi yang ditranspornya.
3. Endositosis yang diperantarai reseptor, yang tertanam dalam membran adalah protein
dengan tempat reseptor spesifik yang dipaparkanke fluide ekstraseluler. Ekstraseluler yang
terkait pada reseptor disebut ligan, yaitu satu istilah umum untuk setiap molekul yang terkait
khususnya pada tempat resptor molekul lain. Protein resptor biasanya mengelompok dalam
daerah membran yang disebut lubang terlapisi, yang isi sitoplasmiknya dilapisi oleh lapisan
2

protein samar. Protein pelapis ini mungkin membantu memperdalam lubang dalam
membentuk vesikula. Endositosis yang diperantarai reseptor memungkinkan sel dapat
memperoleh substansi spesifik dalam jumlah yang melimpah sekalipun substansi itu mungkin
saja konsentrasinya tidak tinggi dalam fluida seluler Misalnya, sel manusia menggunakan
proses ini untuk menyerap kolesterol dan digunakan dalam sintesis membran dan sebagai
prekursor untuk sintesis steroid lainnya.
Eksositosis merupakan proses sel mensekresi makromolekul dengan cara menggabungkan
vesikula dengan membran plasma, vesikula trnsport yang terlepas dari apatatus golgi
dipindahkan oleh sitoskeleton ke membran plsma. Ketika membran vesikula dan membran
plasma bertemu, molekul lipid bilayer menyusun ulang dirinya sendiri sehingga kedua
membran bergabung. Kandungan vesikula kemudian tumpah kedalam sel. Banyak sel
sekretoris menggunakan eksositosis untuk mengirim keluar produk-produk yang dihasilkan
oleh sel sekretoris tersebut. Misalnya, sel tertentu dalam pankreas menghasilkan hormon
insulin dan menekresikannnya kedalam darah melalui eksositosis. Contoh lain adalah neuron
atau sel saraf, yang menggunakan eksositosis untuk melepaskan sinyal kimiawi yang
merangsang sel otot. Ketika sel tumbuhan sedang membuat diding sel, eksositois
mengeluarkan karbohidrat dari vesikula golgi kebagian luar selnya.
Transpor pasif meliputi difusi, osmosis dan difusi terfasilitasi. Osmosis adalah perpindahan
air melalui membran permeable selektif dari bagian yang lebih encer kebagian yang lebih
padat. Membran semi permeable harus dapat ditembus pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut,
yang mengakibatkan gradient tekanan sepanjang membran. Perpindahan zat terlarut dari
konsentrasi rendah ketinggi melalui membrane semi permeable. Osmosis adalah salah satu
cairan yang melewati membran dari konsentrasi larutan yang rendah ke konsentrasi larutan
yang tinggi. Pada osmosis yang bergerak melalui membran semipermeabel ialah air dari
larutan hipotonis (konsentrasi air tinggi, konsentrasi zat terlarut rendah) ke hipertonis
(konsentrasi air rendah, konsentrasi zat terlarut tinggi). Larutan, misalnya glukosa
mempunyai tekanan osmotik. Tekanan osmotik dapat diukur menggunakan osmometer.
Naiknya air pada pipa osmometer dapat dipakai untuk menentukan sebagai tekanan osmotik.
Tekanan osmotik dapat dikatakan sebagai tekanan yang diperlukan untuk mencegah pelarut
(air) bergerak melalui membran semipermeabel . Larutan gula, garam, dan larutan lainnya,
jika dimasukkan ke dalam osmometer menunjukan adanya tekanan osmotik. Tekanan osmotik
yang terkandung pada suatu larutan dinamakan potensial osmotik. Suatu percobaan
memperlihatkan bahwa jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan yang hipotonis, sel
darah merah akan menggembung. sebaliknya, jika sel darah merah dimasukkan ke dalam
3

larutan hipertonis, sel darah merah akan mengkerut (krenasi). Mekanisme osmosis meliputi
pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang
konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permeable. Larutan yang konsentrasi zat
terlarutnya lebih tinggi dibandingkan larutan didalam sel dinamakan larutan hipertonis,
sedangkan larutan yang konsentrasi sama dengan larutan didalam sel disebut larutan isotonis.
Jika larutan yang terdapat diluar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah dari pada
didalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis. Penyebab utama osmosis adalah penurunan
potensial air dalam larutan harus ditekankan terhadap bahwa pernyataan termodinamika dan
persamaan yang berasal dari itu menceritakan apa-apa menggunakan tentang tingkat osmosis
atau mekanisme.
Pengertian Perdarahan3
Perdarahan adalah suatu kejadian dimana keluarnya darah dari pembuluh darah, yang
diakibatkan pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh
ruda paksa (trauma) atau penyakit. Jenis perdarahan ada 2 yaitu :
1.

Perdarahan Luar. Perdarahan luar yaitu keluarnya darah dari dalam tubuh yang membuat

darah tersebut dapat terlihat dari luar tubuh, adapun biasanya darah tersebut berwarna merah
terang atau merah tua dan keadaan darah tersebut biasanya mengalir, memancar dan
merembes seperti titik embun. Itu semua tergantung dari jenis pembuluh darah yang rusak.
Jika yang rusak adalah pembuluh arteri (pembuluh nadi), maka darah memancar dan
berwarna merah terang. Jika yang rusak adalah pembuluh vena (pembuluh balik), maka darah
mengalir dan berwarna merah tua. Jika yang rusak adalah pembuluh kapiler (pembuluh
rambut), maka darah merembes seperti titik embun dan berwarna merah.
2. Perdarahan Dalam. Perdarahan dalam yaitu pembuluh darah mengalami kerusakan,yang
mengakibatkan pembuluh darah mengisi daerah di sekitarnya, terutama dalam jaringan otot.
Perdarahan ini dapat dikenali dengan adanya memar pada korban serta biasanya pada kulit
tubuh korban tidak mengalami kerusakan dan juga kehilangan darah tidak dapat diamati pada
perdarahan dalam..Perdarahan ini dampaknya dari skala kecil hingga yang mengancam jiwa
penderita.
Jenis cairan infus dan kegunaannya4
1. Cairan Hipotonik
Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi
ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan
osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan
sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi),
4

sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami
dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada
pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi
yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke
sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam
otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik
Adalah cairan infus yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum
(bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga
tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan),
khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan
Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3. Cairan Hipertonik
Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu
menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema
(bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%,
NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk
darah dan albumin.
Pembagian cairan lain berdasarkan kelompoknya :
1. Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume
expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien
yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
2. Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar
dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik,
dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan
steroid
Secara umum koloid dipergunakan untuk:
1. Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (shock hemoragik) sebelum
transfusi tersedia.
2. Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, misalnya pada luka bakar
Prinsip Kerja Cairan Infus5

Dinding sel darah merah mempunyai ketebalan 10 nm dan pori berdiameter 0,8 nm.
Molekul air berukuran setengah diameter tersebut, sehingga ion K+ dapat lewat dengan
mudah. Ion K+ yang terdapat dalam sel juga berukuran lebih kecil dari pada ukuran pori
dinding sel itu, tetapi karena dinding sel bermuatan positif maka ditolak oleh dinding sel. Jadi
selain ukuran partikel muatan juga faktor penentu untuk dapat melalui pori sebuah selaput
semipermiabel. Cairan sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan
larutan NaCl 0,92%. Dengan kata lain cairan sel darah merah isotonik dengan NaCl 0,92%.
Jika sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0,92%, air yang masuk keluar
dinding sel akan setimbang (kesetimbangan dinamis). Akan tetapi jika sel darah merah
dimasukkan kedalam larutan Nacl yang lebih pekat dari 0,92% air akan keluar dari dalam sel
dan sel akan mengerut. Larutan yang demikian dikatakan hipertonik. Sebaliknya jika sel
darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl yang lebih encer dari 0,92%, air akan masuk
kedalam sel dan sel akan menggembung dan pecah(plasmolisis). Larutan ini dikatakan
sebagai hipotonik. Kenapa pada seseorang harus dilakukan pemasangan vena central, ini
disebabkan obat atau cairan yang diberikan melalui vena perifer terlalu pekat atau atau
istilahnya osmolalitas yang tinggi. Pada umumnya cairan yang bersifat bisotonik mempunyai
osmolalitas berkisar 272 sampai dengan 301. pada cairan untuk pemberian nutrisi atau obat,
biasanya osmolalitasnya diatas 1000 atau dikenal dengan hiperosmolar. pada vena perifer,
osmolalitas 850 masih aman diberikan.selain hal tersebut diatas biasanya central vena kateter
juga dipakai untuk melakukan resusitasi cairan secara cepat baik itu darah maupun cairan
infus, bisa juga dipakai untuk mengukur tekanan vena central.
Fisiologi Cairan Tubuh Manusia6
Cairan tubuh manusia didistrubusikan ke dalam 2 kompartemen, yaitu cairan intraseluler dan
ekstraseluler. Cairan ekstraseluler sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu cairan
intravaskuler dan juga cairan interstitial. Cairan-cairan ini akan berpindah dengan bebas
untuk mencapai keseimbangan dimana zat terlarut dalam nilai osmolaritas. Jumlah cairan/air
tubuh total atau Total Body Water (TBW) adalah 60% x berat badan, terdiri dari cairan
intrasel (ICF) 40% dan cairan ekstrasel (ECF) 20%. Cairan ekstrasel terdiri dari cairan
interstitial (ICF) 15% dan cairan intravaskular (IVF) 5% x berat badan. Cairan intravaskular
(5%BB) adalah plasma sel darah merah 3%. Jadi terdapat darah 8% BB atau kira-kira sama
dengan 65-70 ml/kg berat badan pada laki-laki dan 55-65 ml/kg pada wanita. Total cairan
tubuh bervariasi menurut umur, berat badan dan jenis kelamin. Air tubuh total maksimal pada
saat lahir, kemudian berkurang secara progresif dengan bertambahnya umur. Air tubuh total
pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan dan pada orang kurus (650 ml/kg BB) lebih
6

banyak daripada yang gemuk (300-400 ml/kg BB). Distribusi cairan di dalam kompartemen
diatur oleh osmolaritas, distribusi Natrium dan distribusi koloid terutama albumin.
Osmolaritas dikontrol oleh intake cairan dan regulasi ekskresi air oleh ginjal.
Ada 2 jenis bahan yang terlarut di dalam cairan tubuh yaitu :
a. Elektrolit ialah molekul yang pecah menjadi partikel bermuatan listrik yaitu kation dan
anion, yang dinyatakan dalam mEq/I cairan. Tiap kompartemen mempunyai komposisi
elektrolit tersendiri. Komposisi elektrolit plasma dan interstisial hampir sama, kecuali
didalam interstisial tidak mengandung protein.
b. Non elektrolit ialah molekul yang tetap, tidak berubah menjadi partikel-partikel, terdiri
dari dekstrosa ureum dan kreatinin.
Ada dua mekanisme utama yang mengatur mekanisme regulasi air tubuh yaitu pengaturan
osmoler dan pengaturan volume non osmoler7
a. Pengaturan osmoler
Pada saat volume CES berkurang, osmolaritas meningkat, mengakibatkan pelepasan
impuls dari osmoreseptor di hipotalamus anterior yang merangsang pituitari posterior
untuk melepas ADH. Penurunan volume CES juga merangsang pusat haus yang juga
menstimulasi pelepasan ADH. ADH mengakibatkan reabsorbsi Na dan air pada tubulus
distal dan tubulus kolektivus, sehingga menaikkan volume CES. Peningkatan volumen
CES akan memberikan umpan balik ke hipotalamus dan pusat haus sehingga volume CES
dipertahankan tetap. Sistem Renin Aldosteron.
Saat volume CES berkurang, makula densa akan melepaskan renin yang berperan dalam
pembentukan angiotensin I. Dengan converting enzim angiotensi I diubah menjadi
angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor kuat, menstimulasi kortek adrenal untuk
mengeluarkan aldosteron, yang mengakibatkan reabsorbsi air dan Na sehingga sirkulasi
meningkat.
b. Pengaturan non osmoler
Semua respon hemodinamik akan mempengaruhi reflek kardiovaskuler, yang juga akan
mengatur volume cairan dan pengeluaran urin. Jika terjadi hipovolemia, reflek intratorak,
reflekreseptor presor ekstratorak dan respon iskemik pusat akan mengaktifkan mekanisme
hipotalamik dan sistem nervus simpatis.
Jenis cairan intravena berdasarkan fungsinya cairan dapat dikelompokkan menjadi8 :
1. Cairan pemeliharaan : ditujukan untuk mengganti air yang hilang lewat urine, tinja, paru
dan kulit (mengganti puasa). Cairan yang diberikan adalah cairan hipotonik, seperti D5
NaCl 0,45 atau D5W.
7

2. Cairan pengganti : ditujukan untuk mengganti kehilangan air tubuh akibat sekuestrasi
atau proses patologi lain seperti fistula, efusi pleura asites, drainase lambung.
3. Cairan yang diberikan bersifat isotonik, seperti Ringer Laktat (D5RL), NaCl 0,9%, D5
NaCl.Cairan khusus : ditujukan untuk keadaan khusus misalnya asidosis. Cairan yang
dipakai seperti Natrium bikarbonat, NaCl 3%.
Distribusi cairan tubuh didistribusikan dalam dua kompartemen yang berbeda9
1. Cairan Ekstrasal, tediri dari cairan interstisial (CIS) dan Cairan Intravaaskular. Cairan
interstisial mengisi ruangan yang berada diantara sebagian besar sel tubuh dan menyusun
sebagian besar cairan tubuh. Sekitar 15% berat tubuh merupakan cairan tubuh interstisial.
Cairan intravascular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air tidak
berwarna, dan darah mengandung suspensi leukosit, eritrosit, dan trombosit. Plasma
menyusun 5% berat tubuh.
2. Cairan Intrasel adalah cairan didalam membran sel yang berisi subtansi terlarut atau solut
yang penting untuk keseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk metabolisme. Cairan
intrasel membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan intrasel memiliki banyak
solute yang sama dengan cairan yang berada diruang ekstrasel. Namun proporsi subtansi
subtansi tersebut berbeda. Misalnya, proporsi kalium lebih besar didalam cairan intrasel
daripada dalam cairan ekstasel.
Komposisi cairan tubuh, cairan yang bersirkulasi diseluruh tubuh didalam ruang cairan
intrasel dan ekstrasel mengandung9 :
1. Elektrolit yaitu sebuah unsur atau senyawa yang jika melebur atau larut didalam air atau
pelarut lain, akan pecah menjadi ion dan mampu membawta muatan listrik. Elektrolit yang
memilki muatan positif disebut kation, sedangkan yang bermuatan negative adalah anion.
Namun jumlah total anion dan kation didalam kompartement cairan harus sama.
2. Mineral yang dicerna sebagai senyawa, biasanya dikenal dengan nama logam, non logam,
radikal atau fosfat, bukan dengan nama senyawa, yang mana mineral tersebut menjadi bagian
didalamnya. Mineral merupakan unsure semua jaringan dan cairan tubuh serta penting dalam
memertahankan proses fisiologis. Mineral juga bekerja sebagai katalis dan respon saraf,
kontrasi otot, dan metabolisme zat gizi yang terdapat dalam makanan. Mineral juga mengatur
keseimbangan elektrolit dan produksi hormone serta menguatkan struktur tulang. Contoh
mineral zat besi dan zink.
3. Sel merupakan unit fungsional dasar dari semua jaringan hidup. Contoh sel yang berada
didalam cairan tubuh adalah sel darah merah dan sel darah putih.
8

Penutup
Pemberian infus cairan isotonik bermanfaat terhadap pasien yang mengalami hipovolemi
yaitu kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun. Hal ini terjadi karena
cairan infus yang isotonik memiliki osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga dengan pemberian infus tersebut dapat
menyeimbangkan kekurangan cairan tubuh yang dialami oleh pasien.

Daftar Pustaka
1. Tirta, B. Transpor aktif dan pasif. Diunduh dari :
http://biologifuntirta.blogspot.com/2012/06/transpor-aktif-dan-transpor-pasif.html , 15
Desember 2013.
2. Guyton, A.C.,Hall, J.E.,2007.Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. EGK Fakultas
Kedokteran;Jakarta.
3. Hamed, A. Perdarahan. Diunduh dari :
http://hamed14.blogspot.com/2013/02/perdarahan.html, 15 Desember 2013.
4. Ida, A,Y. Cairan infus intravena. Diunduh dari :
http://kimiaunsps2.wordpress.com/2009/02/09/cairan-infus-intravena-intravenousfluids/, 15 Desember 2013.
5. Joyce, J. 2008. Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan.Erlangga;Jakarta
6. Kuntarti. 2005. Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa.
7. Sherwood,Lauralee.2001.Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem.Jakarta:Penerbit Buku
Kedokteran EGC
8. Siagian,M..2004.Homeostasis:Keseimbangan

yang

halus

dan

dinamis.Jakarta:

Departemen Ilmu.
9. Pramita,C.2007.Kebutuhan Dasar Manusia.Palembang:PoltekkesDepkes Palembang.

10