Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai
upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias
politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan
legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas
(independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan
independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini
bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Berawal dari kemenangan Negara-negara Sekutu (Eropah Barat dan Amerika Serikat)
terhadap Negara-negara Axis (Jerman, Italia & Jepang) pada Perang Dunia II (1945), dan
disusul kemudian dengan keruntuhan Uni Soviet yang berlandasan paham Komunisme di
akhir Abad XX , maka paham Demokrasi yang dianut oleh Negara-negara Eropah Barat
dan Amerika Utara menjadi paham yang mendominasi tata kehidupan umat manusia di
dunia dewasa ini.Suatu bangsa atau masyarakat di Abad XXI ini baru mendapat
pengakuan sebagai warga dunia yang beradab (civilized) bilamana menerima dan
menerapkan demokrasi sebagai landasan pengaturan tatanan kehidupan kenegaraannya.
Sementara bangsa atau masyarakat yang menolak demokrasi dinilai sebagai
bangsa/masyarakat yang belum beradab (uncivilized).
Indonesia adalah salah satu negara yang menjunjung tinggi demokrasi, untuk di Asia
Tenggara Indonesia adalah negara yang paling terbaik menjalankan demokrasinya,
mungkin kita bisa merasa bangga dengan keadaan itu.Didalam praktek kehidupan
kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan hingga saat ini, ternyata paham demokrasi
perwakilan yang dijalankan di Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi
perwakilan yang saling berbeda satu dengan lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang
dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam laporan ini adalah:
1. Apakah arti Demokrasi?
2. Apa perbedaan negara Demokrasi dengan negara Monarki?
3. Bagaimana Sejarah Demokrasi di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
2.
3.

Mengetahui pengertian demokrasi


Mengetahui perbedaan negara Demokrasi dengan negara Monarki
Mengerahui sejarah demokrasi Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Demokrasi
Secara etimologis istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani Demokratia yang terdiri
dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, kratos/kratein yang berarti kekuatan/
pemerintahan. Secara harfiah, demokrasi berarti kekuatan rakyat atau suatu bentuk
pemerintahan dengan rakyat sebagai pemegang kedaulatannya. Melalui konteks budaya
demokrasi, nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi panutan dapat diterapkan dalam
praktik kehidupan demokratis yang tidak hanya dalam pengertian politik saja, tetapi juga
dalam berbagai bidang kehidupan. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik
Indonesia, menyebut demokrasi sebagai sebuah pergeseran dan penggantian kedaulatan
raja menjadi kedaulatan rakyat.
Sedangkan menurut beberapa para ahli, demokrasi berarti :
1. Menurut Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan
kekuasaan negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin,
bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan didalam melaksanakan
kekuasaan negara.
2. Menurut John L. Esposito
Pada dasarnya kekuasaan adalah dari dan untuk rakyat. Oleh karenanya, semuanya
berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif maupun mengontrol kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat
pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
3. Menurut Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang
penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang
diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.

4. Menurut Kranenburg
Demokrasi terbentuk dari dua pokok kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos
(rakyat) dan Kratein (memerintah) yang maknanya adalah cara memerintah oleh
rakyat.

Berdasarkan beberapa pengertian demokrasi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa


demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana kekuasaan atau kedaulatan
adaditangan rakyat. Dengan kata lain, rakyat dapat dilibatkan dalam setiap aspek
kehidpan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2.2

Perbedaan Negara Demokrasi dengan Negara Monarki


Monarki berasal dari bahasa Yunani monos yang berarti satu dan archein yang berarti
pemerintah. Monarki merupakan jenis negara yang dipimpin oleh seorang penguasa
kerajaan. Sistem Monarki adalah bentuk Negara tertua di dunia. Pada banyak Negara
monarki raja hanyalah sekedar simbol kedaulatan Negara dan Perdana Menteri lebih
berkuasa daripada Raja.
Raja atau Ratu umumnya bertahta seumur hidup dan jika meninggal kekuasaannya akan
diberikan kepada anak keturunanya. Akan tetapi terdapat juga Raja sebagai Kepala
Negara memegang jabatan untuk jangka waktu tertentu, seperti di Malaysia Raja sebagai
Kepala Negara berkuasa.
Sedangkan Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara
sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara
untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah
prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif
dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas
(independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan
independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini
bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Meskipun teori monarki merupakan teori pemerintahan tertua yang pernah ada, monarki
juga mempunyai kelemahan. Dengan kedaulatan tertinggi yang berada di tangan raja,
maka raja dapat melakukan apapun yang ia kehendaki. Ia bebas memerintah rakyatnya
semaunya sendiri. Hal ini dapat menciptakan pemerintah yang tirani dan dalam
perkembangan selanjutnya akan menjadi diktator di negara yang ia perintah.
Sedangkan teori demokrasi yang diklaim sebagai teori yang paling sempurna, namun
teori ini juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain ; pertama, Para pemerintah
yang

mengatasnamakan

wakil

rakyat

akan

terus

berusaha

mempertahankan
4

kedudukannya dengan berbagai macam dalih, seperti dalih konsensus nasional dan secara
bersamaan memojokkan kaum oposisi yang berusaha menjatuhkannya dengan dalih
disloyalitas pada Negara.
Kedua, Suara mayoritas, yang kerap kali menentukan keputusan akhir dalam sistem
demokrasi, seringkali menjurus kepada kesalahan-kesalahan yang fatal karena pemeritah
kerap mendoktrin rakyat dengan hal-hal yang berakibat buruk dalam berjalannya
sistem suatu negara.
Terlepas dari kelemahan dan kelebihan dari masing-masing teori, dalam konstitusi secara
jelas dan terang, sebenarnya membuka ruang kepada UU untuk memberikan
keistimewaan kepada daerah berdasarkan historisnya. Konstitusi menghendaki demokrasi
di daerah sekaligus juga mengakui kekhususan suatu daerah. Prinsip ini dapat disebut
sebagai lex specialis (khusus) di tingkat konstitusi yang tidak perlu dipersoalkan. Karena
itu, alasan pemerintah bersikukuh soal mekanisme pengangkatan kepala daerah menjadi
tidak terlalu kuat, apalagi membenturkan monarki dengan demokrasi.
2.3

Sejarah Demokrasi di Indonesia


A. Demokrasi Parlementer (1950 1959)
Dalam demokrasi ini pemerintah dibatsi oleh undang-undang dan pemilihan umum yang
bebas diselenggarakan dalam waktu yang tetap.
Pada masa antara tahun 1950-1959, Indonesia memberlakukan sistem demokrasi
parlementer. Sistem ini dikenal pula dengan sebutan demokrasi liberal. Konstitusi yang
digunakan pada masa demokrasi liberal adalah Undang-Undang Dasar Sementara
(UUDS)1950.Pada masa demokrasi liberal, terjadi beberapa kali pergantian kabinet.
Akibatnya, pembangunan tidak berjalan lancar. Setiap partai hanya memperhatikan
kepentingan partai atau golongannya. Masa demokrasi liberal ditandai dengan
berubahnya sistem kabinet ke sistem parlementer. Pada masa tersebut, presiden hanya
sebagai simbol. Presiden berperan sebagai kepala negara, bukan sebagai kepala
pemerintahan. Kepala pemerintahan dipegang oleh seorang perdana menteri.Terdapat
beberapa kelebihan yang dimiliki pada masa pelaksanaan demokrasi parlemen,yaitu:
1.

Berkembangnya partai politik pada masa tersebut. Pada masa ini, terlaksana
pemilihan umum pertama di Indonesia untuk memilih anggota konstituante.
5

Pemilu tahun 1955 merupakan pemilu multipartai. Melalui pelaksanaan pemilu,


berarti negara telah menjamin hak politik warga negara.
2. Tingginya akuntabilitas politik.
3. Berfungsinya parlemen sebagai lembaga legislatif.
Adapun kegagalan pelaksanaan demokrasi liberal adalah:
1) Dominannya kepentingan partai politik dan golongan sehingga menyebabkan
konstituante digunakan sebagai ajang konflik kepentingan.
2) Kegagalan konstituante menetapkan dasar negara yang baru.
3) Masih rendahnya tingkat perekonomian masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak
tertarik untuk memahami proses politik.Kegagalan sistem parlementer dibuktikan
dengan kegagalan parlemen menyusun konstitusi negara. Sidang konstituante mampu
memenuhi

harapan

bangsa

Indonesia.

Hingga

akhirnya,

Presiden

Sukarno

mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi:


a. menetapkan pembubarkan konstituante,
b. menetapkan UUD 1945 berlaku kembali dan tidak berlakunya UUDS 1950,
c. pembentukan MPRS dan DPAS.

B. Demokrasi Terpimpin (1959 1998)


Dalam demokrasi ini terdapat keyakinan para pemimpin bahwa semua tindakan mereka
dipercaya oleh rakyat, tetapi menolak persaingan dalam pemilihan umum untuk
menduduki kekuasan. Demokrasi berlangsung pada masa orde baru dan orde lama :
Pelaksanaan pada masa Orde Lama (1959 1965)
Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga Jatuhnya kekuasaan Sukarno. Disebut
Demokrasi terpimpin karena demokrasi di Indonesia saat itu mengandalkan pada
kepemimpinan Presiden Sukarno. Terpimpin pada saat pemerintahan Sukarno adalah
kepemimpinan pada satu tangan saja yaitu presiden.
6

Tugas Demokrasi terpimpin :


Demokrasi Terpimpin harus mengembalikan keadaan politik negara yang tidak setabil
sebagai warisan masa Demokrasi Parlementer/Liberal menjadi lebih mantap/stabil.
Demokrasi Terpimpin merupakan reaksi terhadap Demokrasi Parlementer/Liberal. Hal ini
disebabkan karena : Pada masa Demokrasi parlementer, kekuasaan presiden hanya
terbatas sebagai kepala negara. Sedangkan kekuasaan Pemerintah dilaksanakan oleh
partai.
Dampaknya: Penataan kehidupan politik menyimpang dari tujuan awal, yaitu
demokratisasi (menciptakan stabilitas politik yang demokratis) menjadi sentralisasi
(pemusatan kekuasaan di tangan presiden).
Pelaksanaan masa Demokrasi Terpimpin :
Kebebasan partai dibatasi Presiden cenderung berkuasa mutlak sebagai kepala negara
sekaligus kepala pemerintahan. Pemerintah berusaha menata kehidupan politik sesuai
dengan UUD 1945. Dibentuk lembaga-lembaga negara antara lain MPRS,DPAS, DPRGR
dan Front Nasional.
Penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan Demokrasi terpimpin dari UUD 1945 adalah
sebagai berikut:
1. Kedudukan Presiden
Berdasarkan UUD 1945, kedudukan Presiden berada di bawah MPR. Akan tetapi,
kenyataannya bertentangan dengan UUD 1945, sebab MPRS tunduk

kepada

Presiden. Presiden menentukan apa yang harus diputuskan oleh MPRS. Hal
tersebut tampak dengan adanya tindakan presiden untuk mengangkat Ketua MPRS
dirangkap oleh Wakil Perdana Menteri III serta pengagkatan wakil ketua MPRS
yang dipilih dan dipimpin oleh partai-partai besar serta wakil ABRI yang masingmasing berkedudukan sebagai menteri yang tidak memimpin departemen.
2. Pembentukan MPRS
Presiden juga membentuk MPRS berdasarkan Penetapan Presiden No. 2 Tahun
1959. Tindakan tersebut bertentangan dengan UUD 1945 karena Berdasarkan
UUD 1945 pengangkatan anggota MPRS sebagai lembaga tertinggi negara harus

melalui pemilihan umum sehingga partai-partai yang terpilih oleh rakyat memiliki
anggota-anggota yang duduk di MPR.
Anggota MPRS ditunjuk dan diangkat oleh Presiden dengan syarat :
Setuju kembali kepada UUD 1945, Setia kepada perjuangan Republik Indonesia,
dan Setuju pada manifesto Politik. Keanggotaan MPRS terdiri dari 61 orang
anggota DPR, 94 orang utusan daerah, dan 200 orang wakil golongan. Tugas
MPRS terbatas pada menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
3. Pembubaran DPR dan Pembentukan DPR-GR
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan karena DPR
menolak RAPBN tahun 1960 yang diajukan pemerintah. Presiden selanjutnya
menyatakan pembubaran DPR dan sebagai gantinya presiden membentuk Dewan
Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). Dimana semua anggotanya
ditunjuk oleh presiden. Peraturan DPRGR juga ditentukan oleh presiden. Sehingga
DPRGR harus mengikuti kehendak serta kebijakan pemerintah. Tindakan presiden
tersebut bertentangan dengan UUD 1945 sebab berdasarkan UUD 1945 presiden
tidak dapat membubarkan DPR.
Tugas DPR GR adalah sebagai berikut :

Melaksanakan manifesto politik


Mewujudkan amanat penderitaan rakyat
Melaksanakan Demokrasi Terpimpin

4. Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara


Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) dibentuk berdasarkan Penetapan
Presiden No.3 tahun 1959. Lembaga ini diketuai oleh Presiden sendiri.
Keanggotaan DPAS terdiri atas satu orang wakil ketua, 12 orang wakil partai
politik, 8 orang utusan daerah, dan 24 orang wakil golongan. Tugas DPAS adalah
memberi jawaban atas pertanyaan presiden dan mengajukan usul kepada
pemerintah.
Pelaksanaannya kedudukan DPAS juga berada dibawah pemerintah/presiden sebab
presiden adalah ketuanya. Hal ini disebabkan karena DPAS yang mengusulkan
dengan suara bulat agar pidato presiden pada hari kemerdekaan RI 17 AGUSTUS

1959 yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang dikenal dengan
Manifesto Politik Republik Indonesia
(Manipol) ditetapkan sebagai GBHN berdasarkan Penpres No.1 tahun 1960.
Inti Manipol adalah USDEK (Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia,
Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia). Sehingga
lebih dikenal dengan MANIPOL USDEK.
5. Pembentukan Front Nasional
Front Nasional dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No.13 Tahun 1959. Front
Nasional merupakan sebuah organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita
proklamasi dan cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945. Tujuannya adalah
menyatukan segala bentuk potensi nasional menjadi kekuatan untuk menyukseskan
pembangunan. Front Nasional dipimpin oleh Presiden Sukarno sendiri. Tugas front
nasional adalah sebagai berikut.
Menyelesaikan Revolusi Nasional
Melaksanakan Pembangunan
Mengembalikan Irian Barat
6. Pembentukan Kabinet Kerja
Tanggal 9 Juli 1959, presiden membentuk kabinet Kerja. Sebagai wakil presiden
diangkatlah Ir. Juanda. Hingga tahun 1964 Kabinet Kerja mengalami tiga kali
perombakan (reshuffle). Program kabinet ini adalah sebagai berikut.
Mencukupi kebutuhan sandang pangan
Menciptakan keamanan negara
Mengembalikan Irian Barat.
7. Keterlibatan PKI dalam Ajaran Nasakom
Perbedaan ideologi dari partai-partai yang berkembang masa demokrasi
parlementer menimbulkan perbedaan pemahaman mengenai kehidupan berbangsa
dan bernegara yang berdampak pada terancamnya persatuan di Indonesia. Pada
masa demokrasi terpimpin pemerintah mengambil langkah untuk menyamakan
pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyampaikan
ajaran NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Tujuannya untuk
menggalang persatuan bangsa.
9

Bagi presiden NASAKOM merupakan cerminan paham berbagai golongan dalam


masyarakat. Presiden yakin bahwa dengan menerima dan melaksanakan Nasakom
maka persatuan Indonesia akan terwujud. Ajaran Nasakom mulai disebarkan pada
masyarakat. Dikeluarkan ajaran Nasakom sama saja dengan upaya untuk
memperkuat kedudukan Presiden sebab jika menolak Nasakom sama saja dengan
menolak presiden.
Kelompok yang kritis terhadap ajaran Nasakom adalah kalangan cendekiawan dan
ABRI. Upaya penyebarluasan ajaran Nasakom dimanfaatkan oleh PKI dengan
mengemukakan bahwa PKI merupakan barisan terdepan pembela NASAKOM.
Keterlibatan PKI tersebut menyebabkan ajaran Nasakom menyimpang dari ajaran
kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengeser kedudukan Pancasila dan UUD
1945 menjadi komunis. Selain itu PKI mengambil alih kedudukan dan kekuasaan
pemerintahan yang sah. PKI berhasil meyakinkan presiden bahwa Presiden
Sukarno tanpa PKI akan menjadi lemah terhadap TNI.
8. Adanya ajaran RESOPIM
Tujuan adanya ajaran RESOPIM (Revolusi, Sosialisme Indonesia, dan Pimpinan
Nasional) adalah untuk memperkuat kedudukan Presiden Sukarno. Ajaran
Resopim diumumkan pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia ke-16.
Inti dari ajaran ini adalah bahwa seluruh unsur kehidupan berbangsa dan bernegara
harus dicapai melalui revolusi, dijiwai oleh sosialisme, dan dikendalikan oleh satu
pimpinan nasional yang disebut Panglima Besar Revolusi (PBR), yaitu Presiden
Sukarno.
Dampak dari sosialisasi Resopim ini maka kedudukan lembaga-lembaga tinggi dan
tertinggi negara ditetapkan dibawah presiden. Hal ini terlihat dengan adanya
pemberian pangkat menteri kepada pimpinan lembaga tersebut, padahal kedudukan
menteri seharusnya sebagai pembantu presiden.
9. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
TNI dan Polri disatukan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)
yang terdiri atas 4 angkatan yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI
Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian. Masing-masing angkatan dipimpin
10

oleh Menteri Panglima Angkatanyang kedudukannya langsung berada di bawah


presiden. ABRI menjadi salah satu golongan fungsional dan kekuatan sosial politik
Indonesia.
10.Pentaan Kehidupan Partai Politik
Pada masa demokrasi Parlementer, partai dapat melakukan kegiatan politik secara
leluasa. Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin, kedudukan partai dibatasi
oleh penetapan presiden No. 7 tahun 1959. Partai yang tidak memenuhi syarat,
misalnya jumlah anggota yang terlalu sedikit akan dibubarkan sehingga dari 28
partai yang ada hanya tinggal 11 partai.
Tindakan pemerintah ini dikenal dengan penyederhanaan kepartaian.
Pembatasan gerak-gerik partai semakin memperkuat kedudukan pemerintah
terutama presiden. Kedudukan presiden yang kuat tersebut tampak dengan
tindakannya untuk membubarkan 2 partai politik yang pernah berjaya masa
demokrasi Parlementer yaitu Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Alasan
pembubaran partai tersebuat adalah karena sejumlah anggota dari kedua partai
tersebut terlibat dalam pemberontakan PRRI dan Permesta. Kedua Partai tersebut
resmi dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960.
11. Arah Politik Luar Negeri
Politik Mercusuar
Politik Mercusuar dijalankan oleh presiden sebab beliau menganggap bahwa
Indonesia merupakan mercusuar yang dapat menerangi jalan bagi Nefo di seluruh
dunia. Untuk mewujudkannya maka diselenggarakan proyek-proyek besar dan
spektakuler yang diharapkan dapat menempatkan Indonesia pada kedudukan yang
terkemuka di kalangan Nefo. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya yang
sangat besar mencapai milyaran rupiah diantaranya diselenggarakannya GANEFO
(Games of the New Emerging Forces ) yang membutuhkan pembangunan
kompleks Olahraga Senayan serta biaya perjalanan bagi delegasi asing. Pada
tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB sebab Malaysia
diangkat menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Besarnya kekuasaan
Presiden dalam Pelaksanaan demokrasi terpimpin tampak dengan:

11

a. Pengangkatan Ketua MPRS dirangkap oleh Wakil Perdana Menteri III serta
pengagkatan wakil ketua MPRS yang dipilih dan dipimpin oleh partaipartai besar serta wakil ABRI yang masing-masing berkedudukan sebagai
menteri yang tidak memimpin departemen.
b. Pidato presiden yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita pada
tanggal 17 Agustus 1959 yang dikenal dengan Manifesto Politik Republik
Indonesia (Manipol) ditetapkan sebagai GBHN atas usul DPA yang
bersidang tanggal 23-25 September 1959.
c. Inti Manipol adalah USDEK (Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme
Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian
Indonesia). Sehingga lebih dikenal dengan MANIPOL USDEK.
d. Pengangkatan Ir. Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi yang berarti
sebagai presiden seumur hidup.
e. Pidato presiden yang berjudul Berdiri di atas Kaki Sendiri sebagai
pedoman revolusi dan politik luar negeri.
f. Presiden berusaha menciptakan kondisi persaingan di antara angkatan,
persaingan di antara TNI dengan Parpol.
g. Presiden mengambil alih pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata dengan
di bentuk Komandan Operasi Tertinggi (KOTI).
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:
1. Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan
2. Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan presiden
membentuk DPRGR
3. Jaminan HAM lemah
4. Terjadi sentralisasi kekuasaan
5. Terbatasnya peranan pers
6. Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)
Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI.

12

b. Pelaksanaan demokrasi pada masa orde baru (1966 1998)


Berakhirnya

pelaksanaan

demokrasi

terpimpin

terjadi

bersamaan

dengan

berakhirnyaOrde Lama. Orde berganti dengan Orde Baru. Masa pemerintahan baru ini
berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden Suharto.Segala macam penyimpangan
yang terjadi di masa Orde Lama dibenahi oleh Orde Baru. Orde Baru bertekad akan
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Masa sejak tahun 1969 menjadi awal bagi bangsa Indonesia untuk hidup dengan
harapan. Pemerintah Orde Baru mulai melaksanakan pembangunan secara bertahap.
Tahapan pembangunan yang dikenal dengan sebutan Pelita (pembangunan lima tahun)
dilaksanakan menyeluruh di wilayah Indonesia. Pelaksanaan pembangunan meliputi
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Sebagai bentuk pelaksanaan demokrasi, pemerintah melaksanakan pemilihan umum
setiap 5 tahun sekali. Pemilihan umum dilaksanakan untuk memilih anggota
DPR/MPR. Pemerintah Orde Baru berhasil menyelenggarakan pemilihan umum tahun
1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde
Baru juga terjadi berbagai penyimpangan, antara lain:
a.Terjadi sentralistik kekuasaan yang menjurus pada otoriter.
b.Sentralisasi kekuasaan mengakibatkan pelaksanaan pembangunan tidak merata.
c.Merebaknya praktik-praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dalam
pemerintahan.
d.Terjadi monopoli di bidang perekonomian oleh kelompok tertentu yang dekat
dengankekuasaan.
e.Tidak adanya pembatasan jabatan presiden.
C. Demokrasi Pancasila (1998 sekarang)
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden
Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:
a. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi.
b. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum.
c. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bebas dari
KKN.
13

d. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan masa jabatan Presiden dan
Wakil Presiden RI.
e. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV.
f. Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah dua
kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.
Demokrasi pancasila pada era reformasi adalah salah satu reaksi terhadap pemerintahan
orde baru yang dianggap telah menyimpang dari tujuan dan cita-cita demokrasi pancasila.
Era reformasi berlangsung dari 1998 sampai dengan saat ini atau sering disebut orde
transisi demokrasi pancasila.Sebagai warga negara kita pasti berharap bangsa Indonesia
bisa belajar dari pengalaman sejarah agar pelaksanaan demokrasi pancasila di era
reformasi ini lebih baik dari era sebelumnya.
Ada beberapa hal yang akan menjamin sukses atau tidaknya demokrasi pancasila di era
reformasi ini. Antara lain adalah sebagai berikut:
a.

Komposisi elite politik yang ada di mana tidak ada sistem monopartai dan tidak
adanya

diktator

komunitas.

Semuanya

memiliki

porsi

yang

sama

untuk

mewakili rakyat semata.


b.

Desain institusi politik di mana institusi politik disusun sedemikian rupa sehingga
wakil-wakil rakyat yang dipilih benar-benar mewakili rakyat Indonesia bukan
mewakili partai, sehingga lebih mengutamakan kepentingan rakyat dalam setiap
kebijakan yang dibuatnya. Institusi yang ada juga selalu mendukung perwujudan
masyarakat Indonesia yang sejahtera.

c.

Budaya politik yang selalu mendahulukan kepentingan masyarakat bukan partai.


Dengan begitu, maka demokrasi pancasila benar-benar mampu mewujudkan
masyarakat yang sejahtera dalah segala bidang.

d.

Peranan masyarakat yang aktif dalam memberikan aspirasi dalam pemilihan wakilwakil rakyat serta melaksanakan hak dan kewajibannya secara selaras.

Adapun ciri-ciri khusus yang membedakan demokrasi pancasila di era orde baru dan era
reformasi ini adalah kandungan yang terdapat dalam demokrasi pancasila di era reformasi
itu sendiri, yaitu:

14

a.

Aspek formal, yakni menunjukkan segi proses dan cara rakyat berpartisipasi dalam
penyelenggaraan negara, yang kesemuanya sudah diatur oleh undang-undang maupun
peraturan-peraturan pelaksanaan yang lainnya.

b.

Aspek kaidah atau normatif, yang berarti bahwa Demokrasi Pancasila di era
reformasi

mengandung

seperangkat

kaidah

yang

menjadi

pembimbing

dan aturandalam bertingkah laku yang mengikat negara dan warga negara dalam
bertindak dan melaksanakan hak dan kewajiban serta wewenangnya.
c.

Aspek materil, yaitu adanya gambaran manusia yang menegaskan pengakuan atas
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan dan memanusiakan warga
negara dalam masyarakat negara kesatuan republik Indonesia dan masyarakat bangsabangsa di dunia.

d. Aspek organisasi yang menggambarkan adanya perwujudan demokrasi pancasila


dalam bentuk organisasi pemerintahan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
e.

Aspek semangat atau kejiwaan di mana demokrasi pancasila memerlukan warga


negara Indonesia yang berkepribadian peka terhadap apa yang menjadi hak dan
kewajibannya, berbudi pekerti luhur, dan tekun serta memiliki jiwa pengabdian.

f.

Aspek tujuan, yaitu menunjukkan adanya keinginan atau tujuan untuk mewujudkan
masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam negara hukum, negara kesejahteraan,
negara bangsa, dan negara yang memiliki kebudayaan.

15

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Makna Demokrasi Pancasila di Indonesia
Kata Demokrasi dilihat dari sudut bahasa atau etimologis, berasal dari bahasa Yunani, yaitu
demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang artinya pemerintahan atau kekuasaan.
Jadi secara bahasa demis-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau
kekuasaan rakyat.
Robert Dahl menyebutkan bahwa demokrasi adalah sikap pemerintah terhadap kehendak
rakyatnya. Dalam kancah kebangsaan dan bernegara, belakangan timbullah istilah
demokrasi ekonomi, demokrasi kebudayaan, dan demokrasi sebagai jati diri suatu bangsa.
Ada pula muncul istilah demokrasi Pancasila. Pancasila adalah dasar negara Repubik
Indonesia.
Bagaimana dengan praktik berdemokrasi di Indonesia? Salah satu sila dalam Pancasila
adalah

Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan. Ada dua cara untuk membuat kebijaksanaan atau satu


keputusan. Yaitu dilakukan secara musyawarah untuk mencapai mufakat atau kata sepakat.
Kata sepakat tentu diambil dengan memperhatikan suara atau aspirasi mayoritas dan
minoritas.
Itu sebabnya, dalam demokrasi Pancasila tidak dikenal istilah diktator mayoritas dan tirani
minoritas. Ketika mayoritas berkuasa, kelompok minoritas akan mendapat pengayoman
hingga dapat hidup berdampingan. Hal itu sejalan dengan ajaran Rahmatan lil alamin yang
dibawa Nabi Muhammad.
16

Dulu, saat masih diajarkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), para siswa di
sekolah maupun di kampus-kampus diajarkan pendidikan berperilaku atau berbudi pekerti.
Di situ terdapat ajaran untuk saling menghormati satu sama lain, menghormati perbedaan,
tapi perbedaan itu jangan diterapkan dengan cara memaksakan kehendak. Pelajaran lainnya
adalah sikap tenggang rasa.
Namun, kini, dalam praktiknya, sikap tenggang rasa itu sudah mulai luntur atau sirna di
kalbu masyarakat. Terbuktinya, masih banyak anak muda yang gagah perkasa enggan
memberikan tempat duduknya di kereta atau angkutanumum kepada para orang tua (lansia),
ibu hamil, dan yang membawa anak-anak.
Dalam alam demokrasi sekarang ini, setiap orang dilindungi hak pribadinya, termasuk untuk
menyamaikan gagasan, aspirasinya, serta berperan dalam setiap pengambilan keputusan. Di
balik hak itu, tentu ada kewajiban. Setiap individu juga dikenai kewajiban untuk
melaksanakan atau mengikuti kebijakan atau keputusan yang telah ditetapkan bersama.
Negara Indonesia menjamin hak setiap orang, warga negara, elite politik, tokoh masyarakat.
Namun, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, semuanya harus sejalan dengan
peraturan yang telah dibuat melalui proses pengambilan keputusan yang demokratis, baik
secara aklamasi atau musyawarah untuk mufakat maupun pemungutan suara. Jika tidak,
akan timbullah berbagai tindakan pemaksaan kehendak dan anarkis.
3.2. Perbedaan Demokrasi Pancasila dengan Demokrasi Federasi
1. Demokrasi Pancasila
a. Merupakan ciri khas Indonesia
b. Berfalsafah Pancasila
c. Menganut asas kekeluargaan dan gotong royong
d. HAM diimbangi dengan kewajiban manusia
e. Memberikan jaminan kebebasan bertanggung jawab
f. Tidak mengenal oposisi
g. Bentuk negara kesatuan
17

h. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan


i. Bebas mengungkapkan pendapat
j. Rakyat berhak mendapat perlindungan HAM
k. Bebas untuk beraspirasi
l. Bebas berdemonstrasi (demonstrasi yang sehat)
2. Demokrasi Barat
a. Merupakan ciri khas barat
b. Berfalsafah liberalis
c. Menganut Asas individualistis
d. Lebih menonjolkan HAM
e. Mengutamakan kebebasan semata
f. Mengenal Oposisi
g. Menganut konstitusi liberal atau konstitusional
h. Bentuk negara federasi
i. Mengutamakan kepentingan rakyat dan kesejahteraan rakyat
j. HAM dipegang teguh dan dijunjung tinggi oleh negara
k. Memiliki Sosialisme Demokrasi atau Demokrasi Sosial
l. Demokrasi menggunakan cara yang realistis dan efektif
m. Pemerintah memegang teguh janjinya terhadap rakyat.
Kekurangan :
A. Demokrasi Indonesia
1. Banyaknya perpecahan dan konflik yang terjadi karena masalah politik.
2. Terlalu banyak partai politik yang membuat persaingan menjadi tidak sehat.
3. Mudah terpengaruh dengan banyaknya pendapat yang provokatif , sehingga banyak
tindakan anarkhi.
18

4. Tidak adanya respon cepat dari pemerintah untuk menanggulangi masalah-masalah yang
terjadi pada rakyat karena terlalu banyak pendemo sehingga perhatian pemerintah terbagi.
5. Pemerintah Indonesia lebih banyak mementingkan kepentingan negara dibandingkan
dengan rakyat kecil.

B. Demokrasi Barat
1. Terkadang keputusan pemerintah melanggar kemerdekaan negara dan hak-hak individu
seperti tercantum dalam konstitusi negara tersebut.
2. Karena terdapat negara-negara bagian di negara barat maka terkadang terjadi masalah
yang di karenakan undang-undang yang di buat oleh negara bagian bertentangan dengan
pemerintah pusatnya atau pemerintah federal.
3. Terlalu Imperialis
3.3 Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Demokrasi Pancasila
Ada banyak sekali nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi pancasila. Diantaranya
adalah :
1. Adanya kebebasan yang harus disertai dengan rasa tanggung jawab.
2. Menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.
3. Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama
4. Mengakui atas perbedaan individu, ras, kelompok, suku dan agama
5. Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok, ras, suku
dan agama
6. Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab
7. Menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab
8. Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya
tujuan bersama.

19

Kemudian, esensi/ nilai-nilai demokrasi juga terdapat dalam Sila keempat Pancasila,
Kedaulatan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksnaan berdasar Permusyawaratan/
Perwakilan.
Pancasila yang mempunyai hierarki dalam setiap sila-sila dalam pancasila yang mempunyai
wujud kepedulian terhadap bangsa Indonesia. Sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha
Esa, yang mempunyai arti bahwa negara dan bangsa Indonesia mengakui adanya Tuhan
dan Mempercayai agama dan melaksanakan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh bangsa
Indonesia. Sila yang kedua sampai sila kelima merupakan sebuah akisoma dari sisi
humanisme bangsa Indonesia itu sendiri. Dengan masyarakat Indonesia yang dikatakan
heterogen, yang mempunyai kebudayaan, bahasa, suku yang berbeda-beda, maka pancasila
inilah yang menjadi sebuah kekuatan untuk mempersatukan masyarakat yang heterogen ini
(bhineka tunggal ika). Pancasila tidak memandang stereotype suatu suku, suatu adat, atau
budaya. Integrasi masyarakat yang heterogen menjadi masyarakat yang homogen dapat
terwujud bila adanya rasanya persatuan dan kesatuan. Dinamika masyarakat yang heterogen
menjadikan kekuatan Indonesia dalam menjadikan sebuah yang dinamakan bangsa, tetapi
dapat menghancurkan Indonesia itu sendiri bila tidak ada rasa untuk bersatu.
Ketika para pendiri bangsa ini merumuskan UUD 1945, sudah tentu ingin memberikan
system ketatanegaraan yang terbaik bagi bangsa ini. Yang terbaik itu, adalah yang sesuai
dengan kondisi bangsa yang sangat plural, baik dari aspek etnis, agama ,dan sosial budaya.
Bahwa kedaulatan ditangan rakyat, mekanismenya berdasar Permusyawaratan/ Perwakilan.
Sudahkah esensi demokrasi seperti itu diterjemahkan dalam kehidupan demokrasi kita?
Sudahkah UU Pemilu kita benar-benar merujuk pada esensi demokrasi yang dicita-citakan
para pendiri bangsa ini? Sudahkah mekansime demokrasi yang kita tempuh dalam setiap
pengambilan keputusan merujuk ke esensi demokrasi yang kita cita-citakan?
Demokrasi merupakan nilai dari pancasila, dimana nilai tersebut memiliki makna dan
hubungan yang erat. Adapun nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam pancasila sila ke4 ( Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan ) adalah sebagai berikut :
1. Setiap warga negara Indonesia memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama
20

2. Tidak Boleh memaksakan kehendak kepada orang lain


3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama
4. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah,
5. Didalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau
golongan, dan
6. Memberikan kepercayaan kepada wakil-Wakil yang dipercayai untuk melaksanakan
permusyawaratan.
Mengenai sila keempat daripada Pancasila, dasar filsafat negara Indonesia, yaitu kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan/perwakilan dapat
diketahui dengan empat hal sebagai berikut :
1. Sila kerakyatan sebagai bawaan dari persatuan dan kesatuan semua sila, mewujudkan
penjelmaan dari tiga sila yang mendahuluinya dan merupakan dasar daripada sila yang
kelima.
2. Di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar, sila kerakyatan ditentukan penggunaannya
yaitu dijelmakan sebagai dasar politik Negara, bahwa negara Indonesia adalah negara
berkedaulatan rakyat.
3. Pembukaan Undang-undang Dasar merupakan pokok kaidah Negara yang fundamentil
sehingga dengan jalan hukum selama-lamanya tidak dapat diubah lagi, maka dasar politik
Negara berkedaulatan rakyat merupakan dasar mutlak daripada Negara Indonesia.
4. Dasar berkedaulatan rakyat dikatakan bahwa,Berdasarkan kerakyatan dan dalam
permusyarawatan/perwakilan, oleh karena itu sistem negara yang nanti akan terbentuk
dalam Undang-undang dasar harus berdasar juga, atas kedaulatan rakyat dan atas dasar
permusyarawatan/perwakilan. Sehingga Negara Indonesia adalah mutlak suatu negara
demokrasi, jadi untuk selama-lamanya.

21

Sila ke-empat merupakan penjelmaan dalam dasar politik Negara, ialah Negara
berkedaulatan rakyat menjadi landasan mutlak daripada sifat demokrasi Negara Indonesia.
Disebabkan mempunyai dua dasar mutlak, maka sifat demokrasi Negara Indonesia adalah
mutlak pula, yaitu tidak dapat dirubah atau ditiadakan.
Berkat sifat persatuan dan kesatuan daripada Pancasila, sila ke-empat mengandung pula silasila lainnya, sehingga kerakyatan dan sebagainya adalah kerakyatan yang berke-Tuhanan
Yang Maha Esa, Yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia
dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

22

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh
pemerintah negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang
membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk
diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada
dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Demokrasi adalah sikap pemerintah terhadap
kehendak rakyatnya. Dalam kancah kebangsaan dan bernegara, belakangan timbullah istilah
demokrasi ekonomi, demokrasi kebudayaan, dan demokrasi sebagai jati diri suatu bangsa.
Ada pula muncul istilah demokrasi Pancasila. Pancasila adalah dasar negara Repubik
Indonesia. Banyak sekali nilai-nilai yang terkandung di dalam demokrasi pancasila. Seperti,
kita harus menjunjung tinggi HAM, menghargai pendapat orang lain, bermusyawarah dalam
pemecahan masalah dan lain-lain.

23

REFERENSI
http://kenshinlp.blogspot.com/2014/12/makalah-demokrasi-diindonesia.htmlhttp://www.slideshare.net/septianraha/makalah-demokrasi-di-indonesia?
from_action=save&from=fblanding
http://ofiqensem.blogspot.com/2013/03/demokrasi-pancasila-pada-era-reformasi.html
https://www.academia.edu/8898698/Makalah_Pelaksanaan_Demokrasi_Di_Indonesia_Pada_Era
_Reformasi
http://oshayefta.blogspot.com/2011/05/perbedaan-antara-demokrasi-di-indonesia.html
http://wartafeminis.com/tag/demokrasi-liberal-vs-demokrasi-pancasila/
http://www.academia.edu/6194403/MAKALAH_DEMOKRASI_PANCASILA

24