Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


I. Konsep Dasar Teori
A. Definisi Komunitas dan Kesehatan Masyarakat
Keperawatan komunitas adalah bidang khusus dari keperawatan yang
merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan
ilmu sosial yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang
sehat atau yang sakit secara komprehensif melalui upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif serta resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif
dari masyarakat. Peran serta aktif masyarakat bersama tim kesahatan
diharapkan dapat mengenal masalah kesehatan yang dihadapi serta
memecahkan masalah tersebut (Elisabeth, 2007).
Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga/
kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer, sekunder
dan tersier. Oleh karenanya pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan
perkembangan sosial akan membantu masyarakat dalam mendorong
semangat untuk merawat diri sendiri, hidup mandiri dan menentukan
nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang optimal
(Elisabeth, 2007).
B. Definisi Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas adalah suatu disiplin ilmu yang memiliki
cabang sdisiplin ilmu lain yaitu keperawatan gerontik dan keperawatan
keluarga (Hudson,1987) dan (Robicschon,1989). Komunitas adalah kelompok
social yang ditentukan oleh batas-batas wilayah nilai keyakinan dan minat
yang sama serta adanya saling mengenal dan berinteraksi antara anggota
masyarakat yang satu dengan lainya (WHO, 2005).
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan
profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada
kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang
optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan
menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan
1

melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi


pelayanan keperawatan.
Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi
keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai masalah keperawatan
yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Efendi, 2009). Pada praktik
keperawatan komunitas itu sendiri rangkaian prosesnya dimulai dari awal
tahap pengkajian sampai evaluasi, dimana diharapkan terjadi alih peran
sehingga peran perawat

yang lebih banyak berangsur-angsur berkurang

digantikan meningkatnya kemandirian masyarakat sebagai klien seperti


terlihat pada gambar.

Terwujudnya kemandirian masyarakat untuk menyelesaikan masalah


kesehatan dapat dicapai dengan pengorganisasian masyarakat karena peran
serta masyarakat didalamnya akan meningkat oleh karena itu, dalam
proses keperawatan komunitas ada tahap-tahap yang perlu dilaksanakan
perawat (Depkes RI, 1993), yaitu:
1. Tahap pesiapan
Memilih area atau daerah yang menjadi prioritas, menentukan cara
untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari serta bekerjasama
dengan masyarakat.
2. Tahap pengorganisasian
Persiapan pembentukan

kelompok

dan

penyesuaian

pola

dalam

masyarakat dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelompok dan pengurus


inti.
3. Tahap pendidikan dan pelatihan kelompok masyarakat:
pertemuan teratur
pengkajian,

dengan

kelompok

masyarakat,

membuat program berdasarkan masalah

kegiatan
melakukan

atau diagnosa

keperawatan, melatih kader kesehatan yang akan membina masyarakat


dilingkungannya dan pelayanan keperawatan langsung terhadap individu,
keluarga dan masyarakat.
4. Tahap formasi kepemimpinan : memberi dukungan latihan dan
pengembangan

keterampilan

kepemimpinan

yang

meliputi

perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengawasan kegiatan


pemeliharaan kesehatan.
5. Tahap koordinasi intersektoral: kerjasama dengan sector terkait dalam
upaya memandirikan masyarakat.
6. Tahap akhir: supervise bertahap, evaluasi serta umpan balik untuk
perbaikan kegiatan kelompok kerja berikutnya.
Dalam rapat kerja keperawatan kesehatan masyarakat dijelaskan bahwa
keperawatan komunitas merupakan suatu bidang keperawatan yang
merupakan perpaduan antara keperawatan (Nursing) dan kesehatan
masyarakat (Public health) dengan dukungan peran serta masyarakat secara
aktif dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif
secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan
(Nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara
optimal sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2005).
C. Tujuan Keperawatan Komunitas
Keperawatan

komunitas

bertujuan

memandirikan

masyarakat,

menanggulangi masalah kesehatan sendiri, kegiatan dilakukan secara


berkesinambungan atau berkelanjutan dan menggunakan metode konsep
proses keperawatan komunitas yang dilakukan melalui 5 tahap yaitu
pengkajian, pelaksanaan, dan evaluasi (Anderson dan Mc. Forience, 1985).
Tujuan keperawatan komunitas adalah untuk pencegahan dan peningkatan
kesehatan masyarakat melalui :
a.

Pelayanan keperawatan langsung, terhadap individu, keluarga, kelompok


dalam komunitas

b. Perlatihan

langsung

terhadap

keseluruhan

masyarakat

dan

mempertimbangkan bagaimana masalah kesehatan masyarakat dapat


mempengaruhi idividu, keluarga, dan masyarakat.
c. Pengaktifan fasilitas kesehatan masyarakat seperti pelatihan kader
posyandu.
D.

Strategi Keperawatan Komunitas


Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam
perawatan kesehatan masyarakat adalah :
a. Proses Kelompok (Group Process)
Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya
setelah

belajar

dari

pengalaman

sebelumnya,

selain

faktor

pendidikan/pengetahuan individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang


dilakukan petugas kesehatan dan sebagainya. Begitu juga dengan masalah
kesehatan di lingkungan sekitar masyarakat, tentunya gambaran penyakit
yang paling sering mereka temukan sebelumnya sangat mempengaruhi
upaya penangan atau pencegahan penyakit yang mereka lakukan. Jika
masyarakat sadar bahwa penangan yang bersifat individual tidak akan
mampu mencegah, apalagi memberantas penyakit tertentu, maka mereka
telah melakukan pemecahan-pemecahan masalah kesehatan melalui
proses kelompok.
Menurut Nies dan McEwan (2001), perawat spesialis komunitas
dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status
kesehatan

masyarakat

dapat

menggunakan

alternatif

model

pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau


pengembangan masyarakat (Palestin, 2007).
b. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang
dinamis, dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer
materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat
prosedur. Akan tetapi, perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari
dalam diri individu, kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan
dari pendidikan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23
Tahun 1992 maupun WHO yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat

untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan; baik fisik, mental


dan sosialnya; sehingga produktif secara ekonomi maupun secara sosial.
Menurut Notoatmodjo pendidikan kesehatan adalah suatu
penerapan konsep pendidikan di dalam bidang kesehatan (Mubarak,
2005).
c. Kerjasama (Partnership)
Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan
masyarakat jika tidak ditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi
lingkungan masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat
dibutuhkan dalam upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas
melalui upaya ini berbagai persoalan di dalam lingkungan masyarakat
akan dapat diatasi dengan lebih cepat.
Kemitraan adalah hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau
lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan
atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Kemitraan antara perawat
komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam
bentuk garis hubung antara komponen-komponen yang ada. Hal ini
memberikan

pengertian

perlunya

upaya

kolaborasi

dalam

mengkombinasikan keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk


mengembangkan strategi peningkatan kesehatan masyarakat (Palestin,
2007).
d. Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai
proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi
transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan,
pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk
membentuk pengetahuan baru (Palestin, 2007).
Perawat komunitas perlu memberikan

dorongan

atau

pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif


masyarakat. Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upayaupaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi
masyarakat (Palestin, 2007).
E. Model Keperawatan Komunitas
Teori keperawatan berkaitan dengan kesehatan masyarakat menjadi acuan

dalam mengembangkan model keperawatan komunitas adalah teori Betty


Neuman (1972) dan Model Keperawatan Comunity as Partner (2000). Model
Neuman memandang klien sebagai sistem yang terdiri dari berbagai elemen
meliputi sebuah struktur dasar, garis kekebalan, garis pertahanan normal dan
garis pertahanan fleksibel (Neuman, 1994).
Model

intervensi

keperawatan

yang

dikembangkan

oleh

Betty

Neuman melibatkan kemampuan masyarakat untuk bertahan atau beradaptasi


terhadap stressor yang masuk kedalam garis pertahanan diri masyarakat.
Kondisi kesehatan

masyarakat

ditentukan

oleh

kemampuan

masyarakat

dalam menghadapi stressor. Intervensi keperawatan dilakukan bila masyarakat


tidak mampu beradaptasi terhadap stressor yang masuk kedalam garis
pertahanan (Clark, 1999).
Dasar pemikiran dalam keperawatan komunitas adalah komunitas adalah
sebuah sistem. Pada awalnya Anderson dan McFarlane(1996) menggunakan
model comunity

as

client.

Pada

tahun

2000

model

disempurnakan

menjadi community as partner. Model comunity as partner mempunyai makna


sesuai dengan filosofi PHC, yaitu fokus pada pemberdayaan masyarakat.
Model tersebut membuktikan ada hubungan yang sinergi dan setara antara
perawat dan klien. Pengkajian komunitas mempunyai 2 bagian utama yaitu
core dan 8 subsistem.
F.

Prinsip perawatan kesehatan masyarakat


Pada perawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan
beberapa prinsip, yaitu:
a. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat
yang besar bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan
harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya
ada keseimbangan antara manfaat dan kerugian (Mubarak, 2005).
b. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat
berkelanjutan serta melakukan kerja sama lintas program dan lintas
sektoral (Riyadi, 2007).

c. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan
intervensi, klien dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial,
ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan
(Riyadi, 2007).
d. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau
kapasitas dari komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan
upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas
komunitas (Mubarak, 2005).
e. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau
melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah
kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).
G. Sasaran praktik keperawatan komunitas
Sasaran dari perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga,
kelompok khusus, komunitas baik yang sehat maupun sakit yang mempunyai
masalah kesehatan atau perawatan (Effendy, 1998), sasaran ini terdiri dari:
a. Individu
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh
dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada
individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya
mencakup kebutuhan biologi, social, psikologi dan spiritual karena
adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang
kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
b. Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara
perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya
sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya
mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada
Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman
dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri.
c. Kelompok khusus
7

Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai


kesamaan

jenis

kelamin,

umur,

permasalahan,

kegiatan

yang

terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Yang


termasuk kelompok khusus adalah:
1) Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat
perkembangan dan pertumbuhannya, seperti:
Ibu hamil
Bayi baru lahir
Balita
Anak usia sekolah
Lansia
2) Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan
dan bimbingan serta asuhan keperawatan, diantaranya adalah:
Penderita penyakit menular, seperti TBC, lepra, AIDS, penyakit

kelamin lainnya.
Penderita dengan penynakit tak menular, seperti: penyakit
diabetes mellitus, jantung koroner, cacat fisik, gangguan mental

dan lain sebagainya.


3) Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, yaitu:
Wanita tunasusila
Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba
Kelompok pekerja-pekerja tertentu, dan lain-lain
4) Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:
Panti werdha
Panti asuhan
Pusat-pusat rehabilitasi
Penitipan balita
d. Masyarakat
Masyarakat merupakan kelompok individu yang saling
berinteraksi, saling tergantung dan bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Dalan berinteraksi sesama anggota masyarakat akan muncul banyak
permasalahan, baik permasalahan sosial, kebudayaan, perekonomian,
politik maupun kesehatan khususnya.
H. Falsafah Keperawatan Komunitas
Berdasarkan pada asumsi dasar dan keyakinan yang mendasar tersebut,
maka dapat dikembangkan falsafah keperawatan komunitas sebagai landasan
praktik keperawatan komunitas. Dalam falsafah keperawatan komunitas,

keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan perhatian


terhadap

pengaruh

lingkungan

(bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)

terhadap

kesehatan komunitas dan membrikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit


dan peningkatan kesehatan.
Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu kepada
paradigma keperawatan yang terdiri dari 4 hal penting, yaitu: manusia, kesehatan,
lingkungan dan keperawatan sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
a

Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan yang luhur


dan manusiawi yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.

Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya berdasarkan


kemanusiaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi
terwujudnya manusia yang sehat khususnya dan masyarakat yang sehat
pada umumnya.

Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus terjangkau dan dapat


diterima oleh semua orang dan merupakan bagian integral dari upaya
kesehatan.

Upaya preventif dan promotif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan


upaya kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan berlangsung


secara berkesinambungan.

Perawatan kesehatan masyarakat sebagai provider dan klien sebagai


consumer pelayanan keperawatan dan kesehatan, menjamin suatu
hubungan yang saling mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam
kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan ke arah peningkatan status
kesehatan masyarakat.

Pengembangan tenaga keperawatan kesehatan masyarakat direncanakan


secara berkesinambungan dan terus-menerus.

Individu

dalam

suatu

masyarakat

ikut

bertanggung

jawab

atas

kesehatannya, ia harus ikut dalam upaya mendorong, mendidik dan


berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan mereka sendiri.
Komunitas Dengan
Keluarga Sebagai Unit
Pelayanan Dasar.

MANUSIA

KESEHATAN
(SEHAT-SAKIT)

KEPERAWATAN
3 Tingkatan Pencegahan.

LINGKUNGAN
(Physic, Biologic, Psychologist, Social, Cultural, Dan Spiritual .

Gambar 2.1 : Paradigma / Falsafah Keperawatan Komunitas

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijabarkan masing-masing unsur sebagai


berikut :
Manusia.
Komunitas sebagai klien berarti sekumpulan individu/klien yang berada pada
lokasi atau batas geografi tertentu yang memiliki niliai-nilai, keyakinan dan
minat

yang

relatif

sama serta adanya interaksi satu sama lain

untuk

mencapai tujuan.
Komunitas merupakan sumber dan lingkungan bagi keluarga, komunitas,
Komunitas sebagai klien yang dimaksud termasuk kelompok resiko tinggi
antara lain: daerah terpencil, daerah rawan, daerah kumuh.
Kesehatan.
Sehat adalah suatu kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan
dasar klien/komunitas. Sehat merupakan

keseimbangan

yang

dinamis

sebagai dampak dari keberhasilan mengatasi stressor.


Lingkungan.
Semua faktor internal dan eksternal

atau pengaruh disekitar klien yang

bersifat biologis, psikologis, social, cultural dan spiritual.


Keperawatan.
Intervensi/tindakan yang bertujuan untuk
pencegahan primer, sekunder dan tersier.

10

menekan

stressor, melalui

I. Peran dan Fungsi Perawat Komunitas (Provider of Nursing Care)


1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan yang mandiri
2. Sebagai organisasi profesi yang memiliki pola asuhan keperawatan
yang merupakan bagian integral dari disiplin ilmu keperawatan
3. Sebagai fasilitator pelayanan kesehatan masyarakat
4. Sebagai advokad dalam membela kepentingan yang berhubungan
dengan kesehatan masyarakat
5. Sebagai pendidik masyarakat sehubungan dengan kesehatan
J. Ruang Lingkup Perawatan Komunitas
Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang
ditekankan adalah upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan
upaya kuratif, rehabilitatif dan resosialitatif.
1. Upaya Promotif
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dengan jalan memberikan:
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat
b. Peningkatan gizi
c. Pemeliharaan kesehatan perorangan
d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan
e. Olahraga secara teratur
f. Rekreasi
g. Pendidikan seks
2. Upaya Preventif
Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan
gangguan terhadap kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
melalui kegiatan:
a. Imunisasi massal terhadap bayi, balita serta ibu hamil
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas
maupun kunjungan rumah
c. Pemberian vitamin A dan yodium melalui posyandu, puskesmas
ataupun di rumah
d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui
3. Upaya Kuratif
Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota
keluarga, kelompok dan masyarakat yang menderita penyakit atau masalah
kesehatan, melalui kegiatan:
a. Perawatan orang sakit di rumah (home nursing)
11

b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas


dan rumah sakit
c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin
dan nifas
d. Perawatan payudara
e. Perawatan tali pusat bayi baru lahir
4. Upaya Rehabilitatif
Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi
penderita-penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompokkelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama, misalnya kusta, TBC,
cacat fisik dan lainnya., dilakukan melalui kegiatan:
a. Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita
kusta, patah tulang maupun kelainan bawaan
b. Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu,
misalnya TBC, latihan nafas dan batuk, penderita stroke: fisioterapi
manual yang mungkin dilakukan oleh perawat
5. Upaya Resosialitatif
Upaya resosialitatif adalah upaya mengembalikan individu, keluarga
dan kelompok khusus ke dalam pergaulan masyarakat, diantaranya adalah
kelompok-kelompok yang diasingkan oleh masyarakat karena menderita
suatu penyakit, misalnya kusta, AIDS, atau kelompok-kelompok masyarakat
khusus seperti Wanita Tuna Susila (WTS), tuna wisma dan lain-lain. Di
samping itu, upaya resosialisasi meyakinkan masyarakat untuk dapat
menerima kembali kelompok yang mempunyai masalah kesehatan tersebut
dan menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang mereka derita.Hal ini
tentunya membutuhkan penjelasan dengan pengertian atau batasan-batasan
yang jelas dan dapat dimengerti.
K. Konsep Masalah Kesehatan Komunitas
1. Kesehatan Lingkungan
Lingkungan dapat didefinisikan sebagai tempat pemukiman dengan
segala sesuatunya dimana organisme hidup beserta segala keadaan dan
kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung serta ikut
mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme
tersebut (Efendi, 2009).

12

Kesehatan lingkungan dapat dijabarkan sebagai suatu kondisi


lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis
antara manusia dan lingkungannyauntuk mendukung tercapainya kualitas
hidup manusia yang sehat dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia). Menurut WHO (2005), lingkungan merupakan
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dengan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia (Efendi,
2009).
Menurt WHO, terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

Penyediaan air minum


Pengelolaan air buangan (limbah) dan pengendalian pencemaran
Pembuangan sampah padat
Pengendalian vector
Pencegahan atau pengandalian pencemaran tanah oleh ekskresi manusia
Higiene makanan, termasuk higiene susu
Pengendalian pencemaran udara
Pengendalian radiasi
Kesehatan kerja
Pengendalian kebisingan
Perumahan dan pemukiman
Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara
Perencanaan daerah dan perkotaan
Pencegahan kecelakaan
Rekreasi umum dan pariwisata
Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi

(wabah), bencana alam dan perpindahan penduduk


q. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan
2. Perilaku Masyarakat
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu
tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan
tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan
berbagai faktor yang saling berinteraksi (WawanA& Dewi M, 2010).
Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua
kategori (WawanA& Dewi M, 2010), yaitu:
a. Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar
b. Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar
Ada perilaku-perilaku yang sengaja atau tidak sengaja membawa
manfaat bagi kesehatan individu atau kelompok kemasyarakatan

13

sebaliknya ada yang disengaja atau tidak disengaja berdampak merugikan


kesehatan (WawanA& Dewi M, 2010).
II.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Komunitas


Keperawatan komunitas merupakan bentuk pelayanan asuhan
keperawatan yang memfokuskan asuhan keperawatan pada pemenuhan
kebutuhan dasar komunitas yang berkaitan dengan ketidakmampuan
masyarakat, ketidakmauan masyarakat dan ketidaktahuan masyarakat.
Asuhan keperawatan komunitas merupakan suatu metode atau proses
yang bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontinu dan berkesinambungan
dalam rangka memecahkan masalah kesehatan dari klien, keluarga serta
kelompok

atau

masyarakat

melalui

langkah-langkah:

pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keperawatan. Dalam penerapan


proses keperawatan (nursing process), terjadi proses alih peran dari tenaga
keperawatan kepada klien (sasaran) secara bertahap dan berkelanjutan untuk
mencapai

kemandirian

sasaran

dalam

menyelesaikan

masalah

kesehatannya(Herawati & Neny FS, 2012).


A. Pengkajian
Pengkajian

komunitas

(community

assessment)

adalah

proses

pengumpulan data yang berhubungan dengan status kesehatan komunitas dan


merupakan sumber data untuk perumusan diagnosa keperawatan. Tujuan
keperawatan dalam mengkaji komunitas adalah mengidentifikasi faktorfaktor (baik positif maupun negatif) yang mempengaruhi kesehatan warga
masyarakat agar dapat mengembangkan strategi promosi kesehatan (Herawati
& Neny FS, 2012).
Jenis data yang dikumpulkan pada pengkajian secara umum dapat
diperoleh dari data subyektif dan data obyektif.Sedangkan sumber data dapat
diperoleh dari data primer dan sekunder, dengan pendekatan kuantitatif
maupun kualitatif. Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh pengkaji
berdasarkan hasil pengkajian, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber
lain yang dapat dipercaya. Metode pengumpulan data yang dapat dilakukan
yaitu: wawancara informan (informan interview), analisis sekunder, observasi
atau pengamatan (windshield survey) (Herawati & Neny FS, 2012). Salah
14

satu model pengkajian yang dapat digunakan adalah Betty Neuman. Pada
model ini terdapat 8 komponen yang harus dikaji, ditambah dengan data inti
dari masyarakat itu sendiri (community core).
- Community Core(data inti)
Histori dari komunitas, kaji sejarah perkembangan komunitas.
Data demografi: umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, ras, tipe

keluarga, status perkawinan.


Vital statistik: angka kelahiran, angka kematian, angka kesakitan.
Agama, nilai-nilai, keyakinan serta riwayat timbulnya kelompok atau

komunitas.
- Delapan subsistem yang mempengaruhi komunitas (Betty Neuman) :
1) Lingkungan fisik: perumahan yang dihuni oleh penduduk, bagaimana
penerangannya, sirkulasi dan kepadatan penduduk.
2) Pendidikan: Apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk
meningkatkan pengetahuan. Status pendidikan (lama sekolah, jenis
sekolah, bahasa), fasilitas pendidikan (SD, SMP, dll) baik di dalam
maupun di luar komunitas.
3) Keamanan dan transportasi: Bagaimana keselamatan dan keamanan di
lingkungan tempat tinggal, apakah tidak menimbulkan stress.
Transportasi apa yang tersedia di komunitas.
4) Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan: Apakah
cukup

menunjang

pelayanan

di

sehingga

berbagai

memudahkan

bidang

termasuk

komunitas
kesehatan,

mendapat
jenjang

pemerintahan, kebijakan depkes.


5) Pelayanan kesehatan yang tersedia, untuk melakukan deteksi dini
gangguan atau merawat atau memantau apabila gangguan sudah terjadi.
6) Sistem komunikasi: Sarana komunikasi apa saja yang dapat
dimanfaatkan di komunitas tersebut untuk meningkatkan pengetahuan
terkait dengan gangguan penyakit. Misalnya televisi, radio, koran atau
leaflet yang diberikan kepada komunitas.
7) Sistem ekonomi: Tingkat sosial ekonomi komunitas secara keseluruhan
apakah sesuai dengan UMR (Upah Minimum Regional), dibawah UMR
atau diatas UMR sehingga upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan
pada anjuran dapat dilaksanakan, misalnya anjuran untuk konsumsi
jenis makanan sesuai status ekonomi tersebut.

15

8) Rekreasi: Apakah tersedia sarananya, kapan saja dibuka, dan apakah


biayanya terjangkau oleh komunitas. Rekreasi ini hendaknya dapat
-

digunakan komunitas untuk membantu mengurangi stressor.


Status kesehatan komunitas
Status kesehatan komunitas dapat dilihat dari biostatistik dan vital statistic,
antara lain angka mortalitas, angka morbiditas, IMR, MMR, serta cakupan
imunisasi.
Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukan
tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang
menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta
faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mubarak, 2005).
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Wawancara atau anamnesa


Pengamatan
Pemeriksaan fisik

Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan
data dengan cara sebagai berikut :

Klasifikasi data atau kategori data


Penghitungan prosentase cakupan
Tabulasi data
Interpretasi data

Analisis data
Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga
dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh
masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau masalah keperawatan
(Mubarak, 2005).
Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan
yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang

16

telah dirumuskan tidak mungkin diatasi sekaligus. Oleh karena itu


diperlukan prioritas masalah (Mubarak, 2005).
Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan
keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria
diantaranya adalah (Mubarak, 2005):
1)

Perhatian masyarakat

2)

Prevalensi kejadian

3)

Berat ringannya masalah

4)

Kemungkinan masalah untuk diatasi

5)

Tersedianya sumberdaya masyarakat

6)

Aspek politis

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan
baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang
diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah
yang mungkin timbul kemudian. Jadi diagnosa keperawatan adalah suatu
pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan
yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Dengan demikian diagnosis
keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa
keperawatan akan memberi gambaran masalah dan status kesehatan
masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang mungkin terjadi (Mubarak,
2009). Diagnosa keperawatan ditegakkan berdasarkan tingkat reaksi terhadap
stressor yang ada. Selanjutnya dirumuskan dalam 3 komponen: Problem,
Etiologi, Simptom(Herawati & Neny FS, 2012).
Contoh :Risiko terjadinya peningkatan ISPA pada warga di desa X
sehubungan dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
terhadap peningkatan status kesehatan ditandai dengan tingginya angka
kejadian ISPA pada 6 bulan terakhir yaitu 25% berdasarkan data Puskesmas.
Masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat dapat disampaikan
dalam pelaksanaan lokakarya mini atau istilah lainnya Musyawarah
Masyarakat Desa/RW(MMRW).
17

C. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesui dengan
diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya
kebutuhan klien (Mubarak, 2009). Tahap berikutnya dari proses keperawatan
merupakan tindakan menetapkan apa yang harus dilakukan untuk membantu
sasaran dalam upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Langkah
pertama dalam tahap perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran
kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan
diagnosis keperawatan. Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana
pelaksanaan kegiatan maka ada dua faktor yang mempengaruhi dan
dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat masalah dan
sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang tersedia.
Dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat dilakukan melalui
tahapan sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas
menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan
bekerjasama dengan masyarakat.
b. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok kerja kesehatan untuk
menumbuhkan

kepedulian

terhadap

kesehatan

dalam

masyarakat.Kelompok kerja kesehatan (Pokjakes) adalah suatu wadah


kegiatan yang dibentuk oleh masyarakat secara bergotong royong untuk
menolong diri mereka sendiri dalam mengenal dan memecahkan masalah
atau kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan kemampuan
masyarakat berperanserta dalam pembangunan kesehatan di wilayahnya.
c. Tahap pendidikan dan latihan
Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
Melakukan pengkajian
Membuat program berdasarkan masalah atau diagnose keperawatan
Melatih kader
Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga dan masyarakat
d. Tahap formasi kepemimpinan

18

e. Tahap koordinasi intersektoral


f. Tahap akhir
Dengan melakukan supervisi atau kunjungan bertahap untuk
mengevaluasi serta memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan
kelompok kerja kesehatan lebih lanjut.
Untuk lebih singkatnya perencanaan dapat diperoleh dengan tahapan
sebagai berikut:

Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi


Demonstrasi pengolahan dan pemilihan makanan yang baik
Melakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan kurang gizi melalui

pemeriksaan fisik dan laboratorium


Bekerjasama dengan aparat Pemda setempat untuk mengamankan

lingkungan atau komunitas bila stressor dari lingkungan


Rujukan ke rumah sakit bila diperlukan

D. Pelaksanaan
Pelaksanaan

merupakan

tahap

realisasi

dari

rencana

asuhan

keperawatan yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan,


perawat kesehatan masyarakat harus bekerjasama dengan anggota tim
kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan pihak Puskesmas, Bidan desa dan
anggota masyarakat (Mubarak, 2009).Prinsip yang umum digunakan dalam
pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan komunitas adalah:
a. Inovatif
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan
mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ)
(Mubarak, 2009)
b. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan
sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat berdasarkan azas kemitraan (Mubarak, 2009).
c. Rasional

19

Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan


harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya
rencana program yang telah disusun (Mubarak, 2009).
d. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan
kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten
(Mubarak, 2009).
e. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas
kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan
keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan
implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan
komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in
community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2009).
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat bertanggung jawab
untuk melaksanakan tindakan yang telah direncanakan yang sifatnya:
a. Bantuan dalam upaya mengatasi masalah-masalah kurang nutrisi,
mempertahankan kondisi seimbang atau sehat dan meningkatkan
kesehatan.
b. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah kurang
gizi.
c. Sebagai advokat komunitas, untuk sekaligus menfasilitasi terpenuhinya
kebutuhan komunitas.
E. Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan
antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan
keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat
kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah
ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2009). Kegiatan yang
dilakukan dalam penilaian:

20

a. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan yang


telah ditetapkan.
b. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian
sampai dengan pelaksanaan.
c. Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan
selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
d. Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat bahwa
evaluasi dilakukan dengan melihat respon komunitas terhadap
implementasi yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Clark M.J. 1999.Nursing in the community: Dimensions of community health nursing.
Standford Connecticut: Appleton & Lange.
Efendi F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
Herawati, Neni FS. 2012. Buku Panduan Praktikum Keperawatan Komunitas I. PSIK
FK UNLAM: Banjarbaru.

Hidayat AH. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan Dasar. Salemba Medika:


Jakarta.
MubarakIW. 2009.Pengantar dan Teori Ilmu Keperawatan Komunitas 1. CV Sagung
Seto: Jakarta.
Wawan A, Dewi M. 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Nuha Medika: Yogyakarta.

21

Anda mungkin juga menyukai